Moemie: Fiksi yang Memantik Hasrat Menggali Fakta

(Ini satu lagi resensi yang tidak termuat di media, yang harus saya sampaikan kepada sidang jamaah blog sekalian daripada menjamur di folder. Kayaknya suatu saat saya perlu bikin tag khusus “tulisan yang ditolak media” :D.)

Moemie

Judul buku      : Moemie, Gadis Berusia Seratus Tahun
Penulis             : Marion Bloem
Penerjemah      : Widjajanti Dharmowijono
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : Oktober 2016
Halaman          : 621 hal

Moemie Gadis Berusia Seratus Tahun bukanlah jenis novel yang biasa hadir di Indonesia. Novel ini ditulis seorang penulis Indo-Belanda. Sejauh ini, hanya sedikit karya penulis Indo-Belanda yang telah diterbitkan di Indonesia. Tapi, yang kurang disadari adalah, dari segelintir novel itu banyak yang bisa dapatkan tentang sejarah bangsa Indonesia sendiri.

Moemie mengisahkan hidup seorang perempuan unik. Meski terlahir dari seorang perempuan Bali, selama masa mudanya Moemie tidak pernah tahu asal-usulnya. Dia berpindah dari satu keluarga angkat ke keluarga angkat lainnya. Dan ketika dia mendapati bahwa dirinya memiliki kemampuan waskita (bisa mengetahui masa lalu dan masa depan seseorang hanya dengan memandangnya) hidup Moemie berangsur-angsur berubah. Dari anak angkat, dia sedikit demi sedikit mempengaruhi hidup keluarga Indo yang menjadikannya anak angkat. Hingga akhirnya Moemie menjadi semacam pimpinan tak resmi keluarga Indo ini. Moemi memastikan keluarga ini tetap utuh, hingga akhirnya mereka meninggalkan Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan.

Namun, kisah fantastis Moemie dengan kemampuan supranaturalnya ini bisa dibilang hanya sebagian kecil dari pesona novel ini. Justru kisah orang-orang di sekeliling Moemie itulah yang akan memantik penasaran pembaca Indonesia. Kisah dari perspektif keluarga Indo ini mempertemukan kita dengan hal-hal yang tidak lazim dibicarakan dalam “sejarah nasional” Indonesia.

Hal pertama yang menonjol di sini adalah bagaimana novel ini menyajikan perihal Indonesia dan Belanda masa masa pra-kemerdekaan secara penuh nuansa dan tidak hitam-putih. Di sini, orang-orang Indo dihadirkan dengan kompleksitas emosinya. Salah seorang karakter Indo memiliki cinta yang amat besar kepada tanah Jawa dan tidak bisa membayangkan akhirnya harus meninggalkan tanah kelahirannya ini. Baginya, Belanda adalah sebuah negeri yang aneh dengan cuaca musim dingin yang membuatnya tidak nyaman.

Selain itu, hubungan sosial antara kaum Indo ini dengan demografi orang Hindia Belanda juga terasa hidup. Hubungan di antara orang Indo dan Belanda murni, antara Indo dan Tionghoa, dan Indo dan pribumi, dan bahkan antara Indo dengan serdadu Jepang–semuanya digambarkan dengan insiden yang memberi gambaran yang lebih hidup tentang masa pra-kemerdekaan. Detil hidup seperti ini seringkali lolos dari gambaran sejarah nasional yang diajarkan di sekolah. Ini berbeda dengan film-film perjuangan Indonesia, yang seringkali menggambarkan tokoh Indo dengan stereotipe “meneer kompeni.”

Selain itu, kita akan melihat bagaimana identitas etnis di masa kolonial sebagai sesuatu yang cair. Identitas ras di sini mirip dengan apa yang diteorikan dalam kajian pascakolonial: “ras” adalah konstruksi sosial. Seseorang menjadi Indo atau pribumi atau Belanda lebih karena faktor-faktor eksternal. Salah satu adegan menarik di novel ini menunjukkan seorang karakter Indo yang bisa berubah menjadi Jawa hanya dengan memakai kopyah dan kembali menjadi Indo dengan menunjukkan sebuah surat keterangan yang diterbitkan oleh otoritas.

Hal terakhir yang juga bisa kita temukan dari novel ini adalah tentang evolusi bahasa Indonesia dari bahasa pinggiran menjadi bahasa utama. Bila secara umum siswa di Indonesia mendapatkan kesan bahwa Bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu sejak 1928, maka novel ini memberikan gambaran yang lebih bagus. Tokoh Moemie mengamati bagaimana awalnya komunikasi hanya terjadi dalam bahasa Belanda (untuk urusan resmi) dan bahasa Jawa (untuk urusan jual-beli). Bahasa Melayu ketika itu hanya ada di pinggiran. Tapi, ketika Jepang mulai menduduki Indonesia, bahasa Melayu berangsur-angsur semakin mengemuka, hingga akhirnya menjadi bahasa resmi pasca kemerdekaan. Hal ini selaras dengan hasil penelitian James S. Sneddon tentang sejarah bahasa Indonesia dalam buku The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society.

Pembaca mungkin akan bertanya: apa mungkin menjadikan karya fiksi sumber pengetahuan sejarah? Pertanyaan ini wajar, karena bagaimanapun fiksi adalah hasil imajinasi.

Namun, Moemi sebenarnya tidak terlalu jauh terpaut dari ilmu sejarah. Dalam sebuah wawancara, Marion Bloem menceritakan bahwa dia mendapat bahan untuk buku ini melalui wawancara dengan orang-orang Indo di Belanda yang sempat mengalami masa kolonialisme di Indonesia. Marion Bloem sendiri lahir dua tahun setelah orang tuanya (Indo) pindah ke Belanda dari Indonesia. Dengan kalimat lain, Marion Bloem mencari bahan menggunakan teknik penggalian sejarah lisan, sejarah yang bukan dari artefak fisik, tapi dari perkataan dan hasil ingatan. Atau, Moemie adalah hasil historiografi dalam bentuk fiksi.

Memang, di masa kini, ketika sejarah lisan kurang mendapat kredit (kecuali hadits, yang juga termasuk sejarah lisan), Moemie tidak akan bisa memberikan bahan buku pelajaran sejarah. Namun, dengan keselarasan antara penggambaran dalam Moemie dengan penelusuran sejarah bahasa Indonesia, teori pascakolonial, dan sejumlah faktor lain, apa yang ditawarkan Moemie mestinya bisa memancing rasa penasaran kita mengenai sejarah bangsa sendiri.

