Life Styles, Inc.: Di mana Penyandang Disabilitas Kejiwaan Dewasa Berkomunitas

Semoga tidak terkesan berlebihan bila saya berulangkali menuliskan tentang pemandangan dan pengalaman yang  membentuk diri saya yang saya dapatkan dari pekerjaan sambilan yang saya jalani selama lima musim panas di Fayetteville, Arkansas.

Kali ini, saya ingin ceritakan satu hal paling berarti yang mungkin belum pernah saya tuliskan secara memadai: pertemuan rutin dengan penyandang tunagrahita dewasa (atau istilah terjemahan mutakhirnya “orang-orang dewasa yang memiliki disabilitas kejiwaan”) di sebuah lembaga bernama Life Styles, Inc.

Sebelumnya, perlu saya ceritakan tentang Life Styles ini. Seperti bisa Anda dapatkan di situs ini, lembaga ini pada intinya memberikan pelayanan kepada orang dewasa (di atas 18 tahun) penyandang tunagrahita. Di lembaga ini, ada berbagai pelatihan dan kegiatan perkumpulan bagi para peserta, khususnya kegiatan yang berbau seni dan pengembangan ketrampilan sosial. Ada juga fasilitas apartemen bagi para peserta. Pada intinya, para peserta melakukan kegiatan yang bisa membuat mereka semakin siap menjalani hidup secara mandiri, mengatasi segala keterbatasan mereka. Ada seorang peserta yang saya tahu akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah restoran McD sebagai tukang cuci piring. Dan ada juga peserta yang juga bekerja di perusahaan pencacah kertas (paper shredding) di bawah Life Styles. Untuk lebih jelasnya mengenai organisasi ini, saya persilakan Anda melihat situs ini.

Selama satu musim panas, saya bisa ke Life Styles sampai 3 kali, tergantung banyaknya program yang kegiatan sosial, kultural, dan wisatanya saya pegang. Sekadar mengingatkan, pekerjaan saya di Spring International Language Center adalah sebagai asisten koordinator kegiatan sosial, kultural, dan wisata untuk peserta program-program khusus–dan program khusus yang dimaksud adalah program pelatihan bahasa Inggris dan/atau kepemimpinan yang diikuti orang-orang dari seluruh dunia yang didanai oleh Kementrian Luar Negeri AS atau negara-negara tertentu. Biasanya ada 2-4 program khusus selama musim panas, dan setidaknya 3 di antara program itu juga melibatkan kunjungan ke Life Styles, untuk menunjukkan tentang sebuah lembaga pelayanan sosial kebanggaan kota Fayetteville.

Biasanya, kunjungan ke sana dilakukan pada siang hari, sekitar pukul 1 siang. Saya ingat suatu kali kami harus menjadwalkan ke sana pada hari Jumat dan saya harus melewatkan sholat jamaah Jumat karena tidak ada lagi orang yang bisa mengantarkan ke sana dan saya sendiri yang harus menyetir–saya ingat, waktu itu akhirnya saya sholat duhur sendiri di teras bangunan ketika angin sangat kencang dan sajadah tipis saya berkibar-kibar dan harus dibebani batu bata di empat sudut. Saya biasanya membawa 15-25-an peserta program khusus ke tempat ini (dengan mengendarai dua van raksasa).

Kami disambut para pengelola kegiatan seni di gedung Life Style yang terkesan artsy. Gedung ini merupakan hasil wakaf dari pasangan Jim dan Nancy Blair (Jim adalah salah satu pengacara terkemuka dan sukses di kawasan Fayetteville dan sekitarnya dan banyak mendermakan duitnya untuk proyek-proyek sosial, termasuk juga pembangunan perpustakaan kota Fayetteville). Di lobi, kami diberi informasi mengenai Life Styles dan kegiatan-kegiatan yang ditawarkannya (seperti paragraf kedua postingan ini).

Setelah satu dua pertanyaan dari para peserta program khusus yang kebanyakan takjub dengan model kegiatan Life Styles, kami dibimbing sedikit masuk ke gedung, yaitu di galeri pamer. Di galeri pamer ini kami bisa melihat hasil karya rupa (lukisan, patung, seni instalasi, dll) karya para peserta Life Styles. Karya-karya seni dari penyandang tunagrahita ini juga dan dijual. Ada beberapa lukisan yang bahkan dijadikan kartu pos, yang juga dijual di lobi. Hasil penjualan karya-karya seni ini kembali ke seniman dan Life Styles. Ada terlihat konsistensi munculnya obyek-obyek tertentu pada karya-karya tertentu. Ada karya yang merupakan montase wajah-wajah dari berbagai sumber yang terkesan sangat misterius. Ada karya-karya yang sangat jelas menceritakan tema-tema tertentu.

