(Laporan Studi Banding) Kembalinya Angklung di Arkansas

Saudara-saudara penikmat Laporan Studi Banding yang saya hormati, dalam kesempatan ini saya akan menghadirkan laporan dari Amerika Sebelah Sini, di negara bagian Arkansas.

Amerika Sebelah Sini, seperti saya pernah bilang sebelum-sebelumnya, adalah Amerika yang kecil dan asri. Dia bukan Amerika-nya Arnold Schwazenergger atau Ally McBeal. Amerika Sebelah Sini adalah sebuah kota kecil dengan penduduk kurang dari 80.000 jiwa, seperlimanya kota Malang di Jawa Timur. Pun demikian, Amerika Sebelah Sini adalah Amerika yang bukan Indonesia, dan Amerika Sebelah Sini beruntung karena memiliki universitas yang menampung ribuan mahasiswa asing yang mewarnainya dan diterimanya sebagai elemen yang mengajarinya perbedaan.

Kami, mahasiswa dan komunitas Indonesia di Amerika Sebelah Sini, cukup berbangga bisa ikut berpartisipasi menunjukkan dunia asing kepada orang-orang Amerika Sebelah Sini. Kali ini, saya ingin melaporkan prestasi kawan-kawan mahasiswa Indonesia di kampus University of Arkansas, Amerika Sebelah Sini, yang tahun ini berhasil meraih penghargaan sebagai negara favorit (bersama Rusia) versi International Culture Team. International Culture Team sendiri adalah unit di kampus yang memiliki motto “membawa dunia ke masyarakat,” yang diwujudkan dalam kegiatan-kegiatan yang membantu mahasiswa asing merasakan lebih jauh budaya Amerika Sebelah Sini dan membantu masyarakat Amerika Sebelah Sini memahami dunia dengan berbagai warnanya.

Bagaimana ceritanya mahasiswa Indonesia di Amerika Sebelah Sini mendapat penghargaan sebagai negara favorit ini?

Tahun ini, Perkumpulan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) University of Arkansas bisa dibilang super aktif. Mereka aktif hadir dalam acara-acara presentasi budaya di sekolah-sekolah (sampai di sekolah pedesaan Arkansas sekitar beberapa jam jauhnya dari kampus), hadir dalam acara-acara pemeran kebudayaan baik yang diadakan di dalam kampus maupun di tempat-tempat luar kampus, dan tampil dalam pementasan-pementasan baik di dalam maupun di luar kampus.

Salah satu yang menjadi sorotan utama keikutsertaan Permias dalam acara-acara ini adalah permainan angklung. Angklung ini milik universitas sejak tahun 2010. Pada tahun itu, setelah mendapatkan penghargaan sebagai negara terbaik, Permias University of Arkansas mendapat dana dari International Cultural Team untuk mengadakan acara “Indonesian Immersion.” Immersion pada intinya adalah acara yang bertujuan untuk menghadirkan acara asli dari sebuah negara tapi dalam skala yang jauh lebih kecil. Dengan mengadakan acara betulan tapi lebih kecil, para hadirin (mahasiswa kampus secara umum) akan merasa “diceburkan” ke negara tersebut. Untuk Indonesian Immersion kali itu, tema yang diambil adalah “perayaan kemerdekaan.” Jadi, selama beberapa jam itu, Permias mengadakan berbagai acara yang merupakan tiruan dari perayaan kemerdekaan di Indonesia. Ada upacara bendera sampai lomba makan krupuk. Acara ini diikuti oleh cukup banyak peserta. Nah, untuk kelengkapan acara itu, International Culture Team membeli angklung betulan (dari California, lewat Amazon). Nah, karena universitas punya angklung betulan yang cukup bagus, akhirnya para anggota Permias setahun terakhir memaksimalkan angklung ini untuk berpartisipasi dalam acara-acara pertunjukan baik di dalam maupun luar kampus.

Pementasan angklung pertama Permias terjadi beberapa bulan yang lalu, ketika International Culture Team mengundang relawan untuk tampil di hadapan anak-anak pramuka yang sedang mengadakan perkumpulan di alun-alun kota Amerika Sebelah Sini. Mereka memainkan lagu anak-anak, dan tentu saja permainan satu alat musik yang perlu dimainkan beberapa orang untuk menyanyikan sebuah lagu pendek adalah sesuatu yang tidak biasa. Dan memukau. Setelah penampilan pertama itu, mereka pun ketagihan untuk manggung dan manggung. Hingga beberapa kali lagi dan beberapa lagu lagi. Setiap kali tampil, lagunya semakin fenomenal saja. Ehem. Beberapa waktu yang lalu, band angklung ini bahkan tampil menghibur pengunjung museum seni Crystal Bridges Museum of American Art, sebuah museum seni skala nasional yang memajang lukisan para maestro seperti Rothko dan Norman Rockwell–bahkan tahun kemarin memajang karya-karya Andy Warhol!

Beberapa minggu yang lalu, unit yang mengurus Mahasiswa Asing Penerima Beasiswa mengadakan acara jamuan malam pelepasan (bagi yang wisuda). Salah satu tamu kehormatan mereka adalah Bapak Ismunandar, Atase Pendidikan Indonesia yang berkantor di Washington D.C. Dalam kesempatan bincang-bincang antara pak Ismu dan mahasiswa Indonesia di Amerika Sebelah Sini, terlontar pertanyaan dari Pak Ismu tentang apa yang kira-kira bisa membantu kegiatan Permias, yang dijawab dengan keinginan anggota Permias untuk memiliki angklung sendiri. Tampaknya itu bukan hal yang sulit buat Pak Ismu dan Kedubes Indonesia secara umum. Segala hal yang bisa memperkenalkan Indonesia di mata dunia memang harus selalu didukung. Walhasil, beberapa hari setelah Pak Ismu bertukar pikiran dengan mahasiswa permias, presiden Permias mendapati paketan besar berisi angklung dari Pak Ismu.

Kita tidak tahu penampilan macam apa lagi yang akan dipersembahkan Permias dengan angklung milik sendiri ini. Hanya waktu yang bisa menjawabnya. Untuk kesempatan ini, saya biarkan Anda ikut melihat salah satu penampilan Permias. Kali ini tempatnya adalah sebuah SD lokal bernama Owl Creek Elementary School, yang saat itu mengadakan malam pertunjukan internasional, yang menghadirkan mahasiswa-mahasiswa asing dari University of Arkansas. Para partisipan mendapat satu meja untuk memamerkan hal-hal unik dari negaranya, mulai makanan, informasi, gambar, benda-benda, sampai virtual reality (pakai kotak kertas dari Amazon itu) untuk mengajak para siswa dan wali murid mengintip negara mereka masing-masing. Permias tidak hanya menampilkan benda-benda, tapi juga mempertunjukkan permainan angklung ini.

Selamat menikmati.

Advertisements

Mekanisme Bisa Kuliah S2/S3 di Amerika Serikat (Nyaris) Tanpa Biaya

Seperti saya janjikan pada postingan sebelumnya, kali ini saya akan membahas mekanisme bisa kuliah S2/S3 di Amerika Serikat (nyaris) tanpa biaya.

Bagaimana?

Biasanya pada bagian inilah orang (Indonesia) cenderung mulai kehilangan minat untuk melanjutkan cara ini dan lebih memilih mencari beasiswa penuh. Jadi, sebelum apa-apa, saya ingatkan dulu. Saya yakin, kalau Anda memang benar-benar berniat untuk kuliah, saya akan terus membaca postingan ini. Kenapa saya yakin? Karena banyak sekali orang dari negara lain yang melakukan ini, meskipun sebenarnya ini juga termasuk memberatkan buat mereka. Banyak sekali mahasiswa asing dari India, Pakistan, Bangladesh, dan Cina yang bisa kuliah S2/S3 di Amerika melalui cara ini.

Cara yang harus ditempuh pertama-tama tidak jauh berbeda dengan kuliah di Indonesia. Anda harus mendaftar dulu sebagai mahasiswa. Semua pendaftaran bisa dilakukan secara online, dan dokumen kelengkapannya bisa dikirimkan secara online. Setidak-tidaknya, yang dibutuhkan antara lain adalah:

1. Ijazah dan transkrip S1 yang sudah diterjemahkan;
2. Bukti nilai TOEFL (untuk kuliah S2/S3 dibutuhkan nilai TOEFL IBT 80);
3. Rekomendasi dari dosen S1 atau supevisor di tempat kerja;
4. Lain-lainnya tergantung universitas dan jurusan yang bersangkutan.

Ya, bahasa Inggris Anda harus mencukupi, karena memang nantinya Anda harus bekerja. Orang-orang dari Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, & Sri Langka) dalam hal ini biasanya lebih baik karena Bahasa Inggris menjadi bahasa resmi di tempat mereka. Bahasa Inggris mereka rata-rata relatif lebih bagus dari sononya–meskipun aksennya sangat kental dan terkadang agak sukar dipahami penduduk Amerika. Jangan berkecil hati, karena mahasiswa dari Tiongkok rata-rata lebih kesulitan mempelajari bahasa Inggris daripada kita orang Indonesia, jadi banyak mahasiswa S2/S3 dari Tiongkok yang agak kerepotan juga dalam bahasa Inggris. Tapi mereka bisa diterima dengan bermodalkan kepandaian mereka.

Intinya, jangan jadikan bahasa Inggris sebagai ganjalan. Kalau Anda memang yakin mampu di bidang Anda (teknik, ilmu alam, pertanian, matematika, statistika, arsitektur, dll), coba saja. Toh di Amerika pun cara mencari luas segitiga juga “1/2 alas x tinggi.” Tapi ya memang sih, perlu juga kemampuan bahasa Inggris yang cukup.

Begitu saja kah?

Tidak juga. Seperti halnya segala sesuatu, melamar kuliah ternyata juga ada seninya sendiri. Kalau Anda punya sebagian besar dari hal-hal itu, jangan buru-buru melamar ke kampus tertentu. Cari dulu kampus-kampus Aa’ Sam yang kira-kira punya jurusan yang cocok dengan Anda. Dan lebih bagus lagi kalau Anda cari profesor yang kira-kira paling pas minat atau proyek2 penelitiannya yang cocok dengan minat Anda. Kalau Anda sudah tahu apa yang ingin Anda lakukan, biasanya lebih gampang berkomunikasi dengan profesornya. Sekarang lah saatnya Anda bergerilya mengirim email yang baik dan sopan dan ringkas (jangan lupa diedit berkali-kali) kepada profesor-profesor itu. Detil surat itu boleh bermacam-macam, tapi intinya adalah sebutkan bahwa Anda ingin kuliah di bawah bimbingannya dan menjadi asistennya. Anda juga perlu mengirimkan curriculum vitae, daftar publikasi (kalau pernah), dan transkrip–biar dia tahu Anda tidak sekadar pingin kuliah tapi juga pernah serius kuliah. ūüôā Dari perbincangan di situ nanti mungkin akan ketahuan apakah dia bisa menerima Anda atau tidak. Idealnya, saat berkorespondensi ini Anda juga mulai mendaftar, menunjukkan bahwa Anda memang berniat kuliah di sana.

