Laporan Studi Banding: Dikotomi Hati dan Otak dalam Nyetir Mobil di NKRI dan USA

Akhirnya, sejak punya SIM nyetir mobil lagi beberapa bulan yang lalu, saya mulai lagi intensif nyetir mobil (punya bapak). 5 dari 7 tahun yang saya habiskan di Amerika sangat bergantung pada mobil, dan nyetir mobil bagi saya sudah berevolusi dari pembelajaran, kegemaran, kenikmatan, dan bagian hidup yang tak terpisahkan. Bahkan, setiap musim panas sejak tahun 2012 sampai tahun 2016, nyetir adalah salah satu sumber penghidupan terpenting saya.

Tapi, nyetir mobil di Amerika dan nyetir mobil di Indonesia adalah dua binatang yang benar-benar berbeda*. Ini baru hasil perbandingan setelah tiga hari nyetir saja. Continue reading “Laporan Studi Banding: Dikotomi Hati dan Otak dalam Nyetir Mobil di NKRI dan USA”

Advertisements

Alternatif untuk Sistem Transportasi Umum Berbasis Kompetisi?

Setelah bicara tentang jalan tol dan tanda batas kecepatan, mari kita bicara sesuatu yang jelas merupakan masalah di depan mata: bahwa sistem transportasi publik kita sejak awal sudah berpotensi masalah. Sistem transportasi publik yang non-BUMN kita berbasis kompetisi. Di sini, yang saya maksud sistem transportasi publik mencakup bis dalam kota, bis antar kota, angkutan (non-bis) antar kota, angkutan perkotaan, taksi dan ojek. Sistem kompetisi ini punya elemen kehancurannya sendiri-sendiri. Continue reading “Alternatif untuk Sistem Transportasi Umum Berbasis Kompetisi?”

Jalan Tol: Apakah Ini Solusi? Perlukah Dirayakan?

Yang namanya orang sedang bertengkar, apa saja bisa dijadikan bahan. Begitulah yang kita lihat hari-hari ini antara orang-orang yang anti-Jokowi dan pro-Jokowi. Dari pohon plastik sampai jalan tol bisa dijadikan bahan. Saya ikut mana? Sementara saya tidak ikut mana pun. Persoalan hidup di negeri ini dari penglihatan sekilas saja tampak kompleks, dan sesuatu yang kompleks mustahil diselesaikan dengan bermain dikotomi hitam-putih macam itu. Continue reading “Jalan Tol: Apakah Ini Solusi? Perlukah Dirayakan?”

Membaca Buku yang Sama dengan Warga Sekampung

Apa pentingnya membaca buku yang sama dengan semua orang? Kalau bukunya berbentuk novel dan novel itu kebetulan sedang booming, mungkin keuntungannya adalah kita akan menjadi orang yang tidak kudet, kurang update. Tapi kalau buku yang dimaksud adalah buku non-fiksi yang penting, maka dampaknya adalah banyak hal, yang nyaris semuanya menguntungkan. Saya akan ceritakan satu kejadian semacam itu, yang digabungkan dengan sebuah mata kuliah sejenis MKU yang di kurikulum perguruan tinggi Amerika Serikat disebut mata kuliah English Composition (atau terkadang hanya Composition).

Pada tahun pertama ketika saya menjadi teaching assistant dan ditugasi mengajar untuk kelas Composition, program Composition & Rhetoric (program yang mengkoordinir dan menyelenggarakan pengajaran mata kuliah Composition untuk seluruh kampus) juga turut ambil bagian dari program One Book One Community (OBOC).

Apa itu One Book One Community? Program ini adalah program membaca sebuah buku bersama-sama di masyarakat yang disertai berbagai kegiatan dan ceramah terkait buku tersebut. Bagaimana cara mengadakan program membaca satu buku bersama (dalam waktu beberapa bulan)? Mudah saja: perpustakaan umum kota Fayetteville (Fayetteville Public Library) menyediakan banyak eksemplar buku ini untuk dipinjam anggota (dan anggota masyarakat secara umum).

