Life Styles, Inc.: Di mana Penyandang Disabilitas Kejiwaan Dewasa Berkomunitas

Semoga tidak terkesan berlebihan bila saya berulangkali menuliskan tentang pemandangan dan pengalaman yang  membentuk diri saya yang saya dapatkan dari pekerjaan sambilan yang saya jalani selama lima musim panas di Fayetteville, Arkansas.

Kali ini, saya ingin ceritakan satu hal paling berarti yang mungkin belum pernah saya tuliskan secara memadai: pertemuan rutin dengan penyandang tunagrahita dewasa (atau istilah terjemahan mutakhirnya “orang-orang dewasa yang memiliki disabilitas kejiwaan”) di sebuah lembaga bernama Life Styles, Inc.

Sebelumnya, perlu saya ceritakan tentang Life Styles ini. Seperti bisa Anda dapatkan di situs ini, lembaga ini pada intinya memberikan pelayanan kepada orang dewasa (di atas 18 tahun) penyandang tunagrahita. Di lembaga ini, ada berbagai pelatihan dan kegiatan perkumpulan bagi para peserta, khususnya kegiatan yang berbau seni dan pengembangan ketrampilan sosial. Ada juga fasilitas apartemen bagi para peserta. Pada intinya, para peserta melakukan kegiatan yang bisa membuat mereka semakin siap menjalani hidup secara mandiri, mengatasi segala keterbatasan mereka. Ada seorang peserta yang saya tahu akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah restoran McD sebagai tukang cuci piring. Dan ada juga peserta yang juga bekerja di perusahaan pencacah kertas (paper shredding) di bawah Life Styles. Untuk lebih jelasnya mengenai organisasi ini, saya persilakan Anda melihat situs ini.

Selama satu musim panas, saya bisa ke Life Styles sampai 3 kali, tergantung banyaknya program yang kegiatan sosial, kultural, dan wisatanya saya pegang. Sekadar mengingatkan, pekerjaan saya di Spring International Language Center adalah sebagai asisten koordinator kegiatan sosial, kultural, dan wisata untuk peserta program-program khusus–dan program khusus yang dimaksud adalah program pelatihan bahasa Inggris dan/atau kepemimpinan yang diikuti orang-orang dari seluruh dunia yang didanai oleh Kementrian Luar Negeri AS atau negara-negara tertentu. Biasanya ada 2-4 program khusus selama musim panas, dan setidaknya 3 di antara program itu juga melibatkan kunjungan ke Life Styles, untuk menunjukkan tentang sebuah lembaga pelayanan sosial kebanggaan kota Fayetteville.

Biasanya, kunjungan ke sana dilakukan pada siang hari, sekitar pukul 1 siang. Saya ingat suatu kali kami harus menjadwalkan ke sana pada hari Jumat dan saya harus melewatkan sholat jamaah Jumat karena tidak ada lagi orang yang bisa mengantarkan ke sana dan saya sendiri yang harus menyetir–saya ingat, waktu itu akhirnya saya sholat duhur sendiri di teras bangunan ketika angin sangat kencang dan sajadah tipis saya berkibar-kibar dan harus dibebani batu bata di empat sudut. Saya biasanya membawa 15-25-an peserta program khusus ke tempat ini (dengan mengendarai dua van raksasa).

Kami disambut para pengelola kegiatan seni di gedung Life Style yang terkesan artsy. Gedung ini merupakan hasil wakaf dari pasangan Jim dan Nancy Blair (Jim adalah salah satu pengacara terkemuka dan sukses di kawasan Fayetteville dan sekitarnya dan banyak mendermakan duitnya untuk proyek-proyek sosial, termasuk juga pembangunan perpustakaan kota Fayetteville). Di lobi, kami diberi informasi mengenai Life Styles dan kegiatan-kegiatan yang ditawarkannya (seperti paragraf kedua postingan ini).

Setelah satu dua pertanyaan dari para peserta program khusus yang kebanyakan takjub dengan model kegiatan Life Styles, kami dibimbing sedikit masuk ke gedung, yaitu di galeri pamer. Di galeri pamer ini kami bisa melihat hasil karya rupa (lukisan, patung, seni instalasi, dll) karya para peserta Life Styles. Karya-karya seni dari penyandang tunagrahita ini juga dan dijual. Ada beberapa lukisan yang bahkan dijadikan kartu pos, yang juga dijual di lobi. Hasil penjualan karya-karya seni ini kembali ke seniman dan Life Styles. Ada terlihat konsistensi munculnya obyek-obyek tertentu pada karya-karya tertentu. Ada karya yang merupakan montase wajah-wajah dari berbagai sumber yang terkesan sangat misterius. Ada karya-karya yang sangat jelas menceritakan tema-tema tertentu.

Nah, setelah puas melihat-lihat dan berbincang dengan para pengelola di lobi dan galeri, kami pun masuk ke workshop, atau dapur karya. Di sana terdapat sebuah meja besar gabungan dari beberapa meja panjang. Dan di sekelilingnya terdapat para peserta Life Style. Mereka tampak senang dan seperti sudah menunggu kehadiran kami. Beberapa langsung mendekat dan menjabat tangan, dan beberapa tetap menunduk di kursi besi mereka. Para pengelola mempersilakan kami semua duduk berbaur dan memberi kami semua stiker putih untuk menuliskan nama kami. Ruangan terlihat seperti lazimnya sebuah workshop, ada kayu-kayu berserakan di sana-sini. Ada patung setengah jadi di ujung ruangan. Ada patung berbaju melambai-lambai di satu sudut atap, dan sebagainya. Terkadang ada setumpuk majalah bekas di tengah meja, dan terkadang ada juga lilin malam (play dough) di sana, tergantung apa yang akan kita lakukan pada pertemuan itu. Kami dianjurkan duduk berbaur, dan nantinya bagian dari kegiatan kami adalah interaksi dan saling membantu dan bercerita selama acara.

