Museum (+Kolam Renang) Panji, Tumpang, Malang

Sejak tahun lalu, seorang kawan saya, Cak Syarif, memberitahu saya bahwa dia tengah mempersiapkan sebuah museum (membuat diorama dan lain-lain) dan beberapa bulan terakhir dia mengajak saya ke museum tersebut. Namanya Museum Panji, baru dibuka tahun 2017 ini. Akhirnya, pada liburan Maulid Nabi kemarin, di sebuah hari Jumat, saya pun ke sana, dengan mas Didit, seorang kawan dosen di Universitas Ma Chung yang juga editor film sekaligus juga crew band top daerah Tani Maju. Pada kunjungan pertama itulah saya mendapati betapa tidak standar-nya konsep Museum Panji ini–dan pagi ini tadi saya mengulangi kunjungan sambil terjebak ketidakstandaran konsep tersebut.

Apa ini maksudnya? Saya akan coba jelaskan dalam tiga paragraf ke depan.

Ternyata, Museum Panji sangat hadir di dunia maya, tapi kurang petunjuk di dunia nyata. Museum ini sangat mudah ditemukan di Google Maps. Mestinya, para penggagas museum sangat peduli dengan eksistensi di Google Maps, satu hal yang wajib pada jaman sekarang kalau kita ingin membuat sebuah layanan komersial publik. Nah, uniknya, ketika mendekati lokasi, saya tidak temukan sedikit pun petunjuk yang mengatakan bahwa di sini bakal ada Museum Panji (yang berkualitas internasional, menurut sebuah review). Bahkan, ketika tiba di pelataran bangunan museum pun, saya tidak melihat tulisan “Museum Panji,” yang ada hanya tulisan “Kolam Renang.” Sebagai pengunjung pertama, saya agak ragu. Tapi untungnya mas Didit sudah stand by di lobby dengan secangkir kopi yang mengepul dan topi merah Tani Maju bertengger di kepala.

“Hmmm,” kata Master Yoda.

Ternyata, Museum Panji memang juga kolam renang (dengan arsitektur yang mengingatkan kita pada sebuah Patirtan). Waktu saya melongok dari Lobby ke arah halaman tengah lokasi, tampak di sana kolam renang dengan dasar biru dengan beberapa anak kecil berkecipakan di air seperti Spongebob dan Patrick berburu ubur-ubur. Waktu saya lihat fotonya dari Cak Syarif dan dari hasil googling, memang ada terlihat kolam dan gapura dan fasad candi dari batu-bata (yang sangat mengesankan jaman Majapahit). Kalau melihat adanya elemen candi dan air, saya mau tidak mau langsung ingat Jolotundo, sebuah Patirtan (dan mungkin candi pertama dalam hidup saya). Memang sih Jolotundo adalah candi dari batu andesit, bukan batu-bata; tapi ya namanya imajinasi ini sulit dikendalikan, gapura Museum Panji pun bisa mengingatkan pada Jolotundo. Dari gambar-gambar yang sebelumnya saya dapatkan, saya tidak mendapat kesan bahwa kolam biru di depan gapura itu adalah kolam renang. Ternyata, eh ternyata, itu kolam renang yang hidup, yang aktif, dan belakangan saya ketahui ternyata lebih populer daripada Museum Panji itu sendiri.

“Meditate on this I will,” kata Master Yoda saat melihat konsep museum plus kolam renang tersebut.

Panji2

Ternyata, lagi-lagi ternyata, koleksi Museum Panji sendiri sangat bagus dan melebihi ekspektasi saya, meskipun masih perlu penataan lebih maksimal untuk mencapai level “museum internasional.” Di lobby tempat saya dan mas Didit ketemu itu, kita bisa melihat banyak hal, mulai dari topeng malangan (topeng dari kayu yang menampilkan karakter-karakter dari Cerita Panji), silsilah para bupati Malang yang kalau dirunut sampai raja-raja Jawa jaman kuno, hingga wadah makanan dari kaleng yang populer disunggi oleh orang jualan makanan pada jaman dahulu. Ada juga di sana sebuah panggung ukuran sedang yang bertuliskan “Museum Panji.” Nah, akhirnya, ada satu label yang menegaskan nama tempat ini! begitu pikir saya. Waktu mas Didit mengajak masuk ke museum, saya semakin takjub dengan koleksi wayang-wayang kulit (yang ada beberapa di antaranya sudah tidak lengkap lagi–yang justru menunjukkan orisinalitasnya sebagai barang koleksi yang sudah lama dimiliki si pemilik). Wayang-wayang ini pun dipajang pada kain putih yang dipasang pada latar kaca yang mendapat cahaya alami dari luar. Saat dipotret, tentu saja hasil gabungan antara backlight dan wayang menghasilkan efek seperti melihat bayangan wayang di balik geber. Asyik. Di dalam, juga ada diorama peperangan jaman kerajaan yang digarap dengan sangat apik dan ditata di bagian tanah yang digali hingga kedalaman sekitar 2 meter. Dari tempat kita melihat, terlihatlah peperangan dengan prajurit infantri bertombak, prajurit berkuda dengan kuda-kudanya yang ramping, dan bahkan ada pasukan bergajah di bagian belakang. Palagan yang asli tanah itu agak bersemu hijau di beberapa bagian, memberikan kesan rerumputan tipis yang menumbuhi palagan. Ada juga koleksi tembikar hasil arkeologi bawah air (yang ditemukan dari kapal-kapal karam–seperti yang juga kita temui di Museum Candi Borobudur). Pada banyak koleksi, terdapat informasi yang menjelaskan sejarah benda-benda koleksi atau diorama yang dimaksud, tapi masih banyak koleksi yang belum memiliki penjelasan tersebut.

