Rapsodi Urakan – Queen

Draf awal terjemahan ini sudah tersimpan di komputer saya sejak beberapa waktu yang lalu (bahkan mungkin dua-tiga tahun yang lalu), tapi entah kenapa saya belum pernah juga menayangkannya di blog ini. Tapi, setelah saya baca-baca dan otak-atik dan patut-patut, akhirnya saya merasa tidak ada alasan untuk tidak menampilkannya. Meski begitu, mengunggah terjemahan lagu yang sudah menjadi legenda seperti ini punya konsekuensinya tersendiri. Bahasa Jawa-nya: abot sanggane, Cak!

Pasti banyak orang yang hidupnya terpengaruh oleh lagu ini, terutama irama dan lirik bahasa Inggrisnya yang dinyanyikan oleh Freddie Mercury. Gabungan antara irama dan lirik versi Freddie Mercury (satu-satunya versi!) ini begitu kuat menancap di benak orang-orang tersebut. Saya kuatir, mereka ini akan merasa terganggu kalau sampai tahu lirik terjemahan dari lagu ini, yang mungkin tidak memiliki aura seperti hal lirik aslinya. Bagi orang-orang seperti itulah saya menuliskan tiga paragraf ini. Anggap saja ini ucapan nuwun sewu dari saya, seperti halnya banyak orang yang masih percaya harus nuwun sewu, meminta izin, ketika memasuki wilayah baru atau kawasan sakral. Saya mohon izin untuk masuk ke teritori ini karena kebetulan saya adalah penerjemah yang juga menghuni teritori ini; ada satu titik dalam hidup saya yang diwarnai lagu ini secara signifikan.

Terkait konten terjemahan ini sendiri, saya mencoba sebisa mungkin mengikuti “nada” dan “level bahasa” lagu aslinya. “Nada” lirik lagu ini terasa gagah dan “histrionik” atau teatrikal, menggabungkan antara ungkapan-ungkapan sehari-hari ditambah dengan selingan bahasa kias yang–bisa dibayangkan–diujarkan oleh si penutur dengan dagu diangkat, wajah menyamping menatap awang-awang, atau bahkan tangan terkepal (atau di pinggang). Untuk bagian operanya, saya tetap menggunakan ejaan asli Scaramouche, fandango, dll. Agar terjemahannya tidak terasa jauh berbeda dengan aslinya, silakan membaca terjemahan ini sambil buka lagunya di YouTube.

Rapsodi Urakan

Nyatakah ini?
Ataukah fantasi?
Aku terjebak,
Musykil hindari kenyataan.

Buka matamu,
Pandang dan tamatkan langit,
Aku bocah malang yang tak butuh simpati,
Karena aku biasa-biasa saja
Tak tinggi tak rendah
Ke mana angin berhembus,
Buatku tiada beda.

Ibu, aku bunuh orang
Kutodong pistol ke kepalanya,
Kutarik pelatuknya, kini dia tewas.
Ibu, hidupku baru bermula,
Tapi kini luluh lantak sudah.

Ibu, oh,
Bukan maksudku membuatmu menangis,
Kalau aku besok tak pulang
Lanjutkan hidup seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Terlambat, ajalku tiba,
Membuatku menggigil,
Sekujur tubuh nyeri.
Salam, semua, aku harus enyah
Harus kutinggalkan kalian semua dan hadapi kenyataan.

Ibu, oh (terbawa angin),
Aku tak ingin mati,
Tapi kadang kuberharap
Diriku tak pernah dilahirkan.

Aku lihat siluet seorang lelaki
Scaramouche, Scaramouche, mainkan Fandango
Guntur dan petir,
Sungguh bikin gentar,
(Galileo) Galileo
(Galileo) Galileo
Galileo Figaro
Magnifico

Aku bocah malang, tak ada yang sayang
Dia bocah sengsara, keluarganya miskin papa,
Selamatkan nyawanya dari kekejian ini.

Santai saja, tolong lepaskan aku.
Bismillah! Tidak, kau tak ‘kan kami lepaskan. (Lepaskan!)
Bismillah! Kau tak ‘kan kami lepaskan (Lepaskan dia!)
Bismillah! Kau tak ‘kan lepaskan (Lepaskan aku!)
Tak ‘kan kami lepaskan. (Lepaskan aku!)
Tak kan, tak ‘kan lepaskan.
Jangan pernah lepaskan aku, oh.
Jangan, jangan, jangan, jangan, jangan.
Oh, mama mia, mama mia (Mama mia, lepaskan.)
Beelzebub punya setan khusus untukku, aku, aku.