Begitu Anda memasukkan aplikasi untuk kuliah melalui situs kampus, segera beritahu profesor yang berkorespondensi dengan Anda tadi. Kalau dia memang sudah bersedia menjadikan Anda asistennya, profesor ini bisa langsung menghubungi kantor pendaftaran dan meminta agar pengurusan pendaftaran Anda dipercepat, karena dia sudah menyetujui Anda sebagai mahasiswanya. Kalau sudah begini, segal persyaratan pendaftaran itu jadi semacam formalitas saja. Hal ini lazim. Kita yang baru nyaris 2 dasawarsa bangun dari orde baru dengan nepotisme-nya mungkin akan mengira ini nepotisme. Untuk kultur profesional Amerika, hal ini bisa diterima, karena pada intinya yang Anda lakukan adalah menyoroti kemampuan dan kemauan Anda sendiri di hadapan profesor yang mungkin tidak akan memperhatikan Anda tanpa usaha proaktif dari Anda. Orang-orang menyebut ini “networking”: Anda membuat jaringan untuk diri Anda sendiri. Anda bukan mendapat posisi bukan karena profesor itu temannya Pak Dhe Anda yang menerima Anda karena Pak Dhe Anda pernah memberi tumpangan si profesor dua malam. ūüôā

Kira-kira begitulah cara yang diambil banyak mahasiswa dari Asia Selatan dan Cina. Sejak awal mereka tunjukkan niat dan ketrampilan dasar yang kira-kira akan berguna dalam proses penelitian nantinya. Bukan rahasia lagi bahwa pelajaran matematika dan ilmu alam di Asia Selatan dan Cina untuk tingkat pendidikan dasar dan menengah jauh lebih tinggi tingkatnya dibanding pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat. Makanya, banyak sekali dari orang-orang Asia Selatan dan Cina ini datang ke Amerika Serikat dengan kemampuan bidang-bidang ilmu pasti yang sudah canggih.

Kalau Anda berminat menerjuni secara serius bidang-bidang tertentu tapi belum juga berkesempatan mendapatkan beasiswa (yang memang jumlah ketersediaannya dan peminatnya sangat tidak seimbang), mungkin menjadi TA, GA, dan RA ini bisa menjadi alternatif bagi Anda.

Bagaimana dengan tiket pesawat dan pengurusan keimigrasian?

Nah, itu dia yang tidak gratis dan harus Anda tanggung sendiri. Untuk detilnya saya akan membahas soal ini pada postingan selanjutnya. Saya akan berikan contoh-contoh mahasiswa dari negara lain.

Sekali lagi, ini bukan cara yang benar-benar gratis dan tidak mudah, dan ini cara yang cenderung “di luar kotak” bagi kita orang Indonesia rata-rata. Tapi, tidak sedikit juga orang Indonesia rata-rata yang akhirnya bisa kuliah melalui cara ini.

Sekali lagi, ini cuma satu cara, yang tidak biasa, tapi bukan tidak mungkin. Ini alternatif, bukan obat manjur segala penyakit. ūüôā

(Puisi) Cambridge

tuhan, kenapa malah tak bisa lupa

saat Frazer akting galau
skripsi hangus digoreng MS DOS
di musim gugur dua puluhan tahun lalu
aku mungkin sedang bayar SPP di SMP
di ruang TU, dengan satu-satunya printer
dan komputer di kelurahan itu.

kini, saat dia mirip mantan politisi
pemanasan global masih juga diingkari
aku teliti kampus ini, ingat Courtney
nemu pisang di Widener Library
dan Walt Whitman hidup lagi

ini bukan kisah motivasi. tapi puisi
tentang sesuatu pop yang laten abadi.

ada juga

saat Damon/Will diwejangi Williams,
(garis tangan semestinya digenggam!)
setelah merampungkan persamaan
sebagai petugas kebersihan
aku mungkin menghafal lirik Oasis
dengan logat Jawa bahasa Inggris
sepeninggal seorang sobat
lulusan SMK yang nekad
menyeberang dua selat,
bekerja di Hotel Kakatua
dan nulis surat tentang turis
(bonus satu idiom baru)

tadi malam aku beli kari veggie
di luar kampus tempat Chomsky
tanpa and so on, tanpa and so forth
mendebat Zizek dengan presisi

ingat, ini bukan puisi motivasi
tapi pelarian melankoli
pulang kampung
tak kunjung jadi

Sholat Jumat di Harvard: Misalkan Kita Minoritas

Kali ini, Saudara-saudara penyimak Laporan Studi Banding yang saya hormati, saya ingin bercerita tentang sholat Jumat di negeri Aa’ Sam. Sebenarnya tujuan awal tulisan ini tentang pengalaman sholat Jumat di “masjid darurat” kampus Universitas Harvard. Tapi, seperti biasa, saya ajak dulu Anda menempuh jalan berliku. Saya akan mulai dengan hakikat sholat Jumat sebagai mayoritas–seringkali hakikat ini tidak pernah kita pikirkan. Baru setelahnya saya akan ceritakan khidmatnya sholat Jumat sebagai minoritas.

Hakikat Sholat Jumat Mayoritas

Kalau Anda tinggal di Indonesia, di mana sebagai Muslim Anda adalah mayoritas, mungkin tidak ada yang perlu dibicarakan soal sholat jumat. Anda bisa menemukan masjid di mana-mana dan pimpinan Anda sangat mengerti bahwa setiap hari jumat antara jam 12 sampai jam 1 Anda perlu istirahat untuk sholat Jumat. Bahkan, sistem penjadwalan kerja sudah mempertimbangkan ini. Murid-murid sekolah sudah dibebaskan dari bangku mereka pada pukul 11 pagi pada hari Jumat, bahkan kadang-kadang tanpa perlu kembali setelah sholat Jumat. Kalau Anda kerja di kantor, biasanya mungkin sudah ada pengaturan jam khusus.

Begitu juga dengan tempat sholatnya. Seringkali kita hanya perlu jalan dari tempat kita bekerja untuk bisa sholat Jumat. Ketika saya dulu kerja di Universitas Brawijaya, saya bisa memilih sholat Jumat di kampung saya atau di kampus sendiri. Biasanya sih di masjid kampus yang megah itu.

Dan seringkali kita menganggap ini biasa-biasa saja. Tentu, kita menganggap kenikmatan yang sudha sehari-hari kita nikmati sebagai sesuatu yang wajar dan, ya, tidak perlu lagi repot-repot mensyukurinya.

Tapi beda ceritanya kalau Anda tinggal di sebuah keadaan di mana Anda adalah minoritas. Beda ceritanya bila fasilitas-fasilitas yang biasanya dengan mudah Anda dapatkan tidak mudah ditemukan. Beda ceritanya bila sesuatu yang biasanya menjadi bagian “wajib” dari hidup Anda ternyata butuh diperjuangkan dulu, bila sesuatu yang menjadi hal pokok dalam hidup Anda tersebut dicurigai sebagai sesuatu yang berbahaya atau diniatkan untuk membahayakan orang lain (terutama mayoritas). Maka lanjutkan ke bagian selanjutnya:

Bukan Sekadar Toleransi, tapi Pengakuan Adanya Ketidaksetimbangan

Menuliskan kata “minoritas” di atas saya langsung teringat kembali album ke-5 Slank: “Minoritas.” Album itu keluar waktu saya SMA. Band pertama saya merekrut saya karena mereka butuh ikut sebuah festival yang mewajibkan peserta memainkan “Bang Bang Tut” sementara mereka tidak punya pemain kibord. Sekarang, setelah dua puluh tahun setelah kejadian itu, saya sadar betapa saat itu kata “minoritas” itu tidak terlalu penting artinya bagi saya. Saya tidak ingat apa arti kata itu dulu bagi saya. Mungkin saya semacam membayangkan bahwa kata itu mengacu pada orang-orang slengekan seperti Slank dan sejenisnya, yang dianggap sebagai orang-orang pinggiran.

Saya yakin sikap “tidak nyambung” semacam itu wajar bukan hanya bagi remaja, tapi bagi siapa saja yang merupakan bagian dari mayoritas–tapi bukan berarti yang wajar seperti itu harus dibiarkan. Kita cenderung menganggap segala hal itu natural, sampai akhirnya ada yang menunjukkan bahwa hal-hal tersebut sebenarnya adalah sosial dan historis. Maksud saya, dalam keadaan wajar, kita cenderung menganggap bahwa hal-hal yang kita lihat dan percayai dan miliki itu cenderung sesuatu yang sewajarnya. Padahal, banyak hal yang sebenarnya hasil dari suatu proses sejarah dan hasil bentukan sosial. Dalam hal ini, sejarah penyebaran Islam di Indonesia yang lumayan merata dan kurangnya menyoroti adanya minoritas dan mayoritas membuat saya gagal menyadari arti penting menjadi minoritas.

Yang juga perlu ditumbuhkan adalah menyadari perbedaan tingkat, dan mengajarkan untuk mencegahnya. Saya ingat hanya diajarkan toleransi dan menghargai perbedaan–yang sebenarnya tidak cukup. Ya, mengakui dan menghargai perbedaan saja tidak cukup. Kita masih perlu mengakui adanya perbedaan “level” antara kelompok-kelompok yang berbeda. Kalau hanya sekadar berbeda saja dengan jumlah anggota yang sama-sama besarnya, tentu keadaannya jadi tetap indah. Seperti idealnya keadaan “multikultural.” Tapi kalau berbeda dan salah satu jumlahnya lebih besar atau lebih memegang kekuasaan, tentu saja dinamikanya jadi lain. Yang ada adalah pengakuan adanya perbedaan di satu sisi, sementara ada praktik di mana orang-orang dari kelompok yang lebih mayoritas mendominasi yang minoritas.

Seperti biasa, hal-hal yang kita anggap wajar padahal bersifat historis atau hasil kondisi sosial ini baru terasa kalau kita pindah ke tempat lain yang sejarah dan konstruksi sosialnya berbeda. Tentu saya harus menggunakan kesempatan berharga ini untuk mengutip lagunya Brian Adams dan Mel C (mantan anggota Spice Girls): “Baby when you’re gone, I realize I’m in love.” Saat sesuatu yang biasanya sebenarnya bukan sesuatu yang natural itu hilang, baru terasa bahwa sebenarnya dulu kita menerimanya–pakai gaya generasi Facebook–secara taken for granted.

Dalam kasus saya, seorang Muslim dari Jawa, kondisi semacam ini terjadi ketika saya berada di Amerika Serikat, negara yang persentase penduduknya muslimnya kira-kira hanya 1 persen dari keseluruhan. Dalam kondisi seperti ini, baru sadar bahwa kewajaran-kewajaran dalam menjalani hidup sebagai Muslim di Indonesia itu sebenarnya adalah “kenikmatan” yang hanya bisa didapatkan oleh mayoritas. Di kota Fayetteville, bisa dibilang saya beruntung karena komunitas Muslimnya sudah berhasil membangun masjid. Tapi, untuk urusan sehari-hari, misalnya sholat, tentu saja saya harus mengusahakannya sendiri. Tempat wudhu juga tidak ada karena gaya toilet Amerika yang relatif berbeda dengan toilet Indonesia. Dan lain-lainnya. Pendeknya, segala hal yang seperti wajar buat Muslim di Indonesia menjadi sesuatu yang langka dan sangat diharap-harap.

