Patti Smith dan Upaya Mentransfusi “Smells Like Teen Spirit”

Hari ini saya menemukan* satu hal yang tidak standar, “Smells Like Teen Spirit” dari Nirvana dimainkan oleh Patti Smith. Tidak standar tentu saja. Patti Smith yang menjadi tulang punggung proto-punk memainkan salah satu masterpiece “punk” dari era dua dekade di bawah angkatannya. Tentu saja saya memakai istilah “punk” di sini lebih berhubungan dengan etos, sikap, perilaku. Dan selalu, kejadian seperti ini mendatangkan berbagai pikiran bungah hati.

Yang namanya Patti Smith, sosok yang nglakoni “punk” dengan merdeka itu, tentu tidak akan puas hanya mengkover sebuah lagu. Tidak. Beliau tidak hanya mengkover, tapi juga merevivalisasi, merejuvenasi, menghidupkan kembali, dengan sumbangan darah dan jiwa. Dia interpretasi ulang lagu itu demi menghadirkan pembacaan yang lebih simpel atas nada-nadanya. Musiknya menjadi lebih sesuai kecenderungan Kurt Cobain di akhir masa hidupnya (lebih sederhana), dan sesuai juga dengan kecenderungan sepuluh tahun terakhir para musisi lain yang seringkali dimasukkan ke “grunge bandwagon” seperti alm. Chris Cornell (di album Songbook) dan Tuan Eddie Vedder (lihat album Into the Wild dan Ukulele Songs).

Patti Smith menggunakan aransemen yang lebih sederhana. Terdengar di sana elemen-elemen folk Amerika atau Americana seperti banjo atau mandolin–saya perlu dengar sekali lagi untuk memastikan. Seringaian Kurt Cobain menjadi lebih pasrah. Yang ini berbeda sekali dengan interpretasi Paul Anka yang cenderung menggelontor “teen spirit” dalam lagu ini dan menjadikannya “presentable” seperti musik yang “mature”.

Pesan khusus untuk Paul Anka: Maaf, Paul, seindah apapun aransemenmu, aku tidak menemukan Kurt di situ, apalagi kau ubah “load up on guns” menjadi “load up, load up.” Musikmu seksi, tapi musik Kurt ekspresi. Musikmu kau sajikan bagi kami, tapi musik Kurt hanya meminta kami mengerti.

Kembali ke interpretasi Patti Smith, “Smells Like Teen Spirit” mendapatkan aksesori, semacam sematan bros di dada. Aksesori itu adalah spoken words khas Patti Smith (yang juga sangat lazim di kalangan proto-punk maupun para pelakon “punk” lain seperti Henry Rollins. Jangan lupa, bahkan Bernie Sanders (sang mantan calon capres Amerika Serikat itu) pernah suatu kali rekaman spoken words, bukan tanpa terpengaruh musisi punk–dia mendukung para musisi punk lokal negara bagian Vermont saat masih jadi politisi dan aktivis muda. Untuk “Teen Spirit,” Patti Smith memberikan spoken words yang (mungkin tidak mengejutkan bagi Anda) sangat terasa aura Beat Generation-nya. Anda akan lihat nanti di bawah ini. Tapi sebelumnya,  biarkan saya dukung klaim saya: puisi Patti Smith sangat terasa senada dengan bagaimana Allen Ginsberg membuka puisi ikonik “Howl” yang berbunyi ” I saw the best minds of my generation destroyed by madness, starving hysterical naked.” Ada kehancuran, kerusakan badani, kepayahan, dan sejenisnya, membuka puisi ini. Patti Smith menyelipkan itu seolah ingin memperkuat semangat “Teen Spirit.”

Sebagai penikmat, saya tentu memiliki interpretasi sendiri, dan tidak sepenuhnya setuju dengan Patti Smith. Bagi saya, “Teen Spirit” menguarkan kebrutalan semangat muda, tapi menunjukkan aura positifnya yang bersedia menerima siapa saja “a mulatto, a mosquito, an albino, my libido” (segala hal yang seringkali dikesampingkan).

