Introselfie: Tentang Video Klip “Jiwa Bahagia” (Tani Maju feat. Monohero)

Video klip terbaru Tani Maju, untuk lagu “Jiwa Bahagia” dari album Bed4 Topi Miring Bersama, adalah video klip bagi Anda yang ingin meditasi visual. Video klip ini membawa Anda ke ruang visual yang membungkam dunia luar. Ada beberapa hal bisa diobrolkan dari video klip ini.

Yang pertama tentu formatnya yang potrait memanjang, mirip footage yang diambil dengan telpon pintar. Kalau kita lihatnya sekilas, yang terlintas di pikiran adalah “ah, paling-paling ini video amatiran para vlogger yang ingin cari pengunjung buat akun YouTube-nya!” Tapi, kalau Anda meluangkan barang lima – sepuluh detik di video ini, maka akan tampak bahwa format potrait ini adalah format yang paling pas untuk video ini.

Kenapa pas?

Karena videonya menampilkan satu per satu orang yang ditampakkan tersenyum, tertawa, menari, berlagak, menyanyi, dan lain-lain. Semuanya sendiri-sendiri. Apa yang lebih tepat untuk menunjukkan orang satu per satu selain format yang memanjang ke atas (mirip monolith di film 2001 Space Odyssey itu, yang saya suka memaknainya sebagai egosentrisme)? Tentunya fokus satu-satu orang ini tepat adanya mengingat lagu ini judulnya “Jiwa Bahagia” dan bersuara tentang anjuran-anjuran bagi jiwa agar bahagia. Dan jiwa yang dibicarakan di sini adalah jiwa orang per orang. Akan ganjil jadinya kalau bicara tentang jiwa tapi isinya bersama-sama.

“Berani hidup senyap di tengah kemegahan. Lebih baik disakiti daripada menyakiti. Baik dikejar anjing dari mengejar anjing. Luruskan pikiran musuh kita kesempitan. Jangan pastikan hasil baru mengerjakan. Lakukan sepenuh hati dengan sepenuh hati.”

Hal kedua yang tidak bisa dilewatkan adalah permainan pola bentuk dan warna yang menjadi tabir transparan. Ini bagiannya Monohero, band indie Malang dengan musik elektronik yang dikenal selalu membawa elemen visual dalam pertunjukan-pertunjukan langsungnya. Elemen visual yang menjadi latar depan transparan ini pada awalnya mungkin mengganggu bagi penonton yang menginginkan kejelasan, kepolosan, kelangsungan, kebersihan, dll. Bagaimana tidak? Tidakkah Anda terganggu jika ingin melihat dengan jelas orang yang ditampilkan tertawa di video klip itu tetapi malah terganggu oleh bentuk-bentuk warna aneka pola yang tidak pernah diam itu (ada pola garis lurus, lengkung, polkadot, pointilis, gradasi, trippy, psikedelik, kaleidoskopik, dll.)?

Tapi, begitu Anda menerima bentuk dan warna ini sebagai bagian dari video ini–seperti halnya ambient musik Mohonero yang melebur dalam musiknya Tani Maju di lagu “Jiwa Bahagia” ini, mungkin Anda akan lebih woles. Ya, yang ditampilkan bukan hanya orang yang tertawa, tapi orang yang tertawa beserta segala warna-warni yang ada di permukaannya. Justru pergerakan warna dan bentuk inilah yang akhirnya bisa memenuhi ruang pikiran Anda dan akhirnya bisa membawa Anda jauh dari musiknya dan masuk ke dalam dunia visual, seperti sebuah meditasi paksa. Di sini, kita jadi menghargai video klip ini sebagai lebih dari sekadar hiasan gambar bergerak untuk menyertai musik. Video klip ini menjadi sebuah entitas yang bisa diapresiasi sendiri. Dengan begitu, musiknya–mohon maaf–akhirnya hanya menjadi latar dari meditasi visual kita, seperti musik ambient yang menyertai sebuah sesi meditasi yang pernah saya ikuti dulu sekali (silakan cari “meditation music” di YouTube untuk mendapatkan gambarannya).

Dan, biar pas seperti esai-esai lima paragraf tugas sekolah itu, ada hal ketiga yang perlu dibicarakan: tentang sorotan kepada satu per satu orang di video ini. Apa ya maksudnya ini? Kenapa kita ditunjukkan gambar orang demi orang yang muncul dan “harus” kita tamatkan satu per satu? Entah. Mungkin ini menunjukkan jiwa-jiwa manusia yang diajak menghayati kondisi mereka. Kalau melihat cara mereka memandang lurus ke depan, saya jadi teringat video klip Prince dari dua puluhan tahun yang lalu, yaitu di video klip “The Most Beautiful Girl in the World” dari album The Gold Experience. Di video klip itu, kita melihat orang-orang yang duduk manis (tapi bersama seorang lain atau keluarga) menghadap ke kamera atau memandang ke atas. Orang-orang ini muncul bergantian.

Tapi video klip Prince itu beda dengan Tani Maju feat. Monohero ini. Kalau di Prince, belakangan kita ketahui bahwa mereka menonton tampilan di layar tentang hal-hal yang sesuai dengan impian mereka. Mereka seperti menonton kehidupan impian mereka. Untuk Tani Maju feat. Monohero, kita tetap tidak tahu apa yang mereka hadapi di depan mereka. Bisa jadi, seperti lazimnya di jaman ini, mereka menatap telpon pintar mereka, entah chatting, entah tiktokan, entah selfie, entah membuat vlog (makanya formatnya portrait?). Tapi, kalau boleh berbaik sangka, mungin ini gambaran visual untuk kegiatan introspeksi. Sulit kan menggambarkan bagaimana introspeksi dilakukan, lha wong introspeksi itu urusan batin. Tapi, kalau introspeksi itu digambarkan dengan yang ada di permukaan, dengan memandang wajah sendiri, bercermin, mungkin jadi masuk akal bagi kita. Jadi ya, biarkan saya putuskan bahwa video ini adalah tentang introselfie.

Terus, kalau kita kembali ke musiknya, yang selanjutnya “hanya” jadi latar untuk menikmati video ini, kita akan temukan bahwa di bagian akhir video ini akan terdengar suara snare drum yang dipukul mirip marching band. Kesan yang ditimbulkan adalah kesan positif, optimis, seperti orang baris-berbaris. Dan saya akan merasakan bahwa di akhir sesi introspeksi ini–atau tepatnya introselfie ini–kita akan mendapatkan suasana positif. Introspeksi mestinya begini, membawa ke sesuatu yang positif. Kemeriahan lagu ini akan memunjak pada refrain terakhir yang disetai suara snare drup itu:

Hidup jiwaku dalam bahagia.
Jiwaku hidup, dalam bahagia.

