Menurut Alam, Burung Jantan Lebih Cantik

Akhirnya, datang juga kesempatan itu. Di sebuah pagi yang dingin, setelah hujan beberapa hari berturut-turut, , saya terbangun mendengar suara mendecak-decak di luar jendela dapur. Bunyi mendecak-decak adalah salah satu jenis cuitan burung kardinal. Selama tiga tahun terakhir, saya lihat burung kardinal jantan dan betina di semak-semak belakang rumah saya. Saya pernah memotret mereka berdua, sendiri-sendiri. Tapi di pagi hari yang dingin itu, mereka tampak kedinginan berdua di semak-semak. Segera saja saya sambar kamera dari meja tulis (yang kebetulan ada di ruang tamu, sangat dekat dengan dapur). Langsung saja saya jepretkan foto keluarga ini untuk pertama kalinya.

Silakan lihat bagaimana kompaknya mereka berdua.

Seperti seringkali saya sebutkan dan tak henti-hentinya saya akan ulangi, burung jantan cenderung tampak lebih elok dan cantik dibanding burung betina. Yang merah ini adalah Kardinal jantan (yang saya namai Mas Kardi), dan yang kecoklatan itu adalah kardinal betina (yang saya namai Mbak Kardinah). Mungkin secara alami seperti itulah alam memperlakukan jantan dan betina. Merak jantan tampak elok dengan ekornya yang panjang, mekar (btw, apakah merak itu anagram dari “mekar”?), dan cantik. Dan merak betina tampak seperti unggas besar biasa.*

Perbedaan antara kecantikan kardinal jantan dan betina ini juga yang dijadikan bandingan untuk perbedaan pakaian tradisional pria dan wanita pada bangsa Cherokee. Sekadar informasi, bangsa Cherokee adalah bangsa pribumi dari kawasan Tenggara Amerika yang akhirnya dipindahpaksa ke kawasan Selatan Amerika (di wilayah yang sekarang bernama negara bagian Oklahoma). Menurut Noel Grayson, seorang pegawai Cherokee Heritage Museum yang dibesarkan secara tradisional oleh orang tuanya yang berdarah Cherokee asli, para perempuan Cherokee dulu membuatkan pakaian dan hiasan yang cantik-cantik untuk suami mereka, sementara pakaian mereka sendiri tampak biasa-biasa.

“Seperti itu jugalah alam,” kata Grayson. “Kalau Anda lihat, kardinal jantan jauh lebih cantik daripada kardinal betina. Bangsa Cherokee menghormati alam dan itulah yang menjadi contoh bagi kami.” Demikian menurut Grayson tentang bangsa Cherokee tradisional, sebagaimana tercermin dari pakaian adat dan hasil-hasil studi antropologi atas bangsa Cherokee.

Sementara sekian dulu tentang perbedaan warna antara kardinal jantan dan betina dan pakaian tradisional pria dan wanita Cherokee. Saya harap dalam waktu dekat bisa menuliskan sekilas tentang sistem matrilinial dalam masyarakat Cherokee. Untuk saat ini, silakan dulu menikmati foto bersama Mas Kardi dan Mbak Kardina.

* Dalam bahasa Inggris, “peacock” yang selalu digambarkan dengan ekor merak itu hanya mengacu kepada burung merak jantan. Untuk burung merak betina, istilahnya adalah “peahen.” Seperti halnya ayam jantan itu “cock” dan ayam betina itu “hen.” Seperti halnya “mermaid” itu puteri duyung dan “merman” itu putra duyung. Dan sebagainya.

Burung
Foto keluarga pasangan Mas Kardi dan Mbak Kardina
Advertisements

From Today’s Edition of Interfaith America

I ran into a young man on the stairs as I was descending to the library lobby. I smiled as usual, and he smiled back. I kept descending a few steps.

Man: Excuse me, Sir.

Me: Yes.

Man: Hi, my name’s James.

Me: I’m Misdi.

Man: Mmhh. I’m a Christian. Are you a Christian?

Me: No. I’m a Muslim.

Man: Did you pray back there? I saw you bow your head and close your eyes before studying.

Me: Well, actually no. I was sleepy.

Man: Oh, I see.

Me: I do pray, though, but not before studying. Sometimes before eating.

Man: I see. Well. Anyways, Merry Christmas!

Me: Merry Christmas!

I continued descending the the stairs, and I remembered two days before my wife had told me to recite “Rabbi zidni ilma…” before studying. I guess James was just somebody God sent to remind me to say hi to Him/Her/It before I start studying.

(Review) Night Journey by Murad Kalam

With such a title, this book can bring a lot of things into mind. Combined with the Arabic sounding name, Murad Kalam (born Godffrey Williams), this book can easily refer to the journey undertaken by Prophet Muhammad to have an audience the Divine to receive firsthand the command to pray five times a day. But no, this book is far from that–although probably yes in spirit.

