Bahkan Berfoto Pun Kini Berpotensi Merusak

Satu ujaran yang sangat lazim terkait naik gunung dan mencintai alam adalah “Leave nothing but footprints. Take Nothing but pictures.” Maksud dari ujaran ini tentu saja sudah jelas, bahwa saat mengunjungi alam, kita tidak semestinya meninggalkan sampah atau mengambil apapun dari sana. Tapi–seperti biasanya, ada tapi–bahkan ungkapan ini pun saat ini harus kita pertanyakan lagi, khususnya di zaman medsos ini: mengambil foto pun bisa berpotensi merusak alam.

Ternyata, hasrat berfoto kita begitu tak terbendung. Satu hal yang sangat mengagetkan saya ketika pertama kali menyempatkan berwisata mainstream adalah begitu seriusnya keinginan kita untuk befoto. Tempat wisata pertama yang saya kunjungi setelah lima tahun absen dari Indonesia adalah Batu Secret Zoo, yang saya kunjungi tepat pada Tahun Baru Imlek beberapa bulan lalu. Sejak di pintu depan, saya takjub melihat banyak sekali orang memegang tongkat selfie. Begitu memasuki Batu Secret Zoo, di bagian tikus air raksasa (yang dalam bahasa Jawa disebut “wergul”), mulailah terlihat seberapa besar hasrat berfoto kita. Di bagian agak dalam, pengelola Batu Secret Zoo ternyata menyambut hangat hasrat berfoto itu dengan menyediakan sejumlah binatang yang bisa diajak berfoto bareng atau berselfie–tentu dengan membayar.

Apa yang terlihat di Batu Secret Zoo ini sementara saya pakai sebagai penegasan atas maraknya instagram serta banyaknya foto (selfie, pemandangan, binatang, dll) yang diposting di sana. Kalau melihat instagram saja, saya hanya bisa menyadari betapa banyaknya foto dan betapa gemarnya foto di sana. Tapi, saat menyaksikan dengan kepala sendiri bagaimana kejadian sebenarnya di luar, bagaimana bergairahnya orang-orang mengambil foto, saya jadi tahu bahwa ada yang sebenarnya lebih dahsyat dari maraknya instagram itu. Orang bisa mengambil sepuluh foto yang hanya satu di antaranya diposting di instagram atau facebook. Artinya, kegiatan berfoto orang bisa sangat besar.

Yang tak bisa dipungkiri adalah bahwa hasrat mencari spot yang tak biasa. Tentu orang tidak suka kalau dia hanya mengambil foto dari tempat-tempat yang biasa saja seperti Batu Secret Zoo, sebuah tempat yang bisa dijangkau siapa saja (yang tidak kesulitan mengeluarkan minimal Rp120.000). Hasrat untuk agak berbeda (atau tidak tampil terlalu mainstream) membuat orang mencari tempat-tempat baru yang tidak banyak diketahui orang, atau yang tak biasa. Satu dampak berbahayanya adalah apa yang terjadi di Taman Bunga Mekarsari beberapa tahun yang lalu. Karena hasrat berfoto di tempat yang tidak biasa (yang mirip ladang tulip di Belanda!), akhirnya berduyun-duyun orang mendatangi Taman Bunga Mekarsari, hingga taman bunga itu sendiri menjadi Taman Selfie Mekarsari, yang bunganya rusak terinjak-injak. Hasrat ingin tampil berfoto di tempat berbeda ini ternyata berujung pada kerusakan. Tampil beda ternyata hanya menguntungkan bagi yang tampil, tapi tidak bagi yang lain.

Bagaimana kalau tempat yang tidak mainstream untuk berfoto itu adalah alam yang semestinya dibiarkan liar? Itulah yang akhirnya bisa menghawatirkan. Dan yang lebih membuat kuatir adalah karena kekhawatiran itu sangat masuk akal, dan sudah di depan mata. Hasrat orang untuk berfoto di tempat yang tidak standar ini ternyata direspons oleh mereka yang ingin meraup untung dengan menggunakan alam untuk berfoto. Satu contohnya adalah Coban Rais di Kecamatan Dau, Kota Wisata Batu. Sejumlah bukit di kawasan yang dulunya wana wisata dan bumi perkemahan ini kini telah dan tengah dikembangkan menjadi taman-taman bunga. Meskipun nama resminya taman bunga, tempat ini lebih menyerupai taman foto, karena tampak sekali bahwa orang-orang ke sana lebih untuk berfoto ketimbang menikmati dan mempelajari bunga-bunga. Wana Wisata dan Bumi Perkemahan yang dulunya sangat suwung dan bahkan tidak punya tempat parkir yang permanen itu kini menjadi begitu ramai dengan ratusan sepeda motor datang tiap hari libur. Di sini, orang bisa berfoto pada platform-platform kayu dengan latar belakang perbukitan, persawahan, dan kota Malang di kejauhan. Pendeknya, sejauh ini masih belum mainstream.

Yang semakin menjadikan urusan ini dilematis adalah ketika orang-orang yang datang untuk berfoto itu akhirnya juga ingin ke air terjun Coban Rais di kawasan hutan basah alami itu. Banyak juga pengunjung taman bunga itu yang akhirnya juga pergi ke air terjun Coban Air. Sebagian di antara mereka mungkin memang penggemar naik gunung atau jelajah hutan yang memang suka mengunjungi tempat-tempat alami yang tidak mainstream seperti itu. Tapi, tidak sedikit juga yang sebenarnya mungkin tidak akan ada niat ke sana kecuali memang ingin berfoto tidak biasa. Orang-orang yang berpenampilan lebih mirip untuk berfoto ketimbang naik gunung (baju non olahraga, sepatu jalan ke mal, dan sejenisnya). Orang-orang ini ikut memasuki hutan demi berfoto, melewati jalan yang semestinya harus dijaga tetap alami. Pada jam-jam paling sibuk, ada 10 orang per menit, yang ikut masuk ke dalam hutan. Bila sebuah tempat yang mestinya harus tetap alami demi kelestariannya akhirnya harus didatangi orang sebanyak itu tanpa ada usaha untuk menjaga mana yang harus dilewati dan mana yang bisa dibiarkan, maka yang bisa diharapkan adalah kerusakan. Dan ini benar-benar tidak bisa dilepaskan dari hasrat untuk berfoto.

