Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan: Katalog Penting Anti-Mati Gaya dalam Menulis Esai

Menurut Carl Sagan dalam Cosmos, bila dibandingkan dengan usia alam semesta yang ditaksir miliaran tahun, sejarah umat manusia ini tidak ada artinya. Saya pun menerima gagasan itu dan menjadikannya etos bagi saya. Maka, buku yang terbit pada tahun 2016, yang kini mungkin tidak lagi laku di pasar resensi media, adalah buku gres bagi saya, masih hangat dan meruapkan kesegaran. Apalagi kalau bukunya sepenting buku Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan ini. Muhidin memang sosok yang memiliki ketekunan mengarsip yang mendebarkan, tapi yakinlah postingan ini tidak hanya puja-puji belaka, saya punya stok kritik yang menurut saya perlu disampaikan di postingan ini juga.

Baiknya kita mulai dulu esai ulasan ini dengan menengok siapa itu Muhidin. Seperti saya singgung di atas, Muhidin adalah seorang pengkliping yang rajin, yang mengkliping berita-berita penting dari jaman dulu sekali hingga dewasa ini (atau “jaman now” istilah kacau sekarang). Kalau ada kejadian-kejadian penting dan media mengulasnya, hampir bisa dipastikan Muhidin mengklipingnya. Sekilas saja dari ingatan saya: bapak Budiono diangkat jadi wapres, Muhidin punya beritanya; bapak Budiono kembali ke kampus UGM dengan penampilan seperti telah bekerja keras selama lima tahun menjawab, Muhidin mengkliping beritanya. Itu baru soal Bapak Mantan Wapres Budiono. Belum lagi soal lain.

Nah, buku Inilah Esai ini, saya yakin, juga hasil dari pekerjaan mengarsipkan yang tekun, terutama mengarsipkan esai-esai yang menurutnya bagus. Dari daftar seratusan esai yang menurutnya bagus itu (yang saat jadi buku bisa sepanjang 11 halaman itu), jadilah buku ini sebagai hasil pilah-pilih bagian-bagian terbaiknya. Ibaratnya: buku Muhidin yang satu ini adalah hasil kerja jangka panjang sejak masa dia mulai mengkliping hingga masa buku ini rampung dituliskan.

Menarik, nggak, kira-kira? Silakan dijawab dalam hati.

Beberapa hari yang lalu, di mata kuliah Study Skills (yang bertujuan mengajarkan baca-tulis buat mahasiswa di kampus saya), saya bertanya bagaimana sikap para mahasiswa saya terkait menulis. Kebanyakan santai, tapi ada satu yang bilang takut (yang tentunya disambut candaan temannya: “Jadi, begitu kamu mengetik, kamu langsung melompat girap-girap begitu?”). Saya yakin ketakutan seperti itu nyata, karena tidak sedikit penulis pemula yang seringkali tidak tahu apa yang harus dituliskan.

Di sinilah pentingnya buku tulisan Muhidin ini. Buku ini tidak hanya memberikan uraian dan gambaran umum atas genre esai (seperti dalam bab-bab awal yang membahas soal mukadimah, penyusunan gagasan, dan pendekatan atas topik), tapi dia juga memberikan panduan-panduan praktis mengenai mengisi setiap bagian penting esai (mulai judul, pembuka, isi, dan penutup). Dia kelompok yang kedua inilah, menurut saya, nilai terbesar dari buku ini. Dengan sifat royalnya dalam memberikan berbagai contoh judul, pembuka, penyusunan isi, dan penutup, seseorang yang ingin serius menulis esai bisa mengantisipasi risiko mati gaya dalam menanam esai. Gampangannya, asal si penulis mau bertanggung jawab mencari sumber untuk esainya, dia tidak perlu terlalu takut dalam mengolah sumber-sumber itu menjadi esai dengan bantuan buku ini.

Muhidin mengantarkan definisi esai dengan cara yang santai dan syarat rujukan, meskipun tanpa menyempatkan diri menawarkan definisi yang secara tegas dan definitif, yang mungkin diharapkan pembaca yang ingin ketegasan. Dari Michel de Montaigne, yang tersohor sebagai bapak esai, Muhidin menyitir arti esai sebagai “coba-coba” dan bahwa kumpulan esai Montaigne adalah tulisan pusparagam. Pandangan dari para esais lain, mulai dari Gus Dur, Cak Nun, hingga Zen RS, juga disinggung, yang bisa dibilang nyaris mufakat mengatakan bahwa esai adalah tulisan yang santai, yang memiliki elemen puisi/prosa sekaligus ilmiah.

Nah, mulai bagian bentuk esai, kita bisa mendapat buah pengarsipan dan kategorisasi Muhidin. Untuk bentuk esai, kita bisa melihat beberapa kategori bentuk esai yang ditemukan Muhidin dari keseratus lebih esai yang dia gunakan untuk menyusun buku ini: surat, puisi naratif, percakapan, kritik yang melengkung, obituary, pengantar buku, dan sebagainya. Di bab yang mengusung judul, ada sejumlah kategori: mengajak berkelahi, perbandingan,bertanya, kutipan, dan seterusnya. Begitu juga dengan bab-bab lain. Tidak ada kesan bahwa hanya itulah kategori esai yang ada; kalau kita mau mencari lebih lanjut, mungkin dengan memperluas cakupan bahasa esai-esai ini, mungkin (nyaris) tidak akan ada Batasan cara membuat judul. Toh, esai itu sendiri kan bisa dimaknai “coba-coba,” jadi ya selama otak manusia masih belum purna tugas, tetap akan ada cara baru membuat judul esai.

Untuk mendukung kategori-kategori itu, Muhidin memberikan contoh-contoh yang siap santap. Untuk membahas kategori membuka esai kutipan, misalnya, kita mendapat nukilan pembukaan dari sebelesa esai, termasuk di antaranya esai Ignas Kleden, Karina Leksono-Supelli, dan Mas Marco. Saya sebut siap santap Karena yang dinukilkan hanya bagian pembukaan saja. Banyak buku panduan menulis yang suka memberikan penjelasan tegas dan definitif, tapi pada gilirannya memberikan contoh, kita harus lompat ke bagian “apendiks” untuk membaca keseluruhan buku.

