Kamus al-Andalus atau Spanyol 711-1609

Ini adalah awal sebuah seri postingan yang saya harap bisa bermanfaat buat saya sendiri selaku khatib dan Anda sekalian para jamaah blog yang tercinta. Sebagaimana bisa Anda simpulkan dari postingan-postingan saya, saya memiliki ketertarikan yang cukup besar dengan sejarah, sastra, dan budaya secara luas dari kawasan semenanjung Iberia pada rentang masa 711-1609 (masa ketika Islam berada di Spanyol secara de jure dan de facto).

Sayang, ada sejumlah keterbatasan yang saya hadapi. Memang saya membaca sebanyak mungkin sumber-sumber sejarah asli, khususnya teks dan gambar, dari masa tersebut. Karena pengetahuan bahasa Spanyol saya yg nyaris nol dan bahasa Arab saya yang masih level “ibtida’iyah,” sungguh sayang, saya hanya bisa membaca sumber-sumber terjemahan dalam bahasa Inggris.

Tapi, rotan pun jadi. Saya gunakan saja sumber-sumber yang ada di sepenjangkauan tangan ini dengan catatan. Catatan apa? Sebisa mungkin saya akan bersikap kritis terhadap hasil terjemahan, pilihan buku-buku yang diterjemahkan, dan hal-hal lain yang turut mempengaruhinya hadirnya buku-buku tersebut dalam bahasa Inggris untuk setting akademia Barat. Sikap seperti ini tentu pengaruh dari para pemikir dan kritikus dalam bidang kajian pasca-kolonial. Banyak buku dari khazanah peradaban Islam yang hadir dalam bahasa Inggris sebagai upaya dari para ilmuwan, akademisi, dan peneliti Barat untuk lebih memahami budaya Timur (yang dulu disebut “Oriental,” dan orang-orang yang melakukan usaha ini disebut “Orientalis”).

Edward Said yang dalam Orientalism menyoroti proyek-proyek para Orientalis Eropa ini dan berargumen bahwa buku-buku tentang orang-orang Timur karya para Orientalis ini lebih cenderung menunjukkan adanya perbedaan mendasar antara Barat dan Timur (di mana bangsa-bangsa Timur adalah pihak yang digambarkan negatif) dan, ujung-ujungnya nanti, mengafirmasi proyek imperialisme dan kolonialisme sebagai upaya mengangkat harkat dan martabat bangsa-bangsa Timur itu. Karya terjemahan, meskipun penulis aslinya adalah orang-orang Timur sendiri, menempati posisi yang dilematis. Di satu sisi karya aslinya adalah hasil buah pikiran orang-orang dari Timur sendiri; namun, tidak bisa dipungkiri bahwa pilihan karya-karya untuk diterjemahkan ke bahasa-bahasa Eropa itu sendiri mengindikasikan adanya peran aktif Barat dalam menentukan mana yang bisa dikonsumsi oleh bangsa Barat dan mana yang tidak. Belum lagi, kalau kita masuk ke wilayah teknis, sangat banyak istilah-istilah dalam bahasa-bahasa Timur yang tidak bisa diwakili sepenuhnya dalam bahasa-bahasa Barat dan pencarian padanannya bisa mereduksi potensi keragaman makna. Jadi, dalam pembacaan terjemahan Inggris atas karya-karya dari al-Andalus ini, saya akan usahakan bersikap sepeka mungkin terhadap kemungkinan-kemungkinan yang seperti ini.

