Ketidaksadaran Patriarkal dan Budaya Perkosaan dalam Sastra

Dalam esei “Bahasa Maskulin dalam Sastra” (dimuat di Kompas 16 September 2016), Aninditya S. Thayf mengutarakan bahwa bahasa yang maskulin merupakan gejala dari ideologi patriarki, dan kita bisa mengamatinya dalam karya sastra. Dalam retorikanya, Aninditya mengesankan kuatnya unsur kesengajaan dalam “penyusupan ideologi patriarki” melalui bahasa maskulin dalam sastra tersebut. Padahal, pada kenyataannya patriarki adalah kecenderungan yang tanpa disadari sudah melebur dalam peradaban manusia dewasa ini, yang sudah membudaya, dan bukan seperti sebuah ideologi yang sengaja ingin ditanamkan oleh sebuah rezim. Secara sadar, semakin banyak laki-laki maupun perempuan yang secara terbuka mendukung gagasan-gagasan feminis, yang menggugat maskulinitas eksklusif. Maka, mungkin akan lebih menarik dan produktif bila kita menelaah perwujudan ideologi patriarki yang tidak disadari.

Dengan demikian, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar melihat kecenderungan berbahasa dari penulis “yang dikenal misogini,” yang menurut Aninditya mengikuti “ideologi patriarkal.” Pernyataan Aninditya bahwa kecenderungan berbahasa yang maskulinis itu ada pada sastrawan yang dikenal misoginis berimplikasi bahwa yang perlu disoroti adalah penulis-penulis yang sejak awal sudah membenci atau menganggap lebih rendah perempuan. Padahal, yang mungkin lebih tepat adalah lebih banyak penulis yang tidak menyadari bahwa dia terjerat dalam gelembung patriarki.

Lebih dari sekadar perlunya kejelian pembaca untuk bersikap kritis, sebagaimana disampaikan Aninditya di akhir esei, penulis sendiri juga perlu terus menyadari. Penulis dituntut menyadari kuatnya pengaruh patriarki dan mencoba untuk secara sadar membaca naskahnya sendiri dari sudut pandang ini, kalau memang dia setuju bahwa bersikap non-patriarkal adalah penting. Dengan demikian, tanggung jawab ini sama besarnya bagi laki-laki maupun perempuan. Penulis perempuan pun bisa terpeleset dan mendukung kecenderungan patriarki. Tapi, secara etis, tidak pada tempatnya saya, seorang lelaki, ikut mengomentari kecenderungan mendukung patriarki pada penulis perempuan.

Beberapa gejala dari pengaruh patriarki yang sering muncul dalam karya budaya adalah objektifikasi perempuan, pembagian peran berdasarkan jenis kelamin, dan perayaan “budaya perkosaan.” Di sini, saya ingin langsung menyoroti perayaan “budaya perkosaan,” sebuah istilah yang sudah dipakai sejak tahun 1970-an di Amerika Serikat. Istilah ini mengacu pada perilaku, bisa berupa lelucon maupun kelalaian, yang menormalisasi tindakan perkosaan. Perilaku semacam ini menjadikan tindak perkosaan seolah-olah tidak jahat atau bahkan disebabkan oleh perempuan sendiri. Meski sudah lama dipakai, istilah ini masih diperdebatkan dan tetap perlu dikampanyekan hingga hari ini. (Untuk lebih jelasnya, silakan lihat buku Kate Harding terbitan 2015 berjudul Asking For It: The Alarming Rise of Rape Culture–and What We Can Do About It.)

Dalam karya sastra, “budaya perkosaan” bisa muncul secara halus, mungkin tanpa disadari penulisnya sendiri. Gejala ini bisa muncul bahkan dalam karya sastra penulis yang tidak dikenal misoginis. Karya yang bisa kita ambil untuk dijadikan contoh kasus adalah cerpen berjudul “Es Krim” karya Bernard Batubara dalam buku kumpulan cerpen Metafora Padma. Dari buku ini, Bernard Batubara tidak tampak seperti seorang cerpenis yang secara sadar “misoginis.” Bahkan, perempuan memainkan peran-peran penting dalam beberapa cerpen Bernard. Cerpen “Es Krim,” khususnya, menarik dibahas karena cerpen ini mengkritisi sekaligus merayakan “budaya perkosaan.”

Bingkai utama cerita ini adalah perbincangan antara narator dan kawan lelakinya. Narator digoda kawannya karena tidak berani menghadiri acara perkawinan Fu, mantan kekasihnya. Di tengah perbincangan itu, narator kita mengingat riwayat hubungannya dengan Fu, mulai masa perkenalan, kedekatan, hingga akhirnya hubungan tersebut kandas di tangan orang tua, yang menjodohkan Fu dengan seorang lelaki kaya. Cerpen ini, menurut saya, mengusung tema sederhana tentang minimnya agensi perempuan; dalam cerpen ini, Fu adalah obyek kejahatan laki-laki (pemerkosa) sekaligus objek cinta orang yang menginginkan kebahagiaannya (orang tua), meskipun Fu memiliki kehendak lain.

Namun, saat menelaah secara lebih mendetil, pembaca yang peka terhadap hubungan antar jender, atau tentang “budaya perkosaan,” akan terusik. Yang pertama adalah bagaimana dalam ingatan narator kita si perempuan, Fu, mengingat trauma psikologis yang dialaminya. Fu mengatakan: “… dalam dua jam, saya ditiduri sepuluh laki-laki.” Karena ucapan Fu ini kita terima lewat ingatan si narator, jadi kita bisa membaca ini sebagai sikap si narator. Perlukah di sini si narator memperhalus “diperkosa” menjadi “ditiduri”? Samakah keduanya? Menurut kamus, keduanya sangat berbeda.

Di satu sisi, membiarkan si narator menggunakan kata “ditiduri” tanpa disertai dengan justifikasi adalah kesalahan jender fatal di pihak penulis, karena hal itu adalah upaya “normalisasi” tindak kejahatan seksual. Tapi, bisa juga kita baca ini sebagai kesalahan narator dalam mengingat, sehingga tindak kejahatan besar seperti perkosaan bisa terwakili oleh kata “ditiduri.” Kalau masalahnya yang kedua, mungkin saja kegagalan si narator mendapatkan Fu adalah ganjaran yang diberikan oleh penulis atas dosanya ini.

Permasalahan yang kedua berkaitan dengan alasan kenapa cerpen ini berjudul “Es Krim.” Dalam cerpen ini, es krim adalah simbol kenikmatan yang akhirnya dapat membangkitkan lagi semangat hidup Fu setelah diperkosa. Fu mulai menyukai Es Krim sejak salah seorang kolaborator pemerkosaan yang menawari si perempuan “Es Krim” dan selimut. Sekuat itukah kemampuan Es Krim mengobati luka karena perkosaan? Dengan menarasikan betapa mudahnya trauma perkosaan disembuhkan, cerpen ini merepresentasikan perkosaan sebagai sesuatu yang relatif ringan.

