(Laporan Studi Banding) Cagar Ilalang Nasional di Negara Bagian Bumiputera, Oklahoma

Kali ini, saya ingin berbagi foto-foto yang saya ambil dua minggu lalu dari cagar alam Tallgrass Prairie National Preserve di Pawhuska, negara bagian Oklahoma. Cagar alam ini adalah salah satu benteng terakhir untuk memelihara ekosistem padang ilalang atau bahasa Inggrisnya “tallgrass prairie.” Saya tidak banyak waktu untuk menuliskan ceritanya, tapi kalau Anda ingin tahu signifikansi dari cagar alam ini, saya persilakan baca plat di tugu di bawah ini. Semoga foto-foto ini dan sedikit caption yang menyertai bisa cukup bercerita.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tugu informasi kawasan cagar ekosistem ilalang milik negara.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Informasi lebih mendetail tentang cagar alam ini.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalan tanah membelah dataran raya

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Hanya ilalang, bison, kijang, dan semak-semak di kejauhan. Anda lihat, ilalangnya tampak berkilauan bukan? Itu sama sekali bukan efek editor foto, tapi asli karena ilalangnya terbungkus es. Lebih jelasnya, lihat gambar di bawah.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ilalang terbungkus es. Biasanya terjadi saat hujan turun di tengah hawa yang dinginnya jauh di bawah titik beku, sehingga air yang menempel di benda-benda segera berubah menjadi es yang semakin menebal seiring hujan atau gerimis yang tak kunjung berhenti.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Terlihat bison di pinggir jalan beku. Tanah masih tertutup serbuk es sejak badai musim dingin beberapa hari sebelumnya. Saat mengambil foto ini, saya bayangkan seperti melihat lokasi yang dijadikan foto “Bliss” untuk wallpaper Windows XP itu, tapi yang ini versi musim dingin, rumputnya coklat, ditambah bison (dan pantat bison), ditambah tiang listrik dan kabelnya.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalanan beku dengan jejak truk segala medan terlihat jelas.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Nah, kalau ini tempat pengembalaan sapi tepat di luar pagar cagar alam. Secara umum kawasan ini sebenarnya masih sama dengan cagar alam, tapi tentu saja ini sudah tidak alami lagi. Rumputnya bukan lagi ilalang asli. Biasanya, setiap musim panas rumputnya juga dipanen untuk dijadikan gulungan jerami yang bisa dinikmati pada musim dingin, saat pertumbuhan tanaman sangat lambat, atau bahkan terhenti.  Lihatlah betapa penasarannya sapi-sapi itu melihat orang iseng yang berhenti sejenak di pinggir jalan…

 

Pakan Burung, Musim Dingin, dan Fotografi

Beberapa hari lagi musim dingin resmi dimulai, dan musim dingin adalah saat-saat yang berat bagi margasatwa, terutama burung. Pepohonan sudah pada meranggas dan biji-bijian di pohon sudah habis. Burung-burung yang makanannya cacing biasanya bermigrasi ke kawasan selatan. Saya tahu soal migrasi burung-burung pemakan cacing ini karena di teras depan dan balkon rumah saya setiap tahun ada sekeluarga burung “european starling” mulai awal musim semi hingga akhir musim gugur. Saya pernah beberapa kali memotret kepala keluarga burung itu sedang melongok keluar, dan bahkan pernah memvideokan ketika mereka lari ke lapangan belakang rumah dan mengambil cacing buat anak-anaknya (saya yakin dan memang memastikan bahwa itu burung yang tinggal di teras saya berkat kamera pinjaman dari kampus yang dilengkapi dengan 60x optical zoom :D). Tentu burung-burung ini harus bermigrasi ke tempat lain karena di musim dingin cacing masuk lebih jauh ke dalam tanah, dan burung-burung itu tidak bisa dengan mudah cari makanan. Akhirnya, mereka pun pergi ke Texas atau Mexico di musim dingin. Ini dia videonya:

Tapi, berbeda halnya dengan burung-burung yang makannya biji-bijian. Mereka masih nekad saja tinggal di sini, meskipun makanan dan minuman tidak mudah. Beberapa tahun lalu, istri saya mendengar dari seseorang (atau mungkin dari membaca di mana) bahwa ada baiknya kita menyediakan baskom di halaman belakang pada saat musim dingin. Itu akan membantu burun-burung ini mendapatkan air. Tentu saja bantuan seperti itu tidak akan banyak membantu. Burung-burung ini sudah hidup dan berhasil melewati musim dingin jutaan tahun sebelum manusia ada. Tapi, niat baik dan kebaikan manusia toh tidak pernah ada salahnya dan selalu ada harganya.

