(terjemahan lagu) Amrik Udik a.k.a. Small Town USA by Justin Moore

Ini salah satu lagu yang membuat saya hati kepada musik country bertahun-tahun lalu. Alasan utamanya tentu saja karena saya merasa bisa mengidentifikasi diri dengan lagu ini dan benar-benar mengalami Amrik yang udik ini. Istilah jaman ini, karena lagu ini membuat saya #baper.

Tentu saya tidak benar-benar tinggal di Amrik yang seudik yang digambarkan di sini. Fayetteville adalah termasuk kota yang paling besar di Arkansas (meskipun termasuk kota yang sangat kecil dibandingkan kota-kota Amrik di film-film itu). Tapi, kalau saya keluar sedikit saja dari Fayetteville, barang 30 menit nyetir mobil, saya akan mendapati kota semacam ini. Saya juga sangat sering menginap di desa tempat seorang kawan saya punya lahan pertanian (yang jalannya benar-benar masih jalan tanah/sirtu seperti di lagu ini).

Dan, sebenarnya, Justin Moore ini adalah orang Arkansas. Memang sih dia bukan orang Fayetteville atau desa-desa di sekitar Fayetteville, tapi… tapi… Kalau Anda lihat video klipnya, akan ketahuan bahwa salah satu bintang klip-nya memakai topi “Hogs” yang artinya celeng, yang mengacu kepada tim futbol kampus tercinta saya, University of Arkansas.

Jadi, salahkah saya #baper setiap kali mendengar lagu yang sangat pastoral dan tipikal lagu-lagu country Arkansas ini?

Maka, mari ikut menanyi:

Amrik Udik

Waktu aku kecil, banyak yang menyebutnya penjara
Tapi di sinilah akarku dan inilah yang kucinta

Semua orang kenal aku dan aku kenal mereka
Dan aku percaya begitulah semestinya hidup
Kehidupan Amrik udik ini sungguh tak tergantikan.

Beri aku malam Minggu bersama kekasih,
Hank Jr. dan setali bir ringan enam biji,
Jalanan tanah. Itu cukup bagiku.
Beri aku Minggu pagi yang pernuh berkah
Kehidupan sederhana. Itu cukup bagiku.
Di sini, di Amrik udik ini.

Di sini orang banting tulang demi setali uang
Kami tak pernah kelebihan, tapi selalu cukup.
Orang-orang pergi dan mereka kembali lagi
Aku tak ingin ikut-ikutan itu.
Aku bangga bisa bilang aku cinta tempat ini.
Di Amrik udik yang indah ini.

Beri aku malam Minggu bersama kekasih
David Allen Coe dan setali bir ringan enam biji
Jalanan tanah. Itu cukup bagiku.
Beri aku Minggu pagi yang penuh berkah
Kehidupan sederhana. Itu cukup bagiku.
Di sini, di Amrik udik ini.

Yeah, di Amrik udik ini.

(Terjemahan Lagu) Segalanya Penuh Cinta | All is Full of Love karya Björk

Kalau ngomong soal Bjork (sebentar, saya copy paste dulu namanya biar pas: Björk), Anda harus melakukannya dengan rendah hati dan tidak grusa-grusu. Karena apa? Karena Björk (hasil copy-paste) adalah kesubliman selera, karena Björk adalah lapis-lapis bawang, karena Björk adalah yang jernih tapi tertabiri.

Hari ini saya ingin menghadirkan kepada Anda sekalian salah satu mahakarya Bjork (maksud saya Björk) yang paling awal dan saya pastikan bisa menyentuh Anda dengan kejernihannya. Lirik-liriknya memberi Anda kiasan yang tidak biasa untuk kebijakan yang sederhana, dan itu lebih dari cukup, terutama bagi kita yang hidup di tengah-tengah metafor mati ini.

Maka, tanpa berpanjang-panjang, silakan menikmati lirik lagu “All is Full of Love” yang hari-hari ini termasuk white noise saya dalam bekerja. Ya, Björk, segalanya penuh cinta, segalanya penuh cinta…

Segalanya Penuh Cinta

Kau akan dicinta
Kau akan dipelihara
Kau akan dicinta
Kau hanya perlu percaya

Mungkin sumbernya tak sama
Dengan aliran cintamu
Mungkin bukan dari arah
Matamu menatap

Tolehkan kepalamu
Semuanya di sekitarmu
Segalanya penuh cinta
Di sekelilingmu

Segalanya penuh cinta
Kau saja tak menerimanya
Segalanya penuh cinta
Telponmu saja tak tersambung
Segalanya penuh cinta
Pintumu saja yang tertutup
Segalanya penuh cinta!

