Bulan Seperempat Awal atau Perbani Awal

Belum lama ini, saat berjalan pulang dari sekolah, anak saya cerita kalau paginya di kelas dia belajar tentang fase bulan. Dia sebutkan beberapa fase bulan, “crescent” (sabit), “gibbous” (bulan bungkuk atau lebih dari separuh), “first quarter” (seperempat awal) dan purnama. Karena penasaran, akhirnya saya carilah sendiri di internet. Ternyata, dalam bahasa Inggris, fase-fase bulan itu sangat baku dan rata-rata orang tahu.

Di bawah ini adalah gambar bulan Seperempat Awal. Memang bulannya separuh, tapi sebenarnya ini menandakan perempat bulan pertama dalam penanggalan komariah (bulan). Bagaimana kita tahu kalau ini seperempat awal, dan bukan seperempat akhir? Sederhana: perkembangan bulan itu berjalan dari sebelah kanan. Bulan sabit tanggal pertama (yg dalam astronomi sebenarnya bukan bulan baru, tapi bulan baru + 1) adalah sabit yg ada di sebelah kanan. Kian hari bagian kanan ini semakin menebal. Pada tanggal 8 bulan komariah, yg kita lihat adalah seperti pada foto ini. Setelah tanggal 15 atau bulan purnama, bagian kanan bulan berangsur-angsur pudar dan akhirnya menyisakan bulan sabit di sebelah kiri pada akhir bulan.

Btw, arah dari kanan ke kirinya seperti cara tulis aksara Arab (dan Ibrani), kan? Apakah ada hubungannya kenapa bangsa Semitik menulis dari sebelah kanan? Entah. Tapi asyik saja hubungannya… 🙂

Bulan seperempat awal
Bulan seperempat awal dipotret dari balkon belakang rumah. Hari ini bulan terbit pukul 12 siang dan tenggelam sekitar tengah malam.
Advertisements

Patung Ben Drew Kimpel

Patung Dada Ben Drew Kimpel, almarhum Profesor Sastra Inggris, di depan gedung Kimpel Hall, di kampus University of Arkansas at Fayetteville.  Gedung Kimpel adalah salah setu gedung utama untuk Fulbright School of Arts and Sciences yang mencakup jurusan Sastra, Seni Rupa, Seni Peran, Sosiologi, Antropologi, Biologi, Matematika, Kimia, Geografi, dan beberapa ilmu turunan lainnya misalnya ilmu politik, hubungan internasional, dll.
Patung Dada Ben Drew Kimpel, almarhum Profesor Sastra Inggris, di depan gedung Kimpel Hall, di kampus University of Arkansas at Fayetteville. Gedung Kimpel adalah salah setu gedung utama untuk Fulbright School of Arts and Sciences yang mencakup jurusan Sastra, Seni Rupa, Seni Peran, Sosiologi, Antropologi, Biologi, Matematika, Kimia, Geografi, dan beberapa ilmu turunan lainnya misalnya ilmu politik, hubungan internasional, dll.

Sekawanan Elk (atau “Elka”) di Kawasan Buffalo National River, Arkansas

Sepulang hiking di Trail Lembah Sesat dua minggu yang lalu, ketika itu matahari baru saja tenggelam, saya melihat mobil-mobil diparkir agak serampangan di kawasan Ponca. Orang-orang mengeluarkan tripod dan teropong, mengamati ilalang. Saya lihat ilalang itu, dan seketika teringat satu siang lima tahun yang lalu: seorang kawan, petualang profesional, menunjukkan kepada saya dan teman-teman sekawanan elk.