Selanjutnya pengelola mempersilakan kami memperkenalkan diri kami satu per satu. Para peserta Life Styles yang kebanyakan berasal dari Fayetteville atau desa-desa sekitar Fayetteville berkenalan dengan para peserta program khusus yang berasal dari berbagai penjuru dunia, mulai dari sebuah kota Siberia di tepi Danau Baikal di Rusia sana sampai sebuah desa di Senegal. Bahasa Inggris dengan citarasa global berbaur dengan bahasa Inggris kental Arkansas. Ada kalanya, para peserta Life Styles harus meminta para peserta program khusus mengulangi perkenalan mereka karena kurang menangkap jelas, dan begitu pula sebaliknya. Yang selalu terjadi adalah kami tertawa-tawa menikmati pertemuan tak biasa itu.

Setelah semua sudah saling memperkenalkan diri dan bahkan ada yang bisa memanggil nama depan, pengelola (yang merupakan guru seni) memberi instruksi tentang apa yang akan kita lakukan sore itu. Yang saya ingat pasti adalah membuat montase dari gambar-gambar di majalah bekas. Di situ saya berpasangan dengan alumnus program Life Styles yang masih sering ikut kegiatan. Selama membuat montase, dia bercerita bahwa baru-baru ini dia mendapat pekerjaan sebagai tukang cuci di McD dan dengna malu-malu dia ceritakan bahwa dia juga baru saja bertunangan. Tunangannya adalah seorang peserta Life Styles yang  duduk di seberang, yang melambaikan tangannya ke saya dengan malu-malu juga saat tunangannya yang duduk di samping saya itu memanggilnya. Di saat yang lain, kami pernah membuat makanan-makanan mini dari lilin malam. Ketika itu, salah satu peserta program memaksa membuat anjing-anjing kecil–dia berulang kali cerita senang sekali menggambar anjing, dan mengabaikan tema acara itu, yaitu membuat makanan mini.

Biasanya, setelah program selesai, kami melanjutkan dengan berbincang-bincang sambil menunggu waktu pulang. Di satu musim panas, ketika salah satu rekan kerja saya sesama asisten program adalah seorang mahasiswi tingkat akhir, salah seorang peserta Life Styles berulang kali menghampirinya dan memberikan hasil karyanya, sebuah lukisan dengan nama rekan saya itu. Rekan saya ini dengan agak rikuh menerimanya. Di saat yang lain, seorang peserta program khusus, seorang Arab dari Haifa, Israel, yang merupakan seorang komponis klasik dan pemain buzuq (semacam gitar klasik asal Lebanon), memainkan buzuq-nya dan videonya saya unggah di sini. Sesudahnya, kami saling berpamitan dan pulang dengan membawan kesan bermacam-macam tentang pertemuan itu.

Beberapa kali, dalam perjalanan pulang dari Life Styles, peserta program khusus menyampaikan ketakjuban mereka dengan pertemuan tersebut. Banyak di antara mereka yang baru sekali itu berhubungan dengan penyandang tunagrahita dengan santai dan bercakap-cakap santai. Kebanyakan orang–di Amerika maupun di mana saja–memandang penyandang disabilitas mental sebagai orang yang berbeda dengan orang-orang yang mereka temui sehari-hari di tempat kerja. Tapi, pertemuan di Life Styles membuat mereka sadar bahwa mungkin diperlukan hubungan personal yang erat dan natural dengan penyandang tunagrahita untuk lebih menghargai mereka lebih dari sekadar label mereka sebagai penyandang tunagrahita.

Ah, kenapa ada kesan berbeda ketika  saya menulis “mereka”? Semoga saja kata “mereka” ini tidak saya pakai untuk membedakan dalam konteks “mereka vs kita.” Semoga saja saya sudah mulai belajar. Semoga saja “mereka” di sini tak lebih dari sekadar kata ganti yang pemakaiannya tidak bisa dihindari. Semoga.

(Laporan Studi Banding) Kembalinya Angklung di Arkansas

Saudara-saudara penikmat Laporan Studi Banding yang saya hormati, dalam kesempatan ini saya akan menghadirkan laporan dari Amerika Sebelah Sini, di negara bagian Arkansas.

Amerika Sebelah Sini, seperti saya pernah bilang sebelum-sebelumnya, adalah Amerika yang kecil dan asri. Dia bukan Amerika-nya Arnold Schwazenergger atau Ally McBeal. Amerika Sebelah Sini adalah sebuah kota kecil dengan penduduk kurang dari 80.000 jiwa, seperlimanya kota Malang di Jawa Timur. Pun demikian, Amerika Sebelah Sini adalah Amerika yang bukan Indonesia, dan Amerika Sebelah Sini beruntung karena memiliki universitas yang menampung ribuan mahasiswa asing yang mewarnainya dan diterimanya sebagai elemen yang mengajarinya perbedaan.

Kami, mahasiswa dan komunitas Indonesia di Amerika Sebelah Sini, cukup berbangga bisa ikut berpartisipasi menunjukkan dunia asing kepada orang-orang Amerika Sebelah Sini. Kali ini, saya ingin melaporkan prestasi kawan-kawan mahasiswa Indonesia di kampus University of Arkansas, Amerika Sebelah Sini, yang tahun ini berhasil meraih penghargaan sebagai negara favorit (bersama Rusia) versi International Culture Team. International Culture Team sendiri adalah unit di kampus yang memiliki motto “membawa dunia ke masyarakat,” yang diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan yang membantu mahasiswa asing merasakan lebih jauh budaya Amerika Sebelah Sini dan membantu masyarakat Amerika Sebelah Sini memahami dunia dengan berbagai warnanya.