Kau kira bisa merajam dan menghinadinaku?
Kau kira bisa cintai aku dan biarkanku mati?
Oh, sayang, mustahil kau lakukan ini kepadaku, sayang,
Aku hanya perlu pergi, hanya perlu pergi dari sini.

(Oh, yeah, oh yeah)

Tak ada artinya,
Semua juga tahu,
Tak ada artinya,
Tak ada bedanya bagiku.

Ke mana pun angin berhembus.

Advertisements

Jika Kau Permalukan Orang – Shmuel Ha Nagrid

Saatnya satu saya berbagi satu lagi puisi dari khazanah sastra Andalusia atau Spanyol Masa Islam (711-1502 Tahun Umum). Kali ini, sebuah puisi dari Shmuel Ha Nagrid, yang aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani. Shmuel sendiri diakui sebagai penyair terbesar pertama dari masa keemasan puisi Ibrani. Seperti disinggung oleh Peter Cole dalam pengantar Selected Poems of Shmuel Ha Nagrid, puisi-puisi Shmuel Ha Nagrid merupakan gabungan dari “kerinduan sekuler dan agamis.” Dari buku tersebut pula terjemahan ini saya buat. Peter Cole menerjemahkan puisi ini dari bahasa Ibrani, dan saya menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia–disertai permohonan untuk dimaklumi jika ada masalah pada terjemahannya.

Jika Kau Permalukan Orang

Jika kau permalukan orang atas cela yang ia ungkap
kepadamu namun dia simpan rapat dari orang lain,
bagaimana mungkin hatimu tidak juga mencelamu
atas keburukan diri yang telah kau tutupi?

(Terjemahan Lagu) Prajurit Kebo – Bob Marley

Mungkin ini terjemahan lagu yang pertama saya kerjakan, dari sekitar tahun 2006-2007. Seingat saya, versi pertama terjemahan ini saya kirimkan ke milis (yahoogroups, gan!) Apresiasi Sastra. Saya sangat menikmati penerjemahan lagu ini, dan bahkan mungkin ini pulalah yang akhirnya kemudian saya terus menerjemahkan lagu kalau sedang iseng sendiri, sebagai olahraga rekreatif.

Khusus untuk lagu ini, saya merasa mendapatkan pengetahuan lebih tentang lagu ini justru ketika menerjemahkannya. Sejak lumayan dulu, saya tahu sekilas bahwa “buffalo soldier” yang dimaksud Bob Marley di sini adalah para pejuang kulit hitam di Karibia. Tapi saya tidak tahu apa-apa saja yang membentuk spirit para “buffalo soldier” itu. Di lagu inilah kita bisa lihat apa-apa yang membuat mereka begitu beringas di medan tempur. Apa itu? Silakan baca sendiri dong.

Selanjutnya, saya persilakaan Anda membaca (atau mungkin menyanyikan) terjemahan ini. Selamat menikmati:

Prajurit Kebo

prajurit kebo, rambut gimbal:
ada prajurit kebo, di jantung amerika
diambil dari afrika, diboyong ke amerika
berjuang begitu tiba, untuk pertahankan nyawa

sungguh, saat kucium amisnya –
bagiku masuk akal saja:
ternyata si rambut gimbal adalah prajurit kebo,
direnggut dari afrika, diboyong ke amerika,
berjuang begitu tiba, untuk pertahankan nyawa

dia prajurit kebo, rambut gimbal –
prajurit kebo di jantung amerika.

andai kau tahu sejarahmu,
maka kau pun akan tahu asalmu,
kamu pun tak perlu tanya aku
siapa aku

aku cuma prajurit kebo di jantung amerika,
direnggut dari afrika, diboyong ke amerika,
berjuang saat tiba, berjuang demi nyawa;
katanya dia prajurit kebo, berperang untuk amerika.

