Bisakah Saya Install Linux dengan PC Specs Ini?

Malam ini saya mendapat pertanyaan semacam judul ini dari mas Muhammad Nur Ali. Begini detil pertanyaannya:

permisi mas , saya mau tanya ttg linux , masih sangat awam nih:)

saya punya komputer dengan OS windows 7 32 bit , prosesor intel core 2 duo 2.5ghz , ram 2gb, harddrive 100gb , vga nvidia GeForce 9300 , apakah spec ini sdh cocok untuk change OS ke distro linux (ubuntu , redhat , kali , backtrack) ?

kalau mau pakai notebook yg running smoth dgn OS linux , ada rekomendasinya mas ? kalau bisa yg harganya dibawah 4 juta😀 , biar saya gag salah beli

kalau searching di google , ada beberapa notebok yg gag runnig smooth kalau pakai linux (prosesor gampang panas , sering low batt , lcd sering ngeblink kalau pakai vga nvidia optimus)

Tentu ini pertanyaan yang membuat saya sangat bersemangat untuk menjawabnya. Kekhawatiran seperti ini wajar sebelum kita mencoba hal yang benar-benar baru. Saya akan memberikan jawaban. Tapi sebelumnya, saya ingin sekadar mengingatkan bahwa banyak pengguna dan programmer Linux yang berpegangan falsafah “selama tidak rusak, jangan dibuang” atau “mari kita maksimalkan apa yang kita punya” atau “simpel saja, bro!” Pada praktiknya, falsafah-falsafah ini diterjemahkan menjadi sistem operasi yang ringan, bisa dijalankan bahkan dengan perangkat komputer tua, dan tidak terlalu rumit. Artinya, selalu ada distro Linux yang bisa dipakai untuk perangkat komputer dengan spek yg Anda punya (atau perangkat komputer lungsuran dari kakak atau suami/istri Anda).

Begini jawaban saya khusus terkait pertanyaan mas Nur di atas:

Halo, Mas Nur.

Pertama-tama, saya juga harus mengaku kalau pengetahuan saya tentang Linux cuma terbatas pada desktop (pengguna komputer biasa). Dan itu pun kayaknya tidak ahli-ahli banget. Kalau memang sampai ada masalah, biasanya saya bermodal googling.:)

Untuk komputer sampean, menurut saya itu spec-nya sudah sangat bagus untuk Linux. Meski begitu, kalau memang ingin yang smooth dan stabil, saya menyarankan Anda pakai Linux yg versi ringan, misalnya Linux Mint XFCE atau Mate. Kalau Ubuntu, coba pakai yang Xubuntu.

Terus terang, saya tidak pernah pakai Redhat (kayaknya Redhat sangat populer buat yg pengetahuan Linux-nya lebih dari sekadar pengguna akhir desktop/laptop seperti saya. Kalau programmer atau ahli jaringan, mungkin Redhat sangat bagus.

Saya sendiri, mohon maaf, tidak tahu spec seperti apa yg bisa sampean dapat dengan dana 4 juta. Beberapa tahun terakhir sy tinggal di Amerika, jadi saya sama sekali tidak tahu harga komputer di Indonesia. TAPI, menurut pengalaman saya, dengan laptop bekas yg prosesornya Core2Duo dengan memori 2 atau 3 GB saja, Linux Mint XFCE jalan dengan sangat mulus dan tidak ada masalah sama sekali dengan “smoothness” atau low bat.

LCD nge-blink biasanya terjadi kalau desktop environment Linux yg dipakai memang butuh kartu grafis tinggi. Kalau sampean pakai Linux Elementary OS (yg sangat mirip Mac itu), misalnya, mungkin komputer dengan specs sampean itu akan nge-blink sesekali kalau pindah dari satu window ke window yang lain.

