(Terjemahan Lagu) Prajurit Kebo – Bob Marley

Mungkin ini terjemahan lagu yang pertama saya kerjakan, dari sekitar tahun 2006-2007. Seingat saya, versi pertama terjemahan ini saya kirimkan ke milis (yahoogroups, gan!) Apresiasi Sastra. Saya sangat menikmati penerjemahan lagu ini, dan bahkan mungkin ini pulalah yang akhirnya kemudian saya terus menerjemahkan lagu kalau sedang iseng sendiri, sebagai olahraga rekreatif.

Khusus untuk lagu ini, saya merasa mendapatkan pengetahuan lebih tentang lagu ini justru ketika menerjemahkannya. Sejak lumayan dulu, saya tahu sekilas bahwa “buffalo soldier” yang dimaksud Bob Marley di sini adalah para pejuang kulit hitam di Karibia. Tapi saya tidak tahu apa-apa saja yang membentuk spirit para “buffalo soldier” itu. Di lagu inilah kita bisa lihat apa-apa yang membuat mereka begitu beringas di medan tempur. Apa itu? Silakan baca sendiri dong.

Selanjutnya, saya persilakaan Anda membaca (atau mungkin menyanyikan) terjemahan ini. Selamat menikmati:

Prajurit Kebo

prajurit kebo, rambut gimbal:
ada prajurit kebo, di jantung amerika
diambil dari afrika, diboyong ke amerika
berjuang begitu tiba, untuk pertahankan nyawa

sungguh, saat kucium amisnya –
bagiku masuk akal saja:
ternyata si rambut gimbal adalah prajurit kebo,
direnggut dari afrika, diboyong ke amerika,
berjuang begitu tiba, untuk pertahankan nyawa

dia prajurit kebo, rambut gimbal –
prajurit kebo di jantung amerika.

andai kau tahu sejarahmu,
maka kau pun akan tahu asalmu,
kamu pun tak perlu tanya aku
siapa aku

aku cuma prajurit kebo di jantung amerika,
direnggut dari afrika, diboyong ke amerika,
berjuang saat tiba, berjuang demi nyawa;
katanya dia prajurit kebo, berperang untuk amerika.

Gimbaaaaallll, woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!
Woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!
prajurit kebo, berbaris maju, wo oh ooh!
katanya ingin lari, berarti kau butuh bantuan,
berderap maju, yi ha, yi ha.

dia prajurit kebo, berperang untuk amerika;
prajurit kebo, gimbal rasta
berjuang begitu tiba, untuk pertahankan nyawa;
diusir dari Amrik daratan ke jantung karibia.
ayo nyanyi woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!
Woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!

barbaris maju di san juan menyandang senjata amerika;
berbaris di jamaika, dialah prajurit kebo –
berjuang begitu tiba, ‘tuk pertahankan nyawa:
prajurit kebo, rambut gimbal.

Woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!
Woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!

Advertisements

(Terjemahan Lagu) Aerials – System of a Down

Perlu kiranya sedikit pendahuluan untuk postingan kita kali ini. Saya kenal System of a Down pertama kali melalui album Toxicity, melalui kebaikan hati seorang kawan yang memperkenalkan band metal yang didengarkannya waktu itu. Ketika itu, awal tahun 2000-an, tengah naik daun band-band metal (atau nu metal atau hip metal) semacam Korn, Limp Bizkit, Soulfly dan lain-lain. Tentu saya sempat merasakan teriak-teriak ngerap “Take a Look Around” sambil mungkin membayangkan diri akan menjadi seganteng Tom Cruise. Nah, di satu kesempatan saya minta rekomendasi band baru dari seorang kawan, gitaris yahud di Malang asal Blitar bernama Yudi Ijum. Dia meminjami saya kaset Toxicity yang kemudian saya puter di kamar kost sampai berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Itulah perkenalan pertama saya dengan System of a Down.

Ketika itu saya merasakan musiknya asyik–ada ruang-ruang jernih yang selalu saya suka–dan vokalnya tak ada duanya–ada cengkok-cengkok yang tidak lazim di band metal mana pun. Waktu itu saya anggap saja biasa, karena Korn juga punya kecenderungan memakai cengkok-cengkok khas yang tak bisa ditemui di band-band lain. Power vokal Serj Tankian yang super-bariton itu jug atak urung membuat saya cinta. Saya juga suka vokal Korn meskipun ketika itu musiknya menurut saya terlalu berisik dan sulit dicerna (pandangan serampangan yang selanjutnya berubah setelah saya dengar versi akustik mereka dan semakin jatuh cinta setengah mati–apalagi di situ ada vokalis gothic-metal “Amy Lee, from Evanescence”). Kayaknya, waktu itu ukuran vokal adiluhung adalah bariton, seperti halnya Tuan Jim Morisson yang baru beberapa tahun sebelumnya saya kenal. Tapi, seiring waktu, seiring hadirnya musisi-musisi baru dalam hidup saya, System of a Down pun melesap ke latar…

Sepuluhan tahun kemudian, ketika YouTube menjadi realitas tak terhindarkan yang tak ubahnya wartel di masa 2000-an awal, saya sempatkan mencari lagi System of a Down. Hmmm… Tetap menarik.