Bagaimanapun, tentu kita masih perlu mengakui bahwa ini merupakan persoalan yang terbilang kecil. Di banyak tempat, banyak korporasi (baik milik negara maupun swasta) yang mengeksploitasi alam yang berpotensi menyebabkan kerusakna lebih besar. Perusahaan Semen yang saat ini sudah memulai pendirian pabrik di Kendeng dan kawasan perbukitan karst di Rembang dan cekungan air berpotensi menyebabkan kerugian lebih besar buat penduduk kawasan tersebut. Ini masalah yang lebih besar dan perlu diperjuangkan bersama-sama. Tapi, pada tataran yang lebih kecil, pada tataran perseorangan, kesadaran akan hal-hal semacam ini sifatnya wajib. Tanpa kesadaran mendasar bahwa ada hal-hal yang kita lakukan yang berpotensi merusak alam, memperjuangkan hal-hal yang besar akan seperti tindakan kemunafikan.

Jadi, begitulah kiranya, saat ini, bahkan urusan berfoto di alam pun tidak bisa seenaknya kita lakukan. Dan ini bukan persoalan sepele. Di satu sisi hal ini sangat pribadi, tapi di sisi lain hal ini juga berhubungan dengan persoalan yang lebih besar. Tumbuhnya tempat-tempat wisata yang mengeksploitasi hasrat berfoto ini juga sangat dibutuhkan. Untuk kasus Taman Bunga Coban Rais, misalnya, kita lihat bagaimana tempat wisata itu memberikan banyak lapangan pekerjaan. Banyak sekali tukang parkir, tukang ojek, penjual makanan, atau yang lain-lain yang pastinya bisa mendapat berkah dari ramainya Taman Bunga ini. Tapi, kalau yang dipertimbangkan cuma urusan mencari makanan, pastinya alam yang tidak bisa langsung protes itu yang akan kita nomor sekiankan. Masih ada yang belum selesai dipikirkan di sini, sesuatu yang juga mempertimbangkan tidak hanya manusia dan ekonomi, tapi juga alam. Dan dengan hal yang belum selesai ini pula saya akan menutup postingan kali ini.

 

 

 

Coban Glotak: Mengagungkan Perjalanan, Menomorduakan Tujuan, Mencatat Perubahan

WP_20170305_13_45_19_Pro(Akhirnya, tibalah kembali masa-masa ketika menulis saja adalah sorga–kalau menggunakan istilah andalan Natalie Goldberg. Inilah masa ketika blogger Anda ini bahkan tidak punya waktu yang bisa diluangkan untuk sekadar selonjor dari kehidupan yang melipat-lipat. Tapi, akhirnya datanglah kesempatan itu. Saya ada waktu 15 menit malam ini, dan saya akan menjumpai Anda di sini.)

Banyak orang yang bilang bahwa idealnya, sebuah perjalanan dilakukan tanpa repot-repot dengan tujuan, karena yang berarti adalah perjalanan itu sendiri. Saya bahkan pernah membaca buku yang premisnya begitu, buku Indonesia. Katanya, inti dari sebuah perjalanan adalah perjalanan itu sendiri, dan buahnya adalah penemuan. Begitulah kata buku tersebut. Tapi apakah bisa begitu? Ikhlaskah kita begitu? Melakukan perjalanan dengan mengabaikan tujuan dan memfokuskan pada perjalanan dan penemuan dalam perjalanan tersebut? Jawabannya bisa iya dan tidak. Saya pribadi tidak terlalu memikirkan itu saat berjalan. Tapi, setelah sebuah perjalanan selesai dan mencoba memaknainya, saya menemukan bahwa mungkin saja saya pernah melakukannya. Contoh yang bisa saya ceritakan kali ini adalah perjalanan saya ke Coban Glotak minggu lalu. Ternyata saya benar-benar menjadikan perjalanan itu sendiri sebagai tujuannya, dan saya puas dengannya.

Awalnya, saya tidak benar-benar punya rencana ke Coban Glotak. Saya hanya tahu bahwa saya dan anak saya harus ke luar rumah hari Minggu itu. Saya perlu beli bensin dan dia perlu beli lem Uhu dan plaster luka. Kami pun pergi sekitar jam 11:30. Setelah Lem Uhu dan bensin terbeli, saya dan anak masih malas pulang. Akhirnya saya menyarankan hiking, meskipun terlalu panas. Satu tempat hiking yang sudah cukup lama ingin saya tunjukkan ke anak saya adalah Coban Glotak, yaitu sebuah air terjun di Kecamatan Wagir. “Coban” dalam bahasa Jawa di kawasan Malang ini berarti “air terjun” (saya tidak tahu pasti etimologinya).

Sekali-kalinya saya mengunjungi Coban Glotak adalah dengan Widi, seorang sahabat sejak jaman kuliah, belasan tahun yang lalu. Antara tahun 2001-2004 (saya benar-benar tidak ingat pastinya). Seingat saya, kami ke sana naik motornya Widi (Honda Tiger 2000), menitipkan motor di rumah penduduk, terus berjalan menyusuri kebun kopi, tegal, dan berpapasan dengan anjing petani yang mengagetkan kami, menyusuri kali, dan akhirnya tiba di air terjun yang cukup tinggi. Pendeknya, Coban Glotak ketika itu “hanya” sebuah air terjun yang ada di ujung peradaban di lereng Gunung Kawi.

Setelah menempuh perjalanan lewat kawasan Mergan dan Bandulan, masuklah saya ke kawasan kecamatan Wagir. Kami terus menempuh jalan naik melewat desa Jedong dan sebagainya, hingga akhirnya tiba di desa Dalisodo, di mana jalan meliuk ke kiri dan sedikit demi sedikit mulai berlubang-lubang dan penuh batu meringis tertata. Sejauh itu, saya sangat puas dengan kinerja Belalang Tempur saya (Honda Win 100). Pada tanjakan yang medium, dia dengan gagah mendaki dengan gigi tiga. Pada saat-saat tertentu, ketika saya harus menanjak setelah mengurangi kecepatan karena satu dan lain hal, Belalang Tempur dengan santai mendaki pada gigi dua.

