Pegadaian karya Sigit Susanto: Estetika Mudik?

(Seperti biasa, perlu saya sebutkan bahwa dalam postingan kali ini saya akan berbicara tentang buku tulisan seorang yang saya kenal dan hormati. Saya harap setelah ini tidak ada lagi kecurigaan tentang bias. Tapi, sebisa mungkin saya akan obyektif.)

Sejujurnya saya agak menyesal baru sempat membaca novel Pegadaian karya Sigit Susanto. Saya justru telah membaca tiga buku catatan perjalanan karya Sigit Susanto (yaitu Lorong-lorong Dunia Jilid 1, 2, dan 3). Padahal, saya cukup lama kenal orangnya. Tapi, kenapa harus menyesal? Karena ternyata buku ini mengasyikkan, memberikan satu gambaran tanpa pretensi atas tradisi Idul Fitri khas Muslim tradisional desa Indonesia yang seringkali disebut “abangan,” dan terstruktur seperti untaian kisah-kisah kecil dengan satu tema besar yang menjadikannya asyik dibaca sambil tetap ada tujuan di akhir cerita.

Pegadaian berkisah tentang lika-liku hidup Sunar selama masa 5 tahun sebagai guide di Bali yang harus mudik ke kampung halamannya di Boja, Kendal, setiap Lebaran. Lika-liku hidup ini berkisar pada upaya Sunar membangun karir sebagai guide (mulai dari guide bahasa Inggris hingga menjadi guide bahasa Jerman) dan upaya Sunar membahagiakan ibunya yang sangat dia cintai. Di seluruh novel ini, tersebar kisah-kisah kecil keseharian Sunar sebagai guide dan kisah-kisah aktivitas mudik yang kelucuan. Di bagian awal novel, suasana mudik diwarnai keriangan tapi juga keharuan ibunya yang memandang Sunar sebagai anak yang paling sengsara dibanding kakak-kakaknya. Berangsur-angsur, sikap si ibu berubah seiring meningkatnya posisi Sunar sebagai guide. Namun, meskipun terjadi peningkatan status Sunar, ada satu hal yang tetap: setiap akhir masa mudik, Sunar terpaksa meminta ibunya menggadaikan bros peniti emas karena uang Sunar sudah benar-benar habis di akhir masa mudik, tak peduli berapapun yang dia bawa pulang.

Satu hal yang menarik dari novel ini adalah intensitasnya membicarakan perihal mudik lebaran dan segala aspeknya. Meskipun sesi mudik ini hadir secara teratur dan sangat bisa ditebak, isinya selalu membawa kebaruan. Di mudik pertama, kita akan melihat acara unjung-unjung atau silaturahmi ke saudara-saudara dekat yang tinggal agak jauh (tentu dengan pernak-perniknya yang gado-gado antara haru, bahagia, konyol, dan bahkan separuh jorok). Di sesi mudik kedua, sorotannya berbeda lagi. Begitu juga sesi mudik ketiga dan selanjutnya. Bahkan, ada sesi mudik yang memfokuskan pada acara wisata (yang dalam masyarakat Jawa disebut “piknik”). Jenis-jenis kegiatan mudik yang tak ada habisnya ini seolah menunjukkan bahwa kegiatan selama lebaran itu benar-benar tak ada ujungnya. Apalagi bagi mereka yang sudah absen sepanjang tahun dari kampung dan harus merekap semuanya dalam satu minggu. Seperti itulah mudik: mudik bukanlah liburan untuk istirahat menyisih dari sibuknya kota. Mudik adalah liburan untuk beraktivitas, menjalin kembali tali silaturahmi yang, seperti idealnya tali, harus panjang agar bermanfaat, harus panjang dan tak henti-henti, seperti acara makan yang tak henti-henti pada saat silaturahmi lebaran, dari rumah saudara satu ke rumah saudara yang lain, bahkan ketika kita merasa sudah kekenyangan, karena makan di sini seperti fungsi sosial menghormati saudara, lebih dari sekadar fungsi biologis.

Dalam aktivitas mudik ini juga kita bisa melihat wajah Islam yang tak bisa diingkari, yang bisa dibilang kurang menjual untuk hari-hari ini. Islam di sini begitu menjadi bagian dari masyarakat Jawa dalam novel ini. Tapi, bagian ini tidak menjadi penentu akhir untuk bagian-bagian yang lain. Kegiatan-kegiatan penting seperti silaturahmi, menghormati arwah leluhur, dan sejenisnya, dilakukan mengikuti penjadwalan menurut Islam, misalnya idul fitri. Tapi kegiatan-kegiatan itu memiliki signifikansinya sendiri tanpa bisa dimaknai sebagai milik eksklusif Islam. Satu adegan dalam novel ini yang bisa merepresentasikan hal itu adalah kegiatan silaturahmi ke saudara di gunung. Di situ, narator menyebutkan bahwa kunjungan itu lebih banyak diisi dengan perbincangan tentang berbagai topik dan hanya sedikit berurusan dengan salam-salaman. Tampak di sini seolah-olah Islam dengan Idul Fitrinya memberikan satu media atau waktu, sementara isi dari acara itu sendiri sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Dengan kata lain, ada sebuah kegiatan yang mungkin sejak lama menjadi kebiasaan, yaitu saling mengunjungi, dan Islam mengkonsentrasikan kegiatan saling mengunjungi itu pada saat Idul Fitri. Dengan begitu, acara saling mengunjungi itu terasa lebih kuat, seperti energi yang tercecer yang kemudian dipusatkan.

Satu hal lain yang terasa kuat dalam novel ini adalah atmosfir santai–pada sebagian besar novel. Atmosfir santai ini terasa terutama dalam dua elemen di novel ini: cerita-cerita kecil dan bahasanya. Seperti saya singgung di atas, dalam menceritakan lika-liku hidup sebagai guide, novel ini menghadirkan cerita-cerita kecil dalam keseharian Sunar yang terkadang menerbitkan senyum, terkadang mengundang haru. Cerita-cerita kecil ini datang  tanpa henti, hingga kita bisa bilang bahwa novel ini merupakan kumpulan manik-manik kisah kecil yang diuntai dengan satu tali tema hubungan ibu dan anak. Salah satu contoh dari kisah jenaka yang ada adalah tentang perkenalan Sunar dengan seorang gadis pegawai hotel. Di satu kesempatan, Sunar dan Mohar (sahabat baiknya) makan bersama dengan si gadis. Di akhir sesi makan, Mohar memberikan judgment atas gadis itu: dia bukan gadis baik-baik karena suka minum bir. Sunar menjadi ragu-ragu juga mengenai gadis itu. Belakangan, diketahui bahwa Mohar salah dengar: dia mengira gadis itu bilang “minta bir” kepada pelayan restoran, padahal sebenarnya dia bilang “minta bill,” satu istilah untuk kuitansi restoran yang tidak diakrabi oleh Mohar dan Sunar. Kisah-kisah ini tak cuma lucu, tapi ada juga yang mengharukan. Tapi, semuanya disampaikan dengan atmosfir santai. Kalau dikembaliken ke tema mudik, mungkin kita bisa memahami kisah-kisah kecil ini seperti cerita seorang saudara yang mudik kepada saudaranya di kampung. Cerita-cerita itu datang bertubi-tubi tiada henti, tapi selalu ada yang menjadikannya perlu disampaikan, entah itu kelucuan, kekonyolan, keharuan, maupun hikmah sederhananya.

Untuk kesantaian berbahasa, sepertinya saya akan membiarkan Anda membacanya dan mengalaminya sendiri. Yang jelas, di sini Anda akan bertemu istilah “streng,” atau “senyumnya tercecer,” atau “kawin karena kecelakaan,” yang saya bayangkan akan sangat nikmat bagi pembaca Indonesia, dan menyulitkan bagi calon penerjemah ke bahasa asing kalau si penerjemah bukan orang Indonesia (atau Jawa?). Saya hentikan di sini komentar soal kesantaian linguistik ini.