Untuk lebih nikmatnya, silakan download ISO linux (sy anjurkan coba dulu yg XFCE, paling bawah) dan burn ke DVD atau ke jump drive. Coba jalankan secara live (tanpa perlu install). Sampean coba review dulu apakah nyaman. Kalau ada kesempatan lagi, coba yang lebih bagus grafisnya (Cinnamon). Silakan putuskan mau pakai yg mana sebelum sampean install ke komputer.

https://www.linuxmint.com/download.php

Semoga sukses dan selamat datang di dunia merdeka!

Advertisements

Bagaimana Servis Perangkat Elektronik Mengajarkan Kehidupan

Seperti Anda tahu dalam postingan-postingan di blog ini, saya suka (mencoba) membetulkan barang-barang elektronik secara amatiran. Seiring waktu, bertambahnya pengalaman, dan meningkatnya jam terbang saya dalam hal servis elektronika ini ada beberapa pelajaran hidup yang saya petik dari kegiatan ekstrakurikuler ini.

Satu pelajaran yang saya petik (atau “unduh” atau “download”) adalah bahwasanya kita harus selalu siap menerima kemungkinan adanya elemen dalam suatu permasalahan yang kita lewatkan, dan akibatnya kita pun harus siap mengubah hipotesa kita berdasarkan kenyataan yang ada dan telah kita lewatkan tadi.

Sebagai disclaimer: bekal pengetahuan kelistrikan dan elekstronika saya terbilang minimal. Seperti kebanyakan Anda di luar sana, pendidikan formal saya di bidang ini hanya berasal dari pelajaran Ketrampilan Elektronika Dasar di SMP dan Pelajaran Fisik di SMP dan SMA. Selebihnya, saya tertulari spirit ngoprek dari memperhatikan teman kuliah yang waktu itu pintar (dan sering dimintai tolong) memperbaiki komputer yang rusak. Plus, setelah merekahnya fajar Google dan YouTube, relatif semua pengetahuan saya soal komputer dan elektronika sederhana dari sana.

Kembali ke fokus, memperbaiki perkakas elektronika mengajarkan kepada saya bahwa: Seyakin apapun kita dengan hipotesa kita atas penyebab suatu masalah, selalu ada kemungkinan kita salah karena ada variabel dalam permasalahan yang lepas dari kita. Pertama karena kita seringkali tidak tahu semua elemen permasalahan. Kedua, mungkin juga karena keunikan masing-masing elemen yang tidak memungkinkannya untuk diketahui dan diketemukan di Google saat kita mencari cara membetulkan sebuah kerusakan.

Salah satu contoh yang bisa saya berikan ini adalah pengalaman memperbaiki tablet Google Nexus. Kalau Anda ada waktu senggang, silakan baca beberapa paragraf yang dicetak miring berikut, yang intinya adalah saya mengira baterei saya soak, terus menggantinya, dan baru kemudian saya ketahui bahwa yang bermasalah adalah charging port/micro USB port. Kalau tidak ada waktu, silakan langsung lompat ke bagian kebijaksanaan hidup yang saya cetak tebal di bawah sana.

Beberapa tahun yang lalu istri saya membeli tablet Google Nexus (selalu saja istri saya yang beli!). Setelah beberapa waktu, dia mendapati bahwa batereinya cepat habis. Pernah suatu kali, setelah di-charge semalam, baterei masih tetap kosong. Akhirnya saya mereka-reka apa penyebabnya. Beberapa hari sebelumnya saya meng-upgrade OS-nya dari Android 3.x ke 4.x. Mungkin upgrade ini penyebabnya. Saya google masalah itu, dan menemukan banyak kasus seperti itu: Android 4.x awal sangat boros baterei. Ditambah lagi, saya dan istri sudah sepakat kalau bateri tablet sudah soak.