Tapi, tetap saja, sebuah interpretasi yang dilakukan dengan total selalu bisa mendapatkan penghargaan tersendiri. Dan di sini, saya ingin menghargainya dengan menerjemahkan spoken words Patti Smith tersebut. Silakan periksa upaya awal ini dan sarankan perbaikan kalau perlu:

tangan hampa kesucian
menghidupi jalan derita,
dan anak-anak liar yang diburu mencabik-cabik tirai,
menggulung kafan jasad dunia yang yang dikerubuti lalat
menggulingkan meja berhias burung tumbal dari perak,
memukul gendang kulit kambing,
maju dengan tangan terentang
selagi kita mencekoki mereka dengan merkuri, nitrat, asbestos,
bom-bom bayi meledak biru
burung pemakan bangkai mengorek sisa-sisa bakaran
anak-anak penggilingan, anak-anak pembuangan,
mengantuk, buta huruf, tikus-tikus kecil kusut,
ketakutan, menghirup cat,
melayang meninggalkan kepala plontos mereka,
terlupakan, memulung, anak-anak sihir,
bermulut kotor, berhalusinasi…

* Saya tahu tentang versi ini berkat sebuah tweet yang diretweet oleh mas Samack.

Advertisements

Ngobrol Buku di Tengah Arung Jeram

Di hari-hari yang melelahkan ini, selalu ada hal-hal yang cukup menyegarkan. Kalau buat saya yang hari-hari ini seperti sedang berenang di arena arung jeram ini, hal-hal menyegaran itu berupa melihat murid-murid saya menikmati membaca Hemingway yang minim informasi itu dan kemudian berani menyampaikan tafsiran-tafsiran yang melengkapi pemaknaan, atau melihat mereka beradu tafsiran atas Hotel California yang suram-duram itu. Dan, satu lagi: yaitu kemarin, ketika saya dan beberapa kawan dosen dan staf di Universitas Ma Chung akhirnya jadi bertemu di salah satu ruang diskusi di perpustakaan untuk berbincang tentang buku yang kami sukai. Itulah topik postingan absen ini.

Pertemuan kami tersebut menyegarkan bagi saya karena adanya elemen tak lazim. Sekadar info: pertemuan orang-orang untuk membicarakan buku atau karya sastra itu sudah bagian dari keseharian kota Malang yang lagi gemar menggalakkan literasi. Yang menjadikan pertemuan kami lain adalah karena orang-orang yang bertemu adalah dosen dan staf dari berbagai bidang ilmu (sastra, matematika, kimia, desain, dan pustakawan) tapi untuk membincangkan karya sastra dan tulisan populer. Dosen-dosen yang pada jaman now “didera” kewajiban mengerjakan penelitian, berpengabdian kepada masyarakat, dan (tentu saja) mengajar ini ternyata meluangkan waktu untuk ngobrol fiksi.

Menariknya, ada yang berpandangan bahwa membaca fiksi berpengaruh terhadap kinerja dosen. Mungkin saya mengeneralisasi dengan agak brutal di sini, tapi tak apa. Begini maksudnya: kebiasaan membaca tulisan fiksi yang mengalir dan cenderung memperhatikan keindahan berbahasa (tentu “keindahan” di sini dimaksudkan secara luas) pada akhirnya bisa mempengaruhi rasa bahasa seseorang. Ini pendapat yang disampaikan rekan saya Aditya, dosen Desain Komunikasi Visual. Menurutnya, pengalamannya membaca karya sastra membuat dia bisa menulis dengan agak hidup, lebih luwes, dan tidak teknis-instrumentalis (hanya sebagai pengantar pesan). Kongkretnya, membaca fiksi menjadikannya mampu menulis untuk media massa (yang dalam lingkup akademis dianggap sebagai media populer, yang berhubungan dengan orang banyak, orang-orang di luar lingkup akademis–berbeda dengan artikel jurnal yang audiensnya adalah lingkungan akademis). Kira-kira begitulah pandangan rekan Aditya, yang menurut saya sangat menarik untuk ditelusuri lebih jauh dan dibisikkan ke orang-orang.