Maka begitulah catatan saya mengenai novel Pegadaian ini. Karena waktu saya untuk menulis sudah habis, maka saya sudahi di sini saja. Kalau Anda ingin simpulan saya atas novel ini, silakan baca paragraf kedua di atas. Semoga paragraf itu bisa menjalankan dwifungsi-nya, sebagai pendahuluan sekaligus simpulan. Oh ya, di judul postingan ini saya menggunakan istilah “estetika mudik,” yang belum saya definisikan sama sekali sejak awal hingga saat ini. Tapi, saya bersumpah saya sudah beberapa kali mencoba memberikan contohnya. Jadi, silakan temukan di atas dan definisikan sendiri apa itu “estetika mudik” yang saya maksudkan.

Selamat membaca!

 

Sholat Jumat di Harvard: Misalkan Kita Minoritas

Kali ini, Saudara-saudara penyimak Laporan Studi Banding yang saya hormati, saya ingin bercerita tentang sholat Jumat di negeri Aa’ Sam. Sebenarnya tujuan awal tulisan ini tentang pengalaman sholat Jumat di “masjid darurat” kampus Universitas Harvard. Tapi, seperti biasa, saya ajak dulu Anda menempuh jalan berliku. Saya akan mulai dengan hakikat sholat Jumat sebagai mayoritas–seringkali hakikat ini tidak pernah kita pikirkan. Baru setelahnya saya akan ceritakan khidmatnya sholat Jumat sebagai minoritas.

Hakikat Sholat Jumat Mayoritas

Kalau Anda tinggal di Indonesia, di mana sebagai Muslim Anda adalah mayoritas, mungkin tidak ada yang perlu dibicarakan soal sholat jumat. Anda bisa menemukan masjid di mana-mana dan pimpinan Anda sangat mengerti bahwa setiap hari jumat antara jam 12 sampai jam 1 Anda perlu istirahat untuk sholat Jumat. Bahkan, sistem penjadwalan kerja sudah mempertimbangkan ini. Murid-murid sekolah sudah dibebaskan dari bangku mereka pada pukul 11 pagi pada hari Jumat, bahkan kadang-kadang tanpa perlu kembali setelah sholat Jumat. Kalau Anda kerja di kantor, biasanya mungkin sudah ada pengaturan jam khusus.

Begitu juga dengan tempat sholatnya. Seringkali kita hanya perlu jalan dari tempat kita bekerja untuk bisa sholat Jumat. Ketika saya dulu kerja di Universitas Brawijaya, saya bisa memilih sholat Jumat di kampung saya atau di kampus sendiri. Biasanya sih di masjid kampus yang megah itu.

Dan seringkali kita menganggap ini biasa-biasa saja. Tentu, kita menganggap kenikmatan yang sudha sehari-hari kita nikmati sebagai sesuatu yang wajar dan, ya, tidak perlu lagi repot-repot mensyukurinya.

Tapi beda ceritanya kalau Anda tinggal di sebuah keadaan di mana Anda adalah minoritas. Beda ceritanya bila fasilitas-fasilitas yang biasanya dengan mudah Anda dapatkan tidak mudah ditemukan. Beda ceritanya bila sesuatu yang biasanya menjadi bagian “wajib” dari hidup Anda ternyata butuh diperjuangkan dulu, bila sesuatu yang menjadi hal pokok dalam hidup Anda tersebut dicurigai sebagai sesuatu yang berbahaya atau diniatkan untuk membahayakan orang lain (terutama mayoritas). Maka lanjutkan ke bagian selanjutnya:

Bukan Sekadar Toleransi, tapi Pengakuan Adanya Ketidaksetimbangan

Menuliskan kata “minoritas” di atas saya langsung teringat kembali album ke-5 Slank: “Minoritas.” Album itu keluar waktu saya SMA. Band pertama saya merekrut saya karena mereka butuh ikut sebuah festival yang mewajibkan peserta memainkan “Bang Bang Tut” sementara mereka tidak punya pemain kibord. Sekarang, setelah dua puluh tahun setelah kejadian itu, saya sadar betapa saat itu kata “minoritas” itu tidak terlalu penting artinya bagi saya. Saya tidak ingat apa arti kata itu dulu bagi saya. Mungkin saya semacam membayangkan bahwa kata itu mengacu pada orang-orang slengekan seperti Slank dan sejenisnya, yang dianggap sebagai orang-orang pinggiran.

Saya yakin sikap “tidak nyambung” semacam itu wajar bukan hanya bagi remaja, tapi bagi siapa saja yang merupakan bagian dari mayoritas–tapi bukan berarti yang wajar seperti itu harus dibiarkan. Kita cenderung menganggap segala hal itu natural, sampai akhirnya ada yang menunjukkan bahwa hal-hal tersebut sebenarnya adalah sosial dan historis. Maksud saya, dalam keadaan wajar, kita cenderung menganggap bahwa hal-hal yang kita lihat dan percayai dan miliki itu cenderung sesuatu yang sewajarnya. Padahal, banyak hal yang sebenarnya hasil dari suatu proses sejarah dan hasil bentukan sosial. Dalam hal ini, sejarah penyebaran Islam di Indonesia yang lumayan merata dan kurangnya menyoroti adanya minoritas dan mayoritas membuat saya gagal menyadari arti penting menjadi minoritas.

Yang juga perlu ditumbuhkan adalah menyadari perbedaan tingkat, dan mengajarkan untuk mencegahnya. Saya ingat hanya diajarkan toleransi dan menghargai perbedaan–yang sebenarnya tidak cukup. Ya, mengakui dan menghargai perbedaan saja tidak cukup. Kita masih perlu mengakui adanya perbedaan “level” antara kelompok-kelompok yang berbeda. Kalau hanya sekadar berbeda saja dengan jumlah anggota yang sama-sama besarnya, tentu keadaannya jadi tetap indah. Seperti idealnya keadaan “multikultural.” Tapi kalau berbeda dan salah satu jumlahnya lebih besar atau lebih memegang kekuasaan, tentu saja dinamikanya jadi lain. Yang ada adalah pengakuan adanya perbedaan di satu sisi, sementara ada praktik di mana orang-orang dari kelompok yang lebih mayoritas mendominasi yang minoritas.

Seperti biasa, hal-hal yang kita anggap wajar padahal bersifat historis atau hasil kondisi sosial ini baru terasa kalau kita pindah ke tempat lain yang sejarah dan konstruksi sosialnya berbeda. Tentu saya harus menggunakan kesempatan berharga ini untuk mengutip lagunya Brian Adams dan Mel C (mantan anggota Spice Girls): “Baby when you’re gone, I realize I’m in love.” Saat sesuatu yang biasanya sebenarnya bukan sesuatu yang natural itu hilang, baru terasa bahwa sebenarnya dulu kita menerimanya–pakai gaya generasi Facebook–secara taken for granted.

Dalam kasus saya, seorang Muslim dari Jawa, kondisi semacam ini terjadi ketika saya berada di Amerika Serikat, negara yang persentase penduduknya muslimnya kira-kira hanya 1 persen dari keseluruhan. Dalam kondisi seperti ini, baru sadar bahwa kewajaran-kewajaran dalam menjalani hidup sebagai Muslim di Indonesia itu sebenarnya adalah “kenikmatan” yang hanya bisa didapatkan oleh mayoritas. Di kota Fayetteville, bisa dibilang saya beruntung karena komunitas Muslimnya sudah berhasil membangun masjid. Tapi, untuk urusan sehari-hari, misalnya sholat, tentu saja saya harus mengusahakannya sendiri. Tempat wudhu juga tidak ada karena gaya toilet Amerika yang relatif berbeda dengan toilet Indonesia. Dan lain-lainnya. Pendeknya, segala hal yang seperti wajar buat Muslim di Indonesia menjadi sesuatu yang langka dan sangat diharap-harap.