Maka, solusi pertama adalah membeli baterei baru dan, selanjutnya, mendowngrade OS ke yang lebih stabil dan baru mengupgrade-nya lagi setelah ada perbaikan bug dari Google. Kami pesan baterei dari Amazon dan langsung pasang. Semuanya happy dan bahagia. Saya men-downgrade OS ke Android yg lama, tablet pun hidup ceria. Hanya semalam, dan besok paginya saat bangun, kami mendapati bahwa batereinya nyaris habis, padahal sudah dicharge beberapa jam. Di situlah saya memutuskan bahwa masalahnya bukan pada baterei, tetapi pada micro USB port yang menghubungkan antara kabel charger dengan baterei.

Saya periksa atas bawah luar dalam dan retrospektif, saya sadar bahwa istri saya suka men-charge tablet sambil tiduran sambil membaca apa gitu di sebuah website. Sepertinya kebiasaan buruk inilah yang membuat bentuk port jadi berubah dan ada sambungan renik yang patah, sehingga daya dari charger tidak tersampaikan secara amanah ke baterei. Saya pun beli micro USB port untuk Google Nexus (yang tersambung dengan jack headphone. Setelah datang, saya pun pasang itu port sekaligus pasang kembali baterei yang lama. Alhasil, baterei kembali terisi sempurna dan kami pun kembali bahagia. Aha, ini dia masalahnya.

Maka saya pun menghubungi penjual di Amazon dan mengatakan bahwa ternyata baterei saya tidak rusak dan saya ingin mengembalikan baterei yang sudah terlanjur saya beli karena memang tidak butuh itu. Dia oke. Kami happy. Hidup normal kembali. Setelahnya, saya jadi relatif tahu elemen-elemen sebuah tablet, hingga ketika tetangga sebelah saya mengeluhkan tabletnya yang pecah dan perlu diganti layarnya, saya jadi cukup percaya diri untuk membantunya: membongkar semua elemen tablet, mengganti layarnya, dan kemudian memasang kembali semua elemennya.

Balik ke fokus kita: pertama-tama saya begitu yakin menganggap bahwa masalahnya adalah baterei, sebuah asumsi hasil dari kecurigaan saya dan pencarian konfirmasi berdasarkan kecurigaan sederhana itu. Terbukti, kita bisa mudah mendapat konfirmasi atas syakwasangka kita, atas kecurigaan kita, tak peduli betapapun tidak akurat syakwasangka kita itu.

Yang tidak saya sadari adalah bahwasanya ada lebih dari satu elemen yang menghubungkan antara listrik dari colokan dinding ke baterei. Ada baterei, ada port antara kabel charger dengan baterei, atau kabel charger, dan ada charger. Bisa saja salah satu dari itu yang bermasalah. Saya cukup yakin bahwa kabel charger dan charger sendiri tidak bermasalah (mungkin karena saya juga menggunakan dua hal itu untuk HP saya). Dan saya melewatkan charging port (mungkin karena tanpa sadar saya menganggap dia terlalu sepele untuk menyebabkan masalah seperti ini).

Tapi, setelah semuanya selesai, setelah saya renung-renungkan, ternyata tampak lah bahwa tidak ada hal yang benar-benar sepele dalam persoalan ini, dan mungkin juga dalam persoalan yang lain. Hal-hal yang sekilas tampak sepele (dalam contoh ini hanya berupa micro USB port) bisa saja memiliki peran besar, yang apabila rusak bisa membuat segalanya macet.

Itu pelajaran yang bisa saya unduh dari episode membetulkan tablet. Tentu saja ini bukan satu-satunya episode yang membuat saya bisa membuat generalisasi sok bijak seperti paragraf di atas. Episode-episode lainnya misalnya meningkatkan kecepatan komputer, memperbaiki keberisikan kipas angin pada PC dan laptop, dan sebagainya. Pendeknya, banyak hal dari dunia silikon dan komputasi ini yang sebenarnya bisa mengajari kita soal kehidupan. Tentu saja. Toh, di dunia ini TIDAK ADA YANG TIDAK berhubungan dengan yang lain. Semuanya saling berhubungan. Dan buat orang Jawa, seperti disampaikan budayawan dan cendekiawan Umar Kayam di salah satu kolomnya dulu, bahkan ular yang kebetulan lewat di depan kita itu bisa saja berhubungan dengan hidup kita, bisa saja dia menjadi isyarat untuk sesuatu yang lain.

