(Laporan Studi Banding) Kembalinya Angklung di Arkansas

Saudara-saudara penikmat Laporan Studi Banding yang saya hormati, dalam kesempatan ini saya akan menghadirkan laporan dari Amerika Sebelah Sini, di negara bagian Arkansas.

Amerika Sebelah Sini, seperti saya pernah bilang sebelum-sebelumnya, adalah Amerika yang kecil dan asri. Dia bukan Amerika-nya Arnold Schwazenergger atau Ally McBeal. Amerika Sebelah Sini adalah sebuah kota kecil dengan penduduk kurang dari 80.000 jiwa, seperlimanya kota Malang di Jawa Timur. Pun demikian, Amerika Sebelah Sini adalah Amerika yang bukan Indonesia, dan Amerika Sebelah Sini beruntung karena memiliki universitas yang menampung ribuan mahasiswa asing yang mewarnainya dan diterimanya sebagai elemen yang mengajarinya perbedaan.

Kami, mahasiswa dan komunitas Indonesia di Amerika Sebelah Sini, cukup berbangga bisa ikut berpartisipasi menunjukkan dunia asing kepada orang-orang Amerika Sebelah Sini. Kali ini, saya ingin melaporkan prestasi kawan-kawan mahasiswa Indonesia di kampus University of Arkansas, Amerika Sebelah Sini, yang tahun ini berhasil meraih penghargaan sebagai negara favorit (bersama Rusia) versi International Culture Team. International Culture Team sendiri adalah unit di kampus yang memiliki motto “membawa dunia ke masyarakat,” yang diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan yang membantu mahasiswa asing merasakan lebih jauh budaya Amerika Sebelah Sini dan membantu masyarakat Amerika Sebelah Sini memahami dunia dengan berbagai warnanya.

Bagaimana ceritanya mahasiswa Indonesia di Amerika Sebelah Sini mendapat penghargaan sebagai negara favorit ini?

Tahun ini, Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) University of Arkansas bisa dibilang super aktif. Mereka aktif hadir dalam acara-acara presentasi budaya di sekolah-sekolah (sampai di sekolah pedesaan Arkansas sekitar beberapa jam jauhnya dari kampus), hadir dalam acara-acara pemeran kebudayaan baik yang diadakan di dalam kampus maupun di tempat-tempat luar kampus, dan tampil dalam pementasan-pementasan baik di dalam maupun di luar kampus.

Salah satu yang menjadi sorotan utama keikutsertaan Permias dalam acara-acara ini adalah permainan angklung. Angklung ini milik universitas sejak tahun 2010. Pada tahun itu, setelah mendapatkan penghargaan sebagai negara terbaik, Permias University of Arkansas mendapat dana dari International Cultural Team untuk mengadakan acara “Indonesian Immersion.” Immersion pada intinya adalah acara yang bertujuan untuk menghadirkan acara asli dari sebuah negara tapi dalam skala yang jauh lebih kecil. Dengan mengadakan acara betulan tapi lebih kecil, para hadirin (mahasiswa kampus secara umum) akan merasa “diceburkan” ke negara tersebut. Untuk Indonesian Immersion kali itu, tema yang diambil adalah “perayaan kemerdekaan.” Jadi, selama beberapa jam itu, Permias mengadakan berbagai acara yang merupakan tiruan dari perayaan kemerdekaan di Indonesia. Ada upacara bendera sampai lomba makan krupuk. Acara ini diikuti oleh cukup banyak peserta. Nah, untuk kelengkapan acara itu, International Culture Team membeli angklung betulan (dari California, lewat Amazon). Nah, karena universitas punya angklung betulan yang cukup bagus, akhirnya para anggota Permias setahun terakhir memaksimalkan angklung ini untuk berpartisipasi dalam acara-acara pertunjukan baik di dalam maupun luar kampus.

Pementasan angklung pertama Permias terjadi beberapa bulan yang lalu, ketika International Culture Team mengundang relawan untuk tampil di hadapan anak-anak pramuka yang sedang mengadakan perkumpulan di alun-alun kota Amerika Sebelah Sini. Mereka memainkan lagu anak-anak, dan tentu saja permainan satu alat musik yang perlu dimainkan beberapa orang untuk menyanyikan sebuah lagu pendek adalah sesuatu yang tidak biasa. Dan memukau. Setelah penampilan pertama itu, mereka pun ketagihan untuk manggung dan manggung. Hingga beberapa kali lagi dan beberapa lagu lagi. Setiap kali tampil, lagunya semakin fenomenal saja. Ehem. Beberapa waktu yang lalu, band angklung ini bahkan tampil menghibur pengunjung museum seni Crystal Bridges Museum of American Art, sebuah museum seni skala nasional yang memajang lukisan para maestro seperti Rothko dan Norman Rockwell–bahkan tahun kemarin memajang karya-karya Andy Warhol!

Beberapa minggu yang lalu, unit yang mengurus Mahasiswa Asing Penerima Beasiswa mengadakan acara jamuan malam pelepasan (bagi yang wisuda). Salah satu tamu kehormatan mereka adalah Bapak Ismunandar, Atase Pendidikan Indonesia yang berkantor di Washington D.C. Dalam kesempatan bincang-bincang antara pak Ismu dan mahasiswa Indonesia di Amerika Sebelah Sini, terlontar pertanyaan dari Pak Ismu tentang apa yang kira-kira bisa membantu kegiatan Permias, yang dijawab dengan keinginan anggota Permias untuk memiliki angklung sendiri. Tampaknya itu bukan hal yang sulit buat Pak Ismu dan Kedubes Indonesia secara umum. Segala hal yang bisa memperkenalkan Indonesia di mata dunia memang harus selalu didukung. Walhasil, beberapa hari setelah Pak Ismu bertukar pikiran dengan mahasiswa permias, presiden Permias mendapati paketan besar berisi angklung dari Pak Ismu.