Bagaimana ceritanya mahasiswa Indonesia di Amerika Sebelah Sini mendapat penghargaan sebagai negara favorit ini?

Tahun ini, Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) University of Arkansas bisa dibilang super aktif. Mereka aktif hadir dalam acara-acara presentasi budaya di sekolah-sekolah (sampai di sekolah pedesaan Arkansas sekitar beberapa jam jauhnya dari kampus), hadir dalam acara-acara pemeran kebudayaan baik yang diadakan di dalam kampus maupun di tempat-tempat luar kampus, dan tampil dalam pementasan-pementasan baik di dalam maupun di luar kampus.

Salah satu yang menjadi sorotan utama keikutsertaan Permias dalam acara-acara ini adalah permainan angklung. Angklung ini milik universitas sejak tahun 2010. Pada tahun itu, setelah mendapatkan penghargaan sebagai negara terbaik, Permias University of Arkansas mendapat dana dari International Cultural Team untuk mengadakan acara “Indonesian Immersion.” Immersion pada intinya adalah acara yang bertujuan untuk menghadirkan acara asli dari sebuah negara tapi dalam skala yang jauh lebih kecil. Dengan mengadakan acara betulan tapi lebih kecil, para hadirin (mahasiswa kampus secara umum) akan merasa “diceburkan” ke negara tersebut. Untuk Indonesian Immersion kali itu, tema yang diambil adalah “perayaan kemerdekaan.” Jadi, selama beberapa jam itu, Permias mengadakan berbagai acara yang merupakan tiruan dari perayaan kemerdekaan di Indonesia. Ada upacara bendera sampai lomba makan krupuk. Acara ini diikuti oleh cukup banyak peserta. Nah, untuk kelengkapan acara itu, International Culture Team membeli angklung betulan (dari California, lewat Amazon). Nah, karena universitas punya angklung betulan yang cukup bagus, akhirnya para anggota Permias setahun terakhir memaksimalkan angklung ini untuk berpartisipasi dalam acara-acara pertunjukan baik di dalam maupun luar kampus.

Pementasan angklung pertama Permias terjadi beberapa bulan yang lalu, ketika International Culture Team mengundang relawan untuk tampil di hadapan anak-anak pramuka yang sedang mengadakan perkumpulan di alun-alun kota Amerika Sebelah Sini. Mereka memainkan lagu anak-anak, dan tentu saja permainan satu alat musik yang perlu dimainkan beberapa orang untuk menyanyikan sebuah lagu pendek adalah sesuatu yang tidak biasa. Dan memukau. Setelah penampilan pertama itu, mereka pun ketagihan untuk manggung dan manggung. Hingga beberapa kali lagi dan beberapa lagu lagi. Setiap kali tampil, lagunya semakin fenomenal saja. Ehem. Beberapa waktu yang lalu, band angklung ini bahkan tampil menghibur pengunjung museum seni Crystal Bridges Museum of American Art, sebuah museum seni skala nasional yang memajang lukisan para maestro seperti Rothko dan Norman Rockwell–bahkan tahun kemarin memajang karya-karya Andy Warhol!

Beberapa minggu yang lalu, unit yang mengurus Mahasiswa Asing Penerima Beasiswa mengadakan acara jamuan malam pelepasan (bagi yang wisuda). Salah satu tamu kehormatan mereka adalah Bapak Ismunandar, Atase Pendidikan Indonesia yang berkantor di Washington D.C. Dalam kesempatan bincang-bincang antara pak Ismu dan mahasiswa Indonesia di Amerika Sebelah Sini, terlontar pertanyaan dari Pak Ismu tentang apa yang kira-kira bisa membantu kegiatan Permias, yang dijawab dengan keinginan anggota Permias untuk memiliki angklung sendiri. Tampaknya itu bukan hal yang sulit buat Pak Ismu dan Kedubes Indonesia secara umum. Segala hal yang bisa memperkenalkan Indonesia di mata dunia memang harus selalu didukung. Walhasil, beberapa hari setelah Pak Ismu bertukar pikiran dengan mahasiswa permias, presiden Permias mendapati paketan besar berisi angklung dari Pak Ismu.

Kita tidak tahu penampilan macam apa lagi yang akan dipersembahkan Permias dengan angklung milik sendiri ini. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Untuk kesempatan ini, saya biarkan Anda ikut melihat salah satu penampilan Permias. Kali ini tempatnya adalah sebuah SD lokal bernama Owl Creek Elementary School, yang saat itu mengadakan malam pertunjukan internasional, yang menghadirkan mahasiswa-mahasiswa asing dari University of Arkansas. Para partisipan mendapat satu meja untuk memamerkan hal-hal unik dari negaranya, mulai makanan, informasi, gambar, benda-benda, sampai virtual reality (pakai kotak kertas dari Amazon itu) untuk mengajak para siswa dan wali murid mengintip negara mereka masing-masing. Permias tidak hanya menampilkan benda-benda, tapi juga mempertunjukkan permainan angklung ini.

Selamat menikmati.

Apa itu “Womanism”?

Apakah yang dimaksud dengan istilah “womanist” atau “womanism”?

Istilah “womanism” bisa didefinisikan secara sederhana sebagai faham kesetaraan jender, sejenis feminisme, yang khusus dipakai untuk konteks perempuan Afrika Amerika. Istilah ini dipopulerkan oleh Alice Walker, novelis yang karya terbesarnya The Color Purple (1982) sangat sukses, meraih banyak penghargaan, dan bahkan difilmkan oleh sutradara Stephen Spielberg dibintangi oleh, salah satunya, Oprah Winfrey.

Kenapa harus memakai istilah “womanism,” bukannya sekadar “feminism”?