Nah, setelah puas melihat-lihat dan berbincang dengan para pengelola di lobi dan galeri, kami pun masuk ke workshop, atau dapur karya. Di sana terdapat sebuah meja besar gabungan dari beberapa meja panjang. Dan di sekelilingnya terdapat para peserta Life Style. Mereka tampak senang dan seperti sudah menunggu kehadiran kami. Beberapa langsung mendekat dan menjabat tangan, dan beberapa tetap menunduk di kursi besi mereka. Para pengelola mempersilakan kami semua duduk berbaur dan memberi kami semua stiker putih untuk menuliskan nama kami. Ruangan terlihat seperti lazimnya sebuah workshop, ada kayu-kayu berserakan di sana-sini. Ada patung setengah jadi di ujung ruangan. Ada patung berbaju melambai-lambai di satu sudut atap, dan sebagainya. Terkadang ada setumpuk majalah bekas di tengah meja, dan terkadang ada juga lilin malam (play dough) di sana, tergantung apa yang akan kita lakukan pada pertemuan itu. Kami dianjurkan duduk berbaur, dan nantinya bagian dari kegiatan kami adalah interaksi dan saling membantu dan bercerita selama acara.

Selanjutnya pengelola mempersilakan kami memperkenalkan diri kami satu per satu. Para peserta Life Styles yang kebanyakan berasal dari Fayetteville atau desa-desa sekitar Fayetteville berkenalan dengan para peserta program khusus yang berasal dari berbagai penjuru dunia, mulai dari sebuah kota Siberia di tepi Danau Baikal di Rusia sana sampai sebuah desa di Senegal. Bahasa Inggris dengan citarasa global berbaur dengan bahasa Inggris kental Arkansas. Ada kalanya, para peserta Life Styles harus meminta para peserta program khusus mengulangi perkenalan mereka karena kurang menangkap jelas, dan begitu pula sebaliknya. Yang selalu terjadi adalah kami tertawa-tawa menikmati pertemuan tak biasa itu.

Setelah semua sudah saling memperkenalkan diri dan bahkan ada yang bisa memanggil nama depan, pengelola (yang merupakan guru seni) memberi instruksi tentang apa yang akan kita lakukan sore itu. Yang saya ingat pasti adalah membuat montase dari gambar-gambar di majalah bekas. Di situ saya berpasangan dengan alumnus program Life Styles yang masih sering ikut kegiatan. Selama membuat montase, dia bercerita bahwa baru-baru ini dia mendapat pekerjaan sebagai tukang cuci di McD dan dengna malu-malu dia ceritakan bahwa dia juga baru saja bertunangan. Tunangannya adalah seorang peserta Life Styles yang  duduk di seberang, yang melambaikan tangannya ke saya dengan malu-malu juga saat tunangannya yang duduk di samping saya itu memanggilnya. Di saat yang lain, kami pernah membuat makanan-makanan mini dari lilin malam. Ketika itu, salah satu peserta program memaksa membuat anjing-anjing kecil–dia berulang kali cerita senang sekali menggambar anjing, dan mengabaikan tema acara itu, yaitu membuat makanan mini.

Biasanya, setelah program selesai, kami melanjutkan dengan berbincang-bincang sambil menunggu waktu pulang. Di satu musim panas, ketika salah satu rekan kerja saya sesama asisten program adalah seorang mahasiswi tingkat akhir, salah seorang peserta Life Styles berulang kali menghampirinya dan memberikan hasil karyanya, sebuah lukisan dengan nama rekan saya itu. Rekan saya ini dengan agak rikuh menerimanya. Di saat yang lain, seorang peserta program khusus, seorang Arab dari Haifa, Israel, yang merupakan seorang komponis klasik dan pemain buzuq (semacam gitar klasik asal Lebanon), memainkan buzuq-nya dan videonya saya unggah di sini. Sesudahnya, kami saling berpamitan dan pulang dengan membawan kesan bermacam-macam tentang pertemuan itu.

Beberapa kali, dalam perjalanan pulang dari Life Styles, peserta program khusus menyampaikan ketakjuban mereka dengan pertemuan tersebut. Banyak di antara mereka yang baru sekali itu berhubungan dengan penyandang tunagrahita dengan santai dan bercakap-cakap santai. Kebanyakan orang–di Amerika maupun di mana saja–memandang penyandang disabilitas mental sebagai orang yang berbeda dengan orang-orang yang mereka temui sehari-hari di tempat kerja. Tapi, pertemuan di Life Styles membuat mereka sadar bahwa mungkin diperlukan hubungan personal yang erat dan natural dengan penyandang tunagrahita untuk lebih menghargai mereka lebih dari sekadar label mereka sebagai penyandang tunagrahita.

Ah, kenapa ada kesan berbeda ketika  saya menulis “mereka”? Semoga saja kata “mereka” ini tidak saya pakai untuk membedakan dalam konteks “mereka vs kita.” Semoga saja saya sudah mulai belajar. Semoga saja “mereka” di sini tak lebih dari sekadar kata ganti yang pemakaiannya tidak bisa dihindari. Semoga.

Budaya “Bullying”: Apakah Kata Tak Ada Artinya?

Dalam perbincangan sehari-hari (dan perbincangan di media sosial sehari-hari), seringkali kita tidak menyadari bahwa ada perbandingan-perbandingan yang sebenarnya jelas tapi terlewatkan. Salah satunya adalah perihal “penyerangan” atau “bullying” atau apa lah istilah lainnya (saya yakin Anda tahu yang saya maksud). Di satu sisi kita sangat peduli dan prihatin melihat kasus-kasus “bullying” di sekolah, tapi di sisi lain kita menganggap enteng istilah bullying itu sendiri. Tidak perlu tedeng aling-aling: sikap semacam itu kontradiktif, dan salah.