Ketika mulai masuk jalanan yang semakin banyak berlobang dan semakin menanjak, permainan gigi dua semakin menjadi. Ada saat-saat ketika saya benar-benar harus turun ke gigi satu. Kami berpapasan dengan penduduk lokal yang banyak di antaranya memodifikasi motor bebek mereka menjadi semacam trail, dengan spakbor depan mendongak dan roda trail yang mirip seperti tahu seukuran dadu untuk sambal goreng itu. Banyak di antara motor penduduk lokal ini yang tidak berplat, dan mungkin motor-motor ini memang hanya digunakan untuk keperluan ke ladang. Dengan mengendarai Honda Win 100, saya yakin saya cukup bisa melebur dengan penduduk lokal. Paling tidak, saya lebih melebur dibandingkan orang-orang yang datang dengan motor gede semacam CB150R atau bahkan motor trail pabrikan macam KLX dan Viar Cross. Ketika sudah semakin mendekati lokasi, semakin diperlukan persneling satu dan bahkan ditambah permainan kopling untuk meningkatkan RPM. Saya tidak ingat apakah dulu, ketika bersama Widi, jalurnya seberat itu. Mungkin waktu itu beratnya medan tidak terasa karena saya dibonceng Widi naik Honda Tiger 2000–yang kapasitas mesinnya 200% Belalang Tempur.

Sejak jauh dari tujuan, eksistensi Coban Glotak sudah terasa. Berbeda dengan dulu, ketika Widi hanya mengandalkan ingatan pernah diajak lintas alam waktu SMP ke daerah itu, kali ini banyak penunjuk arah menuju Coban Glotak yang membimbing kita hingga ke lokasi. Ada kesan bahwa Coban Glotak sekarang sudah disiapkan untuk dikunjungi orang. Atau mungkin orang lokal ingin Coban Glotak ditemukan orang.

Akhirnya, setelah mengikuti penunjuk arah dan tanya satu kali ke anak-anak lokal (ketika mulai masuk kawasan tegalan), akhirnya tibalah saya ke titik terakhir. Benarlah: ternyata sekarang Coban Glotak sudah mempunyai semacam pintu gerbang dan loket tiket masuk. Ada beberapa bangunan di tengah tegalan yang seingat saya dulu tidak ada. Ada sebuah pos, kawasan parkir mini (mungkin tidak akan muat lebih dari 20 sepeda motor), sebuah toilet, dan bahkan musholla mini. Untuk parkir dan masuk saya dan anak, saya hanya perlu membayar Rp6000. Waktu sudah menunjukkan pukul 12.30-an, dan anak saya belum makan siang. Saya pun bertanya apakah mereka menjual snack.

“Di bawah nanti ada, Mas,” kata salah seorang petugas parkir.

“Suwun, Pak,” saya separuh tidak percaya. Seingat saya, Coban Glotak dulu ada di tengah hutan dan bukan tempat wisata.

Anak saya berbincang-bincang dengan para petugas parkir yang merokok. Karena merasa kami sudah terlalu jauh dari rumah di Malang, anak saya heran apakah kami masih di Jawa.

“Pak, apa Anda bicara bahasa Jawa?” tanya anak saya.

“Iya, dik. Di sini kita hanya bicara bahasa Jawa dan Inggris,” kata seorang bapak bertopi dan merokok.

“Oh yeah?”  seru anak saya.

“Yes, tapi bisanya cuma ‘I love you’ dan ‘No smoking’ saja,” kata bapak itu sambil tertawa. Asap rokoknya kalang kabut di depan wajah ditendang-tendang tawanya.

“Hahaha… Mungkin bapak ngomong ‘I love smoking’,” kata anak saya sambil ngakak.

Setelah cukup guyonan, akhirnya kami pun mulai menuruni jalan setapak. Di situ terlihat bahwa bangunan yang tadinya saya pikir warung itu ternyata toilet, dijaga beberapa perempuan. Saya dan anak terus berjalan, dan anak saya bilang bahwa sepertinya kami pernah ke situ. Saya tidak pernah ke tempat itu selain dengan Widi belasan tahun yang lalu. Ah, mungkin anak saya ingat waktu saya ajak dia dan istri saya (waktu itu langsung setelah menjemput istri saya dari mengajar) ke Coban Pelangi. Pola jalurnya mirip ini. Ada tempat parkir di pinggir jalan, terus kami menuruni ngarai. Agak mirip ini. Bedanya, jalur menuruni ngarai di lembah pelangi terasa hijau pekat karena sedikitnya sinar matahari. Sementara di Coban Glotak ini, jalurnya hijau terang karena vegetasinya bisa dibilang hanya alang-alang, tegalan dan semak.

Tak berapa lama menuruni ngarai, terlihat lah air terjun di kejauhan, di ujung ngarai. Saya dan anak saya langsung berhenti dan memotret-motret karena takjub.

“Untuk apa kita ke sini?” tanya anak saya.

“Hmm,” saya tidak menyangkan mendapat pertanyaan begitu. “Ya, buat melihat air terjunnya, biar melihat alam, mengenali alam.”

“Tapi, kan, ini bukan Angel’s Falls, air terjun tertinggi di dunia yang ada di Venezuela,” katanya.

“Iya, sih, tapi kan ini yang ada di Malang, di dekat tempat kita,” kata saya, masih bingung. “Dan ini juga bagus, dan ayah yakin pasti ada yang kita pelajari di sana nanti.”

Saya jadi terpikir, mungkin semua orang harus mengalami pertanyaan seperti ini. Kenapa kita harus melihat sesuatu? Kenapa kita pergi ke satu tempat? Kenapa? Apakah hanya karena orang lain juga mengunjungi dan memotretnya? Apakah karena kita juga ingin berpoto di tempat itu? Dan seterusnya.

Tak berapa lama kemudian, saya melihat sebuah gubuk. Di sini saya mulai percaya bahwa pak tukang parkir tadi tidak hanya bercanda. Ternyata gubuk itu adalah sebuah warung yang menjual makanan ringan. Penjaganya seorang ibu. Di sebelah warung, yang lokasinya seperti bagian tebing tanah yang dikorek itu, terdapat teduhan dan beberap bangku dan meja. Ternyata warung ini juga menyediakan kopi dan gorengan hangat. Saya beli Nabati buat anak dan “weci” atau “ote-ote” buat saya. Nabati cuma tiga ribu dan weci seribu sepotong. Warung itu terlihat di bagian di mana kita masih bisa melihat air terjun di kejauhan.

