Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan: Katalog Penting Anti-Mati Gaya dalam Menulis Esai

Menurut Carl Sagan dalam Cosmos, bila dibandingkan dengan usia alam semesta yang ditaksir miliaran tahun, sejarah umat manusia ini tidak ada artinya. Saya pun menerima gagasan itu dan menjadikannya etos bagi saya. Maka, buku yang terbit pada tahun 2016, yang kini mungkin tidak lagi laku di pasar resensi media, adalah buku gres bagi saya, masih hangat dan meruapkan kesegaran. Apalagi kalau bukunya sepenting buku Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan ini. Muhidin memang sosok yang memiliki ketekunan mengarsip yang mendebarkan, tapi yakinlah postingan ini tidak hanya puja-puji belaka, saya punya stok kritik yang menurut saya perlu disampaikan di postingan ini juga.

Baiknya kita mulai dulu esai ulasan ini dengan menengok siapa itu Muhidin. Seperti saya singgung di atas, Muhidin adalah seorang pengkliping yang rajin, yang mengkliping berita-berita penting dari jaman dulu sekali hingga dewasa ini (atau “jaman now” istilah kacau sekarang). Kalau ada kejadian-kejadian penting dan media mengulasnya, hampir bisa dipastikan Muhidin mengklipingnya. Sekilas saja dari ingatan saya: bapak Budiono diangkat jadi wapres, Muhidin punya beritanya; bapak Budiono kembali ke kampus UGM dengan penampilan seperti telah bekerja keras selama lima tahun menjawab, Muhidin mengkliping beritanya. Itu baru soal Bapak Mantan Wapres Budiono. Belum lagi soal lain.

Nah, buku Inilah Esai ini, saya yakin, juga hasil dari pekerjaan mengarsipkan yang tekun, terutama mengarsipkan esai-esai yang menurutnya bagus. Dari daftar seratusan esai yang menurutnya bagus itu (yang saat jadi buku bisa sepanjang 11 halaman itu), jadilah buku ini sebagai hasil pilah-pilih bagian-bagian terbaiknya. Ibaratnya: buku Muhidin yang satu ini adalah hasil kerja jangka panjang sejak masa dia mulai mengkliping hingga masa buku ini rampung dituliskan.

Menarik, nggak, kira-kira? Silakan dijawab dalam hati.

Beberapa hari yang lalu, di mata kuliah Study Skills (yang bertujuan mengajarkan baca-tulis buat mahasiswa di kampus saya), saya bertanya bagaimana sikap para mahasiswa saya terkait menulis. Kebanyakan santai, tapi ada satu yang bilang takut (yang tentunya disambut candaan temannya: “Jadi, begitu kamu mengetik, kamu langsung melompat girap-girap begitu?”). Saya yakin ketakutan seperti itu nyata, karena tidak sedikit penulis pemula yang seringkali tidak tahu apa yang harus dituliskan.

Di sinilah pentingnya buku tulisan Muhidin ini. Buku ini tidak hanya memberikan uraian dan gambaran umum atas genre esai (seperti dalam bab-bab awal yang membahas soal mukadimah, penyusunan gagasan, dan pendekatan atas topik), tapi dia juga memberikan panduan-panduan praktis mengenai mengisi setiap bagian penting esai (mulai judul, pembuka, isi, dan penutup). Dia kelompok yang kedua inilah, menurut saya, nilai terbesar dari buku ini. Dengan sifat royalnya dalam memberikan berbagai contoh judul, pembuka, penyusunan isi, dan penutup, seseorang yang ingin serius menulis esai bisa mengantisipasi risiko mati gaya dalam menanam esai. Gampangannya, asal si penulis mau bertanggung jawab mencari sumber untuk esainya, dia tidak perlu terlalu takut dalam mengolah sumber-sumber itu menjadi esai dengan bantuan buku ini.

Muhidin mengantarkan definisi esai dengan cara yang santai dan syarat rujukan, meskipun tanpa menyempatkan diri menawarkan definisi yang secara tegas dan definitif, yang mungkin diharapkan pembaca yang ingin ketegasan. Dari Michel de Montaigne, yang tersohor sebagai bapak esai, Muhidin menyitir arti esai sebagai “coba-coba” dan bahwa kumpulan esai Montaigne adalah tulisan pusparagam. Pandangan dari para esais lain, mulai dari Gus Dur, Cak Nun, hingga Zen RS, juga disinggung, yang bisa dibilang nyaris mufakat mengatakan bahwa esai adalah tulisan yang santai, yang memiliki elemen puisi/prosa sekaligus ilmiah.

Nah, mulai bagian bentuk esai, kita bisa mendapat buah pengarsipan dan kategorisasi Muhidin. Untuk bentuk esai, kita bisa melihat beberapa kategori bentuk esai yang ditemukan Muhidin dari keseratus lebih esai yang dia gunakan untuk menyusun buku ini: surat, puisi naratif, percakapan, kritik yang melengkung, obituary, pengantar buku, dan sebagainya. Di bab yang mengusung judul, ada sejumlah kategori: mengajak berkelahi, perbandingan,bertanya, kutipan, dan seterusnya. Begitu juga dengan bab-bab lain. Tidak ada kesan bahwa hanya itulah kategori esai yang ada; kalau kita mau mencari lebih lanjut, mungkin dengan memperluas cakupan bahasa esai-esai ini, mungkin (nyaris) tidak akan ada Batasan cara membuat judul. Toh, esai itu sendiri kan bisa dimaknai “coba-coba,” jadi ya selama otak manusia masih belum purna tugas, tetap akan ada cara baru membuat judul esai.

Untuk mendukung kategori-kategori itu, Muhidin memberikan contoh-contoh yang siap santap. Untuk membahas kategori membuka esai kutipan, misalnya, kita mendapat nukilan pembukaan dari sebelesa esai, termasuk di antaranya esai Ignas Kleden, Karina Leksono-Supelli, dan Mas Marco. Saya sebut siap santap Karena yang dinukilkan hanya bagian pembukaan saja. Banyak buku panduan menulis yang suka memberikan penjelasan tegas dan definitif, tapi pada gilirannya memberikan contoh, kita harus lompat ke bagian “apendiks” untuk membaca keseluruhan buku.

Tidak ada satu pun di dunia ini yang sempurna, semua tahu. Pada Inilah Esai, satu titik yang menjadikannya tidak sempurna itu adalah pada bab pembahasan isi esai. Muhidin memfokuskan pada pengembangan esai melaui kutipan dan, mengikuti salah satu pesohor dunia esai Indonesia, isi sebuah esai pada intinya adalah deskripsi, atau menjabarkan tentang sumber. Pendekatan atas isi ini menjadikan pembahasannya sangat terbatas, berbeda dengan pembahasannya atas judul, pembuka, dan penutup esai yang menghadirkan berbagai contoh. Bukannya membahas berbagai cara yang ditempuh para “pesohor” itu dalam mengembangkan gagasan pengisi esai, Muhidin memfokuskan pada bagaimana mereka mengolah kutipan, yang bisa dibilang hanya satu dari cara mengisi esai.