Tidak ada satu pun di dunia ini yang sempurna, semua tahu. Pada Inilah Esai, satu titik yang menjadikannya tidak sempurna itu adalah pada bab pembahasan isi esai. Muhidin memfokuskan pada pengembangan esai melaui kutipan dan, mengikuti salah satu pesohor dunia esai Indonesia, isi sebuah esai pada intinya adalah deskripsi, atau menjabarkan tentang sumber. Pendekatan atas isi ini menjadikan pembahasannya sangat terbatas, berbeda dengan pembahasannya atas judul, pembuka, dan penutup esai yang menghadirkan berbagai contoh. Bukannya membahas berbagai cara yang ditempuh para “pesohor” itu dalam mengembangkan gagasan pengisi esai, Muhidin memfokuskan pada bagaimana mereka mengolah kutipan, yang bisa dibilang hanya satu dari cara mengisi esai.

Dalam buku Process, Form, and Substance: A Rhetoric for Advanced Writers, Richard M. Coe meminjam dan menerapkan konsep heuristik dalam kepenulisan. Istilah heuristik ini lazim dipakai dalam bidang matematika dan ilmu komputer untuk mengacu pada urutan langkah dalam penyelesaian masalah atau persoalan. Menurut Coe, setiap penulis menggunakan langkah-langkah tertentu dalam menyelesaikan tugas menulisnya. Ada yang menggunakan pertanyaan (termasuk di sini pendekatan 5W+1H dalam penulisan jurnalistik itu), topoi gaya Aristoteles (yang menggunakan puluhan prinsip logika untuk menjari jawab atas soal-soal tertentu), pendekatan Kenneth Burke (yang dipakai untuk mengetahui motif sesuai dengan menyoroti pelaku, aksi, latar, peran, dan tujuan), dan sebagainya.

Alangkah tambah mantapnya bila Muhidin juga menyingkap strategi pengembangan isi para pesohor tersebut selain menggunakan kutipan. Mungkin, sudah cukup melengkapi kebutuhan kita para pembaca bila yang mulia Muhidin kelak melakukan analisis retorika atas esai-esai favoritnya (segelintir saja!), biar kita bisa tahu bagaimana Ignas Kleden mengembangkan esainya yang membuka buku Enam Pertanyaan untuK Sastra Indonesia itu, atau bagaimana Bung Hatta mengembangkan esai “Indonesia Menggugat” itu. Saya sangat yakin, Muhidin adalah orang yang tepat untuk mengurai esai-esai kegemarannya tersebut. Sejauh ini, kita tahu bagaimana dia mengurai cara Bung Karno menyusun esai “Indonesia Merdeka” dengan menggunakan berbagai sumber yang mewakili berbagai ideologi itu. Tolong jangan anggap saya mengabaikan prestasi Muhidin tersebut.

Akhirul esai, saya teringat sebuah acara pelatihan penulisan esai yang saya ikuti (secara tidak resmi) pada awal September ini. Ketika itu, Prof. Djoko Saryono, guru besar di Universitas Negeri Malang sekaligus penulis yang ultra-produktif, menjadi pemateri pelatihan esai yang pesertanya adalah guru-guru muda yang baru menghabiskan waktu setahun mengajar di sekolah-sekolah di berbagai kawasan yang relatif terpencil. Para guru muda ini berencana menuliskan hasil imersi mereka selama setahun itu dalam berbagai bentuk. Sambil makan pisang dan wedang jeruk, saya menyaksikan bagaimana materi dari Prof. Djoko dan mentoring dari Denny Mizhar sepanjang hari itu tampak membuat mereka bergairah untuk mulai menulis—meski banyak di antaranya yang sama sekali tidak pernah menulis. Sekarang, saya bayangkan, buat kawan-kawan yang sudah memiliki semangat menulis (atau “spirit api,” dalam terminology Naruto Shippuden), saya yakin buku Inilah Esai ini akan menjadi semacam katalog yang bermanfaat, yang dari daftar isinya saja para calon penulis esai bisa menaksir dan memilih cara mereka menyusun balok-balok gagasan menjadi esai, secara tangkas, seperti para pesohor itu.

 

Advertisements

(Resensi) Literasi yang Membumi, Gagasan yang Menyadarkan

(Tulisan ini adalah versi lebih sopan dan ramah koran dari postingan saya atas buku Suara dari Marjin yang saya posting di blog ini pada malam Lebaran kemarinVersi ini dimuat di koran Jawa Pos Radar Malang untuk pembaca lokal Malang pada tanggal 20 Agustus 2017 dan di Basabasi.co pada tanggal 4 September 2017 kemarin untuk pembaca di seluruh dunia raya ini. Selamat menikmati dan selamat berliterasi.)

Judul: Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial
Penulis: Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya
Cetakan: I/Mei 2017
Tebal: 234 hal

Suara Dari Marjin

Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah hadir di tengah gegap gempita gerakan literasi nasional yang merupakan respons pemerintah terhadap rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia di tataran internasional. Menurut pemeringkatan literasi internasional, posisi Indonesia selalu termasuk paling buncit, sebagaimana dibahas di buku ini. Uniknya, penulis buku ini, yang juga terlibat dalam program literasi nasional itu, memiliki pandangan yang dibilang sangat mewadahi gerakan literasi yang tidak seperti  digalakkan oleh pemerintah. Karena itulah, buku ini menyegarkan dan menyadarkan.

Suara dari Marjin adalah peleburan hasil dari dua penelitian yang pernah dijalankan oleh kedua penulisnya secara terpisah. Sofie Dewayani melakukan penelitian atas praktik literasi di kalangan anak-anak yang bekerja di jalan untuk keperluan disertasi S3-nya di University of Illinois at Urbana-Champaign. Sementara itu, Pratiwi Retnaningdyah meneliti praktik literasi di kalangan Buruh Migran Indonesia (BMI), khususnya yang bekerja (atau pernah bekerja) di Hong Kong.

Buku ini menegaskan argumen yang banyak disuarakan para teoretikus Kajian Literasi Baru atau New Literacy Studies (NLS). Menurut NLS, literasi bukan hanya seperti lazimnya yang kita pahami di sekolah–yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis sesuai metode dan praktik formal. Literasi juga bisa terjadi melalui praktik informal, yang berlandaskan praktik keseharian dan memiliki tujuan akhir yang lebih relevan dengan keseharian pelakunya.