Setelah warung itu, kami melanjutkan perjalanan menuruni ngarai, dan kali ini air terjun sudah tidak lagi terlihat. Dia sudah ada di balik lereng bukit. Sementara itu, karena kami sudah semakin menuruni ngarai, mulailah terdengar gemuruh lirih aliran kali yang berasal dari air terjun itu. Perjalanan semakin terasa seperti hiking yang membahagiakan.

Di sini saya mulai terpikir bahwa ada perbedaan antara tempat hiking di Arkansas dan di Malang. Di Arkansas, tempat-tempat tertentu lebih dikenal sebagai tempat hiking, misalnya “Yellow Rock Trail” atau “Fossil Flat Trail” atau “Lost Valley Trail.” Tapi, kalau kita hiking di sana, di satu titik kita pasti akan menemukan sebuah obyek yang menarik, entah itu air terjun, goa, bebatuan, ladang fosil, atau bahkan air terjun di dalam goa. Nah, kalau di Malang beda lagi, kita akan mengenal tempat-tempat seperti Coban Rais, Coban Talun, Coban Pelangi, Coban Glotak dan sebagainya. Kita mengenal tempat-tempat ini sebagai air terjun, tapi pada kenyataannya untuk mencapai ke air terjun yang dimaksud kita masih harus hikin, kadang lebih dari 1 kilometer. Jadi ya, pada intinya sama saja, baik di Arkansas maupun di Malang, semuanya punya sebuah obyek alam yang bagus yang harus ditempuh dengan hiking.

Sejauh ini kita belum sampai di tujuan, yaitu air terjun Coban Glotak, tapi sayangnya waktu menulis saya sudah habis. Saya mungkin akan melanjutkannya kalau waktu menulis itu datang lagi. Tapi, kalau pun tidak, toh saya sudah gugur kewajiban membahas tentang bagaimana sebuah perjalanan itu idealnya tidak perlu terlalu dihantui oleh ambisi mencapai tujuan, tapi justru menjadi perjalanan itu sendiri sebagai tujuan. Bagi saya, perjalanan menuju Coban Glotak itu sendiri sudah membuat saya menemukan banyak hal, tentang perubahan Coban Glotak dari sebuah air terjun tersembunyi menjadi sebuah “obyek wisata” semi mapan, tentang pertanyaan-pertanyaan yang harus saya jawab tentang kenapa kita pergi ke sebuah obyek wisata, dan tentang perbedaan antara tempat-tempat hiking di Arkansas dan Malang. Tapi, pastinya akan tetap menarik juga kalau saya bisa menambahkan apa yang saya temukan di ujung perjalanan saya menuruni Glotak Canyon ini.

Sementara menunggu, silakan berjalan-jalan.

Dari Mana Datangnya Teri, Dari …

Akhirnya datanglah kesempatan untuk jalan-jalan ke satu lagi tempat baru di Indonesia. Kali ini perjalanannya ke Lombok, berkat kebaikan Transbahasa dan jajaran pimpinannya. Lebih tepatnya, tujuan utama dari kunjungan kali ini adalah Gili Nanggu, sebuah pulau kecil di dekat kawasan Sekotong Barat, Lombok Barat. Saya akan coba menuliskan sebanyak mungkin tentang perjalanan ini, tapi kali ini saya pingin cerita satu hal dulu, tentang “bagar” untuk menjaring ikan teri.

Etape terakhir kami sebelum mencapai pulai Gili Nanggu adalah perjalanan perahu motor dari kawasan Sekotong Barat di dekat Pantai Tawun Berugak. Sebelum menyeberang, ketika selesai urusan tawar-menawar perahu, Kiki dan Ella, anggota rombongan yang berperan sebagai panitia perjalanan, membeli beberapa ekor ikan bakar berekor hijau. Ibu penjualnya menyebut ikan-ikan ini “ikan ayam-ayam.” Kami membeli beberapa ekor untuk makan kami malam itu. Dan kami juga membeli degan, kelapa muda, mungkin dengan harapan melengkapi “adegan pantai” kami.

Selanjutnya rombongan kami naik tiga perahu motor, satu perahu kayu dan dua lagi perahu fiber. Saya naik perahu yang dari kayu, namanya Sunset. Sopir kami adalah pemuda yang usianya saya perkirakan tak lebih dari dua puluh tahun, namanya Rian. Belakangan, Rian mengatakan kepada kami bahwa Sunset adalah satu-satunya perahu kayu milik perusahaan wisata tempatnya bekerja–perahu ini yang paling tua. Tapi, perahu yang paling tua ini dilengkapi dengan mesin Suzuki yang paling muda.

Perjalanan menuju pulau Gili Nanggu memakan waktu kurang lebih 15 menit di atas laut dangkal yang ketika itu gelombangnya tenang. Laut berangsur-angsur meningkat dari biru terang ke biru gelap dan kehijauan. Ketika belum terlalu jauh perahu berjalan, saya memperhatikan semacam konstruksi bambu di atas air. Konstruksi bambu itu sekilas mirip wahana pendaratan di bulan atau Mars. Di puncaknya ada bendera Indonesia, yang dari kejauhan terlihat robek. Sekadar mengingatkan, saya dibesarkan di masyarakat agraris yang sangat tidak akrab dengan kehidupan nelayan dan budaya pesisir. Saya sama sekali tidak tahu apa itu. Untungnya saya sudah membuka perkenalan dengan Rian, sopir perahu kami.

Sependengaran saya, Rian mengatakan bangunan itu bernama “bagar.” Katanya, bangunan itu dipakai untuk mencari ikan-ikan kecil. Kalau hari sudah gelap, jaring yang ada di tengah-tengah bangunan itu akan diturunkan. Dan di atasnya akan dinyalakan lampu besar untuk mengundang ikan-ikan. Esok paginya, jaring akan diangkat dan ikan-ikan kecil pun akan tertangkap.