Segalanya penuh cinta
Segalanya penuh cinta
Segalanya penuh cinta
Segalanya penuh cinta
Segalanya penuh cinta

(Terjemahan Lagu) Berhembus Bersama Angin | Blowin in the Wind – Bob Dylan

Sore kemarin, saya mendapat notifikasi dari aplikasi berita di HP yang isinya adalah bahwa Bob Dylan mendapat hadiah Nobel Sastra. Saya bukan penggemar berat Bob Dylan, dan mungkin kebanyakan lagu Bob Dylan yg saya hapal (“Blowin in the Wind,” “Desolation Road,” dan lain-lain) saya dapatkan dari daftar 500 lagu terbaik versi Majalah Rolling Stones. Tapi, sebagai penerjemah lagu, saya ingin menghadirkan kepada Anda sekalian terjemahan kilat atas salah satu lagu Bob Dylan yang paling banyak diputar.

Meskipun Anda termasuk orang yang merayakan Penghargaan Nobel Sastra maupun yang kritis terhadap penghargaan ini, saya yakin Anda tidak akan keberatan sekadar mendengarkan musik dan melakukan perjalanan sedikit lebih jauh, yaitu memahami arti harfiahnya. Urusan makna yang lebih dalam, silakan Anda berpetualang sendiri.

Saat ini, sebagai pertanggungjawaban penerjemah, saya ingin mengaku bahwa saya menghubah dua barus pertama dari “man” dan “be a man” menjadi “manusia” dan “menjadi manusia.” Alasannya sederhana saja, saya tidak simpatik dengan gaya bicara maskulinis yg mengesankan bahwa kegagahan dan keberanian itu hanya milik laki-laki. Dan saya mencoba membiasakan mengintervensi teks yang saya terjemahkan. Simpel saja.

Maka, silakan menikmati terjemahan ini:

Berhembus bersama Angin

Berapa jalan yang harus disusuri manusia
Sebelum kau bisa menyebutnya manusia?
Berapa laut yang harus dilayari merpati putih
Sebelum dia bisa rebah di atas pasir?
Ya, berapa kali meriam harus ditembakkan
Sebelum akhirnya dilarang?
Jawabnya, kawan, bersama angin
Berhembus bersama angin

Berapa tahun gunung harus menjulang
Sebelum tersapu ke lautan?
Berapa tahun orang bisa hidup
Sebelum dia terbebaskan?
Berapa kali kau berpaling muka
Berpura-pura tak lihat?
Jawabnya, kawan, bersama angin
Berhembus bersama angin.

Berapa kali kau harus mendongak
Sebelum kau lihat langit?
Berapa telinga yang harus kita punya
Untuk mendengar tangisan?
Berapa banyak lagi kematian di bumi
Hingga kita sadar terlalu banyak yang mati?
Jawabnya, kawan, bersama angin
Berhembus bersama angin.

Untuk menemani Anda membaca lirik ini (atau aslinya), silakan puter lagu di bawah ini:

(Terjemahan Lagu) Tak Berbatas | No Ceiling – Eddie Vedder

Lagu ini benar-benar lagu kecintaan saya dari album Into the Wild karya Eddie Vedder. Entah di mana saya pernah menuliskan bahwa film Into the Wild (2007) adalah sebuah temuan emas bagi saya. Saya menemukan film itu murni secara kebetulan. Saya tidak kenal bintangnya (kecuali tentu saja Kristen Stewart yang ada di sana juga). Saya pertama-tama tertarik dengan gambar alam Alaska di ikonnya. Ternyata, luar biasa! Tentu saya tidak mengidolakan mati-matian romantisme ala Chris McCandless, tapi saya tak urung saya terpukau oleh kebijaksanaan yang ditawarkan atau pikiran-pikiran yang terbetik karena menonton film ini. Dan lagu-lagu Eddie Vedder yang menemani sepanjang film itu benar-benar membius, hingga saya jatuh cinta dengan album Eddie Vedder bahkan sebelum saya tahu kalau album itu ada.

