Pegadaian karya Sigit Susanto: Estetika Mudik?

(Seperti biasa, perlu saya sebutkan bahwa dalam postingan kali ini saya akan berbicara tentang buku tulisan seorang yang saya kenal dan hormati. Saya harap setelah ini tidak ada lagi kecurigaan tentang bias. Tapi, sebisa mungkin saya akan obyektif.)

Sejujurnya saya agak menyesal baru sempat membaca novel Pegadaian karya Sigit Susanto. Saya justru telah membaca tiga buku catatan perjalanan karya Sigit Susanto (yaitu Lorong-lorong Dunia Jilid 1, 2, dan 3). Padahal, saya cukup lama kenal orangnya. Tapi, kenapa harus menyesal? Karena ternyata buku ini mengasyikkan, memberikan satu gambaran tanpa pretensi atas tradisi Idul Fitri khas Muslim tradisional desa Indonesia yang seringkali disebut “abangan,” dan terstruktur seperti untaian kisah-kisah kecil dengan satu tema besar yang menjadikannya asyik dibaca sambil tetap ada tujuan di akhir cerita.

Pegadaian berkisah tentang lika-liku hidup Sunar selama masa 5 tahun sebagai guide di Bali yang harus mudik ke kampung halamannya di Boja, Kendal, setiap Lebaran. Lika-liku hidup ini berkisar pada upaya Sunar membangun karir sebagai guide (mulai dari guide bahasa Inggris hingga menjadi guide bahasa Jerman) dan upaya Sunar membahagiakan ibunya yang sangat dia cintai. Di seluruh novel ini, tersebar kisah-kisah kecil keseharian Sunar sebagai guide dan kisah-kisah aktivitas mudik yang kelucuan. Di bagian awal novel, suasana mudik diwarnai keriangan tapi juga keharuan ibunya yang memandang Sunar sebagai anak yang paling sengsara dibanding kakak-kakaknya. Berangsur-angsur, sikap si ibu berubah seiring meningkatnya posisi Sunar sebagai guide. Namun, meskipun terjadi peningkatan status Sunar, ada satu hal yang tetap: setiap akhir masa mudik, Sunar terpaksa meminta ibunya menggadaikan bros peniti emas karena uang Sunar sudah benar-benar habis di akhir masa mudik, tak peduli berapapun yang dia bawa pulang.

Satu hal yang menarik dari novel ini adalah intensitasnya membicarakan perihal mudik lebaran dan segala aspeknya. Meskipun sesi mudik ini hadir secara teratur dan sangat bisa ditebak, isinya selalu membawa kebaruan. Di mudik pertama, kita akan melihat acara unjung-unjung atau silaturahmi ke saudara-saudara dekat yang tinggal agak jauh (tentu dengan pernak-perniknya yang gado-gado antara haru, bahagia, konyol, dan bahkan separuh jorok). Di sesi mudik kedua, sorotannya berbeda lagi. Begitu juga sesi mudik ketiga dan selanjutnya. Bahkan, ada sesi mudik yang memfokuskan pada acara wisata (yang dalam masyarakat Jawa disebut “piknik”). Jenis-jenis kegiatan mudik yang tak ada habisnya ini seolah menunjukkan bahwa kegiatan selama lebaran itu benar-benar tak ada ujungnya. Apalagi bagi mereka yang sudah absen sepanjang tahun dari kampung dan harus merekap semuanya dalam satu minggu. Seperti itulah mudik: mudik bukanlah liburan untuk istirahat menyisih dari sibuknya kota. Mudik adalah liburan untuk beraktivitas, menjalin kembali tali silaturahmi yang, seperti idealnya tali, harus panjang agar bermanfaat, harus panjang dan tak henti-henti, seperti acara makan yang tak henti-henti pada saat silaturahmi lebaran, dari rumah saudara satu ke rumah saudara yang lain, bahkan ketika kita merasa sudah kekenyangan, karena makan di sini seperti fungsi sosial menghormati saudara, lebih dari sekadar fungsi biologis.

Dalam aktivitas mudik ini juga kita bisa melihat wajah Islam yang tak bisa diingkari, yang bisa dibilang kurang menjual untuk hari-hari ini. Islam di sini begitu menjadi bagian dari masyarakat Jawa dalam novel ini. Tapi, bagian ini tidak menjadi penentu akhir untuk bagian-bagian yang lain. Kegiatan-kegiatan penting seperti silaturahmi, menghormati arwah leluhur, dan sejenisnya, dilakukan mengikuti penjadwalan menurut Islam, misalnya idul fitri. Tapi kegiatan-kegiatan itu memiliki signifikansinya sendiri tanpa bisa dimaknai sebagai milik eksklusif Islam. Satu adegan dalam novel ini yang bisa merepresentasikan hal itu adalah kegiatan silaturahmi ke saudara di gunung. Di situ, narator menyebutkan bahwa kunjungan itu lebih banyak diisi dengan perbincangan tentang berbagai topik dan hanya sedikit berurusan dengan salam-salaman. Tampak di sini seolah-olah Islam dengan Idul Fitrinya memberikan satu media atau waktu, sementara isi dari acara itu sendiri sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Dengan kata lain, ada sebuah kegiatan yang mungkin sejak lama menjadi kebiasaan, yaitu saling mengunjungi, dan Islam mengkonsentrasikan kegiatan saling mengunjungi itu pada saat Idul Fitri. Dengan begitu, acara saling mengunjungi itu terasa lebih kuat, seperti energi yang tercecer yang kemudian dipusatkan.

