Pagar Lupakan, Jembatan Dirikan: Anjuran Buku Tafsir Puisi Nyalasar karya M. Faizi.

Nyalasar karya M. Faizi bukanlah buku. Dia adalah titian. Nyalasar adalah titian yang menjembatani puisi dengan pembaca. Di jaman yang penuh penuh pagar, penuh tagar, jembatanlah yang kita butuhkan.

Tapi, sebelum terlalu jauh bicara tentang Nyalasar yang berpotensi menjadi jembatan, mari kita masuki dulu apa sebenarnya buku ini? Seperti terlihat pada sampulnya, buku Nyalasar ini adalah buku tafsir puisi. Kalau bicara tentang sastra, istilah “tafsir” bisa dimaknai bermacam-macam, mulai dari penjelasan akan arti makna hingga kritik yang menggali begitu dalam hingga, ekstrimnya, kita bisa heran bagaimana mungkin sebuah teks yang mengatakan A ternyata bisa memiliki makna yang sebegitu dahsyatnya. “Tafsir” yang dikerjakan oleh buku Nyalasar ini adalah upaya menjelaskan kemungkinan makna puisi dari baris ke baris yang dilakukan secara manasuka, atau istilah filosofisnya “woles.”

Untuk lebih jelasnya, biarkan saya gambarkan seperti apa buku karya Kyai muda M. Faizi ini. Buku ini berisi esai-esai yang masing-masingnya diawali sebuah puisi (ada yang baru, relatif baru, agak lama, dan legendaris) dan kemudian dilanjutkan dengan usaha menjelaskan puisi tersebut baris-demi-baris. Biasanya, dan inilah yang diharapkan oleh M. Faizi juga, setelah esai selesai dibahas pembaca akan lebih dekat dengan puisi tersebut, memahami makna di balik baris-demi-baris atau bahkan kata-demi-kata, dan mengetahui aspek-aspek teknis dari baris-baris puisi tersebut (seperti mana majas pars pro toto, mana anafora, dan lain-lain). Saya bayangkan bahwa setelah menyelesaikan satu esai, pembaca akan merasa puisi-puisi tersebut menjadi lebih jelas maksudnya. Tentu, kejernihan puisi tersebut adalah kejernihan versi M. Faizi, yang dengan rendah hati mengakhiri ikhtiarnya di tiap-tiap esai dengan “wallahu a’lam,” Tuhan maha mengetahui.

Kira-kira, apa faedah buku seperti ini? Kalau apa yang ada di lapangan, yang menganggap puisi sebagai sebuah karya sastra yang dianggap lebih berat, buku yang menjelaskan isi puisi semacam ini cukup bermanfaat. Bagi yang memang suka puisi (tapi tidak selalu bisa paham maksud puisi) buku ini bisa lebih membantu memahami apa-apa yang tersembunyi di balik keringkasan puisi. Bagi yang menganggap puisi itu sulit dan karenanya tidak suka membaca puisi, buku ini menunjukkan bahwa puisi itu tidak mustahil dipahami. Atau setidaknya tidak semua puisi mustahil dipahami (Afrizal Malna baru saja terlintas di pikiran saya).

Membaca yang Tersurat

Terus, kalau kita membutuhkan titian untuk mendekatkan antara puisi dengan pembaca, dan kita membutuhkan seorang M. Faizi untuk melakukannya, apakah itu artinya kita tidak bisa melakukannya? Sebenarnya kita sangat bisa, saya yakin. Tapi M. Faizi lebih bisa. Sepertinya ini tidak bisa dilepaskan dari latihan formal, kebiasaan membaca puisi, dan tentu saja karena beliau juga seorang penyair yang kemungkinan tahu cara kerja seorang penyair. Kalau mau kaku-kakuan ini, sebenarnya kita bisa mengkategorikan apa-apa yang dilakukan M. Faizi alam menafsir puisi itu ke dalam tiga tingkatan: leksikal (tafsiran atas kata), proposisional (tafsiran atas kalimat satu dengan yang lain), dan pragmatik (tafsiran atas konteks dengan dunia di luarnya). Agaknya, M. Faizi telah menghayati pentingnya penafsiran pada ketiga elemen tersebut dan bisa melakukannya dengan lancar, bahkan terasa seperti sesuatu yang juga alamiah (second nature) dalam aktivitasnya membaca puisi.

Dalam khazanah pembelajaran membaca, kemampuan-kemampuan ini masuk ke wilayah kedua, yaitu membaca yang tersirat. Sekadar mengingatkan lagi, dalam pembelajaran membaca yang lazim dipraktikkan di jurusan-jurusan bahasa, tahap pertama adalah membaca yang tersurat (membaca harfiah, atau literal reading). Selanjutnya, ada membaca yang tersirat (atau inferential reading) atau membaca untuk mendapatkan makna yang tidak langsung tampak. Selanjutnya, ada yang namanya kritis atau evaluatif. Istilah apresiasi sastra atau kritik sastra itu biasanya lebih mengacu ke pembacaan level ketiga (atau juga mencakup yang kedua). Saat bernikmat-nikmat dengan sastra, pembacaan versi pertama dan kedua ini saja lebih dari cukup. Dari kedua tingkatan ini, ktia bisa mendapatkan informasi dan kenikmatan. Akan lebih bagus juga kalau ktia membaca sampai tahap ketiga juga. Kalau pun tidak, juga tidak apa-apa. Level ketiga itu bisa disebut “fardu kifayah,” yang sudah cukup kalau sudah diwakili oleh yang disebut kritik sastra itu.

Sebagai laku aktivitas pembacaan level kedua, buku Nyalasar adalah buku yang depan bisa belakang bisa. Dia berguna bagi penikmat puisi yang lebih ingin menikmati puisi, yang lebih ingin menghaluskan puisi (seperti halnya judul buku ini, “nyalasar,” yang artinya menghaluskan kayu) atau menggerusnya lebih lembut agar lebih mudah diserap usus. Sementara itu, bagi yang lebih berminat melakukan apresiasi puisi (seperti misalnya kritikus atau mahasiswa sastra Indonesia yang harus menjalani laku membaca kritis demi nilai, eh, maksud saya demi ibu pertiwi), buku ini bisa menjadi rujukan untuk tafsiran-tafsiran atas karya-karya yang ingin dikritisi. Atau, teknik-teknik pembacaan yang dilakukan oleh M. Faizi bisa dipinjam untuk digunakan membaca puisi-puisi lain yang kelak ingin mereka kritisi. Demikianlah, buku yang merupakan laku pembacaan atas apa-apa yang tersurat ini ramah bagi penikmat puisi, orang yang belajar menulis puisi, maupun mereka yang ingin mengapresiasi puisi secara kritis. Depan bisa, belakang bisa.

Perhatian kepada Seni

Kalau saya bilang bahwa buku Nyalasar ini bisa membantu mereka yang ingin melakukan pembacaan kritis, apakah itu berarti menganggap buku ini kalah penting dibandingkan buku kritik sastra atas puisi? Naudzubillah min dalik. Tidak ada yang salah dengan fokus kepada apa-apa yang lazimnya disebut sebagai unsur intrinsik ini. Bahkan, kita semakin sering mendengar tentang pentingnya juga memperhatikan bagian-bagian ini. Sejak tahun sembilan puluhan, dua ribuan, hingga tahun 2018 ini, kita tetap bisa menemukan tulisan-tulisan yang menunjukkan perhatian kepada elemen intrinsik (atau kepada kurangnya perhatian kepada elemen intrinsik) dalam apresiasi karya sastra.

Pada awal tahun 2000-an, di bagian Bentara surat kabar Kompas hari Jumat, terjadi perdebatan selama beberapa saat mengenai “cultural studies” dan perhatian kepada aspek formal dari seni. Ada tuduhan bahwa “cultural studies” membuat orang meminggirkan aspek-aspek formal dan lebih fokus kepada potensi-potensi ideologis dari sebuah karya seni atau teks secara umum. Orang-orang lebih tertarik menyoroti bagaimana sebuah karya sastra bisa dibaca sebagai karya yang subversif karena mengkritisi konsumerisme. Banyak tulisan kritis yang menguraikan bagaimana sebuah film atau novel bisa dibaca sebagai karya yang mendukung status quo dalam kaitannya dengan kelas sosial. Oleh sebagian kalangan, pembacaan terhadap teks budaya yang lebih menekankan pada konten seperti ini dipandang sebagai tindakan yang mengabaikan elemen-elemen intrinsik yang sebenarnya membuat sebuah karya itu bagus atau tidak. Dengan asumsi tersebut, pengkritik “cultural studies” bisa bilang bahwa karya yang secara formal (atau teknik penulisan) jelek pun bisa dibaca sebagai sesuatu yang bagus ketika mengandung isi yang bernilai politis bagus.

Sampai saat ini pun, ingatan tentang “cutural studies” dan kritik yang dialamatkan kepadanya pun masih tetap ada. Tapi, tentu saja, setelah sekian lama, banyak yang sudah move on dari kritikan kepada “cultural studies” per se dan lebih tertarik membicarakan hal-hal yang berpotensi mengobati kesalahan yang dilakukan oleh “cultural studies.” Manneke Budiman, dalam pengantarnya untuk buku Alih Wahana karya Sapardi Djoko Damono yang tahun 2018 ini diterbitkan ulang oleh Gramedia Pustaka Utama, mengatakan bahwa kajian alih wahana, yang aspek-aspeknya dibahas secara panjang-lebar-dalam oleh SDD dalam buku tersebut berpotensi memberikan solusi. Kajian alih wahana, yang menuntut diawali dengan telaah kepada aspek-aspek formal masing-masing bentuk yang menjadi sumber dan sasaran alih wahana sebelum melanjutkan ke aras ideologis, merupakan praktik yang bisa menjembatani antara kajian humaniora yang di satu sisi dituntut untuk membuat hubungan dengan aspek sosial, psikologis, dan lain-lain dalam kehidupan manusia sementara di sisi lain tetap harus mempertimbangkan aspek-aspek formal sebuah teks budaya karena teks tersebut mau tidak mau adalah hasil imajinasi yang dihadirkan dengan aturan-aturan tersendiri.

