Coban Glotak: Mengagungkan Perjalanan, Menomorduakan Tujuan, Mencatat Perubahan

WP_20170305_13_45_19_Pro(Akhirnya, tibalah kembali masa-masa ketika menulis saja adalah sorga–kalau menggunakan istilah andalan Natalie Goldberg. Inilah masa ketika blogger Anda ini bahkan tidak punya waktu yang bisa diluangkan untuk sekadar selonjor dari kehidupan yang melipat-lipat. Tapi, akhirnya datanglah kesempatan itu. Saya ada waktu 15 menit malam ini, dan saya akan menjumpai Anda di sini.)

Banyak orang yang bilang bahwa idealnya, sebuah perjalanan dilakukan tanpa repot-repot dengan tujuan, karena yang berarti adalah perjalanan itu sendiri. Saya bahkan pernah membaca buku yang premisnya begitu, buku Indonesia. Katanya, inti dari sebuah perjalanan adalah perjalanan itu sendiri, dan buahnya adalah penemuan. Begitulah kata buku tersebut. Tapi apakah bisa begitu? Ikhlaskah kita begitu? Melakukan perjalanan dengan mengabaikan tujuan dan memfokuskan pada perjalanan dan penemuan dalam perjalanan tersebut? Jawabannya bisa iya dan tidak. Saya pribadi tidak terlalu memikirkan itu saat berjalan. Tapi, setelah sebuah perjalanan selesai dan mencoba memaknainya, saya menemukan bahwa mungkin saja saya pernah melakukannya. Contoh yang bisa saya ceritakan kali ini adalah perjalanan saya ke Coban Glotak minggu lalu. Ternyata saya benar-benar menjadikan perjalanan itu sendiri sebagai tujuannya, dan saya puas dengannya.

Awalnya, saya tidak benar-benar punya rencana ke Coban Glotak. Saya hanya tahu bahwa saya dan anak saya harus ke luar rumah hari Minggu itu. Saya perlu beli bensin dan dia perlu beli lem Uhu dan plaster luka. Kami pun pergi sekitar jam 11:30. Setelah Lem Uhu dan bensin terbeli, saya dan anak masih malas pulang. Akhirnya saya menyarankan hiking, meskipun terlalu panas. Satu tempat hiking yang sudah cukup lama ingin saya tunjukkan ke anak saya adalah Coban Glotak, yaitu sebuah air terjun di Kecamatan Wagir. “Coban” dalam bahasa Jawa di kawasan Malang ini berarti “air terjun” (saya tidak tahu pasti etimologinya).

Sekali-kalinya saya mengunjungi Coban Glotak adalah dengan Widi, seorang sahabat sejak jaman kuliah, belasan tahun yang lalu. Antara tahun 2001-2004 (saya benar-benar tidak ingat pastinya). Seingat saya, kami ke sana naik motornya Widi (Honda Tiger 2000), menitipkan motor di rumah penduduk, terus berjalan menyusuri kebun kopi, tegal, dan berpapasan dengan anjing petani yang mengagetkan kami, menyusuri kali, dan akhirnya tiba di air terjun yang cukup tinggi. Pendeknya, Coban Glotak ketika itu “hanya” sebuah air terjun yang ada di ujung peradaban di lereng Gunung Kawi.

Setelah menempuh perjalanan lewat kawasan Mergan dan Bandulan, masuklah saya ke kawasan kecamatan Wagir. Kami terus menempuh jalan naik melewat desa Jedong dan sebagainya, hingga akhirnya tiba di desa Dalisodo, di mana jalan meliuk ke kiri dan sedikit demi sedikit mulai berlubang-lubang dan penuh batu meringis tertata. Sejauh itu, saya sangat puas dengan kinerja Belalang Tempur saya (Honda Win 100). Pada tanjakan yang medium, dia dengan gagah mendaki dengan gigi tiga. Pada saat-saat tertentu, ketika saya harus menanjak setelah mengurangi kecepatan karena satu dan lain hal, Belalang Tempur dengan santai mendaki pada gigi dua.