It narrates the life of Eddie Bloodpath (what a Hollywood name! like a real Heavy metal band name). Growing up in the poor part of Phoenix in an underprivileged family, Eddie is familiar with rough life since very young. In his mid/late teens, he finds his calling in boxing. For a time, this book is similar to any powerful contemporary Africa-American literature the likes of Ralph Ellison’s Invisible Man or Richard Wright’s Native Son. There is, however, a significant portion of the story that feels different from those giant books: a section about Eddie’s involvement with the Nation of Islam, which introduces him to dignity, discipline, and sense of direction. Interestingly, the book does not end with this. As pointed out by a critic, the book successfully saves Eddie from being a mouthpiece of such ideology. Life goes on for Eddie with a unique turn, shaping him from a boy who is shocked into muteness by his father’s flight into a young man capable of deciding things for himself, although nobody will know what life has in store for Eddie.

By the way, for those interested in the spiritual/religious aspect of Muslim American literature, the Nation of Islam and the post-Nation of Islam part is an interesting take. I don’t think I’ve seen any late 20th century and early 21th century African American literature that talks about NOI in this manner. And, as is common in Muslim American literature, there’s also some critique of the religion/religious practice that any Muslim American can value…

So, why is it called Night Journey? I’m still not sure. Probably because a lot of the thinking process happens during night travels? Probably because to reach some kind of light one has to go through a night journey? Because Eddie’s journey is dark but still promises hope of some sort?

Hari Raya Dilematis

Tibalah saatnya hari raya paling raya di Negeri Aa’ Sam: Thanksgiving, atau Hari Raya Panjat Syukur. Orang-orang di negeri ini merayakan hari besar ini tak peduli apapun agama mereka–Kristen, Katolik, Yahudi, Islam, Sikh, Hindu, dll. Tapi, kalau kita menilik sedikit saja sejarah di balik hari raya ini, tak urung kita akan mendapati sesuatu yang janggal: hari raya ini memperingati upacara syukuran karena keberhasilan panen pertama para pendatang yang kelak anak turunnya akan menguasai tanah Amerika Utara ini, dan memojokkan dan bahkan membantai orang-orang pribumi yang memungkinkan mereka berhasil panen untuk pertama kalinya. Makanya, banyak juga sebenarnya orang-orang di Negeri Aa’ Sam (bahkan yang kulit putih) yang mengkritisi hari raya ini. Bagi blogger Anda ini secara pribadi, tentu ini hari raya yang dilematis. Kenapa?

Sebelum terlalu jauh, perlu kita akui bahwa sejarah Thanksgiving sepertinya tidak terlalu penting lagi bagi banyak orang saat ini. Kebanyakan orang saat ini memahami Thanksgiving sebagai hari untuk bersyukur atas apa-apa yang berarti bagi hidup kita saat ini. Dan bagi banyak orang lainnya, terutama orang-orang yang baru tinggal di Amerika (entah itu imigran maupun mahasiswa), terutama yang cukup duit, Thanksgiving adalah saatnya belanja karena pada saat itu toko-toko jor-joran memberi diskon. Begitu juga dengan toko-toko online: mereka juga jor-joran memberi diskon.

Seperti apa sejarahnya? Menurut versi resmi ensiklopedia (seperti ini, misalnya, yang ditulis untuk konsumsi anak-anak tapi tidak simplistik dan tidak menyesatkan) begini singkatnya: 1) Thanksgiving yang pertama diadakan pada tahun 1621, untuk merayakan keberhasilan panen pertama para pendatang eropa (yang disebut “pilgrim” atau “peziarah,” yang merupakan kelompok separatis relijius yang merasa tidak bisa menjalankan agamanya dengan bebas di Inggris, yang juga disebut sebagai kaum Puritan). Sebelum panen pertama ini, mereka masih tinggal di kapal di perairan New England (Amerika Timur Laut) dan banyak dari mereka yang mati karena kelaparan dan kurang gizi pada musim dingin sebelumnya. Dan keberhasilan mereka ini dikarenakan bantuan Squanto, seorang pribumi yang bisa berbahasa Inggris karena sebelumnya pernah menjadi budak orang Inggris dan meloloskan diri. Keberhasilan panen ini dirayakan dengan pesta tiga hari berturut-turut, disertai sumbangan lima ekor rusa dari para penduduk pribumi. Selanjutnya, 2) seabad lebih kemudian Thomas Jefferson mencanangkan peringatan Thanksgiving pertama tadi secara resmi. Dan, belakangan 3) seratus tahun selanjutnya, atas desakan dan kampanye penulis Sara Josepha Hale (yang menciptakan lagu “Marry Had a Little Lamb”), Abraham Lincoln mencanangkan Thanksgiving sebagai hari raya nasional di tengah Perang Saudara. Jadi, secara umumnya, merayakan Thanksgiving adalah mengingat kembali keberhasilan panen yang terwujud oleh semangat kerukunan dan kerjasama antara orang kulit putih dengan penduduk pribumi pada tahun 1621 itu.

Tapi, apakah seindah itu? Sayangnya tidak, dan ketidakindahan sejarah ini adalah apa yang terjadi beberapa dekade setelah itu.