Makanya, ketika ada satu komunitas Muslim yang cukup kaya di sebuah kota, meskipun jumlahnya kurang dari satu persen keseluruhan penduduk kota, mereka langsung berusaha membuat masjid–lebih tepatnya membeli bangunan untuk kemudian dijadikan masjid. Seperti misalnya masjid di kota Joplin, Missouri, yang saya tahu cukup baik karena kebetulan lokasinya hanya 1,5 jam dari tempat saya dan imamnya orang Indonesia. Jamaah masjid ini terdiri dari sekitar 50 keluarga. Tapi, karena jamaahnya cukup makmur, sebagian besar dokter asal Pakistan yang bekerja di rumah sakit setempat, mereka bisa membeli bangunan bekas gereja dengan halaman yang cukup luas. Sayangnya, sepertinya tidak semua orang suka ada bangunan masjid di Joplin. Masjid itu pernah menjadi korban percobaan pembakaran. Pelakunya tertangkap CCTV ketika mencoba melakukan pembakaran tersebut. Untungnya, pada saat itu api tidak sempat menjalar terlalu jauh sebelum akhirnya diketahui oleh salah seorang jamaah yang kebetulan berada di sana. Sayangnya, beberapa saat setelah kejadian tersebut, masjid itu terbakar habis sampai rata dengan tanah. Hingga saat ini, tidak diketahui apa penyebab kebakaran tersebut karena memang tidak ada bukti–kamera CCTV dan semuanya ikut ludes terbakar. Tapi, kurang dari dua tahun setelah musibah tersebut, jamaah masjid ini, dibantu dengan sumbangan warga Joplin dan sekitarnya, berhasil membangun masjid betulan. Kali ini masjidnya dibangun sedari awal sebagai masjid. Tentu, dengan menceritakan musibah masjid Joplin ini, saya harus menjelaskan bahwa tidak semua orang tidak suka dengan adanya masjid Joplin itu. Bahkan, tak lama setelah kebakaran masjid Joplin itu, banyak warga setempat, anak-anak pramuka, dan jemaat gereja setempat, yang menggelar acara malam renungan dan penggalangan dana untuk menumbuhkan kepedulian warga tentang kejadian yang menyedihkan Muslim kota Joplin.

Ketakutan kepada Muslim itu juga pernah terjadi dalam kasus rencana pembangunan Pusat Masyarakat Muslim Park 51 di Manhattan, tak terlau jauh dari gedung World Trade Center yang runtuh pada 11 September 2001 itu. Kelompok-kelompok tertentu, yang digawangi oleh Pam Geller dan orang-orang yang oleh Wajahat Ali disebut sebagai jaringan Islamofobia itu, memanas-manasi orang untuk menolak pembangunan bangunan tersebut. Bahkan, mereka sampai menyebut bangunan itu sebagai “Masjid Ground Zero,” untuk menunjukkan ironi antara lokasi runtuhnya World Trade Center dengan bangunan tempat ibadah agama dianut para teroris pembajak pesawat tersebut, para teroris yang mengklaim melakukan tidak kejahatannya atas nama Islam itu. Seperti biasa, tentu banyak sekali yang menentang upaya memanas-manasi ala Pam Geller dan Frank Gaffney ini. Gaffney ini juga pernah melakukan protes keras atas bangunan masjid di Tennessee, yang katanya menjadi sarang pertumbuhan teroris. Dia mengklaim bahwa masjid di Tennessee itu merupakan tempat mendoktrin kaum muda Muslim Amerika untuk menjadi orang-orang yang lebih percara “hukum syariah” daripada Undang-undang Dasar Amerika Serikat. Dan ini bukan kali pertama Gaffney melakukan hal serupa. Dia membisikkan rencananya kepada banyak perwakilan rakyat Amerika yang duduk di Dewan Perwakilan-Dewan Perwakilan tingkat negara bagian. Biasanya, kalau Dewan mulai mempertimbangkan anjuran Gaffney ini, dia kemudian dipanggil untuk menjadi nara sumber asli dalam acara Dengar Pendapat di Dewan Perwakilan. Tentu ini kesempatan bagi Gaffney untuk menyampaikan pendapatnya mengapa Islam itu agama yang perlu diwaspadai dan perlu dibuatkan peraturan khusus yang melarang penerapan “hukum syariah.”

Tentu di Indonesia sendiri hal-hal semacam ini bukan hal yang asing. Bedanya, yang menjadi sasaran tentu bukan kaum Muslim. Korbannya bisa berupa minoritas beragama Kristen di sebuah lokasi, minoritas sekte Muslim tertentu, atau bahkan minoritas penganut kepercayaan lokal tertentu. Mungkin kita akan bilang: Ah, tapi itu kan berbeda? Tapi orang-orang itu kan tidak menyalahi hukum Islam yang sesungguhnya dari Allah?

Apanya yang berbeda? Secara isi mungkin berbeda, karena memang dunia ini bermacam-macam dan banyak sudut pandang untuk melihat sebuah urusan. Tapi pada dasarnya, secara relasional semua itu tidak terlalu berbeda. Bagi mayoritas Muslim di Indonesia, mungkin saja Ahmadiyah itu adalah ajaran yang sesat, yang harus dilarang dan dibbuatkan Undang-undang, karena itu bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dan sebagian orang Islam juga berkata demikian. Dan mereka berharap ada perundang-undangan yang melarang penyebaran agama ini.

Mari kita bandingkan dengan kasus di Amerika. Orang-orang seperti Jeffrey dan Pam Geller itu menggunakan Undang-undang dasar Amerika sebagai landasan mereka. Mereka juga gunakan nilai-nilai kemanusiaan barat yang bagi mereka Universal dan harus dipatuhi semua manusia sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Mereka tidak mau ada orang nikah dua karena itu bagi mereka tertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, mereka tidak mau orang-orang disuruh memakai jilbab karena itu sama saja dengan menekan perempuan, mereka juga tidak mau ada hukum potong tangan karena itu tidak manusiawi. Dan seterusnya.

Pendeknya, kalau banyak Muslim di Indonesia yang berpegangan pada apa yang menurut mereka dari Tuhan dan tidak bisa diganggu-gugat, Pam Gellar dan kelompoknya berpegangan pada nilai-nilai kemanusiaan. Apapun perbedaan detil dari nilai-nilai yang mereka percayai benar itu, yang pasti mereka sama-sama tidak mentolerir adanya perbedaan.

Begitulah kita hendaknya melihat ini. Terus Anda pun bertanya, bukankah itu nantinya bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia? Tentu tidak. Kepribadian bangsa Indonesia mengandung “Ketuhanan Yang Maha Esa,” tapi dia juga mengandung “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Yang pertama memang berarti percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. Dan kita tahu, agama Hindu adalah agama politeisme, tapi tidak sekali-kali kita boleh menganggap bahwa agama HIndu bertentangan dengan Pancasila. Bahkan, banyak hal-hal yang dipercaya sebagai nilai-nilai filsafat yang tinggi itu berasal dari peradaban Hindu Indonesia, pada zaman kerajaan Majapahit. Bagaimana kalau Ketuhanan yang Maha Esa sebenarnya bermakna mempercayai satu kuasa ilahi yang harus dijunjung lebih tinggi daripada hasrat-hasrat kemanusiaan kita? Mungkin inilah nilai tertinggi dari penghapusan “dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeloek2-nja” dari Piagam Jakarta. Dia satu sisi Pancasila tidak jadi mewajibkan pemeluk Islam menjalankan syariat Islam, tapi di sisi lain juga dia semakin membuka ruang yang sangat luas untuk menafsirkan “ketuhanan yang maha esa.”