Beberapa tahun kemudian, saya kenal seorang pianis perempuan asal Lebanon, yang datang ke kampus saya di Arkansas untuk menyajikan resital dalam peringatan 100 tahun genosida bangsa Armenia. Saya kebagian tugas memvideo dan merekam audio dalam resital tersebut. Keluarga Amy, nama pianis itu, sudah tiga generasi tinggal di Lebanon, tapi dia orang Armenia. Dia hanya memainkan nomor-nomor karya para komponis yang nama-namanya memiliki kemiripan yang tak mungkin terlewatkan: semua nama belakangnya diakhiri dengan “-ian.” Saya langsung teringat System of a Down (vokalisnya Serj Tankian, dan yang lainnya juga mengandung “-ian”). Yang lebih penting lagi, ketika mendengarkan resital tersebut: saya dikejutkan oleh ketidakbiasaan yang terasa seperti gelombang yang membentur karang di pantai saya belasan tahun yang lampau. Semua komposisi klasik yang dimainkan oleh Amy adalah karya komponis Armenia. Di situlah, ada nada-nada khas, yang berkisar antara misterius dan manis dan pilu, yang berbeda dengan yang kita temui dalam komposisi-komposisi klasik dari Eropa–apalagi Amerika, ya tentunya skor-skor film Hollywood itu juga komposisi klasik kekinian dong! Komposisi-komposisi klasik Eropa penuh kemegahan, keceriaan musim semi, kesyahduan spiritual, dan sejenisnya. Keganjilan nada-nada komponis Armenia itu–dalam benak saya–memiliki kemiripan dengan ganjilnya cengkok-cengkok Serj Tankian dalam Toxicity.

Saya langsung riset kembali tentang System of a Down. Ternyata oh ternyata! Semua anggota System of a Down memang keturunan Armenia. Bahkan beberapa di antara mereka lahir di luar Amerika (Lebanon? Armenia?) dan baru kemudian bermigrasi ke Amerika. Dan, pada tahun 2015 itu, ternyata Serj juga ikut berkampanye menumbuhkan kesadaran orang tentang genosida bangsa Armenia oleh kekaisaran Turki Utsmani (yang masih belum begitu saja diakui oleh negara Turki saat ini). “Riset” saya juga akhirnya membuat saya menguji asal-usul semua orang Amerika yang namanya berakhiran “-ian” dan memang semuanya terbukti sebagai keturunan Armenia (termasuk Derek Sherinian, kibordis ultra-agresif yang pernah berkarir di Dream Theater itu).

Baiklah, saya cukupkan di sini saja obrolan saya tentang System of a Down. Kenapa saya nulis ini? Karena kebetulan saja kemarin sore waktu di kantor saya mendengar rekan kantor depan saya muter soundtrack-nya Dea Lova sementara rekan di ujung lorong muter Toxicity. Saya memutuskan untuk menikmati saja musik yang siap pakai itu. Dan baru kemudian saya ingat punya terjemahan “Aerials” yang tidak pernah saya terbitkan. Jadi silakan nikmati terjemahan “Aerials” berikut ini. Kata “Aerial” sendiri tidak saya terjemahkan karena saya sendiri masih ragu-ragu, kira-kira apa yang dimaksud “Aerial” di sini. Secara harfiah sih artinya di sini seperti mengacu ke antena-antena yang biasanya menghiasi pandangan kita saat melihat ke langit di tengah pemukiman padat. Tapi, saya cukup yakin juga bahwa aerial ini bisa berarti semacam serangga yang berkitaran di atas kita dan bisa melihat kita secara “aerial view” :). Jadi, daripada membunuh potensi makna yang mungkin akan datang kepada Anda, biarkan saja “Aerials” tetap menjadi “Aerial.”

Selamat menikmati!

AERIAL

Hidup adalah air terjun
Kini kita yang di sungai
Dan nanti lagi setelah jatuh

Berenang di kehampaan
Kita dengar firmannya
Kita lalu tersesat
Tapi temukan semuanya.

