Kenapa Orang Pakai Topi?

Misdi masih bertanya-tanya apa yang berbeda dengan Frannie hari ini tadi. Ah, rambutnya tergerai! Jarang-jarang dia melihat Frannie dengan rambut tergerai, apalagi saat nyetir mobil. Setidak-setidaknya, dia biasanya mengikat rambutnya. Dia tidak suka hembusan dari luar, hembusan AC atau pemanas memainkan rmbutnya. Katanya risih saat ada rambut bermain-main di lehernya, terutama di bagian tenggorokan. Seringkali, dia memakai topi kampus dengan tulisan atau maskot tim futbol. Misdi ingat perbincangan tentang topi, yang terjadi pada saat sarapan di food court, tempat mereka biasa bertemu, meskipun Misdi selalu masak sendiri di rumah. Karena satu atau lain hal, lebih baik saya terjemahkan saja perbincangan itu:

Dee,” selalu ada jeda sebentar saat Frannie akan memulai diskusi serius. Sedikit pendahuluan: sejak pertama kali berkenalan, Frannie selalu memberi penekanan pada suku kata kedua, Misdee, tanpa tanya terlebih dahulu bagaimana melafalkan nama Misdi. Dan tak lama sejak perkenalan, Frannie lebih memilih memanggil Misdi “Dee,” berbeda dengan orang lain yang cenderung memanggilnya “Miss.” Misdi menikmatinya, terutama karena namanya jadi terasa bernuansa ibukota, setidaknya seperti nama artis dari Bandung. “Kamu tahu, nggak, kenapa orang suka pakai cap.”

Cap apa?” Misdi tidak tahu yang dia maksud.

Cap ini,” katanya sambil menunjuk topi yang dia pakai. “Topi. Ya, segala jenis topi. Topi bisbol. Topi koboi. Topi sopir truk.”

“Oh,” jawab Misdi. “Pasti banyak sebabnya. Tergantung orangnya.”

“Menurutku, Dee,” kata Frannie, sambil tangannya memegang burger sarapan isi telor. “Utamanya ada tiga.”

“Haha,” Misdi tergelak. “Memang ada studi tentang itu?”

“Ada tiga,” kata Frannie, tak mau teralih konsentrasinya. “Pertama, karena ingin menyampaikan argumen, seperti misalnya temanku Jerry yang setiap kuliah ‘American Government’ selalu pakai topi POW, prisoner of war.”

“Hmm,” Misdi menyimak.

“Ya,” kata Frannie mulai serius. Dia letakkan burger isi telor yang belum dia gigit sama sekali itu. Setiap kali bersama Misdi, dia tidak pernah memesan makanan  yang mengandung daging babi asap. “Topi adalah aksesoris paling dekat dengan wajah, dan paling menonjol dibandingkan aksesoris kepala lainnya. Jadi saat melihat orang memakai topi, orang tidak mungkin tidak menyadari adanya topi itu.”

“Oke,” Misdi mengangguk. “Terus, kedua?”

“Kedua,” kata Frannie. “Karena rambut si pemakai mulai menipis dan dia belum benar-benar siap menghadapi kenyataan.”

“Haha,” Misdi kaget.

“Seperti bapakku,” kata Frannie.

“Oh, sorry,” kata Misdi. “Bukan maksudku.”

“Nggak masalah,” Frannie tenang sekali. “Bapakku sendiri yang bilang suatu kali sebelum dia pergi ke rumah temannya malam-malam pakai topi golf.”

“Ya,” kata Misdi. “Topi golf malam-malam.”

“Ketiga,” kata Frannie. “Dan ini yang paling lazim dan sepertinya sayangnya cuma ini yang diketahui semua orang. Terutama orang yang bukan penggemar topi sejati.”

Frannie terdiam sebentar. Misdi mengira Frannie akan mengatakan sesuatu lagi. Tapi dia hanya diam. Frannie mulai menggigit burger isi telor yang sejak tadi belum sempat termakan.