Khidmat Sholat Jumat di Harvard

Setelah jalan ke sana-ke mari, kembalilah kita ke urusan sholat Jumat di kampus Harvard. Seperti saya sebutkan pada postingan-postingan sebelumnya, saya beruntung bisa berada di kota Cambridge, satu kota kecil yang memiliki dua kampus paling terkenal di dunia, Universitas Harvard dan MIT (Massachusetts Institute of Technology). Dan saya juga beruntung karena berkesempatan bisa mengikuti dan menyaksikan sholat Jumat di lingkungan ini. Dan, yang tak kalah menariknya, sholat Jumat ini diadakan di sebuah lokasi yang dipakai para mahasiswa (dan pegawai Muslim) atas seizin kampus.

Bukan pertama kalinya saya menghabiskan waktu selama tiga empat hari di sebuah kampus Amerika (selain kampus saya) untuk urusan presentasi di konferensi. Tapi baru kali ini saya sempat sholat Jumat. Biasanya, karena repot cari tempat dan lain-lain, saya memilih memanfaatkan dispensasi untuk tidak sholat Jumat. Tapi kali ini berbeda: saya memutuskan untuk mengikuti sholat Jumat ini karena menurut situs Perkumpulan Mahasiswa Muslim di Harvard memang tersedia lokasi di dalam kampus yang biasa dipakai untuk sholat Jumat. Lagi pula, presentasi saya kali ini benar-benar tentang Muslim Amerika; tentu ganjil rasanya berbicara tentang Muslim Amerika tanpa menyempatkan diri berada di tengah-tengah mereka. Maka, setelah menghadiri sebuah sesi panel tentang agama dan etika dalam sastra dan mengikuti rapat divisi agama dan etika Asosiasi Sastra Perbandingan Internasional (yg dihadiri belasan orang saja), saya pun mencari ruang kuliah lantai 2 gedung Lowell.

Ternyata sholat Jumatnya unik: wudhu di basement, dan sholat di lantai dua. Karena ini bukan masjid, maka tidak ada tempat wudhu yang “mewah,” yang memungkinkan kita bisa mencuci kaki dengan nikmat (ini juga termasuk kenikmatan lho). Bahkan, karena arsitektur gedungnya, kamar kecil terdekat dari tempat sholat terletak di lantai bawah. Saat wudhu, saya bertemu seorang mahasiswa masih muda asal Indonesia, namanya Dimas. Setelah wudhu, saya nanti ke lantai atas dan melihat ruang kuliah yang berbentuk bujur sangkar dengan tatanan kursi di tiga sisi dan panggung utama seperti lembah. Layaknya ruang kuliah. Ada juga lantai atas untuk tempat duduk mahasiswa. Kalau Anda tahu “The Globe,” gedung pertunjukan zaman Shakespeare, pasti Anda tahu yang saya maksud.

Tema khutbah hari itu bisa dibilang sangat sederhana, mendasar, tanpa tedeng aling-aling: tentang nilai nyawa manusia dan betapa besarnya dosa membunuh. Khatib yang masih muda, sekitar awal dua puluhan, mungkin, dengan bahasa Inggris sangat “cetha” dan sedikit beraksen. Dia seperti keturunan atau asal Timur Tengah. Saya tidak bisa memastikan apakah ini aksennya New Jersey atau dia memang mahasiswa asing yang sudah lama tinggal di sini. Hal mencolok lainnya dari khatib muda ini adalah bacaan alquran dan hadits-nya. Gaya pembacaan yang dia pakai benar-benar berbeda. Ketika mengutip dari Alquran, dia melagukannya dengan nada pilu–seperti menurut beberapa hadits. Tapi ketika mengutip hadits, dia mengucapkannya seperti orang berpetuah. Semua ini dilakukan tanpa teks. Tangannya seperti agak canggung. Kadang memberi isyarat, kadang bersedekap, kadang pose istirahat di tempat. Saya bisa membayangkan betapa tidak biasanya memberikan khutbah sambil berdiri tanpa podium atau mimbar, tapa tongkat, sementara orang-orang lain duduk bersila dengan santai. Tidak ada pembatas antara jamaah putra dan putri. Saya tanpa sadar menoleh ke belakang dan melihat para jamaah perempuan yang jumlahnya kira-kira seperempat jamaah pria. Saya sungkan sendiri takut dikira main mata. Seusai sholat, saya bertemu lagi dua mahasiswa pasca sarjana asal Indonesia, Reza dari Aceh dan Naim dari Jawa Tengah–yang belakangan saya ketahui sangat terkenal :).

Komunitas Muslim Kampus yang Beruntung

Komunitas Harvard ini terbilang sangat beruntung karena bisa menjalankan sholat Jumat di tengah kampus, tak jauh dari mana-mana. Mereka memiliki daya tawar yang sangat tinggi untuk bisa mendapatkan fasilitas sholat Jumat di kampus yang suasana sekelilingnya sangat Kristen. Bayangkan saja, Cambridge adalah salah satu kota pertama tempat koloni orang Eropa di Amerika Utara. Orang-orang Eropa yang datang ke sini adalah orang-orang Puritan, yang meninggalkan Inggris karena mereka terdesak di negara asalnya. Jadi, intinya orang-orang yang mendirikan kota-kota di Northeast atau New England adalah orang-orang yang sangat alim. Makanya, Anda bisa melihat sangat banyak gereja megah yang sangat tua di Cambridge dan Boston ini.

Di tempat-tempat seperti inilah, ketika hasil usaha beberapa mahasiswa atau pegawai Muslim di universitas membuahkan hasil, kita merasakan bahwa ada yang perlu disyukuri dan dikritisi dari kemewahan yang kita dapatkan di negeri sendiri. Dalam suasana sholat Jumat seperti ini, yang mungkin sesuatu yang sangat biasa bagi saya dulu (karena bahkan di SMP saya di desa punya musholla yang mengadakan sholat Jumat), saya sempat memikirkan bahwa sesuatu yang kita anggap natural itu sebenarnya adalah bentukan sejarah dan sosial, yang sewaktu-waktu bisa hilang.

Di saat itulah saya bisa sedikit merasakan bagaimana rasanya saudara-saudara yang termasuk anggota minoritas agama di Indonesia, baik itu yang Kristen, Hindu, maupun minoritas dalam agama Islam sendiri. Saya bisa sedikit bayangkan mimpi mereka mengadakan ibadah berjamaah di kampung atau bahkan di kampus. Tapi ya, serepot-repotnya saya mencoba beribadah secara normal di Aa Sam ini, ini cuma sementara. Nanti, kalau pulang di Indonesia, saya bisa menemukan tempat wudhu yang enak di gedung kampus, dan bisa sholat di masjid yang ada di kampus. Sementara anggota kelompok minoritas tertentu yang lahir dan besar di Indonesia, yang tak punya “kampung halaman” selain Indonesia, mereka akan terus-terusan merasakan repotnya beribadah. Kecuali bila kelompok mayoritas berempati dengan betapa repotnya urusan beribadah bagi mereka. Kecuali bila mayoritas yang bisa memegang kebijakan bisa “nyambung” dengan apa yang dirasakan anggota minoritas agama tertentu.

