(Terjemahan Puisi) Jangan Menoleh “Don’t Look Back” karya Solomon Ibn Gabirol + OASIS

Kangen nerjemah lagi dan di rak buku di kamar ada satu buku Selected Poems of Solomon Ibn Gabirol buah terjemahan Peter Cole dari bahasa Ibrani. Buku ini, seperti judulnya, berisi puisi-puisi pilihan karya penyair Andalusia yang hidup dalam kultur Arab dengan nama Arab Abu Ayyub Sulaiman Ibn Yahya Ibn Jabirul.

Saya pakai buku ini (hadiah dari dosen saya) untuk ujian komprehensif doktoral beberapa tahun yang lalu, untuk bidang cakupan Sastra Spanyol Masa Islam. Ketika itu saya membaca untuk mengetahui isi karya-karya sastra (dan rupa) Spanyol antara tahun 711-1502. Penekanannya di sini adalah “isinya” saja, karena dalam hal gaya bahasa tentu saja saya tidak bisa menjangkaunya. Karya-karya sastra dari periode itu ditulis dalam bahasa Arab, Ibrani, dan Kasteyano (Castellano). Continue reading “(Terjemahan Puisi) Jangan Menoleh “Don’t Look Back” karya Solomon Ibn Gabirol + OASIS”

Advertisements

Linimasa Mengambang atau Floating Timeline

“Enak ya jadi Nobita? Sejak aku kelas 6 SD sampai sekarang punya anak mau naik kelas 6 SD, dia masih tetap kelas 4 SD.”

“Betapa bahagianya jadi Upin dan Ipin. Dari sepuluh tahun yang lalu dia masih di Tadika Mesra. Tidak harus berhadapan dengan UNAS.”

Pasti Anda sering mendengar itu–kalau Anda seperti saya, suka ngobrol dengan orang-orang iseng. Bagaimana fenomena ini menurut ilmu sastra?

Baiklah, sebagai dosen sastra yang masih pemula, saya akan menguji diri sendiri dengan menjawab pertanyaan (yang saya lontarkan sendiri itu). Fenomena ini–eh, sebenarnya bukan fenomena sih. Saya ulangi lagi: ini adalah satu fitur dalam prosa atau naratif yang disebut “linimasa mengambang” atau “floating timeline” atau “sliding timescale.” Continue reading “Linimasa Mengambang atau Floating Timeline”

(Resensi) Dongeng Panjang Literasi Indonesia – Yona Primadesi

Judul: Dongeng Panjang Literasi Indonesia
Penulis: Yona Primadesi
Penerbit: Kabarita
Cetakan: I/2018

Oke, sebelum negara api menyerang, biarkan saya lemparkan dulu resensi tiga paragraf ini mengenai sebuah buku mungil, asyik, dan penting (MAP) yang baru-baru ini saya baca:

Dongeng Panjang Literasi Indonesia merangkum lontaran-lontaran gagasan dan keprihatinan berwawasan dari Yona Primadesi mengenai sejumlah tema literasi, yang sebagian besarnya adalah tentang literasi anak. Buku ini dibuka dengan afirmasi Yona bahwa literasi bukan hanya perihal baca-tulis, yang didasarkan pada Deklarasi Praha tahun 2003. Afirmasi mengenai literasi yang perlu dipahami secara luas ini ditegaskan kembali dalam esai penutup ketika Yona berbicara tentang literasi penduduk asli (indigenous literasi) yang mungkin lebih kita akrabi dengan istilah kearifan lokal.

Di bagian tengah buku ini, kita mendapati renungan serta lontaran gagasan Yona mengenai literasi anak, peran orang tua dalam literasi anak, perpustakaan yang ramah anak, keprihatinan mengenai buku anak, dan sejenisnya. Kalau kita ngotot ingin merangkum bagian isi buku ini dalam satu kalimat, mungkin kita bisa mencoba ini: literasi perlu ditumbuhkan pada anak, pertama oleh orang tua, dan selanjutnya oleh institusi pendidikan, selanjutnya oleh industri perbukuan, dan juga oleh negara. Budaya baca bagi anak (poin terpenting dari literasi) adalah sesuatu yang terlalu besar untuk menjadi tanggung jawab satu pihak saja.

