(Terjemahan) Eleanor Rigby karya The Beatles

Baiklah: saya iseng dan Anda juga. Mari kita hentikan keisengan ini. Jangan sampai seluruh dunia ini penuh orang iseng. Makdarit, maka dari itu, mari kita isi keisengan ini dengan berkegiatan yang bermanfaat dan berguna bagi generasi muda bangsa: menerjemahkan lagu. Mari kita mulai dengan lagu “Eleanor Rigby,” salah satu favorit saya sepanjang masa. Begini bunyinya:

Eleanor Rigby

Betapa kesepiannya mereka
Betapa kesepiannya mereka

Eleanor Rigby, mengambil nasi
Di gereja sehabis dihelat pernikahan
Hidup di dalam mimpi
Terpekur di jendela, dengan wajah
Bagai diawetkan dekat pintu
Demi siapa

Orang-orang kesepian
Dari mana mereka datang?
Orang-orang kesepian
Di manakah tempat mereka?

Pendeta McKenzie, menuliskan kata-kata
Kotbah yang tak didengar siapapun
Tak seorang pun mendekat
Betapa sibuknya dia, menambal kaus kaki
Di malam hari ketika tak ada orang
Peduli apa dia

Orang-orang kesepian
Dari mana mereka datang?
Orang-orang kesepian
Di manakah tempat mereka?

Betapa kesepiannya mereka
Betapa kesepiannya mereka

Eleanor Rigby, mati di gereja
Dan dikubur bersama namanya
Tak seorang pun datang
Pendeta McKenzie, mengibaskan tanah
Dari tangannya seraya meninggalkan kuburan
Tak ada yang terselamatkan

Orang-orang kesepian itu
Dari mana mereka datang?
Orang-orang kesepian itu
Di manakah tempat mereka?

P.S. Kalau Anda punya kritik dan saran (atau sekadar kesan) untuk terjemahan ini, silakan tinggalkan komentar di bawah. Saya jamin gratis, tanpa biaya sepeserpun. Kalau misalnya Anda punya saran lagu-lagu penting dan historis yang Anda ingin saya terjemahkan, silakan sebutkan. Kalau ada kesempatan dan waktu (dan tentu saja kemampuan) saya akan mencoba menyajikannya. Khusus untuk Anda. Ya, Anda yang belum sempat mandi sejak tadi sore. Sebelum meninggalkan komentar, Anda boleh kok mandi dulu, asal browsernya tidak ditutup biar nanti tidak lupa kalau kembali ke sini.

Advertisements

(Terjemahan) Yang Tak Terhindarkan karya Daniel Abdal-Hayy Moore (The Inevitable)

Daniel Abdal-Hayy Moore, salah satu penyair Muslim Amerika yang terbilang senior, awalnya dikenal sebagai salah satu penyair mapan di tahun 1970-an. Kemudian, melalui perkenalannya dengan Sufisme, dia menjadi Muslim dan sempat berhenti berpuisi selama beberapa saat (jadi mirip ceritanya Cat Stevens aka Yusuf, kan?). Kemudian dia “bertobat” dan kembali menulis puisi, kali ini puisinya berbau Sufi (dan malah ada yang “science fiction” sufistik, seperti dalam buku Mars and Beyond).

Puisi berikut diambil dari buku The Ramadan Sonnets (1996), yang seperti judulnya berisi puisi-puisi bertema Ramadan, meskipun hanya beberap saja yang secara formal bisa disebut soneta–sebagian besarnya adalah puisi tanpa rima dan juga haiku. Puisi “Yang Tak Terhindarkan” ini saya terjemahkan dari sajak Ramadan pertama yang berjudul, persis, “The Inevitable.”

Yang Tak Terhindarkan

Seperti berlatih menghadapi maut. Tanpa makan dan minum
pada siang hari tak kenal
cuaca, di musim
panas maupun dingin,
dan tak ada cara menghindarinya selain
sakit, hamil, menstruasi, gila atau bepergian.
Karenanya

dia sesuatu yang datang
tanpa bisa dihindari setiap tahun, suka atau tidak,
pandai maupun tidak, dan sebagian orang memang pandai
dan suka, dan tetap bugar saat melakukannya, tapi
aku tidak, tak urung

setiap tahun dia tetap berkunjung, dan seiring
bergantinya tahun dia tumbuh menjadi
sesuatu yang kian manis,

yang menjadikannya seperti maut, yang
selalu bercokol
di cakrawala, dan menjadi
kewajiban mutlak, dan pasti itulah sebabnya

kenapa Muslim seringkali mati baik-baik. Mereka telah
melalui Ramadan seumur hidup, yang mempersiapkan mereka
menghadapi Yang Tak Terhindarkan. Dan

Yang Tak terhindarkan pasti datang.

(Terjemahan) Mau Cerutu? dari Pink Floyd

Ini draft pertama terjemahan lagu Pink Floyd “Have a Cigar” yang ada di album Wish You Were Here. Kalau ada kesempatan, saya akan mengunjungi lagi terjemahan ini dan memperbaikinya. Dan, kalau kesempatannya masih ada setelah saya perbaiki terjemahan yang sudah ada, saya akan mengumpulkan semua terjemahan saya atas lagu-lagu Pink Floyd dari album Wish You Were Here dan memberikan komentar seperlunya tentang hal-hal yang perlu dikomentari dari lirik tersebut. Sambil menunggu semua impian itu terwujud, silakan dulu menikmati terjemahan ini.