Makanya, ketika ada satu komunitas Muslim yang cukup kaya di sebuah kota, meskipun jumlahnya kurang dari satu persen keseluruhan penduduk kota, mereka langsung berusaha membuat masjid–lebih tepatnya membeli bangunan untuk kemudian dijadikan masjid. Seperti misalnya masjid di kota Joplin, Missouri, yang saya tahu cukup baik karena kebetulan lokasinya hanya 1,5 jam dari tempat saya dan imamnya orang Indonesia. Jamaah masjid ini terdiri dari sekitar 50 keluarga. Tapi, karena jamaahnya cukup makmur, sebagian besar dokter asal Pakistan yang bekerja di rumah sakit setempat, mereka bisa membeli bangunan bekas gereja dengan halaman yang cukup luas. Sayangnya, sepertinya tidak semua orang suka ada bangunan masjid di Joplin. Masjid itu pernah menjadi korban percobaan pembakaran. Pelakunya tertangkap CCTV ketika mencoba melakukan pembakaran tersebut. Untungnya, pada saat itu api tidak sempat menjalar terlalu jauh sebelum akhirnya diketahui oleh salah seorang jamaah yang kebetulan berada di sana. Sayangnya, beberapa saat setelah kejadian tersebut, masjid itu terbakar habis sampai rata dengan tanah. Hingga saat ini, tidak diketahui apa penyebab kebakaran tersebut karena memang tidak ada bukti–kamera CCTV dan semuanya ikut ludes terbakar. Tapi, kurang dari dua tahun setelah musibah tersebut, jamaah masjid ini, dibantu dengan sumbangan warga Joplin dan sekitarnya, berhasil membangun masjid betulan. Kali ini masjidnya dibangun sedari awal sebagai masjid. Tentu, dengan menceritakan musibah masjid Joplin ini, saya harus menjelaskan bahwa tidak semua orang tidak suka dengan adanya masjid Joplin itu. Bahkan, tak lama setelah kebakaran masjid Joplin itu, banyak warga setempat, anak-anak pramuka, dan jemaat gereja setempat, yang menggelar acara malam renungan dan penggalangan dana untuk menumbuhkan kepedulian warga tentang kejadian yang menyedihkan Muslim kota Joplin.

Ketakutan kepada Muslim itu juga pernah terjadi dalam kasus rencana pembangunan Pusat Masyarakat Muslim Park 51 di Manhattan, tak terlau jauh dari gedung World Trade Center yang runtuh pada 11 September 2001 itu. Kelompok-kelompok tertentu, yang digawangi oleh Pam Geller dan orang-orang yang oleh Wajahat Ali disebut sebagai jaringan Islamofobia itu, memanas-manasi orang untuk menolak pembangunan bangunan tersebut. Bahkan, mereka sampai menyebut bangunan itu sebagai “Masjid Ground Zero,” untuk menunjukkan ironi antara lokasi runtuhnya World Trade Center dengan bangunan tempat ibadah agama dianut para teroris pembajak pesawat tersebut, para teroris yang mengklaim melakukan tidak kejahatannya atas nama Islam itu. Seperti biasa, tentu banyak sekali yang menentang upaya memanas-manasi ala Pam Geller dan Frank Gaffney ini. Gaffney ini juga pernah melakukan protes keras atas bangunan masjid di Tennessee, yang katanya menjadi sarang pertumbuhan teroris. Dia mengklaim bahwa masjid di Tennessee itu merupakan tempat mendoktrin kaum muda Muslim Amerika untuk menjadi orang-orang yang lebih percara “hukum syariah” daripada Undang-undang Dasar Amerika Serikat. Dan ini bukan kali pertama Gaffney melakukan hal serupa. Dia membisikkan rencananya kepada banyak perwakilan rakyat Amerika yang duduk di Dewan Perwakilan-Dewan Perwakilan tingkat negara bagian. Biasanya, kalau Dewan mulai mempertimbangkan anjuran Gaffney ini, dia kemudian dipanggil untuk menjadi nara sumber asli dalam acara Dengar Pendapat di Dewan Perwakilan. Tentu ini kesempatan bagi Gaffney untuk menyampaikan pendapatnya mengapa Islam itu agama yang perlu diwaspadai dan perlu dibuatkan peraturan khusus yang melarang penerapan “hukum syariah.”

Tentu di Indonesia sendiri hal-hal semacam ini bukan hal yang asing. Bedanya, yang menjadi sasaran tentu bukan kaum Muslim. Korbannya bisa berupa minoritas beragama Kristen di sebuah lokasi, minoritas sekte Muslim tertentu, atau bahkan minoritas penganut kepercayaan lokal tertentu. Mungkin kita akan bilang: Ah, tapi itu kan berbeda? Tapi orang-orang itu kan tidak menyalahi hukum Islam yang sesungguhnya dari Allah?

Apanya yang berbeda? Secara isi mungkin berbeda, karena memang dunia ini bermacam-macam dan banyak sudut pandang untuk melihat sebuah urusan. Tapi pada dasarnya, secara relasional semua itu tidak terlalu berbeda. Bagi mayoritas Muslim di Indonesia, mungkin saja Ahmadiyah itu adalah ajaran yang sesat, yang harus dilarang dan dibbuatkan Undang-undang, karena itu bertentangan dengan ajaran Islam yang sesungguhnya. Dan sebagian orang Islam juga berkata demikian. Dan mereka berharap ada perundang-undangan yang melarang penyebaran agama ini.

Mari kita bandingkan dengan kasus di Amerika. Orang-orang seperti Jeffrey dan Pam Geller itu menggunakan Undang-undang dasar Amerika sebagai landasan mereka. Mereka juga gunakan nilai-nilai kemanusiaan barat yang bagi mereka Universal dan harus dipatuhi semua manusia sebagai sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar. Mereka tidak mau ada orang nikah dua karena itu bagi mereka tertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan, mereka tidak mau orang-orang disuruh memakai jilbab karena itu sama saja dengan menekan perempuan, mereka juga tidak mau ada hukum potong tangan karena itu tidak manusiawi. Dan seterusnya.

Pendeknya, kalau banyak Muslim di Indonesia yang berpegangan pada apa yang menurut mereka dari Tuhan dan tidak bisa diganggu-gugat, Pam Gellar dan kelompoknya berpegangan pada nilai-nilai kemanusiaan. Apapun perbedaan detil dari nilai-nilai yang mereka percayai benar itu, yang pasti mereka sama-sama tidak mentolerir adanya perbedaan.

Begitulah kita hendaknya melihat ini. Terus Anda pun bertanya, bukankah itu nantinya bertentangan dengan kepribadian bangsa Indonesia? Tentu tidak. Kepribadian bangsa Indonesia mengandung “Ketuhanan Yang Maha Esa,” tapi dia juga mengandung “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.” Yang pertama memang berarti percaya kepada Tuhan yang Maha Esa. Dan kita tahu, agama Hindu adalah agama politeisme, tapi tidak sekali-kali kita boleh menganggap bahwa agama HIndu bertentangan dengan Pancasila. Bahkan, banyak hal-hal yang dipercaya sebagai nilai-nilai filsafat yang tinggi itu berasal dari peradaban Hindu Indonesia, pada zaman kerajaan Majapahit. Bagaimana kalau Ketuhanan yang Maha Esa sebenarnya bermakna mempercayai satu kuasa ilahi yang harus dijunjung lebih tinggi daripada hasrat-hasrat kemanusiaan kita? Mungkin inilah nilai tertinggi dari penghapusan “dengan kewadjiban mendjalankan sjari’at Islam bagi pemeloek2-nja” dari Piagam Jakarta. Dia satu sisi Pancasila tidak jadi mewajibkan pemeluk Islam menjalankan syariat Islam, tapi di sisi lain juga dia semakin membuka ruang yang sangat luas untuk menafsirkan “ketuhanan yang maha esa.”

Khidmat Sholat Jumat di Harvard

Setelah jalan ke sana-ke mari, kembalilah kita ke urusan sholat Jumat di kampus Harvard. Seperti saya sebutkan pada postingan-postingan sebelumnya, saya beruntung bisa berada di kota Cambridge, satu kota kecil yang memiliki dua kampus paling terkenal di dunia, Universitas Harvard dan MIT (Massachusetts Institute of Technology). Dan saya juga beruntung karena berkesempatan bisa mengikuti dan menyaksikan sholat Jumat di lingkungan ini. Dan, yang tak kalah menariknya, sholat Jumat ini diadakan di sebuah lokasi yang dipakai para mahasiswa (dan pegawai Muslim) atas seizin kampus.

Bukan pertama kalinya saya menghabiskan waktu selama tiga empat hari di sebuah kampus Amerika (selain kampus saya) untuk urusan presentasi di konferensi. Tapi baru kali ini saya sempat sholat Jumat. Biasanya, karena repot cari tempat dan lain-lain, saya memilih memanfaatkan dispensasi untuk tidak sholat Jumat. Tapi kali ini berbeda: saya memutuskan untuk mengikuti sholat Jumat ini karena menurut situs Perkumpulan Mahasiswa Muslim di Harvard memang tersedia lokasi di dalam kampus yang biasa dipakai untuk sholat Jumat. Lagi pula, presentasi saya kali ini benar-benar tentang Muslim Amerika; tentu ganjil rasanya berbicara tentang Muslim Amerika tanpa menyempatkan diri berada di tengah-tengah mereka. Maka, setelah menghadiri sebuah sesi panel tentang agama dan etika dalam sastra dan mengikuti rapat divisi agama dan etika Asosiasi Sastra Perbandingan Internasional (yg dihadiri belasan orang saja), saya pun mencari ruang kuliah lantai 2 gedung Lowell.

Ternyata sholat Jumatnya unik: wudhu di basement, dan sholat di lantai dua. Karena ini bukan masjid, maka tidak ada tempat wudhu yang “mewah,” yang memungkinkan kita bisa mencuci kaki dengan nikmat (ini juga termasuk kenikmatan lho). Bahkan, karena arsitektur gedungnya, kamar kecil terdekat dari tempat sholat terletak di lantai bawah. Saat wudhu, saya bertemu seorang mahasiswa masih muda asal Indonesia, namanya Dimas. Setelah wudhu, saya nanti ke lantai atas dan melihat ruang kuliah yang berbentuk bujur sangkar dengan tatanan kursi di tiga sisi dan panggung utama seperti lembah. Layaknya ruang kuliah. Ada juga lantai atas untuk tempat duduk mahasiswa. Kalau Anda tahu “The Globe,” gedung pertunjukan zaman Shakespeare, pasti Anda tahu yang saya maksud.

Tema khutbah hari itu bisa dibilang sangat sederhana, mendasar, tanpa tedeng aling-aling: tentang nilai nyawa manusia dan betapa besarnya dosa membunuh. Khatib yang masih muda, sekitar awal dua puluhan, mungkin, dengan bahasa Inggris sangat “cetha” dan sedikit beraksen. Dia seperti keturunan atau asal Timur Tengah. Saya tidak bisa memastikan apakah ini aksennya New Jersey atau dia memang mahasiswa asing yang sudah lama tinggal di sini. Hal mencolok lainnya dari khatib muda ini adalah bacaan alquran dan hadits-nya. Gaya pembacaan yang dia pakai benar-benar berbeda. Ketika mengutip dari Alquran, dia melagukannya dengan nada pilu–seperti menurut beberapa hadits. Tapi ketika mengutip hadits, dia mengucapkannya seperti orang berpetuah. Semua ini dilakukan tanpa teks. Tangannya seperti agak canggung. Kadang memberi isyarat, kadang bersedekap, kadang pose istirahat di tempat. Saya bisa membayangkan betapa tidak biasanya memberikan khutbah sambil berdiri tanpa podium atau mimbar, tapa tongkat, sementara orang-orang lain duduk bersila dengan santai. Tidak ada pembatas antara jamaah putra dan putri. Saya tanpa sadar menoleh ke belakang dan melihat para jamaah perempuan yang jumlahnya kira-kira seperempat jamaah pria. Saya sungkan sendiri takut dikira main mata. Seusai sholat, saya bertemu lagi dua mahasiswa pasca sarjana asal Indonesia, Reza dari Aceh dan Naim dari Jawa Tengah–yang belakangan saya ketahui sangat terkenal :).

Komunitas Muslim Kampus yang Beruntung

Komunitas Harvard ini terbilang sangat beruntung karena bisa menjalankan sholat Jumat di tengah kampus, tak jauh dari mana-mana. Mereka memiliki daya tawar yang sangat tinggi untuk bisa mendapatkan fasilitas sholat Jumat di kampus yang suasana sekelilingnya sangat Kristen. Bayangkan saja, Cambridge adalah salah satu kota pertama tempat koloni orang Eropa di Amerika Utara. Orang-orang Eropa yang datang ke sini adalah orang-orang Puritan, yang meninggalkan Inggris karena mereka terdesak di negara asalnya. Jadi, intinya orang-orang yang mendirikan kota-kota di Northeast atau New England adalah orang-orang yang sangat alim. Makanya, Anda bisa melihat sangat banyak gereja megah yang sangat tua di Cambridge dan Boston ini.