Pertemuan kemarin adalah pertemuan subtansial kami yang pertama. Sebelumnya kami pernah bertemu untuk membicarakan rencana ini, terus selanjutnya lagi kami bertemu tapi ternyata venue yang kami rencanakan sedang dipakai untuk bedah buku orang lain. Baru kemarin kami sempat berbincang buku sesuai yang kami rencanakan. Di pertemuan pertama itu, yang kebagian berbagi bacaan adalah saya (dosen sastra Inggris) dan rekan Reyna (dosen Matematika). Saya berbagi pembacaan saya atas kumpulan cerpen Yusi Avianto Pareanom yang berjudul Muslihat Musang Emas dan rekan Reyna berbagi buku Anne Frank and the Children of the Holocaust karya Carol Anne Lee. Masing-masing kami dapat bagian setengah jam, yang kami gunakan dengan maksimal. Saya menceritakan cerpen-cerpen anti-klise dalam buku Muslihat sambil memberikan sinopsis dua cerita secara lengkap (biar rekan-rekan tahu) plus membacakan bagian-bagian tidak biasa dari buku tersebut, terutama palindrom dalam cerpen “b.u.d.” Rekan Reyna mengisahkan buku yang seperti biografi Anne Frank yang diambil dari berbagai sumber (wawancara, laporan berita, dan tentu saja buku harian Anne Frank). Pada bagian-bagian kritis ceritanya, rekan saya yang dosen Matematika itu tampak terbawa emosi.

Semoga pertemuan yang diawali dengan kebahagian dan kesegaran ini bertahan lama atau bahkan bisa mengajak semakin banyak rekan dosen dan staf untuk bergabung. Untuk pertemuan selanjutnya, saya sudah tidak sabar ingin mendengar buku-buku lain, non-fiksi, fiksi, komik, dan lain-lain. Kalau yang seperti ini berjalan lancar, berenang di arena arung jeram sambil melawan arus pun tak masalah. Berenang itu menyehatkan, arena arung jeram itu menggairahkan, dan toh ada yang namanya pelampung dan perahu karet yang selalu bisa kita jangkau dan naiki kalau kita memang perlu sedikit beristirahat. Lagipula, toh arena arung jeram itu juga tidak melulu bergolak dan mobat-mabit. Ada kalanya arus tenang di mana kita bisa membenahi ikatan helm, menguras air dari perahu karet, membenahi posisi dayung dan sebagainya. Di situlah mungkin seninya. Ada saatnya gas pol, ada saatnya rem pol, ada saatnya pakai cruise control!

Nama Motor, Doa, Optimisme, dan Pemanasan Global

Karena dalam tradisi Islam nama adalah doa, Muslim pun menamakan anak-anaknya dengan nama-nama yang baik. Beberapa waktu yang lalu, Eka Kurniawan, novel Indonesia yang lagi naik daun di medan internasional, mengatakan dia percaya bahwa nama itu adalah semacam kristalisasi dari seseorang. Pendeknya, sebuah nama itu bisa mewakili gambaran atas seseorang, dan karenanya dia tidak memberi nama karakternya dengan nama-nama yang tidak akan mungkin ditemui pada orang-orang semacam itu (misalnya, dia mungkin tidak akan memberi karakter dari Pangandaran nama-nama seperti Francois Le Pen). Semua gagasan itu menurut saya bisa diterima dengan tanpa perlu harus keberatan. Dan karena itu pulalah, kadang-kadang saya jadi menyesalkan perubahan trend penamaan sepeda motor oleh pabrikan Jepang (sementara kita tidak perlu mendiskusikan pabrikan Tiongkok dalam forum ini).

Menurut hasil pengamatan saya yang cukup terstruktur, sistematis, dan masif–tapi tidak akan saya beberkan semuanya kepada Anda–telah terjadi perubahan signifikan ke arah yang kurang baik dalam hal penamaan motor. Di awal-awal dulu, tahun 1970-an dan sebelumnya, kita bisa mendapati nama-nama alfanumerik. Lihatlah misalnya, Yamaha 75, atau Honda S90, Suzuki GS, Honda GL100, CB 100, dan sejenisnya. Kalau kita percaya bahwa nama semestinya adalah doa, doa macam apa ini? Saya kesulitan membayangkan orang berdoa: “Ya, Allah, jadikanlah anakku ini C90.” Mustahil, kawan. Tapi saya bisa memahami, karena mungkin waktu itu pabrikan-pabrikan motor tersebut masih dibilang masa-masa awal perkembangannya secara internasional.

