Ketidaksadaran Patriarkal dan Budaya Perkosaan dalam Sastra

Dalam esei “Bahasa Maskulin dalam Sastra” (dimuat di Kompas 16 September 2016), Aninditya S. Thayf mengutarakan bahwa bahasa yang maskulin merupakan gejala dari ideologi patriarki, dan kita bisa mengamatinya dalam karya sastra. Dalam retorikanya, Aninditya mengesankan kuatnya unsur kesengajaan dalam “penyusupan ideologi patriarki” melalui bahasa maskulin dalam sastra tersebut. Padahal, pada kenyataannya patriarki adalah kecenderungan yang tanpa disadari sudah melebur dalam peradaban manusia dewasa ini, yang sudah membudaya, dan bukan seperti sebuah ideologi yang sengaja ingin ditanamkan oleh sebuah rezim. Secara sadar, semakin banyak laki-laki maupun perempuan yang secara terbuka mendukung gagasan-gagasan feminis, yang menggugat maskulinitas eksklusif. Maka, mungkin akan lebih menarik dan produktif bila kita menelaah perwujudan ideologi patriarki yang tidak disadari.

Dengan demikian, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar melihat kecenderungan berbahasa dari penulis “yang dikenal misogini,” yang menurut Aninditya mengikuti “ideologi patriarkal.” Pernyataan Aninditya bahwa kecenderungan berbahasa yang maskulinis itu ada pada sastrawan yang dikenal misoginis berimplikasi bahwa yang perlu disoroti adalah penulis-penulis yang sejak awal sudah membenci atau menganggap lebih rendah perempuan. Padahal, yang mungkin lebih tepat adalah lebih banyak penulis yang tidak menyadari bahwa dia terjerat dalam gelembung patriarki.

Lebih dari sekadar perlunya kejelian pembaca untuk bersikap kritis, sebagaimana disampaikan Aninditya di akhir esei, penulis sendiri juga perlu terus menyadari. Penulis dituntut menyadari kuatnya pengaruh patriarki dan mencoba untuk secara sadar membaca naskahnya sendiri dari sudut pandang ini, kalau memang dia setuju bahwa bersikap non-patriarkal adalah penting. Dengan demikian, tanggung jawab ini sama besarnya bagi laki-laki maupun perempuan. Penulis perempuan pun bisa terpeleset dan mendukung kecenderungan patriarki. Tapi, secara etis, tidak pada tempatnya saya, seorang lelaki, ikut mengomentari kecenderungan mendukung patriarki pada penulis perempuan.

Beberapa gejala dari pengaruh patriarki yang sering muncul dalam karya budaya adalah objektifikasi perempuan, pembagian peran berdasarkan jenis kelamin, dan perayaan “budaya perkosaan.” Di sini, saya ingin langsung menyoroti perayaan “budaya perkosaan,” sebuah istilah yang sudah dipakai sejak tahun 1970-an di Amerika Serikat. Istilah ini mengacu pada perilaku, bisa berupa lelucon maupun kelalaian, yang menormalisasi tindakan perkosaan. Perilaku semacam ini menjadikan tindak perkosaan seolah-olah tidak jahat atau bahkan disebabkan oleh perempuan sendiri. Meski sudah lama dipakai, istilah ini masih diperdebatkan dan tetap perlu dikampanyekan hingga hari ini. (Untuk lebih jelasnya, silakan lihat buku Kate Harding terbitan 2015 berjudul Asking For It: The Alarming Rise of Rape Culture–and What We Can Do About It.)

Dalam karya sastra, “budaya perkosaan” bisa muncul secara halus, mungkin tanpa disadari penulisnya sendiri. Gejala ini bisa muncul bahkan dalam karya sastra penulis yang tidak dikenal misoginis. Karya yang bisa kita ambil untuk dijadikan contoh kasus adalah cerpen berjudul “Es Krim” karya Bernard Batubara dalam buku kumpulan cerpen Metafora Padma. Dari buku ini, Bernard Batubara tidak tampak seperti seorang cerpenis yang secara sadar “misoginis.” Bahkan, perempuan memainkan peran-peran penting dalam beberapa cerpen Bernard. Cerpen “Es Krim,” khususnya, menarik dibahas karena cerpen ini mengkritisi sekaligus merayakan “budaya perkosaan.”

Bingkai utama cerita ini adalah perbincangan antara narator dan kawan lelakinya. Narator digoda kawannya karena tidak berani menghadiri acara perkawinan Fu, mantan kekasihnya. Di tengah perbincangan itu, narator kita mengingat riwayat hubungannya dengan Fu, mulai masa perkenalan, kedekatan, hingga akhirnya hubungan tersebut kandas di tangan orang tua, yang menjodohkan Fu dengan seorang lelaki kaya. Cerpen ini, menurut saya, mengusung tema sederhana tentang minimnya agensi perempuan; dalam cerpen ini, Fu adalah obyek kejahatan laki-laki (pemerkosa) sekaligus objek cinta orang yang menginginkan kebahagiaannya (orang tua), meskipun Fu memiliki kehendak lain.

Namun, saat menelaah secara lebih mendetil, pembaca yang peka terhadap hubungan antar jender, atau tentang “budaya perkosaan,” akan terusik. Yang pertama adalah bagaimana dalam ingatan narator kita si perempuan, Fu, mengingat trauma psikologis yang dialaminya. Fu mengatakan: “… dalam dua jam, saya ditiduri sepuluh laki-laki.” Karena ucapan Fu ini kita terima lewat ingatan si narator, jadi kita bisa membaca ini sebagai sikap si narator. Perlukah di sini si narator memperhalus “diperkosa” menjadi “ditiduri”? Samakah keduanya? Menurut kamus, keduanya sangat berbeda.

Di satu sisi, membiarkan si narator menggunakan kata “ditiduri” tanpa disertai dengan justifikasi adalah kesalahan jender fatal di pihak penulis, karena hal itu adalah upaya “normalisasi” tindak kejahatan seksual. Tapi, bisa juga kita baca ini sebagai kesalahan narator dalam mengingat, sehingga tindak kejahatan besar seperti perkosaan bisa terwakili oleh kata “ditiduri.” Kalau masalahnya yang kedua, mungkin saja kegagalan si narator mendapatkan Fu adalah ganjaran yang diberikan oleh penulis atas dosanya ini.

Permasalahan yang kedua berkaitan dengan alasan kenapa cerpen ini berjudul “Es Krim.” Dalam cerpen ini, es krim adalah simbol kenikmatan yang akhirnya dapat membangkitkan lagi semangat hidup Fu setelah diperkosa. Fu mulai menyukai Es Krim sejak salah seorang kolaborator pemerkosaan yang menawari si perempuan “Es Krim” dan selimut. Sekuat itukah kemampuan Es Krim mengobati luka karena perkosaan? Dengan menarasikan betapa mudahnya trauma perkosaan disembuhkan, cerpen ini merepresentasikan perkosaan sebagai sesuatu yang relatif ringan.