Dalam semangat menjembatani kebutuhan kajian humaniora yang semacam inilah buku Nyalasar bisa ikut andil. Nyalasar menunjukkan bagaimana baris-baris tertentu adalah penerapan dari keahlian berolah kata sehingga menghasilkan majas-majas yang cerdik atau imaji-imaji yang menggelitik. Nyalasar juga memperhatikan bagaimana satu dua kata sebenarnya mewakili berbagai lapis makna atau berbagai jenis makna. Nyalasar menunjukkan bagaimana nada baris-baris tertentu, apakah murung, apakah sarkatik, apakah sambil mengulum senyum. Nyalasar juga menujukkan mood macam apa yang ingin diciptakan oleh kata-kata sebuah puisi. Di sisi lain, Nyalasar juga menunjukkan bagaimana baris-baris atau kata-kata tertentu membuat penafsir terpikir sejarah, fenomena sosial, dan bahkan ngelantur sampai membahas topik-topik tertentu hingga panjang lebar—sebelum akhirnya sadar dan kembali membahas apa yang tersembunyi di balik kata-kata yang tersurat pada baris-baris selanjutnya. Pendeknya, Nyalasar mengajak kita melakukan pembacaan atas aspek-aspek formal yang berpotensi kita lewati dan abaikan saat sudah terlanjut mencari janji-janji ideologis yang berpotensi diberikan oleh sebuah puisi. Lagi-lagi, di sini Nyalasar menjadi titian yang menjembatani dua wilayah yang terbukti pernah bersitegang.

Terjadi secara woles

Kalau dari tadi saya terdengar agak tegang, tolong jangan artikan bahwa buku Nyalasar itu sendiri adalah buku yang tegang. Sejak awal, penulis menyampaikan bahwa tafsir yang dia lakukan bersifat manasuka, yang artinya sesukanya, santai saja. Kemanasukaan tafsir ini tampak pada gado-gadonya pendekatan yang dipakai. Kritikus yang sudah menjadi klasik bernama M.H. Abrams (yang btw sampai sekarang masih sering dikutip) membagi orientasi teori kritis ke dalam empat bagian, yaitu subjektif, mimetik, pragmatik, dan objektif. Agar penelitian sastra yang dilakukan menjadi ilmiah, orang-orang diharapkan untuk mengikuti satu atau dua pendekatan saja dalam satu kesempatan. Seiring bergulirnya waktu, setelah melewati masa formalis, pendekatan subjektif sering dipandang miring dalam kritik sastra, meskipun tetap populer dalam sejarah sastra. Kemanasukaan M. Faizi bisa dilihat dalam bagaimana tanpa beban juru tafsir kita ini melakukan, misalnya, penafsiran mimetik dan objektif yang tiba-tiba disisipi oleh penafsiran subjektif (membahas bagaimana biografi si penulis membantunya memahami teks). Hal yang seperti ini berlangsung secara berulang-ulang hingga bisa kita harapkan terjadi, dan menjadi satu gaya pendekatan yang sebut saja woles.

Kemanasukaan tersebut juga tampak pada bagaimana M. Faizi menyajikan gagasannya kepada pembaca. Tidak jarang penulis menyatakan bahwa tafsir yang dia lakukan tersebut lebih bersifat silaturahmi. Ada pula saatnya ketika juru tafsir kita yang santai ini melontarkan godaan atau sindiran kepada si penyair sambil mengulum senyum. Dan—ini yang sementara ini belum pernah saya temukan dalam buku tafsir karya sastra—pernah pula di satu saat M. Faizi menyatakan cukup, berhenti, dan tidak melanjutkan penafsiran karena dia merasa kewalahan dengan puisi yang dia hadapi, yang dalam hal ini adalah puisi Afrizal Malna. Juru tafsir yang santai ini mengaku kepalanya sudah cenut-cenut kalau harus menafsirkan puisi Afrizal Malna bagi pembaca yang sangat dia cintai itu. Dia memilih mempertahankan keselamatan jiwanya daripada berkorban nyawa menafsir puisi Afrizal Malna.

Sepertinya, setelah melakukan berbagai upaya penafsiran dan memperpanjang jangkauan puisi ini kepada pembacanya, atau mungkin juga membawa pembaca kepada puisi, tidak semestinya Kyai M. Faizi ini kita hakimi hanya karena telah patah arang dalam upaya menafsir puisi Afrizal Malna. Apa yang telah beliau lakukan hingga saat ini saja, yakni membuat jembatan itu, sudah lebih dari cukup. Tidak ada yang menyuruhnya melakukan ini. Dia tidak berhutang kepada siapa pun untuk melakukan ini. Jadi, kalau kita mendapatkan apa yang ada di hadapan kita ini, itu sudah sangat bagus. Bahkan, upayanya ini bolehlah kita sebut sebagai upaya revolusioner di tengah situasi hari-hari ini. Mari kita pelintir satu ungkapan dari George Orwell: Ketika membangun tembok dan perang pagar (serta tagar) sudah kaprah, membangun jembatan menjadi tindakan revolusioner.

Advertisements

(Terjemahan Puisi) Jangan Menoleh “Don’t Look Back” karya Solomon Ibn Gabirol + OASIS

Kangen nerjemah lagi dan di rak buku di kamar ada satu buku Selected Poems of Solomon Ibn Gabirol buah terjemahan Peter Cole dari bahasa Ibrani. Buku ini, seperti judulnya, berisi puisi-puisi pilihan karya penyair Andalusia yang hidup dalam kultur Arab dengan nama Arab Abu Ayyub Sulaiman Ibn Yahya Ibn Jabirul.

Saya pakai buku ini (hadiah dari dosen saya) untuk ujian komprehensif doktoral beberapa tahun yang lalu, untuk bidang cakupan Sastra Spanyol Masa Islam. Ketika itu saya membaca untuk mengetahui isi karya-karya sastra (dan rupa) Spanyol antara tahun 711-1502. Penekanannya di sini adalah “isinya” saja, karena dalam hal gaya bahasa tentu saja saya tidak bisa menjangkaunya. Karya-karya sastra dari periode itu ditulis dalam bahasa Arab, Ibrani, dan Kasteyano (Castellano). Read more

Linimasa Mengambang atau Floating Timeline

“Enak ya jadi Nobita? Sejak aku kelas 6 SD sampai sekarang punya anak mau naik kelas 6 SD, dia masih tetap kelas 4 SD.”

“Betapa bahagianya jadi Upin dan Ipin. Dari sepuluh tahun yang lalu dia masih di Tadika Mesra. Tidak harus berhadapan dengan UNAS.”

Pasti Anda sering mendengar itu–kalau Anda seperti saya, suka ngobrol dengan orang-orang iseng. Bagaimana fenomena ini menurut ilmu sastra?

Baiklah, sebagai dosen sastra yang masih pemula, saya akan menguji diri sendiri dengan menjawab pertanyaan (yang saya lontarkan sendiri itu). Fenomena ini–eh, sebenarnya bukan fenomena sih. Saya ulangi lagi: ini adalah satu fitur dalam prosa atau naratif yang disebut “linimasa mengambang” atau “floating timeline” atau “sliding timescale.” Read more

Ngobrol dengan Fahrul Khakim: Kisah Kecil Penulis Teenlit & Young Adult Literature

Akhirnya, terwujud juga saya membawa penulis ke kelas yang saya ajar di kampus. Pinginnya sih mahasiswa saya itu diajar penulis betulan yang banyak bukunya telah terbit, sayangnya dosennya mahasiswa saya itu (yaitu saya sendiri) dua tahun terakhir keponthal-ponthal sampai belum bisa menyelesaikan buku yang telah dia rencanakan. Sudahlah, saat ini bukan waktunya berbicara tentang saya. Mari kita bicarakan tentang pengalaman para mahasiswa saya belajar dari penulis betulan.

Penulis yang saya maksudkan di sini adalah Fahrul Khakim, penulis novel, puisi, reportase asal kota Tuban yang telah tinggal di Malang sejak kuliah. Saat ini, sehari-hari Fahrul adalah dosen di jurusan Sejarah di Universitas Negeri. Saat ini Fahrul sudah menerbitkan empat buku prosa dan satu kumpulan puisi. Prosa pertamanya, novel berjudul Cowokku Vegetarimood, terbit pada tahun 2013, ketika Fahrul berusia 22 tahun. Novel terakhirnya, Janji Pelangi (2018), diterbitkan oleh Buana Ilmu Populer, salah satu imprint Gramedia. Kumpulan puisi Fahrul, yaitu Monolog Waktu (2016), diluncurkan oleh penerbit Pelangi Sastra Malang, yang merupakan bagian dari komunitas Pelangi Sastra Malang di mana Fahrul juga merupakan anggota aktif.

Sejak tahun lalu, ketika pertama kalinya mendapat tugas mengajar mata kuliah Populer Literature di Universitas Ma Chung, saya ingin mengajak seorang penulis fiksi populer untuk berbagi pandangannya kepada mahasiswa saya. Bagi saya, pandangan dari sudut pandang penulis (bukan hanya sarjana, peneliti, atau teoretikusnya) sangat penting untuk diketahui oleh mahasiswa secara langsung. Pernah tercetus keinginan saya mengundang Sidik Nugroho, penulis yang lama tinggal di Malang dan beberapa tahun yang lalu menerbitkan trilogi detektif (Tewasnya Gagak Hitam, Neraka di Warung Kopi, dan Ninja dan Utusan Setan). Sayangnya, meskipun saya yakin Sidik Nugroho sangat tidak keberatan datang ke kelas saya, dia tinggal terlalu jauh dari Malang–dan sekali-kalinya datang ke Malang selalu hanya sebentar. Untungnya, dari Denny Mizhar, koordinator Pelangi Sastra Malang, saya tahu bahwa ada seorang anggota aktif komunitas ini yang menyeriusi penulisan populer, khususnya sastra dewasa awal (Young Adult Literature). Ya Fahrul Khakim inilah yang dimaksud mas Denny. Setelah menjajaki rekam jejak beliau dan menghadiri bedah buku Janji Pelangi di Kafe Pustaka, saya menjadi semakin yakin bahwa Fahrul ini bisa menjadi orang yang tepat untuk berbagi pengalaman dan pengetahuannya tentang sastra populer dengan mahasiswa saya di kelas Populer Literature ini.

