Boston dan Keajaiban Memori Organik

Ada beberapa hal dari kunjungan saya ke Boston yang hingga kini bertahan dan terus menghantui saya, padahal kebanyakan foto yang saya ambil sudah hilang karena (mungkin) kesalahan teknis. Saya ke Boston, Massachussetts, tentu saja karena saya kebetulan ke Cambridge untuk konferensi American Comparative Literature Association 2016.

Pada hari terakhir, hari Minggu, setelah berjalan dengan Asaad dari arah hotel kami di dekat MIT ke kampus Universitas Harvard, saya nyempal ke stasiun subway. Asaad masih ada satu sesi konferensi lagi. Sesi saya sudah berakhir pada hari Sabtu kemarin. Saya sebenarnya tidak tahu akan ke mana. Awalnya saya ingin ke Plymouth Rock, tempat mendarat pertama orang-orang Eropa puritan. Tapi, setelah saya lihat bahwa butuh waktu dua jam ke sana dan tiketnya tidak sama dengan tiket MTA yang saya punya, akhirnya saya pun memutuskan untuk jalan-jalan ke kota Boston saja, kota tetangganya Cambridge.

Saya tahu bahwa Boston punya museum seni yang cukup besar, tapi saya tidak akan ke museum seni. Saya hanya ingin memanjakan memori saja. Pertama kali saya kenal Boston adalah dari film Spencer for Hire, kisah seorang detektif swasta yang diperankan Lars Ulrich. Di film ini, digambarkan Spencer tinggal di kota Boston yang selalu terlihat dingin dan melankolis. Kesan murung itu didukung oleh plot cerita: kekasih (atau istri?) Spencer dibunuh oleh orang yang merasa terancam oleh si detektif. Saya lupa detilnya, tapi saya ingat pasti, ketika saya menonton film itu di SCTV waktu kelas 5 atau 6 SD, saya begitu terpesona oleh tokoh itu dan kotanya yang begitu berbeda dengan Krembung, atau Porong, atau Sidoarjo. Hari Minggu itu, saya akan melihat seperti apa kota dalam memori saya itu yang sebenarnya.

Saya naik MTA dari Harvard Square, persimpangan di depan kampus Universitas Harvard yang selalu ramai. Saya punya tiket terusan seharga 7 dolar untuk saya pakai selama berada di sana. Saya sudah memakainya beberapa kali, tapi tentu saya masih bisa memakainya sampai seminggu. Setelah beberapa stasiun, saya harus keluar kereta dan ganti kereta ke arah lain. Hanya beberapa stasiun saja, di sini, kereta tidak lagi lewat dalam tanah. Saya bisa melihat sungai Boston dari jendela kereta. Tak berapa lama kemudian, kereta berhenti di stasiun atas tanah yang tak ubahnya sebuah halte (lokasinya di Huntington Avenue). Sekeluarnya saya dari kereta, saya bisa melihat Museumm Seni Rupa Boston. Saya ke sana untuk memotret beberapa patung yang ada di halaman depan museum, terutama patung seorang prajurit/kepala suku pribumi Amerika yang menunggang kuda. Masuk museum itu perlu bayar dan tentunya saya akan butuh banyak waktu di sana.

Saya lanjutkan berjalan kaki ke kampus Northeastern University dan berhenti sejenak untuk beli sarapan mie dan ayam Taiwan dari seorang pedagang dari sebuah gerobak yang baru saja buka. Saya makan sarapan itu di halaman salah gedung di kampus tersebut. Setelah selesai, saya menyeberang jalan ke gedung lain dan masuk untuk melihat-lihat memakai toilet. Untungnya pintu depan terbuka. Ada satu dua orang mahasiswa di sana, banyak di antaranya dari Asia Timur.

Setelah selesai dari sana, saya berjalan-jalan terus dengan tujuan pasti alun-alun kota Boston. Saya sudah sempat lihat di peta tadi sebelum berangkat, dan secara kasar tahu arah yang harus saya tempuh. Lagipula, jalan-jalan di kota yang dibangun ala Eropa begini relatif mudah dirasionalisasi. Polanya grid dengan blok-blok yang panjangnya relatif teratur.

Yang tidak saya antisipasi adalah bahwasanya saya lewat kampus Berklee College of Music, tempat kuliahnya para jawara di Dream Theater itu. HP saya sejak pagi sudah restart-restart terus tanpa henti sampai akhirnya saya harus lepas batereinya. Internet sudah tidak bisa diandalkan sama sekali. Sambil jalan, saya juga lihat-lihat sekeliling untuk mencari toko-toko semacam Walmart atau sejenisnya yang menjual HP murah. Saya pernah beli Go Phone AT&T yang sebenarnya adalah Nokia Lumia dengan harga cuma 20 dolar. Asyiknya, HP itu juga bisa dipakai untuk kartu AT&T yang langganan. Jadinya ya cukup murah. Setelah keliling, akhirnya saya ketemu showroom AT&T. Tapi, ternyata di sana hanya ada HP-HP versi bagus saja. Tidak ada HP AT&T versi Go Phone murahan.

Nah, di situlah akhirnya terjadi apa yang sudah saya janjikan di paragraf pertama postingan ini. Di depan sebuah bangunan gereja bergaya gothik, ada seorang lelaki tunawisma meringkuk kaku seperti orang mati kedinginan. Beberapa pejalanan kelihatan kuatir melihat orang tersebut. Mereka coba membangunkan orang itu. Mereka coba menggoyang-goyangkan tubuh lelaki itu tapi dia bergeming. Setelah beberapa lama, akhirnya salah satu berinisiatif menelpon 911. Tak berselang lama, datanglah pemadam kebakaran dan ambulans. Ketika mendengar sirene yang bersahut-sahutan itu, si lelaki mulai bergerak-gerak dan kemudian bangkit untuk duduk kembali. Petugas pemadam dan ambulans mencoba berbicara dengan lelaki itu tapi si lelaki mengisyaratkan dia baik-baik saja dan tidak mau mereka bawa. Dia kembali duduk di depan gereja itu dan orang-orang itu masih banyak berkerumun.

Saya kemudian lanjutkan perjalanan ke alun-alun yang sebenarnya sudah ada di seberang gereja itu. Di tepi alun-alun Copley, saya menemukan sebuah bangunan gereja sangat megah bernama Boston Trinity Church. Bangunan itu memiliki ukiran-ukiran dan patung yang cukup besar di bagian fasadnya. Banyak orang berdatangan hanya sekadar foto-foto dan melihat sekeliling. Saya melihat-lihat suasana ceria di hari Minggu itu. Semuanya terasa layak dikenang, termasuk kedip lampu merah. Yang tidak saya ketahui adalah, tidak jauh dari tempat saya berdiri itu, ada sebuah memorial yang didedikasikan kepada Kahlil Gibran, seorang penyair dan pelukis asal Lebanon yang berkarya di Amerika dalam bahasa Arab dan Inggris tapi jarang disertakan sebagai bagian penting dari Sastra Amerika.

Belakangan, dalam perjalanan kembali ke Cambridge untuk mengambil barang-barang saya di hotel dan meninggalkan kota untuk kembali ke Fayetteville, saya mendapati bahwa ternyata tiket terusan yang saya beli seharga 7 dolar itu sebenarnya tidak unlimited. Dalam perjalan pulang, saya harus menambah bayar beberapa dolar agar bisa masuk ke portal untuk kembali ke Cambridge.