“Jadi apa alasan ketiga tadi?”

“Oh, sori,” kata Frannie. “My bad. Alasan ketiganya adalah untuk melindungi. Dari macam-macam. Ada yang ingin melindungi dari panas. Ada yang melindungi dari hujan.”

“Jadi?”

“Jadi intinya adalah tiga: Menyampaikan argumen atau mengatakan sesuatu, melindungi secara mental, dan melindungi secara fisik. Kalau ketemu orang pakai topi, pasti alasannya satu dari itu.”

“Kalau kamu sendiri, pakai topi gambar [maaf, Misdi mengatakan binatang maskot universitas yang tidak bisa saya sebutkan demi menjaga kerahasiaan Misdi], apakah untuk menyampaikan argumen bahwa kamu fans berat tim futbol?”

“Nggak,” kata Frannie tenang. “Aku karena alasan kedua dan ketiga. Ada harinya aku malas menata rambut waktu bangun tidur. Topi adalah juru selamatku kalau sudah begitu. Dan, aku tidak suka kalau rambutku terbang ke leher dan tenggorokan kalau sedang nyetir.”

“Kenapa tidak yang pertama?” kata Misdi. “Bukannya kita semua ini fans berat tim futbol kampus?”

“Nggak,” tenang. “Abangku mengalami concussion waktu main futbol di SMA. Dia meninggal sebelum umurnya 21 tahun. Dua minggu lagi aku sudah lebih tua dari dia waktu masih hidup.”

Dan Misdi pun sejak itu selalu ngeri membayangkan kejutan apalagi yang akan keluar dari mulut Frannie. Dia tidak pernah mempersiapkan diri untuk berteman dengan orang yang selalu bisa mengejutkannya, dan kejutannya selalu membunuh. Dan kini, dia ingat-ingat, dia lebih banyak membiarkan Frannie bertanya dan bercerita. Dia yakin Frannie tahu lebih banyak tentang Indonesia daripada Misdi tentang keluarga Frannie di kota kecilnya sana.

Misdi melanjutkan langkah menuju food court, kali ini dia ingin benar-benar makan siang. Dia mulai terbiasa makan di food court, burger ikan, ekstra acar. Sendirian.

Mungkin Hanya Teman

Beberapa langkah sebelum tiba di seberang jalan, lampu marka penyeberangan sudah berubah. Gambarnya sekarang tangan merah, melarang orang menyeberang. Di saat-saat seperti ini, Misdi selalu ingat salah adegan di film Rain Man, ketika Dustin Hoffman menyeberang jalan di sebuah kota kecil dalam perjalanan ke Los Angeles bersama Tom Cruise. Eh, kota mana ya itu? batin Misdi. Mungkin aku perlu menyempatkan ke sana, pikir Misdi, kalau aku bebas nanti, kalau bebas bertualang nanti. Mungkin di sekitar Oklahoma. Di film itu, tokoh autis yang diperankan Dustin Hoffman berhenti di tengah jalan saat menyeberang karena lampu penyeberangan berubah merah. Misdi selalu tersenyum mengingat adegan itu.

Sejenak kemudian dia teringat Frannie lagi. Dia langsung menoleh, tapi terlambat. Mobil sedan pink Frannie sudah menjauh berbelok ke utara, di Jalan Harriet B. Tubman. Dia hanya mengenali dengan jelas beberapa stiker di ujung kiri bawah kaca belakang mobil itu. Dia tidak sempat memperhatikan pakaian Frannie. Sudah beberapa minggu dia tidak bertemu Frannie, sejak perbincangan di food court tentang rencana-rencananya. Misdi tidak ingat apakah Frannie tadi memakai T-Shirt hijau pupus atau pink bertuliskan nama negara bagian (yang maaf tidak bisa saya sebutkan). Frannie, dan teman-temannya sesama anak sorority suka sekali pakai kaos-kaos semacam itu, hijau pupus, pink, kuning pucat, dsb di musim semi dan musim panas. Mungkin dia pernah menanyakan kecenderungan itu kepada Frannie, tapi dia tidak yakin kapan. Atau, mungkin Misdi memang tidak pernah menanyakannya karena takut membuat Frannie tersinggung.