Maka, marilah kita mulai kamus ini:

al-Andalus: Istilah yang berarti “negeri bangsa Vandal” ini mengacu kepada bangsa Vandal yang pada masa pasca luruhnya Kekaisaran Romawi (sekitar abad ke-5) turun ke semenanjung Iberia dan menguasai kawasan ini sebentar dan kemudian turun menyeberang selata Gibraltar untuk kemudian tinggal di kawasan yang kini menjadi Maroko. Di Maroko ini bangsa Vandal melebur dan tidak diketahui lagi nasibnya. Pendatang Arab dan Berber di semenanjung Iberia menyebut kawasan ini berdasarkan nama bangsa yang mereka anggap berasal dari sini dan pernah menyeberang ke Maroko itu. Maka, negeri ini pun disebut al-Andalus oleh pendatang Arab dan Berber. Pendatang yang lebih dulu ada di sini, yaitu komunitas Yahudi, menyebut negeri ini HA SEFARAD. Penduduk Kristen yang merupakan mayoritas, menyebut kawasan ini HISPANIA.

(Tahun) 711: Pada tahun ini, bangsa Berber yang ketika itu berada di bawah kekuasaan Dinasti Islam Arab Umayyah, berhasil menguasai kawasan semenanjung Iberia ini setelah melalui berbagai taktik. Gelombang penyerangan yang berhasil menggulingkan pemerintahan kekaisaran Visigoth di bawah kekuasaan raja Roderick.

(Tahun) 1609: Inilah tahun dimulainya pemberantasan sisa-sisa peradaban Islam di Spanyol. Ketika raja Mohammad Abu Abdullah menyerahkan kunci istana Alhambra di Granada pada tahun 1492, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella berjanji akan tetap memperbolehkan orang Islam tinggal di Spanyol (meskipun si raja Mohammad harus meninggalkan negerinya). Tapi belakangan ada kebijakan-kebijakan raja yang mengharuskan orang Islam (dan Yahudi) untuk memeluk agama Kristen dan yang tidak mau pindah agama harus meninggalkan Spanyol. Selanjutnya ada gerakan pembakaran buku-buku sisa-sisa peradaban Islam. Dan buntutnya, pada tahun 1609, bahkan keturunan orang Islam yang beragama Kristen pun (disebut “Morisco” yang sebagian di antaranya diam-diam masih Islam, disebut “crypto Muslim”) dipaksa meninggalkan Spanyol. Tahun inilah yang saya pilih menjadi batasan terakhir masa kehadiran Islam di Andalusia.

Advertisements

(Resensi) Cincin Leher Merpati atau The Ring of the Dove oleh Ibn Hazm

Risalah karya Ibn Hazm (994 – 1064 M) dari negeri Andalusia ini membahas berbagai aspek penting dalam hubungan cinta kasih manusia. Pertama, aspek-aspek yang dibahas dalam buku ini cukup komprehensif, mulai dari ihwal dari mana datangnya cinta hingga apa saja dampak yang ditinggalkan cinta. Dan cinta kasih manusia yang dibahas di sini juga cukup komprehensif, mulai dari cinta kasih saudara hingga cinta kasih yang liar, semisal berbagi pasangan. Bisa dibilang, membaca Cincin Leher Merpati* itu seperti membaca pemetaan cinta kasih yang ada (terlepas dari itu lazim atau tidak) pada abad ke-11 di kalangan ketiga elemen demografis Andalusia–Islam, Kristen, dan Yahudi–sekitar masa peralihan dari pemerintahan kekhalifahan Umayyah hingga masa perang saudara atau fitna. Tapi, seperti halnya akan saya bahas secara singkat dalam postingan ini, lebih dari sekadar berbicara tentang cinta, buku ini juga mengindikasikan banyak hal lain yang berguna sebagai jendela mengintip Andalusia.

Observasi Deskriptif dan Preskriptif

Pertama, buku Cincin Leher Merpati (dengan versi Inggris terjemahan J. Arberry bisa dibaca di sini, meskipun dengan sejumlah salah ketika–mungkin karena scanner tidak mengenali huruf-hurufnya) adalah risalah yang cukup gado-gado. Sekilas tampak seperti buku kumpulan esai biasa; tapi kalau kita lihat dari kuantitas puisi yang dihadirkan (tak sekadar untuk mendukung argumentasi), kita boleh bilang bahwa buku ini juga ingin menyajikan puisi. Sejumlah ahli menyebut genre buku ini sebagai prosa eksperimental. Cincin adalah satu-satunya karya Ibn Hazm dengan genre seperti ini–buku-buku Ibn Hazm lainnya adalah kumpulan puisi dan buku fiqh–yang hanya kita ketahui dari pengutipan-pengutipan dalam buku-buku lain, karena buku tersebut sudah dibakar, baik pada masa hidup Ibn Hazm maupun pada masa-masa intoleran lain dalam sejarah Andalusia.