Mungkin inisiatif istri saya itu yang akhirnya membuat saya tergerak memasang pakan burung di balkon belakang sejak dua tiga tahun yang lalu. Saya tidak ingat pastinya. Mungkin juga karena saya melihat orang-orang mengunggah potret burung di halaman belakang mereka di situs-situs fotography. Saya tidak yakin. Mungkin juga karena saya tertarik melihat pakan burung dikunjungi burung-burung di rumah seorang kawan saya. Mungkin. Inilah masalahnya kalau kita tidak punya diari. Kita jadi lupa hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita. Yang pasti, setelah memotret-motret burung di taman dan di kampus, tahu-tahu saya sudah mulai mengunggah potret burung-burung dari balkon belakang rumah saja. Mungkin saya memasang pakan burung karena alasan yang sangat pragmatis: ingin memotret burung dari dekat dan dengan mudah, di sela-sela mencuci piring. 🙂

Beberapa minggu yang lalu, saya main ke rumah seorang kawan yang punya halaman rumput cukup luas. Di halaman rumput itu dia punya banyak tempat pakan burung yang ketika itu tidak ada isinya. Saya tanya si suami, orang Amerika, dia bilang:

“T melarang aku kasih pakan lagi,” katanya tentang larangan dari T, istrinya, seorang perempuan Indonesia asal Solo. “Dia benci lihat kotoran burung di mana-mana. Hahaha.”

“Hmm,” respon saya. “Boleh nggak saya ambil satu wadah pakannya?” Begitu tanya saya, yang pada dasarnya sangat pragmatis ini. Lagipulua, ada lebih dari lima tempat pakan burung di halamannya.

“Boleh saja,” katanya. “Daripada tidak dipakai.”

Terus dia berteriak ke istrinya bahwa saya mau ambil salah satu wadah pakan burungnya. Dan istrinya dengan sukacita menyetujui. Bahkan, dia menawarkan memberi saya satu kantong pakan burung yang berisi biji-bijian–termasuk biji bunga matahari kegemaran Hamtaro. Dengan berat hati saya harus menolaknya, karena di rumah saya sendiri masih punya sekitar satu kulo biji-bijian pakan burung yang saya beli dua tahun yang lalu dan belum juga habis (karena hanya saya pakai pada musim semi dan awal musim panas).

Maka, inilah tempat pakan burung itu. Saya mulai memasangnya beberapa hari yang lalu. Kali ini saya pasang menggantung di luar balkon agar burungnya tidak sampai nelek, atau–maaf–buang hajat di balkon saya. 🙂 Sungguh, ada kebahagiaan luar biasa ketika burung-burung mulai mengenali bahwa barang yang menggantung di balkon itu adalah tempat pakan burung dan mulai mengunjunginya secara teratur. Sementara ini, saya sudah lihat kunjungan dari burung prenjak (bahasa lokalnya “house finch”) dan kardinal. Sayang kardinalnya menjauh saat saya mau memotret tadi sore.

Btw, kalau Anda suka burung dan ingin tahu burung-burung apa saja yang lazim ditemui di halaman belakang di Amerika Sebelah Sini, silakan unduh buku elektronik yang diterbitkan Dinas Pertanian Amerika Sebelah Sini ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Prenjak atau istilah Amriknya “house finch”
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kardinal jantan di semak-semak yang meranggas di belakang rumah. Dia tidak bisa sembunyi dari bidikan kamera.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kardinal betina, beberapa saat setelah si jantang beranjak pergi.
Kardinal jantan (mungkin burung yang sama dengan yang di atas) berlatar salju pada musim dingin yang lalu
Kardinal jantan (mungkin burung yang sama dengan yang di atas) berlatar salju pada musim dingin yang lalu