Ketika mulai masuk jalanan yang semakin banyak berlobang dan semakin menanjak, permainan gigi dua semakin menjadi. Ada saat-saat ketika saya benar-benar harus turun ke gigi satu. Kami berpapasan dengan penduduk lokal yang banyak di antaranya memodifikasi motor bebek mereka menjadi semacam trail, dengan spakbor depan mendongak dan roda trail yang mirip seperti tahu seukuran dadu untuk sambal goreng itu. Banyak di antara motor penduduk lokal ini yang tidak berplat, dan mungkin motor-motor ini memang hanya digunakan untuk keperluan ke ladang. Dengan mengendarai Honda Win 100, saya yakin saya cukup bisa melebur dengan penduduk lokal. Paling tidak, saya lebih melebur dibandingkan orang-orang yang datang dengan motor gede semacam CB150R atau bahkan motor trail pabrikan macam KLX dan Viar Cross. Ketika sudah semakin mendekati lokasi, semakin diperlukan persneling satu dan bahkan ditambah permainan kopling untuk meningkatkan RPM. Saya tidak ingat apakah dulu, ketika bersama Widi, jalurnya seberat itu. Mungkin waktu itu beratnya medan tidak terasa karena saya dibonceng Widi naik Honda Tiger 2000–yang kapasitas mesinnya 200% Belalang Tempur.

Sejak jauh dari tujuan, eksistensi Coban Glotak sudah terasa. Berbeda dengan dulu, ketika Widi hanya mengandalkan ingatan pernah diajak lintas alam waktu SMP ke daerah itu, kali ini banyak penunjuk arah menuju Coban Glotak yang membimbing kita hingga ke lokasi. Ada kesan bahwa Coban Glotak sekarang sudah disiapkan untuk dikunjungi orang. Atau mungkin orang lokal ingin Coban Glotak ditemukan orang.

Akhirnya, setelah mengikuti penunjuk arah dan tanya satu kali ke anak-anak lokal (ketika mulai masuk kawasan tegalan), akhirnya tibalah saya ke titik terakhir. Benarlah: ternyata sekarang Coban Glotak sudah mempunyai semacam pintu gerbang dan loket tiket masuk. Ada beberapa bangunan di tengah tegalan yang seingat saya dulu tidak ada. Ada sebuah pos, kawasan parkir mini (mungkin tidak akan muat lebih dari 20 sepeda motor), sebuah toilet, dan bahkan musholla mini. Untuk parkir dan masuk saya dan anak, saya hanya perlu membayar Rp6000. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30-an, dan anak saya belum makan siang. Saya pun bertanya apakah mereka menjual snack.

“Di bawah nanti ada, Mas,” kata salah seorang petugas parkir.

“Suwun, Pak,” saya separuh tidak percaya. Seingat saya, Coban Glotak dulu ada di tengah hutan dan bukan tempat wisata.

Anak saya berbincang-bincang dengan para petugas parkir yang merokok. Karena merasa kami sudah terlalu jauh dari rumah di Malang, anak saya heran apakah kami masih di Jawa.

“Pak, apa Anda bicara bahasa Jawa?” tanya anak saya.

“Iya, dik. Di sini kita hanya bicara bahasa Jawa dan Inggris,” kata seorang bapak bertopi dan merokok.

“Oh yeah?”  seru anak saya.

“Yes, tapi bisanya cuma ‘I love you’ dan ‘No smoking’ saja,” kata bapak itu sambil tertawa. Asap rokoknya kalang kabut di depan wajah ditendang-tendang tawanya.

“Hahaha… Mungkin bapak ngomong ‘I love smoking’,” kata anak saya sambil ngakak.

Setelah cukup guyonan, akhirnya kami pun mulai menuruni jalan setapak. Di situ terlihat bahwa bangunan yang tadinya saya pikir warung itu ternyata toilet, dijaga beberapa perempuan. Saya dan anak terus berjalan, dan anak saya bilang bahwa sepertinya kami pernah ke situ. Saya tidak pernah ke tempat itu selain dengan Widi belasan tahun yang lalu. Ah, mungkin anak saya ingat waktu saya ajak dia dan istri saya (waktu itu langsung setelah menjemput istri saya dari mengajar) ke Coban Pelangi. Pola jalurnya mirip ini. Ada tempat parkir di pinggir jalan, terus kami menuruni ngarai. Agak mirip ini. Bedanya, jalur menuruni ngarai di lembah pelangi terasa hijau pekat karena sedikitnya sinar matahari. Sementara di Coban Glotak ini, jalurnya hijau terang karena vegetasinya bisa dibilang hanya alang-alang, tegalan dan semak.

