Honda Win 100: Bangsa yang Besar Menghargai Jasa Motor Kelas Pekerjanya

(Tulisan dibuat dengan sepenuh keluhuran budi dan rasa terima kasih kepada para pekerja keras ini terbit di Mojok.co sini dengan judul “Kalau Kamu Tahu Honda Win 100, Masa Kecilmu Orba Banget.” Dan karena ini sudah lebih dari dua minggu, akhirnya saya boleh mempostingnya di sini.)

Saya geregetan ketika produk Honda yang pertama dibahas di situs web sekelas Mojok adalah Honda Karisma. Menurut pandangan objektif saya, kalau ada motor Honda yang patut dibicarakan pertama-tama di sebuah situs yang menghargai pengalaman individual yang berimplikasi massal, mestinya produk tersebut adalah Honda WIN 100.

WIN 100 adalah motor yang sempat sangat terkenal di Indonesia. Kalau kamu kecil di tahun ‘80-an sampai ‘90-an, pasti kamu pernah melihat motor ini ditunggangi pegawai BRI, Pak Camat, petugas penyuluh lapangan, Pak Pos, sampai rentenir keliling.

Motor ini adalah bukti bahwa ada yang bisa dibanggakan dari industri manufaktur Indonesia. Selama masa produksinya yang panjang, 1984—2005 (21 tahun), semua komponennya diproduksi di Indonesia oleh PT Federal Motor (sekarang PT Astra Honda Motor). Produksi WIN 100 tidak hanya terbatas untuk memenuhi kebutuhan lokal (terutama instansi yang membutuhkan fleet vehicle, kendaraan dinas), tapi juga untuk diekspor ke negara-negara Asia Tenggara, terutama Vietnam.

Hingga hari ini, kamu masih bisa menemukan si WIN 100 bertebaran di sekujur Vietnam, bahkan sampai ada versi mocinnya. Misal kamu sempat baca tulisan turis-turis asing yang road trip keliling Vietnam, kamu akan mendapati WIN 100 menjadi tunggangan andalan mereka. Atau kalau bukan si WIN 100 ya versi mocinnya itu tadi.

Kenapa motor ini begitu populer sebagai kendaraan dinas lapangan di jawatan pemerintah maupun swasta?

Ada beberapa faktor, antara lain harga, desain, kemampuan, dan konsumsi bahan bakar.

Harga WIN 100 relatif murah dibanding motor-motor sport atau semi-sport di zamannya. Bandingkan saja dengan harga Honda GL Max, GL Pro, Suzuki TS, atau Yamaha RX King (motor yang sekarang jadi kutukan buat warga Indonesia).

Dari segi desain, WIN 100 terlihat ramping, menggunakan rangka permata ala motor trail, dan jarak mesinnya cukup jauh dari tanah (hal ini dimungkinkan karena posisi mesinnya tidur, seperti motor bebek). Desain seperti ini membuatnya mampu menjalankan tugas layaknya motor trail.

Selain itu, WIN 100 juga terkenal tangguh menaklukkan tanjakan. Tentunya kemampuan ini tak lepas dari desainnya tadi. Dalam hal kemampuan, Win 100 mirip sarung Atlas: resmi bisa, santai bisa; aspal bisa, off-road bisa. Jangan lupa, ketika Farid Gaban dan Ahmad Yunus melakukan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa mengelilingi Indonesia selama setahun, motor yang mereka gunakan adalah WIN 100.

Yang kemudian paling penting adalah motor ini superirit. Saking iritnya mesin 97 cc si WIN 100, saya sampai lupa apa kepanjangan SPBU.

Itulah alasan mengapa saya sekarang menunggangi WIN 100. Ketika bermaksud membeli motor yang bisa dipakai ke gunung dan ke pantai demi menumbuhkan cinta tanah air dan bangsa pada anak saya, saya sempat pengin beli motor trail. Pilihan pertama tentu trail sejuta umat itu: Kawasaki KLX. Tapi, ternyata harganya dua puluhan juta lebih. Ya tentu saya males (baca: nggak punya duit).