Setelah perayaan Thanksgiving pertama itu, hubungan antara para pendatang Eropa dengan penduduk pribumi tidak indah. Banyak di antara pendatang ini yang menganggap orang pribumi itu sebagai orang yang belum beradab, dan harus diadabkan. Dengan itu, Kristenisasi penduduk pribumi mulai berjalan. Kemudian banyak terjadi konflik antara pendatang dan pribumi, terutama karena pribumi merasa semakin terdesak. Janji peradaban melalui agama juga ternyata tidak terwujud. Banyak pribumi yang sudah Kristen (yang disebut “Indian Sembahyang”) yang akhirnya disisihkan, dikumpulkan jadi satu di pulau dan dibiarkan kelaparan. Banyak terjadi peperangan yang berlanjut dengan pembantaian dan pembudakan para penduduk pribumi. Pendeknya, dalam lima puluh tahun saja, sebagian besar penduduk pribumi di kawasan Amerika Timur Laut itu habis.

Memang, tidak semua pendatang Eropa seperti itu. Menurut Akbar Ahmed, penulis buku Journey into America: The Challenge of Islam, ada tiga kelompok identitas Amerika (primordial, pluralis, dan predator). Kelompok yang saya sebutkan di atas itu adalah kelompok yang “primordial” (yang ingin meng-Kristen-kan Amerika) dan golongan “predator” (yang ingin menumpas siapa saja yang berbeda paham dengannya, entah karena perbedaan ras maupun perbedaan agama). Ada juga pada masa pendatang awal itu yang merupakan golongan “pluralis.” Salah satu tokohnya adalah Roger Williams, yang terbilang sekuler dan berbeda paham dengan orang-orang primordial kebanyakan, hingga dia nyaris saja dipulangkan kembali ke Inggris. Untungnya Roger Williams dan orang-orang yang sepaham dengannya melarikan diri dan membentuk komunitas sendiri di kawasan yang akhirnya menjadi negara bagian Rhode Island. Di kawasan ini, Roger Williams dan kelompoknya membuat kesepakatan untuk memisahkan antara pemerintahan dan keagamaan, menganggap kaum pribumi dan pendatang Eropa setara, mengharamkan perbudakan. Kelak, ketika para “founding father” menyusun naskah proklamasi dan Undang-undang Dasar Negeri Aa’ Sam, pandangan yang memisahkan antara agama dan pemerintahan inilah yang akhirnya diusung. Jadi, memang selalu ada kelompok orang Eropa yang cenderung welas asih terhadap sesamanya di negeri Amerika ini, yang bahkan menentang perilaku pendatang/keturunan Eropa lainnya terhadap penduduk pribumi.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan perayaan Thanksgiving itu sendiri? Apakah merayakan keberhasilan panen yang diwarnai kerukunan itu bisa dipisahkan dari sejarah kelam yang terjadi setelah jamuan makan tiga hari tiga malam itu? Banyak orang Amerika yang dengan itikad baik merayakan Thanksgiving ini sebagai momen untuk mengucap syukur atas segala rahmat yang mereka dapatkan dalam hidup. Banyak juga para imigran baru (tak peduli dari budaya manapun dan agama apapun) yang merangkul tradisi ini dan merayakannya dengan makan kalkun, kaserol buncis, pie labuh, jus kranberi. Saya sendiri merasa dilematis. Karena, kalau kita tahu laju sejarah Negeri Aa’ Sam ini dan tetap merayakannya, berarti kita mengabaikan begitu saja dan membiarkan kekelamannya terlewat begitu saja. Sementara, kalau kita tidak semapt tahu sejarahnya, sama artinya kita merayakan sebuah hari dengan makan-makan dan belanja tanpa tahu bahwa di balik hari yang kita rayakan itu ada sejarah kelam. Dan, bagi saya pribadi, kalau harus mengangkat tema seperti ini dalam perbincangan dengan kawan-kawan saat makan-makan, tentu saja saya jadi perusak kebahagiaan. Apalagi, orang-orang yang pernah mengundang saya dalam makan-makan Thanksgiving itu biasanya adalah orang-orang yang baik, yang mengadakan jamuan itu dengan itikad baik. Sebagian dari mereka adalah dosen, warga lokal yang memang ingin mengundang mahasiswa asing, atau teman-teman sesama warga Indonesia di Amerika sebelah sini. Dilematis bukan?

Memang dilematis merayakan sesuatu yang, bagi pribumi Amerika khususnya, merupakan awal dari sejarah kelam. Bayangkan kalau Anda orang pribumi Amerika yang sekarang tinggal di reservasi (atau kakek moyang Anda disuruh pindah ribuan kilometer karena tanahnya diambil pemerintah)? Bisakah Anda merayakan hari raya seperti itu? Dalam video ini, Anda bisa melihat apa yang terlintas di pikiran anak-anak muda pribumi ini saat mendengar kata Thanksgiving. Sebagian dari mereka tidak memungkiri Thanksgiving adalah saat berbahagia bersama keluarga, dan banyak yang langsung merespon sengit. Tapi salah seorang perempuan mengatakan bahwa “Thanksgiving adalah saat bersenang-senang dengan keluarga, sambil mencoba mengabaikan sejarah di baliknya! (Lihatlah video bagaimana anak-anak pribumi ini merespon buku anak-anak tentang Thanksgiving). Buat kita bangsa Indonesia, yang pernah mengalami penjajahan dan kemudian berhasil “menyatakan kemerdekaannya,” semestinya tidak sulit membayangkan kalau kita berada pada posisi anak-anak pribumi ini.

