Seksualitas dan Aib

(Lagi-lagi satu resensi lama, dari tahun 2005 atau 2006-an lah. Ini saya kopi langsung dari situs Penerbit Jalasutra yang telah memuatnya sejak entah kapan. Tapi, demi mendokumentasikan tulisan-tulisan sendiri, sebelum hilang dimakan rayap virtual, saya posting saja lagi di sini. Demi apa? Demikian harap maklum.)

REsensi_AIb

Judul buku: Aib
Penulis : J.M. Coetzee
Penerbit : Penerbit Jalasutra

Posisi seksualitas dalam sastra menjadi topik penting pembicaraan para penikmat dan kritikus sastra Indonesia beberapa waktu yang lalu. Sebagian mengiyakan, sebagian menggugat, dan sebagian lainnya memilih sikap tak menggungat namun mencari alternatif bacaan lain. Wacana ini muncul setelah kehadiran beberapa pendatang muda yang tangguh dengan energi meluap sambil membawa karya-karya bermuatan seksualitas.

Perdebatan ini tak kunjung tersimpulkan. Masing-masing pihak melontarkan argumen yang tak kunjung saling meyakinkan. Tanpa sedikitpun maksud memperpanjang perdebatan itu, saya yakin, Penerbit Jalasutra Jogjakarta menerbitkan novel Aib karya JM Coetzee, peraih Nobel kesusastraan tahun 2003 asal Afrika Selatan.

Apa pasal saya mengisyaratkan adanya hubungan antara perdebatan posisi seksualitas dengan penerbitan Aib?

Berlatar Afrika Selatan akhir milenium kedua, novel yang berjudul asli Disgrace ini berkisah tentang Prof Lurie, dosen sastra, yang sejak awal hingga akhir buku tak kunjung selesai dirundung sial. Di awal cerita, dibeberkan bahwa sebagai seorang womanizer yang selalu haus akan kepuasan seksual, Prof Lurie sedemikian rupa berusaha memuaskan hasratnya dengan “berlangganan” seorang pelacur, Soraya.

Malangnya, Soraya menjauh begitu ada gelagat Prof Lurie ingin hubungan yang lebih mendalam. Kemudian, Prof Lurie menjalin hubungan dengan seorang mahasiswanya, Melanie, yang menyebabkannya mendapatkan kesialannya yang kedua: dituduh melakukan pelecehan dan pemerkosaan terhadap Melanie. Mengakui bersalah namun menolak menyesalinya, Prof Lurie kehilangan jabatannya sebagai dosen. Aib ini membuatnya menyingkir sejenak dengan mengunjungi putrinya, Lucy, di sebuah perkebunan.

Di sini, masalah lain menyongsongnya: rumah Lucy diserang tiga penjahat, Lucy diperkosa sementara Prof Lurie tidak bisa melakukan apa-apa, dan mobilnya dicuri. Keinginannya untuk melaporkan pemerkosaan itu kepada polisi ditentang keras putrinya yang ingin memendam sendiri luka itu; hubungan keduanya menjadi renggang.

Lebih-lebih lagi, putrinya menolak untuk pindah dari perkebunannya ketika diketahui bahwa pemerkosaan itu mengakibatkan kehamilan dan memutuskan menerima lamaran tetangganya yang jelas-jelas dia ketahui ingin menguasai tanah perkebunan putrinya. Masih kurang lagi, ketika dia kembali ke Cape Town ternyata rumahnya dijarah dan banyak barang pentingnya raib. Akhirnya, dia memilih tinggal di sebuah daerah tak jauh dari Lucy dan menjalin hubungan dengan seorang teman Lucy, yang sebenarnya sudah bersuami.

Dari ringkasan di atas, terasa sekali bahwa seksualitas adalah poin dominan dalam novel ini. Jelas sekali, tokoh utama adalah seorang bandot womanizer yang kehidupannya tak pernah jauh dari seks. Aib diawali dengan kepuasan seks yang didapatkannya dari Soraya. Kemudian, saking longgarnya ukuran moralitas baginya, dia berani mendekati mahasiswanya, Melanie, dan menggiringnya ke hubungan seksual bahkan ketika pertama kali mengundang gadis itu ke rumahnya—dan akhirnya gagal terlaksana. Melanie, secara tak langsung membawanya kepada aib.

Aib ini menggiringnya bertemu kesialan lain yang juga masih urusan seksual, pemerkosaan putrinya—meskipun ada tendensi rasialis di sini. Keberadaannya di dekat putrinya ini juga menggiringnya pada hubungan (seksual) dengan teman Lucy, Bev Shaw. Di sini, tampak betapa seksualitas adalah faktor yang sentral. Selain itu, jika Aib juga mengisahkan tentang Prof Lurie yang menggarap sebuah opera tentang penyair Inggris Lord Byron, sepertinya itu juga bukan tempelan. Kita tahu Lord Byron adalah penyair, juga womanizer, yang di London mendapat Aib karena skandal sodomi dan inses.

Meski demikian, jangan dulu tumbuhkan pandangan bahwa Anda akan menemukan adegan-adegan seksual yang digambarkan dengan sensual, merangsang.

Dalam novel yang membuat JM Coetzee menjadi penulis pertama yang memenangkan Booker Prize Award dua kali ini, adegan-adegan seksualitas dibeberkan secara minimal. Hubungan dengan Soraya digambarkan tak lebih dari sekedar “dia mengelus tubuh berona cokelat madu yang tak ternodai matahari itu; meregangkannya, menciumi buah dadanya; mereka bercinta”.

Bukankah, dibandingkan dengan sebagian besar karya sastra bertema seks lainnya, banyak sekali yang dilewatkan dalam menceritakan hubungan seks? Begitu juga ketika Prof. Lurie bersetubuh dengan Bev Shaw yang tak cantik, disebutkan “memerosotkan celana dalam, dia masuk ke sisi Bev, menelurusi tubuh Bev. Tak ada yang bisa dikatakan tentang payudara Bev. Tegap, nyaris tak berpinggul, seperti bak mandi pendek kecil”.

Mungkin, akan ada yang beranggapan, dengan seksualitas sebagai tema sentral, penggambaran hubungan seks di dalam Aib terasa terlalu minimal. Tapi, jika ditilik kembali sebesar apakah kuantitas seks dalam kehidupan, kita akan ingat betapa seks mendapatkan jatah tak banyak dalam sehari —kecuali bagi mereka yang, maaf, menjadikannya sebagai profesi. Dalam Aib, seks memicu terjadinya sebuah tragedi.

Selanjutnya, tragedi itulah yang lebih banyak dihadapi tokoh-tokoh cerita, bukannya seks itu sendiri. Itulah yang membuat kita sah berkata bahwa J.M. Coetzee telah menakar seksualitas secara proporsional dan dengan cara yang sama dia menyajikannya kepada kita para pembaca.

Aib menunjukkan kepada kita sebuah karya sastra yang menggarap fenomena-fenomena seksualitas —bukannya menggarap hubungan seksual!— dengan cerdas. Di Indonesia sendiri, satu atau dua tahun yang lalu, seorang sastrawan menyatakan bahwa dia menggarap tema seputar fenomena seksualitas, bukannya hubungan seksual.