Kalau saya dipaksa memberikan kritikan, saya ingin menyoroti satu fakta bahwa buku ini sama sekali tidak menyinggung buku-buku tentang literasi yang terbit di Indonesia. Ambil saja sebagai contoh buku Suara dari Marjin karya kolaborasi Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah yang pada prinsipnya tidak berseberangan dengan buku ini–justru sebaliknya mungkin saling mendukung. Menurut saya, dengan semangat pembangunan tradisi dan kerja bareng pengembangan ilmu pengetahuan melalui dialog, penulis dalam bidang-bidang tertentu perlu saling menyinggung satu sama lain dalam karya-karyanya (entah itu dalam bentuk mengafirmasi, menggugat, maupun mengisi celah). Lagipula, usaha saling menyinggung bisa juga menjadi sarana menyarankan bacaan bagi pembaca yang tertarik tahu lebih jauh. Bagaimanapun, harus dipahami di sini bahwa sebagian dari esai-esai Yona Primadesi ini telah diterbitkan di media bahkan mungkin sebelum Suara dari Marjin terbit. Akhirur-resensi: perlu dibaca!

(Terjemahan Lagu) Aerials – System of a Down

Perlu kiranya sedikit pendahuluan untuk postingan kita kali ini. Saya kenal System of a Down pertama kali melalui album Toxicity, melalui kebaikan hati seorang kawan yang memperkenalkan band metal yang didengarkannya waktu itu. Ketika itu, awal tahun 2000-an, tengah naik daun band-band metal (atau nu metal atau hip metal) semacam Korn, Limp Bizkit, Soulfly dan lain-lain. Tentu saya sempat merasakan teriak-teriak ngerap “Take a Look Around” sambil mungkin membayangkan diri akan menjadi seganteng Tom Cruise. Nah, di satu kesempatan saya minta rekomendasi band baru dari seorang kawan, gitaris yahud di Malang asal Blitar bernama Yudi Ijum. Dia meminjami saya kaset Toxicity yang kemudian saya puter di kamar kost sampai berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Itulah perkenalan pertama saya dengan System of a Down.

Ketika itu saya merasakan musiknya asyik–ada ruang-ruang jernih yang selalu saya suka–dan vokalnya tak ada duanya–ada cengkok-cengkok yang tidak lazim di band metal mana pun. Waktu itu saya anggap saja biasa, karena Korn juga punya kecenderungan memakai cengkok-cengkok khas yang tak bisa ditemui di band-band lain. Power vokal Serj Tankian yang super-bariton itu jug atak urung membuat saya cinta. Saya juga suka vokal Korn meskipun ketika itu musiknya menurut saya terlalu berisik dan sulit dicerna (pandangan serampangan yang selanjutnya berubah setelah saya dengar versi akustik mereka dan semakin jatuh cinta setengah mati–apalagi di situ ada vokalis gothic-metal “Amy Lee, from Evanescence”). Kayaknya, waktu itu ukuran vokal adiluhung adalah bariton, seperti halnya Tuan Jim Morisson yang baru beberapa tahun sebelumnya saya kenal. Tapi, seiring waktu, seiring hadirnya musisi-musisi baru dalam hidup saya, System of a Down pun melesap ke latar…

Sepuluhan tahun kemudian, ketika YouTube menjadi realitas tak terhindarkan yang tak ubahnya wartel di masa 2000-an awal, saya sempatkan mencari lagi System of a Down. Hmmm… Tetap menarik.

Beberapa tahun kemudian, saya kenal seorang pianis perempuan asal Lebanon, yang datang ke kampus saya di Arkansas untuk menyajikan resital dalam peringatan 100 tahun genosida bangsa Armenia. Saya kebagian tugas memvideo dan merekam audio dalam resital tersebut. Keluarga Amy, nama pianis itu, sudah tiga generasi tinggal di Lebanon, tapi dia orang Armenia. Dia hanya memainkan nomor-nomor karya para komponis yang nama-namanya memiliki kemiripan yang tak mungkin terlewatkan: semua nama belakangnya diakhiri dengan “-ian.” Saya langsung teringat System of a Down (vokalisnya Serj Tankian, dan yang lainnya juga mengandung “-ian”). Yang lebih penting lagi, ketika mendengarkan resital tersebut: saya dikejutkan oleh ketidakbiasaan yang terasa seperti gelombang yang membentur karang di pantai saya belasan tahun yang lampau. Semua komposisi klasik yang dimainkan oleh Amy adalah karya komponis Armenia. Di situlah, ada nada-nada khas, yang berkisar antara misterius dan manis dan pilu, yang berbeda dengan yang kita temui dalam komposisi-komposisi klasik dari Eropa–apalagi Amerika, ya tentunya skor-skor film Hollywood itu juga komposisi klasik kekinian dong! Komposisi-komposisi klasik Eropa penuh kemegahan, keceriaan musim semi, kesyahduan spiritual, dan sejenisnya. Keganjilan nada-nada komponis Armenia itu–dalam benak saya–memiliki kemiripan dengan ganjilnya cengkok-cengkok Serj Tankian dalam Toxicity.