Alice Walker menganggap istilah “womanism” akan bisa mewakili hal-hal yang tidak terwakili oleh istilah “feminism.” Walker mengambil istilah ini [Walker 2006; 11] terinspirasi dari kata “womanish” yang dipakai untuk merujuk kepada tingkah perempuan kulit hitam yang suka bicara dan memaki keras-keras tanpa kenal takut. Biasanya, seorang ibu Afro-Amerika suka memperingatkan anaknya yang ngomong keras-keras dan banyak tingkah dengan mengatakan: “Jangan bertingkah womanish begitu ah?” Tapi, ujung-ujungnya si anak juga menjadi perempuan yang galak seperti itu. Bagi Alice Walker, tingkah “galak” di kalangan perempuan kulit hitam yang seperti ini sangat berarti, merupakan kekuatan yang memberi inspirasi.

Dalam penjelasan Alice Walker, memakai istilah “womanism” bisa lebih praktis dan tidak problematis. Istilah “womanism” langsung merujuk pada proyek kesetaraan jender di kalangan perempuan kulit hitam. Dengan begitu, seorang penulis atau kritikus tidak perlu repot-repot menambahkan kata black ketika harus merujuk pada feminisme jenis ini. Mereka tidak perlu menggunakan istilah “black feminism,” yang problematis menurut Alice Walker. Istilah ini problematis karena seolah-olah feminisme yang standar itu adalah feminisme yang bukan untuk perempuan kulit hitam. Feminisme, bagi aktivis dan pemikir kulit berwarna, dianggap banyak menyasar agenda-agenda perempuan kulit putih*. Jadi, feminisme yang mainstream pada dasarnya adalah feminisme kulit putih. Atau, kalau ditarik lebih jauh, ada kesan bahwa keadaan manusia yang normal adalah manusia kulit putih. Jadi, untuk lebih mudah dan mantapnya, lebih baik menggunakan istilah “womanism.”

* Kita akan bahas soal ini dalam postingan lain tentang “intersectionality,” kalau ada kesempatan. 🙂

Referensi dan bacaan lebih lanjut:
Phillips, L., 2006. The Womanist Reader. United States: Taylor & Francis.
Walker, A. (2006). “Coming Apart (1979),” The Womanist Reader. Phillips, L. (Ed) : 3-11.

(Puisi) Cambridge

tuhan, kenapa malah tak bisa lupa

saat Frazer akting galau
skripsi hangus digoreng MS DOS
di musim gugur dua puluhan tahun lalu
aku mungkin sedang bayar SPP di SMP
di ruang TU, dengan satu-satunya printer
dan komputer di kelurahan itu.

kini, saat dia mirip mantan politisi
pemanasan global masih juga diingkari
aku teliti kampus ini, ingat Courtney
nemu pisang di Widener Library
dan Walt Whitman hidup lagi

ini bukan kisah motivasi. tapi puisi
tentang sesuatu pop yang laten abadi.

ada juga

saat Damon/Will diwejangi Williams,
(garis tangan semestinya digenggam!)
setelah merampungkan persamaan
sebagai petugas kebersihan
aku mungkin menghafal lirik Oasis
dengan logat Jawa bahasa Inggris
sepeninggal seorang sobat
lulusan SMK yang nekad
menyeberang dua selat,
bekerja di Hotel Kakatua
dan nulis surat tentang turis
(bonus satu idiom baru)

tadi malam aku beli kari veggie
di luar kampus tempat Chomsky
tanpa and so on, tanpa and so forth
mendebat Zizek dengan presisi

ingat, ini bukan puisi motivasi
tapi pelarian melankoli
pulang kampung
tak kunjung jadi

Sholat Jumat di Harvard: Misalkan Kita Minoritas

Kali ini, Saudara-saudara penyimak Laporan Studi Banding yang saya hormati, saya ingin bercerita tentang sholat Jumat di negeri Aa’ Sam. Sebenarnya tujuan awal tulisan ini tentang pengalaman sholat Jumat di “masjid darurat” kampus Universitas Harvard. Tapi, seperti biasa, saya ajak dulu Anda menempuh jalan berliku. Saya akan mulai dengan hakikat sholat Jumat sebagai mayoritas–seringkali hakikat ini tidak pernah kita pikirkan. Baru setelahnya saya akan ceritakan khidmatnya sholat Jumat sebagai minoritas.

Hakikat Sholat Jumat Mayoritas

Kalau Anda tinggal di Indonesia, di mana sebagai Muslim Anda adalah mayoritas, mungkin tidak ada yang perlu dibicarakan soal sholat jumat. Anda bisa menemukan masjid di mana-mana dan pimpinan Anda sangat mengerti bahwa setiap hari jumat antara jam 12 sampai jam 1 Anda perlu istirahat untuk sholat Jumat. Bahkan, sistem penjadwalan kerja sudah mempertimbangkan ini. Murid-murid sekolah sudah dibebaskan dari bangku mereka pada pukul 11 pagi pada hari Jumat, bahkan kadang-kadang tanpa perlu kembali setelah sholat Jumat. Kalau Anda kerja di kantor, biasanya mungkin sudah ada pengaturan jam khusus.

Begitu juga dengan tempat sholatnya. Seringkali kita hanya perlu jalan dari tempat kita bekerja untuk bisa sholat Jumat. Ketika saya dulu kerja di Universitas Brawijaya, saya bisa memilih sholat Jumat di kampung saya atau di kampus sendiri. Biasanya sih di masjid kampus yang megah itu.

Dan seringkali kita menganggap ini biasa-biasa saja. Tentu, kita menganggap kenikmatan yang sudha sehari-hari kita nikmati sebagai sesuatu yang wajar dan, ya, tidak perlu lagi repot-repot mensyukurinya.

