Nama Motor, Doa, Optimisme, dan Pemanasan Global

Karena dalam tradisi Islam nama adalah doa, Muslim pun menamakan anak-anaknya dengan nama-nama yang baik. Beberapa waktu yang lalu, Eka Kurniawan, novel Indonesia yang lagi naik daun di medan internasional, mengatakan dia percaya bahwa nama itu adalah semacam kristalisasi dari seseorang. Pendeknya, sebuah nama itu bisa mewakili gambaran atas seseorang, dan karenanya dia tidak memberi nama karakternya dengan nama-nama yang tidak akan mungkin ditemui pada orang-orang semacam itu (misalnya, dia mungkin tidak akan memberi karakter dari Pangandaran nama-nama seperti Francois Le Pen). Semua gagasan itu menurut saya bisa diterima dengan tanpa perlu harus keberatan. Dan karena itu pulalah, kadang-kadang saya jadi menyesalkan perubahan trend penamaan sepeda motor oleh pabrikan Jepang (sementara kita tidak perlu mendiskusikan pabrikan Tiongkok dalam forum ini).

Menurut hasil pengamatan saya yang cukup terstruktur, sistematis, dan masif–tapi tidak akan saya beberkan semuanya kepada Anda–telah terjadi perubahan signifikan ke arah yang kurang baik dalam hal penamaan motor. Di awal-awal dulu, tahun 1970-an dan sebelumnya, kita bisa mendapati nama-nama alfanumerik. Lihatlah misalnya, Yamaha 75, atau Honda S90, Suzuki GS, Honda GL100, CB 100, dan sejenisnya. Kalau kita percaya bahwa nama semestinya adalah doa, doa macam apa ini? Saya kesulitan membayangkan orang berdoa: “Ya, Allah, jadikanlah anakku ini C90.” Mustahil, kawan. Tapi saya bisa memahami, karena mungkin waktu itu pabrikan-pabrikan motor tersebut masih dibilang masa-masa awal perkembangannya secara internasional.

Untungnya, pada masa-masa setelahnya, kita mendapatii apa yang saya sebut sebagai masa keemasan penamaan motor. Lihatlah, dari Honda mulai muncul Super Cup. Agak sulit sebenarnya menalar maksud “Cup” di sini. Tapi paling tidak ada kata “super” yang memberikan motivasi luar biasa. Ada Superman yang kuat dan percaya diri, ada Super Mario yang pemberani, dan ada Salam Super yang mendatangkan Rupiah. Dari Yamaha, kita temukan sosok L2Super dan–yang paling dahsyat–RX King (yang kita tahu merupakan Raja Jalanan dengan akselerasi super spontan yang mungkin belum tertandingi motor mana pun sampai saat ini, menurut saya). Masih ada lagi nama-nama seperti Force 1 dan Alfa. Dua nama terakhir ini adalah nama-nama yang mengesankan keunggulan urutan.

Penamaan yang berorientasi doa seperti ini tampak jelas pada dekade 80-an dan 90-an. Pada lini motor bebek dari Honda, kita bisa dapati Astrea Prima, Astrea Star, Astrea Grand, dan berujung pada Astrea Supra (lagi-lagi super!). Bahkan, versi murah dari Astrea ini pun diberi nama yang berorientasi doa seperti Legenda (dan Legenda 2, nah, kurang apa?). Tapi, tentu saja, penamaan yang paling dahsyat tetap ada pada Honda Win, yang sulit dipungkiri kemenangannya (menurut pendapat saya yang paling obyektif tanpa setitik pun bias, meskipun pada kenyataannya saya pengendara Honda Win). Renungkanlah nama itu: Namanya saja Honda Win 100. Menang satu atau dua kali atau tujuh kali (seperti Lance Armstrong) masih manusiawi, tapi kalau menang 100 kali? Itu baru pemenang sejati! Nama-nama unggul lainnya yang juga melegenda adalah GL-Max, Pro, dan Mega Pro. Setelah itu, agak menyedihkan.

Memang, menurut penelitian saya, masa keemasan penamaan berorientasi doa ini hanya tampak agung pada Honda dan Yamaha. Trend tersebut sayangnya tidak berlaku untuk Suzuki atau Kawasaki. Suzuki memakai nama-nama yang sekadar nama: Suzuki Crystal (yang bunyi cemprengnya terdengar sejernih kristal dari jauh) atau Tornado (yang sebenarnya tidak menderu seperti Tornado) atau RGR (sulit menalar nama ini). Begitu juga Kawasaki, dia punya Kaze, kata bahasa Jepang yang jelas tapi tentu saja kurang akrab di telinga orang Indonesia yang punya kecenderungan laten Eurosentris.

Sayangnya, memasuki pertengahan 2000-an, kita mendapati trend yang patut disesalkan. Honda mencoba merangkul penamaan Indonesia dengan Karisma, yang masih lumayan berorientasi doa. Tapi sepertinya itu yang terakhir. Di masa yang kurang lebih sama, kita juga menemukan nama seperti Kirana, atau Vega. Kita juga menemukan nama Revo. Dari pabrikan Yamaha, kita temukan Jupiter (kenapa, minimal, bukan Mercury yang paling depan dan paling panas?). Memang sih, di Suzuki masih ada gaung dengan nama seperti Satria. Tapi nama semacam ini termasuk minoritas, kan? Dan itu yang terakhir.