Kayaknya begitu saja yang bisa saya obrolkan tentang video klip terbaru ini. Oh ya, sampai berparagraf-paragraf ini, saya baru sadar saya belum menyebutkan siapa otak dan otot di balik video klip ini. Mari kita sebut nama editornya: Didit Prasetyo, seorang videografer muda yang banyak mengerjakan video-video Tani Maju, film animasi, dan juga film dokumenter. Dengan demikian, mari kita rayakan introselfie tersebut dengan menonton video di bawah ini

 

Advertisements

Tentang Lagu-lagu Religi Gigi dari Masa ke Masa (Teaser)

Beberapa bulan ini saya merekap dengar lagu-lagu religi Gigi sambil mencari sebanyak mungkin sumber liputan dan esai dari berbagai media daring terkait album-album Gigi tersebut. Tujuan saya memang ingin menulis tentang transformasi album-album tersebut untuk dipresentasikan di sebuah forum ilmiah. Tapi, seperti biasa, saat kita mulai mencurahkan hati dan otak kita kepada sesuatu, kita akan mendapatkan kejutan: ternyata album-album religi Gigi itu mengandung lebih besar hal menarik dari yang saya bayangkan ketika memulai ikhtiar ini.

Album-album religi Gigi, yang dimulai dengan album Raihlah Kemenangan (2004), ternyata album religi yang revolusioner. Dari esai-esai tentang budaya populer dan Islam di Indonesia yang dimuat dalam buku berjudul Islam and Popular Culture in Indonesia and Malaysia yang disunting oleh Weintraub, saya mendapati bahwa sebelum Gigi, tidak ada band beraliran agak-agak nge-rock yang rutin serius menggarap lagu-lagu religi. Memang ada Rhoma Irama (yang sumbangannya tidak sedikit dengan mengoprek musik Melayu sehingga menjadi lebih optimistis, dan kemudian menjadi musik dakwah yang sangat konsisten) atau Bimbo (yang awalnya bermain musik Flamenco tapi kemudian fokus menggarap musik-musik dengan lirik bertema Islami) atau Ebiet G. Ade. Namun, untuk musisi nge-rock yang serius menggarap musik religi (versi daur ulang dari musisi sebelumnya, terutama Bimbo), Gigi ada yang pertama. Gigi pun melakukan ini tanpa meninggalkan “fitrah” mereka sebagai musisi rock–maksudnya, setelah urusan menggarap musik religi itu selesai, mereka kembali menggarap musik-musik yang … sebutlah sekuler. Setelah Gigi, kita bisa melihat lebih banyak musisi yang melakukan itu, seperti misalnya Ungu, Wali, dan bahkan Radja.

Hal kedua yang saya temukan adalah ada aspek estetis kuat yang mendorong lahirnya musik-musik religi versi Gigi ini. Album religi Gigi tidak sepenuhnya lahir karena hasrat untuk berdakwah (seperti Rhoma Irama), tapi juga bukan melulu hasrat untuk mengeruk keuntungan dari momen Ramadhan. Dari pernyataan Armand Maulana di dokumenter Gigi yang ditayangkan di Kompas TV (bisa ditonton di kanal YouTube Kompas TV), Armand menyebutkan bahwa dia punya keinginan menggarap lagu-lagu Bimbo (yang telah cukup signifikan mewarnai Ramadhan-ramadhan dalam kehidupannya) dengan gaya dia sendiri, yang nge-rock. Dia ingin menghasilkan musik religi yang lebih mudah masuk ke telinga Muslim dari generasinya atau generasi yang lebih muda dari dia–yang dia bayangkan mungkin sulit terketuk hatinya oleh lagu-lagu Islami gaya Bimbo yang mendayu-dayu dan tidak enerjik. Di sini, kita bisa melihat kemiripan antara Gigi dan Rhoma Irama, yang pada awal 1970-an memutuskan untuk melestarikan Melayu tapi dengan perubahan-perubahan yang menjadikannya lebih menarik bagi orang-orang muda di jamannya dengan menghadirkan apa yang bagus-bagus dari musik rock, termasuk di antaranya adalah optimismenya, yang menurut Rhoma absen dari musik Melayu (tentang revolusi Melayu ini, kita bisa menemukannya di buku Dangdut Stories karya Weintraub).

Pendeknya, album religi Gigi mengandung elemen otak-atik estetika musik religi sekaligus juga mempertimbangkan keberterimaannya bagi generasi muda pendengar musik sambil juga (secara implisit) keinginan menyampaikan pesan/dakwah bagi generasi muda. Aspek-aspek ini menjadi album-album religi (terutama yang pertama) tidak sesimplistis berdakwah saja atau cari uang saja.

Yang ketiga apa?

Sementara dua saja lah dulu. Memang agak ganjil membuat esai yang hanya didukung oleh dua gagasan pendukung saja. Tapi mohon dipahami, saya harus balik lagi ke aplikasi LibreOffice Writer untuk melanjutkan mendokumentasikan hasil penelusuran atas album-album religi Gigi sehingga dua hari lagi tulisannya siap dan saya bisa share hasil selengkapnya bagi Anda semua.

 

Membela Potensi Spongebob dalam Mendidik Putera-Puteri Bangsa Berdaulat

Seperti kebanyakan orang, saya termasuk yang pernah beranggapan bahwa serial TV Spongebob Squarepants itu dibuat untuk orang dewasa, utamanya karena ceritanya yang cukup kompleks. Namun, baru-baru ini, saya mencoba membuka diri dan mencari informasi tentang apa-apa yang ada di balik serial fenomenal ini. Saya mendapati bahwa serial ini dibuat oleh seorang sarjana biologi kelautan, pernah terlibat kasus pelanggaran hak cipta karena kemiripan dengan sebuah produk yang ada lebih dahulu tapi tidak sempat sukses, dan bahkan pernah menimbulkan kontroversi karena ada ahli psikologi anak yang menganjurkan bahwa ada saat-saat tertentu di mana menonton serial ini kurang bagus bagi anak. Nickelodeon pernah menyatakan bahwa serial ini ditujukan bagi penonton usia 6-11 tahun (yang terlalu kecil sangat tidak dianjurkan). Intinya, serial ini memang diperuntukkan bagi anak-anak. Sejak itu, saya pun tergerak untuk membuat postingan-postingan blog tentang Spongebob Squarepants dengan mencoba mendudukkan serial ini pada kittahnya, sebagai tontonan untuk anak. Dampak hal itu adalah saya mencoba menelusuri nilai apa yang bisa ditawarkan oleh serial ini.