Masih terlalu banyak yang belum kita ketahui tentang Indonesia pra-kemerdekaan, padahal zaman itu belum juga terlalu jauh jika dibandingkan dengan umur peradaban manusia di Nusantara. Dan hendaknya hal seperti ini menjadi keprihatinan bersama. Kita sudah lama mendengar “Jas Merah” atau “Jangan Sampai Melupakan Sejarah.” Tapi, masalahnya adalah: bila kita tidak tahu banyak mengenai sejarah kita, apa yang akan kita lupakan?

Advertisements

Yesus, Hussain, dan Obi Wan Kenobi, sebuah Analogi

Saya punya dosen di Amerika Sebelah Sini yang sangat gemar Star Wars dan memiliki pengetahuan sangat luas tentang sejarah dan perkembangan agama. Alhasil, ada saat-saat tertentu ketika racikan dari dua elemen ini menjadi informasi yang sangat kuat menancap di pikiran. Salah satunya adalah bagaimana dia menjelaskan signifikansi penyaliban Yesus dan pembantaian Hussain bin Ali bin Abi Thalib dengan analogi transformasi Obi Wan Kenobi.

Bagaimana jelasnya?

Saya yakin sudah mulai jelas bagi Anda, tapi tak ada salahnya saya buat lebiih gamblang. Menurut orang yang paham tentang Yesus, Yesus tahu sejak awal bahwa salah satu orangnya akan berkhianat dan membocorkan informasi kepada prajurit Romawi yang selanjutnya akan menangkapnya dan menghukumnya. Episode di Hutan Getsemani menjadi bagian yang menjelaskan posisi Yesus di sini. Tapi Yesus tidak melarikan diri. Dia punya prinsip dan tahu yang dia ajarkan tidak salah. Maka, dia pun ditangkap dan disalib.

Demikian halnya dengan Hussain, dia tidak mau berkompromi dengan Yazid bin Muawiya, seorang korup yang mewarisi kerajaan Arab. Abang Hussain, Hassan, putra Ali bin Abi Thalib sudah merelakan haknya menjadi pimpinan, tapi tidak melakukan perlawanan. Sementara itu, Hussain sama sekali tidak mau berkompromi dengan Yazid yang dia anggap korup. Pada saat yang sama, ada kelompok dari Basra yang menjanjikan bantuan untuk melawan Yazid. Maka dia pun berangkat. Sebelum sampai Basra, di Karbala, dia dikepung oleh pasukan Yazid. Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu dia dibantai.

Yang mirip, kedua tokoh ini memang meregang nyawa, tapi kematiannya berubah menjadi kekuatan bagi mereka. Yesus akhirnya menjadi Kristus, yang justru ajarannya semakin berkembang selepas penyalibannya. Ajaran Kristus yang awalnya dianggap subversif bagi pemerintahan Romawi beberapa abad kemudian menjadi agama resmi Romawi. Sama halnya dengan Hussain, mengkatnya Hussain memperkokoh keyakinan orang-orang yang awalnya “hanya” mendukung Ali menjadi sebuah aliran keagamaan tersendiri. Para pendukung Ali ini yakin Nabi Muhammad dalam suatu kesempatan–ketika beristirahat di sebuah oasis dalam perjalanan menuju Mekkah–menunjuk Ali sebagai penerusnya, sebagai mandataris, sebagai khalifah. Setelah tragedi Karbala ini, Hussain menjadi simbol yang kokoh atas tertindasnya para keturunan Ali bin Abi Thalib. Dus, kematian Hussain menjadi titik transformasi Hussain menjadi kekuatan yang lebih.

Transformasi dari kematian menuju kekuatan ini tampak sangat gamblang saat dosen saya itu menggunakan mangkatnya Obi Wan Kenobi sebagai analogi. Dalam pertemuan pertama Obi Wan Kenobi dan Darth Vader setelah dua puluhan tahun, mereka bertarung pedang cahaya. Saat ini Darth Vader sudah jauh lebih kuat, sudah all-out merangkul ideologi Kegelapan dan Obi Wan \sudah lama tidak bertarung dan menggunakan tenaga dalamnya. Obi Wan tahu dia akan tumbang oleh Darth Vader, tapi dia mengulur sedikit. Dia pastikan Luke Skywalker melihat sendiri bagaimana Darth Vader membabatnya. Dan ketika Luke sudah bisa melihat dengan gamblang, Obi Wan membiarkan Darth Vader membabatnya, tapi dia tidak lupa berpesan: “Kalau kau bunuh aku, aku akan menjadi lebih kuat dari yang bisa kau bayangkan.” Darth Vader membabatnya. Obi Wan pun sirna. Dia tidak bisa hidup lagi. Tapi dia menjadi “spirit,” menjadi roh, menjadi hologram, menjadi penyemangat, yang terus bisa membimbing Luke Skywalker. Dan kita tahu bagaimana akhir dari trilogi pertama Star Wars, Luke berhasil “mengalahkan” Darth Vader. Tidak mengalahkan dalam artian membunuhnya, tapi membunuh ideologi kegelapan yang selama ini memberinya kekuatan, dan menghadirkan kembali sisa-sisa Anakin Skywalker yang tersisa dalam diri Darth Vader. Kekuatan Obi Wan maujud dengan tumbuhnya Luke menjadi Jedi terakhir (setidaknya sebelum The Force Awakens).

Dengan analogi segamblang itu, bagaimana Anda bisa lupa signifikansi penyaliban Yesus dan pembantaian Hussain di Karbala? Ini dosen saya itu.

Hari Raya Dilematis

Tibalah saatnya hari raya paling raya di Negeri Aa’ Sam: Thanksgiving, atau Hari Raya Panjat Syukur. Orang-orang di negeri ini merayakan hari besar ini tak peduli apapun agama mereka–Kristen, Katolik, Yahudi, Islam, Sikh, Hindu, dll. Tapi, kalau kita menilik sedikit saja sejarah di balik hari raya ini, tak urung kita akan mendapati sesuatu yang janggal: hari raya ini memperingati upacara syukuran karena keberhasilan panen pertama para pendatang yang kelak anak turunnya akan menguasai tanah Amerika Utara ini, dan memojokkan dan bahkan membantai orang-orang pribumi yang memungkinkan mereka berhasil panen untuk pertama kalinya. Makanya, banyak juga sebenarnya orang-orang di Negeri Aa’ Sam (bahkan yang kulit putih) yang mengkritisi hari raya ini. Bagi blogger Anda ini secara pribadi, tentu ini hari raya yang dilematis. Kenapa?