Dan lagu ini, lagu kedua di dalam album tersebut, sungguh kuat dan emosional. Eddie Vedder tidak memakai gitar di sini. Dia memakai mandolin yang urutan nadanya terasa berbeda. Dan lagu ini memang lebih pas kalau dimainkan dengan mandolin atau bahkan ukulele, yang urutan nadanya agak berbeda dengan gitar. Btw, saya kembali mengunjungi lagu ini sejak saya beralih dari gitar ke ukulele (berkat hadiah ukulele dari teman-teman kantor saya di Spring International Language Center, disebut lengkap demi mengucapkan terima kasih). Lagu “No Ceiling” ini adalah salah satu lagu pertama yang saya mainkan di ukulele (tentu lagu-lagu yang benar-benar pertama saya mainkan di ukulele adalah lagu-lagu dari album Ukulele Songs, lha wong alasannya seneng ukulele karena album itu, hehehe…).

Sekadar pertanggungjawaban penerjemah, terjemahan yang lebih literer untuk judul “No Ceiling” adalah “Tanpa Plafon” atau tak ada batas tertinggi. Tapi, karena istilah “plafon” terlalu berbau anggaran dan mengesankan birokrasi dan proposal, maka saya harus memberanikan diri memilih istilah lain yang lebih mengena untuk membicarakan kebijaksanaan (bukan sekadar kebijakan publik) dan cinta. Maka inilah, “Tak Berbatas” atau “Tak Kenal Batas” seperti dalam frase “cinta tak berbatas” atau “cinta tak kenal batas.”

Maka, selamat menikmati “Tak Berbatas”:

Maka tibalah pagi
Saat kurasakan
Tak ada lagi yang perlu disembunyikan
Mulai kutempuh alam nan ganjil
Tapi hatiku tak akan pernah
Bisa jauh dari sini

Selama aku bernafas
Selama aku bersedih
Akan kusimpan kebijaksanaan ini
Aku pergi dengan lebih yakin
Pasti akan ada alasan
Ada alasan untuk kembali

Saat kujelajah dunia
Pengharapan muncul dan sirna
Aku pernah terluka
Aku telah sembuh
Dan kini aku siap
Siap untuk kembali hinggap

Selama aku bernafas
Selama aku bersedih
Akan kusimpan kebijaksanaan ini
Aku pergi dengan lebih yakin
Bahwa Cinta ini
Tak kenal batas

(Terjemahan Lagu) Gadis Tercantik Sedunia – Prince

Hari ini, 21 April waktu Amerika Sebelah Sini, penyanyi Prince mangkat secara tiba-tiba. Memang, semua kematian terjadi tiba-tiba, tapi untuk kematian Prince, sepertinya tidak ada yang siap menerima berita ini. Saingannya, Michael Jackson, mangkat beberapa tahun yang lalu dalam keadaan yang mencurigakan. Kita semua belum tahu apa yang terjadi dengan Prince.

Saya mulai kenal dan suka Prince mulai tahun 1995. Ya, tahun itu, tahun ketika repertoar musik saya diisi musik-musik Amerika slow rock dan pop. Prince memikat saya dengan lagu “The Most Beautiful Girl in the World” yang terjemahannya saya hadirkan sebentar lagi. Lagu ini begitu merayu dan sensual. Sungguh indah. Saya ingat waktu itu cambang Prince dibentuk bintang-bintang. Begitu saya kenal Prince pertama kali. Baru belakangan, ketika mulai lebih serius ingin kenal Prince, saya tahu bahwa dia termasuk salah seorang gitaris paling terkemuka dengan gaya bergitarnya yang “frenetik.” Awalnya saya tidak tahu apa maksud main gitar yang “frenetik” itu. Tapi, setelah mendengar album demi albumnya, saya tahu bahwa “frenetik” itu “hanya” istilah keren untuk permainan gitar yang lebih membutuhkan distorsi dan hati daripada jari dan pick. Ya! Begitulah.

Satu hal yang paling menonjol dari musik Prince (selain gitaran frenetik-nya yang kadang-kadang diumbar itu) adalah liriknya yang sensual dan merayu. Kalau dalam bahasa Indonesia, liriknya adalah racikan antara puitis dan slengekan tapi merayu dan tulus. Bagaimana itu? Pendeknya begitulah, rasakan sendiri lirik lagu-lagu beliau.