Lebih ke belakang lagi, saya mendapati bahwa banyak foto yang saya ambil selama perjalanan ke Boston itu akhirnya hilang terhapus. Saya tidak yakin pasti apakah hilangnya karena HP yang terus-menerus restart itu. Atau, bisa jadi juga file-file foto dari HP itu hilang karena saya telah menyalinnya ke komputer kecil linux saya dan kemudian hard drive komputer kecil itu saya format sepenuhnya karena ingin memulai formatting untuk linux dari awal. Saya lebih percaya masalahnya adalah yang kedua. Tapi, meskipun gambar-gambar itu hilang, saya masih tetap punya ingatan tentang hal-hal yang memang sulit dilupakan itu. Mungkin itu uniknya memori organik kita: kadang-kadang kita tidak perlu menyuruhnya menghapus bagian-bagian tertentu. Untuk memori “eksternal non-organik,” ada kalanya salah pencet sedikit saja bisa terhapus.

Advertisements

Providence yang Menjadi Oasis di Tengah Hamparan Alergi

Ada satu yang bisa tidak diharapkan dari perjalanan konferensi ke kota-kota di utara: menjadikannya sebagai pelarian dari alergi. Itu terjadi pada tahun 2012, ketika mengikuti American Comparative Literature Association Conference pada tahun itu.

Musim semi datang terlalu awal di Arkansas. Itu juga yang terjadi pada tahun 2012 itu, di awal bulan Maret, saya sudah melihat satu dua pohon ceri menguncup coklat keputihan dan beberapa saat kemudian kuncupnya itu mekar menjadi bunga-bunga putih (ada yang pink juga). Di Jepang, kuncup-kuncup yang mengembang itu disebut sakura. Hal itu terjadi di seluruh kota. Kemudian disusul pohon-pohon cedar yang juga berkuncup dan mengembang dan serbuk sarinya mulai dihembus angin ke sana-kemari.

Saja sudah pernah mengalami alergi parah sebelumnya, tepatnya dua tahun sebelumnya, pada tahun 2010, ketika saya tinggal di Arkansas untuk kali pertama. Di tahun 2010 itu, saya merasakan sendiri dampak dari musim semi yang indah itu: menyebarnya serbuk sari (atau disebut “pollen” dalam bahasa Inggris) dan kemudian membuat gatal hidung dan mata saya. Bahkan, kalau parah, dampaknya bisa mengarah ke sesak nafas.

Belajar dari pengalaman tahun 2010, pada tahun 2012 saya sudah mulai nguntal pil-pil kecil untuk alergi yang mudah didapatkan di toko-toko swalayan. Ada yang pink, ada yang ungu, ada yang hijau. Saya selalu menghindari yang pink, yang sangat membuat ngantuk. Saya selalu memilih yang ungu (allegra) atau yang hijau (zyrtex) yang lebih kuat tapi tidak membuat ngantuk. Jadilah, sejak awal Maret saya nge-pil.

Di pertengahan Maret, alergi sudah merangkak dan menjadi serius. Masih ada kalanya hidung saya gatal dan sentrap-sentrup meskipun sudah ngepil (hanya boleh sebutir selama 24 jam). Perjuangan melawan alergi kali itu layaknya perjuangan ingatan melawan lupa: konstan.

Maka, dengan modal alergi yang mulai aktif di pertengahan kedua bulan Maret itu, perjalanan seminar ke kota Providence, Rhode Island, menjadi sebuah oasis yang tidak direncanakan. Hal itu dimungkinkan karena ternyata, ketika saya sampai di Providence, negara bagian tersebut relatif masih musim dingin. Pohon-pohon masih meranggas sepenuhnya. Udara masih di titik nol derajat Celsius. Tidak ada kuncup-kuncup cantik yang membawa serbuk sari jahat bagi yang punya alergi.

Tiga hari di Providence itu menjadi hari-hari paling awas bagi saya di bulan Maret tersebut. Namun, setelahnya, pada bulan Aprilnya, ketika saya kembali ke Arkansas, saya mengalami sendiri versi lain dari puisi “Wasteland” karya T.S. Eliot: “April is the cruelest month.” Bulan itu menjadi bulan terkejam bulan karena di saat itu ada bunga-bunga lili yang tumbuh di tengah-tengah tanah yang mati seperti kata puisi Eliot, tapi karena di bulan yang penuh bunga yang cantik itu, saya harus pilek dan mata gatal sepanjang waktu dan bahkan harus sampai menggunakan steroid.

Dari Selokan Denpasar ke Markas Besar PBB: Kenikmatan dalam Keasingan

Sejauh yang saya ingat, perjalanan yang membuat saya bisa menikmati tempat-tempat asing adalah perjalanan ke Bali pada saat liburan antara kelas 2 dan kelas 3 SMA. Selama di kelas 2 SMA, saya dan kawan saya Nasim berikrar untuk menabung uang saku kami setahun itu agar pada saat liburan kami bisa liburan ke Bali. Akhirnya, dengan dibantu uang dari orang tua, saya dan Nasim jadi ke Bali. Ketika berada di sana, ada satu kesempatan ketika kami duduk-duduk di dekat selokan tak jauh mall Tiara Dewata, saya mendapat kesadaran indahnya selokan tersebut karena saya tahu saya tidak bisa melihatnya setiap hari. Sejak itulah, setiap kali saya berjalan-jalan (baik di kota tempat saya tinggal, dan apalagi kota yang asing bagi saya), saya selalu bisa menikmati suasana ketika saya menyadari bahwa suasana tersebut tidak setiap hari saya alami.

Kesadaran itulah yang membuat saya selalu bisa menikmati waktu yang saya habiskan ketika berada jauh dari rumah, termasuk ketika menghadiri seminar di kota-kota di Amerika Serikat hanya untuk tiga empat hari. Satu momen yang sebenarnya biasa saja yang saya ingat adalah perjalanan dari kampus New York University hingga ke Markas Besar PBB di sekitar 42nd Street dan kemudian berlanjut hingga mencapai hotel saya di perempatan 51st Street dan Lexington Road. Saya ingat menikmati setiap sudut tempat-tempat itu dan menamatkan melihat setiap gedung yang ada di sana karena saya sadar bahwa mungkin pengalaman tersebut tidak akan teringat kembali.

Sore itu, setelah saya mempresentasikan makalah, saya menikmati sore menunggu kawan saya Asaad Al-Saleh di Washington Square. Namun, karena saya mencoba menghubunginya dan dia tidak segera menjawab, akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke hotel dahulu. Seperti beberapa hari ini, saya ambil kereta bawah tanah jalur M dari stasiun Astor Place di dekat NYU menuju Grand Central-42nd Street, berjarak sekitar 40-an blok. Belakangan, ternyata dari NYU saya juga sebenarnya bisa ambil stasiun subway di Bleecker Street, jalan yang ada di lagunya Simon and Garfunkel. Tapi waktu itu bagi saya Astor Place adalah yang paling nyaman, karena di depan stasiun itu ada orang jualan Shawarma halal di gerobak.

Dari Grand Central-42nd Street, saya berjalan mengikuti panduan Google Maps yang saya lihat pada siang harinya. Hari-hari itu saya tidak memakai smartphone. Beberapa bulan sebelumnya, saya merasa smartphone terasa terlalu mahal dan saya ingin mengurangi pengeluaran saya. Akhirnya, saya pun memakai handphone Samsung clamshell super murah (harganya belasan dolar) dan mengandalkan wifi gratis dan komputer untuk mengakses internet. Untungnya, tata ruang Manhattan yang petak-petak itu sangat memudahkan navigasi buat saya. Tidak lama setelah turun dari kereta api dan naik ke permukaan tanah, saya bisa menemukan Markas Besar PBB.