Hubungannya dengan Frannie selalu dipenuhi keraguan, ketakutan. Frannie sendiri sangat terbuka dan berani berbicara tentang banyak hal, menanyakan ini-itu tentang Indonesia, yang awalnya hanya dia kenal dari Starbucks sebagai negara penghasil kopi “medium roast.” Dia menanyakan tentang perkebunan kopi di Sumatera, yang tentu saja Misdi tidak tahu sama sekali. Belakangan, Frannie juga bertanya tentang G30S setelah menonton film The Act of Killing, yang membuat Misdi harus membaca beberapa artikel dulu sebelum menjawabnya. Frannie juga bertanya tentang Islam, membandingkannya dengan hasil perbincangan di Kajian Injil yang dia ikuti tiap Rabu malam. Frannie seberani itu, sementara Misdi sendiri agak-agak takut bertanya tentang Ku Klux Klan dan apakah keluarga Frannie orang Demokrat atau Republikan. Hanya dalam urusan hiking saja Misdi bisa benar-benar bisa sangat bebas dengan Frannie.

Siapa laki-laki yang duduk di mobil dengan Frannie tadi? batin Misdi. Mungkin hanya teman, figuran, yang bahkan tidak perlu diberi nama. Dia hanya “mahasiswa 1” atau “teman Frannie.”

 

 

Bayangan Langit di Kaca Depan

Misdi baru saja keluar dari kantor Mahasiswa Internasional untuk menyelesaikan urusan ijin tinggal yang memang harus segera dia perbaiki. Segalanya sudah selesai dan sekarang dia tinggal memastikan status pekerjaan musim panasnya.

Dia berjalan menuju bagian tengah kampus, menuju salah satu food court. Seharian ini dia belum makan karena terlalu resah dengan apa yang harus dia selesaikan. Dia bayangkan, seperti inilah nanti kalau memang sedang tidak ada uang. Sementara sih, belum pernah dalam hidupnya kekurangan uang. Dulu, ketika kuliah di Malang, pernah beberapa kali dia tidak punya uang sama sekali. Tapi dia punya teman kost yang tidak akan mungkin membiarkan dia sendirian saat mereka keluar mencari makan. Lagipula, sejak tahun kedua kuliah, dia sudah ngajar kursus privat pelajaran. Jadi, dia selalu punya uang tambahan. Di sini, mungkin saja dia tidak punya uang, tapi dia punya teman sekamar yang selalu siap membantunya. Paling tidak, dia suka membagi makan malamnya saat dia benar-benar tidak sempat memasak.

Di perempatan, dia sudah akan memencet tombol menyeberang, tapi lampu tanda menyeberang sudah menyala. Ketika sedang berada di tengah jalan, di ujung matanya dia merasa ada kendaraan mendekat. Indera laba-labanya langsung aktif. Sebuah sedan Jepang merah muda mendekat. Dia langsung menyangka itu Frannie. Kilauan matahari sore dan bayangan langit di kaca depan membuatnya tidak bisa segera melihat dan mengenali si sopir. Tapi, karena dia percaya tidak banyak sedan Jepang merah muda di Kota S ini, dia semakin yakin itu Frannie. Misdi tidak menghentikan langkahnya sambil terus mencoba memastikan siapa pengemudi sopir itu. Mobil itu tidak memasang plat mobil, seperti kebanyakan mobil di negara bagian ini, tapi dia semakin yakin. Sebentar dia bisa melihat orang yang ada di kursi penumpang, seorang lelaki muda, mungkin mahasiswa. Sesaat kemudian, Misdi baru bisa melihat sopir. Frannie. Rambut coklatnya bebas seperti biasa.

