Menguntit Bajing Melompat

Seperti pernah saya posting sebelumnya, tupai atau bajing adalah salah satu anggota masyarakat yang populasinya cukup besar di Amerika Sebelah Sini yang separuh-separuh hutan separuh-separuh pedesaan ini. Tempo hari saya sempat posting foto tupai yang mampir ke balkon belakang rumah kos saya, kan? Kali ini, karena tadi sore ada momen yang pas, saya ingin menunjukkan aktivitas salah seekor tupai di kampus. Beberapa minggu yang lalu, salah seekor tupai masuk ke gardu listrik dan menyebabkan listrik nyaris seluruh kampus padam. Saking parahnya lampu padam waktu itu, sampai-sampai kampus memutuskan memindah lokasi Kuliah Kehormatan dari Dagoberta Menchu, seorang wanita pribumi Amerika Selatan penerima anugerah Nobel Perdamaian.

Hari-hari ini aktivitas para tupai tidak seramai biasanya. Biasanya, kalau musimnya pas, ketika pepohonan oak berbuah akorn (makanannya Chip and Dale atau tupai di seri film Ice Age itu), mereka terlihat begitu giras mengambil akorn, terus membawanya naik ke pohon, menimbunnya di tanah buat musim dingin, atau seterusnya. Hari-hari ini, ketika musim gugur sudah menua dan hawa semakin dingin, dan hujan tak henti-henti, para tupai itu sembunyi entah ke mana. Jarang sekali mereka terlihat.

Untungnya sore tadi Tim Laporan Studi Banding ketemu satu. Kebetulan saja, tadi sore, ketika kampus sangat suepi karena masih dalam hari-hari libur Thanksgiving, Tim LSB melihat seekor tupai yang nekad jalan-jalan di tengah basah rerumputan. Maka, silakan saksikan video ulah singkat oknum tupai tersebut melompat-lompat penuh intrik. Video ini dibuat khusus bagi Anda sekalian penikmat Laporan Studi Banding…

Advertisements

Laporan Studi Banding: Suaka Bison & Elk di Kansas (Maxwell Wildlife Refuge)

Saudara-saudara sesama warga negara Republik Indonesia yang saya sayangi,
Bapak-ibu dewan guru baik di lembaga pendidikan negeri maupun swasta yang saya kagumi,
Dan Bapak-Ibu anggota DPR penggemar studi banding yang kurang saya hormati,

Dalam kesempatan Laporan Studi Banding kali ini, saya ingin menunjukkan sebuah video yang saya buat dari kunjungan tim Laporan Studi Banding ke Maxwell Wildlife Refuge di Canton, Kansas.

Pada abad ke-19, pemerintah (dan khususnya Angkatan Darat) AS mendesak para pribumi dari kawasan Dataran Raya (Great Plains) agar lokasinya yang subur ini bisa dimanfaatkan untuk pertanian. Penyingkiran para pribumi ini juga didukung dengan upaya besar-besaran menggalakkan perburuan bison, yang merupakan sumber pangan mereka. Banyak buku yang menceritakan kekejaman baku-bunuh antara tentara AS dan para pribumi yang terdesak ini. Pada akhirnya, orang-orang pribumi pun terdesak dan terpaksa tinggal di reservasi-reservasi. Begitu juga dengan bison di kawasan Kansas. Mereka juga punah.

Keluarga Maxwell termasuk orang yang turut mendapatkan lahan pembagian (homestead) di kawasan Dataran Raya ini, khususnya di bagian yang sekarang dinamakan Canton. Lahan ini semestinya digunakan untuk bertani memenuhi kebutuhan pangan Amerika Serikat. Alih-alih menggunakan seluruh lahan yang dia terima dari pemerintah untuk pertanian, dia mempertahankan sebagian kecil lahannya, area seluas 1000 hektar, untuk tetap menjadi padang rumput alami (istilah Inggrisnya prairie). Selanjutnya, keluarga ini juga mendatangkan bison dari kawasan Dakota guna mengembalikan populasi bison yang sudah punah karena perburuan yang dianjurkan itu.

Belakangan, pada pertengahan abad ke-20, keluarga Maxwell ini menghibahkan 1000 hektar lahan yang masih padang rumput ini kepada Dinas Kehutanan, Perikanan, dan Hewan Buruan guna dijadikan suaka margasatwa, khususnya untuk bison dan elk.