Di depan bangunan itu, saya takjub dengan gedung yang menurut saya rancangannya sangat sederhana itu. Bentuknya seperti persegi panjang tapi tebal (secara teknis disebut “balok” tentu saja). Di depannya ada tiang-tiang untuk bendera negara-negara anggota PBB. Sayangnya, hari itu tidak ada satu pun bendera berkibar, semuanya diturunkan. Bagian depan gedung PBB sedang diproyek. Sekilas agak kecewa juga karena tidak bisa berfoto-foto dengan bendera dari berbagai negara. Dan lagi, saya tidak habis pikir dengan gedung Sekretariat PBB yang arsitekturnya super simpel itu.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gedung sekretariat PBB yang ternyata adalah karya arsitek Le Corbusier

Belakangan, setelah saya google kanan dan kiri dan ketika melihat foto gedung Sekretariat PBB yang telah saya ambil dari berbagai sisi, saya menyadari bahwa bentuk gedung yang persegi panjang tebal itu bisa menyerupai beberapa hal. Yang pertama, bangunan itu mengingatkan saya kepada monolith di film 2001: Space Odyssey yang merupakan penanda perkembangan kosmos itu. Tapi ya tentu saja ini tidak tepat karena gedung ini dirancang sebelum film 2001. Dan bisa juga gedung ini menyimbolkan bendera sebuah negara yang rata-rata adalah persegi panjang. Entah mana yang benar.

Belakangan lagi, setelah sempat googling, saya mendapati bahwa sebenarnya gedung super simpel itu dirancang oleh Le Corbusier. Le Corbusier ini dikenal sebagai arsitek dan seniman pascamodern. Dan arsitektur dari markas besar PBB ini pun ternyata dikenal sebagai “International style architecture” yang menurut saya tepat adanya, karena memang akhirnya jadi tidak merepresentasikan satu bangsa saja di dunia. Ternyata, lama-kelamaan saya baru mulai bisa mengapresiasi arsitektur yang, lagi-lagi, super simpel itu. Justru, yang saya dapati berarsitektur unik adalah sebuah bangunan perwakilan negara di seberang jalan dari Markas Besar PBB itu. Tentang gedung itu, mungkin saya akan memberikan gambarannya di lain waktu.

Setelah puas menikmati suasana senja di sekitar Markas Besar PBB itu, saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke hotel. Jarak dari tempat itu ke hotel saya, Double Tree by Hilton adalah sekitar 12 blok. Hotel tersebut berlokasi di perempatan Lexington Road-51st Avenue. Dari Markas Besar PBB, saya hanya perlu berjalan tiga blok menuju Lexington Road dan dari sana saya tinggal berjalan 9 blok menuju Double Tree.

Saya menempuh perjalanan itu sambil melihat gedung-gedung yang sebenarnya sebagian pernah saya lihat di film-film (gedung Chrysler, misalnya, yang selalu muncul di film-film berlatar Manhattan). Di sepanjang jalan itu, ada beberapa kantor yang dindingnya kaca penuh sehingga dari pinggir jalan itu saya bisa melihat isi kantor dan bahkan ada beberapa yang orangnya masih bekerja. Betapa ganjilnya bekerja sambil dilihat orang dari luar, seperti melihat akuarium yang isinya ikan bekerja.

Semua itu, semua itu, semua itu, adalah sesuatu yang biasa dan sehari-hari bagi siapa saja, terutama yang tinggal di sana. Semuanya biasa. Tanpa insiden tanpa penanda. Tapi bagi saya, yang menyadari tidak tahu entah kapan lagi ada kesempatan melihatnya, semua itu adalah surga yang maujud di setiap detiknya. Di kesempatan-kesempatan seperti itu, saya seringkali teringat berdiri di dekat selokan di dekat Mall Tiara Dewata Denpasar dua puluhan tahun sebelumnya, ketika saya masih SMA dan jalan-jalan ke Bali bersama Nasim dengan agenda yang amat jelas: mencari kesempatan berbicara bahasa Inggris dengan turis.

Antara Asal-usul (Origin) dan Kinerja: Meruntuhkan Esensialisme

Ketika saya pulang dari simposium dan bertemu seorang Indonesia yang bersuamikan pemborong asal Pakistan di pinggiran Kansas City itu, banyak hal yang bermain di kepala saya. Saya segera terpikir tentang orang-orang dari Timur Tengah dan Asia Selatan yang banyak di antaranya sukses mencapai impian mereka di Amerika dengan berbagai pekerjaannya. Dalam keadaan seperti itu, penilaian orang Amerika akan orang-orang non-Amerika akan berubah. Di sini, hasil kerja lebih penting daripada asal-usul seseorang. Urusan asal-usul yang semestinya tidak terlalu penting (tidak sepenting performa kita saat ini) adalah juga topik dari makalah (terkait novel Origin karya Diana Abu-Jaber) yang saya sajikan di simposium di Kansas State University di Manhattan itu. Dan kisah-kisah seperti itu bisa ditemukan di mana saja–bagi mereka yang mau mencari.

Suami ibu Nia yang saya temui di restoran di pinggiran Kansas City itu kontraktor yang sepertinya hidupnya cukup makmur. Dan beliau bukanlah satu-satunya pemborong berlatar belakang imigran. Di Fayetteville, Arkansas, tempat saya belajar, ada juga imigran yang sangat sukses sebagai pemborong. Sebut saja namanya Bayyari. Bayyari datang pada dekade 1980-an dari Palestina, tepatnya di Tepi Barat. Dia datang dengan beberapa dolar saja di kantongnya, dari Palestina, tepatnya di Tepi Barat. Dia kuliah di Chicago dan berjuang kanan kiri. Ketika lulus kuliah, dia mulai bekerja secara profesional dengan keras. Dia menjadi seorang kontraktor dan karirnya menanjak dengan stabil, hingga akhirnya dia sangat berhasil–bahkan ada taman publik dengan namanya di Fayetteville, Bayyari Park.

Bayyari dan suami ibu Nia ini adalah orang-orang yang diuntungkan atau dibuka jalannya oleh Undang-undang Hart-Celler di Amerika Serikat pada tahun 1965. Undang-undang ini pada intinya membuka jalur imigrasi Amerika buat orang-orang dari segala penjuru dunia bukan berdasarkan warna kulitnya, tapi berdasarkan kualifikasinya. Hal ini berbeda dengan sebelumnya, di mana kemungkinan bermigrasi dan menjadi warna negara Amerika adalah milik orang-orang Eropa saja. Undang-undang ini merupakan salah satu buah dari perjuangan hak sipil pada akhir dekade 50-an dan pada dekade 60-an.

Nah, yang lebih menarik lagi dari kisah Bayyari itu adalah salah satu hal yang dia lakukan–yang menurut saya tidak terlepas dari tema hubungan antara asal-usul dan kinerja saat ini. Hal ini terkait dengan salah satu bangunan yang dia galang pembangunannya: sebuah sinagog, tepat ibadah pemeluk agama Yahudi, Yudaisme. Sebagai seorang kontraktor yang berhasil dan punya banyak duit, Bayyari juga berfilantropi. Ketika warga Yahudi di Fayetteville ingin membangun sinagog tapi biayanya masih belum mencukupi, Bayyari membantu membangunkan tanpa menarik biaya. Di sini, komunitas Yahudi di Fayetteville hanya perlu menyediakan bahan-bahan bangunan, dan Bayyari dan karyawan yang dia bayar membangun sinagog tersebut.

