The Stage: Album Konsep Tema Kekinian

Waktu kita mepet, Saudara, tapi yang namanya gelora yang sedang membuih harus diberi saluran buang, biar tidak terjadi ledakan. Baiklah.

Di antara sejumlah album yang saya nikmati setahun terakhir, ada album baru dan ada album lama yang baru saya kenal. Untuk album lama yang baru saya kenal, sebut saja album-album Nick Drake, terutama tiga album dari masa hidupnya. Saya berkenalan dengan Nick Drake beberapa bulan yang lalu karena ada kawan yang menawari ngobrol soal buku tersebut. Album-album Silampukau juga termasuk kelompok ini. Kalau untuk album baru, saya bisa menyebut album Tanimaju Bed4 Topi Miring Bersama dan album Avenged Sevenfold terakhir, The Stage. Nah, album yang terakhir ini akan kita obrolkan sedikit di sini. Sedikit saja, asal pantes. Kenapa diobrolkan? Karena album ini temanya kekinian, yaitu AI, dan “genre” liriknya asyik, yaitu fiksi ilmiah. Asyik. Pol.

The Stage
Sampul album diperoleh dari sini:

Pertama kali saya tertarik kepada album ini adalah karena sampulnya. Di sampul tersebut terlihat nebula dengan warna dominan khas jagad raya, ungu dan merah, dengan bumi dan bumi di pusatnya, dengan bulan mengitarinya. Juga ada kilat di sebelah kanan dan kiri. Bagi yang pernah baca bukunya Carl Sagan, Cosmos, pasti dia akan langsung teringat Carl Sagan saat melihat sampul ini. Bagi yang suka lihat sampul albumnya Avenged Sevenfold, mungkin Anda akan curiga pasti nebula dan kilat dan bumi ini ada apa-apanya. Ya, coba lihat dari jarak agak jauh dikit, maka tampaklah, bawah nebula itu bisa menyerupai tengkorak yang miring tiga perempat ke kanan (bumi ada di mata kirinya) da kilat-kilat itu adalah sayapnya (saya kelelawar). Sayap kelelawar dan tengkorak adalah simbol yang selalu hadir di album-album A7X (Diazab 7 Kali). Ya, kalau Anda termasuk penggemar A7X, yang menyebut diri Anda The Fallen (Kaum Ternista), maka tengkorak yang menyelingkupi bumi dalam bentuk nebula itu tampak jelas.

Nah, betapa sarat simbolnya sampul album ini. Begitu saya membacanya.

Ada satu masalah sebenarnya: kemungkinan pembacaan saya diarahkan oleh sebuah wawancara dengan M. Shadows bahwa album The Stage ini adalah ungkapan keresahan mereka terkait perkembangan teknologi yang semakin memakan manusia. Di situ dia sebut AI dan nanobot, yang berpotensi mengambil alih posisi manusia sebagai pusat jagad raya, atau–untuk menggunakan istilah dalam Islam–“khalifah di muka bumi.” Ketika saya membaca wawancara itu, saya sudah mulai dengar albumnya, tapi saya hanya merasakan perubahan musiknya yang kian atmosferik (lebih mirip album Nightmare daripada Hail to the King) dan lebih variatif dalam mengatur tempo (lagi-lagi, lebih mendekati Nightmare daripada Hail to the King). Kalau boleh menggunakan simplifikasi, album ini lebih nge-progressive daripada nge-metal.

Tapi ya, harus diingat, kita di sini ngobrol soal Avenged Sevenfold, yang dalam sejarahnya bisa berubah-ubah warna, mulai dari vokal yang kasar dalam City of Evil hingga yang jernih melolong dalam Nightmare, mulai dari musik yang penuh marah dan pilu dalam Nightmare hingga yang pesta pora metal dalam Hail to the King. Jadi, kalau saya bilang album The Stage ini lebih nge-progressive, kita tidak semestinya menganggap ini sebagai puncak kematangan mereka atau sejenisnya. Bisa saja ini merupakan pilihan bentuk yang disesuaikan dengan temanya, wadah ekspresi yang disesuaikan dengan isi ekspresinya. Tapi, mungkin tidak semestinya saya mengesankan adanya perpisahan antara bentuk dan isi seperti ini. Duh!

Nah, tibalah kita ke subject matter liriknya.

Ternyata, bila lagu-lagu dalam album The Stage ini ditilik satu per satu, akan tampak bahwa mereka tidak melulu berbicara tentang AI dan nanobot. Pendeknya tidak se-sci-fi yang dikesankan dari ucapan Mas Shadows. Memang ini album terasa sekali album konsep, tapi hubungan antara lagu satu dan lagu selanjutnya tidak selinier yang mungkin kita harapkan. Beda sekali tentu saja dengan album Horslips The Tain (yang merupakan progmetisasi dari epik Irlandia tentang perebutan kerbau) atau album Dream Theater Scenes from Memory (yang berkisah tentang past life regression). Album ini merupakan satu kesatuan, tapi benang merahnya adalah tema. Mungkin, masing-masing lagu adalah puzzle yang menggambarkan kebingungan zaman ini terkait posisi kita manusia yang dalam sejarahnya cenderung menganggap berada di pusat semesta, atau kosmos untuk menggunakan istilah yang lebih ngepas dengan sampul album A7X.

Sekilas saja, di lagu pertama yang berjudul “The Stage” kita bisa mendengar renungan mengenai manusia yang mulai mempertanyakan posisinya di dunia. Di situ, Anda akan merasakan pertanyaan tentang benarkah kita ini ciptaan Tuhan, benarkah Tuhan mengawasi seluruh gerak kita, pantaskah setelah melihat ulah manusia yang brutal (bom nuklir!) kita tetap percaya adanya Tuhan yang mengawasi. Aku lirik dalam lagu itu bertanya siapakah yang mengawasi dari luar sangkar selagi kita berlaga di atas panggung ini? Pendeknya, lagu ini berisi pertanyaan eksistensial manusia. Dan ujung-ujungnya lagu ini bilang “aku percaya adanya jawaban, tapi tidak sekarang.”