Akhir-akhir ini kita anggap prihatin (dan mengungkapkan keprihatinan). Mungkin Anda mengira saya akan bilang ini semua gara-gara medsos yang membuat kita mudah menyampaikan kepedulian lewat “like dan share.” Tidak juga sebenarnya. Lagu Slank “Pacarku Kamu Kok Kampungan” itu kan juga tentang tren pasca reformasi, ketika orang begitu mudahnya jadi ikut-ikutan radikal atau sok peduli. Medsos hanya membuat tendensi latah ini semakin menjadi-jadi.

Dalam kaitannya dengan “bullying,” mayoritas kita di medsos sangat membenci bullying. Kita langsung angkat HP dan tap “like,” terus share, terus komen, plus mengumbar emoji begitu melihat tindakan bullying yang terdokumentasi. Ketika ada anak-anak SD mem-bully teman perempuan di kelas, kita angkat HP. Ketika beberapa siswi SMA menghajar temannya, kita angkat HP. Bahkan ketika bunga-bunga di Gunung Kidul “dibully,” kita angkat HP. Seringkali angkat HP kita berhasil. Ada menteri yang turun tangan atas kasus bullying di sebuah sekolah. Ada kepala sekolah yang menindak murid-murid pelaku bullying. Dan sebagainya. Pendeknya, keprihatinan kita atas bullying ada kalanya membuahkan hasil nyata.

Tapi, di sisi lain kita merayakan apa yang kita sebut “bullying.” Ketika kita ramai-ramai mengkritik seseorang yang berbuat salah, atau mungkin khilaf, kita dan media dengan santai menyebutnya “membully.” Masih ingat ketika seorang mahasiswi menghina Yogyakarta? Ya, kita dan media menyebutnya “X di-bully di Path dan Twitter.” Ketika mantan menkominfo membuat tweet yang tidak sensitif (dengan dalih cuma menginformasikan–padahal menurut saya murni sikap tidak sadar konteks dan mati rasa), kita ramai-ramai “membully” beliaunya. Ketika para remaja itu bersyahrini ria dengan bunga-bunga langka di Gunung Kidul, diberitakanlah “bully-an” kita yang membuat dia bertobat. Apapun jenis kejadiannya, yang kita lakukan adalah “mem-bully” dia, dan media juga seperti merayakan atau mendukung “bully”-an kita yang berhasil.

Di sini sudah terlihat, betapa entengnya kita menggunakan istilah “bully” yang sejatinya punya konotasi negatif merujuk ke tindakan yang bisa menimbulkan trauma berkepanjangan. Saat anak-anak mem-bully temannya kita marah (dan prihatin, bahkan lebih prihatin dari pak SBY). Tapi saat terjadi ketidakadilan, kita bahu-membahu menyelesaikannya dengan “membully.” Ah, kawan, kenapa kita memilih kata “bully” untuk yang beginian? Tidakkah ada kata “protes,” “kritik,” “gugat,” “tentang,” dll?

Anda mungkin mengira saya terlalu sok repot mengurusi kata-kata. Saya sangat mengerti kalau Anda berpandangan begitu. Apalah artinya kata-kata, begitu mungkin menurut sebagian dari kita. Tapi, kawan, kata-kata inilah yang kita gunakan saat berpikir. Saat kita menggunakan kata yang salah dan tidak menyadari asosiasi dari kata-kata yang kita gunakan, kita tahu bisa terjadi perang mulut dan baku hantam. Salah kata bisa berarti salah kaprah dan salah kaprah membuat kita gagal paham. Dan gagal paham (yang terjadi di dalam otak itu) akan lebih berbahaya kalau terwujud dalam kehidupan nyata. Kira-kira begitulah runtutan dialektisnya. Karena salah kata di dunia, terjadilah salah kaprah dan gagal paham di dalam otak. Saat gagal paham yang di dalam otak itu keluar lagi ke dunia, maka akan banyak yang mengalami dampaknya.

Padanannya adalah “budaya perkosaan” atau “rape culture.” Yang dimaksud budaya perkosaan ini adalah, seperti saya bahas di postingan ini, segala tindakan dan ucapan kita yang membuat seolah-olah perkosaan yang terjadi itu wajar yang ringan. Perilaku kita menggunakan kata “bully ini” dan “bully itu” dengan entengnya tidak lain adalah partisipasi kita dalam memupuk dan membina “budaya bullying” di lingkungan kita. Kalau kita bawa ke pola hubungan yang lebih jauh lagi, mungkin kita bisa menghubungkan ini dengan kata “autis,” yang pernah kita gunakan dengan sangat dermawan. Tapi itu agak lain. Kalau itu–

Jadi, kawan-kawan, pertanyaannya adalah: apakah kita mau menyelemati diri kita atas keberhasilan kita memupuk budaya bullying, atau kita siap bertobat?

Apa Itu Budaya Perkosaan?

Saya ingin memberikan definisi sederhana tentang “budaya perkosaan.” Apa itu “budaya perkosaan”?