Pertanyaannya sekarang, apakah dengan begitu Bernard Batubara mempromosikan ideologi patriarki? Tentu hanya Bernard Batubara yang bisa menjawab secara pasti pertanyaan semacam itu. Namun, berdasarkan pembacaan atas buku Metafora Padma secara lengkap, kita bisa bilang bahwa yang terjadi bukanlah “penyusupan ideologi maskulinitas lewat diksi.” Dari buku ini, kita bisa melihat kepedulian Bernard Batubara terhadap pertikaian antar suku, etnis, dan kelompok yang akhirnya mengorbankan manusia, anak-anak, dewasa, orang tua, laki-laki, dan perempuan.

Justru, Dengan mengambil tema seorang lelaki yang peduli dan menjalin hubungan dengan seorang korban perkosaan tanpa memberikan pandangan miring, Bernard Batubara sudah menunjukkan kepedulian terhadap isu jender dan tindakan perkosaan. Bahkan, di dalam cerpen tersebut Bernard Batubara menyoroti salah satu elemen pendukung “budaya perkosaan,” yaitu pada adegan ketika para pemerkosa mengatakan seolah-olah perkosaan itu disebabkan gaya busana Fu. Selain itu, di akhir cerita pun si narator tetap tidak bisa mendapatkan Fu, yang secara struktur dalam cerita bisa dihubungkan dengan sikapnya yang memandang ringan perkosaan Fu.

Akan tetapi, apakah artinya di sini Bernard Batubara juga bukan orang yang bersalah? Dalam hal ini, Bernard sama bersalahnya dengan kita yang secara sadar maupun tidak ikut membiarkan adanya “budaya perkosaan.” Sama bersalahnya dengan Bernard adalah kita yang, misalnya, membiarkan terjadinya tindakan perkosaan atau bahkan bergurau seolah-olah perkosaan adalah tindakan yang tidak terlalu mendehumanisasi perempuan. Yang pasti lebih parah adalah, misalnya, tindakan menutup mata dan tidak merasa terusik ketika kasus tuduhan perkosaan oleh Sitok Srengenge mandek dan tidak lagi terdengar kabarnya. Dan ini adalah persoalan global. Di Amerika, baru-baru ini, seorang hakim menjatuhkan hukuman cukup ringan untuk seorang atlit yang memperkosa dengan pertimbangan bahwa hukuman penjara akan merusak masa depan si atlit yang gemilang. Kejadian seperti ini menunjukkan kuat dan tidak disadarinya pengaruh ideologi patriarki, khususnya dalam bentuk “budaya perkosaa.”

Sebagai simpulan, sastra adalah sebuah hasil karya budaya yang juga menunjukkan gejala-gejala sosial. Namun, gejala-gejala tersebut seringkali bukan gejala yang dihasilkan oleh tindakan sadar. Bahayanya adalah, retorika semacam itu bisa menjadi sesuatu yang besar karena mempengaruhi pola pikir secara umum. Maka, dalam hal ini baik pembaca maupun penulis (atau seniman secara umum) perlu dengan sadar, dan dengan kepekaan lebih, untuk sebisa mungkin mengikis kecenderungan-kecenderungan yang melestarikan patriarki. Dari cerpen Bernard Batubara, kita bisa melihat bahwa bahkan pada karya sastra yang menyoroti isu jender pun seorang pengarang bisa terpeleset melakukan dosa jender.

(Ini tulisan dari tahun 2016 dan dimuat di majalah SULUK terbitan Dewan Kesenian Jawa Timur edisi 12 tahun 2016.)

Ke Bromo, Mencari Apa?

Apa yang kita cari dengan pergi ke Bromo? Yang kita cari berbeda-beda, sungguh. Meskipun tempat yang kita tuju adalah itu-itu saja. Saya punya tujuan sendiri. Saya ingin menunjukkan sebuah bagian taman nasional yang terkenal, yang dikunjungi oleh banyak orang, kepada anak saya. Saya ingin anak saya tahu ada sebuah tempat yang dipuja-puja semua orang tak jauh dari tempatnya tinggal.

Tapi, sekali lagi saya ingin merayakan diktum luhur yang kini jadi klise itu: yang menjadi tujuan bukan tempat wisata itu sendiri, tapi perjalanannya. Dan, hal seperti ini sangat mudah dibuktikan, apalagi kalau perjalanan Anda bukan perjalanan yang semuanya serba terpenuhi.

Saya berangkat sekitar jam 6:45 pagi dari Malang. Perjalanan relatif lancar dengan kecepatan nyaris konstan 60 km/j. Sepertinya ada yang perlu ditingkatkan dengan setelan karburator dan mesin Honda Win saya, tapi saya benar-benar tidak keberatan. Saya tidak butuh terlalu kencang. Lagian, demi apa coba nyetir motor di atas 60 km/j? Saya tidak perlu membuktikan apa-apa.

Sampai Tumpang, jalan masih relatif datar dan motor masih bisa berjalan 60 km/j. Ketika memasuki kecamatan Poncokusumo, ketika jalan kian menanjak, kecepatan puncak berangsur-angsur berkurang. Hingga pada saat tiba di desa paling atas sebelum memasuki wilayah Coban Pelangi, motor berjalan dengan sangat lambat dan bahkan harus mengandalkan gigi satu. Di tanjakan, saat gas ditarik mentok, tidak banyak tenaga yang diberikan motor. Di sini saya mulai percaya bahwa ada yang tidak beres dengan setelan bensin atau permesinan Honda Win saya.

Malam sebelumnya, saya sempat tanya-tanya sedikit ke seorang teman yang mantan offroader dan sekarang suka touring naik motor besar (250CC). Dia sering naik motor ke Bromo, dan beberapa bulan sebelumnya dia memang ke sana pada pagi hari. Saya ingin tahu apa kira-kira yang perlu saya waspadai sebagai orang yang bermotor ke Bromo pertama kali lewat jalur Tumpang-Coban Pelangi. Katanya sederhana: setelah melewati Coban Pelangi, pertahankan RPM, jangan memaksa pakai gigi dua kalau memang tidak memungkinkan. Saya bayangkan artinya tanjakan bisa sangat curam dan saya harus menggunakan gigi satu. Oke.

Benar saja, setelah melewati Coban Pelangi, perjalanan terasa berat bukan karena tanjakan yang terlalu curam, tapi lebih karena jalanan sempit, berbelok-belok, dan kondisi jalan di beberapa bagian tidak terlalu bagus. Semua ini tidak memungkinkan saya berkendara dengan kecepatan tinggi. Istilahnya, tidak cukup ancang-ancang untuk tanjakan (yang seringkali tidak terlalu curam). Akhirnya satu-satunya cara mempertahankan RPM tinggi adalah dengan menggunakan gigi rendah (baca: gigi satu).