Dalam buku Process, Form, and Substance: A Rhetoric for Advanced Writers, Richard M. Coe meminjam dan menerapkan konsep heuristik dalam kepenulisan. Istilah heuristik ini lazim dipakai dalam bidang matematika dan ilmu komputer untuk mengacu pada urutan langkah dalam penyelesaian masalah atau persoalan. Menurut Coe, setiap penulis menggunakan langkah-langkah tertentu dalam menyelesaikan tugas menulisnya. Ada yang menggunakan pertanyaan (termasuk di sini pendekatan 5W+1H dalam penulisan jurnalistik itu), topoi gaya Aristoteles (yang menggunakan puluhan prinsip logika untuk menjari jawab atas soal-soal tertentu), pendekatan Kenneth Burke (yang dipakai untuk mengetahui motif sesuai dengan menyoroti pelaku, aksi, latar, peran, dan tujuan), dan sebagainya.

Alangkah tambah mantapnya bila Muhidin juga menyingkap strategi pengembangan isi para pesohor tersebut selain menggunakan kutipan. Mungkin, sudah cukup melengkapi kebutuhan kita para pembaca bila yang mulia Muhidin kelak melakukan analisis retorika atas esai-esai favoritnya (segelintir saja!), biar kita bisa tahu bagaimana Ignas Kleden mengembangkan esainya yang membuka buku Enam Pertanyaan untuK Sastra Indonesia itu, atau bagaimana Bung Hatta mengembangkan esai “Indonesia Menggugat” itu. Saya sangat yakin, Muhidin adalah orang yang tepat untuk mengurai esai-esai kegemarannya tersebut. Sejauh ini, kita tahu bagaimana dia mengurai cara Bung Karno menyusun esai “Indonesia Merdeka” dengan menggunakan berbagai sumber yang mewakili berbagai ideologi itu. Tolong jangan anggap saya mengabaikan prestasi Muhidin tersebut.

Akhirul esai, saya teringat sebuah acara pelatihan penulisan esai yang saya ikuti (secara tidak resmi) pada awal September ini. Ketika itu, Prof. Djoko Saryono, guru besar di Universitas Negeri Malang sekaligus penulis yang ultra-produktif, menjadi pemateri pelatihan esai yang pesertanya adalah guru-guru muda yang baru menghabiskan waktu setahun mengajar di sekolah-sekolah di berbagai kawasan yang relatif terpencil. Para guru muda ini berencana menuliskan hasil imersi mereka selama setahun itu dalam berbagai bentuk. Sambil makan pisang dan wedang jeruk, saya menyaksikan bagaimana materi dari Prof. Djoko dan mentoring dari Denny Mizhar sepanjang hari itu tampak membuat mereka bergairah untuk mulai menulis—meski banyak di antaranya yang sama sekali tidak pernah menulis. Sekarang, saya bayangkan, buat kawan-kawan yang sudah memiliki semangat menulis (atau “spirit api,” dalam terminology Naruto Shippuden), saya yakin buku Inilah Esai ini akan menjadi semacam katalog yang bermanfaat, yang dari daftar isinya saja para calon penulis esai bisa menaksir dan memilih cara mereka menyusun balok-balok gagasan menjadi esai, secara tangkas, seperti para pesohor itu.

 

Advertisements

Kepada Kamu yang Ditunggu Salju: Buku Puisi yang Menyumbangkan Darah kepada Genre Tulisan Perjalanan?

Resensi_Yusri Fajar

Judul                     : Kepada Kamu yang Ditunggu Salju
Penulis                 : Yusri Fajar
Penerbit              : Penerbit Pelangi Sastra
Tebal                     : 104 hal.
Cetakan               : I/Maret 2017
ISBN                      : 978-602-60790-1-5

Perjalanan adalah kran inspirasi yang tak kunjung mandek untuk karya sastra, baik lisan maupun tulisan. Bahkan, karya sastra tertua yang pernah ditemukan, yaitu Epik Gilgamesh dari Mesopotamia kuno pada abad ke-21 SM, didominasi kisah perjalanan yang mengubah hidup Gilgamesh, tokoh raja setengah dewa. Kini, dua abad sejak ditemukannya GPS (Global Positioning System), perjalanan masih tetap mengucurkan inspirasi bagi penulis, apapun genre yang dia pilih. Dewasa ini, banyak toko buku yang punya rak khusus untuk catatan perjalanan. Sampai banyak yang mengkritisinya sebagai mengalami titik jenuh. Tapi, bagaimana bila perjalanan itu dituliskan dalam puisi? Akankah dia memberikan sesuatu yang berbeda? Buku puisi Kepada Engkau yang Ditunggu Salju mungkin bisa memberi gambaran potensi puisi yang bertemakan perjalanan.

Semua puisi yang terangkum dalam buku kumpulan puisi pertama Yusri Fajar ini ditulis ketika penulisnya jauh dari rumah. Bahkan, nyaris semua puisi di sini ditulis ketika Yusri berada di luar negeri. Beberapa puisi yang lain bertemakan perjalanan, tapi dari kampung halaman di Banyuwangi ke Malang, yang kemudian menjadi domisili Yusri. Dengan begitu, tidak berlebihan kalau saya menyebut buku ini sebagai buku puisi perjalanan–meskipun tentu perjalanan di sini harus diartikan secara luas.

Lazimnya pengunjung di tempat baru, penyair juga menunjukkan ketakjuban kepada keasingan dan kebaruan, yang kemudian dia tingkahi dengan perenungan tentang kesejarahannya. Pada beberapa puisi, Yusri menyoroti sebuah obyek atau individu dan menyoroti keterkaitan mereka dengan Indonesia.

Kita bisa temukan itu pada puisi-puisi seperti, misalnya “Di Negeri Bekas Penjajah Aku Menemukanmu” (hal. 7), yang bisa dijadikan contoh yang tepat. Dalam puisi ini, aku lirik Yusri melihat-lihat jalanan, restoran, pernak-pernik, dan orang-orang Belanda, dan di situ dia merasa menemukan “kamu,” yang bisa kita tafsirkan sebagai “Indonesia.” Puisi ini memang dibuat jauh dari rumah, tapi dia tak kunjung berhenti membicarakan Indonesia, yang jejaknya terlihat di mana-mana di Belanda (“Pertemuan Dua Bangsa di Warung Kebab,” hal. 24).

Ketakjuban akan hal-hal yang memiliki signifikansi sejarah atau berkaitan dengan perpindahan bangsa-bangsa inilah yang memenuhi buku-buku Yusri. Tidak bisa kita temukan puisi tentang indahnya danau di Swiss, romantisnya menara Eiffel di Perancis, atau nikmatnya capuccino Italia di sana. Tapi, kita bisa temukan puisi tentang warung kebab yang mempertemukan pendatang dari negeri berbeda yang selalu digelayuti kerinduan kepada kampung halaman.

Bahkan, kalau ada satu topik yang bisa dibilang mencakup sebagian besar puisi di buku ini, topik tersebut adalah “diaspora.” Dalam kajian sosial, istilah diaspora pada awalnya mengacu kepada orang-orang Yahudi yang terusir tanah leluhur mereka untuk kemudian hidup terpencar di segala penjuru Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa untuk tumbuh dan berkembang. Namun, sebagaimana diteorika Robin Cohen dalam Global Diasporas: An Introduction, seiring zaman, istilah diaspora ini banyak digunakan untuk mengacu komunitas-komunitas yang jauh dari negeri leluhur mereka, bahkan tanpa perlu elemen keterpaksaan. Pandangan seperti inilah yang mendominasi gagasan kelompok Jaringan Diaspora Indonesia.