IMG_20180412_123057

Maka, setelah rundingan jadwal dengan Fahrul yang tentunya sibuk sebagai dosen, akhirnya pada hari Kamis 12 April 2018 kemarin terjadilah kuliah tamu tipis-tipis tersebut. Fahrul tiba di kampus kami tepat ketika para mahasiswa berhamburan keluar dari kelas mereka menjelang pukul 12 siang. Ketika para mahasiswa yang lain berbondong-bondong ke Student Center atau ke luar kampus untuk beli makan siang, ketika para karyawan dan dosen meninggalkan meja kerja mereka untuk menuju tempat makan siang masing-masing, mahasiswa kelas Popular Literature justru berdatangan satu per satu ke Theater Room. Turut hadir di sana pak Patris, dosen Sastra Inggris yang juga Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (ya, dekan kami blogger)–belakangan juga ikut hadir Pak Adit, dosen Desain Komunikasi Visual yang juga pembaca prosa yang sangat serius. Tepat pada pukul 12 siang acara kami mulai.

Fahrul menceritakan kisahnya mulai dari bagaimana dia pertama kali tertarik menulis hingga akhirnya dia bisa menerbitkan novel di bawah sebuah nasional. Tentu saja perjalanan Fahrul tidak sesederhana kalimat pembuka paragraf ini. Ada cerita tentang bagaimana dia tidak punya TV waktu remaja, sehingga dia sampai suka membaca buku. Dia juga bercerita tentang begitu niatnya dia menulis novel ketika kelas 3 SMA. Dia bahkan menulis novelnya ketika teman-temannya serius belajar menjelas UN. Fahrul mengirimkan tulisannya ke Gramedia dan lama menunggu kabar dari mereka. Dia harus menggunakan wartel yang ketika itu mulai jarang tapi tetap merupakan sarana komunikasi termurah untuk menjangkau Gramedia. Sayangnya, setelah setahun, jawabannya yang didapatkannya adalah penolakan. Kegagalan di awal karir itu biasa. Yang tidak biasa adalah bagaimana Fahrul menyikapi penolakan dengan kesadaran bahwa dia memang “belum punya nama.” Sehingga, agenda dia kemudian adalah membangun namanya.

Usaha Fahrul membangun nama itu dia lakukan dengan menulis untuk media-media kecil dan menulis yang kecil-kecil. Dia menulis untuk majalah sekolah (dan menikmati hasilnya ketika orang-orang membicarakan cerita karangannya di kantin sekolah). Ketika menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Malang, dia tetap menulis, dan bahkan tidak hanya menulis prosa. Dia banyak menulis reportase, salah satunya adalah untuk lembar Citizen Reporter di Koran Surya. Terkait ini, perlu saya sebutkan di sini bahwa Fahrul ini pernah menjadi penulis terbaik dalam pertemuan Citizen Reporter di Surabaya.

Yang langsung berkaitan dengan konten mata kuliah yang saya ajar adalah bagaimana Fahrul berhadapan dengan konvensi genre roman populer. Sejak awal Fahrul mengakui bahwa dia sangat menyukai cerpen remaja dan novel remaja (yang biasa kita sebut teenlit itu) dan ingin menjadi penulis di genre tersebut.

Dia tahu pasti bahwa sebagian besar pembaca genre ini adalah perempuan. Untuk itu, dalam menulis cerita, dia mengangkat sosok-sosok perempuan sebagai tokoh utamanya. Ketika mahasiswa saya yang bernama Lindi bertanya kepadanya bagaimana bisa dia menulis karakter perempuan padahal dia laki-laki, Fahrul mengatakan bahwa dia banyak belajar tentang perempuan dari membaca novel yang banyak karakternya adalah perempuan. Dia juga memberikan manuskripnya kepada kawan perempuan yang dia percaya, untuk memastikan bahwa karakternya masuk akal sebagai seorang karakter perempuan.

Ketika Aldy, mahasiswa yang lain, bertanya mengapa judul-judulnya agak sulit dipahami atau tidak langsung bisa dipahami maksudnya, Fahrul memberikan jawaban yang jelas. Judul-judul itu dibuat dengan berbagai pertimbangan, tapi terutama adalah pertimbangan pemasaran. Dengan menyadari bahwa mayoritas pembacanya adalah perempuan, penerbit membuatkan judul yang kira-kira menarik bagi pembaca perempuan: misalnya judul Cowokku Vegetarimood. Bahkan, ada satu hal yang mengejutkan (bagi saya, setidaknya): bahwa judul bukanlah sesuatu yang sangat penting bagi dia. Judul adalah sesuatu yang tidak sebegitu besarnya hingga sampai menganggunya. Yang penting adalah isinya, “Toh penerbit biasanya menentukan akan menerbitkan sebuah manuskrip atau tidak berdasarkan isinya, bukan judulnya.” Jadi, ketika penerbit menyarankan judul lain yang mungkin lebih berdaya jual, Fahrul tidak menunjukkan keberatan.

Selain dua hal itu, ada satu lagi poin yang menurut saya menarik dari kuliah tamu Fahrul ini, yaitu ketika Yemima, mahasiswa lain di kelas saya, mengutarakan bahwa dia dulu sangat gemar membaca novel populer, tapi belakangan agak terganggu karena dia merasa bisa menebak jalan ceritanya. Dia bertanya bagaimana Fahrul membuat pembaca tetap tertarik dan tidak segera merasa bosan. Tentang ini, Fahrul menjawab bahwa dia selalu mengupayakan memberikan hal-hal baru kepada pembaca. Dia berusaha sebisa mungkin membuat karakter yang tidak biasa, misalnya seorang laki-laki yang sangat gemar memasak hingga tingkat keseriusan yang tinggi. Di karya lain, dia menyodorkan seorang karakter perempuan pengidap “agoraphobia,” yaitu ketakutan keluar rumah. Dan lain-lain. Di sini juga Fahrul menyatakan kekagumannya kepada Dee yang selalu mengandalkan riset serius untuk mengembangkan isi novelnya sehingga yang dihadirkan bukanlah hal yang biasa-biasa saja. Nah, di bagian ini juga saya mendapati satu yang membuat Fahrul terdengar seperti lulusan tulen dari universitas yang dulu bernama “Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang,” yaitu ketika dia sebisa mungkin ingin menyelipkan muatan yang membangun karakter dalam karya-karyanya. Tapi, tentu saja, untuk yang terakhir ini, kita mesti membaca dan menelaah apakah Fahrul berhasil menyelipkan elemen-elemen ini tanpa harus terdengar sebagai seorang guru atau pemuka agama.

Jadi begitulah kira-kira laporan saya dari kuliah umum tipis-tipis yang saya adalah di kelas saya sendiri. Anggap reportase ini sebagai balas budi saya kepada Fahrul. Biasanya, ketika menghadiri acara-acara bedah buku dan sejenisnya, Fahrul membuat reportase. Dan sekarang, ketika dia jadi pembicara, sulit rasanya membayangkan Fahrul menulis reportase itu. Jadi ya, biarlah tulisan ini menjadi balasan bagi Fahrul. Oh ya, sekadar informasi, sebenarnya dari Fahrul Khakim pula saya belajar menulis reportase untuk dikirimkan ke Citizen Reporter. Kalau Anda seorang blogger, pasti tahu sulitnya menulis langsung fokus ke topik tulisan dan tidak berbicara tentang diri Anda sendiri. Dari Fahrul lah saya belajar untuk melenyapkan diri sendiri dan berfokus ke topik saat menulis reportase. Eh, tapi kayaknya reportase saya kali ini juga sudah tercemari–saya mulai ngomong tentang diri sendiri lagi. Haiyyah!

Terima kasih, Mas Fahrul!

IMG_20180412_125002

Tiga Hal Kenapa Kekasih yang Tak Bahagia Mestinya Membuat Pembaca Bahagia

Penerbitan karya terjemahan belum menunjukkan gelagat akan surut. Bagaimana mungkin akan surut kalau sebagian besar penduduk Indonesia bukanlah penutur bahasa Inggris atau Spanyol atau Prancis atau Arab, sementara masih banyak karya sastra asing bagus yang belum diterjemahkan dan tetap banyak penulis asing yang terus menghasilkan karya-karya bagus. Maka, penduduk yang sangat suka baca dan selalu mengharapkan bacaan itu masih akan tetap menjadi pasar bagi dunia penerbitan yang ingin mengenalkan (atau meraup keuntungan dari menjual) karya-karya sastra asing. Dan seiring meningkatnya budaya membaca di Indonesia, kemugkinan besar penerjemahan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia akan terus, atau bahkan meningkat. Kecuali kalau tiba-tiba prosentase penutur bahasa Inggris atau bahasa asing yang lain di Indonesia ini meningkat drastis berkali-kali lipat. Nah, di tengah tren yang seperti ini, di tengah makin banyaknya karya baru yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia ini, apa menariknya sebuah buku terjemahan karya-karya sastra yang bukan baru? Saya di sini mengacu ke buku kumpulan cerpen terjemahan berjudul Kekasih yang Tak Bahagia karya “lima penulis perempuan dunia” buah terjemahan a elwiq pr (selanjutnya saya sebut Mbak Donik) ini? Setidaknya saya punya tiga alasan untuk merayakan buku ini, yang menurut saya semestinya bisa menjadikan kita pembaca yang bahagia.

Pertama, buku ini adalah kumpulan karya-karya sastra terjemahan tapi penerjemahnya dengan sadar hadir dan tidak melesak ke balik buku. Dari pengantar terjemahan, kelihatan bahwa penerjemahnya sendiri sejak awal hadir sebagai kurator yang memiliki pendapat mengapa karya-karya ini perlu untuk diperkenalkan ke pembaca yang lebih luas. Ada pertanyaan tentang mengapa tokoh-tokoh ini dihubungkan dengan feminisme. Salah satu kalimat pertama dalam pengantar buku ini berbunyi: “Mengapa setiap perempuan yang menulis, mengangkat bukan hal yang manis-manis laiknya tabiat yang diingini dari seorang perempuan, lalu dikategorikan feminis?” (v). Dan pada bagian menjelang akhir pengantarnya, Mbak Donik mengatakan “… pada gilirannya karya-karya [lima penulis perempuan ini] memang menggelitik para (aktivis) feminis untuk tak hanya meributkan situasi dan posisi lelaki dan perempuan, tetapi lebih pada olah rasa dan pikiran mengenai kemanusiaannya sebagai perempuan” (xiii). Maka perlulah kita sadari, penerjemah ini sudah ketahuan punya agenda. Di sini, tampaklah bahwa penerjemah tidak hanya mengalihbahasakan sebuah teks yang sudah jadi, tapi sebelumnya dia membaca, melihat fenomena, mengumpulkannya, dan menyajikannya. Kalau kita ngomong perkembangan budaya manusia, Mbak Donik ini penerjemah yang bukan hanya berburu, tapi juga meramu.