Tanpa sadar Misdi mengangkat tangannya, seperti akan melambai. Frannie hanya mengangkat jari-jarinya, tanpa melepaskan tangannya dari setir. Seolah-olah dia sekadar mengkonfirmasi diterimanya pesan Misdi yang terkirim tanpa sengaja.

Senyumnya terhalau. Terhalau kaca. Terhalau sesuatu.

Seorang pengendara sepeda mendahuluinya, begitu juga beberapa orang lain. Sepertinya Misdi menyeberang terlalu lambat. Dia menoleh ke arah lampu penyeberangan, masih ada sekitar tujuh detik lagi sebelum lampu penyeberangan berubah merah. Ketika dia menoleh lagi ke arah mobil Frannie, terlihat Frannie berbicara dengan pemuda yang duduk di kursi penumpang. Lagi-lagi bayangan langit di kaca mobil menabiri Frannie.

Well, You Know

Di bagian mesin pencetak, dia segera menuju sebuah komputer kecil yang berada di antara dua mesin pencetak. Di situ dia segera mengetikkan nama dan kata kuncinya. Di layar selanjutnya, terlihat beberapa dokumen yang sudah dia kirimkan ke mesin pencetak. Dia tinggal pencet “Print.” Selang beberapa detik kemudian terdengar dengung dari salah satu mesin pencetak, yang selanjutnya menyajikan dokumen itu di tatakan kertas. Beberapa lembar kemudian, Misdi segera meninggalkan komputer dan mengambil lembar-lembar dokumen tersebut. Dia periksa sebentar lembar-lembar itu, dan begitu yakin bahwa hanya itu dokumen yang dia cetak, dia segera berjalan kembali ke pojok mikrofilm.

Di ujung lorong, di pintu masuk atau keluar perpustakaan, tampak seseorang yang dia kenal. Matthew. Dia salah satu mahasiswa paling cemerlang di jurusannya. Dan seorang kawan yang cukup baik. Misdi melangkah cepat-cepat menuju pojok mikrofilm. Bukan saat yang tepat untuk bertemu dia, pikirnya. Lagipula, tambahnya, hari ini waktuku tidak banyak.

Misdi menyelinap ke pojok mikrofilm untuk kembali duduk di komputernya. Dia periksa email, dokumen-dokumen dari Bank of America. Dia juga ambil folder kertas dari dalam tas selempangnya untuk memastikan dia masih punya dokumen-dokumen lain yang dia butuhkan. Beberapa waktu yang lalu dia membuat salinan halaman identifikasi di paspornya, lembar visa, dan lembar masuk Amerika Serikat. Sepertinya dia sudah punya semua dokumen yang dibutuhkannya. Begitu yakin dengan apa-apa yang dia butuhkan, Misdi segera log off dari komputernya dan beranjak pergi.

Dia berjalan melewati lobi perpustakaan menuju pintu keluar. Tapi, ketika sudah nyaris mendekat interchamber, terdengar:

“Misdi dude!” tampak Matthew berdiri di depan mesin pemindai kilat. Tangannya kirinya menekan buka yang ditelangkupkan di atas layar mesin pemindai. Tangan kirinya mengangkat penutup pemindai.

“Hey, Matt!” jawab Misdi. Tentu ini bukan pertemuan yang dia harapkan.

“Where’ve you been, dude?” tanya Matthew, penuh antusiasme seperti biasa. “You never show up in our events. I’s like, what’s going on with this guy?”

“Well, you know,” jawab Misdi.

“Well, I know!” jawab Matt. “So what? The hell, dude!”

“Hahaha,” jawab Misdi. “The hell…”

“Yeah, the hell! Say it with gusto, dude!”

Selanjutnya pertemuan yang tak diundang itu pun berlanjut menjadi perbincangan kecil tentang disertasi yang sedang mereka kerjakan. Tak bisa digambarkan, bagaimana dalam perbincangan impromptu nan insidental itu, banyak teori di bidang mereka yang terlontar santai seperti bola futbol yang dilempar antara dua kawan SMA yang baru bertemu kembali setelah sekian lama. Tapi, sebagaimana saya sebutkan di depan, demi melindungi identitas Misdi dan demi merahasiakan jurusan Misdi, saya tidak akan menceritakan kepada Anda detil perbincangan antara Misdi dan Matthew ini.