Tak berapa lama menuruni ngarai, terlihat lah air terjun di kejauhan, di ujung ngarai. Saya dan anak saya langsung berhenti dan memotret-motret karena takjub.

“Untuk apa kita ke sini?” tanya anak saya.

“Hmm,” saya tidak menyangkan mendapat pertanyaan begitu. “Ya, buat melihat air terjunnya, biar melihat alam, mengenali alam.”

“Tapi, kan, ini bukan Angel’s Falls, air terjun tertinggi di dunia yang ada di Venezuela,” katanya.

“Iya, sih, tapi kan ini yang ada di Malang, di dekat tempat kita,” kata saya, masih bingung. “Dan ini juga bagus, dan ayah yakin pasti ada yang kita pelajari di sana nanti.”

Saya jadi terpikir, mungkin semua orang harus mengalami pertanyaan seperti ini. Kenapa kita harus melihat sesuatu? Kenapa kita pergi ke satu tempat? Kenapa? Apakah hanya karena orang lain juga mengunjungi dan memotretnya? Apakah karena kita juga ingin berpoto di tempat itu? Dan seterusnya.

Tak berapa lama kemudian, saya melihat sebuah gubuk. Di sini saya mulai percaya bahwa pak tukang parkir tadi tidak hanya bercanda. Ternyata gubuk itu adalah sebuah warung yang menjual makanan ringan. Penjaganya seorang ibu. Di sebelah warung, yang lokasinya seperti bagian tebing tanah yang dikorek itu, terdapat teduhan dan beberap bangku dan meja. Ternyata warung ini juga menyediakan kopi dan gorengan hangat. Saya beli Nabati buat anak dan “weci” atau “ote-ote” buat saya. Nabati cuma tiga ribu dan weci seribu sepotong. Warung itu terlihat di bagian di mana kita masih bisa melihat air terjun di kejauhan.

Setelah warung itu, kami melanjutkan perjalanan menuruni ngarai, dan kali ini air terjun sudah tidak lagi terlihat. Dia sudah ada di balik lereng bukit. Sementara itu, karena kami sudah semakin menuruni ngarai, mulailah terdengar gemuruh lirih aliran kali yang berasal dari air terjun itu. Perjalanan semakin terasa seperti hiking yang membahagiakan.

Di sini saya mulai terpikir bahwa ada perbedaan antara tempat hiking di Arkansas dan di Malang. Di Arkansas, tempat-tempat tertentu lebih dikenal sebagai tempat hiking, misalnya “Yellow Rock Trail” atau “Fossil Flat Trail” atau “Lost Valley Trail.” Tapi, kalau kita hiking di sana, di satu titik kita pasti akan menemukan sebuah obyek yang menarik, entah itu air terjun, goa, bebatuan, ladang fosil, atau bahkan air terjun di dalam goa. Nah, kalau di Malang beda lagi, kita akan mengenal tempat-tempat seperti Coban Rais, Coban Talun, Coban Pelangi, Coban Glotak dan sebagainya. Kita mengenal tempat-tempat ini sebagai air terjun, tapi pada kenyataannya untuk mencapai ke air terjun yang dimaksud kita masih harus hikin, kadang lebih dari 1 kilometer. Jadi ya, pada intinya sama saja, baik di Arkansas maupun di Malang, semuanya punya sebuah obyek alam yang bagus yang harus ditempuh dengan hiking.