Karena kita yang ingin bermain
Selalu ingin jalan
Tapi tak pernah mau tinggal

Aerial di langit
Saat sirna benak ciutmu
Kau bebaskan hidupmu

Hidup adalah air terjun
Kita minum dari sungai
Lalu berbalik dan membangun tembok

Berenang di kehampaan
Kita dengar firmannya
Kita lupa diri
Tapi temukan semuanya.

Karena kita ingin bermain
Selalu ingin jalan
Tapi tak pernah mau tinggal

Terjemahan “Fruit Tree” – Nick Drake – Pohon Buah

Berikut ini terjemahan atas lagu Nick Drake dari album pertamanya Five Leaves Left. Dalam penggarapan album ini, Nick Drake yang sudah dikenal pemalu (sejak masuk Universitas Cambridge itu) masih tetap seorang musisi yang terasa penuh energi, setidaknya dalam rekaman dan dalam liriknya. Dalam penggarapan lagu yang liriknya sangat puitis ini, Nick menggandeng kawan kuliahnya Robert Kirby untuk menjadi aransir string pengiringnya.

Sekali lagi, seluruh album ini digarap ketika Nick masih penuh energi dan relatif berfungsi secara sosial. Album selanjutnya, Bryter Layter, yang digarap lagi-lagi dengan aransiran Robert Kirby untuk musik pengiringnya, adalah album yang penuh kerja keras, tapi Nick mulai tambah sulit diajak berkomunikasi. Dan untuk album terakhir, Pink Moon (yang saya terjemahkan di sini), Nick Drake bisa dibilang sudah menjadi pribadi yang tidak bisa diajak berkomunikasi, datang dan pergi sesukanya tanpa banyak bicara (selain gumaman yang kata teman-temannya sulit dipahami). Album itu digarap oleh Nick dan teknisi sound John Wood. Musiknya hanya permainan gitar Nick–dan piano yang juga dimainkan Nick sendiri.*

Betapapun bergairahnya Nick mengerjakan lagu “Fruit Tree” di album pertamanya itu, tak urung tetap tersirat kesuraman, tentunya karena liriknya yang menggunakan “Pohon Buah” sebagai metafor untuk hidup yang digerogoti oleh “buah” atau “karya”. Kalau Anda suka nonton film Hollywood, bisa lah kita samakan kesuramannya dengan judul film dahsyat Leonardo di Caprio dan Johnny Depp What’s Eating Gilbert GrapeNama keluarga Leo dan Johnny di film itu adalah keluarga Grape. Johnny, si kakak, adalah Gilbert; Leo memainkan Arnie, bocah 15 tahun yang hidup dengan autisme. Judulnya memberikan kesan menanyakan kira-kira apa yang “memakan” atau “membuat murung” atau “membuat tampak susah” si Gilbert Grape. Permainan antara kata “makan” dan kata “Grape” (nama keluarga yg juga nama buah itu) terasa asyik. Kembali ke Nick Drake, dia mengumpakan ketenaran itu sebagai pohon buah, yang tidak akan bisa berdaun lebat sebelum buahnya jatuh. Begitulah ketenaran, dalam imajinasi Drake: akan terjadi tapi dengan tumbalnya sendiri.

Maka, daripada berlama-lama, silakan baca terjemahan ini, atau aslinya di sini:

Pohon Buah

Ketenaran hanyalah pohon buah
Sangat tidak kokoh
Tak pernah berdaun lebat
Hingga buahnya luruh
Begitulah orang tenar
Tak pernah menemukan cara
Hingga dia terbang
Jauh dari hari-hari sekaratnya.

Terlupakan selagi kau ada
Diingat sebentar
Keruntuhan yang begitu terbarui
Dari gaya yang begitu tertinggal

Hidup hanyalah memori
Telah terjadi dulu sekali
Gedung pentas penuh duka
Untuk pentas yang terlupa
Tampak begitu mudah
Membiarkannya berlalu
Hingga kau berhenti dan bertanya
Kenapa kau tak pernah bertanya kenapa

Nyaman di rahim
Malam yang abadi
Kau temukan kegelapan dapat
Memberikan cahaya paling terang
Aman di tempatmu jauh di dalam bumi
Itulah saatnya mereka tahu seberharga apa dirimu
Terlupakan saat kau di sini
Diingat sebentar
Keruntuhan yang begitu terbarui
Dari gaya yang begitu tertinggal

Ketenaran adalah pohon buah
Sangat tidak kokoh
Tak pernah berdaun lebat
Hingga buahnya luruh
Begitulah orang tenar
Tak pernah menemukan cara
Hingga diterbangkan
Jauh dari hari-hari sekaratnya.