Satu hal yang perlu saya sampaikan tentang Prince adalah bahwa dia tidak bisa dibatasi. Hal ini paling tampak pada bagaimana dia menampilkan dirinya di depan publik. Dia laki-laki (semua orang tahu) dan heteroseksual (dia pernah menikah dua kali dengan istri yang sangat dia cintai–yang salah satunya menjadi inspirasi untuk lagu “Gadis Tercantik Sedunia” ini), tapi dia tidak mau membatasi penampilannya hanya pada busana laki-laki. Lihatlah baju-bajunya. Lihatlah sepatunya (tidak sekali saja dia pakai hak tinggi). Menurut seorang dosen saya (saya pernah mengambil mata kuliah Sastra Afrika Amerika Kontemporer yang diajar seorang dosen Afrika Amerika) bilang bahwa Prince memang seorang gender bender, atau penerabas batasan jender, yang sadar betul adanya pengkotak-kotakan pilihan berasarkan jenis kelamin, tapi dia tidak mau dibatasi. Warna yang sangat identik dengannya adalah ungu (sementara orang pada umumnya menganggap ungu sebagai warna untuk perempuan, atau bahkan ada yang bilang “warna janda,” padahal warna kan tidak menikah :D). Sikap Prince ini mirip dengan teori Judith Butler dan social constructivist yang memandang bahwa jender adalah hasil bentukan sosial. Jenis kelamin memang urusan biologis, tapi jender itu urusan bentukan masyarakat, demikian menurut Butler dan social constructivist lainnya.

Dalam kaitannya dengan ketidakterbatasan Prince, pernah beberapa saat dia mengubah namanya dengan sebuah simbol (simbol yang mirip bentuk gitarnya saat memainkan “Purple Rain” dalam pentas paruh waktu pertandingan bola Superbowl tahun 2007 itu). Ketika memakai nama itu, dia seringkali disebut “Artis yang dulu dikenal dengan nama Prince.” Tapi belakangan dia balik lagi ke nama Prince (btw, nama lahirnya Rogers Nelson ya, jangan sampai lupa).

Terakhir, sumpah terakhir, komitmen Prince dalam hal ketidakterbatasan jender ini juga seringkali tampak pada lagu dan penampilannya. Dalam hal penampilan, Prince adalah salah satu dari sedikit artis laki-laki yang konsisten menggunakan penggebuk drum perempuan. Dan dalam lagunya, seringkali dia memuja perempuan lebih dari sekadar penampilannya. Dalam lagu yang saya terjemahkan ini, misalnya, sejak awal dia bertanya “Mungkinkah engkau gadis yang tercantik di dunia?” Kita penikmat musiknya yang tanpa pretensi cenderung akan menganggap bahwa Prince ini memuja seorang gadis murni karena kecantikannya. Tapi tunggu, bukankah ini dia bertanya? Ya, dia bertanya, dan dalam pertanyaan ini ada ketidakpastian. Kenapa? Bagi saya, pertama karena tentu saja tidak ada yang tahu siapa wanita yang paling cantik di dunia. Kedua, dan ini yang menurut saya lebih penting, karena “kecantikan” itu ada hubungannya dengan sesuatu yang ada di dalam. Karena kecantikan perempuan yang dipuja Prince hanya efek samping dari pancaran kecantikan di dalam diri. Lihatlah baris terakhir pada bagian rap lagu ini (yang demi kebutuhan kejutan saya taruh di bagian paling belakang). Ya, gadis ini cantik, tapi cantiknya adalah pancaran kecantikan dalam diri. Karena itu… tidak ada yang tahu apakah dia yang paling cantik.

Tidak ada persyaratan rasial dalam kecantikan versi Prince ini. Hanya ada satu deskripsi fisik tentang kecantikan gadis Prince ini: kulit sehalus bunga. Bunga apa? Ada bunga yang kasar dan ada yang halus, tapi yang pasti semua alami.

Jadi, Anda sekalian punya kesempatan menjadi gadis tercantik di dunia versi Prince, asalkan bisa memancarkan kecantikan itu dari dalam.

