Hari Raya Dilematis

Tibalah saatnya hari raya paling raya di Negeri Aa’ Sam: Thanksgiving, atau Hari Raya Panjat Syukur. Orang-orang di negeri ini merayakan hari besar ini tak peduli apapun agama mereka–Kristen, Katolik, Yahudi, Islam, Sikh, Hindu, dll. Tapi, kalau kita menilik sedikit saja sejarah di balik hari raya ini, tak urung kita akan mendapati sesuatu yang janggal: hari raya ini memperingati upacara syukuran karena keberhasilan panen pertama para pendatang yang kelak anak turunnya akan menguasai tanah Amerika Utara ini, dan memojokkan dan bahkan membantai orang-orang pribumi yang memungkinkan mereka berhasil panen untuk pertama kalinya. Makanya, banyak juga sebenarnya orang-orang di Negeri Aa’ Sam (bahkan yang kulit putih) yang mengkritisi hari raya ini. Bagi blogger Anda ini secara pribadi, tentu ini hari raya yang dilematis. Kenapa?

Sebelum terlalu jauh, perlu kita akui bahwa sejarah Thanksgiving sepertinya tidak terlalu penting lagi bagi banyak orang saat ini. Kebanyakan orang saat ini memahami Thanksgiving sebagai hari untuk bersyukur atas apa-apa yang berarti bagi hidup kita saat ini. Dan bagi banyak orang lainnya, terutama orang-orang yang baru tinggal di Amerika (entah itu imigran maupun mahasiswa), terutama yang cukup duit, Thanksgiving adalah saatnya belanja karena pada saat itu toko-toko jor-joran memberi diskon. Begitu juga dengan toko-toko online: mereka juga jor-joran memberi diskon.

Seperti apa sejarahnya? Menurut versi resmi ensiklopedia (seperti ini, misalnya, yang ditulis untuk konsumsi anak-anak tapi tidak simplistik dan tidak menyesatkan) begini singkatnya: 1) Thanksgiving yang pertama diadakan pada tahun 1621, untuk merayakan keberhasilan panen pertama para pendatang eropa (yang disebut “pilgrim” atau “peziarah,” yang merupakan kelompok separatis relijius yang merasa tidak bisa menjalankan agamanya dengan bebas di Inggris, yang juga disebut sebagai kaum Puritan). Sebelum panen pertama ini, mereka masih tinggal di kapal di perairan New England (Amerika Timur Laut) dan banyak dari mereka yang mati karena kelaparan dan kurang gizi pada musim dingin sebelumnya. Dan keberhasilan mereka ini dikarenakan bantuan Squanto, seorang pribumi yang bisa berbahasa Inggris karena sebelumnya pernah menjadi budak orang Inggris dan meloloskan diri. Keberhasilan panen ini dirayakan dengan pesta tiga hari berturut-turut, disertai sumbangan lima ekor rusa dari para penduduk pribumi. Selanjutnya, 2) seabad lebih kemudian Thomas Jefferson mencanangkan peringatan Thanksgiving pertama tadi secara resmi. Dan, belakangan 3) seratus tahun selanjutnya, atas desakan dan kampanye penulis Sara Josepha Hale (yang menciptakan lagu “Marry Had a Little Lamb”), Abraham Lincoln mencanangkan Thanksgiving sebagai hari raya nasional di tengah Perang Saudara. Jadi, secara umumnya, merayakan Thanksgiving adalah mengingat kembali keberhasilan panen yang terwujud oleh semangat kerukunan dan kerjasama antara orang kulit putih dengan penduduk pribumi pada tahun 1621 itu.

Tapi, apakah seindah itu? Sayangnya tidak, dan ketidakindahan sejarah ini adalah apa yang terjadi beberapa dekade setelah itu.

Setelah perayaan Thanksgiving pertama itu, hubungan antara para pendatang Eropa dengan penduduk pribumi tidak indah. Banyak di antara pendatang ini yang menganggap orang pribumi itu sebagai orang yang belum beradab, dan harus diadabkan. Dengan itu, Kristenisasi penduduk pribumi mulai berjalan. Kemudian banyak terjadi konflik antara pendatang dan pribumi, terutama karena pribumi merasa semakin terdesak. Janji peradaban melalui agama juga ternyata tidak terwujud. Banyak pribumi yang sudah Kristen (yang disebut “Indian Sembahyang”) yang akhirnya disisihkan, dikumpulkan jadi satu di pulau dan dibiarkan kelaparan. Banyak terjadi peperangan yang berlanjut dengan pembantaian dan pembudakan para penduduk pribumi. Pendeknya, dalam lima puluh tahun saja, sebagian besar penduduk pribumi di kawasan Amerika Timur Laut itu habis.

Memang, tidak semua pendatang Eropa seperti itu. Menurut Akbar Ahmed, penulis buku Journey into America: The Challenge of Islam, ada tiga kelompok identitas Amerika (primordial, pluralis, dan predator). Kelompok yang saya sebutkan di atas itu adalah kelompok yang “primordial” (yang ingin meng-Kristen-kan Amerika) dan golongan “predator” (yang ingin menumpas siapa saja yang berbeda paham dengannya, entah karena perbedaan ras maupun perbedaan agama). Ada juga pada masa pendatang awal itu yang merupakan golongan “pluralis.” Salah satu tokohnya adalah Roger Williams, yang terbilang sekuler dan berbeda paham dengan orang-orang primordial kebanyakan, hingga dia nyaris saja dipulangkan kembali ke Inggris. Untungnya Roger Williams dan orang-orang yang sepaham dengannya melarikan diri dan membentuk komunitas sendiri di kawasan yang akhirnya menjadi negara bagian Rhode Island. Di kawasan ini, Roger Williams dan kelompoknya membuat kesepakatan untuk memisahkan antara pemerintahan dan keagamaan, menganggap kaum pribumi dan pendatang Eropa setara, mengharamkan perbudakan. Kelak, ketika para “founding father” menyusun naskah proklamasi dan Undang-undang Dasar Negeri Aa’ Sam, pandangan yang memisahkan antara agama dan pemerintahan inilah yang akhirnya diusung. Jadi, memang selalu ada kelompok orang Eropa yang cenderung welas asih terhadap sesamanya di negeri Amerika ini, yang bahkan menentang perilaku pendatang/keturunan Eropa lainnya terhadap penduduk pribumi.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan perayaan Thanksgiving itu sendiri? Apakah merayakan keberhasilan panen yang diwarnai kerukunan itu bisa dipisahkan dari sejarah kelam yang terjadi setelah jamuan makan tiga hari tiga malam itu? Banyak orang Amerika yang dengan itikad baik merayakan Thanksgiving ini sebagai momen untuk mengucap syukur atas segala rahmat yang mereka dapatkan dalam hidup. Banyak juga para imigran baru (tak peduli dari budaya manapun dan agama apapun) yang merangkul tradisi ini dan merayakannya dengan makan kalkun, kaserol buncis, pie labuh, jus kranberi. Saya sendiri merasa dilematis. Karena, kalau kita tahu laju sejarah Negeri Aa’ Sam ini dan tetap merayakannya, berarti kita mengabaikan begitu saja dan membiarkan kekelamannya terlewat begitu saja. Sementara, kalau kita tidak semapt tahu sejarahnya, sama artinya kita merayakan sebuah hari dengan makan-makan dan belanja tanpa tahu bahwa di balik hari yang kita rayakan itu ada sejarah kelam. Dan, bagi saya pribadi, kalau harus mengangkat tema seperti ini dalam perbincangan dengan kawan-kawan saat makan-makan, tentu saja saya jadi perusak kebahagiaan. Apalagi, orang-orang yang pernah mengundang saya dalam makan-makan Thanksgiving itu biasanya adalah orang-orang yang baik, yang mengadakan jamuan itu dengan itikad baik. Sebagian dari mereka adalah dosen, warga lokal yang memang ingin mengundang mahasiswa asing, atau teman-teman sesama warga Indonesia di Amerika sebelah sini. Dilematis bukan?