Bagan Jelas.jpg
“bagar” atau “bagan” menurut sebuah postingan blog

Awalnya, saya mengira ikan-ikan kecil yang dimaksud Rian adalah ikan-ikan semacam pindang, atau istilahnya di Banyuwangi “lemuru.” Mestinya, kalau dibandingkan dengan ikan “ayam-ayam” (atau juga disebut ikan “jago-jago”) yang seukuran lengan bawah saya, ikan pindang pasti terbilang kecil. Tapi, dalam kesempatan lain memakai kapal Sunset, saya berbincang dengan Pak Raili, seorang bapak yang bertugas menemani Rian dalam perjalanan ke pulau-pulau lain dengan rombongan kami. Pak Raili menjelaskan bahwa “bagar” itu dipakai untuk menangkap ikan teri! Ah, ini dia ikan kecil-kecil yang dimaksud. Dan ternyata jauh lebih kecil dari ikan pindang yang ada di pikiran saya.

Dari Pak Raili, saya tahu lebih banyak tentang “bagar.” Ternyata, bagar di Sekotong ini tidak terpancang ke dasar laut. Konstruksi bambu ini mengapung-apung dan hanya distabilkan dengan jangkar. Pada waktu-waktu tertentu, “bagar” akan dipindah ke lokasi lain yang lebih banyak ikannya.

Meskipun bagi saya terlihat besar, ternyata “bagar” di perairan Sekotong ini sebenarnya kecil. Kata Pak Raili, “bagar” di Sumbawa lebih besar. Kalau “bagar” di Sekotong ini biasanya dibuat dengan biaya sebesar 26-30 juta, bagar di Sumbawa bisa membutuhkan biaya pembuatan ratusan juga. Tapi tentu saja dengan hasil yang lebih banyak.

Saya langsung teringat film Didi Petet berjudul Jermal yang saya tonton beberapa tahun lalu. Di situ, karakter yang diperankan Didi Petet tinggal di jermal dan tidak pernah ke darat karena satu masalah di masa lampau. Awalnya si tokoh tinggal sendirian di jermal itu, tapi kemudian dia ditemani seorang anak kecil yang ternyata adalah … (silakan tonton sendiri film tersebut untuk lebih jelasnya). Apakah yang dimaksud Pak Raili dengan “bagar Sumbawa” itu konstruksi sebesar jermal di film Didi Petet itu?

Belakangan, ketika bisa lagi konsultasi dengan Google, saya kesulitan mencari informasi tentang “bagar” untuk menjaring teri. Yang ada justru “bagar ikan hiu,” yang adalah sejenis kuliner. Setelah melebarkan istilah pencarian dan lebar-lebar membuka hati, akhirnya saya temukan bahwa dalam bahasa Indonesia, konstruksi bambu ini disebut “bagan.” Sekarang, saya agak ragu, apakah “bagar” itu istilah wahana ini dalam bahasa Sasak, ataukah waktu itu saya salah dengar (karena dikacaukan oleh kecipak ombak dan deru mesin tempel Suzuki)?. Tapi, apapun namanya, yang jelas saya yang sejak kecil sudah kenal ikan teri ini akhirnya jadi bahagia bisa tahu dari mana asalnya teri.

Dari mana asalnya teri? Dari bagan/”bagar” naik ke botok.

Life Styles, Inc.: Di mana Penyandang Disabilitas Kejiwaan Dewasa Berkomunitas

Semoga tidak terkesan berlebihan bila saya berulangkali menuliskan tentang pemandangan dan pengalaman yang  membentuk diri saya yang saya dapatkan dari pekerjaan sambilan yang saya jalani selama lima musim panas di Fayetteville, Arkansas.

Kali ini, saya ingin ceritakan satu hal paling berarti yang mungkin belum pernah saya tuliskan secara memadai: pertemuan rutin dengan penyandang tunagrahita dewasa (atau istilah terjemahan mutakhirnya “orang-orang dewasa yang memiliki disabilitas kejiwaan”) di sebuah lembaga bernama Life Styles, Inc.

Sebelumnya, perlu saya ceritakan tentang Life Styles ini. Seperti bisa Anda dapatkan di situs ini, lembaga ini pada intinya memberikan pelayanan kepada orang dewasa (di atas 18 tahun) penyandang tunagrahita. Di lembaga ini, ada berbagai pelatihan dan kegiatan perkumpulan bagi para peserta, khususnya kegiatan yang berbau seni dan pengembangan ketrampilan sosial. Ada juga fasilitas apartemen bagi para peserta. Pada intinya, para peserta melakukan kegiatan yang bisa membuat mereka semakin siap menjalani hidup secara mandiri, mengatasi segala keterbatasan mereka. Ada seorang peserta yang saya tahu akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah restoran McD sebagai tukang cuci piring. Dan ada juga peserta yang juga bekerja di perusahaan pencacah kertas (paper shredding) di bawah Life Styles. Untuk lebih jelasnya mengenai organisasi ini, saya persilakan Anda melihat situs ini.

Selama satu musim panas, saya bisa ke Life Styles sampai 3 kali, tergantung banyaknya program yang kegiatan sosial, kultural, dan wisatanya saya pegang. Sekadar mengingatkan, pekerjaan saya di Spring International Language Center adalah sebagai asisten koordinator kegiatan sosial, kultural, dan wisata untuk peserta program-program khusus–dan program khusus yang dimaksud adalah program pelatihan bahasa Inggris dan/atau kepemimpinan yang diikuti orang-orang dari seluruh dunia yang didanai oleh Kementrian Luar Negeri AS atau negara-negara tertentu. Biasanya ada 2-4 program khusus selama musim panas, dan setidaknya 3 di antara program itu juga melibatkan kunjungan ke Life Styles, untuk menunjukkan tentang sebuah lembaga pelayanan sosial kebanggaan kota Fayetteville.

Biasanya, kunjungan ke sana dilakukan pada siang hari, sekitar pukul 1 siang. Saya ingat suatu kali kami harus menjadwalkan ke sana pada hari Jumat dan saya harus melewatkan sholat jamaah Jumat karena tidak ada lagi orang yang bisa mengantarkan ke sana dan saya sendiri yang harus menyetir–saya ingat, waktu itu akhirnya saya sholat duhur sendiri di teras bangunan ketika angin sangat kencang dan sajadah tipis saya berkibar-kibar dan harus dibebani batu bata di empat sudut. Saya biasanya membawa 15-25-an peserta program khusus ke tempat ini (dengan mengendarai dua van raksasa).

