(Terjemahan Puisi) Jangan Menoleh “Don’t Look Back” karya Solomon Ibn Gabirol + OASIS

Kangen nerjemah lagi dan di rak buku di kamar ada satu buku Selected Poems of Solomon Ibn Gabirol buah terjemahan Peter Cole dari bahasa Ibrani. Buku ini, seperti judulnya, berisi puisi-puisi pilihan karya penyair Andalusia yang hidup dalam kultur Arab dengan nama Arab Abu Ayyub Sulaiman Ibn Yahya Ibn Jabirul.

Saya pakai buku ini (hadiah dari dosen saya) untuk ujian komprehensif doktoral beberapa tahun yang lalu, untuk bidang cakupan Sastra Spanyol Masa Islam. Ketika itu saya membaca untuk mengetahui isi karya-karya sastra (dan rupa) Spanyol antara tahun 711-1502. Penekanannya di sini adalah “isinya” saja, karena dalam hal gaya bahasa tentu saja saya tidak bisa menjangkaunya. Karya-karya sastra dari periode itu ditulis dalam bahasa Arab, Ibrani, dan Kasteyano (Castellano). Continue reading “(Terjemahan Puisi) Jangan Menoleh “Don’t Look Back” karya Solomon Ibn Gabirol + OASIS”

Advertisements

Linimasa Mengambang atau Floating Timeline

“Enak ya jadi Nobita? Sejak aku kelas 6 SD sampai sekarang punya anak mau naik kelas 6 SD, dia masih tetap kelas 4 SD.”

“Betapa bahagianya jadi Upin dan Ipin. Dari sepuluh tahun yang lalu dia masih di Tadika Mesra. Tidak harus berhadapan dengan UNAS.”

Pasti Anda sering mendengar itu–kalau Anda seperti saya, suka ngobrol dengan orang-orang iseng. Bagaimana fenomena ini menurut ilmu sastra?

Baiklah, sebagai dosen sastra yang masih pemula, saya akan menguji diri sendiri dengan menjawab pertanyaan (yang saya lontarkan sendiri itu). Fenomena ini–eh, sebenarnya bukan fenomena sih. Saya ulangi lagi: ini adalah satu fitur dalam prosa atau naratif yang disebut “linimasa mengambang” atau “floating timeline” atau “sliding timescale.” Continue reading “Linimasa Mengambang atau Floating Timeline”

Inilah Esai: Hasil Mengamalkan Ilmu Ganas Ajaran Guru SD yang Kurang Diamalkan?

(Saya pernah menulis tentang buku Inilah Esai tulisan Muhidin M. DahlanTapi, kemarin, setelah baca tulisannya Muhidin tentang Bumi Manusia, saya jadi ingat kalau saya pernah nulis ini, tetap tentang buku Inilah Esai, yang saya kirimkan ke sebuah portal online untuk ulasan buku tapi tidak pernah dimuat. Jadi ya, timbangane eman, diposting di sini saja.)

Setiap kali mendengar kata “kliping,” saya cenderung ingat masa SD dan SMP, waktu sering ditugasi membuat kliping dengan tema pembangunan, KB, OPEC dan sebagainya. Ada kesan bahwa kliping sesimpel itu. Tapi itu dulu, sebelum saya kenal Muhidin M. Dahlan, yang dalam esai-esainya sering berbicara tentang kegemaran penulis besar Pramoedya Ananta Toer (dan dirinya sendiri) mengkliping berita. Muhidin membuat saya tahu bahwa mengkliping adalah aktivitas aktif, fisikal sekaligus intelektual, dan bermanfaat jangka panjang. Kesadaran ini sesekali menerbitkan sesal.

Definisi kamus atas “kliping” juga sangat bersahaja. Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi V mendefinisikan kliping “guntingan atau potongan bagian tertentu dari surat kabar, majalah, dan sebagainya, yang kemudian disusun dengan system tertentu.” Bersahaja, kan? Sama sekali tidak ada kesan wah dari definisi ini. Mungkin karena memang begitulah semestinya definisi kamus.

Yang tak langsung tampak dari definisi di atas adalah bahwa mengkliping terkadang mencakup aktivitas pergi ke lapak koran bekas untuk mencari koran edisi lalu saat kita dengar ada berita bagus tentang topik tertentu di sebuah koran. Setelah itu, kita perlu membaca seluruh koran untuk menemukan artikel yang dibutuhkan dan perlu digunting. Lalu, kita perlu mengkategorisasikannya dan menyimpannya dalam folder-folder yang mudah dicari bila kelak kita membutuhkan. Kelak, bertahun-tahun kemudian, kita bisa menggunakan kliping tersebut untuk mencari tahu tentang sesuatu. Kita bisa melihat bagaimana sebuah topik perkembangan. Mungkin juga kita bisa lihat kemunduran, kontradisi, pengulangan, dan lain-lain. Nah, dari bahan-bahan inilah nantinya kita bisa mendapat ulasan tentang sebuah topik, kronik (atau urutan atau kronologi) sebuah topik, dan sebagainya, dan seterusnya.