Memang dilematis merayakan sesuatu yang, bagi pribumi Amerika khususnya, merupakan awal dari sejarah kelam. Bayangkan kalau Anda orang pribumi Amerika yang sekarang tinggal di reservasi (atau kakek moyang Anda disuruh pindah ribuan kilometer karena tanahnya diambil pemerintah)? Bisakah Anda merayakan hari raya seperti itu? Dalam video ini, Anda bisa melihat apa yang terlintas di pikiran anak-anak muda pribumi ini saat mendengar kata Thanksgiving. Sebagian dari mereka tidak memungkiri Thanksgiving adalah saat berbahagia bersama keluarga, dan banyak yang langsung merespon sengit. Tapi salah seorang perempuan mengatakan bahwa “Thanksgiving adalah saat bersenang-senang dengan keluarga, sambil mencoba mengabaikan sejarah di baliknya! (Lihatlah video bagaimana anak-anak pribumi ini merespon buku anak-anak tentang Thanksgiving). Buat kita bangsa Indonesia, yang pernah mengalami penjajahan dan kemudian berhasil “menyatakan kemerdekaannya,” semestinya tidak sulit membayangkan kalau kita berada pada posisi anak-anak pribumi ini.

Begitulah dilematisnya Thanksgiving, menurut saya. Entah, apa mungkin suatu saat kelak Negeri Aa’ Sam menyadari dilema di balik perayaan Thanksgiving ini. Menurut saya sangat mungkin. Saat ini saja ada kelompok-kelompok yang memilih “merayakan” Thanksgiving sebagai Hari Perkabungan Nasional. Gerakan protes ini diadakan setiap tahun di kawasan New England, dekat Plymouth Rock, tempat pertama kali para “pilgrim” mendarat dengan kapal Mayflower. Kesadaran akan beratnya sejarah di balik Thanksgiving ini terbilang semakin besar, tidak hanya di kalangan penduduk pribumi, tapi juga di kalangan orang-orang kulit putih (baik keturunan para pendatang Puritan maupun imigran Skotlandia-Irlandia, Irlandia, Italia, dll. yang datang belakangan). Atau, contoh lainnya adalah bagaimana perayaan Hari Kolombus yang akhir-akhir ini sudah mulai meningkat kontroversinya. Banyak kota dan negara bagian yang memutuskan untuk tidak merayakan Hari Kolombus ini (karena alasan yang sama: kedatangan Kolumbus adalah awal kolonisasi) dan bahkan mengubahnya menjadi Hari Bumiputera.

Jadi, bukan tidak mungkin perayaan Thanksgiving yang sekarang merupakan hari raya terbesar Amerika ini suatu saat akan berubah. Kalau Anda ingat satu adegan dalam film With Honors (yang dibintangi Brendan Frazer itu), tokoh utama tunawisma menjawab: kejeniusan Undang-undang Dasar Amerika adalah bahwa dia sadar bahwa dia tidak sempurna, sehingga membuka kesempatan untuk diamandemen. Kalau Undang-undang Dasarnya saja membuka diri terhadap amandemen, pasti tradisinya juga membuka diri terhadap perubahan. Tentunya perubahan yang baik dalam hal Thanksgiving ini adalah perubahan yang menjadikannya tidak dilematis lagi. Tapi, saya bayangkan perubahan terhadap Thanksgiving ini tidak akan semudah perubahan dari Hari Kolumbus menjadi Hari Bumiputera. Kenapa? Karena sepertinya Thanksgiving ini sudah dimiliki oleh korporasi-korporasi besar yang menjadikannya sarana meraup untung besar-besaran. Mulai pabrikan barang elektronik sampai pabrikan jaket, mulai swalayan betulan hingga toko online, semuanya turut mendapatkan untung besar-besaran dari Thanksgiving. Dan biasanya yang seperti ini, yang tidak politis seperti ini, yang lebih bisa dinikmati tanpa repot-repot. Dan saya sendiri, seperti biasa, ada kesempatan untuk merenungkan dan menuliskannya karena memang belum punya cukup modal untuk ikut berpesta.

Advertisements

Ketakutan Kultural Kepada Anjing

Sebut saja rasa ogah kita kepada anjing sebagai “ketakutan kultural.” Yang saya maksud dengan “kita” di sini adalah kaum Muslim Indonesia selain yang tinggal di kawasan pedesaan atau perkebunan yang sehari-hari akrab dengan anjing sebagai teman pembantu kerja. Buat kita-kita ini, anjing termasuk binatang yang bermasalah karena kita punya anggapan bahwa: 1) air liurnya najis sehingga butuh cara-cara khusus untuk membersihkan anggota badan atau barang kita yang terkena liur anjing, 2) anjing cenderung buas dan besar kemungkinannya menggigit kita, 3) anjing peliharaan adalah binatang yang tugasnya melindungi dan menjadi pemiliknya dan properti pemiliknya. Dampak dari “permasalahan” yang disebabkan anjing ini adalah: kita jadi enggan dekat-dekat anjing. Seringkali kita takut digigit atau dijilat. Banyak yang mengaku tidak takut digigit tapi malas kalau kena jilat.

Bahayanya, sikap seperti itu akhirnya berdampak negatif juga terhadap cara pandang kita terhadap anjing. Setiap melihat anjing–hewan yang tidak kita kenal dan cenderung kita jauhi–kita cenderung beranggapan bahwa dia buas dan ingin menggigit kita. Dan, kalau kebetulan kita ketemu anjing yang tidak buas, kita cenderung beranggapan bahwa anjing itu “haus” menjilat kita. Kita cenderung syu’udzon kepada anjing. Sikap selalu syu’udzon, kalau Anda percaya hikmah yang diajarkan agama Islam, adalah sebuah masalah. Padahal, anjing adalah hewat yang sudah sejak lama didomestikasi manusia dan mungkin kedekatannya dengan kecenderungan manusia jauh melebihi pengharapan kita.