Satu hal lain yang terasa kuat dalam novel ini adalah atmosfir santai–pada sebagian besar novel. Atmosfir santai ini terasa terutama dalam dua elemen di novel ini: cerita-cerita kecil dan bahasanya. Seperti saya singgung di atas, dalam menceritakan lika-liku hidup sebagai guide, novel ini menghadirkan cerita-cerita kecil dalam keseharian Sunar yang terkadang menerbitkan senyum, terkadang mengundang haru. Cerita-cerita kecil ini datang  tanpa henti, hingga kita bisa bilang bahwa novel ini merupakan kumpulan manik-manik kisah kecil yang diuntai dengan satu tali tema hubungan ibu dan anak. Salah satu contoh dari kisah jenaka yang ada adalah tentang perkenalan Sunar dengan seorang gadis pegawai hotel. Di satu kesempatan, Sunar dan Mohar (sahabat baiknya) makan bersama dengan si gadis. Di akhir sesi makan, Mohar memberikan judgment atas gadis itu: dia bukan gadis baik-baik karena suka minum bir. Sunar menjadi ragu-ragu juga mengenai gadis itu. Belakangan, diketahui bahwa Mohar salah dengar: dia mengira gadis itu bilang “minta bir” kepada pelayan restoran, padahal sebenarnya dia bilang “minta bill,” satu istilah untuk kuitansi restoran yang tidak diakrabi oleh Mohar dan Sunar. Kisah-kisah ini tak cuma lucu, tapi ada juga yang mengharukan. Tapi, semuanya disampaikan dengan atmosfir santai. Kalau dikembaliken ke tema mudik, mungkin kita bisa memahami kisah-kisah kecil ini seperti cerita seorang saudara yang mudik kepada saudaranya di kampung. Cerita-cerita itu datang bertubi-tubi tiada henti, tapi selalu ada yang menjadikannya perlu disampaikan, entah itu kelucuan, kekonyolan, keharuan, maupun hikmah sederhananya.

Untuk kesantaian berbahasa, sepertinya saya akan membiarkan Anda membacanya dan mengalaminya sendiri. Yang jelas, di sini Anda akan bertemu istilah “streng,” atau “senyumnya tercecer,” atau “kawin karena kecelakaan,” yang saya bayangkan akan sangat nikmat bagi pembaca Indonesia, dan menyulitkan bagi calon penerjemah ke bahasa asing kalau si penerjemah bukan orang Indonesia (atau Jawa?). Saya hentikan di sini komentar soal kesantaian linguistik ini.

Maka begitulah catatan saya mengenai novel Pegadaian ini. Karena waktu saya untuk menulis sudah habis, maka saya sudahi di sini saja. Kalau Anda ingin simpulan saya atas novel ini, silakan baca paragraf kedua di atas. Semoga paragraf itu bisa menjalankan dwifungsi-nya, sebagai pendahuluan sekaligus simpulan. Oh ya, di judul postingan ini saya menggunakan istilah “estetika mudik,” yang belum saya definisikan sama sekali sejak awal hingga saat ini. Tapi, saya bersumpah saya sudah beberapa kali mencoba memberikan contohnya. Jadi, silakan temukan di atas dan definisikan sendiri apa itu “estetika mudik” yang saya maksudkan.

Selamat membaca!

 

Pentingnya Membaca Surat untuk Ayah Orang Lain

(Sebuah resensi yang pernah dikirimkan ke koran tapi tidak pernah dimuat, hehehe…)

Info buku
Judul: Surat untuk Ayah
Penulis: Franz Kafka
Penerjemah: Sigit Susanto
Penerbit: Komunitas Lereng Medini
Cetakan: I, April 2016

Sepenting apakah membaca sepucuk surat dari seorang anak kepada bapaknya di zaman banjir curhat seperti sekarang? Bagaimana bila surat tersebut ditulis di satu negeri Eropa nyaris seabad yang lalu? Kalau yang dimaksud surat itu adalah surat dari sastrawan Franz Kafka untuk ayahnya yang ada pada buku Surat untuk Ayah, maka jawabannya adalah: sangat penting. Gabungan antara isi surat yang berkisar pada ketegangan hubungan anak-bapak, rekam jejak si penulis surat sebagai penulis yang piawai menelusuri misteri batin manusia, dan tentu saja kelihaian penulisnya dalam bernarasi—ketiganya menjadikan buku kecil ini tetap relevan untuk dibaca pada konteks kita hari ini. Dengan tema yang universal dan bisa dijadikan bahan renungan bagi siapapun, mestinya tidak berlebihan juga bila surat ini dihargai sebagai satu lagi sumbangan praktis penting dari dunia sastra untuk kehidupan sehari-hari.