Namun, terbukti banyak pihak menilai karyanya sebagai karya yang merangsang dan bahkan sempat memunculkan fenomena label “bacaan khusus dewasa”. Dengan hadirnya Aib, kita mendapatkan alternatif bacaan yang tak takut mengurai tema seksualitas namun juga tetap mampu menjaga dirinya bersih dari usaha membuat pembacanya larut dalam fantasi seksual yang berlebihan.

Selain seksualitas, novel ini juga mengetengahkan tema rasialisme. Dengan setting Afrika Selatan pasca-apartheid, JM Coetzee dalam novel ini melukiskan sedikit konflik yang muncul sebagai dampak dari luka politik apartheid yang masih terasa. Namun, berbeda dengan karya-karya sang pejuang anti-apartheid, Nadine Gordimer, penulis Afrika Selatan yang mendapatkan anugerah Nobel Sastra, JM Coetzee tidak menjadikan apartheid tema sentral. Dalam karya-karyanya, JM Coetzee lebih menyoroti konflik karakternya, dan menggunakan isu sosial hanya sebatas isu itu benar-benar mendukung perkembangan karakter tokoh-tokohnya.

Kebetulan, dalam Aib dia memiliki tokoh seseorang yang kehidupannya tak pernah jauh dari kepuasan seksual. Kehadiran Aib seakan-akan bertepatan dengan maraknya isu seksualitas di kancah sastra Indonesia. Jika memang kita tak pernah malu untuk belajar, kita bisa bilang bahwa Aib adalah satu diantara karya sastra asing yang bisa mengajarkan kepada kita bagaimana menakar seksualitas dengan proporsional

Advertisements

Ketidaksadaran Patriarkal dan Budaya Perkosaan dalam Sastra

Dalam esei “Bahasa Maskulin dalam Sastra” (dimuat di Kompas 16 September 2016), Aninditya S. Thayf mengutarakan bahwa bahasa yang maskulin merupakan gejala dari ideologi patriarki, dan kita bisa mengamatinya dalam karya sastra. Dalam retorikanya, Aninditya mengesankan kuatnya unsur kesengajaan dalam “penyusupan ideologi patriarki” melalui bahasa maskulin dalam sastra tersebut. Padahal, pada kenyataannya patriarki adalah kecenderungan yang tanpa disadari sudah melebur dalam peradaban manusia dewasa ini, yang sudah membudaya, dan bukan seperti sebuah ideologi yang sengaja ingin ditanamkan oleh sebuah rezim. Secara sadar, semakin banyak laki-laki maupun perempuan yang secara terbuka mendukung gagasan-gagasan feminis, yang menggugat maskulinitas eksklusif. Maka, mungkin akan lebih menarik dan produktif bila kita menelaah perwujudan ideologi patriarki yang tidak disadari.

Dengan demikian, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar melihat kecenderungan berbahasa dari penulis “yang dikenal misogini,” yang menurut Aninditya mengikuti “ideologi patriarkal.” Pernyataan Aninditya bahwa kecenderungan berbahasa yang maskulinis itu ada pada sastrawan yang dikenal misoginis berimplikasi bahwa yang perlu disoroti adalah penulis-penulis yang sejak awal sudah membenci atau menganggap lebih rendah perempuan. Padahal, yang mungkin lebih tepat adalah lebih banyak penulis yang tidak menyadari bahwa dia terjerat dalam gelembung patriarki.

Lebih dari sekadar perlunya kejelian pembaca untuk bersikap kritis, sebagaimana disampaikan Aninditya di akhir esei, penulis sendiri juga perlu terus menyadari. Penulis dituntut menyadari kuatnya pengaruh patriarki dan mencoba untuk secara sadar membaca naskahnya sendiri dari sudut pandang ini, kalau memang dia setuju bahwa bersikap non-patriarkal adalah penting. Dengan demikian, tanggung jawab ini sama besarnya bagi laki-laki maupun perempuan. Penulis perempuan pun bisa terpeleset dan mendukung kecenderungan patriarki. Tapi, secara etis, tidak pada tempatnya saya, seorang lelaki, ikut mengomentari kecenderungan mendukung patriarki pada penulis perempuan.

Beberapa gejala dari pengaruh patriarki yang sering muncul dalam karya budaya adalah objektifikasi perempuan, pembagian peran berdasarkan jenis kelamin, dan perayaan “budaya perkosaan.” Di sini, saya ingin langsung menyoroti perayaan “budaya perkosaan,” sebuah istilah yang sudah dipakai sejak tahun 1970-an di Amerika Serikat. Istilah ini mengacu pada perilaku, bisa berupa lelucon maupun kelalaian, yang menormalisasi tindakan perkosaan. Perilaku semacam ini menjadikan tindak perkosaan seolah-olah tidak jahat atau bahkan disebabkan oleh perempuan sendiri. Meski sudah lama dipakai, istilah ini masih diperdebatkan dan tetap perlu dikampanyekan hingga hari ini. (Untuk lebih jelasnya, silakan lihat buku Kate Harding terbitan 2015 berjudul Asking For It: The Alarming Rise of Rape Culture–and What We Can Do About It.)

Dalam karya sastra, “budaya perkosaan” bisa muncul secara halus, mungkin tanpa disadari penulisnya sendiri. Gejala ini bisa muncul bahkan dalam karya sastra penulis yang tidak dikenal misoginis. Karya yang bisa kita ambil untuk dijadikan contoh kasus adalah cerpen berjudul “Es Krim” karya Bernard Batubara dalam buku kumpulan cerpen Metafora Padma. Dari buku ini, Bernard Batubara tidak tampak seperti seorang cerpenis yang secara sadar “misoginis.” Bahkan, perempuan memainkan peran-peran penting dalam beberapa cerpen Bernard. Cerpen “Es Krim,” khususnya, menarik dibahas karena cerpen ini mengkritisi sekaligus merayakan “budaya perkosaan.”

Bingkai utama cerita ini adalah perbincangan antara narator dan kawan lelakinya. Narator digoda kawannya karena tidak berani menghadiri acara perkawinan Fu, mantan kekasihnya. Di tengah perbincangan itu, narator kita mengingat riwayat hubungannya dengan Fu, mulai masa perkenalan, kedekatan, hingga akhirnya hubungan tersebut kandas di tangan orang tua, yang menjodohkan Fu dengan seorang lelaki kaya. Cerpen ini, menurut saya, mengusung tema sederhana tentang minimnya agensi perempuan; dalam cerpen ini, Fu adalah obyek kejahatan laki-laki (pemerkosa) sekaligus objek cinta orang yang menginginkan kebahagiaannya (orang tua), meskipun Fu memiliki kehendak lain.

Namun, saat menelaah secara lebih mendetil, pembaca yang peka terhadap hubungan antar jender, atau tentang “budaya perkosaan,” akan terusik. Yang pertama adalah bagaimana dalam ingatan narator kita si perempuan, Fu, mengingat trauma psikologis yang dialaminya. Fu mengatakan: “… dalam dua jam, saya ditiduri sepuluh laki-laki.” Karena ucapan Fu ini kita terima lewat ingatan si narator, jadi kita bisa membaca ini sebagai sikap si narator. Perlukah di sini si narator memperhalus “diperkosa” menjadi “ditiduri”? Samakah keduanya? Menurut kamus, keduanya sangat berbeda.