Padahal, kalau kita memperhatikan anjing lebih dari sekadar tajam taringnya, ada yang lebih: lapis-lapis emosi. Anjing, seperti halnya manusia, cenderung menunjukkan apresiasi apabila kita memberinya hadiah, baik itu hadiah berupa makanan maupun hadiah berupa perlakuan manis, misalnya digaruk-garuk perutnya. Dia suka menggulung-gulung dan membalik badan–mungkin minta digaruk. Kadang, dia langsung menyalak-nyalak dan bersiapa–menggeram-geram–bila ada bahaya, misalnya ada ular mendekat ke rumah kita atau ketika ada binatang buas lewat depan rumah kita. Nah, emosi-emosi ini tidak akan pernah kita ketahui bila kita hanya percaya bahwa anjing akan menggigit (atau menjilat) kita saja, kalau kita percaya bahwa anjing (tak peduli apapun jenis dan pekerjaannya) adalah binatang buas yang memang buas.

Jadi, saudara-saudara, sebagai mantan orang yang pernak terjerembab dalam ketakutan kultural kepada anjing, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk menghilangkan rasa takut, benci, dan syu’udzon kepada anjing. Kenapa?

Karena:

  1. kalau pun toh tidak suka najisnya, kan bisa dibersihkan…
  2. katanya orang Islam hanya takut kepada Allah, kenapa sekarang takut anjing?
  3. insya allah hidup kita lebih tenang jika tidak dipenuhi dengan syu’udzon atau pikiran negatif bahwa anjing itu selalu pingin gigit kita. Padahal, mungkin saja dia mau ngemut kita ūüėÄ
  4. kalau Anda jijik dengan liur anjing, coba diingat-ingat, siapa yang menciptakan anjing? Iya, kalau Anda orang beragama, tentu Anda akan menjawab bahwa sang Maha Pencipta adalah penciptanya. Terus, apa berani Anda menghina sebuah karya seni di depan senimannya? Padahal, katanya Tuhan selalu bersama dengan kita, lebih dekat dari urat nadi kita, kan? Berarti kalau kita jijik sama anjing… pasti Beliau tahu, kan?

Saya sih memilih, mengikuti anjuran Pancasila Sila Ke-5 Butir ke-10, untuk “menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat,” dan anjing adalah makhluk yang bermanfaat–meskipun penciptanya bukan orang. ūüėÄ

Eh, sebentar, jangan-jangan tidak ada Muslim Indonesia yang seperti saya gambarkan itu. Jangan-jangan tidak ada orang Muslim Indonesia yang takut, benci, jijik, dan anti kepada anjing seperti saya gambarkan itu. Semoga saja. Yang saya tahu pasti: beberapa tahun lalu ada orang Indonesia yang seperti itu, yang gara-gara dikejar tiga anjing di satu dini hari ketika salah masuk ke pekarangan orang di Bali dia langsung menganggap semua anjing itu buas, ganas, liurnya najis dan menjijikka, dan tidak ada perlunya berbaik-baik dengan mereka.

Ya, beberapa tahun yang lalu ada orang Indonesia seperti itu. Dan, alhamdulillah, dia sekarang sudah bertaubat dari kecenderungan menilai anjing berdasarkan stereotipe seperti itu, bertaubat dari kecenderungan mendiskriminasi anjing seperti itu. Alhamdulillah, akhirnya dia berani mengakuinya dan akhirnya menuliskan sebuah postingan blog. Untuk Anda sekalian, orang-orang yang dikasihinya.

Liberty
Perkenalkan, ini dia Liberty: seekor anjing blasteran Anatolia dan Pyrenees. Dia diadopsi seorang kawan yang tinggal di sebuah kawasan pertanian di pedesaan Arkansas. Di sini terlihat Liberty sedang menggigit sepotong daging kurban. Ketika teman-teman menyembelih sapi kurban dan membagi-bagi dagingnya, Liberty tampak mendekat dan mengharap belas kasihan. Tapi dia selalu menyingkir kalau kami larang. Akhirnya, suatu kali kucing kawan saya itu mendekat terus dan ingin memakan jeroan, paru. Karena si kucing sepertinya tidak bisa diperingatkan, akhirnya kami beri si kucing sepotong lemak. Nah, sepertinya itu membikin Liberty merasa iri dan kembali merengek-rengek minta diberi. Akhirnya, kami pun mulai memberikan lemak ke Liberty dan Mitten, nama kucing itu. Beberapa kali kami memberinya lemak, dan dia terus menerima. Di satu kesempatan, akhirnya seorang kawan memberinya sepotong daging. Di sini dia terlihat menjauh dari kawasan penyembelihan sambil menggigit daging hadiah itu.

Jamaah Tabligh: Asal Pakistan Tapi Bisa Bilang “Piye Kabare?”

“Jamaah tabligh” adalah nama yang mengacu kepada kelompok Muslim yang mengabdikan dirinya “di jalan Allah” dengan cara mengingatkan Muslim yang lain kepada Allah. Anggota “Jamaah tabligh” ini biasanya meninggalkan rumah mereka dan melakukan perjalanan dari satu masyarakat Muslim ke masyarakat Muslim lainnya. Di Indonesia, mungkin itu artinya berjalan dari satu kampung ke kampung lainnya (mungkin dengan jalan kaki seperti tokoh yang diperankan Deddy Mizwar dalam sinetron “Sahibul Hikayat”). Di negara-negara Barat, perjalanan sahibul hikayat ini biasanya dari satu masjid ke masjid yang lain (naik mobil pribadi maupun mobil sewaan).

Di Indonesia, saya tidak pernah mengenal dan bertemu secara langsung dengan para anggota jamaah tabligh ini. Saya cuma pernah dengar dari seorang kawan indekos di Malang bahwa di kampungnya, sebuah desa di Trenggalek, banyak sekali tetangganya yang menjadi anggota jamaah tabligh. Dan karena salah satu agenda penting para anggota jamaah tabligh ini adalah meninggalkan kampung halaman untuk “menyebarkan ajaran agama,” maka banyak orang yang meninggalkan kampungnya. Dampak ekstrimnya, masih menurut teman saya itu, masjid di kampungnya jadi kekurangan jamaah karena banyak lelaki dewasa di kampung itu yang meninggalkan kampung untuk ber-tabligh.