Saya langsung riset kembali tentang System of a Down. Ternyata oh ternyata! Semua anggota System of a Down memang keturunan Armenia. Bahkan beberapa di antara mereka lahir di luar Amerika (Lebanon? Armenia?) dan baru kemudian bermigrasi ke Amerika. Dan, pada tahun 2015 itu, ternyata Serj juga ikut berkampanye menumbuhkan kesadaran orang tentang genosida bangsa Armenia oleh kekaisaran Turki Utsmani (yang masih belum begitu saja diakui oleh negara Turki saat ini). “Riset” saya juga akhirnya membuat saya menguji asal-usul semua orang Amerika yang namanya berakhiran “-ian” dan memang semuanya terbukti sebagai keturunan Armenia (termasuk Derek Sherinian, kibordis ultra-agresif yang pernah berkarir di Dream Theater itu).

Baiklah, saya cukupkan di sini saja obrolan saya tentang System of a Down. Kenapa saya nulis ini? Karena kebetulan saja kemarin sore waktu di kantor saya mendengar rekan kantor depan saya muter soundtrack-nya Dea Lova sementara rekan di ujung lorong muter Toxicity. Saya memutuskan untuk menikmati saja musik yang siap pakai itu. Dan baru kemudian saya ingat punya terjemahan “Aerials” yang tidak pernah saya terbitkan. Jadi silakan nikmati terjemahan “Aerials” berikut ini. Kata “Aerial” sendiri tidak saya terjemahkan karena saya sendiri masih ragu-ragu, kira-kira apa yang dimaksud “Aerial” di sini. Secara harfiah sih artinya di sini seperti mengacu ke antena-antena yang biasanya menghiasi pandangan kita saat melihat ke langit di tengah pemukiman padat. Tapi, saya cukup yakin juga bahwa aerial ini bisa berarti semacam serangga yang berkitaran di atas kita dan bisa melihat kita secara “aerial view” :). Jadi, daripada membunuh potensi makna yang mungkin akan datang kepada Anda, biarkan saja “Aerials” tetap menjadi “Aerial.”

Selamat menikmati!

AERIAL

Hidup adalah air terjun
Kini kita yang di sungai
Dan nanti lagi setelah jatuh

Berenang di kehampaan
Kita dengar firmannya
Kita lalu tersesat
Tapi temukan semuanya.

Karena kita yang ingin bermain
Selalu ingin jalan
Tapi tak pernah mau tinggal

Aerial di langit
Saat sirna benak ciutmu
Kau bebaskan hidupmu

Hidup adalah air terjun
Kita minum dari sungai
Lalu berbalik dan membangun tembok

Berenang di kehampaan
Kita dengar firmannya
Kita lupa diri
Tapi temukan semuanya.

Karena kita ingin bermain
Selalu ingin jalan
Tapi tak pernah mau tinggal

The Stage: Album Konsep Tema Kekinian

Waktu kita mepet, Saudara, tapi yang namanya gelora yang sedang membuih harus diberi saluran buang, biar tidak terjadi ledakan. Baiklah.

Di antara sejumlah album yang saya nikmati setahun terakhir, ada album baru dan ada album lama yang baru saya kenal. Untuk album lama yang baru saya kenal, sebut saja album-album Nick Drake, terutama tiga album dari masa hidupnya. Saya berkenalan dengan Nick Drake beberapa bulan yang lalu karena ada kawan yang menawari ngobrol soal buku tersebut. Album-album Silampukau juga termasuk kelompok ini. Kalau untuk album baru, saya bisa menyebut album Tanimaju Bed4 Topi Miring Bersama dan album Avenged Sevenfold terakhir, The Stage. Nah, album yang terakhir ini akan kita obrolkan sedikit di sini. Sedikit saja, asal pantes. Kenapa diobrolkan? Karena album ini temanya kekinian, yaitu AI, dan “genre” liriknya asyik, yaitu fiksi ilmiah. Asyik. Pol.

The Stage
Sampul album diperoleh dari sini:

Pertama kali saya tertarik kepada album ini adalah karena sampulnya. Di sampul tersebut terlihat nebula dengan warna dominan khas jagad raya, ungu dan merah, dengan bumi dan bumi di pusatnya, dengan bulan mengitarinya. Juga ada kilat di sebelah kanan dan kiri. Bagi yang pernah baca bukunya Carl Sagan, Cosmos, pasti dia akan langsung teringat Carl Sagan saat melihat sampul ini. Bagi yang suka lihat sampul albumnya Avenged Sevenfold, mungkin Anda akan curiga pasti nebula dan kilat dan bumi ini ada apa-apanya. Ya, coba lihat dari jarak agak jauh dikit, maka tampaklah, bawah nebula itu bisa menyerupai tengkorak yang miring tiga perempat ke kanan (bumi ada di mata kirinya) da kilat-kilat itu adalah sayapnya (saya kelelawar). Sayap kelelawar dan tengkorak adalah simbol yang selalu hadir di album-album A7X (Diazab 7 Kali). Ya, kalau Anda termasuk penggemar A7X, yang menyebut diri Anda The Fallen (Kaum Ternista), maka tengkorak yang menyelingkupi bumi dalam bentuk nebula itu tampak jelas.