Kami disambut para pengelola kegiatan seni di gedung Life Style yang terkesan artsy. Gedung ini merupakan hasil wakaf dari pasangan Jim dan Nancy Blair (Jim adalah salah satu pengacara terkemuka dan sukses di kawasan Fayetteville dan sekitarnya dan banyak mendermakan duitnya untuk proyek-proyek sosial, termasuk juga pembangunan perpustakaan kota Fayetteville). Di lobi, kami diberi informasi mengenai Life Styles dan kegiatan-kegiatan yang ditawarkannya (seperti paragraf kedua postingan ini).

Setelah satu dua pertanyaan dari para peserta program khusus yang kebanyakan takjub dengan model kegiatan Life Styles, kami dibimbing sedikit masuk ke gedung, yaitu di galeri pamer. Di galeri pamer ini kami bisa melihat hasil karya rupa (lukisan, patung, seni instalasi, dll) karya para peserta Life Styles. Karya-karya seni dari penyandang tunagrahita ini juga dan dijual. Ada beberapa lukisan yang bahkan dijadikan kartu pos, yang juga dijual di lobi. Hasil penjualan karya-karya seni ini kembali ke seniman dan Life Styles. Ada terlihat konsistensi munculnya obyek-obyek tertentu pada karya-karya tertentu. Ada karya yang merupakan montase wajah-wajah dari berbagai sumber yang terkesan sangat misterius. Ada karya-karya yang sangat jelas menceritakan tema-tema tertentu.

Nah, setelah puas melihat-lihat dan berbincang dengan para pengelola di lobi dan galeri, kami pun masuk ke workshop, atau dapur karya. Di sana terdapat sebuah meja besar gabungan dari beberapa meja panjang. Dan di sekelilingnya terdapat para peserta Life Style. Mereka tampak senang dan seperti sudah menunggu kehadiran kami. Beberapa langsung mendekat dan menjabat tangan, dan beberapa tetap menunduk di kursi besi mereka. Para pengelola mempersilakan kami semua duduk berbaur dan memberi kami semua stiker putih untuk menuliskan nama kami. Ruangan terlihat seperti lazimnya sebuah workshop, ada kayu-kayu berserakan di sana-sini. Ada patung setengah jadi di ujung ruangan. Ada patung berbaju melambai-lambai di satu sudut atap, dan sebagainya. Terkadang ada setumpuk majalah bekas di tengah meja, dan terkadang ada juga lilin malam (play dough) di sana, tergantung apa yang akan kita lakukan pada pertemuan itu. Kami dianjurkan duduk berbaur, dan nantinya bagian dari kegiatan kami adalah interaksi dan saling membantu dan bercerita selama acara.

Selanjutnya pengelola mempersilakan kami memperkenalkan diri kami satu per satu. Para peserta Life Styles yang kebanyakan berasal dari Fayetteville atau desa-desa sekitar Fayetteville berkenalan dengan para peserta program khusus yang berasal dari berbagai penjuru dunia, mulai dari sebuah kota Siberia di tepi Danau Baikal di Rusia sana sampai sebuah desa di Senegal. Bahasa Inggris dengan citarasa global berbaur dengan bahasa Inggris kental Arkansas. Ada kalanya, para peserta Life Styles harus meminta para peserta program khusus mengulangi perkenalan mereka karena kurang menangkap jelas, dan begitu pula sebaliknya. Yang selalu terjadi adalah kami tertawa-tawa menikmati pertemuan tak biasa itu.

Setelah semua sudah saling memperkenalkan diri dan bahkan ada yang bisa memanggil nama depan, pengelola (yang merupakan guru seni) memberi instruksi tentang apa yang akan kita lakukan sore itu. Yang saya ingat pasti adalah membuat montase dari gambar-gambar di majalah bekas. Di situ saya berpasangan dengan alumnus program Life Styles yang masih sering ikut kegiatan. Selama membuat montase, dia bercerita bahwa baru-baru ini dia mendapat pekerjaan sebagai tukang cuci di McD dan dengna malu-malu dia ceritakan bahwa dia juga baru saja bertunangan. Tunangannya adalah seorang peserta Life Styles yang  duduk di seberang, yang melambaikan tangannya ke saya dengan malu-malu juga saat tunangannya yang duduk di samping saya itu memanggilnya. Di saat yang lain, kami pernah membuat makanan-makanan mini dari lilin malam. Ketika itu, salah satu peserta program memaksa membuat anjing-anjing kecil–dia berulang kali cerita senang sekali menggambar anjing, dan mengabaikan tema acara itu, yaitu membuat makanan mini.

Biasanya, setelah program selesai, kami melanjutkan dengan berbincang-bincang sambil menunggu waktu pulang. Di satu musim panas, ketika salah satu rekan kerja saya sesama asisten program adalah seorang mahasiswi tingkat akhir, salah seorang peserta Life Styles berulang kali menghampirinya dan memberikan hasil karyanya, sebuah lukisan dengan nama rekan saya itu. Rekan saya ini dengan agak rikuh menerimanya. Di saat yang lain, seorang peserta program khusus, seorang Arab dari Haifa, Israel, yang merupakan seorang komponis klasik dan pemain buzuq (semacam gitar klasik asal Lebanon), memainkan buzuq-nya dan videonya saya unggah di sini. Sesudahnya, kami saling berpamitan dan pulang dengan membawan kesan bermacam-macam tentang pertemuan itu.

Beberapa kali, dalam perjalanan pulang dari Life Styles, peserta program khusus menyampaikan ketakjuban mereka dengan pertemuan tersebut. Banyak di antara mereka yang baru sekali itu berhubungan dengan penyandang tunagrahita dengan santai dan bercakap-cakap santai. Kebanyakan orang–di Amerika maupun di mana saja–memandang penyandang disabilitas mental sebagai orang yang berbeda dengan orang-orang yang mereka temui sehari-hari di tempat kerja. Tapi, pertemuan di Life Styles membuat mereka sadar bahwa mungkin diperlukan hubungan personal yang erat dan natural dengan penyandang tunagrahita untuk lebih menghargai mereka lebih dari sekadar label mereka sebagai penyandang tunagrahita.

