Ghibah soal Ghibli, Apresiasi Awal

Hari ini, untuk pertama kalinya saya akan ngobrol serius di depan publik tentang film-film Studio Ghibli. Oh ya, ini “serius” dalam ukuran saya lho ya. Jangan marah kalau agak beda sama “serius” di kamus. Sebelum dianggap sok tahu tentang film-film animasi itu, saya perlu menjelaskan bahwa ini adalah upaya saya untuk menghormati karya-karya Studio GhibliContinue reading “Ghibah soal Ghibli, Apresiasi Awal”

Pesan Studio Ghibli: Bukan Motivasi tapi Inspirasi (plus Kesempatan) (7-Final)

Sepertinya ini akan menjadi postingan terakhir untuk seri Studio Ghibli yang telah saya tulis mulai minggu lalu. Kenapa postingan terakhir, kan baru tujuh postingan dengan ini nanti? Alasannya sih karena saya perlu kembali menuliskan sesuatu yang lebih urgen untuk dituliskan, karena saya juga tidak ingin jenuh dan tumpul karena terus-menerus memeras poin tentang Studio GhibliContinue reading “Pesan Studio Ghibli: Bukan Motivasi tapi Inspirasi (plus Kesempatan) (7-Final)”

Dua Dimensi Visi Ekologis Film Studio Ghibli (6)

Kini, kita bicarakan lagi satu visi yang nyaris selalu muncul dalam film-film Studio Ghibli, yaitu visi ekologis. Yang saya maksud “visi ekologis” di sini adalah kesadaran dasar tentang pentingnya melestarikan alam, dan itu mencakup juga kritik terhadap kecenderungan-kecenderungan manusia yang merusak atau membahayakan alam. Visi ekologis ini bisa kita temukan hadir secara eksplisit dalam film-filmContinue reading “Dua Dimensi Visi Ekologis Film Studio Ghibli (6)”

Studio Ghibli dan Visi Feminis yang Ngawe-awe (5)

Karena satu dan lain hal, diskusi tentang dinamika bentuk dan isi kita jeda dulu. Ada satu aspek film-film Studio Ghibli yang melambai-lambai ingin disebutkan dulu, yaitu visi feminisnya. Sebenarnya ada dua sih, yaitu visi feminis dan ekologis. Tapi, karena ini hanya postingan 15 menitan, saya harus pilih satu saja. Kita dahulukan visi feminis yang kebetulanContinue reading “Studio Ghibli dan Visi Feminis yang Ngawe-awe (5)”

Lapis Ketiga Studio Ghibli: Menerabas Batas Timur-Barat dengan Format Anime (4)

Sydney Sheldon pernah mengatakan bahwa membuat novel jauh lebih ringan daripada membuat film, karena novel nyaris tidak memberikan batasan. Tentu Sydney Sheldon punya otoritas mengatakan ini. Dia punya karir cukup panjang di Hollywood sebelum mulai menulis novel-novelnya yang sangat laku itu. Sekarang, setelah mengenal Studio Ghibli, saya menemukan satu fenomena yang tak kalah uniknya: animeContinue reading “Lapis Ketiga Studio Ghibli: Menerabas Batas Timur-Barat dengan Format Anime (4)”