Mungkin di situlah perlunya studi banding jangka panjang…

Hari Raya Dilematis

Tibalah saatnya hari raya paling raya di Negeri Aa’ Sam: Thanksgiving, atau Hari Raya Panjat Syukur. Orang-orang di negeri ini merayakan hari besar ini tak peduli apapun agama mereka–Kristen, Katolik, Yahudi, Islam, Sikh, Hindu, dll. Tapi, kalau kita menilik sedikit saja sejarah di balik hari raya ini, tak urung kita akan mendapati sesuatu yang janggal: hari raya ini memperingati upacara syukuran karena keberhasilan panen pertama para pendatang yang kelak anak turunnya akan menguasai tanah Amerika Utara ini, dan memojokkan dan bahkan membantai orang-orang pribumi yang memungkinkan mereka berhasil panen untuk pertama kalinya. Makanya, banyak juga sebenarnya orang-orang di Negeri Aa’ Sam (bahkan yang kulit putih) yang mengkritisi hari raya ini. Bagi blogger Anda ini secara pribadi, tentu ini hari raya yang dilematis. Kenapa?

Sebelum terlalu jauh, perlu kita akui bahwa sejarah Thanksgiving sepertinya tidak terlalu penting lagi bagi banyak orang saat ini. Kebanyakan orang saat ini memahami Thanksgiving sebagai hari untuk bersyukur atas apa-apa yang berarti bagi hidup kita saat ini. Dan bagi banyak orang lainnya, terutama orang-orang yang baru tinggal di Amerika (entah itu imigran maupun mahasiswa), terutama yang cukup duit, Thanksgiving adalah saatnya belanja karena pada saat itu toko-toko jor-joran memberi diskon. Begitu juga dengan toko-toko online: mereka juga jor-joran memberi diskon.

Seperti apa sejarahnya? Menurut versi resmi ensiklopedia (seperti ini, misalnya, yang ditulis untuk konsumsi anak-anak tapi tidak simplistik dan tidak menyesatkan) begini singkatnya: 1) Thanksgiving yang pertama diadakan pada tahun 1621, untuk merayakan keberhasilan panen pertama para pendatang eropa (yang disebut “pilgrim” atau “peziarah,” yang merupakan kelompok separatis relijius yang merasa tidak bisa menjalankan agamanya dengan bebas di Inggris, yang juga disebut sebagai kaum Puritan). Sebelum panen pertama ini, mereka masih tinggal di kapal di perairan New England (Amerika Timur Laut) dan banyak dari mereka yang mati karena kelaparan dan kurang gizi pada musim dingin sebelumnya. Dan keberhasilan mereka ini dikarenakan bantuan Squanto, seorang pribumi yang bisa berbahasa Inggris karena sebelumnya pernah menjadi budak orang Inggris dan meloloskan diri. Keberhasilan panen ini dirayakan dengan pesta tiga hari berturut-turut, disertai sumbangan lima ekor rusa dari para penduduk pribumi. Selanjutnya, 2) seabad lebih kemudian Thomas Jefferson mencanangkan peringatan Thanksgiving pertama tadi secara resmi. Dan, belakangan 3) seratus tahun selanjutnya, atas desakan dan kampanye penulis Sara Josepha Hale (yang menciptakan lagu “Marry Had a Little Lamb”), Abraham Lincoln mencanangkan Thanksgiving sebagai hari raya nasional di tengah Perang Saudara. Jadi, secara umumnya, merayakan Thanksgiving adalah mengingat kembali keberhasilan panen yang terwujud oleh semangat kerukunan dan kerjasama antara orang kulit putih dengan penduduk pribumi pada tahun 1621 itu.

Tapi, apakah seindah itu? Sayangnya tidak, dan ketidakindahan sejarah ini adalah apa yang terjadi beberapa dekade setelah itu.

Setelah perayaan Thanksgiving pertama itu, hubungan antara para pendatang Eropa dengan penduduk pribumi tidak indah. Banyak di antara pendatang ini yang menganggap orang pribumi itu sebagai orang yang belum beradab, dan harus diadabkan. Dengan itu, Kristenisasi penduduk pribumi mulai berjalan. Kemudian banyak terjadi konflik antara pendatang dan pribumi, terutama karena pribumi merasa semakin terdesak. Janji peradaban melalui agama juga ternyata tidak terwujud. Banyak pribumi yang sudah Kristen (yang disebut “Indian Sembahyang”) yang akhirnya disisihkan, dikumpulkan jadi satu di pulau dan dibiarkan kelaparan. Banyak terjadi peperangan yang berlanjut dengan pembantaian dan pembudakan para penduduk pribumi. Pendeknya, dalam lima puluh tahun saja, sebagian besar penduduk pribumi di kawasan Amerika Timur Laut itu habis.

Memang, tidak semua pendatang Eropa seperti itu. Menurut Akbar Ahmed, penulis buku Journey into America: The Challenge of Islam, ada tiga kelompok identitas Amerika (primordial, pluralis, dan predator). Kelompok yang saya sebutkan di atas itu adalah kelompok yang “primordial” (yang ingin meng-Kristen-kan Amerika) dan golongan “predator” (yang ingin menumpas siapa saja yang berbeda paham dengannya, entah karena perbedaan ras maupun perbedaan agama). Ada juga pada masa pendatang awal itu yang merupakan golongan “pluralis.” Salah satu tokohnya adalah Roger Williams, yang terbilang sekuler dan berbeda paham dengan orang-orang primordial kebanyakan, hingga dia nyaris saja dipulangkan kembali ke Inggris. Untungnya Roger Williams dan orang-orang yang sepaham dengannya melarikan diri dan membentuk komunitas sendiri di kawasan yang akhirnya menjadi negara bagian Rhode Island. Di kawasan ini, Roger Williams dan kelompoknya membuat kesepakatan untuk memisahkan antara pemerintahan dan keagamaan, menganggap kaum pribumi dan pendatang Eropa setara, mengharamkan perbudakan. Kelak, ketika para “founding father” menyusun naskah proklamasi dan Undang-undang Dasar Negeri Aa’ Sam, pandangan yang memisahkan antara agama dan pemerintahan inilah yang akhirnya diusung. Jadi, memang selalu ada kelompok orang Eropa yang cenderung welas asih terhadap sesamanya di negeri Amerika ini, yang bahkan menentang perilaku pendatang/keturunan Eropa lainnya terhadap penduduk pribumi.

Pertanyaannya sekarang, bagaimana dengan perayaan Thanksgiving itu sendiri? Apakah merayakan keberhasilan panen yang diwarnai kerukunan itu bisa dipisahkan dari sejarah kelam yang terjadi setelah jamuan makan tiga hari tiga malam itu? Banyak orang Amerika yang dengan itikad baik merayakan Thanksgiving ini sebagai momen untuk mengucap syukur atas segala rahmat yang mereka dapatkan dalam hidup. Banyak juga para imigran baru (tak peduli dari budaya manapun dan agama apapun) yang merangkul tradisi ini dan merayakannya dengan makan kalkun, kaserol buncis, pie labuh, jus kranberi. Saya sendiri merasa dilematis. Karena, kalau kita tahu laju sejarah Negeri Aa’ Sam ini dan tetap merayakannya, berarti kita mengabaikan begitu saja dan membiarkan kekelamannya terlewat begitu saja. Sementara, kalau kita tidak semapt tahu sejarahnya, sama artinya kita merayakan sebuah hari dengan makan-makan dan belanja tanpa tahu bahwa di balik hari yang kita rayakan itu ada sejarah kelam. Dan, bagi saya pribadi, kalau harus mengangkat tema seperti ini dalam perbincangan dengan kawan-kawan saat makan-makan, tentu saja saya jadi perusak kebahagiaan. Apalagi, orang-orang yang pernah mengundang saya dalam makan-makan Thanksgiving itu biasanya adalah orang-orang yang baik, yang mengadakan jamuan itu dengan itikad baik. Sebagian dari mereka adalah dosen, warga lokal yang memang ingin mengundang mahasiswa asing, atau teman-teman sesama warga Indonesia di Amerika sebelah sini. Dilematis bukan?