Pasti langsung terasa ada yang ganjil di sini: seorang Palestina membangun tempat ibadah agama Yahudi, sementara di Palestina sendiri saudara-saudara sebangsa Bayyari hidupnya dibikin sengsara oleh orang-orang Israel, yang beretnis Yahudi dan mendirikan negara Israel dengan klaim bahwa itu yang diinginkan agama Yahudi. Ya, begitulah adanya. Seorang Palestina membangun tempat ibadah agama Yahudi, tapi di Amerika. Di sini, kita bisa melihat bahwa Bayyari adalah orang yang bisa melihat dengan tegas batas-batas antara agama dan politik, batas-batas antara agama Yahudi dan Zionisme (paham bahwa perlu ada negara Yahudi dengan keyakinan itu yang diinginkan oleh agama Yahudi). Bayyari bisa melihat bahwa tidak semua orang Yahudi mendukung zionisme dan zionisme bukanlah praktik keberagamaan Yahudi. Bayyari percaya semua orang berhak beribadah, termasuk yang beragama Yahudi, dan membantu orang yang beribadah adalah baik baginya. Tidak jadi masalah meskipun orang Yahudi yang ada di Fayetteville itu mungkin berasal dari asal-usul yang sama dengan orang-orang Yahudi yang ada di Israel. Asalkan saat ini orang-orang tersebut bukan termasuk pendukung zionisme atau pendukung represi Israel terhadap Palestina.

Sebenarnya kisah ini bisa ditemukan secara online di Vimeo, dalam sebuah video yang dibuat oleh kawan baik saya, Hayot Tuychiev, seorang dosen jurnalisme asal Kazakhstan yang bekerja di kampus tempat saya belajar. Dalam video tersebut, tampak interaksi antara komunitas Yahudi dan Bayyari dalam membuat bangunan sinagog tersebut. Di tengah-tengah itu, terdapat pula seorang arsitek kulit putih (dan kebetulan Kristen) yang merancang bangunan sinagog tersebut. Si arsitek, Brett Park, yang kebetulan saya kenal pribadi karena sama-sama wali murid di sekolah tempat anak saya belajar, juga memberikan sumbangan berarti: dia mengubah desain sinagog yang awalnya terdiri dari altar dan lorong, yang bagi dia lebih menyerupai salib dan lebih cocok untuk gereja daripada untuk sinagog.

Oh ya, selain membangun sinagog, Bayyari ini juga membangun masjid di Fayetteville, Arkansas, dengan cara yang sama, membantu membangunkan masjid dengan bahan yang sudah disiapkan oleh komunitas Muslim (di mana dia juga terlibat di dalamnya). Bantuan ini memungkinkan komunitas Muslim di Fayetteville memiliki masjid sendiri, tepat di sebelah kampus (sekarang dikelilingi parkiran kampus). Dia juga baru-baru ini menyumbang 1 juta dolar untuk pembangunan rumah sakit anak di wilayah Arkansas Barat Laut. Tapi, karena soal membangun masjid ini tidak berkaitan langsung dengan topik soal asal-usul dan performa saat ini, maka belum pas rasanya kalau saya bercerita tentang itu di sini. Saya yakin akan ada kesempatan lain untuk bercerita tentang pembangunan masjid tersebut. Biarkanlah postingan ini saya tutup dengan menegaskan: esensialisme (bahwa orang dari asal-usul tertentu hanya bisa berlaku tertentu) semestinya kalah oleh kenyataan yang menunjukkan bahwa pada akhirnya, yang lebih harus dinilai adalah prestasinya. Novel Origin karya Diana Abu-Jaber dan kisah Bayyari bercerita tentang itu.

Pinggiran Kansas City: Mencari Masjid, Menemukan Saudara

Hal menarik masih belum berhenti terjadi sekembalinya saya dan keluarga kembali dari Simposium sastra di Manhattan, Kansas. Setelah melihat museum hidup yang tidak standar, Shoal Creek Living History Museum, kami masih menemukan satu hal lagi yang menurut saya tetap menarik. Kami mencari masjid tetapi justru menemukan orang Indonesia di tempat yang kurang standar ini.

Ketika masih berada di parkiran Shoal Creek Living History Museum, kami mencari tempat untuk makan siang. Kami mencari masjid dan restoran halal. Saya dengar ada sebuah masjid di kawasan pinggiran Kansas City, tepatnya di pinggiran sebelah utara Kansas City. Jadi, kami pun mencoba menuju ke tempat tersebut. Menurut GPS, kami nanti akan melingkari Kansas City untuk menuju ke bagian Selatan kota ini. Baiklah. Saya siap. Ketika itu, istri saya belum punya SIM, sehingga dia tidak berkesempatan untuk menyetir.

Setelah melewati jalur Interstate, tibalah kami di bagian selatan kota. Di situ, suasana seperti di pinggiran kota yang bahagia. Ada banyak taman dan pepohonan. Tapi, karena waktu itu musim dingin, yang kami lihat hanyalah pohon-pohon yang meranggas. Setelah beberapa saat berjalan ke arah selatan, kami tidak di lingkungan yang cukup asri, dan menurut GPS, semestinya di situlah masjid yang kami cari. Namun, yang ada di sana hanya seorang lelaki mungkin dari Pakistan dengan baju gamis panjang dan anak-anak laki-lakinya sedang bermain basket. Tidak tampak ada masjid di daerah itu. Saya menyempatkan bertanya sebentar kepada brother yang ada di sana, tapi katanya tidak ada masjid di daerah itu. Sepertinya memang ini bukan masjid. Tapi kawasan pinggiran ini begitu mengingatkan saya pada masjid-masjid yang ada di kota-kota lain, terletak di kawasan yang terkesan lebih rendah tingkat ekonominya.

Karena tidak menemukan masjid itulah akhirnya saya memutuskan mencari yang lain, tepatnya sebuah restoran dan toko asia. GPS membantu kami menemukan tempat yang kami inginkan tersebut. Ternyata tempatnya tidak jauh-jauh dari tempat yang tadi kami kira adalah masjid. Tokonya berada di sebuah kompleks pertokoan kecil yang berbentuk seperti sebuah persegi dengan toko-toko melingkar di sisi menghadap ke dalam ke jalan yang melingkar seperti donat. Dan di bagian inti terdapat sejumlah toko yang menghadap ke jalan seperti donat tadi. Asian Store berada di bagian paling dalam kompleks ini.

Di Asian Store itu, kami membeli barang-barang yang kami butuhkan dan yang dipesan kawan-kawan kami di Fayetteville. Satu tradisi unik di komunitas warga Indonesia di Fayetteville adalah ketika seseorang bepergian ke kota lain dan mampir di Asian Store yang ada di kota tersebut, orang tersebut biasanya menelpon kawan-kawan lain yang ada di Fayetteville untuk menerima titipan. Itu pula yang kami lakukan waktu itu.

Waktu belanja itu, kami melihat ada restoran yang menawarkan makanan Pakistan di Asian Store tersebut. Kami pun tidak melewatkan kesempatan tersebut dan memesan makanan untuk dimakan di sana. Maka saya pun memesan sup lentil dan sejenisnya di sana, salah satu jenis sup yang dulu sering saya buat dengan batuan teman satu apartemen saya yang berasal dari Bangladesh. Seperti biasa, sambil makan kami ngobrol dengan bahasa kami sehari-hari, bahasa Jawa dan Indonesia dan Inggris. Dan seperti biasa, kami tidak terlalu mengurangi volume perbincangan kami, asal tidak mengganggu tapi tidak juga terlalu diam.