Kembali ke buku puisi Yusri Fajar, gagasan diaspora muncul paling efektif pada puisi yang dipakai untuk judul buku Yusri ini “Kepada Kamu yang Ditunggu Salju” (hal. 4). Puisi ini berbicara tentang “kamu” yang tumbuh jauh dari tanah moyangnya, yang saat ini benihnya bisa tersemai, bertumbuh, tapi pada akhirnya terancam akan terkubur salju dan kehilangan akarnya. Seperti itulah dilema diaspora yang akarnya selalu berisiko menguap seiring zaman. Menariknya, dalam puisi ini, Yusri menggunakan idiom-idiom pertumbuhan tanaman beserta seluruh anatominya. Puisi ini seperti mengembalikan lagi istilah “diaspora” ke ranah aslinya, yaitu biologi. Boleh lah kita bisa puisi ini tidak melupakan akar kata “diaspora” itu sendiri.

Dengan semua potensi yang lebih dari sekadar menggambarkan tentang perjalanan ini, jangan-jangan puisi ini bisa memberi sumbangan di tengah “krisis” yang menjangkiti genre tulisan perjalanan. Seperti dikritisi Graeme Wood dalam artikelnya di majalah Foreign Policy, tulisan perjalanan adalah genre yang mati, utamanya karena penulis terlalu tersedot kepada dirinya sendiri dan kurang menukik dalam pengamatan atas tempat dan orang-orang yang dikunjunginya. Atau, yang lebih parah, hanya menyoroti hasil pengamatan yang hanya mengkonfirmasi apa yang sudah mereka dengar atau yakini, sebagaimana dikritisi Edward Said. Dengan perenungan atas nasib diaspora dan obyek-obyek yang memiliki latar kesejarahan sebagaimana saya bahas di atas, buku Kepada Kamu yang Ditunggu Salju ini berpotensi menyumbangkan darah segar kepada genre yang tulisan perjalanan yang kita layu itu menurut sekalangan kritikus.

(Tulisan ini dimuat di kolom Resensi harian Jawa Pos Radar Malang pada hari Minggu 23 Juli 2017. Semoga menikmati resensinya, dan semoga ada “krentek” hati membeli bukunya.)

Seksualitas dan Aib

(Lagi-lagi satu resensi lama, dari tahun 2005 atau 2006-an lah. Ini saya kopi langsung dari situs Penerbit Jalasutra yang telah memuatnya sejak entah kapan. Tapi, demi mendokumentasikan tulisan-tulisan sendiri, sebelum hilang dimakan rayap virtual, saya posting saja lagi di sini. Demi apa? Demikian harap maklum.)

REsensi_AIb

Judul buku: Aib
Penulis : J.M. Coetzee
Penerbit : Penerbit Jalasutra

Posisi seksualitas dalam sastra menjadi topik penting pembicaraan para penikmat dan kritikus sastra Indonesia beberapa waktu yang lalu. Sebagian mengiyakan, sebagian menggugat, dan sebagian lainnya memilih sikap tak menggungat namun mencari alternatif bacaan lain. Wacana ini muncul setelah kehadiran beberapa pendatang muda yang tangguh dengan energi meluap sambil membawa karya-karya bermuatan seksualitas.

Perdebatan ini tak kunjung tersimpulkan. Masing-masing pihak melontarkan argumen yang tak kunjung saling meyakinkan. Tanpa sedikitpun maksud memperpanjang perdebatan itu, saya yakin, Penerbit Jalasutra Jogjakarta menerbitkan novel Aib karya JM Coetzee, peraih Nobel kesusastraan tahun 2003 asal Afrika Selatan.

Apa pasal saya mengisyaratkan adanya hubungan antara perdebatan posisi seksualitas dengan penerbitan Aib?

Berlatar Afrika Selatan akhir milenium kedua, novel yang berjudul asli Disgrace ini berkisah tentang Prof Lurie, dosen sastra, yang sejak awal hingga akhir buku tak kunjung selesai dirundung sial. Di awal cerita, dibeberkan bahwa sebagai seorang womanizer yang selalu haus akan kepuasan seksual, Prof Lurie sedemikian rupa berusaha memuaskan hasratnya dengan “berlangganan” seorang pelacur, Soraya.

Malangnya, Soraya menjauh begitu ada gelagat Prof Lurie ingin hubungan yang lebih mendalam. Kemudian, Prof Lurie menjalin hubungan dengan seorang mahasiswanya, Melanie, yang menyebabkannya mendapatkan kesialannya yang kedua: dituduh melakukan pelecehan dan pemerkosaan terhadap Melanie. Mengakui bersalah namun menolak menyesalinya, Prof Lurie kehilangan jabatannya sebagai dosen. Aib ini membuatnya menyingkir sejenak dengan mengunjungi putrinya, Lucy, di sebuah perkebunan.

Di sini, masalah lain menyongsongnya: rumah Lucy diserang tiga penjahat, Lucy diperkosa sementara Prof Lurie tidak bisa melakukan apa-apa, dan mobilnya dicuri. Keinginannya untuk melaporkan pemerkosaan itu kepada polisi ditentang keras putrinya yang ingin memendam sendiri luka itu; hubungan keduanya menjadi renggang.

Lebih-lebih lagi, putrinya menolak untuk pindah dari perkebunannya ketika diketahui bahwa pemerkosaan itu mengakibatkan kehamilan dan memutuskan menerima lamaran tetangganya yang jelas-jelas dia ketahui ingin menguasai tanah perkebunan putrinya. Masih kurang lagi, ketika dia kembali ke Cape Town ternyata rumahnya dijarah dan banyak barang pentingnya raib. Akhirnya, dia memilih tinggal di sebuah daerah tak jauh dari Lucy dan menjalin hubungan dengan seorang teman Lucy, yang sebenarnya sudah bersuami.

Dari ringkasan di atas, terasa sekali bahwa seksualitas adalah poin dominan dalam novel ini. Jelas sekali, tokoh utama adalah seorang bandot womanizer yang kehidupannya tak pernah jauh dari seks. Aib diawali dengan kepuasan seks yang didapatkannya dari Soraya. Kemudian, saking longgarnya ukuran moralitas baginya, dia berani mendekati mahasiswanya, Melanie, dan menggiringnya ke hubungan seksual bahkan ketika pertama kali mengundang gadis itu ke rumahnya—dan akhirnya gagal terlaksana. Melanie, secara tak langsung membawanya kepada aib.

Aib ini menggiringnya bertemu kesialan lain yang juga masih urusan seksual, pemerkosaan putrinya—meskipun ada tendensi rasialis di sini. Keberadaannya di dekat putrinya ini juga menggiringnya pada hubungan (seksual) dengan teman Lucy, Bev Shaw. Di sini, tampak betapa seksualitas adalah faktor yang sentral. Selain itu, jika Aib juga mengisahkan tentang Prof Lurie yang menggarap sebuah opera tentang penyair Inggris Lord Byron, sepertinya itu juga bukan tempelan. Kita tahu Lord Byron adalah penyair, juga womanizer, yang di London mendapat Aib karena skandal sodomi dan inses.