Satu episode Spongebob yang menurut saya bagus dijadikan ilustrasi untuk menunjukkan nilai dari serial ini (bila ditonton dengan bimbingan orang tua) adalah episode “The Krabby Chronicles.” Arus utama cerita episode ini adalah Tuan Krab ingin mendapatkan untung besar dengan membuat koran, namun untuk itu dia harus meminta Spongebob menuliskan imajinasinya, sehingga membuat banyak orang merasa dirugikan. Spongebob yang resah dengan ceritanya ini kemudian berbalik menggunakan Tuan Krab sebagai sasaran beritanya, sehingga akhirnya Tuan Krab kehilangan semua uangnya. Temanya yang paling mendasar mungkin gagasan sederhana “jangan melukai orang lain kalau tidak mau dilukai sendiri.” Namun, cerita ini disampaikan dengan estetika Spongebob yang hiperbolis, satir, dan penuh distraksi. Dampaknya, tidak mustahil anak-anak kesulitan menjangkau tema dasar cerita ini. Di situlah orang tua seperti kita semestinya berperan. Mari berikrar: Spongebob adalah pendidik yang baik, tapi dia hanya bisa baik bila kita terjemahkan.

Anda mungkin bertanya-tanya: kalau masih membutuhkan perlakuan tambahan, kenapa tidak kita tinggalkan saja tontonan ini dan mencari cerita-cerita yang lebih sederhana buat anak-anak kita?

Tidak. Inilah peran Spongebob Squarepants: membantu menunjukkan kepada anak-anak itu bahwa dunia ini sebenarnya tidak sederhana. Dengan melihat kompleksitas masalah, maka anak akan terbiasa untuk memandang persoalan tidak hanya pada satu dua titiknya saja, tapi secara luas. Bahkan, si anak akhirnya bisa saja menghasilkan tafsir-tafsir yang tidak kita ketahui sebelumnya. Ini pula yang menyebabkan kenapa kita perlu membaca karya fiksi yang bagus, yang membuat kita mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan dengan menelisik satu demi satu elemen di dalamnya.

Tapi, dengan Spongebob Squarepants, kita dihadapkan pada satu dilema: yang menjadikannya disukai anak-anak adalah juga yang menjadikannya potensial untuk tidak mudah dipahami oleh anak-anak. Yang konon menjadikan Spongebob ini disukai anak-anak adalah adegan-adegannya yang hiperbolis, penuh kejutan, dan konyol. Saking kuatnya bagian-bagian ini, bahkan ada pakar pendidikan yang pernah bilang bahwa cerita Spongebob ini berpotensi memperparah ADHD (gejala gangguan perhatian dan hiperaktivitas). Bahkan ada yang sampai bilang bahwa Spongebob tidak cocok ditonton untuk anak yang akan berangkat sekolah, karena akan mengacaukan konsentrasi mereka. Kiranya hal ini merujuk ke elemen-elemen konyol, hiperbolis dan mengejutkan saja, yang sebenarnya adalah detil-detil dari Spongebob Squarepants.

Padahal, seperti saya bilang di atas, kalau kita lihat secara lebih komprehensif, Spongebob Squarepants ini juga punya pesan moral yang jelas. Spongebob ini tak ubahnya cerita-cerita anak lain, yang disertai pesan moral. Seperti saya bahas di tulisan lain, pesan moral adalah bagian yang tak bisa dilepaskan dari cerita anak. Bahkan, cerita anak pertama memiliki judul yang jelas-jelas mengindikasikan pesan moral itu. Belum lagi, hubungan antara detail cerita yang berkaitan dengan plotnya juga bisa menjadi bagian dari olah otak yang baik untuk mereka ulang apa-apa yang menyebabkan terjadinya hal-hal tertentu. Secara garis besar, seorang anak akan tahu telah terjadi adegan-adegan aneh di Spongebob, tapi sepertinya tidak mudah untuk mengetahui sebab dari hal-hal tersebut. Untuk episode “The Krabby Chronicle,” misalnya, seorang anak akan tahu bahwa ada polisi yang menangkap Ny. Puff, guru kursus menyetir mobilnya Spongebob. Tapi, sangat mungkin si anak tidak tahu pasti apa yang menyebabkannya ditangkap, atau apa hubungan antara artikel koran yang ditulis Spongebob dengan penangkapan Ny. Puff oleh polisi. Di situlah peran orang tua: mengajak seorang anak mencari sebab-sebab yang tidak jelas, mengisi titik-titik yang ada dalam cerita Spongebob. Kita tidak bisa memaksa anak untuk tidak tertarik perhatiannya oleh bagian-bagian yang mengejutkan dan tidak standar yang seringkali mengalihkan perhatian anak dari keseluruhan cerita. Kita, yang dewasa, semestinya bisa mengapresiasi kekonyolan detail-detail tersebut, tapi sambil tetap menyadari bahwa masih ada yang lebih dari itu, yaitu keseluruhan tema cerita ini.

Kalau anak bisa hilang fokus dari keseluruhan tema cerita karena distraksi-distraksi kecil yang menarik, bukankah itu juga yang lazim terjadi dalam kehidupan kita? Bedanya, kompleksitas yang menyertai hidup kita orang dewasa tentunya memiliki level lebih akut. Sementara itu, kompleksitas di dalam Spongebob terjadi dalam rentang waktu yang singkat, sekitar 9 menit (panjang satu cerita atau sub-episode Spongebob). Para orang tua semestinya bisa tetap woles dan memandang lebih jauh dari sekadar bagian-bagian satir penyedot perhatian itu dan menyusun kembali tema cerita tersebut. Baru setelah itu anak diajak untuk mengingat-ingat kembali bagian-bagian konyol cerita dan bagaimana bagian-bagian konyol tersebut kalau dilihat secara keseluruhan sebenarnya menyampaikan pesan-pesan tertentu.

Poin penting kedua adalah, sebagai cerita yang menyajikan pesan lumayan sederhana, Spongebob Squarepants tidak terjebak dalam klise dan simplifikasi. Serial ini menyajikan persoalan-persoalan yang cukup mudah dicari rujukannya dalam kehidupan sehari-hari orang dewasa. Ada persoalan dunia kerja, persoalan keberagaman, persoalan sosial media, dan sebagainya. Mungkin inilah yang membuat banyak orang (termasuk saya dulu) menganggap serial ini dibuat untuk orang dewasa. Mungkin saya dulu menganggap ini cerita orang dewasa karena yang dibahas adalah dunia orang dewasa. Tapi, kalau dibalik, apakah cerita anak harus selalu tentang anak-anak saja? Lantas, apakah efektif mengajarkan moral bagi anak hanya dengan cerita-cerita tentang anak saja? Bukankah cerita untuk anak juga bisa dipakai untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan orang dewasa? Itulah yang terjadi pada serial kita ini: permasalahan orang dewasa, pekerjaan, uang, kekuasaan, waktu luang, dan sejenisnya. Elemen utama kehidupan orang dewasa yang kurang mendapatkan representasi di Spongebob adalah romansa (romansa digambarkan dengan begitu ganjilnya, hanya asal ada: plankton yang mencintai komputernya).