Pertama-tama, saya jelaskan dulu alasan saya membuat postingan ini. Menurut saya istilah “budaya perkosaan” tidak lazim dan berpotensi disalahartikan dan dianggap enteng. Saya coba mencarinya di Google, dan mendapati ini. Di antara hasil-hasil pencarian yang ada, hanya link ke Jurnal Perempuan ini yang mengandung definisi “budaya perkosaan.” Itu pun definisinya sangat kontekstual dan disertai asumsi pembaca bisa langsung menangkap istilah tersebut. Di link-link lain, kita mendapati hal yang sama, atau bahkan mendapati kesalahpahaman atas istilah itu–sampai-sampai ada yang bertanya di sebuah forum di salah satu link itu: sejak kapan perkosaan dimasukkan kategori budaya?

Sementara, kalau kita mencoba mencari definisinya dalam bahasa Inggris (“rape culture”), kita bisa segera mendapatkan definisi ringkas dan padat informasi pada lema paling atas, seperti di sini.

Maka, perkenankan saya menawarkan definisi “budaya perkosaan” yang saya terjemahkan dari lema bahasa Inggris dan saya tambahkan contoh tertentu (dari artikel Gadis Arivia di Jurnal Perempuan yang saya tautkan di atas).

Budaya perkosaan/pemerkosaan adalah istilah yang digagas para feminis di Amerika Serikat pada dasawarsa 1970-an. Tujuan dari istilah ini adalah untuk menunjukkan kecenderungan masyarakat menyalahkan korban atas tindak kekerasan seksual dan menganggap wajar kekerasan seksual pria. Segala hal yang menganggap wajar, menormalisasi, perilaku kekerasan seksual bisa dianggap sebagai bagian dari budaya perkosaan.

Mari kita lihat beberapa contoh. Contoh pertama, menganggap wajar pemberian minuman keras kepada teman perempuan dengan harapan bisa mengajak berhubungan seks ketika si teman perempuan sedang tidak sadar adalah bagian dari budaya perkosaan. Pernyataan seorang calon hakim agung Muhammad Daming Sanusi bahwa pelaku dan korban perkosaan sama-sama menikmati sehingga pemberian hukuman mati perlu dipikir ulang adalah satu pernyataan yang mendukung budaya perkosaan. Kenapa? Karena asumsi dasar dari pendapat itu adalah perkosaan itu mengandung saling menyenangkan, padahal hal yang paling keji dari perkosaan adalah memaksakan hubungan kelamin (sekurang-kurangnya, anak jaman sekarang bisa menyebut Daming Sanusi “gagal fokus”). Contoh lainnya adalah

Saya harap definisi dan contoh ini cukup memberi definisi dan gambaran mendasar tentang istilah “budaya perkosaan.” Dengan ini, saya harap tidak perlu lagi ada pernyataan sejak kapan perkosaan dianggap budaya. Dulu, pada awal masa reformasi, orang-orang suka berbicara tentang “budaya korupsi” dan sebagian orang mempertanyakan mana mungkin korupsi bisa digolongkan menjadi budaya. Asumsi mendasar dari pertanyaan atau gugatan serupa ini adalah bahwa istilah “budaya” hanya bisa dipakai untuk merujuk pada hal-hal yang baik dan adiluhung dan bagus. Padahal, kalau dari sudut pandang antropologi atau ilmu kemanusiaan, budaya adalah hasil polah tingkah manusia, baik itu yang menguntungkan maupun merugikan. Ilmu antropologi tidak melakukan intervensi kepada perkembangan manusia dengan cara mengoreksinya (pada dasarnya penggolongan baik dan buruk itu pada akhirnya bertujuan untuk menunjukkan bahwa yang baik harus ditiru) tetapi untuk memahami manusia secara obyektif. Mungkin begitu…

 

Hari Raya Dilematis

Tibalah saatnya hari raya paling raya di Negeri Aa’ Sam: Thanksgiving, atau Hari Raya Panjat Syukur. Orang-orang di negeri ini merayakan hari besar ini tak peduli apapun agama mereka–Kristen, Katolik, Yahudi, Islam, Sikh, Hindu, dll. Tapi, kalau kita menilik sedikit saja sejarah di balik hari raya ini, tak urung kita akan mendapati sesuatu yang janggal: hari raya ini memperingati upacara syukuran karena keberhasilan panen pertama para pendatang yang kelak anak turunnya akan menguasai tanah Amerika Utara ini, dan memojokkan dan bahkan membantai orang-orang pribumi yang memungkinkan mereka berhasil panen untuk pertama kalinya. Makanya, banyak juga sebenarnya orang-orang di Negeri Aa’ Sam (bahkan yang kulit putih) yang mengkritisi hari raya ini. Bagi blogger Anda ini secara pribadi, tentu ini hari raya yang dilematis. Kenapa?

Sebelum terlalu jauh, perlu kita akui bahwa sejarah Thanksgiving sepertinya tidak terlalu penting lagi bagi banyak orang saat ini. Kebanyakan orang saat ini memahami Thanksgiving sebagai hari untuk bersyukur atas apa-apa yang berarti bagi hidup kita saat ini. Dan bagi banyak orang lainnya, terutama orang-orang yang baru tinggal di Amerika (entah itu imigran maupun mahasiswa), terutama yang cukup duit, Thanksgiving adalah saatnya belanja karena pada saat itu toko-toko jor-joran memberi diskon. Begitu juga dengan toko-toko online: mereka juga jor-joran memberi diskon.