Selain menyediakan buku untuk dipinjam dan dibaca dengan mudah, ada juga beberapa acara ceramah umum yang menghadirkan penulis buku tersebut dan orang-orang lain yang sekiranya relevan dengan topik bahasan buku tersebut. Ceramah ini diadakan di beberapa tempat. Sebagian di aula perpustakaan umum, dan sebagian lagi di salah satu auditorium kampus. Untuk melengkapi ceramah kampus ini, si penulis juga biasanya diundang untuk berbicara di radio lokal.

Tentu saja, selain acara yang menghadirkan penulis dan pembicara yang menguasai topik tersebut, ada juga kelompok-kelompok diskusi kecil yang pertemuannya diadakan di perpustakaan umum kota.

Pendeknya, selama beberapa bulan, masyarakat akan diakrabkan dengan sebuah buku, topik bahasannya, dan sekaligus penulisnya. Semoga sekarang jelas apa maksud dari namanya: One Book One Community. Kasarannya, Sekampung Satu Buku.

Buku macam apa yang kiranya bisa dipakai secara bersama-sama dan sampai menimbulkan perubahan atmosfer sosial seperti itu? Pada tahun pertama saya mengajar Composition itu, buku yang dipakai adalah The Working Poor karya David K. Shipler. Buku ini merupakan hasil observasi Shipler atas warga Amerika Serikat yang terjebak dalam kemiskinan bukan karena mereka malas bekerja, melainkan karena kondisi hidup mereka tidak memungkinkan bagi mereka untuk bangkit dari jeratan kemiskinan–mereka bekerja tapi gaji yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membuat mereka hidup makmur. Bisa dibilang, buku ini menentang slogan “American Dream” atau semboyan “di Amerika, rajin bekerja pangkal kaya.” Bertahun-tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 1987, David K. Shipler pernah meraih penghargaan bergengsi Pulitzer Prize untuk karya Non-Fiksi umum.

Bagaimana bentuk keikutsertaan masyarakat kampus dalam program One Book One Community ini? Di kampus, keikutsertaan dalam program OBOC ini dikelola oleh program Composition & Rhetoric, khususnya untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah Composition 1. Mata Kuliah Composition 1 ini adalah mata kuliah yang wajib diambil oleh mahasiswa semester 1 (kecuali kalau mereka sudah mengambil mata kuliah ini ketika masih SMA–ya, yang seperti itu memungkinkan di Amerika, buat anak-anak pintar dan rajin di SMA). Dalam Composition 1, mahasiswa mempelajari keahlian menulis tingkat dasar, yang meliputi ketrampilan merangkum, mensintesis, menganalisis retorika, dan membuat tulisan argumentatif berbasis riset.

Dalam mata kuliah yang tujuannya dan tugas-tugasnya jelas inilah buku The Working Poor diselipkan. Beberapa instruktur (sebutan untuk mahasiswa S2 dan S3 yang kebagian tugas mengajar Composition 1, termasuk saya) memilih untuk menugaskan mahasiswa untuk membaca 1 bab setiap minggunya dan menggunakannya untuk diskusi kelas. Instruktur yang lain menugaskan mahasiswa membuat makalah sintesis atau analisis retorika berdasarkan bagian-bagian buku ini. Dan ada pula instruktur yang menugaskan mahasiswa membuat tugas akhir semester berupa tulisan argumentatif berbasis riset dengan topik warga miskin yang bekerja dan wajib menggunakan buku The Working Poor sebagai salah satu rujukan. Pada akhir semester, tulisan para mahasiswa tersebut dilombakan dan pemenangnya tentu akan mendapatkan hadiah menarik.

Selain itu, para instruktur juga memberi kesempatan para mahasiswa untuk mendapatkan poin tambahan kalau menghadiri salah satu acara yang menghadirkan si penulis atau acara-acara lain di kota Fayetteville (baik itu yg dilaksanakan di kampus maupun yang dilaksanakan di perpustakaan umum kota).