Di satu sisi, membiarkan si narator menggunakan kata “ditiduri” tanpa disertai dengan justifikasi adalah kesalahan jender fatal di pihak penulis, karena hal itu adalah upaya “normalisasi” tindak kejahatan seksual. Tapi, bisa juga kita baca ini sebagai kesalahan narator dalam mengingat, sehingga tindak kejahatan besar seperti perkosaan bisa terwakili oleh kata “ditiduri.” Kalau masalahnya yang kedua, mungkin saja kegagalan si narator mendapatkan Fu adalah ganjaran yang diberikan oleh penulis atas dosanya ini.

Permasalahan yang kedua berkaitan dengan alasan kenapa cerpen ini berjudul “Es Krim.” Dalam cerpen ini, es krim adalah simbol kenikmatan yang akhirnya dapat membangkitkan lagi semangat hidup Fu setelah diperkosa. Fu mulai menyukai Es Krim sejak salah seorang kolaborator pemerkosaan yang menawari si perempuan “Es Krim” dan selimut. Sekuat itukah kemampuan Es Krim mengobati luka karena perkosaan? Dengan menarasikan betapa mudahnya trauma perkosaan disembuhkan, cerpen ini merepresentasikan perkosaan sebagai sesuatu yang relatif ringan.

Pertanyaannya sekarang, apakah dengan begitu Bernard Batubara mempromosikan ideologi patriarki? Tentu hanya Bernard Batubara yang bisa menjawab secara pasti pertanyaan semacam itu. Namun, berdasarkan pembacaan atas buku Metafora Padma secara lengkap, kita bisa bilang bahwa yang terjadi bukanlah “penyusupan ideologi maskulinitas lewat diksi.” Dari buku ini, kita bisa melihat kepedulian Bernard Batubara terhadap pertikaian antar suku, etnis, dan kelompok yang akhirnya mengorbankan manusia, anak-anak, dewasa, orang tua, laki-laki, dan perempuan.

Justru, Dengan mengambil tema seorang lelaki yang peduli dan menjalin hubungan dengan seorang korban perkosaan tanpa memberikan pandangan miring, Bernard Batubara sudah menunjukkan kepedulian terhadap isu jender dan tindakan perkosaan. Bahkan, di dalam cerpen tersebut Bernard Batubara menyoroti salah satu elemen pendukung “budaya perkosaan,” yaitu pada adegan ketika para pemerkosa mengatakan seolah-olah perkosaan itu disebabkan gaya busana Fu. Selain itu, di akhir cerita pun si narator tetap tidak bisa mendapatkan Fu, yang secara struktur dalam cerita bisa dihubungkan dengan sikapnya yang memandang ringan perkosaan Fu.

Akan tetapi, apakah artinya di sini Bernard Batubara juga bukan orang yang bersalah? Dalam hal ini, Bernard sama bersalahnya dengan kita yang secara sadar maupun tidak ikut membiarkan adanya “budaya perkosaan.” Sama bersalahnya dengan Bernard adalah kita yang, misalnya, membiarkan terjadinya tindakan perkosaan atau bahkan bergurau seolah-olah perkosaan adalah tindakan yang tidak terlalu mendehumanisasi perempuan. Yang pasti lebih parah adalah, misalnya, tindakan menutup mata dan tidak merasa terusik ketika kasus tuduhan perkosaan oleh Sitok Srengenge mandek dan tidak lagi terdengar kabarnya. Dan ini adalah persoalan global. Di Amerika, baru-baru ini, seorang hakim menjatuhkan hukuman cukup ringan untuk seorang atlit yang memperkosa dengan pertimbangan bahwa hukuman penjara akan merusak masa depan si atlit yang gemilang. Kejadian seperti ini menunjukkan kuat dan tidak disadarinya pengaruh ideologi patriarki, khususnya dalam bentuk “budaya perkosaa.”

Sebagai simpulan, sastra adalah sebuah hasil karya budaya yang juga menunjukkan gejala-gejala sosial. Namun, gejala-gejala tersebut seringkali bukan gejala yang dihasilkan oleh tindakan sadar. Bahayanya adalah, retorika semacam itu bisa menjadi sesuatu yang besar karena mempengaruhi pola pikir secara umum. Maka, dalam hal ini baik pembaca maupun penulis (atau seniman secara umum) perlu dengan sadar, dan dengan kepekaan lebih, untuk sebisa mungkin mengikis kecenderungan-kecenderungan yang melestarikan patriarki. Dari cerpen Bernard Batubara, kita bisa melihat bahwa bahkan pada karya sastra yang menyoroti isu jender pun seorang pengarang bisa terpeleset melakukan dosa jender.

(Ini tulisan dari tahun 2016 dan dimuat di majalah SULUK terbitan Dewan Kesenian Jawa Timur edisi 12 tahun 2016.)

(Terjemahan Lagu) Gadis Tercantik Sedunia – Prince

Hari ini, 21 April waktu Amerika Sebelah Sini, penyanyi Prince mangkat secara tiba-tiba. Memang, semua kematian terjadi tiba-tiba, tapi untuk kematian Prince, sepertinya tidak ada yang siap menerima berita ini. Saingannya, Michael Jackson, mangkat beberapa tahun yang lalu dalam keadaan yang mencurigakan. Kita semua belum tahu apa yang terjadi dengan Prince.

Saya mulai kenal dan suka Prince mulai tahun 1995. Ya, tahun itu, tahun ketika repertoar musik saya diisi musik-musik Amerika slow rock dan pop. Prince memikat saya dengan lagu “The Most Beautiful Girl in the World” yang terjemahannya saya hadirkan sebentar lagi. Lagu ini begitu merayu dan sensual. Sungguh indah. Saya ingat waktu itu cambang Prince dibentuk bintang-bintang. Begitu saya kenal Prince pertama kali. Baru belakangan, ketika mulai lebih serius ingin kenal Prince, saya tahu bahwa dia termasuk salah seorang gitaris paling terkemuka dengan gaya bergitarnya yang “frenetik.” Awalnya saya tidak tahu apa maksud main gitar yang “frenetik” itu. Tapi, setelah mendengar album demi albumnya, saya tahu bahwa “frenetik” itu “hanya” istilah keren untuk permainan gitar yang lebih membutuhkan distorsi dan hati daripada jari dan pick. Ya! Begitulah.

Satu hal yang paling menonjol dari musik Prince (selain gitaran frenetik-nya yang kadang-kadang diumbar itu) adalah liriknya yang sensual dan merayu. Kalau dalam bahasa Indonesia, liriknya adalah racikan antara puitis dan slengekan tapi merayu dan tulus. Bagaimana itu? Pendeknya begitulah, rasakan sendiri lirik lagu-lagu beliau.