Baru pada lagu kedua, “Paradigm,” kita bisa mulai merasakan nuansa fiksi ilmiah. Dalam lagu ini, kita mendengar lirik tentang tokoh yang sudah lama tidak bisa merasakan hidup bagai manusia biasa, tidak lagi sakit, tidak lagi butuh makan. Tapi dia tetap hidup. Dia tetap hidup, menjalani apa yang disebut di sini sebagai “paradigma akhir.” Kalau Anda mengikuti perdebatan mengenai “jiwa” dalam kacamata ilmu pengetahuan, pasti Anda akan segera memahami lagu ini. Dalam diskusi keabadian tersebut, ada argumen bahwa yang menjadi intisari dari jiwa manusia adalah isi pikirannya. Dalam argumen tersebut, bila isi pikiran tersebut diunduh dan kemudian disimpan ke dalam sebuh hard drive atau sejenisnya, maka “jiwa” seseorang akan tetap ada. Maka, jika yang seperti itu  bisa dilakukan, “keabadian” bukanlah sesuatu yang mustahil. Sebagai ilustrasi, ambillah contoh sosok Jor El, bapak si Superman. Si bapak sudah lama mati, tapi memorinya berhasil disimpan dalam pesawat yang membawa bayi Kal El ke bumi, dan saat memori itu diaktifkan, maka Jor El bisa hadir dan berkomunikasi dengan Superman, bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin lagi dijawab oleh Jor El yang asli (dia sudah wafat di planet Kripton sana). Memori Jor El bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Superman dan tetap memberi bimbingan dan hikmah kebijaksanaan karena memori itu sifatnya adalah Artificial Intelligence, isi pikiran Jor El yang masih aktif, yang masih bisa merespons hal-hal baru. Jor El, pendeknya, sudah mengalami “keabadian.” Dalam lagu “Paradigm,” hal itulah yang menjadi bahasan. Tapi, di lagu itu, si orang abadi menjadi sengsara, sebab dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Dia bertanya “Masihkah ada sisa manusia pada diri ini?” Nah!

Dua saja dulu ya? Lagu-lagu yang lain akan kita bahas dalam diskusi di Klub Buku dua minggu lagi. Di lagu-lagu lain ada bahasan tentang artificial intelligence yang membuat kita manusia terancam, karena kita yang dulu membuatnya, “tuannya, hanya menjadi batu pijakan” (lihat lagu “Creating God”). Ada juga lagu Fermi Paradox yang tentunya merupakan metalisasi dari paradoks bahwa “kemungkinan adanya makhluk lain di jagad raya ini sangat besar sementara bukti tentang keberadaan mereka sama sekali tidak ada.” Dan juga ada lagu “Exist” yang mungkin mengandung utopian impulse atau isyarat adalah harapan bagi umat manusia dan diakhiri dengan ucapan Neil deGrasse Tyson–fisikawan yang sering dianggap sebagai penerus Carl Sagan dan bahkan baru-baru ini menjadi pembawa acara Cosmos versi baru, yang tentunya merupakan TV-isasi dari buku Carl Sagan yang terkenal itu.

Kembali ke sampul album, mungkin kita bisa menafsirkan posisi bumi yang ditengah layar itu sebagai pandangan manusia yang masih merasa sebagai pusat semesta, tapi hal tersebut mungkin tidak lama, entah karena bumi akan dimangsa nebula dan sepasang kilat yang ada di sekitarnya itu, atau pula mungkin karena akan tumbuh kesadaran manusia bahwa kita ini hanya seujung upil dari jagad raya yang tanpa batas ini (itu kalau kita mempertimbangkan ucapan Neil deGrasse Tyson di lagu terakhir album ini).

Jadi begitulah menariknya album ini. Tentu masih ada hal-hal menarik yang bisa dibahas. Apakah munculnya The Stage ini adalah kaitannya dengan bergabungnya Brooks Wackerman, yang dari tahun 2001 hingga 2015 kemarin merupakan penggebuk drum Bad Religion, band punk yang pandangannya belakangan sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan biological anthropology Greg Graffin, yang merupakan seorang naturalis itu? Entahlah. Apa yang terjadi dengan Avenged Sevenfold sampai-sampai bergabungnya mantan penggebuk drum Bad Religion–yang bisa dibilang temponya relatif konstan itu–malah membuatnya memiliki tempo yang lebih warna-warni (progresif?)? Banyak pertanyaan lainnya. Mari kita jawab kalau ada waktu.

 

Advertisements

Pantai 3 Warna & Pengelolaan Wisata Alam yang Perlu Ditiru

(Versi yang lebih ramah koran dari tulisan ini dimuat di kolom Citizen Reporter koran Surya di sini dan pada edisi cetak koran tersebut Sabtu 4 November kemarin)

Pantai Tiga Warna adalah objek wisata alam di Malang Selatan yang wajib kawan-kawan kunjungi. Bukan sekadar karena objek ini kekinian dan layak-selfie. Tapi, setidaknya ada empat hal hebat yang sebagian tidak ada di mana pun di Indonesia. Klaim saya ini berdasarkan kunjungan saya ke Pantai Tiga Warna beberapa waktu lalu bersama kawan-kawan saya menerjemah di Transkomunika, dan ditambah dengan informasi yang saya peroleh dari acara “Bincang Alam” di P-WEC (sebuah balai edukasi konservasi di kawasan Dau, Kabupaten Malang) pada 15 Oktober 2017 lalu. Lebih dari sekadar urusan berwisata, mengunjungi Pantai Tiga Warna bisa menjadi pengalaman yang akan mengubah cara pandang kita memandang wisata alam.

Kepedulian. Objek wisata alam ini muncul kembali berkat kepedulian warga setempat yang ingin mengatasi kerusakan alam. Setelah pada awal tahun 2000-an hutan pantai selatan di kawasan ini rusak karena eksploitasi, warga berinisiatif untuk memperbaikinya. Maka, berkat pendampingan beberapa pihak dan kedisiplinan para warga setempat, kondisi alam di wilayah Pantai Tiga Warna mulai bisa dipulihkan.

Komitmen kebersihan. Pengelola objek ini berkomitmen memastikan kebersihannya. Ketika baru memasuki kawasan wisata, para pengunjung harus melewati pos pemeriksaan isi tas dan potensi sampah. Berapa botol air minum kemasan, isu basah, tas plastik, masker hidung, dan sebagainya, yang Anda bawa? Semuanya dicatat. Nanti, ketika meninggalkan lokasi, pengunjung harus kembali membawa barang-barang tersebut keluar. Kalau tidak, silakan pilih: kembali ke pantai dan mengambil sampah itu atau bayar denda Rp.100ribu.

Park Interpreter. Pengunjung harus ditemani pemandu dalam perjalanan dari pintu masuk hingga ke Pantai Tiga Warna. Setiap sepuluh orang harus disertai seorang pemandu. Kelompok saya dulu dipandu oleh Pak Pi’i dan mas Cepi. Pak Pi’i menceritakan riwayat pengembangan objek wisata alam ini dan upaya pemulihan alam yang telah ditempuh. Di kancah internasional, para pemandu ini disebut Park Interpreter, yang tugasnya menceritakan semua elemen, sejarah, dan kekhasan objek wisata. Hasilnya, para pengunjung dapat menghargai taman wisata ini lebih dari sekadar keindahan fisiknya.

Pembatasan. Pengelola membatasi jumlah pengunjung yang bisa berada di Pantai Tiga Warna dalam satu waktu sekaligus. Hanya boleh ada 100 orang dalam satu waktu (2 jam). Selama dua jam itu, pengunjung bisa menyewa pelampung dan alat snorkeling untuk melakukan untuk melihat kecantikan terumbu karang dengan ikan warna-warninya, satu hal yang langka di Jawa Timur.