Sudahlah, mari kita kembali ke hidup kita lagi. Anak saya sudah selesai main komputer, dan saya harus melanjutkan dengan yang lain.

Update Ubuntu (16.04) dan Libreoffice Terbaru (versi 5.1.x)

Tidak ada postingan sastra atau budaya atau terjemahan lagu untuk minggu ini, Saudara-saudara. Tapi, saya tetap ingin berbagi dengan Anda seperti biasa, kali ini tentang sistem operasi merdeka atau free software. Dalam kesempatan ini, saya ingin memberi beberapa update yang semoga tetap memberi Anda semangat untuk mencoba sistem operasi berbasis GNU/Linux.

Pertama, Ubuntu 16.04 (Xenial Xerus) sudah keluar. Banyak sekali update di sana sini dan Ubuntu terasa semakin nyaman dan mudah saja, dan kembali kepada komitmennya untuk menjaga kemerdekaan kliennya. Seminggu yang lalu saya menginstall PC saya di rumah dengan Ubuntu. PC yg saya maksud ini adalah PC yang pernah saya tulis riwayat pembelian dan ugrade processornya itu. Dengan Ubuntu, komputer ini tetap cepat dan indah. Instalasinya juga sangat gampang dan cepat. Tujuan saya menginstal Ubuntu baru adalah untuk mempersiapkan komputer itu sebelum menjualnya.

Keuntungan pakai Ubuntu di komputer tua (Inter Core2Duo) dengan hard drive 80GB adalah: Pemrosesan data cukup cepat, gambar terlihat indah, dan tidak ada masalah dengan kekurangan ruang penyimpanan. Untuk Windows 7, setelah beberapa bulan, hard drive 80GB itu nyaris penuh karena update-update-nya. Sekarang, dengan Ubuntu, 40GB untuk sistem operasi saja sudah lebih dari cukup, dan 40GB untuk penyimpanan data sudah lebih-lebih.

Ya, komputer ini sudah siap dijual, atau dihibahkan!

Oh ya, soal kemerdekaan Ubuntu: beberapa waktu lalu Stallman mengkritik Ubuntu karena secara otomatis sistem pencari aplikasinya juga mencarikan item di Amazon. Stallman menganggap Ubuntu mengkompromikan kemerdekaan pengguna. Kali ini, Ubuntu tidak secara otomatis menghidupkan fitur pencarian itu. Pengguna boleh mengaktifkannya kalau berkenan. Kritik diterima dan ditanggapi dengan baik.

Kedua, Libreoffice yang terbaru, yaitu LibreOffice 5.1 baru saja diluncurkan. Dan versi baru ini lebih asyik saja. Dia tetap stabil, tetap menggunakan standar kenyamanan mengetik (dengan menu klasik di atas–tidak seperti Microsoft Word yang memakai “ribbon” itu), dan ada beberapa tambahan penting. Satu tambahan penting yang layak disebut di sini adalah adanya pilihan “Hide Wide Space” atau “Sembunyikan bidang putih.” Fitur ini menjadikan Libreoffice mampu menyembunyikan batas antara halaman satu dengan halaman selanjutnya. Dalam MS Word, Anda biasanya tinggal nge-klik batas antar halaman sehingga kedua halaman itu seperti menyambung. Dalam Libreoffice, Anda perlu mengklik sebuah menu. Tapi hasilnya tetap sama.

"white space" atau "ruang putih"
“white space” atau “ruang putih”
"ruang putih" hilang
“ruang putih” hilang
Lewat menu
Lewat menu

Selain itu, Microsoft Word sekarang sudah memiliki fitur bawaan mampu membaca .odt (atau format file asli dari Libreoffice). Jadi, meskipun Anda mengetik di Libreoffice dan menyimpannya dalam format .odt, Anda tidak perlu kuatir tidak bisa membukanya di Ms. Word. Anda tetap bisa membukanya! Semakin tidak perlu saja menyimpan file dalam format .doc (1997/2003) di Libreoffice. Dan bagi saya ini juga berarti tidak perlu lagi mengetik di MS. Word.