Sebelum terlalu jauh, perlu kita akui bahwa sejarah Thanksgiving sepertinya tidak terlalu penting lagi bagi banyak orang saat ini. Kebanyakan orang saat ini memahami Thanksgiving sebagai hari untuk bersyukur atas apa-apa yang berarti bagi hidup kita saat ini. Dan bagi banyak orang lainnya, terutama orang-orang yang baru tinggal di Amerika (entah itu imigran maupun mahasiswa), terutama yang cukup duit, Thanksgiving adalah saatnya belanja karena pada saat itu toko-toko jor-joran memberi diskon. Begitu juga dengan toko-toko online: mereka juga jor-joran memberi diskon.

Seperti apa sejarahnya? Menurut versi resmi ensiklopedia (seperti ini, misalnya, yang ditulis untuk konsumsi anak-anak tapi tidak simplistik dan tidak menyesatkan) begini singkatnya: 1) Thanksgiving yang pertama diadakan pada tahun 1621, untuk merayakan keberhasilan panen pertama para pendatang eropa (yang disebut “pilgrim” atau “peziarah,” yang merupakan kelompok separatis relijius yang merasa tidak bisa menjalankan agamanya dengan bebas di Inggris, yang juga disebut sebagai kaum Puritan). Sebelum panen pertama ini, mereka masih tinggal di kapal di perairan New England (Amerika Timur Laut) dan banyak dari mereka yang mati karena kelaparan dan kurang gizi pada musim dingin sebelumnya. Dan keberhasilan mereka ini dikarenakan bantuan Squanto, seorang pribumi yang bisa berbahasa Inggris karena sebelumnya pernah menjadi budak orang Inggris dan meloloskan diri. Keberhasilan panen ini dirayakan dengan pesta tiga hari berturut-turut, disertai sumbangan lima ekor rusa dari para penduduk pribumi. Selanjutnya, 2) seabad lebih kemudian Thomas Jefferson mencanangkan peringatan Thanksgiving pertama tadi secara resmi. Dan, belakangan 3) seratus tahun selanjutnya, atas desakan dan kampanye penulis Sara Josepha Hale (yang menciptakan lagu “Marry Had a Little Lamb”), Abraham Lincoln mencanangkan Thanksgiving sebagai hari raya nasional di tengah Perang Saudara. Jadi, secara umumnya, merayakan Thanksgiving adalah mengingat kembali keberhasilan panen yang terwujud oleh semangat kerukunan dan kerjasama antara orang kulit putih dengan penduduk pribumi pada tahun 1621 itu.

Tapi, apakah seindah itu? Sayangnya tidak, dan ketidakindahan sejarah ini adalah apa yang terjadi beberapa dekade setelah itu.

Setelah perayaan Thanksgiving pertama itu, hubungan antara para pendatang Eropa dengan penduduk pribumi tidak indah. Banyak di antara pendatang ini yang menganggap orang pribumi itu sebagai orang yang belum beradab, dan harus diadabkan. Dengan itu, Kristenisasi penduduk pribumi mulai berjalan. Kemudian banyak terjadi konflik antara pendatang dan pribumi, terutama karena pribumi merasa semakin terdesak. Janji peradaban melalui agama juga ternyata tidak terwujud. Banyak pribumi yang sudah Kristen (yang disebut “Indian Sembahyang”) yang akhirnya disisihkan, dikumpulkan jadi satu di pulau dan dibiarkan kelaparan. Banyak terjadi peperangan yang berlanjut dengan pembantaian dan pembudakan para penduduk pribumi. Pendeknya, dalam lima puluh tahun saja, sebagian besar penduduk pribumi di kawasan Amerika Timur Laut itu habis.

Memang, tidak semua pendatang Eropa seperti itu. Menurut Akbar Ahmed, penulis buku Journey into America: The Challenge of Islam, ada tiga kelompok identitas Amerika (primordial, pluralis, dan predator). Kelompok yang saya sebutkan di atas itu adalah kelompok yang “primordial” (yang ingin meng-Kristen-kan Amerika) dan golongan “predator” (yang ingin menumpas siapa saja yang berbeda paham dengannya, entah karena perbedaan ras maupun perbedaan agama). Ada juga pada masa pendatang awal itu yang merupakan golongan “pluralis.” Salah satu tokohnya adalah Roger Williams, yang terbilang sekuler dan berbeda paham dengan orang-orang primordial kebanyakan, hingga dia nyaris saja dipulangkan kembali ke Inggris. Untungnya Roger Williams dan orang-orang yang sepaham dengannya melarikan diri dan membentuk komunitas sendiri di kawasan yang akhirnya menjadi negara bagian Rhode Island. Di kawasan ini, Roger Williams dan kelompoknya membuat kesepakatan untuk memisahkan antara pemerintahan dan keagamaan, menganggap kaum pribumi dan pendatang Eropa setara, mengharamkan perbudakan. Kelak, ketika para “founding father” menyusun naskah proklamasi dan Undang-undang Dasar Negeri Aa’ Sam, pandangan yang memisahkan antara agama dan pemerintahan inilah yang akhirnya diusung. Jadi, memang selalu ada kelompok orang Eropa yang cenderung welas asih terhadap sesamanya di negeri Amerika ini, yang bahkan menentang perilaku pendatang/keturunan Eropa lainnya terhadap penduduk pribumi.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan perayaan Thanksgiving itu sendiri? Apakah merayakan keberhasilan panen yang diwarnai kerukunan itu bisa dipisahkan dari sejarah kelam yang terjadi setelah jamuan makan tiga hari tiga malam itu? Banyak orang Amerika yang dengan itikad baik merayakan Thanksgiving ini sebagai momen untuk mengucap syukur atas segala rahmat yang mereka dapatkan dalam hidup. Banyak juga para imigran baru (tak peduli dari budaya manapun dan agama apapun) yang merangkul tradisi ini dan merayakannya dengan makan kalkun, kaserol buncis, pie labuh, jus kranberi. Saya sendiri merasa dilematis. Karena, kalau kita tahu laju sejarah Negeri Aa’ Sam ini dan tetap merayakannya, berarti kita mengabaikan begitu saja dan membiarkan kekelamannya terlewat begitu saja. Sementara, kalau kita tidak semapt tahu sejarahnya, sama artinya kita merayakan sebuah hari dengan makan-makan dan belanja tanpa tahu bahwa di balik hari yang kita rayakan itu ada sejarah kelam. Dan, bagi saya pribadi, kalau harus mengangkat tema seperti ini dalam perbincangan dengan kawan-kawan saat makan-makan, tentu saja saya jadi perusak kebahagiaan. Apalagi, orang-orang yang pernah mengundang saya dalam makan-makan Thanksgiving itu biasanya adalah orang-orang yang baik, yang mengadakan jamuan itu dengan itikad baik. Sebagian dari mereka adalah dosen, warga lokal yang memang ingin mengundang mahasiswa asing, atau teman-teman sesama warga Indonesia di Amerika sebelah sini. Dilematis bukan?