Banyak lagi yang bisa dituliskan tentang Pantai Tiga Warna, ruang saya di sini sudah habis. Silakan kunjungi dan saksikan bagaimana objek wisata alam ini dikelola dengan disiplin dan rasa cinta. Menurut Agus Wiyono, kepala East Java Ecotourism Forum, penyaji di acara “Bincang Alam” yang saya sampaikan di atas, belum ada yang menyamai pengelolaan Pantai Tiga Warna ini di Indonesia. Jadi, pergilah ke sana, bukan hanya untuk selfie, tapi juga untuk melihat bahwa ada harapan cerah dalam pengelolaan wisata alam di Indonesia bisa ditiru. Dan inilah yang wajib diviralkan.

Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan: Katalog Penting Anti-Mati Gaya dalam Menulis Esai

Menurut Carl Sagan dalam Cosmos, bila dibandingkan dengan usia alam semesta yang ditaksir miliaran tahun, sejarah umat manusia ini tidak ada artinya. Saya pun menerima gagasan itu dan menjadikannya etos bagi saya. Maka, buku yang terbit pada tahun 2016, yang kini mungkin tidak lagi laku di pasar resensi media, adalah buku gres bagi saya, masih hangat dan meruapkan kesegaran. Apalagi kalau bukunya sepenting buku Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan ini. Muhidin memang sosok yang memiliki ketekunan mengarsip yang mendebarkan, tapi yakinlah postingan ini tidak hanya puja-puji belaka, saya punya stok kritik yang menurut saya perlu disampaikan di postingan ini juga.

Baiknya kita mulai dulu esai ulasan ini dengan menengok siapa itu Muhidin. Seperti saya singgung di atas, Muhidin adalah seorang pengkliping yang rajin, yang mengkliping berita-berita penting dari jaman dulu sekali hingga dewasa ini (atau “jaman now” istilah kacau sekarang). Kalau ada kejadian-kejadian penting dan media mengulasnya, hampir bisa dipastikan Muhidin mengklipingnya. Sekilas saja dari ingatan saya: bapak Budiono diangkat jadi wapres, Muhidin punya beritanya; bapak Budiono kembali ke kampus UGM dengan penampilan seperti telah bekerja keras selama lima tahun menjawab, Muhidin mengkliping beritanya. Itu baru soal Bapak Mantan Wapres Budiono. Belum lagi soal lain.

Nah, buku Inilah Esai ini, saya yakin, juga hasil dari pekerjaan mengarsipkan yang tekun, terutama mengarsipkan esai-esai yang menurutnya bagus. Dari daftar seratusan esai yang menurutnya bagus itu (yang saat jadi buku bisa sepanjang 11 halaman itu), jadilah buku ini sebagai hasil pilah-pilih bagian-bagian terbaiknya. Ibaratnya: buku Muhidin yang satu ini adalah hasil kerja jangka panjang sejak masa dia mulai mengkliping hingga masa buku ini rampung dituliskan.

Menarik, nggak, kira-kira? Silakan dijawab dalam hati.

Beberapa hari yang lalu, di mata kuliah Study Skills (yang bertujuan mengajarkan baca-tulis buat mahasiswa di kampus saya), saya bertanya bagaimana sikap para mahasiswa saya terkait menulis. Kebanyakan santai, tapi ada satu yang bilang takut (yang tentunya disambut candaan temannya: “Jadi, begitu kamu mengetik, kamu langsung melompat girap-girap begitu?”). Saya yakin ketakutan seperti itu nyata, karena tidak sedikit penulis pemula yang seringkali tidak tahu apa yang harus dituliskan.

Di sinilah pentingnya buku tulisan Muhidin ini. Buku ini tidak hanya memberikan uraian dan gambaran umum atas genre esai (seperti dalam bab-bab awal yang membahas soal mukadimah, penyusunan gagasan, dan pendekatan atas topik), tapi dia juga memberikan panduan-panduan praktis mengenai mengisi setiap bagian penting esai (mulai judul, pembuka, isi, dan penutup). Dia kelompok yang kedua inilah, menurut saya, nilai terbesar dari buku ini. Dengan sifat royalnya dalam memberikan berbagai contoh judul, pembuka, penyusunan isi, dan penutup, seseorang yang ingin serius menulis esai bisa mengantisipasi risiko mati gaya dalam menanam esai. Gampangannya, asal si penulis mau bertanggung jawab mencari sumber untuk esainya, dia tidak perlu terlalu takut dalam mengolah sumber-sumber itu menjadi esai dengan bantuan buku ini.

Muhidin mengantarkan definisi esai dengan cara yang santai dan syarat rujukan, meskipun tanpa menyempatkan diri menawarkan definisi yang secara tegas dan definitif, yang mungkin diharapkan pembaca yang ingin ketegasan. Dari Michel de Montaigne, yang tersohor sebagai bapak esai, Muhidin menyitir arti esai sebagai “coba-coba” dan bahwa kumpulan esai Montaigne adalah tulisan pusparagam. Pandangan dari para esais lain, mulai dari Gus Dur, Cak Nun, hingga Zen RS, juga disinggung, yang bisa dibilang nyaris mufakat mengatakan bahwa esai adalah tulisan yang santai, yang memiliki elemen puisi/prosa sekaligus ilmiah.

Nah, mulai bagian bentuk esai, kita bisa mendapat buah pengarsipan dan kategorisasi Muhidin. Untuk bentuk esai, kita bisa melihat beberapa kategori bentuk esai yang ditemukan Muhidin dari keseratus lebih esai yang dia gunakan untuk menyusun buku ini: surat, puisi naratif, percakapan, kritik yang melengkung, obituary, pengantar buku, dan sebagainya. Di bab yang mengusung judul, ada sejumlah kategori: mengajak berkelahi, perbandingan,bertanya, kutipan, dan seterusnya. Begitu juga dengan bab-bab lain. Tidak ada kesan bahwa hanya itulah kategori esai yang ada; kalau kita mau mencari lebih lanjut, mungkin dengan memperluas cakupan bahasa esai-esai ini, mungkin (nyaris) tidak akan ada Batasan cara membuat judul. Toh, esai itu sendiri kan bisa dimaknai “coba-coba,” jadi ya selama otak manusia masih belum purna tugas, tetap akan ada cara baru membuat judul esai.

Untuk mendukung kategori-kategori itu, Muhidin memberikan contoh-contoh yang siap santap. Untuk membahas kategori membuka esai kutipan, misalnya, kita mendapat nukilan pembukaan dari sebelesa esai, termasuk di antaranya esai Ignas Kleden, Karina Leksono-Supelli, dan Mas Marco. Saya sebut siap santap Karena yang dinukilkan hanya bagian pembukaan saja. Banyak buku panduan menulis yang suka memberikan penjelasan tegas dan definitif, tapi pada gilirannya memberikan contoh, kita harus lompat ke bagian “apendiks” untuk membaca keseluruhan buku.