Kalau Anda termasuk orang yang mengetik di MS Word yang Anda dapatkan dengan membeli laptop, mungkin sekarang waktunya mencoba Libreoffice dan merasakan berbagai kenyamanan dan kemudahan kustomisasi-nya. Kalau Anda orang yang memakai MS Word hasil pinjaman dari teman (ehem!), saya undang Anda untuk menggunakan Libreoffice yang tidak perlu meminjam, gratis dan merdeka, dan tidak melanggar hukum manapun.

Kalau sudah siap mengunduh Libreoffice, silakan mampir ke sini.

How to Integrate JabRef with LibreOffice on Ubuntu GNU/Linux

I’ve finally managed to integrate JabRef, the powerful but lightweight bibliography organizer/manager/applicator, and LibreOffice on my Ubuntu machine. It was quite bit tricky, especially because I am a new user of JabRef.

Why was it tricky? It was tricky because I was misled by a how-to tutorial written for JabRef users on Mac OS and Windows environments. In the tutorial, the writer (a JabRef on Mac user) provides a download link for the plugin that integrates JabRef with OpenOffice/LibreOffice. In my ignorance, I downloaded the link and installed it manually.

The problem is: you don’t need to manually download (from an external website) and install a separate plugin if you use JabRef on Ubuntu or other GNU/Linux distros. You can do everything from Ubuntu Software Center (or through command line interface).

So, how do you install JabRef and integrate it with LibreOffice if you run Ubuntu?

Here are the steps:

  1. Download and install JabRef through “Ubuntu Software Center” or through command line by typing: sudo apt-get install jabref
  2. Then download and install “jabref plugin for LibreOffice” through “Ubuntu Software Center” (called “jabref-plugin-oo”) or through command line by typing: sudo apt-get install jabref-plugin-oo
  3. If both of them are installed, now you can open JabRef. If you run Ubuntu 15.10 or 16.04, your JabRef version should be JabRef 2.10.
  4. Then open LibreOffice and make sure to activate Java Runtime Environment. Go to “Tools –> Option –> LibreOffice –> Advanced.” Once you’re there, check “Use Java Runtime Environment” and check “Oracle Corporation”
  5. Now go to JabRef and click “Tools” and then “OpenOffice/LibreOffice Connection”
  6. When the OpenOffice panel appears, locate the two “power plug” buttons and click one on the right. When the dialog box pops up, fill out “Path to OpenOffice library dir” (the second line) with “/usr/lib/libreoffice”
  7. Your JabRef and LibreOffice are now integrated!

Enjoy!

Seperti Apakah Layar Komputer Saya

Marilah kita lanjutkan upaya kampanye sistem operasi berbasis GNU/Linux. Saya sadar sekali tidak ada yang meminta saya untuk membuat postingan yang memamerkan tampilan layar komputer saya. Tapi, yang namanya orang kampanye, sebisa-bisanya dia cari alasan untuk menunjukkan keunggulannya.

Kali ini, saya ingin menunjukkan komputer yang saya pakai. Tapi, alih-alih memamerkan bentuk dan mereknya, saya ingin memamerkan isinya. Mungkin, bagi banyak orang, tidak ada yang istimewa dengan tampilan komputer. Komputer saudara A dan saudara B mungkin saja beda sekali. Satu Dell, satu Acer. Tapi, kalau urusan tampilan, bisa jadi sama-sama pakai Windows 7 atau Windows 8 atau Windows 10. Bisa-bisa wallpaper-nya malah sama. 🙂

Tapi, bagi saya, tampilan komputer saya bisa sangat berbeda sesuai selera dan kebutuhan dan ketersediaan spec komputer. Sekali lagi, biar gampang di-google, saya sebutkan, saya memakai sistem operasi berbasis GNU/Linux. Lebih tepatnya, saya memakai Ubuntu. Tapi, saya tidak memakai desktop environment Unity bawaan dari Ubuntu. Saya memakai OpenBox yang tentunya harus saya modifikasi sendiri tampilan dan perilakunya.