Kalau dibandingkan museum-museum yang sudah mapan sejak jaman old, mungkin koleksi museum panji sendiri terbilang sedikit. Tapi, saat mengetahui bahwa benda-benda koleksi museum ini adalah benda-benda koleksi pribadi si pemilik (pak Dwi Cahyono), terbit kekaguman saya. Di Arkansas, saya cukup akrab dengan Museum of Native American History, sebuah museum yang awalnya adalah benda-benda koleksi pribadi David Bogle, dan sekarang jadi museum kecil yang kaya koleksi sejarah Native American, baik suku pribumi di Amerika Utara maupun Amerika Selatan–bahkan ada juga skeleton mammoth, yang tak kalah pribuminya di benua Amerika. Dwi Cahyono ada juga tokoh di balik Yayasan Inggil Malang, yang sudah lebih dikenal sebelumnya. Benda-benda sejarah yang menjadi koleksi bukanlah barang yang murah–dan tentu saja ini barang langka. Sangatlah menguntungkan–untuk tujuan pengetahuan pribadi maupun pendidikan formal–saat seorang kolektor mempersilakan orang lain ikut melihat benda-benda koleksi tersebut.

“Judge me by my size do you?” goda Master Yoda mengetahui rasio antara ukuran dan potensi Museum Panji.

Panji1

Maka, bagi saya pribadi, meskipun harus membayar untuk melihatnya (dewasa 25 ribu, anak-anak 20 ribu, dan menurut sebuah review terbilang mahal), hal tersebut sangat bisa dimengerti. Toh, kita sebenarnya juga bisa memilih untuk juga menikmati fasilitas museum yang lain, yaitu kolam renangnya tadi. Coba Anda ingat, berapa Anda harus membayar untuk berenang di kolam renang yang bersih? Belum lagi kalau kolam renangnya seperti Patirtan dari Jaman Majapahit. Mungkin, mungkin, mungkin, ini bisa jadi aspek museum yang sangat berpotensi dalam memberikan sumbangsih dalam pendidikan kemasyarakatan. Seperti halnya jaman wali songo dulu orang-orang “dipancing” dengan musik untuk datang dan kemudian diajari tentang Islam, mungkin Museum Panji bisa memancing anak-anak untuk datang dan berenang bersama keluarga untuk kemudian diajak belajar tentang sejarah. Siapa tahu.

Itu sangat bisa, asal Anda tidak seperti saya pagi tadi–dalam kunjungan kedua saya di tahun 2017 ini. Saya dan anak saya datang ke sana karena anak saya ingin berenang. Setelah berenang, sambil makan Pop Mie, saya beri tahu anak saya bahwa kita akan melihat-lihat koleksi museum lagi. Eh, ternyata, setelah Pop Mie tandas, setelah ganti baju, setelah segar kembali, kok malah langsung bablas pulang dan lupa melihat-lihat koleksi museum lagi. Ealah!

“Truly wonderful the mind of a child is,” kata Master Yoda mengomentari kami.

Sementara itu dulu yang bisa saya ceritakan tentang museum panji. Maaf yang rencananya cuman esai lima pargraf ini akhirnya jadi sedikit terlalu panjang. Dan sayangnya itu pun belum membahas aspek-aspek lain Museum Panji ini, seperti misalnya lokasinya yang berbatasan dengan sebuah sungai dan berpemandangan dam irigasi jaman kolonial, kontur tanahnya yang bisa dieksplorasi lebih jauh, dan lain-lain.

Advertisements

Kepada Kamu yang Ditunggu Salju: Buku Puisi yang Menyumbangkan Darah kepada Genre Tulisan Perjalanan?

Resensi_Yusri Fajar

Judul                     : Kepada Kamu yang Ditunggu Salju
Penulis                 : Yusri Fajar
Penerbit              : Penerbit Pelangi Sastra
Tebal                     : 104 hal.
Cetakan               : I/Maret 2017
ISBN                      : 978-602-60790-1-5

Perjalanan adalah kran inspirasi yang tak kunjung mandek untuk karya sastra, baik lisan maupun tulisan. Bahkan, karya sastra tertua yang pernah ditemukan, yaitu Epik Gilgamesh dari Mesopotamia kuno pada abad ke-21 SM, didominasi kisah perjalanan yang mengubah hidup Gilgamesh, tokoh raja setengah dewa. Kini, dua abad sejak ditemukannya GPS (Global Positioning System), perjalanan masih tetap mengucurkan inspirasi bagi penulis, apapun genre yang dia pilih. Dewasa ini, banyak toko buku yang punya rak khusus untuk catatan perjalanan. Sampai banyak yang mengkritisinya sebagai mengalami titik jenuh. Tapi, bagaimana bila perjalanan itu dituliskan dalam puisi? Akankah dia memberikan sesuatu yang berbeda? Buku puisi Kepada Engkau yang Ditunggu Salju mungkin bisa memberi gambaran potensi puisi yang bertemakan perjalanan.

Semua puisi yang terangkum dalam buku kumpulan puisi pertama Yusri Fajar ini ditulis ketika penulisnya jauh dari rumah. Bahkan, nyaris semua puisi di sini ditulis ketika Yusri berada di luar negeri. Beberapa puisi yang lain bertemakan perjalanan, tapi dari kampung halaman di Banyuwangi ke Malang, yang kemudian menjadi domisili Yusri. Dengan begitu, tidak berlebihan kalau saya menyebut buku ini sebagai buku puisi perjalanan–meskipun tentu perjalanan di sini harus diartikan secara luas.

Lazimnya pengunjung di tempat baru, penyair juga menunjukkan ketakjuban kepada keasingan dan kebaruan, yang kemudian dia tingkahi dengan perenungan tentang kesejarahannya. Pada beberapa puisi, Yusri menyoroti sebuah obyek atau individu dan menyoroti keterkaitan mereka dengan Indonesia.

Kita bisa temukan itu pada puisi-puisi seperti, misalnya “Di Negeri Bekas Penjajah Aku Menemukanmu” (hal. 7), yang bisa dijadikan contoh yang tepat. Dalam puisi ini, aku lirik Yusri melihat-lihat jalanan, restoran, pernak-pernik, dan orang-orang Belanda, dan di situ dia merasa menemukan “kamu,” yang bisa kita tafsirkan sebagai “Indonesia.” Puisi ini memang dibuat jauh dari rumah, tapi dia tak kunjung berhenti membicarakan Indonesia, yang jejaknya terlihat di mana-mana di Belanda (“Pertemuan Dua Bangsa di Warung Kebab,” hal. 24).