Di tempat-tempat seperti inilah, ketika hasil usaha beberapa mahasiswa atau pegawai Muslim di universitas membuahkan hasil, kita merasakan bahwa ada yang perlu disyukuri dan dikritisi dari kemewahan yang kita dapatkan di negeri sendiri. Dalam suasana sholat Jumat seperti ini, yang mungkin sesuatu yang sangat biasa bagi saya dulu (karena bahkan di SMP saya di desa punya musholla yang mengadakan sholat Jumat), saya sempat memikirkan bahwa sesuatu yang kita anggap natural itu sebenarnya adalah bentukan sejarah dan sosial, yang sewaktu-waktu bisa hilang.

Di saat itulah saya bisa sedikit merasakan bagaimana rasanya saudara-saudara yang termasuk anggota minoritas agama di Indonesia, baik itu yang Kristen, Hindu, maupun minoritas dalam agama Islam sendiri. Saya bisa sedikit bayangkan mimpi mereka mengadakan ibadah berjamaah di kampung atau bahkan di kampus. Tapi ya, serepot-repotnya saya mencoba beribadah secara normal di Aa Sam ini, ini cuma sementara. Nanti, kalau pulang di Indonesia, saya bisa menemukan tempat wudhu yang enak di gedung kampus, dan bisa sholat di masjid yang ada di kampus. Sementara anggota kelompok minoritas tertentu yang lahir dan besar di Indonesia, yang tak punya “kampung halaman” selain Indonesia, mereka akan terus-terusan merasakan repotnya beribadah. Kecuali bila kelompok mayoritas berempati dengan betapa repotnya urusan beribadah bagi mereka. Kecuali bila mayoritas yang bisa memegang kebijakan bisa “nyambung” dengan apa yang dirasakan anggota minoritas agama tertentu.

Mungkin di situlah perlunya studi banding jangka panjang…

From Today’s Edition of Interfaith America

I ran into a young man on the stairs as I was descending to the library lobby. I smiled as usual, and he smiled back. I kept descending a few steps.

Man: Excuse me, Sir.

Me: Yes.

Man: Hi, my name’s James.

Me: I’m Misdi.

Man: Mmhh. I’m a Christian. Are you a Christian?

Me: No. I’m a Muslim.

Man: Did you pray back there? I saw you bow your head and close your eyes before studying.

Me: Well, actually no. I was sleepy.

Man: Oh, I see.

Me: I do pray, though, but not before studying. Sometimes before eating.

Man: I see. Well. Anyways, Merry Christmas!

Me: Merry Christmas!

I continued descending the the stairs, and I remembered two days before my wife had told me to recite “Rabbi zidni ilma…” before studying. I guess James was just somebody God sent to remind me to say hi to Him/Her/It before I start studying.

Still Life: Ketika Kampus Senyap

Minggu lalu, minggu Thanksgiving, termasuk minggu yang paling sepi di kampus Amerika Sebelah Sini. Meskipun liburan baru resmi dimulai hari Rabu, populasi kampus sudah menurun drastis sejak hari Senin. Nggak di Indonesia, nggak di Negeri Aa’ Syam, mahasiswa memang gemar izin atau bolos kalau adaaaa saja sedikit alasan. Selama Thanksgiving, yang saya bahas di postingan selanjutnya sebagai sebuah Hari Raya yang dilematis itu, biasanya para mahasiswa pulang ke rumah orang tua mereka dan menghabiskan akhir pekan bersama keluarga. Bisa dibilang hampir semua begitu.

Yang paling banyak terlihat pada hari-hari ini adalah mahasiswa asing, yang tentu tidak bisa berbuat banyak dengan liburan yang kurang dari seminggu ini. Tentu, sebagian dari mahasiswa asing yang punya cukup modal bisa saja jalan-jalan entah ke mana. Tapi, kebanyakan, mereka berkeliaran di kampus seperti zombie kesasar, dari kantor mereka, ke perpustakaan, ke lab komputer, ke gym, dll. Ini adalah gambar-gambar yang saya ambil pada sehari sebelum Thanksgiving dan hari Sabtu (ketika kampus buka kembali untuk pertama kalinya).

Beginilah, kata Kera Ngalam:¬†“ipes ilakes.”

Ketakutan Kultural Kepada Anjing

Sebut saja rasa ogah kita kepada anjing sebagai “ketakutan kultural.” Yang saya maksud dengan “kita” di sini adalah kaum Muslim Indonesia selain yang tinggal di kawasan pedesaan atau perkebunan yang sehari-hari akrab dengan anjing sebagai teman pembantu kerja. Buat kita-kita ini, anjing termasuk binatang yang bermasalah karena kita punya anggapan bahwa: 1) air liurnya najis sehingga butuh cara-cara khusus untuk membersihkan anggota badan atau barang kita yang terkena liur anjing, 2) anjing cenderung buas dan besar kemungkinannya menggigit kita, 3) anjing peliharaan adalah binatang yang tugasnya melindungi dan menjadi pemiliknya dan properti pemiliknya. Dampak dari “permasalahan” yang disebabkan anjing ini adalah: kita jadi enggan dekat-dekat anjing. Seringkali kita takut digigit atau dijilat. Banyak yang mengaku tidak takut digigit tapi malas kalau kena jilat.

Bahayanya, sikap seperti itu akhirnya berdampak negatif juga terhadap cara pandang kita terhadap anjing. Setiap melihat anjing–hewan yang tidak kita kenal dan cenderung kita jauhi–kita cenderung beranggapan bahwa dia buas dan ingin menggigit kita. Dan, kalau kebetulan kita ketemu anjing yang tidak buas, kita cenderung beranggapan bahwa anjing itu “haus” menjilat kita. Kita cenderung syu’udzon kepada anjing. Sikap selalu syu’udzon, kalau Anda percaya hikmah yang diajarkan agama Islam, adalah sebuah masalah. Padahal, anjing adalah hewat yang sudah sejak lama didomestikasi manusia dan mungkin kedekatannya dengan kecenderungan manusia jauh melebihi pengharapan kita.

Padahal, kalau kita memperhatikan anjing lebih dari sekadar tajam taringnya, ada yang lebih: lapis-lapis emosi. Anjing, seperti halnya manusia, cenderung menunjukkan apresiasi apabila kita memberinya hadiah, baik itu hadiah berupa makanan maupun hadiah berupa perlakuan manis, misalnya digaruk-garuk perutnya. Dia suka menggulung-gulung dan membalik badan–mungkin minta digaruk. Kadang, dia langsung menyalak-nyalak dan bersiapa–menggeram-geram–bila ada bahaya, misalnya ada ular mendekat ke rumah kita atau ketika ada binatang buas lewat depan rumah kita. Nah, emosi-emosi ini tidak akan pernah kita ketahui bila kita hanya percaya bahwa anjing akan menggigit (atau menjilat) kita saja, kalau kita percaya bahwa anjing (tak peduli apapun jenis dan pekerjaannya) adalah binatang buas yang memang buas.

Jadi, saudara-saudara, sebagai mantan orang yang pernak terjerembab dalam ketakutan kultural kepada anjing, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk menghilangkan rasa takut, benci, dan syu’udzon kepada anjing. Kenapa?

Karena:

  1. kalau pun toh tidak suka najisnya, kan bisa dibersihkan…
  2. katanya orang Islam hanya takut kepada Allah, kenapa sekarang takut anjing?
  3. insya allah hidup kita lebih tenang jika tidak dipenuhi dengan syu’udzon atau pikiran negatif bahwa anjing itu selalu pingin gigit kita. Padahal, mungkin saja dia mau ngemut kita ūüėÄ
  4. kalau Anda jijik dengan liur anjing, coba diingat-ingat, siapa yang menciptakan anjing? Iya, kalau Anda orang beragama, tentu Anda akan menjawab bahwa sang Maha Pencipta adalah penciptanya. Terus, apa berani Anda menghina sebuah karya seni di depan senimannya? Padahal, katanya Tuhan selalu bersama dengan kita, lebih dekat dari urat nadi kita, kan? Berarti kalau kita jijik sama anjing… pasti Beliau tahu, kan?

Saya sih memilih, mengikuti anjuran Pancasila Sila Ke-5 Butir ke-10, untuk “menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat,” dan anjing adalah makhluk yang bermanfaat–meskipun penciptanya bukan orang. ūüėÄ

Eh, sebentar, jangan-jangan tidak ada Muslim Indonesia yang seperti saya gambarkan itu. Jangan-jangan tidak ada orang Muslim Indonesia yang takut, benci, jijik, dan anti kepada anjing seperti saya gambarkan itu. Semoga saja. Yang saya tahu pasti: beberapa tahun lalu ada orang Indonesia yang seperti itu, yang gara-gara dikejar tiga anjing di satu dini hari ketika salah masuk ke pekarangan orang di Bali dia langsung menganggap semua anjing itu buas, ganas, liurnya najis dan menjijikka, dan tidak ada perlunya berbaik-baik dengan mereka.

Ya, beberapa tahun yang lalu ada orang Indonesia seperti itu. Dan, alhamdulillah, dia sekarang sudah bertaubat dari kecenderungan menilai anjing berdasarkan stereotipe seperti itu, bertaubat dari kecenderungan mendiskriminasi anjing seperti itu. Alhamdulillah, akhirnya dia berani mengakuinya dan akhirnya menuliskan sebuah postingan blog. Untuk Anda sekalian, orang-orang yang dikasihinya.

Liberty
Perkenalkan, ini dia Liberty: seekor anjing blasteran Anatolia dan Pyrenees. Dia diadopsi seorang kawan yang tinggal di sebuah kawasan pertanian di pedesaan Arkansas. Di sini terlihat Liberty sedang menggigit sepotong daging kurban. Ketika teman-teman menyembelih sapi kurban dan membagi-bagi dagingnya, Liberty tampak mendekat dan mengharap belas kasihan. Tapi dia selalu menyingkir kalau kami larang. Akhirnya, suatu kali kucing kawan saya itu mendekat terus dan ingin memakan jeroan, paru. Karena si kucing sepertinya tidak bisa diperingatkan, akhirnya kami beri si kucing sepotong lemak. Nah, sepertinya itu membikin Liberty merasa iri dan kembali merengek-rengek minta diberi. Akhirnya, kami pun mulai memberikan lemak ke Liberty dan Mitten, nama kucing itu. Beberapa kali kami memberinya lemak, dan dia terus menerima. Di satu kesempatan, akhirnya seorang kawan memberinya sepotong daging. Di sini dia terlihat menjauh dari kawasan penyembelihan sambil menggigit daging hadiah itu.

Ayat-ayat Cinta: Berdakwah, dan Membantu Menyingkap Profil Mayoritas Pembaca Muslim?

Ayat-ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy bercerita tentang beberapa bulan dalam kehidupan Fahri Abdillah Shiddiq, seorang mahasiswa Indonesia asal Jawa yang sedang menempuh pendidikan S-2 Ilmu Tafsir di Universitas Al-Azhar di Kairo. Novel ini tidak begitu kompleks, pesannya jelas, dan enak dijadikan bacaan yang menghibur dan mendidik. Pendeknya: mudah dibaca dan informatif. Di antara berbagai hal, ada beberapa faktor utama yang menciptakan kenyamanan novel ini,  yaitu karakterisasinya yang sederhana, temanya yang tegas dengan moral Islami, latarnya yang cukup menggiurkan, dan sorga dunia (atau utopia) dalam berbagai bentuk yang ditawarkannya.