Tidak ada satu pun di dunia ini yang sempurna, semua tahu. Pada Inilah Esai, satu titik yang menjadikannya tidak sempurna itu adalah pada bab pembahasan isi esai. Muhidin memfokuskan pada pengembangan esai melaui kutipan dan, mengikuti salah satu pesohor dunia esai Indonesia, isi sebuah esai pada intinya adalah deskripsi, atau menjabarkan tentang sumber. Pendekatan atas isi ini menjadikan pembahasannya sangat terbatas, berbeda dengan pembahasannya atas judul, pembuka, dan penutup esai yang menghadirkan berbagai contoh. Bukannya membahas berbagai cara yang ditempuh para “pesohor” itu dalam mengembangkan gagasan pengisi esai, Muhidin memfokuskan pada bagaimana mereka mengolah kutipan, yang bisa dibilang hanya satu dari cara mengisi esai.

Dalam buku Process, Form, and Substance: A Rhetoric for Advanced Writers, Richard M. Coe meminjam dan menerapkan konsep heuristik dalam kepenulisan. Istilah heuristik ini lazim dipakai dalam bidang matematika dan ilmu komputer untuk mengacu pada urutan langkah dalam penyelesaian masalah atau persoalan. Menurut Coe, setiap penulis menggunakan langkah-langkah tertentu dalam menyelesaikan tugas menulisnya. Ada yang menggunakan pertanyaan (termasuk di sini pendekatan 5W+1H dalam penulisan jurnalistik itu), topoi gaya Aristoteles (yang menggunakan puluhan prinsip logika untuk menjari jawab atas soal-soal tertentu), pendekatan Kenneth Burke (yang dipakai untuk mengetahui motif sesuai dengan menyoroti pelaku, aksi, latar, peran, dan tujuan), dan sebagainya.

Alangkah tambah mantapnya bila Muhidin juga menyingkap strategi pengembangan isi para pesohor tersebut selain menggunakan kutipan. Mungkin, sudah cukup melengkapi kebutuhan kita para pembaca bila yang mulia Muhidin kelak melakukan analisis retorika atas esai-esai favoritnya (segelintir saja!), biar kita bisa tahu bagaimana Ignas Kleden mengembangkan esainya yang membuka buku Enam Pertanyaan untuK Sastra Indonesia itu, atau bagaimana Bung Hatta mengembangkan esai “Indonesia Menggugat” itu. Saya sangat yakin, Muhidin adalah orang yang tepat untuk mengurai esai-esai kegemarannya tersebut. Sejauh ini, kita tahu bagaimana dia mengurai cara Bung Karno menyusun esai “Indonesia Merdeka” dengan menggunakan berbagai sumber yang mewakili berbagai ideologi itu. Tolong jangan anggap saya mengabaikan prestasi Muhidin tersebut.

Akhirul esai, saya teringat sebuah acara pelatihan penulisan esai yang saya ikuti (secara tidak resmi) pada awal September ini. Ketika itu, Prof. Djoko Saryono, guru besar di Universitas Negeri Malang sekaligus penulis yang ultra-produktif, menjadi pemateri pelatihan esai yang pesertanya adalah guru-guru muda yang baru menghabiskan waktu setahun mengajar di sekolah-sekolah di berbagai kawasan yang relatif terpencil. Para guru muda ini berencana menuliskan hasil imersi mereka selama setahun itu dalam berbagai bentuk. Sambil makan pisang dan wedang jeruk, saya menyaksikan bagaimana materi dari Prof. Djoko dan mentoring dari Denny Mizhar sepanjang hari itu tampak membuat mereka bergairah untuk mulai menulis—meski banyak di antaranya yang sama sekali tidak pernah menulis. Sekarang, saya bayangkan, buat kawan-kawan yang sudah memiliki semangat menulis (atau “spirit api,” dalam terminology Naruto Shippuden), saya yakin buku Inilah Esai ini akan menjadi semacam katalog yang bermanfaat, yang dari daftar isinya saja para calon penulis esai bisa menaksir dan memilih cara mereka menyusun balok-balok gagasan menjadi esai, secara tangkas, seperti para pesohor itu.

 

Hukum Termodinamika I Tidak Sepenuhnya Berlaku untuk Energi Memori Manusia

Baik, inilah saatnya kembali menegaskan komitmen saya sebagai seorang blogger. Kalau saya lihat-lihat lagi, postingan-postingan terakhir itu mulai tidak sehat. Ada postingan resensi yang telah terbit di koran, di website, pengantar diskusi, dan sejenisnya. Dengan kata lain, postingan-postingan terakhir ini sifatnya hanya efek sampingan dari kegiatan-kegiatan yang bisa dibilang tidak terlalu berhubungan dengan blogging. Ironisnya, di kegiatan-kegiatan lain itu, saya dengan bangga memperkenalkan diri sebagai blogger. Padahal, di lubuk hard drive terdalam, saya masih memegang keyakinan bahwa blogging itu lebih seperti proses, bukan hasil. Jadi, inilah saatnya kembali menegaskan komitmen saya sebagai blogger. Inilah saatnya kembali mengisi blog ini dengan celotehan-celotehan yang boleh saja tak berguna dan tidak terlalu banyak agenda, yang penting memendam energi yang laten.

Kenapa? Kenapa harus seperti itu? Memangnya sepenting apa “energi” yang laten itu?

Karena, selama setahun lebih sebulan terakhir ketika saya kembali tinggal di Indonesia ini, saya mengalami banyak hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Pengalaman-pengalaman ini saya sadari mengandung banyak sekali energi yang perlu disalurkan dan sayang kalau dibiarkan mengabar ke dalam keterlupaan dan keterabaian.

Sebagai gambaran saja, saya sudah setahun mengajar di universitas swasta yang tengah berkembang dan sangat dinamis. Saya diberi tanggung jawab memegang beberapa mata kuliah yang mengasyikkan, di mana saya bisa membagi hasil bacaan, pengalaman, dan impian-impian saya, sekaligus saya harus belajar lagi detail-detail yang mungkin bisa dengan mudah saya abaikan kalau saya tidak punya tanggung jawab mengajarkan hal-hal tersebut.

Selain mengajar kelas-kelas semacam itu, saya juga agak sering terlibat dengan teman-teman di Pelangi Sastra Malang, yang kini sangat dinamis dan memiliki posisi penting di konstelasi gerakan literasi di Malang. Bersama komunitas ini, banyak sekali pertemuan-pertemuan dengan orang-orang tak terduga saya alami selama setahun terakhir. Tak terhitung betapa banyak informasi baru maupun kebijaksanaan syahdu yang saya temukan dari orang-orang yang saya temui di komunitas ini.

