Brown Thrasher

Seperti di musim semi tahun-tahun lainnya, burung-burung mulai lagi berdatangan dari selatan. Mereka tahu hari-hari banyak sekali makanan di sini. Dalam kesempatan kali ini, saya tampilkan “brown thrasher.” Burung ini adalah maskot negara bagian Georgia. Tapi, yang namanya burung, biar pun sudah diangkat menjadi burung resmi negara bagian Georgia, tidak ada yang membatasinya untuk main sampai ke Arkansas. Maka, silakan menyimak gambar berikut ini: burung resmi negara bagian Georgia yang sedang main ke Amerika Sebelah Sini, negara bagian Arkansas.

Brown thrasher di dahan yang belum berdaun
Brown thrasher di dahan yang belum berdaun
Advertisements

Postingan Cagar Eksistensi

Kalau beberapa waktu yang lalu saya memposting foto-foto dari cagar alam, kali ini saya hanya ingin memposting foto-foto untuk tujuan cagar eksistensi. Dengan kata lain, postingan yang dibuat hanya biar kelihatan eksis di blog ini. Dengan kata lain, sedang tidak ada waktu untuk menulis yang penting-penting…

Baiklah, di bawah ini ada tiga foto butir-butir salju yang saya ambil semingguan yang lalu dan setahunan yang  lalu. Seperti Anda lihat, air adalah senyawa yang ganjil dan kelakuannya ganjil saat terpapar pada suhu dingin. Butir-butir salju ini berukuran sangat kecil, kirang dari 5 mm (sebenarnya, istilah “butir” sendiri kurang pas karena bentuknya tidak seperti butiran, bundaran, atau sejenisnya). Saya kebetulan bisa memotretnya dengan kamera HP yang diberi tempelan lensa makro. Kalau saya punya kamera yang lebih bagus, pasti saya berikan hasil gambarnya ke Anda.

Dulu, dulu, dulu, ketika masih suka nonton film kartun Jepang atau baca komik Jepang (termasuk Candy-Candy :D), saya mesti heran kenapa ketika musim salju selalu ada gambar bentuk-bentuk ganjil seperti ini. Pikir saya waktu itu, “Bukannya salju itu bentuknya seperti bola-bola kapuk, seperti yang terlihat di film-film barat atau film Oshin dulu?” Eh, ternyata, di musim dingin pertama saya di negara Aa’ Sam, saya melihat sendiri, ketika terjadi gerimis salju tipis, bahwa salju itu bentuknya memang ganjil. Dan menurut hasil googling, bentuk butiran salju itu berbeda-beda tergantung suhunya. Selama ini, saya baru tahu dua jenis bentuk butiran salju, yang seperti di bawah ini dan yang persegi delapan.

Oke, saya sudahi dulu ocehan cagar eksistensi ini. Silakan menikmati gambar yang renik-renik ini…

Snow Flakes
butiran salju di atas kayu
WP_20160110_09_13_57_Pro
butiran salju menunggu hangat, yang menjadikannya tiada.
WP_20160110_10_01_09_Pro (2)
butiran salju, seolah mengambang di antara ada dan tiada, pret!

(Laporan Studi Banding) Cagar Ilalang Nasional di Negara Bagian Bumiputera, Oklahoma

Kali ini, saya ingin berbagi foto-foto yang saya ambil dua minggu lalu dari cagar alam Tallgrass Prairie National Preserve di Pawhuska, negara bagian Oklahoma. Cagar alam ini adalah salah satu benteng terakhir untuk memelihara ekosistem padang ilalang atau bahasa Inggrisnya “tallgrass prairie.” Saya tidak banyak waktu untuk menuliskan ceritanya, tapi kalau Anda ingin tahu signifikansi dari cagar alam ini, saya persilakan baca plat di tugu di bawah ini. Semoga foto-foto ini dan sedikit caption yang menyertai bisa cukup bercerita.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Tugu informasi kawasan cagar ekosistem ilalang milik negara.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Informasi lebih mendetail tentang cagar alam ini.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalan tanah membelah dataran raya