Beruntungkah Aku?

Kali ini, sebenarnya dia tidak harus menggunakan pojok mikrofilm ini. Dia tidak perlu membaca buku atau menulis untuk skripsinya. Dia hanya perlu mencetak sebuah dokumen dari Bank of America yang berisi informasi berapa banyak uang yang ada di rekeningnya saat ini. Dia melihat angka itu dan cukup takjub juga. Betapa banyak uang yang saat ini ada di sana. Tentu saja itu bukan uangnya semua. Bukti bahwa ada ribuan dolar di rekening itulah yang akan menyelamatkan keberadaannya di sini, yang memungkinkan dia tinggal di Amerika hingga beberapa waktu ke depan. Dia harus mencetak bukti itu hari ini dan segera menyerahkannya ke pegawai kampung yang menangani urusan imigrasi. Dan itu harus dia lakukan sebelum mereka pulang kantor sore ini. Uang sebanyak itu, uang Waluyo.

Kadang-kadang dia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri jujurkah dia saat melakukan ini? Semestinya dia harus menunjukkan bahwa dia memiliki sejumlah uang untuk menjamin bahwa dia akan bisa bertahan hidup hingga tahun depan. Masalahnya, uang yang ada di dokumen ini bukan uangnya sendiri. Tapi, Misdi mencoba meyakinkan dirinya, sebenarnya boleh saja aku menggunakan uang pinjaman dari orang lain, kan? Semestinya itu boleh, asalkan orang itu sendiri setuju dan menyatakan secara tertulis bahwa dia bersedia membantuku bila kelak aku mengalami kesulitan finansial. Tapi, bukankah Waluyo tidak pernah memberi pernyataan langsung semacam itu? Bukannya dia tidak pernah menulis surat pertanyaan itu? Iya, pikir Misdi, tapi dengan mentransferkan uangnya ke rekeningku tanpa harus ada perjanjian pinjam-pinjaman, bukankah itu berarti dia sebenarnya menaruh kepercayaan yang sangat besar kepadaku? Bukankah itu bisa diartikan dia sebenarnya bersedia meminjamiku uang nanti kalau aku benar-benar kerepotan? Misdi mencoba menalar semua ini. Dia jelas-jelas tidak melanggar hukum asalkan dia bisa menunjukkan uang itu kepada pegawai imigrasi kampus. Tapi yang lebih  penting lagi, dia hanya ingin merasa tenang karena tidak membodohi siapapun.

Tapi, kalau dipikir-pikir, waktu terlalu singkat, dan ketika waktu sudah terlalu singkat, segalanya bisa memenuhi syarat menjadi darurat, dan dalam keadaan darurat, segala upaya mempertahankan diri bisa diterima. Asalkan tidak melukai orang lain. Begitu, kan?

Setelah mengirimkan dokumennya ke mesin cetak, dia segera berdiri dan menuju ke mesin cetak yang ada di lobi perpustakaan. Baru saja dia keluar dari ruang mikrofilm, dia berpapasan dengan Jeremy, seorang pegawai perpustakaan yang juga pernah mengambil kelas dengannya beberapa tahun lalu. Sebagai pegawai tetap di kampus, dia bisa mengambil kelas dengan biaya yang terbilang sangat murah, kira-kira 20 dolar per satu mata kuliah. Jeremy sudah mengambil banyak sekali kelas, dan beberapa jurusan. Seingatnya, dia sudah menyelesaikan kuliah untuk bidang Antropologi, Kimia, dan Sastra Inggris.

“Hi, man,” sapa Jeremy. “What’s up?”

“Not much, just printing out some documents,” jawab Misdi. “How about you?”

“Well, working?” jawabnya sambil tersenyum.