Tapi beda ceritanya kalau Anda tinggal di sebuah keadaan di mana Anda adalah minoritas. Beda ceritanya bila fasilitas-fasilitas yang biasanya dengan mudah Anda dapatkan tidak mudah ditemukan. Beda ceritanya bila sesuatu yang biasanya menjadi bagian “wajib” dari hidup Anda ternyata butuh diperjuangkan dulu, bila sesuatu yang menjadi hal pokok dalam hidup Anda tersebut dicurigai sebagai sesuatu yang berbahaya atau diniatkan untuk membahayakan orang lain (terutama mayoritas). Maka lanjutkan ke bagian selanjutnya:

Bukan Sekadar Toleransi, tapi Pengakuan Adanya Ketidaksetimbangan

Menuliskan kata “minoritas” di atas saya langsung teringat kembali album ke-5 Slank: “Minoritas.” Album itu keluar waktu saya SMA. Band pertama saya merekrut saya karena mereka butuh ikut sebuah festival yang mewajibkan peserta memainkan “Bang Bang Tut” sementara mereka tidak punya pemain kibord. Sekarang, setelah dua puluh tahun setelah kejadian itu, saya sadar betapa saat itu kata “minoritas” itu tidak terlalu penting artinya bagi saya. Saya tidak ingat apa arti kata itu dulu bagi saya. Mungkin saya semacam membayangkan bahwa kata itu mengacu pada orang-orang slengekan seperti Slank dan sejenisnya, yang dianggap sebagai orang-orang pinggiran.

Saya yakin sikap “tidak nyambung” semacam itu wajar bukan hanya bagi remaja, tapi bagi siapa saja yang merupakan bagian dari mayoritas–tapi bukan berarti yang wajar seperti itu harus dibiarkan. Kita cenderung menganggap segala hal itu natural, sampai akhirnya ada yang menunjukkan bahwa hal-hal tersebut sebenarnya adalah sosial dan historis. Maksud saya, dalam keadaan wajar, kita cenderung menganggap bahwa hal-hal yang kita lihat dan percayai dan miliki itu cenderung sesuatu yang sewajarnya. Padahal, banyak hal yang sebenarnya hasil dari suatu proses sejarah dan hasil bentukan sosial. Dalam hal ini, sejarah penyebaran Islam di Indonesia yang lumayan merata dan kurangnya menyoroti adanya minoritas dan mayoritas membuat saya gagal menyadari arti penting menjadi minoritas.

Yang juga perlu ditumbuhkan adalah menyadari perbedaan tingkat, dan mengajarkan untuk mencegahnya. Saya ingat hanya diajarkan toleransi dan menghargai perbedaan–yang sebenarnya tidak cukup. Ya, mengakui dan menghargai perbedaan saja tidak cukup. Kita masih perlu mengakui adanya perbedaan “level” antara kelompok-kelompok yang berbeda. Kalau hanya sekadar berbeda saja dengan jumlah anggota yang sama-sama besarnya, tentu keadaannya jadi tetap indah. Seperti idealnya keadaan “multikultural.” Tapi kalau berbeda dan salah satu jumlahnya lebih besar atau lebih memegang kekuasaan, tentu saja dinamikanya jadi lain. Yang ada adalah pengakuan adanya perbedaan di satu sisi, sementara ada praktik di mana orang-orang dari kelompok yang lebih mayoritas mendominasi yang minoritas.

Seperti biasa, hal-hal yang kita anggap wajar padahal bersifat historis atau hasil kondisi sosial ini baru terasa kalau kita pindah ke tempat lain yang sejarah dan konstruksi sosialnya berbeda. Tentu saya harus menggunakan kesempatan berharga ini untuk mengutip lagunya Brian Adams dan Mel C (mantan anggota Spice Girls): “Baby when you’re gone, I realize I’m in love.” Saat sesuatu yang biasanya sebenarnya bukan sesuatu yang natural itu hilang, baru terasa bahwa sebenarnya dulu kita menerimanya–pakai gaya generasi Facebook–secara taken for granted.

Dalam kasus saya, seorang Muslim dari Jawa, kondisi semacam ini terjadi ketika saya berada di Amerika Serikat, negara yang persentase penduduknya muslimnya kira-kira hanya 1 persen dari keseluruhan. Dalam kondisi seperti ini, baru sadar bahwa kewajaran-kewajaran dalam menjalani hidup sebagai Muslim di Indonesia itu sebenarnya adalah “kenikmatan” yang hanya bisa didapatkan oleh mayoritas. Di kota Fayetteville, bisa dibilang saya beruntung karena komunitas Muslimnya sudah berhasil membangun masjid. Tapi, untuk urusan sehari-hari, misalnya sholat, tentu saja saya harus mengusahakannya sendiri. Tempat wudhu juga tidak ada karena gaya toilet Amerika yang relatif berbeda dengan toilet Indonesia. Dan lain-lainnya. Pendeknya, segala hal yang seperti wajar buat Muslim di Indonesia menjadi sesuatu yang langka dan sangat diharap-harap.