Satu hal yang perlu saya sampaikan tentang Prince adalah bahwa dia tidak bisa dibatasi. Hal ini paling tampak pada bagaimana dia menampilkan dirinya di depan publik. Dia laki-laki (semua orang tahu) dan heteroseksual (dia pernah menikah dua kali dengan istri yang sangat dia cintai–yang salah satunya menjadi inspirasi untuk lagu “Gadis Tercantik Sedunia” ini), tapi dia tidak mau membatasi penampilannya hanya pada busana laki-laki. Lihatlah baju-bajunya. Lihatlah sepatunya (tidak sekali saja dia pakai hak tinggi). Menurut seorang dosen saya (saya pernah mengambil mata kuliah Sastra Afrika Amerika Kontemporer yang diajar seorang dosen Afrika Amerika) bilang bahwa Prince memang seorang gender bender, atau penerabas batasan jender, yang sadar betul adanya pengkotak-kotakan pilihan berasarkan jenis kelamin, tapi dia tidak mau dibatasi. Warna yang sangat identik dengannya adalah ungu (sementara orang pada umumnya menganggap ungu sebagai warna untuk perempuan, atau bahkan ada yang bilang “warna janda,” padahal warna kan tidak menikah :D). Sikap Prince ini mirip dengan teori Judith Butler dan social constructivist yang memandang bahwa jender adalah hasil bentukan sosial. Jenis kelamin memang urusan biologis, tapi jender itu urusan bentukan masyarakat, demikian menurut Butler dan social constructivist lainnya.

Dalam kaitannya dengan ketidakterbatasan Prince, pernah beberapa saat dia mengubah namanya dengan sebuah simbol (simbol yang mirip bentuk gitarnya saat memainkan “Purple Rain” dalam pentas paruh waktu pertandingan bola Superbowl tahun 2007 itu). Ketika memakai nama itu, dia seringkali disebut “Artis yang dulu dikenal dengan nama Prince.” Tapi belakangan dia balik lagi ke nama Prince (btw, nama lahirnya Rogers Nelson ya, jangan sampai lupa).

Terakhir, sumpah terakhir, komitmen Prince dalam hal ketidakterbatasan jender ini juga seringkali tampak pada lagu dan penampilannya. Dalam hal penampilan, Prince adalah salah satu dari sedikit artis laki-laki yang konsisten menggunakan penggebuk drum perempuan. Dan dalam lagunya, seringkali dia memuja perempuan lebih dari sekadar penampilannya. Dalam lagu yang saya terjemahkan ini, misalnya, sejak awal dia bertanya “Mungkinkah engkau gadis yang tercantik di dunia?” Kita penikmat musiknya yang tanpa pretensi cenderung akan menganggap bahwa Prince ini memuja seorang gadis murni karena kecantikannya. Tapi tunggu, bukankah ini dia bertanya? Ya, dia bertanya, dan dalam pertanyaan ini ada ketidakpastian. Kenapa? Bagi saya, pertama karena tentu saja tidak ada yang tahu siapa wanita yang paling cantik di dunia. Kedua, dan ini yang menurut saya lebih penting, karena “kecantikan” itu ada hubungannya dengan sesuatu yang ada di dalam. Karena kecantikan perempuan yang dipuja Prince hanya efek samping dari pancaran kecantikan di dalam diri. Lihatlah baris terakhir pada bagian rap lagu ini (yang demi kebutuhan kejutan saya taruh di bagian paling belakang). Ya, gadis ini cantik, tapi cantiknya adalah pancaran kecantikan dalam diri. Karena itu… tidak ada yang tahu apakah dia yang paling cantik.

Tidak ada persyaratan rasial dalam kecantikan versi Prince ini. Hanya ada satu deskripsi fisik tentang kecantikan gadis Prince ini: kulit sehalus bunga. Bunga apa? Ada bunga yang kasar dan ada yang halus, tapi yang pasti semua alami.

Jadi, Anda sekalian punya kesempatan menjadi gadis tercantik di dunia versi Prince, asalkan bisa memancarkan kecantikan itu dari dalam.

Maka, mari menyanyi:

Mungkinkah, kau gadis tercantik sedunia?
Pastilah, kau alasan Tuhan mencipta gadis
Ketika tiba hari akhir dunia
Kuingin kau ada di haribaanku
Malam sebelumnya, aku akan menangis
Bahagia, setelah kau, semua hanya bisa tiada.

Mungkinkah, kau gadis tercantik sedunia?
Pastilah, kau alasan Tuhan mencipta gadis

Mampukah kulewati hari saat jam saja tak kuasa
Kucoba, tapi saat melihatmu lagi pasti aku musnah
Siapa yang mengizinkan wajahmu sehalus bunga?
Aku membungkuk, berbangga telah dirahmati

Mungkinkah, kau gadis tercantik sedunia?
Pastilah, kau alasan Tuhan mencipta gadis

Bila gemintang berjatuhan dari angkasa
Pasti Mars tak begitu jauh
Karena sayang, dengan kecantikan seperti itu
tak ada alasan bagimu untuk malu
Karena sayang, kecantikan semacam itu
adalah kecantikan yang memancar dari dalam

Apa itu “Womanism”?

Apakah yang dimaksud dengan istilah “womanist” atau “womanism”?

Istilah “womanism” bisa didefinisikan secara sederhana sebagai faham kesetaraan jender, sejenis feminisme, yang khusus dipakai untuk konteks perempuan Afrika Amerika. Istilah ini dipopulerkan oleh Alice Walker, novelis yang karya terbesarnya The Color Purple (1982) sangat sukses, meraih banyak penghargaan, dan bahkan difilmkan oleh sutradara Stephen Spielberg dibintangi oleh, salah satunya, Oprah Winfrey.

Kenapa harus memakai istilah “womanism,” bukannya sekadar “feminism”?

Alice Walker menganggap istilah “womanism” akan bisa mewakili hal-hal yang tidak terwakili oleh istilah “feminism.” Walker mengambil istilah ini [Walker 2006; 11] terinspirasi dari kata “womanish” yang dipakai untuk merujuk kepada tingkah perempuan kulit hitam yang suka bicara dan memaki keras-keras tanpa kenal takut. Biasanya, seorang ibu Afro-Amerika suka memperingatkan anaknya yang ngomong keras-keras dan banyak tingkah dengan mengatakan: “Jangan bertingkah womanish begitu ah?” Tapi, ujung-ujungnya si anak juga menjadi perempuan yang galak seperti itu. Bagi Alice Walker, tingkah “galak” di kalangan perempuan kulit hitam yang seperti ini sangat berarti, merupakan kekuatan yang memberi inspirasi.

Dalam penjelasan Alice Walker, memakai istilah “womanism” bisa lebih praktis dan tidak problematis. Istilah “womanism” langsung merujuk pada proyek kesetaraan jender di kalangan perempuan kulit hitam. Dengan begitu, seorang penulis atau kritikus tidak perlu repot-repot menambahkan kata black ketika harus merujuk pada feminisme jenis ini. Mereka tidak perlu menggunakan istilah “black feminism,” yang problematis menurut Alice Walker. Istilah ini problematis karena seolah-olah feminisme yang standar itu adalah feminisme yang bukan untuk perempuan kulit hitam. Feminisme, bagi aktivis dan pemikir kulit berwarna, dianggap banyak menyasar agenda-agenda perempuan kulit putih*. Jadi, feminisme yang mainstream pada dasarnya adalah feminisme kulit putih. Atau, kalau ditarik lebih jauh, ada kesan bahwa keadaan manusia yang normal adalah manusia kulit putih. Jadi, untuk lebih mudah dan mantapnya, lebih baik menggunakan istilah “womanism.”

