(terjemahan lagu) Amrik Udik a.k.a. Small Town USA by Justin Moore

Ini salah satu lagu yang membuat saya hati kepada musik country bertahun-tahun lalu. Alasan utamanya tentu saja karena saya merasa bisa mengidentifikasi diri dengan lagu ini dan benar-benar mengalami Amrik yang udik ini. Istilah jaman ini, karena lagu ini membuat saya #baper.

Tentu saya tidak benar-benar tinggal di Amrik yang seudik yang digambarkan di sini. Fayetteville adalah termasuk kota yang paling besar di Arkansas (meskipun termasuk kota yang sangat kecil dibandingkan kota-kota Amrik di film-film itu). Tapi, kalau saya keluar sedikit saja dari Fayetteville, barang 30 menit nyetir mobil, saya akan mendapati kota semacam ini. Saya juga sangat sering menginap di desa tempat seorang kawan saya punya lahan pertanian (yang jalannya benar-benar masih jalan tanah/sirtu seperti di lagu ini).

Dan, sebenarnya, Justin Moore ini adalah orang Arkansas. Memang sih dia bukan orang Fayetteville atau desa-desa di sekitar Fayetteville, tapi… tapi… Kalau Anda lihat video klipnya, akan ketahuan bahwa salah satu bintang klip-nya memakai topi “Hogs” yang artinya celeng, yang mengacu kepada tim futbol kampus tercinta saya, University of Arkansas.

Jadi, salahkah saya #baper setiap kali mendengar lagu yang sangat pastoral dan tipikal lagu-lagu country Arkansas ini?

Maka, mari ikut menanyi:

Amrik Udik

Waktu aku kecil, banyak yang menyebutnya penjara
Tapi di sinilah akarku dan inilah yang kucinta

Semua orang kenal aku dan aku kenal mereka
Dan aku percaya begitulah semestinya hidup
Kehidupan Amrik udik ini sungguh tak tergantikan.

Beri aku malam Minggu bersama kekasih,
Hank Jr. dan setali bir ringan enam biji,
Jalanan tanah. Itu cukup bagiku.
Beri aku Minggu pagi yang pernuh berkah
Kehidupan sederhana. Itu cukup bagiku.
Di sini, di Amrik udik ini.

Di sini orang banting tulang demi setali uang
Kami tak pernah kelebihan, tapi selalu cukup.
Orang-orang pergi dan mereka kembali lagi
Aku tak ingin ikut-ikutan itu.
Aku bangga bisa bilang aku cinta tempat ini.
Di Amrik udik yang indah ini.

Beri aku malam Minggu bersama kekasih
David Allen Coe dan setali bir ringan enam biji
Jalanan tanah. Itu cukup bagiku.
Beri aku Minggu pagi yang penuh berkah
Kehidupan sederhana. Itu cukup bagiku.
Di sini, di Amrik udik ini.

Yeah, di Amrik udik ini.

Pentingnya Membaca Surat untuk Ayah Orang Lain

(Sebuah resensi yang pernah dikirimkan ke koran tapi tidak pernah dimuat, hehehe…)

Info buku
Judul: Surat untuk Ayah
Penulis: Franz Kafka
Penerjemah: Sigit Susanto
Penerbit: Komunitas Lereng Medini
Cetakan: I, April 2016

Sepenting apakah membaca sepucuk surat dari seorang anak kepada bapaknya di zaman banjir curhat seperti sekarang? Bagaimana bila surat tersebut ditulis di satu negeri Eropa nyaris seabad yang lalu? Kalau yang dimaksud surat itu adalah surat dari sastrawan Franz Kafka untuk ayahnya yang ada pada buku Surat untuk Ayah, maka jawabannya adalah: sangat penting. Gabungan antara isi surat yang berkisar pada ketegangan hubungan anak-bapak, rekam jejak si penulis surat sebagai penulis yang piawai menelusuri misteri batin manusia, dan tentu saja kelihaian penulisnya dalam bernarasi—ketiganya menjadikan buku kecil ini tetap relevan untuk dibaca pada konteks kita hari ini. Dengan tema yang universal dan bisa dijadikan bahan renungan bagi siapapun, mestinya tidak berlebihan juga bila surat ini dihargai sebagai satu lagi sumbangan praktis penting dari dunia sastra untuk kehidupan sehari-hari.