Meski demikian, jangan dulu tumbuhkan pandangan bahwa Anda akan menemukan adegan-adegan seksual yang digambarkan dengan sensual, merangsang.

Dalam novel yang membuat JM Coetzee menjadi penulis pertama yang memenangkan Booker Prize Award dua kali ini, adegan-adegan seksualitas dibeberkan secara minimal. Hubungan dengan Soraya digambarkan tak lebih dari sekedar “dia mengelus tubuh berona cokelat madu yang tak ternodai matahari itu; meregangkannya, menciumi buah dadanya; mereka bercinta”.

Bukankah, dibandingkan dengan sebagian besar karya sastra bertema seks lainnya, banyak sekali yang dilewatkan dalam menceritakan hubungan seks? Begitu juga ketika Prof. Lurie bersetubuh dengan Bev Shaw yang tak cantik, disebutkan “memerosotkan celana dalam, dia masuk ke sisi Bev, menelurusi tubuh Bev. Tak ada yang bisa dikatakan tentang payudara Bev. Tegap, nyaris tak berpinggul, seperti bak mandi pendek kecil”.

Mungkin, akan ada yang beranggapan, dengan seksualitas sebagai tema sentral, penggambaran hubungan seks di dalam Aib terasa terlalu minimal. Tapi, jika ditilik kembali sebesar apakah kuantitas seks dalam kehidupan, kita akan ingat betapa seks mendapatkan jatah tak banyak dalam sehari —kecuali bagi mereka yang, maaf, menjadikannya sebagai profesi. Dalam Aib, seks memicu terjadinya sebuah tragedi.

Selanjutnya, tragedi itulah yang lebih banyak dihadapi tokoh-tokoh cerita, bukannya seks itu sendiri. Itulah yang membuat kita sah berkata bahwa J.M. Coetzee telah menakar seksualitas secara proporsional dan dengan cara yang sama dia menyajikannya kepada kita para pembaca.

Aib menunjukkan kepada kita sebuah karya sastra yang menggarap fenomena-fenomena seksualitas —bukannya menggarap hubungan seksual!— dengan cerdas. Di Indonesia sendiri, satu atau dua tahun yang lalu, seorang sastrawan menyatakan bahwa dia menggarap tema seputar fenomena seksualitas, bukannya hubungan seksual.

Namun, terbukti banyak pihak menilai karyanya sebagai karya yang merangsang dan bahkan sempat memunculkan fenomena label “bacaan khusus dewasa”. Dengan hadirnya Aib, kita mendapatkan alternatif bacaan yang tak takut mengurai tema seksualitas namun juga tetap mampu menjaga dirinya bersih dari usaha membuat pembacanya larut dalam fantasi seksual yang berlebihan.

Selain seksualitas, novel ini juga mengetengahkan tema rasialisme. Dengan setting Afrika Selatan pasca-apartheid, JM Coetzee dalam novel ini melukiskan sedikit konflik yang muncul sebagai dampak dari luka politik apartheid yang masih terasa. Namun, berbeda dengan karya-karya sang pejuang anti-apartheid, Nadine Gordimer, penulis Afrika Selatan yang mendapatkan anugerah Nobel Sastra, JM Coetzee tidak menjadikan apartheid tema sentral. Dalam karya-karyanya, JM Coetzee lebih menyoroti konflik karakternya, dan menggunakan isu sosial hanya sebatas isu itu benar-benar mendukung perkembangan karakter tokoh-tokohnya.

Kebetulan, dalam Aib dia memiliki tokoh seseorang yang kehidupannya tak pernah jauh dari kepuasan seksual. Kehadiran Aib seakan-akan bertepatan dengan maraknya isu seksualitas di kancah sastra Indonesia. Jika memang kita tak pernah malu untuk belajar, kita bisa bilang bahwa Aib adalah satu diantara karya sastra asing yang bisa mengajarkan kepada kita bagaimana menakar seksualitas dengan proporsional

Ketidaksadaran Patriarkal dan Budaya Perkosaan dalam Sastra

Dalam esei “Bahasa Maskulin dalam Sastra” (dimuat di Kompas 16 September 2016), Aninditya S. Thayf mengutarakan bahwa bahasa yang maskulin merupakan gejala dari ideologi patriarki, dan kita bisa mengamatinya dalam karya sastra. Dalam retorikanya, Aninditya mengesankan kuatnya unsur kesengajaan dalam “penyusupan ideologi patriarki” melalui bahasa maskulin dalam sastra tersebut. Padahal, pada kenyataannya patriarki adalah kecenderungan yang tanpa disadari sudah melebur dalam peradaban manusia dewasa ini, yang sudah membudaya, dan bukan seperti sebuah ideologi yang sengaja ingin ditanamkan oleh sebuah rezim. Secara sadar, semakin banyak laki-laki maupun perempuan yang secara terbuka mendukung gagasan-gagasan feminis, yang menggugat maskulinitas eksklusif. Maka, mungkin akan lebih menarik dan produktif bila kita menelaah perwujudan ideologi patriarki yang tidak disadari.

Dengan demikian, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar melihat kecenderungan berbahasa dari penulis “yang dikenal misogini,” yang menurut Aninditya mengikuti “ideologi patriarkal.” Pernyataan Aninditya bahwa kecenderungan berbahasa yang maskulinis itu ada pada sastrawan yang dikenal misoginis berimplikasi bahwa yang perlu disoroti adalah penulis-penulis yang sejak awal sudah membenci atau menganggap lebih rendah perempuan. Padahal, yang mungkin lebih tepat adalah lebih banyak penulis yang tidak menyadari bahwa dia terjerat dalam gelembung patriarki.

Lebih dari sekadar perlunya kejelian pembaca untuk bersikap kritis, sebagaimana disampaikan Aninditya di akhir esei, penulis sendiri juga perlu terus menyadari. Penulis dituntut menyadari kuatnya pengaruh patriarki dan mencoba untuk secara sadar membaca naskahnya sendiri dari sudut pandang ini, kalau memang dia setuju bahwa bersikap non-patriarkal adalah penting. Dengan demikian, tanggung jawab ini sama besarnya bagi laki-laki maupun perempuan. Penulis perempuan pun bisa terpeleset dan mendukung kecenderungan patriarki. Tapi, secara etis, tidak pada tempatnya saya, seorang lelaki, ikut mengomentari kecenderungan mendukung patriarki pada penulis perempuan.

Beberapa gejala dari pengaruh patriarki yang sering muncul dalam karya budaya adalah objektifikasi perempuan, pembagian peran berdasarkan jenis kelamin, dan perayaan “budaya perkosaan.” Di sini, saya ingin langsung menyoroti perayaan “budaya perkosaan,” sebuah istilah yang sudah dipakai sejak tahun 1970-an di Amerika Serikat. Istilah ini mengacu pada perilaku, bisa berupa lelucon maupun kelalaian, yang menormalisasi tindakan perkosaan. Perilaku semacam ini menjadikan tindak perkosaan seolah-olah tidak jahat atau bahkan disebabkan oleh perempuan sendiri. Meski sudah lama dipakai, istilah ini masih diperdebatkan dan tetap perlu dikampanyekan hingga hari ini. (Untuk lebih jelasnya, silakan lihat buku Kate Harding terbitan 2015 berjudul Asking For It: The Alarming Rise of Rape Culture–and What We Can Do About It.)