Untungnya, pada masa-masa setelahnya, kita mendapatii apa yang saya sebut sebagai masa keemasan penamaan motor. Lihatlah, dari Honda mulai muncul Super Cup. Agak sulit sebenarnya menalar maksud “Cup” di sini. Tapi paling tidak ada kata “super” yang memberikan motivasi luar biasa. Ada Superman yang kuat dan percaya diri, ada Super Mario yang pemberani, dan ada Salam Super yang mendatangkan Rupiah. Dari Yamaha, kita temukan sosok L2Super dan–yang paling dahsyat–RX King (yang kita tahu merupakan Raja Jalanan dengan akselerasi super spontan yang mungkin belum tertandingi motor mana pun sampai saat ini, menurut saya). Masih ada lagi nama-nama seperti Force 1 dan Alfa. Dua nama terakhir ini adalah nama-nama yang mengesankan keunggulan urutan.

Penamaan yang berorientasi doa seperti ini tampak jelas pada dekade 80-an dan 90-an. Pada lini motor bebek dari Honda, kita bisa dapati Astrea Prima, Astrea Star, Astrea Grand, dan berujung pada Astrea Supra (lagi-lagi super!). Bahkan, versi murah dari Astrea ini pun diberi nama yang berorientasi doa seperti Legenda (dan Legenda 2, nah, kurang apa?). Tapi, tentu saja, penamaan yang paling dahsyat tetap ada pada Honda Win, yang sulit dipungkiri kemenangannya (menurut pendapat saya yang paling obyektif tanpa setitik pun bias, meskipun pada kenyataannya saya pengendara Honda Win). Renungkanlah nama itu: Namanya saja Honda Win 100. Menang satu atau dua kali atau tujuh kali (seperti Lance Armstrong) masih manusiawi, tapi kalau menang 100 kali? Itu baru pemenang sejati! Nama-nama unggul lainnya yang juga melegenda adalah GL-Max, Pro, dan Mega Pro. Setelah itu, agak menyedihkan.

Memang, menurut penelitian saya, masa keemasan penamaan berorientasi doa ini hanya tampak agung pada Honda dan Yamaha. Trend tersebut sayangnya tidak berlaku untuk Suzuki atau Kawasaki. Suzuki memakai nama-nama yang sekadar nama: Suzuki Crystal (yang bunyi cemprengnya terdengar sejernih kristal dari jauh) atau Tornado (yang sebenarnya tidak menderu seperti Tornado) atau RGR (sulit menalar nama ini). Begitu juga Kawasaki, dia punya Kaze, kata bahasa Jepang yang jelas tapi tentu saja kurang akrab di telinga orang Indonesia yang punya kecenderungan laten Eurosentris.

Sayangnya, memasuki pertengahan 2000-an, kita mendapati trend yang patut disesalkan. Honda mencoba merangkul penamaan Indonesia dengan Karisma, yang masih lumayan berorientasi doa. Tapi sepertinya itu yang terakhir. Di masa yang kurang lebih sama, kita juga menemukan nama seperti Kirana, atau Vega. Kita juga menemukan nama Revo. Dari pabrikan Yamaha, kita temukan Jupiter (kenapa, minimal, bukan Mercury yang paling depan dan paling panas?). Memang sih, di Suzuki masih ada gaung dengan nama seperti Satria. Tapi nama semacam ini termasuk minoritas, kan? Dan itu yang terakhir.

Dan kemerosotan paling dahsyat ada pada penamaan yang menyertai banjir bandang scootic alias scooter matic. Lihatlah: Beat, Vario, Nuvo, Mio, dan sebagainya dan seterus. Ah! Saya tambah kesulitan membayangkan doa “Ya Tuhan, miokan aku, atau setidaknya variokan…” Sulit-sulit-sulit!