Cincin merupakan observasi Ibn Hazm tentang berbagai aspek cinta yang disampaikan secara deskriptif sekaligus preskriptif. Pada sebagian besarnya, pemaparan dalam buku ini bersifat deskriptif, menggambarkan berbagai hal yang jarang, lazim, dan mungkin terjadi dalam hubungan cinta kasih. Lihatlah misalnya bagaimana di awal buku Ibn Hazm membahas tentang tanda-tanda cinta dan dari mana datangnya cinta. Di bagian ini dia bahas bagaimana gerak-gerik khas orang yang jatuh cinta. Setelahnya, dia bahas tentang orang yang jatuh cinta karena mimpi, karena penggambaran orang, dan karena pertemuan langsung. Sekilas tampak sederhana, bukan? Memang. Tapi kalau kita baca lebih dekat, kita akan temukan bahwa contoh-contoh yang diberikan oleh Ibn Hazm jauh dari membosankan: ada jatuh cinta antara seorang lelaki terhormat dengan budak perempuan tetangganya, ada jatuh cinta antara seorang lelaki pemuka masyarakat dengan seorang pemuda laki-laki yang hanya dia temui untuk pertama kalinya, dan sebagainya. Ya, Anda tidak salah dengar: dia juga menggunakan kisah cinta antara sesama laki-laki, pada abad ke-11, di Andalusia, oleh seorang ahli fiqh. Dari sini, kita bisa melihat bahwa dia menyajikan hasil observasi secara deskriptif. Dia tidak menyangkal adanya fakta cinta yang seperti ini. Yang dia bahas bukanlah hubungan sesama jenisnya, melainkan bagaimana cinta di antara kedua lelaki itu terbentuk. Jadi, yang jadi perhatiannya lebih kepada permasalahan cintanya, bukan siapa yang bercinta. Dari sinilah tampak bahwa dia mempertahankan pendekatan deskriptif secara cukup signifikan dalam buku ini. Menurut beberapa sumber, ada indikasi bahwa dia mendapatkan tekanan atau kritik keras karena penyertaan cinta sesama jenis ini dalam risalahnya; ada orang yang menafsirkan sikap Ibn Hazm ini seperti “merestui” hubungan sesama jenis.

Selain itu, ada cukup banyak juga dalam buku ini yang bersifat preskriptif, atau memberi anjuran. Kita bisa melihat sikap-sikap seperti ini di setengah terakhir buku ini (yang terdiri dari 10 dari 30 bab yang ada). Di bab-bab yang lebih panjang ini, dia menyajikan kategorisasi aspek-aspek penting hubungan cinta. Misalnya, ada Kebahagiaan Cinta, Kesetiaan, Perpisahan, Lupa, dan lain-lain. Di situ, tampak dia menyelipkan nasihat-nasihat yang terselubung, meskipun sikapnya masih deskriptif. Di bagian yang bercerita tentang Penghianatan, Ibn Hazm membuat sejumlah kategori penghianatan, dan satu penghianatan yang paling hina adalah penghianatan yang dilakukan oleh seorang utusan yang diutus seorang lelaki untuk menemui kekasihnya yang kemudian dia rebut untuk dirinya sendiri. Tentu di balik kategorisasi ini tersirat pesan, mungkin, agar kita berhati-hati dalam memilih utusan atau kita bersikap bijak saat menjadi utusan atau kita menjaga diri untuk tidak jatuh cinta kepada utusan. Kategorisasi ini hampir selalu disampaikan dari tingkat yang paling penting hingga yang paling hina.