Kedua, kalau kita masuk ke dalam kumpulan cerita pendeknya itu sendiri, kita tahu bahwa cerita-cerita ini memang berwarna-warni dan punya keragaman yang tinggi. Ini berhubungan dengan agenda Mbak Donik di atas. Cerita-cerita oleh perempuan yang dianggap feminis itu ternyata tidak hanya membicarakan kesengsaraan perempuan yang tertindas karena relasi jender yang tidak seimbang. Untuk menunjukkan keragaman cerita ini, biarkan saya sajikan premis-premis dari cerita ini. Saya harap kita semua menyadari bahwa sebuah premis (yang hanya satu kalimat ini) tidak akan bisa merangkum keindahan sebuah cerita–tapi setidaknya kita akan bisa tahu apa yang ingin disampaikan oleh cerita itu. Cerita pertama, “Kekasih yang Tak Bahagia” karya Marguerite de Navarre bercerita tentang betapa sengsaranya seorang lelaki yang mencintai perempuan tapi kandas karena lingkungan sosial menghalangi cintanya. Mungkin, untuk zaman sekarang, seorang lelaki yang hidupnya merana hingga sakit karena cinta itu akan kita anggap cengeng. Orang mungkin juga akan bilang bahwa kalau cerita semacam itu ditulis, mungkin dia tidak akan menjadi sebuah karya yang dianggap “Sastra.” Tapi, untuk awal abad ke-16 di Prancis, papda masa Renaisans Sastra Prancis, ketika kebanyakan kisah yang beredar adalah dongeng tentang petualangan dan kegagahan kesatria (atau istilahnya Chivalric Romance), kisah-kisah yang menyasar kehidupan cinta yang nyata dan diawaki oleh karakter lelaki yang bisa merana karena cinta seperti ini tampak menonjol dan tidak biasa (Romeo and Juliet karya Shakespeare yang fenomenal itu baru muncul di Inggris pada akhir abad tersebut). Dan lagi, penulisnya ini seorang perempuan, di masa ketika dunia tulis menulis itu adalah dunia lelaki (tentu saja ini tidak berlaku untuk Jepang, yang pada abad ke-11 sudah punya novelis cerita domestik terkenal Murasaki Shikibu).

Sementara itu, cerita kedua yang berjudul “Rumah Angker” karya Virginia Woolf terbilang paling unik (dan pendek). Cerita ini berkisah tentang hantu-hantu penghuni rumah yang terdengar kasak-kusuk mencari harta karun. Sebenarnya cerita ini tidak mudah untuk diikuti dan tidak biasa. Kisah berkutat pada kasak-kusuk hantu yang tidak jelas. Narator cerita pun tidak jelas siapa. Tapi yang jelas si narator mengetahui gerak dua hantu, laki-laki perempuan, yang sedang mencari sesuatu. Baru belakangan kita tahu bahwa ada seorang perempuan bangun dari tidurnya dan melanjutkan omongan si hantu dan mengatakan apa sebenarnya harta karun yang mereka cari itu. Inilah twist cerita tersebut. Kenapa begitu? Akhir cerita ini menunjukkan bahwa dalam diri setiap orang terdapat satu cahaya yang berharga, yang bahkan hantu pun mencari-carinya. Kisah yang tak biasa ini merupakan satu perwujudan dari gaya “alur kesadaran” yang dipopulerkan dalam dunia sastra oleh Virginia Woolf dan James Joyce (yang hidup semasa). Di sini, benda-benda yang ada di dalam rumah seperti hidup dan memiliki ceritanya sendiri karena–agaknya–si narator mengindera objek-objek itu dalam keadaan setengah tidur atau hampir terjaga. Teknik “alur kesadaran” ini, yang menjadikan cerita bergerak secara tidak standar seperti ini, kelak oleh teoretikus post-strukturalis Prancis seperti Helene Cixous sebagai “tulisan feminin.”

Cerita ketiga, berjudul “Perempuan yang Ingin Baik,” adalah satu cerita yang menurut saya akan selalu relevan dan kian relevan hari ini. Kisah ini kira-kira berpremis bahwa tidak mudah bagi seorang perempuan untuk hidup sendiri dan melakukan apa yang diinginkannya–dan premis tambahannya adalah bahwa tidak mengenal adalah pangkal dari masalah prasangka dan stereotipe. Di sini, seorang perempuan yang di kota dianggap biasa saja di desa tidak biasa karena tampak berbeda (memakai topi berjambul, jaket bulu cerpelai, dan sebagainya). Dia dicurigai baik oleh laki-laki maupun perempuan. Yang laki-laki merasa tidak nyaman karena ada perempuan yang dianggap tidak senonoh yang dirasa akan mengganggu kenyamanan (membuat istri mereka gusar), dan yang perempuan tidak nyaman karena takut suami mereka tergoda. Ada satu adegan di cerita ini yang sangat simbolis, yaitu ketika seorang tokoh lelaki, Suami Bau Kencur, menyapa si perempuan Blanche Devine dan si perempuan membalas sapaannya dan bahkan membawakan kue. Sayangnya adegan ini gagal terjadi. Padahal kalau terjadi kan mestinya sangat bagus. Ini simbolis karena agak dekat istilah “breaking the bread” yang dalam kisah tentang Yesus adalah tanda ketika seseorang itu sudah saling pengertian. Nah, hal tersebut tidak terjadi. Banyak permasalahan saling tuduh dan saling olok di dunia maya ini (terutama sekitar Pemilu 2014 terjadi karena kita tidak saling kenal). Dan istilah “tak kenal maka tak sayang” pun hari ini hanyalah klise yang kian membosankan karena ujaran ini hanya dipakai sebagai pengantar sebelum seseorang  memperkenalkan diri sebelum presentasi atau pertemuan. Kisah inilah yang sebenar-benarnya “tak kenal maka tak sayang.”

Masih ada dua cerita lagi yang bisa kita bicarakan, tapi alangkah lebih baiknya kalau saya persilakan Anda sendiri membacanya. Yang jelas, dua cerita terakhir adalah cerita yang bisa dibilang saling berlawanan tapi juga saling melengkapi. Cerita “Menembus Gorong-gorong” karya Doris Lessing bercerita tentang seorang ibu yang berjuang dengan dirinya sendiri untuk membiarkan anak lelakinya yang berusia 11 tahun untuk menjadi bocah yang mandiri dan dewasa. Sementara cerita yang terakhir “Anak laki-laki dan Anak Perempuan” bercerita tentang bagaimana jender (atau jenis kelamin sosial) seorang perempuan dikonstruksikan oleh lingkungan. Kalau kita ngomong feminisme, mungkin dua cerita inilah yang paling menonjol terlihat seperti tulisan feminis.

Dengan cerita-cerita seperti ini, yang memang tidak hanya menggambarkan tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan tapi lebih sebagai pengalaman hidup perempuan, tidaklah salah apa yang dikatakan oleh Mbak Donik. Tapi, perlu dimaklumi bahwa ujaran Mbak Donik di awal dan akhir pengantar ini bisa berpotensi negatif juga. Di satu sisi, ujaran tersebut mau tak mau membuat kita tergoda untuk melihat cerpen-cerpen ini dalam kaitannya dengan gagasan kesetaraan jender. Mungkin, akan lebih baik kiranya kalau kita pembaca tetap membebaskan diri dan menjadikan pemilihan berdasarkan gagasan feminisme ini sebagai satu alternatif saja, bukan satu-satunya. Dengan begitu, kita bisa menggunakan cara pandang lain saat membaca cerpen-cerpen ini. Sebagai misal, untuk cerpen yang kedua, kita bisa bebas menafsirkan cerita dalam cerpen ini sebagai keliaran imajinasi seseorang yang berada dalam keadaan antara tidur dan terjaga. Dalam keadaan begitu, kita bisa menganggap bahwa cerpen “Rumah Angker” ini adalah sebuah cerpen yang berhasil menangkap keliaran imajinasi kita, yang merupakan kemampuan para prosais modernis, yang berhasil menangkap “stream of consciousness” itu. Begitu juga dengan cerpen ketiga, kita bisa membacanya sebagai satu persoalan relasi antara laki-laki dan perempuan, tapi yang paling tampak di depan mata, ini adalah persoalan prasangka buruk.

Sekarang, tibalah kita pada persoalan ketiga, yaitu terkait pemilihan penulis untuk kumpulan tulisan ini. Ada yang kiranya perlu dipertimbangkan untuk ditingkatkan dari pengumpulan ini. Di satu sisi, adalah bagus bahwasanya Mbak Donik memilih penulis-penulis dengan berbagai gaya ungkap dan dari masa-masa yang cukup beragam. Kita merasakan cerpen dari masa Renaisans Sastra Prancis pada Marguerite de Navarre, ada Sastra Inggris periode Modernis pada karya Virginia Woolf, ada karya Edna Ferber yang menggarap tema-tema dari masa awal abad ke-20 di Amerika dengan ketegangan antara desa dan kota, ada kisah Doris Lessing yang tuwuk traveling dalam hidupnya, dan terakhir adalah Alice Munro yang berlatar pedesaan Kanada yang berupa kisah frontier (hidup di ujung peradaban). Pilihan ini menarik karena mampu menunjukkan berbagai pilihan lokasi dan masa. Mestinya tidak mudah untuk menjatuhkan pilihan yang sebisa mungkin menunjukkan sikap adil dan mewakili. Tapi “mewakili” adalah satu hal yang jauh dari kata mudah, apalagi mewakili “penulis perempuan dunia.”