Begitulah dilematisnya Thanksgiving, menurut saya. Entah, apa mungkin suatu saat kelak Negeri Aa’ Sam menyadari dilema di balik perayaan Thanksgiving ini. Menurut saya sangat mungkin. Saat ini saja ada kelompok-kelompok yang memilih “merayakan” Thanksgiving sebagai Hari Perkabungan Nasional. Gerakan protes ini diadakan setiap tahun di kawasan New England, dekat Plymouth Rock, tempat pertama kali para “pilgrim” mendarat dengan kapal Mayflower. Kesadaran akan beratnya sejarah di balik Thanksgiving ini terbilang semakin besar, tidak hanya di kalangan penduduk pribumi, tapi juga di kalangan orang-orang kulit putih (baik keturunan para pendatang Puritan maupun imigran Skotlandia-Irlandia, Irlandia, Italia, dll. yang datang belakangan). Atau, contoh lainnya adalah bagaimana perayaan Hari Kolombus yang akhir-akhir ini sudah mulai meningkat kontroversinya. Banyak kota dan negara bagian yang memutuskan untuk tidak merayakan Hari Kolombus ini (karena alasan yang sama: kedatangan Kolumbus adalah awal kolonisasi) dan bahkan mengubahnya menjadi Hari Bumiputera.

Jadi, bukan tidak mungkin perayaan Thanksgiving yang sekarang merupakan hari raya terbesar Amerika ini suatu saat akan berubah. Kalau Anda ingat satu adegan dalam film With Honors (yang dibintangi Brendan Frazer itu), tokoh utama tunawisma menjawab: kejeniusan Undang-undang Dasar Amerika adalah bahwa dia sadar bahwa dia tidak sempurna, sehingga membuka kesempatan untuk diamandemen. Kalau Undang-undang Dasarnya saja membuka diri terhadap amandemen, pasti tradisinya juga membuka diri terhadap perubahan. Tentunya perubahan yang baik dalam hal Thanksgiving ini adalah perubahan yang menjadikannya tidak dilematis lagi. Tapi, saya bayangkan perubahan terhadap Thanksgiving ini tidak akan semudah perubahan dari Hari Kolumbus menjadi Hari Bumiputera. Kenapa? Karena sepertinya Thanksgiving ini sudah dimiliki oleh korporasi-korporasi besar yang menjadikannya sarana meraup untung besar-besaran. Mulai pabrikan barang elektronik sampai pabrikan jaket, mulai swalayan betulan hingga toko online, semuanya turut mendapatkan untung besar-besaran dari Thanksgiving. Dan biasanya yang seperti ini, yang tidak politis seperti ini, yang lebih bisa dinikmati tanpa repot-repot. Dan saya sendiri, seperti biasa, ada kesempatan untuk merenungkan dan menuliskannya karena memang belum punya cukup modal untuk ikut berpesta.

Ketakutan Kultural Kepada Anjing

Sebut saja rasa ogah kita kepada anjing sebagai “ketakutan kultural.” Yang saya maksud dengan “kita” di sini adalah kaum Muslim Indonesia selain yang tinggal di kawasan pedesaan atau perkebunan yang sehari-hari akrab dengan anjing sebagai teman pembantu kerja. Buat kita-kita ini, anjing termasuk binatang yang bermasalah karena kita punya anggapan bahwa: 1) air liurnya najis sehingga butuh cara-cara khusus untuk membersihkan anggota badan atau barang kita yang terkena liur anjing, 2) anjing cenderung buas dan besar kemungkinannya menggigit kita, 3) anjing peliharaan adalah binatang yang tugasnya melindungi dan menjadi pemiliknya dan properti pemiliknya. Dampak dari “permasalahan” yang disebabkan anjing ini adalah: kita jadi enggan dekat-dekat anjing. Seringkali kita takut digigit atau dijilat. Banyak yang mengaku tidak takut digigit tapi malas kalau kena jilat.

Bahayanya, sikap seperti itu akhirnya berdampak negatif juga terhadap cara pandang kita terhadap anjing. Setiap melihat anjing–hewan yang tidak kita kenal dan cenderung kita jauhi–kita cenderung beranggapan bahwa dia buas dan ingin menggigit kita. Dan, kalau kebetulan kita ketemu anjing yang tidak buas, kita cenderung beranggapan bahwa anjing itu “haus” menjilat kita. Kita cenderung syu’udzon kepada anjing. Sikap selalu syu’udzon, kalau Anda percaya hikmah yang diajarkan agama Islam, adalah sebuah masalah. Padahal, anjing adalah hewat yang sudah sejak lama didomestikasi manusia dan mungkin kedekatannya dengan kecenderungan manusia jauh melebihi pengharapan kita.