Karakterisasi Ayat-ayat Cinta sangat datar, bahkan terlalu datar, nyaris tanpa kejutan. Bahkan, kita bisa dengan mudah mengenali sifat-sifat para tokoh hanya melalui ciri-ciri fisik mereka. Tokoh-tokoh yang digambarkan rupawan biasanya baik dan yang digambarkan tidak rupawan biasanya buruk. Konsistensi¬†standar kerupawanan yang digunakan si narator–yaitu¬†cerahnya warna kulit–mau tidak mau membuat pembaca yang peka merasakan kesan rasis. Aisha adalah seorang gadis yang cantik jelita berkulit putih (berdarah Jerman-Turki), begitu juga Maria si gadis Koptik. Sementara itu, Bahadur adalah sosok yang berwajah dingin dan hitam, dan berulang kali Fahri mengait-kaitkan kehitaman kulit Bahadur dengan ‚Äúorang Sudan.‚ÄĚ Perihal kehitaman ini semakin tampak pada para ‚Äúpolisi hitam besar‚ÄĚ yang menangkap dan menyiksa Fahri. Saking konsistennya hal ini, seolah-olah Fahri memiliki asumsi bawah sadar bahwa kulit luar adalah cermin dari inti di dalam diri.

Mungkin Anda bertanya: bagaimana dengan karakter Noura yang cukup problematis itu? Ya, memang ada karakter yang¬†keluar pakem (untuk ukuran novel ini), tapi cerita kemudian meluruskan penyimpangan itu. Hal ini tampak pada karakter Noura yang akhirnya cukup problematis. Sejak awal Fahri menyoroti perbedaan antara Noura dengan keluarganya (keluarga si Bahadur): Noura lain sendiri, kulitnya putih (dan berambut pirang) berbeda dengan orang tua dan saudari-saudarinya yang berkulit dan berpenampilan fisik ‚Äúseperti orang Sudan.‚ÄĚ Selain itu, kalau keluarga Noura cenderung berangasan dan terlibat bisnis hiburan malam (judi dan seks komersial), Noura adalah gadis remaja baik-baik yang belajar di Ma‚Äôhad Al Azhar. Saat belakangan Noura melakukan manuver penyelamatan diri yang keji, kita mungkin diam-diam¬†menghela nafas puas:¬†‚ÄúTernyata orang cantik juga bisa keji.‚ÄĚ Jangan terlalu puas dulu.¬†Ayat-ayat Cinta meluruskan ceritanya: ternyata dia tidak bergerak dengan inisiatif sendiri, dan belakangan pun akhirnya dia memutuskan untuk mengakui kesalahannya.

Hal kedua yang membuat kita bisa dengan mudah menikmati novel ini dan mengambil pelajaran darinya adalah tegasnya moral Islami yang diangkat sebagai tema. Ayat-ayat Cinta dihantarkan oleh seorang narator yang sangat lurus mengikuti ajaran-ajaran¬†Islam yang dia dapatkan sejak di tanah Jawa hingga di “negeri para Nabi.” Semua tindakan penting yang dia buat dalam cerita ini dilandasi dalil-dalil dan rasionalisasi yang banyak dilandasi kisah-kisah Alquran, kisah-kisah sahabat rasul sekaligus para ulama Muslim dari segala zaman. Bagi yang gemar mempelajari tafsir Alquran dan kisah-kisah Islami, Ayat-ayat Cinta adalah sumber bagus yang menyerupai pengulangan kontemporer¬†atas¬†kisah-kisah Alquran dan para ulama. Bahkan, adegan-adegan penting yang ada di sana pun bisa dihubungkan dengan kisah-kisah Alquran, seperti hubungan antara perkawinan Aisha-Fahri yang menyerupai kisah Sulaiman dan Ratu Sheba, meskipun bedanya di sini sang kaya raya adalah Ratu Sheba, dan adegan penjara pun banyak terinspirasi dari kisah Nabi Yusuf dan para ulama Muslim yang mendapat banyak pengalaman di penjara. Mungkin¬†bukan¬†kebetulan bahwasanya Habiburrahman El-Shirazy memiliki adegan penjara sebagai salah satu elemen penting dalam novel ini. Kisah Nabi Yusuf terjadi di negeri Mesir,¬†setidaknya begitu menurut Perjanjian Lama, yang memberikan detil-detil lokasi awal dan akhir kisah Yusuf–Alquran tidak memberikan detil tempat, dan ada kesan hikmah kisah itu yang lebih dijadikan penekanan.

Ketegasan prinsip dan absennya ambiguitas ini tentu¬†membuat pembaca lebih mudah masuk ke dalam¬†cerita ini. Kalaupun mereka tidak bisa begitu saja menerimanya, setidaknya pembaca tidak akan¬†menentangnya. Ini berlaku,¬†terutama, bagi¬†pembaca yang pada dasarnya kurang tertarik dilema,¬†permainan,¬†dan ambiguitas yang memaksa¬†berpikir dan merenung-renung, seperti yang banyak ditawarkan dalam¬†karya-karya sastra yang sementara ini–karena kurangnya istilah, tanpa niat menunjukkan nilai inheren–kita sebut saja ‚Äúsastra mainstream.‚ÄĚ Bagi para pembaca ini–pembaca¬†yang lebih menginginkan informasi dan hikmah siap pakai¬†dari apa yang dibacanya–tentu kisah Fahri dengan keislamannya yang lurus dan tidak mau berkompromi sedikit pun ini menjadi kisah yang menarik dan bermanfaat, bahkan inspiratif–itulah kenapa novel ini dilabeli¬†“novel pembangunan jiwa.” Sumber-sumber yang dipakai Habiburrahman El-Shirazy jelas dan tidak ada kontradiksi pada pribadi Fahri. Kurang apa lagi coba?

Racikan antara latar luar negeri dengan dihantarkan orang negeri ini adalah satu faktor kuat yang menjadikan novel ini mengasyikkan dan menyamankan. Saat diceritakan oleh orang-orang yang latar budanya sama dengan kita, kisah-kiah berlatar asing cenderung menarik. Apalagi kalau dibumbui perbandingan dengan negeri sendiri, juga nostalgia, pasti latar yang asing itu menjadi relevan bagi kita. Pembaca masih merasakan sesuatu yang tak biasa, tapi yang tak biasa ini masih relevan bagi mereka. Berbeda kasusnya dengan cerita luar negeri yang diceritakan oleh orang luar negeri sendiri; yang seperti ini biasanya menciptakan jarak, dan hanya akan menarik bagi orang yang pada dasarnya memang tertarik dengan kisah asing. Mungkin, tingginya tingkat penjualan karya-karya catatan perjalanan maupun novel berlatar asing akhir-akhir ini bisa kita jadikan sebagai ilustrasi di sini.

Dan, terakhir, apalagi yang lebih menyenangkan dibandingkan menikmati kehidupan di sorga, seperti yg dialami Fahri? Kita lihat, dalam Ayat-ayat Cinta, ada sorga yang ngejawantah di bumi dalam novel ini, terutama bagi para tokoh yang baik dan beramal sholeh. Buat kebanyakan Muslim Indonesia, memiliki kemampuan menghafal seluruh Alquran saja itu sudah seperti sorga; begitu juga dengan pemahaman yang mendalam tentang keseluruhan isi Quran tersebut dan bisa mengamalkannya (dan mengkotbahkannya kepada yang membutuhkan) dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi kalau anda juga memiliki kemampuan akademis, ketrampilan menerjemah*, kemampuan menulis, kemampuan bahasa Inggris, Arab (formal dan dialek mesir) dan Jerman, dan baik hati. Apalagi kalau kemampuan luar biasa ini ditambah dengan mendapatkan berkah dicintai sekaligus empat orang gadis cantik, yang salah satunya kaya luar biasa. Pasti dalam kondisi seperti itu, Anda sekalian akan ikut mencicipi nikmatnya¬†hidup di sorga yang ngejawantah di dunia. Bahkan–ini yang sebenarnya cukup membuat penasaran–pembaca perempuan pun banyak yang tertarik dengan kisah Fahri ini, tertarik menikmati kisah seorang (dua orang?) gadis yang “memenangkan” hati seorang lelaki nyaris sempurna–profil insan kamil?–seperti Kang Fahri ini. Padahal kalau dipikir-pikir, bukankah kisah ini sangat falosentris, menjadikan laki-laki sebagai pusat dunia, dan menjadikan perempuan sebagai “perhiasan dunia”? Tapi, pembaca yang tidak syu’udzon¬†pasti senang mendengarkan dongeng tentang (dan hanyut mengidentifikasi diri dengan) lelaki sempurna ini. Obat gampang macam apa lagi yang lebih manjur untuk hidup yang sulit ini selain sebuah keindahan nyaris utopis seperti ‚Äúdunia Fahri‚ÄĚ ini?**

Semua hal ini memudahkan pembacaan, tapi juga mematikan terhadap potensi kritis novel ini sendiri. Tidak ada yang lebih membuat nyaman hati daripada mendengar atau membaca kisah yang tidak membutuhkan banyak pertentangan hati seperti hal-hal yang saya sebutkan di atas. Tapi, dampak negatifnya, banyak potensi kritis (dan politis) dalam novel ini yang justru jadi terabaikan. Beberapa contohnya adalah kekritisan novel ini terhadap dipomasi Indonesia yang seringkali lemah ketika orang-orang Indonesia bermasalah di luar negeri. Kalau kita mau membahas lemahnya diplomasi ini, mestinya kita juga harus membahas lemahnya daya tawar kita di luar negeri, berbeda dengan negara-negara seperti Jerman yang merupakan tokoh kuat dalam bidang teknologi dan Amerika yang kuat dalam hal militer dan ekonomi secara umum. Dengan kata lain, kritik seperti ini, kalau ditelaah lebih jauh, sebenarnya adalah kritik terhadap lemahnya pengelolaan negara secara umum. Sayang, sepertinya kritik-kritik kuat semacam ini terkubur oleh banyaknya ajaran moral Islami penting yang memadati novel sejak halaman-halaman pertama, yang menjadikan hal-hal kritis dan politis semacam ini seperti sekadar tema sampiran yang nyasar di novel ini. Padahal, bukankah segala macam penyiksaan dan adegan penjara itu bisa sama sekali sirna kalau diplomasi Indonesia tidak selemah sekarang?

Sekarang, bagaimana kalau kita tidak tanggung-tanggung lagi:¬†melompat ke wilayah¬†pembaca? Kalau melihat kesuksesan¬†Ayat-ayat Cinta¬†ini di pasar Indonesia, saya ingin membuat kesimpulan sementara yang cukup lancang: novel ini membuat kita tahu mayoritas pembaca Muslim Indonesia.***¬†Dengan kesuksesan Ayat-ayat Cinta secara komersial ini (yang menurut beberapa sumber sampai mendatangkan hasil bersih sebanyak 1,5 miliar Rupiah bagi penulisnya) kita jadi tahu bahwa mayoritas pembaca Muslim Indonesia adalah orang-orang yang lebih menikmati kisah utopis yang tidak memiliki¬†kerumitan karakter dan konflik tapi bisa dijadikan sumber rujukan tentang berbagai ajaran Islam–atau setidaknya bisa dijadikan sumber bacaan untuk mengingat-ingat kembali sejumlah ajaran Islam penting terkait isu-isu perempuan, hubungan suami istri, kinerja, dan sejumlah topik lain.