Ketakjuban akan hal-hal yang memiliki signifikansi sejarah atau berkaitan dengan perpindahan bangsa-bangsa inilah yang memenuhi buku-buku Yusri. Tidak bisa kita temukan puisi tentang indahnya danau di Swiss, romantisnya menara Eiffel di Perancis, atau nikmatnya capuccino Italia di sana. Tapi, kita bisa temukan puisi tentang warung kebab yang mempertemukan pendatang dari negeri berbeda yang selalu digelayuti kerinduan kepada kampung halaman.

Bahkan, kalau ada satu topik yang bisa dibilang mencakup sebagian besar puisi di buku ini, topik tersebut adalah “diaspora.” Dalam kajian sosial, istilah diaspora pada awalnya mengacu kepada orang-orang Yahudi yang terusir tanah leluhur mereka untuk kemudian hidup terpencar di segala penjuru Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa untuk tumbuh dan berkembang. Namun, sebagaimana diteorika Robin Cohen dalam Global Diasporas: An Introduction, seiring zaman, istilah diaspora ini banyak digunakan untuk mengacu komunitas-komunitas yang jauh dari negeri leluhur mereka, bahkan tanpa perlu elemen keterpaksaan. Pandangan seperti inilah yang mendominasi gagasan kelompok Jaringan Diaspora Indonesia.

Kembali ke buku puisi Yusri Fajar, gagasan diaspora muncul paling efektif pada puisi yang dipakai untuk judul buku Yusri ini “Kepada Kamu yang Ditunggu Salju” (hal. 4). Puisi ini berbicara tentang “kamu” yang tumbuh jauh dari tanah moyangnya, yang saat ini benihnya bisa tersemai, bertumbuh, tapi pada akhirnya terancam akan terkubur salju dan kehilangan akarnya. Seperti itulah dilema diaspora yang akarnya selalu berisiko menguap seiring zaman. Menariknya, dalam puisi ini, Yusri menggunakan idiom-idiom pertumbuhan tanaman beserta seluruh anatominya. Puisi ini seperti mengembalikan lagi istilah “diaspora” ke ranah aslinya, yaitu biologi. Boleh lah kita bisa puisi ini tidak melupakan akar kata “diaspora” itu sendiri.

Dengan semua potensi yang lebih dari sekadar menggambarkan tentang perjalanan ini, jangan-jangan puisi ini bisa memberi sumbangan di tengah “krisis” yang menjangkiti genre tulisan perjalanan. Seperti dikritisi Graeme Wood dalam artikelnya di majalah Foreign Policy, tulisan perjalanan adalah genre yang mati, utamanya karena penulis terlalu tersedot kepada dirinya sendiri dan kurang menukik dalam pengamatan atas tempat dan orang-orang yang dikunjunginya. Atau, yang lebih parah, hanya menyoroti hasil pengamatan yang hanya mengkonfirmasi apa yang sudah mereka dengar atau yakini, sebagaimana dikritisi Edward Said. Dengan perenungan atas nasib diaspora dan obyek-obyek yang memiliki latar kesejarahan sebagaimana saya bahas di atas, buku Kepada Kamu yang Ditunggu Salju ini berpotensi menyumbangkan darah segar kepada genre yang tulisan perjalanan yang kita layu itu menurut sekalangan kritikus.

(Tulisan ini dimuat di kolom Resensi harian Jawa Pos Radar Malang pada hari Minggu 23 Juli 2017. Semoga menikmati resensinya, dan semoga ada “krentek” hati membeli bukunya.)

Ke Bromo, Mencari Apa?

Apa yang kita cari dengan pergi ke Bromo? Yang kita cari berbeda-beda, sungguh. Meskipun tempat yang kita tuju adalah itu-itu saja. Saya punya tujuan sendiri. Saya ingin menunjukkan sebuah bagian taman nasional yang terkenal, yang dikunjungi oleh banyak orang, kepada anak saya. Saya ingin anak saya tahu ada sebuah tempat yang dipuja-puja semua orang tak jauh dari tempatnya tinggal.

Tapi, sekali lagi saya ingin merayakan diktum luhur yang kini jadi klise itu: yang menjadi tujuan bukan tempat wisata itu sendiri, tapi perjalanannya. Dan, hal seperti ini sangat mudah dibuktikan, apalagi kalau perjalanan Anda bukan perjalanan yang semuanya serba terpenuhi.

Saya berangkat sekitar jam 6:45 pagi dari Malang. Perjalanan relatif lancar dengan kecepatan nyaris konstan 60 km/j. Sepertinya ada yang perlu ditingkatkan dengan setelan karburator dan mesin Honda Win saya, tapi saya benar-benar tidak keberatan. Saya tidak butuh terlalu kencang. Lagian, demi apa coba nyetir motor di atas 60 km/j? Saya tidak perlu membuktikan apa-apa.

Sampai Tumpang, jalan masih relatif datar dan motor masih bisa berjalan 60 km/j. Ketika memasuki kecamatan Poncokusumo, ketika jalan kian menanjak, kecepatan puncak berangsur-angsur berkurang. Hingga pada saat tiba di desa paling atas sebelum memasuki wilayah Coban Pelangi, motor berjalan dengan sangat lambat dan bahkan harus mengandalkan gigi satu. Di tanjakan, saat gas ditarik mentok, tidak banyak tenaga yang diberikan motor. Di sini saya mulai percaya bahwa ada yang tidak beres dengan setelan bensin atau permesinan Honda Win saya.

Malam sebelumnya, saya sempat tanya-tanya sedikit ke seorang teman yang mantan offroader dan sekarang suka touring naik motor besar (250CC). Dia sering naik motor ke Bromo, dan beberapa bulan sebelumnya dia memang ke sana pada pagi hari. Saya ingin tahu apa kira-kira yang perlu saya waspadai sebagai orang yang bermotor ke Bromo pertama kali lewat jalur Tumpang-Coban Pelangi. Katanya sederhana: setelah melewati Coban Pelangi, pertahankan RPM, jangan memaksa pakai gigi dua kalau memang tidak memungkinkan. Saya bayangkan artinya tanjakan bisa sangat curam dan saya harus menggunakan gigi satu. Oke.