Franz Kafka adalah sastrawan bahasa Jerman penting yang lazimnya dikenal melalui karya-karya fiksinya. Kafka lahir dan dibesarkan dalam keluarga penutur bahasa Jerman di Praha (dulu ibukota Kerajaan Bohemia dan sekarang ibukota Republik Ceko). Novelet-nya yang berjudul Metamorfosis (terjemahan Indonesia-nya oleh Juni Liem terbit pada 2008) menelusuri pergolakan batin seorang manusia yang bangun pagi dan kaget mendapati dirinya telah berubah menjadi serangga raksasa. Novelnya Proses (terjemahan Indonesia-nya oleh Sigit Susanto terbit tahun ini) mengisahkan tentang seorang lelaki yang menjalani proses hukum tanpa tahu dakwaan yang dikenakan kepadanya. Dalam khazanah sastra dunia, konflik kisah manusia yang terperangkap dalam ketidaktahuan di tengah dunia yang serba ganjil seperti ini belakangan dikenal dengan gaya “kafkaesque.”

Surat untuk Ayah ini pada awalnya adalah benar-benar sepucuk surat yang ingin Kafka kirimkan kepada ayahnya—bukan surat terbuka yang akhir-akhir ini semakin lazim kita baca di media sosial. Surat tersebut pada akhirnya sampai ke tangan ibu Kafka yang tidak pernah sampai hati menyampaikannya kepada sang ayah. Dan kini, jadilah surat tersebut meriwayatkan sebagian penting masa kecil Kafka, menjadi bahan otobiografi Kafka. Bagi pembaca Kafka yang cermat, sebagaimana Sigit Susanto sampaikan di pengantar, ada bagian-bagian penting dalam karya fiksi Kafka yang bisa ditemukan cikal bakalnya dalam kehidupan pribadi Kafka sebagaimana tertuang dalam surat ini.

Secara umum, Surat untuk Ayah ini merupakan penceritaan ulang derita batin sang anak karena perlakuan bapaknya. Kafka mengulang kembali hal-hal dalam hidup masa kecil dan mudanya ketika tinggal bersama orang tuanya, dan kemudian dia menunjukkan bagaimana hal-hal tersebut mempengaruhi perkembangan psikologisnya. Franz menyadari bahwa pada banyak keadaan, mungkin ayahnya tidak bersalah, tapi dia tetap berpandangan bahwa ada masalah dalam cara ayahnya mendidiknya.

Dalam surat ini, Franz juga membicarakan hal-hal besar dan kecil dalam hidupnya yang dipengaruhi oleh hubungannya dengan sang ayah. Terkait hal-hal kecil, misalnya, Franz membahas bahasa dan cara ayahnya berkomunikasi dengan Franz. Dia menguraikan kebiasaan-kebiasan buruk ayahnya yang membunuh kepercayaan diri si anak. Sebut saja di sini kebiasaan sang ayah memperolok anak, melecehkan orang lain di hadapan anak, dan membicarakan keburukan kepada ibunya di hadapan si anak. Memang ayahnya bukan orang yang ringan tangan, tapi sikap yang menyertai kemarahan ayahnya justru membuat Franz merasa tertekan.

Satu contoh terkecil adalah bagaimana si ayah suka mengancam akan memukulnya tanpa benar-benar melakukannya. Hal tersebut membuat Franz merasa lebih sakit daripada benar-benar dipukul atau dicambuk dengan ikat pinggang. Di sini, kita bisa menghubungkan pengalaman Franz dengan satu ungkapan lazim dalam pendidikan dan parenting: “Anak kecil tidak akan selalu ingat apa yang kita ajarkan, tapi mereka ingat apa yang mereka rasakan karena tindakan kita.” Beberapa dari sikap ayahnya ketika kecil itu membunuh kepercayaan diri sang anak, sehingga dia tumbuh sebagai orang yang kerdil ketika berada di sekitar ayahnya.

Selain itu, ada hal-hal besar yang Franz tuliskan terkait bagaimana sejumlah hal besar dalam kehidupan Franz yang terpengaruh oleh hubungan antara dia dan ayahnya. Bagaimana ayahnya memahami dan menjalankan agama menjadi satu catatan tersendiri dari Franz Kafka, yang menurutnya seperti cara beragama orang desa. Dan kritik lain Kafka kepada ayahnya adalah sikap sang ayah terhadap hubungan romantik. Kafka mendakwa ayahnya telah membuat dia mengubah pandangannya terkait pernikahan dengan salah satu pernyataan yang dia berikan ketika dia remaja, dan dia juga mendakwa ayahnya memberikan pengaruh negatif hubungan antara ayah dan ibunya.

Dengan itu, Surat untuk Ayah ini bisa menjadi sarana untuk menyelami perasaan seorang anak yang merasa menjadi korban dari perbedaan antara dirinya dengan sang ayah dan sikap sang ayah yang terlalu mendominasi si anak. Namun, Kafka sadar diri dan membuka kemungkin bahwa bisa jadi ayahnya tidak benar-benar bersalah, dan dia sendiri mungkin anak yang terlalu perasa. Namun, di balik otokritik Kafka kepada dirinya itu, terdapat tuntutan bahwa tetap saja akan lain bedanya bila si ayah lebih memahami putranya dan tidak selalu menjadikan dirinya sendiri sebagai tolok ukur untuk anak-anaknya.