Laporan Pandangan Mata

Saudara-saudara penikmat Laporan Studi Banding,

Kali ini Tim hanya memberikan gambaran jalan antara pemukiman mahasiswa ke kampus di Amerika Sebelah Sini. Ada beberapa hal yang bisa ditilik dari video tiga menit yang diambil dari dalam mobil ini, yaitu:

  1. Amerika Sebelah Sini tidak semegah Amerika di film-film Hollywood, sitkom berlatar New York, atau yang lain-lain. Amerika Sebelah Sini tak jauh berbeda dengan kota Batu (berbukit-bukit) atau kota-kota pelajar lainnya.
  2. Di Amerika Sebelah Sini tupai-tupai berkeliaran bebas (sudah sering sy bahas)
  3. Gedung-gedung milik negara atau swasta biasanya dilengkapi dengan tiang bendera yang memasang dua bendara: bendera Negeri Aa’ Sam dan bendera Negara Bagian.
  4. Universitas di Amerika Sebelah Sini memberikan layanan “Kunjungan Kampus” bagi orang tua yang ingin melihat seperti apa kampus yang dipilih anaknya. Kampus menyediakan layanan pemandu (atau lebih tepatnya semacam “Duta Wisata” atau “Ambassador”) yang menunjukkan tempat2 dan layanan2 penting di kampus yang kira-kira bisa membuat orang tua merasa nyaman dan tenteram dan aman kalau membiarkan anaknya pergi.
  5. Kampus di Amerika Sebelah Sini tidak berpagar, jadi seolah-olah tidak ada batas antara lingkungan kampus dengan lingkungan sekitar. Ada jalan umum (tidak terlalu ramai) yang membelah kampus. Biasanya, kalau musim Bikes, Blues and BBQ (sering saya bahas), jalan2 ini akan dipenuhi moge yang sangat berisik…

Hari Raya Dilematis

Tibalah saatnya hari raya paling raya di Negeri Aa’ Sam: Thanksgiving, atau Hari Raya Panjat Syukur. Orang-orang di negeri ini merayakan hari besar ini tak peduli apapun agama mereka–Kristen, Katolik, Yahudi, Islam, Sikh, Hindu, dll. Tapi, kalau kita menilik sedikit saja sejarah di balik hari raya ini, tak urung kita akan mendapati sesuatu yang janggal: hari raya ini memperingati upacara syukuran karena keberhasilan panen pertama para pendatang yang kelak anak turunnya akan menguasai tanah Amerika Utara ini, dan memojokkan dan bahkan membantai orang-orang pribumi yang memungkinkan mereka berhasil panen untuk pertama kalinya. Makanya, banyak juga sebenarnya orang-orang di Negeri Aa’ Sam (bahkan yang kulit putih) yang mengkritisi hari raya ini. Bagi blogger Anda ini secara pribadi, tentu ini hari raya yang dilematis. Kenapa?

Sebelum terlalu jauh, perlu kita akui bahwa sejarah Thanksgiving sepertinya tidak terlalu penting lagi bagi banyak orang saat ini. Kebanyakan orang saat ini memahami Thanksgiving sebagai hari untuk bersyukur atas apa-apa yang berarti bagi hidup kita saat ini. Dan bagi banyak orang lainnya, terutama orang-orang yang baru tinggal di Amerika (entah itu imigran maupun mahasiswa), terutama yang cukup duit, Thanksgiving adalah saatnya belanja karena pada saat itu toko-toko jor-joran memberi diskon. Begitu juga dengan toko-toko online: mereka juga jor-joran memberi diskon.