Memang dilematis merayakan sesuatu yang, bagi pribumi Amerika khususnya, merupakan awal dari sejarah kelam. Bayangkan kalau Anda orang pribumi Amerika yang sekarang tinggal di reservasi (atau kakek moyang Anda disuruh pindah ribuan kilometer karena tanahnya diambil pemerintah)? Bisakah Anda merayakan hari raya seperti itu? Dalam video ini, Anda bisa melihat apa yang terlintas di pikiran anak-anak muda pribumi ini saat mendengar kata Thanksgiving. Sebagian dari mereka tidak memungkiri Thanksgiving adalah saat berbahagia bersama keluarga, dan banyak yang langsung merespon sengit. Tapi salah seorang perempuan mengatakan bahwa “Thanksgiving adalah saat bersenang-senang dengan keluarga, sambil mencoba mengabaikan sejarah di baliknya! (Lihatlah video bagaimana anak-anak pribumi ini merespon buku anak-anak tentang Thanksgiving). Buat kita bangsa Indonesia, yang pernah mengalami penjajahan dan kemudian berhasil “menyatakan kemerdekaannya,” semestinya tidak sulit membayangkan kalau kita berada pada posisi anak-anak pribumi ini.

Begitulah dilematisnya Thanksgiving, menurut saya. Entah, apa mungkin suatu saat kelak Negeri Aa’ Sam menyadari dilema di balik perayaan Thanksgiving ini. Menurut saya sangat mungkin. Saat ini saja ada kelompok-kelompok yang memilih “merayakan” Thanksgiving sebagai Hari Perkabungan Nasional. Gerakan protes ini diadakan setiap tahun di kawasan New England, dekat Plymouth Rock, tempat pertama kali para “pilgrim” mendarat dengan kapal Mayflower. Kesadaran akan beratnya sejarah di balik Thanksgiving ini terbilang semakin besar, tidak hanya di kalangan penduduk pribumi, tapi juga di kalangan orang-orang kulit putih (baik keturunan para pendatang Puritan maupun imigran Skotlandia-Irlandia, Irlandia, Italia, dll. yang datang belakangan). Atau, contoh lainnya adalah bagaimana perayaan Hari Kolombus yang akhir-akhir ini sudah mulai meningkat kontroversinya. Banyak kota dan negara bagian yang memutuskan untuk tidak merayakan Hari Kolombus ini (karena alasan yang sama: kedatangan Kolumbus adalah awal kolonisasi) dan bahkan mengubahnya menjadi Hari Bumiputera.

Jadi, bukan tidak mungkin perayaan Thanksgiving yang sekarang merupakan hari raya terbesar Amerika ini suatu saat akan berubah. Kalau Anda ingat satu adegan dalam film With Honors (yang dibintangi Brendan Frazer itu), tokoh utama tunawisma menjawab: kejeniusan Undang-undang Dasar Amerika adalah bahwa dia sadar bahwa dia tidak sempurna, sehingga membuka kesempatan untuk diamandemen. Kalau Undang-undang Dasarnya saja membuka diri terhadap amandemen, pasti tradisinya juga membuka diri terhadap perubahan. Tentunya perubahan yang baik dalam hal Thanksgiving ini adalah perubahan yang menjadikannya tidak dilematis lagi. Tapi, saya bayangkan perubahan terhadap Thanksgiving ini tidak akan semudah perubahan dari Hari Kolumbus menjadi Hari Bumiputera. Kenapa? Karena sepertinya Thanksgiving ini sudah dimiliki oleh korporasi-korporasi besar yang menjadikannya sarana meraup untung besar-besaran. Mulai pabrikan barang elektronik sampai pabrikan jaket, mulai swalayan betulan hingga toko online, semuanya turut mendapatkan untung besar-besaran dari Thanksgiving. Dan biasanya yang seperti ini, yang tidak politis seperti ini, yang lebih bisa dinikmati tanpa repot-repot. Dan saya sendiri, seperti biasa, ada kesempatan untuk merenungkan dan menuliskannya karena memang belum punya cukup modal untuk ikut berpesta.

Pribumi, Ilalang, Bison, dan Sisa-sisa Kolonialisme

Di zaman pra-kolonial atau pra-pendudukan, kawasan yang sekarang menjadi negara bagian Kansas, Nebraska, Wyoming dan Montana adalah kawasan yang dikenal sebagai Dataran Agung atau “Great Plains.” Kawasan ini berbukit-bukit dengan vegetasi utama berupa rerumput ilalang. Dalam bahasa Inggris disebut “prairie.” Di kawasan Dataran Agung ini, terdapat satu bagian khusus yang ditandai dengan satu-satunya vegetasi berupa “rumput tinggi” atau “tallgrass.”

Di kawasan rumput tinggi inilah dulu kita bisa lihat kerbau liar Amerika atau bison (nama resmi spesiesnya “Bison bison”). Binatang besar dengan bulu super kasar dan hangat ini adalah sumber utama makanan para penduduk pribumi di kawasan ini, yg secara kolektif disebut “Plains Indian” atau “Pribumi Dataran Agung.” Di antara suku-suku Indian Dataran Agung ini kita kenal nama Sioux dan Kiowa.

Sejak awal abad ke-19, para pribumi dataran agung ini terdesak oleh pendatang eropa yang oleh pemerintah Amerika dianjurkan untuk menempati kawasan ini dengan imbalan tanah berhektar-hektar. Kawasan padang ilalang yang subur ini pun berangsur-angsur berkurang karena para pendatang menggunakannya untuk menanam bahan pangan seperti gandum, jagung, dan lain-lain. Nasib para bison pun kurang lebih sama. Angkatan Bersenjata Amerika, yang didatangkan untuk menjaga keselamatan para pendatang Eropa, mendesak para pribumi. Sering terjadi pertempuran dan saling bantai. Untuk mendukung proyek pelemahan para pribumi dataran agung ini, Angkatan Bersenjata Amerika dan Pemerintah Amerika menggalakkan perburuan bison, yang kulitnya sangat cocok untuk menahan dingin di musim dingin. Artikel wikipedia tentang perburuan bison ini mungkin bisa jadi gerbang untuk mulai memahami interaksi antara vegetasi, fauna, kolonialisme, dan penyisihan pribumi.