Maka, mari menyanyi:

Mungkinkah, kau gadis tercantik sedunia?
Pastilah, kau alasan Tuhan mencipta gadis
Ketika tiba hari akhir dunia
Kuingin kau ada di haribaanku
Malam sebelumnya, aku akan menangis
Bahagia, setelah kau, semua hanya bisa tiada.

Mungkinkah, kau gadis tercantik sedunia?
Pastilah, kau alasan Tuhan mencipta gadis

Mampukah kulewati hari saat jam saja tak kuasa
Kucoba, tapi saat melihatmu lagi pasti aku musnah
Siapa yang mengizinkan wajahmu sehalus bunga?
Aku membungkuk, berbangga telah dirahmati

Mungkinkah, kau gadis tercantik sedunia?
Pastilah, kau alasan Tuhan mencipta gadis

Bila gemintang berjatuhan dari angkasa
Pasti Mars tak begitu jauh
Karena sayang, dengan kecantikan seperti itu
tak ada alasan bagimu untuk malu
Karena sayang, kecantikan semacam itu
adalah kecantikan yang memancar dari dalam

(Terjemahan) Desperado | The Eagles | Don Henley, Glenn Frey

Maka inilah terjemahan lagu “Desperado,” yang termasuk satu lagi dari khazanah “1995” dalam repertoar musik saya. Mungkin masa hitsnya tidak benar-benar 1995, tapi dalam kenangan saya, lagu ini termasuk 1995 demi kemudahan penyebutan saja.

Saya pertama kali dengar lagu ini waktu kelas tiga SMP, di rumah salah satu sobat baik, Bernardus Budi Indra Yanto. Sebelum lanjut, perlu saya sela dulu: saya belum pernah sekali pun ketemu Indra sejak lulus SMP (awakmu nang ndi ae, pek?). Ketika itu lagu “Hotel California” lagi ramai diputar di ANTV (yang siarannya bisa terjangkau sampai Sidoarjo), dan Indra yang mestinya lebih makmur dari kebanyakan kami (dia anak staff Pabrik Gula Kremboong dan tinggal di perumahan PG) membeli albumnya. Dia mengajak saja ke rumahnya suatu kali dan saya kesengsem dengan koleksi kaset-kasetnya. Waktu menyisir isi album-album itulah saya pertama kali ketemu permata lain dari album Hell Freezes Over: ya lagu “Desperado” itu. Saya ke rumah Indra beberapa kali lagi sejak sore itu, dan tiap kali ke sana selalu ganti album (Nirvana Unplugged in New York, Hell Freezes Over, dan … Relativity dari Indecent Obsession!). Begitulah Indra, orang kaya yang baik: membuat perpustakaan (kaset) dan membiarkan orang lain menikmatinya!

Mari sekarang kita berbicara sedikit tentang album Hell Freezes Over karya The Eagles ini. Sekadar mengingatkan saja, album ini direkam dari konser akustik yang tahun-tahun sedang ramai berkat acara MTV Unplugged. Kita yang remaja (atau sedikit lebih tua) pada masa itu bisa menikmati konser2 akustik kelas wahid yang masih anget dari MTV. Plus drama/tragedi/romantikanya. Konser akustik Oasis diwarnai Liam Gallagher yang menolak menyanyi, sehingga Noel–yang bisa dibilang seperti Liam Gallagher plus pintar bergitar–harus menyanyikan semua lagunya. Kita juga tahu konser akustik Nirvana yang meroketkan singel “About a Girl” yang kemudian menjadi album legendaris pasca mangkatnya almarhum Kurt Cobain. Kita juga lihat Elton John yang konser bermodalkan piano thok tapi membuat kita pendengarnya gemetaran. Atau juga Kiss. Aerosmith. Dan sebagainya. Trend ini terbawa sampai ke Indonesia. Ketika itu AN Teve punya acara akustik plus yang sempat menampilkan Dewa, Gigi, Pure Saturday, Modulus, dan sebagainya. Puncaknya adalah konser akustik mega sukses KLa Project yang jadi album ganda KLakustik, yang masing-masing menghadirkan single “Gerimis” dan “Sahabat.”