“So, how’s the whale doing?” kata Misdi. Ketika mereka sama-sama mengambil kelas di jurusan Sastra Inggris dulu, mereka membaca Moby Dick, dan Jeremy bilang sudah beberapa kali baca novel itu, dan dia tetap keranjingan. Sejak itu, setiap kali bertemu Jeremy yang mereka bicaarkan adalah Moby Dick. Jeremy cerita bahwa dia punya buku yang isinya pikiran-pikirannya tentang Moby Dick. Suatu kali ketika bertemu Misdi bercerita mendengar Moby Dick melalui audio book ketika dia mengikuti sebuah konferensi di Savannah Georgia dan memilih bermobil ke sana.

“Well, my fan fiction character is creating a time machine that can take her to the future to get some kind of technology that enables her to build a world-wide whale scanner and an interdimensional port so that she can slide into the world of literature and go to the past to deliver the world-wide whale scanner to Captain Ahab. That way, Captain Ahab can easily find the whale without sacrificing everybody else, including our narrator.”

“Well, that’s a huge progress from the last time,” balas Misdi. “So, what’s the deal with this science fiction twist?”

“I took a science fiction class last semester,” kata Jeremy. “In the English Department, of course.”

“Ah, sweet,” balas Misdi. “You’re such a lucky person. You can take as many classes as you like in your life, man!”

“I guess that’s okay just for now,” kata Jeremy. “Anyway, I’ll talk to you later, man. I need to be on my desk in case anyone needs assistance.”

“Good to see you, Jeremy,” kata Misdi. “I’ll also have to take care of these old documents too. They’re my future. You’re such a lucky person, man.”

“You as well, man,” kata Jeremy sambil berjalan mundur menuju mejanya.

Semoga, Jeremy. Semoga. Beruntungkah aku? Misdi segera melanjutkan ke mesin pencetak untuk mengambil dokumen yang dia kirimkan ke mesin pencetak tadi. Beruntungkah aku? pikir Misdi.

Di Pojok Mikrofilm

Di perpustakaan utama kampus, Misdi mengambil tempat yang paling pojok. Dia suka di deretan komputer yang sangat dekat dengan mesin pembaca mikrofilm. Mungkin, di antara teknologi yang ditawarkan perpustakaan, mesin pembaca mikrofilm ini yang paling tidak populer. Berbeda dengan komputer yang selalu rutin dibersihkan tiap malam sebelum jam tutup, mesin pembaca mikrofilm tidak pernah tampak dibersihkan. Bentuknya berdebu meskipun sebenarnya tidak berdebu. Dia ingat tangan para pekerja bengkel di Surabaya tempat dia suka mengganti oli untuk motor legendanya dulu. Tangan mereka selalu kelihatan berminyak, banyak ketika bengkel baru buka dan si pegawai baru datang. Seperti itulah mesin pembaca mikrofilm ini. Selalu tampak berdebu, meskipun tidak berdebu. Kadang-kadang dia berpikir betapa kejamnya pegawai perpustakaan yang menyandingkan mesin pembaca mikrofilm di pojok, tepat di sebelah beberapa komputer iMac yang umurnya baru satu dua tahun saja.

Tapi pojok itulah tempat favoritnya akhir-akhir ini. Tidak terlalu banyak orang yang duduk di pojok sini. Yang biasanya kemari hanya satu dua orang saja, entah jurusannya apa, yang biasanya hanya mencari tempat untuk nongkrong dan membuka-buka Facebook atau eBay. Terkadang, ketika tinggal di perpustakaan hingga jam 2 malam, hanya ada dua atau tiga orang saja yang menggunakan komputer-komputer ini. Dan biasanya mereka ada orang-orang yang dia kenal.