Jadi, meskipun moral yang disampaikan sesederhana semua kejahatan akan mendapatkan balasan yang setimpal, cerita yang mengusungnya tidak simplistis. Dalam cerita “The Krabby Chronicle” itu, kita tidak mendapatkan kisah tentang seorang anak yang disakiti anak lain dan anak lain itu mendapatkan balasannya. Hal semacam itu pastinya klise. Tapi, yang kita dapatkan adalah seorang pengusaha yang ingin mendapatkan modal lebih besar dengan cara menjual berita sensasional tapi bohong. Usaha tabloid gosip penuh kebohongan ini, bagi orang dewasa, sangat mudah ditemukan padanannya di dunia nyata. Bahkan, dunia nyata sudah punya sesuatu yang lebih liar dari imajinasi yang ada di film-film orang dewasa. Dengan menonton kejadian mirip nyata yang kerangkanya adalah pesan moral yang lazim itu, anak-anak sebenarnya diperkenalkan pada apa yang bisa terjadi di dunia nyata, di mana kesalahan tidak dengan mudah bisa dirasakan, di mana diperlukan perjuangan mencari hikmah di balik cerita tidak mudah—dan bahkan tidak disadari, hingga banyak yang terjerumus melakukan kesalahan. Maka, setelah menonton episode ini, sebenarnya anak-anak kita sudah diperkenalkan pada dunia yang jauh lebih kompleks dari dunia mereka sendiri. Yang jadi tantangan adalah kita: bisakah kita membantu anak-anak fokus ke cerita itu sambil menonton Spongebob Squarepants.

Sekali lagi, kalau memang agak rumit, layakkah cerita ini diperjuangkan? Dengan segala potensi yang dimilikinya, mungkin pertanyaannya bukan lagi pada apakah layak dipertahankan, tapi bagaimana cara memperjuangkan agar cerita ini benar-benar bisa menjadi jembatan yang maksimal bagi anak-anak sebelum memasuki dunia (fiksi maupun nyata) yang jauh lebih kompleks lagi. Di sebuah masyarakat di mana seringkali (di)kabur(kan) batasan antara fiksi dan fakta, fiksi dan ramalan, ramalan dan prediksi, Spongebob Squarepants bisa dimanfaatkan untuk dua tujuan: mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi kompleksitas yang lebih luas, sekaligus menjadi sarana latihan bagi yang dewasa untuk mendudukkan fiksi pada tempat yang semestinya.

Kenapa Spongebob Bisa Menjadi Duta Kebhinekaan

Tak bolehkah kita berbeda, dan berbahagia? Tak bolehkah kita berliar-liar menuruti hasrat dan kesenangan kita sendiri asal tidak melukai orang lain? Mungkin kalau saya tanya Anda sekarang, jawabannya tidaklah terlalu sulit: boleh! Tapi, kenyataan seringkali berkata lain, dan itu pula yang terjadi di Bikini Bottom.

Suatu hari, Spongebob terlalu bahagia bekerja seperti halnya pada hari-hari yang lain. Dia melompat-lompat dan menyanyi-nyanyi selama bekerja. Dan seperti biasa, saat Spongebob terlalu berbahagia, dia terdengar cukup menyebalkan. Maka, ketika Bu Gristlepuss singgah sebentar di Krusty Krab, dia pun sebal dengan petingkah Spongebob.  Bu Gristlepuss ini sebenarnya adalah seorang perempuan serius anggota sebuah perkumpulan orang-orang serius yang wajahnya mirip semua. Bagi Bu Gristlepuss, Spongebob terlalu liar dan urakan, tidak berbudaya. Belakangan, dia mendapati bahwa kebahagiaan Spongebob yang sedemikian rupa itu dikarenakan Krabby Patty. Maka, Bu Gristlepuss menyatakan bahwa Krabby Patty perlu dilarang karena bisa membuat seseorang buas dan tak berbudaya. Tuan Krab menganggap itu gertak sambal dan bahkan mengancam Bu Gristlepuss. Tapi ternyata Bu Gristlepuss ini punya suami kepala polisi yang punya otoritas menutup bisnis siapa saja yang dirasa berbahaya. Maka, sejak itu Krusty Krab disegel dan izin usahanya dicopot.

Saya kembali menengok episode Spongebob ini karena anak saya berulang kali menanyakan kepada saya kenapa perempuan yang bersuamikan seorang polisi itu menutup Krusty Krab. Bukan pertama kalinya anak saya menanyakan ini. Ada bagian-bagian tertentu dalam Spongebob yang terkadang kurang jelas bagi anak-anak, yang sebenarnya adalah audiens dari serial kartun ini. Maka, dilandasi niat untuk menjadi orang tua yang baik bagi anaknya, saya pun menonton episode yang berjudul “Banned in Bikini Bottom.”

Dari rangkuman di atas, kita bisa dengan mudah menjelaskan apa masalah terbesar dari konflik dalam episode ini. Adalah sebuah kebiadaban ketika ketidaksukaan personal dikawinkan dengan otoritas publik. Ketidaksukaan personal ii akhirnya bisa mengakibatkan terganggunya hajat hidup seseorang. Bu Gristlepuss yang tidak suka yang fun-fun itu bisa melampiaskan ketidaksukaannya kepada Spongebob berkat posisi suaminya sebagai penegak hukum.

Dan, kalau kita lihat lebih jauh lagi, akan tampak pula bahwa yang saya sampaikan di alinea sebelum ini bukanlah satu-satunya masalah yang menggerakkan episode “Dilarang di Bikini Bottom” ini. Di sini, ada lagi tema sikap anti-perbedaan yang tak berdasar bisa membatasi manusia.

Ketika Krusty Krab ditutup, Tuan Krab dan Spongebob nekad melanjutkan usaha berjualan Krabby Patty di bawah tanah. Secara ilegal. Karena restorannya tidak bisa dipakai lagi, maka Tuan Krab menggunakan rumah nanas Spongebob sebagai tempat jualan Krusty Krab secara sembunyi-sembunyi–tentu sembunyi-sembunyi a la Spongebob. Untungnya, Krusty Krab punya pelanggan setia; di rumah Spongebob pun Krusty Krab (Rahasia) ini masih ramai. Yang agak berbeda hanyalah Spongebob, yang jadi resah tak menentu karena dia merasa sedang melanggar hukum. Dia tidak tenang karena pekerjaan yang dia senangi dan banggakan itu saat ini menjadi pekerjaan yang melanggar hukum Bikini Bottom. Dan ketenaran Krusty Krab (Rahasia) ini pun akhirnya sampai ke telinga si perempuan serius beserta suaminya. Seperti biasa, si perempuan tetap membenci Spongebob, sampai akhirnya tanpa sengaja dia menelan Krabby Patty dan kemudian mengetahui betapa dahsyat dampak psikologis dari Krabby Patty. Sejak itu, Bu Gristlepuss menarik kembali omongannya dan akhirnya mencabut larangan beroperasi bagi Krusty Krab.