Untuk itulah perlu ditanyakan: tepatkah pemilihan label “kumpulan cerpen lima penulis dunia” di sini? Urusan “dunia” seperti dalam istilah persoalan yang pelik sejak lama. Pengakuan seorang penulis sebagai “penulis dunia” itu tak bisa dilepaskan dari klaim politik dan keunggulan, dan seringkali seseorang mudah menjadi penulis dunia karena dia menulis dalam bahasa Inggris, yang memungkinkannya tertangkap oleh perhatian pembaca. Padahal, banyak penulis yang bagus dari berbagai penjuru dunia yang tidak tertangkap radar. Tapi, di masa yang nyaris tak terbatas dengan berbagai pilihan sumber informasi ini, saya menganggap setidaknya ada beberapa elemen yang semestinya disertakan dalam kumpulan ini untuk menjadikannya lebih sah lagi untuk disebut sebagai kumpulan cerpen penulis perempuan dunia. Yang pertama, kalau masih memilih wilayah geografis yang sama (Eropa-Amerika), setidaknya bisa dipertimbangkan menambahkan penulis-penulis dari ras non-kulit putih. Memasukkan penulis-penulis perempuan “native American” seperti Louise Erdrich, atau penulis Afro-Amerika seperti Zora Neale Hurston, atau penulis imigran asal Asia Selatan seperti Bharati Mukherjee akan berpotensi meningkatkan keterwakilan “dunia.” Atau, kalau ingin diperluas dengan zaman dan letak geografis yang lebih beragam, bisa juga mempertimbangkan memasukkan penulis-penulis dari Asia atau Afrika, misalnya Murasaki Shikibu yang dianggap sebagai penulis novel pertama berjudul Genji Monogatari atau Kisah Pangeran Genji. Atau, bisa juga dipertimbangkan menyertakan penulis Timur Tengah seperti Hoda Barakat dari Lebanon, atau dari Afrika Utara kita bisa mengajak Asia Djebbar, yang berasal dari Aljazair. Meningkatkan cakupan seperti ini berpotensi untuk lebih memperluas pengalaman keperempuanan, sehingga tidak hanya pengalaman perempuan kulit putih di Eropa dan Amerika.

Namun, tentu saja hal-hal semacam ini tak lebih dari sekadar saran yang bisa diberikan setelah sudah ada sesuatu yang hadir di meja kita–yaitu buku itu sendiri. Dan seperti biasanya, tidak ada buku yang sebegitu sempurnanya sampai tidak bisa diberikan saran lagi, kan? Mungkin saran-saran mengenai keterwakilan dan inklusivisme penulis dalam buku ini akan menjadi satu pertimbangan bagi penerbit Pelangi Sastra Malang saat mencetak ulang buku ini kelak. Mungkin dengan begitu buku ini tidak akan setipis sekarang, dan bisa dijadikan semacam sampel kecil karya-karya sastra oleh perempuan dari berbagai penjuru dunia dan waktu. Tapi tentu saja bukan untuk dijadikan pegangan seperti ensiklopedia. Bagaimana pun, cerpen-cerpen ini adalah karya fiksi, sebuah dunia rekaan, betapapun dia dekat dengan kenyataan. Dunia fiksi tetap hasil penyaringan kenyataan oleh pikiran seseorang. Maka, meskipun pikiran seseorang tersebut sangat terpengaruh oleh latar sosialnya, apa yang dihasilkan oleh pikiran itu bukanlah kenyataan, dan tidak perlu dianggap sebagai kenyataan. Hasil pikiran tersebut layak dipikirkan, dipertimbangkan, dan kalau ada kebenaran di dalamnya, bisa kita bicarakan dan bahkan dijadikan sebagai pendukung untuk amatan kita atas realitas. Di situlah uniknya berhubungan dengan karya sastra, dia selalu bisa disentuh, tapi tidak pernah bisa ditangkap. Tapi, hubungan seperti ini tentunya tidak akan menjadikan kita “Kekasih yang Tak Bahagia.” Justru kita lah kekasih yang berbahagia karena terus bermain-main dengan tanpa takut hubungan kita membeku.

(Resensi) Dongeng Panjang Literasi Indonesia – Yona Primadesi

Judul: Dongeng Panjang Literasi Indonesia
Penulis: Yona Primadesi
Penerbit: Kabarita
Cetakan: I/2018

Oke, sebelum negara api menyerang, biarkan saya lemparkan dulu resensi tiga paragraf ini mengenai sebuah buku mungil, asyik, dan penting (MAP) yang baru-baru ini saya baca:

Dongeng Panjang Literasi Indonesia merangkum lontaran-lontaran gagasan dan keprihatinan berwawasan dari Yona Primadesi mengenai sejumlah tema literasi, yang sebagian besarnya adalah tentang literasi anak. Buku ini dibuka dengan afirmasi Yona bahwa literasi bukan hanya perihal baca-tulis, yang didasarkan pada Deklarasi Praha tahun 2003. Afirmasi mengenai literasi yang perlu dipahami secara luas ini ditegaskan kembali dalam esai penutup ketika Yona berbicara tentang literasi penduduk asli (indigenous literasi) yang mungkin lebih kita akrabi dengan istilah kearifan lokal.

Di bagian tengah buku ini, kita mendapati renungan serta lontaran gagasan Yona mengenai literasi anak, peran orang tua dalam literasi anak, perpustakaan yang ramah anak, keprihatinan mengenai buku anak, dan sejenisnya. Kalau kita ngotot ingin merangkum bagian isi buku ini dalam satu kalimat, mungkin kita bisa mencoba ini: literasi perlu ditumbuhkan pada anak, pertama oleh orang tua, dan selanjutnya oleh institusi pendidikan, selanjutnya oleh industri perbukuan, dan juga oleh negara. Budaya baca bagi anak (poin terpenting dari literasi) adalah sesuatu yang terlalu besar untuk menjadi tanggung jawab satu pihak saja.

Kalau saya dipaksa memberikan kritikan, saya ingin menyoroti satu fakta bahwa buku ini sama sekali tidak menyinggung buku-buku tentang literasi yang terbit di Indonesia. Ambil saja sebagai contoh buku Suara dari Marjin karya kolaborasi Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah yang pada prinsipnya tidak berseberangan dengan buku ini–justru sebaliknya mungkin saling mendukung. Menurut saya, dengan semangat pembangunan tradisi dan kerja bareng pengembangan ilmu pengetahuan melalui dialog, penulis dalam bidang-bidang tertentu perlu saling menyinggung satu sama lain dalam karya-karyanya (entah itu dalam bentuk mengafirmasi, menggugat, maupun mengisi celah). Lagipula, usaha saling menyinggung bisa juga menjadi sarana menyarankan bacaan bagi pembaca yang tertarik tahu lebih jauh. Bagaimanapun, harus dipahami di sini bahwa sebagian dari esai-esai Yona Primadesi ini telah diterbitkan di media bahkan mungkin sebelum Suara dari Marjin terbit. Akhirur-resensi: perlu dibaca!

Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan: Katalog Penting Anti-Mati Gaya dalam Menulis Esai

Menurut Carl Sagan dalam Cosmos, bila dibandingkan dengan usia alam semesta yang ditaksir miliaran tahun, sejarah umat manusia ini tidak ada artinya. Saya pun menerima gagasan itu dan menjadikannya etos bagi saya. Maka, buku yang terbit pada tahun 2016, yang kini mungkin tidak lagi laku di pasar resensi media, adalah buku gres bagi saya, masih hangat dan meruapkan kesegaran. Apalagi kalau bukunya sepenting buku Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan ini. Muhidin memang sosok yang memiliki ketekunan mengarsip yang mendebarkan, tapi yakinlah postingan ini tidak hanya puja-puji belaka, saya punya stok kritik yang menurut saya perlu disampaikan di postingan ini juga.

Baiknya kita mulai dulu esai ulasan ini dengan menengok siapa itu Muhidin. Seperti saya singgung di atas, Muhidin adalah seorang pengkliping yang rajin, yang mengkliping berita-berita penting dari jaman dulu sekali hingga dewasa ini (atau “jaman now” istilah kacau sekarang). Kalau ada kejadian-kejadian penting dan media mengulasnya, hampir bisa dipastikan Muhidin mengklipingnya. Sekilas saja dari ingatan saya: bapak Budiono diangkat jadi wapres, Muhidin punya beritanya; bapak Budiono kembali ke kampus UGM dengan penampilan seperti telah bekerja keras selama lima tahun menjawab, Muhidin mengkliping beritanya. Itu baru soal Bapak Mantan Wapres Budiono. Belum lagi soal lain.

Nah, buku Inilah Esai ini, saya yakin, juga hasil dari pekerjaan mengarsipkan yang tekun, terutama mengarsipkan esai-esai yang menurutnya bagus. Dari daftar seratusan esai yang menurutnya bagus itu (yang saat jadi buku bisa sepanjang 11 halaman itu), jadilah buku ini sebagai hasil pilah-pilih bagian-bagian terbaiknya. Ibaratnya: buku Muhidin yang satu ini adalah hasil kerja jangka panjang sejak masa dia mulai mengkliping hingga masa buku ini rampung dituliskan.

Menarik, nggak, kira-kira? Silakan dijawab dalam hati.

Beberapa hari yang lalu, di mata kuliah Study Skills (yang bertujuan mengajarkan baca-tulis buat mahasiswa di kampus saya), saya bertanya bagaimana sikap para mahasiswa saya terkait menulis. Kebanyakan santai, tapi ada satu yang bilang takut (yang tentunya disambut candaan temannya: “Jadi, begitu kamu mengetik, kamu langsung melompat girap-girap begitu?”). Saya yakin ketakutan seperti itu nyata, karena tidak sedikit penulis pemula yang seringkali tidak tahu apa yang harus dituliskan.

Di sinilah pentingnya buku tulisan Muhidin ini. Buku ini tidak hanya memberikan uraian dan gambaran umum atas genre esai (seperti dalam bab-bab awal yang membahas soal mukadimah, penyusunan gagasan, dan pendekatan atas topik), tapi dia juga memberikan panduan-panduan praktis mengenai mengisi setiap bagian penting esai (mulai judul, pembuka, isi, dan penutup). Dia kelompok yang kedua inilah, menurut saya, nilai terbesar dari buku ini. Dengan sifat royalnya dalam memberikan berbagai contoh judul, pembuka, penyusunan isi, dan penutup, seseorang yang ingin serius menulis esai bisa mengantisipasi risiko mati gaya dalam menanam esai. Gampangannya, asal si penulis mau bertanggung jawab mencari sumber untuk esainya, dia tidak perlu terlalu takut dalam mengolah sumber-sumber itu menjadi esai dengan bantuan buku ini.

Muhidin mengantarkan definisi esai dengan cara yang santai dan syarat rujukan, meskipun tanpa menyempatkan diri menawarkan definisi yang secara tegas dan definitif, yang mungkin diharapkan pembaca yang ingin ketegasan. Dari Michel de Montaigne, yang tersohor sebagai bapak esai, Muhidin menyitir arti esai sebagai “coba-coba” dan bahwa kumpulan esai Montaigne adalah tulisan pusparagam. Pandangan dari para esais lain, mulai dari Gus Dur, Cak Nun, hingga Zen RS, juga disinggung, yang bisa dibilang nyaris mufakat mengatakan bahwa esai adalah tulisan yang santai, yang memiliki elemen puisi/prosa sekaligus ilmiah.