Gambaran Biografis dan Antropologis

Seperti saya sebutkan di awal, meskipun inti perbincangannya adalah cinta, buku ini menjanjikan lebih dari itu: kita bisa mengintip Andalusia sekaligus Ibn Hazm secara pribadi. Menurut saya, dalam hal membantu mengetahui seluk-beluk Andalusia, membaca buku ini lebih mengasyikkan daripada mendengar pembahasan tentang sejarah Islam dan gambaran Islam di Eropa yang banyak terdapat di situs-situs web tertentu yang cenderung memberikan gambaran bling-bling tentang masa-masa kejayaan Islam yang seringkali lebih bersumber pada cerita dari mulut-ke-mulut daripada berdasarkan fakta-fakta sejarah otentik. Dari Cincin, kita bisa melihat cukup maraknya perbudakan di Andalusia, dan gambaran perbudakan yang ada juga jauh dari gambaran mainstream. Pasca perbudakan oleh bangsa-bangsa Eropa, gambaran perbudakan adalah orang-orang berkulit gelap (baik itu dari Afrika, India, maupun Nusantara) yang disuruh bekerja dengan kaki diikat rantai berbandul bola besi. Di Andalusia, seperti terselip dalam risalah Ibn Hazm ini, banyak dari budak-budak itu berkulit terang, berambut pirang dan bermata biru. Di sini kita jadi ingat kembali daripada istilah “slave” (atau budak dalam bahasa Inggris) berasal: asal kata “slave” adalah kata “Slavic” yang artinya “tangkapan,” yang merupakan sebutan untuk orang-orang dari kawasan Eropa Timur (yang kelak disebut bangsa Slavik) yang ditangkap dan dijadikan budak pada abad ke-9. Sepertinya, hingga abad ke-11 pun masih banyak budak dari kawasan Eropa Timur ini. Dan, ini dia, banyak di antara pimpinan Umayyah yang jatuh cinta kepada budak mata birunya dan akhirnya menghadirkan generasi raja-raja Arab berambut pirang bermata biru!

Kita juga tahu, berkat risalah ini, ihwal perpolitikan dan perebutan kekuasaan di akhir masa Umayyah. Kita secara kasar tahu bahwa kekhalifahan Umayyah jatuh ketika para tentara bayaran dari kawasan Maroko (bangsa Berber) menyerang Kordoba dan memporak-porandakan Andalusia. Tapi, berkat Cincin, kita jadi tahu urutan penguasa Umayyah di Andalusia dan penguasa-penguasa di negeri-negeri sebelahnya yang menjadi tempat pelarian Ibn Hazm setelah Kordoba digasak pasukan Berber. Gambaran tentang masuknya para pasukan Berber ke Kordoba ini juga digambarkan cukup jelas hingga bisa kita jadikan bagian-bagian tertentu buku ini sebagai rujukan untuk melihat situasi perpolitikan Andalusia masa itu, meskipun hanya dari sudut pandang seorang ahli hukum agama–bukan ahli politik.

Selain pengetahuan tentang Andalusia ini, buku ini juga mengenalkan kita kepada sosok Ibn Hazm secara otobiografis. Kita tahu sejak di bagian awal bahwa ayah Ibn Hazm pernah menjadi seorang pejabat tinggi di kekhalifahan Umayyah (tentu ini juga membuat kita harus waspada saat membaca penggambaran-penggambaran Ibn Hazm tentang bangsa Berber–bisa jadi ada keberpihakan kepada penguasa Umayyah yang bermain dalam tulisannya). Kita juga mendapatkan gambaran tentang masa kecil hingga awal dewasa Ibn Hazm yang dia habiskan bersama para perempuan, baik itu saudari, bibi maupun budak-budak perempuan yang “dimiliki” keluarganya. Dari pergaulannya dengan para perempuan inilah dia mendapat banyak kisah tentang cinta kasih yang sebagian di antaranya dia sertakan dalam risalah ini. Dan, kita juga tahu menurut penuturan Ibn Hazm sendiri bahwa cinta pertamanya adalah seorang budak berambut pirang dan bermata biru–dan dia mengakui bahwa seleranya seperti itu–yang meninggal saat Ibn Hazm masih berusia 22 tahun–dia tidak pernah lagi mencintai seorang perempuan sekuat cintanya kepada gadis ini.