Franz Kafka adalah sastrawan bahasa Jerman penting yang lazimnya dikenal melalui karya-karya fiksinya. Kafka lahir dan dibesarkan dalam keluarga penutur bahasa Jerman di Praha (dulu ibukota Kerajaan Bohemia dan sekarang ibukota Republik Ceko). Novelet-nya yang berjudul Metamorfosis (terjemahan Indonesia-nya oleh Juni Liem terbit pada 2008) menelusuri pergolakan batin seorang manusia yang bangun pagi dan kaget mendapati dirinya telah berubah menjadi serangga raksasa. Novelnya Proses (terjemahan Indonesia-nya oleh Sigit Susanto terbit tahun ini) mengisahkan tentang seorang lelaki yang menjalani proses hukum tanpa tahu dakwaan yang dikenakan kepadanya. Dalam khazanah sastra dunia, konflik kisah manusia yang terperangkap dalam ketidaktahuan di tengah dunia yang serba ganjil seperti ini belakangan dikenal dengan gaya “kafkaesque.”

Surat untuk Ayah ini pada awalnya adalah benar-benar sepucuk surat yang ingin Kafka kirimkan kepada ayahnya—bukan surat terbuka yang akhir-akhir ini semakin lazim kita baca di media sosial. Surat tersebut pada akhirnya sampai ke tangan ibu Kafka yang tidak pernah sampai hati menyampaikannya kepada sang ayah. Dan kini, jadilah surat tersebut meriwayatkan sebagian penting masa kecil Kafka, menjadi bahan otobiografi Kafka. Bagi pembaca Kafka yang cermat, sebagaimana Sigit Susanto sampaikan di pengantar, ada bagian-bagian penting dalam karya fiksi Kafka yang bisa ditemukan cikal bakalnya dalam kehidupan pribadi Kafka sebagaimana tertuang dalam surat ini.

Secara umum, Surat untuk Ayah ini merupakan penceritaan ulang derita batin sang anak karena perlakuan bapaknya. Kafka mengulang kembali hal-hal dalam hidup masa kecil dan mudanya ketika tinggal bersama orang tuanya, dan kemudian dia menunjukkan bagaimana hal-hal tersebut mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Franz menyadari bahwa pada banyak keadaan, mungkin ayahnya tidak bersalah, tapi dia tetap berpandangan bahwa ada masalah dalam cara ayahnya mendidiknya.

Dalam surat ini, Franz juga membicarakan hal-hal besar dan kecil dalam hidupnya yang dipengaruhi oleh hubungannya dengan sang ayah. Terkait hal-hal kecil, misalnya, Franz membahas bahasa dan cara ayahnya berkomunikasi dengan Franz. Dia menguraikan kebiasaan-kebiasan buruk ayahnya yang membunuh kepercayaan diri si anak. Sebut saja di sini kebiasaan sang ayah memperolok anak, melecehkan orang lain di hadapan anak, dan membicarakan keburukan kepada ibunya di hadapan si anak. Memang ayahnya bukan orang yang ringan tangan, tapi sikap yang menyertai kemarahan ayahnya justru membuat Franz merasa tertekan.

Satu contoh terkecil adalah bagaimana si ayah suka mengancam akan memukulnya tanpa benar-benar melakukannya. Hal tersebut membuat Franz merasa lebih sakit daripada benar-benar dipukul atau dicambuk dengan ikat pinggang. Di sini, kita bisa menghubungkan pengalaman Franz dengan satu ungkapan lazim dalam pendidikan dan parenting: “Anak kecil tidak akan selalu ingat apa yang kita ajarkan, tapi mereka ingat apa yang mereka rasakan karena tindakan kita.” Beberapa dari sikap ayahnya ketika kecil itu membunuh kepercayaan diri sang anak, sehingga dia tumbuh sebagai orang yang kerdil ketika berada di sekitar ayahnya.

Selain itu, ada hal-hal besar yang Franz tuliskan terkait bagaimana sejumlah hal besar dalam kehidupan Franz yang terpengaruh oleh hubungan antara dia dan ayahnya. Bagaimana ayahnya memahami dan menjalankan agama menjadi satu catatan tersendiri dari Franz Kafka, yang menurutnya seperti cara beragama orang desa. Dan kritik lain Kafka kepada ayahnya adalah sikap sang ayah terhadap hubungan romantik. Kafka mendakwa ayahnya telah membuat dia mengubah pandangannya terkait pernikahan dengan salah satu pernyataan yang dia berikan ketika dia remaja, dan dia juga mendakwa ayahnya memberikan pengaruh negatif hubungan antara ayah dan ibunya.