Nah, mulai bagian bentuk esai, kita bisa mendapat buah pengarsipan dan kategorisasi Muhidin. Untuk bentuk esai, kita bisa melihat beberapa kategori bentuk esai yang ditemukan Muhidin dari keseratus lebih esai yang dia gunakan untuk menyusun buku ini: surat, puisi naratif, percakapan, kritik yang melengkung, obituary, pengantar buku, dan sebagainya. Di bab yang mengusung judul, ada sejumlah kategori: mengajak berkelahi, perbandingan,bertanya, kutipan, dan seterusnya. Begitu juga dengan bab-bab lain. Tidak ada kesan bahwa hanya itulah kategori esai yang ada; kalau kita mau mencari lebih lanjut, mungkin dengan memperluas cakupan bahasa esai-esai ini, mungkin (nyaris) tidak akan ada Batasan cara membuat judul. Toh, esai itu sendiri kan bisa dimaknai “coba-coba,” jadi ya selama otak manusia masih belum purna tugas, tetap akan ada cara baru membuat judul esai.

Untuk mendukung kategori-kategori itu, Muhidin memberikan contoh-contoh yang siap santap. Untuk membahas kategori membuka esai kutipan, misalnya, kita mendapat nukilan pembukaan dari sebelesa esai, termasuk di antaranya esai Ignas Kleden, Karina Leksono-Supelli, dan Mas Marco. Saya sebut siap santap Karena yang dinukilkan hanya bagian pembukaan saja. Banyak buku panduan menulis yang suka memberikan penjelasan tegas dan definitif, tapi pada gilirannya memberikan contoh, kita harus lompat ke bagian “apendiks” untuk membaca keseluruhan buku.

Tidak ada satu pun di dunia ini yang sempurna, semua tahu. Pada Inilah Esai, satu titik yang menjadikannya tidak sempurna itu adalah pada bab pembahasan isi esai. Muhidin memfokuskan pada pengembangan esai melaui kutipan dan, mengikuti salah satu pesohor dunia esai Indonesia, isi sebuah esai pada intinya adalah deskripsi, atau menjabarkan tentang sumber. Pendekatan atas isi ini menjadikan pembahasannya sangat terbatas, berbeda dengan pembahasannya atas judul, pembuka, dan penutup esai yang menghadirkan berbagai contoh. Bukannya membahas berbagai cara yang ditempuh para “pesohor” itu dalam mengembangkan gagasan pengisi esai, Muhidin memfokuskan pada bagaimana mereka mengolah kutipan, yang bisa dibilang hanya satu dari cara mengisi esai.

Dalam buku Process, Form, and Substance: A Rhetoric for Advanced Writers, Richard M. Coe meminjam dan menerapkan konsep heuristik dalam kepenulisan. Istilah heuristik ini lazim dipakai dalam bidang matematika dan ilmu komputer untuk mengacu pada urutan langkah dalam penyelesaian masalah atau persoalan. Menurut Coe, setiap penulis menggunakan langkah-langkah tertentu dalam menyelesaikan tugas menulisnya. Ada yang menggunakan pertanyaan (termasuk di sini pendekatan 5W+1H dalam penulisan jurnalistik itu), topoi gaya Aristoteles (yang menggunakan puluhan prinsip logika untuk menjari jawab atas soal-soal tertentu), pendekatan Kenneth Burke (yang dipakai untuk mengetahui motif sesuai dengan menyoroti pelaku, aksi, latar, peran, dan tujuan), dan sebagainya.

Alangkah tambah mantapnya bila Muhidin juga menyingkap strategi pengembangan isi para pesohor tersebut selain menggunakan kutipan. Mungkin, sudah cukup melengkapi kebutuhan kita para pembaca bila yang mulia Muhidin kelak melakukan analisis retorika atas esai-esai favoritnya (segelintir saja!), biar kita bisa tahu bagaimana Ignas Kleden mengembangkan esainya yang membuka buku Enam Pertanyaan untuK Sastra Indonesia itu, atau bagaimana Bung Hatta mengembangkan esai “Indonesia Menggugat” itu. Saya sangat yakin, Muhidin adalah orang yang tepat untuk mengurai esai-esai kegemarannya tersebut. Sejauh ini, kita tahu bagaimana dia mengurai cara Bung Karno menyusun esai “Indonesia Merdeka” dengan menggunakan berbagai sumber yang mewakili berbagai ideologi itu. Tolong jangan anggap saya mengabaikan prestasi Muhidin tersebut.

Akhirul esai, saya teringat sebuah acara pelatihan penulisan esai yang saya ikuti (secara tidak resmi) pada awal September ini. Ketika itu, Prof. Djoko Saryono, guru besar di Universitas Negeri Malang sekaligus penulis yang ultra-produktif, menjadi pemateri pelatihan esai yang pesertanya adalah guru-guru muda yang baru menghabiskan waktu setahun mengajar di sekolah-sekolah di berbagai kawasan yang relatif terpencil. Para guru muda ini berencana menuliskan hasil imersi mereka selama setahun itu dalam berbagai bentuk. Sambil makan pisang dan wedang jeruk, saya menyaksikan bagaimana materi dari Prof. Djoko dan mentoring dari Denny Mizhar sepanjang hari itu tampak membuat mereka bergairah untuk mulai menulis—meski banyak di antaranya yang sama sekali tidak pernah menulis. Sekarang, saya bayangkan, buat kawan-kawan yang sudah memiliki semangat menulis (atau “spirit api,” dalam terminology Naruto Shippuden), saya yakin buku Inilah Esai ini akan menjadi semacam katalog yang bermanfaat, yang dari daftar isinya saja para calon penulis esai bisa menaksir dan memilih cara mereka menyusun balok-balok gagasan menjadi esai, secara tangkas, seperti para pesohor itu.

 

Kepada Kamu yang Ditunggu Salju: Buku Puisi yang Menyumbangkan Darah kepada Genre Tulisan Perjalanan?

Resensi_Yusri Fajar

Judul                     : Kepada Kamu yang Ditunggu Salju
Penulis                 : Yusri Fajar
Penerbit              : Penerbit Pelangi Sastra
Tebal                     : 104 hal.
Cetakan               : I/Maret 2017
ISBN                      : 978-602-60790-1-5

Perjalanan adalah kran inspirasi yang tak kunjung mandek untuk karya sastra, baik lisan maupun tulisan. Bahkan, karya sastra tertua yang pernah ditemukan, yaitu Epik Gilgamesh dari Mesopotamia kuno pada abad ke-21 SM, didominasi kisah perjalanan yang mengubah hidup Gilgamesh, tokoh raja setengah dewa. Kini, dua abad sejak ditemukannya GPS (Global Positioning System), perjalanan masih tetap mengucurkan inspirasi bagi penulis, apapun genre yang dia pilih. Dewasa ini, banyak toko buku yang punya rak khusus untuk catatan perjalanan. Sampai banyak yang mengkritisinya sebagai mengalami titik jenuh. Tapi, bagaimana bila perjalanan itu dituliskan dalam puisi? Akankah dia memberikan sesuatu yang berbeda? Buku puisi Kepada Engkau yang Ditunggu Salju mungkin bisa memberi gambaran potensi puisi yang bertemakan perjalanan.

Semua puisi yang terangkum dalam buku kumpulan puisi pertama Yusri Fajar ini ditulis ketika penulisnya jauh dari rumah. Bahkan, nyaris semua puisi di sini ditulis ketika Yusri berada di luar negeri. Beberapa puisi yang lain bertemakan perjalanan, tapi dari kampung halaman di Banyuwangi ke Malang, yang kemudian menjadi domisili Yusri. Dengan begitu, tidak berlebihan kalau saya menyebut buku ini sebagai buku puisi perjalanan–meskipun tentu perjalanan di sini harus diartikan secara luas.

Lazimnya pengunjung di tempat baru, penyair juga menunjukkan ketakjuban kepada keasingan dan kebaruan, yang kemudian dia tingkahi dengan perenungan tentang kesejarahannya. Pada beberapa puisi, Yusri menyoroti sebuah obyek atau individu dan menyoroti keterkaitan mereka dengan Indonesia.

Kita bisa temukan itu pada puisi-puisi seperti, misalnya “Di Negeri Bekas Penjajah Aku Menemukanmu” (hal. 7), yang bisa dijadikan contoh yang tepat. Dalam puisi ini, aku lirik Yusri melihat-lihat jalanan, restoran, pernak-pernik, dan orang-orang Belanda, dan di situ dia merasa menemukan “kamu,” yang bisa kita tafsirkan sebagai “Indonesia.” Puisi ini memang dibuat jauh dari rumah, tapi dia tak kunjung berhenti membicarakan Indonesia, yang jejaknya terlihat di mana-mana di Belanda (“Pertemuan Dua Bangsa di Warung Kebab,” hal. 24).

Ketakjuban akan hal-hal yang memiliki signifikansi sejarah atau berkaitan dengan perpindahan bangsa-bangsa inilah yang memenuhi buku-buku Yusri. Tidak bisa kita temukan puisi tentang indahnya danau di Swiss, romantisnya menara Eiffel di Perancis, atau nikmatnya capuccino Italia di sana. Tapi, kita bisa temukan puisi tentang warung kebab yang mempertemukan pendatang dari negeri berbeda yang selalu digelayuti kerinduan kepada kampung halaman.

Bahkan, kalau ada satu topik yang bisa dibilang mencakup sebagian besar puisi di buku ini, topik tersebut adalah “diaspora.” Dalam kajian sosial, istilah diaspora pada awalnya mengacu kepada orang-orang Yahudi yang terusir tanah leluhur mereka untuk kemudian hidup terpencar di segala penjuru Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa untuk tumbuh dan berkembang. Namun, sebagaimana diteorika Robin Cohen dalam Global Diasporas: An Introduction, seiring zaman, istilah diaspora ini banyak digunakan untuk mengacu komunitas-komunitas yang jauh dari negeri leluhur mereka, bahkan tanpa perlu elemen keterpaksaan. Pandangan seperti inilah yang mendominasi gagasan kelompok Jaringan Diaspora Indonesia.