Dengan program ini, ada kesempatan bagi masyarakat sekota (tentunya yang suka membaca) untuk memfokuskan perhatian pada satu topik yang sama dan terlibat dalam diskusi-diskusi produktif dan berbagi gagasan hasil pembacaan mereka. Pada saat-saat seperti ini, kita merasakan bahwa tidak selalu melakukan hal yang sama dengan orang lain itu berkesan negatif. Meskipun kita melakukan hal yang sama, membaca hal yang sama, tetap saja yang terolah di pikiran kita (dan keluar dari mulut kita) tetap unik. Dan, bisa saja kita melewatkan hal-hal tertentu dari sebuah buku, yang akhirnya akan kita ketahui karena kita meluangkan waktu mendengar hasil pembacaan orang lain.

Saya membayangkan ini bisa menjadi satu kegiatan yang menarik untuk diadakan di kota-kota di Indonesia. Mungkin dengan begini kita bisa meluangkan waktu membaca buku yang sama dan berbagi pandangan. Sepertinya, diskusi yang berporos pada buku, sebuah teks yang jelas rujukannya, akan jauh lebih menarik dari diskusi-diskusi yang hadir hanya karena dipantik oleh ujaran kontroversial seorang tokoh publik yang selanjutnya viral dan berkembang menjadi obrolan-obrolan media sosial yang seringkali terjadi bukan dengan rujukan yang jelas, tapi sikap keberpihakan politis tertentu (yang seringkali mirip jingoisme).

Untuk proyek perdana kita, kira-kira buku apa yang tepat, Sodara?

 

(Laporan Studi Banding) Cagar Ilalang Nasional di Negara Bagian Bumiputera, Oklahoma

Kali ini, saya ingin berbagi foto-foto yang saya ambil dua minggu lalu dari cagar alam Tallgrass Prairie National Preserve di Pawhuska, negara bagian Oklahoma. Cagar alam ini adalah salah satu benteng terakhir untuk memelihara ekosistem padang ilalang atau bahasa Inggrisnya “tallgrass prairie.” Saya tidak banyak waktu untuk menuliskan ceritanya, tapi kalau Anda ingin tahu signifikansi dari cagar alam ini, saya persilakan baca plat di tugu di bawah ini. Semoga foto-foto ini dan sedikit caption yang menyertai bisa cukup bercerita.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tugu informasi kawasan cagar ekosistem ilalang milik negara.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Informasi lebih mendetail tentang cagar alam ini.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalan tanah membelah dataran raya

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Hanya ilalang, bison, kijang, dan semak-semak di kejauhan. Anda lihat, ilalangnya tampak berkilauan bukan? Itu sama sekali bukan efek editor foto, tapi asli karena ilalangnya terbungkus es. Lebih jelasnya, lihat gambar di bawah.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ilalang terbungkus es. Biasanya terjadi saat hujan turun di tengah hawa yang dinginnya jauh di bawah titik beku, sehingga air yang menempel di benda-benda segera berubah menjadi es yang semakin menebal seiring hujan atau gerimis yang tak kunjung berhenti.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Terlihat bison di pinggir jalan beku. Tanah masih tertutup serbuk es sejak badai musim dingin beberapa hari sebelumnya. Saat mengambil foto ini, saya bayangkan seperti melihat lokasi yang dijadikan foto “Bliss” untuk wallpaper Windows XP itu, tapi yang ini versi musim dingin, rumputnya coklat, ditambah bison (dan pantat bison), ditambah tiang listrik dan kabelnya.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalanan beku dengan jejak truk segala medan terlihat jelas.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Nah, kalau ini tempat pengembalaan sapi tepat di luar pagar cagar alam. Secara umum kawasan ini sebenarnya masih sama dengan cagar alam, tapi tentu saja ini sudah tidak alami lagi. Rumputnya bukan lagi ilalang asli. Biasanya, setiap musim panas rumputnya juga dipanen untuk dijadikan gulungan jerami yang bisa dinikmati pada musim dingin, saat pertumbuhan tanaman sangat lambat, atau bahkan terhenti.  Lihatlah betapa penasarannya sapi-sapi itu melihat orang iseng yang berhenti sejenak di pinggir jalan…