Dan kemerosotan paling dahsyat ada pada penamaan yang menyertai banjir bandang scootic alias scooter matic. Lihatlah: Beat, Vario, Nuvo, Mio, dan sebagainya dan seterus. Ah! Saya tambah kesulitan membayangkan doa “Ya Tuhan, miokan aku, atau setidaknya variokan…” Sulit-sulit-sulit!

Yang cukup menyedihkan adalah akhir-akhir ini kita mendapati lagi nama-nama alfanumerik. Seorang kawan dengan bangga dan sukacita mengendarai motor Kawasaki ZX250 untuk touring Jawa, Bali, Lombok. Dapur pacu dan performa keselamatannya dahsyat, tapi namanya itu, sayangnya! Bahkan Honda kembali menghidupkan lini CB dengan dapur pacu lebih besar: CB150R. Bahkan scootic pun ikut-ikutan dengan N-Max, D-Max, Z-Max dan Max-max yang lain. Apa lagi di bilangan motor trail. Ah, ini sih dari awalnya. TS, GS, dll. Dan kini ada KLX, KTM, Cross 150X, dll.

Maka, saudara-saudara CEO pabrikan motor Jepang yang terhormat, kalau Anda memang peduli dengan citra dan doa dan kualitas yang adiluhung, perhatikan concern saya ini. Tengoklah optimisme masa-masa keemasan itu, ketika nama-nama begitu indah terdengar dan mudah dimasukkan ke dalam doa. Bahkan, kalau perlu, coba lah menghidupkan lini-lini yang pernah jaya, demi memberikan cita rasa yang indah kepada generasi muda ini. Hidupkan kembali, misalnya, Honda Win 100 atau RX King Cobra. Berikan pula pilihan mendapatkan Astrea Prima atau Grand. Pertimbangkan. Atau, kalau tidak mau memproduksi lagi, tawarkanlah jasa refurbasi, sehingga pemilik motor tua bisa meremajakan lagi motornya tanpa beli baru. Mungkin Anda menganggap ini hanya nostalgia dan sekadar kegagalan move on. Tapi tidak, pertimbangkan bagaimana optimisme bisa tumbuh kembali di zaman ini dengan nama-nama indah itu. Bayangkan pula, berapa banyak limbah yang bisa dikurangi kalau kita hanya perlu meremajakan daripada membuat baru? Dengan kesadaran seperti ini di tengah pemanasan global (yang diingkari Donald Trump dan pimpinan partai Republik di Amerika), betapa akan senangnya bumi kepada kita…

 

Embun di Medini

berjalan pagi di makadam kebun teh
tidak selalu seindah foto dari Nikonmu
apalagi saat kau mulai makro pada kilau
di ujung-ujung daun itu pada embun
yang sungguhnya mencengkeram
tapi kita mengharapnya
menetes, menyerah
pada gravitasi
padahal
selalu ada pilihan
untuk menguap perlahan
seiring mendakinya matahari.

Bahkan Berfoto Pun Kini Berpotensi Merusak

Satu ujaran yang sangat lazim terkait naik gunung dan mencintai alam adalah “Leave nothing but footprints. Take Nothing but pictures.” Maksud dari ujaran ini tentu saja sudah jelas, bahwa saat mengunjungi alam, kita tidak semestinya meninggalkan sampah atau mengambil apapun dari sana. Tapi–seperti biasanya, ada tapi–bahkan ungkapan ini pun saat ini harus kita pertanyakan lagi, khususnya di zaman medsos ini: mengambil foto pun bisa berpotensi merusak alam.

Ternyata, hasrat berfoto kita begitu tak terbendung. Satu hal yang sangat mengagetkan saya ketika pertama kali menyempatkan berwisata mainstream adalah begitu seriusnya keinginan kita untuk befoto. Tempat wisata pertama yang saya kunjungi setelah lima tahun absen dari Indonesia adalah Batu Secret Zoo, yang saya kunjungi tepat pada Tahun Baru Imlek beberapa bulan lalu. Sejak di pintu depan, saya takjub melihat banyak sekali orang memegang tongkat selfie. Begitu memasuki Batu Secret Zoo, di bagian tikus air raksasa (yang dalam bahasa Jawa disebut “wergul”), mulailah terlihat seberapa besar hasrat berfoto kita. Di bagian agak dalam, pengelola Batu Secret Zoo ternyata menyambut hangat hasrat berfoto itu dengan menyediakan sejumlah binatang yang bisa diajak berfoto bareng atau berselfie–tentu dengan membayar.