Pohon buah, pohon buah
Tak ada yang mengenalmu selain hujan dan udara
Jangan kuatir
Mereka akan berdiri dan menatap saat kau pergi

Pohon buah, pohon buah
Bukalah matamu
Sambutlah tahun yang baru
Mereka semua akan tahu
Bahwa kau pernah di sini
Saat kau telah pergi

* Semua informasi biografis mengenai Nick Drake ini saya dapatkan dari buku biografi berjudul Nick Drake karya Pattrick Humphries, yang edisi terjemahannya diterbitkan oleh Yayasan Jungkir Balik Pustaka (nama penerbitnya tidak standar, kan? :D)

(Terjemahan Lagu) Day is Done – Saat Hari Usai – Nick Drake

Ini dia satu lagu terjemahan lagu Nick Drake “Day is Done.” Untuk lirik aslinya silakan google sendiri, dan untuk lagunya silakan cari di YouTube. Edisi pingin cepat.

Saat Hari Usai

Saat hari usai
Surya lenyap di balik bumi
Bersama yang lepas dan terraih
Saat hari usai

Saat hari usai
Berharap semua lomba selesai
Ternyata kau terburu memulai
Engkau pun musti ulangi
Saat hari usai

Saat malam dingin
Ada yang biasa ada yang menua
Sekadar tahu hidup tak hanya kencana
Saat malam dingin

Saat burung telah terbang
Tak seorang pun milikmu
Tak ada rumah bagimu
Saat burung telah terbang

Saat permainan telah diperjuangkan
Kau pukul bola ke seberang lapangan
Kau kalah lebih cepat dari perkiraanmu
Kini permainan telah diperjuangkan

Saat pesta usai
Sungguh menyedihkan bagimu
Tak sempat lakukan yang kau rencanakan
Tak ada kesempatan memulai lagi
Kini pesta usai

Saat hari usai
Surya lenyap di balik bumi
Bersama yang lepas dan terraih
Saat hari usai

(Terjemahan Lagu) Nick Drake – Bulan Merah Jambu – Pink Moon

Bagi Anda yang aktif di Instagram atau Twitter dan kebetulan berkontak dengan orang-orang penerbitan atau penggemar musik, musik Anda akan melihat poster berlatar hijau pastel muram dengan seorang lelaki berselimut meksiko garis-garis menjulurkan tangan dengan sekuntum bunga merah jambu. Poster itu adalah sampul dari buku biografi Nick Drake yang ditulis oleh Patrick Humpries terbitan Yayasan Jungkir Balik Pustaka.

Saya pikir saya cukup tahu musik, meskipun tidak sangat hardcore–tapi saya tidak kenal siapa itu Nick Drake. Menurut Pengantar dan Pendahuluan buku tersebut (yang salah satu versi dummy-nya sampai ke tangan saya alasan yang mungkin akan tersirat dari postingan ini :D), Nick Drake ini penting karena kisah hidupnya yang konon tragis dan diselimuti mitos. Dia mati muda, pada usia 26 tahun (banyak orang hebat mangkat pada usia 27 tahun!), setelah sukses beberapa tahun sebagai musisi folk yang menginspirasi banyak orang. Tapi dia meninggal dalam keadaan depresi.

Begitulah. Karena dalam waktu dekat ini saya diajak kawan-kawan diskusi tentang buku ini sementara saya sendiri baru tahu siapa dia, akhirnya lah saya melakukan riset (baca: melakukan googling dan youtubing secara intensif). Nah, sebagai upaya memahami kehidupan Nick Drake, saya coba dengarkan lagu-lagu paling penting dari karir Drake yang pendek tapi penuh warna itu.

Di bawah ini adalah terjemahan dari lagu “Pink Moon,” salah satu lagu terakhir karya Drake. Lagu ini saya pilih karena paling pendek secara lirik, tapi memiliki kualitas musikalitas yang kompleks sekaligus sederhananya selaras dengan lagu-lagu yang lain. Tidak ada yang tahu pasti apa makna dari “pink moon” atau “bulan merah jambu” dalam lagu ini. Ada yang menafsirkannya sebagai “penyakit kejiwaan” yang menghantui dan tak dapat dihindari, yang mulai terasa mencengkeram Nick Drake. Tapi, secara sederhana, kalau dilihat dari liriknya, mungkin “pink moon” ini bisa diartikan sebagai “maut” yang pasti datang ke kalian semua, dan “tidak ada seorang pun dari kalian yang cukup tegar” untuk menghadapinya.

Berikut ini terjemahannya, dan silakan cari lagunya di YouTube.