Cincin Leher Merpati dan Tradisi “Courtly Love” atau “Cinta Adiluhung” 

Hal terakhir yang tak boleh dilewatkan dalam membincangkan Cincin Leher Merpati adalah hubungannya yang erat dengan tradisi sastra “courtly love” yang marak di Eropa (terutama di kawasan-kawasan yang kelak bernama Italia, Perancis, dan Jerman) mulai satu abad setelah masa hidup Ibn Hazm. Istilah “courtly love” atau “cinta adiluhung” merujuk pada tradisi dan tata aturan perkasihan yang “berbudaya” di kalangan para petinggi atau orang-orang terhormat di Eropa. Aturan-aturan itu antara lain adalah tidak mengumbar perasaan kepada sembarang orang, menyembunyikan cinta hingga saat yang tepat, tarik-ulur perasaan antara sang pencinta dan sang terkasih, penggunaan utusan dalam berkomunikasi dan sebagainya. Tata percintaan seperti ini belakangan pada akhir abad ke-12 termaktub dalam buku karya Andreas Capellanus berjudul harfiah “Ihwal Cinta Kasih” (yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi “The Art of Courtly Love,” yang aturan ringkasnya bisa dibaca di sini). Aturan-aturan ini bisa kita temukan dalam karya-karya penting Eropa yang hadir belakangan, misalnya dalam Vita Nuova karya Dante Allighieri, atau Troilus and Crisseyde karya Geoffrey Chaucer, atau Il Filostrato karya Giovanni Boccaccio.

Dalam artikel berjudul “A Bird After Love” yang bisa dibaca di sini, Nazan Yildiz dari Hecetteppe University (Turki) menegaskan bahwa sangat mungkin Cincin Leher Merpati merupakan preseden dari tradisi “cinta adiluhung” di Eropa. Namun, menilik dari sejumlah penelitian, Yildiz menyebutkan adanya kesan sulit bagi Eropa (khususnya Spanyol) untuk mengakui pengaruh peradaban Islam Spanyol terhadap hasil sastra dan budaya yang lahir belakanganan. Yildiz menjelaskan bagaimana para ahli Spanyol bisa dengan mudah menyimpulkan adanya pengaruh dari pemikiran Latin dan Eropa Utara sementara pada saat yang sama menerapkan batasan-batasan yang kelewatan ketat saat melihat kemungkinan adanya pengaruh peradaban Islam. Dalam artikel “A Bird After Love” tersebut, Yildiz membeberkan sejumlah kesamaan penting antara pemetaan aspek-aspek cinta dalam risalah Ibn Hazm dengan penerapan aturan-aturan “cinta adiluhung” dalam karya-karya sastra Perancis dan Istana Jerman dari abad ke-13.