Kini, di kawasan Kansas, hanya tersisa sekitar 4% saja dari ekosistem padang rumput tinggi. Demi melestarikan sisa-sisa ekosistem penting ini, pemerintah Aa’ Syam menjadikan yang 4% ini sebagai “Tallgrass Prairie National Preserve.” Untuk melengkapi ekosistem ini, didatangkanlah bison-bison liar dari kawasan South Dakota. Dan untuk memaksimalkan potensinya sebagai institusi pelestarian, maka dibuatlah jalur-jalur daki di kawasan taman nasional ini. Dengan berjalan sekitar 5 kilometer dari bibir taman nasional, kita bisa melihat bison-bison merumput santai.

Sayangnya, ketika tiba di sana, hari sudah sore dan saya tidak sempat masuk ke dalam taman nasional sendiri. Maka, dengan berat hati saya hanya bisa memposting foto kuda yang kebetulan ada di bibir taman nasional ini. Di latar belakang foto ini Anda bisa lihat padang ilalang yang dalam bahasa kita mungkin dikenal sebagai “bukit teletubbies.”

Seekor kuda di sore yg menua, tepat di belakang bangunan pengelola Padang Lindung Rumput Tinggi.
Seekor kuda di sore yg menua, tepat di belakang bangunan pengelola Padang Lindung Rumput Tinggi.

Untungnya, sebelum ke Tallgrass Prairie National Preserve kami sempat mampir ke Maxwell Wildlife Refuge, yang merupakan sebuah kawasan penyelamatan satwa langka seluas lebih dari 900 hektar yang vegetasinya asli campuran antara padang ilalang dan hutan-hutan semak. Di kawasan ini kita bisa banyak melihat bunga liar dan bison dan elk (binatang dari keluarga kijang tapi setinggi sapi dan memiliki tanduk bercabang-cabang indah. Berkat kebaikan hati Betty Schmidt, relawan pengelola kegiatan pembelajaran di Maxwell Wildlife Refuge, dan fotografer Jeff Heidel dan Jim Griggs (yang karir fotografinya cukup moncer dan banyak fotonya diterbitkan oleh National Geographic), saya berkesempatan mendekati ke tempat nongkrong para bison. Berikut ini salah satu foto yang saya ambil:

Komunitas bison di Maxwell Wildlife Refuge
Komunitas bison di Maxwell Wildlife Refuge

Kamus al-Andalus atau Spanyol 711-1609

Ini adalah awal sebuah seri postingan yang saya harap bisa bermanfaat buat saya sendiri selaku khatib dan Anda sekalian para jamaah blog yang tercinta. Sebagaimana bisa Anda simpulkan dari postingan-postingan saya, saya memiliki ketertarikan yang cukup besar dengan sejarah, sastra, dan budaya secara luas dari kawasan semenanjung Iberia pada rentang masa 711-1609 (masa ketika Islam berada di Spanyol secara de jure dan de facto).

Sayang, ada sejumlah keterbatasan yang saya hadapi. Memang saya membaca sebanyak mungkin sumber-sumber sejarah asli, khususnya teks dan gambar, dari masa tersebut. Karena pengetahuan bahasa Spanyol saya yg nyaris nol dan bahasa Arab saya yang masih level “ibtida’iyah,” sungguh sayang, saya hanya bisa membaca sumber-sumber terjemahan dalam bahasa Inggris.

Tapi, rotan pun jadi. Saya gunakan saja sumber-sumber yang ada di sepenjangkauan tangan ini dengan catatan. Catatan apa? Sebisa mungkin saya akan bersikap kritis terhadap hasil terjemahan, pilihan buku-buku yang diterjemahkan, dan hal-hal lain yang turut mempengaruhinya hadirnya buku-buku tersebut dalam bahasa Inggris untuk setting akademia Barat. Sikap seperti ini tentu pengaruh dari para pemikir dan kritikus dalam bidang kajian pasca-kolonial. Banyak buku dari khazanah peradaban Islam yang hadir dalam bahasa Inggris sebagai upaya dari para ilmuwan, akademisi, dan peneliti Barat untuk lebih memahami budaya Timur (yang dulu disebut “Oriental,” dan orang-orang yang melakukan usaha ini disebut “Orientalis”).

Edward Said yang dalam Orientalism menyoroti proyek-proyek para Orientalis Eropa ini dan berargumen bahwa buku-buku tentang orang-orang Timur karya para Orientalis ini lebih cenderung menunjukkan adanya perbedaan mendasar antara Barat dan Timur (di mana bangsa-bangsa Timur adalah pihak yang digambarkan negatif) dan, ujung-ujungnya nanti, mengafirmasi proyek imperialisme dan kolonialisme sebagai upaya mengangkat harkat dan martabat bangsa-bangsa Timur itu. Karya terjemahan, meskipun penulis aslinya adalah orang-orang Timur sendiri, menempati posisi yang dilematis. Di satu sisi karya aslinya adalah hasil buah pikiran orang-orang dari Timur sendiri; namun, tidak bisa dipungkiri bahwa pilihan karya-karya untuk diterjemahkan ke bahasa-bahasa Eropa itu sendiri mengindikasikan adanya peran aktif Barat dalam menentukan mana yang bisa dikonsumsi oleh bangsa Barat dan mana yang tidak. Belum lagi, kalau kita masuk ke wilayah teknis, sangat banyak istilah-istilah dalam bahasa-bahasa Timur yang tidak bisa diwakili sepenuhnya dalam bahasa-bahasa Barat dan pencarian padanannya bisa mereduksi potensi keragaman makna. Jadi, dalam pembacaan terjemahan Inggris atas karya-karya dari al-Andalus ini, saya akan usahakan bersikap sepeka mungkin terhadap kemungkinan-kemungkinan yang seperti ini.

Maka, marilah kita mulai kamus ini:

al-Andalus: Istilah yang berarti “negeri bangsa Vandal” ini mengacu kepada bangsa Vandal yang pada masa pasca luruhnya Kekaisaran Romawi (sekitar abad ke-5) turun ke semenanjung Iberia dan menguasai kawasan ini sebentar dan kemudian turun menyeberang selata Gibraltar untuk kemudian tinggal di kawasan yang kini menjadi Maroko. Di Maroko ini bangsa Vandal melebur dan tidak diketahui lagi nasibnya. Pendatang Arab dan Berber di semenanjung Iberia menyebut kawasan ini berdasarkan nama bangsa yang mereka anggap berasal dari sini dan pernah menyeberang ke Maroko itu. Maka, negeri ini pun disebut al-Andalus oleh pendatang Arab dan Berber. Pendatang yang lebih dulu ada di sini, yaitu komunitas Yahudi, menyebut negeri ini HA SEFARAD. Penduduk Kristen yang merupakan mayoritas, menyebut kawasan ini HISPANIA.