Bulan Merah Jambu

Kulihat tertulis dan kulihat berujar
Bulan merah jambu akan datang
Tak ada yang bisa cukup tegar
Bulan itu akan menyambar semua kalian

Itulah bulan merah jambu
Ya, bulan merah jambu

Pink, pink, pink, pink
Bulan merah jambu
Pink, pink, pink, pink
Bulan merah jambu

Kulihat tertulis dan kulihat berujar
Bulan merah jambu akan datang
Tak ada yang bisa cukup tegar
Bulan itu akan menyambar semua kalian

Itulah bulan merah jambu
Ya, bulan merah jambu

Pink, pink, pink, pink
Bulan merah jambu
Pink, pink, pink, pink
Bulan merah jambu

(terjemahan lagu) Amrik Udik a.k.a. Small Town USA by Justin Moore

Ini salah satu lagu yang membuat saya hati kepada musik country bertahun-tahun lalu. Alasan utamanya tentu saja karena saya merasa bisa mengidentifikasi diri dengan lagu ini dan benar-benar mengalami Amrik yang udik ini. Istilah jaman ini, karena lagu ini membuat saya #baper.

Tentu saya tidak benar-benar tinggal di Amrik yang seudik yang digambarkan di sini. Fayetteville adalah termasuk kota yang paling besar di Arkansas (meskipun termasuk kota yang sangat kecil dibandingkan kota-kota Amrik di film-film itu). Tapi, kalau saya keluar sedikit saja dari Fayetteville, barang 30 menit nyetir mobil, saya akan mendapati kota semacam ini. Saya juga sangat sering menginap di desa tempat seorang kawan saya punya lahan pertanian (yang jalannya benar-benar masih jalan tanah/sirtu seperti di lagu ini).

Dan, sebenarnya, Justin Moore ini adalah orang Arkansas. Memang sih dia bukan orang Fayetteville atau desa-desa di sekitar Fayetteville, tapi… tapi… Kalau Anda lihat video klipnya, akan ketahuan bahwa salah satu bintang klip-nya memakai topi “Hogs” yang artinya celeng, yang mengacu kepada tim futbol kampus tercinta saya, University of Arkansas.

Jadi, salahkah saya #baper setiap kali mendengar lagu yang sangat pastoral dan tipikal lagu-lagu country Arkansas ini?

Maka, mari ikut menanyi:

Amrik Udik

Waktu aku kecil, banyak yang menyebutnya penjara
Tapi di sinilah akarku dan inilah yang kucinta

Semua orang kenal aku dan aku kenal mereka
Dan aku percaya begitulah semestinya hidup
Kehidupan Amrik udik ini sungguh tak tergantikan.

Beri aku malam Minggu bersama kekasih,
Hank Jr. dan setali bir ringan enam biji,
Jalanan tanah. Itu cukup bagiku.
Beri aku Minggu pagi yang pernuh berkah
Kehidupan sederhana. Itu cukup bagiku.
Di sini, di Amrik udik ini.

Di sini orang banting tulang demi setali uang
Kami tak pernah kelebihan, tapi selalu cukup.
Orang-orang pergi dan mereka kembali lagi
Aku tak ingin ikut-ikutan itu.
Aku bangga bisa bilang aku cinta tempat ini.
Di Amrik udik yang indah ini.

Beri aku malam Minggu bersama kekasih
David Allen Coe dan setali bir ringan enam biji
Jalanan tanah. Itu cukup bagiku.
Beri aku Minggu pagi yang penuh berkah
Kehidupan sederhana. Itu cukup bagiku.
Di sini, di Amrik udik ini.

Yeah, di Amrik udik ini.

(Terjemahan Lagu) Segalanya Penuh Cinta | All is Full of Love karya Björk

Kalau ngomong soal Bjork (sebentar, saya copy paste dulu namanya biar pas: Björk), Anda harus melakukannya dengan rendah hati dan tidak grusa-grusu. Karena apa? Karena Björk (hasil copy-paste) adalah kesubliman selera, karena Björk adalah lapis-lapis bawang, karena Björk adalah yang jernih tapi tertabiri.

Hari ini saya ingin menghadirkan kepada Anda sekalian salah satu mahakarya Bjork (maksud saya Björk) yang paling awal dan saya pastikan bisa menyentuh Anda dengan kejernihannya. Lirik-liriknya memberi Anda kiasan yang tidak biasa untuk kebijakan yang sederhana, dan itu lebih dari cukup, terutama bagi kita yang hidup di tengah-tengah metafor mati ini.