Gimbaaaaallll, woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!
Woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!
prajurit kebo, berbaris maju, wo oh ooh!
katanya ingin lari, berarti kau butuh bantuan,
berderap maju, yi ha, yi ha.

dia prajurit kebo, berperang untuk amerika;
prajurit kebo, gimbal rasta
berjuang begitu tiba, untuk pertahankan nyawa;
diusir dari Amrik daratan ke jantung karibia.
ayo nyanyi woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!
Woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!

barbaris maju di san juan menyandang senjata amerika;
berbaris di jamaika, dialah prajurit kebo –
berjuang begitu tiba, ‘tuk pertahankan nyawa:
prajurit kebo, rambut gimbal.

Woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!
Woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!

Tanah: Antara Puisi Suheir Hammad dan Teori Fiksi Ursula K. Le Guin

Sepertinya saya pernah menerjemahkan puisi ini, tapi entah di mana. Tapi, karena di blog ini saya belum pernah menampilkan terjemahan puisi ini, maka saya terjemahkan saja puisi ini di sini.

Isi puisi ini cukup sederhana (seperti bisa Anda lihat sendiri), tapi implikasinya bisa sangat meluas. Tadi, waktu membacanya lagi, setelah beberapa waktu yang lalu membaca kajian ekologi sastra, saya jadi bisa menghubungkannya dengan sebuah esai penting ekologi sastra karya penulis fiksi ilmiah Le Guin. Dalam sebuah esainya, Le Guin menyodorkan satu gagasan estetika prosa yang lebih ekologis, yaitu estetika prosa yang “feminin.” Read more

(Terjemahan Puisi) Jangan Menoleh “Don’t Look Back” karya Solomon Ibn Gabirol + OASIS

Kangen nerjemah lagi dan di rak buku di kamar ada satu buku Selected Poems of Solomon Ibn Gabirol buah terjemahan Peter Cole dari bahasa Ibrani. Buku ini, seperti judulnya, berisi puisi-puisi pilihan karya penyair Andalusia yang hidup dalam kultur Arab dengan nama Arab Abu Ayyub Sulaiman Ibn Yahya Ibn Jabirul.

Saya pakai buku ini (hadiah dari dosen saya) untuk ujian komprehensif doktoral beberapa tahun yang lalu, untuk bidang cakupan Sastra Spanyol Masa Islam. Ketika itu saya membaca untuk mengetahui isi karya-karya sastra (dan rupa) Spanyol antara tahun 711-1502. Penekanannya di sini adalah “isinya” saja, karena dalam hal gaya bahasa tentu saja saya tidak bisa menjangkaunya. Karya-karya sastra dari periode itu ditulis dalam bahasa Arab, Ibrani, dan Kasteyano (Castellano). Read more

(Terjemahan Lagu) Aerials – System of a Down

Perlu kiranya sedikit pendahuluan untuk postingan kita kali ini. Saya kenal System of a Down pertama kali melalui album Toxicity, melalui kebaikan hati seorang kawan yang memperkenalkan band metal yang didengarkannya waktu itu. Ketika itu, awal tahun 2000-an, tengah naik daun band-band metal (atau nu metal atau hip metal) semacam Korn, Limp Bizkit, Soulfly dan lain-lain. Tentu saya sempat merasakan teriak-teriak ngerap “Take a Look Around” sambil mungkin membayangkan diri akan menjadi seganteng Tom Cruise. Nah, di satu kesempatan saya minta rekomendasi band baru dari seorang kawan, gitaris yahud di Malang asal Blitar bernama Yudi Ijum. Dia meminjami saya kaset Toxicity yang kemudian saya puter di kamar kost sampai berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Itulah perkenalan pertama saya dengan System of a Down.

Ketika itu saya merasakan musiknya asyik–ada ruang-ruang jernih yang selalu saya suka–dan vokalnya tak ada duanya–ada cengkok-cengkok yang tidak lazim di band metal mana pun. Waktu itu saya anggap saja biasa, karena Korn juga punya kecenderungan memakai cengkok-cengkok khas yang tak bisa ditemui di band-band lain. Power vokal Serj Tankian yang super-bariton itu jug atak urung membuat saya cinta. Saya juga suka vokal Korn meskipun ketika itu musiknya menurut saya terlalu berisik dan sulit dicerna (pandangan serampangan yang selanjutnya berubah setelah saya dengar versi akustik mereka dan semakin jatuh cinta setengah mati–apalagi di situ ada vokalis gothic-metal “Amy Lee, from Evanescence”). Kayaknya, waktu itu ukuran vokal adiluhung adalah bariton, seperti halnya Tuan Jim Morisson yang baru beberapa tahun sebelumnya saya kenal. Tapi, seiring waktu, seiring hadirnya musisi-musisi baru dalam hidup saya, System of a Down pun melesap ke latar…

Sepuluhan tahun kemudian, ketika YouTube menjadi realitas tak terhindarkan yang tak ubahnya wartel di masa 2000-an awal, saya sempatkan mencari lagi System of a Down. Hmmm… Tetap menarik.