Sebagai sebuah karya terjemahan, ada sedikit yang bisa dikomentari mengenai buku Surat untuk Ayah ini. Di satu sisi, ada sebuah keuntungan bila penerjemah kita adalah penerjemah yang menggarap lebih dari satu buku dari penulis yang sama. Demikian halnya dengan buku Surat untuk Ayah ini. Seperti disinggung di atas, Sigit Susanto, penerjemah buku ini, adalah juga penerjemah novel Proses, novel Franz Kafka yang baru-baru ini diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama. Kita juga mendapat keuntungan karena selain akrab dengan karya-karya tulis Franz Kafka, Sigit Susanto juga pernah mengunjungi tempat-tempat tinggal Franz Kafka sebagaimana Sigit tulis dalam buku catatan perjalanannya yang berjudul Menyusuri Lorong-lorong Dunia. Bisa dibilang, Sigit Susanto memiliki modal pengalaman yang lebih dibanding rata-rata penerjemah Indonesia.

Namun, tentu saja itu tidak mencegah terjadinya pilihan-pilihan pengalihbahasaan yang sesekali membuat pembacaan Surat untuk Ayah terasa tidak lancar. Ada kalimat-kalimat tertentu yang merasa sangat dikendalikan oleh struktur bahasa aslinya dan kurang luwes sebagai kalimat berbahasa Indonesia. Bagaimanapun, secara umum, terjemahan Sigit Susanto yang diedit oleh Kurniasih ini terbilang sangat berhasil menghadirkan dokumen sastra penting ini bagi publik Indonesia.

Demikianlah, bagaimana sebuah surat yang ditulis oleh orang yang hidup jauh dari tempat kita, nyaris sembilan puluh tahun yang lalu masih relevan bagi kita. Meskipun hari kita bisa melihat curhatan orang di Facebook dan semakin sering kita baca surat terbuka oleh budayawan, warga biasa, politisi, artis, keluarga politisi, dan lain-lain. Surat ini tentu saja juga sangat penting dibaca siapa saja yang berkesempatan membesarkan anak, atau bila Anda ingin mengenal Franz Kafka lebih dalam tanpa harus repot-repot membaca biografi atau biografi tebal yang komprehensif (meskipun mereka juga penting). Tapi, tentu saja tidak menutup kemungkinan surat ini akan penting bagi Anda yang memang ingin membaca hidup orang lain, mencari bahan untuk direnungkan, tanpa harus kuatir akan mendapat wejangan motivasi di akhir cerita.

Membaca Sastra Indonesia di Indonesia (lagi!)

Sudah hampir lima bulan saya di Jawa Timur lagi setelah lima tahun absen. Saya bersyukur sudah menyempatkan baca-baca buku sastra Indonesia lagi, meskipun jumlahnya masih kurang dari harapan saya. Bagaimana pun, saya cukup bersyukur bisa membaca buku-buku itu, mengingat saya masih harus membaca ini itu yang lain dan kloyongan ke sana ke mari dan berganti sepeda motor ini dan itu.

Berikut buku-buku yang sempat saya baca. Masing-masing buku ini saya nikmati dan saya syukuri telah membacanya. Urusan penilaian biarlah jadi urusan saya pribadi (toh, saya juga masih belum benar-benar yakin bisa menghakimi buku dengan bijak). Yang penting, saya membacanya dan tidak menyesali menghabiskan waktu saya melakukannya.

  1. Rumah Kopi Singa Tertawa oleh Yusi Avianto Pareanom (membaca yang kesekian kalinya, tapi tetap menikmatinya :D)
  2. Avontur (antologi puisi) oleh Ragil Suprayitno
  3. Surat untuk Ayah oleh Franz Kafka dan diterjemahkan oleh Sigit Susanto
  4. Arung Cinta oleh Djoko Saryono
  5. Tafsir Kenthir Leo Kristi oleh Djoko Saryono
  6. Surat dari Praha oleh Yusri Fajar
  7. Metafora Padma oleh Bernard Batubara
  8. Kiat Sukses Hancur Lebur oleh Martin Suryajaya (sangat membahagiakan dan memantik hiperaktivitas penafsiran)
  9. Anak-anak Masa Lalu oleh Damhuri Muhammad
  10. Tewasnya Gagak Hitam oleh Sidik Nugroho
  11. Moemie, Gadis Berusia Seratus Tahun oleh Marion Bloem
  12. Playon oleh F. Aziz Manna
  13. Usaha Membunuh Sepi oleh Felix K. Nesi
  14. Neraka di Warung Kopi oleh Sidik Nugroho

Masih ada beberapa buku lain yang juga saya baca, tapi karena tidak saya baca untuk pertama kalinya dan tidak saya baca penuh, maka sepertinya tidak perlu saya sebutkan di sini.

Semoga saja di tahun yang akan datang saya bisa membaca lebih banyak dan menuliskan lebih banya (seperti yang selalu saya janjikan).

Dan, tentu saja, saya berharap 2017 menjadi tahun yang tepat untuk menyelesaikan sebuah tulisan panjang ilmiah (kerling-kerling!) dan menyelesaikan cerpen-cerpen yang drafnya sudah saya buat selama lima bulan terakhir. Semoga. Semoga. Eh, kok tanpa sadar saya bikin resolusi tahun baru? Ya, sudahlah, karena sudah keceplosan, saya berharap Anda semua meng-amini, meskipun tidak me-like dan nge-share.