Memang dilematis merayakan sesuatu yang, bagi pribumi Amerika khususnya, merupakan awal dari sejarah kelam. Bayangkan kalau Anda orang pribumi Amerika yang sekarang tinggal di reservasi (atau kakek moyang Anda disuruh pindah ribuan kilometer karena tanahnya diambil pemerintah)? Bisakah Anda merayakan hari raya seperti itu? Dalam video ini, Anda bisa melihat apa yang terlintas di pikiran anak-anak muda pribumi ini saat mendengar kata Thanksgiving. Sebagian dari mereka tidak memungkiri Thanksgiving adalah saat berbahagia bersama keluarga, dan banyak yang langsung merespon sengit. Tapi salah seorang perempuan mengatakan bahwa “Thanksgiving adalah saat bersenang-senang dengan keluarga, sambil mencoba mengabaikan sejarah di baliknya! (Lihatlah video bagaimana anak-anak pribumi ini merespon buku anak-anak tentang Thanksgiving). Buat kita bangsa Indonesia, yang pernah mengalami penjajahan dan kemudian berhasil “menyatakan kemerdekaannya,” semestinya tidak sulit membayangkan kalau kita berada pada posisi anak-anak pribumi ini.

Begitulah dilematisnya Thanksgiving, menurut saya. Entah, apa mungkin suatu saat kelak Negeri Aa’ Sam menyadari dilema di balik perayaan Thanksgiving ini. Menurut saya sangat mungkin. Saat ini saja ada kelompok-kelompok yang memilih “merayakan” Thanksgiving sebagai Hari Perkabungan Nasional. Gerakan protes ini diadakan setiap tahun di kawasan New England, dekat Plymouth Rock, tempat pertama kali para “pilgrim” mendarat dengan kapal Mayflower. Kesadaran akan beratnya sejarah di balik Thanksgiving ini terbilang semakin besar, tidak hanya di kalangan penduduk pribumi, tapi juga di kalangan orang-orang kulit putih (baik keturunan para pendatang Puritan maupun imigran Skotlandia-Irlandia, Irlandia, Italia, dll. yang datang belakangan). Atau, contoh lainnya adalah bagaimana perayaan Hari Kolombus yang akhir-akhir ini sudah mulai meningkat kontroversinya. Banyak kota dan negara bagian yang memutuskan untuk tidak merayakan Hari Kolombus ini (karena alasan yang sama: kedatangan Kolumbus adalah awal kolonisasi) dan bahkan mengubahnya menjadi Hari Bumiputera.

Jadi, bukan tidak mungkin perayaan Thanksgiving yang sekarang merupakan hari raya terbesar Amerika ini suatu saat akan berubah. Kalau Anda ingat satu adegan dalam film With Honors (yang dibintangi Brendan Frazer itu), tokoh utama tunawisma menjawab: kejeniusan Undang-undang Dasar Amerika adalah bahwa dia sadar bahwa dia tidak sempurna, sehingga membuka kesempatan untuk diamandemen. Kalau Undang-undang Dasarnya saja membuka diri terhadap amandemen, pasti tradisinya juga membuka diri terhadap perubahan. Tentunya perubahan yang baik dalam hal Thanksgiving ini adalah perubahan yang menjadikannya tidak dilematis lagi. Tapi, saya bayangkan perubahan terhadap Thanksgiving ini tidak akan semudah perubahan dari Hari Kolumbus menjadi Hari Bumiputera. Kenapa? Karena sepertinya Thanksgiving ini sudah dimiliki oleh korporasi-korporasi besar yang menjadikannya sarana meraup untung besar-besaran. Mulai pabrikan barang elektronik sampai pabrikan jaket, mulai swalayan betulan hingga toko online, semuanya turut mendapatkan untung besar-besaran dari Thanksgiving. Dan biasanya yang seperti ini, yang tidak politis seperti ini, yang lebih bisa dinikmati tanpa repot-repot. Dan saya sendiri, seperti biasa, ada kesempatan untuk merenungkan dan menuliskannya karena memang belum punya cukup modal untuk ikut berpesta.

Konsep Signifyin(g) dan Implikasi-implikasinya

Dalam buku seminalnya yang berjudul Signifying Monkey, Henry Louis Gates, Jr. menyodorkan satu konsep estetika sastra Afro-Amerika (dan juga seni budaya khas Afro-Amerika secara umum). Konsep itu disebut “signifyin(g)”. Memang seperti itu, ada “g” di dalam kurung. Dan demi menghindari masalah terkait peliknya urusan peristilahan ini, saya tidak akan menerjemahkan “signifyin(g)”. “signifyin(g)” adalah penandaan, tapi berbeda dengan penandaan yang umumnya kita pahami.

Dalam linguistik, Ferdinand de Saussure menteorikan bahwa pada dasarnya bahasa adalah sistem penandaan, signifikasi. Sebuah kata adalah penanda yang merujuk kepada petanda, atau entitas mental yang diacu kata tersebut. Kalau fokusnya diperluas lagi, kalimat adalah untaian kata-kata yang memiliki maksud tertentu. Begitulah sederhananya bahasa bekerja, ada bunyi yang bisa didengar yang fungsinya untuk mengantarkan konsep mental yang hanya bisa terbentuk di benak kita. Saat saya bilang “Tolong tutup pintunya,” Anda sebagai orang yang memahami cara kerja bahasa akan tahu bahwa yang saya inginkan adalah agar pintunya tidak lagi terbuka, dan Anda pun menutup pintu. Begitulah sistem penandaan konvensional, yang mengandaikan bahwa di balik sebuah ujaran terdapat maksud yang bisa ditangkap. Pendeknya, bahasa adalah mangkok yang menjadi wadah untuk bakso makna. Metafora dan berbagai jenis penggunaan bahasa yg tidak tidak to-the-point cenderung dianaktirikan. Bagi Henry Louis Gates, Jr., sistem penandaan konvensional ini disebut “sistem penandaan orang kulit putih.”

Berdasarkan observasinya atas karya-karya seni budaya Afrika Amerika, dan dengan diilhami teori dekonstruksi Jacques Derrida–yang biasanya dipahami orang sebagai teori tentang tidak adanya makna tunggal di balik sebuah ujaran–Gates menyatakan bahwa seniman budayawan Afro-Amerika bekerja dengan sistem penandaan yang berbeda. Pertama-tama, untuk membedakan sistem penandaan itulah dia menggunakan istilah “signifyin(g)”–seperti kecenderungan orang Afro-Amerika secara umum, bunyi “ng” pada “kata kerja+ing” tersunat dan menyisakan bunyi “n”. Dengarlah lagu Kanye West yang berjudul “One”: The storm is on the horizon, I’m si’in here all alone. Sori, bukan bermaksud meremehkan pengetahuan Anda. Saya cuma seorang blogger yg belajar menulis dengan jelas dan menyokong setiap klaim dengan contoh dan penjelasan. Baik, kembali ke urusan “signifyin(g)”, yang membedakan cara penandaan Afro-Amerika adalah tidak adanya penyampaian maksud dengan sistem penandaan yang saklek dan literal.

Kongkretnya, dalam karya seni budaya Afro-Amerika (bahkan sejak masa perbudakan, dan bahkan sejak masih di Afrika), bahasa tidak hanya menjadi mangkok pengantar bakso makna. Bahasa tidak hanya dipakai untuk menyampaikan pesan. Sebaliknya, bahasa digunakan hingga pada ekstrimnya membingungkan penerimaan makna. Dalam praktiknya, narasi Afro-Amerika sarat dengan interupsi, gangguan, banyolan, metafora dan lain-lain yang cenderung mengalihkan perhatian dari maksud yang ingin disampaikan. Contoh sederhananya adalah, seperti sering muncul di film, kotbah di gereja-gereja kulit hitam: pendeta berceramah penuh semangat dan di tengah-tengah dia meminta persetujuan jemaatnya “bagaimana saudara?” dan jemaat pun menyahut “benar pak pendeta!” atau kadang-kadang tanpa diminta pun jemaat menyela “seratus persen betul pak pendeta!” Praktik ini terbawa bahkan di kalangan Muslim kulit hitam, pada zaman Moorish Science Temple, Nation of Islam, atau bahkan para Muslim yang ikut pindah haluan ke arah sunni mengikuti Warith Deen Muhammad. Contoh lain dari sistem penandaan yang cenderung liar ini adalah musik bebop (yang contoh terbaiknya adalah album Kind of Blue): hanya ada progresi sederhana yang ingin disampaikan, tapi si musisi menggunakan improvisasi setiap kali ingin menyampaikan progresi sederhana itu kepada pamiarsa dan para mitra dengar.