Seperti apa sejarahnya? Menurut versi resmi ensiklopedia (seperti ini, misalnya, yang ditulis untuk konsumsi anak-anak tapi tidak simplistik dan tidak menyesatkan) begini singkatnya: 1) Thanksgiving yang pertama diadakan pada tahun 1621, untuk merayakan keberhasilan panen pertama para pendatang eropa (yang disebut “pilgrim” atau “peziarah,” yang merupakan kelompok separatis relijius yang merasa tidak bisa menjalankan agamanya dengan bebas di Inggris, yang juga disebut sebagai kaum Puritan). Sebelum panen pertama ini, mereka masih tinggal di kapal di perairan New England (Amerika Timur Laut) dan banyak dari mereka yang mati karena kelaparan dan kurang gizi pada musim dingin sebelumnya. Dan keberhasilan mereka ini dikarenakan bantuan Squanto, seorang pribumi yang bisa berbahasa Inggris karena sebelumnya pernah menjadi budak orang Inggris dan meloloskan diri. Keberhasilan panen ini dirayakan dengan pesta tiga hari berturut-turut, disertai sumbangan lima ekor rusa dari para penduduk pribumi. Selanjutnya, 2) seabad lebih kemudian Thomas Jefferson mencanangkan peringatan Thanksgiving pertama tadi secara resmi. Dan, belakangan 3) seratus tahun selanjutnya, atas desakan dan kampanye penulis Sara Josepha Hale (yang menciptakan lagu “Marry Had a Little Lamb”), Abraham Lincoln mencanangkan Thanksgiving sebagai hari raya nasional di tengah Perang Saudara. Jadi, secara umumnya, merayakan Thanksgiving adalah mengingat kembali keberhasilan panen yang terwujud oleh semangat kerukunan dan kerjasama antara orang kulit putih dengan penduduk pribumi pada tahun 1621 itu.

Tapi, apakah seindah itu? Sayangnya tidak, dan ketidakindahan sejarah ini adalah apa yang terjadi beberapa dekade setelah itu.

Setelah perayaan Thanksgiving pertama itu, hubungan antara para pendatang Eropa dengan penduduk pribumi tidak indah. Banyak di antara pendatang ini yang menganggap orang pribumi itu sebagai orang yang belum beradab, dan harus diadabkan. Dengan itu, Kristenisasi penduduk pribumi mulai berjalan. Kemudian banyak terjadi konflik antara pendatang dan pribumi, terutama karena pribumi merasa semakin terdesak. Janji peradaban melalui agama juga ternyata tidak terwujud. Banyak pribumi yang sudah Kristen (yang disebut “Indian Sembahyang”) yang akhirnya disisihkan, dikumpulkan jadi satu di pulau dan dibiarkan kelaparan. Banyak terjadi peperangan yang berlanjut dengan pembantaian dan pembudakan para penduduk pribumi. Pendeknya, dalam lima puluh tahun saja, sebagian besar penduduk pribumi di kawasan Amerika Timur Laut itu habis.

Memang, tidak semua pendatang Eropa seperti itu. Menurut Akbar Ahmed, penulis buku Journey into America: The Challenge of Islam, ada tiga kelompok identitas Amerika (primordial, pluralis, dan predator). Kelompok yang saya sebutkan di atas itu adalah kelompok yang “primordial” (yang ingin meng-Kristen-kan Amerika) dan golongan “predator” (yang ingin menumpas siapa saja yang berbeda paham dengannya, entah karena perbedaan ras maupun perbedaan agama). Ada juga pada masa pendatang awal itu yang merupakan golongan “pluralis.” Salah satu tokohnya adalah Roger Williams, yang terbilang sekuler dan berbeda paham dengan orang-orang primordial kebanyakan, hingga dia nyaris saja dipulangkan kembali ke Inggris. Untungnya Roger Williams dan orang-orang yang sepaham dengannya melarikan diri dan membentuk komunitas sendiri di kawasan yang akhirnya menjadi negara bagian Rhode Island. Di kawasan ini, Roger Williams dan kelompoknya membuat kesepakatan untuk memisahkan antara pemerintahan dan keagamaan, menganggap kaum pribumi dan pendatang Eropa setara, mengharamkan perbudakan. Kelak, ketika para “founding father” menyusun naskah proklamasi dan Undang-undang Dasar Negeri Aa’ Sam, pandangan yang memisahkan antara agama dan pemerintahan inilah yang akhirnya diusung. Jadi, memang selalu ada kelompok orang Eropa yang cenderung welas asih terhadap sesamanya di negeri Amerika ini, yang bahkan menentang perilaku pendatang/keturunan Eropa lainnya terhadap penduduk pribumi.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan perayaan Thanksgiving itu sendiri? Apakah merayakan keberhasilan panen yang diwarnai kerukunan itu bisa dipisahkan dari sejarah kelam yang terjadi setelah jamuan makan tiga hari tiga malam itu? Banyak orang Amerika yang dengan itikad baik merayakan Thanksgiving ini sebagai momen untuk mengucap syukur atas segala rahmat yang mereka dapatkan dalam hidup. Banyak juga para imigran baru (tak peduli dari budaya manapun dan agama apapun) yang merangkul tradisi ini dan merayakannya dengan makan kalkun, kaserol buncis, pie labuh, jus kranberi. Saya sendiri merasa dilematis. Karena, kalau kita tahu laju sejarah Negeri Aa’ Sam ini dan tetap merayakannya, berarti kita mengabaikan begitu saja dan membiarkan kekelamannya terlewat begitu saja. Sementara, kalau kita tidak semapt tahu sejarahnya, sama artinya kita merayakan sebuah hari dengan makan-makan dan belanja tanpa tahu bahwa di balik hari yang kita rayakan itu ada sejarah kelam. Dan, bagi saya pribadi, kalau harus mengangkat tema seperti ini dalam perbincangan dengan kawan-kawan saat makan-makan, tentu saja saya jadi perusak kebahagiaan. Apalagi, orang-orang yang pernah mengundang saya dalam makan-makan Thanksgiving itu biasanya adalah orang-orang yang baik, yang mengadakan jamuan itu dengan itikad baik. Sebagian dari mereka adalah dosen, warga lokal yang memang ingin mengundang mahasiswa asing, atau teman-teman sesama warga Indonesia di Amerika sebelah sini. Dilematis bukan?