Binatang apa elk ini? Mari kita bicara biologi. Elk adalah binatang dari kelas mamalia dari keluarga “cervidae,” seperti halnya rusa, mus, karibu, dan binatang-binatang sejenisnya yang bertanduk cabang-cabang. Kalau dari jauh, orang Jawa yang sudah berabad-abad hidup jauh dari hutan tidak akan bisa membedakannya dengan kijang, atau bahkan kancil. Tapi, kalau kita perhatikan dari dekat, akan tampak perbedaannya, terutama karena ukurannya. Meskipun kijang jantan bisa cukup besar dan bertanduk indah, seperti cabang-cabang pohon, ukurannya tetap tidak sebesar elk. Bisa dibilang, elk ini ukurannya seperti sapi standar, tapi lehernya lebih panjang seperti kijang. Warna tubuhnya juga unik. Warna badannya coklat pucat terang, seperti tanah kering. Tapi kaki, bokong, leher dan kepalanya berwarna coklat gelap, seperti coklat. Tentu pola warna seperti ini tidak asing di dunia satwa, panda dan tapir memiliki pola serupa ini.

Kenapa elk ini terkesan unik di Arkansas? Kelangkaannya. Di kawasan pegunungan Ozark di Arkansas, diperkirakan hanya ada sekitar 200 hingga 300 ekor. Di bulan Oktober, ketika musim berburu dimulai (pertama dengan menggunakan busur dan panah, dan selanjutnya pada bulan November boleh menggunakan senapan), ketika kijang-kijang mulai punya alasan untuk resah, para elk tetap bisa hidup tenang. Elk, di Arkansas, termasuk binatang dilindungi, dan siapa saja yang menembaknya akan berurusan dengan hukum negara bagian. Beda lagi di Colorado, di mana populasi elk cukup tinggi–meski tidak setinggi kijang: orang-orang masih boleh berburu elk dengan sarat-sarat tertentu. Biasanya orang harus membayar 500 dolar untuk ikut lotere berburu elk. Kalau nama mereka terambil saat lotere, mereka boleh masuk hutan dan memburu elk. Tapi kalau nama mereka tidak menang lotere, uang 500 dolar itu hangus.

Pada maghrib dua minggu yang lalu itu, saya tidak bisa melihat dengan jelas kawanan elk di kawasan Ponca tersebut, karena sudah mulai gelap dan mata saya juga tidak secanggih teropong. Tapi saya melihat samar-samar: beberapa ekor elk mulai leyeh-leyeh di alang-alang, baru keluar dari semak-semak. Karena keterbatasan sarana dan prasarana, saya pun tidak bisa mendapatkan gambar yang bagus. Namun, tentu saja saya selalu bisa cari gambar elk dari hard drive, dan ini adalah gambar yang saya ambil pada musim gugur lima tahun yang lalu.

Sekawanan elk di kawasan Ponca, Buffalo National River, Arkansas. Sepertinya binatang ini tidak punya nama Indonesia, tapi demi memuaskan hasrat penerjemahan, saya akan terjemahkan saja jadi "elka." Maka, mari kita ulangi:  "Sekawanan elka di Ponka, Sungai Nasional Kerbau, Arkansas..." Foto diambil pada musim gugur tahun 2009, sepulang kemping dua hari di kawasan Richland Creek Wilderness Area atau Kawasan Rimba Kali Negeri Kaya
Sekawanan elk di kawasan Ponca, Buffalo National River, Arkansas. Sepertinya binatang ini tidak punya nama Indonesia, tapi demi memuaskan hasrat penerjemahan, saya akan terjemahkan saja jadi “elka.” Maka, mari kita ulangi:
“Sekawanan elka di Ponka, Sungai Nasional Kerbau, Arkansas…”
Foto diambil pada musim gugur tahun 2009, sepulang kemping dua hari di kawasan Richland Creek Wilderness Area atau Kawasan Rimba Kali Negeri Kaya