Nah, betapa sarat simbolnya sampul album ini. Begitu saya membacanya.

Ada satu masalah sebenarnya: kemungkinan pembacaan saya diarahkan oleh sebuah wawancara dengan M. Shadows bahwa album The Stage ini adalah ungkapan keresahan mereka terkait perkembangan teknologi yang semakin memakan manusia. Di situ dia sebut AI dan nanobot, yang berpotensi mengambil alih posisi manusia sebagai pusat jagad raya, atau–untuk menggunakan istilah dalam Islam–“khalifah di muka bumi.” Ketika saya membaca wawancara itu, saya sudah mulai dengar albumnya, tapi saya hanya merasakan perubahan musiknya yang kian atmosferik (lebih mirip album Nightmare daripada Hail to the King) dan lebih variatif dalam mengatur tempo (lagi-lagi, lebih mendekati Nightmare daripada Hail to the King). Kalau boleh menggunakan simplifikasi, album ini lebih nge-progressive daripada nge-metal.

Tapi ya, harus diingat, kita di sini ngobrol soal Avenged Sevenfold, yang dalam sejarahnya bisa berubah-ubah warna, mulai dari vokal yang kasar dalam City of Evil hingga yang jernih melolong dalam Nightmare, mulai dari musik yang penuh marah dan pilu dalam Nightmare hingga yang pesta pora metal dalam Hail to the King. Jadi, kalau saya bilang album The Stage ini lebih nge-progressive, kita tidak semestinya menganggap ini sebagai puncak kematangan mereka atau sejenisnya. Bisa saja ini merupakan pilihan bentuk yang disesuaikan dengan temanya, wadah ekspresi yang disesuaikan dengan isi ekspresinya. Tapi, mungkin tidak semestinya saya mengesankan adanya perpisahan antara bentuk dan isi seperti ini. Duh!

Nah, tibalah kita ke subject matter liriknya.

Ternyata, bila lagu-lagu dalam album The Stage ini ditilik satu per satu, akan tampak bahwa mereka tidak melulu berbicara tentang AI dan nanobot. Pendeknya tidak se-sci-fi yang dikesankan dari ucapan Mas Shadows. Memang ini album terasa sekali album konsep, tapi hubungan antara lagu satu dan lagu selanjutnya tidak selinier yang mungkin kita harapkan. Beda sekali tentu saja dengan album Horslips The Tain (yang merupakan progmetisasi dari epik Irlandia tentang perebutan kerbau) atau album Dream Theater Scenes from Memory (yang berkisah tentang past life regression). Album ini merupakan satu kesatuan, tapi benang merahnya adalah tema. Mungkin, masing-masing lagu adalah puzzle yang menggambarkan kebingungan zaman ini terkait posisi kita manusia yang dalam sejarahnya cenderung menganggap berada di pusat semesta, atau kosmos untuk menggunakan istilah yang lebih ngepas dengan sampul album A7X.

Sekilas saja, di lagu pertama yang berjudul “The Stage” kita bisa mendengar renungan mengenai manusia yang mulai mempertanyakan posisinya di dunia. Di situ, Anda akan merasakan pertanyaan tentang benarkah kita ini ciptaan Tuhan, benarkah Tuhan mengawasi seluruh gerak kita, pantaskah setelah melihat ulah manusia yang brutal (bom nuklir!) kita tetap percaya adanya Tuhan yang mengawasi. Aku lirik dalam lagu itu bertanya siapakah yang mengawasi dari luar sangkar selagi kita berlaga di atas panggung ini? Pendeknya, lagu ini berisi pertanyaan eksistensial manusia. Dan ujung-ujungnya lagu ini bilang “aku percaya adanya jawaban, tapi tidak sekarang.”