* Kita akan bahas soal ini dalam postingan lain tentang “intersectionality,” kalau ada kesempatan. 🙂

Referensi dan bacaan lebih lanjut:
Phillips, L., 2006. The Womanist Reader. United States: Taylor & Francis.
Walker, A. (2006). “Coming Apart (1979),” The Womanist Reader. Phillips, L. (Ed) : 3-11.

Surat Cinta Kepada Cobain

Happy Valentine, Bro!

Delapan hari lagi mestinya kamu ulang tahun ke 49 kalau masih hidup. Tapi aku tidak akan mengucapkan ulang tahun untukmu, Bro. Aku mau mengucapkan Happy Valentine saja.

Satu lagi, Bro, aku lagi capek dan sebal. Semestinya aku nggak ada waktu buat nulis postingan beginian. Tapi aku salah, Bro. Aku bukak Facebook barusan. Dan menemukan sesuatu yang bikin tambah capek lagi. Di hari Valentine yg penuh cinta ini, aku lihat temanku di-tag video di facebook sama temannya. Video-nya melecehkan perempuan banget. Bayangin twit, cewek dijejer2 kayak drum set terus dipukuli bokongnya kayak main drum. Temanku, Bro, komen dengan “merayakan” video itu. Gak perlu aku jelaskan di sini. Yang pasti sama-sama melecehkannya kalau dibandingkan sama videonya.

Masalahnya, Bro, temanku itu dulunya nge-fans sama kamu. Sumpah, Bro, kamu yang anti sama orang sexist pasti marah lihat video itu. Aku ingat kamu pernah bilang di konsermu: “I would like to get rid of the homophobes, sexists, and racists in our audience. I know they’re out there and it really bothers me.”  Ya, Bro, kata orang kamu dulu cukup lantang menyuarakan antisexisme di akhir hidupmu.

Aku nggak tahu, Bro, kenapa si drummer itu main drum seperti itu. Apa dia pingin bikin video viral? Apa dia ingin orang mengagumi inovasinya? Kamu pasti bilang, Bro: Inovasi taek! Ya, Bro, inovasi seperti itu hanyalah inovasi taek! Semua inovasi yang dilandasi nilai-nilai regresif yang merendahkan adalah inovasi taek! Sori, Bro, tidak sepatutnya surat cinta mengandung taek. Tapi bagaimana lagi, Bro, taek harus tetap taek.

Anyway, Bro, terima kasih pernah hidup.

Love

Menurut Alam, Burung Jantan Lebih Cantik

Akhirnya, datang juga kesempatan itu. Di sebuah pagi yang dingin, setelah hujan beberapa hari berturut-turut, , saya terbangun mendengar suara mendecak-decak di luar jendela dapur. Bunyi mendecak-decak adalah salah satu jenis cuitan burung kardinal. Selama tiga tahun terakhir, saya lihat burung kardinal jantan dan betina di semak-semak belakang rumah saya. Saya pernah memotret mereka berdua, sendiri-sendiri. Tapi di pagi hari yang dingin itu, mereka tampak kedinginan berdua di semak-semak. Segera saja saya sambar kamera dari meja tulis (yang kebetulan ada di ruang tamu, sangat dekat dengan dapur). Langsung saja saya jepretkan foto keluarga ini untuk pertama kalinya.

Silakan lihat bagaimana kompaknya mereka berdua.

Seperti seringkali saya sebutkan dan tak henti-hentinya saya akan ulangi, burung jantan cenderung tampak lebih elok dan cantik dibanding burung betina. Yang merah ini adalah Kardinal jantan (yang saya namai Mas Kardi), dan yang kecoklatan itu adalah kardinal betina (yang saya namai Mbak Kardinah). Mungkin secara alami seperti itulah alam memperlakukan jantan dan betina. Merak jantan tampak elok dengan ekornya yang panjang, mekar (btw, apakah merak itu anagram dari “mekar”?), dan cantik. Dan merak betina tampak seperti unggas besar biasa.*

Perbedaan antara kecantikan kardinal jantan dan betina ini juga yang dijadikan bandingan untuk perbedaan pakaian tradisional pria dan wanita pada bangsa Cherokee. Sekadar informasi, bangsa Cherokee adalah bangsa pribumi dari kawasan Tenggara Amerika yang akhirnya dipindahpaksa ke kawasan Selatan Amerika (di wilayah yang sekarang bernama negara bagian Oklahoma). Menurut Noel Grayson, seorang pegawai Cherokee Heritage Museum yang dibesarkan secara tradisional oleh orang tuanya yang berdarah Cherokee asli, para perempuan Cherokee dulu membuatkan pakaian dan hiasan yang cantik-cantik untuk suami mereka, sementara pakaian mereka sendiri tampak biasa-biasa.

“Seperti itu jugalah alam,” kata Grayson. “Kalau Anda lihat, kardinal jantan jauh lebih cantik daripada kardinal betina. Bangsa Cherokee menghormati alam dan itulah yang menjadi contoh bagi kami.” Demikian menurut Grayson tentang bangsa Cherokee tradisional, sebagaimana tercermin dari pakaian adat dan hasil-hasil studi antropologi atas bangsa Cherokee.

Sementara sekian dulu tentang perbedaan warna antara kardinal jantan dan betina dan pakaian tradisional pria dan wanita Cherokee. Saya harap dalam waktu dekat bisa menuliskan sekilas tentang sistem matrilinial dalam masyarakat Cherokee. Untuk saat ini, silakan dulu menikmati foto bersama Mas Kardi dan Mbak Kardina.

* Dalam bahasa Inggris, “peacock” yang selalu digambarkan dengan ekor merak itu hanya mengacu kepada burung merak jantan. Untuk burung merak betina, istilahnya adalah “peahen.” Seperti halnya ayam jantan itu “cock” dan ayam betina itu “hen.” Seperti halnya “mermaid” itu puteri duyung dan “merman” itu putra duyung. Dan sebagainya.

Burung
Foto keluarga pasangan Mas Kardi dan Mbak Kardina

Apa Itu Budaya Perkosaan?

Saya ingin memberikan definisi sederhana tentang “budaya perkosaan.” Apa itu “budaya perkosaan”?

Pertama-tama, saya jelaskan dulu alasan saya membuat postingan ini. Menurut saya istilah “budaya perkosaan” tidak lazim dan berpotensi disalahartikan dan dianggap enteng. Saya coba mencarinya di Google, dan mendapati ini. Di antara hasil-hasil pencarian yang ada, hanya link ke Jurnal Perempuan ini yang mengandung definisi “budaya perkosaan.” Itu pun definisinya sangat kontekstual dan disertai asumsi pembaca bisa langsung menangkap istilah tersebut. Di link-link lain, kita mendapati hal yang sama, atau bahkan mendapati kesalahpahaman atas istilah itu–sampai-sampai ada yang bertanya di sebuah forum di salah satu link itu: sejak kapan perkosaan dimasukkan kategori budaya?

Sementara, kalau kita mencoba mencari definisinya dalam bahasa Inggris (“rape culture”), kita bisa segera mendapatkan definisi ringkas dan padat informasi pada lema paling atas, seperti di sini.

Maka, perkenankan saya menawarkan definisi “budaya perkosaan” yang saya terjemahkan dari lema bahasa Inggris dan saya tambahkan contoh tertentu (dari artikel Gadis Arivia di Jurnal Perempuan yang saya tautkan di atas).