Kembali ke buku puisi Yusri Fajar, gagasan diaspora muncul paling efektif pada puisi yang dipakai untuk judul buku Yusri ini “Kepada Kamu yang Ditunggu Salju” (hal. 4). Puisi ini berbicara tentang “kamu” yang tumbuh jauh dari tanah moyangnya, yang saat ini benihnya bisa tersemai, bertumbuh, tapi pada akhirnya terancam akan terkubur salju dan kehilangan akarnya. Seperti itulah dilema diaspora yang akarnya selalu berisiko menguap seiring zaman. Menariknya, dalam puisi ini, Yusri menggunakan idiom-idiom pertumbuhan tanaman beserta seluruh anatominya. Puisi ini seperti mengembalikan lagi istilah “diaspora” ke ranah aslinya, yaitu biologi. Boleh lah kita bisa puisi ini tidak melupakan akar kata “diaspora” itu sendiri.

Dengan semua potensi yang lebih dari sekadar menggambarkan tentang perjalanan ini, jangan-jangan puisi ini bisa memberi sumbangan di tengah “krisis” yang menjangkiti genre tulisan perjalanan. Seperti dikritisi Graeme Wood dalam artikelnya di majalah Foreign Policy, tulisan perjalanan adalah genre yang mati, utamanya karena penulis terlalu tersedot kepada dirinya sendiri dan kurang menukik dalam pengamatan atas tempat dan orang-orang yang dikunjunginya. Atau, yang lebih parah, hanya menyoroti hasil pengamatan yang hanya mengkonfirmasi apa yang sudah mereka dengar atau yakini, sebagaimana dikritisi Edward Said. Dengan perenungan atas nasib diaspora dan obyek-obyek yang memiliki latar kesejarahan sebagaimana saya bahas di atas, buku Kepada Kamu yang Ditunggu Salju ini berpotensi menyumbangkan darah segar kepada genre yang tulisan perjalanan yang kita layu itu menurut sekalangan kritikus.

(Tulisan ini dimuat di kolom Resensi harian Jawa Pos Radar Malang pada hari Minggu 23 Juli 2017. Semoga menikmati resensinya, dan semoga ada “krentek” hati membeli bukunya.)

Seksualitas dan Aib

(Lagi-lagi satu resensi lama, dari tahun 2005 atau 2006-an lah. Ini saya kopi langsung dari situs Penerbit Jalasutra yang telah memuatnya sejak entah kapan. Tapi, demi mendokumentasikan tulisan-tulisan sendiri, sebelum hilang dimakan rayap virtual, saya posting saja lagi di sini. Demi apa? Demikian harap maklum.)

REsensi_AIb

Judul buku: Aib
Penulis : J.M. Coetzee
Penerbit : Penerbit Jalasutra

Posisi seksualitas dalam sastra menjadi topik penting pembicaraan para penikmat dan kritikus sastra Indonesia beberapa waktu yang lalu. Sebagian mengiyakan, sebagian menggugat, dan sebagian lainnya memilih sikap tak menggungat namun mencari alternatif bacaan lain. Wacana ini muncul setelah kehadiran beberapa pendatang muda yang tangguh dengan energi meluap sambil membawa karya-karya bermuatan seksualitas.

Perdebatan ini tak kunjung tersimpulkan. Masing-masing pihak melontarkan argumen yang tak kunjung saling meyakinkan. Tanpa sedikitpun maksud memperpanjang perdebatan itu, saya yakin, Penerbit Jalasutra Jogjakarta menerbitkan novel Aib karya JM Coetzee, peraih Nobel kesusastraan tahun 2003 asal Afrika Selatan.

Apa pasal saya mengisyaratkan adanya hubungan antara perdebatan posisi seksualitas dengan penerbitan Aib?

Berlatar Afrika Selatan akhir milenium kedua, novel yang berjudul asli Disgrace ini berkisah tentang Prof Lurie, dosen sastra, yang sejak awal hingga akhir buku tak kunjung selesai dirundung sial. Di awal cerita, dibeberkan bahwa sebagai seorang womanizer yang selalu haus akan kepuasan seksual, Prof Lurie sedemikian rupa berusaha memuaskan hasratnya dengan “berlangganan” seorang pelacur, Soraya.

Malangnya, Soraya menjauh begitu ada gelagat Prof Lurie ingin hubungan yang lebih mendalam. Kemudian, Prof Lurie menjalin hubungan dengan seorang mahasiswanya, Melanie, yang menyebabkannya mendapatkan kesialannya yang kedua: dituduh melakukan pelecehan dan pemerkosaan terhadap Melanie. Mengakui bersalah namun menolak menyesalinya, Prof Lurie kehilangan jabatannya sebagai dosen. Aib ini membuatnya menyingkir sejenak dengan mengunjungi putrinya, Lucy, di sebuah perkebunan.

Di sini, masalah lain menyongsongnya: rumah Lucy diserang tiga penjahat, Lucy diperkosa sementara Prof Lurie tidak bisa melakukan apa-apa, dan mobilnya dicuri. Keinginannya untuk melaporkan pemerkosaan itu kepada polisi ditentang keras putrinya yang ingin memendam sendiri luka itu; hubungan keduanya menjadi renggang.

Lebih-lebih lagi, putrinya menolak untuk pindah dari perkebunannya ketika diketahui bahwa pemerkosaan itu mengakibatkan kehamilan dan memutuskan menerima lamaran tetangganya yang jelas-jelas dia ketahui ingin menguasai tanah perkebunan putrinya. Masih kurang lagi, ketika dia kembali ke Cape Town ternyata rumahnya dijarah dan banyak barang pentingnya raib. Akhirnya, dia memilih tinggal di sebuah daerah tak jauh dari Lucy dan menjalin hubungan dengan seorang teman Lucy, yang sebenarnya sudah bersuami.

Dari ringkasan di atas, terasa sekali bahwa seksualitas adalah poin dominan dalam novel ini. Jelas sekali, tokoh utama adalah seorang bandot womanizer yang kehidupannya tak pernah jauh dari seks. Aib diawali dengan kepuasan seks yang didapatkannya dari Soraya. Kemudian, saking longgarnya ukuran moralitas baginya, dia berani mendekati mahasiswanya, Melanie, dan menggiringnya ke hubungan seksual bahkan ketika pertama kali mengundang gadis itu ke rumahnya—dan akhirnya gagal terlaksana. Melanie, secara tak langsung membawanya kepada aib.

Aib ini menggiringnya bertemu kesialan lain yang juga masih urusan seksual, pemerkosaan putrinya—meskipun ada tendensi rasialis di sini. Keberadaannya di dekat putrinya ini juga menggiringnya pada hubungan (seksual) dengan teman Lucy, Bev Shaw. Di sini, tampak betapa seksualitas adalah faktor yang sentral. Selain itu, jika Aib juga mengisahkan tentang Prof Lurie yang menggarap sebuah opera tentang penyair Inggris Lord Byron, sepertinya itu juga bukan tempelan. Kita tahu Lord Byron adalah penyair, juga womanizer, yang di London mendapat Aib karena skandal sodomi dan inses.

Meski demikian, jangan dulu tumbuhkan pandangan bahwa Anda akan menemukan adegan-adegan seksual yang digambarkan dengan sensual, merangsang.

Dalam novel yang membuat JM Coetzee menjadi penulis pertama yang memenangkan Booker Prize Award dua kali ini, adegan-adegan seksualitas dibeberkan secara minimal. Hubungan dengan Soraya digambarkan tak lebih dari sekedar “dia mengelus tubuh berona cokelat madu yang tak ternodai matahari itu; meregangkannya, menciumi buah dadanya; mereka bercinta”.

Bukankah, dibandingkan dengan sebagian besar karya sastra bertema seks lainnya, banyak sekali yang dilewatkan dalam menceritakan hubungan seks? Begitu juga ketika Prof. Lurie bersetubuh dengan Bev Shaw yang tak cantik, disebutkan “memerosotkan celana dalam, dia masuk ke sisi Bev, menelurusi tubuh Bev. Tak ada yang bisa dikatakan tentang payudara Bev. Tegap, nyaris tak berpinggul, seperti bak mandi pendek kecil”.

Mungkin, akan ada yang beranggapan, dengan seksualitas sebagai tema sentral, penggambaran hubungan seks di dalam Aib terasa terlalu minimal. Tapi, jika ditilik kembali sebesar apakah kuantitas seks dalam kehidupan, kita akan ingat betapa seks mendapatkan jatah tak banyak dalam sehari —kecuali bagi mereka yang, maaf, menjadikannya sebagai profesi. Dalam Aib, seks memicu terjadinya sebuah tragedi.

Selanjutnya, tragedi itulah yang lebih banyak dihadapi tokoh-tokoh cerita, bukannya seks itu sendiri. Itulah yang membuat kita sah berkata bahwa J.M. Coetzee telah menakar seksualitas secara proporsional dan dengan cara yang sama dia menyajikannya kepada kita para pembaca.

Aib menunjukkan kepada kita sebuah karya sastra yang menggarap fenomena-fenomena seksualitas —bukannya menggarap hubungan seksual!— dengan cerdas. Di Indonesia sendiri, satu atau dua tahun yang lalu, seorang sastrawan menyatakan bahwa dia menggarap tema seputar fenomena seksualitas, bukannya hubungan seksual.

Namun, terbukti banyak pihak menilai karyanya sebagai karya yang merangsang dan bahkan sempat memunculkan fenomena label “bacaan khusus dewasa”. Dengan hadirnya Aib, kita mendapatkan alternatif bacaan yang tak takut mengurai tema seksualitas namun juga tetap mampu menjaga dirinya bersih dari usaha membuat pembacanya larut dalam fantasi seksual yang berlebihan.

Selain seksualitas, novel ini juga mengetengahkan tema rasialisme. Dengan setting Afrika Selatan pasca-apartheid, JM Coetzee dalam novel ini melukiskan sedikit konflik yang muncul sebagai dampak dari luka politik apartheid yang masih terasa. Namun, berbeda dengan karya-karya sang pejuang anti-apartheid, Nadine Gordimer, penulis Afrika Selatan yang mendapatkan anugerah Nobel Sastra, JM Coetzee tidak menjadikan apartheid tema sentral. Dalam karya-karyanya, JM Coetzee lebih menyoroti konflik karakternya, dan menggunakan isu sosial hanya sebatas isu itu benar-benar mendukung perkembangan karakter tokoh-tokohnya.