Baru pada lagu kedua, “Paradigm,” kita bisa mulai merasakan nuansa fiksi ilmiah. Dalam lagu ini, kita mendengar lirik tentang tokoh yang sudah lama tidak bisa merasakan hidup bagai manusia biasa, tidak lagi sakit, tidak lagi butuh makan. Tapi dia tetap hidup. Dia tetap hidup, menjalani apa yang disebut di sini sebagai “paradigma akhir.” Kalau Anda mengikuti perdebatan mengenai “jiwa” dalam kacamata ilmu pengetahuan, pasti Anda akan segera memahami lagu ini. Dalam diskusi keabadian tersebut, ada argumen bahwa yang menjadi intisari dari jiwa manusia adalah isi pikirannya. Dalam argumen tersebut, bila isi pikiran tersebut diunduh dan kemudian disimpan ke dalam sebuh hard drive atau sejenisnya, maka “jiwa” seseorang akan tetap ada. Maka, jika yang seperti itu  bisa dilakukan, “keabadian” bukanlah sesuatu yang mustahil. Sebagai ilustrasi, ambillah contoh sosok Jor El, bapak si Superman. Si bapak sudah lama mati, tapi memorinya berhasil disimpan dalam pesawat yang membawa bayi Kal El ke bumi, dan saat memori itu diaktifkan, maka Jor El bisa hadir dan berkomunikasi dengan Superman, bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin lagi dijawab oleh Jor El yang asli (dia sudah wafat di planet Kripton sana). Memori Jor El bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Superman dan tetap memberi bimbingan dan hikmah kebijaksanaan karena memori itu sifatnya adalah Artificial Intelligence, isi pikiran Jor El yang masih aktif, yang masih bisa merespons hal-hal baru. Jor El, pendeknya, sudah mengalami “keabadian.” Dalam lagu “Paradigm,” hal itulah yang menjadi bahasan. Tapi, di lagu itu, si orang abadi menjadi sengsara, sebab dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Dia bertanya “Masihkah ada sisa manusia pada diri ini?” Nah!

Dua saja dulu ya? Lagu-lagu yang lain akan kita bahas dalam diskusi di Klub Buku dua minggu lagi. Di lagu-lagu lain ada bahasan tentang artificial intelligence yang membuat kita manusia terancam, karena kita yang dulu membuatnya, “tuannya, hanya menjadi batu pijakan” (lihat lagu “Creating God”). Ada juga lagu Fermi Paradox yang tentunya merupakan metalisasi dari paradoks bahwa “kemungkinan adanya makhluk lain di jagad raya ini sangat besar sementara bukti tentang keberadaan mereka sama sekali tidak ada.” Dan juga ada lagu “Exist” yang mungkin mengandung utopian impulse atau isyarat adalah harapan bagi umat manusia dan diakhiri dengan ucapan Neil deGrasse Tyson–fisikawan yang sering dianggap sebagai penerus Carl Sagan dan bahkan baru-baru ini menjadi pembawa acara Cosmos versi baru, yang tentunya merupakan TV-isasi dari buku Carl Sagan yang terkenal itu.

Kembali ke sampul album, mungkin kita bisa menafsirkan posisi bumi yang ditengah layar itu sebagai pandangan manusia yang masih merasa sebagai pusat semesta, tapi hal tersebut mungkin tidak lama, entah karena bumi akan dimangsa nebula dan sepasang kilat yang ada di sekitarnya itu, atau pula mungkin karena akan tumbuh kesadaran manusia bahwa kita ini hanya seujung upil dari jagad raya yang tanpa batas ini (itu kalau kita mempertimbangkan ucapan Neil deGrasse Tyson di lagu terakhir album ini).

Jadi begitulah menariknya album ini. Tentu masih ada hal-hal menarik yang bisa dibahas. Apakah munculnya The Stage ini adalah kaitannya dengan bergabungnya Brooks Wackerman, yang dari tahun 2001 hingga 2015 kemarin merupakan penggebuk drum Bad Religion, band punk yang pandangannya belakangan sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan biological anthropology Greg Graffin, yang merupakan seorang naturalis itu? Entahlah. Apa yang terjadi dengan Avenged Sevenfold sampai-sampai bergabungnya mantan penggebuk drum Bad Religion–yang bisa dibilang temponya relatif konstan itu–malah membuatnya memiliki tempo yang lebih warna-warni (progresif?)? Banyak pertanyaan lainnya. Mari kita jawab kalau ada waktu.