Pertanyaannya sekarang, apakah dengan begitu Bernard Batubara mempromosikan ideologi patriarki? Tentu hanya Bernard Batubara yang bisa menjawab secara pasti pertanyaan semacam itu. Namun, berdasarkan pembacaan atas buku Metafora Padma secara lengkap, kita bisa bilang bahwa yang terjadi bukanlah “penyusupan ideologi maskulinitas lewat diksi.” Dari buku ini, kita bisa melihat kepedulian Bernard Batubara terhadap pertikaian antar suku, etnis, dan kelompok yang akhirnya mengorbankan manusia, anak-anak, dewasa, orang tua, laki-laki, dan perempuan.

Justru, Dengan mengambil tema seorang lelaki yang peduli dan menjalin hubungan dengan seorang korban perkosaan tanpa memberikan pandangan miring, Bernard Batubara sudah menunjukkan kepedulian terhadap isu jender dan tindakan perkosaan. Bahkan, di dalam cerpen tersebut Bernard Batubara menyoroti salah satu elemen pendukung “budaya perkosaan,” yaitu pada adegan ketika para pemerkosa mengatakan seolah-olah perkosaan itu disebabkan gaya busana Fu. Selain itu, di akhir cerita pun si narator tetap tidak bisa mendapatkan Fu, yang secara struktur dalam cerita bisa dihubungkan dengan sikapnya yang memandang ringan perkosaan Fu.

Akan tetapi, apakah artinya di sini Bernard Batubara juga bukan orang yang bersalah? Dalam hal ini, Bernard sama bersalahnya dengan kita yang secara sadar maupun tidak ikut membiarkan adanya “budaya perkosaan.” Sama bersalahnya dengan Bernard adalah kita yang, misalnya, membiarkan terjadinya tindakan perkosaan atau bahkan bergurau seolah-olah perkosaan adalah tindakan yang tidak terlalu mendehumanisasi perempuan. Yang pasti lebih parah adalah, misalnya, tindakan menutup mata dan tidak merasa terusik ketika kasus tuduhan perkosaan oleh Sitok Srengenge mandek dan tidak lagi terdengar kabarnya. Dan ini adalah persoalan global. Di Amerika, baru-baru ini, seorang hakim menjatuhkan hukuman cukup ringan untuk seorang atlit yang memperkosa dengan pertimbangan bahwa hukuman penjara akan merusak masa depan si atlit yang gemilang. Kejadian seperti ini menunjukkan kuat dan tidak disadarinya pengaruh ideologi patriarki, khususnya dalam bentuk “budaya perkosaa.”

Sebagai simpulan, sastra adalah sebuah hasil karya budaya yang juga menunjukkan gejala-gejala sosial. Namun, gejala-gejala tersebut seringkali bukan gejala yang dihasilkan oleh tindakan sadar. Bahayanya adalah, retorika semacam itu bisa menjadi sesuatu yang besar karena mempengaruhi pola pikir secara umum. Maka, dalam hal ini baik pembaca maupun penulis (atau seniman secara umum) perlu dengan sadar, dan dengan kepekaan lebih, untuk sebisa mungkin mengikis kecenderungan-kecenderungan yang melestarikan patriarki. Dari cerpen Bernard Batubara, kita bisa melihat bahwa bahkan pada karya sastra yang menyoroti isu jender pun seorang pengarang bisa terpeleset melakukan dosa jender.

(Ini tulisan dari tahun 2016 dan dimuat di majalah SULUK terbitan Dewan Kesenian Jawa Timur edisi 12 tahun 2016.)

Advertisements

Suara dari Marjin: Yang Bisa Kita Petik dari Gerakan Literasi Banding

Suara Dari Marjin

Judul: Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial
Penulis: Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya
Cetakan: I/Mei 2017
Tebal: 234 hal

Buku yang menyegarkan dan menyadarkan. Biarkan kalimat itu mengawali postingan kali ini. Buku Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah ini pertama-tama akan membuat kita tidak “lupa diri” di tengah gegap gempita gerakan literasi dewasa ini. Tentu “lupa diri” di sini harus diberi tanda kutip, karena sedikit pun saya tidak bermaksud bahwa gegap gempita literasi dewasa ini adalah sesuatu yang melenakan secara negatif. Namun, tetap harus kita sadari bahwa bahkan segala yang bagus bisa membuat kita lupa diri kalau tidak kita kritisi dulu. Dan buku ini punya sikap yang demikian. Dia mengajak kita merayakan literasi, sambil tetap berpikir kritis lazimnya seorang literat.

Buku Suara dari Marjin ini adalah pengolahan ulang hasil penelitian terpisah untuk disertasi kedua penulisnya. Sofie Dewayani mengadaptasi disertasinya yang membahas literasi di kalangan “anak jalanan” di kawasan Pasundan, Bandung. Sedangkan Pratiwi Retnaningdyah mengadaptasi disertasinya mengenai praktik literasi di kalangan Buruh Migran Indonesia (BMI), khususnya yang bekerja (atau pernah bekerja) di Hong Kong. Pada intinya, buku ini menegaskan argumen yang banyak disuarakan para teoretikus Kajian Literasi Baru, yakni bahwa literasi bukan hanya seperti lazimnya yang kita pahami di sekolah–yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis sesuai metode dan praktik formal–tapi juga bisa terjadi melalui praktik informal, yang berlandaskan praktik keseharian dan memiliki tujuan akhir yang lebih relevan dengan keseharian pelakunya.

Konsep-konsep Gerakan Literasi Baru yang diusung dalam buku ini bisa terlihat dalam sejumlah kata kunci yang disampaikan penulis pada bagian pendahuluan, analisis, dan kesimpulan buku ini. Konsep-konsep dari para pemikir seperti Paulo Freire, Pierre Bordieu, dan lain-lain tersebut antara lain adalah “literasi ideologis,” “habitus,” “kapital budaya,” dan “teks kultural.” Konsep-konsep ini secara keseluruhan pada hakikatnya menyatakan bahwa usaha penumbuhan literasi seyogyanya juga membantu membangunkan kesadaran akan diri si pelaku, dan hal ini bisa terlaksana dengan memahami lingkup sosial mereka, sehingga pada akhirnya praktik literasi ini akan mengentaskan mereka dari kemiskinan atau ketertindasan mereka. Untuk melakukannya, praktik literasi ini mengidentifikasi hal-hal yang paling vital dalam memperbaiki harkat hidup si pelaku serta menggunakan elemen kultural yang ada dan dekat bagi para subyeknya.

Sofie dan Pratiwi menerangkan dengan gamblang teori-teori fundamental ini pada bagian awal buku dan kemudian mengulangnya kembali untuk menjelaskan hasil temuan mereka dari studi etnografis di kalangan Buruh Migran di Hong Kong dan anak-anak yang bekerja di jalan. Dari penjelasan-penjelasan mereka, kita mendapati bahwa di kedua komunitas marjinal tersebut terjadi praktik literasi yang menegaskan konsep-konsep yang saya singgung di atas.