Jadi seperti inilah tampilannya:

Wallpaper
Wallpaper dengan panel XFCE4

Untuk mengatur aplikasi, saya pakai XFCE4 Panel dengan menu Whiskermenu yang seperti ini:

Aplikasi aktif
Aplikasi aktif
Panel dengan Whisker Menu
Panel dengan Whisker Menu

Kalau blogging, biar marem dan santai saya pakai klien bernama QTM, seperti ini:

Klien blogging
Klien blogging

Lho? Bukannya itu postingan ini?

Kalau mau mematikan komputer tinggal klik kanan dan… lanjutkan:

Klik kanan mengantarkan Anda tidur.
Klik kanan mengantarkan Anda tidur.

Ini kira-kira sedikit dari banyak kebebasan yang ditawarkan GNU/Linux dengan desktop environment OpenBox.

Terima kasih sedalam-dalamnya buat para pengembang GNU dan kernel Linux, Ubuntu, dan OpenBox. Tak lupa, terima kasih juga kepada Will Eisner buat komik2nya yang selalu menumbuhkan empati.

Al Mustafa dan Penguin Muda: Parabel Linux dan Windows

Karena aku selalu punya lima menit, yang bagiku tak ada bedanya dengan jarak antara terbentukan bima sakti dan menjadi bulat sempurnanya bumi, aku putuskan mengunjungi Al Mustafa.

Sekejap mata aku sampai di hadapannya.

“Selamat datang, penguin muda,” katanya.

“Apa kabar, Al Mustafa?” jawabku dengan pertanyaan. Waktu tak boleh bergerak dalam hening.

“Bagus pertanyaanmu. Tanyakan yang lebih perlu,” dia selalu tahu pikiranku.

“Al Mustafa, berikan aku perumpamaan antara pengguna Windows dan Linux,” kataku. “Terima kasih.”

“Aku berikan dua,” Al Mustafa tampaknya mengapresiasi terima kasih yang kususulkan. “Yang pertama, pengguna Windows adalah pegawai baru yang produktif. Dia diterima kerja. Diantarkan ke kantornya. Mejanya kaca dan logam. Jendelanya luas dan berpemandangan. Dia langsung bekerja. Semua orang bahagia. Dia pulang saat sore tiba.”

“Sungguh indah,” kataku. “Dan tak ada yang salah.”

“Betul, penguin muda,” kata Al Mustafa, membaca pikiranku. “Pengguna Linux adalah pegawai baru yang diantarkan memasuki ruang kantor baru. Mejanya kayu dan bisa dilepas-lepas. Dia bisa sesuaikan bentuknya. Maupun letaknya. Begitu juga jendelanya, lapang. Tapi bisa dia lepas kalau ingin angin dari luar. Kadang-kadang mejanya agak goyang, tapi di dalam laci ada kotak perkakas untuk menguatkannya.”

“Aha!” seruku.

“Aku tahu, penguin muda,” dia pegang kepalaku. “Bahkan dinding kantor pun bisa dilepas, sehingga di bisa berbincang dengan sesama pegawai.”

“Iya–”

“Kau lebih suka yang ini, penguin muda,” Al Mustafa tahu pikiranku, karena dia adalah aku.

“Bagaimana dengan perumpamaan kedua?” tuntutku.

“Lima menitmu sudah habis, penguin muda,” kata Al Mustafa memegang pundakku. “Sekarang, masuklah ke kantormu.”