Tak lama setelah melewati pintu masuk ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), tibalah kami di loket masuk yang juga merupakan perhentian ke area air terjun Coban Trisula. Kami berhenti untuk bayar tiket masuk ke taman nasional dan istirahat sebentar. Membonceng motor itu, saya yakin, perlu lebih banyak tenaga daripada naik mobil, dan saya harus pastikan anak saya tetap fit setelah perjalanan panjang pertamanya ini. Dengan kata lain, kami perlu banyak makan dan banyak energi. Maka, saat saya beli tiket, anak saya pesan Milo ke ibu yang jualan minuman dan makanan ringan di sana.

Bisa dibilang, saya masih baru melatih anak saya untuk perjalanan-perjalanan penting dalam hidupnya. Saya ingin dia melihat banyak, tapi saya juga ingin memastikan dia tetap sehat untuk bisa menikmati semua itu. Saya sobekkan satu bagian Sari Roti untuk dia dan satu untuk saya. Saya mendapat sobekan berisi selai Blueberry, dan Xeno dapat coklat. Bayangkan saja ini sebuah piknik keluarga yang telah dimodifikasi.

Di perhentian itu, sambil menunggu anak saya menghabiskan Milo-nya yang masih panas, saya bertemu dua mahasiswa Jogja asal Kediri. Salah satu pesan Mie Goreng, dan satu lagi minum coklat. Mereka berangkat dari kediri pada malam harinya pukul sembilan, berhenti di Malang sebentar, dan kemudian melanjutkan ke Bromo. Saat bertemu kami pada pukul 8 pagi itu, mereka sudah dalam perjalanan balik ke Malang. Satu dari mereka sudah sering ke Bromo, dan katanya memang pecinta alam. Satunya lagi ikut saja. Dengan motor Honda Supra X 125CC itu, mereka sepertinya sama sekali tidak kerepotan.

Apa yang mereka cari, tanya saya. Tentu saya tidak bisa menjawab pertanyaan yang seperti itu. Yang jelas, mereka berusaha terjaga pada malam hari, dan menembus jalanan aspal taman nasional yang gelap dan curam pada malam hari, berjalan pelan di lautan pasir yang butuh teknik khusus sejauh sekitar 8 kilometer, dan kemudian naik ke penanjakan. Mereka bilang memang ingin melihat matahari terbit, tapi apakah benar begitu? Mungkin ada hal-hal yang tak terkatakan dari perjalanan mereka ke Bromo. Saya penasaran menjawab pertanyaan seperti itu. Mungkin perjalanan saya sendiri yang santai itu bisa membantu saya memahami kenapa kita ke Bromo.

Harga Milo panas di kantor Taman Nasional itu 4 ribu rupiah. Tapi, saat saya beli 5 ribu rupiah, saya mendapat kembalian 2 ribu rupiah. Kata si ibu, “Sampean bawa saja, Mas, saya ndak ada ruang seribu rupiah.” Saya belum pernah mengalami yang semacam ini di toko-toko waralaba semacam Indomaret dan Alfamart. Setelah mencari-cari ke palung tas punggung yang paling dalam, akhirnya ketemulah recehan yang kalau ditotal bisa sampai seribu. Begitu siap, kami melanjutkan perjalanan. Saya sudah tidak sabar menunjukkan kepada anak saya lahan pertanian yang miringnya ekstrim di kawasan Ngadas.

Hawa terasa dingin, dan knalpot Honda Win 100 mengeluarkan asap putih. Ada uap air yang terbakar, tapi tentu saja yang lebih banyak adalah oli yang bocor ke piston dan ikut terbakar.

Sejarah Aib: Berziarah ke Awal Karir Borges

 

Sejarah Aib

Judul : Sejarah Aib (The Universal History of Infamy)
Penulis : Jorge Luis Borges
Penerjemah : Arif B. Prasetyo
Penyunting : Japhens Wisnudjati
Penerbit : Pustaka Sastra LkiS Yogyakarta
Cetakan : I, 2006
Tebal : xvii + 150 hal.
ISBN : 979-8451-54-6

Borges menyebut Sejarah Aib (versi Indonesia dari The Universal History of Infamy) sebagai “permainan seorang pemuda yang tak berani mengarang cerita sehingga asyik-asyik sendiri dengan memalsukan dan menyelewengkan kisah-kisah karya orang lain.” Memang, ketika menulis buku ini, Borges belumlah seterkenal sekarang. Kala itu dia “baru” menulis puisi-puisi epik tentang sejarah Argentina.

Sejarah Aib adalah debut pertamanya di dunia fiksi. Yang dimaksud fiksi di sini adalah fiksi Borgesian, yaitu fiksi anti-plot, bersikap sok ilmiah, kental dengan mitologi dari seluruh penjuru dunia, dan banyak menggunakan anasir filsafat untuk memperkuat argumentasinya. Benar-benar jauh dari fiksi yang kita baca sehari-hari di cerbung dan cerpen koran.

Buku ini terdiri dari enambelas tulisan. Tujuh cerita pertama adalah semacam obituari tentang orang-orang yang sebelumnya pernah dibahas di buku-buku lain karangan penulis-penulis lain. Ada tulisan yang berkisah tentang Lazarus Morell sang penjual budak, Tom Castro sang penyaru, Monk Eastman sang gangster di New York, Billy the Kid sang penjahat remaja, dan lain-lain. Jika sempat membuka-buka ensiklopedia, kita akan tahu bahwa tokoh-tokoh tersebut memang pernah ada dalam sejarah.

Dalam Sejarah Aib, Borges menuliskan kembali tentang mereka dengan bersumberkan buku-buku tertentu. Khusus untuk kisah Lazarus Morell, dia menggunakan jasa Mark Twain, penulis yang dikenal banyak bercerita tentang kehidupan di pinggiran sungai Mississippi baik dalam bentuk fiksi (The Adventure of Tom Sawyer dan The Adventure of Huckleberry Finn) dan non fiksi (Life on the Mississippi). Dari buku Mark Twain yang disebutkan terakhir inilah Borges menulis kisah Lazarus Morell, si penjual budak yang bengis.

Dari buku Walter Noble Burns dan Frederick Watson dia menulis kisah si penjahat kecil bernama Billy the Kid. Di Indonesia, kita mengenal Billy the Kid lewat dua film Young Guns, yang musik latarnya digarap Jon Bon Jovi, dan serial Young Rider yang pernah ditayangkan di salah satu televisi swasta kita. Borges menceritakan kembali tokoh ini dengan bahasa dan imaji yang hidup dan membuat kita kenal semakin dekat dengan si penjahat remaja.