Kembali ke soal Muhidin M. Dahlan, baru beberapa hari yang lalu saya menikmati hasil lain dari kegiatan mengkliping yang tekun diamalkannya. Hasil tersebut adalah buku apik tentang menulis esai berjudul Inilah Esai: Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor. Seperti jelas tergambar dari judulnya, buku ini adalah buku belajar menulis esai. Tapi, berbeda dengan banyak buku panduan lain, buku ini dibuat berdasarkan seratusan lebih esai yang digemari dan dianggap bagus oleh si penulis dan juru kliping itu. Melihat riwayat beliau seperti tergambar dalam tulisan-tulisannya, gampang dan masuk akal tentunya kalau kita “menuduh” seratusan lebih esai tersebut sebagai hasil dari kegiatannya mengkliping.

Dengan memilah, memilih, menganalisis, dan mengolah data, Muhidin dapat memaparkan bagaimana esai-esai kegemarannya tersebut bisa mengajarkan kepada kita cara membuat esai yang bagus. Dalam Inilah Esai, Muhidin membahas bentuk esai, cara mendekati topik, cara membuat judul yang bagus, pembuka yang kuat, isi yang kaya, dan penutup yang berhasil mengikat suara esai. Dalam setiap pembahasan itu, Muhidin menyertakan contoh-contoh yang dia nukil dari esai-esai kegemarannya tersebut. Inilah yang menurut  saya menjadikan buku ini unggul dibanding banyak buku penulisan yang lain: buku ini menunjukkan keroyalan si penulis dalam membagikan contoh-contoh dari esai-esai yang tidak cuma bagus tapi banyak di antaranya menghasilkan dari bagian-bagian yang relevan.

Sebagai contoh saja, pada bab tentang membuat judul, ada beberapa kategori pembuatan judul dan masing-masing kategori disertai dengan contoh-contoh judul. Pada bagian pembuka, ada pula kategori-kategori cara membuka esai, yang disarikan si penulis dari esai-esai kegemarannya tersebut dan masing-masing kategori disertai dengan contoh. Sekali lagi, itu adalah hasil ketekunan mengkliping, keseriusan meneliti, dan akhirnya kemauan dan kemampuan menuliskannya bagi semua orang.

Sekarang, berkat buku itu, saya jadi tahu tentang cara-cara pembuatan judul, pembuatan pembuka, dan esai yang telah teruji. Buku ini sekarang jadi semacam katalog bagi saya. Katalog inilah yang nantinya akan saya tuju saat akan membuat esai atau saat mentok dan mati langkah, misalnya, saat harus menutup esai. Ya, memang buku itu sampai sebegitu pentingnya. Sekali lagi, semua itu karena si penulisnya adalah seorang juru kliping yang serius. Tentu, penegasan ini tidak mengabaikan fakta bahwa Muhidin adalah juga pemikir dan penulis yang bagus.

Kalau boleh bombastis, buku ini kembali menegaskan kepada saya bahwa mengkliping adalah pekerjaan serius. Mengkliping membutuhkan Ketekunan (yang tak semua orang punya), minat yang konstan terhadap topik (tidak mudah dipertahankan), dan sejumlah hal lain. Buku Inilah Esai memaksa saya berjanji lagi dalam hati: bahwa mengkliping adalah pekerjaan yang tidak main-main, dan karenanya saya akan tanamkan itu ke anak saya.

Omong-omong, apa yang terlintas di benak Anda, sobat, saat mendengar kata “kliping”? Semoga, setelah membaca ini, yang terlintas di kepala Anda adalah Muhidin, seperti halnya yang terlintas di kepala saya sekarang saat mendengar kata itu. Selain itu, saya harap, ketika mendengar kata “kliping,” kita juga jadi ingat bahwa guru-guru SD kita—yang nama-namanya tak bisa kita lupakan itu—telah mengajarkan sebuah ilmu yang ganas, yang sayangnya mungkin tidak banyak kita amalkan.