Kita tidak tahu penampilan macam apa lagi yang akan dipersembahkan Permias dengan angklung milik sendiri ini. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Untuk kesempatan ini, saya biarkan Anda ikut melihat salah satu penampilan Permias. Kali ini tempatnya adalah sebuah SD lokal bernama Owl Creek Elementary School, yang saat itu mengadakan malam pertunjukan internasional, yang menghadirkan mahasiswa-mahasiswa asing dari University of Arkansas. Para partisipan mendapat satu meja untuk memamerkan hal-hal unik dari negaranya, mulai makanan, informasi, gambar, benda-benda, sampai virtual reality (pakai kotak kertas dari Amazon itu) untuk mengajak para siswa dan wali murid mengintip negara mereka masing-masing. Permias tidak hanya menampilkan benda-benda, tapi juga mempertunjukkan permainan angklung ini.

Selamat menikmati.

Mekanisme Bisa Kuliah S2/S3 di Amerika Serikat (Nyaris) Tanpa Biaya

Seperti saya janjikan pada postingan sebelumnya, kali ini saya akan membahas mekanisme bisa kuliah S2/S3 di Amerika Serikat (nyaris) tanpa biaya.

Bagaimana?

Biasanya pada bagian inilah orang (Indonesia) cenderung mulai kehilangan minat untuk melanjutkan cara ini dan lebih memilih mencari beasiswa penuh. Jadi, sebelum apa-apa, saya ingatkan dulu. Saya yakin, kalau Anda memang benar-benar berniat untuk kuliah, saya akan terus membaca postingan ini. Kenapa saya yakin? Karena banyak sekali orang dari negara lain yang melakukan ini, meskipun sebenarnya ini juga termasuk memberatkan buat mereka. Banyak sekali mahasiswa asing dari India, Pakistan, Bangladesh, dan Cina yang bisa kuliah S2/S3 di Amerika melalui cara ini.

Cara yang harus ditempuh pertama-tama tidak jauh berbeda dengan kuliah di Indonesia. Anda harus mendaftar dulu sebagai mahasiswa. Semua pendaftaran bisa dilakukan secara online, dan dokumen kelengkapannya bisa dikirimkan secara online. Setidak-tidaknya, yang dibutuhkan antara lain adalah:

1. Ijazah dan transkrip S1 yang sudah diterjemahkan;
2. Bukti nilai TOEFL (untuk kuliah S2/S3 dibutuhkan nilai TOEFL IBT 80);
3. Rekomendasi dari dosen S1 atau supevisor di tempat kerja;
4. Lain-lainnya tergantung universitas dan jurusan yang bersangkutan.

Ya, bahasa Inggris Anda harus mencukupi, karena memang nantinya Anda harus bekerja. Orang-orang dari Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, & Sri Langka) dalam hal ini biasanya lebih baik karena Bahasa Inggris menjadi bahasa resmi di tempat mereka. Bahasa Inggris mereka rata-rata relatif lebih bagus dari sononya–meskipun aksennya sangat kental dan terkadang agak sukar dipahami penduduk Amerika. Jangan berkecil hati, karena mahasiswa dari Tiongkok rata-rata lebih kesulitan mempelajari bahasa Inggris daripada kita orang Indonesia, jadi banyak mahasiswa S2/S3 dari Tiongkok yang agak kerepotan juga dalam bahasa Inggris. Tapi mereka bisa diterima dengan bermodalkan kepandaian mereka.

Intinya, jangan jadikan bahasa Inggris sebagai ganjalan. Kalau Anda memang yakin mampu di bidang Anda (teknik, ilmu alam, pertanian, matematika, statistika, arsitektur, dll), coba saja. Toh di Amerika pun cara mencari luas segitiga juga “1/2 alas x tinggi.” Tapi ya memang sih, perlu juga kemampuan bahasa Inggris yang cukup.

Begitu saja kah?

Tidak juga. Seperti halnya segala sesuatu, melamar kuliah ternyata juga ada seninya sendiri. Kalau Anda punya sebagian besar dari hal-hal itu, jangan buru-buru melamar ke kampus tertentu. Cari dulu kampus-kampus Aa’ Sam yang kira-kira punya jurusan yang cocok dengan Anda. Dan lebih bagus lagi kalau Anda cari profesor yang kira-kira paling pas minat atau proyek2 penelitiannya yang cocok dengan minat Anda. Kalau Anda sudah tahu apa yang ingin Anda lakukan, biasanya lebih gampang berkomunikasi dengan profesornya. Sekarang lah saatnya Anda bergerilya mengirim email yang baik dan sopan dan ringkas (jangan lupa diedit berkali-kali) kepada profesor-profesor itu. Detil surat itu boleh bermacam-macam, tapi intinya adalah sebutkan bahwa Anda ingin kuliah di bawah bimbingannya dan menjadi asistennya. Anda juga perlu mengirimkan curriculum vitae, daftar publikasi (kalau pernah), dan transkrip–biar dia tahu Anda tidak sekadar pingin kuliah tapi juga pernah serius kuliah. 🙂 Dari perbincangan di situ nanti mungkin akan ketahuan apakah dia bisa menerima Anda atau tidak. Idealnya, saat berkorespondensi ini Anda juga mulai mendaftar, menunjukkan bahwa Anda memang berniat kuliah di sana.