(Tahun) 711: Pada tahun ini, bangsa Berber yang ketika itu berada di bawah kekuasaan Dinasti Islam Arab Umayyah, berhasil menguasai kawasan semenanjung Iberia ini setelah melalui berbagai taktik. Gelombang penyerangan yang berhasil menggulingkan pemerintahan kekaisaran Visigoth di bawah kekuasaan raja Roderick.

(Tahun) 1609: Inilah tahun dimulainya pemberantasan sisa-sisa peradaban Islam di Spanyol. Ketika raja Mohammad Abu Abdullah menyerahkan kunci istana Alhambra di Granada pada tahun 1492, Raja Ferdinand dan Ratu Isabella berjanji akan tetap memperbolehkan orang Islam tinggal di Spanyol (meskipun si raja Mohammad harus meninggalkan negerinya). Tapi belakangan ada kebijakan-kebijakan raja yang mengharuskan orang Islam (dan Yahudi) untuk memeluk agama Kristen dan yang tidak mau pindah agama harus meninggalkan Spanyol. Selanjutnya ada gerakan pembakaran buku-buku sisa-sisa peradaban Islam. Dan buntutnya, pada tahun 1609, bahkan keturunan orang Islam yang beragama Kristen pun (disebut “Morisco” yang sebagian di antaranya diam-diam masih Islam, disebut “crypto Muslim”) dipaksa meninggalkan Spanyol. Tahun inilah yang saya pilih menjadi batasan terakhir masa kehadiran Islam di Andalusia.

(Resensi) Cincin Leher Merpati atau The Ring of the Dove oleh Ibn Hazm

Risalah karya Ibn Hazm (994 – 1064 M) dari negeri Andalusia ini membahas berbagai aspek penting dalam hubungan cinta kasih manusia. Pertama, aspek-aspek yang dibahas dalam buku ini cukup komprehensif, mulai dari ihwal dari mana datangnya cinta hingga apa saja dampak yang ditinggalkan cinta. Dan cinta kasih manusia yang dibahas di sini juga cukup komprehensif, mulai dari cinta kasih saudara hingga cinta kasih yang liar, semisal berbagi pasangan. Bisa dibilang, membaca Cincin Leher Merpati* itu seperti membaca pemetaan cinta kasih yang ada (terlepas dari itu lazim atau tidak) pada abad ke-11 di kalangan ketiga elemen demografis Andalusia–Islam, Kristen, dan Yahudi–sekitar masa peralihan dari pemerintahan kekhalifahan Umayyah hingga masa perang saudara atau fitna. Tapi, seperti halnya akan saya bahas secara singkat dalam postingan ini, lebih dari sekadar berbicara tentang cinta, buku ini juga mengindikasikan banyak hal lain yang berguna sebagai jendela mengintip Andalusia.

Observasi Deskriptif dan Preskriptif

Pertama, buku Cincin Leher Merpati (dengan versi Inggris terjemahan J. Arberry bisa dibaca di sini, meskipun dengan sejumlah salah ketika–mungkin karena scanner tidak mengenali huruf-hurufnya) adalah risalah yang cukup gado-gado. Sekilas tampak seperti buku kumpulan esai biasa; tapi kalau kita lihat dari kuantitas puisi yang dihadirkan (tak sekadar untuk mendukung argumentasi), kita boleh bilang bahwa buku ini juga ingin menyajikan puisi. Sejumlah ahli menyebut genre buku ini sebagai prosa eksperimental. Cincin adalah satu-satunya karya Ibn Hazm dengan genre seperti ini–buku-buku Ibn Hazm lainnya adalah kumpulan puisi dan buku fiqh–yang hanya kita ketahui dari pengutipan-pengutipan dalam buku-buku lain, karena buku tersebut sudah dibakar, baik pada masa hidup Ibn Hazm maupun pada masa-masa intoleran lain dalam sejarah Andalusia.

Cincin merupakan observasi Ibn Hazm tentang berbagai aspek cinta yang disampaikan secara deskriptif sekaligus preskriptif. Pada sebagian besarnya, pemaparan dalam buku ini bersifat deskriptif, menggambarkan berbagai hal yang jarang, lazim, dan mungkin terjadi dalam hubungan cinta kasih. Lihatlah misalnya bagaimana di awal buku Ibn Hazm membahas tentang tanda-tanda cinta dan dari mana datangnya cinta. Di bagian ini dia bahas bagaimana gerak-gerik khas orang yang jatuh cinta. Setelahnya, dia bahas tentang orang yang jatuh cinta karena mimpi, karena penggambaran orang, dan karena pertemuan langsung. Sekilas tampak sederhana, bukan? Memang. Tapi kalau kita baca lebih dekat, kita akan temukan bahwa contoh-contoh yang diberikan oleh Ibn Hazm jauh dari membosankan: ada jatuh cinta antara seorang lelaki terhormat dengan budak perempuan tetangganya, ada jatuh cinta antara seorang lelaki pemuka masyarakat dengan seorang pemuda laki-laki yang hanya dia temui untuk pertama kalinya, dan sebagainya. Ya, Anda tidak salah dengar: dia juga menggunakan kisah cinta antara sesama laki-laki, pada abad ke-11, di Andalusia, oleh seorang ahli fiqh. Dari sini, kita bisa melihat bahwa dia menyajikan hasil observasi secara deskriptif. Dia tidak menyangkal adanya fakta cinta yang seperti ini. Yang dia bahas bukanlah hubungan sesama jenisnya, melainkan bagaimana cinta di antara kedua lelaki itu terbentuk. Jadi, yang jadi perhatiannya lebih kepada permasalahan cintanya, bukan siapa yang bercinta. Dari sinilah tampak bahwa dia mempertahankan pendekatan deskriptif secara cukup signifikan dalam buku ini. Menurut beberapa sumber, ada indikasi bahwa dia mendapatkan tekanan atau kritik keras karena penyertaan cinta sesama jenis ini dalam risalahnya; ada orang yang menafsirkan sikap Ibn Hazm ini seperti “merestui” hubungan sesama jenis.