Dalam khazanah NLS, literasi dibedakan menjadi otonom dan ideologis. Literasi otonom adalah gerakan literasi yang tujuannya murni untuk meningkatkan kemampuan baca-tulis kritis tanpa mempertimbangkan faktor lain. Literasi ideologis, di lain pihak, adalah peningkatan kemampuan intelektual yang tak terpisahkan dengan keseharian si pelaku, sehingga tujuan akhirnya adalah peningkatan hajat hidup si pelaku. Literasi ideologis lazimnya menyadari elemen yang ada di lingkungan pelaku dan memanfaatkannya untuk pendidikan literasi. Dan literasi ideologis inilah yang disuarakan dalam buku Sofie dan Pratiwi ini.

Dari upaya literasi di kalangan “anak jalanan” (yang hendaknya selalu disertai tanda kutip karena ternyata sebutan ini dianggap tidak akurat mewakili dan terkesan merendahkan mereka yang dirujuk), Sofie mendapati penerapan konsep-konsep yang disuarakan NLS. Contohnya adalah Bu Sri,  pendiri dan pengelola PAUD Bestari yang bercita-cita membimbing balita di Pasundan, Bandung, agar bisa masuk ke Sekolah Dasar, sehingga terhindar dari menghabiskan waktu di jalan pada usia sekolah. Dalam praktik mengajarnya Bu Sri banyak menggunakan apa-apa yang telah dipahami anak-anak (yang secara teoritis disebut “teks kultural”) dan mengoptimalkannya guna mengajari anak-anak ketrampilan dasar baca tulis yang memampukan mereka masuk ke Sekolah Dasar.

Dari kalangan BMI, Pratiwi menyoroti proses pembelajaran yang memaksimalkan pengalaman keseharian mereka untuk meningkatkan potensi pribadi mereka. Di antara contoh-contoh kasus yang dibahas Pratiwi, kita bisa melihat kisah Rie rie, seorang BMI asal Jawa Timur yang belajar blogging sendiri hingga akhirnya terbiasa menulis dan banyak membuahkan tulisan yang membangun kepercayaan diri sesama BMI dan bahkan berambisi mengubah citra “babu” yang cenderung dipandang rendah karena pekerjaan mereka sebagai pembantu rumah tangga. Rie rie kemudian menularkan ketrampilannya kepada para BMI yang lain melalui pelatihan-pelatihan blogging dan kepenulisan.

Dari dia pengamatan etnografis atas praktik literasi di lingkup marjinal yang berlainan ini, kita mendapati sejumlah kesimpulan penting yang perlu dipertimbangkan di tengah demam literasi dewasa ini. Satu hal yang paling penting adalah bahwa gerakan literasi hendaknya tidak dipahami hanya sebagai suatu gerakan yang menumbuhkan minat baca, tulis, dan berpikir kritis yang dilakukan secara formal dan tidak relevan dengan keseharian pelaku (otonom). Namun, upaya literasi bisa berlangsung di mana saja, dengan cara berlainan, tetapi bertujuan riil meningkatkan harkat hidup pesertanya (ideologis).

Simpulan lainnya adalah bahwa dengan melihat keberhasilan upaya literasi ideologis yang digagas secara mandiri dalam kelompok-kelompok marjinal, upaya literasi di lingkup formal (sekolah-sekolah) hendaknya mempertimbangkan elemen-elemen yang berhasil tersebut, misalnya dengan menyertakan elemen kultural dari kehidupan sehari-hari pelakunya dan dengan cara yang lebih ramah terhadap keberagaman minat peserta didik. Dan tentunya, berbagai upaya literasi informal itu juga sudah sejak awalnya mengintegrasikan elemen-elemen upaya literasi otonom di dalamnya. Maka, di tengah gegap gempita literasi yang banyak berorientasi pada literasi otonom ini, tulisan Sofie dan Pratiwi yang juga terlibat dalam proyek pengembangan literasi nasional ini menyegarkan dan menyadarkan, membuat kita lebih awas dengan potensi literasi di sekeliling kita, literasi yang membumi.

Seksualitas dan Aib

(Lagi-lagi satu resensi lama, dari tahun 2005 atau 2006-an lah. Ini saya kopi langsung dari situs Penerbit Jalasutra yang telah memuatnya sejak entah kapan. Tapi, demi mendokumentasikan tulisan-tulisan sendiri, sebelum hilang dimakan rayap virtual, saya posting saja lagi di sini. Demi apa? Demikian harap maklum.)

REsensi_AIb

Judul buku: Aib
Penulis : J.M. Coetzee
Penerbit : Penerbit Jalasutra

Posisi seksualitas dalam sastra menjadi topik penting pembicaraan para penikmat dan kritikus sastra Indonesia beberapa waktu yang lalu. Sebagian mengiyakan, sebagian menggugat, dan sebagian lainnya memilih sikap tak menggungat namun mencari alternatif bacaan lain. Wacana ini muncul setelah kehadiran beberapa pendatang muda yang tangguh dengan energi meluap sambil membawa karya-karya bermuatan seksualitas.

Perdebatan ini tak kunjung tersimpulkan. Masing-masing pihak melontarkan argumen yang tak kunjung saling meyakinkan. Tanpa sedikitpun maksud memperpanjang perdebatan itu, saya yakin, Penerbit Jalasutra Jogjakarta menerbitkan novel Aib karya JM Coetzee, peraih Nobel kesusastraan tahun 2003 asal Afrika Selatan.

Apa pasal saya mengisyaratkan adanya hubungan antara perdebatan posisi seksualitas dengan penerbitan Aib?

Berlatar Afrika Selatan akhir milenium kedua, novel yang berjudul asli Disgrace ini berkisah tentang Prof Lurie, dosen sastra, yang sejak awal hingga akhir buku tak kunjung selesai dirundung sial. Di awal cerita, dibeberkan bahwa sebagai seorang womanizer yang selalu haus akan kepuasan seksual, Prof Lurie sedemikian rupa berusaha memuaskan hasratnya dengan “berlangganan” seorang pelacur, Soraya.

Malangnya, Soraya menjauh begitu ada gelagat Prof Lurie ingin hubungan yang lebih mendalam. Kemudian, Prof Lurie menjalin hubungan dengan seorang mahasiswanya, Melanie, yang menyebabkannya mendapatkan kesialannya yang kedua: dituduh melakukan pelecehan dan pemerkosaan terhadap Melanie. Mengakui bersalah namun menolak menyesalinya, Prof Lurie kehilangan jabatannya sebagai dosen. Aib ini membuatnya menyingkir sejenak dengan mengunjungi putrinya, Lucy, di sebuah perkebunan.