(Fotografi) Para Pengamen Alun-alun Washington, New York City

Berlokasi di kawasan Greenwich Village, tepat di depan New York University, Washington Square atau Alun-alun Washington ini selalu ramai setiap sore, meskipun itu sore akhir musim dingin ketika hawa dingin masih memberi kita alasan untuk mengenakan jaket wool. Selain semua karya seni baik modern maupun klasik yang tersebut di seluruh alun-alun ini, ada satu jenis fitur yang tak kalah beragamnya: pengamen. Berikut ini adalah beberapa jenis pengamen yang ada di Alun-alun Washington, mulai dari yang klasik (permainan piano klasik), hingga yang konvensional (pengamen gitar), hingga pengamen mainan (pembuat balon raksasa), hingga pengamen re-interpretasi (pembuat mandala atau lukisan pasir).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Mandala kontemporer a la Alun-alun Washington bersama ember (kanan atas) yang menanti kebaikan hati penonton.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Pelukis Mandala yang Bersangkutan
Mengamen sambil melibatkan anak-anak.
Mengamen sambil melibatkan anak-anak.
Mengamen secara konvensional.
Mengamen secara konvensional.
Mengamen dengan piano agung. Sekalian.
Mengamen dengan piano agung. Sekalian.
Mengamen tarian mendayu-dayu.
Mengamen tarian mendayu-dayu.

Kontradiksi Negara Aa’ Syam: Keselamatan Anak-anak

Bus sekolah dengan marka portabel bertuliskan "STOP." Ketika bus berhenti, marka portabel terbuka, membuat kendaraan bahkan dari arah berlawanan juga ikut berhenti.
Bus sekolah dengan marka portabel bertuliskan “STOP.” Ketika bus berhenti, marka portabel terbuka, membuat kendaraan bahkan dari arah berlawanan juga ikut berhenti.

Di antara sejumlah kontradiksi di Amerika ini, yang paling bikin gregetan adalah perhatian mereka kepada anak-anak. Di satu sisi kita bisa melihat perhatian terhadap keselamatan jiwa dan raga anak-anak sementara di sisi lain tidak ada upaya keras untuk mencegah kecelakaan yang bisa merenggut jiwa anak-anak.

Foto di atas menunjukkan bagaimana peraturan lalu lintas bisa dimodifikasi demi keselamatan anak-anak. Bus sekolah warna kuning itu memiliki sebuah marka portabel bertuliskan “STOP” yang biasanya terlipat tapi kemudian membuka saat bis berhenti dan menurunkan atau menaikkan penumpang. Saat marka terbuka, mobil-mobil dari arah yang berlawanan harus berhenti, sehingga anak-anak yang menyeberang jalan setelah turun atau saat akan naik bus bisa menyeberang dengan aman, selamat dan leluasa.

Perhatian terhadap keselamatan anak-anak sangat tampak di dalam lingkungan sekolah, baik itu dalam hal kesehatan maupun keselamatan. Dalam hal kesehatan, sekolah memberlakukan kebijakan yang sangat tegas terkait alergi. Banyak anak di Amerika Serikat yang alergi kacang-kacangan. Konon, ada yang alerginya sangat parah sampai-sampai menyentuh makanan berbahan kacang pun bisa memicu alerginya. Dampaknya adalah orang tua mendapat surat dari sekolah untuk tidak membekali anak-anak mereka dengan makanan berbahan kacang, karena dikuatirkan anak-anak bisa berbagi makanan dengan teman-temannya yang ternyata alergi. Oh ya, membawa bekal sangat lazim di sini karena di lingkungan sekolah tidak ada pedagang kudapan dan kaki lima–yang ada hanya kantin yang menyediakan makanan (gratis bagi keluarga yang berpendapatan rendah).

Dalam hal keselamatan, perhatian yang luar biasa terhadap persoalan premanisme (atau “bullying”) dan penculikan. Kalau seorang anak merasa diancam temannya, dia bisa dengan mudah melaporkannya kepada gurunya dan si guru bisa langsung mengambil tindakan serius. Termasuk dalam hal keselamatan ini adalah ketatnya kebijakan sekolah terhadap pemotretan. Kita tidak boleh memotret-motret sesukanya di sekolah ketika ada anak kecil karena untuk memotret anak kecil dibutuhkan izin tertulis dari orang tuanya. Orang tua kuatir kalau foto-foto anak-anak tersebut dimanfaatkan untuk penculikan atau untuk kejahatan-kejahatan keji lainnya seperti kejahatan seksual terhadap anak-anak.