Ah, kenapa ada kesan berbeda ketika  saya menulis “mereka”? Semoga saja kata “mereka” ini tidak saya pakai untuk membedakan dalam konteks “mereka vs kita.” Semoga saja saya sudah mulai belajar. Semoga saja “mereka” di sini tak lebih dari sekadar kata ganti yang pemakaiannya tidak bisa dihindari. Semoga.

Merangkul Kembali yang Klise

Pernahkah Anda mencoba membaca buku motivasi atau mendengar ceramah motivasi? Saya tentu tidak tahu jawaban Anda, dan bisa jadi sebagian dari Anda bahkan malu mengakuinya kalau pun sampai sempat ketemu saya. Daripada repot, biarkan saya jawab sendiri pertanyaan itu: Ya, saya pernah mencoba membaca (sampai satu buku!) dan menonton ceramah motivasi (tidak sampai satu episode!).

Kalau Anda juga pernah, pernahkah Anda merasa bahwa yang dikatakan oleh Bapak/Ibu* motivator sebenarnya pernah Anda dengar entah? Apakah benar semua itu sesuatu yang nyaris klise, dan para motivator menjadikannya berfaedah? Saya pribadi merasakan itu. Ya, semuanya seperti hal klise yang disegarkan kembali oleh ucapan para motivator itu dengan cerita-cerita yang tepat dan konteks yang mengena.

Saya cukup yakin, sebenarnya itulah yang terjadi: para motivator menggunakan ajaran-ajaran yang mungkin mereka tahu sejak lama (dari adat-istiadat, dari ajaran agama, dan dari yang lain-lain) dan mereka kaitkan dengan konteks hari ini.

Dari situlah, saya jadi terpikir bahwa mungkin saja menjamurnya motivator di zaman kontemporer ini sebenarnya bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan atau kebijaksanaan kita. Mungkin masalahnya adalah kita yang semakin kurang meluangkan waktu untuk “menemui” atau merenungkan kembali apa-apa yang sudah pernah diajarkan kepada kita dari TK sampai SMA, sampai kuliah, sampai pasca-kuliah, sampai macem-macem. Mungkin kita menganggap banyak dari ajaran yang kita terima itu sebagai klise yang ada di sekitar kita. Kita mungkin tidak sempat merenungkan ajaran-ajaran orangtua kita yang sebenarnya bijaksana. Mungkin, terlalu seringnya muncul ajaran-ajaran itu menjadikannya kehilangan makna.

Dengan semakin malasnya kita menghadapi segala ajaran itu dan semakin tidak sadarnya kita akan arti penting ajaran-ajaran itu, kita jadi terkaget-kaget saat ada orang yang datang membawa sari hikmah. Karena semakin kosongnya kita dari perenungan, maka ketika ada orang yang datang dan membawakan sebuah kebijaksanaan (yang sebenarnya adalah hasil perenungan yang menghubungkan ajaran dengan konteks zaman), kita akan takjub, dan membaginya di Facebook dan twitter.

Padahal, kata orang dulu “ojo dumeh, ojo gumunan” atau “jangan sombong dan jangan mudah takjub.” Dalam nasihat itu, kita diajarkan untuk tidak terlalu bersombong saat kita mampu atau memiliki kelebihan. Mungkin saja masih ada yang salah dengan kita. Juga, kita tidak diajarkan untuk terlalu mudah takjub. Mungkin saja sesuatu yang membuat kita takjub itu memiliki kesalahan fundamental.

Jadi, hemat saya, ….

Ah! Saya ingin sekali membuat simpulan, yang mungkin bisa Anda jadikan nasihat. Tapi saya agak takut, jangan-jangan Anda membaca ini sebagai cara saya memberi motivasi. Bisa jadi juga Anda merasa pernah mendengar ajakan saya itu (maksud saya ajakan yang akhirnya harus saya tunda itu) dan menganggap ini klise. Jadi ya, begitulah…

 

* menurut saya, seperti banyak bidang “pengajaran publik” lainnya, bidang motivasi ini masih didominasi laki-laki…

Cara Sederhana dan Efektif Mewawancarai Penulis

Kali ini saya ingin posting tentang cara melakukan acara wawancara penulis menurut pengamatan saya atas beberapa acara wawancara dengan penulis yang saya dengar di NPR (National Public Radio, atau RRI-nya Amerika Serikat). Biar lebih kongkret dan tepat guna, saya fokuskan contoh-contohnya dari acara wawancara dengan Charlotte DeCroes Jacobs, seorang dokter yang menulis buku Jonas Salk: A Life, biografi penemu vaksin Polio. (Kalau ingin dengar wawancaranya, silakan klik di sini.)

Sekadar disklaimer, saya bukan seorang penyiar radio dan pewawancara. Saya pernah beberapa kali memoderatori bedah buku, tapi saya sangat jauh dari “terampil” memandu acara semacam itu. Jadi, bayangkan saja ini hasil belajar yang saya bagi. Jangan pandang saya sebagai “gajah diblangkoni” yang hanya “bisa berkotbah tanpa bisa menjalankannya.”

Baiklah, satu pola yang saya dapati dari acara-acara wawancara radio dengan penulis buku adalah “memancing penulis untuk bercerita.” Apa yang dilakukan pewawancara untuk memancing penulis? Pewawancara biasanya memberikan rangkuman singkat intisari sebuah bab atau bagian dalam sebuah buku, dan diakhir intisari itu dia minta penulis untuk menceritakan lebih jauh.

Begini contohnya:

Dalam wawancara NPR dengan Charlotte DeCroes Jacobs, pewawancara bilang: “Ketenaran mendadak yang dialami Jonas Salk berperanguh sangat besar terhadap kehidupan keluarga Salk. Salah satu pengaruhnya tampak pada anak sulung Salk. Bisa Anda ceritakan lebih jauh soal ini?”

Dari rangkuman dan pancingan semacam itu, Jacobs kemudian bercerita lebih jauh tentang dampak ketenaran mendadak Salk terhadap anak sulungnya. Dia ceritakan bagaimana anak sulungnya tumbuh jadi anak yang sangat pemalu, dan relatif “tertekan.” Setiap kali dia bermain bisbol, dia merasa terbebani. Ada semacam harapan dari orang-orang agar dia mencetak homerun terus-terusan. Pikir orang-orang, dia ini anaknya Jonas Salk, orang yang paling berjasa di jamannya dengan menemukan vaksin polio, mestinya si anak juga canggih. Dalam segala hal.