Kita tentu tidak tahu apakah Habiburrahman El-Shirazy merupakan penulis yang sangat mengenal audiens-nya ataukah sebuah kebetulan sang novelis menulis novel yang sesuai dengan selera¬†mayoritas pembaca Muslim Indonesia. Yang pasti kita tahu adalah bahwa terdapat¬†kecocokan¬†antara faktor-faktor pembentuk¬†Ayat-ayat Cinta dengan mayoritas pembaca Indonesia, dan tidak ada yang bisa kita lakukan selain memberi selamat kepada si penulis atas kecocokan dan kesuksesan finansial¬†ini–yang saya cukup yakin memungkinkannya melakukan banyak hal baik. Perkara fakta miris¬†bahwa mayoritas pembaca Muslim Indonesia adalah orang yang tidak suka berlama-lama memamah dan mencerna kisah, konflik, dan karakterisasi yang penuh gizi tapi butuh usaha ekstra seperti yang dikandung dalam karya-karya “sastra mainstream,” kita tidak bisa apa-apa selain mengakui kebenarannya. Memang, golongan yang menikmati “sastra mainstream” bukannya sangat sedikit, tapi dari kurang bergairahnya pasar buku sastra Indonesia kita bisa menyimpulkan bahwa secara rasio jumlah mereka jauh di bawah jumlah penggemar karya-karya semacam Ayat-ayat Cinta. Mungkin hanya waktu yang bisa mengubah rasio ini. Kalau memang rasio ini bisa diubah.

Oh ya, sebelum menutup postingan ini, semoga juga saya tidak disalahpahami sebagai orang yang menganggap¬†Ayat-ayat Cinta¬†sebagai karya yang rendah kualitasnya–yang bisa juga diartikan sebagai rendahnya¬†kualitas Habiburrahman El-Shirazy. Kalau ada¬†yang sampai beranggapan begitu, maka dia salah besar. Membuat¬†Ayat-ayat Cinta¬†bukanlah pekerjaan gampang; dibutuhkan seorang yang memahami Alquran dan hadits, berbagai diskusi kontemporer penting dalam Islam, dan–tentu saja–memahami¬†kota Kairo, serta juga kemampuan memberikan penfasiran atas kisah-kisah Alquran dan para tokoh Islam dan menerjemahkannya ke dalam kisah-kisah kontemporer. Semua ini bukan hal sepele. Dibutuhkan seorang ulama atau dai untuk melakukan hal ini. Perlu¬†dicatat dan disoroti: dibutuhkan seorang dai untuk menulis sebuah kisah yang “mengajari” (seperti Ayat-ayat Cinta¬†ini). Tapi,¬†untuk menciptakan apa yang secara gampang-gampangan saya sebut “sastra mainstream” tadi, dibutuhkan seorang penulis dengan kepekaan atas kompleksitas dunia¬†yang memiliki ketrampilan membuat orang lain memikirkan ambiguitas, kemungkinan-kemungkinan tanpa akhir, dan–insya allah, kalau berhasil–membuat orang lain mendapatkan hikmah.

Catatan:

*) Ayat-ayat Cinta adalah novel Indonesia pertama dengan tokoh utama penerjemah dan menjadikan terjemahan sebagai salah satu elemen vital dalam cerita.

**) Pada postingan sebelumnya saya mengutipkan satu paragraf yang terdengar sangat wajar dalam novel ini, yang sebenarnya dalam kehidupan nyata benar-benar tak lebih dari sebuah sorga. Banyak orang kaya yang bisa mengirimkan anaknya sekolah ke negara mana saja, tapi tidak banyak di antara kita yang kaya dan memungkinkan kita hidup di mana sambil juga bisa diterima kuliah di mana saja.

***) Mungkin terlalu sembrono kalau saya langsung bilang kesuksesan Ayat-ayat Cinta ini mengindikasikan profil mayoritas pembaca Muslim Indonesia. Tapi, kalau dinalar secara sederhana saja, selain orang-orang Islam sendiri, siapa lagi yang akan membaca sebuah kisah tentang seorang Muslim yang terang-terangan menceramahkan Islam, dengan rujukan dari Alquran, al-hadits, kisah para sahabat Rasul dan ulama besar? Kalau dibalik, selain umat Kristiani, berapa banyak orang Islam yang membaca, misalnya, kisah-kisah Kristiani yang diambil dari Injil, kisah para murid Yesus, para santo dan para uskup besar dari segala penjuru dunia?

Orang-orang Bloomington yang Sakit (dan Berkebutuhan Khusus)

Seperti saya sebutkan di postingan sebelumnya yang membahas elemen-elemen literer Orang-orang Bloomington karya Budi Darma, buku kumpulan cerpen ini dipenuhi motif orang-orang sakit, takut sakit, tertular penyakit, dan merahasiakan penyakit. Apakah pentingnya motif ini? Kira-kira, hikmah apa yang bisa kita ambil dari tingginya intensitas orang sakit di dalam cerita-cerita ini? Kita bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan tersebut dengan lebih mudah bila kita membaca Orang-orang Bloomington sebagai satu buku utuh. Motif-motif berbau penyakit itu bisa menjadi metafora untuk sikap kita terhadap orang-orang dengan kondisi fisik dan kejiwaan berbeda.

Dalam Orang-orang Bloomington, penyakit dan kondisi fisik tertentu dipandang sangat negatif, sampai-sampai yang memilikinya pun harus menyembunyikannya. Kita temukan karakter yang menghindari orang sakit, menganggap penyakit sebagai sesuatu yang hina. Sikap menganggap hina orang sakit ini cukup menonjol pada beberapa karakter, misalnya pada cerita ‚ÄúCharles Lebourne‚ÄĚ dan ‚ÄúNy. Elberhart‚ÄĚ yang kedua-duanya memandang negatif sang narator sebagai orang berpenyakit. Anti penyakit ini tampak lebih menonjol apalagi kalau penyakitnya menular. Padahal, orang-orang inilah yang sebenarnya mengidap penyakit-penyakit tertentu. Tidakkah ini keji? Seorang yang berpenyakit sampai menuduh orang lain berpenyakit biar dirinya sendiri tidak terlalu tampak hina (karena dia hanya tertular).

Lingkaran setan ini sungguh kejam, dan eksesnya adalah adanya sikap mengucilkan orang yang menderita penyakit tertentu, seperti tokoh Joshua dalam cerita ‚ÄúJoshua Karabish‚ÄĚ yang dijauhi teman-teman sekosnya. Padahal, bukankah ini kebalikan dari dunia kedokteran? Bukankah dokter dan ahli kedokteran, sebagai teladan manusia yang berprikemanusiaan, malah harus mendekati orang sakit untuk bisa mencari pemecahan penyakitnya? Kalau orang sakit langsung dikucilkan, maka yang terjadi adalah melokalisasi satu permasalahan bersama tanpa mengusahakan solusinya. Jadinya seperti membuat koloni lepra tanpa adanya dokter dan penanganan. Kalau kita bawa ini ke ranah sosial, kita bisa dengan mudah menemukan contohnya: ghettoisasi, atau pengelompokan orang-orang tertentu dengan ciri-ciri tertentu yang dianggap negatif (baik itu dilakukan secara terstruktur dan sistematis, seperti ghettoisasi orang-orang Yahudi di Eropa Timur pada masa ekspansi fasisme, maupun yang terselubung seperti pemojokan orang-orang kulit hitam miskin di kota-kota seperti Chicago, Illinois, dan St. Louis Timur, Missouri). Orang-orang Bloomington dalam hal ini seperti hasil reduksi atas permasalahan sosial yang pelik ke dalam alegori kehidupan sehari-hari.

Permasalahan ini jadi lebih kompleks lagi saat kita mendapati bahwa seringkali penyakit yang kita derita bukanlah hasil perbuatan para penderitanya. Saya tidak pernah meminta mengidap penyakit ini, kenapa kau menganggap kami hina? Dlam Orang-orang Bloomington, kita bisa temukan tokoh-tokoh yang penyakit atau kondisi fisiknya bersifat genetis. Salah siapa kalau begini? Contohnya adalah misalnya penyakit Karabish dan kondisi mental Orez, si balita super giras dalam cerita ‚ÄúOrez.‚ÄĚ Tidakkah membuat kita berpikir saat hanya narator kita dalam ‚ÄúJoshua Karabish‚ÄĚ yang bisa menerima menjadi teman Joshua? Bagaimana sikap kita saat bapak Orez nyaris putus asa dengan tingkah Orez, yang pada jaman sekarang mungkin bisa dipahami sebagai anak-anak yang memiliki ADHD (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas)?

Di sinilah bagusnya Orang-orang Bloomington; ada bagian-bagian yang merupakan ‚Äúpenebusan‚ÄĚ atas dosa-dosa para tokoh yang mengucilkan orang-orang sakit itu. Penebusan dosa tersebut (atau solusi atas bagaimana orang harus bersikap kepada orang yang memiliki kondisi mental dan fisik tertentu) terdapat pada cerita ‚ÄúOrez.‚ÄĚ Si bapak, narator kita, terus-menerus menganggap tingkah laku Orez yang lebih aktif (dan kuat dan gesit dan gaduh) daripada anak-anak seumurnya itu sebagai ‚Äúcacat,‚ÄĚ tepatnya cacat perilaku. Saking putus asanya si bapak dan istrinya, sampai-sampai mereka terpikir untuk memusnahkan/mengorbankan Orez. Ada bagian yang seolah ingin merekonstruksi adegan Ibrahim mengorbankan puteranya (Ismail, menurut penafsir Alquran, atau Isaac, menurut Injil). Tapi tentu si bapak tidak jadi menyembelih Orez. Mana mungkin binatang menyembelih manusia (bapak dan ibu Orez adalah binatang di atas ranjang, sebagaimana pengakuan si bapak sendiri)? Di akhir cerita, si bapak dan ibu melongok jendela, mencari Orez yang sedang bermain dengan (dan diterima oleh) anak-anak lain. Si bapak sadar, anaknya yang punya kondisi tidak biasa itu butuh dipahami, bukan diratapi. Di Amerika jaman sekarang (insya allah begitu juga di Indonesia), orang sudah semakin sadar bahwa kondisi berkebutuhan khusus seperti kondisi Orez bukanlah kecacatan‚ÄĒada kondisi genetis, ketidakseimbangan kimiawi, yang membuat seorang anak begitu.

Orang tua Orez, serta narator dalam ‚ÄúJoshua Karabish,‚ÄĚ adalah narator yg pada dasarnya tdk obyektif, segala pandangannya patut kita curigai (seperti saya sampaikan pada postingan sebelumnya) tapi, menariknya, di akhir cerita mereka sadar. Dan kesadaran mereka itu menebus dosa-dosa mereka yang mengucilkan orang-orang yang sakit dalam Orang-orang Bloomington. Mereka sadar bahwa apabila ada sesuatu yang tidak wajar dalam kehidupan ini, tidaklah tepat bila kita malah menjauhinya. Setiap masalah perlu diatasi, bukan sekadar ditepiskan. Dan untuk mengatasi masalah itu, dua orang Bloomington¬†ini memahaminya, dan untuk memahami butuh mendekati. Begitulah menurut saya hikmah yang bisa dipetik (klise banget!) dari cerita tentang orang-orang fiktif dari Bloomington ini. Wassalaam.

Siapa itu di ujung lorong? Apakah ini dari Bloomington?
Siapa itu di ujung lorong? Apakah ini dari Bloomington?