Sejauh ini kita belum sampai di tujuan, yaitu air terjun Coban Glotak, tapi sayangnya waktu menulis saya sudah habis. Saya mungkin akan melanjutkannya kalau waktu menulis itu datang lagi. Tapi, kalau pun tidak, toh saya sudah gugur kewajiban membahas tentang bagaimana sebuah perjalanan itu idealnya tidak perlu terlalu dihantui oleh ambisi mencapai tujuan, tapi justru menjadi perjalanan itu sendiri sebagai tujuan. Bagi saya, perjalanan menuju Coban Glotak itu sendiri sudah membuat saya menemukan banyak hal, tentang perubahan Coban Glotak dari sebuah air terjun tersembunyi menjadi sebuah “obyek wisata” semi mapan, tentang pertanyaan-pertanyaan yang harus saya jawab tentang kenapa kita pergi ke sebuah obyek wisata, dan tentang perbedaan antara tempat-tempat hiking di Arkansas dan Malang. Tapi, pastinya akan tetap menarik juga kalau saya bisa menambahkan apa yang saya temukan di ujung perjalanan saya menuruni Glotak Canyon ini.

Sementara menunggu, silakan berjalan-jalan.

Laporan Studi Banding: Kura-kura Arkansas

Ada satu lagi fauna yang cukup lazim kita temui di Amerika sebelah sini, terutama sehabis hujan: kura-kura. Seingat saya, sangat jarang sekali kita ketemu kura-kura di Jawa Timur. Di kampung saya, Krembung, Sidoarjo, sekali-kalinya saya dengar cerita tentang kura-kura (yang di sana disebut “bulus”) adalah ketika saya masih SD. Kata seorang Oom saya yang suka memancing, kura-kura bisa ditemukan di Kali Kanal (sebuah sungai irigasi utama yang airnya diambil dari Kali Brantas atau Kali Porong). Tapi tentu saja saya tidak pernah melihat sendiri kura-kura yang disinyalir ada di kali tersebut.

Di Amerika sebelah sini, saya justru sering sekali melihat kura-kura, kalau tidak di danau, di kolam, di kali, ya di pinggir jalan. Kura-kura yang pernah saya lihat relatif beragam. Pernah suatu kali saya menemukan kura-kura seukuran lebih besar sedikit dari telapak tangan (yang ada di video ini adalah salah satunya). Aryo, seorang teman dari Jakarta, ketika itu mengira kura-kura ini berjalan terlalu jauh dari rumah dan akhirnya dia masukkan ke dalam tasnya dengan tujuan melepaskannya di danau (yang menjadi titik terjauh rute sepedaan kami). Di perjalanan, kami ketemu lagi kura-kura yang sebesar tas punggung dan lebih ganas, suka mencaplok-caplok. Orang-orang di sini menyebutnya “snapping turtle,” yang dalam bahasa Krembung-nya mungkin bisa disebut “bulus jepaplok.”

Yang ada di video ini adalah seekor kura-kura yang berukuran relatif kecil. Kura-kura ini lincah. Kami menemukannya di pinggir jalan dalam sebuah acara sepedaan menuju Danau Wilson, sebuah danau yang dulunya merupakan sumber air minum untuk kawasan Amerika sebelah sini sebelum tahun 1960-an.

(Laporan Studi Banding) Mt. Kessler Greenways, Hutan Lindung Dalam Kota

Laporan Studi Banding kali ini menampilkan Mt. Kessler Greenways, sebuah lokasi hiking, sepeda gunung, lari, dll yg masih alami dan masih berada di dalam kota Fayetteville, Arkansas.

Dua pertiga dari lokasi seluas 1500 akre ini adalah tanah milih pribadi yang oleh pemiliknya direlakan untuk dipakai buat kepentingan publik yg ingin menikmati alam yg masih alami tapi tidak jauh dari pusat kota. Syaratnya cuma satu, siapa yang mau masuk harus menghubungi pemilik (lewat email atau telpon). Dua pertiga lokasi yang merupakan lahan milik pribadi itu dimiliki oleh empat orang berbeda.

Di kawasan ini kita bisa melihat batu-batu cadas yang enak buat “bouldering” (semacam panjat tebing yang cuman merayap itu lho). Banyak juga orang yang datang untuk sekadar memotret daun-daun, lumut-lumut, atau fosil-fosil (kawasan tengah Amerika Utara sekitar 300 juta tahun yang lalu adalah laut dangkal, jadi kalau agak serius mencari kita bisa menemukan fosil-fosil kerang atau sejenisnya di bebatuan (menurut arkeologi, fosil-fosil ini tidak dianggap begitu berharga karena saking banyaknya).