Memang dilematis merayakan sesuatu yang, bagi pribumi Amerika khususnya, merupakan awal dari sejarah kelam. Bayangkan kalau Anda orang pribumi Amerika yang sekarang tinggal di reservasi (atau kakek moyang Anda disuruh pindah ribuan kilometer karena tanahnya diambil pemerintah)? Bisakah Anda merayakan hari raya seperti itu? Dalam video ini, Anda bisa melihat apa yang terlintas di pikiran anak-anak muda pribumi ini saat mendengar kata Thanksgiving. Sebagian dari mereka tidak memungkiri Thanksgiving adalah saat berbahagia bersama keluarga, dan banyak yang langsung merespon sengit. Tapi salah seorang perempuan mengatakan bahwa “Thanksgiving adalah saat bersenang-senang dengan keluarga, sambil mencoba mengabaikan sejarah di baliknya! (Lihatlah video bagaimana anak-anak pribumi ini merespon buku anak-anak tentang Thanksgiving). Buat kita bangsa Indonesia, yang pernah mengalami penjajahan dan kemudian berhasil “menyatakan kemerdekaannya,” semestinya tidak sulit membayangkan kalau kita berada pada posisi anak-anak pribumi ini.

Begitulah dilematisnya Thanksgiving, menurut saya. Entah, apa mungkin suatu saat kelak Negeri Aa’ Sam menyadari dilema di balik perayaan Thanksgiving ini. Menurut saya sangat mungkin. Saat ini saja ada kelompok-kelompok yang memilih “merayakan” Thanksgiving sebagai Hari Perkabungan Nasional. Gerakan protes ini diadakan setiap tahun di kawasan New England, dekat Plymouth Rock, tempat pertama kali para “pilgrim” mendarat dengan kapal Mayflower. Kesadaran akan beratnya sejarah di balik Thanksgiving ini terbilang semakin besar, tidak hanya di kalangan penduduk pribumi, tapi juga di kalangan orang-orang kulit putih (baik keturunan para pendatang Puritan maupun imigran Skotlandia-Irlandia, Irlandia, Italia, dll. yang datang belakangan). Atau, contoh lainnya adalah bagaimana perayaan Hari Kolombus yang akhir-akhir ini sudah mulai meningkat kontroversinya. Banyak kota dan negara bagian yang memutuskan untuk tidak merayakan Hari Kolombus ini (karena alasan yang sama: kedatangan Kolumbus adalah awal kolonisasi) dan bahkan mengubahnya menjadi Hari Bumiputera.