Benar saja, setelah melewati Coban Pelangi, perjalanan terasa berat bukan karena tanjakan yang terlalu curam, tapi lebih karena jalanan sempit, berbelok-belok, dan kondisi jalan di beberapa bagian tidak terlalu bagus. Semua ini tidak memungkinkan saya berkendara dengan kecepatan tinggi. Istilahnya, tidak cukup ancang-ancang untuk tanjakan (yang seringkali tidak terlalu curam). Akhirnya satu-satunya cara mempertahankan RPM tinggi adalah dengan menggunakan gigi rendah (baca: gigi satu).

Tak lama setelah melewati pintu masuk ke Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS), tibalah kami di loket masuk yang juga merupakan perhentian ke area air terjun Coban Trisula. Kami berhenti untuk bayar tiket masuk ke taman nasional dan istirahat sebentar. Membonceng motor itu, saya yakin, perlu lebih banyak tenaga daripada naik mobil, dan saya harus pastikan anak saya tetap fit setelah perjalanan panjang pertamanya ini. Dengan kata lain, kami perlu banyak makan dan banyak energi. Maka, saat saya beli tiket, anak saya pesan Milo ke ibu yang jualan minuman dan makanan ringan di sana.

Bisa dibilang, saya masih baru melatih anak saya untuk perjalanan-perjalanan penting dalam hidupnya. Saya ingin dia melihat banyak, tapi saya juga ingin memastikan dia tetap sehat untuk bisa menikmati semua itu. Saya sobekkan satu bagian Sari Roti untuk dia dan satu untuk saya. Saya mendapat sobekan berisi selai Blueberry, dan Xeno dapat coklat. Bayangkan saja ini sebuah piknik keluarga yang telah dimodifikasi.

Di perhentian itu, sambil menunggu anak saya menghabiskan Milo-nya yang masih panas, saya bertemu dua mahasiswa Jogja asal Kediri. Salah satu pesan Mie Goreng, dan satu lagi minum coklat. Mereka berangkat dari kediri pada malam harinya pukul sembilan, berhenti di Malang sebentar, dan kemudian melanjutkan ke Bromo. Saat bertemu kami pada pukul 8 pagi itu, mereka sudah dalam perjalanan balik ke Malang. Satu dari mereka sudah sering ke Bromo, dan katanya memang pecinta alam. Satunya lagi ikut saja. Dengan motor Honda Supra X 125CC itu, mereka sepertinya sama sekali tidak kerepotan.

Apa yang mereka cari, tanya saya. Tentu saya tidak bisa menjawab pertanyaan yang seperti itu. Yang jelas, mereka berusaha terjaga pada malam hari, dan menembus jalanan aspal taman nasional yang gelap dan curam pada malam hari, berjalan pelan di lautan pasir yang butuh teknik khusus sejauh sekitar 8 kilometer, dan kemudian naik ke penanjakan. Mereka bilang memang ingin melihat matahari terbit, tapi apakah benar begitu? Mungkin ada hal-hal yang tak terkatakan dari perjalanan mereka ke Bromo. Saya penasaran menjawab pertanyaan seperti itu. Mungkin perjalanan saya sendiri yang santai itu bisa membantu saya memahami kenapa kita ke Bromo.

Harga Milo panas di kantor Taman Nasional itu 4 ribu rupiah. Tapi, saat saya beli 5 ribu rupiah, saya mendapat kembalian 2 ribu rupiah. Kata si ibu, “Sampean bawa saja, Mas, saya ndak ada ruang seribu rupiah.” Saya belum pernah mengalami yang semacam ini di toko-toko waralaba semacam Indomaret dan Alfamart. Setelah mencari-cari ke palung tas punggung yang paling dalam, akhirnya ketemulah recehan yang kalau ditotal bisa sampai seribu. Begitu siap, kami melanjutkan perjalanan. Saya sudah tidak sabar menunjukkan kepada anak saya lahan pertanian yang miringnya ekstrim di kawasan Ngadas.

Hawa terasa dingin, dan knalpot Honda Win 100 mengeluarkan asap putih. Ada uap air yang terbakar, tapi tentu saja yang lebih banyak adalah oli yang bocor ke piston dan ikut terbakar.

The Motorcycle Diaries: Debu Jalan yang Membentuk “Che”

(Sebuah resensi dari lebih dari seratus purnama yang lalu, kira-kira dari tahun 2006/7-an lah. Resensi ini sepertinya pernah saya kirimkan ke mana-mana tapi tidak juga diangkut oleh redaktur koran. Jadi ya, lagi-lagi demi menghidupkan tag “tulisan-tulisan yang ditolak koran,” saya akan posting saja tulisan ini untuk kita semua di sini.)

Judul : Catatan Harian Che Guevara: The Motorcycle Diaries
Penulis : Ernesto Guevara
Penerjemah : Tri Wibowo Budi Santoso
Editor : Yusi Avianto Pareanom
Penerbit : Banana Publisher, Jakarta
Cetakan : I, 2006
Tebal : 220 hal.
ISBN : 979-99986-3-8

Apa pentingnya sebuah petualangan hingga orang-orang menerbitkan The Motorcycle Diaries, sebuah travelog yang ditulis Ernesto “Che” Guevara tentang perjalanannya keliling Amerika Selatan melewati jalanan yang berdebu? Apa karena yang melakukan perjalanan itu seorang Che Guevara, seorang gerilyawan yang masyhur?

The Motorcycle Diaries adalah hasil dari perjalanan Guevara dan Alberto Granado keliling Amerika Latin dengan mengendarai sepeda motor Norton 500 yang diberi nama La Poderosa, sang perkasa. Ketika itu Guevara dan Granado masih tercatat sebagai mahasiswa kedokteran. Mereka akan lulus dan menjadi dokter. Namun, sebelum itu, mereka memutuskan untuk melengkapi ambisi masa muda mereka dengan melakukan perjalanan gila-gilaan.