***

Maka, setelah berbincang-bincang tentang struktur, signifikansi, dan implikasi dari buku Cincin Leher Merpati karya Ibn Hazm, tibalah saya pada paragraf terakhir. Seperti biasa, saya agak kesulitan mengakhiri postingan resensi ini. Jadi, daripada salah tingkah sendiri, lebih baik saya akhiri saja dengan saran-saran dan kutipan. Kalau Anda tertarik dengan peradaban Islam dan terutama karya sastra dari berbagai peradaban Islam, saya sangat anjurkan kepada Anda untuk membaca buku tersebut (versi Inggrisnya di sini). Dan kalau Anda mahir bahasa Arab dan tertarik menyumbangkan tenaga dan pemikiran Anda untuk menerjemahkan versi aslinya, silakan cari versi aslinya di Belanda dan menerjemahkannya sendiri. Selama ini, ada sejumlah terjemahan dalam berbagai bahasa dari manuskrip yang ada di belanda itu. Tapi, banyak juga keberatan-keberatan yang diajukan para ahli sastra dan bahasa, terutama karena adanya kecenderungan penerjemah untuk “menyetrika” bagian-bagian yang sulit dipahami dan tidak jelas dari buku ini–yang dilakukan demi membuat buku ini bisa diakses khalayak umum. Makanya, kalau Anda ingin mengenalkan Ibn Hazm untuk pembaca bahasa Indonesia, saya anjurkan menerjemahkan dari edisi aslinya dan membandingkannya dengan terjemahan-terjemahan bahasa lain yang Anda pahami. Dan, sebelum saya tekan tombol “Publish to Timbalaning” di bawah ini, saya ingin kutipkan daftar isi The Ring of the Dove dalam bahasa Inggrisnya, agar Anda tahu aspek-aspek hubungan cinta kasih apa saja yang dibahas Ibn Hazm dalam bukunya. Selamat membaca dan bertualang!

  1. The Signs Of Love
  2. On Falling In Love While Asleep
  3. On Falling In Love Through A Description
  4. On Falling In Love At First Sight
  5. On Falling In Love After Long Association
  6. On Falling In Love With A Quality And Thereafter Not Approving Any Other Different
  7. Of Allusion By Words
  8. Of Hinting With The Eyes
  9. Of Correspondence
  10. Of The Messenger
  11. Of Concealing The Secret
  12. Of Divulging The Secret
  13. Of Compliance
  14. Of Opposition
  15. Of The Reproacher
  16. Of The Helpful Brother
  17. Of The Spy
  18. Of The Slanderer
  19. Of Union
  20. Of Breaking Off
  21. Of Fidelity
  22. Of Betrayal
  23. Of Separation
  24. Of Contentment
  25. Of Wasting Away
  26. Of Forgetting
  27. Of Death
  28. Of The Vileness Of Sinning
  29. Of The Virtue Of Continence

* Menurut beberapa sumber, “cincin leher” di sini mengacu pada bagian hitam di leher burung dara yang menyerupai cincin. Dalam bahasa Jawa, mungkin yang dimaksud “merpati” di sini adalah “burung puter” seperti pada gambar di bawah ini.

Burung puter karya “fegiyozaagazi” di DevianArt

Siapa itu Avicenna? *Sambil mengerling*

Biar saya kutipkan satu info singkat–tapi cukup merangkum–tentang Avicenna (yg secara kebetulan yang bukan kebetulan adalah jg nama anak saya) dari buku The Ornament of the World: How Muslims, Jews and Christians Created a Culture of Tolerance in Medieval Spain dari Maria Rosa Menocal:

Born in 980, Avicenna had been the preeminent philosopher of the Islamic world, a man as cosmopolitan in his travels and outlook as he was prolific in his work. In many ways he was the most important product of several centuries of assimilation of the Greek scientific and philosophical curriculum, and in the Latin West he was revered as an original and penetrating philosopher as well as the author of the Canonwhich became one of Europe’s chief medical texts.

(Terjemahan) Oda Pohon Kurma – Abdul Rahman I dari Kordoba

Sebatang kurma berdiri di tengah Rusafa,
lahir di Barat, jauh dari negeri kurma.
Kataku: Sungguh kau sepertiku, jauh di pengasingan,
terpisah lama dari kawan dan keluarga.
Kau tumbuh dari tanah yang asing bagimu;
Dan aku, sepertimu, jauh pula dari rumah.

Kerinduan atau nostalgia adalah kekuatan yang besar. Sepotong puisi karya Abdul Rahman I dari Kordoba di atas bisa mengantarkan kita mengintip sekuat apa kerinduan itu.