Pengalaman berbagi dan menemukan inilah yang menurut saya menyimpan banyak energi dan harus disalurkan segera. Berbeda dengan cara kerja alam, di mana energi itu konstan dan akan tersalurkan meskipun bentuknya berubah (seperti diteorikan dalam hukum termodinamika), cara kerja pengalaman dan pikiran manusia tidak begitu: ada elemen lupa (entah itu karena pembawaan maupun karena usia) dan ada juga elemen nyawa (yang bila hilang maka hilang pula “energi” yang tersimpan di dalam ingatan pemiliknya–kecuali si pemilik sudah “mendownload” ingatan itu dalam bentuk tulisan atau ke dalam hard drive, sebagaimana digagas dewasa ini, yang menggabungkan teknologi dengan biologi).

Energi dari pengalaman manusia tidaklah konstan. Sekali lagi, kalau kita membiarkan energi itu tak terunggah, maka dia rentan hilang. Maka, sebelum saya punya teknologi tinggi yang bisa dengan otomatis mendownload memori saya, beserta segala energi yang ada di dalamnya, ke dalam hard drive, maka saya akan sebisa mungkin mendownload dulu memori itu ke dalam postingan-postingan blog di sini. Semoga dengan pengambilan bahan baku memori itu, energi yang laten di dalamnya bisa tetap bertahan, baik itu untuk kemudian dimanfaatkan oleh saya sendiri maupun oleh orang lain.

Jadi begitulah, Saudara, untuk yang kesekian kalinya, saya ingin kembali menegaskan komitmen saya untuk merawat blog ini, dan mengembalikan blog ini ke khittahnya sebagai blog, sebagai ajang berproses, sebagai ajang mengerami energi. Maka, saya akan bersyukur kalau ada yang mengingatkan untuk kembali mengisi blog ini.

Biografi Nick Drake (Pattrik Humphries): Dari Mitos Musisi yang Mati OD ke Kompleksitas Manusia yang Pernah Hidup

(Tulisan singkat untuk modal diskusi buku biografi Nick Drake bersama Pelangi Sastra Malang, Gubuk Cerita, Jungkir Balik Pustaka, dan Kafe Pustaka hari Sabtu sore ini. Mestinya tulisan ini akan diupdate terus selama ada di blog ini–soalnya sampai saat ini postingan ini belum sempat diedit.)

Buku biografi berjudul Nick Drake karya Patrick Humphries ini tak henti membuat saya bertanya: kenapa Humphries menulis biografi tentang seorang musisi yang tidak saya kenal sebelumnya? Kalau fokus biografi ini adalah seorang tokoh politik yang terkenal atau autobiografi politisi yang sedang naik daun, mungkin pertanyaan seperti itu tidak akan muncul karena jawabannya relatif gamblang. Tapi Nick Drake, yang kebanyakan kawan saya yang (pernah) suka band-bandan saja tidak kenal, kenapa harus ditulis biografi tentang dia? Setelah selesai membaca buku itu, yang tersirat dari paparan penulisnya adalah bahwa Nick Drake adalah musisi yang sangat bagus, yang sayangnya hidupnya telah dimitoskan setelah kematiannya. Saya akan ceritakan beberapa hal tentang itu, tapi saya harap Anda tidak sedang buru-buru.

Pertama-tama, ada yang perlu diluruskan dari pertanyaan-pertanyaan saya di atas. Sekilas pertanyaan gugatan semacam itu mungkin tampak wajar, tapi ada satu sesat pikir di situ. Kenapa nulis biografi tentang musisi yang bahkan saya pun tidak kenal? Sesat pikirnya adalah saya mengasumsikan bahwa saya (dan teman-teman saya yang anak band) adalah orang yang serba tahu tentang musik dan pasti tahu semua musisi terkenal. Itu dia masalahnya. Belakangan, saat membaca biografi ini, sambil disela sesekali dengan riset (baca: nge-search di google) tentang Nick Drake, saya tahu ternyata Nick Drake adalah musisi yang laku dan banyak orang yang menggemarinya dengan berbagai alasan (dari yang gemar karena mengagumi teknik gitarnya sampai yang gemar karena termakan mitos tentangnya). Banyak musisi besar yang menggemari Nick Drake, misalnya Peter Buck dari REM (yang di sini kita kenal karena kehilangan “iman” di lagu “Losing My Religion”) dan Paul Weller, dedengkot The Jam, salah satu band terkuat masa kelahiran Punk di Inggris, bersama The Clash dan The Sex Pistols.

Jadi, sampai di sini saja obrolan tentang pertanyaan pembuka postingan ini. Saya tadi murni kepleset sesat pikir. Selanjutnya, mari kita move on dan berbicara tentang biografi Nick Drake (selanjutnya Drake) oleh Paul Humphries (selanjutnya Humphries).

Buku Nick Drake ini adalah hasil kerja tangan dingin Peter Humphries merekonstruksi kehidupan Nick Drake dengan dipandu tema “siapa Nick Drake yang mati muda itu?” Humphries membagi kisah Nick ke dalam tiga bagian sederhana: sebelum, selama, sesudah. Sebelum adalah masa sebelum Nick Drake menjadi musisi profesional yang direkam dan dibayar; selama adalah masa profesional; dan sesudah adalah masa setelah karir profesionalnya yang juga masa setelah Nick Drake mangkat. Jadi, di sinilah uniknya, biografi ini tidak sesederhana “grafi” atau gambaran tentang “bio” atau hidup Nick. Ada masa setelah “bio” Nick yang tak kalah pentingnya, yang justru (menurut saya) akhirnya membuat Humphries membuat “grafi” ini. Kita akan bicara soal bagian “setelah” ini nanti belakangan.

Drake memiliki latar belakang keluarga yang tak biasa. Dia lahir dari keluarga berada yang sudah kaya sejak jaman imperialisme Inggris. Kakeknya bertugas di India ketika Kerajaan Inggris menjajah India (saya harap kata “menjajah” di sini dimaknai dengan segala kompleksitasnya). Bapaknya juga begitu, dan bahkan lebih jauh lagi ke timur, yaitu di Burma, ketika negeri itu di bawah kolonialisme Inggris, dan juga pada masa sesudahnya.