Dengan itu, Surat untuk Ayah ini bisa menjadi sarana untuk menyelami perasaan seorang anak yang merasa menjadi korban dari perbedaan antara dirinya dengan sang ayah dan sikap sang ayah yang terlalu mendominasi si anak. Namun, Kafka sadar diri dan membuka kemungkin bahwa bisa jadi ayahnya tidak benar-benar bersalah, dan dia sendiri mungkin anak yang terlalu perasa. Namun, di balik otokritik Kafka kepada dirinya itu, terdapat tuntutan bahwa tetap saja akan lain bedanya bila si ayah lebih memahami putranya dan tidak selalu menjadikan dirinya sendiri sebagai tolok ukur untuk anak-anaknya.

Sebagai sebuah karya terjemahan, ada sedikit yang bisa dikomentari mengenai buku Surat untuk Ayah ini. Di satu sisi, ada sebuah keuntungan bila penerjemah kita adalah penerjemah yang menggarap lebih dari satu buku dari penulis yang sama. Demikian halnya dengan buku Surat untuk Ayah ini. Seperti disinggung di atas, Sigit Susanto, penerjemah buku ini, adalah juga penerjemah novel Proses, novel Franz Kafka yang baru-baru ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Kita juga mendapat keuntungan karena selain akrab dengan karya-karya tulis Franz Kafka, Sigit Susanto juga pernah mengunjungi tempat-tempat tinggal Franz Kafka sebagaimana Sigit tulis dalam buku catatan perjalanannya yang berjudul Menyusuri Lorong-lorong Dunia. Bisa dibilang, Sigit Susanto memiliki modal pengalaman yang lebih dibanding rata-rata penerjemah Indonesia.

Namun, tentu saja itu tidak mencegah terjadinya pilihan-pilihan pengalihbahasaan yang sesekali membuat pembacaan Surat untuk Ayah terasa tidak lancar. Ada kalimat-kalimat tertentu yang merasa sangat dikendalikan oleh struktur bahasa aslinya dan kurang luwes sebagai kalimat berbahasa Indonesia. Bagaimanapun, secara umum, terjemahan Sigit Susanto yang diedit oleh Kurniasih ini terbilang sangat berhasil menghadirkan dokumen sastra penting ini bagi publik Indonesia.

Demikianlah, bagaimana sebuah surat yang ditulis oleh orang yang hidup jauh dari tempat kita, nyaris sembilan puluh tahun yang lalu masih relevan bagi kita. Meskipun hari kita bisa melihat curhatan orang di Facebook dan semakin sering kita baca surat terbuka oleh budayawan, warga biasa, politisi, artis, keluarga politisi, dan lain-lain. Surat ini tentu saja juga sangat penting dibaca siapa saja yang berkesempatan membesarkan anak, atau bila Anda ingin mengenal Franz Kafka lebih dalam tanpa harus repot-repot membaca biografi atau biografi tebal yang komprehensif (meskipun mereka juga penting). Tapi, tentu saja tidak menutup kemungkinan surat ini akan penting bagi Anda yang memang ingin membaca hidup orang lain, mencari bahan untuk direnungkan, tanpa harus kuatir akan mendapat wejangan motivasi di akhir cerita.

(Terjemahan Lagu) Segalanya Penuh Cinta | All is Full of Love karya Björk

Kalau ngomong soal Bjork (sebentar, saya copy paste dulu namanya biar pas: Björk), Anda harus melakukannya dengan rendah hati dan tidak grusa-grusu. Karena apa? Karena Björk (hasil copy-paste) adalah kesubliman selera, karena Björk adalah lapis-lapis bawang, karena Björk adalah yang jernih tapi tertabiri.

Hari ini saya ingin menghadirkan kepada Anda sekalian salah satu mahakarya Bjork (maksud saya Björk) yang paling awal dan saya pastikan bisa menyentuh Anda dengan kejernihannya. Lirik-liriknya memberi Anda kiasan yang tidak biasa untuk kebijakan yang sederhana, dan itu lebih dari cukup, terutama bagi kita yang hidup di tengah-tengah metafor mati ini.