Ah, zaman akustik dalam musik dunia, zaman akustik dalam sejarah musik Indonesia, zaman yang melambungkan Henry Lamiri. 🙂

Kembali ke “Desperado,” sebelum kita tampilkan terjemahan lagu ini, perkenankan saya memberikan semacam pertanggungjawaban saya sebagai penerjemah. Seperti biasa, saya menggunakan nikmat kebebasan saya (sebagai penerjemah tak berbayar) dalam mengindonesiakan lagu ini. Ada satu ungkapan penting yang sebenarnya sarat makna lokal yang harus saya ikhlaskan dan saya ganti dengan ungkapan yang lebih “universal” (atau paling tidak ungkapan yang sama-sama lazim dalam bahasa Indonesia maupun Inggris). Ungkapan itu adalah “riding fences,” yang di sini saya terjemahkan menjadi “bermain api.” Makna dari “riding fences” itu sendiri sebenarnya sangat lokal, secara harfiah “memeriksa pagar.” “Memeriksa pagar di sini mengacu pada aktifitas koboi atau pemilik peternakan yang harus selalu mengelilingi properti mereka untuk memastikan bahwa pagarnya (biasanya kawat duri) tidak rusak atau dirusak orang. Pekerjaan semacam ini berbahaya, apalagi kalau dilakukan sendirian, karena biasanya koboi atau peternak yang memeriksa pagar ini juga berpotensi menghadapi garong yang ingin mencuri ternak mereka. Oh  ya, standar peternakan sapi di Amerika (baik di jaman dulu maupun sekarang) relatif sama, untuk satu ekor sapi haru ada kira-kira satu akre. Jadi kalau punya seratus sapi, ya berarti harus ada seratus akre properti yang harus dikelilingi dan diperiksa pagarnya dari waktu ke waktu. Begitulah, dalam lagu ini, ada kesan bahwa si Desperado ini suka menantang bahaya, memeriksa pagar terus-terusan, yang demi mudahnya saya terjemahkan menjadi “bermain api.”

Jadi, lagu ini sangat kental dengan atmosfir Selatan atau Barat. Dalam konteks negeri Aa’ Sam, Selatan mengesankan pedesaan. Dan kalau urusan Barat atau Western–atau lebih akuratnya Southwest atau Barat Daya, sekitar Texas, New Mexico, dan Arizona–memiliki asosiasi kehidupan jaman koboi yg dalam sejarahnya diwarnai petualangan, peperangan antara para pendatang Eropa dan penduduk pribumi Amerika, atau insiden saling curi kuda dan ternak antara penduduk di sebelah selatan sungai Rio Grande (Mexico) dan sebelah utara Rio Grande (Texas).

Yang lebih asyik lagi, ketika lagu ini nge-hits lewat album Hell Freezes Over itu, kita juga sedang dilanda demam film Desperado yang diperankan mas Antok (nama lengkapnya Antonio Banderas–btw, “bandera” dalam bahasa Spanyol artinya bendera lho :D).

Jadi, demi memori, mari kita nikmati “Desperado” di sini, yang ternyata tak jauh-jauh dari kecenderungan pribadi saya–pret!

By the way lagu, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Glenn Frey and Don Henley, di bawah saya tampilkan video lagu ini yang dibawakan Miranda Lambert, yang saat ini merupakan salah satu Ratu Musik Country,* yang lagu-lagunya sendiri sangat mbalada, tak kalah tangguhnya dengan “Desperado.”

* Ya, musik country itu bukan benar-benar monarki, berbeda dengan dangdhut. Ada beberapa ratu dalam musik country, sementara dalam musik dhangdut hanya ada satu ratu dan satu raja satu, yang sebenarnya bukan suami istri–nah, ini juga tidak konvensional kan?

Desperado, kenapa kau tak sadar juga
Dari dulu kau tetap bermain api
Mungkin kau tangguh
Mungkin kau punya alasan
Mungkin ini menyenangkanmu
Tapi yang pasti kau juga bisa terbakar

Jangan ambil Ratu Wajik
Suatu saat dia membunuhmu
Hematku, ambil itu Ratu Waru.

Sudah banyak yang indah
Tersedia di depan mata
Tapi kau minta yang tak ada

Desperado, kamu tak tambah muda
Pedih dan lapar membimbingmu pulang

Dan kebebasan, ah, itu kan kata orang
Penjaramu adalah petualangan sendirian

Tidakkah kakimu beku di musim dingin
Saat tak ada salju, tak ada matahari
Saat siang tak ubahnya malam
Saat sirna suka dan duka
Aneh, betapa perasaan itu bisa hilang.