Di sini tampaklah bahwa pangkal dari kebencian Bu Gristlepuss terhadap Krusty Krab adalah ketidaktahuannya akan apa itu Krabby Patty dan apa nilai sesungguhnya dari produk burger dasar laut ini. Si pembenci Krabby Patty memutuskan membenci burger ini dengan bukti pendukung tingkat kedua atau ketiga. Dia tidak suka Krabby Patty karena mengira itulah penyebab Spongebob bertingkah liar. Dia melihat satu fakta dan fakta yang lain sebagai dua hal yang memiliki hubungan kausalitas. Dan yang lebih akut lagi, hubungan kausalitas antara keduanya sangat kaku. Satu fakta dianggap sebagai penyebab tunggal fakta lainnya. Dan pendapat ini sudah terlalu kuat karena sudah ada modal kecenderungan Bu Gristlepuss tidak menyukai keriangan. Maka, tanpa memeriksa kualitas sesungguhnya dari Krabby Patty itu pun Bu Gristlepuss bisa membuat penghakiman atas Krabby Patty. Kesan liar, tampilan luar, dari seorang yang dekat dengan Krabby Patty sudah cukup bagi Bu Gristlepuss untuk menghakimi.

Saya jadi ingin mengutip Martin Luther King Jr. yang mengatakan dengan lantang dalam pidato fenomenalnya yang disebut sebagai pidato “I Dream.” Dr. King di situ bilang bahwa dia bayangkan suatu masa ketika keempat putrinya tidak dinilai orang berdasarkan warna kulitnya, tapi dinilai berdasarkan budi pekertinya: the contents of their characters, kata Dr. King. Mau tidak mau saya harus mengatakan itu karena musuh Krabby Patty itu telah menilai Krabby Patty dari permukaannya saja, dari hubungan antara si Krabby Patty dengan keceriaan Spongebob yang baginya hina. Dia tidak menghakimi Krabby Patty berdasarkan kelezatannya yang sejati. Itu masalah! Oh ya, kalau saya menyertakan Dr. King di sini, mohon jangan dipahami bahwa saya membawa Dr. King turun ke kelasnya Spongebob. Saya justru ingin mengangkat Spongebob ke kelas Dr. King dan para pejuang anti-prasangka.

Maka, adalah tepat kiranya saat disoroti bagaimana perubahan pandangan Bu Gristlepuss itu terjadi Krabby Patty terlontar masuk ke mulutnya. Baru pada saat inilah Bu Gristlepuss yang sudah buru-buru mengkristalkan kebenciannya kepada Krabby Patty itu mengetahui apa yang dia benci. Ternyata, yang dia benci sebenarnya adalah sesuatu yang memiliki kenikmatan dan keunggulan budi yang luar biasa. Ketidaktahuan, keengganan mencari tahu, dan kemudian otoritas adalah sesuatu yang berbahaya ketika dikawinkan. Ah, kiranya tidak salah kalau di Spongebob hubungan antara Bu Gristlepuss yang benci fun-fun dan kepala polisi yang bisa menutup usaha itu adalah hubungan perkawinan. Yang seperti ini bisa mempengaruhi hajat hidup seseorang.

Ah, Spongebob Squarepants, betapa kau konsisten mengajak kita semua mempertanyakan apa-apa yang kita lakukan, terutama kalau itu sudah berhubungan dengan perbedaan dan prasangka. Spongebob, apakah engkau duta kebhinekatunggalikaan? Wahai rekan-rekan sesama orang tua, mampukah kita semua menjadi juru tafsir Spongebob Squarepants yang membantu anak-anak kita melihat Spongebob lebih dari sekadar hiperbola-hiperbolanya dan mengurai hikmah-hikmah kebijaksanaan yang menjadi kerangka ceritanya?

Tentang Rencana Produksi Film Bumi Manusia: Dari Salah Mendudukkan Persoalan hingga Menunggu Itikad Baik Studio Film

(Seperti mungkin bisa dirasakan dari isinya dan dari judulnya, tulisan ini sebenarnya sudah agak lama dan dikirimkan ke sebuah media daring. Sayangnya, tulisan ini tidak mendapat respons positif :). Akhirnya ya diunggah di sini saja.)

Semakin menarik saja yang terjadi seminggu terakhir di dunia maya terkait konferensi pers mengenai rencana produksi film berdasarkan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer oleh Falcon Pictures dengan sutradara Hanung Bramantyo. Yang menjadi titik paling kritis bagi banyak orang adalah bahwa pemeran Minke nantinya adalah Iqbaal Ramadhan, aktor muda yang beberapa waktu lalu populer memerankan tokoh Dilan. Reaksi orang-orang? Ada yang pro dan banyak yang kontra.

Bahkan, yang paling baru, ada pula yang bereaksi dengan membuat Petisi di http://Change.org . Tujuannya tentu saja adalah bila sudah tercapai sejumlah dukungan tertentu, mereka berharap bisa menggagalkan penunjukan Iqbaal Ramadhan sebagai Minke. Read more

(Terjemahan Puisi) Jangan Menoleh “Don’t Look Back” karya Solomon Ibn Gabirol + OASIS

Kangen nerjemah lagi dan di rak buku di kamar ada satu buku Selected Poems of Solomon Ibn Gabirol buah terjemahan Peter Cole dari bahasa Ibrani. Buku ini, seperti judulnya, berisi puisi-puisi pilihan karya penyair Andalusia yang hidup dalam kultur Arab dengan nama Arab Abu Ayyub Sulaiman Ibn Yahya Ibn Jabirul.

Saya pakai buku ini (hadiah dari dosen saya) untuk ujian komprehensif doktoral beberapa tahun yang lalu, untuk bidang cakupan Sastra Spanyol Masa Islam. Ketika itu saya membaca untuk mengetahui isi karya-karya sastra (dan rupa) Spanyol antara tahun 711-1502. Penekanannya di sini adalah “isinya” saja, karena dalam hal gaya bahasa tentu saja saya tidak bisa menjangkaunya. Karya-karya sastra dari periode itu ditulis dalam bahasa Arab, Ibrani, dan Kasteyano (Castellano). Read more

Linimasa Mengambang atau Floating Timeline

“Enak ya jadi Nobita? Sejak aku kelas 6 SD sampai sekarang punya anak mau naik kelas 6 SD, dia masih tetap kelas 4 SD.”

“Betapa bahagianya jadi Upin dan Ipin. Dari sepuluh tahun yang lalu dia masih di Tadika Mesra. Tidak harus berhadapan dengan UNAS.”

Pasti Anda sering mendengar itu–kalau Anda seperti saya, suka ngobrol dengan orang-orang iseng. Bagaimana fenomena ini menurut ilmu sastra?