Laporan Studi Banding: Mancing Serba Teratur

Saudara-saudara penggemar studi banding yang saya kagumi,

Dalam kesempatan kali ini, saya ingin bercerita tentang memancing di negara Aa’ Syam. Seperti Anda tahu, saya saat ini sedang tinggal di negara bagian Arkansas, yang menjuluki dirinya “Negara Bagian Alami.” Tentu Arkansas menyebut diri alami karena masih banyaknya kekayaan alam yang masih alami, tanpa terlalu banyak sentuhan modernisasi. Banyak hutan dan sungai yang alami. Banyak satwa dan ikan yang masih alami. Banyak orang yang berburu dan memancing pada saat-saat tertentu. Tapi, sealami-alaminya Arkansas, tetap saja ada pengaturan yang sangat ketat dalam hal berburu dan memancing.

Urusan memancing terbilang cukup pelik di sini, sangat diatur. Kita tak bisa tinggal jongkok dan melempar kail ke sungai. Kita butuh surat izin, butuh tahu ikan mana yang boleh dipancing dan mana yang tidak, dan butuh tahu waktu–ini yang bikin saya ngakak tak percaya ketika pertama kali mendengarnya. Bayangkan, di tempat-tempat tertentu, ada waktu-waktu tertentu untuk memancing. Biar cerita ini tidak seperti esai persuasi, saya akan ceritakan saja detil kunjungan studi banding saya beberapa waktu yang lalu di Roaring River State Park, salah satu bagian dari Mark Twain National Forest. (Untuk informasi mengenai istilah-istilah teknis ini, silakan merujuk ke kamus istilah yang saya posting sebelumnya di sini.) Sebelum saya ceritakan detil studi banding itu, mari kita lihat dulu lokasinya di peta Amerika: Continue reading “Laporan Studi Banding: Mancing Serba Teratur”

Sepilihan Foto Musim Semi di Arkansas

Baiklah, saudara-saudara. Beberapa waktu yang lalu saya posting tentang betapa masih enggannya saya menuliskan tentang kegiatan keluar-masuk hutan dan naik-turun gunung bersama keluarga. Ya, saya masih enggan melakukan semua itu. Entah kenapa. Mungkin saya capek, mungkin saya memang masih resah memikirkan hakikat dari kegiatan olahraga dan rekreasi. Kedua kemungkinan itu memang ada. Tapi, kali ini, saya ingin sedikit memecah keresahan itu dengan memposting sejumlah foto yang saya ambil dari sejumlah kegiatan olahraga dan rekreasi saya selama awal hingga akhir musim semi, tepat sebelum musim panas, ketika hawa terlalu gerah dan kebetulan juga sedang banyak kegiatan terkait pekerjaan dan sekaligus bertepatan dengan ramadhan.

Memang judul postingan ini sepilihan foto musim semi di Arkansas, tapi tidak semua foto ini diambil di Arkansas. Dua foto pertama saya ambil di Maxwell Wildlife Refuge yang lokasinya di negara bagian Kansas. Tapi, karena saya mengambilnya pada awal musim semi, maka sekaian saja saya sertakan di sini. Untuk foto-foto yang lain, sebagian saya ambil di kawasan kota Fayetteville, Arkansas, dan sebagian lainnya di tempat-tempat hiking di sekitaran Fayetteville. Semoga ada kesempatan untuk menuliskan postingan-postingan yang cukup berguna tentang tempat-tempat yang saya potret di sini.