Kalau Anda menonton film 99 Cahaya di Langit Eropa bag. 2, pasti Anda ingat satu kunjungan Hanum dan Rangga ke Kordoba. Di sana, mereka mengunjungi Masjid Kordoba, atau nama Spanyolnya Mesquita, sebuah bangunan agung yang pendiriannya digagas oleh Abdul Rahman I, pimpinan besar Arab-Muslim pertama di Hispania atau Al-Andalus atau Ha Sefarad (ketiga nama ini digunakan oleh tiga kelompok berbeda, kelompok Kristen, Muslim dan Yahudi).

Siapa itu Abdul Rahman? Abdul Rahman I adalah seorang putera Arab-Suriah dari dinasti Umayyah yang berhasil kabur dari pembantaian di tangan keluarga Abbassiyah. Menurut sejarah, keluarga Umayyah dibantai habis oleh Abbassiyah (yang akhirnya menjadi dinasti Abbassiyah) di puri peristirahatan mereka yang bernama Rusafa, tak jauh di luar kota Damaskus (yang ketika itu merupakan ibukota kekaisaran Arab-Islam Umayyah.

Pada tahun 750 itu, Abdul Rahman I melarikan diri dari pembantaian keluarganya, ketika berusia baru 17 tahun. Remaja belia ini sepertinya memang memiliki bakat memimpin, dan berani. Dia kabur ke barat, melintasi mesir, melintasi tepi Sahara, hingga tiba di kawasan Afrika utara yang kini sekitar Aljazair dan Maroko. Dia tinggal sementara waktu bersama suku Berber. Oh ya, Abdul Rahman ini separuh Arab separuh Berber. Ibunya suku Berber, dinikahi oleh bapaknya ketika kekaisaran Arab-Islam Umayyad berhasil menjangkau ke barat hingga Maroko (dan bahkan sudah menyeberang selatan Gibraltar pada tahun 711–di bawah komando jenderal Tariq, yg namanya diabadikan menjadi “Gibraltar”).

Setelah tinggal sejenak bersama kaum Berber, dia juga ikut menyeberang ke semenanjung Iberia (yang kini kita sebut Spanyol dan Portugal) demi mencari peruntungan, dan malah menjadi bintang. Dasawarsa 750-an itu, sebagian besar semenanjung Iberia sudah dikuasai oleh para Muslim Arab dan Berber. Tapi, kawasan ini masih rawan kerusuhan, karena adanya persaingan antara berbagai kelompok Muslim, terutama Arab dan Berber. Di tengah-tengah situasi inilah Abdul Rahman menjadi pemersatu. Asal-usulnya yang hibrida itu kuncinya. Dia memiliki darah Arab dan Berber dan tentunya, sebagai remaja yang dibesarkan di lingkungan istana Umayyad, dia mendapat pendidikan yang tidak diperoleh orang lain. Maka dia pun berhasil memenangkan hati sebagian besar kaum Muslim di semenanjung Iberia.

Dia pun dipercaya menjadi pimpinan kawasan yang ketika itu sudah mulai disebut dengan istilah Arab: Al-Andalus (negeri kaum Vandal–suku yang menguasai kawasan ini beberapa abad sebelumnya). Secara teknis, dia bukan khalifah, karena kekhalifahan Islam (yang dipercaya hanya satu di muka bumi) ketika itu ada di tangan keluarga Abbassiyah. Al-Andalus cukup berpuas diri dengan status salah satu provinsi kekhalifahan Abbassiyah.

Tapi, pada praktiknya, Abdul Rahman mampu memimpin dan membawa angin perubahan ke kawasan Al-Andalus tak ubahnya seorang khalifah. Tradisi keluarga Umayyah (yaitu membangun dari sisa-sisa peradaban terdahulu, seperti halnya telah mereka lakukan seabad sebelumnya saat membangun kota Damaskus, yang sebelumnya adalah salah satu kota penting peradaban Kristen Romawi Timur) dia terapkan di Al-Andalus. Dari sisa-sisa bangunan gereja penting dia bangun sebuah masjid yang akhirnya dikunjungi anak dan menantu Amin Rais dalam buku 99 Cahaya di Langit Eropa itu.