Bagi orang-orang yang memiliki anak usia sekolah, hal-hal seperti ini ini membuat mereka tenteram. Namun, tidak semudah itu kita merasa tenteram di Amerika ini. Ada satu kengerian tersendiri terkait keselamatan anak-anak di sekolah. Dan kengerian yang satu ini belum diatasi secara signifikan: ancaman penembakan di sekolah.

Kita sudah sering mendengar tentang penambakan di sekolah (bahkan sekolah dasar) tapi pemerintah belum mengambil tindakan tegas yang bisa secara signifikan mencegah berulangnya musibah semacam ini. Hingga saat ini, belum ada larangan keras kepemilikan senjata api. Dari berbagai kejadian, memang penembakan biasanya dilakukan oleh orang-orang yang terganggu kesehatan jiwanya. Betul. Tapi, kejadian-kejadian seperti ini tidak akan terjadi bila di dalam rumah orang-orang yang terganggu kesehatan jiwanya itu tidak ada senjata api yang sebenarnya adalah milik anggota keluarga yang lain. Banyak aktivis yang menginginkan dilakukan pelarangan kepemilikan senjata api ini–dan protes-protes semacam ini terdengar lantang apalagi setelah terjadi musibah-musibah penembakan seperti yang terjadi di Sekolah Dasar Sandy Hooks tahun lalu. Sayang sekali, sampai saat ini belum ada tindakan pengetatan kepemilikan senjata api, dan banyak senjata api berkeliaran. Semua ini kabarnya dikarenakan kuatnya lobi NRA (Asosiasi Senjata Api Nasional) di lingkaran pemerintahan.

Polisi Naik Mobil Klab Patroli Trail Sepeda/Jogging

Pak polisi masuk trail sepeda/jogging naik mobil klab. Sayangnya saya nggak sempat ngajak ngobrol. Tahunya kalau polisi jg waktu sdh dekat. Sebelumnya cuman terpesona, "Kok ada kendaraan masuk ke trail, ya?" Sebelumnya, satu-satunya kendaraan bermotor yang pernah saya lihat masuk trail adalah sepeda motor Harley-nya polisi patroli yg mirip CHIPs itu.
Pak polisi masuk trail sepeda/jogging naik mobil klab. Sayangnya saya nggak sempat ngajak ngobrol. Tahunya kalau polisi jg waktu sdh dekat. Sebelumnya cuman terpesona, “Kok ada kendaraan masuk ke trail, ya?” Sebelumnya, satu-satunya kendaraan bermotor yang pernah saya lihat masuk trail adalah sepeda motor Harley-nya polisi patroli yg mirip CHIPs itu. Mestinya, mobil klab ini hanya untuk memastikan bahwa segalanya baik-baik saja. Saya bayangkan, kalau terjadi tindak kejahatan, pasti polisinya nggak bisa ngejar, apalagi kalau penjahatnya naik sepeda balap. 🙂 Tapi, semoga saja yg begituan tidak akan pernah terjadi. 

Festival Jumat Pertama di Ibukota Walmart

Musim panas adalah waktunya segala kegiatan yang bersifat senang-senang, happy-happy. Banyak kota di Amerika Serikat mengadakan acara-acara khusus selama musim panas. Di kota saya, Fayetteville, kami punya pesta Kamis Pertama dan Konser Kamis. Di kota tetangga, Bentonville, kota yang juga yang merupakan markas besar gurita swalayan Walmart, ada pesta Jumat Pertama (yang tentu saja diadakan setiap hari Jumat pertama tiap bulannya, selama musim panas).

Seperti biasa, saya berkesempatan menghadiri pesta ini terkait pekerjaan saya. Kali ini saya mengantarkan guru-guru bahasa Inggris dari Meksiko dan Iraq yang mengikuti lokakarya selama sebulan di tempat kerja saya. Berikut fotonya:

Nyanyi lagunya Katy Parry
Nyanyi lagunya Katy Parry
Menyalurkan hasrat menabrak-nabrak.
Menyalurkan hasrat menabrak-nabrak.
Konser musisi anak-anak
Konser musisi anak-anak
Percaya kemampuan diri...
Percaya kemampuan diri…
Bola tak jauh jauh dari keranjangnya.
Bola tak jauh jauh dari keranjangnya.
Ada Mark Twain berkeliaran meninggalkan sejarah
Ada Mark Twain berkeliaran meninggalkan sejarah
Warisan Pra-Perang Sipil
Warisan Pra-Perang Sipil
Melenting-lenting, semacam berkaitan hasrat manusia bisa terbang.
Melenting-lenting, semacam berkaitan hasrat manusia bisa terbang.