Lebih kongkretnya, di kalangan BMI, kita bisa mendapati upaya-upaya pendidikan literasi yang tidak begitu lazim (baik dilakukan secara mandiri maupun dengan bantuan tokoh dari luar) yang menggunakan sumber daya yang dekat dengan mereka dengan tujuan meningkatkan harkat hidup mereka. Di antara kasus-kasus yang dibahas Pratiwi, kita bisa melihat kisah Rie rie, seorang BMI asal Jawa Timur yang mengajar dirinya sendiri blogging hingga akhirnya dia banyak membuahkan tulisan yang memberikan gambaran yang tidak lazim ada tentang kehidupan BMI di Hong Kong, mengubah citra BMI yang cenderung dipandang rendah karena pekerjaan mereka sebagai pembantu rumah tangga. Bahkan, buah dari praktik literasi ala Rie rie ini pada akhirnya juga dia tularkan kepada para BMI yang lain melalui pelatihan-pelatihan blogging dan kepenulisan yang diberikan oleh Rie rie. Masih ada beberapa kisah lain dari bagian ini, termasuk kita Mbak Ani, seorang mantan BMI yang menjadikan pekerjaan BMI sebagai langkah awal untuk mendapatkan modal yang selanjutnya dia pakai untuk mengejar pendidikan tinggi dan bahkan berkarya sebagai pembuat film yang cukup disegani.

Sementara itu, dari studi Sofie mengenai praktik literasi di kalangan anak-anak yang bekerja di perempatan Pasundan, kita bisa mendapati keberhasilan praktik literasi tidak lazim yang dilakukan oleh Bu Sri dan LSM Pelangi. Menurut pengamatan Sofie, Bu Sri yang mendirikan dan mengelola PAUD Bestari banyak menjalankan praktik-praktik yang selaras dengan konsep Literasi Baru, yang jelas terlihat sejak awal dengan tujuan mulianya untuk menghindarkan anak-anak balita dari ikut turun ke jalan bersama teman-teman dan–terutama–keluarga mereka sendiri (=inilah inti dari literasi ideologis). Dalam praktik pengajarannya pun, dalam amatan Sofie, Bu Sri menyadari potensi pemahaman “teks kultural” yang telah dimiliki anak-anak dan kemudian mengoptimalkannya guna membuat anak-anak nyaman dalam belajar di PAUD yang serba diliputi keterbatasan tersebut. Demikian pula dengan praktik yang dilakukan oleh LSM Pelangi, upaya mereka dalam memberi pendampingan belajar bagi “anak-anak jalanan” membantu anak-anak mendapatkan ijazah Kerjar Paket A, yang merupakan satu syarat minimal yang memungkinkan mereka mendapat pengakuan untuk dapat bekerja di pabrik. Dalam usahanya ini, LSM Pelangi juga menyertakan kegiatan yang membantu “anak-anak jalanan” lebih memahami identitas mereka, misalnya melalui kegiatan penulisan kreatif tentang cita-cita mereka.

Dari dia pengamatan etnografis atas praktik literasi di lingkup marjinal yang berlainan ini, kita mendapati sejumlah kesimpulan penting yang perlu dipertimbangkan di tengah demam literasi dewasa ini. Satu hal yang paling penting adalah bahwa gerakan literasi hendaknya tidak dipahami hanya sebagai suatu gerakan yang menumbuhkan minat baca, tulis, dan berpikir kritis yang dilakukan secara formal dengan pola yang seragam dari atas (yang dalam Kajian Literasi Baru dikenal dengan istilah literasi otonom). Namun, upaya literasi bisa berlangsung di mana saja, dengan cara berlainan, dan bertujuan riil meningkatkan harkat hidup pesertanya (literasi ideologis). Simpulan lainnya adalah bahwa dengan melihat keberhasilan upaya literasi ideologis yang digagas secara mandiri dalam kelompok-kelompok marjinal, upaya literasi di lingkup formal (sekolah-sekolah) hendaknya mempertimbangkan elemen-elemen yang berhasil tersebut, misalnya dengan menyertakan elemen kultural dari kehidupan sehari-hari pelakunya dan dengan cara yang lebih ramah terhadap keberagaman minat peserta didik. Dan tentunya, berbagai upaya literasi informal itu juga sudah sejak awalnya mengintegrasikan elemen-elemen literasi otonom di dalamnya. Pada intinya, banyak hal dari upaya literasi ideologis (atau sebut saja “literasi banding”) yang bisa dipetik bagi kita yang saat ini dilanda demam literasi dan mungkin tanpa sadar hanya menjalankan elemen-elemen literasi otonom atau formal saja.

Akhirul posting, tentu masih ada simpulan-simpulan lain yang bisa dibicarakan mengenai buku tersebut. Namun, karena besok saya harus ikut sholat Ied bersama anak dan keluarga saya, sementara sekarang sudah pukul 2.15 pagi, maka ada baiknya juga kalau saya akhiri postingan tentang buku Suara dari Marjin karya Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah ini sampai di sini. Saya berharap segera punya kesempatan untuk menyarikan tulisan ini dalam bentuk yang lebih ramah baca.

Salam literasi 1438 H!

Pegadaian karya Sigit Susanto: Estetika Mudik?

(Seperti biasa, perlu saya sebutkan bahwa dalam postingan kali ini saya akan berbicara tentang buku tulisan seorang yang saya kenal dan hormati. Saya harap setelah ini tidak ada lagi kecurigaan tentang bias. Tapi, sebisa mungkin saya akan obyektif.)

Sejujurnya saya agak menyesal baru sempat membaca novel Pegadaian karya Sigit Susanto. Saya justru telah membaca tiga buku catatan perjalanan karya Sigit Susanto (yaitu Lorong-lorong Dunia Jilid 1, 2, dan 3). Padahal, saya cukup lama kenal orangnya. Tapi, kenapa harus menyesal? Karena ternyata buku ini mengasyikkan, memberikan satu gambaran tanpa pretensi atas tradisi Idul Fitri khas Muslim tradisional desa Indonesia yang seringkali disebut “abangan,” dan terstruktur seperti untaian kisah-kisah kecil dengan satu tema besar yang menjadikannya asyik dibaca sambil tetap ada tujuan di akhir cerita.

Pegadaian berkisah tentang lika-liku hidup Sunar selama masa 5 tahun sebagai guide di Bali yang harus mudik ke kampung halamannya di Boja, Kendal, setiap Lebaran. Lika-liku hidup ini berkisar pada upaya Sunar membangun karir sebagai guide (mulai dari guide bahasa Inggris hingga menjadi guide bahasa Jerman) dan upaya Sunar membahagiakan ibunya yang sangat dia cintai. Di seluruh novel ini, tersebar kisah-kisah kecil keseharian Sunar sebagai guide dan kisah-kisah aktivitas mudik yang kelucuan. Di bagian awal novel, suasana mudik diwarnai keriangan tapi juga keharuan ibunya yang memandang Sunar sebagai anak yang paling sengsara dibanding kakak-kakaknya. Berangsur-angsur, sikap si ibu berubah seiring meningkatnya posisi Sunar sebagai guide. Namun, meskipun terjadi peningkatan status Sunar, ada satu hal yang tetap: setiap akhir masa mudik, Sunar terpaksa meminta ibunya menggadaikan bros peniti emas karena uang Sunar sudah benar-benar habis di akhir masa mudik, tak peduli berapapun yang dia bawa pulang.