 

Pantai 3 Warna & Pengelolaan Wisata Alam yang Perlu Ditiru

(Versi yang lebih ramah koran dari tulisan ini dimuat di kolom Citizen Reporter koran Surya di sini dan pada edisi cetak koran tersebut Sabtu 4 November kemarin)

Pantai Tiga Warna adalah objek wisata alam di Malang Selatan yang wajib kawan-kawan kunjungi. Bukan sekadar karena objek ini kekinian dan layak-selfie. Tapi, setidaknya ada empat hal hebat yang sebagian tidak ada di mana pun di Indonesia. Klaim saya ini berdasarkan kunjungan saya ke Pantai Tiga Warna beberapa waktu lalu bersama kawan-kawan saya menerjemah di Transkomunika, dan ditambah dengan informasi yang saya peroleh dari acara “Bincang Alam” di P-WEC (sebuah balai edukasi konservasi di kawasan Dau, Kabupaten Malang) pada 15 Oktober 2017 lalu. Lebih dari sekadar urusan berwisata, mengunjungi Pantai Tiga Warna bisa menjadi pengalaman yang akan mengubah cara pandang kita memandang wisata alam.

Kepedulian. Objek wisata alam ini muncul kembali berkat kepedulian warga setempat yang ingin mengatasi kerusakan alam. Setelah pada awal tahun 2000-an hutan pantai selatan di kawasan ini rusak karena eksploitasi, warga berinisiatif untuk memperbaikinya. Maka, berkat pendampingan beberapa pihak dan kedisiplinan para warga setempat, kondisi alam di wilayah Pantai Tiga Warna mulai bisa dipulihkan.

Komitmen kebersihan. Pengelola objek ini berkomitmen memastikan kebersihannya. Ketika baru memasuki kawasan wisata, para pengunjung harus melewati pos pemeriksaan isi tas dan potensi sampah. Berapa botol air minum kemasan, isu basah, tas plastik, masker hidung, dan sebagainya, yang Anda bawa? Semuanya dicatat. Nanti, ketika meninggalkan lokasi, pengunjung harus kembali membawa barang-barang tersebut keluar. Kalau tidak, silakan pilih: kembali ke pantai dan mengambil sampah itu atau bayar denda Rp.100ribu.

Park Interpreter. Pengunjung harus ditemani pemandu dalam perjalanan dari pintu masuk hingga ke Pantai Tiga Warna. Setiap sepuluh orang harus disertai seorang pemandu. Kelompok saya dulu dipandu oleh Pak Pi’i dan mas Cepi. Pak Pi’i menceritakan riwayat pengembangan objek wisata alam ini dan upaya pemulihan alam yang telah ditempuh. Di kancah internasional, para pemandu ini disebut Park Interpreter, yang tugasnya menceritakan semua elemen, sejarah, dan kekhasan objek wisata. Hasilnya, para pengunjung dapat menghargai taman wisata ini lebih dari sekadar keindahan fisiknya.

Pembatasan. Pengelola membatasi jumlah pengunjung yang bisa berada di Pantai Tiga Warna dalam satu waktu sekaligus. Hanya boleh ada 100 orang dalam satu waktu (2 jam). Selama dua jam itu, pengunjung bisa menyewa pelampung dan alat snorkeling untuk melakukan untuk melihat kecantikan terumbu karang dengan ikan warna-warninya, satu hal yang langka di Jawa Timur.

Banyak lagi yang bisa dituliskan tentang Pantai Tiga Warna, ruang saya di sini sudah habis. Silakan kunjungi dan saksikan bagaimana objek wisata alam ini dikelola dengan disiplin dan rasa cinta. Menurut Agus Wiyono, kepala East Java Ecotourism Forum, penyaji di acara “Bincang Alam” yang saya sampaikan di atas, belum ada yang menyamai pengelolaan Pantai Tiga Warna ini di Indonesia. Jadi, pergilah ke sana, bukan hanya untuk selfie, tapi juga untuk melihat bahwa ada harapan cerah dalam pengelolaan wisata alam di Indonesia bisa ditiru. Dan inilah yang wajib diviralkan.

Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan: Katalog Penting Anti-Mati Gaya dalam Menulis Esai

Menurut Carl Sagan dalam Cosmos, bila dibandingkan dengan usia alam semesta yang ditaksir miliaran tahun, sejarah umat manusia ini tidak ada artinya. Saya pun menerima gagasan itu dan menjadikannya etos bagi saya. Maka, buku yang terbit pada tahun 2016, yang kini mungkin tidak lagi laku di pasar resensi media, adalah buku gres bagi saya, masih hangat dan meruapkan kesegaran. Apalagi kalau bukunya sepenting buku Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan ini. Muhidin memang sosok yang memiliki ketekunan mengarsip yang mendebarkan, tapi yakinlah postingan ini tidak hanya puja-puji belaka, saya punya stok kritik yang menurut saya perlu disampaikan di postingan ini juga.