Dalam karya sastra, “budaya perkosaan” bisa muncul secara halus, mungkin tanpa disadari penulisnya sendiri. Gejala ini bisa muncul bahkan dalam karya sastra penulis yang tidak dikenal misoginis. Karya yang bisa kita ambil untuk dijadikan contoh kasus adalah cerpen berjudul “Es Krim” karya Bernard Batubara dalam buku kumpulan cerpen Metafora Padma. Dari buku ini, Bernard Batubara tidak tampak seperti seorang cerpenis yang secara sadar “misoginis.” Bahkan, perempuan memainkan peran-peran penting dalam beberapa cerpen Bernard. Cerpen “Es Krim,” khususnya, menarik dibahas karena cerpen ini mengkritisi sekaligus merayakan “budaya perkosaan.”

Bingkai utama cerita ini adalah perbincangan antara narator dan kawan lelakinya. Narator digoda kawannya karena tidak berani menghadiri acara perkawinan Fu, mantan kekasihnya. Di tengah perbincangan itu, narator kita mengingat riwayat hubungannya dengan Fu, mulai masa perkenalan, kedekatan, hingga akhirnya hubungan tersebut kandas di tangan orang tua, yang menjodohkan Fu dengan seorang lelaki kaya. Cerpen ini, menurut saya, mengusung tema sederhana tentang minimnya agensi perempuan; dalam cerpen ini, Fu adalah obyek kejahatan laki-laki (pemerkosa) sekaligus objek cinta orang yang menginginkan kebahagiaannya (orang tua), meskipun Fu memiliki kehendak lain.

Namun, saat menelaah secara lebih mendetil, pembaca yang peka terhadap hubungan antar jender, atau tentang “budaya perkosaan,” akan terusik. Yang pertama adalah bagaimana dalam ingatan narator kita si perempuan, Fu, mengingat trauma psikologis yang dialaminya. Fu mengatakan: “… dalam dua jam, saya ditiduri sepuluh laki-laki.” Karena ucapan Fu ini kita terima lewat ingatan si narator, jadi kita bisa membaca ini sebagai sikap si narator. Perlukah di sini si narator memperhalus “diperkosa” menjadi “ditiduri”? Samakah keduanya? Menurut kamus, keduanya sangat berbeda.

Di satu sisi, membiarkan si narator menggunakan kata “ditiduri” tanpa disertai dengan justifikasi adalah kesalahan jender fatal di pihak penulis, karena hal itu adalah upaya “normalisasi” tindak kejahatan seksual. Tapi, bisa juga kita baca ini sebagai kesalahan narator dalam mengingat, sehingga tindak kejahatan besar seperti perkosaan bisa terwakili oleh kata “ditiduri.” Kalau masalahnya yang kedua, mungkin saja kegagalan si narator mendapatkan Fu adalah ganjaran yang diberikan oleh penulis atas dosanya ini.

Permasalahan yang kedua berkaitan dengan alasan kenapa cerpen ini berjudul “Es Krim.” Dalam cerpen ini, es krim adalah simbol kenikmatan yang akhirnya dapat membangkitkan lagi semangat hidup Fu setelah diperkosa. Fu mulai menyukai Es Krim sejak salah seorang kolaborator pemerkosaan yang menawari si perempuan “Es Krim” dan selimut. Sekuat itukah kemampuan Es Krim mengobati luka karena perkosaan? Dengan menarasikan betapa mudahnya trauma perkosaan disembuhkan, cerpen ini merepresentasikan perkosaan sebagai sesuatu yang relatif ringan.

Pertanyaannya sekarang, apakah dengan begitu Bernard Batubara mempromosikan ideologi patriarki? Tentu hanya Bernard Batubara yang bisa menjawab secara pasti pertanyaan semacam itu. Namun, berdasarkan pembacaan atas buku Metafora Padma secara lengkap, kita bisa bilang bahwa yang terjadi bukanlah “penyusupan ideologi maskulinitas lewat diksi.” Dari buku ini, kita bisa melihat kepedulian Bernard Batubara terhadap pertikaian antar suku, etnis, dan kelompok yang akhirnya mengorbankan manusia, anak-anak, dewasa, orang tua, laki-laki, dan perempuan.

Justru, Dengan mengambil tema seorang lelaki yang peduli dan menjalin hubungan dengan seorang korban perkosaan tanpa memberikan pandangan miring, Bernard Batubara sudah menunjukkan kepedulian terhadap isu jender dan tindakan perkosaan. Bahkan, di dalam cerpen tersebut Bernard Batubara menyoroti salah satu elemen pendukung “budaya perkosaan,” yaitu pada adegan ketika para pemerkosa mengatakan seolah-olah perkosaan itu disebabkan gaya busana Fu. Selain itu, di akhir cerita pun si narator tetap tidak bisa mendapatkan Fu, yang secara struktur dalam cerita bisa dihubungkan dengan sikapnya yang memandang ringan perkosaan Fu.

Akan tetapi, apakah artinya di sini Bernard Batubara juga bukan orang yang bersalah? Dalam hal ini, Bernard sama bersalahnya dengan kita yang secara sadar maupun tidak ikut membiarkan adanya “budaya perkosaan.” Sama bersalahnya dengan Bernard adalah kita yang, misalnya, membiarkan terjadinya tindakan perkosaan atau bahkan bergurau seolah-olah perkosaan adalah tindakan yang tidak terlalu mendehumanisasi perempuan. Yang pasti lebih parah adalah, misalnya, tindakan menutup mata dan tidak merasa terusik ketika kasus tuduhan perkosaan oleh Sitok Srengenge mandek dan tidak lagi terdengar kabarnya. Dan ini adalah persoalan global. Di Amerika, baru-baru ini, seorang hakim menjatuhkan hukuman cukup ringan untuk seorang atlit yang memperkosa dengan pertimbangan bahwa hukuman penjara akan merusak masa depan si atlit yang gemilang. Kejadian seperti ini menunjukkan kuat dan tidak disadarinya pengaruh ideologi patriarki, khususnya dalam bentuk “budaya perkosaa.”

Sebagai simpulan, sastra adalah sebuah hasil karya budaya yang juga menunjukkan gejala-gejala sosial. Namun, gejala-gejala tersebut seringkali bukan gejala yang dihasilkan oleh tindakan sadar. Bahayanya adalah, retorika semacam itu bisa menjadi sesuatu yang besar karena mempengaruhi pola pikir secara umum. Maka, dalam hal ini baik pembaca maupun penulis (atau seniman secara umum) perlu dengan sadar, dan dengan kepekaan lebih, untuk sebisa mungkin mengikis kecenderungan-kecenderungan yang melestarikan patriarki. Dari cerpen Bernard Batubara, kita bisa melihat bahwa bahkan pada karya sastra yang menyoroti isu jender pun seorang pengarang bisa terpeleset melakukan dosa jender.

(Ini tulisan dari tahun 2016 dan dimuat di majalah SULUK terbitan Dewan Kesenian Jawa Timur edisi 12 tahun 2016.)