Salah satu keunikan cerita-cerita di buku ini adalah ia bercerita tentang seorang tokoh dengan gaya ilmiah sekaligus hidup. Hal ini tak lebih karena kemampuan Borges dalam meleburkan antara fakta, yang dia dapatkan dari buku, fiksi, yang dia olah dari hasil pembacaannya, dan sikap ilmiah yang mungkin dia maksudkan untuk membuat pembaca percaya keabsahan tulisannya itu. Bahkan, pembaca dia buat percaya pada bagian-bagian fiksi yang dia karang-karang sendiri.

Sekilas pasti kita teringat betapa banyaknya tokoh politik jaman orde baru menerbitkan biografi dengan sedikit banyak bumbu yang membuat mereka semakin menonjol sebagai seorang tokoh. Namun, tidak demikian halnya dengan Borges. Di dalam Sejarah Aib, Borges memberi bumbu di sana-sini agar aib si tokoh semakin menonjol dan karakternya semakin kuat. Nah, pada akhirnya pembaca akan mendapatkan sebuah fiksi yang sempurna. Memang, tidak semua kisah hidup manusia bisa begitu saja menjadi novel atau cerita pendek yang bagus—yang plot, latar, dan penokohannya kuat—dan di sinilah tugas Borges, memberi sentuhan di sana-sini sehingga kisah hidup itu bisa menjadi karya sastra, meskipun toh minim plot, latar dan penokohan yang kuat. Kelak, kita akan ketahui bahwa fiksi-fiksi Borges tidak memerlukan ketiga elemen itu untuk bisa disebut fiksi mutakhir.

Selain ketujuh kisah ambigu itu, ada juga sembilan tulisan lainnya.

Tulisan pertama setelah tujuh karya yang saya bahas pertama adalah karya Borges sendiri berjudul Lelaki Pojok Jalan. Sebenarnya, cerita ini tetap menjelaskan seorang tokoh, tapi bedanya tokoh ini adalah tokoh rekaan Borges sendiri. Tapi, Borges tetap konsisten dengan gaya bertutur seperti menceritakan tokoh-tokoh penyandang aib seperti Billy the Kid, Lazarus Morell, Tom Castro dan lain-lain.

Delapan cerita terakhir yang rata-rata pendek memiliki struktur dan gaya yang jauh berbeda dengan delapan cerita sebelumnya. Cerita-cerita di bagian ini digarap sedemikian rupa hingga bentuknya semakin menyerupai fiksi-fiksi Borges di kemudian hari. Beberapa tulisan –seperti Kembaran Muhammad dan Perihal Keeksakan Dalam Sains—memiliki bentuk lebih menyerupai artikel atau esai daripada sebuah tulisan fiksi. Di sini, alur yang bersifat aksi sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah kejutan di akhir tulisan karena adanya fakta mengejutkan yang baru tersibak. Beberapa tulisan seperti Kisah Dua Pemimpi, Penyihir Batal dan Kamar Patung terasa seperti sinopsis sebuah buku.

Kedua jenis gaya penceritaan ini tetap memiliki garis merah, yaitu sikap ilmiah. Sikap ilmiah dan kemampuan menggiring pembaca untuk mempercayai hal-hal palsu adalah keunggulan Borges yang nampak sangat bagus di karya-karyanya yang kelak terkumpul dalam buku Ficcioness—yang sebagian ceritanya, ditambah dengan beberapa cerita lain, pernah diterjemahkan Hasif Amini dan diterbitkan dengan judul Labirin Impian (LkiS).
Kembali ke Sejarah Aib, Borges sendiri menyatakan bahwa buku ini adalah sebuah hiburan ringan. Kita tidak perlu repot-repot membuka banyak buku untuk mengenal sejumlah orang “penting” karena Borges telah merelakan diri untuk merangkumnya bagi kita.

Kalaupun toh kita tidak kenal siapa yang Borges tulis dalam buku ini, tetap saja ada satu hal penting yang bisa ambil dari buku ini. Membaca buku ini bisa menjadi sebuah napak tilas ke tahap awal karir Borges sebagai penulis fiksi mutakhir yang hingga sekarang masih belum mendapatkan perlawanan yang sebanding dari penulis penerusnya, baik itu penggemar maupun pengkritiknya.

(Ini sebenarnya resensi lawas. Tapi, resensi yang satu ini bisa dibilang resensi yang punya arti tersendiri buat blogger Anda yang satu ini. Resensi ini ditulis pada tahun 2006, dan saya yakin tidak pernah sekali pun saya coba kirimkan ke media cetak. Saya malah mengirimkan resensi ini ke milis Apresiasi Sastra yang waktu itu sering mengadakan lomba menulis kecil-kecilan sesama anggota. Waktu itu, ya waktu itu, saya ikutkan resensi ini ke lomba Apresiasi Resensi dan menjadi resensi terbaik. Sebenarnya tidak terbaik-terbaik amat. Nilai resensi ini sama tingginya dengan resensi Damhuri Muhammad–ya, Damhuri Muhammad yang masyhur dan cerpen-cerpennya luar biasa itu. Saya dimenangkan hanya karena saya lebih dulu memposting. Hehehe… Sebenarnya saya sudah nyaris lupa dengan itu semua, tapi kemarin waktu menyalin resensi ini dari blog ini, saya jadi ingat sesuatu yang sudah berangsur hilang dari pikiran saya itu. Sementara begitu dulu ajang pamernya, selanjutnya silakan baca resensinya, dan semoga masih bisa nemu bukunya. Salaam.) 

The Motorcycle Diaries: Debu Jalan yang Membentuk “Che”

(Sebuah resensi dari lebih dari seratus purnama yang lalu, kira-kira dari tahun 2006/7-an lah. Resensi ini sepertinya pernah saya kirimkan ke mana-mana tapi tidak juga diangkut oleh redaktur koran. Jadi ya, lagi-lagi demi menghidupkan tag “tulisan-tulisan yang ditolak koran,” saya akan posting saja tulisan ini untuk kita semua di sini.)

Judul : Catatan Harian Che Guevara: The Motorcycle Diaries
Penulis : Ernesto Guevara
Penerjemah : Tri Wibowo Budi Santoso
Editor : Yusi Avianto Pareanom
Penerbit : Banana Publisher, Jakarta
Cetakan : I, 2006
Tebal : 220 hal.
ISBN : 979-99986-3-8

Apa pentingnya sebuah petualangan hingga orang-orang menerbitkan The Motorcycle Diaries, sebuah travelog yang ditulis Ernesto “Che” Guevara tentang perjalanannya keliling Amerika Selatan melewati jalanan yang berdebu? Apa karena yang melakukan perjalanan itu seorang Che Guevara, seorang gerilyawan yang masyhur?