Di sini, masalah lain menyongsongnya: rumah Lucy diserang tiga penjahat, Lucy diperkosa sementara Prof Lurie tidak bisa melakukan apa-apa, dan mobilnya dicuri. Keinginannya untuk melaporkan pemerkosaan itu kepada polisi ditentang keras putrinya yang ingin memendam sendiri luka itu; hubungan keduanya menjadi renggang.

Lebih-lebih lagi, putrinya menolak untuk pindah dari perkebunannya ketika diketahui bahwa pemerkosaan itu mengakibatkan kehamilan dan memutuskan menerima lamaran tetangganya yang jelas-jelas dia ketahui ingin menguasai tanah perkebunan putrinya. Masih kurang lagi, ketika dia kembali ke Cape Town ternyata rumahnya dijarah dan banyak barang pentingnya raib. Akhirnya, dia memilih tinggal di sebuah daerah tak jauh dari Lucy dan menjalin hubungan dengan seorang teman Lucy, yang sebenarnya sudah bersuami.

Dari ringkasan di atas, terasa sekali bahwa seksualitas adalah poin dominan dalam novel ini. Jelas sekali, tokoh utama adalah seorang bandot womanizer yang kehidupannya tak pernah jauh dari seks. Aib diawali dengan kepuasan seks yang didapatkannya dari Soraya. Kemudian, saking longgarnya ukuran moralitas baginya, dia berani mendekati mahasiswanya, Melanie, dan menggiringnya ke hubungan seksual bahkan ketika pertama kali mengundang gadis itu ke rumahnya—dan akhirnya gagal terlaksana. Melanie, secara tak langsung membawanya kepada aib.

Aib ini menggiringnya bertemu kesialan lain yang juga masih urusan seksual, pemerkosaan putrinya—meskipun ada tendensi rasialis di sini. Keberadaannya di dekat putrinya ini juga menggiringnya pada hubungan (seksual) dengan teman Lucy, Bev Shaw. Di sini, tampak betapa seksualitas adalah faktor yang sentral. Selain itu, jika Aib juga mengisahkan tentang Prof Lurie yang menggarap sebuah opera tentang penyair Inggris Lord Byron, sepertinya itu juga bukan tempelan. Kita tahu Lord Byron adalah penyair, juga womanizer, yang di London mendapat Aib karena skandal sodomi dan inses.

Meski demikian, jangan dulu tumbuhkan pandangan bahwa Anda akan menemukan adegan-adegan seksual yang digambarkan dengan sensual, merangsang.

Dalam novel yang membuat JM Coetzee menjadi penulis pertama yang memenangkan Booker Prize Award dua kali ini, adegan-adegan seksualitas dibeberkan secara minimal. Hubungan dengan Soraya digambarkan tak lebih dari sekedar “dia mengelus tubuh berona cokelat madu yang tak ternodai matahari itu; meregangkannya, menciumi buah dadanya; mereka bercinta”.

Bukankah, dibandingkan dengan sebagian besar karya sastra bertema seks lainnya, banyak sekali yang dilewatkan dalam menceritakan hubungan seks? Begitu juga ketika Prof. Lurie bersetubuh dengan Bev Shaw yang tak cantik, disebutkan “memerosotkan celana dalam, dia masuk ke sisi Bev, menelurusi tubuh Bev. Tak ada yang bisa dikatakan tentang payudara Bev. Tegap, nyaris tak berpinggul, seperti bak mandi pendek kecil”.

Mungkin, akan ada yang beranggapan, dengan seksualitas sebagai tema sentral, penggambaran hubungan seks di dalam Aib terasa terlalu minimal. Tapi, jika ditilik kembali sebesar apakah kuantitas seks dalam kehidupan, kita akan ingat betapa seks mendapatkan jatah tak banyak dalam sehari —kecuali bagi mereka yang, maaf, menjadikannya sebagai profesi. Dalam Aib, seks memicu terjadinya sebuah tragedi.

Selanjutnya, tragedi itulah yang lebih banyak dihadapi tokoh-tokoh cerita, bukannya seks itu sendiri. Itulah yang membuat kita sah berkata bahwa J.M. Coetzee telah menakar seksualitas secara proporsional dan dengan cara yang sama dia menyajikannya kepada kita para pembaca.

Aib menunjukkan kepada kita sebuah karya sastra yang menggarap fenomena-fenomena seksualitas —bukannya menggarap hubungan seksual!— dengan cerdas. Di Indonesia sendiri, satu atau dua tahun yang lalu, seorang sastrawan menyatakan bahwa dia menggarap tema seputar fenomena seksualitas, bukannya hubungan seksual.

Namun, terbukti banyak pihak menilai karyanya sebagai karya yang merangsang dan bahkan sempat memunculkan fenomena label “bacaan khusus dewasa”. Dengan hadirnya Aib, kita mendapatkan alternatif bacaan yang tak takut mengurai tema seksualitas namun juga tetap mampu menjaga dirinya bersih dari usaha membuat pembacanya larut dalam fantasi seksual yang berlebihan.

Selain seksualitas, novel ini juga mengetengahkan tema rasialisme. Dengan setting Afrika Selatan pasca-apartheid, JM Coetzee dalam novel ini melukiskan sedikit konflik yang muncul sebagai dampak dari luka politik apartheid yang masih terasa. Namun, berbeda dengan karya-karya sang pejuang anti-apartheid, Nadine Gordimer, penulis Afrika Selatan yang mendapatkan anugerah Nobel Sastra, JM Coetzee tidak menjadikan apartheid tema sentral. Dalam karya-karyanya, JM Coetzee lebih menyoroti konflik karakternya, dan menggunakan isu sosial hanya sebatas isu itu benar-benar mendukung perkembangan karakter tokoh-tokohnya.