Apa yang terlihat di Batu Secret Zoo ini sementara saya pakai sebagai penegasan atas maraknya instagram serta banyaknya foto (selfie, pemandangan, binatang, dll) yang diposting di sana. Kalau melihat instagram saja, saya hanya bisa menyadari betapa banyaknya foto dan betapa gemarnya foto di sana. Tapi, saat menyaksikan dengan kepala sendiri bagaimana kejadian sebenarnya di luar, bagaimana bergairahnya orang-orang mengambil foto, saya jadi tahu bahwa ada yang sebenarnya lebih dahsyat dari maraknya instagram itu. Orang bisa mengambil sepuluh foto yang hanya satu di antaranya diposting di instagram atau facebook. Artinya, kegiatan berfoto orang bisa sangat besar.

Yang tak bisa dipungkiri adalah bahwa hasrat mencari spot yang tak biasa. Tentu orang tidak suka kalau dia hanya mengambil foto dari tempat-tempat yang biasa saja seperti Batu Secret Zoo, sebuah tempat yang bisa dijangkau siapa saja (yang tidak kesulitan mengeluarkan minimal Rp120.000). Hasrat untuk agak berbeda (atau tidak tampil terlalu mainstream) membuat orang mencari tempat-tempat baru yang tidak banyak diketahui orang, atau yang tak biasa. Satu dampak berbahayanya adalah apa yang terjadi di Taman Bunga Mekarsari beberapa tahun yang lalu. Karena hasrat berfoto di tempat yang tidak biasa (yang mirip ladang tulip di Belanda!), akhirnya berduyun-duyun orang mendatangi Taman Bunga Mekarsari, hingga taman bunga itu sendiri menjadi Taman Selfie Mekarsari, yang bunganya rusak terinjak-injak. Hasrat ingin tampil berfoto di tempat berbeda ini ternyata berujung pada kerusakan. Tampil beda ternyata hanya menguntungkan bagi yang tampil, tapi tidak bagi yang lain.

Bagaimana kalau tempat yang tidak mainstream untuk berfoto itu adalah alam yang semestinya dibiarkan liar? Itulah yang akhirnya bisa menghawatirkan. Dan yang lebih membuat kuatir adalah karena kekhawatiran itu sangat masuk akal, dan sudah di depan mata. Hasrat orang untuk berfoto di tempat yang tidak standar ini ternyata direspons oleh mereka yang ingin meraup untung dengan menggunakan alam untuk berfoto. Satu contohnya adalah Coban Rais di Kecamatan Dau, Kota Wisata Batu. Sejumlah bukit di kawasan yang dulunya wana wisata dan bumi perkemahan ini kini telah dan tengah dikembangkan menjadi taman-taman bunga. Meskipun nama resminya taman bunga, tempat ini lebih menyerupai taman foto, karena tampak sekali bahwa orang-orang ke sana lebih untuk berfoto ketimbang menikmati dan mempelajari bunga-bunga. Wana Wisata dan Bumi Perkemahan yang dulunya sangat suwung dan bahkan tidak punya tempat parkir yang permanen itu kini menjadi begitu ramai dengan ratusan sepeda motor datang tiap hari libur. Di sini, orang bisa berfoto pada platform-platform kayu dengan latar belakang perbukitan, persawahan, dan kota Malang di kejauhan. Pendeknya, sejauh ini masih belum mainstream.

Yang semakin menjadikan urusan ini dilematis adalah ketika orang-orang yang datang untuk berfoto itu akhirnya juga ingin ke air terjun Coban Rais di kawasan hutan basah alami itu. Banyak juga pengunjung taman bunga itu yang akhirnya juga pergi ke air terjun Coban Air. Sebagian di antara mereka mungkin memang penggemar naik gunung atau jelajah hutan yang memang suka mengunjungi tempat-tempat alami yang tidak mainstream seperti itu. Tapi, tidak sedikit juga yang sebenarnya mungkin tidak akan ada niat ke sana kecuali memang ingin berfoto tidak biasa. Orang-orang yang berpenampilan lebih mirip untuk berfoto ketimbang naik gunung (baju non olahraga, sepatu jalan ke mal, dan sejenisnya). Orang-orang ini ikut memasuki hutan demi berfoto, melewati jalan yang semestinya harus dijaga tetap alami. Pada jam-jam paling sibuk, ada 10 orang per menit, yang ikut masuk ke dalam hutan. Bila sebuah tempat yang mestinya harus tetap alami demi kelestariannya akhirnya harus didatangi orang sebanyak itu tanpa ada usaha untuk menjaga mana yang harus dilewati dan mana yang bisa dibiarkan, maka yang bisa diharapkan adalah kerusakan. Dan ini benar-benar tidak bisa dilepaskan dari hasrat untuk berfoto.

Bagaimanapun, tentu kita masih perlu mengakui bahwa ini merupakan persoalan yang terbilang kecil. Di banyak tempat, banyak korporasi (baik milik negara maupun swasta) yang mengeksploitasi alam yang berpotensi menyebabkan kerusakna lebih besar. Perusahaan Semen yang saat ini sudah memulai pendirian pabrik di Kendeng dan kawasan perbukitan karst di Rembang dan cekungan air berpotensi menyebabkan kerugian lebih besar buat penduduk kawasan tersebut. Ini masalah yang lebih besar dan perlu diperjuangkan bersama-sama. Tapi, pada tataran yang lebih kecil, pada tataran perseorangan, kesadaran akan hal-hal semacam ini sifatnya wajib. Tanpa kesadaran mendasar bahwa ada hal-hal yang kita lakukan yang berpotensi merusak alam, memperjuangkan hal-hal yang besar akan seperti tindakan kemunafikan.