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Hanya ilalang, bison, kijang, dan semak-semak di kejauhan. Anda lihat, ilalangnya tampak berkilauan bukan? Itu sama sekali bukan efek editor foto, tapi asli karena ilalangnya terbungkus es. Lebih jelasnya, lihat gambar di bawah.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ilalang terbungkus es. Biasanya terjadi saat hujan turun di tengah hawa yang dinginnya jauh di bawah titik beku, sehingga air yang menempel di benda-benda segera berubah menjadi es yang semakin menebal seiring hujan atau gerimis yang tak kunjung berhenti.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Terlihat bison di pinggir jalan beku. Tanah masih tertutup serbuk es sejak badai musim dingin beberapa hari sebelumnya. Saat mengambil foto ini, saya bayangkan seperti melihat lokasi yang dijadikan foto “Bliss” untuk wallpaper Windows XP itu, tapi yang ini versi musim dingin, rumputnya coklat, ditambah bison (dan pantat bison), ditambah tiang listrik dan kabelnya.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Jalanan beku dengan jejak truk segala medan terlihat jelas.

 

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Nah, kalau ini tempat pengembalaan sapi tepat di luar pagar cagar alam. Secara umum kawasan ini sebenarnya masih sama dengan cagar alam, tapi tentu saja ini sudah tidak alami lagi. Rumputnya bukan lagi ilalang asli. Biasanya, setiap musim panas rumputnya juga dipanen untuk dijadikan gulungan jerami yang bisa dinikmati pada musim dingin, saat pertumbuhan tanaman sangat lambat, atau bahkan terhenti.  Lihatlah betapa penasarannya sapi-sapi itu melihat orang iseng yang berhenti sejenak di pinggir jalan…

 

Pakan Burung, Musim Dingin, dan Fotografi

Beberapa hari lagi musim dingin resmi dimulai, dan musim dingin adalah saat-saat yang berat bagi margasatwa, terutama burung. Pepohonan sudah pada meranggas dan biji-bijian di pohon sudah habis. Burung-burung yang makanannya cacing biasanya bermigrasi ke kawasan selatan. Saya tahu soal migrasi burung-burung pemakan cacing ini karena di teras depan dan balkon rumah saya setiap tahun ada sekeluarga burung “european starling” mulai awal musim semi hingga akhir musim gugur. Saya pernah beberapa kali memotret kepala keluarga burung itu sedang melongok keluar, dan bahkan pernah memvideokan ketika mereka lari ke lapangan belakang rumah dan mengambil cacing buat anak-anaknya (saya yakin dan memang memastikan bahwa itu burung yang tinggal di teras saya berkat kamera pinjaman dari kampus yang dilengkapi dengan 60x optical zoom :D). Tentu burung-burung ini harus bermigrasi ke tempat lain karena di musim dingin cacing masuk lebih jauh ke dalam tanah, dan burung-burung itu tidak bisa dengan mudah cari makanan. Akhirnya, mereka pun pergi ke Texas atau Mexico di musim dingin. Ini dia videonya:

Tapi, berbeda halnya dengan burung-burung yang makannya biji-bijian. Mereka masih nekad saja tinggal di sini, meskipun makanan dan minuman tidak mudah. Beberapa tahun lalu, istri saya mendengar dari seseorang (atau mungkin dari membaca di mana) bahwa ada baiknya kita menyediakan baskom di halaman belakang pada saat musim dingin. Itu akan membantu burun-burung ini mendapatkan air. Tentu saja bantuan seperti itu tidak akan banyak membantu. Burung-burung ini sudah hidup dan berhasil melewati musim dingin jutaan tahun sebelum manusia ada. Tapi, niat baik dan kebaikan manusia toh tidak pernah ada salahnya dan selalu ada harganya.

Mungkin inisiatif istri saya itu yang akhirnya membuat saya tergerak memasang pakan burung di balkon belakang sejak dua tiga tahun yang lalu. Saya tidak ingat pastinya. Mungkin juga karena saya melihat orang-orang mengunggah potret burung di halaman belakang mereka di situs-situs fotography. Saya tidak yakin. Mungkin juga karena saya tertarik melihat pakan burung dikunjungi burung-burung di rumah seorang kawan saya. Mungkin. Inilah masalahnya kalau kita tidak punya diari. Kita jadi lupa hal-hal kecil yang terjadi dalam hidup kita. Yang pasti, setelah memotret-motret burung di taman dan di kampus, tahu-tahu saya sudah mulai mengunggah potret burung-burung dari balkon belakang rumah saja. Mungkin saya memasang pakan burung karena alasan yang sangat pragmatis: ingin memotret burung dari dekat dan dengan mudah, di sela-sela mencuci piring. 🙂

Beberapa minggu yang lalu, saya main ke rumah seorang kawan yang punya halaman rumput cukup luas. Di halaman rumput itu dia punya banyak tempat pakan burung yang ketika itu tidak ada isinya. Saya tanya si suami, orang Amerika, dia bilang:

“T melarang aku kasih pakan lagi,” katanya tentang larangan dari T, istrinya, seorang perempuan Indonesia asal Solo. “Dia benci lihat kotoran burung di mana-mana. Hahaha.”