Pada bulan Maret, seperti pernah saya ceritakan di sebuah postingan terdahulu, saya berkesempatan datang ke suaka bison dan elk ini. Saya juga berkesempatan diantarkan melihat bison-bison ini dari dekat. Kebetulan saya diantarkan sendiri oleh pimpinan kelompok relawan yang mengelola tempat ini, Bu Betty. Saya melihat langsung bagaimana bison-bison ini bermalas-malasan di siang hari awal musim semi. Udara terasa kering seperti musim dingin, tapi hawanya tidak terlalu dingin. Saya ingin berbagi dengan Anda sekalian apa-apa yang bisa saya lihat dari balik kamera. Kunjungan ke tengah-tengah bison itu lumayan lama, tapi tentu saja saya hanya bisa mengambil sekira 3 menit saja dari kunjungan itu.

Sementara begitu dulu, silakan menikmati videonya. Oh ya, sebenarnya saya agak menyesal tidak bisa berbagi “aroma” kawasan bison bermalas-malasan ini :D.

(Terjemahan) Orang yang Menggadaikan Dunia – The Man Who Sold the World (David Bowie)

Inilah lagu dari salah satu album awal David Bowie yang berjudul The Man Who Sold the World. Awalnya album ini tidak begitu populer, tapi belakangan satu persatu musisi lain memainkan lagu ini. Buat remaja Indonesia modern angkatan saya, lagu ini kami kenal karena dimainkan oleh Nirvana dalam album MTV Unplugged in New York, sebuah album pascamangkat mereka (“pascamangkat” ini tawaran saya untuk terjemahan dari kata “posthumous” :D). Oh ya, pertama kali mendengar lagu ini, saat tidak tahu kalau asalnya dari David Bowie, saya bicara dalam hati “Jasik! Cobain iki ancen mbois, isok nggawe irama ke-ndangdhut-ndangdhutan ngene rek!”

Lirik dari lagu ini sangat misterius, karena seolah-olah seperti pertemuan seseorang dengan orang lain (sebut saja orang kedua) secara kebetulan. Si aku dalam lirik ini mengira orang kedua itu sudah mati dulu, dan dia juga mengakui tidak hadir pada satu kesempatan penting dalam kehidupan orang kedua ini. Tapi si orang kedua masih menganggap “si aku” temannya, seperti dulu. Dia juga mengaku tidak mati, dia menyebut dirinya “orang yang menggadaikan dunia” (apa ini maksudnya?). Pertemuan insidental ini seolah menjadi titik balik kehidupan si aku, dan membuatnya menjelajah dunia. Sebenarnya, menurut banyak lirik, setelah pertemuan itu dia pulang dan “searched form and land” yang saya tidak pahami maksudnya (karena itulah saya memilih lirik alternatif yang berbunyi “searched foreign land” (yang demi meningkatkan kemisteriusan cerita saya belokkan terjemahannya jadi “negeri antah berantah,”  mohon maaf :|).

Satu lagi poin tentang kemisteriusan lagu ini, yaitu dalam aspek presentasinya. Bowie menggunakan efek vokal vocoder yang membuat dia terdengar seperti robot (atau seperti Cher :D). Efek ini mengesankan adanya kesenjangan antara kenyataan dan ketidaknyataan, atau manusia dan robot, antara daging dan logam, dll. Bagaimana dengan Nirvana? Cobain tidak menggunakan efek vokal, dan bahkan lagu ini pun dimainkan secara akustik–kecuali dengan gitar yang memakai distorsi separuh untuk intro dan interlude itu. Tapi, tentu saja, pasca mangkatnya Hamengkurt Cobain semua yang dinyanyikan Cobain dalam konser MTV Unplugged tahun 1993 itu menjadi misterius. Apalagi lagu ini, yang isinya memang sudah misterius dan mengandung “mati sendiri”!

Maka, tanpa menunda-nunda lagi, saya persilakan saja Anda menikmati terjemahan liberal ini (dan sambil membaca, silakan puter salah satu versi yg ada di bawah):

Kami berpapasan di tangga,
dan membincangkan masa lalu
Meskipun ketika itu aku tidak hadir,
katanya aku masih temannya
aku sempat kaget. Aku beranikan bilang
Kupikir kamu mati sendiri, dulu sekali

Oh nggak, bukan aku itu
Aku nggak pernah lepas kendali
Kamu sedang berbicara dengan
Orang yang menggadaikan dunia.