Salaam…

Mencatat Anak-anak Masa Lalu

(Ini tulisan singkat yang akan terus diedit begitu ada kesempatan.)

Sepertinya saya sudah melanggar janji saya untuk selalu memperbarui blog ini setiap kali habis membaca buku. Apalah daya, kadang-kadang hasrat untuk membaca itu lebih gampang dituruti daripada tuntutan untuk blogging.* Tapi, biar hasil baca itu tidak berlalu bersama angin, saya akan rekap saja di sini, biar pun singkat, yang penting ada.

Salah satu buku yang saya baca beberapa waktu yang lalu tapi tidak sempat saya blogkan adalah kumpulan cerpen Damhuri Muhammad Anak-anak Masa Lalu. Buku ini terbit tahun 2015, dan saya memutuskan untuk membeli serta membacanya karena memang saya dulu suka membaca Damhuri Muhammad di Kompas atau Jawa Pos–dan sekarang saya rindu membaca tulisannya yang seingat saya dulu asyik. Damhuri Muhammad selalu asyik dan tegas, baik cerpen maupun esainya.

Apa yang saya dapatkan dari pembacaan atas buku Anak-anak Masa Lalu itu? Sangat banyak sebenarnya, dan sangat perlu dituliskan secara runtut untuk dokumen pribadi, untuk mencatat potensi tulisan serius di masa depan. Tapi, karena tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut pada saat ini, tapi saya tidak ingin lupa, dan siapa tahu Anda juga akan bisa melanjutkannya, maka saya berikan saja satu catatan saya di sini: Dalam buku Anak-anak Masa Lalu, ada dilema terkait hubungan antara udik dan kota, tradisional dan modern.

Di satu sisi, ada beberapa suara dalam cerpen Damhuri yang menyoroti dampak negatif dari persentuhan orang desa dengan kota, seperti misalnya dalam cerpen “Rumah Amplop” yang mengisahkan bagaimana keinginan untuk menjadi modern dan kaya dan lain-lain membuat orang menjauhi akarnya. Atau, contoh lainnya adalah pada cerpen “Tembiluk,” yang mengisahkan seekor siluman anjing yang dimanfaatkan oleh para pembesar negeri, yang tentu saja tinggal di kota.

Di sisi lain, kita juga mendapatkan kesan adanya resistensi terhadap cara pandang tradisional. Ada cerita-cerita di mana yang tradisional disoroti dan ditunjukkan dampak negatifnya. Lihatlah misalnya pada cerpen yang berjudul “Dua Rahasia, Dua Kematian,” di mana hubungan asmara antara dua tokohnya yang dilarang oleh orang tua. Kedua anak muda ini tidak ada masalah dengan hubungan mereka, tapi orang tua mereka melarang karena satu lain hal.

Dilema di atas menurut saya bisa membawa kita ke beberapa respons. Yang pertama, dan mungkin semacam respons refleks kita atas sebuah inkonsistensi, adalah menuduh Damhuri Muhammad sebagai orang yang tidak bisa memutuskan mana yang harus dia bela, desa atau kota. Tapi ada juga respons lain, respons kedua: Jangan-jangan, saya saja yang terlalu menyederhanakan masalah, meminta penulisnya menentukan sikap antara desa dan kota. Mungkin saja Damhuri sadar bahwa adalah yang harus dipertahankan dari desa, dan ada pula yang harus dipertanyakan dari sana. Bisa jadi di sanalah tema yang memang lebih berpotensi digali. Dengan kata lain, bisa jadi respons refleks saya di atas adalah kesalahan fokus karena terlalu ingin menemukan yang memang saya cari, padahal semestinya kita harus membiarkan apa yang kita investigasi membuka dirinya sendiri**.

Bisa jadi, inti dari cerpen-cerpen Damhuri yang sering disebut-sebut memiliki “bumbu lokalitas”*** yang kental ini justru pada upayanya menggarap konflik-konflik yang terjadi antara yang udik dan yang kota. Kalau memang begitu, berarti tidak jadi soal bahwasanya Damhuri seperti bersikap mendua dalam memandang hubungan antara kampung dan kota. Yang lebih ditekankan, sehingga lebih urgen untuk disoroti adalah adanya kepentingan Damhuri untuk membahas dinamika udik dan kota ini.

Begitulah, untuk menyimpulkan postingan ini: bisa jadi memang ada dilema dalam cara Damhuri (melalui cerpen-cerpennya) memandang hubungan antara desa dan kota; tapi bisa jadi yang ada perlunya membahas tarik ulur antara desa dan kota. Hal pertama bisa dibilang lebih simplistik dan mengarahkan pada satu jawaban yang kurang lebih bisa ditebak. Hal kedua ini menurut saya berpotensi untuk membuka banyak hal dan mungkin bisa membawa kita ke pertanyaan-pertanyaan yang lebih menarik.