The Motorcycle Diaries adalah hasil dari perjalanan Guevara dan Alberto Granado keliling Amerika Latin dengan mengendarai sepeda motor Norton 500 yang diberi nama La Poderosa, sang perkasa. Ketika itu Guevara dan Granado masih tercatat sebagai mahasiswa kedokteran. Mereka akan lulus dan menjadi dokter. Namun, sebelum itu, mereka memutuskan untuk melengkapi ambisi masa muda mereka dengan melakukan perjalanan gila-gilaan.

Guevara dan Granado bertolak dari Buenos Aires dengan beban kekhawatiran orang tua Guevara dan harapan bahwasanya kekasihnya di Cordoba sedia menunggu setahun itu hingga dia pulang kembali. Dari situlah mereka kemudian menempuh alam yang indah dengan pegunungan, danau dan hutan-hutannya; bertemu dan hidup bersama para petani di pedesaan; bekerja bersama para kuli pertambangan; tinggal dan mengambdi di koloni lepra yang penuh derita, dan; berangkat pulang dengan menumpang pesawat yang sempat membawanya ke Amerika Utara.

Selama perjalanan itu, mereka menyambung hidup dengan melakukan segala cara. Ada kalanya mereka mendatangi rumah sakit dan menyatakan diri sebagai mahasiswa kedokteran dan mendapatkan sambutan yang bagus. Ada kalanya juga mereka menunjukkan foto mereka yang dimuat di koran sebagai “duta perdamaian” dari Argentina untuk mendapatkan belas kasihan orang-orang. Seringkali pula mereka melakukan pekerjaan apa saja demi mendapatkan sedikit uang sekedar untuk membeli makan.

Melihat perjalanan dimana sang tokoh revolusioner melihat sendiri bagaimana kehidupan rakyat kecil, kita pasti teringat kepada Soe Hok Gie, seorang tokoh anti kemapanan yang banyak melakukan perlawanan terhadap pemerintah melalui tulisan-tulisannya. Dalam usianya yang relatif singkat itu, Soe Hok Gie banyak menulis catatan yang dia kirimkan ke media massa dan dibaca banyak orang.

Soe Hok Gie banyak sekali melakukan perjalanan, khususnya naik gunung, dengan asumsi bahwa untuk mencintai sebuah negeri, kita harus tahu negeri itu secara menyeluruh. Perjalanan ke pelosok negeri adalah sebuah cara untuk bisa mengenal negeri itu. Dia banyak naik gunung di seluruh pulau Jawa. Dia juga termasuk pendiri mapala UI. Perjalanan-perjalanannya itu menumbuhkan rasa cinta yang kuat kepada negeri. Perhatiannya kepada masyarakat akar rumput menumbuhkan hasrat untuk berjuang di dalam dirinya.

Serupa itulah yang tumbuh di dalam diri Guevara pada saat dia menjalani perjalanan yang terrekam dalam catatan harian sepeda motor ini.

Menurut ayahnya, untuk bisa benar-benar memahami kebutuhan orang miskin, Guevara “harus melakukan perjalanan ke seluruh dunia, bukan sebagai turis yang mampir untuk mengambil gambar-gambar indah dan menikmati pemandangan, tetapi dengan berbagi penderitaan sesama manusia di setiap tikungan jalan dan mencari akar penyebab penderitaan itu.”

Tiga tahun setelah menyelesaikan perjalanannya pada tahun 1953 itu, Guevara berangkat ke Meksiko untuk bergabung dengan Fidel Castro yang sedang membangun sebuah angkatan militer. Dan tiga tahun kemudian, mereka memasuki Kuba untuk mencoba menaklukkan rezim Batista. Kelak, ketika sudah berhasil melakukan pemberontakan dan Fidel Castro menjadi pimpinan Cuba, Che diangkat menjadi Menteri Perindustrian.

Namun, hasrat Guevara yang tak pernah bisa diam saat melihat penderitaan dan kemiskinan rakyat kecil membuatnya tak bisa bersantai-santai di Kuba. Dia bergabung dengan kelompok-kelompok separatis hingga ke Kongo di Afrika Tengah. Dan terakhir, dia terbunuh di tangan tentara nasional Bolivia ketika dia membantu pemberontakan pada tahun 1967.

Perjuangan-perjuangan itu berakar pada satu hal, hasrat untuk berjuang mengentaskan rakyat kecil dari penindasan, kemiskinan, dan kebodohan. Dan perjalanan bersepeda motor keliling Amerika Selatan inilah yang menumbuhkan itu. Maka, tidaklah mengherankan mengapa orang-orang menerbitkan buku yang sama sekali jauh dari pemikiran Che Guevara yang sudah diterbitkan dalam dua bukunya tentang perang gerilya. Di sini, ada romantika perjalanan, air mata penderitaan, kenakalan dua orang dewasa awal. Dan kisah ini diceritakan oleh seorang pemuda yang sadar bahwa ada sesuatu di balik segala yang dilihatnya itu. Maka, Anda akan setuju bahwa dalam buku ini Anda akan melihat dengan mata kepala Anda sendiri debu jalan yang membentuk Che Guevara, seorang tokoh revolusioner yang berjanji akan selalu bersama rakyat.

Moemie: Fiksi yang Memantik Hasrat Menggali Fakta

(Ini satu lagi resensi yang tidak termuat di media, yang harus saya sampaikan kepada sidang jamaah blog sekalian daripada menjamur di folder. Kayaknya suatu saat saya perlu bikin tag khusus “tulisan yang ditolak media” :D.)

Moemie

Judul buku      : Moemie, Gadis Berusia Seratus Tahun
Penulis             : Marion Bloem
Penerjemah      : Widjajanti Dharmowijono
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : Oktober 2016
Halaman          : 621 hal

Moemie Gadis Berusia Seratus Tahun bukanlah jenis novel yang biasa hadir di Indonesia. Novel ini ditulis seorang penulis Indo-Belanda. Sejauh ini, hanya sedikit karya penulis Indo-Belanda yang telah diterbitkan di Indonesia. Tapi, yang kurang disadari adalah, dari segelintir novel itu banyak yang bisa dapatkan tentang sejarah bangsa Indonesia sendiri.

Moemie mengisahkan hidup seorang perempuan unik. Meski terlahir dari seorang perempuan Bali, selama masa mudanya Moemie tidak pernah tahu asal-usulnya. Dia berpindah dari satu keluarga angkat ke keluarga angkat lainnya. Dan ketika dia mendapati bahwa dirinya memiliki kemampuan waskita (bisa mengetahui masa lalu dan masa depan seseorang hanya dengan memandangnya) hidup Moemie berangsur-angsur berubah. Dari anak angkat, dia sedikit demi sedikit mempengaruhi hidup keluarga Indo yang menjadikannya anak angkat. Hingga akhirnya Moemie menjadi semacam pimpinan tak resmi keluarga Indo ini. Moemi memastikan keluarga ini tetap utuh, hingga akhirnya mereka meninggalkan Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan.