Jadi, begitulah kiranya, saat ini, bahkan urusan berfoto di alam pun tidak bisa seenaknya kita lakukan. Dan ini bukan persoalan sepele. Di satu sisi hal ini sangat pribadi, tapi di sisi lain hal ini juga berhubungan dengan persoalan yang lebih besar. Tumbuhnya tempat-tempat wisata yang mengeksploitasi hasrat berfoto ini juga sangat dibutuhkan. Untuk kasus Taman Bunga Coban Rais, misalnya, kita lihat bagaimana tempat wisata itu memberikan banyak lapangan pekerjaan. Banyak sekali tukang parkir, tukang ojek, penjual makanan, atau yang lain-lain yang pastinya bisa mendapat berkah dari ramainya Taman Bunga ini. Tapi, kalau yang dipertimbangkan cuma urusan mencari makanan, pastinya alam yang tidak bisa langsung protes itu yang akan kita nomor sekiankan. Masih ada yang belum selesai dipikirkan di sini, sesuatu yang juga mempertimbangkan tidak hanya manusia dan ekonomi, tapi juga alam. Dan dengan hal yang belum selesai ini pula saya akan menutup postingan kali ini.

 

 

 

Ajakan Menilai Sampul tanpa (Harus) Mendengar Isinya

(Jadi, ini postingan terkait diskusi tentang sampul album musik yang diadakan di Kafe Pustaka UM sore ini, Kamis 6 Maret 2017. Diskusi ini disertai pameran sampul-sampul album. Uniknya, selain sampul album ada juga karya-karya dari perupa tersebut yang bukan dibuat untuk tujuan sampul album. Karya-karya non cover itu disebut “karya bebas”–setidaknya itu yang saya tangkap dari penamaan file-file JPG yang saya terima dari Novan Tani Maju. Akhirnya, kesan yang ditimbulkan adalah ajakan untuk–kasarnya–membandingkan antara sampul-sampul album itu dengan “karya bebas” oleh perupa yang sama, atau antara seni terapan dan seni murni. Selanjutnya saya persilakan sidang jamaah blog sekalian membaca, dan kalau bisa hadir di diskusinya nanti sore.)

Peka_KelasKeliling

Saat berhadapan dengan sampul album CD atau kaset, orang yang penasaran akan tertantang untuk memaknainya, menyingkap konotasi di balik tanda-tandanya, dan bahkan menghubungkannya dengan track-track yang ada di album tersebut. Begitulah sepantasnya. Tapi, dalam pameran ini, ketika sampul-sampul album itu disandingkan dengan “karya bebas” oleh perupa yang sama, kita seperti mendapat tugas baru: membayangkan apa yang telah dinegosiasikan oleh si perupa dalam pembuatan sampul album itu. Di sini, kita bahkan boleh menilai sampul sambil melupakan “bukunya.”

Sampul album (yang dalam bahasa Inggris disebut “album art/artwork”) masuk dalam wilayah seni terapan, atau lebih tepatnya desain grafis. Di wilayah ini, karya seni mengemban tugas yang lain, sebagai sarana visual untuk mengkomunikasikan ide. Lazimnya, ide yang ingin disampaikan ada sebelum karya visual itu dibuat. Tapi bukan tidak mungkin juga karya visual itu sendiri sudah ada dan kemudian diakuisisi oleh musisi karena dirasa memiliki makna yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan si musisi. Mana pun yang ada lebih dulu, yang pasti ketika sudah menjadi sampul album, yang kita dapatkan adalah karya seni yang menyampaikan sebuah pesan (dan hampir 100% disertai teks tertulis). Di sini, elemen komunikasi karya tersebut jadi lebih besar ketimbang elemen reflektif, puitik, atau performatif (bermakna karena keberadaannya sendiri) yang biasanya ada pada karya seni murni. Ekstrimnya, banyak yang akhirnya menyamakan kedua hal ini sebagai pragmatisme vs idealisme.

Uniknya, ketika karya seni murni dari si perupa ini juga dihadirkan bersama karya-karya terapannya, ada beberapa hal yang terjadi. Di satu sisi kita jadi bisa membandingkan sejauh mana si perupa melenturkan idealismenya untuk kemudian menjangkau kepada audiens. Berapa banyak dari idealisme perupa yang harus ditanggalkan saat dia dia menciptakan sesuatu yang lebih berorientasi kepada komunikasi daripada meditasi. Atau, bila kita sudah benar-benar bisa melepaskan diri dari pemeringkatan seni murni vs seni terapan, kita mungkin juga bertanya: usaha apa saja yang telah ditempuh oleh si perupa untuk bisa membantu mengkomunikasikan gagasan para musisi? Tentu bidang ini juga membutuhkan ketrampilan mental–atau “seni”–tersendiri.