Satu hal yang menarik dari novel ini adalah intensitasnya membicarakan perihal mudik lebaran dan segala aspeknya. Meskipun sesi mudik ini hadir secara teratur dan sangat bisa ditebak, isinya selalu membawa kebaruan. Di mudik pertama, kita akan melihat acara unjung-unjung atau silaturahmi ke saudara-saudara dekat yang tinggal agak jauh (tentu dengan pernak-perniknya yang gado-gado antara haru, bahagia, konyol, dan bahkan separuh jorok). Di sesi mudik kedua, sorotannya berbeda lagi. Begitu juga sesi mudik ketiga dan selanjutnya. Bahkan, ada sesi mudik yang memfokuskan pada acara wisata (yang dalam masyarakat Jawa disebut “piknik”). Jenis-jenis kegiatan mudik yang tak ada habisnya ini seolah menunjukkan bahwa kegiatan selama lebaran itu benar-benar tak ada ujungnya. Apalagi bagi mereka yang sudah absen sepanjang tahun dari kampung dan harus merekap semuanya dalam satu minggu. Seperti itulah mudik: mudik bukanlah liburan untuk istirahat menyisih dari sibuknya kota. Mudik adalah liburan untuk beraktivitas, menjalin kembali tali silaturahmi yang, seperti idealnya tali, harus panjang agar bermanfaat, harus panjang dan tak henti-henti, seperti acara makan yang tak henti-henti pada saat silaturahmi lebaran, dari rumah saudara satu ke rumah saudara yang lain, bahkan ketika kita merasa sudah kekenyangan, karena makan di sini seperti fungsi sosial menghormati saudara, lebih dari sekadar fungsi biologis.

Dalam aktivitas mudik ini juga kita bisa melihat wajah Islam yang tak bisa diingkari, yang bisa dibilang kurang menjual untuk hari-hari ini. Islam di sini begitu menjadi bagian dari masyarakat Jawa dalam novel ini. Tapi, bagian ini tidak menjadi penentu akhir untuk bagian-bagian yang lain. Kegiatan-kegiatan penting seperti silaturahmi, menghormati arwah leluhur, dan sejenisnya, dilakukan mengikuti penjadwalan menurut Islam, misalnya idul fitri. Tapi kegiatan-kegiatan itu memiliki signifikansinya sendiri tanpa bisa dimaknai sebagai milik eksklusif Islam. Satu adegan dalam novel ini yang bisa merepresentasikan hal itu adalah kegiatan silaturahmi ke saudara di gunung. Di situ, narator menyebutkan bahwa kunjungan itu lebih banyak diisi dengan perbincangan tentang berbagai topik dan hanya sedikit berurusan dengan salam-salaman. Tampak di sini seolah-olah Islam dengan Idul Fitrinya memberikan satu media atau waktu, sementara isi dari acara itu sendiri sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Dengan kata lain, ada sebuah kegiatan yang mungkin sejak lama menjadi kebiasaan, yaitu saling mengunjungi, dan Islam mengkonsentrasikan kegiatan saling mengunjungi itu pada saat Idul Fitri. Dengan begitu, acara saling mengunjungi itu terasa lebih kuat, seperti energi yang tercecer yang kemudian dipusatkan.

Satu hal lain yang terasa kuat dalam novel ini adalah atmosfir santai–pada sebagian besar novel. Atmosfir santai ini terasa terutama dalam dua elemen di novel ini: cerita-cerita kecil dan bahasanya. Seperti saya singgung di atas, dalam menceritakan lika-liku hidup sebagai guide, novel ini menghadirkan cerita-cerita kecil dalam keseharian Sunar yang terkadang menerbitkan senyum, terkadang mengundang haru. Cerita-cerita kecil ini datang  tanpa henti, hingga kita bisa bilang bahwa novel ini merupakan kumpulan manik-manik kisah kecil yang diuntai dengan satu tali tema hubungan ibu dan anak. Salah satu contoh dari kisah jenaka yang ada adalah tentang perkenalan Sunar dengan seorang gadis pegawai hotel. Di satu kesempatan, Sunar dan Mohar (sahabat baiknya) makan bersama dengan si gadis. Di akhir sesi makan, Mohar memberikan judgment atas gadis itu: dia bukan gadis baik-baik karena suka minum bir. Sunar menjadi ragu-ragu juga mengenai gadis itu. Belakangan, diketahui bahwa Mohar salah dengar: dia mengira gadis itu bilang “minta bir” kepada pelayan restoran, padahal sebenarnya dia bilang “minta bill,” satu istilah untuk kuitansi restoran yang tidak diakrabi oleh Mohar dan Sunar. Kisah-kisah ini tak cuma lucu, tapi ada juga yang mengharukan. Tapi, semuanya disampaikan dengan atmosfir santai. Kalau dikembaliken ke tema mudik, mungkin kita bisa memahami kisah-kisah kecil ini seperti cerita seorang saudara yang mudik kepada saudaranya di kampung. Cerita-cerita itu datang bertubi-tubi tiada henti, tapi selalu ada yang menjadikannya perlu disampaikan, entah itu kelucuan, kekonyolan, keharuan, maupun hikmah sederhananya.

Untuk kesantaian berbahasa, sepertinya saya akan membiarkan Anda membacanya dan mengalaminya sendiri. Yang jelas, di sini Anda akan bertemu istilah “streng,” atau “senyumnya tercecer,” atau “kawin karena kecelakaan,” yang saya bayangkan akan sangat nikmat bagi pembaca Indonesia, dan menyulitkan bagi calon penerjemah ke bahasa asing kalau si penerjemah bukan orang Indonesia (atau Jawa?). Saya hentikan di sini komentar soal kesantaian linguistik ini.

Maka begitulah catatan saya mengenai novel Pegadaian ini. Karena waktu saya untuk menulis sudah habis, maka saya sudahi di sini saja. Kalau Anda ingin simpulan saya atas novel ini, silakan baca paragraf kedua di atas. Semoga paragraf itu bisa menjalankan dwifungsi-nya, sebagai pendahuluan sekaligus simpulan. Oh ya, di judul postingan ini saya menggunakan istilah “estetika mudik,” yang belum saya definisikan sama sekali sejak awal hingga saat ini. Tapi, saya bersumpah saya sudah beberapa kali mencoba memberikan contohnya. Jadi, silakan temukan di atas dan definisikan sendiri apa itu “estetika mudik” yang saya maksudkan.

Selamat membaca!

 

Coban Glotak: Mengagungkan Perjalanan, Menomorduakan Tujuan, Mencatat Perubahan

WP_20170305_13_45_19_Pro(Akhirnya, tibalah kembali masa-masa ketika menulis saja adalah sorga–kalau menggunakan istilah andalan Natalie Goldberg. Inilah masa ketika blogger Anda ini bahkan tidak punya waktu yang bisa diluangkan untuk sekadar selonjor dari kehidupan yang melipat-lipat. Tapi, akhirnya datanglah kesempatan itu. Saya ada waktu 15 menit malam ini, dan saya akan menjumpai Anda di sini.)