Begitu Anda memasukkan aplikasi untuk kuliah melalui situs kampus, segera beritahu profesor yang berkorespondensi dengan Anda tadi. Kalau dia memang sudah bersedia menjadikan Anda asistennya, profesor ini bisa langsung menghubungi kantor pendaftaran dan meminta agar pengurusan pendaftaran Anda dipercepat, karena dia sudah menyetujui Anda sebagai mahasiswanya. Kalau sudah begini, segal persyaratan pendaftaran itu jadi semacam formalitas saja. Hal ini lazim. Kita yang baru nyaris 2 dasawarsa bangun dari orde baru dengan nepotisme-nya mungkin akan mengira ini nepotisme. Untuk kultur profesional Amerika, hal ini bisa diterima, karena pada intinya yang Anda lakukan adalah menyoroti kemampuan dan kemauan Anda sendiri di hadapan profesor yang mungkin tidak akan memperhatikan Anda tanpa usaha proaktif dari Anda. Orang-orang menyebut ini “networking”: Anda membuat jaringan untuk diri Anda sendiri. Anda bukan mendapat posisi bukan karena profesor itu temannya Pak Dhe Anda yang menerima Anda karena Pak Dhe Anda pernah memberi tumpangan si profesor dua malam. 🙂

Kira-kira begitulah cara yang diambil banyak mahasiswa dari Asia Selatan dan Cina. Sejak awal mereka tunjukkan niat dan ketrampilan dasar yang kira-kira akan berguna dalam proses penelitian nantinya. Bukan rahasia lagi bahwa pelajaran matematika dan ilmu alam di Asia Selatan dan Cina untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah jauh lebih tinggi tingkatnya dibanding pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat. Makanya, banyak sekali dari orang-orang Asia Selatan dan Cina ini datang ke Amerika Serikat dengan kemampuan bidang-bidang ilmu pasti yang sudah canggih.

Kalau Anda berminat menerjuni secara serius bidang-bidang tertentu tapi belum juga berkesempatan mendapatkan beasiswa (yang memang jumlah ketersediaannya dan peminatnya sangat tidak seimbang), mungkin menjadi TA, GA, dan RA ini bisa menjadi alternatif bagi Anda.

Bagaimana dengan tiket pesawat dan pengurusan keimigrasian?

Nah, itu dia yang tidak gratis dan harus Anda tanggung sendiri. Untuk detilnya saya akan membahas soal ini pada postingan selanjutnya. Saya akan berikan contoh-contoh mahasiswa dari negara lain.

Sekali lagi, ini bukan cara yang benar-benar gratis dan tidak mudah, dan ini cara yang cenderung “di luar kotak” bagi kita orang Indonesia rata-rata. Tapi, tidak sedikit juga orang Indonesia rata-rata yang akhirnya bisa kuliah melalui cara ini.

Sekali lagi, ini cuma satu cara, yang tidak biasa, tapi bukan tidak mungkin. Ini alternatif, bukan obat manjur segala penyakit. 🙂

(Puisi) Cambridge

tuhan, kenapa malah tak bisa lupa

saat Frazer akting galau
skripsi hangus digoreng MS DOS
di musim gugur dua puluhan tahun lalu
aku mungkin sedang bayar SPP di SMP
di ruang TU, dengan satu-satunya printer
dan komputer di kelurahan itu.

kini, saat dia mirip mantan politisi
pemanasan global masih juga diingkari
aku teliti kampus ini, ingat Courtney
nemu pisang di Widener Library
dan Walt Whitman hidup lagi

ini bukan kisah motivasi. tapi puisi
tentang sesuatu pop yang laten abadi.

ada juga

saat Damon/Will diwejangi Williams,
(garis tangan semestinya digenggam!)
setelah merampungkan persamaan
sebagai petugas kebersihan
aku mungkin menghafal lirik Oasis
dengan logat Jawa bahasa Inggris
sepeninggal seorang sobat
lulusan SMK yang nekad
menyeberang dua selat,
bekerja di Hotel Kakatua
dan nulis surat tentang turis
(bonus satu idiom baru)

tadi malam aku beli kari veggie
di luar kampus tempat Chomsky
tanpa and so on, tanpa and so forth
mendebat Zizek dengan presisi

ingat, ini bukan puisi motivasi
tapi pelarian melankoli
pulang kampung
tak kunjung jadi

Sholat Jumat di Harvard: Misalkan Kita Minoritas

Kali ini, Saudara-saudara penyimak Laporan Studi Banding yang saya hormati, saya ingin bercerita tentang sholat Jumat di negeri Aa’ Sam. Sebenarnya tujuan awal tulisan ini tentang pengalaman sholat Jumat di “masjid darurat” kampus Universitas Harvard. Tapi, seperti biasa, saya ajak dulu Anda menempuh jalan berliku. Saya akan mulai dengan hakikat sholat Jumat sebagai mayoritas–seringkali hakikat ini tidak pernah kita pikirkan. Baru setelahnya saya akan ceritakan khidmatnya sholat Jumat sebagai minoritas.

Hakikat Sholat Jumat Mayoritas

Kalau Anda tinggal di Indonesia, di mana sebagai Muslim Anda adalah mayoritas, mungkin tidak ada yang perlu dibicarakan soal sholat jumat. Anda bisa menemukan masjid di mana-mana dan pimpinan Anda sangat mengerti bahwa setiap hari jumat antara jam 12 sampai jam 1 Anda perlu istirahat untuk sholat Jumat. Bahkan, sistem penjadwalan kerja sudah mempertimbangkan ini. Murid-murid sekolah sudah dibebaskan dari bangku mereka pada pukul 11 pagi pada hari Jumat, bahkan kadang-kadang tanpa perlu kembali setelah sholat Jumat. Kalau Anda kerja di kantor, biasanya mungkin sudah ada pengaturan jam khusus.

Begitu juga dengan tempat sholatnya. Seringkali kita hanya perlu jalan dari tempat kita bekerja untuk bisa sholat Jumat. Ketika saya dulu kerja di Universitas Brawijaya, saya bisa memilih sholat Jumat di kampung saya atau di kampus sendiri. Biasanya sih di masjid kampus yang megah itu.