(Review) Kampung Boy – LAT – The Story of Rural Malay Childhood

Without a doubt, Kampung Boy is a masterpiece comic/cartoon/illustrated book by the legendary Malaysian cartoonist LAT, the pen name of Datuk Muhammad Nor Khalid. Originally published in Malaysia in 1979, this book reminds me of the animated TV series Ipin & Upin which reached its peak of popularity around 2008, at least in Indonesia. I have to apologize for this reverse reference. We can probably even say that Ipin & Upin was inspired by this simple Malay life as portrait in Kampung Boy.

The book, framed as a memoir of rural childhood, presents a typical series of events in the life of a Malay Muslim young boy. It starts with the story of the boy’s birth in the hand of his own grandmother, who is an official kampong midwife with its subsequent rituals, such as the shaving ceremony. As the boy grows a bit older, his father sends him to learn to read the Koran at the house of the kampong Koran teacher. Also important (even across the strait among the non-Malay Indonesian) is the circumcision ceremony.

What we definitely cannot miss is the fact that there is the tin mining company and its operation near the kampong of our main character. While LAT doesn’t give any negative or positive comments on the mining company, we can easily see that the company’s expanding operation is a threat to the simple kampong life. The book ends with a grim note of the boy’s fear for no longer having a kampong to return to if the company really finds tin in his kampong.

I really want to comment on the humor and the details of the illustrations, but I’m not sure I’m ready to share it at the moment. This book is for sure strong with giggle-inducing illustration and shockingly honest details (details that don’t otherwise get presented verbally). There are also a number of tongue-in-cheek presentations of incidents in the character’s childhood that still stay in my head.

Without further due, let me drop a page from the book here:

The cost of education
The cost of education

Kampanye Anti-Pemerkosaan Terselubung

Beberapa waktu yang lalu, saat masih jadi aktivis instagram, saya beberapa kali memposting gambar gambar meme tentang anti-kekerasan seksual atau anti pemerkosaan. Gambar-gambar meme itu saya dapat dari print out meme di meja-meja di sekitar kampus. Ada sebuah unit di kampus (bagian dari Pusat Kesehatan Kampus) yang melakukan kampanye yang tujuannya adalah untuk membuat orang awas bahwa di sekitar kita banyak terjadi tindak pemerkosaan yang seolah-olah bukan pemerkosaan.

Inilah salah satu dari meme itu:

Menurut meme ini, siapa saja yang mencekoki perempuan dengan miras (seperti vodka yang disimpan di sebuah kamar kost di kawasan Depok) dengan tujuan agar dia akhirnya mau diajak tidur, maka dia layak disebut pemerkosa.
Menurut meme ini, barang siapa yang berhubungan seks dengan perempuan yang sedang tidak sadarkan diri (karena mabuk, misalnya) layak disebut pemerkosa. Terlebih lagi kalau dia (si laki-laki) yang mencekoki si perempuan dengan miras (seperti disinyalir terjadi di sebuah rumah kost di kawasan Depok, ketika seorang lelaki memaksa seorang gadis minum vodka yang sudah dioplos dengan “kebudayaan”).

Nah, masih berkaitan dengan kampanye kewaspadaan kekerasan seksual itu, minggu lalu ada kampanye serupa yang kali ini dalam format seni instalasi yang bertema “barang bukti” dari tindak pemerkosaan itu, yaitu baju yang dikenakan oleh korban pemerkosaan saat terjadi pemerkosaan tersebut. Baju-baju ini diilhami baju yang dipakai para penyintas tindak perkosaan (btw, “penyintas” adalah “korban selamat” atau “survivor” :D).