Mungkin, pertimbangan atas negosiasi antara desain grafis dan seni murni seperti ini bisa menjelaskan kenapa istilah “album art” atau “album artwork” kian lazim digunakan dalam konteks Indonesia, yang sebenarnya sudah lama kenal istilah “sampul album.” Hal itu bisa dimaklumi, karena istilah “sampul” tidak menawarkan terlalu banyak konotasi positif sebagaimana halnya kata “artwork.” Secara tak sadar, ada afirmasi atas nilai seni pada kata “artwork.”

Maka, dalam pameran ini, mari kita coba merekonstruksi: Apa yang kiranya dikorbankan si seniman untuk membuat sampul-sampul album ini? Atau, kalau dibalik, usaha ekstra apa yang harus dikeluarkan oleh si perupa dalam menciptakan semua album art ini? Yang seperti ini kiranya lebih bisa dilakukan oleh pengunjung yang mungkin belum cukup mendengar album-album itu sendiri untuk menilai keberhasilan sampul-sampul ini mewakili isinya. Tapi, karena mendengarkan musik (apapun itu!) selalu memperkaya, tentu akan lebih baik lagi bila apresiasi atas album artwork ini juga disertai dengan apresiasi atas musiknya. Atau, kalau kita pelintir petuah klise: jangan menilai album dari sampulnya. Tapi, kalau di sini Anda sudah terlanjur menilai sampulnya, jangan lupa juga menilai isi albumnya.

Horor Tercetak Tiga Dimensi

mestinya, tak ada lagi ngeri
menunggu april melipir
menanari kelopak cheri
merekah mili demi mili
seperti denyut digital
menghantar getar kwarsa.
manusia bahagia selalu bisa
menyebut, mengukur semua.
tapi, tetap dan pasti,
selalu ada moncong buaya
di dasar sana, menanti giliran
mengocehkan risiko yang kini klise.
konfirmasi: horor tercetak tiga dimensi.

Kesunyian, Puisi, Keberjarakan: Tiga Bisikan dari Kolase Digital Bobby Nugroho

Saat menenggelamkan diri dalam kolase digital Bobby Nugroho, ada tiga hal yang seolah terus dibisikkan ke kuping kiri saya: tarik ulur antara kesunyian dan perbincangan, imaji yang meminta dimaknai emosinya seperti puisi, dan dunia berjarak yang membuat gregetan.

bobby-nugroho

Tarik ulur antara kesunyian dan perbincangan dalam karya Bobby sudah terasa sejak saya mengetahui bahwa Bobby mengerjakan semua karyanya menggunakan smartphone. Bagi saya, smartphone membawa kesan kesepian. Sherry Turkle, ahli psikologi klinis dari MIT (Massachusetts Institute of Technology), menulis buku berjudul Alone Together: Why We Expect More from Technology and Less from Each Other. Dalam buku ini, Turkle mengeksplorasi kesepian yang diperparah oleh hasil teknologi, khususnya media sosial, yang menyebabkan kita selalu sendiri, bahkan saat bersama-sama. Sebagai contoh, kita bisa melihat bahwa saat orang-orang berkumpul dengan kawan, besar kemungkinannya smartphone sesekali menghalangi perbincangan langsung. Pada titik ekstrimnya, perbincangan dan saling tatap kini hanya menjadi bumbu dari kebersamaan fisik kita. Tentu saja keadaannya masih belum seekstrim hubungan antar manusia seperti dalam film animasi WALL-E, di mana manusia sampai merasa ganjil saat harus berinteraksi tanpa diperantarai LCDBobby, seperti banyak orang lainnya, mungkin juga tak bisa lepas dari smartphone, entah itu untuk merawat halaman Facebook, menimbang-nimbang gambar di Instagram, atau mungkin bertukar kabar di WhatsApp.