Selamat menikmati…

100_3740
Bison di Maxwell Wildlife Refuge
100_3730
Padang bermalas-malasan para bison di Maxwell Wildlife Refuge di Kansas
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ketika orang-orang sudah mulai bersepeda dengan santai. Foto diambil di sebuah terowongan yang memungkin jalur sepeda/olahraga menyeberang jalan tol.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Patung “Courage to Lead” berlatarkan warna-warni musim semi di sebuah pagi.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gedung Old Main, gedung tertua di kampus University of Arkansas di sebuah sore, di tengah-tengah rimbun dedaunan akhir musim semi dan berlatar perbukitan Ozark.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Perbukitan Ozark di kawasan selatan kota Fayetteville dibelah jalan raya Interstate 49 ke arah Selatan.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Serangga Mayfly yang baru saja bermetamorfosa, menjadi serangga bersayap yang siap hidup di luar air, setelah menghabiskan lebih kurang setahun sebagai larva yang tinggal di dalam air. Masa hidup serangga ini dalam fase luar air ini hanya beberapa hari saja (terkadang malah cuma satu hari).
Siang Semi-1
Kabut tebal di sebuah pagi awal musim semi.
Siang Semi-3
Kabut pagi awal musim semi di sebuah taman bermain kanak-kanak.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Formasi batuan di sebuah jalur hiking Tanyard Creek Nature Trail yang dijaga kealamiahannya di tengah-tengah kawasan pemukiman elit pensiunan.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Masih dari keelokan alam bernama Tanyard Creek Nature Trail yang berlokasi di tengah-tengah kawasan pemukiman elit yang masih dijaga kelestariannya.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Berolahraga air di danau buatan Windsor yang dikelola oleh pengembang kawasan kota kecil elit para pensiunan, Bella Vista.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Salah satu sudut di jalur hiking pendek War Eagle Trail di kawasan Withrow Springs State Park. Di sebagian titik jalur pendakian terasa sangat ekstrim dan cantik, yang memungkinkan kita melihat ke arah sungai dangkal War Eagle Creek jauh di bawah sana…
Gua War Eagle, yang beberapa tahun ini terakhir demi menjaga agar para kelelawar tidak tertular wabah hidung putih, sebuah wabah penyakit kelelawar yang banyak menjangkiti (dan mengurangi populasi) kelelawar di kawasan Amerika utara sejak tahun 2011. Manusia dilarang masuk gua karena wabah itu ditularkan oleh manusia.
Gua War Eagle, yang beberapa tahun terakhir ini ditutup demi menjaga agar para kelelawar tidak tertular wabah hidung putih, sebuah wabah penyakit kelelawar yang banyak menjangkiti (dan mengurangi populasi) kelelawar di kawasan Amerika utara sejak tahun 2011. Gua ini ditutup untuk manusia karena, ya, wabah itu ditularkan oleh manusia. Anda tidak salah baca.

Mendaki Bukit, Menembus Hutan, Mencebur Kali, Menilik Gua, dan Malas Menuliskannya

Musim panas lagi di Amerika sebelah sini. Dengan hujan yang lagi gencar di akhir Mei dan awal Juni, tak ada yang lebih rimbun dari hutan bulan Juni. Lumut tumbuh segar, jamur menyembul malu, sumber mengalir bancar. Ular-ular semangat di pagi hari, menyergap kadal kecil dan kodok lincah.

Saya dan keluarga memaksimalkan segarnya alam dan hawa yang sedang sempurna, serupa Sidoarjo di terik siang: kami sempatkan menjelajahi jalur-jalur “pendakian” di sekitar Northwest Arkansas, menyusuri kali-kali bening penuh ikan yang lerengnya dipenuhi formasi bebatuan, memasuki goa-goa basah, menyusur pesisir danau. Utamanya adalah agar anak saya menggunakan energinya yg berlebih dan agar lebih mencintai alam.

Tapi, entah kenapa, saya masih malas menuliskannya… Saya banyak memotret, tapi masih terlalu menikmati memandangnya sendiri dan tidak terlalu ingin membaginya… Saya banyak mencorat-coret di buku tulis, tapi saya tidak ingin orang lain membacanya…

Kenapa?

Sekawanan Elk (atau “Elka”) di Kawasan Buffalo National River, Arkansas

Sepulang hiking di Trail Lembah Sesat dua minggu yang lalu, ketika itu matahari baru saja tenggelam, saya melihat mobil-mobil diparkir agak serampangan di kawasan Ponca. Orang-orang mengeluarkan tripod dan teropong, mengamati ilalang. Saya lihat ilalang itu, dan seketika teringat satu siang lima tahun yang lalu: seorang kawan, petualang profesional, menunjukkan kepada saya dan teman-teman sekawanan elk.