Sejarah Aib: Berziarah ke Awal Karir Borges

 

Sejarah Aib

Judul : Sejarah Aib (The Universal History of Infamy)
Penulis : Jorge Luis Borges
Penerjemah : Arif B. Prasetyo
Penyunting : Japhens Wisnudjati
Penerbit : Pustaka Sastra LkiS Yogyakarta
Cetakan : I, 2006
Tebal : xvii + 150 hal.
ISBN : 979-8451-54-6

Borges menyebut Sejarah Aib (versi Indonesia dari The Universal History of Infamy) sebagai “permainan seorang pemuda yang tak berani mengarang cerita sehingga asyik-asyik sendiri dengan memalsukan dan menyelewengkan kisah-kisah karya orang lain.” Memang, ketika menulis buku ini, Borges belumlah seterkenal sekarang. Kala itu dia “baru” menulis puisi-puisi epik tentang sejarah Argentina.

Sejarah Aib adalah debut pertamanya di dunia fiksi. Yang dimaksud fiksi di sini adalah fiksi Borgesian, yaitu fiksi anti-plot, bersikap sok ilmiah, kental dengan mitologi dari seluruh penjuru dunia, dan banyak menggunakan anasir filsafat untuk memperkuat argumentasinya. Benar-benar jauh dari fiksi yang kita baca sehari-hari di cerbung dan cerpen koran.

Buku ini terdiri dari enambelas tulisan. Tujuh cerita pertama adalah semacam obituari tentang orang-orang yang sebelumnya pernah dibahas di buku-buku lain karangan penulis-penulis lain. Ada tulisan yang berkisah tentang Lazarus Morell sang penjual budak, Tom Castro sang penyaru, Monk Eastman sang gangster di New York, Billy the Kid sang penjahat remaja, dan lain-lain. Jika sempat membuka-buka ensiklopedia, kita akan tahu bahwa tokoh-tokoh tersebut memang pernah ada dalam sejarah.

Dalam Sejarah Aib, Borges menuliskan kembali tentang mereka dengan bersumberkan buku-buku tertentu. Khusus untuk kisah Lazarus Morell, dia menggunakan jasa Mark Twain, penulis yang dikenal banyak bercerita tentang kehidupan di pinggiran sungai Mississippi baik dalam bentuk fiksi (The Adventure of Tom Sawyer dan The Adventure of Huckleberry Finn) dan non fiksi (Life on the Mississippi). Dari buku Mark Twain yang disebutkan terakhir inilah Borges menulis kisah Lazarus Morell, si penjual budak yang bengis.

Dari buku Walter Noble Burns dan Frederick Watson dia menulis kisah si penjahat kecil bernama Billy the Kid. Di Indonesia, kita mengenal Billy the Kid lewat dua film Young Guns, yang musik latarnya digarap Jon Bon Jovi, dan serial Young Rider yang pernah ditayangkan di salah satu televisi swasta kita. Borges menceritakan kembali tokoh ini dengan bahasa dan imaji yang hidup dan membuat kita kenal semakin dekat dengan si penjahat remaja.

Salah satu keunikan cerita-cerita di buku ini adalah ia bercerita tentang seorang tokoh dengan gaya ilmiah sekaligus hidup. Hal ini tak lebih karena kemampuan Borges dalam meleburkan antara fakta, yang dia dapatkan dari buku, fiksi, yang dia olah dari hasil pembacaannya, dan sikap ilmiah yang mungkin dia maksudkan untuk membuat pembaca percaya keabsahan tulisannya itu. Bahkan, pembaca dia buat percaya pada bagian-bagian fiksi yang dia karang-karang sendiri.

Sekilas pasti kita teringat betapa banyaknya tokoh politik jaman orde baru menerbitkan biografi dengan sedikit banyak bumbu yang membuat mereka semakin menonjol sebagai seorang tokoh. Namun, tidak demikian halnya dengan Borges. Di dalam Sejarah Aib, Borges memberi bumbu di sana-sini agar aib si tokoh semakin menonjol dan karakternya semakin kuat. Nah, pada akhirnya pembaca akan mendapatkan sebuah fiksi yang sempurna. Memang, tidak semua kisah hidup manusia bisa begitu saja menjadi novel atau cerita pendek yang bagus—yang plot, latar, dan penokohannya kuat—dan di sinilah tugas Borges, memberi sentuhan di sana-sini sehingga kisah hidup itu bisa menjadi karya sastra, meskipun toh minim plot, latar dan penokohan yang kuat. Kelak, kita akan ketahui bahwa fiksi-fiksi Borges tidak memerlukan ketiga elemen itu untuk bisa disebut fiksi mutakhir.

Selain ketujuh kisah ambigu itu, ada juga sembilan tulisan lainnya.

Tulisan pertama setelah tujuh karya yang saya bahas pertama adalah karya Borges sendiri berjudul Lelaki Pojok Jalan. Sebenarnya, cerita ini tetap menjelaskan seorang tokoh, tapi bedanya tokoh ini adalah tokoh rekaan Borges sendiri. Tapi, Borges tetap konsisten dengan gaya bertutur seperti menceritakan tokoh-tokoh penyandang aib seperti Billy the Kid, Lazarus Morell, Tom Castro dan lain-lain.

Delapan cerita terakhir yang rata-rata pendek memiliki struktur dan gaya yang jauh berbeda dengan delapan cerita sebelumnya. Cerita-cerita di bagian ini digarap sedemikian rupa hingga bentuknya semakin menyerupai fiksi-fiksi Borges di kemudian hari. Beberapa tulisan –seperti Kembaran Muhammad dan Perihal Keeksakan Dalam Sains—memiliki bentuk lebih menyerupai artikel atau esai daripada sebuah tulisan fiksi. Di sini, alur yang bersifat aksi sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah kejutan di akhir tulisan karena adanya fakta mengejutkan yang baru tersibak. Beberapa tulisan seperti Kisah Dua Pemimpi, Penyihir Batal dan Kamar Patung terasa seperti sinopsis sebuah buku.

Kedua jenis gaya penceritaan ini tetap memiliki garis merah, yaitu sikap ilmiah. Sikap ilmiah dan kemampuan menggiring pembaca untuk mempercayai hal-hal palsu adalah keunggulan Borges yang nampak sangat bagus di karya-karyanya yang kelak terkumpul dalam buku Ficcioness—yang sebagian ceritanya, ditambah dengan beberapa cerita lain, pernah diterjemahkan Hasif Amini dan diterbitkan dengan judul Labirin Impian (LkiS).
Kembali ke Sejarah Aib, Borges sendiri menyatakan bahwa buku ini adalah sebuah hiburan ringan. Kita tidak perlu repot-repot membuka banyak buku untuk mengenal sejumlah orang “penting” karena Borges telah merelakan diri untuk merangkumnya bagi kita.

Kalaupun toh kita tidak kenal siapa yang Borges tulis dalam buku ini, tetap saja ada satu hal penting yang bisa ambil dari buku ini. Membaca buku ini bisa menjadi sebuah napak tilas ke tahap awal karir Borges sebagai penulis fiksi mutakhir yang hingga sekarang masih belum mendapatkan perlawanan yang sebanding dari penulis penerusnya, baik itu penggemar maupun pengkritiknya.