Sebenarnya, pojokan ini adalah tempat favorit barunya. Sebelumnya dia suka pergi ke lab yang paling jauh, sebuah lab terpencil yang tidak pernah tutup sama sekali asalkan dia punya kartu akses. Di lab itu biasanya hanya ada dia dan dua orang lain, Eric dari Kenya dan Mahmudi dari Yordania. Eric lulus semester lalu, dan Mahmudi semestinya akan lulus semester ini. Tapi, lab itu sendiri sekarang sudah tidak lagi buka 24 jam. Ruangan itu jadi kelas yang buka pada jam kerja saja, untuk pelatihan perangkat lunak bagi para pegawai kampus. Yang tersisa sekarang hanya beberapa komputer di lorong luar ruangan. Sayangnya, tanpa pintu dan privasi yang cukup pantas, dia merasa tidak nyaman di lab darurat itu. Alhasil, dia harus mengungsi jauh-jauh dari tempat itu dan kembali ke pusat kampus. Untung saja ada pojok mikrofilm ini.

Seks Itu Indah

“How was it?” tanya Tanner saat Misdi baru saja turun dari anak tangga terakhir.

“Turned out okay,” jawab Misdi. “Thanks. They give me the job.”

“Congratulations,” kata Tanner. “I’m gonna see much of you in the summer, then.”

“Yeah, man,” kata Misdi. “I’ll see you soon probably. Tanner?”

“You got it,” kata Tanner. “Have a wonderful day.”

“You as well,” kata Misdi, bertepatan dengan getaran telpon di kantong celananya. Saat memakai celana khaki, rasanya terasa sekali kalau hp bergetar. Mungkin jarak antara HP dan kulit yang tidak terlalu menempel tapi sama sekali tidak terpisah itu yang membuat getaran HP terasa lebih kuat.

Dia melambaikan tangan kepada Tanner sambil tangan satunya lagi mengeluarkan HP dan melihat di sana, Jaya. Tumben, pikirnya, pagi-pagi Jaya sudah menelponnya.

“Ola!” kata Misdi.

“Mas, lagi sibuk nggak?” kata Jaya di seberang sana, berlatar suara agak bising.

“Relatif sih. Aku lagi di Pusat Bahasa, barusan ada wawancara kerja.”

“Lho? Bener?”

“Iya,” jawab Misdi. “Kenapa?

“Sudah selesai urusannya?”

“Sudah,” jawab Misdi. “Kenapa?”

“Keberatan nggak kalau sampean ngampiri aku?” kata Jaya.

“Di mana?”

“Di perempatan Spring sama Monsoon,” kata Jaya. “Di halte bis Ungu itu lho.”

“Nggak masalah,” kata Misdi. “Aku juga lagi mau balik ke arah kampus kok.”

“Ya wis kalau begitu, Mas,” kata Jaya. “Aku tunggu di sini ya? Suwun sekali.”

“No problem.”

* * *

“Mau musik Indonesia?” kata Misdi di dalam mobil. Dia tahu Jaya tidak pernah tertarik dengan politik, dan berita di NPR selama siang hari tidak pernah jauh-jauh dari geopolitik. Dari tadi dia pingin mengajak bicara saja, bersaing dengan suara Lakshmi Singh di radio yang mengabarkan berita dari Timur Tengah.

“Oke,” jawab Jaya santai.

“Ini dia,” kata Misdi sambil memencet tombol “FM/AM” di sebelah kanan layar tape digital, dan kemudian memencet tombol nomer 4. Dia punya pilihan 6 CD untuk tape mobilnya, dan CD 4 sampai 6 adalah CD lagu-lagu Indonesia, ada satu campuran dan dua lagi album penuh. Karena mobilnya diproduksi ketika pemutar CD belum begitu lazim, sepertinya pemilik lamanya memasang pemutar CD tambahan di belakang. Dia harus membuka bagasi untuk mengganti-ganti CD. Untungnya tambahan ini memungkin dia memasang 6 CD sekaligus. Sejak punya mobil ini empat tahun yang lalu, sepertinya hanya sekali dia mengganti CD, ya CD nomer 4 ini.

“Wah, KLa Project!” Jaya langsung bersorak. “Sepupuku dulu punya kaset ini. Dan smaaarak malam, bertabur kilau bintang.”