Seperti apa sejarahnya? Menurut versi resmi ensiklopedia (seperti ini, misalnya, yang ditulis untuk konsumsi anak-anak tapi tidak simplistik dan tidak menyesatkan) begini singkatnya: 1) Thanksgiving yang pertama diadakan pada tahun 1621, untuk merayakan keberhasilan panen pertama para pendatang eropa (yang disebut “pilgrim” atau “peziarah,” yang merupakan kelompok separatis relijius yang merasa tidak bisa menjalankan agamanya dengan bebas di Inggris, yang juga disebut sebagai kaum Puritan). Sebelum panen pertama ini, mereka masih tinggal di kapal di perairan New England (Amerika Timur Laut) dan banyak dari mereka yang mati karena kelaparan dan kurang gizi pada musim dingin sebelumnya. Dan keberhasilan mereka ini dikarenakan bantuan Squanto, seorang pribumi yang bisa berbahasa Inggris karena sebelumnya pernah menjadi budak orang Inggris dan meloloskan diri. Keberhasilan panen ini dirayakan dengan pesta tiga hari berturut-turut, disertai sumbangan lima ekor rusa dari para penduduk pribumi. Selanjutnya, 2) seabad lebih kemudian Thomas Jefferson mencanangkan peringatan Thanksgiving pertama tadi secara resmi. Dan, belakangan 3) seratus tahun selanjutnya, atas desakan dan kampanye penulis Sara Josepha Hale (yang menciptakan lagu “Marry Had a Little Lamb”), Abraham Lincoln mencanangkan Thanksgiving sebagai hari raya nasional di tengah Perang Saudara. Jadi, secara umumnya, merayakan Thanksgiving adalah mengingat kembali keberhasilan panen yang terwujud oleh semangat kerukunan dan kerjasama antara orang kulit putih dengan penduduk pribumi pada tahun 1621 itu.

Tapi, apakah seindah itu? Sayangnya tidak, dan ketidakindahan sejarah ini adalah apa yang terjadi beberapa dekade setelah itu.

Setelah perayaan Thanksgiving pertama itu, hubungan antara para pendatang Eropa dengan penduduk pribumi tidak indah. Banyak di antara pendatang ini yang menganggap orang pribumi itu sebagai orang yang belum beradab, dan harus diadabkan. Dengan itu, Kristenisasi penduduk pribumi mulai berjalan. Kemudian banyak terjadi konflik antara pendatang dan pribumi, terutama karena pribumi merasa semakin terdesak. Janji peradaban melalui agama juga ternyata tidak terwujud. Banyak pribumi yang sudah Kristen (yang disebut “Indian Sembahyang”) yang akhirnya disisihkan, dikumpulkan jadi satu di pulau dan dibiarkan kelaparan. Banyak terjadi peperangan yang berlanjut dengan pembantaian dan pembudakan para penduduk pribumi. Pendeknya, dalam lima puluh tahun saja, sebagian besar penduduk pribumi di kawasan Amerika Timur Laut itu habis.

Memang, tidak semua pendatang Eropa seperti itu. Menurut Akbar Ahmed, penulis buku Journey into America: The Challenge of Islam, ada tiga kelompok identitas Amerika (primordial, pluralis, dan predator). Kelompok yang saya sebutkan di atas itu adalah kelompok yang “primordial” (yang ingin meng-Kristen-kan Amerika) dan golongan “predator” (yang ingin menumpas siapa saja yang berbeda paham dengannya, entah karena perbedaan ras maupun perbedaan agama). Ada juga pada masa pendatang awal itu yang merupakan golongan “pluralis.” Salah satu tokohnya adalah Roger Williams, yang terbilang sekuler dan berbeda paham dengan orang-orang primordial kebanyakan, hingga dia nyaris saja dipulangkan kembali ke Inggris. Untungnya Roger Williams dan orang-orang yang sepaham dengannya melarikan diri dan membentuk komunitas sendiri di kawasan yang akhirnya menjadi negara bagian Rhode Island. Di kawasan ini, Roger Williams dan kelompoknya membuat kesepakatan untuk memisahkan antara pemerintahan dan keagamaan, menganggap kaum pribumi dan pendatang Eropa setara, mengharamkan perbudakan. Kelak, ketika para “founding father” menyusun naskah proklamasi dan Undang-undang Dasar Negeri Aa’ Sam, pandangan yang memisahkan antara agama dan pemerintahan inilah yang akhirnya diusung. Jadi, memang selalu ada kelompok orang Eropa yang cenderung welas asih terhadap sesamanya di negeri Amerika ini, yang bahkan menentang perilaku pendatang/keturunan Eropa lainnya terhadap penduduk pribumi.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan perayaan Thanksgiving itu sendiri? Apakah merayakan keberhasilan panen yang diwarnai kerukunan itu bisa dipisahkan dari sejarah kelam yang terjadi setelah jamuan makan tiga hari tiga malam itu? Banyak orang Amerika yang dengan itikad baik merayakan Thanksgiving ini sebagai momen untuk mengucap syukur atas segala rahmat yang mereka dapatkan dalam hidup. Banyak juga para imigran baru (tak peduli dari budaya manapun dan agama apapun) yang merangkul tradisi ini dan merayakannya dengan makan kalkun, kaserol buncis, pie labuh, jus kranberi. Saya sendiri merasa dilematis. Karena, kalau kita tahu laju sejarah Negeri Aa’ Sam ini dan tetap merayakannya, berarti kita mengabaikan begitu saja dan membiarkan kekelamannya terlewat begitu saja. Sementara, kalau kita tidak semapt tahu sejarahnya, sama artinya kita merayakan sebuah hari dengan makan-makan dan belanja tanpa tahu bahwa di balik hari yang kita rayakan itu ada sejarah kelam. Dan, bagi saya pribadi, kalau harus mengangkat tema seperti ini dalam perbincangan dengan kawan-kawan saat makan-makan, tentu saja saya jadi perusak kebahagiaan. Apalagi, orang-orang yang pernah mengundang saya dalam makan-makan Thanksgiving itu biasanya adalah orang-orang yang baik, yang mengadakan jamuan itu dengan itikad baik. Sebagian dari mereka adalah dosen, warga lokal yang memang ingin mengundang mahasiswa asing, atau teman-teman sesama warga Indonesia di Amerika sebelah sini. Dilematis bukan?