Makanya, ketika ada satu komunitas Muslim yang cukup kaya di sebuah kota, meskipun jumlahnya kurang dari satu persen keseluruhan penduduk kota, mereka langsung berusaha membuat masjid–lebih tepatnya membeli bangunan untuk kemudian dijadikan masjid. Seperti misalnya masjid di kota Joplin, Missouri, yang saya tahu cukup baik karena kebetulan lokasinya hanya 1,5 jam dari tempat saya dan imamnya orang Indonesia. Jamaah masjid ini terdiri dari sekitar 50 keluarga. Tapi, karena jamaahnya cukup makmur, sebagian besar dokter asal Pakistan yang bekerja di rumah sakit setempat, mereka bisa membeli bangunan bekas gereja dengan halaman yang cukup luas. Sayangnya, sepertinya tidak semua orang suka ada bangunan masjid di Joplin. Masjid itu pernah menjadi korban percobaan pembakaran. Pelakunya tertangkap CCTV ketika mencoba melakukan pembakaran tersebut. Untungnya, pada saat itu api tidak sempat menjalar terlalu jauh sebelum akhirnya diketahui oleh salah seorang jamaah yang kebetulan berada di sana. Sayangnya, beberapa saat setelah kejadian tersebut, masjid itu terbakar habis sampai rata dengan tanah. Hingga saat ini, tidak diketahui apa penyebab kebakaran tersebut karena memang tidak ada bukti–kamera CCTV dan semuanya ikut ludes terbakar. Tapi, kurang dari dua tahun setelah musibah tersebut, jamaah masjid ini, dibantu dengan sumbangan warga Joplin dan sekitarnya, berhasil membangun masjid betulan. Kali ini masjidnya dibangun sedari awal sebagai masjid. Tentu, dengan menceritakan musibah masjid Joplin ini, saya harus menjelaskan bahwa tidak semua orang tidak suka dengan adanya masjid Joplin itu. Bahkan, tak lama setelah kebakaran masjid Joplin itu, banyak warga setempat, anak-anak pramuka, dan jemaat gereja setempat, yang menggelar acara malam renungan dan penggalangan dana untuk menumbuhkan kepedulian warga tentang kejadian yang menyedihkan Muslim kota Joplin.

Ketakutan kepada Muslim itu juga pernah terjadi dalam kasus rencana pembangunan Pusat Masyarakat Muslim Park 51 di Manhattan, tak terlau jauh dari gedung World Trade Center yang runtuh pada 11 September 2001 itu. Kelompok-kelompok tertentu, yang digawangi oleh Pam Geller dan orang-orang yang oleh Wajahat Ali disebut sebagai jaringan Islamofobia itu, memanas-manasi orang untuk menolak pembangunan bangunan tersebut. Bahkan, mereka sampai menyebut bangunan itu sebagai “Masjid Ground Zero,” untuk menunjukkan ironi antara lokasi runtuhnya World Trade Center dengan bangunan tempat ibadah agama dianut para teroris pembajak pesawat tersebut, para teroris yang mengklaim melakukan tidak kejahatannya atas nama Islam itu. Seperti biasa, tentu banyak sekali yang menentang upaya memanas-manasi ala Pam Geller dan Frank Gaffney ini. Gaffney ini juga pernah melakukan protes keras atas bangunan masjid di Tennessee, yang katanya menjadi sarang pertumbuhan teroris. Dia mengklaim bahwa masjid di Tennessee itu merupakan tempat mendoktrin kaum muda Muslim Amerika untuk menjadi orang-orang yang lebih percara “hukum syariah” daripada Undang-undang Dasar Amerika Serikat. Dan ini bukan kali pertama Gaffney melakukan hal serupa. Dia membisikkan rencananya kepada banyak perwakilan rakyat Amerika yang duduk di Dewan Perwakilan-Dewan Perwakilan tingkat negara bagian. Biasanya, kalau Dewan mulai mempertimbangkan anjuran Gaffney ini, dia kemudian dipanggil untuk menjadi nara sumber asli dalam acara Dengar Pendapat di Dewan Perwakilan. Tentu ini kesempatan bagi Gaffney untuk menyampaikan pendapatnya mengapa Islam itu agama yang perlu diwaspadai dan perlu dibuatkan peraturan khusus yang melarang penerapan “hukum syariah.”

Tentu di Indonesia sendiri hal-hal semacam ini bukan hal yang asing. Bedanya, yang menjadi sasaran tentu bukan kaum Muslim. Korbannya bisa berupa minoritas beragama Kristen di sebuah lokasi, minoritas sekte Muslim tertentu, atau bahkan minoritas penganut kepercayaan lokal tertentu. Mungkin kita akan bilang: Ah, tapi itu kan berbeda? Tapi orang-orang itu kan tidak menyalahi hukum Islam yang sesungguhnya dari Allah?

Apanya yang berbeda? Secara isi mungkin berbeda, karena memang dunia ini bermacam-macam dan banyak sudut pandang untuk melihat sebuah urusan. Tapi pada dasarnya, secara relasional semua itu tidak terlalu berbeda. Bagi mayoritas Muslim di Indonesia, mungkin saja Ahmadiyah itu adalah ajaran yang sesat, yang harus dilarang dan dibbuatkan Undang-undang, karena itu bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dan sebagian orang Islam juga berkata demikian. Dan mereka berharap ada perundang-undangan yang melarang penyebaran agama ini.

Mari kita bandingkan dengan kasus di Amerika. Orang-orang seperti Jeffrey dan Pam Geller itu menggunakan Undang-undang dasar Amerika sebagai landasan mereka. Mereka juga gunakan nilai-nilai kemanusiaan barat yang bagi mereka Universal dan harus dipatuhi semua manusia sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Mereka tidak mau ada orang nikah dua karena itu bagi mereka tertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, mereka tidak mau orang-orang disuruh memakai jilbab karena itu sama saja dengan menekan perempuan, mereka juga tidak mau ada hukum potong tangan karena itu tidak manusiawi. Dan seterusnya.

Pendeknya, kalau banyak Muslim di Indonesia yang berpegangan pada apa yang menurut mereka dari Tuhan dan tidak bisa diganggu-gugat, Pam Gellar dan kelompoknya berpegangan pada nilai-nilai kemanusiaan. Apapun perbedaan detil dari nilai-nilai yang mereka percayai benar itu, yang pasti mereka sama-sama tidak mentolerir adanya perbedaan.