Namun, semestinya buat Bobby dan banyak pekerja seni kreatif (baik itu pengarang atau perupa) kesunyian adalah sesuatu yang sudah tidak asing lagi. Bahkan, pekerja kreatif adalah orang yang bisa bertahan dan bahkan berkembang di dalam kesepian. Berbeda dengan kebanyakan dari kita yang tenggelam dalam kesunyian bersama-sama, Bobby mengeksploitasi kesunyian yang ditawarkan oleh smartphone. Dia masuk ke dalam kesunyian itu, bersuntuk dengan smartphone-nya, mungkin sambil nongkrong di warung kopi dengan teman-temannya. Tapi dia sepertinya tidak membiarkannya dirinya tersedot dan tenggelam ke dalam kesunyian tersebut. Bobby memasuki medan kesunyian itu dan menggarong sebagian isinya untuk menciptakan kolase digitalnya. Dia pamerkan hasil dari pergulatan dengan kesunyian itu di akun Facebook dan Instagram-nya. Dan, ketika tahu bahwa Bobby akan mencetak dan memamerkan karya-karya yang dia ciptakan di smartphone-nya, saya melihat ini sebagai keberhasilan untuk bangkit dari “kesunyian bersama-sama.” Bobby menjarah harta karun dari kesunyian, menangkarkan gambar-gambar yang bersilang sengkarut, dan membungkusnya sebagai oleh-oleh untuk kita. Dengan mengunduh karya-karyanya dari Instagram dan Facebook dan memajangnya di galeri untuk dilihat publik bersama-sama, maka Bobby seperti mengajak kita untuk merenungkan kembali arti bersama-sama tanpa perlu “sendirian.” Di sini, galeri pun menjadi benteng terakhir melawan serbuan kesunyian yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Sementara itu, terkait karya-karya digital itu sendiri, tampak jelas adanya dialog antara sosok, latar, dan imaji-imaji yang mengajak kita memaknainya, meskipun tidak semua hubungan itu gamblang. Bagi saya yang sangat menikmati puisi, karya-karya Bobby menyerupai puisi yang menampilkan elemen-elemen yang tak urung menguarkan cerita. Lihatlah raut muka yang mungkin menyiratkan harapan (“I’m so deep in our stolen moment”), kepolosan (“#ripintan”), kehancuran (“Ode to My Angel”), pemakluman (“Our Secret Area”) dan lainnya. Hubungkan sosok-sosok itu dengan latar mereka seperti metropolitan, perjalanan dunia, kota yang koyak, stasiun kereta api, dan sebagainya. Dan lanjutkan lagi menghubungkannya dengan objek-objek domestik seperti lampu tidur, lilin, kopi, kunci. Jangan berhenti dulu: hubungkan sosok manusia, latar, detail, dan imaji-imaji wajib seperti siluet kijang jantan yang ingin tampil gagah dan purnama yang mengesankan keagungan malam[1], burung berbagai rupa yang ingin dimaknai, dan peti-peti beserta kuncinya yang melambung itu.

Dengan menghubungkan imaji-imaji itu, setiap karya ini akan menjadi puisi. Mungkin akan terdengar bombastis, tapi bagi saya Bobby menjinakkan dan menggiring imaji-imaji yang bertebaran di rimba raya dunia maya itu dan meletakkannya di meja dapur kesadaran kita. Kita tinggal melanjutkan dengan mengolah semua itu hingga menghasilkan masakan yang cocok untuk lidah kita, tentunya dengan bantuan belati, garam, merica, dan rempah  kita sendiri. Dengan kalimat lain, tugas kita hanyalah membuat narasi yang utuh, yang bermakna, dari citra-citra yang sudah dirangkai oleh Bobby di tiap-tiap bingkai itu. Dan, sekali lagi, pameran fisik karya-karya ini lebih memungkinkan kita untuk berlama-lama menikmatinya bersama-sama, tanpa perlu kesepian, tanpa dibayang-bayangi kenyataan bahwa backlight smartphone akan mati sebelum kita rampung merangkai makna.

pingin baca kritiknya? klik di sini

Cuma Guyonan Kosong?: Eksplorasi Bingkai-bingkai Kiat Sukses Hancur Lebur

Puji syukur ke hadirat Allah saya ucapkan karena adanya kesempatan untuk melanjutkan postingan tentang Kiat Sukses Hancur Lebur oleh Martin Suryajaya ini. Dalam postingan ini, saya akan membahas bagian “Catatan Editor” yang pada novel lain mungkin bisa diberi judul “Prolog.” Menurut saya, pembacaan bagian ini sangat penting karena jika kita lakukan dengan sabar, tepat, dan proporsial, kita akan mendapat kerangka yang jelas dan kokoh untuk membaca bagian selanjutnya. Dan, pembacaan yang tepat itu juga yang memungkinkan kita menerima novel ini sebagai sesuatu yang menggairahkan, relatif jelas (tentu dengan definisi yang sangat liberal untuk kata “jelas” ini), dan tidak menyiksa.

Seperti biasa, sebelum membicarakan hal yang pokok, kita perlu membahas yang sepele tapi penting dibahas dulu: saat berhadapan dengan suatu objek yang mengandung bagian-bagian yang ganjil dan sulit, kita cenderung memberinya perhatian secara berlebihan, tidak proporsional, dan pada akhirnya kita akan terjerumus ke dalam fenomena eksistensial bernama “gagal fokus.” Itulah yang sementara ini saya lihat di postingan-postingan blog yang membahas novel ini. Saya janji, kali ini saya tidak akan mengajak Anda untuk terjerumus ke dalam hal-hal serupa. Saya akan mencoba sebisa mungkin memberikan fokus yang sewajarnya sehingga novel ini terasa mengasyikkan dan tidak sulit, karena memang seperti itulah semestinya novel ini. Begitu argumen saya.