Selain itu, ada cukup banyak juga dalam buku ini yang bersifat preskriptif, atau memberi anjuran. Kita bisa melihat sikap-sikap seperti ini di setengah terakhir buku ini (yang terdiri dari 10 dari 30 bab yang ada). Di bab-bab yang lebih panjang ini, dia menyajikan kategorisasi aspek-aspek penting hubungan cinta. Misalnya, ada Kebahagiaan Cinta, Kesetiaan, Perpisahan, Lupa, dan lain-lain. Di situ, tampak dia menyelipkan nasihat-nasihat yang terselubung, meskipun sikapnya masih deskriptif. Di bagian yang bercerita tentang Penghianatan, Ibn Hazm membuat sejumlah kategori penghianatan, dan satu penghianatan yang paling hina adalah penghianatan yang dilakukan oleh seorang utusan yang diutus seorang lelaki untuk menemui kekasihnya yang kemudian dia rebut untuk dirinya sendiri. Tentu di balik kategorisasi ini tersirat pesan, mungkin, agar kita berhati-hati dalam memilih utusan atau kita bersikap bijak saat menjadi utusan atau kita menjaga diri untuk tidak jatuh cinta kepada utusan. Kategorisasi ini hampir selalu disampaikan dari tingkat yang paling penting hingga yang paling hina.

Gambaran Biografis dan Antropologis

Seperti saya sebutkan di awal, meskipun inti perbincangannya adalah cinta, buku ini menjanjikan lebih dari itu: kita bisa mengintip Andalusia sekaligus Ibn Hazm secara pribadi. Menurut saya, dalam hal membantu mengetahui seluk-beluk Andalusia, membaca buku ini lebih mengasyikkan daripada mendengar pembahasan tentang sejarah Islam dan gambaran Islam di Eropa yang banyak terdapat di situs-situs web tertentu yang cenderung memberikan gambaran bling-bling tentang masa-masa kejayaan Islam yang seringkali lebih bersumber pada cerita dari mulut-ke-mulut daripada berdasarkan fakta-fakta sejarah otentik. Dari Cincin, kita bisa melihat cukup maraknya perbudakan di Andalusia, dan gambaran perbudakan yang ada juga jauh dari gambaran mainstream. Pasca perbudakan oleh bangsa-bangsa Eropa, gambaran perbudakan adalah orang-orang berkulit gelap (baik itu dari Afrika, India, maupun Nusantara) yang disuruh bekerja dengan kaki diikat rantai berbandul bola besi. Di Andalusia, seperti terselip dalam risalah Ibn Hazm ini, banyak dari budak-budak itu berkulit terang, berambut pirang dan bermata biru. Di sini kita jadi ingat kembali daripada istilah “slave” (atau budak dalam bahasa Inggris) berasal: asal kata “slave” adalah kata “Slavic” yang artinya “tangkapan,” yang merupakan sebutan untuk orang-orang dari kawasan Eropa Timur (yang kelak disebut bangsa Slavik) yang ditangkap dan dijadikan budak pada abad ke-9. Sepertinya, hingga abad ke-11 pun masih banyak budak dari kawasan Eropa Timur ini. Dan, ini dia, banyak di antara pimpinan Umayyah yang jatuh cinta kepada budak mata birunya dan akhirnya menghadirkan generasi raja-raja Arab berambut pirang bermata biru!

Kita juga tahu, berkat risalah ini, ihwal perpolitikan dan perebutan kekuasaan di akhir masa Umayyah. Kita secara kasar tahu bahwa kekhalifahan Umayyah jatuh ketika para tentara bayaran dari kawasan Maroko (bangsa Berber) menyerang Kordoba dan memporak-porandakan Andalusia. Tapi, berkat Cincin, kita jadi tahu urutan penguasa Umayyah di Andalusia dan penguasa-penguasa di negeri-negeri sebelahnya yang menjadi tempat pelarian Ibn Hazm setelah Kordoba digasak pasukan Berber. Gambaran tentang masuknya para pasukan Berber ke Kordoba ini juga digambarkan cukup jelas hingga bisa kita jadikan bagian-bagian tertentu buku ini sebagai rujukan untuk melihat situasi perpolitikan Andalusia masa itu, meskipun hanya dari sudut pandang seorang ahli hukum agama–bukan ahli politik.

Selain pengetahuan tentang Andalusia ini, buku ini juga mengenalkan kita kepada sosok Ibn Hazm secara otobiografis. Kita tahu sejak di bagian awal bahwa ayah Ibn Hazm pernah menjadi seorang pejabat tinggi di kekhalifahan Umayyah (tentu ini juga membuat kita harus waspada saat membaca penggambaran-penggambaran Ibn Hazm tentang bangsa Berber–bisa jadi ada keberpihakan kepada penguasa Umayyah yang bermain dalam tulisannya). Kita juga mendapatkan gambaran tentang masa kecil hingga awal dewasa Ibn Hazm yang dia habiskan bersama para perempuan, baik itu saudari, bibi maupun budak-budak perempuan yang “dimiliki” keluarganya. Dari pergaulannya dengan para perempuan inilah dia mendapat banyak kisah tentang cinta kasih yang sebagian di antaranya dia sertakan dalam risalah ini. Dan, kita juga tahu menurut penuturan Ibn Hazm sendiri bahwa cinta pertamanya adalah seorang budak berambut pirang dan bermata biru–dan dia mengakui bahwa seleranya seperti itu–yang meninggal saat Ibn Hazm masih berusia 22 tahun–dia tidak pernah lagi mencintai seorang perempuan sekuat cintanya kepada gadis ini.

Cincin Leher Merpati dan Tradisi “Courtly Love” atau “Cinta Adiluhung” 

Hal terakhir yang tak boleh dilewatkan dalam membincangkan Cincin Leher Merpati adalah hubungannya yang erat dengan tradisi sastra “courtly love” yang marak di Eropa (terutama di kawasan-kawasan yang kelak bernama Italia, Perancis, dan Jerman) mulai satu abad setelah masa hidup Ibn Hazm. Istilah “courtly love” atau “cinta adiluhung” merujuk pada tradisi dan tata aturan perkasihan yang “berbudaya” di kalangan para petinggi atau orang-orang terhormat di Eropa. Aturan-aturan itu antara lain adalah tidak mengumbar perasaan kepada sembarang orang, menyembunyikan cinta hingga saat yang tepat, tarik-ulur perasaan antara sang pencinta dan sang terkasih, penggunaan utusan dalam berkomunikasi dan sebagainya. Tata percintaan seperti ini belakangan pada akhir abad ke-12 termaktub dalam buku karya Andreas Capellanus berjudul harfiah “Ihwal Cinta Kasih” (yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi “The Art of Courtly Love,” yang aturan ringkasnya bisa dibaca di sini). Aturan-aturan ini bisa kita temukan dalam karya-karya penting Eropa yang hadir belakangan, misalnya dalam Vita Nuova karya Dante Allighieri, atau Troilus and Crisseyde karya Geoffrey Chaucer, atau Il Filostrato karya Giovanni Boccaccio.