Banyak orang yang bilang bahwa idealnya, sebuah perjalanan dilakukan tanpa repot-repot dengan tujuan, karena yang berarti adalah perjalanan itu sendiri. Saya bahkan pernah membaca buku yang premisnya begitu, buku Indonesia. Katanya, inti dari sebuah perjalanan adalah perjalanan itu sendiri, dan buahnya adalah penemuan. Begitulah kata buku tersebut. Tapi apakah bisa begitu? Ikhlaskah kita begitu? Melakukan perjalanan dengan mengabaikan tujuan dan memfokuskan pada perjalanan dan penemuan dalam perjalanan tersebut? Jawabannya bisa iya dan tidak. Saya pribadi tidak terlalu memikirkan itu saat berjalan. Tapi, setelah sebuah perjalanan selesai dan mencoba memaknainya, saya menemukan bahwa mungkin saja saya pernah melakukannya. Contoh yang bisa saya ceritakan kali ini adalah perjalanan saya ke Coban Glotak minggu lalu. Ternyata saya benar-benar menjadikan perjalanan itu sendiri sebagai tujuannya, dan saya puas dengannya.

Awalnya, saya tidak benar-benar punya rencana ke Coban Glotak. Saya hanya tahu bahwa saya dan anak saya harus ke luar rumah hari Minggu itu. Saya perlu beli bensin dan dia perlu beli lem Uhu dan plaster luka. Kami pun pergi sekitar jam 11:30. Setelah Lem Uhu dan bensin terbeli, saya dan anak masih malas pulang. Akhirnya saya menyarankan hiking, meskipun terlalu panas. Satu tempat hiking yang sudah cukup lama ingin saya tunjukkan ke anak saya adalah Coban Glotak, yaitu sebuah air terjun di Kecamatan Wagir. “Coban” dalam bahasa Jawa di kawasan Malang ini berarti “air terjun” (saya tidak tahu pasti etimologinya).

Sekali-kalinya saya mengunjungi Coban Glotak adalah dengan Widi, seorang sahabat sejak jaman kuliah, belasan tahun yang lalu. Antara tahun 2001-2004 (saya benar-benar tidak ingat pastinya). Seingat saya, kami ke sana naik motornya Widi (Honda Tiger 2000), menitipkan motor di rumah penduduk, terus berjalan menyusuri kebun kopi, tegal, dan berpapasan dengan anjing petani yang mengagetkan kami, menyusuri kali, dan akhirnya tiba di air terjun yang cukup tinggi. Pendeknya, Coban Glotak ketika itu “hanya” sebuah air terjun yang ada di ujung peradaban di lereng Gunung Kawi.

Setelah menempuh perjalanan lewat kawasan Mergan dan Bandulan, masuklah saya ke kawasan kecamatan Wagir. Kami terus menempuh jalan naik melewat desa Jedong dan sebagainya, hingga akhirnya tiba di desa Dalisodo, di mana jalan meliuk ke kiri dan sedikit demi sedikit mulai berlubang-lubang dan penuh batu meringis tertata. Sejauh itu, saya sangat puas dengan kinerja Belalang Tempur saya (Honda Win 100). Pada tanjakan yang medium, dia dengan gagah mendaki dengan gigi tiga. Pada saat-saat tertentu, ketika saya harus menanjak setelah mengurangi kecepatan karena satu dan lain hal, Belalang Tempur dengan santai mendaki pada gigi dua.

Ketika mulai masuk jalanan yang semakin banyak berlobang dan semakin menanjak, permainan gigi dua semakin menjadi. Ada saat-saat ketika saya benar-benar harus turun ke gigi satu. Kami berpapasan dengan penduduk lokal yang banyak di antaranya memodifikasi motor bebek mereka menjadi semacam trail, dengan spakbor depan mendongak dan roda trail yang mirip seperti tahu seukuran dadu untuk sambal goreng itu. Banyak di antara motor penduduk lokal ini yang tidak berplat, dan mungkin motor-motor ini memang hanya digunakan untuk keperluan ke ladang. Dengan mengendarai Honda Win 100, saya yakin saya cukup bisa melebur dengan penduduk lokal. Paling tidak, saya lebih melebur dibandingkan orang-orang yang datang dengan motor gede semacam CB150R atau bahkan motor trail pabrikan macam KLX dan Viar Cross. Ketika sudah semakin mendekati lokasi, semakin diperlukan persneling satu dan bahkan ditambah permainan kopling untuk meningkatkan RPM. Saya tidak ingat apakah dulu, ketika bersama Widi, jalurnya seberat itu. Mungkin waktu itu beratnya medan tidak terasa karena saya dibonceng Widi naik Honda Tiger 2000–yang kapasitas mesinnya 200% Belalang Tempur.

Sejak jauh dari tujuan, eksistensi Coban Glotak sudah terasa. Berbeda dengan dulu, ketika Widi hanya mengandalkan ingatan pernah diajak lintas alam waktu SMP ke daerah itu, kali ini banyak penunjuk arah menuju Coban Glotak yang membimbing kita hingga ke lokasi. Ada kesan bahwa Coban Glotak sekarang sudah disiapkan untuk dikunjungi orang. Atau mungkin orang lokal ingin Coban Glotak ditemukan orang.

Akhirnya, setelah mengikuti penunjuk arah dan tanya satu kali ke anak-anak lokal (ketika mulai masuk kawasan tegalan), akhirnya tibalah saya ke titik terakhir. Benarlah: ternyata sekarang Coban Glotak sudah mempunyai semacam pintu gerbang dan loket tiket masuk. Ada beberapa bangunan di tengah tegalan yang seingat saya dulu tidak ada. Ada sebuah pos, kawasan parkir mini (mungkin tidak akan muat lebih dari 20 sepeda motor), sebuah toilet, dan bahkan musholla mini. Untuk parkir dan masuk saya dan anak, saya hanya perlu membayar Rp6000. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30-an, dan anak saya belum makan siang. Saya pun bertanya apakah mereka menjual snack.

“Di bawah nanti ada, Mas,” kata salah seorang petugas parkir.

“Suwun, Pak,” saya separuh tidak percaya. Seingat saya, Coban Glotak dulu ada di tengah hutan dan bukan tempat wisata.

Anak saya berbincang-bincang dengan para petugas parkir yang merokok. Karena merasa kami sudah terlalu jauh dari rumah di Malang, anak saya heran apakah kami masih di Jawa.

“Pak, apa Anda bicara bahasa Jawa?” tanya anak saya.

“Iya, dik. Di sini kita hanya bicara bahasa Jawa dan Inggris,” kata seorang bapak bertopi dan merokok.

“Oh yeah?”  seru anak saya.

“Yes, tapi bisanya cuma ‘I love you’ dan ‘No smoking’ saja,” kata bapak itu sambil tertawa. Asap rokoknya kalang kabut di depan wajah ditendang-tendang tawanya.

“Hahaha… Mungkin bapak ngomong ‘I love smoking’,” kata anak saya sambil ngakak.