Maka, tanpa berpanjang-panjang, silakan menikmati lirik lagu “All is Full of Love” yang hari-hari ini termasuk white noise saya dalam bekerja. Ya, Björk, segalanya penuh cinta, segalanya penuh cinta…

Segalanya Penuh Cinta

Kau akan dicinta
Kau akan dipelihara
Kau akan dicinta
Kau hanya perlu percaya

Mungkin sumbernya tak sama
Dengan aliran cintamu
Mungkin bukan dari arah
Matamu menatap

Tolehkan kepalamu
Semuanya di sekitarmu
Segalanya penuh cinta
Di sekelilingmu

Segalanya penuh cinta
Kau saja tak menerimanya
Segalanya penuh cinta
Telponmu saja tak tersambung
Segalanya penuh cinta
Pintumu saja yang tertutup
Segalanya penuh cinta!

Segalanya penuh cinta
Segalanya penuh cinta
Segalanya penuh cinta
Segalanya penuh cinta
Segalanya penuh cinta

(Terjemahan puisi) “Teman” karya Miller Williams

Teman-teman,

Kali ini, daripada terlalu lama absen, saya ingin berbagi satu puisi karya Miller Williams yang pernah dimuat di koran lokal Fayetteville, Arkansas sekitar dekade 1970-an. Sekadar mengingatkan kembali, Miller Williams adalah salah satu penyair besar Amerika Serikat yang kebetulan semasa hidupnya tinggal di Fayetteville, Arkansas, dan mengajar di program Menulis Kreatif jalur puisi di University of Arkansas, Fayetteville. Tapi sudah lama pensiun waktu saya tiba di University of Arkansas.

Seperti mungkin pernah saya tulis di sini atau di Facebook, Miller Williams mangkat pada tanggal 1 Januari 2015, setelah lama mengalami demensia. Pada musim panas tahun 2014, saya sempat ketemu seorang dosen Creative Writing jalur penerjemahan sastra, yang mengatakan kepada saya bahwa waktu itu Miller Williams sudah cukup parah demensia-nya. Dia sudah banyak lupa ini itu, teman ini dan teman itu.

Sejarah Amerika mengenal Miller Williams sebagai penyair yang membacakan puisi pada perhelatan pelantikan presiden Bill Clinton pada tahun 1992. Pada pelantikan keduanya Bill Clinton mengundang Maya Angelou untuk membacakan puisinya. Kedua penyair ini berasal dari Arkansas, negara bagian asal Bill Clinton (Maya Angelou sempat menghabiskan masa kecil di Arkansas sebelum akhirnya pindah ke negara bagian lain).

Kali ini saya menampilkan puisi Miller Williams yang berjudul “The Friend” yang aslinya saya ambil dari sini. Puisi ini terasa ringan, jenaka, tapi agak murung juga. Kalau dirasa-rasakan, puisi ini mengabadikan satu momen kecil pertemuan dengan seorang kawan yang jadi agak tidak wajar gara-gara baris terakhir (saya tidak mau merusak kejutannya! tagar spoiler alert tagar meniru star wars 7 tagar meniru aadc2).

Ada satu pertanggung jawaban saja dari saya sebagai penerjemah. Pada puisi asli, narator berseru “Jesus Christ” yang di sini sementara saya terjemahkan menjadi seruan “Ya ampun.” Di satu sisi saya ingin mengkonsultasikannya dengan kawan yang beragam Kristen atau Katolik untuk terjemahan ini, tapi di sisi lain saya merasa seolah menemukan jawabannya. “Jesus Christ” adalah seruan lazim dalam bahasa Inggris, kadang-kadang tak peduli apapun agama orangnya. Orang atheis atau Yahudi (yang tidak terlalu alim) bisa saja menyeru begini saat kaget. Saya malah pernah beberapa kali “menangkap tangan” teman Muslim Amerika yang menyeru begini (biasanya cuma “Jesus!”). Jadi, saya merasa “ya ampun” bisa mewakili seruan tersebut karena seruan “ya ampun” relatif terdengar netral dalam bahasa Indonesia, seperti halnya seruan “Jesus Christ” relatif terasa netral dalam bahasa Inggris, sebuah frase seruan yang sudah masuk ke dalam bahasa Inggris sehari-hari. Kalau saya memakai “Yesus Kristus” atau “Bapa di Surga,” kuatirnya terjemahan ini terkesan terlalu agamis, padahal aslinya tidak menunjukkan kesan begitu.