Baiklah, sebagai dosen sastra yang masih pemula, saya akan menguji diri sendiri dengan menjawab pertanyaan (yang saya lontarkan sendiri itu). Fenomena ini–eh, sebenarnya bukan fenomena sih. Saya ulangi lagi: ini adalah satu fitur dalam prosa atau naratif yang disebut “linimasa mengambang” atau “floating timeline” atau “sliding timescale.” Read more

(Resensi) Dongeng Panjang Literasi Indonesia – Yona Primadesi

Judul: Dongeng Panjang Literasi Indonesia
Penulis: Yona Primadesi
Penerbit: Kabarita
Cetakan: I/2018

Oke, sebelum negara api menyerang, biarkan saya lemparkan dulu resensi tiga paragraf ini mengenai sebuah buku mungil, asyik, dan penting (MAP) yang baru-baru ini saya baca:

Dongeng Panjang Literasi Indonesia merangkum lontaran-lontaran gagasan dan keprihatinan berwawasan dari Yona Primadesi mengenai sejumlah tema literasi, yang sebagian besarnya adalah tentang literasi anak. Buku ini dibuka dengan afirmasi Yona bahwa literasi bukan hanya perihal baca-tulis, yang didasarkan pada Deklarasi Praha tahun 2003. Afirmasi mengenai literasi yang perlu dipahami secara luas ini ditegaskan kembali dalam esai penutup ketika Yona berbicara tentang literasi penduduk asli (indigenous literasi) yang mungkin lebih kita akrabi dengan istilah kearifan lokal.

Di bagian tengah buku ini, kita mendapati renungan serta lontaran gagasan Yona mengenai literasi anak, peran orang tua dalam literasi anak, perpustakaan yang ramah anak, keprihatinan mengenai buku anak, dan sejenisnya. Kalau kita ngotot ingin merangkum bagian isi buku ini dalam satu kalimat, mungkin kita bisa mencoba ini: literasi perlu ditumbuhkan pada anak, pertama oleh orang tua, dan selanjutnya oleh institusi pendidikan, selanjutnya oleh industri perbukuan, dan juga oleh negara. Budaya baca bagi anak (poin terpenting dari literasi) adalah sesuatu yang terlalu besar untuk menjadi tanggung jawab satu pihak saja.

Kalau saya dipaksa memberikan kritikan, saya ingin menyoroti satu fakta bahwa buku ini sama sekali tidak menyinggung buku-buku tentang literasi yang terbit di Indonesia. Ambil saja sebagai contoh buku Suara dari Marjin karya kolaborasi Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah yang pada prinsipnya tidak berseberangan dengan buku ini–justru sebaliknya mungkin saling mendukung. Menurut saya, dengan semangat pembangunan tradisi dan kerja bareng pengembangan ilmu pengetahuan melalui dialog, penulis dalam bidang-bidang tertentu perlu saling menyinggung satu sama lain dalam karya-karyanya (entah itu dalam bentuk mengafirmasi, menggugat, maupun mengisi celah). Lagipula, usaha saling menyinggung bisa juga menjadi sarana menyarankan bacaan bagi pembaca yang tertarik tahu lebih jauh. Bagaimanapun, harus dipahami di sini bahwa sebagian dari esai-esai Yona Primadesi ini telah diterbitkan di media bahkan mungkin sebelum Suara dari Marjin terbit. Akhirur-resensi: perlu dibaca!

(Terjemahan Lagu) Aerials – System of a Down

Perlu kiranya sedikit pendahuluan untuk postingan kita kali ini. Saya kenal System of a Down pertama kali melalui album Toxicity, melalui kebaikan hati seorang kawan yang memperkenalkan band metal yang didengarkannya waktu itu. Ketika itu, awal tahun 2000-an, tengah naik daun band-band metal (atau nu metal atau hip metal) semacam Korn, Limp Bizkit, Soulfly dan lain-lain. Tentu saya sempat merasakan teriak-teriak ngerap “Take a Look Around” sambil mungkin membayangkan diri akan menjadi seganteng Tom Cruise. Nah, di satu kesempatan saya minta rekomendasi band baru dari seorang kawan, gitaris yahud di Malang asal Blitar bernama Yudi Ijum. Dia meminjami saya kaset Toxicity yang kemudian saya puter di kamar kost sampai berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Itulah perkenalan pertama saya dengan System of a Down.

Ketika itu saya merasakan musiknya asyik–ada ruang-ruang jernih yang selalu saya suka–dan vokalnya tak ada duanya–ada cengkok-cengkok yang tidak lazim di band metal mana pun. Waktu itu saya anggap saja biasa, karena Korn juga punya kecenderungan memakai cengkok-cengkok khas yang tak bisa ditemui di band-band lain. Power vokal Serj Tankian yang super-bariton itu jug atak urung membuat saya cinta. Saya juga suka vokal Korn meskipun ketika itu musiknya menurut saya terlalu berisik dan sulit dicerna (pandangan serampangan yang selanjutnya berubah setelah saya dengar versi akustik mereka dan semakin jatuh cinta setengah mati–apalagi di situ ada vokalis gothic-metal “Amy Lee, from Evanescence”). Kayaknya, waktu itu ukuran vokal adiluhung adalah bariton, seperti halnya Tuan Jim Morisson yang baru beberapa tahun sebelumnya saya kenal. Tapi, seiring waktu, seiring hadirnya musisi-musisi baru dalam hidup saya, System of a Down pun melesap ke latar…

Sepuluhan tahun kemudian, ketika YouTube menjadi realitas tak terhindarkan yang tak ubahnya wartel di masa 2000-an awal, saya sempatkan mencari lagi System of a Down. Hmmm… Tetap menarik.

Beberapa tahun kemudian, saya kenal seorang pianis perempuan asal Lebanon, yang datang ke kampus saya di Arkansas untuk menyajikan resital dalam peringatan 100 tahun genosida bangsa Armenia. Saya kebagian tugas memvideo dan merekam audio dalam resital tersebut. Keluarga Amy, nama pianis itu, sudah tiga generasi tinggal di Lebanon, tapi dia orang Armenia. Dia hanya memainkan nomor-nomor karya para komponis yang nama-namanya memiliki kemiripan yang tak mungkin terlewatkan: semua nama belakangnya diakhiri dengan “-ian.” Saya langsung teringat System of a Down (vokalisnya Serj Tankian, dan yang lainnya juga mengandung “-ian”). Yang lebih penting lagi, ketika mendengarkan resital tersebut: saya dikejutkan oleh ketidakbiasaan yang terasa seperti gelombang yang membentur karang di pantai saya belasan tahun yang lampau. Semua komposisi klasik yang dimainkan oleh Amy adalah karya komponis Armenia. Di situlah, ada nada-nada khas, yang berkisar antara misterius dan manis dan pilu, yang berbeda dengan yang kita temui dalam komposisi-komposisi klasik dari Eropa–apalagi Amerika, ya tentunya skor-skor film Hollywood itu juga komposisi klasik kekinian dong! Komposisi-komposisi klasik Eropa penuh kemegahan, keceriaan musim semi, kesyahduan spiritual, dan sejenisnya. Keganjilan nada-nada komponis Armenia itu–dalam benak saya–memiliki kemiripan dengan ganjilnya cengkok-cengkok Serj Tankian dalam Toxicity.