Guevara dan Granado bertolak dari Buenos Aires dengan beban kekhawatiran orang tua Guevara dan harapan bahwasanya kekasihnya di Cordoba sedia menunggu setahun itu hingga dia pulang kembali. Dari situlah mereka kemudian menempuh alam yang indah dengan pegunungan, danau dan hutan-hutannya; bertemu dan hidup bersama para petani di pedesaan; bekerja bersama para kuli pertambangan; tinggal dan mengambdi di koloni lepra yang penuh derita, dan; berangkat pulang dengan menumpang pesawat yang sempat membawanya ke Amerika Utara.

Selama perjalanan itu, mereka menyambung hidup dengan melakukan segala cara. Ada kalanya mereka mendatangi rumah sakit dan menyatakan diri sebagai mahasiswa kedokteran dan mendapatkan sambutan yang bagus. Ada kalanya juga mereka menunjukkan foto mereka yang dimuat di koran sebagai “duta perdamaian” dari Argentina untuk mendapatkan belas kasihan orang-orang. Seringkali pula mereka melakukan pekerjaan apa saja demi mendapatkan sedikit uang sekedar untuk membeli makan.

Melihat perjalanan dimana sang tokoh revolusioner melihat sendiri bagaimana kehidupan rakyat kecil, kita pasti teringat kepada Soe Hok Gie, seorang tokoh anti kemapanan yang banyak melakukan perlawanan terhadap pemerintah melalui tulisan-tulisannya. Dalam usianya yang relatif singkat itu, Soe Hok Gie banyak menulis catatan yang dia kirimkan ke media massa dan dibaca banyak orang.

Soe Hok Gie banyak sekali melakukan perjalanan, khususnya naik gunung, dengan asumsi bahwa untuk mencintai sebuah negeri, kita harus tahu negeri itu secara menyeluruh. Perjalanan ke pelosok negeri adalah sebuah cara untuk bisa mengenal negeri itu. Dia banyak naik gunung di seluruh pulau Jawa. Dia juga termasuk pendiri mapala UI. Perjalanan-perjalanannya itu menumbuhkan rasa cinta yang kuat kepada negeri. Perhatiannya kepada masyarakat akar rumput menumbuhkan hasrat untuk berjuang di dalam dirinya.

Serupa itulah yang tumbuh di dalam diri Guevara pada saat dia menjalani perjalanan yang terrekam dalam catatan harian sepeda motor ini.

Menurut ayahnya, untuk bisa benar-benar memahami kebutuhan orang miskin, Guevara “harus melakukan perjalanan ke seluruh dunia, bukan sebagai turis yang mampir untuk mengambil gambar-gambar indah dan menikmati pemandangan, tetapi dengan berbagi penderitaan sesama manusia di setiap tikungan jalan dan mencari akar penyebab penderitaan itu.”

Tiga tahun setelah menyelesaikan perjalanannya pada tahun 1953 itu, Guevara berangkat ke Meksiko untuk bergabung dengan Fidel Castro yang sedang membangun sebuah angkatan militer. Dan tiga tahun kemudian, mereka memasuki Kuba untuk mencoba menaklukkan rezim Batista. Kelak, ketika sudah berhasil melakukan pemberontakan dan Fidel Castro menjadi pimpinan Cuba, Che diangkat menjadi Menteri Perindustrian.

Namun, hasrat Guevara yang tak pernah bisa diam saat melihat penderitaan dan kemiskinan rakyat kecil membuatnya tak bisa bersantai-santai di Kuba. Dia bergabung dengan kelompok-kelompok separatis hingga ke Kongo di Afrika Tengah. Dan terakhir, dia terbunuh di tangan tentara nasional Bolivia ketika dia membantu pemberontakan pada tahun 1967.

Perjuangan-perjuangan itu berakar pada satu hal, hasrat untuk berjuang mengentaskan rakyat kecil dari penindasan, kemiskinan, dan kebodohan. Dan perjalanan bersepeda motor keliling Amerika Selatan inilah yang menumbuhkan itu. Maka, tidaklah mengherankan mengapa orang-orang menerbitkan buku yang sama sekali jauh dari pemikiran Che Guevara yang sudah diterbitkan dalam dua bukunya tentang perang gerilya. Di sini, ada romantika perjalanan, air mata penderitaan, kenakalan dua orang dewasa awal. Dan kisah ini diceritakan oleh seorang pemuda yang sadar bahwa ada sesuatu di balik segala yang dilihatnya itu. Maka, Anda akan setuju bahwa dalam buku ini Anda akan melihat dengan mata kepala Anda sendiri debu jalan yang membentuk Che Guevara, seorang tokoh revolusioner yang berjanji akan selalu bersama rakyat.

Coban Glotak: Mengagungkan Perjalanan, Menomorduakan Tujuan, Mencatat Perubahan

WP_20170305_13_45_19_Pro(Akhirnya, tibalah kembali masa-masa ketika menulis saja adalah sorga–kalau menggunakan istilah andalan Natalie Goldberg. Inilah masa ketika blogger Anda ini bahkan tidak punya waktu yang bisa diluangkan untuk sekadar selonjor dari kehidupan yang melipat-lipat. Tapi, akhirnya datanglah kesempatan itu. Saya ada waktu 15 menit malam ini, dan saya akan menjumpai Anda di sini.)

Banyak orang yang bilang bahwa idealnya, sebuah perjalanan dilakukan tanpa repot-repot dengan tujuan, karena yang berarti adalah perjalanan itu sendiri. Saya bahkan pernah membaca buku yang premisnya begitu, buku Indonesia. Katanya, inti dari sebuah perjalanan adalah perjalanan itu sendiri, dan buahnya adalah penemuan. Begitulah kata buku tersebut. Tapi apakah bisa begitu? Ikhlaskah kita begitu? Melakukan perjalanan dengan mengabaikan tujuan dan memfokuskan pada perjalanan dan penemuan dalam perjalanan tersebut? Jawabannya bisa iya dan tidak. Saya pribadi tidak terlalu memikirkan itu saat berjalan. Tapi, setelah sebuah perjalanan selesai dan mencoba memaknainya, saya menemukan bahwa mungkin saja saya pernah melakukannya. Contoh yang bisa saya ceritakan kali ini adalah perjalanan saya ke Coban Glotak minggu lalu. Ternyata saya benar-benar menjadikan perjalanan itu sendiri sebagai tujuannya, dan saya puas dengannya.