Pengantar Nonton Solo Star Wars Story

Sepertinya ini pertama kali saya ngobrol soal Star Wars secara penuh di blog ini. Saya mulai kenal Star Wars secara serius baru pada tahun 2009. Tentu saya tahu waktu trilogi kedua muncul, tapi saya tidak pernah perhatian serius. Saya mulai serius dengan Star Wars baru setelah kenal Mohja Kahf, dosen dan pembimbing saya yang penggemar berat Star Wars dan Lords of the Ring, yang bisa menggambarkan teologi Islam dan Kristen melalui jalan hidup Luke Skywalker dan menggambarkan politik al-Andalus (atau Ha Sefarad, atau Hispania) dengan ilustrasi Lords of the Ring. Maka, ya, karena kemarin saya baru nonton bioskop di Malang untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, dan pertama kali mengajak anak saya nonton bioskop betulan, tidak apa-apa kiranya saya berbagi wawasan (wakakakakakakakakanda) sekadar pengantar untuk nonton Solo Star Wars Story.

Solo Star Wars Story semakin menegaskan diri bahwa Star Wars adalah sebuah karya kompleks yang setiap aspeknya perlu ditelusuri. Setelah The Force Awakens yang menyoroti sisi manusiawi dari seorang Stormtrooper, kini cerita menelusuri riwayat Han Solo, tokoh yang sejak awal sudah terlihat penting namun kita pahami sebagai seorang karakter yang sudah jadi.

Di Star Wars yang pertama (yang sebenarnya berjudul Star Wars IV) kita sudah bertemu dengan Han Solo dan tandem kompaknya Chewbacca. Meskipun awalnya dikenalkan sebagai seorang penyelundup yang punya masalah hutang, Han Solo dan Chewbacca ini sudah tampak penting. Han Solo diperankan oleh Harrison Ford, bintang yang mungkin tidak pernah murah dalam sejarah Hollywood (yang bisa juga disebut Gerald Ford-nya Hollywood). Di akhir cerita edisi pertama itu, kita ketahui bahwa Han Solo pada akhirnya bergabung dengan aliansi pemberontakan dan jadi kekasih Putri Leia. Tidak tanggung-tanggung, kan, pentingnya?

Tapi, di keseluruhan kisah Star Wars, sayangnya, kita lebih banyak mengikuti perkembangan karakter Skywalker, baik Skywalker junior (Luke, pada trilogi pertama, Star Wars IV, V, VI) maupun Skywalker senior (Anakin/Darth Vader, pada trilogi kedua, Star Wars I, II, III). Pada trilogi kedua, trilogi Star Wars yang bagi banyak fan Star Wars dianggap hina-dina karena kurang elemen dongengnya dan tenggelam ke dalam euforia CGI, Han Solo bahkan tidak disinggung-singgung lagi.

Baru pada Star Wars VII: The Force Awakens, kita ketemu lagi dengan karakter Han Solo. Di film ini, Han Solo dihadirkan kembali bersama para pinisepuh trilogi pertama (Luke Skywalker, Putri Leia—yang sekarang jadi Jenderal). Tidak cuma itu, di Star Wars VII ini kita jadi tahu bahwa Han Solo dan Putri Leia punya anak yang mewarisi bakat gelap Mbah Kakungnya, Darth Vader. Pada film inilah kita mulai tahu bahwa Han Solo adalah bagian organik dari keluarga inti para pengemban bakat Jedi.

Makanya, tidak terlalu mengherankan kalau pada akhirnya Han Solo mendapatkan porsi sendiri tahun 2018 ini. Sudah saatnya kita tahu bagaimana Han Solo terbentuk. Sudah saatnya kita mengenal Han Solo lebih dari sekadar seorang penyelundup yang akhirnya ikut para pemberontak untuk mengembalikan keseimbangan galaksi, merontokkan monarki antar bintang itu. Sudah saatnya juga kita tahu kisah cinta lain Han Solo (yang sejak pertama kali muncul sudah terlihat agak-agak mata keranjang tapi sepanjang sejarah Star Wars hanya digambarkan berhubungan dengan Putri—maksud saya Jenderal—Leia.

Dan tentu saja, cerita tentang Han Solo adalah juga cerita tentang Chewbacca. Di sini juga kita akhirnya bertemu dengan Chewbacca yang selama ini kita ketahui sebagai satu-satunya Wookie. Sejauh pemahaman saya tentang Star Wars, kita memahami Chewbacca melalui terjemahan Han Solo. Kini, kita jadi tahu Chewbacca lebih dari urusan teknis yang diperantarai oleh Han Solo. Bahkan—ini yang mengejutkan buat saya—di sini kita jadi melihat fenomena yang menurut saya anomali.

Apa itu?

Yaitu dua bangsa yang berbeda yang berbicara dengan bahasa yang sama. Di Solo Star Wars Story ini kita melihat manusia berbicara bahasa Wookie. Ya, Han Solo sendiri yang berbicara bahasa grau-grau-grau ala Wookie. Saya tahu ini spoiler, tapi spoiler mengarukan ini perlu saya berikan agar Anda tidak melewatkannya. Di film-film Star Wars sebelumnya, Wookie selalu berbicara bahasa grau-grau-grau dan Han selalu bisa memahaminya dan berbicara balik dalam bahasa Inggris. Di sinilah anomali Solo Star Wars Story! Patut kita rayakan.