Yang cukup menyedihkan adalah akhir-akhir ini kita mendapati lagi nama-nama alfanumerik. Seorang kawan dengan bangga dan sukacita mengendarai motor Kawasaki ZX250 untuk touring Jawa, Bali, Lombok. Dapur pacu dan performa keselamatannya dahsyat, tapi namanya itu, sayangnya! Bahkan Honda kembali menghidupkan lini CB dengan dapur pacu lebih besar: CB150R. Bahkan scootic pun ikut-ikutan dengan N-Max, D-Max, Z-Max dan Max-max yang lain. Apa lagi di bilangan motor trail. Ah, ini sih dari awalnya. TS, GS, dll. Dan kini ada KLX, KTM, Cross 150X, dll.

Maka, saudara-saudara CEO pabrikan motor Jepang yang terhormat, kalau Anda memang peduli dengan citra dan doa dan kualitas yang adiluhung, perhatikan concern saya ini. Tengoklah optimisme masa-masa keemasan itu, ketika nama-nama begitu indah terdengar dan mudah dimasukkan ke dalam doa. Bahkan, kalau perlu, coba lah menghidupkan lini-lini yang pernah jaya, demi memberikan cita rasa yang indah kepada generasi muda ini. Hidupkan kembali, misalnya, Honda Win 100 atau RX King Cobra. Berikan pula pilihan mendapatkan Astrea Prima atau Grand. Pertimbangkan. Atau, kalau tidak mau memproduksi lagi, tawarkanlah jasa refurbasi, sehingga pemilik motor tua bisa meremajakan lagi motornya tanpa beli baru. Mungkin Anda menganggap ini hanya nostalgia dan sekadar kegagalan move on. Tapi tidak, pertimbangkan bagaimana optimisme bisa tumbuh kembali di zaman ini dengan nama-nama indah itu. Bayangkan pula, berapa banyak limbah yang bisa dikurangi kalau kita hanya perlu meremajakan daripada membuat baru? Dengan kesadaran seperti ini di tengah pemanasan global (yang diingkari Donald Trump dan pimpinan partai Republik di Amerika), betapa akan senangnya bumi kepada kita…

 

Embun di Medini

berjalan pagi di makadam kebun teh
tidak selalu seindah foto dari Nikonmu
apalagi saat kau mulai makro pada kilau
di ujung-ujung daun itu pada embun
yang sungguhnya mencengkeram
tapi kita mengharapnya
menetes, menyerah
pada gravitasi
padahal
selalu ada pilihan
untuk menguap perlahan
seiring mendakinya matahari.

Bahkan Berfoto Pun Kini Berpotensi Merusak

Satu ujaran yang sangat lazim terkait naik gunung dan mencintai alam adalah “Leave nothing but footprints. Take Nothing but pictures.” Maksud dari ujaran ini tentu saja sudah jelas, bahwa saat mengunjungi alam, kita tidak semestinya meninggalkan sampah atau mengambil apapun dari sana. Tapi–seperti biasanya, ada tapi–bahkan ungkapan ini pun saat ini harus kita pertanyakan lagi, khususnya di zaman medsos ini: mengambil foto pun bisa berpotensi merusak alam.

Ternyata, hasrat berfoto kita begitu tak terbendung. Satu hal yang sangat mengagetkan saya ketika pertama kali menyempatkan berwisata mainstream adalah begitu seriusnya keinginan kita untuk befoto. Tempat wisata pertama yang saya kunjungi setelah lima tahun absen dari Indonesia adalah Batu Secret Zoo, yang saya kunjungi tepat pada Tahun Baru Imlek beberapa bulan lalu. Sejak di pintu depan, saya takjub melihat banyak sekali orang memegang tongkat selfie. Begitu memasuki Batu Secret Zoo, di bagian tikus air raksasa (yang dalam bahasa Jawa disebut “wergul”), mulailah terlihat seberapa besar hasrat berfoto kita. Di bagian agak dalam, pengelola Batu Secret Zoo ternyata menyambut hangat hasrat berfoto itu dengan menyediakan sejumlah binatang yang bisa diajak berfoto bareng atau berselfie–tentu dengan membayar.