* mungkin karena itu Terry Eagleton pernah bilang, di pengantar salah satu dari seombyok bukunya, bahwa membaca itu pekerjaan yang sangat gampang, “Kita tinggal buka buku, baca, dan jangan berhenti sebelum selesai.” 🙂

** untuk urusan ini, saya selalu ingat Fox Mulder di serial “The X-Files”. Ketika sedang menginvestigasi kasus, kita bisa melihat Mulder sibuk membongkar-bongkar laci atau memeriksa setumpuk arsip. Saat mitranya, Dana Scully, atau orang lain bertanya, “Kamu cari apa, Mulder?” dia menjawab “Nggak tahu. Nanti pasti tahu kalau ketemu.”

*** padahal, menurut saya lebih tepat kalau kita bilang bahwa cerpen-cerpen Damhuri ini “lokalitas dengan sedikit taburan cerpen” 😀

Betulkah Ini Novel?: Eksplorasi Awal atas Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya

Setidak-tidaknya, kita perlu bilang bahwa Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya adalah sebuah cerita yang tidak biasa. Tapi, kalau kemudian ada orang yang protes dan meminta kita menjelaskan lebih, maka tidak ada salahnya kalau kita urutkan satu per satu hal-hal yang membuat buku ini menjadi buku yang tidak biasa.

Sementara, ada dua orang yang menyampaikan kepada saya bahwa mereka tidak bisa menyelesaikan baca novel Martin Suryajaya ini. Orang pertama mengatakan kepada saya bahwa dia malah “mumet” karena membaca novel ini, sehingga kemudian memutuskan untuk berhenti. Orang yang lain, seorang penulis, dengan nada protes mengatakan bahwa novel ini membingungkan dan tidak seperti “novel pada umumnya, yang memberikan cerita.” Sikap seperti itu menurut saya wajar-wajar saja mengingat ketidakbiasaannya novel ini.

Memang, sekali lagi, Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya adalah novel yang tidak biasa. Tapi, tidak juga serta-merta berarti bahwa novel Martin Suryajaya ini satu-satunya novel yang tidak biasa. Sejauh ini, sangat banyak novel yang memberikan hal-hal yang tidak biasa, dan itu semua bisa dibilang masih dalam batas-batas kewajaran genre ini.

Tapi, sebelum bermain-main dalam keabstrakan yang menjemukan, biarkan saya coba menjelaskan bangunan struktur novel ini. Dan saya harap setelah ini Anda bisa membayangkan Kiat Sukses Hancur Lebur ini dengan lebih arif dan dewasa.

Kiat Sukses Hancur Lebur, uniknya, memiliki struktur yang lazim dipakai dalam novel-novel klasik. Cerita dibuka dengan sebuah pengantar yang juga fiksi. Pengantar yang dibuat oleh kritikus sastra Andi Lukito ini ini menginformasikan kepada pembaca bahwa buku yang pembaca pegang ini adalah hasil penyajian sebuah manuskrip karya Anto Labil, S. Fil, seorang anggota perserikatan “Tujuh Pendekar Kere” yang hidupnya tidak biasa. Andi Lukito juga menjelaskan bahwa manuskrip yang ada di tangan pembaca ini ditulis dengan gaya yang tidak biasa. Dan manuskrip tersebut, yang diberi judul Kiat Sukses Hancur Lebur menurut Anto Labil, S. Fil., adalah satu bagian kecil saja dari sebuah buku yang direncanakan panjang. Selanjutnya, kita pembaca ini akan membaca manuskrip dari Anto Labil S. Fil. yang sudah diedit salah ketiknya oleh Andi Lukito. Bagian inilah yang tidak biasa, bahasanya seperti “bahasa puisi penyair mabuk yang hampir jatuh ke got.” Bagian inti inilah yang belakangan banyak disoroti saat orang membicarakan novel Kiat Sukses Hancur Lebur. Bahkan, ada satu postingan blog yang mengulas novel tersebut dengan gaya yang seolah-olah meniru bahasa novel tersebut.

Setelah membaca bangunan struktur novel Kiat Sukses Hancur Lebur di paragraf di atas, mari kita jawab keprihatinan kedua teman yang tidak menyelesaikan pembacaan atas novel ini, khususnya komentar bernada protes tentang Kiat Sukses Hancur Lebur yang tidak seperti novel pada umumnya. Bisakah buku yang isinya seperti buku teks, “tidak ada ceritanya,” seperti ini disebut novel? Kenapa begitu? Silakan baca paragraf selanjutnya.

Di antara banyak definisi tentang novel, saya secara khusus ingin menghadirkan gagasan mengenai novel menurut teoretikus M.M. Bakhtin, yang intinya menyatakan bahwa genre yang disebut “novel” ini belum berbatas. Dalam bangunan teorinya, M.M. Bakhtin membandingkan genre “novel” dengan genre “epik.” Kalau epik sudah tawat riwayatnya dan kita bisa membuatkan definisi atasnya, novel adalah genre yang masih hidup dan masih terus bisa berkembang. Sehingga, tidak ada batasan-batasan yang bisa secara valid dipakai untuk mendefinisikannya secara ketat. Implikasinya adalah kita bisa bilang bahwa bentuk novel bisa bermacam-macam. Kalaupun ada yang selama ini membedakan genre novel dari genre epik, hal itu terletak pada kontradiksi atau multi-suara yang terkandung di dalamnya. Konsep-konsep kunci yang sering dipakai Bakhtin untuk berbicara tentang novel adalah “dialogic,” “carnivalesque,” “multivocality,” atau kata-kata sejenis yang mengisyaratkan adanya berbagai suara atau kepentingan di dalam novel. Kecenderungan genre novel ini berbeda dengan genre epik, yang biasanya dicirikan dengan kesatuan suara, yaitu pengagungan tokoh atau bangsa si tokoh. Hal ini sesuai dengan peran epik sebagai konsolidator sebuah kaum.