Namun, kisah fantastis Moemie dengan kemampuan supranaturalnya ini bisa dibilang hanya sebagian kecil dari pesona novel ini. Justru kisah orang-orang di sekeliling Moemie itulah yang akan memantik penasaran pembaca Indonesia. Kisah dari perspektif keluarga Indo ini mempertemukan kita dengan hal-hal yang tidak lazim dibicarakan dalam “sejarah nasional” Indonesia.

Hal pertama yang menonjol di sini adalah bagaimana novel ini menyajikan perihal Indonesia dan Belanda masa masa pra-kemerdekaan secara penuh nuansa dan tidak hitam-putih. Di sini, orang-orang Indo dihadirkan dengan kompleksitas emosinya. Salah seorang karakter Indo memiliki cinta yang amat besar kepada tanah Jawa dan tidak bisa membayangkan akhirnya harus meninggalkan tanah kelahirannya ini. Baginya, Belanda adalah sebuah negeri yang aneh dengan cuaca musim dingin yang membuatnya tidak nyaman.

Selain itu, hubungan sosial antara kaum Indo ini dengan demografi orang Hindia Belanda juga terasa hidup. Hubungan di antara orang Indo dan Belanda murni, antara Indo dan Tionghoa, dan Indo dan pribumi, dan bahkan antara Indo dengan serdadu Jepang–semuanya digambarkan dengan insiden yang memberi gambaran yang lebih hidup tentang masa pra-kemerdekaan. Detil hidup seperti ini seringkali lolos dari gambaran sejarah nasional yang diajarkan di sekolah. Ini berbeda dengan film-film perjuangan Indonesia, yang seringkali menggambarkan tokoh Indo dengan stereotipe “meneer kompeni.”

Selain itu, kita akan melihat bagaimana identitas etnis di masa kolonial sebagai sesuatu yang cair. Identitas ras di sini mirip dengan apa yang diteorikan dalam kajian pascakolonial: “ras” adalah konstruksi sosial. Seseorang menjadi Indo atau pribumi atau Belanda lebih karena faktor-faktor eksternal. Salah satu adegan menarik di novel ini menunjukkan seorang karakter Indo yang bisa berubah menjadi Jawa hanya dengan memakai kopyah dan kembali menjadi Indo dengan menunjukkan sebuah surat keterangan yang diterbitkan oleh otoritas.

Hal terakhir yang juga bisa kita temukan dari novel ini adalah tentang evolusi bahasa Indonesia dari bahasa pinggiran menjadi bahasa utama. Bila secara umum siswa di Indonesia mendapatkan kesan bahwa Bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu sejak 1928, maka novel ini memberikan gambaran yang lebih bagus. Tokoh Moemie mengamati bagaimana awalnya komunikasi hanya terjadi dalam bahasa Belanda (untuk urusan resmi) dan bahasa Jawa (untuk urusan jual-beli). Bahasa Melayu ketika itu hanya ada di pinggiran. Tapi, ketika Jepang mulai menduduki Indonesia, bahasa Melayu berangsur-angsur semakin mengemuka, hingga akhirnya menjadi bahasa resmi pasca kemerdekaan. Hal ini selaras dengan hasil penelitian James S. Sneddon tentang sejarah bahasa Indonesia dalam buku The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society.

Pembaca mungkin akan bertanya: apa mungkin menjadikan karya fiksi sumber pengetahuan sejarah? Pertanyaan ini wajar, karena bagaimanapun fiksi adalah hasil imajinasi.

Namun, Moemi sebenarnya tidak terlalu jauh terpaut dari ilmu sejarah. Dalam sebuah wawancara, Marion Bloem menceritakan bahwa dia mendapat bahan untuk buku ini melalui wawancara dengan orang-orang Indo di Belanda yang sempat mengalami masa kolonialisme di Indonesia. Marion Bloem sendiri lahir dua tahun setelah orang tuanya (Indo) pindah ke Belanda dari Indonesia. Dengan kalimat lain, Marion Bloem mencari bahan menggunakan teknik penggalian sejarah lisan, sejarah yang bukan dari artefak fisik, tapi dari perkataan dan hasil ingatan. Atau, Moemie adalah hasil historiografi dalam bentuk fiksi.

Memang, di masa kini, ketika sejarah lisan kurang mendapat kredit (kecuali hadits, yang juga termasuk sejarah lisan), Moemie tidak akan bisa memberikan bahan buku pelajaran sejarah. Namun, dengan keselarasan antara penggambaran dalam Moemie dengan penelusuran sejarah bahasa Indonesia, teori pascakolonial, dan sejumlah faktor lain, apa yang ditawarkan Moemie mestinya bisa memancing rasa penasaran kita mengenai sejarah bangsa sendiri.

Masih terlalu banyak yang belum kita ketahui tentang Indonesia pra-kemerdekaan, padahal zaman itu belum juga terlalu jauh jika dibandingkan dengan umur peradaban manusia di Nusantara. Dan hendaknya hal seperti ini menjadi keprihatinan bersama. Kita sudah lama mendengar “Jas Merah” atau “Jangan Sampai Melupakan Sejarah.” Tapi, masalahnya adalah: bila kita tidak tahu banyak mengenai sejarah kita, apa yang akan kita lupakan?

Resensi Tanah Tabu: Tidak Buru-buru Bahagia

(Resensi ini saya buat puluhan purnama yang lalu–pret!–dan saya kirimkan ke surat kabar. Ternyata penerbit tidak berkenan menerbitkannya. Saya baru temukan beberapa waktu yang lalu di folder “Sent” email yahoo saya yang bisa dibilang sudah dormant. Jadi, daripada hilang dimakan lupa, mending saya posting di sini saja resensi ini dengan segala potensi dan kekurangannya.)

Tanah Tabu_Postingan

Judul                : Tanah Tabu
Penulis             : Anindita S. Thayf
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : I/Mei 2009
Tebal               : 240 hal.

Ketika menonton Denias, Senandung di Atas Awan (2006), pemirsa dibuat miris, lalu meringis, dan pada akhirnya mungkin menangis sedih-bahagia oleh kisah saudara kita yang menempati “kamar” paling ujung timur di “rumah” nusantara ini. Itulah film fiktif pertama berlatar Papua. Baru tiga tahun kemudian muncul sebuah novel yang bercerita tentang Papua, yakni sebuah karya Anindita S. Thayf yang berjudul Tanah Tabu, pemenang Sayembara novel DKJ 2008. Jika film Denias diawali dengan tangis miris dan segera beranjak menuju ceria, Tanah Tabu seperti kerasan menggali akar kemuraman itu dan tidak buru-buru menuju keceriaan.