Drake lahir di Burma dan sempat tinggal di sana sebentar. Setelahnya, Drake dibesarkan di Inggris, di kota kecil dekat Birmingham. Sejak kecil Drake hidup layaknya anak orang kaya: ikut les musik, mendapat pendidikan sekolah swasta, dan seterusnya. Dia sudah pandai bermain Saksofon dan Klarinet (alat favoritnya Squidward di Spongebob Squarepants). Di sekolah menengah, Drake belajar gitar dan dengan bakat musiknya, belajarnya sangat cepat, dan ketika lulus SMA, dia semakin canggih dalam bergitar. Dia sempat kuliah sebentar di University of Cambridge, tapi bukan di kampus utamanya, sambil terus bermain gitar dan sesekali tampil di hadapan teman-temannya. Hingga kemudian dia “ditemukan” vokalis The Fairport Convention, yang memperkenalkannya ke Joe Boyd, yang kemudian memproduseri Drake di bawah label Island Records, yang juga merupakan label Cat Stevens (ya, Cat Stevens kita yang akhirnya jadi Yusuf Islam dan kemudian Yusuf [saja] itu).

Selama di bawah Island Records, Drake merilis tiga album, Five Leaves Left, Bryter Layter (dia lucu, kan?), dan Pink Moon. Tapi, sebenarnya tidak semulus kalimat di awal paragraf ini, justru masa inilah yang sepertinya paling berat dalam hidup Drake. Para sumber Humphries mufakat bahwa Drake adalah orang yang ingin sukses sebagai musisi dan ingin orang mengapresiasi karyanya (meskipun sangat sedikit ungkapan eksplisit Drake soal ini). Sayangnya, Drake adalah anomali: di jaman ketika kesuksesan musisi sangat ditentukan oleh tampil live dan tour ke sana kemari, Drake adalah orang yang pemalu dan sangat tidak menikmati tampil live. Nyaris semua orang yang ingat penampilannya bilang bahwa Drake sangat canggung dan tidak menikmati berada di panggung. Sementara itu, terkait kepribadian, di antara ketiga album ini, Drake tampak semakin menarik diri dari orang-orang di sekitarnya. Dari lelaki yang “hanya” pemalu tapi interaktif saat rekaman, Drake menjadi musisi yang hanya diam dan tidak bisa diajak komunikasi yang datang pada tengah malam untuk sesi rekaman yang hanya melibatkan dirinya dan teknisi soundnya. Di akhir masa hidupnya ini, Drake dikenali sebagai orang yang sudah jauh berbeda dengan masa dia di sekolah, benar-benar seperti orang yang mengalami gangguan kejiwaan yang sempat dirawat di RSJ dekat rumah orang tuanya, yang tidak bisa dijangkau siapa pun. Sebelum meninggal, dalam kondisi kejiwaan yang sedemikian rupa, Drake sempat merekam empat lagu yang dirilis secara anumerta (untuk menggunakan istilah yang dipakai penerjemahnya).

Demikian hidup Drake, yang digali Humphries dengan sangat teliti dari sumber-sumber yang pernah berhubungan dengan Drake, mulai guru SMP Drake hingga penyanyi Perancis yang sepertinya Drake sukai tapi tidak pernah-pernah berkomunikasi secara wajar dengan Drake.

Maka sampailah kita ke topik selanjutnya, yaitu perihal teknik Humphries dalam menyusun biografi ini. Humphries adalah biografer yang disiplin. Humphries selalu mengawali dengan semacam argumen yang dia susun dari pembacaan atas pernyataan para sumber yang dia pakai. Kemudian, dalam perjalannya, Humphries menyajikan secara penuh ungkapan-ungkapan para sumbernya tersebut. Sebagian besar sumber yang dia sampaikan secara penuh adalah hasil wawancara, tapi ada juga beberapa sumber panjang yang dia dapatkan dari tulisan-tulisan tentang Drake, mulai dari tulisan di majalah sampai tulisan di sampul album. Gaya penulisan biografi yang seperti ini menjadikan buku ini mirip film-film dokumenter bergumen kuat, seperti misalnya film-film Michael Moore. Kalau Anda lihat film-film beliau, pasti Anda memperhatikan bagaimana Moore mengawali dengan semacam latar belakang permasalahan ditambah dengan secuplik argumennya (seperti menulis esai lah) dan kemudian mendapati Moore mewawancarai orang dan hasil wawancara itu disampaikan dengan sepenuhnya, yang kemudian disimpulkan oleh Moore.

Teknik penulisan biografi seperti ini tentu sangat berbeda dengan kebanyakan biografi tokoh politik atau penulis (terutama yang ditulis ketika subjeknya masih hidup). Perbedaannya terutama terletak pada penggalian dari orang-orang yang berhubungan langsung dengan subjek dan argumen yang disampaikan. Dan teknik ini tentu saja juga sangat berbeda dengan penulisan “novelisasi biografis” orang-orang tertentu, satu hal yang sangat lazim di tengah banjir kisah-kisah inspiratif. Perbedaan utamanya terletak pada fakta bahwa “novelisasi” secara inheren menginginkan pembaca tenggelam ke dalam cerita dengan tanpa sadar mengaburkan batas antara biografi (yang merupakan historiografi personal) dengan kejadian nyata di masa lalu. Ada klaim tersembunyi bahwa pembaca hendaknya menerima gambaran dalam novelisasi itu sebagai cerminan nyata dari kejadian di masa lalu (tentu saja ini salah: tidak ada cermin yang bisa memantulkan bayangan masa lalu dengan setia, tak juga foto maupun video!). Alih-alih meminta orang mempercayai hasil rekonstruksi sejarah Drake yang dia kerjakan, Humphries dengan tegas menyatakan argumen-argumen yang dia buat berdasarkan hasil risetnya itu.

Nah, sekarang, tibalah akhirnya kita pada argumen yang ingin disampaikan Humphries, yang tampak kuat di bagian “setelah”–yang saya janjikan di atas. Ternyata, setelah wafat, justru semakin banyak orang yang mengenal dan menggemari karya-karya Drake. Perusahaan rekaman Drake, yang sudah terikat janji dengan Joe Boyd mantan produser Drake untuk tetap mempertahankan album-album Drake di katalog mereka, selanjutnya merilis album-album kompilasi dan beberapa karya Drake yang belum sempat dirilis. Hal ini, ditambah dengan mitos tentang musisi genius yang mati muda yang selalu tumbuh natural, membuat pendengar Drake bertambah. Namun, ada juga musisi-musisi besar yang memang lebih dulu mengenal dan mengagumi kepiawaian bergitar Drake yang buka suara tentang kekaguman mereka. Ada juga musisi-musisi mudah yang membuat lagu terinspirasi dan didedikasikan kepada Drake. Dua hal terakhir inilah yang kemudian membawa gelombang-gelombang baru penggemar Drake, mereka-mereka yang penasaran dan akhirnya membeli dan akhirnya menggemari Drake juga.

Seiring semakin terkenalnya Drake itu, mitos dan simplikasi tentang musisi yang mati muda itu kian membeku. Banyak yang beranggapan Drake adalah anak yang tidak bahagia sejak kecil. Ada juga yang mengira perkenalannya dengan narkotik lah yang membunuhnya. Pastinya, ada sekalangan yang berpendapat bahwa Drake adalah korban ganasnya industri musik, yang menggunakan musisi sebagai bahan bakarnya. Tidak sedikit pula yang berpandangan romantis dan memandang Drake sebagai sosok genius yang menderita. Kebanyakan hal ini adalah simplifikasi yang cenderung tidak memperhatikan berbagai sisi kehidupan Drake.