Sejak mulai tinggal di Fayetteville enam tahun lalu, saya sudah sangat sering ketemu jamaah tabligh yang mengunjungi masjid di kampung saya. Ada anggota Tabligh yang sebentar-sebentar singgah di masjid kami dan menginap selama satu dua hari. Tapi pernah ada juga beberapa anggota¬†jamaah yang memang anggota Tabligh. Salah satu dari jamaah masjid yang juga anggota tabligh ini adalah abang teman sekosan saya, asalnya dari Bangladesh. Sekurang-kurangnya sebulan sekali si abang teman sekosan saya itu datang ke apartemen kami, bersama seorang kawan lain yang juga anggota jamaah, atau salah satu anggota Tabligh yang kebetulan singgah di kota kami. Dia datang ke apartemen kami, mendudukkan kami berdua, dan mengajak berbincang tentang Islam dan perlunya saling mengingatkan untuk selalu ingat kepada Allah. Kalau memang saya tidak terlalu sibuk, biasanya saya ikut berbincang, paling lama cuma setengah jam. Tidak ada masalah sedikit pun, karena mereka pada dasarnya sangat ramah. Lagipula, si abang sangat baik kepada kami,¬†dan istrinya seringkali membagi masakan tertentu dengan saya dan teman sekamar saya–meskipun saya sendiri tidak pernah tahu wajah si kakak ipar kawan saya itu, karena dia memakai cadar.

Yang agak berbeda adalah para anggota jamaah Tabligh yang sering mampir ke masjid kami dari kota lain–biasanya salah satu kota besar di Texas, misalnya Dallas dan Houston. Para anggota jamaah ini biasanya datang dengan beberapa mobil dan membawa perlengkapan tidur mereka. Saya langsung tahu kalau ada kelompok Jamaah Tabligh datang ke masjid kalau di sudut masjid terlihat banyak barang, tas-tas kantong dan sleeping bag. Saat berada di sini, mereka biasanya tidur di salah satu sudut masjid yang cukup tersembunyi. Tak hanya datang, mereka juga seperti meminta memanfaatkan sarana dan prasarana masjid untuk tujuan mereka.

Saat mereka datang, misalnya, selalu ada sesi kultum sehabis sholat jamaah lima waktu. Pada hari pertama kehadiran mereka, biasanya pemimpin jamaah yang menyampaikan kultum, yang isinya pada umumnya adalah mengingatkan perlunya berjuang di jalan Allah, apalagi bagi kami-kami yang tinggal di negera yang mayoritas penduduknya bukan Muslim. Isi ceramahnya relatif sederhana dan bisa ditebak, tanpa banyolan sedikit pun. Pada hari-hari selanjutnya, biasanya anggota jamaah tabligh lainnya yang memberikan kultum. Sekilas saya mencurigai ini semacam kaderisasi. Dalam berceramah, mereka banyak menggunakan kutipan langsung dari sunnah maupun alquran, dan biasanya bacaan alquran sekaligus bahasa Inggrisnya bagus. Bahkan seringkali mereka artikan sepotong demi sepotong sebuah ayat. Kebanyakan dari mereka adalah orang-orang Asia Selatan, khususnya Pakistan.

Saya harus mengaku di sini bahwa saya pernah punya episode negatif dengan salah seorang anggota tabligh ini. Ketika itu bulan Ramadhan, dan ada sekelompok jamaah tabligh datang dari Houston. Seorang anggota jamaah, yang sepertinya sedang dikader, duduk di sebelah saya pada saat berbuka puasa. Seperti pernah saya sebutkan di postingan yang lain, setiap malam ada buka bersama di masjid kami. Jamaah biasanya duduk berbaris-baris di sepanjang taplak plastik yang di bentang di tepi ruangan utama sholat. Malam itu, saya duduk bersebelahan dengan salah seorang anggota tabligh. Sepertinya usianya baru awal tiga puluhan atau mungkin akhir dua puluhan, seumuran dengan saya waktu itu. Tepat di depan saya, di seberang taplak plastik, seorang kawan orang Indonesia (dari Aceh) juga makan. Si brother Tabligh mengajak saya ngobrol. Berbeda dengan obrolan saya dengan teman-teman di sekeliling, dia mengajak berbicara tentang aqidah dan segala yang bersifat pengajian. Saya mengangguk-angguk saja sambil mengiyakan kalau memang sesuai dengan kata hati. Tapi, saya merasa terusik sendiri ketika perbincangan mengarah ke urusan meninggalkan urusan duniawi, meninggalkan keluarga, untuk mengikuti jamaah tabligh. Saya tidak ingat pastinya, yang jelas emosi saya terpantik, entah karena dia anggap saya terlalu mementingkan urusan duniawi atau apakah dia memandang bahwa saya bisa meninggalkan keluarga dan apa yang saya kerjakan saat itu untuk sejenak bertabligh di jaman Allah. Tentu saya emosi, mengingat saya saat itu sedang kuliah, mumpung ada yang membiayai, meskipun saya harus membayarnya dengan jauh dari istri saya yang harus repot sendiri mengurusi anak saya yang saat itu masih berkebutuhan khusus. Saya sempat menjawab dengan keras dan sedikit menceramahi si tabligh muda itu, mungkin mengatakan kepada setiap orang punya jalan yang dia pilih untuk beribadah, entah apa, saya lupa. Akhirnya saya tidak enak makan dan memutuskan mengambil wudhu. Belakangan, ketika dia mendapat giliran dari pimpinan regunya untuk memberikan kultum, saya sudah terlanjur hilang simpati dan hormat.

Tapi itu dulu, ketika saya masih terlalu mudah panas dan mungkin juga sedang benci-bencinya kepada orang yang selalu merasa benar sendiri. Sekarang, ketika keadaan sudah reda, ketika saya sudah semakin dalam tertarik memahami tentang pengalaman Muslim–dengan segala definisinya–di dunia Barat, saya malah sering berharap suatu saat diprospek oleh para anggota tabligh. Saya sudah punya agenda sendiri kalau sampai itu terjadi: saya ingin mengenal para anggota tabligh itu sebagai manusia-manusia dengan segala kisah hidupnya, segala pandangannya, bukan sebagai agen-agen jamaah tabligh yang hanya menyandang stereotipe anggota itu.

Dan itulah yang akan saya ceritakan dalam kelanjutan postingan ini, pengalaman bertemu dengan Brother Zam, orang Pakistan yang bisa bilang “Piye kabare?” karena pernah bertemu orang -orang Jawa di Suriname dan Brother Im yang memiliki gelar ¬†Doktor bidang biokimia tapi memutuskan bekerja dengan kaum tunawisma. Semoga ada kesempatan untuk itu. (Bersambung)

Konsep Signifyin(g) dan Implikasi-implikasinya

Dalam buku seminalnya yang berjudul Signifying Monkey, Henry Louis Gates, Jr. menyodorkan satu konsep estetika sastra Afro-Amerika (dan juga seni budaya khas Afro-Amerika secara umum). Konsep itu disebut “signifyin(g)”. Memang seperti itu, ada “g” di dalam kurung. Dan demi menghindari masalah terkait peliknya¬†urusan peristilahan ini, saya tidak akan menerjemahkan “signifyin(g)”. “signifyin(g)” adalah penandaan, tapi berbeda dengan penandaan yang umumnya kita pahami.