Setelah cukup guyonan, akhirnya kami pun mulai menuruni jalan setapak. Di situ terlihat bahwa bangunan yang tadinya saya pikir warung itu ternyata toilet, dijaga beberapa perempuan. Saya dan anak terus berjalan, dan anak saya bilang bahwa sepertinya kami pernah ke situ. Saya tidak pernah ke tempat itu selain dengan Widi belasan tahun yang lalu. Ah, mungkin anak saya ingat waktu saya ajak dia dan istri saya (waktu itu langsung setelah menjemput istri saya dari mengajar) ke Coban Pelangi. Pola jalurnya mirip ini. Ada tempat parkir di pinggir jalan, terus kami menuruni ngarai. Agak mirip ini. Bedanya, jalur menuruni ngarai di lembah pelangi terasa hijau pekat karena sedikitnya sinar matahari. Sementara di Coban Glotak ini, jalurnya hijau terang karena vegetasinya bisa dibilang hanya alang-alang, tegalan dan semak.

Tak berapa lama menuruni ngarai, terlihat lah air terjun di kejauhan, di ujung ngarai. Saya dan anak saya langsung berhenti dan memotret-motret karena takjub.

“Untuk apa kita ke sini?” tanya anak saya.

“Hmm,” saya tidak menyangkan mendapat pertanyaan begitu. “Ya, buat melihat air terjunnya, biar melihat alam, mengenali alam.”

“Tapi, kan, ini bukan Angel’s Falls, air terjun tertinggi di dunia yang ada di Venezuela,” katanya.

“Iya, sih, tapi kan ini yang ada di Malang, di dekat tempat kita,” kata saya, masih bingung. “Dan ini juga bagus, dan ayah yakin pasti ada yang kita pelajari di sana nanti.”

Saya jadi terpikir, mungkin semua orang harus mengalami pertanyaan seperti ini. Kenapa kita harus melihat sesuatu? Kenapa kita pergi ke satu tempat? Kenapa? Apakah hanya karena orang lain juga mengunjungi dan memotretnya? Apakah karena kita juga ingin berpoto di tempat itu? Dan seterusnya.

Tak berapa lama kemudian, saya melihat sebuah gubuk. Di sini saya mulai percaya bahwa pak tukang parkir tadi tidak hanya bercanda. Ternyata gubuk itu adalah sebuah warung yang menjual makanan ringan. Penjaganya seorang ibu. Di sebelah warung, yang lokasinya seperti bagian tebing tanah yang dikorek itu, terdapat teduhan dan beberap bangku dan meja. Ternyata warung ini juga menyediakan kopi dan gorengan hangat. Saya beli Nabati buat anak dan “weci” atau “ote-ote” buat saya. Nabati cuma tiga ribu dan weci seribu sepotong. Warung itu terlihat di bagian di mana kita masih bisa melihat air terjun di kejauhan.

Setelah warung itu, kami melanjutkan perjalanan menuruni ngarai, dan kali ini air terjun sudah tidak lagi terlihat. Dia sudah ada di balik lereng bukit. Sementara itu, karena kami sudah semakin menuruni ngarai, mulailah terdengar gemuruh lirih aliran kali yang berasal dari air terjun itu. Perjalanan semakin terasa seperti hiking yang membahagiakan.

Di sini saya mulai terpikir bahwa ada perbedaan antara tempat hiking di Arkansas dan di Malang. Di Arkansas, tempat-tempat tertentu lebih dikenal sebagai tempat hiking, misalnya “Yellow Rock Trail” atau “Fossil Flat Trail” atau “Lost Valley Trail.” Tapi, kalau kita hiking di sana, di satu titik kita pasti akan menemukan sebuah obyek yang menarik, entah itu air terjun, goa, bebatuan, ladang fosil, atau bahkan air terjun di dalam goa. Nah, kalau di Malang beda lagi, kita akan mengenal tempat-tempat seperti Coban Rais, Coban Talun, Coban Pelangi, Coban Glotak dan sebagainya. Kita mengenal tempat-tempat ini sebagai air terjun, tapi pada kenyataannya untuk mencapai ke air terjun yang dimaksud kita masih harus hikin, kadang lebih dari 1 kilometer. Jadi ya, pada intinya sama saja, baik di Arkansas maupun di Malang, semuanya punya sebuah obyek alam yang bagus yang harus ditempuh dengan hiking.

Sejauh ini kita belum sampai di tujuan, yaitu air terjun Coban Glotak, tapi sayangnya waktu menulis saya sudah habis. Saya mungkin akan melanjutkannya kalau waktu menulis itu datang lagi. Tapi, kalau pun tidak, toh saya sudah gugur kewajiban membahas tentang bagaimana sebuah perjalanan itu idealnya tidak perlu terlalu dihantui oleh ambisi mencapai tujuan, tapi justru menjadi perjalanan itu sendiri sebagai tujuan. Bagi saya, perjalanan menuju Coban Glotak itu sendiri sudah membuat saya menemukan banyak hal, tentang perubahan Coban Glotak dari sebuah air terjun tersembunyi menjadi sebuah “obyek wisata” semi mapan, tentang pertanyaan-pertanyaan yang harus saya jawab tentang kenapa kita pergi ke sebuah obyek wisata, dan tentang perbedaan antara tempat-tempat hiking di Arkansas dan Malang. Tapi, pastinya akan tetap menarik juga kalau saya bisa menambahkan apa yang saya temukan di ujung perjalanan saya menuruni Glotak Canyon ini.

Sementara menunggu, silakan berjalan-jalan.

Dari Mana Datangnya Teri, Dari …

Akhirnya datanglah kesempatan untuk jalan-jalan ke satu lagi tempat baru di Indonesia. Kali ini perjalanannya ke Lombok, berkat kebaikan Transbahasa dan jajaran pimpinannya. Lebih tepatnya, tujuan utama dari kunjungan kali ini adalah Gili Nanggu, sebuah pulau kecil di dekat kawasan Sekotong Barat, Lombok Barat. Saya akan coba menuliskan sebanyak mungkin tentang perjalanan ini, tapi kali ini saya pingin cerita satu hal dulu, tentang “bagar” untuk menjaring ikan teri.

Etape terakhir kami sebelum mencapai pulai Gili Nanggu adalah perjalanan perahu motor dari kawasan Sekotong Barat di dekat Pantai Tawun Berugak. Sebelum menyeberang, ketika selesai urusan tawar-menawar perahu, Kiki dan Ella, anggota rombongan yang berperan sebagai panitia perjalanan, membeli beberapa ekor ikan bakar berekor hijau. Ibu penjualnya menyebut ikan-ikan ini “ikan ayam-ayam.” Kami membeli beberapa ekor untuk makan kami malam itu. Dan kami juga membeli degan, kelapa muda, mungkin dengan harapan melengkapi “adegan pantai” kami.

Selanjutnya rombongan kami naik tiga perahu motor, satu perahu kayu dan dua lagi perahu fiber. Saya naik perahu yang dari kayu, namanya Sunset. Sopir kami adalah pemuda yang usianya saya perkirakan tak lebih dari dua puluh tahun, namanya Rian. Belakangan, Rian mengatakan kepada kami bahwa Sunset adalah satu-satunya perahu kayu milik perusahaan wisata tempatnya bekerja–perahu ini yang paling tua. Tapi, perahu yang paling tua ini dilengkapi dengan mesin Suzuki yang paling muda.