Berteknologi Secara Ramah Lingkungan

Mari kita mulai hari dengan postingan cepat soal teknologi, tepatnya menjawab pertanyaan “Kenapa perlu mencoba Linux?” Kali ini, argumen yang saya tawarkan adalah: Linux mengajak kita untuk berteknologi secara lebih ramah lingkungan dan tidak terseret arus konsumerisme. Bagaimana bisa? Sistem operasi Linux cenderung lebih ringan, dan kita punya kebebasan (dengan didukung dengan semangat belajar, tentunya). Apa hubungannya antara “ringan” dan “kebebasan”?

Pertama, terkait “keringanan” yang pertama, sistem operasi Linux cenderung lebih ringan daripada Microsoft Windows. Kalau soal ini, saya sendiri juga tidak tahu penjelasan pastinya. Yang saya tahu, kita bisa merasakan jauh bedanya antara Windows terbaru (Windows 8 atau 10) dan Linux terbaru (misalnya Ubuntu 15.10) saat dijalankan dengan komputer yang sama-sama tuanya. Untuk berfungsi secara maksimal, Windows membutuhkan perangkat komputer dengan kemajuan teknologi terkini. Komputer-komputer yang lebih lama, misalnya komputer keluaran tahun 2006-2008, pasti akan terengah-engah mencoba menjalankan tugas-tugas yang diberikan oleh Windows 10.

Anda mungkin menyanggah, “Jelas saja terengah-engah, lha ini sistem baru tapi komputer lama.” Sanggahan seperti itu masuk akal. Tapi, apakah harus seperti itu keadaannya? Apakah menggunakan sistem baru berarti juga harus beli komputer baru? Kalau memang begitu, berarti teknologi terkini hanya bisa diperoleh orang-orang yang, yah, lebih makmur dong? Bukankah lebih baik kalau teknologi itu dipakai untuk kemajuan bersama tak peduli tingkat ekonominya? Bukankah akan lebih ideal jika kita bisa menggunakan teknologi yang baru tanpa harus terus-terusan mengeluarkan uang buat beli komputer?

Di situlah keistimewaan sistem operasi berbasis Linux: dia memungkinkan Anda menggunakan teknologi baru tanpa membuat kompute Anda terengah-engah. Linux keluaran terbaru, dalam hal ini Ubuntu 15.10, bisa bekerja secara maksimal pada komputer yang saya beli bekas keluaran tahun 2008. Ubuntu dengan grafis dan animasi yang cantik itu berfungsi secara stabil pada komputer Dell Optiplex 330 dengan prosesor Core2Duo (yang riwayatnya ada di sini). Jadi, saya tekankan sekali: sistem operasi berbasis Linux cenderung lebih ringan dibandingkan Windows yang usianya sama.

Kedua, terkait “kebebasan,” sistem operasi berbasis Linux memberikan kita kebebasan untuk memodifikasi komputer sesuai kebutuhan kita dan membuang hal-hal yang tidak kita perlukan. Sehingga komputer bisa lebih cepat lagi. Salah satu prinsip utama GNU/Linux adalah “freedom,” atau kebebasan. Dalam bahasa Inggris, kata “free” mengandung arti “bebas” dan “gratis,” sehingga Richard Stallman, penggagas GNU, harus menjelaskan bahwa “free” yang dia maksud di sini seperti “freedom of speech” bukan “free beer” (“bebas,” bukan “gratis”). Tapi, buat kita di Indonesia, artinya sudah jelas: bebas. Tapi tentu kita tidak lupa bahwa sistem operasi Linux ini juga gratis. Di sini, kebebasan yang kita dapatkan adalah kebebasan untuk melakukan apa saja yang kita inginkan dengan sistem operasi ini.