Jadi demikianlah pengantar singkat saya untuk Star Wars terkini. Kalau Anda penggemar Star Wars dan mengenal karakter-karakter ini dari trilogi pertama, saya bisa menjamin film Han Solo ini jadi film yang unik, baru sekaligus nostalgia. Ada kalanya, saya cukup yakin, di mana Anda akan trenyuh, dan ada saatnya Anda akan bersorak. Tidak apa-apa. Itu wajar.

Catatan Super Singkat Membaca Indonesia for Sale karya Dandhy Dwi Laksono

Sejauh mana kita tahu apa yang disebut dengan istilah neolib? Itulah yang kiranya ingin disasar oleh Dandhy Dwi Laksono dalam bukunya yang berjudul Indonesia for Sale. Dia merasa perlu membuat orang-orang tahu apa yang disebut dengan istilah neolib itu dan kenapa istilah itu penting diketahui oleh orang.

Di pertengahan buku Indonesia for Sale, Dandhy menyatakan bahwa kalau ada orang yang menuduh seorang pejabat neolib, ada tiga kemungkinan arti: 1) si penuduh tidak terlalu memahami istilah itu dan hanya ikut-ikutan, 2) si penuduh punya kepentingan politis, 3) si orang yang dituduh neolib memang benar-benar neolib dan si penuduh memiliki solusi mengenai neolib.

Mari kita ingat-ingat kapan terakhir kali istilah neolib ini muncul. Di dinding Facebook kita, kita mungkin bisa menemukan orang-orang yang mengatakan hal-hal seperti ini.

IMG_20180526_181930
Covernya asyik

 

Dandhy membagi buku ini ke dalam lima bagian inti plus Prolog dan Epilog. Di bagian inti pertama, Dandhy berbicara tentang permasalahan di lapangan yang menjadi pintu masuknya dalam berbicara tentang neoliberalisme. Pintu masuk tersebut adalah harga BBM yang naik turun. Naik turunnya BBM pada tahun 2008 dan 2009 ini, dalam analisis Dandhy, dikarenakan kecenderungan pemerintah menyerahkan perekonomian kepada mekanisme pasar, yang salah satu dampaknya adalah dilepasnya subsidi BBM dan mendasarkan harga BBM kepada naik turunnya harga minyak mentah global.

Di bagian kedua, Dandhy mulai melebar dengan menunjukkan fenomena-fenomena komersialisasi di Indonesia. Fenomena-fenomena komersialisasi ini semakin menunjukkan bagaimana jaring-jaring neoliberalisme itu semakin melebar dan menjangkau ke seluruh bagian kehidupan Indonesia. Komersialisasi ini sangat berkaitan dengan swastanisasi kebablasan yang dilakukan pemerintah, yang menyebabkan bahkan aspek-aspek hidup yang semestinya dikuasai negara jadi dikuasai swasta, dan menyulitkan anggota masyarakat yang lain mendapatkan manfaatnya. Contoh yang paling ekstrim adalah pantai yang dikuasai oleh hotel-hotel, sehingga untuk ke sana seseorang harus menjadi tamu hotel.

Selanjutnya, pada bagian yang berjudul Neoliberal yang Saya Kenal, Dandhy lebih jauh lagi menggali hakikat liberalisme, yang seringkali disalahpahami orang. Kecenderungan menghubung-hubungkan tokoh ekonomi tertentu dengan liberalisme tampaknya telah menghasilkan kesalahan kategori bahwa orang-orang tertentu memiliki ciri neoliberalisme. Sesat pikir tersebut tampaknya telah juga mempengaruhi diskursis publik, sehingga ketika Boediono (yang ketiga itu masih calon wakil presiden) disebut-sebut sebagai seorang neolib, ekonom lain menunjukkan bagaimana Pak Boediono adalah seorang yang sederhana, tidak mewah dan kaya seperti yang dikesankan istilah neolib. Di sini, Dandhy menyoroti bahwa neoliberalisme adalah seperangkat preskripsi kebijakan ekonomi yang cenderung melepaskan pemerintah dari banyak sektor perekonomian dan menyerahkan pengelolaannya kepada swasta dan pasar.