Dalam linguistik, Ferdinand de Saussure menteorikan bahwa pada dasarnya bahasa adalah sistem penandaan, signifikasi. Sebuah kata adalah penanda yang merujuk kepada petanda, atau entitas mental yang diacu kata tersebut. Kalau fokusnya diperluas lagi, kalimat adalah untaian kata-kata yang memiliki maksud tertentu. Begitulah sederhananya bahasa bekerja, ada bunyi yang bisa didengar yang fungsinya untuk mengantarkan konsep mental yang hanya bisa terbentuk di benak kita. Saat saya bilang “Tolong tutup pintunya,”¬†Anda sebagai orang yang memahami cara kerja bahasa akan tahu bahwa yang saya inginkan adalah agar pintunya tidak lagi terbuka, dan Anda pun menutup pintu. Begitulah sistem penandaan konvensional, yang mengandaikan bahwa di balik sebuah ujaran terdapat maksud yang bisa ditangkap. Pendeknya, bahasa adalah mangkok yang menjadi wadah untuk bakso makna. Metafora dan berbagai jenis penggunaan bahasa yg tidak tidak to-the-point¬†cenderung dianaktirikan.¬†Bagi Henry Louis Gates, Jr., sistem penandaan konvensional ini disebut “sistem penandaan orang kulit putih.”

Berdasarkan observasinya atas karya-karya seni budaya Afrika Amerika, dan dengan diilhami¬†teori dekonstruksi Jacques Derrida–yang biasanya dipahami orang sebagai teori tentang tidak adanya¬†makna tunggal di balik sebuah ujaran–Gates menyatakan bahwa seniman budayawan Afro-Amerika bekerja dengan sistem penandaan yang berbeda. Pertama-tama, untuk membedakan sistem penandaan itulah dia menggunakan istilah “signifyin(g)”–seperti kecenderungan orang Afro-Amerika secara umum, bunyi “ng” pada “kata kerja+ing” tersunat dan menyisakan bunyi “n”. Dengarlah lagu Kanye West yang berjudul “One”: The storm is on the horizon, I’m si’in here all alone. Sori, bukan bermaksud meremehkan pengetahuan Anda. Saya cuma seorang blogger yg belajar menulis dengan jelas dan menyokong setiap klaim dengan contoh dan penjelasan. Baik, kembali ke urusan “signifyin(g)”, yang membedakan cara penandaan Afro-Amerika adalah tidak adanya penyampaian maksud dengan sistem penandaan yang saklek dan literal.

Kongkretnya, dalam karya seni budaya Afro-Amerika (bahkan sejak masa perbudakan, dan bahkan sejak masih di Afrika), bahasa tidak hanya menjadi mangkok pengantar bakso makna. Bahasa tidak hanya dipakai untuk menyampaikan pesan. Sebaliknya, bahasa digunakan hingga pada ekstrimnya membingungkan penerimaan makna. Dalam praktiknya, narasi Afro-Amerika sarat dengan interupsi, gangguan, banyolan, metafora dan lain-lain yang cenderung mengalihkan perhatian dari maksud¬†yang ingin disampaikan. Contoh sederhananya adalah, seperti sering muncul di film, kotbah di gereja-gereja kulit hitam: pendeta berceramah penuh semangat dan di tengah-tengah dia meminta persetujuan jemaatnya “bagaimana saudara?” dan jemaat pun menyahut “benar pak pendeta!” atau kadang-kadang tanpa diminta pun jemaat menyela “seratus persen betul pak pendeta!” Praktik ini terbawa bahkan di kalangan Muslim kulit hitam, pada zaman Moorish Science Temple, Nation of Islam, atau bahkan para Muslim yang ikut pindah haluan ke arah sunni mengikuti Warith Deen Muhammad. Contoh lain dari sistem penandaan yang cenderung liar ini adalah musik bebop (yang contoh terbaiknya adalah album Kind of Blue): hanya ada progresi sederhana yang ingin disampaikan, tapi si musisi menggunakan improvisasi setiap kali ingin menyampaikan progresi sederhana itu kepada pamiarsa dan para mitra dengar.

Dalam karya sastra, sebagaimana diteorikan Henry Louis Gates, Jr., penandaan gaya Afro-Amerika ini menempatkan bahasa kias, “interupsi, ambiguitas main-main, dan ‘menyampaikan sesuatu secara mbulet'” sebagai modal utama¬†(Venturio 191). Tujuannya pun¬†kadang diniatkan untuk menyulitkan pemahaman. Dan bagi orang-orang yang hidupnya dalam tekanan seperti pada masa perbudakan, gaya bahasa yang seperti ini menjadi perlindungan. Tidak bisa tidak, di sini saya jadi ingat cerita yang dipercaya banyak orang Malang. Konon, asahab ngalaman yang dilowak-lawik* itu sebenarnya adalah upaya¬†genaro ngalam** untuk membingungkan orang luar pada masa kolonial dulu. Saya tidak pernah membaca sendiri penelitian tentang ini, tapi asyik juga kan kedengarannya kalau memang iya?

Kembali ke Henry Louis Gates, Jr. dan “signifyin(g)”, itulah sumbangan Gates dalam teori sastra (Afro)Amerika. Dengan pemahaman mendasar tentang kecenderungan penting dalam karya seni-budaya Afro-Amerika itu, Gates seolah menegaskan bahwa kita tidak bisa membaca karya-karya seniman/budayawan kulit hitam seperti halnya kita membaca karya-karya orang kulit putih. Kita tidak bisa menggunakan standar yang sama untuk membaca karya-karya itu. Seperti kata Einstein, kita tidak bisa menilai gajah dari kemampuannya naik sepeda. Menggunakan standar konvensional hanya akan membuat daftar sastra kanon kita berisi tulisan orang-orang kulit putih. Bagi kita di nuswantara, mungkin ada lagi implikasi dari pemahaman akan beragamnya standar ini: bagaimana kita mengukur karya seni budaya kita? Apakah kita masih mengukur kualitas karya sastra kita dengan standar asing? Ataukah kita sudah sempat menggali kecenderungan budaya kita (yang adi ragam ini) dan menjadikannya sebagai tolok ukur untuk karya di saat ini?

Oh ya, pasti Anda bertanya-tanya kenapa buku Gates yang berisi konsep “signifyin(g)” ini berjudul¬†Signifying Monkey? Sebenarnya “signifying monkey” adalah monyet super cerdik dalam salah satu legenda Afrika (mungkin semacam kancil-nya orang Melayu). Si monyet ini selalu menang melawan binatang2 lain yang lebih kuat karena kemampuannya bermain kata-kata sehingga berhasil mengkadali binatang-binatang lain. Ya, dia bermain-main dengan sistem penandaan. Ya, dia menggunakan bahasa bukan hanya untuk menyampaikan maksud, tetapi juga untuk mengaburkan maksud, dan menyelamatkan jiwanya.¬†Seperti halnya para seniman dan budayawan Afro-Amerika.