Kita bisa menggunakan kebebasan kita untuk membuang hal-hal kurang relevan yang berpotensi memberi beban kerja kepada komputer kita. Kita bisa memodifikasi komputer kita sehingga dia bisa bekerja dengan cepat untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita yang paling utama. Lagi-lagi saya menggunakan contoh diri saya sendiri. Sekitar enam tahun yang lalu, istri saya yang ketika itu bekerja sebagai guru membeli sebuah netbook (waktu itu jamannya netbook, sebelum musim tablet, chromebook, dll). Dia beli Lenovo S10-3s yang langsung dilengkapi sistem operasi Windows 7 Starter plus sebuah sistem cepat berbasis Linux–sebagai cadangan. Sejak awal beli, komputer yang spec-nya termasuk bersahaja itu memang tidak cepat. Lama kelamaan, setelah berulangkali update, Windows 7 Starter terasa semakin lambat. Istri saya semakin malas pakai. Akhirnya komputer pun sering tercampak dan berdebu. Bayangkan, betapa sedihnya saya.

Akhirnya, demi “meringankan” beban si mesin, saya pun install Windows XP yang relatif sangat cepat untuk mesin itu. Tentu, prosesor Intel Atom N450 itu memiliki kecepatan 1.6 GHz, yang terbilang melebihi kebutuhan Windows XP. Tapi sayangnya karena Windows XP tidak lagi mendapat dukungan dari Microsoft, dia jadi semakin ketinggalan zaman. Banyak aplikasi penting yang tidak bisa diinstall ke mesin itu. Dan istri saya pun malas memakai karena komputernya juga mengganggu dan jadul.

Akhirnya, saya pun terpaksa mengakuisisi komputer kecil ini dan menyuntikkan Ubuntu 15.10 demi memberinya nyawa baru. Maka, setelah Ubuntu terinstall, komputer pun berjalan dengan enak. Saya minimalkan animasinya demi memaksimalkan kinerjanya untuk mengetik dan berinternet. Saya pun akhirnya menikmati komputer itu dengan amat sangat. Dan, setelah sekian lama, untuk memaksimalkan kinerjanya, saya pun coba install desktop environment yang lebih lebih: OpenBox. OpenBox ini sangat minimalis (dan konon hanya disarankan bagi pengguna Linux yang serius mau meluangkan waktu untuk mengurusi “rumahnya”–“rumah,” bukan hanya “Windows” atau jendela. Kini, setelah mempelajari cara memodifikasi OpenBox secara maksimal, saya pun merasa nyaman di rumah yang sangat cepat ini. Kini, saya bisa mengetik, browsing, blogging, riset, dll di komputer yang rasa dan bentuknya saya rancang sendiri ini. Saya bisa bekerja dengan cepat dan mantap di sebuah laptop (eh, netbook) yang sudah pernah dicampakkan pemiliknya.

Jadi begitulah ceritanya bagaimana ringannya sistem operasi berbasis Linux memungkinkan kita untuk berteknologi terkini secara ramah lingkungan. Dan, yang lebih penting lagi dalam kaitannya dengan etika dan kemerdekaan pribadi, menggunakan sistem operasi berbasis Linux ini memungkinkan kita untuk tidak terseret ke dalam konsumerisme, meneguhkan tekad kita untuk tidak ikut-ikutan terus membeli barang baru, yang sebenarnya tidak terlalu kita butuhkan, yang kita beli hanya karena kita ingin ikut orang lain.

Di zaman Macbook dan gadget canggih ini, tidak banyak hal yang lebih mengharukan dibandingkan pernyataan seorang pengembang perangkat lunak bebas dan gratis ini:

“This operating system is designed to run on Pentium2 processors with 256MB RAM, not even an harddisk is needed…Unleash the full potential of computers even with a second hand PC. Let’s stop consumerism and use well what we have.”

Artinya:

“Sistem operasi ini dirancang agar bisa bekerja dengan prosesor Pentium2 dengan memori 256MB RAM, bahkan tanpa perlu harddisk… Maksimalkan kedahsyatan teknologi komputer bahkan dengan PC beli bekas. Mari hentikan konsumerisme dengan menggunakan sebaik-baiknya apa yang sudah kita punya”

Bagaimana, masuk akal nggak kira-kira, Sodara?