Dan seringkali kita menganggap ini biasa-biasa saja. Tentu, kita menganggap kenikmatan yang sudha sehari-hari kita nikmati sebagai sesuatu yang wajar dan, ya, tidak perlu lagi repot-repot mensyukurinya.

Tapi beda ceritanya kalau Anda tinggal di sebuah keadaan di mana Anda adalah minoritas. Beda ceritanya bila fasilitas-fasilitas yang biasanya dengan mudah Anda dapatkan tidak mudah ditemukan. Beda ceritanya bila sesuatu yang biasanya menjadi bagian “wajib” dari hidup Anda ternyata butuh diperjuangkan dulu, bila sesuatu yang menjadi hal pokok dalam hidup Anda tersebut dicurigai sebagai sesuatu yang berbahaya atau diniatkan untuk membahayakan orang lain (terutama mayoritas). Maka lanjutkan ke bagian selanjutnya:

Bukan Sekadar Toleransi, tapi Pengakuan Adanya Ketidaksetimbangan

Menuliskan kata “minoritas” di atas saya langsung teringat kembali album ke-5 Slank: “Minoritas.” Album itu keluar waktu saya SMA. Band pertama saya merekrut saya karena mereka butuh ikut sebuah festival yang mewajibkan peserta memainkan “Bang Bang Tut” sementara mereka tidak punya pemain kibord. Sekarang, setelah dua puluh tahun setelah kejadian itu, saya sadar betapa saat itu kata “minoritas” itu tidak terlalu penting artinya bagi saya. Saya tidak ingat apa arti kata itu dulu bagi saya. Mungkin saya semacam membayangkan bahwa kata itu mengacu pada orang-orang slengekan seperti Slank dan sejenisnya, yang dianggap sebagai orang-orang pinggiran.

Saya yakin sikap “tidak nyambung” semacam itu wajar bukan hanya bagi remaja, tapi bagi siapa saja yang merupakan bagian dari mayoritas–tapi bukan berarti yang wajar seperti itu harus dibiarkan. Kita cenderung menganggap segala hal itu natural, sampai akhirnya ada yang menunjukkan bahwa hal-hal tersebut sebenarnya adalah sosial dan historis. Maksud saya, dalam keadaan wajar, kita cenderung menganggap bahwa hal-hal yang kita lihat dan percayai dan miliki itu cenderung sesuatu yang sewajarnya. Padahal, banyak hal yang sebenarnya hasil dari suatu proses sejarah dan hasil bentukan sosial. Dalam hal ini, sejarah penyebaran Islam di Indonesia yang lumayan merata dan kurangnya menyoroti adanya minoritas dan mayoritas membuat saya gagal menyadari arti penting menjadi minoritas.

Yang juga perlu ditumbuhkan adalah menyadari perbedaan tingkat, dan mengajarkan untuk mencegahnya. Saya ingat hanya diajarkan toleransi dan menghargai perbedaan–yang sebenarnya tidak cukup. Ya, mengakui dan menghargai perbedaan saja tidak cukup. Kita masih perlu mengakui adanya perbedaan “level” antara kelompok-kelompok yang berbeda. Kalau hanya sekadar berbeda saja dengan jumlah anggota yang sama-sama besarnya, tentu keadaannya jadi tetap indah. Seperti idealnya keadaan “multikultural.” Tapi kalau berbeda dan salah satu jumlahnya lebih besar atau lebih memegang kekuasaan, tentu saja dinamikanya jadi lain. Yang ada adalah pengakuan adanya perbedaan di satu sisi, sementara ada praktik di mana orang-orang dari kelompok yang lebih mayoritas mendominasi yang minoritas.

Seperti biasa, hal-hal yang kita anggap wajar padahal bersifat historis atau hasil kondisi sosial ini baru terasa kalau kita pindah ke tempat lain yang sejarah dan konstruksi sosialnya berbeda. Tentu saya harus menggunakan kesempatan berharga ini untuk mengutip lagunya Brian Adams dan Mel C (mantan anggota Spice Girls): “Baby when you’re gone, I realize I’m in love.” Saat sesuatu yang biasanya sebenarnya bukan sesuatu yang natural itu hilang, baru terasa bahwa sebenarnya dulu kita menerimanya–pakai gaya generasi Facebook–secara taken for granted.

Dalam kasus saya, seorang Muslim dari Jawa, kondisi semacam ini terjadi ketika saya berada di Amerika Serikat, negara yang persentase penduduknya muslimnya kira-kira hanya 1 persen dari keseluruhan. Dalam kondisi seperti ini, baru sadar bahwa kewajaran-kewajaran dalam menjalani hidup sebagai Muslim di Indonesia itu sebenarnya adalah “kenikmatan” yang hanya bisa didapatkan oleh mayoritas. Di kota Fayetteville, bisa dibilang saya beruntung karena komunitas Muslimnya sudah berhasil membangun masjid. Tapi, untuk urusan sehari-hari, misalnya sholat, tentu saja saya harus mengusahakannya sendiri. Tempat wudhu juga tidak ada karena gaya toilet Amerika yang relatif berbeda dengan toilet Indonesia. Dan lain-lainnya. Pendeknya, segala hal yang seperti wajar buat Muslim di Indonesia menjadi sesuatu yang langka dan sangat diharap-harap.