Memang dilematis merayakan sesuatu yang, bagi pribumi Amerika khususnya, merupakan awal dari sejarah kelam. Bayangkan kalau Anda orang pribumi Amerika yang sekarang tinggal di reservasi (atau kakek moyang Anda disuruh pindah ribuan kilometer karena tanahnya diambil pemerintah)? Bisakah Anda merayakan hari raya seperti itu? Dalam video ini, Anda bisa melihat apa yang terlintas di pikiran anak-anak muda pribumi ini saat mendengar kata Thanksgiving. Sebagian dari mereka tidak memungkiri Thanksgiving adalah saat berbahagia bersama keluarga, dan banyak yang langsung merespon sengit. Tapi salah seorang perempuan mengatakan bahwa “Thanksgiving adalah saat bersenang-senang dengan keluarga, sambil mencoba mengabaikan sejarah di baliknya! (Lihatlah video bagaimana anak-anak pribumi ini merespon buku anak-anak tentang Thanksgiving). Buat kita bangsa Indonesia, yang pernah mengalami penjajahan dan kemudian berhasil “menyatakan kemerdekaannya,” semestinya tidak sulit membayangkan kalau kita berada pada posisi anak-anak pribumi ini.

Begitulah dilematisnya Thanksgiving, menurut saya. Entah, apa mungkin suatu saat kelak Negeri Aa’ Sam menyadari dilema di balik perayaan Thanksgiving ini. Menurut saya sangat mungkin. Saat ini saja ada kelompok-kelompok yang memilih “merayakan” Thanksgiving sebagai Hari Perkabungan Nasional. Gerakan protes ini diadakan setiap tahun di kawasan New England, dekat Plymouth Rock, tempat pertama kali para “pilgrim” mendarat dengan kapal Mayflower. Kesadaran akan beratnya sejarah di balik Thanksgiving ini terbilang semakin besar, tidak hanya di kalangan penduduk pribumi, tapi juga di kalangan orang-orang kulit putih (baik keturunan para pendatang Puritan maupun imigran Skotlandia-Irlandia, Irlandia, Italia, dll. yang datang belakangan). Atau, contoh lainnya adalah bagaimana perayaan Hari Kolombus yang akhir-akhir ini sudah mulai meningkat kontroversinya. Banyak kota dan negara bagian yang memutuskan untuk tidak merayakan Hari Kolombus ini (karena alasan yang sama: kedatangan Kolumbus adalah awal kolonisasi) dan bahkan mengubahnya menjadi Hari Bumiputera.

Jadi, bukan tidak mungkin perayaan Thanksgiving yang sekarang merupakan hari raya terbesar Amerika ini suatu saat akan berubah. Kalau Anda ingat satu adegan dalam film With Honors (yang dibintangi Brendan Frazer itu), tokoh utama tunawisma menjawab: kejeniusan Undang-undang Dasar Amerika adalah bahwa dia sadar bahwa dia tidak sempurna, sehingga membuka kesempatan untuk diamandemen. Kalau Undang-undang Dasarnya saja membuka diri terhadap amandemen, pasti tradisinya juga membuka diri terhadap perubahan. Tentunya perubahan yang baik dalam hal Thanksgiving ini adalah perubahan yang menjadikannya tidak dilematis lagi. Tapi, saya bayangkan perubahan terhadap Thanksgiving ini tidak akan semudah perubahan dari Hari Kolumbus menjadi Hari Bumiputera. Kenapa? Karena sepertinya Thanksgiving ini sudah dimiliki oleh korporasi-korporasi besar yang menjadikannya sarana meraup untung besar-besaran. Mulai pabrikan barang elektronik sampai pabrikan jaket, mulai swalayan betulan hingga toko online, semuanya turut mendapatkan untung besar-besaran dari Thanksgiving. Dan biasanya yang seperti ini, yang tidak politis seperti ini, yang lebih bisa dinikmati tanpa repot-repot. Dan saya sendiri, seperti biasa, ada kesempatan untuk merenungkan dan menuliskannya karena memang belum punya cukup modal untuk ikut berpesta.

Kawal Kasus Sitok dot ORG

Kalau Anda suka berpolitik dan menyuarakan kepedulian sosial lewat facebook (copras-capres, invasi Gaza, ISIS, dll), ada satu persoalan cukup besar yang bisa Anda lakukan saat ini: MENUNTUT PENGADILAN PENYAIR SITOK SRENGENGE, TERLAPOR KASUS PEMERKOSAAN.