Padahal, kalau kita memperhatikan anjing lebih dari sekadar tajam taringnya, ada yang lebih: lapis-lapis emosi. Anjing, seperti halnya manusia, cenderung menunjukkan apresiasi apabila kita memberinya hadiah, baik itu hadiah berupa makanan maupun hadiah berupa perlakuan manis, misalnya digaruk-garuk perutnya. Dia suka menggulung-gulung dan membalik badan–mungkin minta digaruk. Kadang, dia langsung menyalak-nyalak dan bersiapa–menggeram-geram–bila ada bahaya, misalnya ada ular mendekat ke rumah kita atau ketika ada binatang buas lewat depan rumah kita. Nah, emosi-emosi ini tidak akan pernah kita ketahui bila kita hanya percaya bahwa anjing akan menggigit (atau menjilat) kita saja, kalau kita percaya bahwa anjing (tak peduli apapun jenis dan pekerjaannya) adalah binatang buas yang memang buas.

Jadi, saudara-saudara, sebagai mantan orang yang pernak terjerembab dalam ketakutan kultural kepada anjing, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk menghilangkan rasa takut, benci, dan syu’udzon kepada anjing. Kenapa?

Karena:

  1. kalau pun toh tidak suka najisnya, kan bisa dibersihkan…
  2. katanya orang Islam hanya takut kepada Allah, kenapa sekarang takut anjing?
  3. insya allah hidup kita lebih tenang jika tidak dipenuhi dengan syu’udzon atau pikiran negatif bahwa anjing itu selalu pingin gigit kita. Padahal, mungkin saja dia mau ngemut kita 😀
  4. kalau Anda jijik dengan liur anjing, coba diingat-ingat, siapa yang menciptakan anjing? Iya, kalau Anda orang beragama, tentu Anda akan menjawab bahwa sang Maha Pencipta adalah penciptanya. Terus, apa berani Anda menghina sebuah karya seni di depan senimannya? Padahal, katanya Tuhan selalu bersama dengan kita, lebih dekat dari urat nadi kita, kan? Berarti kalau kita jijik sama anjing… pasti Beliau tahu, kan?

Saya sih memilih, mengikuti anjuran Pancasila Sila Ke-5 Butir ke-10, untuk “menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat,” dan anjing adalah makhluk yang bermanfaat–meskipun penciptanya bukan orang. 😀

Eh, sebentar, jangan-jangan tidak ada Muslim Indonesia yang seperti saya gambarkan itu. Jangan-jangan tidak ada orang Muslim Indonesia yang takut, benci, jijik, dan anti kepada anjing seperti saya gambarkan itu. Semoga saja. Yang saya tahu pasti: beberapa tahun lalu ada orang Indonesia yang seperti itu, yang gara-gara dikejar tiga anjing di satu dini hari ketika salah masuk ke pekarangan orang di Bali dia langsung menganggap semua anjing itu buas, ganas, liurnya najis dan menjijikka, dan tidak ada perlunya berbaik-baik dengan mereka.

Ya, beberapa tahun yang lalu ada orang Indonesia seperti itu. Dan, alhamdulillah, dia sekarang sudah bertaubat dari kecenderungan menilai anjing berdasarkan stereotipe seperti itu, bertaubat dari kecenderungan mendiskriminasi anjing seperti itu. Alhamdulillah, akhirnya dia berani mengakuinya dan akhirnya menuliskan sebuah postingan blog. Untuk Anda sekalian, orang-orang yang dikasihinya.

Liberty
Perkenalkan, ini dia Liberty: seekor anjing blasteran Anatolia dan Pyrenees. Dia diadopsi seorang kawan yang tinggal di sebuah kawasan pertanian di pedesaan Arkansas. Di sini terlihat Liberty sedang menggigit sepotong daging kurban. Ketika teman-teman menyembelih sapi kurban dan membagi-bagi dagingnya, Liberty tampak mendekat dan mengharap belas kasihan. Tapi dia selalu menyingkir kalau kami larang. Akhirnya, suatu kali kucing kawan saya itu mendekat terus dan ingin memakan jeroan, paru. Karena si kucing sepertinya tidak bisa diperingatkan, akhirnya kami beri si kucing sepotong lemak. Nah, sepertinya itu membikin Liberty merasa iri dan kembali merengek-rengek minta diberi. Akhirnya, kami pun mulai memberikan lemak ke Liberty dan Mitten, nama kucing itu. Beberapa kali kami memberinya lemak, dan dia terus menerima. Di satu kesempatan, akhirnya seorang kawan memberinya sepotong daging. Di sini dia terlihat menjauh dari kawasan penyembelihan sambil menggigit daging hadiah itu.

Jamaah Tabligh: Asal Pakistan Tapi Bisa Bilang “Piye Kabare?”

“Jamaah tabligh” adalah nama yang mengacu kepada kelompok Muslim yang mengabdikan dirinya “di jalan Allah” dengan cara mengingatkan Muslim yang lain kepada Allah. Anggota “Jamaah tabligh” ini biasanya meninggalkan rumah mereka dan melakukan perjalanan dari satu masyarakat Muslim ke masyarakat Muslim lainnya. Di Indonesia, mungkin itu artinya berjalan dari satu kampung ke kampung lainnya (mungkin dengan jalan kaki seperti tokoh yang diperankan Deddy Mizwar dalam sinetron “Sahibul Hikayat”). Di negara-negara Barat, perjalanan sahibul hikayat ini biasanya dari satu masjid ke masjid yang lain (naik mobil pribadi maupun mobil sewaan).