Hingga saat ini, kita masih saja mendengar orang yang menunjuk korban sebagai pihak yang turut menyebabkan pemerkosaan. Orang-orang seperti ini biasanya menyalahkan baju yang seronok atau sikap genit perempuan sebagai tindakan yang memancing “setan di otak [laki-laki]” (meminjam istilahnya Krisyanto Jamrud). Pameran kampanye anti pemerkosaan minggu lalu menurut saya tanpa sadar mematahkan tuduhan tak punya hati (bahwa perempuan sendiri ikut menyumbang penyebab perkosaan) itu. Yang namanya laki-laki bejat, apapun baju yang dipakai seseorang bisa saja memancing hasrat memperkosanya untuk bangkit. Silakan lihat foto berikut:

Pamflet Utama
Pamflet Utama

Oh ya, organisasi ini mendefinisikan pemerkosaan sebagai hubungan seksual yang tidak diawali dengan keinginan kedua belah pihak. Hubungan pemerkosaan ini mencakup mencekoki korban dengan miras, merayu dengan memaksa-maksa dan merangsang tanpa dikehendaki.

Kalau sudah begini, saya jadi ingat pesan Bang Napi yang sudah dimodifikasi: Perkosaan bukan terjadi hanya karena NIAT pelakunya, tapi juga KEBEJATAN si pelaku!

Berikut ini lebih banyak lagi foto:

Pengakuan lagi
Rok hitam dan sweater merah. Semuanya milih teman kostku; aku meminjamnya buat nge-date. Aku excited, soalnya aku suka banget cowok itu. Aku pikir dia baik. Tapi waktu aku bilang jangan buru-buru dan menangis/teriak, dia tidak mau berhenti.
Baju yang dimaksud
Baju yang dimaksud
Salah satu pengakuan penyintas.
“Pakai celana hangat, dan baju Arkansas dan topi bisbol. Kami rencananya mau nongkrong seperti biasa, minum-minum dan nonton film. Aku minum terlalu banyak dan waktu tersadar dia sudah menindihku.”

Yang di tengah itu baju yang dimaksud:

Baju-baju penyintas tindak pemerkosaan.
Baju-baju penyintas tindak pemerkosaan.

Kalau tertarik lebih tahu tentang unit ini, silakan klik di sini.

P.S. Saya kemarin duduk-duduk di sebuah pantry, eh ternyata di dinding masih ada gambar dari salah satu meme yang disebar di seluruh kampus. Ini dia:

Oh, jadi Anda capek dengar saya ngoceh soal "budaya pemerkosaan"? Oke, kalau bgt tolong yakinkan saya bahwa kekerasan seksual itu sudah tidak ada lagi...
Oh, jadi Anda capek dengar saya ngoceh soal “budaya pemerkosaan”? Oke, kalau bgt tolong yakinkan saya bahwa kekerasan seksual itu sudah tidak ada lagi…

Potret Seekor Burung sebagai Pemudik

American Robin adalah sejenis “burung migran” karena kecenderungannya untuk bermigrasi (dari Amerika Utara) ke Selatan, ke kawasan yang musim dinginnya cenderung lebih hangat seperti Florida, atau bahkan sampai Meksiko (tentu dia bisa menyeberangi Rio Grande, perbatasan Amerika dan Meksiko, dengan sebebas-bebasnya tanpa visa, bahkan tanpa paspor). Migrasi ke selatan ini biasanya terjadi pada pertengahan atau bahkan awal musim gugur (mulai Agustus). Saat suhu mulai menghangat, sekitar bulan Februari atau Maret, burung-burung ini kembali hadir di kawasan Amerika Utara.

Barang di bawah ini, saya namakan Robin, baru saja mudik ke kawasan Fayetteville, setelah–saya sinyalir–bermigrasi ke Meksiko.

Dia bersedia difoto, tapi langsung menoleh begitu saya meminta izin mewawancarainya
Dia bersedia difoto, tapi langsung menoleh begitu saya meminta izin mewawancarainya