Di situlah menariknya, seorang perempuan yang awalnya duduk di meja lain bersama seorang lelaki Asia Selatan menghampiri kami dan bertanya:

“Assalaamualaikum. Saya tadi dengar ngobrolnya. Nama saya Nia. Sodara-sodara ini dari mana?”

“Dari Indonesia.”

“Hehehe… ya pasti. Tapi dari mana di Indonesia?”

“Oooo… dari Malang.”

Dan perbincangan pun berlanjut agak panjang. Dan tidak terlalu lama sejak perbincangan itu, bu Nia ini mengajak lelaki Asia Selatan yang tadi duduk bersamanya untuk menghampiri kami. Bu Nia memperkenalkan lelaki itu sebagai suaminya. Asal Bu Nia dari Jakarta dan suaminya adalah orang Pakistan.

Setelah berbincang panjang lebar itu, tahulah saya bahwa suami Bu Nia itu adalah seorang pemborong. Kompleks pertokoan ini adalah salah satu hasil borongannya. Seperti biasa, karena orang Indonesia di Amerika Serikat itu relatif sedikit, jadi kebanyakan mereka saling kenal atau tidaknya punya teman bersama. Apalagi yang tinggal di satu negara bagian yang sama, yang kebetulan orang Indonesianya sedikit, seperti Missouri ini. Kami segera tahu bahwa Bu Nia ini kenal kawan kami yang menjadi imam di Joplin, Missouri, dan sesekali bertemu untuk mengikuti acara bersama.

Maka demikianlah pencarian kami akan masjid, yang ternyata mempertemukan kami dengan saudara, orang Indonesia lain, yang telah lama tinggal di Amerika dan sudah mencapkan akarnya.

Mengingat “Imigran Pertama” yang Tersingkir di Museum Sejarah Hidup Shoal Creek

Apa terjadi setelah melewatkan monumen yang merayakan pembangunan Interstate sepulang dari simposium di Manhattan, Kansas, itu? Saya cukup kecewa. Sekadar mengingatkan saja, saya sudah lama sangat tertarik dengan konsep sistem interstate yang memudahkan banyak hal itu. Sayangnya, di satu-satunya rest area monumental yang memperingati proyek agung Amerika Serikat itu, saya melewatkannya karena saya tidak tahu. Bagaimana saya mengobati kekecewaan itu? Saya memutuskan untuk mencari sesuatu yang sama-sama monumentalnya yang ada di pinggir-pinggir jalan yang kami tempuh itu. Saat berhenti di pom bensin, saya menyempatkan searching asal cepat untuk mendapatkan tempat yang bisa diampiri.

Setelah menunggu sesaat, akhirnya saya menemukan sebuah tempat yang disebut Shoal Creek Living History Museum, sebuah museum yang konon berupa rekonstruksi desa seperti yang dihuni para pionir. Di internet saya lihat bahwa posisi desa museum itu di luar kota Kansas City, tepatnya di sebelah utaranya kota Kansas City. Saya lihat sekilas dan tampaklah bahwa kami nanti akan sampai di sana pas jam makan siang. Tak jauh dari sana juga ada restoran halal. Maka kami pun memutuskan untuk menuju tempat tersebut.

Kansas City adalah kota yang unik. Kota ini terbelah menjadi dua. Satu bagian masuk ke wilayah negara bagian Missouri dan satunya lagi di negara bagian Kansas. Uniknya, Kansas City yang lebih ramai justru yang ada di bagian Missouri. Aquarium, Lego Land, dan lain-lain ada di bagian Missouri itu. Fenomena kota dibagi berdua seperti ini juga ada di beberapa tempat lain di Amerika Serikat, salah satunya adalah St. Louis, yang dibagi menjadi St. Louis Barat dan St. Louis Timur.

Maka, karena sudah diputuskan akan ke desa historis pionir itu, saya harus mengambil Interstate ke arah kiri beberapa mil di luar Kansas City. Jalan yang kami tempuh awalnya mengarah ke utara, melewati hutan-hutan, tapi kemudian jalan menekuk sedikit demi sedikit dan kami pun akhirnya berjalan lurus ke timur. Tak begitu lama sejak mengambil belokan ke kiri tadi, kami harus keluar dari Interstate dan masuk ke jalan agak kecil. Dengan dibimbing oleh GPS, kami pun tiba di taman yang disebut desa historik pionir itu.

Hanya ada papan petunjuk di luar, yang juga menyediakan brosur-brosur yang memungkinkan kami menelusuri museum berbentuk desa itu sendiri. Selain kami sekeluarga, tidak ada lagi orang di kawasan tersebut. Siang sangat cerah tapi udara terasa dingin, dan di perbukitan itu rasanya semakin dingin lagi.

Setelah memastikan bahwa memang tidak ada orang yang menjaga tempat ini, saya dan istri serta anak saya pun akhirnya memasuki. Kawasan ini seperti sebuah taman yang luas. Kami melewati gerbang dan kemudian harus berjalan dulu beberapa saat di atas jalan berkerikil membelah lapangan rumput yang berbukit-bukit. Saat berjalan di atas jalan berkerikil itulah saya mulai melihat seperti apa desa historis pionir itu: bangunan-bangunan rumahnya terbut dari kayu dan rata-rata terdiri dari satu atau dua lantai. Ada cerobong asap perapian. Sebuah bangunan yang ada di tepi sungai tempak memiliki kincir air. Mungkinkah itu penggilingan bertenaga air? Sangat mungkin.

Ketika tiba di sana itulah saya melihat sendiri bangunan-bangunan rumah kecil itu seperti desa yang ditinggalkan. Tidak ada seorang pun di sana selain jalan-jalan tanah yang rapi dan bangunan-bangunan rumah yang tak berpenghuni. Kami adalah satu-satunya pengunjung, dan ganjil sekali rasanya berada di tempat seperti ini, seperti di sebuah desa yang seluruh penduduknya diculik alien dari angkasa luar.

Dua semester sebelumnya saya mengikuti sebuah mata kuliah berjudul Novel Barat Amerika Serikat. Novel-novel Barat ini adalah novel-novel yang berlatar di kawasan-kawasan yang ada di sebelah Barat sungai Mississippi, yang mengesankan kehidupan di tepi peradaban, baik pada masa lalu maupun pada masa kini. Novel-novel semacam ini memiliki tema membuka lahan atau mengawali hidup di tempat yang baru atau menempuh beratnya hidup. Salah satu novel yang saya baca untuk kelas tersebut adalah novel Ron Hansen yang berjudul The Assassination of Jesse James by the Coward Robert Ford. Novel yang berlatar abad ke-19 ini berlatar di Kansas City. Saya bayangkan, setidaknya pada abad ke-19 itu, ketika Jesse James masih berkeliaran itu, rumah-rumah semacam yang kami kunjungi di museum historis itu sangat lazim.

Kansas City adalah termasuk kota Amerika Serikat yang pengembangannya masih baru. Pada pertengahan abad ke-19 itu, masih terjadi perang antara Angkatan Darat Amerika Serikat dengan suku-suku asli seperti Sioux dan lain-lain yang menghuni kawasan padang-padang Kansas. Pada masa itulah terjadi perburuan bison besar-besaran untuk diambil bulunya, yang merupakan bagian dari upaya sistematis memojokkan para penduduk asli yang hidupnya berpindah-pindah di padang-padang Kansas dan mendapatkan asupan protein terbesar dari daging bison yang sesekali mereka buru itu.