Budaya perkosaan/pemerkosaan adalah istilah yang digagas para feminis di Amerika Serikat pada dasawarsa 1970-an. Tujuan dari istilah ini adalah untuk menunjukkan kecenderungan masyarakat menyalahkan korban atas tindak kekerasan seksual dan menganggap wajar kekerasan seksual pria. Segala hal yang menganggap wajar, menormalisasi, perilaku kekerasan seksual bisa dianggap sebagai bagian dari budaya perkosaan.

Mari kita lihat beberapa contoh. Contoh pertama, menganggap wajar pemberian minuman keras kepada teman perempuan dengan harapan bisa mengajak berhubungan seks ketika si teman perempuan sedang tidak sadar adalah bagian dari budaya perkosaan. Pernyataan seorang calon hakim agung Muhammad Daming Sanusi bahwa pelaku dan korban perkosaan sama-sama menikmati sehingga pemberian hukuman mati perlu dipikir ulang adalah satu pernyataan yang mendukung budaya perkosaan. Kenapa? Karena asumsi dasar dari pendapat itu adalah perkosaan itu mengandung saling menyenangkan, padahal hal yang paling keji dari perkosaan adalah memaksakan hubungan kelamin (sekurang-kurangnya, anak jaman sekarang bisa menyebut Daming Sanusi “gagal fokus”). Contoh lainnya adalah

Saya harap definisi dan contoh ini cukup memberi definisi dan gambaran mendasar tentang istilah “budaya perkosaan.” Dengan ini, saya harap tidak perlu lagi ada pernyataan sejak kapan perkosaan dianggap budaya. Dulu, pada awal masa reformasi, orang-orang suka berbicara tentang “budaya korupsi” dan sebagian orang mempertanyakan mana mungkin korupsi bisa digolongkan menjadi budaya. Asumsi mendasar dari pertanyaan atau gugatan serupa ini adalah bahwa istilah “budaya” hanya bisa dipakai untuk merujuk pada hal-hal yang baik dan adiluhung dan bagus. Padahal, kalau dari sudut pandang antropologi atau ilmu kemanusiaan, budaya adalah hasil polah tingkah manusia, baik itu yang menguntungkan maupun merugikan. Ilmu antropologi tidak melakukan intervensi kepada perkembangan manusia dengan cara mengoreksinya (pada dasarnya penggolongan baik dan buruk itu pada akhirnya bertujuan untuk menunjukkan bahwa yang baik harus ditiru) tetapi untuk memahami manusia secara obyektif. Mungkin begitu…

 

“A Girl in a Country Song” dari Maddie & Tae: Mencitrakan Wanita Tanpa Diri (Tak Berdaulat) dan Implikasinya Bagi Mereka yang Mau Merenungkan

Dalam perjalanan ke kampus pagi ini, seperti dalam perjalanan-perjalanan yang lain, saya ditemani lagu-lagu country di radio. Karena sedang berjalan santai, saya pun sempat “jenak” menikmati lagu country yang dimainkan penyiar radio, yang kebetulan hanya satu: “Girl in a Country Song” dari Maddy & Tae. Tentu sudah berulang kali saya dengar lagu itu, tapi karena penyanyinya bukan kegemaran saya, jadi saya tidak terlalu memperhatikannya. Saya anggap lagu itu satu dari ratusan lagu produksi pabrik country di Nashville sana*. Tapi, karena berkesempatan mendengarkan lagu itu dengan sepantasnya, saya pun jadi memperhatikan isinya, yang ternyata cukup revolusioner dan subversif terhadap musik country kontemporer dan terhadap praktik kita dalam keseharian. Lagu ini mengkritik para lelaki yang belum menyadari kedaulatan perempuan dan ujung-ujungnya memperlakukan perempuan sekadar obyek (dan si lelaki adalah subyeknya). Dan, yang lebih spesifik lagi, lagu ini juga mengkritik lagu-lagu country kontemporer yang juga banyak “menganjurkan” obyektifikasi perempuan.

Ah, sudah banyak memang usaha untuk mengikis patriarki, tapi kita masih jauh dari kehidupan tanpa masalah jender. Tentu sekarang bukan lagi jamannya mengubur bayi perempuan karena dianggap sebagai beban keluarga dan masyarakat. Tentu saja perempuan (di banyak negara) sudah punya hak pilih. Sudah semakin banyak perempuan yang bisa bekerja dan menduduki posisi lebih tinggi dari laki-laki. Dan, yang lebih penting, orang-orang atau masyarakat yang masih ngotot mempraktikkan hal-hal yang saya sebut barusan saat ini dipandang negatif, dianggap menyalahi norma yang telah berevolusi sedemikian rupa. Tapi, ada satu hal yang masih sering tidak disadari sekarang adalah yang halus-halus: tidak menghargai perempuan sebagai individu yang berdaulat. Bahkan, praktik-praktik tidak menghargai kedaulatan perempuan itu tampak baik-baik saja karena seringkali disertai justifikasi yang sekilas manis. Satu contohnya adalah karena rasa sayang, maka seorang lelaki membiarkan istrinya melakukan apa-apa yang disenanginya, asal di rumah bersama anak, biar bapaknya yang kerja “banting tulang” (lihat istilahnya!). Atau, dalam praktik yang semanis madu, seorang lelaki memuja seorang perempuan yang cantik, yang matanya indah, bibirnya seperti tetesan madu, bla-bla-bla, bli-bli-bli sambil lupa bahwa si perempuan adalah juga–dan perlau diakui sebagai–seorang yang pandai matematika, guru madrasah yang tegas, atau lulusan jurusan Bahasa Inggris dengan predikat cum laude.

Praktik obyektifikasi perempuan dan keabaian kepada kedaulatan perempuan inilah yang dikritisi, digerogoti, oleh Maddie & Tae dalam lagu “Girl in a Country Song” itu. Dalam lagu itu, penyanyi mengawali dengan protes karena tidak suka terus-terusan telanjang kaki, pakai katok potongan jeans, terus-terusan pakai bikini, dan dipanggil “sayang,” “manis,” “cinta,” dll. Dia punya nama dan dia tidak ingin kerjanya hanya “tampil cantik di akhir pekan untukmu.” Tentu saja dia mengacu ke banyak lagu country yang dipenuhi dengan puja-puji sang penyanyi kepada kekasihnya. Puja-puji itu tentu sekilas indah dengan pujian kepada kemolekan fisik si gadis dan panggilan semanis madu. Tapi, semua itu pret! bagi Maddie dan Tae. Dia punya nama, dan dia capek kedinginan pakai pakaian minim. Di bait selanjutnya Maddie & Tae mengatakan tampil seksi (di lagu ini diwakili dengan idiom “shake my moneymaker”) tidak akan mendatangkan uang. Dan tentunya tidak ada yang “manis-manis” buat si lelaki kalau dia hanya begitu. Bisa-bisa, dia sendiri akan datang dan menampar si lelaki. Demikianlah Maddie & Tae menyoroti sikap si lelaki.