Bagaimana menurut Anda?

Oh ya, satu lagi, istilah “split-T” dan “double reverse” adalah istilah untuk formasi dan teknik dalam olahraga American futbol. Sepertinya terlalu berlebihan kalau saya sampai mencarikan terjemahannya. 🙂

Baiklah, tanpa berlama-lama, silakan menikmati:

Teman

Dua belas tahun kami tak bertemu.
Dia bisa memasang tangannya di antara dinding
dan lampu dan menirukan rollercoaster
mesin ginjal formasi split-T
aksi double-reverse.
Saat kudengar dia pulang kampung tentu aku undang dia.
Aku lepas foto agar ada ruang di dinding.
Orang-orang berkumpul setengah lingkaran.
Aku matikan semua lampu kecuali satu.
Ayo lakukan kataku.
Dia membuat anjing.
Lalu dia membuat kelinci. Kupingnya cuma satu.
Gajahnya tanpa belalai dan terlihat seperti sapi.
Ya ampun seruku Ada apa.
Dari sudut lain ruangan aku dengar seseorang
meracik minuman di kegelapan.

(Terjemahan Lagu) Gadis Tercantik Sedunia – Prince

Hari ini, 21 April waktu Amerika Sebelah Sini, penyanyi Prince mangkat secara tiba-tiba. Memang, semua kematian terjadi tiba-tiba, tapi untuk kematian Prince, sepertinya tidak ada yang siap menerima berita ini. Saingannya, Michael Jackson, mangkat beberapa tahun yang lalu dalam keadaan yang mencurigakan. Kita semua belum tahu apa yang terjadi dengan Prince.

Saya mulai kenal dan suka Prince mulai tahun 1995. Ya, tahun itu, tahun ketika repertoar musik saya diisi musik-musik Amerika slow rock dan pop. Prince memikat saya dengan lagu “The Most Beautiful Girl in the World” yang terjemahannya saya hadirkan sebentar lagi. Lagu ini begitu merayu dan sensual. Sungguh indah. Saya ingat waktu itu cambang Prince dibentuk bintang-bintang. Begitu saya kenal Prince pertama kali. Baru belakangan, ketika mulai lebih serius ingin kenal Prince, saya tahu bahwa dia termasuk salah seorang gitaris paling terkemuka dengan gaya bergitarnya yang “frenetik.” Awalnya saya tidak tahu apa maksud main gitar yang “frenetik” itu. Tapi, setelah mendengar album demi albumnya, saya tahu bahwa “frenetik” itu “hanya” istilah keren untuk permainan gitar yang lebih membutuhkan distorsi dan hati daripada jari dan pick. Ya! Begitulah.

Satu hal yang paling menonjol dari musik Prince (selain gitaran frenetik-nya yang kadang-kadang diumbar itu) adalah liriknya yang sensual dan merayu. Kalau dalam bahasa Indonesia, liriknya adalah racikan antara puitis dan slengekan tapi merayu dan tulus. Bagaimana itu? Pendeknya begitulah, rasakan sendiri lirik lagu-lagu beliau.

Satu hal yang perlu saya sampaikan tentang Prince adalah bahwa dia tidak bisa dibatasi. Hal ini paling tampak pada bagaimana dia menampilkan dirinya di depan publik. Dia laki-laki (semua orang tahu) dan heteroseksual (dia pernah menikah dua kali dengan istri yang sangat dia cintai–yang salah satunya menjadi inspirasi untuk lagu “Gadis Tercantik Sedunia” ini), tapi dia tidak mau membatasi penampilannya hanya pada busana laki-laki. Lihatlah baju-bajunya. Lihatlah sepatunya (tidak sekali saja dia pakai hak tinggi). Menurut seorang dosen saya (saya pernah mengambil mata kuliah Sastra Afrika Amerika Kontemporer yang diajar seorang dosen Afrika Amerika) bilang bahwa Prince memang seorang gender bender, atau penerabas batasan jender, yang sadar betul adanya pengkotak-kotakan pilihan berasarkan jenis kelamin, tapi dia tidak mau dibatasi. Warna yang sangat identik dengannya adalah ungu (sementara orang pada umumnya menganggap ungu sebagai warna untuk perempuan, atau bahkan ada yang bilang “warna janda,” padahal warna kan tidak menikah :D). Sikap Prince ini mirip dengan teori Judith Butler dan social constructivist yang memandang bahwa jender adalah hasil bentukan sosial. Jenis kelamin memang urusan biologis, tapi jender itu urusan bentukan masyarakat, demikian menurut Butler dan social constructivist lainnya.