 

Pakan Burung, Musim Dingin, dan Fotografi

Beberapa hari lagi musim dingin resmi dimulai, dan musim dingin adalah saat-saat yang berat bagi margasatwa, terutama burung. Pepohonan sudah pada meranggas dan biji-bijian di pohon sudah habis. Burung-burung yang makanannya cacing biasanya bermigrasi ke kawasan selatan. Saya tahu soal migrasi burung-burung pemakan cacing ini karena di teras depan dan balkon rumah saya setiap tahun ada sekeluarga burung “european starling” mulai awal musim semi hingga akhir musim gugur. Saya pernah beberapa kali memotret kepala keluarga burung itu sedang melongok keluar, dan bahkan pernah memvideokan ketika mereka lari ke lapangan belakang rumah dan mengambil cacing buat anak-anaknya (saya yakin dan memang memastikan bahwa itu burung yang tinggal di teras saya berkat kamera pinjaman dari kampus yang dilengkapi dengan 60x optical zoom :D). Tentu burung-burung ini harus bermigrasi ke tempat lain karena di musim dingin cacing masuk lebih jauh ke dalam tanah, dan burung-burung itu tidak bisa dengan mudah cari makanan. Akhirnya, mereka pun pergi ke Texas atau Mexico di musim dingin. Ini dia videonya:

Tapi, berbeda halnya dengan burung-burung yang makannya biji-bijian. Mereka masih nekad saja tinggal di sini, meskipun makanan dan minuman tidak mudah. Beberapa tahun lalu, istri saya mendengar dari seseorang (atau mungkin dari membaca di mana) bahwa ada baiknya kita menyediakan baskom di halaman belakang pada saat musim dingin. Itu akan membantu burun-burung ini mendapatkan air. Tentu saja bantuan seperti itu tidak akan banyak membantu. Burung-burung ini sudah hidup dan berhasil melewati musim dingin jutaan tahun sebelum manusia ada. Tapi, niat baik dan kebaikan manusia toh tidak pernah ada salahnya dan selalu ada harganya.

Mungkin inisiatif istri saya itu yang akhirnya membuat saya tergerak memasang pakan burung di balkon belakang sejak dua tiga tahun yang lalu. Saya tidak ingat pastinya. Mungkin juga karena saya melihat orang-orang mengunggah potret burung di halaman belakang mereka di situs-situs fotography. Saya tidak yakin. Mungkin juga karena saya tertarik melihat pakan burung dikunjungi burung-burung di rumah seorang kawan saya. Mungkin. Inilah masalahnya kalau kita tidak punya diari. Kita jadi lupa hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita. Yang pasti, setelah memotret-motret burung di taman dan di kampus, tahu-tahu saya sudah mulai mengunggah potret burung-burung dari balkon belakang rumah saja. Mungkin saya memasang pakan burung karena alasan yang sangat pragmatis: ingin memotret burung dari dekat dan dengan mudah, di sela-sela mencuci piring. 🙂

Beberapa minggu yang lalu, saya main ke rumah seorang kawan yang punya halaman rumput cukup luas. Di halaman rumput itu dia punya banyak tempat pakan burung yang ketika itu tidak ada isinya. Saya tanya si suami, orang Amerika, dia bilang:

“T melarang aku kasih pakan lagi,” katanya tentang larangan dari T, istrinya, seorang perempuan Indonesia asal Solo. “Dia benci lihat kotoran burung di mana-mana. Hahaha.”

“Hmm,” respon saya. “Boleh nggak saya ambil satu wadah pakannya?” Begitu tanya saya, yang pada dasarnya sangat pragmatis ini. Lagipulua, ada lebih dari lima tempat pakan burung di halamannya.