Saya langsung riset kembali tentang System of a Down. Ternyata oh ternyata! Semua anggota System of a Down memang keturunan Armenia. Bahkan beberapa di antara mereka lahir di luar Amerika (Lebanon? Armenia?) dan baru kemudian bermigrasi ke Amerika. Dan, pada tahun 2015 itu, ternyata Serj juga ikut berkampanye menumbuhkan kesadaran orang tentang genosida bangsa Armenia oleh kekaisaran Turki Utsmani (yang masih belum begitu saja diakui oleh negara Turki saat ini). “Riset” saya juga akhirnya membuat saya menguji asal-usul semua orang Amerika yang namanya berakhiran “-ian” dan memang semuanya terbukti sebagai keturunan Armenia (termasuk Derek Sherinian, kibordis ultra-agresif yang pernah berkarir di Dream Theater itu).

Baiklah, saya cukupkan di sini saja obrolan saya tentang System of a Down. Kenapa saya nulis ini? Karena kebetulan saja kemarin sore waktu di kantor saya mendengar rekan kantor depan saya muter soundtrack-nya Dea Lova sementara rekan di ujung lorong muter Toxicity. Saya memutuskan untuk menikmati saja musik yang siap pakai itu. Dan baru kemudian saya ingat punya terjemahan “Aerials” yang tidak pernah saya terbitkan. Jadi silakan nikmati terjemahan “Aerials” berikut ini. Kata “Aerial” sendiri tidak saya terjemahkan karena saya sendiri masih ragu-ragu, kira-kira apa yang dimaksud “Aerial” di sini. Secara harfiah sih artinya di sini seperti mengacu ke antena-antena yang biasanya menghiasi pandangan kita saat melihat ke langit di tengah pemukiman padat. Tapi, saya cukup yakin juga bahwa aerial ini bisa berarti semacam serangga yang berkitaran di atas kita dan bisa melihat kita secara “aerial view” :). Jadi, daripada membunuh potensi makna yang mungkin akan datang kepada Anda, biarkan saja “Aerials” tetap menjadi “Aerial.”

Selamat menikmati!

AERIAL

Hidup adalah air terjun
Kini kita yang di sungai
Dan nanti lagi setelah jatuh

Berenang di kehampaan
Kita dengar firmannya
Kita lalu tersesat
Tapi temukan semuanya.

Karena kita yang ingin bermain
Selalu ingin jalan
Tapi tak pernah mau tinggal

Aerial di langit
Saat sirna benak ciutmu
Kau bebaskan hidupmu

Hidup adalah air terjun
Kita minum dari sungai
Lalu berbalik dan membangun tembok

Berenang di kehampaan
Kita dengar firmannya
Kita lupa diri
Tapi temukan semuanya.

Karena kita ingin bermain
Selalu ingin jalan
Tapi tak pernah mau tinggal

The Stage: Album Konsep Tema Kekinian

Waktu kita mepet, Saudara, tapi yang namanya gelora yang sedang membuih harus diberi saluran buang, biar tidak terjadi ledakan. Baiklah.

Di antara sejumlah album yang saya nikmati setahun terakhir, ada album baru dan ada album lama yang baru saya kenal. Untuk album lama yang baru saya kenal, sebut saja album-album Nick Drake, terutama tiga album dari masa hidupnya. Saya berkenalan dengan Nick Drake beberapa bulan yang lalu karena ada kawan yang menawari ngobrol soal buku tersebut. Album-album Silampukau juga termasuk kelompok ini. Kalau untuk album baru, saya bisa menyebut album Tanimaju Bed4 Topi Miring Bersama dan album Avenged Sevenfold terakhir, The Stage. Nah, album yang terakhir ini akan kita obrolkan sedikit di sini. Sedikit saja, asal pantes. Kenapa diobrolkan? Karena album ini temanya kekinian, yaitu AI, dan “genre” liriknya asyik, yaitu fiksi ilmiah. Asyik. Pol.

The Stage
Sampul album diperoleh dari sini:

Pertama kali saya tertarik kepada album ini adalah karena sampulnya. Di sampul tersebut terlihat nebula dengan warna dominan khas jagad raya, ungu dan merah, dengan bumi dan bumi di pusatnya, dengan bulan mengitarinya. Juga ada kilat di sebelah kanan dan kiri. Bagi yang pernah baca bukunya Carl Sagan, Cosmos, pasti dia akan langsung teringat Carl Sagan saat melihat sampul ini. Bagi yang suka lihat sampul albumnya Avenged Sevenfold, mungkin Anda akan curiga pasti nebula dan kilat dan bumi ini ada apa-apanya. Ya, coba lihat dari jarak agak jauh dikit, maka tampaklah, bawah nebula itu bisa menyerupai tengkorak yang miring tiga perempat ke kanan (bumi ada di mata kirinya) da kilat-kilat itu adalah sayapnya (saya kelelawar). Sayap kelelawar dan tengkorak adalah simbol yang selalu hadir di album-album A7X (Diazab 7 Kali). Ya, kalau Anda termasuk penggemar A7X, yang menyebut diri Anda The Fallen (Kaum Ternista), maka tengkorak yang menyelingkupi bumi dalam bentuk nebula itu tampak jelas.

Nah, betapa sarat simbolnya sampul album ini. Begitu saya membacanya.

Ada satu masalah sebenarnya: kemungkinan pembacaan saya diarahkan oleh sebuah wawancara dengan M. Shadows bahwa album The Stage ini adalah ungkapan keresahan mereka terkait perkembangan teknologi yang semakin memakan manusia. Di situ dia sebut AI dan nanobot, yang berpotensi mengambil alih posisi manusia sebagai pusat jagad raya, atau–untuk menggunakan istilah dalam Islam–“khalifah di muka bumi.” Ketika saya membaca wawancara itu, saya sudah mulai dengar albumnya, tapi saya hanya merasakan perubahan musiknya yang kian atmosferik (lebih mirip album Nightmare daripada Hail to the King) dan lebih variatif dalam mengatur tempo (lagi-lagi, lebih mendekati Nightmare daripada Hail to the King). Kalau boleh menggunakan simplifikasi, album ini lebih nge-progressive daripada nge-metal.