Kerinduan atau nostalgia kampung halaman adalah satu kekuatan penting di balik angin perubahan yang menghembus ke negeri Al-Andalus atau Ha Sefarad atau Hispania ini. Dengan permainya Damaskus tetap membayanginya, dia pun memberdayakan segala peninggalan Romawi, seperti misalnya aquaduk, irigasi, dan gereja-gerejanya, untuk menghidupkan kembali Kordoba. Selain itu, dia juga datangkan tanam-tanamanan dari Timur. Karena iklim yang tak terlalu berbeda antara kawasan Levant (yang kini mencakup Lebanon, Suriah dan Palestina) dengan semenanjung Iberia, maka transplantasi budaya ini cukup berhasil. Abdul Rahman juga membangun sebuah kawasan peristirahatan di luar Kordoba yang juga dia namai Rusafa. Di sinilah dia menghabiskan hari tuanya bersama pepohonan kurma yang selalu mengingatkannya akan kampung halaman yang sudah diambil orang.

Catatan: Postingan ini dibuat berdasarkan berbagai sumber tekstual, visual, dan audio. Kalau ada waktu, silakan:

  1. lihat film dokumenter Cities of Lights 
  2. baca buku Al-Andalus: The Art of Islamic Spain karya Jerrilyn Dodds, atau
  3. baca buku Ornament of the World karya Maria Rosa Menocal.

Al-Andalus: Bagaimanakah Kita Hendaknya Melihat Negeri Itu? (Link Buku Gratis)

Satu kecenderungan yang paling jamak di kalangan Muslim Indonesia dalam memandang Al-Andalus (atau Negeri Spanyol khususnya ketika masih terdapat penguasa Islam) adalah melihatnya sebagai masa kejayaan dengan segala gemerlap pembangunannya, toleransinya, budanya, dan ilmu pengetahuannya. Menurut pengamatan saya, sikap seperti itu lebih dilandasi oleh keinginan mengafirmasi mimpi, kekurangan eksplorasi fakta, dan kecenderungan melihat Islam sebagai peradaban yang sedang kalah (dan berpotensi untuk merebut kembali kemenangan). Sikap seperti ini tidak produktif, dan satu-satunya obat untuk mengatasi gejala ini adalah dengan melepaskan Al-Andalus dari segala mitosnya (segala hal yg selama ini kita rasa benar tanpa adanya sumber nyata) dan berupaya keras mencari informasi sebanyak mungkin tentang ini.

Dalam kesempatan ini, saya tidak akan menjabarkan argumen saya di atas–semoga saya mendapat kesempatan dalam waktu dekat untuk mendukung argumen tersebut dan menjelaskan dalam sebuah postingan yang berarti. Saat ini, saya pingin saya langsung menerabas ke solusi yang saya tawarkan: mencari informasi sebanyak mungkin tentang Al-Andalus. Untuk mengawali proyek ini, saya akan bagi di sini sebuah buku gratis (dan halal) tentang seni Spanyol pada masa Islam. Silakan unduh di sini. Selain karya seni Islam, dalam buku tersebut juga terdapat kronologi peimpin yang berkuasa di tanah Al-Andalus, yang sedikit banyak bisa memberi kita gambaran tentang seperti apa iklim politik di Al-Andalus.

Tapi, sebelum Anda berangkat lebih jauh, sebagai pengingat, jangan jadikan ini sebagai pegangan mutlak; jadikanlah ini sebagai satu saja bahan yang bisa mengajak kita mengintip apa yang terjadi di masa lalu. Kalau nanti kita temukan sumber yang lebih layak untuk dijadikan pegangan, maka dengan semangat ilmiah mau tidak mau kita harus mengakui keunggulan sumber baru itu.

Selamat berlayar!