“Hmm,” respon saya. “Boleh nggak saya ambil satu wadah pakannya?” Begitu tanya saya, yang pada dasarnya sangat pragmatis ini. Lagipulua, ada lebih dari lima tempat pakan burung di halamannya.

“Boleh saja,” katanya. “Daripada tidak dipakai.”

Terus dia berteriak ke istrinya bahwa saya mau ambil salah satu wadah pakan burungnya. Dan istrinya dengan sukacita menyetujui. Bahkan, dia menawarkan memberi saya satu kantong pakan burung yang berisi biji-bijian–termasuk biji bunga matahari kegemaran Hamtaro. Dengan berat hati saya harus menolaknya, karena di rumah saya sendiri masih punya sekitar satu kulo biji-bijian pakan burung yang saya beli dua tahun yang lalu dan belum juga habis (karena hanya saya pakai pada musim semi dan awal musim panas).

Maka, inilah tempat pakan burung itu. Saya mulai memasangnya beberapa hari yang lalu. Kali ini saya pasang menggantung di luar balkon agar burungnya tidak sampai nelek, atau–maaf–buang hajat di balkon saya. 🙂 Sungguh, ada kebahagiaan luar biasa ketika burung-burung mulai mengenali bahwa barang yang menggantung di balkon itu adalah tempat pakan burung dan mulai mengunjunginya secara teratur. Sementara ini, saya sudah lihat kunjungan dari burung prenjak (bahasa lokalnya “house finch”) dan kardinal. Sayang kardinalnya menjauh saat saya mau memotret tadi sore.

Btw, kalau Anda suka burung dan ingin tahu burung-burung apa saja yang lazim ditemui di halaman belakang di Amerika Sebelah Sini, silakan unduh buku elektronik yang diterbitkan Dinas Pertanian Amerika Sebelah Sini ini.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Prenjak atau istilah Amriknya “house finch”
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kardinal jantan di semak-semak yang meranggas di belakang rumah. Dia tidak bisa sembunyi dari bidikan kamera.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Kardinal betina, beberapa saat setelah si jantang beranjak pergi.
Kardinal jantan (mungkin burung yang sama dengan yang di atas) berlatar salju pada musim dingin yang lalu
Kardinal jantan (mungkin burung yang sama dengan yang di atas) berlatar salju pada musim dingin yang lalu

10 Dzulhijjah 1436H

Sejak beberapa waktu yang lalu, para pengelana blogaraya yang kesasar ke blog ini mungkin memperhatikan bahwa saya punya kegemaran sampingan memotret bulan. Pendeknya, saya tertarik memperhatikan bagaimana wajah bulan berangsur-angsur berubah dari hari ke hari. Kalau kita perhatikan dengan seksama, sungguh masuk akal juga orang-orang menggunakan bulan untuk membantu penanggalan. Di antara benda-benda langit, bulan adalah yang paling tampak jelas perubahannya, dan sangat sistematis. Saya bahkan berani berargumen bahwa setiap orang, tak terkecuali ideologi maupun pendidikannya, harus bisa membaca bulan untuk tujuan mengenali waktu. Siapa tahu–amit-amit–terjadi kiamat zombie dan semua ponsel pintar kehabisan daya dan semua tanggalan habis disobek dan dimakan zombie… bagaimana kita bisa tahu kapan saatnya gajian kalau tidak bisa membaca bulan untuk menunjukkan sekarang tanggal berapa?

Nah, dalam postingan ini, saya ingin membagi potret bulan yang saya ambil beberapa saat sebelum matahai tenggelam pada petang sebelum hari raya Idul Adha. Untuk kemudahan penjudulan, sebut saja ini bulan tanggal 10 Dzulhijjah 1436H.