Sini dulu, Bung, mau cerutu?
Kau akan melesat,
Kau akan membumbung,
Kau akan abadi,
Kau akan berhasil, asal mau mencoba;
Mereka akan mencintaimu.
Dari dulu aku sudah menaruh hormat,
Dan ini bukan ngecap.
Band-mu luar biasa,
menurutku sungguh begitu.
Oh ya, yang namanya Pink mana?

Sudah tahu belum nama lakon ini?
Kami menyebutnya Memanen Ladang Emas.

Kami terpesona.
Kabarnya kalian digemari.
Kalian harus meluncurkan album.
Kalian berhutang kepada masyarakat.*
Kami ikut senang sampai tak tahu harus ngomong apa.
Yang lain masih hijau,
Sudah periksa tangga lagu?
Permulaan yang dahsyat,
Dan bisa dibuat lebih ganas
Asal kita bekerja bareng.

Sudah tahu belum nama lakon ini?
Kami menyebutnya Memanen Ladang Emas.

(* Kayaknya ini pertama kalinya saya pakai kata “masyarakat” dalam menerjemahkan lirik lagu, hehehe…)

(Terjemahan) Selamat Datang di Dalam Mesin dari Pink Floyd (Welcome to the Machine)

Selamat datang, Nak, selamat datang di dalam mesin.
Dari mana saja kamu?
Tak apa, kami tahu kamu dari mana.
Kamu baru dari pipa, menunggu giliran
Berteman mainan dan ‘Pendidikan Kewarganeraan’.
Kau beli gitar untuk menghukum mama,
Kau tak suka disuruh sekolah,
dan kau tak mau dibodohi,
Maka, Anakku, selamat datang di dalam mesin.

Selamat datang, Nak, selamat datang di dalam mesin.
Apa yang kau impikan?
Tak apa, kami dulu tanamkan mimpi itu.
Kamu impikan bintang besar,
Dia jago menyayat gitar,
Sukanya makan di Steak Bar.
Dan berkeliling naik Jaguar.
Maka, Anakku, selamat datang di dalam mesin.

Pesan penerjemah: Lirik asli lagu ini bisa didapatkan di sini. Dana kalau Panjenengan sekalian ada waktu, silakan juga nonton animasinya di sini. Menurut saya animasinya bisa menambah pemahaman kita akan lagu ini. Selama ini saya mengira bahwa generasi 70-an itu dipenuhi para musisi (terutama prog-rock) yang anti-kemapanan dan kritis terhadap pendidikan yang dampaknya adalah mematikan kreativitas seorang anak, menjadikannya pribadi-pribadi yang dicucuk hidungnya. Supertramp, dalam lagu “The Logical Song,” bilang bahwa pendidikan formal membuat kita “layak dihidangkan … dan (lembek seperti) sayuran.” Pink Floyd sendiri dalam album The Wall menyerukan “hey, teachers, leave those kids alone.” Terus bagaimana dalam lagu “Welcome to the Machine” ini?

Nah, di dalam lagu “Welcome to the Machine” ini, politik Pink Floyd (atau David Gilmour ya?) semakin terasa bernuansa, tidak lagi membuat kita berpandangan hitam putih tentang sikap mereka terhadap pendidikan. Sepenafsiran saya, lagu ini kritis kepada yang tidak mau sekolah DAN belajar menjadi kritis sehingga akhirnya menerima mimpi2 yang ditanamkan oleh “orang tua.” Sepertinya, pendidikan yang dimaui aku-lirik dalam lagu ini adalah pendidikan untuk bersikap kritis dan tidak hanya menjadi penerima ajaran dan mimpi2 dari “orang tua” (sepertinya “orang tua” di sini mengacu kepada status quo atau, dalam istilah film The School of Rock, “the Man,” atau tekanan sosial yg membuat kita seragam dengan orang lain). Hilangnya kekritisan seperti itu akan membuat si anak datang ke dalam “mesin” bukan sebagai suku cadang, tetapi sebagai bahan bakar–makanya si anak datang dari “pipeline” atau pipa saluran bahan bakar.

Sekali lagi, sepertinya “sekolah” yang diinginkan oleh persona atau aku-lirik dalam lagu ini adalah sekolah yang menjadikan seseorang pemikir kritis, sehingga tidak hanya mendamba bintang-bintang besar yang hidup berkubang di steak bar dan menunggang Jaguar. Jadi, kalau diulur lebih jauh lagi, lagu ini juga mengandung asumsi bahwa tidak sekolah formal pun tidak masalah asal bisa berpikir kritis.

Animasi dari YouTube yang saya sarankan itu juga menggambarkan bagaimana banjir darah (bencana) itu sebenarnya adalah tangan-tangan manusia yang menjunjung tinggi sebuah menhir persegi (atau istilah kerennya “monolith”) hingga akhirnya melambung ke angkasa sementara tangan-tangan itu tetap dibumi mendamba-damba. Sudahlah, saya tidak akan mengganggu lagi kenikmatan Anda menikmati lagu ini. Silakan!

P.S. Kalau Anda punya kritik dan saran (atau sekadar kesan) untuk terjemahan ini, silakan tinggalkan komentar di bawah. Saya jamin gratis, tanpa biaya sepeserpun. Kalau misalnya Anda punya saran lagu-lagu penting dan historis yang Anda ingin saya terjemahkan, silakan sebutkan. Kalau ada kesempatan dan waktu (dan tentu saja kemampuan) saya akan mencoba menyajikannya. Khusus untuk Anda. Ya, Anda yang sekarang membaca ini sambil minum jus jeruk hangat itu. Eh, itu jeruk apa teh? Bukan kopi yang terlalu encer, kan?