Dalam karya sastra, sebagaimana diteorikan Henry Louis Gates, Jr., penandaan gaya Afro-Amerika ini menempatkan bahasa kias, “interupsi, ambiguitas main-main, dan ‘menyampaikan sesuatu secara mbulet'” sebagai modal utama (Venturio 191). Tujuannya pun kadang diniatkan untuk menyulitkan pemahaman. Dan bagi orang-orang yang hidupnya dalam tekanan seperti pada masa perbudakan, gaya bahasa yang seperti ini menjadi perlindungan. Tidak bisa tidak, di sini saya jadi ingat cerita yang dipercaya banyak orang Malang. Konon, asahab ngalaman yang dilowak-lawik* itu sebenarnya adalah upaya genaro ngalam** untuk membingungkan orang luar pada masa kolonial dulu. Saya tidak pernah membaca sendiri penelitian tentang ini, tapi asyik juga kan kedengarannya kalau memang iya?

Kembali ke Henry Louis Gates, Jr. dan “signifyin(g)”, itulah sumbangan Gates dalam teori sastra (Afro)Amerika. Dengan pemahaman mendasar tentang kecenderungan penting dalam karya seni-budaya Afro-Amerika itu, Gates seolah menegaskan bahwa kita tidak bisa membaca karya-karya seniman/budayawan kulit hitam seperti halnya kita membaca karya-karya orang kulit putih. Kita tidak bisa menggunakan standar yang sama untuk membaca karya-karya itu. Seperti kata Einstein, kita tidak bisa menilai gajah dari kemampuannya naik sepeda. Menggunakan standar konvensional hanya akan membuat daftar sastra kanon kita berisi tulisan orang-orang kulit putih. Bagi kita di nuswantara, mungkin ada lagi implikasi dari pemahaman akan beragamnya standar ini: bagaimana kita mengukur karya seni budaya kita? Apakah kita masih mengukur kualitas karya sastra kita dengan standar asing? Ataukah kita sudah sempat menggali kecenderungan budaya kita (yang adi ragam ini) dan menjadikannya sebagai tolok ukur untuk karya di saat ini?

Oh ya, pasti Anda bertanya-tanya kenapa buku Gates yang berisi konsep “signifyin(g)” ini berjudul Signifying Monkey? Sebenarnya “signifying monkey” adalah monyet super cerdik dalam salah satu legenda Afrika (mungkin semacam kancil-nya orang Melayu). Si monyet ini selalu menang melawan binatang2 lain yang lebih kuat karena kemampuannya bermain kata-kata sehingga berhasil mengkadali binatang-binatang lain. Ya, dia bermain-main dengan sistem penandaan. Ya, dia menggunakan bahasa bukan hanya untuk menyampaikan maksud, tetapi juga untuk mengaburkan maksud, dan menyelamatkan jiwanya. Seperti halnya para seniman dan budayawan Afro-Amerika.

*bahasa Malangan yang dibolak-balik

**orang Malang

Saya berhutang super banyak kepada Henry Louis Gates, Jr. dalam bab 2 buku Signifyin(g) Monkey yang berjudul “The Signifying Monkey and the Language of Signifyin(g): Rhetorical Differences and the Orders of Meaning” dan Steven J. Venturio dalam buku The Complete Idiot’s Guide to Literary Theory and Criticism yang membuat konsep ruwet jadi renyah.

Dunia yang Menyempit, Batas yang Melebur

Di antara banyak istilah yang telah menjadi klise dalam kehidupan sehari-hari adalah ungkapan “di zaman internet ini, dunia terasa menyempit* dan batas-batas semakin melebur.” Saking klisenya, metafor ini terasa seperti kalimat sederhana dengan makna denotatif yang tak bisa diganggu gugat. Dalam kesempatan ini, saya pingin berbagi satu kutipan dari cerpen apik Bharati Mukherjee yang berjudul “The Tenant” dari buku The Middleman and Other Stories.** Cerpen ini berkisah tentang seorang mahasiswi S3 asal India bernama Maya yang sudah cukup lama tinggal di Amerika dan telah menjadi warga negara Amerika, pernah menikahi lelaki Amerika, dan pandangannya dengan kasta sudah “tidak lagi India.”

Di satu kesempatan, Maya pergi ke perpustakaan dan masuk ke bagian periodikal dan menemukan beberapa mahasiswa asing yang sedang mengikuti berita tentang negara-negara asal mereka melalui koran-koran asing yang tersedia di bagian itu. Di masa itu, di masa pra-internet, menjaga hubungan dengan kampung halaman membutuhkan banyak usaha. Makanya, banyak sekali orang yang kerja di luar negeri dan benar-benar gegar budaya ketika kembali ke kampung halamannya. Merantau bisa-bisa membuat orang putus hubungan dengan kampung halaman. Banyak yang tidak bisa melewati batas itu.

Nah, bandingkan dengan sekarang: kalau ingin mendengar berita tentang kampung halaman, kita tinggal buka komputer dan bisa baca berita tentang pemain bola idaman yang keseleo di kampung halaman kita di seberang samudera sana. Bisa dibilang, tidak ada lagi batas yang signifikan selain batas geografis. Kini, perantau bisa menjadi makhluk amfibi yang secara fisik tinggal di Amerika dan secara mental tinggal di Indonesia (meskipun dalam hal ini “Indonesia” berarti Indonesia versi teman-teman facebook, versi Kompas, versi Detik.com, atau bahkan versi Jonru). Inilah makna yang terkandung di balik ungkapan menyempitnya dunia dan meleburnya batas-batas. 

Nah, sebelum saya keterusan ngobras, saya bagi saya dengan Anda sekalian satu bagian yang menggambarkan dunia pra-peleburan batas itu: 

The next day, Monday, instead of getting a ride home with Fran–Fran says she likes to give rides, she needs the chance to talk, and she won’t share gas expenses, absolutely not–Maya goes to the periodicals room of the library. There are newspapers from everywhere, even from Madagascar and New Caledonia. She thinks of the periodicals room as an asylum for homesick aliens. There are two aliens already in the room, both Orientals, both absorbed in the politics and gossip of their far off homes.

She goes straight to the newspapers from India. She bunches her raincoat like a bolster to make herself more comfortable. There’s so much to catch up on. A village headman, a known Congress-Indira party worker, has been shot at by scooter-riding snipers. An Indian pugilist has won an international medal–in Nepal. A child drawing well water–the reporter calls the child “a neo-Buddhist, a convert from the now-outlawed untouchable caste”–has been stoned. An editorial explains that the story about stoning is not a story about caste but about failed idealism; a story about promises of green fields and clean, potable water broken, a story about bribes paid and wells not dug. But no, thinks Maya, it’s about caste.

Out here, in the heartland of the new world, the India of serious newspapers unsettles. Maya longs again to feel what she had felt in the Chatterjis’ living room: virtues made physical. It is a familiar feeling, a longing. Had a suitable man presented himself in the reading room at that instant, she would have seduced him. She goes on to the stack of India Abroads, reads through matrimonial columns, and steals an issue to take home.