*bahasa Malangan yang dibolak-balik

**orang Malang

Saya berhutang super banyak kepada Henry Louis Gates, Jr. dalam bab 2 buku¬†Signifyin(g) Monkey yang berjudul¬†“The Signifying Monkey and the Language of Signifyin(g): Rhetorical Differences and the Orders of Meaning” dan Steven J. Venturio dalam buku¬†The Complete Idiot’s Guide to Literary Theory and Criticism¬†yang membuat konsep ruwet jadi renyah.

Dari Imigran Desi (Asia Selatan) hingga Solidaritas Minoritas dalam 20 Cuitan

(Berikut postingan yg awalnya adalah cuitan di @wawanasli)

Imigran India dan Asia Selatan (biasanya disebut “desi”) sudah ada di Amerika sejak berabad2 lampau. Menurut catatan, banyak awak kapal India turun dari kapal pada akhir 1700-an. Mereka mengawini penduduk lokal, lalu ¬†hilang dr sejarah. Pada awal abad ke-20, banyak org Punjab mendarat di Pantai Barat, Kalifornia & jd petani, mengawini wanita2 Meksiko, punya partai Ghadar. Gelombang selanjutnya pasca reformasi imigrasi 65, kebanyakan ilmuwan insinyur dan dokter, berperan dlm adu teknologi perang dingin.

Imigran India terbilang unik krn mereka tdk putus hubungan dg kampung halaman, rajin pulang, rajin kirim uang, dan jd “imigran teladan.”Maaf, bukan imigran india, tapi “desi,” krn mencakup India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka (dan terkadang jg Nepal, atau bahkan Afghan).

Kini, desi di Amrik merajai pasar tenaga kerja sektor teknologi informasi, dan kedokteran. Jamaah masjid Joplin rata2 dokter Pakistan–masjid Joplin tahun lalu menjadi sorotan publik saat terbakar hingga rata dengan tanah, disinyalir karena ulah pembenci Muslim. Banyak jg yg jd dosen teknik, ilmuwan, dan bahkan astronot. Dan tentu saja, tujuan dari seri twit ini, banyak jg yg menjadi sastrawan. Kita kenal di antara mereka: Bharati Mukherjee, Jhumpa Lahiri, Chitra Divakaruni, Ayad Akhtar, Samina Ali, dll. Mereka menulis ttg suka-duka imigran (kadang tak cuma imigran desi, spt pd cerpen2 Bharati Mukherjee), keyakinan, atau ttg asia selatan.

Menurut sy, di antara penulis dan intelektual desi, yg paling tampak berbeda adalah Vijay Prashad, dosen international studies, Marxist. Dlm buku pertamanya “The Karma of Brown Folk”–judul yg tenti saja terilhami buku W. E. B. Du Bois The Soul of Black Folk–alih2 menyoroti politik identitas, dia lbh menyoroti bagaimana dlm “rezim rasis Amerika.” Desi digunakan senjata utk semakin “mematikan” kelompok Afro-Amerika. Dengan menjadikan desi sebagai profil “imigran teladan” kaum afro-amerika yg dicitrakan sbg “imigran” yg lebih dulu ada di AS terlihat kalah. Seolah2, kegagalan AfroAm terkait sifat dasar mrk.

Bagi Prashad, desi harus menyadari dinamika politik ini, apalagi sebenarnya msh banyak insiden rasis yg menyasar orang-orang Asia selatn. Selain itu, desi semestinya tdk terjebak pd sikap mengunggulkan diri dan apolitis; sebaliknya, mereka harus meningkatkan solidaritas dg kelompok lain yg jg termasuk termarginalkan (afro-amerika, perempuan, muslim, pribumi amrik, latino, dll). Di sinilah tampak betapa Marxist-nya Prashad. Baginya, spt pr Marxist, ada dua kelompok dlm setiap dinamika: grup tertekan dan kelompok penguasa (modal) yg diuntungkan. Persis dg Jameson, kecenderungan Prashad ini menjadikan studi minoritas menjadi lebih tajam dan terarah, dan menyasar ke pangkal masalah.

(Terjemahan) Pengendara karya Naomi Shihab Nye

Berikut ini adalah puisi dari Naomi Shihab Nye yang disertakan dalam proyek¬†Poetry 180: A Poem a Day for American High Schools.¬†Sekadar info, Poetry 180¬†adalah proyek yang digagas penyair Billy Collins saat dia menjadi Poet Laureate Amerika Serikat pada tahun 2002 silam. Tentang¬†penyairnya sendiri, Naomi Shihab Nye, beliau adalah seorang penyair Arab-Amerika yang lahir dan besar di kota St. Louis, Missouri. Banyak puisi-puisinya menggarap tema imigran Arab di Amerika ataupun tentang tema orang Arab di perantauan yang kembali ke Timur Tengah mengunjungi sanak kerabatnya; tapi, sebagai orang yang menghabiskan hampir seluruh hidupnya di Amerikat Serikat, tentu saja Nye¬†punya lebih banyak lagi puisi yang “ngamerikani” atau mungkin universal (bagi orang Amerika), seperti misalnya tentang kehidupan dan kepindahannya dari satu bagian di Amerika ke bagian yang lain. Puisi yang disertakan dalam¬†Poetry 180¬†ini, berjudul asli “The Rider,” adalah puisi yang termasuk dalam kelompok universal itu. Silakan menikmati upaya penerjemahan ini, dan kalau ingin merujuk ke puisi aslinya, silakan meluncur ke sini.

Pengendara

Seorang bocah berkata
bila dia meluncur bersepatu roda cukup kencang
kesepian tidak akan bisa mengejarnya,

alasan terbaik yg pernah kudengar
di balik usaha menjadi juara.

Malam ini, saat mengayuh sepeda sekuat tenaga
di sepanjang Jalan King William,
kubayangkan menerjemahkan alasannya untuk bersepeda.

Kemenangan! Meninggalkan kesepianmu
terengah-engah di ujung jalan di belakang sana
saat kau melayang bebas menerobos hamburan azalea
yang tiba-tiba muncul, dengan kelopak merah muda
yang tidak pernah merasa kesepian
betapapun pelan mereka jatuh.

Sekali lagi, kalau ingin merujuk ke puisi aslinya, silakan menunggangi komputer Anda dan meluncur ke sini.

The Middleman and Other Stories – Bharati Mukherjee – The Middlebook Among Immigrants

The Middleman and Other Stories (1988) by Bharati Mukherjee is without question one of the most important books by American immigrant authors. Its importance particularly comes from the combination of masterful craft of story telling and from the various immigrant experiences that it showcases. With the 11 stories in this collection, Bharati presents intriguing stories of, mostly, American immigrants from various backgrounds, in addition to those of Caucasian Americans whose immigration origins we tend to forget.  