Bulan malam menjelang Idul Adha
Bulan malam menjelang Idul Adha

Sepilihan Foto Musim Semi di Arkansas

Baiklah, saudara-saudara. Beberapa waktu yang lalu saya posting tentang betapa masih enggannya saya menuliskan tentang kegiatan keluar-masuk hutan dan naik-turun gunung bersama keluarga. Ya, saya masih enggan melakukan semua itu. Entah kenapa. Mungkin saya capek, mungkin saya memang masih resah memikirkan hakikat dari kegiatan olahraga dan rekreasi. Kedua kemungkinan itu memang ada. Tapi, kali ini, saya ingin sedikit memecah keresahan itu dengan memposting sejumlah foto yang saya ambil dari sejumlah kegiatan olahraga dan rekreasi saya selama awal hingga akhir musim semi, tepat sebelum musim panas, ketika hawa terlalu gerah dan kebetulan juga sedang banyak kegiatan terkait pekerjaan dan sekaligus bertepatan dengan ramadhan.

Memang judul postingan ini sepilihan foto musim semi di Arkansas, tapi tidak semua foto ini diambil di Arkansas. Dua foto pertama saya ambil di Maxwell Wildlife Refuge yang lokasinya di negara bagian Kansas. Tapi, karena saya mengambilnya pada awal musim semi, maka sekaian saja saya sertakan di sini. Untuk foto-foto yang lain, sebagian saya ambil di kawasan kota Fayetteville, Arkansas, dan sebagian lainnya di tempat-tempat hiking di sekitaran Fayetteville. Semoga ada kesempatan untuk menuliskan postingan-postingan yang cukup berguna tentang tempat-tempat yang saya potret di sini.

Selamat menikmati…

100_3740
Bison di Maxwell Wildlife Refuge
100_3730
Padang bermalas-malasan para bison di Maxwell Wildlife Refuge di Kansas
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Ketika orang-orang sudah mulai bersepeda dengan santai. Foto diambil di sebuah terowongan yang memungkin jalur sepeda/olahraga menyeberang jalan tol.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Patung “Courage to Lead” berlatarkan warna-warni musim semi di sebuah pagi.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Gedung Old Main, gedung tertua di kampus University of Arkansas di sebuah sore, di tengah-tengah rimbun dedaunan akhir musim semi dan berlatar perbukitan Ozark.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Perbukitan Ozark di kawasan selatan kota Fayetteville dibelah jalan raya Interstate 49 ke arah Selatan.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Serangga Mayfly yang baru saja bermetamorfosa, menjadi serangga bersayap yang siap hidup di luar air, setelah menghabiskan lebih kurang setahun sebagai larva yang tinggal di dalam air. Masa hidup serangga ini dalam fase luar air ini hanya beberapa hari saja (terkadang malah cuma satu hari).
Siang Semi-1
Kabut tebal di sebuah pagi awal musim semi.
Siang Semi-3
Kabut pagi awal musim semi di sebuah taman bermain kanak-kanak.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Formasi batuan di sebuah jalur hiking Tanyard Creek Nature Trail yang dijaga kealamiahannya di tengah-tengah kawasan pemukiman elit pensiunan.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Masih dari keelokan alam bernama Tanyard Creek Nature Trail yang berlokasi di tengah-tengah kawasan pemukiman elit yang masih dijaga kelestariannya.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Berolahraga air di danau buatan Windsor yang dikelola oleh pengembang kawasan kota kecil elit para pensiunan, Bella Vista.
OLYMPUS DIGITAL CAMERA
Salah satu sudut di jalur hiking pendek War Eagle Trail di kawasan Withrow Springs State Park. Di sebagian titik jalur pendakian terasa sangat ekstrim dan cantik, yang memungkinkan kita melihat ke arah sungai dangkal War Eagle Creek jauh di bawah sana…
Gua War Eagle, yang beberapa tahun ini terakhir demi menjaga agar para kelelawar tidak tertular wabah hidung putih, sebuah wabah penyakit kelelawar yang banyak menjangkiti (dan mengurangi populasi) kelelawar di kawasan Amerika utara sejak tahun 2011. Manusia dilarang masuk gua karena wabah itu ditularkan oleh manusia.
Gua War Eagle, yang beberapa tahun terakhir ini ditutup demi menjaga agar para kelelawar tidak tertular wabah hidung putih, sebuah wabah penyakit kelelawar yang banyak menjangkiti (dan mengurangi populasi) kelelawar di kawasan Amerika utara sejak tahun 2011. Gua ini ditutup untuk manusia karena, ya, wabah itu ditularkan oleh manusia. Anda tidak salah baca.