(Ulasan) Orang-orang Bloomington: Narator (Disinyalir) Penipu, Kota Realistis, Masalah Ganjil, Bahasa Dilematis

Judul buku: Orang-orang Bloomington
Penulis: Budi Darma
Penerbit: Metafor Publishing/Sinar Harapan
Tahun terbit: 2004 (Metafor Publishing)/1980 (Sinar Harapan)

Dalam diskusi yang¬†membicarakan buku-buku kumpulan cerpen wajib baca dalam sastra Indonesia, biasanya¬†Orang-orang Bloomington¬†karya Budi Darma diikutkan dalam daftar tersebut. Dalam diskusi aliran-aliran dalam sastra Indonsia, buku ini juga biasanya disebutkan sebagai satu dari karya-karya absurd tahun yang mulai banyak bermunculan mulai dekade 1970-an (penulis-penulis yang biasanya disertakan dalam daftar penulis karya absurd lainnya antara lain Iwan Simatupang dan Putu Wijaya). Sayangnya, saya belum pernah menemukan sendiri satu pembahasan kritis yang cukup ekstensif atas cerita-cerita dalam¬†Orang-orang Bloomington¬†itu sendiri. Setelah sekali baca, mungkin bisa kita sebut buku ini enak dibaca dan menyisakan pertanyaan yang tak tuntas-tuntas (“kamsudnya apa?” “terus?” “kok sebegitunya ya?” dsb).

Saya sendiri terganggu pertanyaan-pertanyaan itu selama membaca cerita-cerita dalam buku ini, tapi untungnya buku ini sendiri sebenarnya membuka dirinya untuk diinterogasi. Cerita-cerita yang disebut absurd itu (setelah ini saya tidak akan pedulikan istilah “absurd” yang memiliki kandungan ideologis yang berat itu, jadi ini terakhir kalinya saya menyebutkan kata ini, sumpah!) tergabung dalam sebuah buku dengan judul yang memayungi semuanya:¬†Orang-orang Bloomington. Judul yang tidak asal diambil dari judul salah satu cerita ini sebenarnya adalah isyarat bagus buat kita, seolah bilang: “Cerita-cerita yang ada di sini ini adalah cerita tentang orang-orang dalam satu dunia yang utuh.” Dengan kata lain, cerita-cerita dan tokoh-tokoh dalam cerita-cerita tersebut bisa didekati sebagai cerita dan tokoh yang terjadi di satu dunia. Implikasinya, kita bisa memperlakukan buku ini serupa novel (atau, istilah teknisnya, sebuah kesatuan badan cerita novelistis), di mana satu bagian bisa dipakai untuk membantu memahami bagian yang lain. Tentu ini tidak ada salahnya; toh, seperti ditegaskan oleh kritikus Rusia Mikhail Bakhtin yang melakukan studi ekstensif atas genre (khususnya novel), novel adalah genre yang paling luwes dan “belum” memiliki batasan yang tegas. Dengan membiarkan cerita-cerita ini menjelaskan dirinya, kita bisa mendapatkan jawaban atas sejumlah pertanyaan yang membuat kita¬†nggumun¬†selama membaca buku ini.

Lazimnya, saat membaca sebuah buku dan kurang bisa memahaminya, kita tanpa sadar suka menarik dua kesimpulan ekstrim: kalau bukan ceritanya yang memang tidak bagus, ya berarti kita sendiri yang kurang bisa memahami kebagusannya. Dalam kaitannya dengan¬†Orang-orang Bloomington, kita bisa dengan mudah tergelincir bilang “buku ini bagus banget karena hewes-hewes-hewes (alasan yang kurang bisa dipertanggung-jawabkan kebenaranya)”; atau, bisa jadi kita menjawab “gimana ya? tokoh-tokoh dalam ceritanya ganjil sekali!” (sebuah sikap yang tidak jelas menunjukkan posisi si pembicara; atau, yang mungkin sering ada, kita akan bilang “ceritanya agak aneh, bukan seleraku” (yang mengindikasikan tidak adanya minat untuk memahami lebih jauh kenapa dan bagaimana cerita-cerita itu aneh). Dalam kesempatan ini, saya ingin mencoba membiarkan cerita-cerita itu menunjukkan dirinya kepada saya (tentu saja dengan peran aktif saya menyeleksi bagian-bagian yang saya anggap mewakili elemen-elemen tertentu dalam buku ini). Dan seperti akan Anda baca di bawah ini, ada sejumlah hal yang membuat buku ini memang menarik dan layak untuk diberi investasi perhatian meskipun pada awalnya agak sulit bagi kita memastikan apa-apa yang menjadikannya menarik.

Jadi, dalam kesempatan ini saat tidak akan berpretensi menjelaskan apa maksud dari cerita-cerita dalam buku¬†Orang-orang Bloomington. Yang akan saya lakukan adalah bagaimana elemen-elemen dalam cerita-cerita itu bekerja. Semoga dengan memahami cara kerja cerita-cerita ini, pada akhirnya kita bisa¬†menyusun makna dari cerita ini. Dan setelah menyusun pemaknaan ini, idealnya kita bisa lanjutkan dengan menjawab pertanyaan “so what” atau “terus apa pentingnya” buku ini dan membaca buku ini.

Maka inilah, kita lihat seperti apa cerita-cerita dalam Orang-orang Bloomingnton itu dilihat dari elemen-elemen sastranya.

Penokohan

Yang paling menarik dari penokohan dalam¬†Orang-orang Bloomington¬†terletak pada penokohan para naratornya. Para narator ini sama sekali tidak bisa diandalkan narasinya. Mereka memiliki bias-bias tersendiri karena terlibat secara aktif di masing-masing cerita. Karena bias inilah, kita tidak bisa benar-benar mengandalkan narasi mereka sebagai laporan pandangan mata, dan inilah yang membuat cerita ini jadi sangat mengasyikkan untuk ditelusuri. Satu-satunya jendela yang memungkinkan kita melihat dunia “Bloomington” adalah jendela yang tidak bisa begitu saja dipercaya kebenarannya (kenapa “Bloomington” diberi tanda kutip? Saya akan bahas Bloomington dalam bagian tersendiri, tapi sementara jangan langsung anggap kota ini sama dengan kota Bloomington di negara bagian Indiana).

Semua narator dalam buku ini adalah pria berusia tiga puluhan tahun yang memiliki “masalah” mereka sendiri yang kebanyakan berpangkal kepada kesepian. Ada narator yang tertarik dan ingin mengenal seorang lelaki tua yang hidup menyendiri di loteng; ada narator usil yang, karena kurangnya kegiatan, ingin mengenal seorang perempuan tua yang tinggal sendirian; ada narator yang terusik lampu sebuah apartemen yang tidak pernah dimatikan sepanjang hari dan akhirnya melakukan hal-hal yang hanya bisa dilakukan oleh seorang yang menganggur; dan ada juga seorang narator yang terusik dengan tingkah anak-anak kecil hingga sampai hati melakukan hal-hal gila demi mencelakai anak-anak kecil itu. Ada juga narator yang–bukan karena kesepian per se–menyukai seorang gadis dan rela pindah ke lingkungan tempat tinggal si gadis meskipun harus membayar denda karena memutus kontrak asrama. Yang paling agak berbeda adalah seorang narator yang nyaris putus asa dengan tingkah anaknya yang dia anggap di luar kewajaran hingga dia sebut “cacat.”

Para narator itu pada satu titik dikalahkan orang keadaan¬†atau orang-orang yang dia usili, dan dalam¬†situasi semacam itulah kita melihat betapa satu sisinya dunia “Bloomington” yang ktia dapatkan. Nah, kalau sudah sekali saja si narator menunjukkan isyarat “menipu” kita para pembaca ini, maka tidak menutup kemungkinan juga dia akan atau sudah menipu kita pada saat menceritakan hal-hal lain. Yang kita tahu adalah dari para narator yang tidak bisa diandalkan ini kita mendapatkan gambaran kota Bloomington yang unik, yang merupakan topik bahasan bagian berikut:

Latar

Kalau informasi pada beberapa cerita bisa kita jadikan generalisasi, maka novel ini berlatar waktu sekitar tahun 1979. Sebagian cerpen memiliki rentang waktu cuma beberapa bulan, tapi sebagian adalah kisah yang terjadi dalam rentang waktu cukup panjang, beberapa tahun (cerita “Orez” misalnya). Pada masa ini, orang-orang bisa memiliki telepon kabel sendiri saat menyewa apartemen atau kamar, dan pada buku telepon bisa ditemukan nama-nama orang yang memang tidak keberatan nomor teleponnya dimasukkan buku telepon.

Bagaimana dengan latar tempatnya? Tentu saja ini tidak sulit diketahui: semua cerita ini terjadi di kota Bloomington, yang merupakan tempat bercokolnya Indiana University, Bloomington. Kejadian dalam cerita-cerita ini berkutat pada wilayah di sekitar kampus universitas yang cukup tua dan bangunannya klasik itu, di sekitar tempat-tempat ini. Nama-nama jalan dan bangunan pun hingga saat ini masih sama. Dalam hal lokasi geografis, Orang-orang Bloomington sangat spesifik. Dan kalau memang diatur sedemikian rupa, para tokoh dari satu cerita bisa saja bertemu dengan tokoh-tokoh di cerita lain. Kita tahu bahwa sebagian dari mereka tinggal di Tulip Tree Apartment (sebuah gedung apartemen bertingkat yang sangat besar di lingkungan kampus Indiana University, Bloomington), sebagian di Jalan Fess, Jalan Grant dan persimpangan antara Jalan Fess dan Jalan Sepuluh. Bahkan, salah seorang narator menyebut nama seorang tokoh sampiran lain dari cerita lain. Jadi, bisa dibilang latar tempat dan waktu yang dihuni para tokoh dalam cerita ini sama.

Waktu kejadian, lokasi kejadian, dan hal-hal lain yang melatari cerita-cerita ini bisa dibilang realistis, serupa dengan apa yang ada di kenyataan. Kita lihat di sana bagaimana sistem kerja dan sistem hukum yang berlaku dalam cerita-cerita ini pun bisa dibilang realistis. Dan di sinilah yang membuat kisah-kisah ini dilematis. Di satu sisi kita melihat petingkah dari para tokoh yang “biadab” dan “kebinatangan” dan “sukar dinalar” (mungkin inilah yang membuat orang menggolongkan cerita-cerita ini absurd); tapi di sisi lain kita melihat bahwa dunia yang ada di cerita-cerita ini nyata dengan segala fakta-fakta sederhananya (bahkan puisi-puisi yang dikutip sebagai puisi orang lain pun memang puisi asli yang di-Indonesiakan, misalnya puisi T.S. Eliot dan Emily Dickinson). Apakah para narator yang tak bisa diandalkan itu yang membuat cerita ini absurd? Bisa iya, bisa tidak.

Kita lanjutkan saja dengan membahas motif-motif yang berulang kali muncul dalam buku ini. Sebenarnya, pada umumnya orang akan membahas plot setelah membicarakan penokohan dan setting. Tapi, karena cerita-cerita ini memiliki plot sendiri-sendiri yang tidak bisa dibilang dilihat hubungan logis dan kronologisnya antara satu sama lain, maka saya soroti saja motifnya, kejadian-kejadian yang berulang kali muncul.

Motif

Sebenarnya, motif bukan sekadar kejadian yang berulang kali muncul, tapi kejadian-kejadian yang merupakan respons atas hal-hal tertentu dengan tujuan-tujuan langsung yang serupa. Yang lebih penting lagi, kejadian-kejadian serupa ini sering muncul, seolah minta untuk tidak diacuhkan. Dalam Orang-orang Bloomington, ada sejumlah motif yang tampak menonjol. Dalam kesempatan pertama ini, saya hanya ingin sejumlah motif yang negatif, yaitu: turut campur, menyembunyikan penyakit, berbuat keji.