Begitu juga ketika pewawancara meminta Jacobs untuk menceritakan tentang sebuah skandal penyebaran polio lanjutan lewat vaksin yg dihasilkan dari sebuah pabrikan yang sedikit memodifikasi prosedur pembuatan vaksin sebagaimana digariskan Salk.

Kenapa wawancaranya seperti itu?

Ya, mungkin karena tujuan dari wawancara ini adalah menggali sebanyak-banyaknya informasi dari penulis buku, yang telah bertahun-tahun melakukan riset untuk bukunya dan tahu seluk beluk dari apa yang dituliskannya.

Di samping itu, bisa dibayangkan bahwa kebanyakan dari pendengar acara ini adalah orang yang belum pernah membaca buku ini. Jadi, dengan melakukan wawancara yang menggali sebanyak mungkin informasi tentang bukunya, wawancara radio bisa berfungsi sebagai 1) sarana untuk memancing minat orang untuk membaca sendiri buku yang bersangkutan, dan 2) memberi tambahan wawasan buat pendengar, sehingga tanpa perlu membaca bukunya pun mereka bisa mendapat wawasan penting tentang isi buku atau topik yang dibahas dalam buku tersebut.

Terus, apa syarat-syarat yang wajib ada?

Dari wawancara dengan Charlotte Jacobs ini, jelas sekali bahwa pewawancara adalah orang yang telah membaca bukunya. Dengan membaca bukunya, tentu si pewawancara ini jadi tahu bagian-bagian menarik yang ada di buku tersebut. Dengan membaca juga, si pewawancara bisa merangkum bagian-bagian yang menarik itu dengan sangat ringkes. Setelah rangkuman yang ringkes itu, tinggal penulis saja yang bertugas mengelaborasi. Pada saat elaborasi itu, si penulis bisa menceritakan hasil-hasil risetnya yang tidak dia berikan secara tertulis di bukunya.

Bagaimana saudara-saudara, apakah cara ini bisa dicoba untuk sesi bedah buku Anda selanjutnya?

Sekali lagi, kalau ingin mendengar wawancara lengkapnya, silakan klik di sini.

Puji Tuhan untuk Pom Bensin: Tunawisma & Toilet Pom Bensin

Sejak awal, ada satu hal yang paling menarik terkait “road trip” atau perjalanan naik mobil lintas negara bagian: pom bensin. Saya sempat menuliskan tentang ini di sini. Kali ini, saya ingin cerita tentang satu episode pom bensin yang membuat saya sempat terpikir betapa bergunanya pom bensin.

Sekadar menginformasikan, pom bensin di negeri Aa’ Sam relatif seragam: 1) ada pompa bahan bakar (tentu!), 2) ada tempat sampah, 3) ada ember yang berisi air pembersih kaca mobil dengan lap penyeka dan pengering (buat kita-kita yang ingin membersihkan kaca mobil), 4) ada swalayan kecil, 5) di dalam swalayan kecil ada dijual kopi dan teh dari mesin penyeduh, dan 6) di swalayan itu ada kamar kecil yang nyaman. Kalau sedang beruntung, di dinding dalam kamar kecil itu ada mesin penjual kondom yang bisa memberi kita kondom berbagai tekstur dan citarasa seharga cuma 75 sen per potong. Ini info saja.

Dalam postingan yang saya tautkan di atas, saya menceritakan bahwa suka mampir ke pom bensin karena berbagai macam “hiburan” yang ditawarkan. Tapi, dalam kesempatan ini, saya ingin menceritakan bagaimana kamar kecil pom bensin ini merupakan tempat yang juga “membantu” kelangsungan hidup para tunawisma.

Sepulang dari silaturahmi ke rumah seorang kawan di sebuah kota kecil di Missouri, kami harus mampir ke pom bensin karena harus wudlu dan beli air minum. Saya dan anak saya langsung menuju ke kamar kecil, yang sayangnya sedang terkunci. Ada orang di dalam. Saya memutuskan untuk menunggu saja karena tidak mau mengganggu orang yang mungkin sedang berkonsentrasi dengan keras di dalam sana.

Setelah sekitar lebih dari lima menit berdiri, seorang lelaki empat puluh tahunan berseragam kemeja merah menghampiri saya. Dia pramuniaga toko yang mungkin sedari tadi memperhatikan saya menunggu di depan kamar mandi:

“Orangnya belum keluar ya?”

“Iya, Pak,” jawab saya. “Saya santai kok.”

Si pramuniaga tampak kesal sambil mengusap konter tempat termos-termos kopi dan es serut rasa pisang stroberi. Setelah selesai membersihkan konter dengan kilat memakai lap kertas, dia segera menuju pintu kamar mandi. Dia ketok pintunya tiga kali dengan cukup keras.

“Tunggu sebentar ya, Dik?” kata si pramuniaga kepada saya.

“Terima kasih, Pak.”

Tak berapa lama kemudian terbukalah pintu kamar mandi. Anak saya sudah girang dan bersiap masuk, tapi saya tahan. Kemudian keluarlah lelaki tua umur lima puluhan tahun (atau bahkan nyaris enam puluhan). Bajunya terlihat kusam. Rambutnya beruban ikal dan agak jarang. Wajahnya tampak gabungan antara basah dan berminyak. Dia membawa gembolan seperti tas plastik besar. Dari tampilannya, sepertinya dia tunawisma.

Saya segera masuk ke kamar mandi dan tampaklah lantainya seperti baru saja dipel. Masih basah tapi sudah siap untuk kering. Dan bersih. Ada aroma sabun pembersih tangan rasa stroberi yang cukup harum–mungkin seperti itu baunya kalau Spongebob dan Patrick bermain gelembung sabun di kamar mandi di negeri berandal dalam The Spongebob Squarepants Movie. Saya menduga bapak tunawisma itu baru saja membilas badan atau bahkan mandi di kamar kecil ini.

Mungkin itulah yang membuat si pramuniaga kesal. Mungkin saja tunawisma itu sudah terbiasa mandi di sini pada saat-saat tertentu.

Mungkin saja dia tidak sadar betapa fasilitas yang ditujukan untuk kenyamanan pelanggan itu juga bermanfaat buat orang lain. Yang lebih membutuhkan.