Beberapa tahun kemudian, saya kenal seorang pianis perempuan asal Lebanon, yang datang ke kampus saya di Arkansas untuk menyajikan resital dalam peringatan 100 tahun genosida bangsa Armenia. Saya kebagian tugas memvideo dan merekam audio dalam resital tersebut. Keluarga Amy, nama pianis itu, sudah tiga generasi tinggal di Lebanon, tapi dia orang Armenia. Dia hanya memainkan nomor-nomor karya para komponis yang nama-namanya memiliki kemiripan yang tak mungkin terlewatkan: semua nama belakangnya diakhiri dengan “-ian.” Saya langsung teringat System of a Down (vokalisnya Serj Tankian, dan yang lainnya juga mengandung “-ian”). Yang lebih penting lagi, ketika mendengarkan resital tersebut: saya dikejutkan oleh ketidakbiasaan yang terasa seperti gelombang yang membentur karang di pantai saya belasan tahun yang lampau. Semua komposisi klasik yang dimainkan oleh Amy adalah karya komponis Armenia. Di situlah, ada nada-nada khas, yang berkisar antara misterius dan manis dan pilu, yang berbeda dengan yang kita temui dalam komposisi-komposisi klasik dari Eropa–apalagi Amerika, ya tentunya skor-skor film Hollywood itu juga komposisi klasik kekinian dong! Komposisi-komposisi klasik Eropa penuh kemegahan, keceriaan musim semi, kesyahduan spiritual, dan sejenisnya. Keganjilan nada-nada komponis Armenia itu–dalam benak saya–memiliki kemiripan dengan ganjilnya cengkok-cengkok Serj Tankian dalam Toxicity.

Saya langsung riset kembali tentang System of a Down. Ternyata oh ternyata! Semua anggota System of a Down memang keturunan Armenia. Bahkan beberapa di antara mereka lahir di luar Amerika (Lebanon? Armenia?) dan baru kemudian bermigrasi ke Amerika. Dan, pada tahun 2015 itu, ternyata Serj juga ikut berkampanye menumbuhkan kesadaran orang tentang genosida bangsa Armenia oleh kekaisaran Turki Utsmani (yang masih belum begitu saja diakui oleh negara Turki saat ini). “Riset” saya juga akhirnya membuat saya menguji asal-usul semua orang Amerika yang namanya berakhiran “-ian” dan memang semuanya terbukti sebagai keturunan Armenia (termasuk Derek Sherinian, kibordis ultra-agresif yang pernah berkarir di Dream Theater itu).

Baiklah, saya cukupkan di sini saja obrolan saya tentang System of a Down. Kenapa saya nulis ini? Karena kebetulan saja kemarin sore waktu di kantor saya mendengar rekan kantor depan saya muter soundtrack-nya Dea Lova sementara rekan di ujung lorong muter Toxicity. Saya memutuskan untuk menikmati saja musik yang siap pakai itu. Dan baru kemudian saya ingat punya terjemahan “Aerials” yang tidak pernah saya terbitkan. Jadi silakan nikmati terjemahan “Aerials” berikut ini. Kata “Aerial” sendiri tidak saya terjemahkan karena saya sendiri masih ragu-ragu, kira-kira apa yang dimaksud “Aerial” di sini. Secara harfiah sih artinya di sini seperti mengacu ke antena-antena yang biasanya menghiasi pandangan kita saat melihat ke langit di tengah pemukiman padat. Tapi, saya cukup yakin juga bahwa aerial ini bisa berarti semacam serangga yang berkitaran di atas kita dan bisa melihat kita secara “aerial view” :). Jadi, daripada membunuh potensi makna yang mungkin akan datang kepada Anda, biarkan saja “Aerials” tetap menjadi “Aerial.”

Selamat menikmati!

AERIAL

Hidup adalah air terjun
Kini kita yang di sungai
Dan nanti lagi setelah jatuh

Berenang di kehampaan
Kita dengar firmannya
Kita lalu tersesat
Tapi temukan semuanya.