Tanah Tabu berkisah tentang sebuah keluarga beranggotakan perempuan dari tiga generasi, nenek Mabel, mama Lisbeth, dan bocah Leksi—plus dua ekor piaraan mereka. Mabel berasal dari suku Dani dan tercabut dari Lembah Baliyem sebagai efek samping kolonialisme dan penambangan. Lisbeth, si ibu tercampakkan oleh suaminya sebagai efek samping dari proyek dan berjalannya pertambangan yang dimulai sejak masa Mabel ditambah “pendatang”. Masalah semakin pelik ketika akhirnya politik daerah juga ikut menunjukkan dampaknya. Dan ketika masih berusia awal sekolah, Leksi sudah merasakan dampak dari permasalahan-permasalahan yang muncul dari pertambangan asing, perang suku,  politik daerah, dan pendatang bercampur jadi satu hingga sulit lagi dipisahkan antara satu dengan lainnya.

Satu tema yang paling menonjol dari kisah keluarga tanah tabu ini adalah kenyataan bahwa perempuan kalangan minoritas adalah kelompok yang paling lemah posisinya. Dalam Tanah Tabu, datangnya perusahaan pertambangan pertama menyisihkan masyarakat suku Dani dari tanah leluhur mereka. Selanjutnya, ketika mereka mulai mengenal uang, mereka pun mulai kenal minuman keras. Jika awalnya masyarakat lokal sudah sangat patriarkal dan memperlakukan kaum perempuannya seperti “barang” atau “benda mati,” kini setelah mengenal uang dan minuman keras kaum laki-laki di kisah ini semakin membahayakan perempuan: mudah main kekerasan. Selain itu, masih ada juga pemerkosaan yang dilakukan pendatang.

Novel ini sangat berpotensi jadi kegemaran kaum feminis gelombang ketiga, yang gemar mengusung isu-isu perempuan di kalangan non-kulit putih dan “Dunia Ketiga.” Di antara karya sastra dunia yang sering dikait-kaitkan dengan gelombang feminisme ini adalah karya Alice Walker yang berjudul The Color Purple. Di novel Walker ini, ada kisah seorang gadis Afro-Amerika yang “ditawarkan” ayahnya kepada seorang calon suami seperti nyaris persis dengan bagaimana seorang pelamar memperlakukan Mabel. Ada juga kisah tentang suku fiktif Olinka di Liberia, yang sangat patriarkal. Dan ketika suku Olinka disingkirkan dari tanah yang telah mereka tinggali sejak leluhur karena pemerintah kolonial menjadikan hutan mereka perkebunan dan mulai mengenal uang, kaum perempuan Olinka juga mendapat tambahan penderitaan.

Sebagai sebuah karya fiksi, Tanah Tabu ini memang relatif lengkap dalam menyajikan tokoh-tokohnya, latarnya, dan alur serta cerita yang ujungnya seolah menolak tebakan kita sebagai pembaca. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ada satu hal yang menggelitik ketika kita mengetahui bahwa si penulis sendiri tidak pernah menginjakkan kaki di tanah Papua. Anindita mengaku bahwa sumber-sumber ceritanya didapatkan dari media massa cetak dan elektronik serta hasil penelitian seorang sarjana Belanda. Di antara banyak hal yang terbersit di pikiran saat mendengar pengakuan di atas, satu hal paling menonjol: semampu apakah telaah literatur menggantikan pengalaman lapangan?

Di ranah kajian media, sudah lazim diterima bahwasanya seobyektif apapun pemberitaan media, masih tetap saja ada ada campur tangan manusia. Campur tangan manusia baik itu dalam proses seleksi sumber berita maupun, pada kasus-kasus tertentu, penyuntingan bakal berita karena sejumlah etika baik yang sifatnya moral maupun politis, menjadikan adanya tendensi tertentu dalam berita. Muncul juga pertanyaan, apakah koran, dokumenter, dan studi akademis cukup bisa menangkap psikologi seorang putri asli “tanah tabu”—tentang adanya hewan yang menjadi narator cerita, mungkin para kritikus bisa melakukan telaah tersendiri.

Namun, alih-alih menjadi titik lemah, celah ini sangat potensial untuk menjadi pintu masuk bagi para apresian sastra, terutama yang pernah memiliki pengalaman lapangan di “tanah tabu.” Jika dibandingkan lagi dengan film Denias, yang cenderung pro-tentara dan pro-Freeport, dan notabene diproduksi oleh seorang putra Papua, Tanah Tabu menunjukkan hal-hal yang sebaliknya; dia menunjukkan hal-hal “tabu” yang kita dengarkan dalam perbincangan-perbincangan warung kopi atau dalam buku-buku yang dilarang terbit.

Suara dari Marjin: Yang Bisa Kita Petik dari Gerakan Literasi Banding

Suara Dari Marjin

Judul: Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial
Penulis: Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya
Cetakan: I/Mei 2017
Tebal: 234 hal

Buku yang menyegarkan dan menyadarkan. Biarkan kalimat itu mengawali postingan kali ini. Buku Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah ini pertama-tama akan membuat kita tidak “lupa diri” di tengah gegap gempita gerakan literasi dewasa ini. Tentu “lupa diri” di sini harus diberi tanda kutip, karena sedikit pun saya tidak bermaksud bahwa gegap gempita literasi dewasa ini adalah sesuatu yang melenakan secara negatif. Namun, tetap harus kita sadari bahwa bahkan segala yang bagus bisa membuat kita lupa diri kalau tidak kita kritisi dulu. Dan buku ini punya sikap yang demikian. Dia mengajak kita merayakan literasi, sambil tetap berpikir kritis lazimnya seorang literat.

Buku Suara dari Marjin ini adalah pengolahan ulang hasil penelitian terpisah untuk disertasi kedua penulisnya. Sofie Dewayani mengadaptasi disertasinya yang membahas literasi di kalangan “anak jalanan” di kawasan Pasundan, Bandung. Sedangkan Pratiwi Retnaningdyah mengadaptasi disertasinya mengenai praktik literasi di kalangan Buruh Migran Indonesia (BMI), khususnya yang bekerja (atau pernah bekerja) di Hong Kong. Pada intinya, buku ini menegaskan argumen yang banyak disuarakan para teoretikus Kajian Literasi Baru, yakni bahwa literasi bukan hanya seperti lazimnya yang kita pahami di sekolah–yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis sesuai metode dan praktik formal–tapi juga bisa terjadi melalui praktik informal, yang berlandaskan praktik keseharian dan memiliki tujuan akhir yang lebih relevan dengan keseharian pelakunya.