Maka, kali ini kita akan mengawali dengan membaca bagian “Pengantar Editor,” bagian penting yang sekilas saja dibahas oleh blogger yang membuat postingan tentang novel ini. Bagian ini berisi cerita dari Andi Lukito tentang bagaimana manuskrip Kiat Sukses Hancur Lebur bisa sampai ke tangannya (dan akhirnya ke tangan para pembaca). Di dalam bagian ini kita mendapat informasi bahwa Andi Lukito, seorang kritikus sastra, mendapatkan manuskrip ini dari salah satu guru sastranya, Thomas Tembong, yang merupakan seorang anggota “Tujuh Pendekar Kere,” sebuah kelompok budayawan sastra tanding dari Semarang. Salah satu anggota lain kelompok ini adalah Anto Labil, S. Fil., yang dikenal sebagai anggota yang memiliki “kuda-kuda paling kokoh” dalam urusan sastra dan filsafat. Anto Labil, S. Fil. telah lenyap, tapi sebelumnya dia sempat meninggalkan sebuah manuskrip yang dia titipkan kepada Thomas Tembong untuk dikomentari. Nah, manuskrip itulah yang akhirnya diedit dan diberi pengantar oleh Andi Lukito.

Bagian pertama ini memang sedikit, tapi dia sangat vital dalam proses memahami novel ini. Kalau dihitung secara serius (tolong dilafalkan “sikhrius” seperti bahasa Perancis, biar terdengar lebih serius, “Catatan Editor” ini hanya 2,5% dari seluruh dunia buku Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya. Yang 97,5% adalah buku Kiat Sukses Hancur Lebur karya Anto Labil, S. Fil. Sedikit sekali memang. Tapi, karena bagian ini memberikan kita gambaran tentang dunia yang ada di dalam novel Martin Suryajaya ini, dan karena dalam dunia itulah semestinya kita memahami novel Kiat Sukses Hancur Lebur karya Anto Labil, S. Fil. itu, maka mau tidak mau kita harus memberinya perhatian yang serius, yang proporsial.

Saya yakin penjelasan di atas agak menjemukan buat penggemar postingan blog pada umumnya. Maka, demi kesejahteraan kita bersama, saya berikan Bagan 1 di bawah ini.

bagan_i
Bagan I – Konstruksi Tumpuk-tumpuk Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya

Bila kita melalaikan atau menganggap sepele “Catatan Editor” ini dan langsung masuk membahas Kiat Sukses Hancur Lebur versi Anto Labil itu, akibatnya berabe. “Catatan Editor” ini sangat bisa membantu kita menunjukkan dunia yang ingin disajikan oleh Martin Suryajaya dalam novelnya. Kalau kita bandingkan dengan novel-novel lazimnya, pengantar Andi Lukito ini memberikan deskripsi tentang dunia yang ingin dihadirkan Martin Suryajaya dalam novelnya, yaitu dunia di tahun 2025, dunia pasca-reformasi, yang pernah dihuni oleh “Tujuh Pendekar Kere” dan seorang Harmoko yang pernah menulis buku Pikiran, Ucapan, Tindakan, Pikiran, Ucapan, Tindakan dst. Tentu, ini dunia fiksi, dan Harmoko maupun Soeharto di sini juga berbeda dengan Harmoko dan Soeharto yang ada di dunia kita. Di dalam dunia inilah terdapat sebuah manuskrip novel Kiat Sukses Hancur Lebur karya Anto Labil, S. Fil. Dan, cerita Andi Lukito bahwa Anto Labil dan para anggota “Tujuh Pendekar Kere” yang didera kemiskinan, tergencet Orde Baru, dan pergulatan mereka menghadirkan estetika sastra baru itu akan membantu kita memahami kenapa novel Anto Labil itu berbentuk demikian. Tanpa pemahaman akan konstruksi seperti ini, akan dengan mudah kita menganggap bahwa novel Martin Suryajaya ini tidak untuk diartikan. Seperti penulis ini, misalnya: dia menyamakan novel Martin Suryajaya ini dengan Codex Seraphiniasus karya Luigi Serafini. Bijakkah kita buru-buru memutuskan itu, memutuskan bahwa hasil kerja Martin Suryajaya ini sekadar bualan tanpa isi, sebelum setidaknya lima kali membacanya? Tunggu dulu.