Makanya, ketika ada satu komunitas Muslim yang cukup kaya di sebuah kota, meskipun jumlahnya kurang dari satu persen keseluruhan penduduk kota, mereka langsung berusaha membuat masjid–lebih tepatnya membeli bangunan untuk kemudian dijadikan masjid. Seperti misalnya masjid di kota Joplin, Missouri, yang saya tahu cukup baik karena kebetulan lokasinya hanya 1,5 jam dari tempat saya dan imamnya orang Indonesia. Jamaah masjid ini terdiri dari sekitar 50 keluarga. Tapi, karena jamaahnya cukup makmur, sebagian besar dokter asal Pakistan yang bekerja di rumah sakit setempat, mereka bisa membeli bangunan bekas gereja dengan halaman yang cukup luas. Sayangnya, sepertinya tidak semua orang suka ada bangunan masjid di Joplin. Masjid itu pernah menjadi korban percobaan pembakaran. Pelakunya tertangkap CCTV ketika mencoba melakukan pembakaran tersebut. Untungnya, pada saat itu api tidak sempat menjalar terlalu jauh sebelum akhirnya diketahui oleh salah seorang jamaah yang kebetulan berada di sana. Sayangnya, beberapa saat setelah kejadian tersebut, masjid itu terbakar habis sampai rata dengan tanah. Hingga saat ini, tidak diketahui apa penyebab kebakaran tersebut karena memang tidak ada bukti–kamera CCTV dan semuanya ikut ludes terbakar. Tapi, kurang dari dua tahun setelah musibah tersebut, jamaah masjid ini, dibantu dengan sumbangan warga Joplin dan sekitarnya, berhasil membangun masjid betulan. Kali ini masjidnya dibangun sedari awal sebagai masjid. Tentu, dengan menceritakan musibah masjid Joplin ini, saya harus menjelaskan bahwa tidak semua orang tidak suka dengan adanya masjid Joplin itu. Bahkan, tak lama setelah kebakaran masjid Joplin itu, banyak warga setempat, anak-anak pramuka, dan jemaat gereja setempat, yang menggelar acara malam renungan dan penggalangan dana untuk menumbuhkan kepedulian warga tentang kejadian yang menyedihkan Muslim kota Joplin.

Ketakutan kepada Muslim itu juga pernah terjadi dalam kasus rencana pembangunan Pusat Masyarakat Muslim Park 51 di Manhattan, tak terlau jauh dari gedung World Trade Center yang runtuh pada 11 September 2001 itu. Kelompok-kelompok tertentu, yang digawangi oleh Pam Geller dan orang-orang yang oleh Wajahat Ali disebut sebagai jaringan Islamofobia itu, memanas-manasi orang untuk menolak pembangunan bangunan tersebut. Bahkan, mereka sampai menyebut bangunan itu sebagai “Masjid Ground Zero,” untuk menunjukkan ironi antara lokasi runtuhnya World Trade Center dengan bangunan tempat ibadah agama dianut para teroris pembajak pesawat tersebut, para teroris yang mengklaim melakukan tidak kejahatannya atas nama Islam itu. Seperti biasa, tentu banyak sekali yang menentang upaya memanas-manasi ala Pam Geller dan Frank Gaffney ini. Gaffney ini juga pernah melakukan protes keras atas bangunan masjid di Tennessee, yang katanya menjadi sarang pertumbuhan teroris. Dia mengklaim bahwa masjid di Tennessee itu merupakan tempat mendoktrin kaum muda Muslim Amerika untuk menjadi orang-orang yang lebih percara “hukum syariah” daripada Undang-undang Dasar Amerika Serikat. Dan ini bukan kali pertama Gaffney melakukan hal serupa. Dia membisikkan rencananya kepada banyak perwakilan rakyat Amerika yang duduk di Dewan Perwakilan-Dewan Perwakilan tingkat negara bagian. Biasanya, kalau Dewan mulai mempertimbangkan anjuran Gaffney ini, dia kemudian dipanggil untuk menjadi nara sumber asli dalam acara Dengar Pendapat di Dewan Perwakilan. Tentu ini kesempatan bagi Gaffney untuk menyampaikan pendapatnya mengapa Islam itu agama yang perlu diwaspadai dan perlu dibuatkan peraturan khusus yang melarang penerapan “hukum syariah.”

Tentu di Indonesia sendiri hal-hal semacam ini bukan hal yang asing. Bedanya, yang menjadi sasaran tentu bukan kaum Muslim. Korbannya bisa berupa minoritas beragama Kristen di sebuah lokasi, minoritas sekte Muslim tertentu, atau bahkan minoritas penganut kepercayaan lokal tertentu. Mungkin kita akan bilang: Ah, tapi itu kan berbeda? Tapi orang-orang itu kan tidak menyalahi hukum Islam yang sesungguhnya dari Allah?

Apanya yang berbeda? Secara isi mungkin berbeda, karena memang dunia ini bermacam-macam dan banyak sudut pandang untuk melihat sebuah urusan. Tapi pada dasarnya, secara relasional semua itu tidak terlalu berbeda. Bagi mayoritas Muslim di Indonesia, mungkin saja Ahmadiyah itu adalah ajaran yang sesat, yang harus dilarang dan dibbuatkan Undang-undang, karena itu bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dan sebagian orang Islam juga berkata demikian. Dan mereka berharap ada perundang-undangan yang melarang penyebaran agama ini.

Mari kita bandingkan dengan kasus di Amerika. Orang-orang seperti Jeffrey dan Pam Geller itu menggunakan Undang-undang dasar Amerika sebagai landasan mereka. Mereka juga gunakan nilai-nilai kemanusiaan barat yang bagi mereka Universal dan harus dipatuhi semua manusia sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Mereka tidak mau ada orang nikah dua karena itu bagi mereka tertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, mereka tidak mau orang-orang disuruh memakai jilbab karena itu sama saja dengan menekan perempuan, mereka juga tidak mau ada hukum potong tangan karena itu tidak manusiawi. Dan seterusnya.

Pendeknya, kalau banyak Muslim di Indonesia yang berpegangan pada apa yang menurut mereka dari Tuhan dan tidak bisa diganggu-gugat, Pam Gellar dan kelompoknya berpegangan pada nilai-nilai kemanusiaan. Apapun perbedaan detil dari nilai-nilai yang mereka percayai benar itu, yang pasti mereka sama-sama tidak mentolerir adanya perbedaan.