Di Indonesia, saya tidak pernah mengenal dan bertemu secara langsung dengan para anggota jamaah tabligh ini. Saya cuma pernah dengar dari seorang kawan indekos di Malang bahwa di kampungnya, sebuah desa di Trenggalek, banyak sekali tetangganya yang menjadi anggota jamaah tabligh. Dan karena salah satu agenda penting para anggota jamaah tabligh ini adalah meninggalkan kampung halaman untuk “menyebarkan ajaran agama,” maka banyak orang yang meninggalkan kampungnya. Dampak ekstrimnya, masih menurut teman saya itu, masjid di kampungnya jadi kekurangan jamaah karena banyak lelaki dewasa di kampung itu yang meninggalkan kampung untuk ber-tabligh.

Sejak mulai tinggal di Fayetteville enam tahun lalu, saya sudah sangat sering ketemu jamaah tabligh yang mengunjungi masjid di kampung saya. Ada anggota Tabligh yang sebentar-sebentar singgah di masjid kami dan menginap selama satu dua hari. Tapi pernah ada juga beberapa anggota jamaah yang memang anggota Tabligh. Salah satu dari jamaah masjid yang juga anggota tabligh ini adalah abang teman sekosan saya, asalnya dari Bangladesh. Sekurang-kurangnya sebulan sekali si abang teman sekosan saya itu datang ke apartemen kami, bersama seorang kawan lain yang juga anggota jamaah, atau salah satu anggota Tabligh yang kebetulan singgah di kota kami. Dia datang ke apartemen kami, mendudukkan kami berdua, dan mengajak berbincang tentang Islam dan perlunya saling mengingatkan untuk selalu ingat kepada Allah. Kalau memang saya tidak terlalu sibuk, biasanya saya ikut berbincang, paling lama cuma setengah jam. Tidak ada masalah sedikit pun, karena mereka pada dasarnya sangat ramah. Lagipula, si abang sangat baik kepada kami, dan istrinya seringkali membagi masakan tertentu dengan saya dan teman sekamar saya–meskipun saya sendiri tidak pernah tahu wajah si kakak ipar kawan saya itu, karena dia memakai cadar.

Yang agak berbeda adalah para anggota jamaah Tabligh yang sering mampir ke masjid kami dari kota lain–biasanya salah satu kota besar di Texas, misalnya Dallas dan Houston. Para anggota jamaah ini biasanya datang dengan beberapa mobil dan membawa perlengkapan tidur mereka. Saya langsung tahu kalau ada kelompok Jamaah Tabligh datang ke masjid kalau di sudut masjid terlihat banyak barang, tas-tas kantong dan sleeping bag. Saat berada di sini, mereka biasanya tidur di salah satu sudut masjid yang cukup tersembunyi. Tak hanya datang, mereka juga seperti meminta memanfaatkan sarana dan prasarana masjid untuk tujuan mereka.

Saat mereka datang, misalnya, selalu ada sesi kultum sehabis sholat jamaah lima waktu. Pada hari pertama kehadiran mereka, biasanya pemimpin jamaah yang menyampaikan kultum, yang isinya pada umumnya adalah mengingatkan perlunya berjuang di jalan Allah, apalagi bagi kami-kami yang tinggal di negera yang mayoritas penduduknya bukan Muslim. Isi ceramahnya relatif sederhana dan bisa ditebak, tanpa banyolan sedikit pun. Pada hari-hari selanjutnya, biasanya anggota jamaah tabligh lainnya yang memberikan kultum. Sekilas saya mencurigai ini semacam kaderisasi. Dalam berceramah, mereka banyak menggunakan kutipan langsung dari sunnah maupun alquran, dan biasanya bacaan alquran sekaligus bahasa Inggrisnya bagus. Bahkan seringkali mereka artikan sepotong demi sepotong sebuah ayat. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Asia Selatan, khususnya Pakistan.

Saya harus mengaku di sini bahwa saya pernah punya episode negatif dengan salah seorang anggota tabligh ini. Ketika itu bulan Ramadhan, dan ada sekelompok jamaah tabligh datang dari Houston. Seorang anggota jamaah, yang sepertinya sedang dikader, duduk di sebelah saya pada saat berbuka puasa. Seperti pernah saya sebutkan di postingan yang lain, setiap malam ada buka bersama di masjid kami. Jamaah biasanya duduk berbaris-baris di sepanjang taplak plastik yang di bentang di tepi ruangan utama sholat. Malam itu, saya duduk bersebelahan dengan salah seorang anggota tabligh. Sepertinya usianya baru awal tiga puluhan atau mungkin akhir dua puluhan, seumuran dengan saya waktu itu. Tepat di depan saya, di seberang taplak plastik, seorang kawan orang Indonesia (dari Aceh) juga makan. Si brother Tabligh mengajak saya ngobrol. Berbeda dengan obrolan saya dengan teman-teman di sekeliling, dia mengajak berbicara tentang aqidah dan segala yang bersifat pengajian. Saya mengangguk-angguk saja sambil mengiyakan kalau memang sesuai dengan kata hati. Tapi, saya merasa terusik sendiri ketika perbincangan mengarah ke urusan meninggalkan urusan duniawi, meninggalkan keluarga, untuk mengikuti jamaah tabligh. Saya tidak ingat pastinya, yang jelas emosi saya terpantik, entah karena dia anggap saya terlalu mementingkan urusan duniawi atau apakah dia memandang bahwa saya bisa meninggalkan keluarga dan apa yang saya kerjakan saat itu untuk sejenak bertabligh di jaman Allah. Tentu saya emosi, mengingat saya saat itu sedang kuliah, mumpung ada yang membiayai, meskipun saya harus membayarnya dengan jauh dari istri saya yang harus repot sendiri mengurusi anak saya yang saat itu masih berkebutuhan khusus. Saya sempat menjawab dengan keras dan sedikit menceramahi si tabligh muda itu, mungkin mengatakan kepada setiap orang punya jalan yang dia pilih untuk beribadah, entah apa, saya lupa. Akhirnya saya tidak enak makan dan memutuskan mengambil wudhu. Belakangan, ketika dia mendapat giliran dari pimpinan regunya untuk memberikan kultum, saya sudah terlanjur hilang simpati dan hormat.