Apa yang terlihat di Batu Secret Zoo ini sementara saya pakai sebagai penegasan atas maraknya instagram serta banyaknya foto (selfie, pemandangan, binatang, dll) yang diposting di sana. Kalau melihat instagram saja, saya hanya bisa menyadari betapa banyaknya foto dan betapa gemarnya foto di sana. Tapi, saat menyaksikan dengan kepala sendiri bagaimana kejadian sebenarnya di luar, bagaimana bergairahnya orang-orang mengambil foto, saya jadi tahu bahwa ada yang sebenarnya lebih dahsyat dari maraknya instagram itu. Orang bisa mengambil sepuluh foto yang hanya satu di antaranya diposting di instagram atau facebook. Artinya, kegiatan berfoto orang bisa sangat besar.

Yang tak bisa dipungkiri adalah bahwa hasrat mencari spot yang tak biasa. Tentu orang tidak suka kalau dia hanya mengambil foto dari tempat-tempat yang biasa saja seperti Batu Secret Zoo, sebuah tempat yang bisa dijangkau siapa saja (yang tidak kesulitan mengeluarkan minimal Rp120.000). Hasrat untuk agak berbeda (atau tidak tampil terlalu mainstream) membuat orang mencari tempat-tempat baru yang tidak banyak diketahui orang, atau yang tak biasa. Satu dampak berbahayanya adalah apa yang terjadi di Taman Bunga Mekarsari beberapa tahun yang lalu. Karena hasrat berfoto di tempat yang tidak biasa (yang mirip ladang tulip di Belanda!), akhirnya berduyun-duyun orang mendatangi Taman Bunga Mekarsari, hingga taman bunga itu sendiri menjadi Taman Selfie Mekarsari, yang bunganya rusak terinjak-injak. Hasrat ingin tampil berfoto di tempat berbeda ini ternyata berujung pada kerusakan. Tampil beda ternyata hanya menguntungkan bagi yang tampil, tapi tidak bagi yang lain.

Bagaimana kalau tempat yang tidak mainstream untuk berfoto itu adalah alam yang semestinya dibiarkan liar? Itulah yang akhirnya bisa menghawatirkan. Dan yang lebih membuat kuatir adalah karena kekhawatiran itu sangat masuk akal, dan sudah di depan mata. Hasrat orang untuk berfoto di tempat yang tidak standar ini ternyata direspons oleh mereka yang ingin meraup untung dengan menggunakan alam untuk berfoto. Satu contohnya adalah Coban Rais di Kecamatan Dau, Kota Wisata Batu. Sejumlah bukit di kawasan yang dulunya wana wisata dan bumi perkemahan ini kini telah dan tengah dikembangkan menjadi taman-taman bunga. Meskipun nama resminya taman bunga, tempat ini lebih menyerupai taman foto, karena tampak sekali bahwa orang-orang ke sana lebih untuk berfoto ketimbang menikmati dan mempelajari bunga-bunga. Wana Wisata dan Bumi Perkemahan yang dulunya sangat suwung dan bahkan tidak punya tempat parkir yang permanen itu kini menjadi begitu ramai dengan ratusan sepeda motor datang tiap hari libur. Di sini, orang bisa berfoto pada platform-platform kayu dengan latar belakang perbukitan, persawahan, dan kota Malang di kejauhan. Pendeknya, sejauh ini masih belum mainstream.

Yang semakin menjadikan urusan ini dilematis adalah ketika orang-orang yang datang untuk berfoto itu akhirnya juga ingin ke air terjun Coban Rais di kawasan hutan basah alami itu. Banyak juga pengunjung taman bunga itu yang akhirnya juga pergi ke air terjun Coban Air. Sebagian di antara mereka mungkin memang penggemar naik gunung atau jelajah hutan yang memang suka mengunjungi tempat-tempat alami yang tidak mainstream seperti itu. Tapi, tidak sedikit juga yang sebenarnya mungkin tidak akan ada niat ke sana kecuali memang ingin berfoto tidak biasa. Orang-orang yang berpenampilan lebih mirip untuk berfoto ketimbang naik gunung (baju non olahraga, sepatu jalan ke mal, dan sejenisnya). Orang-orang ini ikut memasuki hutan demi berfoto, melewati jalan yang semestinya harus dijaga tetap alami. Pada jam-jam paling sibuk, ada 10 orang per menit, yang ikut masuk ke dalam hutan. Bila sebuah tempat yang mestinya harus tetap alami demi kelestariannya akhirnya harus didatangi orang sebanyak itu tanpa ada usaha untuk menjaga mana yang harus dilewati dan mana yang bisa dibiarkan, maka yang bisa diharapkan adalah kerusakan. Dan ini benar-benar tidak bisa dilepaskan dari hasrat untuk berfoto.