Aku ngakak dan menjabat tangannya,
kemudian langsung pulang
Aku mencari negeri antah berantah,
bertahun-tahun aku mengembara

Aku menatap kosong jutaan mata di sini
Kita pasti telah mati sendiri, dulu sekali

Siapa tahu? Tentu bukan aku
Kita nggak pernah lepas kendali
Kamu sedang berbicara dengan |
Orang yang menggadaikan dunia

Pak Dhe Bowie

Mas Cobain

P.S. Kalau Anda punya kritik dan saran (atau sekadar kesan) untuk terjemahan ini, silakan tinggalkan komentar di bawah. Saya jamin gratis, tanpa biaya sepeserpun. Kalau misalnya Anda punya saran lagu-lagu penting dan historis yang Anda ingin saya terjemahkan, silakan sebutkan. Kalau ada kesempatan dan waktu (dan tentu saja kemampuan) saya akan mencoba menyajikannya. Khusus untuk Anda. Ya, Anda yang sekarang membaca ini sambil minum jus jeruk hangat itu. Eh, itu jeruk apa teh? Bukan kopi yang terlalu encer, kan?

(Terjemahan) Bocah Bersenjata – Gorillaz

Kali ini, benar-benar ada hasrat untuk menerjemahkan puisi mantra ini. Saya tahu di antara kita mungkin hanya Saut Situmorang yang punya kualifikasi untuk menerjemahkan lirik ini menjadi puisi yang benar-benar membius. Tapi biarlah saya coba dulu, sambil saya coba mention Oom Saut, siapa tahu ada kesempatan menggarap usaha terjemahan ini menjadi puisi yang benar-benar bisa membius:

Bocah Bersenjata

Bocah bersenjata
Bocah bersenjata
Menaklukkan sebentar saja
Tengkorak ikut tercengang
Bocah bersenjata
Bocah bersenjata
Gampang saja gampang saja
Ada yang mereka tentang

Kasih miras
(Gasak terus)
Kasih empeng
(Gasak terus)
Nyawa vitamin
(Gasak terus)
Hasrat jalanan
(Gasak terus)
Mustahil
(Gasak terus)
Tapi cuma sebentar
(Gasak terus)

Bocah bersenjata
Bocah bersenjata
Gampang saja gampang saja
Ada yang mereka tentang

Kita pun berubah jadi buas
Kita jadi panas
Berubah jadi buas
Ini nafsu
ini nafsu
nafsu

Kasih miras
Kasih empeng
Sukma sirna
Hebat
Mustahil
Ada yang mereka tentang

Karena bocah bersenjata
Bocah bersenjata
Gampang saja gampang saja
Ada yang mereka tentang

Kita pun berubah jadi buas
Kita jadi panas
Berubah jadi buas
Ini nafsu
ini nafsu
nafsu

Gampang saja gampang saja
Karena ada yang mereka tentang

Kalau mau lirik aslinya, silakan klik di sini, atau nonton videonya di bawah ini:

Melanggar Batas Kecepatan Tanpa Merasa Salah

Dalam kesempatan ini, saya pingin mengajak Anda sekalian melihat jalan dari depan rumah hingga ke kampus. Silakan lihat betapa dekatnya rumah saya dengan kampus. Selain itu, di dalam video mungkin sudah mulai bisa melihat pucuk-pucuk daunan sudah mulai oranye. Seminggu dua minggu lagi, dijamin tidak akan ada  lagi daun-daun hijau. Yang ada hanya daun oranye dan coklat. Jadi ya, mumpung masih ada ijo-ijonya, silakan dinikmati dulu.

An American Soldier, who Happens to be Muslim – The Documentary

A young man of Moroccan descent, Army Specialist Zachary Klawonn has seen a lot of misconceptions about Islam and discrimination against Muslims in the U.S. Army, some of which put himself as a victim. He has seen individuals in the Army belittle Islam, not realizing that among his subordinates was a follower of the faith. In a session supposedly designed to provide a cultural education, a sergeant showed a slide saying “it is a duty of all Muslims to kill westerners or Americans” to Klawonn’s surprise. Incidents of this sort led Klawonn and his colleagues to believe that there is still a strong misunderstanding about Islam among U.S. Army members, to the degree that there is a belief that “Muslims” and “terrorists” are synonymous and that the United States is at war against Islam. This is not to mention all personal attacks against him, in which he is called nasty, racist names and slurs.

Chris Arata, Klawonn’s commander who respects him for his quality as a soldier, states that he is not aware of any acts of discrimination in his unit. With regards to the non-educational “cultural education” above, Arata explains that the attitude of that particular individual is not unrelated to the fact that many individuals in the American society that believe in the same misconception against Islam. Hence, it is appropriate to say that this problem in the U.S. Army is not unrelated to its counterparts in the larger American society. By its counterparts, I mean, among others, the common misconception of associating Muslims with terror incidents perpetrated by Islamist or Muslim fundamentalist groups. A similar case can be seen in the recent “Muslim poem vs Pledge of Allegiance incident” that took place in Concord-Carlisle High School, which I will discuss further in a different post.