Tapi itu dulu, ketika saya masih terlalu mudah panas dan mungkin juga sedang benci-bencinya kepada orang yang selalu merasa benar sendiri. Sekarang, ketika keadaan sudah reda, ketika saya sudah semakin dalam tertarik memahami tentang pengalaman Muslim–dengan segala definisinya–di dunia Barat, saya malah sering berharap suatu saat diprospek oleh para anggota tabligh. Saya sudah punya agenda sendiri kalau sampai itu terjadi: saya ingin mengenal para anggota tabligh itu sebagai manusia-manusia dengan segala kisah hidupnya, segala pandangannya, bukan sebagai agen-agen jamaah tabligh yang hanya menyandang stereotipe anggota itu.

Dan itulah yang akan saya ceritakan dalam kelanjutan postingan ini, pengalaman bertemu dengan Brother Zam, orang Pakistan yang bisa bilang “Piye kabare?” karena pernah bertemu orang -orang Jawa di Suriname dan Brother Im yang memiliki gelar  Doktor bidang biokimia tapi memutuskan bekerja dengan kaum tunawisma. Semoga ada kesempatan untuk itu. (Bersambung)

Konsep Signifyin(g) dan Implikasi-implikasinya

Dalam buku seminalnya yang berjudul Signifying Monkey, Henry Louis Gates, Jr. menyodorkan satu konsep estetika sastra Afro-Amerika (dan juga seni budaya khas Afro-Amerika secara umum). Konsep itu disebut “signifyin(g)”. Memang seperti itu, ada “g” di dalam kurung. Dan demi menghindari masalah terkait peliknya urusan peristilahan ini, saya tidak akan menerjemahkan “signifyin(g)”. “signifyin(g)” adalah penandaan, tapi berbeda dengan penandaan yang umumnya kita pahami.

Dalam linguistik, Ferdinand de Saussure menteorikan bahwa pada dasarnya bahasa adalah sistem penandaan, signifikasi. Sebuah kata adalah penanda yang merujuk kepada petanda, atau entitas mental yang diacu kata tersebut. Kalau fokusnya diperluas lagi, kalimat adalah untaian kata-kata yang memiliki maksud tertentu. Begitulah sederhananya bahasa bekerja, ada bunyi yang bisa didengar yang fungsinya untuk mengantarkan konsep mental yang hanya bisa terbentuk di benak kita. Saat saya bilang “Tolong tutup pintunya,” Anda sebagai orang yang memahami cara kerja bahasa akan tahu bahwa yang saya inginkan adalah agar pintunya tidak lagi terbuka, dan Anda pun menutup pintu. Begitulah sistem penandaan konvensional, yang mengandaikan bahwa di balik sebuah ujaran terdapat maksud yang bisa ditangkap. Pendeknya, bahasa adalah mangkok yang menjadi wadah untuk bakso makna. Metafora dan berbagai jenis penggunaan bahasa yg tidak tidak to-the-point cenderung dianaktirikan. Bagi Henry Louis Gates, Jr., sistem penandaan konvensional ini disebut “sistem penandaan orang kulit putih.”

Berdasarkan observasinya atas karya-karya seni budaya Afrika Amerika, dan dengan diilhami teori dekonstruksi Jacques Derrida–yang biasanya dipahami orang sebagai teori tentang tidak adanya makna tunggal di balik sebuah ujaran–Gates menyatakan bahwa seniman budayawan Afro-Amerika bekerja dengan sistem penandaan yang berbeda. Pertama-tama, untuk membedakan sistem penandaan itulah dia menggunakan istilah “signifyin(g)”–seperti kecenderungan orang Afro-Amerika secara umum, bunyi “ng” pada “kata kerja+ing” tersunat dan menyisakan bunyi “n”. Dengarlah lagu Kanye West yang berjudul “One”: The storm is on the horizon, I’m si’in here all alone. Sori, bukan bermaksud meremehkan pengetahuan Anda. Saya cuma seorang blogger yg belajar menulis dengan jelas dan menyokong setiap klaim dengan contoh dan penjelasan. Baik, kembali ke urusan “signifyin(g)”, yang membedakan cara penandaan Afro-Amerika adalah tidak adanya penyampaian maksud dengan sistem penandaan yang saklek dan literal.