Kebetulan, dalam Aib dia memiliki tokoh seseorang yang kehidupannya tak pernah jauh dari kepuasan seksual. Kehadiran Aib seakan-akan bertepatan dengan maraknya isu seksualitas di kancah sastra Indonesia. Jika memang kita tak pernah malu untuk belajar, kita bisa bilang bahwa Aib adalah satu diantara karya sastra asing yang bisa mengajarkan kepada kita bagaimana menakar seksualitas dengan proporsional

Sejarah Aib: Berziarah ke Awal Karir Borges

 

Sejarah Aib

Judul : Sejarah Aib (The Universal History of Infamy)
Penulis : Jorge Luis Borges
Penerjemah : Arif B. Prasetyo
Penyunting : Japhens Wisnudjati
Penerbit : Pustaka Sastra LkiS Yogyakarta
Cetakan : I, 2006
Tebal : xvii + 150 hal.
ISBN : 979-8451-54-6

Borges menyebut Sejarah Aib (versi Indonesia dari The Universal History of Infamy) sebagai “permainan seorang pemuda yang tak berani mengarang cerita sehingga asyik-asyik sendiri dengan memalsukan dan menyelewengkan kisah-kisah karya orang lain.” Memang, ketika menulis buku ini, Borges belumlah seterkenal sekarang. Kala itu dia “baru” menulis puisi-puisi epik tentang sejarah Argentina.

Sejarah Aib adalah debut pertamanya di dunia fiksi. Yang dimaksud fiksi di sini adalah fiksi Borgesian, yaitu fiksi anti-plot, bersikap sok ilmiah, kental dengan mitologi dari seluruh penjuru dunia, dan banyak menggunakan anasir filsafat untuk memperkuat argumentasinya. Benar-benar jauh dari fiksi yang kita baca sehari-hari di cerbung dan cerpen koran.

Buku ini terdiri dari enambelas tulisan. Tujuh cerita pertama adalah semacam obituari tentang orang-orang yang sebelumnya pernah dibahas di buku-buku lain karangan penulis-penulis lain. Ada tulisan yang berkisah tentang Lazarus Morell sang penjual budak, Tom Castro sang penyaru, Monk Eastman sang gangster di New York, Billy the Kid sang penjahat remaja, dan lain-lain. Jika sempat membuka-buka ensiklopedia, kita akan tahu bahwa tokoh-tokoh tersebut memang pernah ada dalam sejarah.

Dalam Sejarah Aib, Borges menuliskan kembali tentang mereka dengan bersumberkan buku-buku tertentu. Khusus untuk kisah Lazarus Morell, dia menggunakan jasa Mark Twain, penulis yang dikenal banyak bercerita tentang kehidupan di pinggiran sungai Mississippi baik dalam bentuk fiksi (The Adventure of Tom Sawyer dan The Adventure of Huckleberry Finn) dan non fiksi (Life on the Mississippi). Dari buku Mark Twain yang disebutkan terakhir inilah Borges menulis kisah Lazarus Morell, si penjual budak yang bengis.

Dari buku Walter Noble Burns dan Frederick Watson dia menulis kisah si penjahat kecil bernama Billy the Kid. Di Indonesia, kita mengenal Billy the Kid lewat dua film Young Guns, yang musik latarnya digarap Jon Bon Jovi, dan serial Young Rider yang pernah ditayangkan di salah satu televisi swasta kita. Borges menceritakan kembali tokoh ini dengan bahasa dan imaji yang hidup dan membuat kita kenal semakin dekat dengan si penjahat remaja.

Salah satu keunikan cerita-cerita di buku ini adalah ia bercerita tentang seorang tokoh dengan gaya ilmiah sekaligus hidup. Hal ini tak lebih karena kemampuan Borges dalam meleburkan antara fakta, yang dia dapatkan dari buku, fiksi, yang dia olah dari hasil pembacaannya, dan sikap ilmiah yang mungkin dia maksudkan untuk membuat pembaca percaya keabsahan tulisannya itu. Bahkan, pembaca dia buat percaya pada bagian-bagian fiksi yang dia karang-karang sendiri.

Sekilas pasti kita teringat betapa banyaknya tokoh politik jaman orde baru menerbitkan biografi dengan sedikit banyak bumbu yang membuat mereka semakin menonjol sebagai seorang tokoh. Namun, tidak demikian halnya dengan Borges. Di dalam Sejarah Aib, Borges memberi bumbu di sana-sini agar aib si tokoh semakin menonjol dan karakternya semakin kuat. Nah, pada akhirnya pembaca akan mendapatkan sebuah fiksi yang sempurna. Memang, tidak semua kisah hidup manusia bisa begitu saja menjadi novel atau cerita pendek yang bagus—yang plot, latar, dan penokohannya kuat—dan di sinilah tugas Borges, memberi sentuhan di sana-sini sehingga kisah hidup itu bisa menjadi karya sastra, meskipun toh minim plot, latar dan penokohan yang kuat. Kelak, kita akan ketahui bahwa fiksi-fiksi Borges tidak memerlukan ketiga elemen itu untuk bisa disebut fiksi mutakhir.

Selain ketujuh kisah ambigu itu, ada juga sembilan tulisan lainnya.

Tulisan pertama setelah tujuh karya yang saya bahas pertama adalah karya Borges sendiri berjudul Lelaki Pojok Jalan. Sebenarnya, cerita ini tetap menjelaskan seorang tokoh, tapi bedanya tokoh ini adalah tokoh rekaan Borges sendiri. Tapi, Borges tetap konsisten dengan gaya bertutur seperti menceritakan tokoh-tokoh penyandang aib seperti Billy the Kid, Lazarus Morell, Tom Castro dan lain-lain.

Delapan cerita terakhir yang rata-rata pendek memiliki struktur dan gaya yang jauh berbeda dengan delapan cerita sebelumnya. Cerita-cerita di bagian ini digarap sedemikian rupa hingga bentuknya semakin menyerupai fiksi-fiksi Borges di kemudian hari. Beberapa tulisan –seperti Kembaran Muhammad dan Perihal Keeksakan Dalam Sains—memiliki bentuk lebih menyerupai artikel atau esai daripada sebuah tulisan fiksi. Di sini, alur yang bersifat aksi sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah kejutan di akhir tulisan karena adanya fakta mengejutkan yang baru tersibak. Beberapa tulisan seperti Kisah Dua Pemimpi, Penyihir Batal dan Kamar Patung terasa seperti sinopsis sebuah buku.

Kedua jenis gaya penceritaan ini tetap memiliki garis merah, yaitu sikap ilmiah. Sikap ilmiah dan kemampuan menggiring pembaca untuk mempercayai hal-hal palsu adalah keunggulan Borges yang nampak sangat bagus di karya-karyanya yang kelak terkumpul dalam buku Ficcioness—yang sebagian ceritanya, ditambah dengan beberapa cerita lain, pernah diterjemahkan Hasif Amini dan diterbitkan dengan judul Labirin Impian (LkiS).
Kembali ke Sejarah Aib, Borges sendiri menyatakan bahwa buku ini adalah sebuah hiburan ringan. Kita tidak perlu repot-repot membuka banyak buku untuk mengenal sejumlah orang “penting” karena Borges telah merelakan diri untuk merangkumnya bagi kita.