Purnama Tanggal 14 (plus Bonus)

Akhirnya, tibalah saatnya menampilkan foto purnama tanggal 14. Seperti Anda lihat, purnama terlihat sempurna bahkan sejak sore hari. Foto pertama saya ambil sekitar pukul 7.15 sore (seperti saya bilang di salah satu postingan sebelumnya, matahari tenggelam sekitar pukul 8 lebih sedikit hari-hari ini belahan bumi sebelah saya ini).

Saya masih harus memastikan nanti malam apakah purnama tanggal 14 itu berbeda dengan purnama tanggal 15. Mestinya, kalau saya ingin, tinggal google saja dan kita akan temukan jawabannya. Tapi ya… kita bayangkan saja kita ini orang yang mengamati bulan untuk pertama kalinya. Jadi, pengetahuan kita pun kita peroleh dengan sedikit demi sedikit. 🙂

Menurut kecurigaan awal saya, beginilah bedanya purnama tanggal 14 berbeda dengan tanggal 15: pada purnama tanggal 14, ada sedikit sekali bagian kiri bulan yang masih agak-agak gelap. Belum seluruh wajah bulan yang menghadap ke bumi mendapatkan sinar matahari. Saya curiga, pada tanggal 15, ada satu bagian di sebelah kanan bulan yang sudah agak-agak gelap, seperti proses menuju “waning gibbous” sudah berjalan.

Untuk bonus pertemuan kali ini, saya akan memperkenalkan dua fitur bulan yang saat ini mungkin sudah akrab bagi Anda sekalian: satu kawah besar di sebelah kanan (bagian yang warnanya terang) dan satu bercah putih terang di sebelah kiri (di bagian yang gelap, yang katanya orang Jawa mirip orang sedang tahiyat akhir :D). Kawah besar di bagian terang itu bernama Tycho dan kawah putih di bagian yang gelap itu dinamai Kopernikus.

Purnama tanggal 14 dengan bonus nama dua kawah besar.
Purnama tanggal 14 dengan bonus nama dua kawah besar.
Ah, purnama sore di atas daun-daun...
Ah, purnama sore di atas daun-daun…

Sabit Awal Bulan Rajab

Sebagaimana pernah saya blogkan beberapa bulan berselang, sabit awal bulan ditandai dengan letak bagian terangnya yang ada di bagian kanan bulan. Di bawah ini adalah contohnya. Menurut kalender Islam ini adalah tanggal 3 (bulan Rajab). Tetapi, menurut Ilmu Astronomi secara umum, ini adalah tanggal 4. Kenapa berbeda? Menurut Ilmu Astronomi, bulan baru (yang bisa dimaknai, tentu saja, sebagai awal bulan komariyah baru) terjadi saat bulan tidak terlihat sama sekali. Itulah tanggal satu menurut Ilmu Astronomi. Lain halnya menurut tradisi Islam: tanggal satu setiap bulannya jatuh ketika bulan sabit tipis terlihat di atas cakrawala (sebelum dan setelah senja). Makanya satu Syawal secara tradisional diputuskan setelah bulan sabit terlihat pada petang (pas setelah) akhir bulan Ramadan.

Demikian pelajaran Astronomi hari ini. Semoga saya tetap ingat.

Sekadar info, pada awal-awal bulan komariyah, bulan (sabit) ini terlihat hanya sebentar saja sekitar satu dua jam setelah matahari terbenam. Tak lama setelah isya biasanya bulan sudah tenggelam (di Barat juga lho :D).

Sabit awal Rajab
Sabit awal Rajab

Nostalgia Fotografi Manual (Terasa Pornografis)

Sejak kelas 6 SD, saya sudah terobsesi dengan kamera. Suatu kali saya lihat seorang anak seumuran dari SD lain–namanya Dian, luar biasa populer di SD lain, mungkin sepopuler Cinta yang diperankan Dian Sastro–memotret-motret lomba di lapangan depan sekolah saya, memakai kamera serius. Sejak itu, saya selalu ingin memotret setiap kali saya melihat kamera (yang dulu kita sebut “tustel”). Oom saya–beliau sudah almarhum, meninggal waktu masih sangat muda, kurang dari 30 tahun–punya tustel semacam generasi di atas Fuji MDL-5 yang biasanya dia bawa kalau rekreasi. Saya beberapa kali memohon untuk menjepretkan kameranya saat kami mengambil foto grup. Begitu pula saat rekreasi dan naik gunung, saya selalu senang kalau dapat pinjaman kamera, meskipun ya kamera point and shoot semacam Fuji MDL-5 itu. Dan saya heran, kenapa hasilnya tidak bisa seperti di majalah-majalah.