Pada bagian keempat, Indonesia for Sale mendedahkan analisis Dandhy atas berbagai ciri neoliberalisme yang telah muncul dalam perekonomian Indonesia bahkan jauh sebelum pemerintahan SBY, yaitu pada akhir masa orde baru. Resep-resep neoliberalisme yang diberikan kepada Indonesia oleh IMF. Hal ini mencakup antara lain akuisi bank-bank yang macet dan kemudian pelepasan aset tersebut kepada pihak lain (termasuk asing), dicabutnya subsidi pendidikan tinggi yang mengarah kepada komersialisasi pendidikan tinggi, bertambahnya utang luar negeri dan lain-lain. Di sini semakin tampak bahwa neoliberalisme ekonomi Indonesia itu adalah sebuah proses panjang yang dirintis sejak akhir masa orde baru dan berlanjut hingga ke masa SBY (masa ketika buku ini ditulis dan diterbitkan untuk pertama kalinya). Di sini semakin ditegaskan bahwa bahkan orang yang disebut neolib di pemerintah SBY itu pun sebenarnya mungkin saja “korban” dari preskripsi-preskripsi neoliberal yang dijalankan di Indonesia atas tekanan IMF.

Di bagian terakhir, Dandhy mengurai berbagai permasalahan terkait liberalisme ekonomi yang terjadi di media. Di antara sejumlah hal yang dibahas oleh Dandhy adalah bagaimana televisi swasta nasional memberikan ruang yang cukup lapang bagi SBY untuk memberikan penjelasan mengenai kebijakan ekonomi yang diambilnya ketika mendapatkan tantangan dari tokoh partai lain pada masa kampanye 2009. Selain itu, ada pula teve pooling yang dilakukan oleh salah satu stasiun televisi, yang mengindikasikan kecenderungan politis pemilik stasiun televisi, yang merupakan pelanggaran atas penggunaan frekuensi publik.

Ada beberapa poin penting yang perlu dicatat terkait uraian-uraian Dandhy dalam buku ini. Pertama, di sini ditekankan berulang-ulang oleh Dandhy bahwa neoliberalisme hendaknya dihubungkan bukan dengan orang-perorang, melainkan dengan gagasan atau resep-resep kebijakan ekonomi yang semakin memperkecil peran negara dan membiarkan pasar menentukan arah kebijakan negara.

Poin kedua yang tidak boleh dilewatkan adalah bahwa neoliberalisme adalah sebuah hasil dari proses tesis dan antitesis. Hanya karena banyak resep neoliberalisme banyak merugikan rakyat Indonesia secara luas, bukan berarti liberalisme adalah sesuatu yang dengan serta-merta buruk. Liberalisme pada awalnya adalah resep yang manjur untuk mengatasi permasalahan ekonomi pada masa gilda. Namun, ekses dari neoliberalisme, khususnya penekanan pada modal, telah mengakibatkan permasalahan ekonomi yang besar pada masa 1930-an, ketika Amerika Serikat mengalami Depresi Akbar. Neoliberalisme mengembalikan lagi kekuatan kepada pasar sejak tahun 1970-an, khususnya ketika IMF meresepkan langkah-langkah perbaikan ekonomi untuk Bolivia.

Hal selanjutnya yang tak kalah pentingnya adalah bahwa neoliberalisme bukanlah barang baru yang muncul hanya pada era SBY. Dandhy menunjukkan bahwa bahkan sejak pertengahan masa pemerintahan Soeharto, jalan menuju liberalisme sudah dibuka, misalnya dengan amendemen Undang-undang yang memungkinkan ikut berperannya pihak asing dalam mengelola sumber daya alam Indonesia yang mestinya dikuasai sepenuhnya oleh negara. Pada masa Megawati Soekarno Putri, wujud neoliberalisme, yang merupakan kelanjutan dari preskripsi pada masa-masa sebelumnya, juga semakin tampak. Hal ini dilanjutkan hingga ke masa-masa sesudahnya. Bedanya adalah, hanya pada masa SBY saja istilah neoliberalisme ini makin terdengar bergaung.

Uraian yang sekilas terdengar teknis dan kental dengan istilah ekonomi ini, uniknya, disampaikan dengan cara yang tidak konvensional. Alih-alih menggunakan gaya penulisan yang akademis, Dandhy menyajikan buku ini menggunakan gaya esai. Kita mengenal gaya tulis esai sebagai gaya tulis yang menggabungkan antara gagasan-gagasan konseptual penting dan penyampaian yang bermain-main, bahkan menggunakan elemen-elemen sastrawi. Buku yang merupakan kumpulan esai yang sambung-menyambung ini dinarasikan oleh Dandhy dengan bantuan tokoh-tokoh imajiner, misalnya sopir taksi, penjaga toilet terminal, penjaga parkir, tukang jamu, dan seorang wartawan mantan mahasiswa Dandhy. Penggunaan tokoh-tokoh imajiner untuk lawan diskusi ini terasa tepat karena pada sebagian besar buku ini Dandhy seperti menjaga agar bahasa dan gaya ungkap yang dia pakai tetap menjejak bumi, tidak tenggelam dalam kerangka konseptual yang bisa membuat pembaca tersesat. Ada kalanya ketika disebutkan bahwa si penjaga toilet dan tukang parkir tertidur saat penjelasan Dandhy sangat konseptual sambil mengutip sejarah dan ide-ide dari beberapa pemikir ekonomi, tapi tentu saja tidak ada yang salah dengan itu. Buku ini memang berpretensi menjembatani antara dunia ide di bidang ekonomi dan pembaca awam. Ada kalanya dunia itu perlu benar-benar dihadirkan.