As for Army Specialist Klawonn himself, he optimistically states near the end of the documentary that it is true that his appearance in this documentary might not make his life less difficult as a US Soldier who happens to be Muslim; however, for him, this is for the better, because unless he speaks up, the next Specialist Klawonns will experience the same things that he has experienced.

Jack Shaheen’s Reel Bad Arabs

Chances are you have seen action movies where you see negative portrayals of Arab characters, whether they be in turbans, desert camos, or suits and ties. Or probably you’ve also seen main characters in a movie talk about the Arabs as some distant, primitive people. Indeed, Hollywood has numerous portrayals of “Arabs” with all their supposedly negative characters, ex. lewdness, anger, cruelness, cowardice, etc. Jack Shaheen discusses those portrayals in his book Reel Bad Arabs: How Hollywood Vilifies a People. He argues in his book that if the slurs and all the negative epithets were used for Black people, Jews, or Native Americans, they would easily fall into the category of racism.

So, today Jack Shaheen is in town. He is giving a lecture on the same topic that he discusses in his book. This evening–yes, this evening, just a few hours back–the Middle East and Islamic Studies Center of the University of Arkansas organized a screening of a documentary based on Dr. Jack Shaheen’s book, also entitled Reel Bad Arabs. I went to the screening and had the chance to talk a little bit with Dr. Shaheen. For those of you who are interested in the topic, you can please watch this embedded video. You’ll probably be shocked to know that some of the action movies you loved as a kid turn out to have such vilification of the Arabs.

By the way, if you go to the youtube account, you might find some anti-zionist rhetoric. That’s probably the uploader’s opinion, because as far as I’m concerned from the discussion today, Dr. Shaheen didn’t explicitly show such tendency. As an academic–albeit a retired one–Dr. Shaheen is concerned more about the vilification and how unjust such a practice is. In reply to a question by a member of the audience about how Dr. Shaheen had kept his resilience to “defend” the Arabs after all these years and incidents (9/11 and other terrorist attacks globally), he explicitly said that he didn’t intend to “defend” a people; he is more interested in evaluating how Americans see the Arabs and the negative implications of such a predilection.

From #WhyImNotMuslim to Country Music: A Recreational Journey

It’s September 11 today. For a very obvious reason, this date has now only referred to the Twin Towers Incident in 2001 or more commonly known as the 9/11 Terrorist Attacks. This historical event has eclipsed many other historical events that took place in September 11, such as the US-backed coup d’etat of the then newly-elected president of Chile in 1973. As much as these are all important events in the history of mankind, I didn’t plan to discuss them in this post. Instead, I’ll talk about the connection between 9/11 and country music, the music that we all love (look at how I include you all in the kinship of country lovers regardless of your musical affiliations).

So, I checked twitter today and was wondering what the trending topic today–9/11/20013–was. I found that the hashtag #WhyIamNotMuslim was all over the place. The emergence of this hashtag in the twittosphere only says that 9/11 has evolved into a day to celebrate hatred towards Muslims or the religion of Islam. Anyway, I skimmed through tweets with the hashtag in question and found one nice picture of a young sexy man sporting a cowboy hat on a horse. That pic was tweeted by a Muslim girl in reply to a tweet by a supposedly a non Muslim young man saying that “#whyimnotmuslim because a man with a cowboy hat on a horse is sexier than a man with a turban on a camel” or something to that effect.

I “followed” that man on a horse picture wondering the connection between that picture and its use to reply the above-quoted tweet. On a closer look, I found that the “cowboy” didn’t look like a typical Caucasian cowboy. He has a hint of Arab-ness. It turned out that the cowboy’s name is Kareem Salama. I was like, what kind of cowboy has such name? I googled him, of course, because that’s what a man from the 21st century does when he is clueless. And here comes the giggly truth:

KAREEM SALAMA IS A COUNTRY SINGER BORN IN OKLAHOMA TO EGYPTIAN PARENTS! AND HE’S A MUSLIM!

Without further due, I also need to repeat what Wikipedia says about him: he is dubbed as THE FIRST MUSLIM AMERICAN COUNTRY SINGER!

There you go. Now the country music scene throughout USA, and the South in particular, has a Muslim to help them raise awareness about the virtue of rural life, simplicity, daily life, etc. Of course, with a name that literally means “Generous Peace,” Kareem Salama would not be–I guess–a country singer that sings about a fight in a bar, about a juvenile act as narrated in “Redneck Crazy” or stuff like that. Singers who sing about a nice preacher from the local Church of Christ or those who sing about returning to the Good Book in the face of mental earthquake can find in Kareem Salama a decent companion from the other side of the religious pathway.

So, again, without further due, let me present to you all country music lovers: Kareem Salama in his cowboy outfit