Kalaupun toh kita tidak kenal siapa yang Borges tulis dalam buku ini, tetap saja ada satu hal penting yang bisa ambil dari buku ini. Membaca buku ini bisa menjadi sebuah napak tilas ke tahap awal karir Borges sebagai penulis fiksi mutakhir yang hingga sekarang masih belum mendapatkan perlawanan yang sebanding dari penulis penerusnya, baik itu penggemar maupun pengkritiknya.

(Ini sebenarnya resensi lawas. Tapi, resensi yang satu ini bisa dibilang resensi yang punya arti tersendiri buat blogger Anda yang satu ini. Resensi ini ditulis pada tahun 2006, dan saya yakin tidak pernah sekali pun saya coba kirimkan ke media cetak. Saya malah mengirimkan resensi ini ke milis Apresiasi Sastra yang waktu itu sering mengadakan lomba menulis kecil-kecilan sesama anggota. Waktu itu, ya waktu itu, saya ikutkan resensi ini ke lomba Apresiasi Resensi dan menjadi resensi terbaik. Sebenarnya tidak terbaik-terbaik amat. Nilai resensi ini sama tingginya dengan resensi Damhuri Muhammad–ya, Damhuri Muhammad yang masyhur dan cerpen-cerpennya luar biasa itu. Saya dimenangkan hanya karena saya lebih dulu memposting. Hehehe… Sebenarnya saya sudah nyaris lupa dengan itu semua, tapi kemarin waktu menyalin resensi ini dari blog ini, saya jadi ingat sesuatu yang sudah berangsur hilang dari pikiran saya itu. Sementara begitu dulu ajang pamernya, selanjutnya silakan baca resensinya, dan semoga masih bisa nemu bukunya. Salaam.) 

Apresiasi Berkedok Cerpen: “Durna Sambat” karya Yusi Avianto Pareanom

Sebut saja ini apresiasi cerita yang telat beberapa tahun. Karena tidak ada kesempatan membaca Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi, saya baca saja buku mas Yusi Avianto Pareanom yang sebelumnya, Rumah Kopi Singa Tertawa. Untuk kesempatan ini, saya akan ngobrol tentang cerita “Durna Sambat” dalam buku tersebut. Cerita “Durna Sambat” ini kuat dan menarik sama sekali bukan karena plotnya, tapi karena lapis-lapis pesona yang ditawarkannya untuk pembaca. Di postingan sebelumnya tentang cerita-cerita di buku ini, saya juga bilang bahwa plot bukanlah yang paling penting dalam cerita-cerita mas Yusi–tapi kali ini alasannya lain lagi.

Plotnya sangat akrab bagi penggemar Bharatayuda atau Mahabharata, baik versi wayang kulitnya maupun versi India-nya. Eh, sebentar, biarkan saya revisi dulu argumen saya barusan: plot-nya ini bisa jadi hanya satu daya pikat cerita ini, khususnya bagi yang tidak akrab dengan cerita Mahabharata. Bukankah memang tidak biasa mendengar cerita tentang seorang pandita dan trah pandita hutama yang bernasib sial selalu disalahpahami dan akhirnya mati dan dijadikan mainan? Tentu tidak biasa kan? Tentu menarik, kan?

Iya. Tapi, seperti saya bilang di muka, masih ada lagi lapis-lapis lain cerita ini yang menjadikannya lebih menarik lagi sebagai sebuah cerita pendek, dan mungkin menjadikannya enak dibaca beberapa kali.

Di lapis pertama, cerita ini bisa dibaca sebagai sebuah apreasiasi, atau kritik sastra lah, atas salah satu karakter dalam Mahabharata (karakter Durna) dan motor penggerak nasib karakter tersebut (selalu disalahpahami). Cerita “Durna Sambat” ini diawali dan diakhiri dengan keluhan Durna bahwa hidupnya dipenuhi kejadian dia disalahpahami orang lain, khususnya semenjak dia meninggalkan pertapaannya. Menurut Durna, saking disalahpahaminya, di akhir hidupnya pun para prajurit memainkan kepalanya yang menggelinding untuk main bola, dan berbahagia, padahal dia sendiri sedang sengsara (bukan karena dibunuh, tapi karena salah mengira anaknya gugur di tangan Bima).

Tentu saja, sebagai apresiasi sastra, cerita “Durna Sambat” ini tidak biasa. Tidak seperti postingan blog ini, yang niatnya mengapresiasi cerita “Durna Sambat” dan bentuknya memang apresiasi sastra yang mencoba runut poin-demi-poin. “Durna Sambat” adalah apreasiasi sastra yang tidak menganalisis dengan mengurai elemen-elemen dari topik yang diapresiasi untuk mengetahui hubungan-hubungannya. Cerita ini mengapresiasi karakter Durna dengan cara mereka ulang. Hasilnya, kita pembaca tidak hanya memahami karakter Durna dalam bentuk analisis atas nasib sialnya, tapi juga ikut merasakan seperti nasib sial Durna yang terus disalahpahami itu. Kalau kita ingat sejarah kritik sastra Barat, ada yang namanya Kritik Baru, sebuah pendekatan mengapresiasi sastra (terutama untuk menganalisis puisi) yang salah satu argumennya adalah bahwa elemen-elemen seperti “ironi” merupakan elemen paling penting dalam puisi yang tidak bisa begitu saja dipahami hanya dengan diparafrase dan dipreteli satu persatu dari puisi. Sehingga, untuk mengapresiasi puisi dengan sepantasnya, kritikus harus bisa merekonstruksi puisi tersebut sehingga pembaca kritik tetap bisa mengalami “ironi” yang terkandung dalam puisi itu, tidak hanya mengetahui adanya ironi dalam puisi yang bersangkutan. Dalam “Durna Sambat,” kita mengalami bagaimana Durna disalahpahami, mulai dari disalahpahami Drupada, Pandawa, Krisna, dan sebagainya.