Tapi ya, harus diingat, kita di sini ngobrol soal Avenged Sevenfold, yang dalam sejarahnya bisa berubah-ubah warna, mulai dari vokal yang kasar dalam City of Evil hingga yang jernih melolong dalam Nightmare, mulai dari musik yang penuh marah dan pilu dalam Nightmare hingga yang pesta pora metal dalam Hail to the King. Jadi, kalau saya bilang album The Stage ini lebih nge-progressive, kita tidak semestinya menganggap ini sebagai puncak kematangan mereka atau sejenisnya. Bisa saja ini merupakan pilihan bentuk yang disesuaikan dengan temanya, wadah ekspresi yang disesuaikan dengan isi ekspresinya. Tapi, mungkin tidak semestinya saya mengesankan adanya perpisahan antara bentuk dan isi seperti ini. Duh!

Nah, tibalah kita ke subject matter liriknya.

Ternyata, bila lagu-lagu dalam album The Stage ini ditilik satu per satu, akan tampak bahwa mereka tidak melulu berbicara tentang AI dan nanobot. Pendeknya tidak se-sci-fi yang dikesankan dari ucapan Mas Shadows. Memang ini album terasa sekali album konsep, tapi hubungan antara lagu satu dan lagu selanjutnya tidak selinier yang mungkin kita harapkan. Beda sekali tentu saja dengan album Horslips The Tain (yang merupakan progmetisasi dari epik Irlandia tentang perebutan kerbau) atau album Dream Theater Scenes from Memory (yang berkisah tentang past life regression). Album ini merupakan satu kesatuan, tapi benang merahnya adalah tema. Mungkin, masing-masing lagu adalah puzzle yang menggambarkan kebingungan zaman ini terkait posisi kita manusia yang dalam sejarahnya cenderung menganggap berada di pusat semesta, atau kosmos untuk menggunakan istilah yang lebih ngepas dengan sampul album A7X.

Sekilas saja, di lagu pertama yang berjudul “The Stage” kita bisa mendengar renungan mengenai manusia yang mulai mempertanyakan posisinya di dunia. Di situ, Anda akan merasakan pertanyaan tentang benarkah kita ini ciptaan Tuhan, benarkah Tuhan mengawasi seluruh gerak kita, pantaskah setelah melihat ulah manusia yang brutal (bom nuklir!) kita tetap percaya adanya Tuhan yang mengawasi. Aku lirik dalam lagu itu bertanya siapakah yang mengawasi dari luar sangkar selagi kita berlaga di atas panggung ini? Pendeknya, lagu ini berisi pertanyaan eksistensial manusia. Dan ujung-ujungnya lagu ini bilang “aku percaya adanya jawaban, tapi tidak sekarang.”

Baru pada lagu kedua, “Paradigm,” kita bisa mulai merasakan nuansa fiksi ilmiah. Dalam lagu ini, kita mendengar lirik tentang tokoh yang sudah lama tidak bisa merasakan hidup bagai manusia biasa, tidak lagi sakit, tidak lagi butuh makan. Tapi dia tetap hidup. Dia tetap hidup, menjalani apa yang disebut di sini sebagai “paradigma akhir.” Kalau Anda mengikuti perdebatan mengenai “jiwa” dalam kacamata ilmu pengetahuan, pasti Anda akan segera memahami lagu ini. Dalam diskusi keabadian tersebut, ada argumen bahwa yang menjadi intisari dari jiwa manusia adalah isi pikirannya. Dalam argumen tersebut, bila isi pikiran tersebut diunduh dan kemudian disimpan ke dalam sebuh hard drive atau sejenisnya, maka “jiwa” seseorang akan tetap ada. Maka, jika yang seperti itu  bisa dilakukan, “keabadian” bukanlah sesuatu yang mustahil. Sebagai ilustrasi, ambillah contoh sosok Jor El, bapak si Superman. Si bapak sudah lama mati, tapi memorinya berhasil disimpan dalam pesawat yang membawa bayi Kal El ke bumi, dan saat memori itu diaktifkan, maka Jor El bisa hadir dan berkomunikasi dengan Superman, bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin lagi dijawab oleh Jor El yang asli (dia sudah wafat di planet Kripton sana). Memori Jor El bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Superman dan tetap memberi bimbingan dan hikmah kebijaksanaan karena memori itu sifatnya adalah Artificial Intelligence, isi pikiran Jor El yang masih aktif, yang masih bisa merespons hal-hal baru. Jor El, pendeknya, sudah mengalami “keabadian.” Dalam lagu “Paradigm,” hal itulah yang menjadi bahasan. Tapi, di lagu itu, si orang abadi menjadi sengsara, sebab dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Dia bertanya “Masihkah ada sisa manusia pada diri ini?” Nah!

Dua saja dulu ya? Lagu-lagu yang lain akan kita bahas dalam diskusi di Klub Buku dua minggu lagi. Di lagu-lagu lain ada bahasan tentang artificial intelligence yang membuat kita manusia terancam, karena kita yang dulu membuatnya, “tuannya, hanya menjadi batu pijakan” (lihat lagu “Creating God”). Ada juga lagu Fermi Paradox yang tentunya merupakan metalisasi dari paradoks bahwa “kemungkinan adanya makhluk lain di jagad raya ini sangat besar sementara bukti tentang keberadaan mereka sama sekali tidak ada.” Dan juga ada lagu “Exist” yang mungkin mengandung utopian impulse atau isyarat adalah harapan bagi umat manusia dan diakhiri dengan ucapan Neil deGrasse Tyson–fisikawan yang sering dianggap sebagai penerus Carl Sagan dan bahkan baru-baru ini menjadi pembawa acara Cosmos versi baru, yang tentunya merupakan TV-isasi dari buku Carl Sagan yang terkenal itu.

Kembali ke sampul album, mungkin kita bisa menafsirkan posisi bumi yang ditengah layar itu sebagai pandangan manusia yang masih merasa sebagai pusat semesta, tapi hal tersebut mungkin tidak lama, entah karena bumi akan dimangsa nebula dan sepasang kilat yang ada di sekitarnya itu, atau pula mungkin karena akan tumbuh kesadaran manusia bahwa kita ini hanya seujung upil dari jagad raya yang tanpa batas ini (itu kalau kita mempertimbangkan ucapan Neil deGrasse Tyson di lagu terakhir album ini).

Jadi begitulah menariknya album ini. Tentu masih ada hal-hal menarik yang bisa dibahas. Apakah munculnya The Stage ini adalah kaitannya dengan bergabungnya Brooks Wackerman, yang dari tahun 2001 hingga 2015 kemarin merupakan penggebuk drum Bad Religion, band punk yang pandangannya belakangan sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan biological anthropology Greg Graffin, yang merupakan seorang naturalis itu? Entahlah. Apa yang terjadi dengan Avenged Sevenfold sampai-sampai bergabungnya mantan penggebuk drum Bad Religion–yang bisa dibilang temponya relatif konstan itu–malah membuatnya memiliki tempo yang lebih warna-warni (progresif?)? Banyak pertanyaan lainnya. Mari kita jawab kalau ada waktu.