Di desa historis itu, sepulang dari sebuah simposium di mana saya mempresentasikan tentang sebuah novel detektif karya Diana Abu Jaber yang mempertanyakan identitas (dan mudah dihubungkan dengan persoalan identitas Amerika Serikat, khususnya di kalangan para imigran), saya berhadapan dengan tata ruang, arsitektur, dan kenangan akan masa-masa awal pendudukan orang Eropa di kawasan Barat Amerika, di kawasan perbukitan Dataran Agung (Great Plains), sebuah pendudukan yang diwarnai dengan pembantaian dan penyingkiran penduduk asli yang telah puluhan ribu tahun meninggali kawasan tersebut. Kalau di makalah itu saya berbicara tentang novel yang bisa dihubungkan dengan para imigran terakhir yang mendatangi tanah Amerika, di desa historis itu saya melihat sebuah perayaan akan masa-masa tersingkirnya para imigran pertama, yaitu para penduduk asli yang menurut ilmu antropologi merupakan kelompok yang berpindah dari kawasan Asia ketika dataran Amerika dan Asia masih terhubung, ketika Selat Bering belum jadi selat.

 

Melewatkan Rest Area Monumental di Interstate 70, Kansas City-Salina

Perjalanan ke Kansas adalah perjalanan napak tilas. Itulah yang saya rasakan sejak saya ke Manhattan, Kansas, untuk mengikuti sebuah simposium kecil yang diadakan program pasca sarjana Sastra Inggris di Kansas State University. Kenapa bisa begitu? Begini ceritanya:

Awalnya, entah kenapa saya tidak menyadari bahwa Kansas adalah tempat yang termasuk paling penting kalau kita berbicara tentang Interstate Highway, atau jalur jalan raya nasional Amerika Serikat. Yang saya tahu adalah Interstate Highway adalah jalan yang pembangunannya digagas oleh presiden Dwight Eisenhower. Dalam sejarah, tidak jarang juga Interstate Highway yang menghubungkan timur-barat dan utara-selatannya Amerika Serikat ini juga disebut Eisenhower Highway.

Pasca perang dunia ke-2, ketika perekonomian Amerika membaik, dan ketika perang dingin mulai mendapatkan traksi, Amerika Serikat melakukan pembangunan secara masif. Di satu sisi terjadi pembangunan berbagai aspek kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, terjadi juga pembangunan infrastruktur yang punya tujuan ganda untuk pertahanan-keamanan negara. Populernya mesin cuci dan alat-alat kebutuhan rumah tangga yang semakin canggih adalah yang pertama. Dan Interstate Highway termasuk yang kedua. Jalan bebas hambatan antara negara bagian ini memungkinkan transportasi bisa berjalan dengan lancar dan mudah diperkirakan karena jalan tidak harus masuk dan tersumbat lalu lintas kota. Jalan ini kadang-kadang harus menyayat gunung dan lembah demi mendapatkan jalur yang seefisien mungkin. Kenapa begitu? Karena selain untuk kenyamanan perjalanan dan distribusi barang, jalan ini juga disiapkan jika perang dingin menjadi panas dan artileri serta peralatan militer perlu dikerahkan di berbagai titik di negara dengan segera melalui jalur darat. Jadi, Interstate Highway memiliki kualitas bisa dilewati tank dan bisa dijadikan pendaratan pesawat.

Hal-hal di atas itu saya sudah tahu sejak setelah pertama kali melakukan roadtrip, dari Fayetteville ke Minnesota ke Chicago dan balik lagi. Yang saya tidak tahu adalah Eisenhower, orang yang menggagas jalan Interstate Highway itu, berasal dari sebuah kota kecil di Kansas. Itu yang saya tidak tahu. Dan lagi, saya tidak tahu bahwa Interstate 71 (yang membentang dari Baltimore di timur hingga Utah di barat) juga “merayakan” dan mengabadikan gagasan tentang Interstate Highway itu dengan membangun sebuah Rest Area yang disertai monumen. Posisi monumen yang mengabadikan Interstate Highway ini adalah di tengah-tengah antara Kansas City dan Salina. Salina adalah kota besar yang paling dekat kampung halaman Eisenhower, Abilene.

Nah, karena ketidaktahuan itulah, ketika saya pulang dari simposium di Manhattan, saya melewati begitu saja rest area monumental tersebut. Ketika mendekati monumen tersebut, saya melihat papan penunjuk jalan bahwa 100 meter di depan saya ada rest area dengan monumen Interstate Highway. Tapi, posisi saya sudah di kanan dan kecepatan tinggi. Saya tidak tahu dan tidak mengantisipasi itu. Maka, dalam sepersekian detik itu, yang saya lakukan adalah berkata ke istri saya yang waktu itu bersama saya:

“Wah, sepertinya kita akan melewatkan sebuah rest area monumental.”

“Terus?”

“Ya sudah, sepertinya tidak bisa diapa-apakan lagi.”

Jadi demikianlah. Karena takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena membuat keputusan mendadak ketika berjalan dengan kecepatan tinggi bersama orang-orang lain di Interstate Highway, saya jadi melewatkan kesempatan langka melihat museum Interstate Highway.

Tak apalah. Tahun depannya, saya membayar kekecewaan itu dengan melakukan road trip yang khusus jalan-jalan ke Kansas dan mengunjungi museum Eisenhower dan rumah masa kecilnya. Saya membayar sendiri kekecewaan itu dan ternyata lebih memuaskan karena tidak dihantui rasa bersalah karena memanfaatkan dana perjalanan seminar untuk misi pribadi.

Ternyata Restoran Waralaba Powerful Juga

Saya tahu banyak dari kita akan merasa bahwa restoran waralaba adalah sesuatu yang tidak menyenangkan dalam konteks Amerika Serikat. Di satu sisi makanan di restoran-restoran semacam itu terasa begitu tidak sehatnya. Ada seorang penulis dari buku yang saya pakai untuk mengajar Composition di University of Arkansas yang menyoroti ironi betapa mudahnya kita mendapatkan makanan tak sehat dari restoran waralaba sementara betapa sulitnya mencari buah-buah segar di tempat yang sama.

Tapi, tapi, tapi, oh tapi, ada satu hal yang saya dapatkan setelah bepergian ke berbagai tempat di Amerika Serikat dan mampir ke tempat-tempat makan tertentu. Restoran waralaba ternyata menawarkan perasaan akrab serta (karenanya) dan aman. Saya membuktikan ini dari bepergian bersama Asaad.

Ketika pada tahun 2010 itu kami road trip ke New Orleans untuk mengikuti konferensi American Comparative Literature Association bersama Banan dan Manal, kami mampir di Subway. Selama di New Orleans, kami makan di sebuah tempat makan Gumbo, dan dalam perjalanan pulang kami mampir di sebuah restoran Lebanon. Kami dapatkan dua tempat itu dari tanya kanan kiri. Tempat makan Gumbo itu kami dapatkan dari beberapa peserta konferensi yang kebetulan sudah menelusuri segala penjuru French Quarters.