Begitulah kita hendaknya melihat ini. Terus Anda pun bertanya, bukankah itu nantinya bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia? Tentu tidak. Kepribadian bangsa Indonesia mengandung “Ketuhanan Yang Maha Esa,” tapi dia juga mengandung “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Yang pertama memang berarti percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. Dan kita tahu, agama Hindu adalah agama politeisme, tapi tidak sekali-kali kita boleh menganggap bahwa agama HIndu bertentangan dengan Pancasila. Bahkan, banyak hal-hal yang dipercaya sebagai nilai-nilai filsafat yang tinggi itu berasal dari peradaban Hindu Indonesia, pada zaman kerajaan Majapahit. Bagaimana kalau Ketuhanan yang Maha Esa sebenarnya bermakna mempercayai satu kuasa ilahi yang harus dijunjung lebih tinggi daripada hasrat-hasrat kemanusiaan kita? Mungkin inilah nilai tertinggi dari penghapusan “dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeloek2-nja” dari Piagam Jakarta. Dia satu sisi Pancasila tidak jadi mewajibkan pemeluk Islam menjalankan syariat Islam, tapi di sisi lain juga dia semakin membuka ruang yang sangat luas untuk menafsirkan “ketuhanan yang maha esa.”

Khidmat Sholat Jumat di Harvard

Setelah jalan ke sana-ke mari, kembalilah kita ke urusan sholat Jumat di kampus Harvard. Seperti saya sebutkan pada postingan-postingan sebelumnya, saya beruntung bisa berada di kota Cambridge, satu kota kecil yang memiliki dua kampus paling terkenal di dunia, Universitas Harvard dan MIT (Massachusetts Institute of Technology). Dan saya juga beruntung karena berkesempatan bisa mengikuti dan menyaksikan sholat Jumat di lingkungan ini. Dan, yang tak kalah menariknya, sholat Jumat ini diadakan di sebuah lokasi yang dipakai para mahasiswa (dan pegawai Muslim) atas seizin kampus.

Bukan pertama kalinya saya menghabiskan waktu selama tiga empat hari di sebuah kampus Amerika (selain kampus saya) untuk urusan presentasi di konferensi. Tapi baru kali ini saya sempat sholat Jumat. Biasanya, karena repot cari tempat dan lain-lain, saya memilih memanfaatkan dispensasi untuk tidak sholat Jumat. Tapi kali ini berbeda: saya memutuskan untuk mengikuti sholat Jumat ini karena menurut situs Perkumpulan Mahasiswa Muslim di Harvard memang tersedia lokasi di dalam kampus yang biasa dipakai untuk sholat Jumat. Lagi pula, presentasi saya kali ini benar-benar tentang Muslim Amerika; tentu ganjil rasanya berbicara tentang Muslim Amerika tanpa menyempatkan diri berada di tengah-tengah mereka. Maka, setelah menghadiri sebuah sesi panel tentang agama dan etika dalam sastra dan mengikuti rapat divisi agama dan etika Asosiasi Sastra Perbandingan Internasional (yg dihadiri belasan orang saja), saya pun mencari ruang kuliah lantai 2 gedung Lowell.

Ternyata sholat Jumatnya unik: wudhu di basement, dan sholat di lantai dua. Karena ini bukan masjid, maka tidak ada tempat wudhu yang “mewah,” yang memungkinkan kita bisa mencuci kaki dengan nikmat (ini juga termasuk kenikmatan lho). Bahkan, karena arsitektur gedungnya, kamar kecil terdekat dari tempat sholat terletak di lantai bawah. Saat wudhu, saya bertemu seorang mahasiswa masih muda asal Indonesia, namanya Dimas. Setelah wudhu, saya nanti ke lantai atas dan melihat ruang kuliah yang berbentuk bujur sangkar dengan tatanan kursi di tiga sisi dan panggung utama seperti lembah. Layaknya ruang kuliah. Ada juga lantai atas untuk tempat duduk mahasiswa. Kalau Anda tahu “The Globe,” gedung pertunjukan zaman Shakespeare, pasti Anda tahu yang saya maksud.

Tema khutbah hari itu bisa dibilang sangat sederhana, mendasar, tanpa tedeng aling-aling: tentang nilai nyawa manusia dan betapa besarnya dosa membunuh. Khatib yang masih muda, sekitar awal dua puluhan, mungkin, dengan bahasa Inggris sangat “cetha” dan sedikit beraksen. Dia seperti keturunan atau asal Timur Tengah. Saya tidak bisa memastikan apakah ini aksennya New Jersey atau dia memang mahasiswa asing yang sudah lama tinggal di sini. Hal mencolok lainnya dari khatib muda ini adalah bacaan alquran dan hadits-nya. Gaya pembacaan yang dia pakai benar-benar berbeda. Ketika mengutip dari Alquran, dia melagukannya dengan nada pilu–seperti menurut beberapa hadits. Tapi ketika mengutip hadits, dia mengucapkannya seperti orang berpetuah. Semua ini dilakukan tanpa teks. Tangannya seperti agak canggung. Kadang memberi isyarat, kadang bersedekap, kadang pose istirahat di tempat. Saya bisa membayangkan betapa tidak biasanya memberikan khutbah sambil berdiri tanpa podium atau mimbar, tapa tongkat, sementara orang-orang lain duduk bersila dengan santai. Tidak ada pembatas antara jamaah putra dan putri. Saya tanpa sadar menoleh ke belakang dan melihat para jamaah perempuan yang jumlahnya kira-kira seperempat jamaah pria. Saya sungkan sendiri takut dikira main mata. Seusai sholat, saya bertemu lagi dua mahasiswa pasca sarjana asal Indonesia, Reza dari Aceh dan Naim dari Jawa Tengah–yang belakangan saya ketahui sangat terkenal :).