Awalnya, saya tidak benar-benar punya rencana ke Coban Glotak. Saya hanya tahu bahwa saya dan anak saya harus ke luar rumah hari Minggu itu. Saya perlu beli bensin dan dia perlu beli lem Uhu dan plaster luka. Kami pun pergi sekitar jam 11:30. Setelah Lem Uhu dan bensin terbeli, saya dan anak masih malas pulang. Akhirnya saya menyarankan hiking, meskipun terlalu panas. Satu tempat hiking yang sudah cukup lama ingin saya tunjukkan ke anak saya adalah Coban Glotak, yaitu sebuah air terjun di Kecamatan Wagir. “Coban” dalam bahasa Jawa di kawasan Malang ini berarti “air terjun” (saya tidak tahu pasti etimologinya).

Sekali-kalinya saya mengunjungi Coban Glotak adalah dengan Widi, seorang sahabat sejak jaman kuliah, belasan tahun yang lalu. Antara tahun 2001-2004 (saya benar-benar tidak ingat pastinya). Seingat saya, kami ke sana naik motornya Widi (Honda Tiger 2000), menitipkan motor di rumah penduduk, terus berjalan menyusuri kebun kopi, tegal, dan berpapasan dengan anjing petani yang mengagetkan kami, menyusuri kali, dan akhirnya tiba di air terjun yang cukup tinggi. Pendeknya, Coban Glotak ketika itu “hanya” sebuah air terjun yang ada di ujung peradaban di lereng Gunung Kawi.

Setelah menempuh perjalanan lewat kawasan Mergan dan Bandulan, masuklah saya ke kawasan kecamatan Wagir. Kami terus menempuh jalan naik melewat desa Jedong dan sebagainya, hingga akhirnya tiba di desa Dalisodo, di mana jalan meliuk ke kiri dan sedikit demi sedikit mulai berlubang-lubang dan penuh batu meringis tertata. Sejauh itu, saya sangat puas dengan kinerja Belalang Tempur saya (Honda Win 100). Pada tanjakan yang medium, dia dengan gagah mendaki dengan gigi tiga. Pada saat-saat tertentu, ketika saya harus menanjak setelah mengurangi kecepatan karena satu dan lain hal, Belalang Tempur dengan santai mendaki pada gigi dua.

Ketika mulai masuk jalanan yang semakin banyak berlobang dan semakin menanjak, permainan gigi dua semakin menjadi. Ada saat-saat ketika saya benar-benar harus turun ke gigi satu. Kami berpapasan dengan penduduk lokal yang banyak di antaranya memodifikasi motor bebek mereka menjadi semacam trail, dengan spakbor depan mendongak dan roda trail yang mirip seperti tahu seukuran dadu untuk sambal goreng itu. Banyak di antara motor penduduk lokal ini yang tidak berplat, dan mungkin motor-motor ini memang hanya digunakan untuk keperluan ke ladang. Dengan mengendarai Honda Win 100, saya yakin saya cukup bisa melebur dengan penduduk lokal. Paling tidak, saya lebih melebur dibandingkan orang-orang yang datang dengan motor gede semacam CB150R atau bahkan motor trail pabrikan macam KLX dan Viar Cross. Ketika sudah semakin mendekati lokasi, semakin diperlukan persneling satu dan bahkan ditambah permainan kopling untuk meningkatkan RPM. Saya tidak ingat apakah dulu, ketika bersama Widi, jalurnya seberat itu. Mungkin waktu itu beratnya medan tidak terasa karena saya dibonceng Widi naik Honda Tiger 2000–yang kapasitas mesinnya 200% Belalang Tempur.

Sejak jauh dari tujuan, eksistensi Coban Glotak sudah terasa. Berbeda dengan dulu, ketika Widi hanya mengandalkan ingatan pernah diajak lintas alam waktu SMP ke daerah itu, kali ini banyak penunjuk arah menuju Coban Glotak yang membimbing kita hingga ke lokasi. Ada kesan bahwa Coban Glotak sekarang sudah disiapkan untuk dikunjungi orang. Atau mungkin orang lokal ingin Coban Glotak ditemukan orang.

Akhirnya, setelah mengikuti penunjuk arah dan tanya satu kali ke anak-anak lokal (ketika mulai masuk kawasan tegalan), akhirnya tibalah saya ke titik terakhir. Benarlah: ternyata sekarang Coban Glotak sudah mempunyai semacam pintu gerbang dan loket tiket masuk. Ada beberapa bangunan di tengah tegalan yang seingat saya dulu tidak ada. Ada sebuah pos, kawasan parkir mini (mungkin tidak akan muat lebih dari 20 sepeda motor), sebuah toilet, dan bahkan musholla mini. Untuk parkir dan masuk saya dan anak, saya hanya perlu membayar Rp6000. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30-an, dan anak saya belum makan siang. Saya pun bertanya apakah mereka menjual snack.

“Di bawah nanti ada, Mas,” kata salah seorang petugas parkir.

“Suwun, Pak,” saya separuh tidak percaya. Seingat saya, Coban Glotak dulu ada di tengah hutan dan bukan tempat wisata.

Anak saya berbincang-bincang dengan para petugas parkir yang merokok. Karena merasa kami sudah terlalu jauh dari rumah di Malang, anak saya heran apakah kami masih di Jawa.

“Pak, apa Anda bicara bahasa Jawa?” tanya anak saya.

“Iya, dik. Di sini kita hanya bicara bahasa Jawa dan Inggris,” kata seorang bapak bertopi dan merokok.

“Oh yeah?”  seru anak saya.

“Yes, tapi bisanya cuma ‘I love you’ dan ‘No smoking’ saja,” kata bapak itu sambil tertawa. Asap rokoknya kalang kabut di depan wajah ditendang-tendang tawanya.