Karena kita yang ingin bermain
Selalu ingin jalan
Tapi tak pernah mau tinggal

Aerial di langit
Saat sirna benak ciutmu
Kau bebaskan hidupmu

Hidup adalah air terjun
Kita minum dari sungai
Lalu berbalik dan membangun tembok

Berenang di kehampaan
Kita dengar firmannya
Kita lupa diri
Tapi temukan semuanya.

Karena kita ingin bermain
Selalu ingin jalan
Tapi tak pernah mau tinggal

(Terjemahan Lagu) Day is Done – Saat Hari Usai – Nick Drake

Ini dia satu lagu terjemahan lagu Nick Drake “Day is Done.” Untuk lirik aslinya silakan google sendiri, dan untuk lagunya silakan cari di YouTube. Edisi pingin cepat.

Saat Hari Usai

Saat hari usai
Surya lenyap di balik bumi
Bersama yang lepas dan terraih
Saat hari usai

Saat hari usai
Berharap semua lomba selesai
Ternyata kau terburu memulai
Engkau pun musti ulangi
Saat hari usai

Saat malam dingin
Ada yang biasa ada yang menua
Sekadar tahu hidup tak hanya kencana
Saat malam dingin

Saat burung telah terbang
Tak seorang pun milikmu
Tak ada rumah bagimu
Saat burung telah terbang

Saat permainan telah diperjuangkan
Kau pukul bola ke seberang lapangan
Kau kalah lebih cepat dari perkiraanmu
Kini permainan telah diperjuangkan

Saat pesta usai
Sungguh menyedihkan bagimu
Tak sempat lakukan yang kau rencanakan
Tak ada kesempatan memulai lagi
Kini pesta usai

Saat hari usai
Surya lenyap di balik bumi
Bersama yang lepas dan terraih
Saat hari usai

(Terjemahan Lagu) Nick Drake – Bulan Merah Jambu – Pink Moon

Bagi Anda yang aktif di Instagram atau Twitter dan kebetulan berkontak dengan orang-orang penerbitan atau penggemar musik, musik Anda akan melihat poster berlatar hijau pastel muram dengan seorang lelaki berselimut meksiko garis-garis menjulurkan tangan dengan sekuntum bunga merah jambu. Poster itu adalah sampul dari buku biografi Nick Drake yang ditulis oleh Patrick Humpries terbitan Yayasan Jungkir Balik Pustaka.

Saya pikir saya cukup tahu musik, meskipun tidak sangat hardcore–tapi saya tidak kenal siapa itu Nick Drake. Menurut Pengantar dan Pendahuluan buku tersebut (yang salah satu versi dummy-nya sampai ke tangan saya alasan yang mungkin akan tersirat dari postingan ini :D), Nick Drake ini penting karena kisah hidupnya yang konon tragis dan diselimuti mitos. Dia mati muda, pada usia 26 tahun (banyak orang hebat mangkat pada usia 27 tahun!), setelah sukses beberapa tahun sebagai musisi folk yang menginspirasi banyak orang. Tapi dia meninggal dalam keadaan depresi.

Begitulah. Karena dalam waktu dekat ini saya diajak kawan-kawan diskusi tentang buku ini sementara saya sendiri baru tahu siapa dia, akhirnya lah saya melakukan riset (baca: melakukan googling dan youtubing secara intensif). Nah, sebagai upaya memahami kehidupan Nick Drake, saya coba dengarkan lagu-lagu paling penting dari karir Drake yang pendek tapi penuh warna itu.

Di bawah ini adalah terjemahan dari lagu “Pink Moon,” salah satu lagu terakhir karya Drake. Lagu ini saya pilih karena paling pendek secara lirik, tapi memiliki kualitas musikalitas yang kompleks sekaligus sederhananya selaras dengan lagu-lagu yang lain. Tidak ada yang tahu pasti apa makna dari “pink moon” atau “bulan merah jambu” dalam lagu ini. Ada yang menafsirkannya sebagai “penyakit kejiwaan” yang menghantui dan tak dapat dihindari, yang mulai terasa mencengkeram Nick Drake. Tapi, secara sederhana, kalau dilihat dari liriknya, mungkin “pink moon” ini bisa diartikan sebagai “maut” yang pasti datang ke kalian semua, dan “tidak ada seorang pun dari kalian yang cukup tegar” untuk menghadapinya.