Baiknya kita mulai dulu esai ulasan ini dengan menengok siapa itu Muhidin. Seperti saya singgung di atas, Muhidin adalah seorang pengkliping yang rajin, yang mengkliping berita-berita penting dari jaman dulu sekali hingga dewasa ini (atau “jaman now” istilah kacau sekarang). Kalau ada kejadian-kejadian penting dan media mengulasnya, hampir bisa dipastikan Muhidin mengklipingnya. Sekilas saja dari ingatan saya: bapak Budiono diangkat jadi wapres, Muhidin punya beritanya; bapak Budiono kembali ke kampus UGM dengan penampilan seperti telah bekerja keras selama lima tahun menjawab, Muhidin mengkliping beritanya. Itu baru soal Bapak Mantan Wapres Budiono. Belum lagi soal lain.

Nah, buku Inilah Esai ini, saya yakin, juga hasil dari pekerjaan mengarsipkan yang tekun, terutama mengarsipkan esai-esai yang menurutnya bagus. Dari daftar seratusan esai yang menurutnya bagus itu (yang saat jadi buku bisa sepanjang 11 halaman itu), jadilah buku ini sebagai hasil pilah-pilih bagian-bagian terbaiknya. Ibaratnya: buku Muhidin yang satu ini adalah hasil kerja jangka panjang sejak masa dia mulai mengkliping hingga masa buku ini rampung dituliskan.

Menarik, nggak, kira-kira? Silakan dijawab dalam hati.

Beberapa hari yang lalu, di mata kuliah Study Skills (yang bertujuan mengajarkan baca-tulis buat mahasiswa di kampus saya), saya bertanya bagaimana sikap para mahasiswa saya terkait menulis. Kebanyakan santai, tapi ada satu yang bilang takut (yang tentunya disambut candaan temannya: “Jadi, begitu kamu mengetik, kamu langsung melompat girap-girap begitu?”). Saya yakin ketakutan seperti itu nyata, karena tidak sedikit penulis pemula yang seringkali tidak tahu apa yang harus dituliskan.

Di sinilah pentingnya buku tulisan Muhidin ini. Buku ini tidak hanya memberikan uraian dan gambaran umum atas genre esai (seperti dalam bab-bab awal yang membahas soal mukadimah, penyusunan gagasan, dan pendekatan atas topik), tapi dia juga memberikan panduan-panduan praktis mengenai mengisi setiap bagian penting esai (mulai judul, pembuka, isi, dan penutup). Dia kelompok yang kedua inilah, menurut saya, nilai terbesar dari buku ini. Dengan sifat royalnya dalam memberikan berbagai contoh judul, pembuka, penyusunan isi, dan penutup, seseorang yang ingin serius menulis esai bisa mengantisipasi risiko mati gaya dalam menanam esai. Gampangannya, asal si penulis mau bertanggung jawab mencari sumber untuk esainya, dia tidak perlu terlalu takut dalam mengolah sumber-sumber itu menjadi esai dengan bantuan buku ini.

Muhidin mengantarkan definisi esai dengan cara yang santai dan syarat rujukan, meskipun tanpa menyempatkan diri menawarkan definisi yang secara tegas dan definitif, yang mungkin diharapkan pembaca yang ingin ketegasan. Dari Michel de Montaigne, yang tersohor sebagai bapak esai, Muhidin menyitir arti esai sebagai “coba-coba” dan bahwa kumpulan esai Montaigne adalah tulisan pusparagam. Pandangan dari para esais lain, mulai dari Gus Dur, Cak Nun, hingga Zen RS, juga disinggung, yang bisa dibilang nyaris mufakat mengatakan bahwa esai adalah tulisan yang santai, yang memiliki elemen puisi/prosa sekaligus ilmiah.

Nah, mulai bagian bentuk esai, kita bisa mendapat buah pengarsipan dan kategorisasi Muhidin. Untuk bentuk esai, kita bisa melihat beberapa kategori bentuk esai yang ditemukan Muhidin dari keseratus lebih esai yang dia gunakan untuk menyusun buku ini: surat, puisi naratif, percakapan, kritik yang melengkung, obituary, pengantar buku, dan sebagainya. Di bab yang mengusung judul, ada sejumlah kategori: mengajak berkelahi, perbandingan,bertanya, kutipan, dan seterusnya. Begitu juga dengan bab-bab lain. Tidak ada kesan bahwa hanya itulah kategori esai yang ada; kalau kita mau mencari lebih lanjut, mungkin dengan memperluas cakupan bahasa esai-esai ini, mungkin (nyaris) tidak akan ada Batasan cara membuat judul. Toh, esai itu sendiri kan bisa dimaknai “coba-coba,” jadi ya selama otak manusia masih belum purna tugas, tetap akan ada cara baru membuat judul esai.