Binatang apa elk ini? Mari kita bicara biologi. Elk adalah binatang dari kelas mamalia dari keluarga “cervidae,” seperti halnya rusa, mus, karibu, dan binatang-binatang sejenisnya yang bertanduk cabang-cabang. Kalau dari jauh, orang Jawa yang sudah berabad-abad hidup jauh dari hutan tidak akan bisa membedakannya dengan kijang, atau bahkan kancil. Tapi, kalau kita perhatikan dari dekat, akan tampak perbedaannya, terutama karena ukurannya. Meskipun kijang jantan bisa cukup besar dan bertanduk indah, seperti cabang-cabang pohon, ukurannya tetap tidak sebesar elk. Bisa dibilang, elk ini ukurannya seperti sapi standar, tapi lehernya lebih panjang seperti kijang. Warna tubuhnya juga unik. Warna badannya coklat pucat terang, seperti tanah kering. Tapi kaki, bokong, leher dan kepalanya berwarna coklat gelap, seperti coklat. Tentu pola warna seperti ini tidak asing di dunia satwa, panda dan tapir memiliki pola serupa ini.

Kenapa elk ini terkesan unik di Arkansas? Kelangkaannya. Di kawasan pegunungan Ozark di Arkansas, diperkirakan hanya ada sekitar 200 hingga 300 ekor. Di bulan Oktober, ketika musim berburu dimulai (pertama dengan menggunakan busur dan panah, dan selanjutnya pada bulan November boleh menggunakan senapan), ketika kijang-kijang mulai punya alasan untuk resah, para elk tetap bisa hidup tenang. Elk, di Arkansas, termasuk binatang dilindungi, dan siapa saja yang menembaknya akan berurusan dengan hukum negara bagian. Beda lagi di Colorado, di mana populasi elk cukup tinggi–meski tidak setinggi kijang: orang-orang masih boleh berburu elk dengan sarat-sarat tertentu. Biasanya orang harus membayar 500 dolar untuk ikut lotere berburu elk. Kalau nama mereka terambil saat lotere, mereka boleh masuk hutan dan memburu elk. Tapi kalau nama mereka tidak menang lotere, uang 500 dolar itu hangus.

Pada maghrib dua minggu yang lalu itu, saya tidak bisa melihat dengan jelas kawanan elk di kawasan Ponca tersebut, karena sudah mulai gelap dan mata saya juga tidak secanggih teropong. Tapi saya melihat samar-samar: beberapa ekor elk mulai leyeh-leyeh di alang-alang, baru keluar dari semak-semak. Karena keterbatasan sarana dan prasarana, saya pun tidak bisa mendapatkan gambar yang bagus. Namun, tentu saja saya selalu bisa cari gambar elk dari hard drive, dan ini adalah gambar yang saya ambil pada musim gugur lima tahun yang lalu.

Sekawanan elk di kawasan Ponca, Buffalo National River, Arkansas. Sepertinya binatang ini tidak punya nama Indonesia, tapi demi memuaskan hasrat penerjemahan, saya akan terjemahkan saja jadi "elka." Maka, mari kita ulangi:  "Sekawanan elka di Ponka, Sungai Nasional Kerbau, Arkansas..." Foto diambil pada musim gugur tahun 2009, sepulang kemping dua hari di kawasan Richland Creek Wilderness Area atau Kawasan Rimba Kali Negeri Kaya
Sekawanan elk di kawasan Ponca, Buffalo National River, Arkansas. Sepertinya binatang ini tidak punya nama Indonesia, tapi demi memuaskan hasrat penerjemahan, saya akan terjemahkan saja jadi “elka.” Maka, mari kita ulangi:
“Sekawanan elka di Ponka, Sungai Nasional Kerbau, Arkansas…”
Foto diambil pada musim gugur tahun 2009, sepulang kemping dua hari di kawasan Richland Creek Wilderness Area atau Kawasan Rimba Kali Negeri Kaya