Perjalanan menuju pulau Gili Nanggu memakan waktu kurang lebih 15 menit di atas laut dangkal yang ketika itu gelombangnya tenang. Laut berangsur-angsur meningkat dari biru terang ke biru gelap dan kehijauan. Ketika belum terlalu jauh perahu berjalan, saya memperhatikan semacam konstruksi bambu di atas air. Konstruksi bambu itu sekilas mirip wahana pendaratan di bulan atau Mars. Di puncaknya ada bendera Indonesia, yang dari kejauhan terlihat robek. Sekadar mengingatkan, saya dibesarkan di masyarakat agraris yang sangat tidak akrab dengan kehidupan nelayan dan budaya pesisir. Saya sama sekali tidak tahu apa itu. Untungnya saya sudah membuka perkenalan dengan Rian, sopir perahu kami.

Sependengaran saya, Rian mengatakan bangunan itu bernama “bagar.” Katanya, bangunan itu dipakai untuk mencari ikan-ikan kecil. Kalau hari sudah gelap, jaring yang ada di tengah-tengah bangunan itu akan diturunkan. Dan di atasnya akan dinyalakan lampu besar untuk mengundang ikan-ikan. Esok paginya, jaring akan diangkat dan ikan-ikan kecil pun akan tertangkap.

Bagan Jelas.jpg
“bagar” atau “bagan” menurut sebuah postingan blog

Awalnya, saya mengira ikan-ikan kecil yang dimaksud Rian adalah ikan-ikan semacam pindang, atau istilahnya di Banyuwangi “lemuru.” Mestinya, kalau dibandingkan dengan ikan “ayam-ayam” (atau juga disebut ikan “jago-jago”) yang seukuran lengan bawah saya, ikan pindang pasti terbilang kecil. Tapi, dalam kesempatan lain memakai kapal Sunset, saya berbincang dengan Pak Raili, seorang bapak yang bertugas menemani Rian dalam perjalanan ke pulau-pulau lain dengan rombongan kami. Pak Raili menjelaskan bahwa “bagar” itu dipakai untuk menangkap ikan teri! Ah, ini dia ikan kecil-kecil yang dimaksud. Dan ternyata jauh lebih kecil dari ikan pindang yang ada di pikiran saya.

Dari Pak Raili, saya tahu lebih banyak tentang “bagar.” Ternyata, bagar di Sekotong ini tidak terpancang ke dasar laut. Konstruksi bambu ini mengapung-apung dan hanya distabilkan dengan jangkar. Pada waktu-waktu tertentu, “bagar” akan dipindah ke lokasi lain yang lebih banyak ikannya.

Meskipun bagi saya terlihat besar, ternyata “bagar” di perairan Sekotong ini sebenarnya kecil. Kata Pak Raili, “bagar” di Sumbawa lebih besar. Kalau “bagar” di Sekotong ini biasanya dibuat dengan biaya sebesar 26-30 juta, bagar di Sumbawa bisa membutuhkan biaya pembuatan ratusan juga. Tapi tentu saja dengan hasil yang lebih banyak.

Saya langsung teringat film Didi Petet berjudul Jermal yang saya tonton beberapa tahun lalu. Di situ, karakter yang diperankan Didi Petet tinggal di jermal dan tidak pernah ke darat karena satu masalah di masa lampau. Awalnya si tokoh tinggal sendirian di jermal itu, tapi kemudian dia ditemani seorang anak kecil yang ternyata adalah … (silakan tonton sendiri film tersebut untuk lebih jelasnya). Apakah yang dimaksud Pak Raili dengan “bagar Sumbawa” itu konstruksi sebesar jermal di film Didi Petet itu?

Belakangan, ketika bisa lagi konsultasi dengan Google, saya kesulitan mencari informasi tentang “bagar” untuk menjaring teri. Yang ada justru “bagar ikan hiu,” yang adalah sejenis kuliner. Setelah melebarkan istilah pencarian dan lebar-lebar membuka hati, akhirnya saya temukan bahwa dalam bahasa Indonesia, konstruksi bambu ini disebut “bagan.” Sekarang, saya agak ragu, apakah “bagar” itu istilah wahana ini dalam bahasa Sasak, ataukah waktu itu saya salah dengar (karena dikacaukan oleh kecipak ombak dan deru mesin tempel Suzuki)?. Tapi, apapun namanya, yang jelas saya yang sejak kecil sudah kenal ikan teri ini akhirnya jadi bahagia bisa tahu dari mana asalnya teri.

Dari mana asalnya teri? Dari bagan/”bagar” naik ke botok.

Kasus yang Menjerat Saut Situmorang, Kasus Besar yang Menyangkut Banyak Orang, Kasus yang Tidak Didukung Cukup Banyak Orang, dan Undangan yang Masih Terbuka untuk Menginvestigasi Masalah di Balik Buku-buku Bermasalah

Sejak awal Saut Situmorang ditetapkan sebagai tersangka pencemaran nama Fatin Hamama, saya sudah sangat kecewa karena 1) hukum seperti dijadikan alat untuk membungkam perdebatan dan 2) perkara hukum bisa dimulai di satu titik secara acak. Dan kini, saat hakim menjatuhkan vonis bersalah kepada Saut Situmorang atas pencemaran nama itu, kekecewaan saya pun menjadi formal dan syah dan patut.

Yang terus-menerus membuat kecewa adalah adanya kesan yang kuat bahwa kasus ini seperti kasus pribadi Saut Situmorang. Dari laporan demi laporan di Facebook dan Twitter dan Istagram, sepertinya hanya Saut dan teman-teman Saut yang peduli dengan UU ITE saja yang ikut terlibat dalam kasus ini. Untuk kasus yang diawali oleh protes keras terhadap buku bermasalah dan dianggap pembodohan publik (yaitu buku 33 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sastra Indonesia), yang dianggap sebagai gangguan terhadap sastra Indonesia dan pendidikan sastra Indonesia, yang mestinya menyangkut kepentingan para sastrawan, budayawan, akademisi, dan pembelajar sastra Indonesia, kasus pencemaran nama yang menjerat Saut Situmorang ini tampak sepi. Tak banyak terlihat akademisi yang ikut mendukung Saut Situmorang. Tak banyak terlihat sastrawan mendukung Saut Situmorang. Yang banyak terlihat adalah beberapa sastrawan muda dan aktivis kebebasan berpendapat ikut mendukung Saut.

Oh ya, tentu saja salah akar terbesar dari komentar yang menjerat Saut Situmorang itu adalah buku-buku antologi “puisi esei” yang penyusunannya disinyalir melibatkan Fatin Hamama.