Dalam kaitannya dengan ketidakterbatasan Prince, pernah beberapa saat dia mengubah namanya dengan sebuah simbol (simbol yang mirip bentuk gitarnya saat memainkan “Purple Rain” dalam pentas paruh waktu pertandingan bola Superbowl tahun 2007 itu). Ketika memakai nama itu, dia seringkali disebut “Artis yang dulu dikenal dengan nama Prince.” Tapi belakangan dia balik lagi ke nama Prince (btw, nama lahirnya Rogers Nelson ya, jangan sampai lupa).

Terakhir, sumpah terakhir, komitmen Prince dalam hal ketidakterbatasan jender ini juga seringkali tampak pada lagu dan penampilannya. Dalam hal penampilan, Prince adalah salah satu dari sedikit artis laki-laki yang konsisten menggunakan penggebuk drum perempuan. Dan dalam lagunya, seringkali dia memuja perempuan lebih dari sekadar penampilannya. Dalam lagu yang saya terjemahkan ini, misalnya, sejak awal dia bertanya “Mungkinkah engkau gadis yang tercantik di dunia?” Kita penikmat musiknya yang tanpa pretensi cenderung akan menganggap bahwa Prince ini memuja seorang gadis murni karena kecantikannya. Tapi tunggu, bukankah ini dia bertanya? Ya, dia bertanya, dan dalam pertanyaan ini ada ketidakpastian. Kenapa? Bagi saya, pertama karena tentu saja tidak ada yang tahu siapa wanita yang paling cantik di dunia. Kedua, dan ini yang menurut saya lebih penting, karena “kecantikan” itu ada hubungannya dengan sesuatu yang ada di dalam. Karena kecantikan perempuan yang dipuja Prince hanya efek samping dari pancaran kecantikan di dalam diri. Lihatlah baris terakhir pada bagian rap lagu ini (yang demi kebutuhan kejutan saya taruh di bagian paling belakang). Ya, gadis ini cantik, tapi cantiknya adalah pancaran kecantikan dalam diri. Karena itu… tidak ada yang tahu apakah dia yang paling cantik.

Tidak ada persyaratan rasial dalam kecantikan versi Prince ini. Hanya ada satu deskripsi fisik tentang kecantikan gadis Prince ini: kulit sehalus bunga. Bunga apa? Ada bunga yang kasar dan ada yang halus, tapi yang pasti semua alami.

Jadi, Anda sekalian punya kesempatan menjadi gadis tercantik di dunia versi Prince, asalkan bisa memancarkan kecantikan itu dari dalam.

Maka, mari menyanyi:

Mungkinkah, kau gadis tercantik sedunia?
Pastilah, kau alasan Tuhan mencipta gadis
Ketika tiba hari akhir dunia
Kuingin kau ada di haribaanku
Malam sebelumnya, aku akan menangis
Bahagia, setelah kau, semua hanya bisa tiada.

Mungkinkah, kau gadis tercantik sedunia?
Pastilah, kau alasan Tuhan mencipta gadis

Mampukah kulewati hari saat jam saja tak kuasa
Kucoba, tapi saat melihatmu lagi pasti aku musnah
Siapa yang mengizinkan wajahmu sehalus bunga?
Aku membungkuk, berbangga telah dirahmati

Mungkinkah, kau gadis tercantik sedunia?
Pastilah, kau alasan Tuhan mencipta gadis

Bila gemintang berjatuhan dari angkasa
Pasti Mars tak begitu jauh
Karena sayang, dengan kecantikan seperti itu
tak ada alasan bagimu untuk malu
Karena sayang, kecantikan semacam itu
adalah kecantikan yang memancar dari dalam

(Translation) Poem for Mother by Wiji Thukul

Seorang kawan di Facebook memposting versi asli puisi Wiji Thukul ini untuk menyertai berita tentang ibu-ibu dari Rembang yang sedang berdemonstrasi menentang pembangunan pabrik semen saat saya menerjemahkan puisi ini.