Setelah menyinggung definisi ala Bakhtin ini, mungkin kita bisa menentukan di mana letak Kiat Sukses Hancur Lebur dalam kaitannya dengan genre novel. Novel ini berbentuk tidak wajar, tapi dia bukan yang pertama begitu. Banyak novel yang dihantarkan oleh epilog fiktif. Secara asal comot saja, kita gampang menunjuk novel-novel serupa: The Adventures of Don Quixote karya Miguel de Cervantes (yang seringkali disebut sebagai “bapak novel” dalam khazanah sastra Eropa), novel The Island of Dr. Moreau karya H.G. Wells (yang sering disebut-sebut sebagai salah satu tokoh awal fiksi ilmiah), dan seterusnya. Kalaupun memang belum pernah ada novel yang mirip Kiat Sukses Hancur Lebur, kita tetap tidak bisa bilang bahwa dia bukan novel. Toh, seperti disebut di muka, belum ada batasan formal untuk genre ini. Begitu juga dalam kaitannya dengan fitur fundamental novel, Kiat Sukses Hancur Lebur juga memiliki (atau bisa saya bilang “kaya,” meskipun ini artinya saya berhutang menunjukkannya kepada Anda) suara ganda atau multivocality. Hubungan antar pembuka fiktif oleh Andi Lukito dan teks novel dari Anto Labil, S. Fil. itu saja sudah mengandung multivocality yang tidak dikonsolidasikan sampai akhir novel. Di satu sisi Andi Lukito mencurigai kualitas novel ini dan meragukan pribadi Anto Labil, sementara si Anto Labil sendiri memandang serius perannya sebagai penulis dan menulis sebuah novel yang setidaknya secara bahasa cukup konsisten (dan itu menunjukkan keseriusan kerja si penulis). Belum lagi kontradiksi-kontradiksi di dalamnya. Maka, kalau kita memegang erat definisi ala Bakhtin di atas, Kiat Sukses Hancur Lebur sangat memenuhi syarat kelengkapan untuk disebut novel.

Kalau diperkenankan meniru gaya Anto Labil, saya akan bilang: Kiat Sukses Hancur Lebur memenuhi syarat syah blanko pengurusan kelengkapan novel yang siap dititipkan disertai amplop tanpa materei tempel ke Pak Carik.”
Dan dengan itu saya tutup dulu obrolan pertama soal Kiat Sukses Hancur Lebur. Selanjutnya, bilamana dianggap masih perlu dan memungkinkan, saya akan meningkatkan lagi kedalaman eksplorasi kita ke novel ganjil tersebut. Baru setelah eksplorasi kita selesai, kita bisa melakukan tender dan selanjutnya melanjutkan dengan tahap eksploitasi.

Slalom! (Yang ini juga meniru Anto Labil.)
<!– QTM hash: 8e2cd4e4da019691b4e6c595b96ad51ebec7fbc8 –>

Kembang-Kempis

belakang.
ayo!
“pasti berangkat.”
karcis baru.
permisi.
Bungurasih?
ayo!
medaeng.
selamat siang setengah sore.
bunga-bunga sosial.
ikhlas dari Anda halal bagi kami.
barang keras, pelan-pelan.
terakhir.

(November 2016)

Metafora Padma (Bernard Batubara), Bermain Close Up dengan Yang Besar-besar

Buku Metafora Padma karya Bernard Batubara adalah buku kumpulan cerpen penulis Indonesia ketiga yang saya baca dalam dua bulan terakhir, sebelumnya buku Surat dari Praha karya Yusri Fajar, dan sebelumnya lagi Rumah Kopi Singa Tertawa karya Yusi Avianto Pareanom. Setelah menyelesaikan Metafora Padma, saya merasa bersyukur karena ketiga cerpen ini memiliki gaya bercerita dan tema yang berbeda-beda. Meski begitu, saya mendapati adanya benang merah (yang cukup tipis) antara Metafora Padma dengan Surat dari Praha. Keduanya memiliki kecenderungan menempel dengan hal-hal besar dalam sejarah.

Metafora Padma menampilkan 14 cerita pendek seukuran koran yang beberapa di antara telah diterbitkan di koran tempo dan satu di antaranya adalah penggalan novel. Banyak dari cerpen ini yang bersentuhan dengan insiden-insiden kekerasan yang terjadi di Indonesia, mulai yang berupa tawuran antara pelajar, pertikaian antar suku, maupun ketegangan antar pemeluk agama berbeda. Tapi ada juga cerpen-cerpen yang berpusar pada kekerasan antar individual karena penyebab yang bisa dibilang personal, seperti misalnya kecemburuan. Ada juga satu cerpen yang tema kekerasannya berpusar pada sikap ekstrim yang sangat berpotensi muncul dari budaya yang patriarkal.