Tahun lalu, penyair Sitok Srengenge dilaporkan telah memperkosa seorang mahasiswi. Semestinya ini kasus yg sangat besar: kejahatan pemerkosaan adalah kejahatan kepada separuh umat manusia, menginjak2 martabat perempuan dan merendahkan laki2 lain yang tidak melakukannya. Tapi, berkat copras-capres dan berbagai persoalan sosial lainnya, kasus ini terpendam hingga nyaris menjadi masa lalu. Proses hukumnya pun seperti jalan di tempat. Status Sitok masih terlapor, belum menjadi tersangka.

Belakangan, beredar foto Sitok Srengenge di meja makan panjang dalam acara ultah seorang ulama. Saya tidak mempermasalahkan “ulama” atau “intelektual” terkait foto ini. Yang jadi soal adalah betapa santainya kehidupan seorang terlapor kasus pemerkosaan. Bahkan, beberapa waktu yang lalu Sitok malah memberikan komentar di koran terkait kejanggalan pemberitaan tentang kasus pemerkosaannya (dia menolak pemberitaan bahwa pelapor adalah mahasiswinya–betapa, yang dia permasalahkan adalah kesalahan yang seperti itu!).

Kalau Anda peduli persoalan sosial, dan benar-benar ingin membuat perubahan lewat postingan facebook, inilah saat yang tepat. Mari kita buktikan bahwa status facebook bisa membawa perubahan. Kepolisian dan kejaksaan harus tegas mengusut tuntas kasus pemerkosaan ini, dan kita juga perlu mengawalnya, kalau bisa sekuat Ainun Najib!

Ironis, kan, kalau di negeri sejuta masjid ada kasus pemerkosaan yang terabaikan (mungkin karena orang-orang kuat di lingkaran terlapor)?

Di negara paman saya, pemerkosaan atau tindak kriminal seksual adalah “dosa besar.” Seseorang bisa kehilangan mata pencaharian karena perbuatan semacam itu. Dia harus menanggung dosanya secara sosial: harus selalu melaporkan tempat tinggalnya kepada polisi, namanya bisa dilacak di google dan ditemukan tempat tinggalnya (biar orang yang waspada akan keselamatan keluarganya bisa berhati-hati). Itu di negara paman saya…

Balik lagi, kita tidak tahu apakah Sitok Srengenge akan diputuskan bersalah dalam kasus ini. Tapi, kalau kasus ini diabaikan dan tidak pernah disidangkan, kita tidak akan pernah tahu. Seorang pemerkosa bisa bebas dari kebejatannya, dan kita di luar sini tidak melakukan apa-apa. Saya hanya menjalankan kewajiban sebagai orang yang mengecam, mengutuk, membenci pemerkosaan. Kalau saja saya polisi, jaksa, dll, pasti saya tidak akan cuma nulis postingan facebook.

Empat Saksi: Saat Agama Mematikan Akal Sehat

Menurut artikel di DetikNews ini, seorang istri menggugat cerai suaminya, seorang PNS Kementrian Perhubungan. Si istri menggugat karena suaminya perah melakukan pesta seks, dan untuk mendukung gugatannya, si istri menyertakan foto hubungan seks suaminya dengan perempuan lain. Hakim mengakui keaslian foto tersebut, tapi tidak menyetujui gugatan cerai karena tidak ada 4 saksi.

Orang Islam dengan akal sehat mana yang tidak malu dan jijik mendengar pernyataan hakim seperti ini?

“4 Saksi yang dinilai mengetahui langsung tidak boleh hanya melihat laki-laki dan perempuan berduaan di kamar, namun harus melihat secara langsung sedang terjadi persetubuhan antara laki-laki dan perempuan yang bukan istri,” ucap majelis dalam sidang terbuka untuk umum pada 25 Februari 2014 lalu.

Untuk foto lain yang juga berisi pesta seks, hakim tetap menolaknya. Berikut ini redaksional DetikNews:

Foto ini juga ditolak majelis hakim PA Tigaraksa dengan mengutip Alquran Surat An Nur ayat 4 yang mensyaratkan zina harus dibuktikan dengan 4 orang saksi yang melihat langsung persetubuhan.

Saya tentu malas berkomentar lebih jauh selain saling mendoakan saja semoga kita semua tetap beragama tanpa kehilangan akal sehat. Amin. Lagipula, agama juga bukan untuk main-main kata-kata seperti ini.