Memang ada pilihan lain: Viar Cross X, produksi lokal Semarang yang harga on the road­-nya 16 juta. Buat kocek saya, harga sekian masih terasa mahal. Beruntung saya sempat konsultasi dengan seorang kawan yang mantan off-roader. Ia langsung bilang, “Bos, kalau sampean pengin beli motor yang ‘layak terabas’ tapi murah, cari saja Honda WIN 100.”

Benar saja, di OLX saya mendapati beberapa orang menawarkan WIN 100 dengan harga berkisar 4 sampai 7 juta. Dengan banderol segitu, bayangkan berapa juta uang yang bisa saya hemat (kalau ada sih) untuk dipakai membeli buku buat anak saya?

Maka, hari ini, setelah genap enam bulan memakai WIN 100 keluaran terakhir (2005, tapi dengan STNK 2006), saya membuktikan sendiri kenapa motor ini begitu populer sampai-sampai desainnya tidak pernah berubah sejak diproduksi pertama pada 1984.

WIN 100 adalah motor tangguh favorit kelas pekerja. Motor ini sangat populer di kawasan yang membutuhkan kendaraan dengan kemampuan menanjak. Kata seorang kawan aktivis lingkungan, orang-orang di pedesaan Malang selatan sangat menggemarinya karena cocok untuk bekerja di medan berat.

Di Kecamatan Dau atau Wagir, misalnya, saya sering melihat orang membawa rumput untuk pakan ternak dengan motor ini. Sampai-sampai ketika suatu kali saya membawa motor itu ke air terjun Coban Glotak di Wagir, orang-orang sana berbicara dengan saya seolah-olah saya salah satu warga desa itu.

Ketika Mei lalu saya mengikuti Kemah Sastra III di Kebun Teh Medini, Kendal, saya juga mendapati motor ini dipakai untuk menjual bakso. Kata si bapak penjual bakso, motor ini ia miliki sejak 2006 dan belum pernah memberinya masalah serius. Padahal ia memakai motor ini untuk naik turun jalan berbatu.

Selama 11 tahun, dia hanya perlu turun mesin sekali dan mengganti kampas koplingnya secara teratur. Saya nggak heran sih. Yang jadi pertanyaan saya justru bagaimana mungkin orang jualan bakso tanpa bermodal mangkuk dan sendok seperti si bapak.

Demikianlah kisah si legenda WIN 100, motor yang seperti sejumlah muka lama di kabinet Jokowi, adalah saksi Orde Baru yang berhasil melewati Reformasi. Bukan Honda Karisma yang dipuji-puji Arie Sadhar, WIN 100-lah yang mestinya bisa menumbuhkan kebanggaan kepada negeri. Bukan RX King yang sekarang kalau nggak jadi tunggangannya preman ya jadi akomodasi kampanye, WIN 100-lah motor yang dikendarai Rano Karno ketika menjadi si Doel anak sekolahan.

Jadi, kawan-kawan redaktur Mojok yang terhormat, sampean boleh saja memuat Honda Karisma sebagai artikel tentang motor pertama di Otomojok. Tapi, dosa semacam itu harus ditebus segera dengan memuat soal Honda Win. Jangan lupa: bangsa yang besar menghargai jasa motor kelas pekerjanya.

Tulisan ini saya tutup dengan mendeklarasikan Honda WIN 100 #menolakpunah #sayaindonesiasayahondawin #iniwinkumanawinmu.

Suara dari Marjin: Yang Bisa Kita Petik dari Gerakan Literasi Banding

Suara Dari Marjin

Judul: Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial
Penulis: Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya
Cetakan: I/Mei 2017
Tebal: 234 hal

Buku yang menyegarkan dan menyadarkan. Biarkan kalimat itu mengawali postingan kali ini. Buku Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah ini pertama-tama akan membuat kita tidak “lupa diri” di tengah gegap gempita gerakan literasi dewasa ini. Tentu “lupa diri” di sini harus diberi tanda kutip, karena sedikit pun saya tidak bermaksud bahwa gegap gempita literasi dewasa ini adalah sesuatu yang melenakan secara negatif. Namun, tetap harus kita sadari bahwa bahkan segala yang bagus bisa membuat kita lupa diri kalau tidak kita kritisi dulu. Dan buku ini punya sikap yang demikian. Dia mengajak kita merayakan literasi, sambil tetap berpikir kritis lazimnya seorang literat.