Maka, tanpa berpanjang-panjang, silakan menikmati lirik lagu “All is Full of Love” yang hari-hari ini termasuk white noise saya dalam bekerja. Ya, Björk, segalanya penuh cinta, segalanya penuh cinta…

Segalanya Penuh Cinta

Kau akan dicinta
Kau akan dipelihara
Kau akan dicinta
Kau hanya perlu percaya

Mungkin sumbernya tak sama
Dengan aliran cintamu
Mungkin bukan dari arah
Matamu menatap

Tolehkan kepalamu
Semuanya di sekitarmu
Segalanya penuh cinta
Di sekelilingmu

Segalanya penuh cinta
Kau saja tak menerimanya
Segalanya penuh cinta
Telponmu saja tak tersambung
Segalanya penuh cinta
Pintumu saja yang tertutup
Segalanya penuh cinta!

Segalanya penuh cinta
Segalanya penuh cinta
Segalanya penuh cinta
Segalanya penuh cinta
Segalanya penuh cinta

(Terjemahan Lagu) Berhembus Bersama Angin | Blowin in the Wind – Bob Dylan

Sore kemarin, saya mendapat notifikasi dari aplikasi berita di HP yang isinya adalah bahwa Bob Dylan mendapat hadiah Nobel Sastra. Saya bukan penggemar berat Bob Dylan, dan mungkin kebanyakan lagu Bob Dylan yg saya hapal (“Blowin in the Wind,” “Desolation Road,” dan lain-lain) saya dapatkan dari daftar 500 lagu terbaik versi Majalah Rolling Stones. Tapi, sebagai penerjemah lagu, saya ingin menghadirkan kepada Anda sekalian terjemahan kilat atas salah satu lagu Bob Dylan yang paling banyak diputar.

Meskipun Anda termasuk orang yang merayakan Penghargaan Nobel Sastra maupun yang kritis terhadap penghargaan ini, saya yakin Anda tidak akan keberatan sekadar mendengarkan musik dan melakukan perjalanan sedikit lebih jauh, yaitu memahami arti harfiahnya. Urusan makna yang lebih dalam, silakan Anda berpetualang sendiri.

Saat ini, sebagai pertanggungjawaban penerjemah, saya ingin mengaku bahwa saya menghubah dua barus pertama dari “man” dan “be a man” menjadi “manusia” dan “menjadi manusia.” Alasannya sederhana saja, saya tidak simpatik dengan gaya bicara maskulinis yg mengesankan bahwa kegagahan dan keberanian itu hanya milik laki-laki. Dan saya mencoba membiasakan mengintervensi teks yang saya terjemahkan. Simpel saja.

Maka, silakan menikmati terjemahan ini:

Berhembus bersama Angin

Berapa jalan yang harus disusuri manusia
Sebelum kau bisa menyebutnya manusia?
Berapa laut yang harus dilayari merpati putih
Sebelum dia bisa rebah di atas pasir?
Ya, berapa kali meriam harus ditembakkan
Sebelum akhirnya dilarang?
Jawabnya, kawan, bersama angin
Berhembus bersama angin

Berapa tahun gunung harus menjulang
Sebelum tersapu ke lautan?
Berapa tahun orang bisa hidup
Sebelum dia terbebaskan?
Berapa kali kau berpaling muka
Berpura-pura tak lihat?
Jawabnya, kawan, bersama angin
Berhembus bersama angin.

Berapa kali kau harus mendongak
Sebelum kau lihat langit?
Berapa telinga yang harus kita punya
Untuk mendengar tangisan?
Berapa banyak lagi kematian di bumi
Hingga kita sadar terlalu banyak yang mati?
Jawabnya, kawan, bersama angin
Berhembus bersama angin.

Untuk menemani Anda membaca lirik ini (atau aslinya), silakan puter lagu di bawah ini:

(Terjemahan Lagu) Tak Berbatas | No Ceiling – Eddie Vedder

Lagu ini benar-benar lagu kecintaan saya dari album Into the Wild karya Eddie Vedder. Entah di mana saya pernah menuliskan bahwa film Into the Wild (2007) adalah sebuah temuan emas bagi saya. Saya menemukan film itu murni secara kebetulan. Saya tidak kenal bintangnya (kecuali tentu saja Kristen Stewart yang ada di sana juga). Saya pertama-tama tertarik dengan gambar alam Alaska di ikonnya. Ternyata, luar biasa! Tentu saya tidak mengidolakan mati-matian romantisme ala Chris McCandless, tapi saya tak urung saya terpukau oleh kebijaksanaan yang ditawarkan atau pikiran-pikiran yang terbetik karena menonton film ini. Dan lagu-lagu Eddie Vedder yang menemani sepanjang film itu benar-benar membius, hingga saya jatuh cinta dengan album Eddie Vedder bahkan sebelum saya tahu kalau album itu ada.