* lebih klise lagi kalau pakai ungkapan lawas “dunia selebar daun kelor”

** btw, buku ini adalah buku penting karya Mukherjee, dan bagi saya buku ini penting karena berkat Amazon saya bisa mendapatkan versi hard cover-nya dari cetakan pertama 🙂

Koolaids: The Art of War by Rabih Alameddine – The Art Amidst a War

With this kind of title, I guess "unconventional" is an understatement for this novel by Rabih Alameddine.
With this kind of cover, “unconventional” is probably an understatement.

Koolaids: The Art of War (1999) by Rabih Alameddine is not an easy read, to say the least. Unlike most prose works that give their readers narratives designed to enable the readers jump conveniently into the world of their characters, Koolaids presents its readers with vignettes that are not immediately correlated. In the first pages, the reader can sense some vague connections among the vignettes; the vignettes only give off strong impressions thanks to their subject matters of death, AIDS and war. As the reader barges through, the connections become more and more apparent, although the book still doesn’t “come out of the closet” as to what it wants to say with those vignettes. Eventually, despite its lack of lucidity, the reader will most likely find Koolaids a strong narrative of sexuality, identity and war presented in an appropriately unconventional manner.

The book promises death from the first page–as if to follow a rule of thumb of writing a novel proposed by a prominent novelist. The story opens with the imaginary scene of three figures–probably angels of death–discussing among themselves whether our protagonist is ready to die. After a while, the reader finds that this imminent death is associated with HIV/AIDS. Having said that death is apparent from the first page, I by no means say that the beginning of the novel only talks about death; I’m here discussing the major themes of the novel individually only for convenience, in order to do justice to each important theme. The vignette about AIDS-related death is side by side with other vignettes that discuss a character’s childhood in pre-Civil War Lebanon and the (homo)sexuality of another character living in the West Coast. In this early part of the book–the book only has vignettes, no chapters, no sections–the reader starts to be curious whether this is a collection of deathbed hallucinations. Of course, nothing is clear yet.

Another important theme in this book is the character’s coming of age and his realization of his homosexuality. Hailing from a Muslim family in Lebanon, the protagonist studied in France and then the United States. He had a number of homoerotic experiences as a young boy in pre-Civil War Lebanon, where homosexuality is not to be mentioned in public, and as a teenager in Paris. He came out of the closet for the first when he was in the United States, only to find out that the person wanted to tell about his homosexuality had just died in a brutal accident. Within in theme also, the reader finds vignettes narrated by various characters who are all gay men in the circle of our protagonist who, as the story opens, is on his deathbed. From these vignettes–remember, they are scattered and by no means aggregated in a particular section of the novel–the reader can see that the protagonist is a major painter with an unconventional background. He is Lebanese by origin, American by citizenship, a homosexual, and from a Muslim background–although “Muslim” here only means that he is of Muslim parentage. This miss-mass of identity makes him at one point question whether his fame as a painter is because he has such a peculiar background. We also find along this theme, a frequently quoted line that is related to the protagonist alienation as a Lebanese homosexual: “In America, I fit, but I do not belong. In Lebanon I belong, but I do not fit” (Alameddine 40)

Also a very important theme in this book is the Lebanese Civil War, which takes up a significant portion of the book. Vignettes about the bloody war mostly appears after the parts that talk about the childhood of several characters. The novels presents snippets of the brutality of the war that divides Beirut into East Beirut (for the Christians) and West Beirut (for mostly Muslims, with a number of Christian). The reader can find a number of scenes that depict the massacre of Palestinian(refugee)s (they are a significant element in the Lebanese Civil War, FYI) by the Phalangists (the Christian party in Lebanon). It also brings up the Sadra and Shattila massacre, which is also the main incident in the animation movie and graphic novel Waltz with Bashir by Ari Folman. The closest tie between the Lebanese Civil War and our protagonist who is France and the United States during that time is the story about a mother who gets a slap in the face as she finds out that her husband is a homosexual who gets an offering of young boys every so often. What makes it worse is how she finds about it: when she goes to the Christian part of Beirut and meets a militia leader who then becomes her lover.

Despite the structure that is non-chronological and the juxtaposition that doesn’t appear to be logical, the novel demands the reader to finish it mostly thanks to the gravity of its subject matter, its wittiness and its peculiar combination of themes. Although some readers might find it hard to pinpoint who narrates a certain vignette (apparently, the vignettes don’t show distinctive language although they are narrated by different characters–and this is something to be elaborated further) or they might find it hard to build the connection between the numerous characters, it is not at all difficult to build a rough connection–logically as well as chronologically–between the incidents in the story. As the reader goes on deeper into the book, she can even decide whether a vignette is an actual part of the story or just a scene that the protagonist imagines. Every so often, the reader will meet again a variation of the scene that opens the book (the one with three angels of death), as if to reorient the reader who might get lost in the jungle that is Koolaids. 

As the reader approaches the closure of the book, she will have found several vignettes that appear like confessions by the protagonist of his intention to write a novel, a story or a narrative about various things, such as love, war, Lebanese immigrants, etc. His intention never really materializes into a full-fledged story or play or biography as he is so fragmented and haunted by the imminent death. With all this, it is valid for the reader to see that this novel that doesn’t look like any conventional novel–by the way, is there such a thing as “convention” for this genre? Bakhtin would say no–is actually fragments of impressions and, probably, bits of written materials collected from a person who is dying from AIDS. Of course, this is argument is made possible by the last vignette of the story that is also a variation of the opening death scene; the difference is that in this last vignette, all the three angels are in agreement that it’s time for the protagonist to die: “I die,” affirms the protagonist.

To conclude, after reading the end of the book, I began to understand why this novel dons “The Art of War” as its subtitle. Of course, the standard “Art of War” belongs to Sun Tzu’s treatise. It’s also possible to apply that sense of “Art of War” to this book. However, it will be more fitting if we understand “the art of war” in this subtitle as the craft of presenting a story during a difficult situation. In other words, this chaotic jumble of vignettes is the most appropriate manner (the art) of presenting the story of someone battling a terminal condition (the war) of the late stage of HIV infection. This is the art amidst a war.

(Review) Kampung Boy – LAT – The Story of Rural Malay Childhood

Without a doubt, Kampung Boy is a masterpiece comic/cartoon/illustrated book by the legendary Malaysian cartoonist LAT, the pen name of Datuk Muhammad Nor Khalid. Originally published in Malaysia in 1979, this book reminds me of the animated TV series Ipin & Upin which reached its peak of popularity around 2008, at least in Indonesia. I have to apologize for this reverse reference. We can probably even say that Ipin & Upin was inspired by this simple Malay life as portrait in Kampung Boy.

The book, framed as a memoir of rural childhood, presents a typical series of events in the life of a Malay Muslim young boy. It starts with the story of the boy’s birth in the hand of his own grandmother, who is an official kampong midwife with its subsequent rituals, such as the shaving ceremony. As the boy grows a bit older, his father sends him to learn to read the Koran at the house of the kampong Koran teacher. Also important (even across the strait among the non-Malay Indonesian) is the circumcision ceremony.

What we definitely cannot miss is the fact that there is the tin mining company and its operation near the kampong of our main character. While LAT doesn’t give any negative or positive comments on the mining company, we can easily see that the company’s expanding operation is a threat to the simple kampong life. The book ends with a grim note of the boy’s fear for no longer having a kampong to return to if the company really finds tin in his kampong.

I really want to comment on the humor and the details of the illustrations, but I’m not sure I’m ready to share it at the moment. This book is for sure strong with giggle-inducing illustration and shockingly honest details (details that don’t otherwise get presented verbally). There are also a number of tongue-in-cheek presentations of incidents in the character’s childhood that still stay in my head.

Without further due, let me drop a page from the book here:

The cost of education
The cost of education