Gagasan menjembatani antara dunia ide dan pembaca awam ini tampaknya merupakan satu hal yang dirasa penting oleh Dandhy. Sejak awal buku, Dandhy setengah menggugat kurangnya peran media massa dalam membantu masyarakat memahami kebijakan-kebijakan ekonomi yang dampaknya menyentuh langsung kehidupan sehari-hari.

Menuju Pemahaman Literasi yang Lebih Relevan

(Postingan ini merupakan adaptasi dari materi workshop “Kupas Literasi, Tuntas Berkreasi” yang diadakan oleh UKM El-Ma’rifah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang pada 28 April 2018. Untuk mengunduh versi yang ramah cetak, silakan klik di sini.)

Satu gerakan yang semakin menggejala dewasa ini, tapi masih perlu diperluas lagi, adalah gerakan literasi. Kata yang secara umum dimaknai orang sebagai kemampuan membaca dan menulis[1] ini ternyata memiliki makna yang luas. KBBI sendiri sudah memiliki tiga makna untuk lema “literasi,” yaitu kemampuan baca-tulis, pengetahuan atau ketrampilan dalam bidang tertentu, dan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Tampak di sini betapa kata “literasi” itu memiliki makna yang luas dan implikasinya jauh. Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita memahami literasi lebih jauh dari sekadar pemahaman baca tulis saja?

Untuk segera masuk ke pembahasan mengenai literasi dengan makna yang luas tersebut, kita bisa langsung menengok dua model literasi yang karena pertentangannya bisa menunjukkan keluasan dari gagasan literasi. Kedua model literasi tersebut adalah literasi otonom dan literasi ideologis. Brian V. Street adalah orang yang telah berperan besar mempopulerkan pemahaman mengenai kedua model literasi itu. Dalam buku pegangan kajian literasi yang berjudul Literacy: An Advanced Resource Book, Street menguraikan asumsi-asumsi dasar kedua model literasi ini.  

Model literasi otonom merujuk kepada model yang menekankan kepada keahlian membaca, menulis, dan mengolah informasi secara kritis. Pola pengajaran literasi di lingkungan sekolah dan taman baca masyarakat yang menekankan pada penumbuhan minat dan budaya membaca pada umumnya termasuk ke dalam wilayah ini. Pengembangan kemampuan yang bersifat kognitif ini pada gilirannya tentu akan bermanfaat bagi pelakunya. Pengetahuan dan sikap kritis seorang akan meningkat, dan hal ini bisa diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan.

Namun, yang menjadi persoalan adalah bahwasanya tidak semua orang membutuhkan kemampuan baca-tulis dalam arti harfiah seperti ini. Banyak masyarakat di dunia yang masih menggunakan pola tutur oral dan proses transfer pengetahuannya juga terjadi secara oral. Bagi masyarakat-masyarakat tersebut, model literasi ini dianggap tidak tepat. Street sendiri menyebut model literasi ini khas Barat, dan tidak semestinya bisa begitu saja dipaksakan kepada masyarakat-masyarakat non-Barat.

Sementara itu, model literasi ideologis merujuk pada model yang lebih berakar pada kondisi subjek literasi. Model literasi ini memandang kegiatan literasi sebagai, meminjam kata-kata Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah dalam Suara dari Marjin, “praktik sosial dan merupakan produk dari ideologi yang berkembang di masyarakat.” Di sini, yang dimaksud sebagai kegiatan literasi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan budaya baca, namun lebih ke peningkatan hajat hidup—yang pada prosesnya memanfaatkan penggunaan teks.

Dalam model literasi ideologis, sebuah kegiatan literasi tidak dimulai dari membaca dan menulis, tapi melalui identifikasi kondisi ideologis subjek literasi. Pelaku praktik literasi di sini mencari tahu kebutuhan, tujuan, dan persoalan para subjek literasi. Dari sana, para pelaku menyusun langkah-langkah yang melibatkan teks (baik oral maupun lisan) yang dapat digunakan untuk membantu para subjek literasi dalam meningkatkan kondisi mereka.

Terkait model literasi ideologis ini, ada dua istilah yang perlu dijadikan pegangan, yaitu “peristiwa literasi” dan “praktik literasi.” Peristiwa literasi berarti segala aktivitas yang melibatkan penggunaan teks (sekali lagi, bisa berupa lisan maupun tulisan) dalam sebuah latar sosiokultural khas para subjek literasi. Contohnya di sini adalah penggunaan cerita-cerita tentang leluhur dalam pengajaran bercocok tanam dalam kulur adat tertentu.