(Ini sebenarnya resensi lawas. Tapi, resensi yang satu ini bisa dibilang resensi yang punya arti tersendiri buat blogger Anda yang satu ini. Resensi ini ditulis pada tahun 2006, dan saya yakin tidak pernah sekali pun saya coba kirimkan ke media cetak. Saya malah mengirimkan resensi ini ke milis Apresiasi Sastra yang waktu itu sering mengadakan lomba menulis kecil-kecilan sesama anggota. Waktu itu, ya waktu itu, saya ikutkan resensi ini ke lomba Apresiasi Resensi dan menjadi resensi terbaik. Sebenarnya tidak terbaik-terbaik amat. Nilai resensi ini sama tingginya dengan resensi Damhuri Muhammad–ya, Damhuri Muhammad yang masyhur dan cerpen-cerpennya luar biasa itu. Saya dimenangkan hanya karena saya lebih dulu memposting. Hehehe… Sebenarnya saya sudah nyaris lupa dengan itu semua, tapi kemarin waktu menyalin resensi ini dari blog ini, saya jadi ingat sesuatu yang sudah berangsur hilang dari pikiran saya itu. Sementara begitu dulu ajang pamernya, selanjutnya silakan baca resensinya, dan semoga masih bisa nemu bukunya. Salaam.) 

Moemie: Fiksi yang Memantik Hasrat Menggali Fakta

(Ini satu lagi resensi yang tidak termuat di media, yang harus saya sampaikan kepada sidang jamaah blog sekalian daripada menjamur di folder. Kayaknya suatu saat saya perlu bikin tag khusus “tulisan yang ditolak media” :D.)

Moemie

Judul buku      : Moemie, Gadis Berusia Seratus Tahun
Penulis             : Marion Bloem
Penerjemah      : Widjajanti Dharmowijono
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan           : Oktober 2016
Halaman          : 621 hal

Moemie Gadis Berusia Seratus Tahun bukanlah jenis novel yang biasa hadir di Indonesia. Novel ini ditulis seorang penulis Indo-Belanda. Sejauh ini, hanya sedikit karya penulis Indo-Belanda yang telah diterbitkan di Indonesia. Tapi, yang kurang disadari adalah, dari segelintir novel itu banyak yang bisa dapatkan tentang sejarah bangsa Indonesia sendiri.

Moemie mengisahkan hidup seorang perempuan unik. Meski terlahir dari seorang perempuan Bali, selama masa mudanya Moemie tidak pernah tahu asal-usulnya. Dia berpindah dari satu keluarga angkat ke keluarga angkat lainnya. Dan ketika dia mendapati bahwa dirinya memiliki kemampuan waskita (bisa mengetahui masa lalu dan masa depan seseorang hanya dengan memandangnya) hidup Moemie berangsur-angsur berubah. Dari anak angkat, dia sedikit demi sedikit mempengaruhi hidup keluarga Indo yang menjadikannya anak angkat. Hingga akhirnya Moemie menjadi semacam pimpinan tak resmi keluarga Indo ini. Moemi memastikan keluarga ini tetap utuh, hingga akhirnya mereka meninggalkan Indonesia pasca proklamasi kemerdekaan.

Namun, kisah fantastis Moemie dengan kemampuan supranaturalnya ini bisa dibilang hanya sebagian kecil dari pesona novel ini. Justru kisah orang-orang di sekeliling Moemie itulah yang akan memantik penasaran pembaca Indonesia. Kisah dari perspektif keluarga Indo ini mempertemukan kita dengan hal-hal yang tidak lazim dibicarakan dalam “sejarah nasional” Indonesia.

Hal pertama yang menonjol di sini adalah bagaimana novel ini menyajikan perihal Indonesia dan Belanda masa masa pra-kemerdekaan secara penuh nuansa dan tidak hitam-putih. Di sini, orang-orang Indo dihadirkan dengan kompleksitas emosinya. Salah seorang karakter Indo memiliki cinta yang amat besar kepada tanah Jawa dan tidak bisa membayangkan akhirnya harus meninggalkan tanah kelahirannya ini. Baginya, Belanda adalah sebuah negeri yang aneh dengan cuaca musim dingin yang membuatnya tidak nyaman.

Selain itu, hubungan sosial antara kaum Indo ini dengan demografi orang Hindia Belanda juga terasa hidup. Hubungan di antara orang Indo dan Belanda murni, antara Indo dan Tionghoa, dan Indo dan pribumi, dan bahkan antara Indo dengan serdadu Jepang–semuanya digambarkan dengan insiden yang memberi gambaran yang lebih hidup tentang masa pra-kemerdekaan. Detil hidup seperti ini seringkali lolos dari gambaran sejarah nasional yang diajarkan di sekolah. Ini berbeda dengan film-film perjuangan Indonesia, yang seringkali menggambarkan tokoh Indo dengan stereotipe “meneer kompeni.”

Selain itu, kita akan melihat bagaimana identitas etnis di masa kolonial sebagai sesuatu yang cair. Identitas ras di sini mirip dengan apa yang diteorikan dalam kajian pascakolonial: “ras” adalah konstruksi sosial. Seseorang menjadi Indo atau pribumi atau Belanda lebih karena faktor-faktor eksternal. Salah satu adegan menarik di novel ini menunjukkan seorang karakter Indo yang bisa berubah menjadi Jawa hanya dengan memakai kopyah dan kembali menjadi Indo dengan menunjukkan sebuah surat keterangan yang diterbitkan oleh otoritas.

Hal terakhir yang juga bisa kita temukan dari novel ini adalah tentang evolusi bahasa Indonesia dari bahasa pinggiran menjadi bahasa utama. Bila secara umum siswa di Indonesia mendapatkan kesan bahwa Bahasa Indonesia menjadi bahasa pemersatu sejak 1928, maka novel ini memberikan gambaran yang lebih bagus. Tokoh Moemie mengamati bagaimana awalnya komunikasi hanya terjadi dalam bahasa Belanda (untuk urusan resmi) dan bahasa Jawa (untuk urusan jual-beli). Bahasa Melayu ketika itu hanya ada di pinggiran. Tapi, ketika Jepang mulai menduduki Indonesia, bahasa Melayu berangsur-angsur semakin mengemuka, hingga akhirnya menjadi bahasa resmi pasca kemerdekaan. Hal ini selaras dengan hasil penelitian James S. Sneddon tentang sejarah bahasa Indonesia dalam buku The Indonesian Language: Its History and Role in Modern Society.

Pembaca mungkin akan bertanya: apa mungkin menjadikan karya fiksi sumber pengetahuan sejarah? Pertanyaan ini wajar, karena bagaimanapun fiksi adalah hasil imajinasi.

Namun, Moemi sebenarnya tidak terlalu jauh terpaut dari ilmu sejarah. Dalam sebuah wawancara, Marion Bloem menceritakan bahwa dia mendapat bahan untuk buku ini melalui wawancara dengan orang-orang Indo di Belanda yang sempat mengalami masa kolonialisme di Indonesia. Marion Bloem sendiri lahir dua tahun setelah orang tuanya (Indo) pindah ke Belanda dari Indonesia. Dengan kalimat lain, Marion Bloem mencari bahan menggunakan teknik penggalian sejarah lisan, sejarah yang bukan dari artefak fisik, tapi dari perkataan dan hasil ingatan. Atau, Moemie adalah hasil historiografi dalam bentuk fiksi.