Baru ketika mulai kuliah, saya tahu bahwa untuk mendapatkan gambar yang seperti di majalah-majalah itu butuh kamera serius, seperti kamera yang dipakai Dian waktu motret-motret acara di lapangan depan SDN Krembung II itu. Di kampus ada UKM fotografi (namanya HIMAFO) yang mengumpulkan anak-anak penghobi fotografi, dengan kamera-kamera serius (yang akhirnya saya ketahui bernama SLR, Single-Len Reflex, berkat baca-baca National Geographic yang ada di perpus kampus). Seorang teman bernama Maryudi ikut UKM Fotografi dan bilang kepada saya bahwa dia baru beli Pentax bekas seharga 700 ribu, ketika itu terbilang murah. Saya setengah mati pingin ikut, tapi apa daya saya tidak berani minta uang ke orang tua untuk hobi yang mahal seperti ini. Belum lagi ada biaya membeli dan mengembangkan film cukup sering. Akhirnya, saya biarkan hasrat memotret mengendap, dan sesekali saja saya pinjam kamera point and shoot untuk naik gunung. Dan saya masih belum puas karena kualitas foto yang dihasilkan masih kalah dengan National Geographic.

Tahun 2000/2001, Nurman Firdaus, seorang teman say ayang waktu itu cukup dekat, belakangan bergabung dengan UKM Fotografi di kampus. Dia ikut diklat UKM tersebut dan akhirnya memahami dengan cukup baik dasar-dasar pengambilan gambar, dengan kamera serius–meskipun dia sendiri tidak punya kamera SLR. Saya sangat antusias mendengar ceritanya tentang diklat UKM dan akhirnya memutuskan saya ingin belajar secara “second hand” dari dia. Kami pun cari pinjaman SLR. Ternyata, setelah cari-cari sedikit, saya tahu bahwa teman saya Fitri Handayani, seorang kawan yang sangat baik, yang telah mengenalkan saya ke seorang ibu pengelola kursus privat, yang membuat saya punya sedikit lagi pengalaman dan pendapatan tambahan–pendapatan utama saya sebelumnya dari orang tua dan menerjemah di rental.

Maka, berkat kebaikan hati Fitri yang keluarganya ternyata penghobi fotografi itu, dapatlah saya sebuah SLR Pentax yang sangat bagus–beda dengan yang dibeli Maryudi–dg dua lensa. Kalau nggak salah waktu itu lensa 15-85mm dan 80-200mm. Semuanya masih tampak terawat di dalam kotak bagus, dan saya sebenarnya cukup heran bagaimana ceritanya Fitri bisa melepaskan seperangkat kameranya itu untuk dipakai saya dan Norman. Yang jelas, kebaikan hati pasti dibalas Tuhan. Kami pun beli film (saya lupa beli satu atau dua rol). Kami pun rencanakan “hunting.” Ah, hidup di bawah rezim manual, jalan-jalan motret itu punya nama sendiri: hunting, berburu. Tidak ada orang yang iseng-iseng membuang-buang film memotret-motret–selfie maupun collectivie–di sembarang tempat dalam perjalanan ke tempat lain.

Malam sebelum hunting, Nurman membriefing saya dasar-dasar fotografi yang kira-kira kalau dirangkum adalah mencari keseimbangan antara bukaan (dulu kami sebut “diafragma,” dan sekarang seperti orang-orang lebih akrab dengan istilah f-stop) dan kecepatan (atau shutter speed). Seingat saya, untuk film ketika itu kami pasrah saja dengan ASA film (atau kepekaan menangkap cahaya, yang sekarang kita kenal dengan ISO) standar untuk belajar fotografi, yaitu ASA 100. Ketika itu, ASA 400 terasa seperti mitos bagi saya. Saya hanya tahu bahwa konon ASA 400 yang misterius itu dipakai untuk memotret pementasan-pementasan teater atau konser ketika tidak tidak semestinya memakai blitz (ya, dulu saya sebut blitz, bukan flash :D). Ah, sekarang… sekarang, ganti ASA hanya urusan memencet tombol!