Begitulah kita hendaknya melihat ini. Terus Anda pun bertanya, bukankah itu nantinya bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia? Tentu tidak. Kepribadian bangsa Indonesia mengandung “Ketuhanan Yang Maha Esa,” tapi dia juga mengandung “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Yang pertama memang berarti percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. Dan kita tahu, agama Hindu adalah agama politeisme, tapi tidak sekali-kali kita boleh menganggap bahwa agama HIndu bertentangan dengan Pancasila. Bahkan, banyak hal-hal yang dipercaya sebagai nilai-nilai filsafat yang tinggi itu berasal dari peradaban Hindu Indonesia, pada zaman kerajaan Majapahit. Bagaimana kalau Ketuhanan yang Maha Esa sebenarnya bermakna mempercayai satu kuasa ilahi yang harus dijunjung lebih tinggi daripada hasrat-hasrat kemanusiaan kita? Mungkin inilah nilai tertinggi dari penghapusan “dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeloek2-nja” dari Piagam Jakarta. Dia satu sisi Pancasila tidak jadi mewajibkan pemeluk Islam menjalankan syariat Islam, tapi di sisi lain juga dia semakin membuka ruang yang sangat luas untuk menafsirkan “ketuhanan yang maha esa.”

Khidmat Sholat Jumat di Harvard

Setelah jalan ke sana-ke mari, kembalilah kita ke urusan sholat Jumat di kampus Harvard. Seperti saya sebutkan pada postingan-postingan sebelumnya, saya beruntung bisa berada di kota Cambridge, satu kota kecil yang memiliki dua kampus paling terkenal di dunia, Universitas Harvard dan MIT (Massachusetts Institute of Technology). Dan saya juga beruntung karena berkesempatan bisa mengikuti dan menyaksikan sholat Jumat di lingkungan ini. Dan, yang tak kalah menariknya, sholat Jumat ini diadakan di sebuah lokasi yang dipakai para mahasiswa (dan pegawai Muslim) atas seizin kampus.

Bukan pertama kalinya saya menghabiskan waktu selama tiga empat hari di sebuah kampus Amerika (selain kampus saya) untuk urusan presentasi di konferensi. Tapi baru kali ini saya sempat sholat Jumat. Biasanya, karena repot cari tempat dan lain-lain, saya memilih memanfaatkan dispensasi untuk tidak sholat Jumat. Tapi kali ini berbeda: saya memutuskan untuk mengikuti sholat Jumat ini karena menurut situs Perkumpulan Mahasiswa Muslim di Harvard memang tersedia lokasi di dalam kampus yang biasa dipakai untuk sholat Jumat. Lagi pula, presentasi saya kali ini benar-benar tentang Muslim Amerika; tentu ganjil rasanya berbicara tentang Muslim Amerika tanpa menyempatkan diri berada di tengah-tengah mereka. Maka, setelah menghadiri sebuah sesi panel tentang agama dan etika dalam sastra dan mengikuti rapat divisi agama dan etika Asosiasi Sastra Perbandingan Internasional (yg dihadiri belasan orang saja), saya pun mencari ruang kuliah lantai 2 gedung Lowell.

Ternyata sholat Jumatnya unik: wudhu di basement, dan sholat di lantai dua. Karena ini bukan masjid, maka tidak ada tempat wudhu yang “mewah,” yang memungkinkan kita bisa mencuci kaki dengan nikmat (ini juga termasuk kenikmatan lho). Bahkan, karena arsitektur gedungnya, kamar kecil terdekat dari tempat sholat terletak di lantai bawah. Saat wudhu, saya bertemu seorang mahasiswa masih muda asal Indonesia, namanya Dimas. Setelah wudhu, saya nanti ke lantai atas dan melihat ruang kuliah yang berbentuk bujur sangkar dengan tatanan kursi di tiga sisi dan panggung utama seperti lembah. Layaknya ruang kuliah. Ada juga lantai atas untuk tempat duduk mahasiswa. Kalau Anda tahu “The Globe,” gedung pertunjukan zaman Shakespeare, pasti Anda tahu yang saya maksud.

Tema khutbah hari itu bisa dibilang sangat sederhana, mendasar, tanpa tedeng aling-aling: tentang nilai nyawa manusia dan betapa besarnya dosa membunuh. Khatib yang masih muda, sekitar awal dua puluhan, mungkin, dengan bahasa Inggris sangat “cetha” dan sedikit beraksen. Dia seperti keturunan atau asal Timur Tengah. Saya tidak bisa memastikan apakah ini aksennya New Jersey atau dia memang mahasiswa asing yang sudah lama tinggal di sini. Hal mencolok lainnya dari khatib muda ini adalah bacaan alquran dan hadits-nya. Gaya pembacaan yang dia pakai benar-benar berbeda. Ketika mengutip dari Alquran, dia melagukannya dengan nada pilu–seperti menurut beberapa hadits. Tapi ketika mengutip hadits, dia mengucapkannya seperti orang berpetuah. Semua ini dilakukan tanpa teks. Tangannya seperti agak canggung. Kadang memberi isyarat, kadang bersedekap, kadang pose istirahat di tempat. Saya bisa membayangkan betapa tidak biasanya memberikan khutbah sambil berdiri tanpa podium atau mimbar, tapa tongkat, sementara orang-orang lain duduk bersila dengan santai. Tidak ada pembatas antara jamaah putra dan putri. Saya tanpa sadar menoleh ke belakang dan melihat para jamaah perempuan yang jumlahnya kira-kira seperempat jamaah pria. Saya sungkan sendiri takut dikira main mata. Seusai sholat, saya bertemu lagi dua mahasiswa pasca sarjana asal Indonesia, Reza dari Aceh dan Naim dari Jawa Tengah–yang belakangan saya ketahui sangat terkenal :).