Terjadi kemerosotan perlakuan terhadap perempuan dalam lagu-lagu country kontemporer. Kini, perempuan lagu country hanya bertugas tampil cantik, naik truk (biasanya Chevy Silverado :D) si lelaki dan diam. Dia bandingkan dengan penyanyi-penyanyi country jaman dulu yang seingatnya tidak seperti sekarang. Conway dan George Strait, dua ikon besar musik country, menurut Maddie & Tae dulu tidak pernah memperlakukan perempuan seperti ini. Mereka tidak pernah mendadani gadis-gadis dalam lagu mereka hanya dengan bikini, katok potongan jins, telanjang kaki, dan dipanggil-panggil “manis” dan “sayang” dan lain-lain yang pendeknya sekadar “cat-calling.”

Memang, contoh yang dipakai dalam lagu ini adalah contoh ekstrim perlakuan laki-laki yang mengobyektifikasi perempuan. Tapi, tentu saja bagi mereka yang berpikir dan melihat prilakunya dalam keseharian, ini adalah sebuah pengingat. Kita boleh saja membatin “Ah, Tuhan membisikkan kepada Maddie & Tae kata-kata yang bisa mengingatkan saya.” Boleh saja. Toh, di jaman ini tidak ada lagi Nabi yang bisa menerjemahkan gambaran sorga dalam kehidupan sehari-harinya. Malah, yang banyak sekarang adalah orang yang mengaku mengetahui pesan-pesan Nabi tapi justru menciptakan kekonyolan di dunia, bukan merekonstruksi sorga di dunia. Jadi, kita semua wajib memikirkan dan merekonstruksi terus-menerus seperti apa sesungguhnya pesan-pesan Nabi dulu dan keindahan macam apa yang dimaui Tuhan. Maddie & Tae, dengan ungkapan kekesalannya, yang tentunya juga kekesalan banyak perempuan, adalah salah satu jalan–sesempit apapun–yang bila kita ikuti bisa membantu kita merekonstruksi sorga yang diinginkan Nabi untuk kita. Dari Maddie & Tae, kita tahu bahwa perlakuan yang dianggap lelaki sebagai ungkapan pujian dan rasa cinta kepada perempuan itu sebenarnya malah merupakan perwujudan dari tidak adanya pengakuan terhadap wanita sebagai individu yang berdaulat, yang bisa menentukan apa yang dia maui dan bagaimana mendapatkannya.

Kalau laki-laki sudah dipaksa memikirkan “agency” perempuan, maka tentunya dia akan dibuat memikirkan hal-hal lain di kehidupannya. Apakah dia menyuruh istrinya membuatkan teh sementara dia bekerja “membanting tulang” menerjemah di malam hari? Apakah dia merasa boleh meminta (bukan “menyuruh,” karena hampir semua orang tahu bahkan kita hanya bisa “menyuruh” orang yang kita bayar) istrinya untuk mengajar anaknya mengaji atau memasakkan sarapannya di rumah karena dia tidak punya waktu untuk itu, dia harus menyelesaikan pekerjaan kantor dan–mungkin kuliah?

Itu dia, Cak Lontong, itu dia yang perlu dipikirkan setelah mendengar lagu country, film kartun, baca puisi, baca status facebook, tweet teman, dll, dsb, dst, dllajr. Kenapa? Karena laki-laki masih bangsat dan masih merasa lebih…

* Ini masalah kita, masih cenderung terfokus pada orang, bukan pada karyanya, dan saya seringkali masih kepeleset melakukan itu

Untuk menemani Anda baca, silakan tonton lagu ini dan baca liriknya di bawah itu (maaf, tidak ada waktu untuk menerjemahkan ini, kawan);

“Girl In A Country Song”

(“No country music was harmed in the making of this song, this is only a test-t-t”)

Well I wish I had some shoes on my two bare feet
And it’s gettin’ kinda cold in these painted on cut off jeans
I hate the way this bikini top chafes
Do I really have to wear it all day? (Yeah baby)

I hear you over there on your tailgate whistlin’ [*whistle*]
Sayin’, “Hey girl”
But you know I ain’t listenin’
Cause I got a name
And to you it ain’t “pretty little thing”, “honey” or “baby”
Yeah it’s drivin’ me red-red-red-red-red-red-red neck crazy

[Chorus:]
Bein’ the girl in a country song
How in the world did it go so wrong?
Like all we’re good for
Is looking good for you and your friends on the weekend
Nothing more
We used to get a little respect
Now we’re lucky if we even get
To climb up in your truck, keep my mouth shut and ride along
And be the girl in a country song

Well shakin’ my moneymaker ain’t ever made me a dime
And there ain’t no sugar for you in this shaker of mine
Tell me one more time, “you gotta get you some of that”
Sure I’ll slide on over, but you’re gonna get slapped (Hah!)
These days it ain’t easy being that

[Chorus:]
Girl in a country song
How in the world did it go so wrong?
Like all we’re good for
Is looking good for you and your friends on the weekend
Nothing more
We used to get a little respect
Now we’re lucky if we even get
To climb up in your truck, keep my mouth shut and ride along
And be the girl in a country song (Yeah, yeah baby)

Aww no, Conway and George Strait
Never did it this way
Back in the old days
Aww y’all, we ain’t a cliché
That ain’t no way
To treat a lady

[Chorus:]
Like a girl in a country song
How in the world did it go so wrong?
Like all we’re good for
Is looking good for you and your friends on the weekend
Nothing more
We used to get a little respect
Now we’re lucky if we even get
To climb up in your truck, keep my mouth shut and ride along
Down some old dirt road we don’t even wanna be on
And be the girl in a country song

(“Yeah baby, I ain’t your tan legged Juliet. Can I put on some real clothes now?”)

Aww, no

 

Kawal Kasus Sitok dot ORG

Kalau Anda suka berpolitik dan menyuarakan kepedulian sosial lewat facebook (copras-capres, invasi Gaza, ISIS, dll), ada satu persoalan cukup besar yang bisa Anda lakukan saat ini: MENUNTUT PENGADILAN PENYAIR SITOK SRENGENGE, TERLAPOR KASUS PEMERKOSAAN.

Tahun lalu, penyair Sitok Srengenge dilaporkan telah memperkosa seorang mahasiswi. Semestinya ini kasus yg sangat besar: kejahatan pemerkosaan adalah kejahatan kepada separuh umat manusia, menginjak2 martabat perempuan dan merendahkan laki2 lain yang tidak melakukannya. Tapi, berkat copras-capres dan berbagai persoalan sosial lainnya, kasus ini terpendam hingga nyaris menjadi masa lalu. Proses hukumnya pun seperti jalan di tempat. Status Sitok masih terlapor, belum menjadi tersangka.

Belakangan, beredar foto Sitok Srengenge di meja makan panjang dalam acara ultah seorang ulama. Saya tidak mempermasalahkan “ulama” atau “intelektual” terkait foto ini. Yang jadi soal adalah betapa santainya kehidupan seorang terlapor kasus pemerkosaan. Bahkan, beberapa waktu yang lalu Sitok malah memberikan komentar di koran terkait kejanggalan pemberitaan tentang kasus pemerkosaannya (dia menolak pemberitaan bahwa pelapor adalah mahasiswinya–betapa, yang dia permasalahkan adalah kesalahan yang seperti itu!).