Berikut ini terjemahannya, dan silakan cari lagunya di YouTube.

Bulan Merah Jambu

Kulihat tertulis dan kulihat berujar
Bulan merah jambu akan datang
Tak ada yang bisa cukup tegar
Bulan itu akan menyambar semua kalian

Itulah bulan merah jambu
Ya, bulan merah jambu

Pink, pink, pink, pink
Bulan merah jambu
Pink, pink, pink, pink
Bulan merah jambu

Kulihat tertulis dan kulihat berujar
Bulan merah jambu akan datang
Tak ada yang bisa cukup tegar
Bulan itu akan menyambar semua kalian

Itulah bulan merah jambu
Ya, bulan merah jambu

Pink, pink, pink, pink
Bulan merah jambu
Pink, pink, pink, pink
Bulan merah jambu

(terjemahan lagu) Amrik Udik a.k.a. Small Town USA by Justin Moore

Ini salah satu lagu yang membuat saya hati kepada musik country bertahun-tahun lalu. Alasan utamanya tentu saja karena saya merasa bisa mengidentifikasi diri dengan lagu ini dan benar-benar mengalami Amrik yang udik ini. Istilah jaman ini, karena lagu ini membuat saya #baper.

Tentu saya tidak benar-benar tinggal di Amrik yang seudik yang digambarkan di sini. Fayetteville adalah termasuk kota yang paling besar di Arkansas (meskipun termasuk kota yang sangat kecil dibandingkan kota-kota Amrik di film-film itu). Tapi, kalau saya keluar sedikit saja dari Fayetteville, barang 30 menit nyetir mobil, saya akan mendapati kota semacam ini. Saya juga sangat sering menginap di desa tempat seorang kawan saya punya lahan pertanian (yang jalannya benar-benar masih jalan tanah/sirtu seperti di lagu ini).

Dan, sebenarnya, Justin Moore ini adalah orang Arkansas. Memang sih dia bukan orang Fayetteville atau desa-desa di sekitar Fayetteville, tapi… tapi… Kalau Anda lihat video klipnya, akan ketahuan bahwa salah satu bintang klip-nya memakai topi “Hogs” yang artinya celeng, yang mengacu kepada tim futbol kampus tercinta saya, University of Arkansas.

Jadi, salahkah saya #baper setiap kali mendengar lagu yang sangat pastoral dan tipikal lagu-lagu country Arkansas ini?

Maka, mari ikut menanyi:

Amrik Udik

Waktu aku kecil, banyak yang menyebutnya penjara
Tapi di sinilah akarku dan inilah yang kucinta

Semua orang kenal aku dan aku kenal mereka
Dan aku percaya begitulah semestinya hidup
Kehidupan Amrik udik ini sungguh tak tergantikan.

Beri aku malam Minggu bersama kekasih,
Hank Jr. dan setali bir ringan enam biji,
Jalanan tanah. Itu cukup bagiku.
Beri aku Minggu pagi yang pernuh berkah
Kehidupan sederhana. Itu cukup bagiku.
Di sini, di Amrik udik ini.

Di sini orang banting tulang demi setali uang
Kami tak pernah kelebihan, tapi selalu cukup.
Orang-orang pergi dan mereka kembali lagi
Aku tak ingin ikut-ikutan itu.
Aku bangga bisa bilang aku cinta tempat ini.
Di Amrik udik yang indah ini.

Beri aku malam Minggu bersama kekasih
David Allen Coe dan setali bir ringan enam biji
Jalanan tanah. Itu cukup bagiku.
Beri aku Minggu pagi yang penuh berkah
Kehidupan sederhana. Itu cukup bagiku.
Di sini, di Amrik udik ini.

Yeah, di Amrik udik ini.