Di hadapan semua inilah Humphries merekonstruksi kisah Drake ini dari berbagai sumber, mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Humphries berulang kali menekankan bahwa bisa jadi, narkotika hanya memperparah sebuah kondisi kejiwaan yang telah mulai berkembang dalam diri Drake. Humphries juga menentang tegas bahwa Drake adalah orang yang tidak bahagia sepanjang hidup (yang dia nyatakan sejak di pembukaan). Tentunya masih ada beberapa argumen penting lain dari Humphries yang pastinya akan lebih baik bila Anda baca sendiri dalam biografi ini dengan segala keutuhannya. Pada intinya, dengan menyusun biografi ini, Humphries mencoba mengembalikan seorang musisi yang mati muda karena overdosis menjadi seorang manusia yang pernah hidup. Dan lazimnya manusia, masing-masing memiliki kompleksitasnya yang tidak akan habis dibahas dalam sebuah artikel di majalah musik atau di kanal online.

Semoga hingga di sini saya sudah memberikan apa-apa yang sudah saya janjikan di atas. Selanjutnya, mari kita berbincang tentang Drake, dan juga tentang biografi ini. Saya yakin masih banyak hal lain yang bisa dibincangkan. Sebagai contoh: di sini kita bisa melihat kedisiplinan Humphries dalam memahami makna biografi yang merupakan sebuah historiografi pribadi, yang membutuhkan rekonstruksi subjek sekaligus latar sosial dan historisnya–lihatlah bagaimana Humphries membeberkan acara apa yang ada di TV pada hari kematian Drake, siapa saja penampilnya, dan jam berapa acara tersebut ditayangkan. Kita juga bisa menemukan dalam biografi ini, kritik musik, baik dari Humphries sendiri atas album-album Drake, khususnya Five Leaves Left maupun dari orang lain, misalnya Scott Appel, mengenai teknik permainan dan seteman gitar Drake. Ah, masih banyak lagi (tentu, bukunya saja 380-an halaman!).

Jadi, kapan kita ngobrol apa?

Terjemahan “Fruit Tree” – Nick Drake – Pohon Buah

Berikut ini terjemahan atas lagu Nick Drake dari album pertamanya Five Leaves Left. Dalam penggarapan album ini, Nick Drake yang sudah dikenal pemalu (sejak masuk Universitas Cambridge itu) masih tetap seorang musisi yang terasa penuh energi, setidaknya dalam rekaman dan dalam liriknya. Dalam penggarapan lagu yang liriknya sangat puitis ini, Nick menggandeng kawan kuliahnya Robert Kirby untuk menjadi aransir string pengiringnya.

Sekali lagi, seluruh album ini digarap ketika Nick masih penuh energi dan relatif berfungsi secara sosial. Album selanjutnya, Bryter Layter, yang digarap lagi-lagi dengan aransiran Robert Kirby untuk musik pengiringnya, adalah album yang penuh kerja keras, tapi Nick mulai tambah sulit diajak berkomunikasi. Dan untuk album terakhir, Pink Moon (yang saya terjemahkan di sini), Nick Drake bisa dibilang sudah menjadi pribadi yang tidak bisa diajak berkomunikasi, datang dan pergi sesukanya tanpa banyak bicara (selain gumaman yang kata teman-temannya sulit dipahami). Album itu digarap oleh Nick dan teknisi sound John Wood. Musiknya hanya permainan gitar Nick–dan piano yang juga dimainkan Nick sendiri.*

Betapapun bergairahnya Nick mengerjakan lagu “Fruit Tree” di album pertamanya itu, tak urung tetap tersirat kesuraman, tentunya karena liriknya yang menggunakan “Pohon Buah” sebagai metafor untuk hidup yang digerogoti oleh “buah” atau “karya”. Kalau Anda suka nonton film Hollywood, bisa lah kita samakan kesuramannya dengan judul film dahsyat Leonardo di Caprio dan Johnny Depp What’s Eating Gilbert GrapeNama keluarga Leo dan Johnny di film itu adalah keluarga Grape. Johnny, si kakak, adalah Gilbert; Leo memainkan Arnie, bocah 15 tahun yang hidup dengan autisme. Judulnya memberikan kesan menanyakan kira-kira apa yang “memakan” atau “membuat murung” atau “membuat tampak susah” si Gilbert Grape. Permainan antara kata “makan” dan kata “Grape” (nama keluarga yg juga nama buah itu) terasa asyik. Kembali ke Nick Drake, dia mengumpakan ketenaran itu sebagai pohon buah, yang tidak akan bisa berdaun lebat sebelum buahnya jatuh. Begitulah ketenaran, dalam imajinasi Drake: akan terjadi tapi dengan tumbalnya sendiri.

Maka, daripada berlama-lama, silakan baca terjemahan ini, atau aslinya di sini:

Pohon Buah

Ketenaran hanyalah pohon buah
Sangat tidak kokoh
Tak pernah berdaun lebat
Hingga buahnya luruh
Begitulah orang tenar
Tak pernah menemukan cara
Hingga dia terbang
Jauh dari hari-hari sekaratnya.

Terlupakan selagi kau ada
Diingat sebentar
Keruntuhan yang begitu terbarui
Dari gaya yang begitu tertinggal

Hidup hanyalah memori
Telah terjadi dulu sekali
Gedung pentas penuh duka
Untuk pentas yang terlupa
Tampak begitu mudah
Membiarkannya berlalu
Hingga kau berhenti dan bertanya
Kenapa kau tak pernah bertanya kenapa

Nyaman di rahim
Malam yang abadi
Kau temukan kegelapan dapat
Memberikan cahaya paling terang
Aman di tempatmu jauh di dalam bumi
Itulah saatnya mereka tahu seberharga apa dirimu
Terlupakan saat kau di sini
Diingat sebentar
Keruntuhan yang begitu terbarui
Dari gaya yang begitu tertinggal

Ketenaran adalah pohon buah
Sangat tidak kokoh
Tak pernah berdaun lebat
Hingga buahnya luruh
Begitulah orang tenar
Tak pernah menemukan cara
Hingga diterbangkan
Jauh dari hari-hari sekaratnya.