Jadi, bukan tidak mungkin perayaan Thanksgiving yang sekarang merupakan hari raya terbesar Amerika ini suatu saat akan berubah. Kalau Anda ingat satu adegan dalam film With Honors (yang dibintangi Brendan Frazer itu), tokoh utama tunawisma menjawab: kejeniusan Undang-undang Dasar Amerika adalah bahwa dia sadar bahwa dia tidak sempurna, sehingga membuka kesempatan untuk diamandemen. Kalau Undang-undang Dasarnya saja membuka diri terhadap amandemen, pasti tradisinya juga membuka diri terhadap perubahan. Tentunya perubahan yang baik dalam hal Thanksgiving ini adalah perubahan yang menjadikannya tidak dilematis lagi. Tapi, saya bayangkan perubahan terhadap Thanksgiving ini tidak akan semudah perubahan dari Hari Kolumbus menjadi Hari Bumiputera. Kenapa? Karena sepertinya Thanksgiving ini sudah dimiliki oleh korporasi-korporasi besar yang menjadikannya sarana meraup untung besar-besaran. Mulai pabrikan barang elektronik sampai pabrikan jaket, mulai swalayan betulan hingga toko online, semuanya turut mendapatkan untung besar-besaran dari Thanksgiving. Dan biasanya yang seperti ini, yang tidak politis seperti ini, yang lebih bisa dinikmati tanpa repot-repot. Dan saya sendiri, seperti biasa, ada kesempatan untuk merenungkan dan menuliskannya karena memang belum punya cukup modal untuk ikut berpesta.

Laporan Studi Banding: Suaka Bison & Elk di Kansas (Maxwell Wildlife Refuge)

Saudara-saudara sesama warga negara Republik Indonesia yang saya sayangi,
Bapak-ibu dewan guru baik di lembaga pendidikan negeri maupun swasta yang saya kagumi,
Dan Bapak-Ibu anggota DPR penggemar studi banding yang kurang saya hormati,

Dalam kesempatan Laporan Studi Banding kali ini, saya ingin menunjukkan sebuah video yang saya buat dari kunjungan tim Laporan Studi Banding ke Maxwell Wildlife Refuge di Canton, Kansas.

Pada abad ke-19, pemerintah (dan khususnya Angkatan Darat) AS mendesak para pribumi dari kawasan Dataran Raya (Great Plains) agar lokasinya yang subur ini bisa dimanfaatkan untuk pertanian. Penyingkiran para pribumi ini juga didukung dengan upaya besar-besaran menggalakkan perburuan bison, yang merupakan sumber pangan mereka. Banyak buku yang menceritakan kekejaman baku-bunuh antara tentara AS dan para pribumi yang terdesak ini. Pada akhirnya, orang-orang pribumi pun terdesak dan terpaksa tinggal di reservasi-reservasi. Begitu juga dengan bison di kawasan Kansas. Mereka juga punah.

Keluarga Maxwell termasuk orang yang turut mendapatkan lahan pembagian (homestead) di kawasan Dataran Raya ini, khususnya di bagian yang sekarang dinamakan Canton. Lahan ini semestinya digunakan untuk bertani memenuhi kebutuhan pangan Amerika Serikat. Alih-alih menggunakan seluruh lahan yang dia terima dari pemerintah untuk pertanian, dia mempertahankan sebagian kecil lahannya, area seluas 1000 hektar, untuk tetap menjadi padang rumput alami (istilah Inggrisnya prairie). Selanjutnya, keluarga ini juga mendatangkan bison dari kawasan Dakota guna mengembalikan populasi bison yang sudah punah karena perburuan yang dianjurkan itu.

Belakangan, pada pertengahan abad ke-20, keluarga Maxwell ini menghibahkan 1000 hektar lahan yang masih padang rumput ini kepada Dinas Kehutanan, Perikanan, dan Hewan Buruan guna dijadikan suaka margasatwa, khususnya untuk bison dan elk.

Pada bulan Maret, seperti pernah saya ceritakan di sebuah postingan terdahulu, saya berkesempatan datang ke suaka bison dan elk ini. Saya juga berkesempatan diantarkan melihat bison-bison ini dari dekat. Kebetulan saya diantarkan sendiri oleh pimpinan kelompok relawan yang mengelola tempat ini, Bu Betty. Saya melihat langsung bagaimana bison-bison ini bermalas-malasan di siang hari awal musim semi. Udara terasa kering seperti musim dingin, tapi hawanya tidak terlalu dingin. Saya ingin berbagi dengan Anda sekalian apa-apa yang bisa saya lihat dari balik kamera. Kunjungan ke tengah-tengah bison itu lumayan lama, tapi tentu saja saya hanya bisa mengambil sekira 3 menit saja dari kunjungan itu.