Komunitas Muslim Kampus yang Beruntung

Komunitas Harvard ini terbilang sangat beruntung karena bisa menjalankan sholat Jumat di tengah kampus, tak jauh dari mana-mana. Mereka memiliki daya tawar yang sangat tinggi untuk bisa mendapatkan fasilitas sholat Jumat di kampus yang suasana sekelilingnya sangat Kristen. Bayangkan saja, Cambridge adalah salah satu kota pertama tempat koloni orang Eropa di Amerika Utara. Orang-orang Eropa yang datang ke sini adalah orang-orang Puritan, yang meninggalkan Inggris karena mereka terdesak di negara asalnya. Jadi, intinya orang-orang yang mendirikan kota-kota di Northeast atau New England adalah orang-orang yang sangat alim. Makanya, Anda bisa melihat sangat banyak gereja megah yang sangat tua di Cambridge dan Boston ini.

Di tempat-tempat seperti inilah, ketika hasil usaha beberapa mahasiswa atau pegawai Muslim di universitas membuahkan hasil, kita merasakan bahwa ada yang perlu disyukuri dan dikritisi dari kemewahan yang kita dapatkan di negeri sendiri. Dalam suasana sholat Jumat seperti ini, yang mungkin sesuatu yang sangat biasa bagi saya dulu (karena bahkan di SMP saya di desa punya musholla yang mengadakan sholat Jumat), saya sempat memikirkan bahwa sesuatu yang kita anggap natural itu sebenarnya adalah bentukan sejarah dan sosial, yang sewaktu-waktu bisa hilang.

Di saat itulah saya bisa sedikit merasakan bagaimana rasanya saudara-saudara yang termasuk anggota minoritas agama di Indonesia, baik itu yang Kristen, Hindu, maupun minoritas dalam agama Islam sendiri. Saya bisa sedikit bayangkan mimpi mereka mengadakan ibadah berjamaah di kampung atau bahkan di kampus. Tapi ya, serepot-repotnya saya mencoba beribadah secara normal di Aa Sam ini, ini cuma sementara. Nanti, kalau pulang di Indonesia, saya bisa menemukan tempat wudhu yang enak di gedung kampus, dan bisa sholat di masjid yang ada di kampus. Sementara anggota kelompok minoritas tertentu yang lahir dan besar di Indonesia, yang tak punya “kampung halaman” selain Indonesia, mereka akan terus-terusan merasakan repotnya beribadah. Kecuali bila kelompok mayoritas berempati dengan betapa repotnya urusan beribadah bagi mereka. Kecuali bila mayoritas yang bisa memegang kebijakan bisa “nyambung” dengan apa yang dirasakan anggota minoritas agama tertentu.

Mungkin di situlah perlunya studi banding jangka panjang…

From Today’s Edition of Interfaith America

I ran into a young man on the stairs as I was descending to the library lobby. I smiled as usual, and he smiled back. I kept descending a few steps.

Man: Excuse me, Sir.

Me: Yes.

Man: Hi, my name’s James.

Me: I’m Misdi.

Man: Mmhh. I’m a Christian. Are you a Christian?

Me: No. I’m a Muslim.

Man: Did you pray back there? I saw you bow your head and close your eyes before studying.

Me: Well, actually no. I was sleepy.

Man: Oh, I see.

Me: I do pray, though, but not before studying. Sometimes before eating.

Man: I see. Well. Anyways, Merry Christmas!

Me: Merry Christmas!

I continued descending the the stairs, and I remembered two days before my wife had told me to recite “Rabbi zidni ilma…” before studying. I guess James was just somebody God sent to remind me to say hi to Him/Her/It before I start studying.

Still Life: Ketika Kampus Senyap

Minggu lalu, minggu Thanksgiving, termasuk minggu yang paling sepi di kampus Amerika Sebelah Sini. Meskipun liburan baru resmi dimulai hari Rabu, populasi kampus sudah menurun drastis sejak hari Senin. Nggak di Indonesia, nggak di Negeri Aa’ Syam, mahasiswa memang gemar izin atau bolos kalau adaaaa saja sedikit alasan. Selama Thanksgiving, yang saya bahas di postingan selanjutnya sebagai sebuah Hari Raya yang dilematis itu, biasanya para mahasiswa pulang ke rumah orang tua mereka dan menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. Bisa dibilang hampir semua begitu.

Yang paling banyak terlihat pada hari-hari ini adalah mahasiswa asing, yang tentu tidak bisa berbuat banyak dengan liburan yang kurang dari seminggu ini. Tentu, sebagian dari mahasiswa asing yang punya cukup modal bisa saja jalan-jalan entah ke mana. Tapi, kebanyakan, mereka berkeliaran di kampus seperti zombie kesasar, dari kantor mereka, ke perpustakaan, ke lab komputer, ke gym, dll. Ini adalah gambar-gambar yang saya ambil pada sehari sebelum Thanksgiving dan hari Sabtu (ketika kampus buka kembali untuk pertama kalinya).

Beginilah, kata Kera Ngalam: “ipes ilakes.”

Ketakutan Kultural Kepada Anjing

Sebut saja rasa ogah kita kepada anjing sebagai “ketakutan kultural.” Yang saya maksud dengan “kita” di sini adalah kaum Muslim Indonesia selain yang tinggal di kawasan pedesaan atau perkebunan yang sehari-hari akrab dengan anjing sebagai teman pembantu kerja. Buat kita-kita ini, anjing termasuk binatang yang bermasalah karena kita punya anggapan bahwa: 1) air liurnya najis sehingga butuh cara-cara khusus untuk membersihkan anggota badan atau barang kita yang terkena liur anjing, 2) anjing cenderung buas dan besar kemungkinannya menggigit kita, 3) anjing peliharaan adalah binatang yang tugasnya melindungi dan menjadi pemiliknya dan properti pemiliknya. Dampak dari “permasalahan” yang disebabkan anjing ini adalah: kita jadi enggan dekat-dekat anjing. Seringkali kita takut digigit atau dijilat. Banyak yang mengaku tidak takut digigit tapi malas kalau kena jilat.