Saya, pembaca sastra Indonesia dan mahasiswa sastra yang sebentar lagi jadi akademisi sastra ini, juga sayangnya tidak ikut berpartisipasi. Waktu, biaya, dan batasan ini-itu tidak memungkinkan saya ikut ke Jakarta dan mendukung Saut Situmorang (biarkan saya ulangi terus nama Saut Situmorang biar saya dan Anda semua ingat nama itu). Tentu ini sangat mengecewakan bagi saya sendiri. Kira-kira apa yang bisa saya dan pendukung Saut lainnya lakukan dari jauh untuk mendukung Saut Situmorang yang terjerat hukum dalam usahanya menyuarakan protes kepada buku yang dianggap pembodohan mengenai sastra Indonesia dan sejarah sastra Indonesia  itu? Apa yang bisa kita lakukan dari Malang sini?

Saya ingat status Mikael Johani pada awal munculnya kasus pencemaran nama ini tentang dibutuhkannya jurnalis investigasi untuk menyingkap apa-apa di balik buku bermasalah 33 Tokoh Paling Berpengaruh dalam Sastra Indonesia dan beberapa buku antologi yang disinyalir melibatkan Fatin Hamama. Iya, kalau memang buku itu yang menjadi biang keladi Saut Situmorang divonis bersalah dengan hukuman 5 bulan plus 10 bulan percobaan itu, saya masih mengharap ada yang melakukan investigasi terhadap buku tersebut. Diperlukan jawaban untuk petanyaan-pertanyaan seperti, misalnya, 1) siapa yang mendanai buku itu? 2) siapa yang pertama kali terpikir memasukkan Denny JA di situ (karena sumber keberatan terbesar adalah munculnya nama Denny JA di sana)? 3) apakah benar Fatin Hamama tidak terlibat dalam hal-hal yang dituduhkan kepada dia?

Budaya “Bullying”: Apakah Kata Tak Ada Artinya?

Dalam perbincangan sehari-hari (dan perbincangan di media sosial sehari-hari), seringkali kita tidak menyadari bahwa ada perbandingan-perbandingan yang sebenarnya jelas tapi terlewatkan. Salah satunya adalah perihal “penyerangan” atau “bullying” atau apa lah istilah lainnya (saya yakin Anda tahu yang saya maksud). Di satu sisi kita sangat peduli dan prihatin melihat kasus-kasus “bullying” di sekolah, tapi di sisi lain kita menganggap enteng istilah bullying itu sendiri. Tidak perlu tedeng aling-aling: sikap semacam itu kontradiktif, dan salah.

Akhir-akhir ini kita anggap prihatin (dan mengungkapkan keprihatinan). Mungkin Anda mengira saya akan bilang ini semua gara-gara medsos yang membuat kita mudah menyampaikan kepedulian lewat “like dan share.” Tidak juga sebenarnya. Lagu Slank “Pacarku Kamu Kok Kampungan” itu kan juga tentang tren pasca reformasi, ketika orang begitu mudahnya jadi ikut-ikutan radikal atau sok peduli. Medsos hanya membuat tendensi latah ini semakin menjadi-jadi.

Dalam kaitannya dengan “bullying,” mayoritas kita di medsos sangat membenci bullying. Kita langsung angkat HP dan tap “like,” terus share, terus komen, plus mengumbar emoji begitu melihat tindakan bullying yang terdokumentasi. Ketika ada anak-anak SD mem-bully teman perempuan di kelas, kita angkat HP. Ketika beberapa siswi SMA menghajar temannya, kita angkat HP. Bahkan ketika bunga-bunga di Gunung Kidul “dibully,” kita angkat HP. Seringkali angkat HP kita berhasil. Ada menteri yang turun tangan atas kasus bullying di sebuah sekolah. Ada kepala sekolah yang menindak murid-murid pelaku bullying. Dan sebagainya. Pendeknya, keprihatinan kita atas bullying ada kalanya membuahkan hasil nyata.

Tapi, di sisi lain kita merayakan apa yang kita sebut “bullying.” Ketika kita ramai-ramai mengkritik seseorang yang berbuat salah, atau mungkin khilaf, kita dan media dengan santai menyebutnya “membully.” Masih ingat ketika seorang mahasiswi menghina Yogyakarta? Ya, kita dan media menyebutnya “X di-bully di Path dan Twitter.” Ketika mantan menkominfo membuat tweet yang tidak sensitif (dengan dalih cuma menginformasikan–padahal menurut saya murni sikap tidak sadar konteks dan mati rasa), kita ramai-ramai “membully” beliaunya. Ketika para remaja itu bersyahrini ria dengan bunga-bunga langka di Gunung Kidul, diberitakanlah “bully-an” kita yang membuat dia bertobat. Apapun jenis kejadiannya, yang kita lakukan adalah “mem-bully” dia, dan media juga seperti merayakan atau mendukung “bully”-an kita yang berhasil.

Di sini sudah terlihat, betapa entengnya kita menggunakan istilah “bully” yang sejatinya punya konotasi negatif merujuk ke tindakan yang bisa menimbulkan trauma berkepanjangan. Saat anak-anak mem-bully temannya kita marah (dan prihatin, bahkan lebih prihatin dari pak SBY). Tapi saat terjadi ketidakadilan, kita bahu-membahu menyelesaikannya dengan “membully.” Ah, kawan, kenapa kita memilih kata “bully” untuk yang beginian? Tidakkah ada kata “protes,” “kritik,” “gugat,” “tentang,” dll?

Anda mungkin mengira saya terlalu sok repot mengurusi kata-kata. Saya sangat mengerti kalau Anda berpandangan begitu. Apalah artinya kata-kata, begitu mungkin menurut sebagian dari kita. Tapi, kawan, kata-kata inilah yang kita gunakan saat berpikir. Saat kita menggunakan kata yang salah dan tidak menyadari asosiasi dari kata-kata yang kita gunakan, kita tahu bisa terjadi perang mulut dan baku hantam. Salah kata bisa berarti salah kaprah dan salah kaprah membuat kita gagal paham. Dan gagal paham (yang terjadi di dalam otak itu) akan lebih berbahaya kalau terwujud dalam kehidupan nyata. Kira-kira begitulah runtutan dialektisnya. Karena salah kata di dunia, terjadilah salah kaprah dan gagal paham di dalam otak. Saat gagal paham yang di dalam otak itu keluar lagi ke dunia, maka akan banyak yang mengalami dampaknya.

Padanannya adalah “budaya perkosaan” atau “rape culture.” Yang dimaksud budaya perkosaan ini adalah, seperti saya bahas di postingan ini, segala tindakan dan ucapan kita yang membuat seolah-olah perkosaan yang terjadi itu wajar yang ringan. Perilaku kita menggunakan kata “bully ini” dan “bully itu” dengan entengnya tidak lain adalah partisipasi kita dalam memupuk dan membina “budaya bullying” di lingkungan kita. Kalau kita bawa ke pola hubungan yang lebih jauh lagi, mungkin kita bisa menghubungkan ini dengan kata “autis,” yang pernah kita gunakan dengan sangat dermawan. Tapi itu agak lain. Kalau itu–

Jadi, kawan-kawan, pertanyaannya adalah: apakah kita mau menyelemati diri kita atas keberhasilan kita memupuk budaya bullying, atau kita siap bertobat?