“Hahaha… Mungkin bapak ngomong ‘I love smoking’,” kata anak saya sambil ngakak.

Setelah cukup guyonan, akhirnya kami pun mulai menuruni jalan setapak. Di situ terlihat bahwa bangunan yang tadinya saya pikir warung itu ternyata toilet, dijaga beberapa perempuan. Saya dan anak terus berjalan, dan anak saya bilang bahwa sepertinya kami pernah ke situ. Saya tidak pernah ke tempat itu selain dengan Widi belasan tahun yang lalu. Ah, mungkin anak saya ingat waktu saya ajak dia dan istri saya (waktu itu langsung setelah menjemput istri saya dari mengajar) ke Coban Pelangi. Pola jalurnya mirip ini. Ada tempat parkir di pinggir jalan, terus kami menuruni ngarai. Agak mirip ini. Bedanya, jalur menuruni ngarai di lembah pelangi terasa hijau pekat karena sedikitnya sinar matahari. Sementara di Coban Glotak ini, jalurnya hijau terang karena vegetasinya bisa dibilang hanya alang-alang, tegalan dan semak.

Tak berapa lama menuruni ngarai, terlihat lah air terjun di kejauhan, di ujung ngarai. Saya dan anak saya langsung berhenti dan memotret-motret karena takjub.

“Untuk apa kita ke sini?” tanya anak saya.

“Hmm,” saya tidak menyangkan mendapat pertanyaan begitu. “Ya, buat melihat air terjunnya, biar melihat alam, mengenali alam.”

“Tapi, kan, ini bukan Angel’s Falls, air terjun tertinggi di dunia yang ada di Venezuela,” katanya.

“Iya, sih, tapi kan ini yang ada di Malang, di dekat tempat kita,” kata saya, masih bingung. “Dan ini juga bagus, dan ayah yakin pasti ada yang kita pelajari di sana nanti.”

Saya jadi terpikir, mungkin semua orang harus mengalami pertanyaan seperti ini. Kenapa kita harus melihat sesuatu? Kenapa kita pergi ke satu tempat? Kenapa? Apakah hanya karena orang lain juga mengunjungi dan memotretnya? Apakah karena kita juga ingin berpoto di tempat itu? Dan seterusnya.

Tak berapa lama kemudian, saya melihat sebuah gubuk. Di sini saya mulai percaya bahwa pak tukang parkir tadi tidak hanya bercanda. Ternyata gubuk itu adalah sebuah warung yang menjual makanan ringan. Penjaganya seorang ibu. Di sebelah warung, yang lokasinya seperti bagian tebing tanah yang dikorek itu, terdapat teduhan dan beberap bangku dan meja. Ternyata warung ini juga menyediakan kopi dan gorengan hangat. Saya beli Nabati buat anak dan “weci” atau “ote-ote” buat saya. Nabati cuma tiga ribu dan weci seribu sepotong. Warung itu terlihat di bagian di mana kita masih bisa melihat air terjun di kejauhan.

Setelah warung itu, kami melanjutkan perjalanan menuruni ngarai, dan kali ini air terjun sudah tidak lagi terlihat. Dia sudah ada di balik lereng bukit. Sementara itu, karena kami sudah semakin menuruni ngarai, mulailah terdengar gemuruh lirih aliran kali yang berasal dari air terjun itu. Perjalanan semakin terasa seperti hiking yang membahagiakan.

Di sini saya mulai terpikir bahwa ada perbedaan antara tempat hiking di Arkansas dan di Malang. Di Arkansas, tempat-tempat tertentu lebih dikenal sebagai tempat hiking, misalnya “Yellow Rock Trail” atau “Fossil Flat Trail” atau “Lost Valley Trail.” Tapi, kalau kita hiking di sana, di satu titik kita pasti akan menemukan sebuah obyek yang menarik, entah itu air terjun, goa, bebatuan, ladang fosil, atau bahkan air terjun di dalam goa. Nah, kalau di Malang beda lagi, kita akan mengenal tempat-tempat seperti Coban Rais, Coban Talun, Coban Pelangi, Coban Glotak dan sebagainya. Kita mengenal tempat-tempat ini sebagai air terjun, tapi pada kenyataannya untuk mencapai ke air terjun yang dimaksud kita masih harus hikin, kadang lebih dari 1 kilometer. Jadi ya, pada intinya sama saja, baik di Arkansas maupun di Malang, semuanya punya sebuah obyek alam yang bagus yang harus ditempuh dengan hiking.

Sejauh ini kita belum sampai di tujuan, yaitu air terjun Coban Glotak, tapi sayangnya waktu menulis saya sudah habis. Saya mungkin akan melanjutkannya kalau waktu menulis itu datang lagi. Tapi, kalau pun tidak, toh saya sudah gugur kewajiban membahas tentang bagaimana sebuah perjalanan itu idealnya tidak perlu terlalu dihantui oleh ambisi mencapai tujuan, tapi justru menjadi perjalanan itu sendiri sebagai tujuan. Bagi saya, perjalanan menuju Coban Glotak itu sendiri sudah membuat saya menemukan banyak hal, tentang perubahan Coban Glotak dari sebuah air terjun tersembunyi menjadi sebuah “obyek wisata” semi mapan, tentang pertanyaan-pertanyaan yang harus saya jawab tentang kenapa kita pergi ke sebuah obyek wisata, dan tentang perbedaan antara tempat-tempat hiking di Arkansas dan Malang. Tapi, pastinya akan tetap menarik juga kalau saya bisa menambahkan apa yang saya temukan di ujung perjalanan saya menuruni Glotak Canyon ini.

Sementara menunggu, silakan berjalan-jalan.

Dari Mana Datangnya Teri, Dari …

Akhirnya datanglah kesempatan untuk jalan-jalan ke satu lagi tempat baru di Indonesia. Kali ini perjalanannya ke Lombok, berkat kebaikan Transbahasa dan jajaran pimpinannya. Lebih tepatnya, tujuan utama dari kunjungan kali ini adalah Gili Nanggu, sebuah pulau kecil di dekat kawasan Sekotong Barat, Lombok Barat. Saya akan coba menuliskan sebanyak mungkin tentang perjalanan ini, tapi kali ini saya pingin cerita satu hal dulu, tentang “bagar” untuk menjaring ikan teri.