Konsep-konsep Gerakan Literasi Baru yang diusung dalam buku ini bisa terlihat dalam sejumlah kata kunci yang disampaikan penulis pada bagian pendahuluan, analisis, dan kesimpulan buku ini. Konsep-konsep dari para pemikir seperti Paulo Freire, Pierre Bordieu, dan lain-lain tersebut antara lain adalah “literasi ideologis,” “habitus,” “kapital budaya,” dan “teks kultural.” Konsep-konsep ini secara keseluruhan pada hakikatnya menyatakan bahwa usaha penumbuhan literasi seyogyanya juga membantu membangunkan kesadaran akan diri si pelaku, dan hal ini bisa terlaksana dengan memahami lingkup sosial mereka, sehingga pada akhirnya praktik literasi ini akan mengentaskan mereka dari kemiskinan atau ketertindasan mereka. Untuk melakukannya, praktik literasi ini mengidentifikasi hal-hal yang paling vital dalam memperbaiki harkat hidup si pelaku serta menggunakan elemen kultural yang ada dan dekat bagi para subyeknya.

Sofie dan Pratiwi menerangkan dengan gamblang teori-teori fundamental ini pada bagian awal buku dan kemudian mengulangnya kembali untuk menjelaskan hasil temuan mereka dari studi etnografis di kalangan Buruh Migran di Hong Kong dan anak-anak yang bekerja di jalan. Dari penjelasan-penjelasan mereka, kita mendapati bahwa di kedua komunitas marjinal tersebut terjadi praktik literasi yang menegaskan konsep-konsep yang saya singgung di atas.

Lebih kongkretnya, di kalangan BMI, kita bisa mendapati upaya-upaya pendidikan literasi yang tidak begitu lazim (baik dilakukan secara mandiri maupun dengan bantuan tokoh dari luar) yang menggunakan sumber daya yang dekat dengan mereka dengan tujuan meningkatkan harkat hidup mereka. Di antara kasus-kasus yang dibahas Pratiwi, kita bisa melihat kisah Rie rie, seorang BMI asal Jawa Timur yang mengajar dirinya sendiri blogging hingga akhirnya dia banyak membuahkan tulisan yang memberikan gambaran yang tidak lazim ada tentang kehidupan BMI di Hong Kong, mengubah citra BMI yang cenderung dipandang rendah karena pekerjaan mereka sebagai pembantu rumah tangga. Bahkan, buah dari praktik literasi ala Rie rie ini pada akhirnya juga dia tularkan kepada para BMI yang lain melalui pelatihan-pelatihan blogging dan kepenulisan yang diberikan oleh Rie rie. Masih ada beberapa kisah lain dari bagian ini, termasuk kita Mbak Ani, seorang mantan BMI yang menjadikan pekerjaan BMI sebagai langkah awal untuk mendapatkan modal yang selanjutnya dia pakai untuk mengejar pendidikan tinggi dan bahkan berkarya sebagai pembuat film yang cukup disegani.

Sementara itu, dari studi Sofie mengenai praktik literasi di kalangan anak-anak yang bekerja di perempatan Pasundan, kita bisa mendapati keberhasilan praktik literasi tidak lazim yang dilakukan oleh Bu Sri dan LSM Pelangi. Menurut pengamatan Sofie, Bu Sri yang mendirikan dan mengelola PAUD Bestari banyak menjalankan praktik-praktik yang selaras dengan konsep Literasi Baru, yang jelas terlihat sejak awal dengan tujuan mulianya untuk menghindarkan anak-anak balita dari ikut turun ke jalan bersama teman-teman dan–terutama–keluarga mereka sendiri (=inilah inti dari literasi ideologis). Dalam praktik pengajarannya pun, dalam amatan Sofie, Bu Sri menyadari potensi pemahaman “teks kultural” yang telah dimiliki anak-anak dan kemudian mengoptimalkannya guna membuat anak-anak nyaman dalam belajar di PAUD yang serba diliputi keterbatasan tersebut. Demikian pula dengan praktik yang dilakukan oleh LSM Pelangi, upaya mereka dalam memberi pendampingan belajar bagi “anak-anak jalanan” membantu anak-anak mendapatkan ijazah Kerjar Paket A, yang merupakan satu syarat minimal yang memungkinkan mereka mendapat pengakuan untuk dapat bekerja di pabrik. Dalam usahanya ini, LSM Pelangi juga menyertakan kegiatan yang membantu “anak-anak jalanan” lebih memahami identitas mereka, misalnya melalui kegiatan penulisan kreatif tentang cita-cita mereka.

Dari dia pengamatan etnografis atas praktik literasi di lingkup marjinal yang berlainan ini, kita mendapati sejumlah kesimpulan penting yang perlu dipertimbangkan di tengah demam literasi dewasa ini. Satu hal yang paling penting adalah bahwa gerakan literasi hendaknya tidak dipahami hanya sebagai suatu gerakan yang menumbuhkan minat baca, tulis, dan berpikir kritis yang dilakukan secara formal dengan pola yang seragam dari atas (yang dalam Kajian Literasi Baru dikenal dengan istilah literasi otonom). Namun, upaya literasi bisa berlangsung di mana saja, dengan cara berlainan, dan bertujuan riil meningkatkan harkat hidup pesertanya (literasi ideologis). Simpulan lainnya adalah bahwa dengan melihat keberhasilan upaya literasi ideologis yang digagas secara mandiri dalam kelompok-kelompok marjinal, upaya literasi di lingkup formal (sekolah-sekolah) hendaknya mempertimbangkan elemen-elemen yang berhasil tersebut, misalnya dengan menyertakan elemen kultural dari kehidupan sehari-hari pelakunya dan dengan cara yang lebih ramah terhadap keberagaman minat peserta didik. Dan tentunya, berbagai upaya literasi informal itu juga sudah sejak awalnya mengintegrasikan elemen-elemen literasi otonom di dalamnya. Pada intinya, banyak hal dari upaya literasi ideologis (atau sebut saja “literasi banding”) yang bisa dipetik bagi kita yang saat ini dilanda demam literasi dan mungkin tanpa sadar hanya menjalankan elemen-elemen literasi otonom atau formal saja.

Akhirul posting, tentu masih ada simpulan-simpulan lain yang bisa dibicarakan mengenai buku tersebut. Namun, karena besok saya harus ikut sholat Ied bersama anak dan keluarga saya, sementara sekarang sudah pukul 2.15 pagi, maka ada baiknya juga kalau saya akhiri postingan tentang buku Suara dari Marjin karya Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah ini sampai di sini. Saya berharap segera punya kesempatan untuk menyarikan tulisan ini dalam bentuk yang lebih ramah baca.

Salam literasi 1438 H!