Dalam hal “turut campur” buku ini bisa dibilang jagonya. Cerita pertama “Lelaki Tua Tanpa Nama” digerakkan oleh keinginan turut campur si tokoh utama saat melihat seorang lelaki tua melongok ke jalan dari loteng sebuah rumah. Narator kita ingin sekali tahu tentang orang tua misterius ini. Dia menanyakan ke semua orang tentang lelaki tua itu, seolah-olah ingin menyembuhkan dia dari kesunyian hidupnya. Para tokoh yang suka turut campur ini sebenarnya bisa hidup tentram sejahtera kalau dia memilih untuk tidak turut campur–tapi tentu saja kalau mereka begitu, mereka tidak akan dijadikan narator dalam¬†Orang-orang Bloomington.¬†Dan kecenderungan turut campur ini pun tidak bisa dibilang sebagai norma dalam kehidupan di Bloomington dalam buku ini; hanya para narator inilah yang suka turut campur, dan beberapa tokoh lain dalam cerita-cerita ini bahkan sampai menegur sikap si tokoh utama ini. Ah, tapi mungkin saja sikap seperti ini disebut turut campur di Bloomington; di kampung halaman kita, mungkin sikap seperti ini bisa dijustifikasi sebagai kepedulian atau wujud rasa sayang. Bedanya, sikap turut campur ini seringkali berbuntut fatal, seolah menegaskan bahwa di dunia Bloomington ini, turut campur sama sekali tidak diperbolehkan.

Motif kedua, “menyembunyikan penyakit,” merupakan motif yang¬†paling sering muncul. Sekadar mengingatkan, penyakit sendiri adalah satu hal yang tidak pernah absen dari cerita-cerita ini. Ada penyakit masuk angin,¬†penyakit¬†kronis tak teridentifikasi (hidung berdarah, telinga bernanah) yang bisa menyebabkan kematian, hingga kondisi kejiwaan serupa dengan yang saat ini disebut ADHD (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas). Yang lebih menarik perhatian dibandingkan dengan kondisi kesehatan dan kejiwaan ini adalah kecenderungan menyembunyikan penyakit atau kondisi kesehatan ini. Narator dalam “Joshua Karabish” (satu-satunya narator yang diidentifikasi sebagai mahasiswa asing–mungkinkah Indonesia?) tinggal sekamar dengan Joshua Karabish yang pertama-tama menyembunyikan penyakitnya yang gejalanya adalah mimisan, kuping bernanah, nyeri di malam hari, dsb. Joshua sendiri tidak disukai teman-teman seapartemennya ketika mereka mengetahui bahwa mengidap penyakit (yang ternyata menular kepada si narator¬†ini). Di sinilah tampak kecenderungan orang yang memandang sebagai pengidap penyakit sebagai orang yang nista dan harus dijauhi. Pendek kata, ada kecenderungan mengkriminalisasi orang yang menderita penyakit, terutama karena bisa menulari. Para penderita penyakit ini biasanya menyebutkan bahwa penyakit mereka tidak menular, padahal belakangan biasanya diketahui bahwa narator kita mengidap penyakit yang sama. Mungkin, intinya bukan pada menular atau tidak menularnya penyakit ini–sebagian memang seperti menular dan si penderita memang berbohong bahwa penyakitnya tidak menular (seperti Joshua Karabish misalnya). Intinya tampak pada kisah “Orez.”

Orez adalah anak yang mungkin pada jaman sekarang bisa disebut penyandang ADHD (Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas). Dalam “Orez” si narator sama sekali tidak menyebut ADHD, dan bahkan menyebutnya “cacat perilaku.” Untuk konteks Amerika, ADHD baru dinyatakan sebagai gangguan kejiwaan pada akhir tahun 1960-an, dan pada akhir dekade 1970-an, kondisi ini belum banyak diketahui oleh masyarakat. Orang-orang masih cenderung memandang gejala ini sebagai “cacat.” Dalam kisah Orez, si narator, bapak Orez, sampai-sampai terpikir ingin menyembelih si anak, hingga dia menyadari bahwa si anak adalah manusia yang memiliki hak hidup, dan dia tidak memilih untuk mendapatkan kondisi “liar” tersebut. Di sinilah, pada bagian inilah, tampak sikap buku¬†Orang-orang Bloomington¬†ini dalam kaitannya dengan penyakit. Di sinilah kunci yang membuka kenapa orang-orang dalam kisah ini cenderung menyembunyikan penyakitnya. Orang-orang ini takut dikucilkan orang-orang karena penyakitnya, padahal di mana adilnya mengucilkan orang yang menderita sebuah penyakit sementara dia sendiri tidak pernah meminta untuk mengidap penyakit tersebut. Sikap bapak Orez yang mencoba memahami Orez sebagai anak yang memiliki kondisi tidak wajar dan tidak menganggap kondisi itu sebagai alasan untuk membunuhnya (bentuk ekstrim dari mengucilkan) inilah yang membuka kunci ke motif menyembunyikan penyakit dalam¬†Orang-orang Bloomington.

Karena keterbatasan waktu, dan karena saya harus berlanjut ke buku lainnya, maka motif ketiga kita lewatkan dulu. Namun, sementara bisa kita bilang bahwa Orang-orang Bloomington adalah kisah tentang orang-orang dengan sikap mental negatif (yang disinyalir tidak menggambarkan dunia Bloomington dengan akurat kepada kita) yang hidup di sebuah dunia realistis dengan sikap-sikap negatif yang sebenarnya merupakan hiperbola dari sikap negatif di lingkungannya. Tapi tidak belum final, karena kita belum mempertimbangkan bahasa yang unik dalam cerita-cerita ini.

Bahasa

Sekilas saja, bahasa yang dipakai dalam¬†Orang-orang Bloomington¬†ini tidak jauh berbeda dengan bahasa yang dipakai Budi Darma dalam cerpen-cerpen lain. Ada kecenderungan menggunakan kata-kata yang berkonotasi kuat (ah, saya tidak bawa buku saya¬†Kritikus Adinan yang bisa saya jadikan contoh!). Tapi yang unik adalah apabila cerita-cerita dalam Kritikus Adinan berlatar di negeri yang tidak asing, maka penggunaan kata-kata secara unik itu dengan mudah kita maklumi dan kita anggap sebagai pilihan literer saja. Dalam cerita¬†Orang-orang Bloomington¬†ini, penggunaan bahasa untuk menggambarkan latar yang bukan merupakan habitat asli bahasa Indonesia dan Jawa ini menjadi sulit diacuhkan. Saya memiliki dua hipotesa terkait bahasa ini: bahasa ini menunjukkan siapa narator sebenarnya¬†dari kisah-kisah ini, dan karena “bahasa menunjukkan bangsa” maka bisa jadi cerita ini adalah cerita yang sejatinya dinarasikan oleh orang Indonesia meskipun secara permukaan kita tahunya hanya satu dari cerita ini yang dinarasikan oleh mahasiswa asing (dari Indonesia?).

Ah, sebelum mendiskusikan soal bahasa, saya harus mengakui bahwa sebenarnya saya belum banyak menganalisis bagian ini. Sedikitnya yang bisa saya katakan, bahasa Indonesia dalam cerita-cerita ini bukan seperti bahasa Indonesia hasil dari menerjemahkan kejadian yang sejatinya terjadi dalam bahasa Inggris. Ada beberapa jenis contoh yang bisa saya ambil, antara lain pilihan kata dan ungkapan umum (idiom), dan rujukan-rujukan tertentu.

Yang pertama, dalam hal pilihan kata (yang otomatis membawa¬†subject matter-nya sendiri), kita melihat hal-hal yang hanya ada dalam bahasa Indonesia tetapi digunakan untuk menceritakan hal-hal yang terjadi pada orang asing. Kongkretnya adalah istilah “masuk angin” sebagai salah satu kondisi yang seringkali menjadi alasan narator untuk mengunjungi dokter. Seperti banyak diketahui, masuk angin adalah gejala (yang dipercaya orang sebagai penyakit, meskipun tidak ada bukti medis yang mengafirmasi bahwa ini adalah penyakit, meskipun banyak orang yang pergi ke dokter dengan gejala ini) yang lazim di kalangan orang-orang Indonesia. Sakit populernya¬†istilah ini, orang Jawa (apa orang dari wilayah lain di Indonesia juga? saya tidak ada niat mengklaim) memiliki metode tersendiri untuk mengatasinya: kerokan. Munculnya “masuk angin” dalam cerita ini menimbulkan tanda tanya. Apakah ini semacam penerjemahan/pengalihbahasaan untuk istilah kondisi fisik “influenza”? Apakah ini masuk angin yang dipahami dalam bahasa Indonesia?¬†Termasuk dalam hal pilihan kata dan ungkapan umum ini adalah istilah “banteng ketaton,” yang merujuk pada kemarahan seseorang yang dilukai.¬†Di dalam cerita “Yorrick,” narator kita menggunakan istilah “banteng ketaton” ini saat mengatakan tentang sikapnya yang buas karena terdesak. Apakah ini sekadar terjemahan, ataukah ini salah satu pintu yang menunjukkan bahwa cerita-cerita dalam¬†Orang-orang Bloomington¬†ini sebenarnya hanya cerita yang terjadi di pikiran orang Indonesia saja? Tentu saja, sebagai pembaca kita sudah tahu bahwa cerita-cerita ini hanya terjadi di pikiran Budi Darma, tapi mengingat keganjilan-keganjilan yang lain, tidakkah kita bisa mengartikan bahwa cerita-cerita dalam¬†Orang-orang Bloomington¬†ini sebenarnya cerita yang menyadari bahwa dirinya adalah cerita yang ada di pikiran orang Jawa? Dengan kata lain, cerita ini tidak berpretensi sebagai cerita yang hendaknya dipercaya sebagai kenyataan, seperti halnya kebanyakan cerita realis yang seolah-olah minta pembaca menganggapnya cerminan kenyataan.

Yang kedua terkait bahasa adalah munculnya banyak rujukan ke karya-karya sastra Indonesia (dan juga sastra Inggris). Pada cerita “Lelaki Tua Tanpa Nama,” ketika narator memasuki sebuah toko dan melihat keluar, dia melihat “gerimis mempercepat kelam” yang meskipun tidak disebutkan semua orang pasti tahu bahwa itu diambil dari puisi “Senja di Pelabuhan Kecil” dari Chairil Anwar. Di tempat lain, seorang narator juga mengisahkan tentang temannya yang sakit-sakitan itu terkadang tampak sehat dan seolah “bisa hidup seribu tahun lagi” yang dikenal semua anak SD Indonesia sebagai puisi Chairil Anwar. Selain itu, ada adegan-adegan tertentu yang merupakan pinjaman dari karya-karya sastra lainnya. Yang paling ekstensif dan tampak jelas adalah adegan pesta terakhir dalam cerita “Yorrick” di mana semua orang memilih barang-barang dari baki sambil ditutup matanya. Dan kebetulan saja si Ny. Ellison mengambil tengkorak dan peti mati mainan. Seluruh bagian ini merupakan rekontekstualisasi dari adegan pesta dalam cerpen “Grace” dalam buku¬†Dubliners¬†karya James Joyce. Permainan referensi yang lumayan ketat tapi halus ini menimbulkan kesan bahwa cerita-cerita ini hanyalah cerita yang harus diterima sebagai cerita, bukan cerita yang dibikin sehalus dan senyata mungkin agar pembaca hanyut dan menganggapnya sebagai cermin kernyataan.

Simpulan 

Saya kehabisan nafas dan sementara belum ingin menyimpulkan apa-apa. Saya hanya bisa bilang bahwa kira-kira beginilah cara kerja cerita-cerita dalam Orang-orang Bloomington: Ada tokoh-tokoh dengan kecenderungan dan motif-motif cukup teratur yang ¬†hidup dengan masalah-masalah unik¬†di sebuah kota yang gambarannya¬†cukup realistis tapi diceritakan oleh narator-narator yang tidak bisa diandalkan kebenaran ucapannya yang menceritakan kejadian-kejadian ini kepada para pembaca dengan bahasa Indonesia yang seolah-olah memang bahasa ibunya sendiri–sekaligus dengan menggunakan rujukan karya sastra Indonesia dan Inggris.