Dan lagu ini, lagu kedua di dalam album tersebut, sungguh kuat dan emosional. Eddie Vedder tidak memakai gitar di sini. Dia memakai mandolin yang urutan nadanya terasa berbeda. Dan lagu ini memang lebih pas kalau dimainkan dengan mandolin atau bahkan ukulele, yang urutan nadanya agak berbeda dengan gitar. Btw, saya kembali mengunjungi lagu ini sejak saya beralih dari gitar ke ukulele (berkat hadiah ukulele dari teman-teman kantor saya di Spring International Language Center, disebut lengkap demi mengucapkan terima kasih). Lagu “No Ceiling” ini adalah salah satu lagu pertama yang saya mainkan di ukulele (tentu lagu-lagu yang benar-benar pertama saya mainkan di ukulele adalah lagu-lagu dari album Ukulele Songs, lha wong alasannya seneng ukulele karena album itu, hehehe…).

Sekadar pertanggungjawaban penerjemah, terjemahan yang lebih literer untuk judul “No Ceiling” adalah “Tanpa Plafon” atau tak ada batas tertinggi. Tapi, karena istilah “plafon” terlalu berbau anggaran dan mengesankan birokrasi dan proposal, maka saya harus memberanikan diri memilih istilah lain yang lebih mengena untuk membicarakan kebijaksanaan (bukan sekadar kebijakan publik) dan cinta. Maka inilah, “Tak Berbatas” atau “Tak Kenal Batas” seperti dalam frase “cinta tak berbatas” atau “cinta tak kenal batas.”

Maka, selamat menikmati “Tak Berbatas”:

Maka tibalah pagi
Saat kurasakan
Tak ada lagi yang perlu disembunyikan
Mulai kutempuh alam nan ganjil
Tapi hatiku tak akan pernah
Bisa jauh dari sini

Selama aku bernafas
Selama aku bersedih
Akan kusimpan kebijaksanaan ini
Aku pergi dengan lebih yakin
Pasti akan ada alasan
Ada alasan untuk kembali

Saat kujelajah dunia
Pengharapan muncul dan sirna
Aku pernah terluka
Aku telah sembuh
Dan kini aku siap
Siap untuk kembali hinggap

Selama aku bernafas
Selama aku bersedih
Akan kusimpan kebijaksanaan ini
Aku pergi dengan lebih yakin
Bahwa Cinta ini
Tak kenal batas

(Terjemahan Lagu) Gadis Tercantik Sedunia – Prince

Hari ini, 21 April waktu Amerika Sebelah Sini, penyanyi Prince mangkat secara tiba-tiba. Memang, semua kematian terjadi tiba-tiba, tapi untuk kematian Prince, sepertinya tidak ada yang siap menerima berita ini. Saingannya, Michael Jackson, mangkat beberapa tahun yang lalu dalam keadaan yang mencurigakan. Kita semua belum tahu apa yang terjadi dengan Prince.

Saya mulai kenal dan suka Prince mulai tahun 1995. Ya, tahun itu, tahun ketika repertoar musik saya diisi musik-musik Amerika slow rock dan pop. Prince memikat saya dengan lagu “The Most Beautiful Girl in the World” yang terjemahannya saya hadirkan sebentar lagi. Lagu ini begitu merayu dan sensual. Sungguh indah. Saya ingat waktu itu cambang Prince dibentuk bintang-bintang. Begitu saya kenal Prince pertama kali. Baru belakangan, ketika mulai lebih serius ingin kenal Prince, saya tahu bahwa dia termasuk salah seorang gitaris paling terkemuka dengan gaya bergitarnya yang “frenetik.” Awalnya saya tidak tahu apa maksud main gitar yang “frenetik” itu. Tapi, setelah mendengar album demi albumnya, saya tahu bahwa “frenetik” itu “hanya” istilah keren untuk permainan gitar yang lebih membutuhkan distorsi dan hati daripada jari dan pick. Ya! Begitulah.

Satu hal yang paling menonjol dari musik Prince (selain gitaran frenetik-nya yang kadang-kadang diumbar itu) adalah liriknya yang sensual dan merayu. Kalau dalam bahasa Indonesia, liriknya adalah racikan antara puitis dan slengekan tapi merayu dan tulus. Bagaimana itu? Pendeknya begitulah, rasakan sendiri lirik lagu-lagu beliau.