Memang, di masa kini, ketika sejarah lisan kurang mendapat kredit (kecuali hadits, yang juga termasuk sejarah lisan), Moemie tidak akan bisa memberikan bahan buku pelajaran sejarah. Namun, dengan keselarasan antara penggambaran dalam Moemie dengan penelusuran sejarah bahasa Indonesia, teori pascakolonial, dan sejumlah faktor lain, apa yang ditawarkan Moemie mestinya bisa memancing rasa penasaran kita mengenai sejarah bangsa sendiri.

Masih terlalu banyak yang belum kita ketahui tentang Indonesia pra-kemerdekaan, padahal zaman itu belum juga terlalu jauh jika dibandingkan dengan umur peradaban manusia di Nusantara. Dan hendaknya hal seperti ini menjadi keprihatinan bersama. Kita sudah lama mendengar “Jas Merah” atau “Jangan Sampai Melupakan Sejarah.” Tapi, masalahnya adalah: bila kita tidak tahu banyak mengenai sejarah kita, apa yang akan kita lupakan?

Resensi Tanah Tabu: Tidak Buru-buru Bahagia

(Resensi ini saya buat puluhan purnama yang lalu–pret!–dan saya kirimkan ke surat kabar. Ternyata penerbit tidak berkenan menerbitkannya. Saya baru temukan beberapa waktu yang lalu di folder “Sent” email yahoo saya yang bisa dibilang sudah dormant. Jadi, daripada hilang dimakan lupa, mending saya posting di sini saja resensi ini dengan segala potensi dan kekurangannya.)

Tanah Tabu_Postingan

Judul                : Tanah Tabu
Penulis             : Anindita S. Thayf
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan           : I/Mei 2009
Tebal               : 240 hal.

Ketika menonton Denias, Senandung di Atas Awan (2006), pemirsa dibuat miris, lalu meringis, dan pada akhirnya mungkin menangis sedih-bahagia oleh kisah saudara kita yang menempati “kamar” paling ujung timur di “rumah” nusantara ini. Itulah film fiktif pertama berlatar Papua. Baru tiga tahun kemudian muncul sebuah novel yang bercerita tentang Papua, yakni sebuah karya Anindita S. Thayf yang berjudul Tanah Tabu, pemenang Sayembara novel DKJ 2008. Jika film Denias diawali dengan tangis miris dan segera beranjak menuju ceria, Tanah Tabu seperti kerasan menggali akar kemuraman itu dan tidak buru-buru menuju keceriaan.

Tanah Tabu berkisah tentang sebuah keluarga beranggotakan perempuan dari tiga generasi, nenek Mabel, mama Lisbeth, dan bocah Leksi—plus dua ekor piaraan mereka. Mabel berasal dari suku Dani dan tercabut dari Lembah Baliyem sebagai efek samping kolonialisme dan penambangan. Lisbeth, si ibu tercampakkan oleh suaminya sebagai efek samping dari proyek dan berjalannya pertambangan yang dimulai sejak masa Mabel ditambah “pendatang”. Masalah semakin pelik ketika akhirnya politik daerah juga ikut menunjukkan dampaknya. Dan ketika masih berusia awal sekolah, Leksi sudah merasakan dampak dari permasalahan-permasalahan yang muncul dari pertambangan asing, perang suku,  politik daerah, dan pendatang bercampur jadi satu hingga sulit lagi dipisahkan antara satu dengan lainnya.

Satu tema yang paling menonjol dari kisah keluarga tanah tabu ini adalah kenyataan bahwa perempuan kalangan minoritas adalah kelompok yang paling lemah posisinya. Dalam Tanah Tabu, datangnya perusahaan pertambangan pertama menyisihkan masyarakat suku Dani dari tanah leluhur mereka. Selanjutnya, ketika mereka mulai mengenal uang, mereka pun mulai kenal minuman keras. Jika awalnya masyarakat lokal sudah sangat patriarkal dan memperlakukan kaum perempuannya seperti “barang” atau “benda mati,” kini setelah mengenal uang dan minuman keras kaum laki-laki di kisah ini semakin membahayakan perempuan: mudah main kekerasan. Selain itu, masih ada juga pemerkosaan yang dilakukan pendatang.

Novel ini sangat berpotensi jadi kegemaran kaum feminis gelombang ketiga, yang gemar mengusung isu-isu perempuan di kalangan non-kulit putih dan “Dunia Ketiga.” Di antara karya sastra dunia yang sering dikait-kaitkan dengan gelombang feminisme ini adalah karya Alice Walker yang berjudul The Color Purple. Di novel Walker ini, ada kisah seorang gadis Afro-Amerika yang “ditawarkan” ayahnya kepada seorang calon suami seperti nyaris persis dengan bagaimana seorang pelamar memperlakukan Mabel. Ada juga kisah tentang suku fiktif Olinka di Liberia, yang sangat patriarkal. Dan ketika suku Olinka disingkirkan dari tanah yang telah mereka tinggali sejak leluhur karena pemerintah kolonial menjadikan hutan mereka perkebunan dan mulai mengenal uang, kaum perempuan Olinka juga mendapat tambahan penderitaan.

Sebagai sebuah karya fiksi, Tanah Tabu ini memang relatif lengkap dalam menyajikan tokoh-tokohnya, latarnya, dan alur serta cerita yang ujungnya seolah menolak tebakan kita sebagai pembaca. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa ada satu hal yang menggelitik ketika kita mengetahui bahwa si penulis sendiri tidak pernah menginjakkan kaki di tanah Papua. Anindita mengaku bahwa sumber-sumber ceritanya didapatkan dari media massa cetak dan elektronik serta hasil penelitian seorang sarjana Belanda. Di antara banyak hal yang terbersit di pikiran saat mendengar pengakuan di atas, satu hal paling menonjol: semampu apakah telaah literatur menggantikan pengalaman lapangan?

Di ranah kajian media, sudah lazim diterima bahwasanya seobyektif apapun pemberitaan media, masih tetap saja ada ada campur tangan manusia. Campur tangan manusia baik itu dalam proses seleksi sumber berita maupun, pada kasus-kasus tertentu, penyuntingan bakal berita karena sejumlah etika baik yang sifatnya moral maupun politis, menjadikan adanya tendensi tertentu dalam berita. Muncul juga pertanyaan, apakah koran, dokumenter, dan studi akademis cukup bisa menangkap psikologi seorang putri asli “tanah tabu”—tentang adanya hewan yang menjadi narator cerita, mungkin para kritikus bisa melakukan telaah tersendiri.

Namun, alih-alih menjadi titik lemah, celah ini sangat potensial untuk menjadi pintu masuk bagi para apresian sastra, terutama yang pernah memiliki pengalaman lapangan di “tanah tabu.” Jika dibandingkan lagi dengan film Denias, yang cenderung pro-tentara dan pro-Freeport, dan notabene diproduksi oleh seorang putra Papua, Tanah Tabu menunjukkan hal-hal yang sebaliknya; dia menunjukkan hal-hal “tabu” yang kita dengarkan dalam perbincangan-perbincangan warung kopi atau dalam buku-buku yang dilarang terbit.