Kongkretnya, dalam karya seni budaya Afro-Amerika (bahkan sejak masa perbudakan, dan bahkan sejak masih di Afrika), bahasa tidak hanya menjadi mangkok pengantar bakso makna. Bahasa tidak hanya dipakai untuk menyampaikan pesan. Sebaliknya, bahasa digunakan hingga pada ekstrimnya membingungkan penerimaan makna. Dalam praktiknya, narasi Afro-Amerika sarat dengan interupsi, gangguan, banyolan, metafora dan lain-lain yang cenderung mengalihkan perhatian dari maksud yang ingin disampaikan. Contoh sederhananya adalah, seperti sering muncul di film, kotbah di gereja-gereja kulit hitam: pendeta berceramah penuh semangat dan di tengah-tengah dia meminta persetujuan jemaatnya “bagaimana saudara?” dan jemaat pun menyahut “benar pak pendeta!” atau kadang-kadang tanpa diminta pun jemaat menyela “seratus persen betul pak pendeta!” Praktik ini terbawa bahkan di kalangan Muslim kulit hitam, pada zaman Moorish Science Temple, Nation of Islam, atau bahkan para Muslim yang ikut pindah haluan ke arah sunni mengikuti Warith Deen Muhammad. Contoh lain dari sistem penandaan yang cenderung liar ini adalah musik bebop (yang contoh terbaiknya adalah album Kind of Blue): hanya ada progresi sederhana yang ingin disampaikan, tapi si musisi menggunakan improvisasi setiap kali ingin menyampaikan progresi sederhana itu kepada pamiarsa dan para mitra dengar.

Dalam karya sastra, sebagaimana diteorikan Henry Louis Gates, Jr., penandaan gaya Afro-Amerika ini menempatkan bahasa kias, “interupsi, ambiguitas main-main, dan ‘menyampaikan sesuatu secara mbulet'” sebagai modal utama (Venturio 191). Tujuannya pun kadang diniatkan untuk menyulitkan pemahaman. Dan bagi orang-orang yang hidupnya dalam tekanan seperti pada masa perbudakan, gaya bahasa yang seperti ini menjadi perlindungan. Tidak bisa tidak, di sini saya jadi ingat cerita yang dipercaya banyak orang Malang. Konon, asahab ngalaman yang dilowak-lawik* itu sebenarnya adalah upaya genaro ngalam** untuk membingungkan orang luar pada masa kolonial dulu. Saya tidak pernah membaca sendiri penelitian tentang ini, tapi asyik juga kan kedengarannya kalau memang iya?

Kembali ke Henry Louis Gates, Jr. dan “signifyin(g)”, itulah sumbangan Gates dalam teori sastra (Afro)Amerika. Dengan pemahaman mendasar tentang kecenderungan penting dalam karya seni-budaya Afro-Amerika itu, Gates seolah menegaskan bahwa kita tidak bisa membaca karya-karya seniman/budayawan kulit hitam seperti halnya kita membaca karya-karya orang kulit putih. Kita tidak bisa menggunakan standar yang sama untuk membaca karya-karya itu. Seperti kata Einstein, kita tidak bisa menilai gajah dari kemampuannya naik sepeda. Menggunakan standar konvensional hanya akan membuat daftar sastra kanon kita berisi tulisan orang-orang kulit putih. Bagi kita di nuswantara, mungkin ada lagi implikasi dari pemahaman akan beragamnya standar ini: bagaimana kita mengukur karya seni budaya kita? Apakah kita masih mengukur kualitas karya sastra kita dengan standar asing? Ataukah kita sudah sempat menggali kecenderungan budaya kita (yang adi ragam ini) dan menjadikannya sebagai tolok ukur untuk karya di saat ini?

Oh ya, pasti Anda bertanya-tanya kenapa buku Gates yang berisi konsep “signifyin(g)” ini berjudul Signifying Monkey? Sebenarnya “signifying monkey” adalah monyet super cerdik dalam salah satu legenda Afrika (mungkin semacam kancil-nya orang Melayu). Si monyet ini selalu menang melawan binatang2 lain yang lebih kuat karena kemampuannya bermain kata-kata sehingga berhasil mengkadali binatang-binatang lain. Ya, dia bermain-main dengan sistem penandaan. Ya, dia menggunakan bahasa bukan hanya untuk menyampaikan maksud, tetapi juga untuk mengaburkan maksud, dan menyelamatkan jiwanya. Seperti halnya para seniman dan budayawan Afro-Amerika.

*bahasa Malangan yang dibolak-balik

**orang Malang

Saya berhutang super banyak kepada Henry Louis Gates, Jr. dalam bab 2 buku Signifyin(g) Monkey yang berjudul “The Signifying Monkey and the Language of Signifyin(g): Rhetorical Differences and the Orders of Meaning” dan Steven J. Venturio dalam buku The Complete Idiot’s Guide to Literary Theory and Criticism yang membuat konsep ruwet jadi renyah.