As indicated above, language is one of the strongest charms¬†of this book. Mukherjee’s characters and narrators speak in their own¬†“registers.” In “Fathering,” the reader¬†can see here a Vietnam¬†War¬†veteran whose language is infused with wartime terminologies and battle images that keep coming and thus¬†fogging up the reader’s sight of the actual incidents¬†that take place in the story. In “Orbiting,” an Afghan immigrant with forged papers who came from an educated background, speaks with the language of a highly-cultivated¬†person about various things, politics and world-travel experiences, that put a humble family of second generation Italian immigrants to shame.¬†

The multivariate immigrant experiences also make the book¬†stand out among other books by immigrant authors. If most immigrant authors write about experiences of immigrants from their own backgrounds–hey, isn’t it the first creative writing advice to write only about what you know best?–The Middleman and Other Stories¬†contains¬†experiences of various immigrants:¬†Filipino, Italian, West Indian, Afghan, Indian, and Sri Langkan. This strongly indicates Mukherjee’s unending enthusiasm for human experiences regardless of their backgrounds. I believe¬†that¬†she could’ve easily written (and with marvelous results) of Indian immigrant experiences. Instead,¬†she’s chosen to write (=to research) about immigrants from, for example, Poland and Yugoslavia.¬†

I have here a few¬†notes that I took while¬†reading two reviews of¬†the book. The title of this post “The Middlebook Among Immigrants” was probably inspired by Uma Paraweswaran’s interpretation¬†of the use of “The Middleman” as the title story:¬†

Alfred Alcorn – Bharati Mukherjee is great at impersonating America. Great opening from ‚ÄúFighting¬†for Rebound‚ÄĚ because of the narrator’s using¬†‚Äúhibachi‚ÄĚ as a verb. The title story is not very cool, more like a ‚Äúmade-for-television‚ÄĚ due to its staged murder. I think it‚Äôs a good story for Tarantino. To Alcorn, this story doesn‚Äôt work with the other stories in the collection.

Uma Parameswaran – Bharati Mukherjee is perfect that representing the various experiences of being Americans (not Canadian) because of his coverage of groups (3 white males and 6 females–only three of whom are of Indian descent). The exploration of attitudes and diction is an interesting experiment and her language is devastating as always. Pameswaran says that most male characters in the American stories are caricatures: a motel owner who exploits underpaid fellow Indians, a professor whose language is too high, a ruffian who feels that the State is betraying him, etc. For Pameswaran, the use of ‚ÄúThe Middleman‚ÄĚ as the title of the collection is fitting because most of the characters in this stories are people who bridges two cultures.

Ini dia buku hard cover dari cetakan pertama tahun 1988 yg saya dapatkan lewat Amazon.
Ini dia buku hard cover dari cetakan pertama tahun 1988 yg saya dapatkan lewat Amazon.

Dunia yang Menyempit, Batas yang Melebur

Di antara banyak istilah yang telah menjadi klise dalam kehidupan sehari-hari adalah ungkapan “di zaman internet ini, dunia terasa menyempit* dan batas-batas semakin melebur.” Saking klisenya, metafor ini terasa seperti kalimat sederhana dengan makna denotatif yang tak bisa diganggu gugat. Dalam kesempatan ini, saya pingin berbagi satu kutipan dari cerpen apik Bharati Mukherjee yang berjudul “The Tenant” dari buku¬†The Middleman and Other Stories.**¬†Cerpen ini berkisah tentang seorang mahasiswi S3 asal India bernama Maya yang sudah cukup lama tinggal di Amerika dan telah menjadi warga negara Amerika, pernah menikahi lelaki Amerika, dan pandangannya dengan kasta sudah “tidak lagi India.”

Di satu kesempatan, Maya pergi ke perpustakaan dan masuk ke bagian periodikal dan menemukan beberapa mahasiswa asing yang sedang mengikuti berita tentang negara-negara asal mereka melalui koran-koran asing yang tersedia di bagian itu. Di masa itu, di masa pra-internet, menjaga hubungan dengan kampung halaman membutuhkan banyak usaha. Makanya, banyak sekali orang yang kerja di luar negeri dan benar-benar gegar budaya ketika kembali ke kampung halamannya. Merantau bisa-bisa membuat orang putus hubungan dengan kampung halaman. Banyak yang tidak bisa melewati batas itu.

Nah, bandingkan dengan sekarang: kalau ingin mendengar berita tentang kampung halaman, kita tinggal buka komputer dan bisa baca berita tentang pemain bola idaman yang keseleo¬†di kampung halaman kita di seberang samudera sana. Bisa dibilang, tidak ada lagi batas yang signifikan selain batas geografis. Kini, perantau bisa menjadi makhluk amfibi yang secara fisik tinggal di Amerika dan secara mental tinggal di Indonesia (meskipun dalam hal ini “Indonesia” berarti Indonesia versi teman-teman facebook, versi Kompas, versi Detik.com, atau bahkan versi Jonru). Inilah makna yang terkandung di balik ungkapan menyempitnya dunia dan meleburnya batas-batas.¬†

Nah, sebelum saya keterusan ngobras, saya bagi saya dengan Anda sekalian satu bagian yang menggambarkan dunia pra-peleburan batas itu: 

The next day, Monday, instead of getting a ride home with Fran–Fran says she¬†likes¬†to give rides, she needs the chance to talk, and she won’t share gas expenses, absolutely not–Maya goes to the periodicals room of the library. There are newspapers from everywhere, even from Madagascar and New Caledonia. She thinks of the periodicals room as an asylum for homesick aliens. There are two aliens already in the room, both Orientals, both absorbed in the politics and gossip of their far off homes.

She goes straight to the newspapers from India. She bunches her raincoat like a bolster to make herself more comfortable. There’s so much to catch up on. A village headman, a known Congress-Indira party worker, has been shot at by scooter-riding snipers. An Indian pugilist has won an international medal–in Nepal. A child drawing well water–the reporter calls the child “a neo-Buddhist, a convert from the now-outlawed untouchable caste”–has been stoned. An editorial explains that the story about stoning is not a story about caste but about failed idealism; a story about promises of green fields and clean, potable water broken, a story about bribes paid and wells not dug. But no, thinks Maya, it’s about caste.

Out here, in the heartland of the new world, the India of serious newspapers unsettles. Maya longs again to feel what she had felt in the Chatterjis’ living room: virtues made physical. It is a familiar feeling, a longing. Had a suitable man presented himself in the reading room at that instant, she would have seduced him. She goes on to the stack of India Abroads, reads through matrimonial columns, and steals an issue to take home.