Untuk restoran Lebanon itu, kami mendapatkannya dari informasi kanan kiri. Ketiga kawan saya itu orang Timur Tengah (Asaad dari Suriah dan Banan dan Manal adalah perempuan-perempuan Yordania). Entah bagaimana ceritanya, mereka dapat informasi bahwa ada restoran Timur Tengah yang cukup terkenal di New Orleans yang pemiliknya adalah orang Lebanon. Sebenarnya Anda tidak perlu heran soal orang Arab di New Orleans. Ada banyak. Salah satunya sempat menjadi cukup terkenal adalah Zeitoun, seorang Suriah-Amerika cukup sukses yang membantu menyelematkan orang-orang miskin ketika New Orleans terkena banjir karena badai Katrina pada tahun 2006. Kisah Zeitoun ini ditulis dalam buku berjudul sama, Zeitoun, karya jurnalis terkenal Amerika Dave Eggers.

Kembali ke soal restoran Lebanon itu, kami ke sana karena ketiga kawan saya itu tahu ada restoran Lebanon yang bisa diandalkan rasanya. Sebagai sesama orang Levant, kawan-kawan saya itu yakin citarasa makanan Lebanon tidak terlalu jauh berbeda dari selera keseharian mereka. Dan betul saja. Memang rasanya demikian.

Berbeda persoalannya ketika kami di jalan, ketika tidak ada yang dijadikan pegangan. Di situlah kami menganalkan kepada apa-apa yang telah terlanjur kami akrabi baik secara tanpa sadar maupun karena kebiasaan. Seperti saya ceritakan, ketika berangkat kami menyempatkan berhenti di sebuah Subway, yang isinya sudah sangat kami akrabi. Tidak ada masalah dengan Subway, karena bahkan di kampus pun kami punya restoran waralaba ini.

Hal yang sama berulang ketika kami pulang. Beberapa jam setelah meninggalkan restoran Lebanon, ketika kami hendak meninggalkan negara bagian Louisiana, kami menyempatkan makan siang karena memang sudah terlanjur lapar. Di sini Banan dan Manal memilih untuk berhenti di sebuah restoran IHOP, yang kepanjangannya adalah “International House of Pancake” (mohon maaf bagi yang sudah akrab). Restoran waralaba ini tersebar di seluruh Amerika, dengan menu yang mungkin sama semua. Ketika itu saya belum akrab IHOP (tapi kawan-kawan saya sudah akrab). Ketika memutuskan kami perlu mampir ke IHOP itu, mereka semua yakin bahwa pilihan ini tidak akan meleset.

Hal yang sama terulang lagi pada saat-saat yang lain. Ketika berjalan-jalan dengan keluarga di Kansas, saya mampir untuk makan di sebuah Subway dan pada saat pulang mampir Pizza Hut. Hal yang sama juga terjadi ketika saya dan keluarga bepergian ke Oklahoma: kami mampir di sebuah KFC untuk membeli ayam satu ember dengan kacang buncis atau chili kacang merah. Kami memilih restoran-restoran waralaba yang di Amerika itu berasosiasi murah dan kurang keren karena memang itulah yang saya akrabi.

Mungkin di situlah keuntungan restoran waralaba. Mereka punya banyak tempat di seluruh Amerika yang sangat mudah kita temui. Ketika kita sudah terlalu lapar dan terlalu malas untuk memutuskan dan bereksplorasi, sangat mudah sekali kita menemukan restoran-restoran itu bahkan dari jalan raya Interstate. Restoran-restoran waralaba ini punya tiang yang sangat tinggi untuk memasang papan namanya. Saking tingginya papan nama atau logonya terpasang, kita bisa melihatnya dari jalan dan tiba-tiba saja merasa kita perlu berhenti sejenak. Di Indonesia, mungkin warung Kayungyun atau Soto Lamongan memiliki kemampuan ini tanpa harus menjadi waralaba.

Cerpen-cerpen tentang Kota Kecil dari Raudal Tanjung Banua: Ganti Fokus ke Latar

Cerita-cerita perjalanan seminar harus saya sela di sini, betapapun itu adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Hari ini saya perlu sedikit bicara tentang sebuah kejadian dari wilayah Indonesia yang menurut saya cukup berhubungan dengan topik kita hari-hari ini: bedah buku Raudal Tanjung Banua yang diadakan di Kafe Pustaka tadi malam, Rabu 20 Februari 2019.

Acara bedah buku tersebut membahas buku terbaru Raudal Tanjung Banua yang berjudul Kota-kota Kecil yang Diangan dan Kujumpai. Acara ini menghadirkan cerpenisnya, RTB.

Buku ini memiliki fokus yang terbilang unik, yaitu kota-kota kecil yang telah dikunjungi (baik baru saja maupun sudah lama) oleh si penulis. Dan istilah kota-kota kecil ini pun sebenarnya cukup cair, bisa merupakan kota kecamatan dan juga bisa berupa pusat keramaian setempat.

Kenapa harus kota-kota kecil dan bukan kota-kota besar? Mungkin Anda bertanya begitu. Menurut saya wajar-wajar saja kalau Anda bertanya begitu. Kota-kota kecil, menurut RTB, adalah tempat-tempat yang telah mengalami kejadian-kejadian tertentu yang menjadikannya sebuah kota tapi juga harus menghadapi hal-hal tertentu yang menyebabkannya tidak bisa menjadi kota besar. Kejadian-kejadian tertentu itulah yang menarik untuk dikupas menjadi cerita pendek. Unik, kan?

Biar tidak terlalu mbulet, mari kita ambil satu contoh saja. Salah satu contoh kota yang dibahas oleh RTB adalah sebuah kota yang memiliki pabrik gula. Pabrik gula, sebagaimana kawan-kawan tahu, adalah pabrik yang biasanya dibangun pada masa kolonial yang kotanya telah diatur sedemikian rupa dengan master plan Belanda. Jadi, pertama-tama, paling tidak ada aspek menarik yang bisa disoroti di sini, yaitu bahwa kota yang diangkat menjadi cerita itu punya aspek kolonial. Tapi, pasca kemerdekaan Indonesia, ketika tidak lagi dikelola Belanda, aspek-aspek kota yang telah terencana dalam master plan asli itu diabaikan. Yang terjadi kemudian adalah ketimpangan antara rencana tata kota asli dengan perkembangan yang tak terkendali karena tidak memperhatikan rencana tata kota tadi. Akhirnya, kota yang mestinya bagus itu menjadi rusak.

Demikian itulah kira-kira bentuk pembahasan cerpen-cerpen dalam kumpulan ini.

Kalau Anda baca sekilas uraian di atas, mungkin ada kesan bahwa buku ini tidak jauh berbeda dengan tulisan perjalanan. Memang ada kesan seperti itu. RTB sendiri mengakui bahwa dari cerpen yang dia tulis ini awalnya adalah “tabungan tulisan” tentang kota-kota kecil yang dia kunjungi dalam kurun waktu belasan tahun. Tetapi, tetap saja ini cerpen. Masih ada elemen-elemen lazim cerita prosa, yaitu penokohan, alur, latar, dan gaya bahasa, yang membentuk cerita-cerita ini. Bedanya, seperti diakui oleh RTB, porsi untuk latar cerita dia buat lebih dari lazimnya. Kalau cerita pendek pada umumnya lebih menyoroti penokohan dan alur, RTB di sini ingin menyodorkan sesuatu yang lain, yaitu latar cerita itu.