Satu hal lagi yang perlu disoroti dari catatan Andi Lukito ini adalah pergulatan pemikiran Anto Labil (dan gerombolan sastranya). Menurut Andi Lukito, “Tujuh Pendekar Kere” adalah kelompok yang bergulat dengan pemikiran dan perbuatan. Hidup mereka keras, dan “kere.” Tapi mereka tekun berdiskusi dan memikirkan nasib sastra Indonesia tanpa mau begitu saja ikut ke blok kanan dan blok kiri (tolong dimaklumi, istilah blok kanan dan kiri ini saya pakai dengan pertimbangan ala kadarnya). Sebagai kelompok yang kekiri-kirian, mereka tidak mau tunduk ke estetika humanisme universal. Tapi, itu tidak berarti bahwa mereka tunduk taklid dengan estetika realisme sosialis yang diusung Lekra (lihat hal. 10). Dalam tafsiran saya, ini berarti Tujuh Pendekar Kere ingin mencari estetika yang nyeni sekaligus politis, politis sekaligus nyeni. Dan, dari narasi Andi Lukito, kita tahu bahwa pergulatan mereka ini tak kunjung berakhir–bahkan, pada saat Andi Lukito menuliskan catatan ini pun belum ada satu pun dari tujuh pendekar itu yang menelorkan (atau melahirkan, karena pengarang adalah mamalia) karya. Selain tentu saja si Anto Labil ini, yang ini pun juga belum kelar. Maka, kalau kita memahami bahwa Anto Labil adalah satu-satunya pendekar yang masih bergulat dan belum juga menyelesaikan estetikanya itu, maka demikian pula lah kita memahami draf Kiat Sukses Hancur Lebur tersebut. Kita hendaknya menganggap gaya tulisnya yang terbaca seperti tulisan “penyair mabuk yang hampir pingsan” ini sebagai pilihan estetiknya–meskipun belum juga paripurna sebagai sebuah estetika. Dan jangan lupakan, dia bukan jenis seniman yang mengejar kekosongan. Dia bahkan menyebut estetikanya dengan sebutan “sastra kerakyatan.” Maka, kalau memang Anda berpegangan saat membaca buku yang membikin otak kocak ini, itulah pegangan Anda: bahwa karya Anto Labil ini bukan karya omong kosong (meskipun omong kosong adalah elemen pembentuk utamanya, dan ini akan kita bahas pada postingan selanjutnya).

Dengan demikian, tidaklah bijak membaca novel ini sebagai sebuah karya kosong seperti halnya disampaikan oleh penulis yang saya tautkan di atas. Codex Seraphinius bukanlah bandingan yang tepat untuk novel Kiat Sukses Hancur Lebur oleh Martin Suryajaya ini. Kalau menggunakan kiasan yang lazim sekitar Pemilu Indonesia 2014, perbandingan ini tidak “apple to apple.” Terkait itu, penggunaan semiotika tertutup untuk membahas buku ini tanpa mempertimbangkan keseluruhan bangun dunia yang ada di dalam novel Martin Suryajaya ini juga kurang tepat. Kalau menggunakan jargon hari-hari ini, menyoroti akrobat linguistik dan penandaan Anto Labil seolah-olah itu inti dari novel Martin Suryajaya ini sama dengan: gagal fokus.

Ada juga gejala yang semestinya perlu dipikirkan ulang: kecenderungan menerimanya sebagai guyonan belaka. Dari penjelajahan blogosphere sekilas, saya temukan bahwa ada juga orang-orang yang menikmati novel ini sebagai guyonan dan hura-hura saja. Kalau melihat konstruksi dunia dalam novel Martin Suryajaya ini, pandangan itu juga mestinya diluruskan. Sekali lagi, Anto Labil menulis draf novelnya seperti itu sebagai respons atas sebuah dunia yang menekannya (dan juga respons atas keinginannya sendiri menemukan estetika yang sepertinya dia anggap belum pernah Ada). Jadi, menganggap kerja berat Anto Labil ini sebagai sekadar guyonan adalah sebuah tindakan penyepelan. Guyonan adalah salah satu elemennya, tapi bukan itu saja. Kalau Anda pembaca di rumah membaca novel ini untuk mendapatkan guyonannya saja, itu sah-sah saja. Toh, kata teoretikus ilmu komunikasi, sebuah ujaran itu bersifat “multiinterpretatif” dan “mulaksentuasi,” atau bisa diterima dengan cara yang berbeda-beda dari satu orang ke orang lain–bahkan bisa berbeda dengan maksud penulisnya. Tapi, kalau menggunakan kiasan kontemporer: membaca novel Martin Suryajaya ini untuk mendapatkan guyonannya itu mirip dengan membeli dan mengendarai Kawasaki KLX (motor trail) generasi terbaru untuk mengantar anak kita ke sekolah SD yang jaraknya cuma 1 KM dan lewat jalan aspal kota (padahal, semestinya bisa dilakukan dengan naik Yamaha Mio tahun 2011 warna biru seperti punya saya).

Maka, demikian lah postingan kedua tentang novel Martin Suryajaya ini. Biar saya simpulkan: dalam membaca Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya, kita semestinya tidak menganggap sepele “Catatan Editor” yang ditulis oleh Andi Lukito, karena dia menjadi lubang kunci yang membantu kita melihat siapa itu Anto Labil, S. Fil. dan kenapa draf novel Anto Labil berbentuk ganjil seperti itu. Dan, untuk meningkatkan faedah buku ini, lebih dari sekadar menganggapnya sebagai guyonan yang kosong makna, saya undang Anda membacanya beberapa kali lagi. Menurut saya, buku ini mengasyikkan di permukaan dan lebih mengasyikkan lagi di kedalaman.

Demi kejelasan, saya ingin menegaskan ini:

  1. “novel Martin Suryajaya” mengacu kepada novel Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya yang diterbitkan oleh Penerbit Banana.
  2. “draf novel Anto Labil” mengacu ke draf novel Kiat Sukses Hancur Lebur yang ditulis Anto Labil, S. Fil. dan diedit oleh Andi Lukito.