Pentingnya Membaca Surat untuk Ayah Orang Lain

(Sebuah resensi yang pernah dikirimkan ke koran tapi tidak pernah dimuat, hehehe…)

Info buku
Judul: Surat untuk Ayah
Penulis: Franz Kafka
Penerjemah: Sigit Susanto
Penerbit: Komunitas Lereng Medini
Cetakan: I, April 2016

Sepenting apakah membaca sepucuk surat dari seorang anak kepada bapaknya di zaman banjir curhat seperti sekarang? Bagaimana bila surat tersebut ditulis di satu negeri Eropa nyaris seabad yang lalu? Kalau yang dimaksud surat itu adalah surat dari sastrawan Franz Kafka untuk ayahnya yang ada pada buku Surat untuk Ayah, maka jawabannya adalah: sangat penting. Gabungan antara isi surat yang berkisar pada ketegangan hubungan anak-bapak, rekam jejak si penulis surat sebagai penulis yang piawai menelusuri misteri batin manusia, dan tentu saja kelihaian penulisnya dalam bernarasi—ketiganya menjadikan buku kecil ini tetap relevan untuk dibaca pada konteks kita hari ini. Dengan tema yang universal dan bisa dijadikan bahan renungan bagi siapapun, mestinya tidak berlebihan juga bila surat ini dihargai sebagai satu lagi sumbangan praktis penting dari dunia sastra untuk kehidupan sehari-hari.

Franz Kafka adalah sastrawan bahasa Jerman penting yang lazimnya dikenal melalui karya-karya fiksinya. Kafka lahir dan dibesarkan dalam keluarga penutur bahasa Jerman di Praha (dulu ibukota Kerajaan Bohemia dan sekarang ibukota Republik Ceko). Novelet-nya yang berjudul Metamorfosis (terjemahan Indonesia-nya oleh Juni Liem terbit pada 2008) menelusuri pergolakan batin seorang manusia yang bangun pagi dan kaget mendapati dirinya telah berubah menjadi serangga raksasa. Novelnya Proses (terjemahan Indonesia-nya oleh Sigit Susanto terbit tahun ini) mengisahkan tentang seorang lelaki yang menjalani proses hukum tanpa tahu dakwaan yang dikenakan kepadanya. Dalam khazanah sastra dunia, konflik kisah manusia yang terperangkap dalam ketidaktahuan di tengah dunia yang serba ganjil seperti ini belakangan dikenal dengan gaya “kafkaesque.”

Surat untuk Ayah ini pada awalnya adalah benar-benar sepucuk surat yang ingin Kafka kirimkan kepada ayahnya—bukan surat terbuka yang akhir-akhir ini semakin lazim kita baca di media sosial. Surat tersebut pada akhirnya sampai ke tangan ibu Kafka yang tidak pernah sampai hati menyampaikannya kepada sang ayah. Dan kini, jadilah surat tersebut meriwayatkan sebagian penting masa kecil Kafka, menjadi bahan otobiografi Kafka. Bagi pembaca Kafka yang cermat, sebagaimana Sigit Susanto sampaikan di pengantar, ada bagian-bagian penting dalam karya fiksi Kafka yang bisa ditemukan cikal bakalnya dalam kehidupan pribadi Kafka sebagaimana tertuang dalam surat ini.

Secara umum, Surat untuk Ayah ini merupakan penceritaan ulang derita batin sang anak karena perlakuan bapaknya. Kafka mengulang kembali hal-hal dalam hidup masa kecil dan mudanya ketika tinggal bersama orang tuanya, dan kemudian dia menunjukkan bagaimana hal-hal tersebut mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Franz menyadari bahwa pada banyak keadaan, mungkin ayahnya tidak bersalah, tapi dia tetap berpandangan bahwa ada masalah dalam cara ayahnya mendidiknya.

Dalam surat ini, Franz juga membicarakan hal-hal besar dan kecil dalam hidupnya yang dipengaruhi oleh hubungannya dengan sang ayah. Terkait hal-hal kecil, misalnya, Franz membahas bahasa dan cara ayahnya berkomunikasi dengan Franz. Dia menguraikan kebiasaan-kebiasan buruk ayahnya yang membunuh kepercayaan diri si anak. Sebut saja di sini kebiasaan sang ayah memperolok anak, melecehkan orang lain di hadapan anak, dan membicarakan keburukan kepada ibunya di hadapan si anak. Memang ayahnya bukan orang yang ringan tangan, tapi sikap yang menyertai kemarahan ayahnya justru membuat Franz merasa tertekan.