Praktik literasi, yang cakupannya lebih luas dari peristiwa literasi, adalah “himpunan dari peristiwa-peristiwa literasi yang terjadi secara berpola dan berulang.” Demikianlah Dewayani dan Retnaningdyah membahasakannnya. Untuk melanjutkan contoh yang sebelumnya, salah satu bentuk praktik literasi adalah penggunaan cerita-cerita lisan dari nenek moyang dalam pengajaran keahlian-keahlian teknis dalam bercocok tanam, membangun rumah, dan sebagainya dalam masyarakat adat tertentu.

Model literasi ideologis dengan berbagai ragam praktiknya inilah yang hendaknya perlu mendapat sorotan tambahan terus-menerus di tengah maraknya program-program literasi yang kebanyakan masih berfokus pada kegiatan baca tulis dewasa ini. Model literasi ideologis akan berpotensi membantu kita untuk bisa tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan literasi di lingkungan-lingkungan kecil kita tanpa terjebak pada hal-hal yang sifatnya hanya seremonial dan perayaan. Pemahaman akan model literasi ideologis ini akan membantu kita lebih bisa mengapresiasi pola didik di masyarakat tradisional yang mungkin tidak bisa tertangkap oleh upaya-upaya revitalisasi yang cenderung masih menggunakan model literasi otonom.

Untuk melengkapi pengantar singkat ini, silakan lihat beberapa postingan dan tulisan berikut yang sedikit banyak berhubungan dengan bahasan ini:

  1. Literasi yang Membumi, Gagasan yang Menyadarkan
  2. Membaca Buku yang Sama dengan Warga Sekampung
  3. Lifestyles, Inc.: Di Mana Penyandang Disabilitas Kejiwaan Dewasa Berkomunitas
  4. Nggragas Buku
  5. Ngobrol Buku di Tengah Arung Jeram

[1] Akar kata ini dalam bahasa Latin, yaitu kata “litera,” berarti huruf. Ketika digunakan dalam bahasa Inggris pada abad ke 15, maknanya adalah “terdidik, terlatih, memiliki pengetahuan mengenai huruf.” Di abad ke-18, kata “literacy” bermakna “akrab dengan sastra.” Lebih lanjut, silakan lihat Online Etymology Dictionary.

Membaca Buku yang Sama dengan Warga Sekampung

Apa pentingnya membaca buku yang sama dengan semua orang? Kalau bukunya berbentuk novel dan novel itu kebetulan sedang booming, mungkin keuntungannya adalah kita akan menjadi orang yang tidak kudet, kurang update. Tapi kalau buku yang dimaksud adalah buku non-fiksi yang penting, maka dampaknya adalah banyak hal, yang nyaris semuanya menguntungkan. Saya akan ceritakan satu kejadian semacam itu, yang digabungkan dengan sebuah mata kuliah sejenis MKU yang di kurikulum perguruan tinggi Amerika Serikat disebut mata kuliah English Composition (atau terkadang hanya Composition).

Pada tahun pertama ketika saya menjadi teaching assistant dan ditugasi mengajar untuk kelas Composition, program Composition & Rhetoric (program yang mengkoordinir dan menyelenggarakan pengajaran mata kuliah Composition untuk seluruh kampus) juga turut ambil bagian dari program One Book One Community (OBOC).

Apa itu One Book One Community? Program ini adalah program membaca sebuah buku bersama-sama di masyarakat yang disertai berbagai kegiatan dan ceramah terkait buku tersebut. Bagaimana cara mengadakan program membaca satu buku bersama (dalam waktu beberapa bulan)? Mudah saja: perpustakaan umum kota Fayetteville (Fayetteville Public Library) menyediakan banyak eksemplar buku ini untuk dipinjam anggota (dan anggota masyarakat secara umum).

Selain menyediakan buku untuk dipinjam dan dibaca dengan mudah, ada juga beberapa acara ceramah umum yang menghadirkan penulis buku tersebut dan orang-orang lain yang sekiranya relevan dengan topik bahasan buku tersebut. Ceramah ini diadakan di beberapa tempat. Sebagian di aula perpustakaan umum, dan sebagian lagi di salah satu auditorium kampus. Untuk melengkapi ceramah kampus ini, si penulis juga biasanya diundang untuk berbicara di radio lokal.

Tentu saja, selain acara yang menghadirkan penulis dan pembicara yang menguasai topik tersebut, ada juga kelompok-kelompok diskusi kecil yang pertemuannya diadakan di perpustakaan umum kota.