Etape terakhir kami sebelum mencapai pulai Gili Nanggu adalah perjalanan perahu motor dari kawasan Sekotong Barat di dekat Pantai Tawun Berugak. Sebelum menyeberang, ketika selesai urusan tawar-menawar perahu, Kiki dan Ella, anggota rombongan yang berperan sebagai panitia perjalanan, membeli beberapa ekor ikan bakar berekor hijau. Ibu penjualnya menyebut ikan-ikan ini “ikan ayam-ayam.” Kami membeli beberapa ekor untuk makan kami malam itu. Dan kami juga membeli degan, kelapa muda, mungkin dengan harapan melengkapi “adegan pantai” kami.

Selanjutnya rombongan kami naik tiga perahu motor, satu perahu kayu dan dua lagi perahu fiber. Saya naik perahu yang dari kayu, namanya Sunset. Sopir kami adalah pemuda yang usianya saya perkirakan tak lebih dari dua puluh tahun, namanya Rian. Belakangan, Rian mengatakan kepada kami bahwa Sunset adalah satu-satunya perahu kayu milik perusahaan wisata tempatnya bekerja–perahu ini yang paling tua. Tapi, perahu yang paling tua ini dilengkapi dengan mesin Suzuki yang paling muda.

Perjalanan menuju pulau Gili Nanggu memakan waktu kurang lebih 15 menit di atas laut dangkal yang ketika itu gelombangnya tenang. Laut berangsur-angsur meningkat dari biru terang ke biru gelap dan kehijauan. Ketika belum terlalu jauh perahu berjalan, saya memperhatikan semacam konstruksi bambu di atas air. Konstruksi bambu itu sekilas mirip wahana pendaratan di bulan atau Mars. Di puncaknya ada bendera Indonesia, yang dari kejauhan terlihat robek. Sekadar mengingatkan, saya dibesarkan di masyarakat agraris yang sangat tidak akrab dengan kehidupan nelayan dan budaya pesisir. Saya sama sekali tidak tahu apa itu. Untungnya saya sudah membuka perkenalan dengan Rian, sopir perahu kami.

Sependengaran saya, Rian mengatakan bangunan itu bernama “bagar.” Katanya, bangunan itu dipakai untuk mencari ikan-ikan kecil. Kalau hari sudah gelap, jaring yang ada di tengah-tengah bangunan itu akan diturunkan. Dan di atasnya akan dinyalakan lampu besar untuk mengundang ikan-ikan. Esok paginya, jaring akan diangkat dan ikan-ikan kecil pun akan tertangkap.

Bagan Jelas.jpg
“bagar” atau “bagan” menurut sebuah postingan blog

Awalnya, saya mengira ikan-ikan kecil yang dimaksud Rian adalah ikan-ikan semacam pindang, atau istilahnya di Banyuwangi “lemuru.” Mestinya, kalau dibandingkan dengan ikan “ayam-ayam” (atau juga disebut ikan “jago-jago”) yang seukuran lengan bawah saya, ikan pindang pasti terbilang kecil. Tapi, dalam kesempatan lain memakai kapal Sunset, saya berbincang dengan Pak Raili, seorang bapak yang bertugas menemani Rian dalam perjalanan ke pulau-pulau lain dengan rombongan kami. Pak Raili menjelaskan bahwa “bagar” itu dipakai untuk menangkap ikan teri! Ah, ini dia ikan kecil-kecil yang dimaksud. Dan ternyata jauh lebih kecil dari ikan pindang yang ada di pikiran saya.

Dari Pak Raili, saya tahu lebih banyak tentang “bagar.” Ternyata, bagar di Sekotong ini tidak terpancang ke dasar laut. Konstruksi bambu ini mengapung-apung dan hanya distabilkan dengan jangkar. Pada waktu-waktu tertentu, “bagar” akan dipindah ke lokasi lain yang lebih banyak ikannya.

Meskipun bagi saya terlihat besar, ternyata “bagar” di perairan Sekotong ini sebenarnya kecil. Kata Pak Raili, “bagar” di Sumbawa lebih besar. Kalau “bagar” di Sekotong ini biasanya dibuat dengan biaya sebesar 26-30 juta, bagar di Sumbawa bisa membutuhkan biaya pembuatan ratusan juga. Tapi tentu saja dengan hasil yang lebih banyak.

Saya langsung teringat film Didi Petet berjudul Jermal yang saya tonton beberapa tahun lalu. Di situ, karakter yang diperankan Didi Petet tinggal di jermal dan tidak pernah ke darat karena satu masalah di masa lampau. Awalnya si tokoh tinggal sendirian di jermal itu, tapi kemudian dia ditemani seorang anak kecil yang ternyata adalah … (silakan tonton sendiri film tersebut untuk lebih jelasnya). Apakah yang dimaksud Pak Raili dengan “bagar Sumbawa” itu konstruksi sebesar jermal di film Didi Petet itu?

Belakangan, ketika bisa lagi konsultasi dengan Google, saya kesulitan mencari informasi tentang “bagar” untuk menjaring teri. Yang ada justru “bagar ikan hiu,” yang adalah sejenis kuliner. Setelah melebarkan istilah pencarian dan lebar-lebar membuka hati, akhirnya saya temukan bahwa dalam bahasa Indonesia, konstruksi bambu ini disebut “bagan.” Sekarang, saya agak ragu, apakah “bagar” itu istilah wahana ini dalam bahasa Sasak, ataukah waktu itu saya salah dengar (karena dikacaukan oleh kecipak ombak dan deru mesin tempel Suzuki)?. Tapi, apapun namanya, yang jelas saya yang sejak kecil sudah kenal ikan teri ini akhirnya jadi bahagia bisa tahu dari mana asalnya teri.

Dari mana asalnya teri? Dari bagan/”bagar” naik ke botok.