Coretan “Wong nDeso in New York”

Saya tidak akan membuat resensi tentang New York karena saya sadar tidaklah bijaksana menggarami Samudera Hindia. Tapi, alangkah baiknya kalau saya sampaikan di bawah ini poin-poin yang patut dicatat oleh Wong nDeso in New York (nyanyikan dengan nada dan warna vokal Sting dalam “Englishman in New York”):

  1. Jalannya gampang ditebak dan enak, jalan yang membujur barat-timur disebut “street” dan namanya adalah nomor, mulai 1st Street sampai, misalnya, 120th Street, semakin ke utara semakin tinggi nomernya; jalan yang membujur utara-selatan disebut “avenue” dan namanya bisa nomer (seperti 5th Avenue, tempat belanjanya wong sugeh) ataupun nama Lexington Avenue (tempatnya Empire State Building). Saya tinggal di hotel di perempatan Lexington Avenue dan 51st Street.
  2. Transportasi super gampang (tapi mengerikan kalau dipikir), kebanyakan adalah subway (kereta api bawah tanah) dan daerah yang tidak dijangkau Subway bisa dijangkau dengan bus. Enaknya, semuanya diatur oleh perusahaan MTA dan karcisnya sama. Sekali naik 2.50 dolar. Setiap 6-10 blok ada satu stasiun subway. Karena keretanya bawah tanah, jadi ya stasiunnya tidak kelihatan. Yang kelihatan cuman seperti lubang masuk ke tanah dengan payung warna hijau; kalau ketemu ini, artinya di bawah ada stasiun subway. Suasana di stasiun subway biasa saja, dengan ketinggian atap seperti di dalam rumah pribadi, berbeda dengan stasiun subway di Singapura yang cenderung megah dan dalaaaam sekali.
  3. Karena keretanya bawah tanah jadi sebentar-sebentar kalau jalan di trotoar kita akan dengar suara gemrodok dari dalam tanah. Itu artinya ada kereta lewat. Tapi ya, tentu posisinya cukup dalam di tanah. Kira-kira secara umur strukturnya begini 1) jalan raya, 2) gorong-gorong (yang biasanya bisa dilihat melalui jeruji di beberapa bagian jalan, 3) subway.
  4. Saat menjelang sore, di kawasan-kawasan yang super padat, seperti di East River Village atau Greenwich Village (kawasan yang dalam novel-novel Amerika pertengahan abad ke-20 dikenal sebagai tempatnya seniman dan mahasiswa), terlihat kantong-kantong plastik berisi sampah di trotoar. Kantong-kantong sampah ini menunggu diambil truk pengangkut sampah. Karena dikantongi, tidak tercium bau tak enak.
  5. Banyaaaak sekali manusia. Di toko, di kampus, di jalan, di trotar, di kereta, di stasiun, di mana2. Tidak perlu lagi komentar.
  6. Mobil-mobil cenderung bergerak lambat, jadi kalau di film-film itu banyak kejar-kejaran di New York, hmmm… mungkin itu bukan New York yang saya kunjungi akhir pekan lalu. 😀
  7. Begitu banyak bangunan, begitu sedikit lahan. Sangat terbatasnya lahan ini tercermin dalam berbagai segi kehidupan. Kafe-kafe atau toko-toko tidak punya toilet yang bisa dipakai umum. Di dalam bangunan (misalnya bangunan kampus New York University di kawasan Alun-alun Washington yang saya kunjungi) tidak punya toilet di setiap lantai. Toko kebab Lebanon yang saya kunjungi memiliki struktur seperti gua, hanya ada pintu masuk, tidak ada pintu keluar, karena belakang langsung mepet bangunan orang lain. Dampaknya, suplai tomat dan sayur untuk tabbuleh harus masuk dari pintu tempat masuknya pengunjung. Ini tentu tidak biasa–alaminya, pintu masuk dan keluarnya bahan makanan tidak sama.
  8. Pasangan gay menurut saya cukup banyak dan tampak jelas–mungkin ini karena saya berasal dari Arkansas, yang cenderung orang-orangnya lebih relijius dan cenderung memandang homoseksualitas sebagai dosa. Di Fayetteville, AR, mungkin lebih mudah (meskipun mudah di sini masih terbilang sulit) melihat pasangan lesbian daripada pasangan gay di tempat umum. Di New York City, pasangan gay bisa berjalan bergandengan tangan dengan mesra baik di taman maupun di jalan. Ah, jadi ingat episode pilot Sex in the City, di mana disebutkan bahwa hubungan seksual heteroseksual cenderung terjadi cukup kasual, tanpa melibatkan perasaan cinta yang mendalam, sementara di komunitas gay cinta masih menjadi satu elemen utama dalam hubungan.
  9. Banyak sekali orang merokok, jadi kalau ada bule mengeluhkan soal banyaknya orang merokok saat berada di Indonesia, sepertinya dia harus introspeksi dulu. Tentu, saya sebagai non perokok lebih senang kalau tidak banyak orang merokok. 😀
  10. Bahasa cenderung kayak film-filmnya Tarantino :D. Kalau ngomong fokang-faking terus. Kayaknya seperti arek jawa timuran yang kalimatnya dibumbui “cuk” secara dermawan, meskipun tidak untuk meluapkan emosi. Sepertinya gaya bahasa mereka sudah begini. Saat makan di sebuah kafe yang sesak, seorang cewek di sebelah saya selalu menyelipkan “faking” di setiap kalimatnya. Ini cuman contoh ekstrim. Makanya, kalau nonton film Premium Rush oknum polisinya mengeluhkan kecenderungan anak muda yang suka bahasa-bahasa kasar dalam kehidupan sehari-hari, seperti “douchebag” yang dipakai karakter Wilie dan kata “suck it” yang dipakai dalam acara-acara TV masa jam-jam tayang utama yang bisa ditonton anak-anak.

Sementara begitu dulu catatan dari Wong nDeso in New York. Kalau ada yang perlu, pasti akan ditambahkan.