“Wah, ternyata kamu nggak muda-muda amat, Jay,” kata Misdi. “Haha.”

“Haha,” jawab Jaya. “Eh, Mas. Ngerti nggak maksudnya lagu ini?”

“Ya, percintaan lah,” kata Misdi. “Kan judulnya romansa.”

“Tapi spesifik banget, Mas,” kata Jaya. “Sampean cobak dengarkan. Tanpa suara berbincaang. Dua jiwa.”

“Terus?”

“Lha ya itu!” seru Jaya. “Ini percintaan yang spesifik. Gak cuma cinta-cintaan. Ini percintaan yang ‘tanpa suara berbincang’.”

“Haha!”

“Lho!” Jaya terlihat bergairah. “Aku ingat betul dikasih cerita sepupuku pas lagi latihan karate dulu, Mas. Kata dia, ini lagu tentang… tentang seks. Sumpah katanya begitu! Katanya lagu ini dibuat waktu kibordisnya KLa Project—”

“Adi Adrian.”

“Iya, Adi Adrian. Ini dibuat waktu dia baru saja menikah.”

“Ah, masak?”

“Lho, kata sepupuku dulu begitu,” tegas Jaya. “Kalau ceritanya tentang lain-lain mungkin aku lupa. Tapi kalau lagu ini nggak. Coba sampean mulai lagi.”

Sunyi dan smarak malam bertabur kilau bintang.

Bulan pun naik perlahan, tersipu

Kau dan aku tenggelam dalam dekapan cinta.

Tanpa suara berbincang, dua jiwa.

“Nah!” sela Jaya.

Tertiup aroma bunga menghantarkan nikmat gairah asmara.

“Gairah, Mas!” sela Jaya.

Terlantun untaian makna duhai bersemilah cinta kita.

“Nah, bersemilah cinta kita!” sela Jaya lagi. Apa yang bersemi kalau bukan benih!

Dan setia, dari waktu ke waktu.

“Lha terus?” kali ini Misdi menyahut. “Apa artinya dan setia dari waktu ke waktu?”

“Haha!” kata Jaya. “Kalau ini ya biasa lah, setia.”

“Haha,” kata Misdi.

“Tapi, Mas, sampean percaya, kan?” kata Jaya. “Itu tadi cerita tentang hubungan seks antara suami istri.”

“Jay,” kata Misdi. “Kamu ini bikin lagu cinta jadi lagu mesum.”

“Lho,” kata Jaya. “Sampean ini gimana sih. Bukan mesum, Mas. Ya memang seperti itu realitas cinta. Ada kasih dan ada nafsu. Dan menurutku sih hanya karena lagunya tentang seks—”

“Maksudnya kamu artikan tentang seks!” kata Misdi. “Wong nggak ada kata ‘seks’ di lagu itu. Haha.”

“Ya, wis, diartikan tentang seks,” Jaya manut. “Jadi, bukan berarti kalau bisa diartikan tentang seks akhirnya lagu romantis jadi mesum. Seks itu indah, Mas. Apalagi di antara dua orang yang berkasih-kasihan, saling meyangangi. Dan apalagi ada saling setia dari waktu ke waktu itu. Peh! Kalau sudah begitu, Andaikan dunia ini kompleks apartemen, semua orang lain cuman tenant.”

“Haha.”

Mereka mendengarkan sisa lagu KLa Project, dan kali ini Misdi jadi punya bayangan lain tentang lagu itu. Dia ingat video klip lagu itu seperti sangat futuristis, Katon Bagaskara memakai topeng virtual reality yang dulu sangat lazim di film-film Science Fiction. Lilo berlagak main gitar tapi tanpa gitar, hanya pakai kacamata virtual reality. Dan Adi, dia memencet-mencet kibord tak kasat mata. Adi…

“Eh, Jay,” kata Misdi tiba-tiba. “Kamu tadi dari mana kok pagi-pagi sudah nongkrong di halte?”

“Mmm,” kata Jaya. “Dari teman, Mas.”