Kalau ditanya apakah cerpen-cerpen ini berbeda dengan tulisan perjalanan atau feature tentang sebuah kota kecil, jawaban RTB tegas: ya. Catatan perjalanan adalah tulisan yang sifatnya faktual dan informatif. Yang disampaikan harus dilandasi semangat kejujuran dan tidak mengaburkan fakta. Cerpen, bagi RTB, adalah karya tulis yang tidak terbebani oleh rambu-rambu harus informatif dan faktual. Cerpen tetap fiksi.

Sehingga, pada praktiknya, ketika mengolah bahan dari kisah perjalanan untuk dijadikan cerpen, si penulis bisa mempermainkan data-data faktual dan membelokkannya di sana-sini untuk menjadi sebuah cerita yang utuh dan logika ceritanya kuat.

Sementara begitu dulu catatan yang bisa disimpan di sini. Dalam kesempatan yang lain, mungkin saya akan cerita lebih jauh lagi tentang acara bedah buku tersebut dengan memasukkan pandangan mas Yusri Fajar, penulis Malang yang membahas buku ini tadi malam, dan pak Djoko Saryono, profesor dari Universitas Negeri Malang yang memberikan ulasan pemungkas diskusi tadi malam.

Savannah dan Kenikmatan yang Tak Jelas

Kenikmatan yang kurang jelas, begitulah saya menyebutnya. Hal itu terjadi ketika saya sendirian di sebuah hotel di Savannah, Georgia, untuk mengikuti the British Commonwealth and Postcolonial Studies Conference ke-24. Seperti apa kenikmatan itu? Begini ceritanya, dan sesederhana inilah ceritanya.

Saya tiba di bandara Savannah ketika hari sudah mulai petang. Begitu turun di bandara, saya cek dua kawan saya, Rash dan Hash, kawan diskusi dan kawan satu program di University of Arkansas. Ternyata mereka sudah datang lebih dahulu dan sudah bersantai di hotel mereka. Mereka berbagi kamar dan menginap di hotel tempat diadakannya seminar. Saya tidak bisa berbagi kamar dengan mereka karena alasan yang sangat jelas: mereka berdua perempuan, dan keduanya sudah bersuami. Mereka bilang sudah sempat keluar ke restoran malam itu. Okelah, saya tambah sebal. Tiba di bandara sendirian, tidak ada teman berbagi taksi, tidak ada teman berbagi kamar.

Setelah mondar-mandir di bandara melihat potensi kanan dan kiri, saya ambil beberapa brosur di dekat pintu keluar bandara. Savannah adalah kota wisata yang terkenal karena termasuk kota Eropa paling tua di dataran Amerika. Orang-orang datang ke kota ini bersantai dan berjalan-jalan seperti di kota tua Eropa. Karenanya tidak mengherankan kalau banyak brosur wisata, dan termasuk peta, yang tersedia bagi pengunjung. Saya pastikan saya mendapatkan peta untuk sekadar mengetahui posisi saya di kota ini.

Setelah yakin semuanya siap, saya pun keluar untuk memesan taksi yang akan membawa saya ke hotel. Saya ingin duduk di depan tetapi bapak sopir taksi melarang saya karena peraturan setempat mengharuskan saya duduk di belakang. Okelah. Dari bandara Savannah/Hilton Head International Airport ke pusat kota Savannah hanya memakan waktu kurang dari 1 jam. Mungkin hanya 30 menit. Sebagian besar perjalanan melewati jalan tol, tapi ada sekian persen perjalanan yang melewati pinggiran kota yang terkesan suram, agak-agak mirip kawasan miskin di kota ini.

Sebentar kemudian kami melewati jembatan besar dan tiba di pusat kota Savannah. Kawasan pusat kota Savannah yang tua itu berbentuk grid sekitar 10 blok kali belasan blok saja. Di dalam grid itu, kota tampak tua dan teratur rapi. Eksotis ala kota-kota Eropa. Itulah kawasan yang disebut sebagai kawasan wisata. Di luar grid itu–satu blok saja di luar grid–suasana terasa jauh lebih sepi. Hotel saya malam itu berada di luar grid itu. Ternyata cukup signifikan beda kecantikannya dengan kawasan pusat Savannah. Lagi-lagi saya iri dengan Rash dan Hash yang ada di pusat kawasan wisata Savannah.

Tapi, karena saya sudah agak capek dan malas ke mana-mana, saya pun masuk ke kamar. Untuk makan pun saya malas keluar kamar. Akhirnya, saya sempatkan turun ke lobi untuk berbincang-bincang sebentar dengan pegawai hotel dan bertanya-tanya sedikit tentang makanan khas di daerah sini yang tidak biasa.

“Wah, banyak sekali makanan khas di sini” kata si mas.

“Kalau yang unik apa?” tanya saya.

“Hmm… apa ya?”

“Kok situ tanya saya?” tanya saya.

“Hmm… bukan begitu. Mungkin ‘pizza sepeda’,” serunya sumringah.

“Maksudnya?”

“Jadi sampean pesan pizza ke nomor tertentu, minta ini itu untuk pizzanya, dan kemudian petugas akan antar pizzanya naik sepeda.”

Oke. Lumayah lah. Sebagai orang yang sangat suka bersepeda, saya sangat tertarik dengan gagasan semacam itu. Itung-itung, membeli jasa dari sesama pesepeda.

Saya pun menelpon nomor pizzeria itu dan menyampaikan pesanan saya. Pizza 12 inchi, isi keju berbagai rasa (greek cheese, provologne, etc.), dan dengan cabe kering (gak terlalu pedas kayak cabe rawit tapi cukup favorit!). Tidak lama kemudian terdengar ketukan di kamar hotel saya. Ternyata seorang pemuda kurus jangkung berbandana berdiri memegang karton pizza.

“Mas Wawan?”

“Ya?”

“Ini pizzanya. Tolong dilihat dulu.”

“Oke,” kata saya sambil mengecek pizza.

“Sip?”

“Pol!” seru saya.

Dia minta saya tanda tangan. Baru saat itu saya sadar bahwa dia membawa sepedanya sampai di depan kamar saya yang ada di lantai 3 itu. Melihat itu, saya sangat berbahagia, entah kenapa. “Tuhan, kenapa kita bahagia?” kata puisi Goenawan Mohamad yang berjudul “Dingin tak tercatat.” Mungkin bagi saya keadaan ini yang membuat saya berseru kenapa saya bisa bahagia. Sedahsyat itukah kekuatan sepeda, lorong hotel, lantai 3, dan pizza?

Malam itu saya makan pizza dengan lahap. Beberapa ronde. Bagaimana mungkin saya bisa langsung menyantap pizza 12 inchi sendiri? Besok paginya saya lanjutkan separuh pizza itu untuk sarapan. Dan ketika tiba di tempat seminar saya ketemu Hash dan Rash, saya tidak sebal dan iri dengan mereka. Justru yang cukup menyenangkan buat saya adalah siang harinya, saya tidak perlu repot-repot mencari tempat sholat dhuhur dan ashar. Hash dan Rash mengajak saya ke kamar hotel mereka dan mempersilakan saya sholat di sana. Rash yang Hindu taat dari India itu bilang: “Kamu sholat di sini saja, sementara aku tak berdoa juga di sini.” Dan Hash yang Buddha dari Srilanka itu nyeletuk bahagia: “Kalian sama-sama menyembah Tuhan, terus aku nyembah siapa?” Tidak ada yang mempermasalahkan apa-apa. Kami semua sama-sama bahagia dengan cara kami masing-masing. Dan di situlah saya heran, betapa kadang-kadang hal-hal kecil bisa memberi kita kenikmatan yang tidak bisa dijelaskan.