Bahayanya, sikap seperti itu akhirnya berdampak negatif juga terhadap cara pandang kita terhadap anjing. Setiap melihat anjing–hewan yang tidak kita kenal dan cenderung kita jauhi–kita cenderung beranggapan bahwa dia buas dan ingin menggigit kita. Dan, kalau kebetulan kita ketemu anjing yang tidak buas, kita cenderung beranggapan bahwa anjing itu “haus” menjilat kita. Kita cenderung syu’udzon kepada anjing. Sikap selalu syu’udzon, kalau Anda percaya hikmah yang diajarkan agama Islam, adalah sebuah masalah. Padahal, anjing adalah hewat yang sudah sejak lama didomestikasi manusia dan mungkin kedekatannya dengan kecenderungan manusia jauh melebihi pengharapan kita.

Padahal, kalau kita memperhatikan anjing lebih dari sekadar tajam taringnya, ada yang lebih: lapis-lapis emosi. Anjing, seperti halnya manusia, cenderung menunjukkan apresiasi apabila kita memberinya hadiah, baik itu hadiah berupa makanan maupun hadiah berupa perlakuan manis, misalnya digaruk-garuk perutnya. Dia suka menggulung-gulung dan membalik badan–mungkin minta digaruk. Kadang, dia langsung menyalak-nyalak dan bersiapa–menggeram-geram–bila ada bahaya, misalnya ada ular mendekat ke rumah kita atau ketika ada binatang buas lewat depan rumah kita. Nah, emosi-emosi ini tidak akan pernah kita ketahui bila kita hanya percaya bahwa anjing akan menggigit (atau menjilat) kita saja, kalau kita percaya bahwa anjing (tak peduli apapun jenis dan pekerjaannya) adalah binatang buas yang memang buas.

Jadi, saudara-saudara, sebagai mantan orang yang pernak terjerembab dalam ketakutan kultural kepada anjing, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk menghilangkan rasa takut, benci, dan syu’udzon kepada anjing. Kenapa?

Karena:

  1. kalau pun toh tidak suka najisnya, kan bisa dibersihkan…
  2. katanya orang Islam hanya takut kepada Allah, kenapa sekarang takut anjing?
  3. insya allah hidup kita lebih tenang jika tidak dipenuhi dengan syu’udzon atau pikiran negatif bahwa anjing itu selalu pingin gigit kita. Padahal, mungkin saja dia mau ngemut kita 😀
  4. kalau Anda jijik dengan liur anjing, coba diingat-ingat, siapa yang menciptakan anjing? Iya, kalau Anda orang beragama, tentu Anda akan menjawab bahwa sang Maha Pencipta adalah penciptanya. Terus, apa berani Anda menghina sebuah karya seni di depan senimannya? Padahal, katanya Tuhan selalu bersama dengan kita, lebih dekat dari urat nadi kita, kan? Berarti kalau kita jijik sama anjing… pasti Beliau tahu, kan?

Saya sih memilih, mengikuti anjuran Pancasila Sila Ke-5 Butir ke-10, untuk “menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat,” dan anjing adalah makhluk yang bermanfaat–meskipun penciptanya bukan orang. 😀

Eh, sebentar, jangan-jangan tidak ada Muslim Indonesia yang seperti saya gambarkan itu. Jangan-jangan tidak ada orang Muslim Indonesia yang takut, benci, jijik, dan anti kepada anjing seperti saya gambarkan itu. Semoga saja. Yang saya tahu pasti: beberapa tahun lalu ada orang Indonesia yang seperti itu, yang gara-gara dikejar tiga anjing di satu dini hari ketika salah masuk ke pekarangan orang di Bali dia langsung menganggap semua anjing itu buas, ganas, liurnya najis dan menjijikka, dan tidak ada perlunya berbaik-baik dengan mereka.

Ya, beberapa tahun yang lalu ada orang Indonesia seperti itu. Dan, alhamdulillah, dia sekarang sudah bertaubat dari kecenderungan menilai anjing berdasarkan stereotipe seperti itu, bertaubat dari kecenderungan mendiskriminasi anjing seperti itu. Alhamdulillah, akhirnya dia berani mengakuinya dan akhirnya menuliskan sebuah postingan blog. Untuk Anda sekalian, orang-orang yang dikasihinya.

Liberty
Perkenalkan, ini dia Liberty: seekor anjing blasteran Anatolia dan Pyrenees. Dia diadopsi seorang kawan yang tinggal di sebuah kawasan pertanian di pedesaan Arkansas. Di sini terlihat Liberty sedang menggigit sepotong daging kurban. Ketika teman-teman menyembelih sapi kurban dan membagi-bagi dagingnya, Liberty tampak mendekat dan mengharap belas kasihan. Tapi dia selalu menyingkir kalau kami larang. Akhirnya, suatu kali kucing kawan saya itu mendekat terus dan ingin memakan jeroan, paru. Karena si kucing sepertinya tidak bisa diperingatkan, akhirnya kami beri si kucing sepotong lemak. Nah, sepertinya itu membikin Liberty merasa iri dan kembali merengek-rengek minta diberi. Akhirnya, kami pun mulai memberikan lemak ke Liberty dan Mitten, nama kucing itu. Beberapa kali kami memberinya lemak, dan dia terus menerima. Di satu kesempatan, akhirnya seorang kawan memberinya sepotong daging. Di sini dia terlihat menjauh dari kawasan penyembelihan sambil menggigit daging hadiah itu.