* lebih klise lagi kalau pakai ungkapan lawas “dunia selebar daun kelor”

** btw, buku ini adalah buku penting karya Mukherjee, dan bagi saya buku ini penting karena berkat Amazon saya bisa mendapatkan versi hard cover-nya dari cetakan pertama ūüôā

Koolaids: The Art of War by Rabih Alameddine – The Art Amidst a War

With this kind of title, I guess "unconventional" is an understatement for this novel by Rabih Alameddine.
With this kind of cover,¬†“unconventional” is probably an understatement.

Koolaids: The Art of War (1999) by Rabih Alameddine is not an easy read, to say the least. Unlike most prose works that give their readers narratives designed to enable the readers jump conveniently into the world of their characters, Koolaids presents its readers with vignettes that are not immediately correlated. In the first pages, the reader can sense some vague connections among the vignettes; the vignettes only give off strong impressions¬†thanks to their subject matters of death, AIDS and war. As the reader barges through, the connections become more and more apparent, although the book still doesn’t “come out of the closet” as to what it wants to say with those vignettes. Eventually, despite its lack of lucidity, the reader will most likely find¬†Koolaids a strong narrative of sexuality, identity and war presented in an appropriately unconventional manner.

The book promises death from the first page–as if to follow a rule of thumb of writing a novel proposed by¬†a prominent novelist. The story opens with the imaginary scene of three figures–probably angels of death–discussing among themselves whether our protagonist¬†is ready to die. After a while, the reader finds that this imminent death is associated with HIV/AIDS. Having said that death is apparent from the first page, I by no means say that the beginning of the novel only talks about death; I’m here discussing the major themes of the novel individually only for convenience, in order to do justice to each important theme. The vignette about AIDS-related death is side by side with other vignettes that discuss a character’s childhood in pre-Civil War Lebanon and the (homo)sexuality of another character living in the West Coast. In this early part of the book–the book only has vignettes, no chapters, no sections–the reader starts to be curious whether this is a collection of deathbed hallucinations. Of course, nothing is clear yet.

Another important theme in this book is the character’s coming of age and his realization of his homosexuality. Hailing from a Muslim family in Lebanon, the protagonist studied in France and then the United States. He had a number of homoerotic experiences as a young boy in pre-Civil War Lebanon, where homosexuality is not to be mentioned in public, and as a teenager in Paris. He came¬†out of the closet for the first when he was in the United States, only to find out that the person¬†wanted to tell about his homosexuality had just died in a brutal accident. Within in theme also, the reader finds vignettes narrated by various characters who are all gay men in the circle of our protagonist who,¬†as the story opens, is¬†on his¬†deathbed. From these vignettes–remember, they are scattered and by no means aggregated in a particular section of the novel–the reader can see that the protagonist is a major painter with¬†an unconventional background. He is Lebanese by origin, American by citizenship, a homosexual, and from a Muslim background–although¬†“Muslim” here only means that he is of Muslim parentage. This miss-mass of identity makes him at one point question whether his fame as a painter is because he has¬†such a peculiar background. We also find along this theme, a frequently quoted line that is related to the protagonist alienation as a Lebanese homosexual: “In America, I fit, but I do not belong. In Lebanon I belong, but I do not fit” (Alameddine 40)

Also a very important theme in this book is the Lebanese Civil War, which takes up a significant portion of the book. Vignettes about the bloody war mostly appears after the parts that talk about the childhood of several characters. The novels presents snippets of the brutality of the war that divides Beirut into East Beirut (for the Christians) and West Beirut (for mostly Muslims, with a number of Christian). The reader can find a number of scenes that depict the massacre of Palestinian(refugee)s (they are a significant element in the Lebanese Civil War, FYI) by the Phalangists (the Christian party in Lebanon). It also brings up the Sadra and Shattila massacre, which is also the main incident in the animation movie and graphic novel Waltz with Bashir by Ari Folman. The closest tie between the Lebanese Civil War and our protagonist who is France and the United States during that time is the story about a mother who gets a slap in the face as she finds out that her husband is a homosexual who gets an offering of young boys every so often. What makes it worse is how she finds about it: when she goes to the Christian part of Beirut and meets a militia leader who then becomes her lover.

Despite the structure that is non-chronological and the juxtaposition that doesn’t appear to be logical, the novel demands the reader to finish it mostly thanks to the gravity of its subject matter, its¬†wittiness and its peculiar combination of themes. Although some readers might find it hard to pinpoint who narrates a certain vignette (apparently, the vignettes don’t show distinctive language although they are narrated by different characters–and this is something to be elaborated further) or they might find it hard to build the connection between the numerous characters, it is not at all difficult to build a rough connection–logically as well as chronologically–between the incidents in the story. As the reader goes on deeper into the book, she can even decide whether a vignette is an actual part of the story or just a scene that the protagonist imagines. Every so often, the reader will meet again a variation of the scene that opens the book (the one with three angels of death), as if to reorient the reader who might get lost in the jungle that is¬†Koolaids.¬†

As the reader¬†approaches the closure of the book, she will have found several vignettes that appear like confessions by the protagonist of his intention to write a novel, a story or a narrative about various things, such as love, war, Lebanese immigrants, etc. His intention never really materializes into a full-fledged story or play or biography as he is so fragmented and haunted by the imminent death. With all this,¬†it is valid for the reader to see that this novel that doesn’t look like any conventional novel–by the way, is there such a thing as “convention” for this genre? Bakhtin would say no–is actually fragments of impressions and, probably, bits of written materials collected from a person who is dying from AIDS. Of course, this is argument is made possible by the last vignette of the story that is also a variation of the opening death scene; the difference is that in this last vignette, all the three angels are in agreement that it’s time for the protagonist to die:¬†“I die,” affirms the protagonist.

To conclude, after reading the end¬†of the book, I began¬†to understand why this novel dons “The Art of War” as its¬†subtitle. Of course, the standard “Art of War” belongs to Sun Tzu’s treatise. It’s also possible to apply that sense of “Art of War” to this book. However, it will be more fitting if we understand “the art of war” in this subtitle as the craft¬†of presenting a story during a difficult situation. In other words, this chaotic jumble of vignettes is the most appropriate manner (the art) of presenting the story of someone battling a terminal condition (the war) of the late stage of HIV¬†infection. This is the art amidst a war.

Di Memphis, Badai Cuma Tipis

di emperan restoran
butir-butir badai jatuh pasrah di atas paving,
sebagian terlenting menyentili sepatu,
ujung-ujung benang lepas di tungkai celana,
aku memunggungi warna,
memandang kaca menggambar pertokoan
lebih kelam lagi.

kuku-kuku kasar mencakari perut
perempuan utara berbadan cemara
berambut perbukitan selatan

siapa yang mengundang pak tua gundul
untuk bercerita vietnam dan korea
mungkin dia yang menggarap hujan
menjadikannya screen saver
kita tahu pasti berhenti
begitu backlight mati

dan gadis jilbab putih di teduhan sana
menemukan hotel yang menunggunya