Satu hal lain yang menjadikan cerita ini seperti sebuah apreasisi sastra adalah konsistensi Durna, si narator, yang sebentar-sebentar mengomentari keseluruhan cerita Mahabharata atau bagian-bagian tertentu dalam cerita Mahabharata. Bahkan, komentar-komentar Durna ini pada bagian-bagian tertentu terasa merasionalisasi episode-episode magis dalam epik ini. Kalau menurut teori-nya, epik berbeda dengan novel karena jaraknya yang jauh dari kehidupan para pembacanya atau kehidupan nyata (untuk lebih jelasnya, coba baca misalnya teori tentang epik vs novel dalam tulisan Mikhail M. Bakhtin). Maksudnya begini: banyak kejadian dalam novel yang tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata. Misalnya orang jadi dewa, dewa jadi orang, atau dewa kawin sama orang, atau orang mati hidup lagi, dll. Kejadian-kejadian seperti ini tidak mungkin terjadi dalam kehidupan nyata, bukan? Nah, begitu juga dalam Mahabharata, banyak sekali cerita yang magis seperti itu. Dalam “Durna Sambat” ini, narator kita mencoba merasionalisasi hal-hal magis yang terjadi itu, seperti misalnya episode Arjuna mati dan dihidupkan kembali oleh Kresna, atau bahwa Durna yang katanya hanya bisa mati kalau memang dia pingin mati. Narator kita merasionalisasi fakta-fakta epik itu. Artinya, dia seolah hidup di luar epik tersebut, bukan bagian dari dunia epik itu. Dia seperti salah satu teman kita yang mencoba mengapresiasi, mengkritik, menganalisis, menafsir episode-episode magis dalam Mahabharata, khususnya yang berkaitan dengan Durna.

Di lapis kedua, kita bisa melihat cerita ini sebagai permainan logika cerita, kontradiksi antara level tersirat dan tersurat. Kalau secara tersurat kita mendapati Durna yang mengeluh karena merasa terus-terusan disalahpahami oleh orang lain, di level yang tersirat ada kesan bahwa sebenarnya Durna sendirilah yang sebenarnya salah memahami dunia luarnya. Kita bisa melihat ini mulai dari yang paling renik sampai yang paling gajah. Pertama-tama, keluarnya Durna dari padepokan menuju ke kerajaan Pancala itu sendiri sudah merupakan hasil dari salah pahamnya. Dia, yang dari lahir sampai besar (berkeluarga dan punya anak) tinggal di padepokan, mengira dunia luar (dunia politik?) adalah tempat yang tepat baginya. Dia mengira mengajarkan ilmu (sesuatu yang mulai di padepokan) tetap sama artinya di ibukota. Pikirnya, menawarkan keahliannya menjadi guru untuk Pancala akan membawa kebaikan baginya. Ah, salah besar, ternyata dia disalahpahami. Draja Drupada yang dulu adik seperguruannya itu tidak bisa begitu saja menerima niat baiknya, bahkan takut diketahui hubungannya dengan dia. Bisa jadi si raja kuatir dengan motif di balik kedatangannya. Di lain kesempatan, ketika dia sudah menjadi guru bagi Kurawa dan Pandawa, dia merasa dengan menolak murid dengan tegas (dan keji) dia akan mendapatkan rasa hormat dari Pandawa. Ternyata tidak, para Pandawa menganggapnya sebagai orang yang kejam. Begitulah yang beberapa kali terjadi sepanjang cerita “Durna Sambat” yang tidak panjang ini. Intinya, secara tersirat memang Durna mengeluh karena merasa disalahpahami, padahal pada kenyataannya tersirat bahwa dia sendiri yang menyalahpahami dunia. Pemahamannya akan dunia berbeda dengan pemahaman orang lain akan dunia.

Itu tadi baru dua lapis pesona dari cerita “Dorna Sambat” dalam buku Rumah Kopi Singa Tertawa yang saya dapati setelah membacanya beberapa kali. Bagaimana dengan Anda? Apa yang membuat cerita ini cukup penting untuk dimasukkan oleh penulisnya ke dalam kumpulan cerita ini? Silakan lanjutkan!

(Review) Osama Van Halen

Osama Van Halen is not the kind of novel that presents a “world” one can enjoy as a microcosm. Several times, it stops short just before it creates a solid narrative of certain topics. However, this tendency is consistent with the sufistic spirit of self-effacement that the narrator keeps mentioning in the novel. In the first life action part of the novle, Amazing Ayyub initially joins force with Rabeya (both are main characters in Michael Muhammad Knight’s first novel The Taqwacores) in kidnapping Matt Damon and to send a message to Hollywood not to vilify Muslims anymore in their production. Yes, Amazing Ayyub realizes the irony in demanding Hollywood to stop depicting Muslims as terrorists by committing an act of terrorism (kidnapping one of the most expensive Hollywood assets). However, this action is interrupted as Amazing Ayyub gets distracted by the emergence of a Muslim pop-punk group Shah 79 (remember Blink 182 and Sum 41 here).

However, I think it’s also fair to say that the solidity of this novel comes from a series of small adventures: Ayyub encountering a Shi’ite Heavy Metal band preparing themselves for an apocalyptic mission to fight Dajjal, Ayyub finding a mosque overrun by zombies created by one of the most prominent Muslim figures in the U.S., Ayyub joining a nascent taqwacore band that fails gracefully, and so on.

In brief, you come to this novel with the expectation of finding an uninterrupted story like Knight’s first novel, then this novel won’t quench your thirst. However, if you are more interested in the issues of Islam in America, especially those related to the non-conservative views of Islam that are open to alternatives even to the moderate, liberal, or progressive Muslims, then this book might be a good thinking exercise. If you come to this novel with a sound but intolerant view of what a good novel should be, then you will flip out every other chapter. But, if you are open to the possibility of forms in novel, or if you believe that novel is still an evolving genre that welcomes any conceivable innovations, then Osama Van Halen might offer an exhilarating read.

From my readings (I’ve read it twice), there are a number of themes that this novel explores in various intensity: the idea of progressive Islam, the cooptation of subculture into the entertainment industry, the vilification of Muslims in Hollywood, the spread of conservatism, the objectification of women (even by the author himself), the issues related to white Muslim converts, race relation, postmodernity both in Islam and in literature, etc.