“Boleh saja,” katanya. “Daripada tidak dipakai.”

Terus dia berteriak ke istrinya bahwa saya mau ambil salah satu wadah pakan burungnya. Dan istrinya dengan sukacita menyetujui. Bahkan, dia menawarkan memberi saya satu kantong pakan burung yang berisi biji-bijian–termasuk biji bunga matahari kegemaran Hamtaro. Dengan berat hati saya harus menolaknya, karena di rumah saya sendiri masih punya sekitar satu kulo biji-bijian pakan burung yang saya beli dua tahun yang lalu dan belum juga habis (karena hanya saya pakai pada musim semi dan awal musim panas).

Maka, inilah tempat pakan burung itu. Saya mulai memasangnya beberapa hari yang lalu. Kali ini saya pasang menggantung di luar balkon agar burungnya tidak sampai nelek, atau–maaf–buang hajat di balkon saya. 🙂 Sungguh, ada kebahagiaan luar biasa ketika burung-burung mulai mengenali bahwa barang yang menggantung di balkon itu adalah tempat pakan burung dan mulai mengunjunginya secara teratur. Sementara ini, saya sudah lihat kunjungan dari burung prenjak (bahasa lokalnya “house finch”) dan kardinal. Sayang kardinalnya menjauh saat saya mau memotret tadi sore.

Btw, kalau Anda suka burung dan ingin tahu burung-burung apa saja yang lazim ditemui di halaman belakang di Amerika Sebelah Sini, silakan unduh buku elektronik yang diterbitkan Dinas Pertanian Amerika Sebelah Sini ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Prenjak atau istilah Amriknya “house finch”
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kardinal jantan di semak-semak yang meranggas di belakang rumah. Dia tidak bisa sembunyi dari bidikan kamera.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kardinal betina, beberapa saat setelah si jantang beranjak pergi.
Kardinal jantan (mungkin burung yang sama dengan yang di atas) berlatar salju pada musim dingin yang lalu
Kardinal jantan (mungkin burung yang sama dengan yang di atas) berlatar salju pada musim dingin yang lalu

Laporan Pandangan Mata

Saudara-saudara penikmat Laporan Studi Banding,

Kali ini Tim hanya memberikan gambaran jalan antara pemukiman mahasiswa ke kampus di Amerika Sebelah Sini. Ada beberapa hal yang bisa ditilik dari video tiga menit yang diambil dari dalam mobil ini, yaitu:

  1. Amerika Sebelah Sini tidak semegah Amerika di film-film Hollywood, sitkom berlatar New York, atau yang lain-lain. Amerika Sebelah Sini tak jauh berbeda dengan kota Batu (berbukit-bukit) atau kota-kota pelajar lainnya.
  2. Di Amerika Sebelah Sini tupai-tupai berkeliaran bebas (sudah sering sy bahas)
  3. Gedung-gedung milik negara atau swasta biasanya dilengkapi dengan tiang bendera yang memasang dua bendara: bendera Negeri Aa’ Sam dan bendera Negara Bagian.
  4. Universitas di Amerika Sebelah Sini memberikan layanan “Kunjungan Kampus” bagi orang tua yang ingin melihat seperti apa kampus yang dipilih anaknya. Kampus menyediakan layanan pemandu (atau lebih tepatnya semacam “Duta Wisata” atau “Ambassador”) yang menunjukkan tempat2 dan layanan2 penting di kampus yang kira-kira bisa membuat orang tua merasa nyaman dan tenteram dan aman kalau membiarkan anaknya pergi.
  5. Kampus di Amerika Sebelah Sini tidak berpagar, jadi seolah-olah tidak ada batas antara lingkungan kampus dengan lingkungan sekitar. Ada jalan umum (tidak terlalu ramai) yang membelah kampus. Biasanya, kalau musim Bikes, Blues and BBQ (sering saya bahas), jalan2 ini akan dipenuhi moge yang sangat berisik…