Kalau Anda peduli persoalan sosial, dan benar-benar ingin membuat perubahan lewat postingan facebook, inilah saat yang tepat. Mari kita buktikan bahwa status facebook bisa membawa perubahan. Kepolisian dan kejaksaan harus tegas mengusut tuntas kasus pemerkosaan ini, dan kita juga perlu mengawalnya, kalau bisa sekuat Ainun Najib!

Ironis, kan, kalau di negeri sejuta masjid ada kasus pemerkosaan yang terabaikan (mungkin karena orang-orang kuat di lingkaran terlapor)?

Di negara paman saya, pemerkosaan atau tindak kriminal seksual adalah “dosa besar.” Seseorang bisa kehilangan mata pencaharian karena perbuatan semacam itu. Dia harus menanggung dosanya secara sosial: harus selalu melaporkan tempat tinggalnya kepada polisi, namanya bisa dilacak di google dan ditemukan tempat tinggalnya (biar orang yang waspada akan keselamatan keluarganya bisa berhati-hati). Itu di negara paman saya…

Balik lagi, kita tidak tahu apakah Sitok Srengenge akan diputuskan bersalah dalam kasus ini. Tapi, kalau kasus ini diabaikan dan tidak pernah disidangkan, kita tidak akan pernah tahu. Seorang pemerkosa bisa bebas dari kebejatannya, dan kita di luar sini tidak melakukan apa-apa. Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai orang yang mengecam, mengutuk, membenci pemerkosaan. Kalau saja saya polisi, jaksa, dll, pasti saya tidak akan cuma nulis postingan facebook.

Koolaids: The Art of War by Rabih Alameddine – The Art Amidst a War

With this kind of title, I guess "unconventional" is an understatement for this novel by Rabih Alameddine.
With this kind of cover, “unconventional” is probably an understatement.

Koolaids: The Art of War (1999) by Rabih Alameddine is not an easy read, to say the least. Unlike most prose works that give their readers narratives designed to enable the readers jump conveniently into the world of their characters, Koolaids presents its readers with vignettes that are not immediately correlated. In the first pages, the reader can sense some vague connections among the vignettes; the vignettes only give off strong impressions thanks to their subject matters of death, AIDS and war. As the reader barges through, the connections become more and more apparent, although the book still doesn’t “come out of the closet” as to what it wants to say with those vignettes. Eventually, despite its lack of lucidity, the reader will most likely find Koolaids a strong narrative of sexuality, identity and war presented in an appropriately unconventional manner.

The book promises death from the first page–as if to follow a rule of thumb of writing a novel proposed by a prominent novelist. The story opens with the imaginary scene of three figures–probably angels of death–discussing among themselves whether our protagonist is ready to die. After a while, the reader finds that this imminent death is associated with HIV/AIDS. Having said that death is apparent from the first page, I by no means say that the beginning of the novel only talks about death; I’m here discussing the major themes of the novel individually only for convenience, in order to do justice to each important theme. The vignette about AIDS-related death is side by side with other vignettes that discuss a character’s childhood in pre-Civil War Lebanon and the (homo)sexuality of another character living in the West Coast. In this early part of the book–the book only has vignettes, no chapters, no sections–the reader starts to be curious whether this is a collection of deathbed hallucinations. Of course, nothing is clear yet.

Another important theme in this book is the character’s coming of age and his realization of his homosexuality. Hailing from a Muslim family in Lebanon, the protagonist studied in France and then the United States. He had a number of homoerotic experiences as a young boy in pre-Civil War Lebanon, where homosexuality is not to be mentioned in public, and as a teenager in Paris. He came out of the closet for the first when he was in the United States, only to find out that the person wanted to tell about his homosexuality had just died in a brutal accident. Within in theme also, the reader finds vignettes narrated by various characters who are all gay men in the circle of our protagonist who, as the story opens, is on his deathbed. From these vignettes–remember, they are scattered and by no means aggregated in a particular section of the novel–the reader can see that the protagonist is a major painter with an unconventional background. He is Lebanese by origin, American by citizenship, a homosexual, and from a Muslim background–although “Muslim” here only means that he is of Muslim parentage. This miss-mass of identity makes him at one point question whether his fame as a painter is because he has such a peculiar background. We also find along this theme, a frequently quoted line that is related to the protagonist alienation as a Lebanese homosexual: “In America, I fit, but I do not belong. In Lebanon I belong, but I do not fit” (Alameddine 40)

Also a very important theme in this book is the Lebanese Civil War, which takes up a significant portion of the book. Vignettes about the bloody war mostly appears after the parts that talk about the childhood of several characters. The novels presents snippets of the brutality of the war that divides Beirut into East Beirut (for the Christians) and West Beirut (for mostly Muslims, with a number of Christian). The reader can find a number of scenes that depict the massacre of Palestinian(refugee)s (they are a significant element in the Lebanese Civil War, FYI) by the Phalangists (the Christian party in Lebanon). It also brings up the Sadra and Shattila massacre, which is also the main incident in the animation movie and graphic novel Waltz with Bashir by Ari Folman. The closest tie between the Lebanese Civil War and our protagonist who is France and the United States during that time is the story about a mother who gets a slap in the face as she finds out that her husband is a homosexual who gets an offering of young boys every so often. What makes it worse is how she finds about it: when she goes to the Christian part of Beirut and meets a militia leader who then becomes her lover.

Despite the structure that is non-chronological and the juxtaposition that doesn’t appear to be logical, the novel demands the reader to finish it mostly thanks to the gravity of its subject matter, its wittiness and its peculiar combination of themes. Although some readers might find it hard to pinpoint who narrates a certain vignette (apparently, the vignettes don’t show distinctive language although they are narrated by different characters–and this is something to be elaborated further) or they might find it hard to build the connection between the numerous characters, it is not at all difficult to build a rough connection–logically as well as chronologically–between the incidents in the story. As the reader goes on deeper into the book, she can even decide whether a vignette is an actual part of the story or just a scene that the protagonist imagines. Every so often, the reader will meet again a variation of the scene that opens the book (the one with three angels of death), as if to reorient the reader who might get lost in the jungle that is Koolaids. 

As the reader approaches the closure of the book, she will have found several vignettes that appear like confessions by the protagonist of his intention to write a novel, a story or a narrative about various things, such as love, war, Lebanese immigrants, etc. His intention never really materializes into a full-fledged story or play or biography as he is so fragmented and haunted by the imminent death. With all this, it is valid for the reader to see that this novel that doesn’t look like any conventional novel–by the way, is there such a thing as “convention” for this genre? Bakhtin would say no–is actually fragments of impressions and, probably, bits of written materials collected from a person who is dying from AIDS. Of course, this is argument is made possible by the last vignette of the story that is also a variation of the opening death scene; the difference is that in this last vignette, all the three angels are in agreement that it’s time for the protagonist to die: “I die,” affirms the protagonist.

To conclude, after reading the end of the book, I began to understand why this novel dons “The Art of War” as its subtitle. Of course, the standard “Art of War” belongs to Sun Tzu’s treatise. It’s also possible to apply that sense of “Art of War” to this book. However, it will be more fitting if we understand “the art of war” in this subtitle as the craft of presenting a story during a difficult situation. In other words, this chaotic jumble of vignettes is the most appropriate manner (the art) of presenting the story of someone battling a terminal condition (the war) of the late stage of HIV infection. This is the art amidst a war.