Satu hal yang perlu saya sampaikan tentang Prince adalah bahwa dia tidak bisa dibatasi. Hal ini paling tampak pada bagaimana dia menampilkan dirinya di depan publik. Dia laki-laki (semua orang tahu) dan heteroseksual (dia pernah menikah dua kali dengan istri yang sangat dia cintai–yang salah satunya menjadi inspirasi untuk lagu “Gadis Tercantik Sedunia” ini), tapi dia tidak mau membatasi penampilannya hanya pada busana laki-laki. Lihatlah baju-bajunya. Lihatlah sepatunya (tidak sekali saja dia pakai hak tinggi). Menurut seorang dosen saya (saya pernah mengambil mata kuliah Sastra Afrika Amerika Kontemporer yang diajar seorang dosen Afrika Amerika) bilang bahwa Prince memang seorang gender bender, atau penerabas batasan jender, yang sadar betul adanya pengkotak-kotakan pilihan berasarkan jenis kelamin, tapi dia tidak mau dibatasi. Warna yang sangat identik dengannya adalah ungu (sementara orang pada umumnya menganggap ungu sebagai warna untuk perempuan, atau bahkan ada yang bilang “warna janda,” padahal warna kan tidak menikah :D). Sikap Prince ini mirip dengan teori Judith Butler dan social constructivist yang memandang bahwa jender adalah hasil bentukan sosial. Jenis kelamin memang urusan biologis, tapi jender itu urusan bentukan masyarakat, demikian menurut Butler dan social constructivist lainnya.

Dalam kaitannya dengan ketidakterbatasan Prince, pernah beberapa saat dia mengubah namanya dengan sebuah simbol (simbol yang mirip bentuk gitarnya saat memainkan “Purple Rain” dalam pentas paruh waktu pertandingan bola Superbowl tahun 2007 itu). Ketika memakai nama itu, dia seringkali disebut “Artis yang dulu dikenal dengan nama Prince.” Tapi belakangan dia balik lagi ke nama Prince (btw, nama lahirnya Rogers Nelson ya, jangan sampai lupa).

Terakhir, sumpah terakhir, komitmen Prince dalam hal ketidakterbatasan jender ini juga seringkali tampak pada lagu dan penampilannya. Dalam hal penampilan, Prince adalah salah satu dari sedikit artis laki-laki yang konsisten menggunakan penggebuk drum perempuan. Dan dalam lagunya, seringkali dia memuja perempuan lebih dari sekadar penampilannya. Dalam lagu yang saya terjemahkan ini, misalnya, sejak awal dia bertanya “Mungkinkah engkau gadis yang tercantik di dunia?” Kita penikmat musiknya yang tanpa pretensi cenderung akan menganggap bahwa Prince ini memuja seorang gadis murni karena kecantikannya. Tapi tunggu, bukankah ini dia bertanya? Ya, dia bertanya, dan dalam pertanyaan ini ada ketidakpastian. Kenapa? Bagi saya, pertama karena tentu saja tidak ada yang tahu siapa wanita yang paling cantik di dunia. Kedua, dan ini yang menurut saya lebih penting, karena “kecantikan” itu ada hubungannya dengan sesuatu yang ada di dalam. Karena kecantikan perempuan yang dipuja Prince hanya efek samping dari pancaran kecantikan di dalam diri. Lihatlah baris terakhir pada bagian rap lagu ini (yang demi kebutuhan kejutan saya taruh di bagian paling belakang). Ya, gadis ini cantik, tapi cantiknya adalah pancaran kecantikan dalam diri. Karena itu… tidak ada yang tahu apakah dia yang paling cantik.

Tidak ada persyaratan rasial dalam kecantikan versi Prince ini. Hanya ada satu deskripsi fisik tentang kecantikan gadis Prince ini: kulit sehalus bunga. Bunga apa? Ada bunga yang kasar dan ada yang halus, tapi yang pasti semua alami.

Jadi, Anda sekalian punya kesempatan menjadi gadis tercantik di dunia versi Prince, asalkan bisa memancarkan kecantikan itu dari dalam.

Maka, mari menyanyi:

Mungkinkah, kau gadis tercantik sedunia?
Pastilah, kau alasan Tuhan mencipta gadis
Ketika tiba hari akhir dunia
Kuingin kau ada di haribaanku
Malam sebelumnya, aku akan menangis
Bahagia, setelah kau, semua hanya bisa tiada.

Mungkinkah, kau gadis tercantik sedunia?
Pastilah, kau alasan Tuhan mencipta gadis

Mampukah kulewati hari saat jam saja tak kuasa
Kucoba, tapi saat melihatmu lagi pasti aku musnah
Siapa yang mengizinkan wajahmu sehalus bunga?
Aku membungkuk, berbangga telah dirahmati

Mungkinkah, kau gadis tercantik sedunia?
Pastilah, kau alasan Tuhan mencipta gadis

Bila gemintang berjatuhan dari angkasa
Pasti Mars tak begitu jauh
Karena sayang, dengan kecantikan seperti itu
tak ada alasan bagimu untuk malu
Karena sayang, kecantikan semacam itu
adalah kecantikan yang memancar dari dalam