Untuk mendukung kategori-kategori itu, Muhidin memberikan contoh-contoh yang siap santap. Untuk membahas kategori membuka esai kutipan, misalnya, kita mendapat nukilan pembukaan dari sebelesa esai, termasuk di antaranya esai Ignas Kleden, Karina Leksono-Supelli, dan Mas Marco. Saya sebut siap santap Karena yang dinukilkan hanya bagian pembukaan saja. Banyak buku panduan menulis yang suka memberikan penjelasan tegas dan definitif, tapi pada gilirannya memberikan contoh, kita harus lompat ke bagian “apendiks” untuk membaca keseluruhan buku.

Tidak ada satu pun di dunia ini yang sempurna, semua tahu. Pada Inilah Esai, satu titik yang menjadikannya tidak sempurna itu adalah pada bab pembahasan isi esai. Muhidin memfokuskan pada pengembangan esai melaui kutipan dan, mengikuti salah satu pesohor dunia esai Indonesia, isi sebuah esai pada intinya adalah deskripsi, atau menjabarkan tentang sumber. Pendekatan atas isi ini menjadikan pembahasannya sangat terbatas, berbeda dengan pembahasannya atas judul, pembuka, dan penutup esai yang menghadirkan berbagai contoh. Bukannya membahas berbagai cara yang ditempuh para “pesohor” itu dalam mengembangkan gagasan pengisi esai, Muhidin memfokuskan pada bagaimana mereka mengolah kutipan, yang bisa dibilang hanya satu dari cara mengisi esai.

Dalam buku Process, Form, and Substance: A Rhetoric for Advanced Writers, Richard M. Coe meminjam dan menerapkan konsep heuristik dalam kepenulisan. Istilah heuristik ini lazim dipakai dalam bidang matematika dan ilmu komputer untuk mengacu pada urutan langkah dalam penyelesaian masalah atau persoalan. Menurut Coe, setiap penulis menggunakan langkah-langkah tertentu dalam menyelesaikan tugas menulisnya. Ada yang menggunakan pertanyaan (termasuk di sini pendekatan 5W+1H dalam penulisan jurnalistik itu), topoi gaya Aristoteles (yang menggunakan puluhan prinsip logika untuk menjari jawab atas soal-soal tertentu), pendekatan Kenneth Burke (yang dipakai untuk mengetahui motif sesuai dengan menyoroti pelaku, aksi, latar, peran, dan tujuan), dan sebagainya.

Alangkah tambah mantapnya bila Muhidin juga menyingkap strategi pengembangan isi para pesohor tersebut selain menggunakan kutipan. Mungkin, sudah cukup melengkapi kebutuhan kita para pembaca bila yang mulia Muhidin kelak melakukan analisis retorika atas esai-esai favoritnya (segelintir saja!), biar kita bisa tahu bagaimana Ignas Kleden mengembangkan esainya yang membuka buku Enam Pertanyaan untuK Sastra Indonesia itu, atau bagaimana Bung Hatta mengembangkan esai “Indonesia Menggugat” itu. Saya sangat yakin, Muhidin adalah orang yang tepat untuk mengurai esai-esai kegemarannya tersebut. Sejauh ini, kita tahu bagaimana dia mengurai cara Bung Karno menyusun esai “Indonesia Merdeka” dengan menggunakan berbagai sumber yang mewakili berbagai ideologi itu. Tolong jangan anggap saya mengabaikan prestasi Muhidin tersebut.

Akhirul esai, saya teringat sebuah acara pelatihan penulisan esai yang saya ikuti (secara tidak resmi) pada awal September ini. Ketika itu, Prof. Djoko Saryono, guru besar di Universitas Negeri Malang sekaligus penulis yang ultra-produktif, menjadi pemateri pelatihan esai yang pesertanya adalah guru-guru muda yang baru menghabiskan waktu setahun mengajar di sekolah-sekolah di berbagai kawasan yang relatif terpencil. Para guru muda ini berencana menuliskan hasil imersi mereka selama setahun itu dalam berbagai bentuk. Sambil makan pisang dan wedang jeruk, saya menyaksikan bagaimana materi dari Prof. Djoko dan mentoring dari Denny Mizhar sepanjang hari itu tampak membuat mereka bergairah untuk mulai menulis—meski banyak di antaranya yang sama sekali tidak pernah menulis. Sekarang, saya bayangkan, buat kawan-kawan yang sudah memiliki semangat menulis (atau “spirit api,” dalam terminology Naruto Shippuden), saya yakin buku Inilah Esai ini akan menjadi semacam katalog yang bermanfaat, yang dari daftar isinya saja para calon penulis esai bisa menaksir dan memilih cara mereka menyusun balok-balok gagasan menjadi esai, secara tangkas, seperti para pesohor itu.