Bagaimanapun, tentu kita masih perlu mengakui bahwa ini merupakan persoalan yang terbilang kecil. Di banyak tempat, banyak korporasi (baik milik negara maupun swasta) yang mengeksploitasi alam yang berpotensi menyebabkan kerusakna lebih besar. Perusahaan Semen yang saat ini sudah memulai pendirian pabrik di Kendeng dan kawasan perbukitan karst di Rembang dan cekungan air berpotensi menyebabkan kerugian lebih besar buat penduduk kawasan tersebut. Ini masalah yang lebih besar dan perlu diperjuangkan bersama-sama. Tapi, pada tataran yang lebih kecil, pada tataran perseorangan, kesadaran akan hal-hal semacam ini sifatnya wajib. Tanpa kesadaran mendasar bahwa ada hal-hal yang kita lakukan yang berpotensi merusak alam, memperjuangkan hal-hal yang besar akan seperti tindakan kemunafikan.

Jadi, begitulah kiranya, saat ini, bahkan urusan berfoto di alam pun tidak bisa seenaknya kita lakukan. Dan ini bukan persoalan sepele. Di satu sisi hal ini sangat pribadi, tapi di sisi lain hal ini juga berhubungan dengan persoalan yang lebih besar. Tumbuhnya tempat-tempat wisata yang mengeksploitasi hasrat berfoto ini juga sangat dibutuhkan. Untuk kasus Taman Bunga Coban Rais, misalnya, kita lihat bagaimana tempat wisata itu memberikan banyak lapangan pekerjaan. Banyak sekali tukang parkir, tukang ojek, penjual makanan, atau yang lain-lain yang pastinya bisa mendapat berkah dari ramainya Taman Bunga ini. Tapi, kalau yang dipertimbangkan cuma urusan mencari makanan, pastinya alam yang tidak bisa langsung protes itu yang akan kita nomor sekiankan. Masih ada yang belum selesai dipikirkan di sini, sesuatu yang juga mempertimbangkan tidak hanya manusia dan ekonomi, tapi juga alam. Dan dengan hal yang belum selesai ini pula saya akan menutup postingan kali ini.

 

 

 

Ajakan Menilai Sampul tanpa (Harus) Mendengar Isinya

(Jadi, ini postingan terkait diskusi tentang sampul album musik yang diadakan di Kafe Pustaka UM sore ini, Kamis 6 Maret 2017. Diskusi ini disertai pameran sampul-sampul album. Uniknya, selain sampul album ada juga karya-karya dari perupa tersebut yang bukan dibuat untuk tujuan sampul album. Karya-karya non cover itu disebut “karya bebas”–setidaknya itu yang saya tangkap dari penamaan file-file JPG yang saya terima dari Novan Tani Maju. Akhirnya, kesan yang ditimbulkan adalah ajakan untuk–kasarnya–membandingkan antara sampul-sampul album itu dengan “karya bebas” oleh perupa yang sama, atau antara seni terapan dan seni murni. Selanjutnya saya persilakan sidang jamaah blog sekalian membaca, dan kalau bisa hadir di diskusinya nanti sore.)

Peka_KelasKeliling

Saat berhadapan dengan sampul album CD atau kaset, orang yang penasaran akan tertantang untuk memaknainya, menyingkap konotasi di balik tanda-tandanya, dan bahkan menghubungkannya dengan track-track yang ada di album tersebut. Begitulah sepantasnya. Tapi, dalam pameran ini, ketika sampul-sampul album itu disandingkan dengan “karya bebas” oleh perupa yang sama, kita seperti mendapat tugas baru: membayangkan apa yang telah dinegosiasikan oleh si perupa dalam pembuatan sampul album itu. Di sini, kita bahkan boleh menilai sampul sambil melupakan “bukunya.”