Komunitas Muslim Kampus yang Beruntung

Komunitas Harvard ini terbilang sangat beruntung karena bisa menjalankan sholat Jumat di tengah kampus, tak jauh dari mana-mana. Mereka memiliki daya tawar yang sangat tinggi untuk bisa mendapatkan fasilitas sholat Jumat di kampus yang suasana sekelilingnya sangat Kristen. Bayangkan saja, Cambridge adalah salah satu kota pertama tempat koloni orang Eropa di Amerika Utara. Orang-orang Eropa yang datang ke sini adalah orang-orang Puritan, yang meninggalkan Inggris karena mereka terdesak di negara asalnya. Jadi, intinya orang-orang yang mendirikan kota-kota di Northeast atau New England adalah orang-orang yang sangat alim. Makanya, Anda bisa melihat sangat banyak gereja megah yang sangat tua di Cambridge dan Boston ini.

Di tempat-tempat seperti inilah, ketika hasil usaha beberapa mahasiswa atau pegawai Muslim di universitas membuahkan hasil, kita merasakan bahwa ada yang perlu disyukuri dan dikritisi dari kemewahan yang kita dapatkan di negeri sendiri. Dalam suasana sholat Jumat seperti ini, yang mungkin sesuatu yang sangat biasa bagi saya dulu (karena bahkan di SMP saya di desa punya musholla yang mengadakan sholat Jumat), saya sempat memikirkan bahwa sesuatu yang kita anggap natural itu sebenarnya adalah bentukan sejarah dan sosial, yang sewaktu-waktu bisa hilang.

Di saat itulah saya bisa sedikit merasakan bagaimana rasanya saudara-saudara yang termasuk anggota minoritas agama di Indonesia, baik itu yang Kristen, Hindu, maupun minoritas dalam agama Islam sendiri. Saya bisa sedikit bayangkan mimpi mereka mengadakan ibadah berjamaah di kampung atau bahkan di kampus. Tapi ya, serepot-repotnya saya mencoba beribadah secara normal di Aa Sam ini, ini cuma sementara. Nanti, kalau pulang di Indonesia, saya bisa menemukan tempat wudhu yang enak di gedung kampus, dan bisa sholat di masjid yang ada di kampus. Sementara anggota kelompok minoritas tertentu yang lahir dan besar di Indonesia, yang tak punya “kampung halaman” selain Indonesia, mereka akan terus-terusan merasakan repotnya beribadah. Kecuali bila kelompok mayoritas berempati dengan betapa repotnya urusan beribadah bagi mereka. Kecuali bila mayoritas yang bisa memegang kebijakan bisa “nyambung” dengan apa yang dirasakan anggota minoritas agama tertentu.

Mungkin di situlah perlunya studi banding jangka panjang…

Tentang Muslim Afrika Amerika dan Nilai Wikipedia, atau Tentang Nilai Wikipedia plus Muslim Afrika Amerika

Hari-hari ini saya menulis tentang Muslim Afrika Amerika, hubungan mereka dengan Muslim imigran, dan karya-karya sastra dari penulis Afrika Amerika yang menyatakan diri sebagai Muslim. Untuk sekadar melengkapi pengetahuan mendasar dan lebih mengakrabkan diri dengan topik, saya sempatkan mencari tahu Muslim Afrika Amerika yang cukup terkenal dan memang dengan tegas mengidentifikasi diri sebagai Muslim. Nah, seperti biasa, cara yang paling gampang adalah dengan mencari di Wikipedia.

Sebentar, mari kita belokkan dulu diskusi ke arah Wikipedia dan keunikannya. Seringkali para akademisi tidak mengajurkan–atau bahkan melarang–anak didik mereka mengutip dari Wikipedia. Ya, memang sangat wajar kalau seorang dosen melarang anak didiknya mengutip dari Wikipedia untuk tulisan ilmiah. Alasannya memang sederhana saja, untuk mendapatkan status “ilmiah” dan punya otoritas, sepotong tulisan idealnya ditulis seorang yang benar-benar ahli di bidang tertentu atau diperiksa dan dikaji oleh orang yang ahli di bidang tersebut. Dan Wikipedia tentu saja bukan media yang melakukan pengkajian ahli atau menyaring dengan ketat orang-orang yang ingin membantu memenuhi lema ensklopedianya. Tapi, tapi, tapi, ada satu hal yang diterapkan Wikipedia secara tegas: klaim-klaim penting harus didukung dengan sumber otentik. Maka, untuk mendukung klaim tertentu seorang penulis lema Wikipedia harus mengutip dari berita online, esai lepas, jurnal ilmiah, buku, film dsb. Di sinilah menurut saya nilai unggul dari Wikipedia: dia menunjukkan kita jalan menuju sumber terandal.

Jadi, mengutip Wikipedia memang masih belum boleh dan masih perlu dilarang, tapi akan sangat salah kalau melarang orang menggunakan Wikipedia sebagai sarana riset. Bisa jadi Wikipedia adalah gerbang menuju petualangan yang lebih jauh. Dan ilmiah, kalau memang itu dirasa penting.

Kembali ke awal tulisan ini: Saya menggunakan jasa Wikipedia untuk mengetahui lansekap manusia-manusia Muslim Afrika Amerika. Dan saya temukanlah halaman ini. Dan di sana terdapat nama-nama yang sebagian saya yakin sudah cukup akrab buat kita penggemar bola basket, penikmat musik (terutama hip-hop), atau yang mengikuti berita politik.

Maka saya undang Anda sekalian untuk meng-klik nama-nama itu dan menyelancari hidup para pesohor/tokoh/olahragawan Afrika Amerika yang menyatakan diri Muslim (atau pernah Muslim) dari berbagai aliran. Ingat lagu “Lihat Kebunku”? Mari menyanyi!

Ada yang Sunni,
Dan ada yang Syiah,
Or Ahmadiyah,
Or Nation of Islam!

Bahkan ada juga yang Five Percenters (yah, meskipun yang terakhir ini sudah tidak lagi menganggap perkumpulan mereka sebagai berkumpulan keagamaan).

Silakan langsung klik gambar ini:

AAM