Satu contoh terkecil adalah bagaimana si ayah suka mengancam akan memukulnya tanpa benar-benar melakukannya. Hal tersebut membuat Franz merasa lebih sakit daripada benar-benar dipukul atau dicambuk dengan ikat pinggang. Di sini, kita bisa menghubungkan pengalaman Franz dengan satu ungkapan lazim dalam pendidikan dan parenting: “Anak kecil tidak akan selalu ingat apa yang kita ajarkan, tapi mereka ingat apa yang mereka rasakan karena tindakan kita.” Beberapa dari sikap ayahnya ketika kecil itu membunuh kepercayaan diri sang anak, sehingga dia tumbuh sebagai orang yang kerdil ketika berada di sekitar ayahnya.

Selain itu, ada hal-hal besar yang Franz tuliskan terkait bagaimana sejumlah hal besar dalam kehidupan Franz yang terpengaruh oleh hubungan antara dia dan ayahnya. Bagaimana ayahnya memahami dan menjalankan agama menjadi satu catatan tersendiri dari Franz Kafka, yang menurutnya seperti cara beragama orang desa. Dan kritik lain Kafka kepada ayahnya adalah sikap sang ayah terhadap hubungan romantik. Kafka mendakwa ayahnya telah membuat dia mengubah pandangannya terkait pernikahan dengan salah satu pernyataan yang dia berikan ketika dia remaja, dan dia juga mendakwa ayahnya memberikan pengaruh negatif hubungan antara ayah dan ibunya.

Dengan itu, Surat untuk Ayah ini bisa menjadi sarana untuk menyelami perasaan seorang anak yang merasa menjadi korban dari perbedaan antara dirinya dengan sang ayah dan sikap sang ayah yang terlalu mendominasi si anak. Namun, Kafka sadar diri dan membuka kemungkin bahwa bisa jadi ayahnya tidak benar-benar bersalah, dan dia sendiri mungkin anak yang terlalu perasa. Namun, di balik otokritik Kafka kepada dirinya itu, terdapat tuntutan bahwa tetap saja akan lain bedanya bila si ayah lebih memahami putranya dan tidak selalu menjadikan dirinya sendiri sebagai tolok ukur untuk anak-anaknya.

Sebagai sebuah karya terjemahan, ada sedikit yang bisa dikomentari mengenai buku Surat untuk Ayah ini. Di satu sisi, ada sebuah keuntungan bila penerjemah kita adalah penerjemah yang menggarap lebih dari satu buku dari penulis yang sama. Demikian halnya dengan buku Surat untuk Ayah ini. Seperti disinggung di atas, Sigit Susanto, penerjemah buku ini, adalah juga penerjemah novel Proses, novel Franz Kafka yang baru-baru ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Kita juga mendapat keuntungan karena selain akrab dengan karya-karya tulis Franz Kafka, Sigit Susanto juga pernah mengunjungi tempat-tempat tinggal Franz Kafka sebagaimana Sigit tulis dalam buku catatan perjalanannya yang berjudul Menyusuri Lorong-lorong Dunia. Bisa dibilang, Sigit Susanto memiliki modal pengalaman yang lebih dibanding rata-rata penerjemah Indonesia.

Namun, tentu saja itu tidak mencegah terjadinya pilihan-pilihan pengalihbahasaan yang sesekali membuat pembacaan Surat untuk Ayah terasa tidak lancar. Ada kalimat-kalimat tertentu yang merasa sangat dikendalikan oleh struktur bahasa aslinya dan kurang luwes sebagai kalimat berbahasa Indonesia. Bagaimanapun, secara umum, terjemahan Sigit Susanto yang diedit oleh Kurniasih ini terbilang sangat berhasil menghadirkan dokumen sastra penting ini bagi publik Indonesia.

Demikianlah, bagaimana sebuah surat yang ditulis oleh orang yang hidup jauh dari tempat kita, nyaris sembilan puluh tahun yang lalu masih relevan bagi kita. Meskipun hari kita bisa melihat curhatan orang di Facebook dan semakin sering kita baca surat terbuka oleh budayawan, warga biasa, politisi, artis, keluarga politisi, dan lain-lain. Surat ini tentu saja juga sangat penting dibaca siapa saja yang berkesempatan membesarkan anak, atau bila Anda ingin mengenal Franz Kafka lebih dalam tanpa harus repot-repot membaca biografi atau biografi tebal yang komprehensif (meskipun mereka juga penting). Tapi, tentu saja tidak menutup kemungkinan surat ini akan penting bagi Anda yang memang ingin membaca hidup orang lain, mencari bahan untuk direnungkan, tanpa harus kuatir akan mendapat wejangan motivasi di akhir cerita.