I’m not comfortable using big words, merely because what Amazing Ayyub does to a character of an Islamic Studies graduate student in the novel who keeps blurting out big words and social theory lingo … I’m just not comfortable doing this… 😀

(Resensi) Mengejar Matahari (2004): Potensi Politis Yang Menuntut Diterjemahkan

Karena satu atau lain hal, saya menonton kebanyakan film Indonesia dari YouTube. Mungkin ini dosa, tapi bagaimana lagi? Di satu sisi ingin juga ikut mendukung perkembangan film nasional. Di sisi lain, himpitan ekonomi tidak memungkinkan sering-sering melakukan itu. Maka, sebagai ungkapan terima kasih saya untuk film Indonesia—dan untuk mereka yang mengunggahnya ke YouTube :D—saya ingin berbagi di sini pertanyaan-pertanyaan yang kemarin saya posting di Twitter. Kali ini topiknya film Mengejar Matahari (2004).

Menurut saya, film ini memiliki potensi politis yang bisa efektif dengan bantuan penerjemah. Bila tidak, mungkin dia hanya akan berhenti menjadi kisah sepia yang mengharukan dengan akhir bahagia tapi ganjil.

Saya masih bertanya-tanya, seperti apa moral yang berlaku dalam cerita Mengejar Matahari ini? Bahwa kejadian itu serba acak? Tentu sy jd ingin baca ulasan tentang film-film Rudi Soedjarwo. Apakah selalu seperti itu dunia film-filmnya? Apakah Jakarta acak? Khusus Mengejar Matahari, gambar dan pilihan latar ceritanya menarik. Tapi penokohan dan plot sangat mengganggu.

Mengejar Matahari berlatarkan kehidupan rumah susun, dengan latar rumah susun sungguhan, benar-benar menjadi dunia yg utuh, ada bocah, remaja, dan tua. Seingat saya, kebanyakan kisah rumah susun itu dari sudut pandang orang dewasa, menyoroti beratnya hidup, repotnya bertetangga, dll. Bukan persahabatan remaja, diselingi cinta dan olahraga (tawuran :D). Premanisme tentu bahan pokok–spt pd film2 Rudy Soedjarwo masa itu.

Tapi, tokoh dan ceritanya mengganggu! Kok diulang-ulang? Kok diulang-ulang? Kok diulang-ulang?

Berlari mengejar matahari (sumber dari YouTube)
Berlari mengejar matahari (sumber dari YouTube)

Kenapa anak-anak ganteng itu sebegitu buas dan berani dan tanpa pikir2nya tawuran. Bahkan ada kesempatan dua tokoh menantang bbrp preman. Sepenting apa tokoh Nino? Kenapa dia yg sekolah di Amerika? Atau, mungkinkah dia sebenarnya tokoh yg paling politis? Tokoh Nino paling kaya, yg bersaudara kaya, dan akhirnya sekolahnya paling berhasil. Apakah artinya: untuk berhasil perlu kaya! Oh, kalau begitu, betapa politisnya!

Kematian tokoh Apin sungguh mengganggu. Benar-benar dunia yg kejam, dan tak ada orang yg bs berkutik di hadapan nasib. Tokoh Damar Baadillah juga. Kenapa dia, yang habis “diperolok ibunya,” yg ingin membalas kematian temannya, yg akhirnya masuk penjara? Kenapa dia, yg di masa kecilnya membantu menjebloskan si preman ke penjara, kini akhirnya masuk penjara, dan hidupnya harus berubah? Sungguh dunia yang kejam, dengan moral acak, yg memperlakukan manusia seperti bola-bola yang berlompatan liar, dan akhirnya meletus.

Kenapa setelah semua itu, Ardi dan tokoh Nino “hanya” merayakan nasib baik dg Mengejar Matahari? Apin dan Damar absen. Dan Damar dan Apin hanya terlihat bagi penonton, sekadar mengingatkan kejamnya dunia. Kejam. Kejam.

Nasib tokoh Ardi pun tak kalah mengusiknya. Ada apa dengan karirnya? Dia relatif sukses. Sebentar lg dia akan lulus dr Akpol Semarang. Dia mmg juru cerita. Tp dia yg menghancurkan hati tokoh Damar dg menyinggung soal ibunya. Apakah kita diajak memasuki dunia cerita dg moral yg nisbi? Apakah penulis berargumen seperti itu dunia?

Sy membayangkan tanggung jawab juru cerita kpd pemirsa? Jangan2 dunia rumah susun Jakarta spt itu? Jangan2 di rumah susun manusia hanya bisa pasrah kpd nasib?

Terakhir, bg yg bertanya2 ttg agensi perempuan (atau bhs resminya: peranan wanita :D), pasti film ini sgt bikin gregetan. Film ini benar2 dunia lelaki. Wanita hanya figuran. Sdh figuran, negatif pula. Adegan Apin memvideo & memamerkan Rara adl contoh pasnya. Rara adalah perempuan cantik yg melintas, yg divideo tanpa protes, yg “dijajakan” Apin kepada Ardi, yg hnya memohon Ardi jgn kelahi. Yg hanya bs menawarkan kedekatan, yg dtg sebentar, ngrusak persahabatan, lalu menghilang. Pdhl, mestinya dia tegar. Bayangkan, bapak-ibunya sj ke Malaysia dia berani ditinggal sendirian, di rumah susun di Jakarta. Kalau Rara blm cukup, lihatlah ibu Ardi dan Apin. Betapa mereka samar-samar. Korban anak atau suaminya. Tapi, jangan-jangan…

Ibu Damar, tokoh perempuan samar-samar sedang menangis
Ibu Damar, tokoh perempuan samar-samar sedang menangis

Jangan2, melihat betapa sistematisnya kesamar2an para perempuan ini, sebenarnya di sinilah nilai film Mengejar Matahari? Film ini memotret ketersisihan perempuan di dunia lelaki (semua dunia!). Ketersisihan yg seolah natural di hadapan semua masalah lelaki. Sementara pemirsa tersedot memperhatikan konflik Damar dan lain2, Ibu Damar, Ibu Ardi, dan Rara hanya jadi latar yg natural. Oh, kalau begitu, inilah tugas kita para pengurai anyaman ideologi patriarki! Harus selalu kita ingatkan: patriarki itu tdk natural!

Akhirul posting, tesis: Mengejar Matahari di satu sisi merupakan sajian dg sekilas tampak digerakkan oleh moral yang asal dan “dihiasi” potret patriarki yang seolah natural, tapi bila tabir ideologinya ini disingkap, film ini akan menjadi film yang politis. Tapi ya itu, tabir ideologinya harus disingkap, harus diterjemahkan.