Sementara begitu dulu, silakan menikmati videonya. Oh ya, sebenarnya saya agak menyesal tidak bisa berbagi “aroma” kawasan bison bermalas-malasan ini :D.

Ketakutan Kultural Kepada Anjing

Sebut saja rasa ogah kita kepada anjing sebagai “ketakutan kultural.” Yang saya maksud dengan “kita” di sini adalah kaum Muslim Indonesia selain yang tinggal di kawasan pedesaan atau perkebunan yang sehari-hari akrab dengan anjing sebagai teman pembantu kerja. Buat kita-kita ini, anjing termasuk binatang yang bermasalah karena kita punya anggapan bahwa: 1) air liurnya najis sehingga butuh cara-cara khusus untuk membersihkan anggota badan atau barang kita yang terkena liur anjing, 2) anjing cenderung buas dan besar kemungkinannya menggigit kita, 3) anjing peliharaan adalah binatang yang tugasnya melindungi dan menjadi pemiliknya dan properti pemiliknya. Dampak dari “permasalahan” yang disebabkan anjing ini adalah: kita jadi enggan dekat-dekat anjing. Seringkali kita takut digigit atau dijilat. Banyak yang mengaku tidak takut digigit tapi malas kalau kena jilat.

Bahayanya, sikap seperti itu akhirnya berdampak negatif juga terhadap cara pandang kita terhadap anjing. Setiap melihat anjing–hewan yang tidak kita kenal dan cenderung kita jauhi–kita cenderung beranggapan bahwa dia buas dan ingin menggigit kita. Dan, kalau kebetulan kita ketemu anjing yang tidak buas, kita cenderung beranggapan bahwa anjing itu “haus” menjilat kita. Kita cenderung syu’udzon kepada anjing. Sikap selalu syu’udzon, kalau Anda percaya hikmah yang diajarkan agama Islam, adalah sebuah masalah. Padahal, anjing adalah hewat yang sudah sejak lama didomestikasi manusia dan mungkin kedekatannya dengan kecenderungan manusia jauh melebihi pengharapan kita.

Padahal, kalau kita memperhatikan anjing lebih dari sekadar tajam taringnya, ada yang lebih: lapis-lapis emosi. Anjing, seperti halnya manusia, cenderung menunjukkan apresiasi apabila kita memberinya hadiah, baik itu hadiah berupa makanan maupun hadiah berupa perlakuan manis, misalnya digaruk-garuk perutnya. Dia suka menggulung-gulung dan membalik badan–mungkin minta digaruk. Kadang, dia langsung menyalak-nyalak dan bersiapa–menggeram-geram–bila ada bahaya, misalnya ada ular mendekat ke rumah kita atau ketika ada binatang buas lewat depan rumah kita. Nah, emosi-emosi ini tidak akan pernah kita ketahui bila kita hanya percaya bahwa anjing akan menggigit (atau menjilat) kita saja, kalau kita percaya bahwa anjing (tak peduli apapun jenis dan pekerjaannya) adalah binatang buas yang memang buas.

Jadi, saudara-saudara, sebagai mantan orang yang pernak terjerembab dalam ketakutan kultural kepada anjing, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk menghilangkan rasa takut, benci, dan syu’udzon kepada anjing. Kenapa?

Karena:

  1. kalau pun toh tidak suka najisnya, kan bisa dibersihkan…
  2. katanya orang Islam hanya takut kepada Allah, kenapa sekarang takut anjing?
  3. insya allah hidup kita lebih tenang jika tidak dipenuhi dengan syu’udzon atau pikiran negatif bahwa anjing itu selalu pingin gigit kita. Padahal, mungkin saja dia mau ngemut kita 😀
  4. kalau Anda jijik dengan liur anjing, coba diingat-ingat, siapa yang menciptakan anjing? Iya, kalau Anda orang beragama, tentu Anda akan menjawab bahwa sang Maha Pencipta adalah penciptanya. Terus, apa berani Anda menghina sebuah karya seni di depan senimannya? Padahal, katanya Tuhan selalu bersama dengan kita, lebih dekat dari urat nadi kita, kan? Berarti kalau kita jijik sama anjing… pasti Beliau tahu, kan?