Poem for Mother

mother once kicked me out of my house
but she cries when i’m sad
mother couldn’t sleep a wink
when hunger kept my brother awake
mother was furious
when we grabbed food
that wasn’t our rights
mother teaches justice
with compassion
mother’s persistence
turns cheap soup
into delicacy

mother cries when i’m sad
mother cries when i’m happy
mother cried when my brother stole a bike
mother cried when my brother got out of prison

mother is a heart that remains gracious
as her children keep hurting her
she’s waiting with mercy and forgiveness
mother’s compassion is a blazing light
of god’s invisibility
inspiring poignancy in mankind

with her virtuosity
mother introduced me to god
(Solo, 1986)

Silakan berdoa…

(Terjemahan) Desperado | The Eagles | Don Henley, Glenn Frey

Maka inilah terjemahan lagu “Desperado,” yang termasuk satu lagi dari khazanah “1995” dalam repertoar musik saya. Mungkin masa hitsnya tidak benar-benar 1995, tapi dalam kenangan saya, lagu ini termasuk 1995 demi kemudahan penyebutan saja.

Saya pertama kali dengar lagu ini waktu kelas tiga SMP, di rumah salah satu sobat baik, Bernardus Budi Indra Yanto. Sebelum lanjut, perlu saya sela dulu: saya belum pernah sekali pun ketemu Indra sejak lulus SMP (awakmu nang ndi ae, pek?). Ketika itu lagu “Hotel California” lagi ramai diputar di ANTV (yang siarannya bisa terjangkau sampai Sidoarjo), dan Indra yang mestinya lebih makmur dari kebanyakan kami (dia anak staff Pabrik Gula Kremboong dan tinggal di perumahan PG) membeli albumnya. Dia mengajak saja ke rumahnya suatu kali dan saya kesengsem dengan koleksi kaset-kasetnya. Waktu menyisir isi album-album itulah saya pertama kali ketemu permata lain dari album Hell Freezes Over: ya lagu “Desperado” itu. Saya ke rumah Indra beberapa kali lagi sejak sore itu, dan tiap kali ke sana selalu ganti album (Nirvana Unplugged in New York, Hell Freezes Over, dan … Relativity dari Indecent Obsession!). Begitulah Indra, orang kaya yang baik: membuat perpustakaan (kaset) dan membiarkan orang lain menikmatinya!

Mari sekarang kita berbicara sedikit tentang album Hell Freezes Over karya The Eagles ini. Sekadar mengingatkan saja, album ini direkam dari konser akustik yang tahun-tahun sedang ramai berkat acara MTV Unplugged. Kita yang remaja (atau sedikit lebih tua) pada masa itu bisa menikmati konser2 akustik kelas wahid yang masih anget dari MTV. Plus drama/tragedi/romantikanya. Konser akustik Oasis diwarnai Liam Gallagher yang menolak menyanyi, sehingga Noel–yang bisa dibilang seperti Liam Gallagher plus pintar bergitar–harus menyanyikan semua lagunya. Kita juga tahu konser akustik Nirvana yang meroketkan singel “About a Girl” yang kemudian menjadi album legendaris pasca mangkatnya almarhum Kurt Cobain. Kita juga lihat Elton John yang konser bermodalkan piano thok tapi membuat kita pendengarnya gemetaran. Atau juga Kiss. Aerosmith. Dan sebagainya. Trend ini terbawa sampai ke Indonesia. Ketika itu AN Teve punya acara akustik plus yang sempat menampilkan Dewa, Gigi, Pure Saturday, Modulus, dan sebagainya. Puncaknya adalah konser akustik mega sukses KLa Project yang jadi album ganda KLakustik, yang masing-masing menghadirkan single “Gerimis” dan “Sahabat.”