Pendeknya, selama beberapa bulan, masyarakat akan diakrabkan dengan sebuah buku, topik bahasannya, dan sekaligus penulisnya. Semoga sekarang jelas apa maksud dari namanya: One Book One Community. Kasarannya, Sekampung Satu Buku.

Buku macam apa yang kiranya bisa dipakai secara bersama-sama dan sampai menimbulkan perubahan atmosfer sosial seperti itu? Pada tahun pertama saya mengajar Composition itu, buku yang dipakai adalah The Working Poor karya David K. Shipler. Buku ini merupakan hasil observasi Shipler atas warga Amerika Serikat yang terjebak dalam kemiskinan bukan karena mereka malas bekerja, melainkan karena kondisi hidup mereka tidak memungkinkan bagi mereka untuk bangkit dari jeratan kemiskinan–mereka bekerja tapi gaji yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membuat mereka hidup makmur. Bisa dibilang, buku ini menentang slogan “American Dream” atau semboyan “di Amerika, rajin bekerja pangkal kaya.” Bertahun-tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 1987, David K. Shipler pernah meraih penghargaan bergengsi Pulitzer Prize untuk karya Non-Fiksi umum.

Bagaimana bentuk keikutsertaan masyarakat kampus dalam program One Book One Community ini? Di kampus, keikutsertaan dalam program OBOC ini dikelola oleh program Composition & Rhetoric, khususnya untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah Composition 1. Mata Kuliah Composition 1 ini adalah mata kuliah yang wajib diambil oleh mahasiswa semester 1 (kecuali kalau mereka sudah mengambil mata kuliah ini ketika masih SMA–ya, yang seperti itu memungkinkan di Amerika, buat anak-anak pintar dan rajin di SMA). Dalam Composition 1, mahasiswa mempelajari keahlian menulis tingkat dasar, yang meliputi ketrampilan merangkum, mensintesis, menganalisis retorika, dan membuat tulisan argumentatif berbasis riset.

Dalam mata kuliah yang tujuannya dan tugas-tugasnya jelas inilah buku The Working Poor diselipkan. Beberapa instruktur (sebutan untuk mahasiswa S2 dan S3 yang kebagian tugas mengajar Composition 1, termasuk saya) memilih untuk menugaskan mahasiswa untuk membaca 1 bab setiap minggunya dan menggunakannya untuk diskusi kelas. Instruktur yang lain menugaskan mahasiswa membuat makalah sintesis atau analisis retorika berdasarkan bagian-bagian buku ini. Dan ada pula instruktur yang menugaskan mahasiswa membuat tugas akhir semester berupa tulisan argumentatif berbasis riset dengan topik warga miskin yang bekerja dan wajib menggunakan buku The Working Poor sebagai salah satu rujukan. Pada akhir semester, tulisan para mahasiswa tersebut dilombakan dan pemenangnya tentu akan mendapatkan hadiah menarik.

Selain itu, para instruktur juga memberi kesempatan para mahasiswa untuk mendapatkan poin tambahan kalau menghadiri salah satu acara yang menghadirkan si penulis atau acara-acara lain di kota Fayetteville (baik itu yg dilaksanakan di kampus maupun yang dilaksanakan di perpustakaan umum kota).

Dengan program ini, ada kesempatan bagi masyarakat sekota (tentunya yang suka membaca) untuk memfokuskan perhatian pada satu topik yang sama dan terlibat dalam diskusi-diskusi produktif dan berbagi gagasan hasil pembacaan mereka. Pada saat-saat seperti ini, kita merasakan bahwa tidak selalu melakukan hal yang sama dengan orang lain itu berkesan negatif. Meskipun kita melakukan hal yang sama, membaca hal yang sama, tetap saja yang terolah di pikiran kita (dan keluar dari mulut kita) tetap unik. Dan, bisa saja kita melewatkan hal-hal tertentu dari sebuah buku, yang akhirnya akan kita ketahui karena kita meluangkan waktu mendengar hasil pembacaan orang lain.

Saya membayangkan ini bisa menjadi satu kegiatan yang menarik untuk diadakan di kota-kota di Indonesia. Mungkin dengan begini kita bisa meluangkan waktu membaca buku yang sama dan berbagi pandangan. Sepertinya, diskusi yang berporos pada buku, sebuah teks yang jelas rujukannya, akan jauh lebih menarik dari diskusi-diskusi yang hadir hanya karena dipantik oleh ujaran kontroversial seorang tokoh publik yang selanjutnya viral dan berkembang menjadi obrolan-obrolan media sosial yang seringkali terjadi bukan dengan rujukan yang jelas, tapi sikap keberpihakan politis tertentu (yang seringkali mirip jingoisme).

Untuk proyek perdana kita, kira-kira buku apa yang tepat, Sodara?