Saya sih memilih, mengikuti anjuran Pancasila Sila Ke-5 Butir ke-10, untuk “menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat,” dan anjing adalah makhluk yang bermanfaat–meskipun penciptanya bukan orang. 😀

Eh, sebentar, jangan-jangan tidak ada Muslim Indonesia yang seperti saya gambarkan itu. Jangan-jangan tidak ada orang Muslim Indonesia yang takut, benci, jijik, dan anti kepada anjing seperti saya gambarkan itu. Semoga saja. Yang saya tahu pasti: beberapa tahun lalu ada orang Indonesia yang seperti itu, yang gara-gara dikejar tiga anjing di satu dini hari ketika salah masuk ke pekarangan orang di Bali dia langsung menganggap semua anjing itu buas, ganas, liurnya najis dan menjijikka, dan tidak ada perlunya berbaik-baik dengan mereka.

Ya, beberapa tahun yang lalu ada orang Indonesia seperti itu. Dan, alhamdulillah, dia sekarang sudah bertaubat dari kecenderungan menilai anjing berdasarkan stereotipe seperti itu, bertaubat dari kecenderungan mendiskriminasi anjing seperti itu. Alhamdulillah, akhirnya dia berani mengakuinya dan akhirnya menuliskan sebuah postingan blog. Untuk Anda sekalian, orang-orang yang dikasihinya.

Liberty
Perkenalkan, ini dia Liberty: seekor anjing blasteran Anatolia dan Pyrenees. Dia diadopsi seorang kawan yang tinggal di sebuah kawasan pertanian di pedesaan Arkansas. Di sini terlihat Liberty sedang menggigit sepotong daging kurban. Ketika teman-teman menyembelih sapi kurban dan membagi-bagi dagingnya, Liberty tampak mendekat dan mengharap belas kasihan. Tapi dia selalu menyingkir kalau kami larang. Akhirnya, suatu kali kucing kawan saya itu mendekat terus dan ingin memakan jeroan, paru. Karena si kucing sepertinya tidak bisa diperingatkan, akhirnya kami beri si kucing sepotong lemak. Nah, sepertinya itu membikin Liberty merasa iri dan kembali merengek-rengek minta diberi. Akhirnya, kami pun mulai memberikan lemak ke Liberty dan Mitten, nama kucing itu. Beberapa kali kami memberinya lemak, dan dia terus menerima. Di satu kesempatan, akhirnya seorang kawan memberinya sepotong daging. Di sini dia terlihat menjauh dari kawasan penyembelihan sambil menggigit daging hadiah itu.

Laporan Studi Banding: Mancing Serba Teratur

Saudara-saudara penggemar studi banding yang saya kagumi,

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin bercerita tentang memancing di negara Aa’ Syam. Seperti Anda tahu, saya saat ini sedang tinggal di negara bagian Arkansas, yang menjuluki dirinya “Negara Bagian Alami.” Tentu Arkansas menyebut diri alami karena masih banyaknya kekayaan alam yang masih alami, tanpa terlalu banyak sentuhan modernisasi. Banyak hutan dan sungai yang alami. Banyak satwa dan ikan yang masih alami. Banyak orang yang berburu dan memancing pada saat-saat tertentu. Tapi, sealami-alaminya Arkansas, tetap saja ada pengaturan yang sangat ketat dalam hal berburu dan memancing.

Urusan memancing terbilang cukup pelik di sini, sangat diatur. Kita tak bisa tinggal jongkok dan melempar kail ke sungai. Kita butuh surat izin, butuh tahu ikan mana yang boleh dipancing dan mana yang tidak, dan butuh tahu waktu–ini yang bikin saya ngakak tak percaya ketika pertama kali mendengarnya. Bayangkan, di tempat-tempat tertentu, ada waktu-waktu tertentu untuk memancing. Biar cerita ini tidak seperti esai persuasi, saya akan ceritakan saja detil kunjungan studi banding saya beberapa waktu yang lalu di Roaring River State Park, salah satu bagian dari Mark Twain National Forest. (Untuk informasi mengenai istilah-istilah teknis ini, silakan merujuk ke kamus istilah yang saya posting sebelumnya di sini.) Sebelum saya ceritakan detil studi banding itu, mari kita lihat dulu lokasinya di peta Amerika: Continue reading “Laporan Studi Banding: Mancing Serba Teratur”