Persentuhannya dengan kejadian-kejadian besar ini menjadikan cerpen-cerpen Bernard Batubara ini cocok tampil di surat kabar. Cerpen-cerpen ini tidak perlu menunjuk nama tokoh-tokoh politik, calon presiden, lokasi pasti, dan sebagainya, seolah-olah dia membawa asumsi bahwa pembaca sudah bisa dengan mudah menghubungkannya dengan kenyataan, atau setidaknya kenyataan yang diberitakan di koran. Cerpen-cerpen ini menjadi versi lain dari berita-berita yang muncul dan hilang di halaman-halaman koran kita.

Yang membedakan antara cerpen-cerpen ini dengan berita–selain hal-hal yang sifatnya elementer–adalah mungkin sudut pandang yang diambil cerpen-cerpen tersebut, atau narator yang ada di dalamnya. Sebagai misal, dalam cerpen “Hanya Pantai yang Mengerti,” yang menceritakan tentang seorang lelaki yang dibunuh oleh suami dari perempuan yang menjalin hubungan dengannya, kita melihat hubungan asmara antara seorang wanita yang merasa tidak dicintai lelakinya dan betapa dia kemudian sedih ketika kekasih yang justri dicintainya ternyata dibunuh oleh orang suruhan suaminya. Saya bisa membayangkan bahwa surat kabar mungkin akan memberitakan tentang bagaimana seorang suami yang ingin menjaga kehormatannya akhirnya menyuruh orang membunuh selingkuhan istrinya.

Satu kecenderungan yang tampak dari beberapa cerpen Bernard Batubara dalam menceritakan kekerasan sosial adalah keberjarakan antara tokoh-tokoh yang disoroti dengan asal muasal kejadian kekerasan itu. Kita ambil saja contoh cerpen pertama, “Perkenalan,” tokoh yang menceritakan kejadian kekerasan itu sendiri seperti tidak bisa memahami kenapa terjadi perang suku. Begitu juga di cerpen “Demarkasi,” anak-anak kecil tidak tahu pasti apa yang terjadi, yang mereka tahu adalah ada mayat-mayat bergelimpangan. Dengan agak berbeda tapi tetap senada, ada juga cerpen “Sepenggal Dongeng Bulan Merah” (yang merupakan penggalan novel), yang berisi roh para korban kekerasan suku yang berbahagia dan damai di alam lain setelah kehidupan–betapa berjaraknya dengan kenyataan bunuh-bunuhan yang terjadi!

Mungkin, sekadar mungkin, hal ini berhubungan dengan asumsi bahwa kejahatan antar suku itu sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari peran “dalang.” Di cerpen “Sepenggal Dongeng Bulan Merah,” narator menceritakan kepada kita tentang adanya “Sang Penghasut,” yaitu kelompok yang menyulut, membakar, dan mengobarkan kebencian antar suku. Apakah karena peran dalang ini maka tokoh-tokoh dalam kumpulan cerpen ini memiliki kecenderungan kenapa kekerasan itu terjadi kepada mereka.

Tapi, kalaupun benar bahwa asumsi di atas itu mendasari cerpen-cerpen Bernard Batubara di kumpulan cerpen Metafora Padma ini, ada satu cerpen di mana asumsi tersebut kemudian diikuti oleh tindakan fatal di pihak penulis. Dalam cerpen “Es Krim,” kita dipertemukan dengan tokoh perempuan yang menjadi petinggi perusahaan es krim yang mencintai es krim setelah menjadi korban perkosaan masal. Di sini, agak mirip dengan tokoh-tokoh dalam cerpen “Sepenggal Dongeng Bulan Merah” di mana korban kekerasan antar suku akhirnya damai di alam lain, si korban perkosaan seolah bisa berdamai dengan traumanya karena es krim. Apakah setipis itu rasa sakit seorang korban perkosaan, sehingga bisa mudah sembuh setelah diberi jilatan es krim dari seorang ko-konspirator perkosaan yang dipaksa menjadi juru rekam kejahatan itu? Mengingat masih banyaknya usaha-usaha menormalisasi perkosaan (dengan cara menganggap korban sebagai penyebab seperti beberapa negara Asia, dengan cara meringankan hukuman pelaku karena menganggap masa depan pelaku perlu dipertimbangkan seperti di Amerika Serikat, dll.), menurut saya akan sangat fatal kalau sastra memiliki kecenderungan bawah sadar seperti ini.

(Btw, di bagian ini mestinya ada bahasan tentang agama dan ilustrasi buku ini, tapi karena saya harus masuk ruang operasi, saya tunda dulu bagian tersebut.)

Maka, untuk penutup postingan ini, saya bisa bilang bahwa cerpen-cerpen Bernard Batubara adalah cerpen-cerpen yang menggelitik karena bermain close up dengan kekerasan, sejarah, dan politik, tapi terlalu singkat untuk memberikan gambaran yang cukup. Tapi, mungkinkah sejauh itu saja tugas yang harus diemban oleh cerpen yang dimuat di surat kabar?