Pohon buah, pohon buah
Tak ada yang mengenalmu selain hujan dan udara
Jangan kuatir
Mereka akan berdiri dan menatap saat kau pergi

Pohon buah, pohon buah
Bukalah matamu
Sambutlah tahun yang baru
Mereka semua akan tahu
Bahwa kau pernah di sini
Saat kau telah pergi

* Semua informasi biografis mengenai Nick Drake ini saya dapatkan dari buku biografi berjudul Nick Drake karya Pattrick Humphries, yang edisi terjemahannya diterbitkan oleh Yayasan Jungkir Balik Pustaka (nama penerbitnya tidak standar, kan? :D)

Kepada Kamu yang Ditunggu Salju: Buku Puisi yang Menyumbangkan Darah kepada Genre Tulisan Perjalanan?

Resensi_Yusri Fajar

Judul                     : Kepada Kamu yang Ditunggu Salju
Penulis                 : Yusri Fajar
Penerbit              : Penerbit Pelangi Sastra
Tebal                     : 104 hal.
Cetakan               : I/Maret 2017
ISBN                      : 978-602-60790-1-5

Perjalanan adalah kran inspirasi yang tak kunjung mandek untuk karya sastra, baik lisan maupun tulisan. Bahkan, karya sastra tertua yang pernah ditemukan, yaitu Epik Gilgamesh dari Mesopotamia kuno pada abad ke-21 SM, didominasi kisah perjalanan yang mengubah hidup Gilgamesh, tokoh raja setengah dewa. Kini, dua abad sejak ditemukannya GPS (Global Positioning System), perjalanan masih tetap mengucurkan inspirasi bagi penulis, apapun genre yang dia pilih. Dewasa ini, banyak toko buku yang punya rak khusus untuk catatan perjalanan. Sampai banyak yang mengkritisinya sebagai mengalami titik jenuh. Tapi, bagaimana bila perjalanan itu dituliskan dalam puisi? Akankah dia memberikan sesuatu yang berbeda? Buku puisi Kepada Engkau yang Ditunggu Salju mungkin bisa memberi gambaran potensi puisi yang bertemakan perjalanan.

Semua puisi yang terangkum dalam buku kumpulan puisi pertama Yusri Fajar ini ditulis ketika penulisnya jauh dari rumah. Bahkan, nyaris semua puisi di sini ditulis ketika Yusri berada di luar negeri. Beberapa puisi yang lain bertemakan perjalanan, tapi dari kampung halaman di Banyuwangi ke Malang, yang kemudian menjadi domisili Yusri. Dengan begitu, tidak berlebihan kalau saya menyebut buku ini sebagai buku puisi perjalanan–meskipun tentu perjalanan di sini harus diartikan secara luas.

Lazimnya pengunjung di tempat baru, penyair juga menunjukkan ketakjuban kepada keasingan dan kebaruan, yang kemudian dia tingkahi dengan perenungan tentang kesejarahannya. Pada beberapa puisi, Yusri menyoroti sebuah obyek atau individu dan menyoroti keterkaitan mereka dengan Indonesia.

Kita bisa temukan itu pada puisi-puisi seperti, misalnya “Di Negeri Bekas Penjajah Aku Menemukanmu” (hal. 7), yang bisa dijadikan contoh yang tepat. Dalam puisi ini, aku lirik Yusri melihat-lihat jalanan, restoran, pernak-pernik, dan orang-orang Belanda, dan di situ dia merasa menemukan “kamu,” yang bisa kita tafsirkan sebagai “Indonesia.” Puisi ini memang dibuat jauh dari rumah, tapi dia tak kunjung berhenti membicarakan Indonesia, yang jejaknya terlihat di mana-mana di Belanda (“Pertemuan Dua Bangsa di Warung Kebab,” hal. 24).

Ketakjuban akan hal-hal yang memiliki signifikansi sejarah atau berkaitan dengan perpindahan bangsa-bangsa inilah yang memenuhi buku-buku Yusri. Tidak bisa kita temukan puisi tentang indahnya danau di Swiss, romantisnya menara Eiffel di Perancis, atau nikmatnya capuccino Italia di sana. Tapi, kita bisa temukan puisi tentang warung kebab yang mempertemukan pendatang dari negeri berbeda yang selalu digelayuti kerinduan kepada kampung halaman.

Bahkan, kalau ada satu topik yang bisa dibilang mencakup sebagian besar puisi di buku ini, topik tersebut adalah “diaspora.” Dalam kajian sosial, istilah diaspora pada awalnya mengacu kepada orang-orang Yahudi yang terusir tanah leluhur mereka untuk kemudian hidup terpencar di segala penjuru Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa untuk tumbuh dan berkembang. Namun, sebagaimana diteorika Robin Cohen dalam Global Diasporas: An Introduction, seiring zaman, istilah diaspora ini banyak digunakan untuk mengacu komunitas-komunitas yang jauh dari negeri leluhur mereka, bahkan tanpa perlu elemen keterpaksaan. Pandangan seperti inilah yang mendominasi gagasan kelompok Jaringan Diaspora Indonesia.

Kembali ke buku puisi Yusri Fajar, gagasan diaspora muncul paling efektif pada puisi yang dipakai untuk judul buku Yusri ini “Kepada Kamu yang Ditunggu Salju” (hal. 4). Puisi ini berbicara tentang “kamu” yang tumbuh jauh dari tanah moyangnya, yang saat ini benihnya bisa tersemai, bertumbuh, tapi pada akhirnya terancam akan terkubur salju dan kehilangan akarnya. Seperti itulah dilema diaspora yang akarnya selalu berisiko menguap seiring zaman. Menariknya, dalam puisi ini, Yusri menggunakan idiom-idiom pertumbuhan tanaman beserta seluruh anatominya. Puisi ini seperti mengembalikan lagi istilah “diaspora” ke ranah aslinya, yaitu biologi. Boleh lah kita bisa puisi ini tidak melupakan akar kata “diaspora” itu sendiri.

Dengan semua potensi yang lebih dari sekadar menggambarkan tentang perjalanan ini, jangan-jangan puisi ini bisa memberi sumbangan di tengah “krisis” yang menjangkiti genre tulisan perjalanan. Seperti dikritisi Graeme Wood dalam artikelnya di majalah Foreign Policy, tulisan perjalanan adalah genre yang mati, utamanya karena penulis terlalu tersedot kepada dirinya sendiri dan kurang menukik dalam pengamatan atas tempat dan orang-orang yang dikunjunginya. Atau, yang lebih parah, hanya menyoroti hasil pengamatan yang hanya mengkonfirmasi apa yang sudah mereka dengar atau yakini, sebagaimana dikritisi Edward Said. Dengan perenungan atas nasib diaspora dan obyek-obyek yang memiliki latar kesejarahan sebagaimana saya bahas di atas, buku Kepada Kamu yang Ditunggu Salju ini berpotensi menyumbangkan darah segar kepada genre yang tulisan perjalanan yang kita layu itu menurut sekalangan kritikus.

(Tulisan ini dimuat di kolom Resensi harian Jawa Pos Radar Malang pada hari Minggu 23 Juli 2017. Semoga menikmati resensinya, dan semoga ada “krentek” hati membeli bukunya.)