Kebetulan, dalam Aib dia memiliki tokoh seseorang yang kehidupannya tak pernah jauh dari kepuasan seksual. Kehadiran Aib seakan-akan bertepatan dengan maraknya isu seksualitas di kancah sastra Indonesia. Jika memang kita tak pernah malu untuk belajar, kita bisa bilang bahwa Aib adalah satu diantara karya sastra asing yang bisa mengajarkan kepada kita bagaimana menakar seksualitas dengan proporsional

Ketidaksadaran Patriarkal dan Budaya Perkosaan dalam Sastra

Dalam esei “Bahasa Maskulin dalam Sastra” (dimuat di Kompas 16 September 2016), Aninditya S. Thayf mengutarakan bahwa bahasa yang maskulin merupakan gejala dari ideologi patriarki, dan kita bisa mengamatinya dalam karya sastra. Dalam retorikanya, Aninditya mengesankan kuatnya unsur kesengajaan dalam “penyusupan ideologi patriarki” melalui bahasa maskulin dalam sastra tersebut. Padahal, pada kenyataannya patriarki adalah kecenderungan yang tanpa disadari sudah melebur dalam peradaban manusia dewasa ini, yang sudah membudaya, dan bukan seperti sebuah ideologi yang sengaja ingin ditanamkan oleh sebuah rezim. Secara sadar, semakin banyak laki-laki maupun perempuan yang secara terbuka mendukung gagasan-gagasan feminis, yang menggugat maskulinitas eksklusif. Maka, mungkin akan lebih menarik dan produktif bila kita menelaah perwujudan ideologi patriarki yang tidak disadari.

Dengan demikian, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar melihat kecenderungan berbahasa dari penulis “yang dikenal misogini,” yang menurut Aninditya mengikuti “ideologi patriarkal.” Pernyataan Aninditya bahwa kecenderungan berbahasa yang maskulinis itu ada pada sastrawan yang dikenal misoginis berimplikasi bahwa yang perlu disoroti adalah penulis-penulis yang sejak awal sudah membenci atau menganggap lebih rendah perempuan. Padahal, yang mungkin lebih tepat adalah lebih banyak penulis yang tidak menyadari bahwa dia terjerat dalam gelembung patriarki.

Lebih dari sekadar perlunya kejelian pembaca untuk bersikap kritis, sebagaimana disampaikan Aninditya di akhir esei, penulis sendiri juga perlu terus menyadari. Penulis dituntut menyadari kuatnya pengaruh patriarki dan mencoba untuk secara sadar membaca naskahnya sendiri dari sudut pandang ini, kalau memang dia setuju bahwa bersikap non-patriarkal adalah penting. Dengan demikian, tanggung jawab ini sama besarnya bagi laki-laki maupun perempuan. Penulis perempuan pun bisa terpeleset dan mendukung kecenderungan patriarki. Tapi, secara etis, tidak pada tempatnya saya, seorang lelaki, ikut mengomentari kecenderungan mendukung patriarki pada penulis perempuan.

Beberapa gejala dari pengaruh patriarki yang sering muncul dalam karya budaya adalah objektifikasi perempuan, pembagian peran berdasarkan jenis kelamin, dan perayaan “budaya perkosaan.” Di sini, saya ingin langsung menyoroti perayaan “budaya perkosaan,” sebuah istilah yang sudah dipakai sejak tahun 1970-an di Amerika Serikat. Istilah ini mengacu pada perilaku, bisa berupa lelucon maupun kelalaian, yang menormalisasi tindakan perkosaan. Perilaku semacam ini menjadikan tindak perkosaan seolah-olah tidak jahat atau bahkan disebabkan oleh perempuan sendiri. Meski sudah lama dipakai, istilah ini masih diperdebatkan dan tetap perlu dikampanyekan hingga hari ini. (Untuk lebih jelasnya, silakan lihat buku Kate Harding terbitan 2015 berjudul Asking For It: The Alarming Rise of Rape Culture–and What We Can Do About It.)

Dalam karya sastra, “budaya perkosaan” bisa muncul secara halus, mungkin tanpa disadari penulisnya sendiri. Gejala ini bisa muncul bahkan dalam karya sastra penulis yang tidak dikenal misoginis. Karya yang bisa kita ambil untuk dijadikan contoh kasus adalah cerpen berjudul “Es Krim” karya Bernard Batubara dalam buku kumpulan cerpen Metafora Padma. Dari buku ini, Bernard Batubara tidak tampak seperti seorang cerpenis yang secara sadar “misoginis.” Bahkan, perempuan memainkan peran-peran penting dalam beberapa cerpen Bernard. Cerpen “Es Krim,” khususnya, menarik dibahas karena cerpen ini mengkritisi sekaligus merayakan “budaya perkosaan.”

Bingkai utama cerita ini adalah perbincangan antara narator dan kawan lelakinya. Narator digoda kawannya karena tidak berani menghadiri acara perkawinan Fu, mantan kekasihnya. Di tengah perbincangan itu, narator kita mengingat riwayat hubungannya dengan Fu, mulai masa perkenalan, kedekatan, hingga akhirnya hubungan tersebut kandas di tangan orang tua, yang menjodohkan Fu dengan seorang lelaki kaya. Cerpen ini, menurut saya, mengusung tema sederhana tentang minimnya agensi perempuan; dalam cerpen ini, Fu adalah obyek kejahatan laki-laki (pemerkosa) sekaligus objek cinta orang yang menginginkan kebahagiaannya (orang tua), meskipun Fu memiliki kehendak lain.

Namun, saat menelaah secara lebih mendetil, pembaca yang peka terhadap hubungan antar jender, atau tentang “budaya perkosaan,” akan terusik. Yang pertama adalah bagaimana dalam ingatan narator kita si perempuan, Fu, mengingat trauma psikologis yang dialaminya. Fu mengatakan: “… dalam dua jam, saya ditiduri sepuluh laki-laki.” Karena ucapan Fu ini kita terima lewat ingatan si narator, jadi kita bisa membaca ini sebagai sikap si narator. Perlukah di sini si narator memperhalus “diperkosa” menjadi “ditiduri”? Samakah keduanya? Menurut kamus, keduanya sangat berbeda.

Di satu sisi, membiarkan si narator menggunakan kata “ditiduri” tanpa disertai dengan justifikasi adalah kesalahan jender fatal di pihak penulis, karena hal itu adalah upaya “normalisasi” tindak kejahatan seksual. Tapi, bisa juga kita baca ini sebagai kesalahan narator dalam mengingat, sehingga tindak kejahatan besar seperti perkosaan bisa terwakili oleh kata “ditiduri.” Kalau masalahnya yang kedua, mungkin saja kegagalan si narator mendapatkan Fu adalah ganjaran yang diberikan oleh penulis atas dosanya ini.

Permasalahan yang kedua berkaitan dengan alasan kenapa cerpen ini berjudul “Es Krim.” Dalam cerpen ini, es krim adalah simbol kenikmatan yang akhirnya dapat membangkitkan lagi semangat hidup Fu setelah diperkosa. Fu mulai menyukai Es Krim sejak salah seorang kolaborator pemerkosaan yang menawari si perempuan “Es Krim” dan selimut. Sekuat itukah kemampuan Es Krim mengobati luka karena perkosaan? Dengan menarasikan betapa mudahnya trauma perkosaan disembuhkan, cerpen ini merepresentasikan perkosaan sebagai sesuatu yang relatif ringan.

Pertanyaannya sekarang, apakah dengan begitu Bernard Batubara mempromosikan ideologi patriarki? Tentu hanya Bernard Batubara yang bisa menjawab secara pasti pertanyaan semacam itu. Namun, berdasarkan pembacaan atas buku Metafora Padma secara lengkap, kita bisa bilang bahwa yang terjadi bukanlah “penyusupan ideologi maskulinitas lewat diksi.” Dari buku ini, kita bisa melihat kepedulian Bernard Batubara terhadap pertikaian antar suku, etnis, dan kelompok yang akhirnya mengorbankan manusia, anak-anak, dewasa, orang tua, laki-laki, dan perempuan.

Justru, Dengan mengambil tema seorang lelaki yang peduli dan menjalin hubungan dengan seorang korban perkosaan tanpa memberikan pandangan miring, Bernard Batubara sudah menunjukkan kepedulian terhadap isu jender dan tindakan perkosaan. Bahkan, di dalam cerpen tersebut Bernard Batubara menyoroti salah satu elemen pendukung “budaya perkosaan,” yaitu pada adegan ketika para pemerkosa mengatakan seolah-olah perkosaan itu disebabkan gaya busana Fu. Selain itu, di akhir cerita pun si narator tetap tidak bisa mendapatkan Fu, yang secara struktur dalam cerita bisa dihubungkan dengan sikapnya yang memandang ringan perkosaan Fu.

Akan tetapi, apakah artinya di sini Bernard Batubara juga bukan orang yang bersalah? Dalam hal ini, Bernard sama bersalahnya dengan kita yang secara sadar maupun tidak ikut membiarkan adanya “budaya perkosaan.” Sama bersalahnya dengan Bernard adalah kita yang, misalnya, membiarkan terjadinya tindakan perkosaan atau bahkan bergurau seolah-olah perkosaan adalah tindakan yang tidak terlalu mendehumanisasi perempuan. Yang pasti lebih parah adalah, misalnya, tindakan menutup mata dan tidak merasa terusik ketika kasus tuduhan perkosaan oleh Sitok Srengenge mandek dan tidak lagi terdengar kabarnya. Dan ini adalah persoalan global. Di Amerika, baru-baru ini, seorang hakim menjatuhkan hukuman cukup ringan untuk seorang atlit yang memperkosa dengan pertimbangan bahwa hukuman penjara akan merusak masa depan si atlit yang gemilang. Kejadian seperti ini menunjukkan kuat dan tidak disadarinya pengaruh ideologi patriarki, khususnya dalam bentuk “budaya perkosaa.”

Sebagai simpulan, sastra adalah sebuah hasil karya budaya yang juga menunjukkan gejala-gejala sosial. Namun, gejala-gejala tersebut seringkali bukan gejala yang dihasilkan oleh tindakan sadar. Bahayanya adalah, retorika semacam itu bisa menjadi sesuatu yang besar karena mempengaruhi pola pikir secara umum. Maka, dalam hal ini baik pembaca maupun penulis (atau seniman secara umum) perlu dengan sadar, dan dengan kepekaan lebih, untuk sebisa mungkin mengikis kecenderungan-kecenderungan yang melestarikan patriarki. Dari cerpen Bernard Batubara, kita bisa melihat bahwa bahkan pada karya sastra yang menyoroti isu jender pun seorang pengarang bisa terpeleset melakukan dosa jender.

(Ini tulisan dari tahun 2016 dan dimuat di majalah SULUK terbitan Dewan Kesenian Jawa Timur edisi 12 tahun 2016.)