Ah, zaman akustik dalam musik dunia, zaman akustik dalam sejarah musik Indonesia, zaman yang melambungkan Henry Lamiri. 🙂

Kembali ke “Desperado,” sebelum kita tampilkan terjemahan lagu ini, perkenankan saya memberikan semacam pertanggungjawaban saya sebagai penerjemah. Seperti biasa, saya menggunakan nikmat kebebasan saya (sebagai penerjemah tak berbayar) dalam mengindonesiakan lagu ini. Ada satu ungkapan penting yang sebenarnya sarat makna lokal yang harus saya ikhlaskan dan saya ganti dengan ungkapan yang lebih “universal” (atau paling tidak ungkapan yang sama-sama lazim dalam bahasa Indonesia maupun Inggris). Ungkapan itu adalah “riding fences,” yang di sini saya terjemahkan menjadi “bermain api.” Makna dari “riding fences” itu sendiri sebenarnya sangat lokal, secara harfiah “memeriksa pagar.” “Memeriksa pagar di sini mengacu pada aktifitas koboi atau pemilik peternakan yang harus selalu mengelilingi properti mereka untuk memastikan bahwa pagarnya (biasanya kawat duri) tidak rusak atau dirusak orang. Pekerjaan semacam ini berbahaya, apalagi kalau dilakukan sendirian, karena biasanya koboi atau peternak yang memeriksa pagar ini juga berpotensi menghadapi garong yang ingin mencuri ternak mereka. Oh  ya, standar peternakan sapi di Amerika (baik di jaman dulu maupun sekarang) relatif sama, untuk satu ekor sapi haru ada kira-kira satu akre. Jadi kalau punya seratus sapi, ya berarti harus ada seratus akre properti yang harus dikelilingi dan diperiksa pagarnya dari waktu ke waktu. Begitulah, dalam lagu ini, ada kesan bahwa si Desperado ini suka menantang bahaya, memeriksa pagar terus-terusan, yang demi mudahnya saya terjemahkan menjadi “bermain api.”

Jadi, lagu ini sangat kental dengan atmosfir Selatan atau Barat. Dalam konteks negeri Aa’ Sam, Selatan mengesankan pedesaan. Dan kalau urusan Barat atau Western–atau lebih akuratnya Southwest atau Barat Daya, sekitar Texas, New Mexico, dan Arizona–memiliki asosiasi kehidupan jaman koboi yg dalam sejarahnya diwarnai petualangan, peperangan antara para pendatang Eropa dan penduduk pribumi Amerika, atau insiden saling curi kuda dan ternak antara penduduk di sebelah selatan sungai Rio Grande (Mexico) dan sebelah utara Rio Grande (Texas).

Yang lebih asyik lagi, ketika lagu ini nge-hits lewat album Hell Freezes Over itu, kita juga sedang dilanda demam film Desperado yang diperankan mas Antok (nama lengkapnya Antonio Banderas–btw, “bandera” dalam bahasa Spanyol artinya bendera lho :D).

Jadi, demi memori, mari kita nikmati “Desperado” di sini, yang ternyata tak jauh-jauh dari kecenderungan pribadi saya–pret!

By the way lagu, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Glenn Frey and Don Henley, di bawah saya tampilkan video lagu ini yang dibawakan Miranda Lambert, yang saat ini merupakan salah satu Ratu Musik Country,* yang lagu-lagunya sendiri sangat mbalada, tak kalah tangguhnya dengan “Desperado.”

* Ya, musik country itu bukan benar-benar monarki, berbeda dengan dangdhut. Ada beberapa ratu dalam musik country, sementara dalam musik dhangdut hanya ada satu ratu dan satu raja satu, yang sebenarnya bukan suami istri–nah, ini juga tidak konvensional kan?

Desperado, kenapa kau tak sadar juga
Dari dulu kau tetap bermain api
Mungkin kau tangguh
Mungkin kau punya alasan
Mungkin ini menyenangkanmu
Tapi yang pasti kau juga bisa terbakar

Jangan ambil Ratu Wajik
Suatu saat dia membunuhmu
Hematku, ambil itu Ratu Waru.

Sudah banyak yang indah
Tersedia di depan mata
Tapi kau minta yang tak ada

Desperado, kamu tak tambah muda
Pedih dan lapar membimbingmu pulang

Dan kebebasan, ah, itu kan kata orang
Penjaramu adalah petualangan sendirian

Tidakkah kakimu beku di musim dingin
Saat tak ada salju, tak ada matahari
Saat siang tak ubahnya malam
Saat sirna suka dan duka
Aneh, betapa perasaan itu bisa hilang.

Desperado, kenapa kau tak sadar juga?
Hentikan main apimu, buka pagar depan itu
Mungkin sekarang hujan, tapi di sana ada pelangi
Biarkan seseorang mencintaimu, sebelum terlambat