Meskipun Nurman menekankan bahwa kita hanya perlu memperhitungkan diafragma (f-stop) dan kecepatan (shutter speed), tapi tetap saja rasanya mengerikan. Urusan fokus sudah ditangani oleh Maryudi setahun sebelumnya. Dia membiarkan saya memotret dia di depan Senat Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (atau mungkin ketika itu namanya sudah ganti jadi Fakultas Sastra dan Filsafat–tanpa jurusan filsafat). Ketika itu saya baru tahu rasanya memfokuskan kamera dan menjepretkannya dengan mantap, dan setelah itu menggulung filmnya. (Maaf, kenapa menggambarkan memotret dengan SLR terasa seperti pornografi begini ya?). Kembali lagi, meskipun saya hanya perlu memperhitungkan diafragma dan kecepatan, tetap saja setiap kali memotret terasa seperti beban. Utamanya karena tidak ada yang bisa memastikan bahwa gambar yang saya ambil nantinya pas, tidak over(exposure) atau under(exposure). Ketika itu, adik-adik, tidak ada yang namanya liveview atau LCD yang bisa dipakai untuk langsung melihat hasil jepretan kita. Pendeknya seperti meraba-raba. Apalagi pelajaran dasar2 cahaya cuma semalam.

Entah kenapa, malam itu saya tidak terlalu mengkhawatirkan soal fokus.

Maka, pagi hari setelah briefing dengan Nurman tentang logika pemrosesan cahaya dalam pemotretan itu, kami berangkat berburu pagi-pagi setelah subuh. Tujuan pertama kami adalah Stasiun Kota Malang. Sejujurnya, saya tidak ingat betul apakah kami ke stasiun atau ke tempat lain dulu. Tapi, yang pasti, pagi itu kami ke Stasiun Kota Malang, turun ke rel-rel yang bersilangan itu dan mulai jepret-jepret (sambil di dalam otak saya berhitung, agar bisa menangkap cahaya yang pas, tidak over atau under). Setiap jepretan sangat berarti. Tentu saja kami juga menyempatkan saling potret seperti video klip musik pop tahun 90-an akhir. Ada kereta api. Ada rel. Ada orang yang menatap langit seolah pasrah dengan waktu yang menerjang tanpa belas kasihan. Pendeknya pose Fadli Padi lah!

Setelah itu, yang tersisa hanyalah sejarah. Kami menjalani kuliah normal hari itu, dan sore harinya kami kembali “hunting,” mencoba kecepatan rendah: motret iklan Pall Mall. Juga “kecepatan B” (sekarang saya tahu kalau B itu kepanjangan dari Bulb). Beberapa hari selanjutnya, setelah habis film yang isinya cuma 36 (plus bonus 2) itu, kami segera membawanya ke Pantai Foto, studio foto yang sepertinya waktu itu menawarkan harga khusus buat para anggota UKM Fotografi. Teman saya yang anggota baru UKM fotografi itu dapat diskon. Setelah film di-develop, kami pun pilih frame2 yang ingin dicetak (yg berpotensi paling bagus, tidak over atau under).

Hasilnya lumayan: ada foto-foto yg kelihatan menarik, nyaris profesional. Foto baliho Pall Mall juga tampak bagus, biru indah dibingkai malam. Satu-satunya yang cukup saya sesali (dan pastinya Nurman juga menyesal, meskipun tidak dia sampaikan) adalah foto-foto kami di stasiun. Foto saya (yang ambil Nurman) tampak lumayan fokus, tapi foto Nurman yang berdiri gagah berlatarkan jembatan penyeberangan dan rel yang bersilangan itu terlihat blur, alias tidak fokus. Saya sangat menyesal terlalu meremehkan urusan fokus, seolah-olah saya sudah tidak ada lagi masalah dengan fokus. Kalau mengingat lagi masa itu, saya terus-terusan membatin: kenapa waktu itu lensanya tidak punya auto fokus ya?

Tapi itu tidak mengurungkan niat kami belajar lebih lanjut. Kami tdk pernah melewatkan kesempatan pinjam SLR. Termasuk utk rekreasi ke Bali. Demikianlah nostalgia masa fotografi msh di bawah rezim manual. Segalanya terasa indah (dan gerakan2 yang harus dilakukan–seperti mengepaskan fokus dan menggulung film–terasa pornografis) di tengah keterbatasannya. Kini, di tengah demokrasi digital, kenapa ada hasrat selalu pingin upgrade?