Sampul album (yang dalam bahasa Inggris disebut “album art/artwork”) masuk dalam wilayah seni terapan, atau lebih tepatnya desain grafis. Di wilayah ini, karya seni mengemban tugas yang lain, sebagai sarana visual untuk mengkomunikasikan ide. Lazimnya, ide yang ingin disampaikan ada sebelum karya visual itu dibuat. Tapi bukan tidak mungkin juga karya visual itu sendiri sudah ada dan kemudian diakuisisi oleh musisi karena dirasa memiliki makna yang sesuai dengan pesan yang ingin disampaikan si musisi. Mana pun yang ada lebih dulu, yang pasti ketika sudah menjadi sampul album, yang kita dapatkan adalah karya seni yang menyampaikan sebuah pesan (dan hampir 100% disertai teks tertulis). Di sini, elemen komunikasi karya tersebut jadi lebih besar ketimbang elemen reflektif, puitik, atau performatif (bermakna karena keberadaannya sendiri) yang biasanya ada pada karya seni murni. Ekstrimnya, banyak yang akhirnya menyamakan kedua hal ini sebagai pragmatisme vs idealisme.

Uniknya, ketika karya seni murni dari si perupa ini juga dihadirkan bersama karya-karya terapannya, ada beberapa hal yang terjadi. Di satu sisi kita jadi bisa membandingkan sejauh mana si perupa melenturkan idealismenya untuk kemudian menjangkau kepada audiens. Berapa banyak dari idealisme perupa yang harus ditanggalkan saat dia dia menciptakan sesuatu yang lebih berorientasi kepada komunikasi daripada meditasi. Atau, bila kita sudah benar-benar bisa melepaskan diri dari pemeringkatan seni murni vs seni terapan, kita mungkin juga bertanya: usaha apa saja yang telah ditempuh oleh si perupa untuk bisa membantu mengkomunikasikan gagasan para musisi? Tentu bidang ini juga membutuhkan ketrampilan mental–atau “seni”–tersendiri.

Mungkin, pertimbangan atas negosiasi antara desain grafis dan seni murni seperti ini bisa menjelaskan kenapa istilah “album art” atau “album artwork” kian lazim digunakan dalam konteks Indonesia, yang sebenarnya sudah lama kenal istilah “sampul album.” Hal itu bisa dimaklumi, karena istilah “sampul” tidak menawarkan terlalu banyak konotasi positif sebagaimana halnya kata “artwork.” Secara tak sadar, ada afirmasi atas nilai seni pada kata “artwork.”

Maka, dalam pameran ini, mari kita coba merekonstruksi: Apa yang kiranya dikorbankan si seniman untuk membuat sampul-sampul album ini? Atau, kalau dibalik, usaha ekstra apa yang harus dikeluarkan oleh si perupa dalam menciptakan semua album art ini? Yang seperti ini kiranya lebih bisa dilakukan oleh pengunjung yang mungkin belum cukup mendengar album-album itu sendiri untuk menilai keberhasilan sampul-sampul ini mewakili isinya. Tapi, karena mendengarkan musik (apapun itu!) selalu memperkaya, tentu akan lebih baik lagi bila apresiasi atas album artwork ini juga disertai dengan apresiasi atas musiknya. Atau, kalau kita pelintir petuah klise: jangan menilai album dari sampulnya. Tapi, kalau di sini Anda sudah terlanjur menilai sampulnya, jangan lupa juga menilai isi albumnya.

Horor Tercetak Tiga Dimensi

mestinya, tak ada lagi ngeri
menunggu april melipir
menanari kelopak cheri
merekah mili demi mili
seperti denyut digital
menghantar getar kwarsa.
manusia bahagia selalu bisa
menyebut, mengukur semua.
tapi, tetap dan pasti,
selalu ada moncong buaya
di dasar sana, menanti giliran
mengocehkan risiko yang kini klise.
konfirmasi: horor tercetak tiga dimensi.