Dalam artikel berjudul “A Bird After Love” yang bisa dibaca di sini, Nazan Yildiz dari Hecetteppe University (Turki) menegaskan bahwa sangat mungkin Cincin Leher Merpati merupakan preseden dari tradisi “cinta adiluhung” di Eropa. Namun, menilik dari sejumlah penelitian, Yildiz menyebutkan adanya kesan sulit bagi Eropa (khususnya Spanyol) untuk mengakui pengaruh peradaban Islam Spanyol terhadap hasil sastra dan budaya yang lahir belakanganan. Yildiz menjelaskan bagaimana para ahli Spanyol bisa dengan mudah menyimpulkan adanya pengaruh dari pemikiran Latin dan Eropa Utara sementara pada saat yang sama menerapkan batasan-batasan yang kelewatan ketat saat melihat kemungkinan adanya pengaruh peradaban Islam. Dalam artikel “A Bird After Love” tersebut, Yildiz membeberkan sejumlah kesamaan penting antara pemetaan aspek-aspek cinta dalam risalah Ibn Hazm dengan penerapan aturan-aturan “cinta adiluhung” dalam karya-karya sastra Perancis dan Istana Jerman dari abad ke-13.

***

Maka, setelah berbincang-bincang tentang struktur, signifikansi, dan implikasi dari buku Cincin Leher Merpati karya Ibn Hazm, tibalah saya pada paragraf terakhir. Seperti biasa, saya agak kesulitan mengakhiri postingan resensi ini. Jadi, daripada salah tingkah sendiri, lebih baik saya akhiri saja dengan saran-saran dan kutipan. Kalau Anda tertarik dengan peradaban Islam dan terutama karya sastra dari berbagai peradaban Islam, saya sangat anjurkan kepada Anda untuk membaca buku tersebut (versi Inggrisnya di sini). Dan kalau Anda mahir bahasa Arab dan tertarik menyumbangkan tenaga dan pemikiran Anda untuk menerjemahkan versi aslinya, silakan cari versi aslinya di Belanda dan menerjemahkannya sendiri. Selama ini, ada sejumlah terjemahan dalam berbagai bahasa dari manuskrip yang ada di belanda itu. Tapi, banyak juga keberatan-keberatan yang diajukan para ahli sastra dan bahasa, terutama karena adanya kecenderungan penerjemah untuk “menyetrika” bagian-bagian yang sulit dipahami dan tidak jelas dari buku ini–yang dilakukan demi membuat buku ini bisa diakses khalayak umum. Makanya, kalau Anda ingin mengenalkan Ibn Hazm untuk pembaca bahasa Indonesia, saya anjurkan menerjemahkan dari edisi aslinya dan membandingkannya dengan terjemahan-terjemahan bahasa lain yang Anda pahami. Dan, sebelum saya tekan tombol “Publish to Timbalaning” di bawah ini, saya ingin kutipkan daftar isi The Ring of the Dove dalam bahasa Inggrisnya, agar Anda tahu aspek-aspek hubungan cinta kasih apa saja yang dibahas Ibn Hazm dalam bukunya. Selamat membaca dan bertualang!

  1. The Signs Of Love
  2. On Falling In Love While Asleep
  3. On Falling In Love Through A Description
  4. On Falling In Love At First Sight
  5. On Falling In Love After Long Association
  6. On Falling In Love With A Quality And Thereafter Not Approving Any Other Different
  7. Of Allusion By Words
  8. Of Hinting With The Eyes
  9. Of Correspondence
  10. Of The Messenger
  11. Of Concealing The Secret
  12. Of Divulging The Secret
  13. Of Compliance
  14. Of Opposition
  15. Of The Reproacher
  16. Of The Helpful Brother
  17. Of The Spy
  18. Of The Slanderer
  19. Of Union
  20. Of Breaking Off
  21. Of Fidelity
  22. Of Betrayal
  23. Of Separation
  24. Of Contentment
  25. Of Wasting Away
  26. Of Forgetting
  27. Of Death
  28. Of The Vileness Of Sinning
  29. Of The Virtue Of Continence

* Menurut beberapa sumber, “cincin leher” di sini mengacu pada bagian hitam di leher burung dara yang menyerupai cincin. Dalam bahasa Jawa, mungkin yang dimaksud “merpati” di sini adalah “burung puter” seperti pada gambar di bawah ini.

Burung puter karya “fegiyozaagazi” di DevianArt

Al-Andalus: Bagaimanakah Kita Hendaknya Melihat Negeri Itu? (Link Buku Gratis)

Satu kecenderungan yang paling jamak di kalangan Muslim Indonesia dalam memandang Al-Andalus (atau Negeri Spanyol khususnya ketika masih terdapat penguasa Islam) adalah melihatnya sebagai masa kejayaan dengan segala gemerlap pembangunannya, toleransinya, budanya, dan ilmu pengetahuannya. Menurut pengamatan saya, sikap seperti itu lebih dilandasi oleh keinginan mengafirmasi mimpi, kekurangan eksplorasi fakta, dan kecenderungan melihat Islam sebagai peradaban yang sedang kalah (dan berpotensi untuk merebut kembali kemenangan). Sikap seperti ini tidak produktif, dan satu-satunya obat untuk mengatasi gejala ini adalah dengan melepaskan Al-Andalus dari segala mitosnya (segala hal yg selama ini kita rasa benar tanpa adanya sumber nyata) dan berupaya keras mencari informasi sebanyak mungkin tentang ini.

Dalam kesempatan ini, saya tidak akan menjabarkan argumen saya di atas–semoga saya mendapat kesempatan dalam waktu dekat untuk mendukung argumen tersebut dan menjelaskan dalam sebuah postingan yang berarti. Saat ini, saya pingin saya langsung menerabas ke solusi yang saya tawarkan: mencari informasi sebanyak mungkin tentang Al-Andalus. Untuk mengawali proyek ini, saya akan bagi di sini sebuah buku gratis (dan halal) tentang seni Spanyol pada masa Islam. Silakan unduh di sini. Selain karya seni Islam, dalam buku tersebut juga terdapat kronologi peimpin yang berkuasa di tanah Al-Andalus, yang sedikit banyak bisa memberi kita gambaran tentang seperti apa iklim politik di Al-Andalus.

Tapi, sebelum Anda berangkat lebih jauh, sebagai pengingat, jangan jadikan ini sebagai pegangan mutlak; jadikanlah ini sebagai satu saja bahan yang bisa mengajak kita mengintip apa yang terjadi di masa lalu. Kalau nanti kita temukan sumber yang lebih layak untuk dijadikan pegangan, maka dengan semangat ilmiah mau tidak mau kita harus mengakui keunggulan sumber baru itu.

Selamat berlayar!