Desperado, kenapa kau tak sadar juga?
Hentikan main apimu, buka pagar depan itu
Mungkin sekarang hujan, tapi di sana ada pelangi
Biarkan seseorang mencintaimu, sebelum terlambat

(Terjemahan Lagu) Tuna Netra – Blind Man | Aerosmith

Ini dia sebuah lagu dari jaman saya SMA, ketika pertama kali terjadi fenomena MTV masuk desa. Di kawasan Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya, Sidoarjo dan Lamongan), pernah terjadi dua kali fenomena MTV masuk desa. Yang pertama adalah ketika AN Teve masih uji coba dan hanya menyiarkan lagu-lagu “barat” (ketika itu lagu-lagu seperti “I Swear” dan “I’d Do Anything for Love” dan “Fixin’ a Broken Heart” lagi nge-hits) dan kedua ketika tahun-tahun awal AN Teve. Di saat kedua itu, banyak acara AT Teve yang merupakan transplantasi dari acara-acara MTV Asia. Di saat itulah kami anak-anak desa Gerbangkertosusila terpapar lagu-lagu MTV Hotseat, MTV Land (ketika itu promosi Nokia 3210 yang bisa gonta-ganti casing itu sedang marak, dan kita di desa hanya pikir memangnya buat apa punya HP?), MTV Classics, dll.

Lagu “Blind Man” ini saya ingat dari gelombang kedua MTV Masuk Desa itu. Kapan2 saya akan komentar panjang lebar, tapi sekarang mari kita nikmati dulu. Saya buat lagu ini agar sebisa mungkin dekat dengan mayoritas keyakinan penutur bahasa Indonesia, yaitu Muslim, tanpa sama sekali mengabaikan pembaca yang bukan Muslim, yang mungkin secara keyakinan lebih menyerupai asal lagu ini, tapi saya yakin secara budaya lebih mendekati Muslim Indonesia.

Oh ya, selain itu, seperti biasa saya sangat liberal dalam menerjemahkan lirik ini. Aslinya adalah “Blind Man” dan dinyanyikan dengan jiwa rock ‘n’ roll. Maksudnya, dalam bahasa Indonesia, semestinya kata “Orang Buta” lebih cocok dengan jiwa lagu ini. Tapi, karena saya lebih percaya dengan peningkatan kesopanan formal (yang saya yakin lebih bisa benar-benar menumbuhkan kesalingsopanan, bukan sekadar formal), maka saya memilih untuk menerjemahkannya jadi “Tuna Netra.”

Demikian pengantar singkat ini… silakan menyanyi! Genjreng gitare Cak Jupri! (Maksudnya: “Mainkan gitarnya, Joe Perry!)

Tuna Netra

Aku pergi ke pengajian/ikut kajian Alkitab*)
Aku selami musik blues
Kupakai yang konon menenangkan
Tapi tak satu pun berhasil

Tapi itu sudah berlalu
Seperti gaji di awal bulan
Gadis/lelaki *) memang bagai miras
Dan aku anjing tua
Mengejar buntut sendiri

Kukenal tuna netra
Yang mengajariku melihat dunia
Tuna netra
Yang mengubah malam jadi siang
Dan Andai bisa
Akan kuajak kau serta
Matahari muncul kembali
Bersama kita usir mendung … hayah… hayah!

Kupunya kekasih bersenang-senang
Sayang tak semua seindah kelihatannya
Sorgaku terkubur tanah longsor
Puji Tuhan/Alhamdulillah *) aku sudah bangun
dari mimpi buruk itu

Kukenal tuna netra
Yang mengajariku melihat dunia
Tuna netra
Yang mengubah malam jadi siang
Dan Andai bisa
Akan kuajak kau serta
Matahari muncul kembali
Bersama kita usir mendung … hayah… hayah!

Menyalakan lilin tak ada gunanya
Cahaya rembulan terlalu terang di mataku

Sampai kukenal tuna netra
Yang mengajariku melihat dunia
Tuna netra
Yang mengubah malam jadi siang
Dan Andai bisa
Akan kuajak kau serta
Matahari muncul kembali
Bersama kita usir mendung … hayah… hayah!

*) Silakan pilih terjemahan yang sesuai dengan keyakinan, jender, atau orientasi seksual…