Buku Suara dari Marjin ini adalah pengolahan ulang hasil penelitian terpisah untuk disertasi kedua penulisnya. Sofie Dewayani mengadaptasi disertasinya yang membahas literasi di kalangan “anak jalanan” di kawasan Pasundan, Bandung. Sedangkan Pratiwi Retnaningdyah mengadaptasi disertasinya mengenai praktik literasi di kalangan Buruh Migran Indonesia (BMI), khususnya yang bekerja (atau pernah bekerja) di Hong Kong. Pada intinya, buku ini menegaskan argumen yang banyak disuarakan para teoretikus Kajian Literasi Baru, yakni bahwa literasi bukan hanya seperti lazimnya yang kita pahami di sekolah–yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis sesuai metode dan praktik formal–tapi juga bisa terjadi melalui praktik informal, yang berlandaskan praktik keseharian dan memiliki tujuan akhir yang lebih relevan dengan keseharian pelakunya.

Konsep-konsep Gerakan Literasi Baru yang diusung dalam buku ini bisa terlihat dalam sejumlah kata kunci yang disampaikan penulis pada bagian pendahuluan, analisis, dan kesimpulan buku ini. Konsep-konsep dari para pemikir seperti Paulo Freire, Pierre Bordieu, dan lain-lain tersebut antara lain adalah “literasi ideologis,” “habitus,” “kapital budaya,” dan “teks kultural.” Konsep-konsep ini secara keseluruhan pada hakikatnya menyatakan bahwa usaha penumbuhan literasi seyogyanya juga membantu membangunkan kesadaran akan diri si pelaku, dan hal ini bisa terlaksana dengan memahami lingkup sosial mereka, sehingga pada akhirnya praktik literasi ini akan mengentaskan mereka dari kemiskinan atau ketertindasan mereka. Untuk melakukannya, praktik literasi ini mengidentifikasi hal-hal yang paling vital dalam memperbaiki harkat hidup si pelaku serta menggunakan elemen kultural yang ada dan dekat bagi para subyeknya.

Sofie dan Pratiwi menerangkan dengan gamblang teori-teori fundamental ini pada bagian awal buku dan kemudian mengulangnya kembali untuk menjelaskan hasil temuan mereka dari studi etnografis di kalangan Buruh Migran di Hong Kong dan anak-anak yang bekerja di jalan. Dari penjelasan-penjelasan mereka, kita mendapati bahwa di kedua komunitas marjinal tersebut terjadi praktik literasi yang menegaskan konsep-konsep yang saya singgung di atas.

Lebih kongkretnya, di kalangan BMI, kita bisa mendapati upaya-upaya pendidikan literasi yang tidak begitu lazim (baik dilakukan secara mandiri maupun dengan bantuan tokoh dari luar) yang menggunakan sumber daya yang dekat dengan mereka dengan tujuan meningkatkan harkat hidup mereka. Di antara kasus-kasus yang dibahas Pratiwi, kita bisa melihat kisah Rie rie, seorang BMI asal Jawa Timur yang mengajar dirinya sendiri blogging hingga akhirnya dia banyak membuahkan tulisan yang memberikan gambaran yang tidak lazim ada tentang kehidupan BMI di Hong Kong, mengubah citra BMI yang cenderung dipandang rendah karena pekerjaan mereka sebagai pembantu rumah tangga. Bahkan, buah dari praktik literasi ala Rie rie ini pada akhirnya juga dia tularkan kepada para BMI yang lain melalui pelatihan-pelatihan blogging dan kepenulisan yang diberikan oleh Rie rie. Masih ada beberapa kisah lain dari bagian ini, termasuk kita Mbak Ani, seorang mantan BMI yang menjadikan pekerjaan BMI sebagai langkah awal untuk mendapatkan modal yang selanjutnya dia pakai untuk mengejar pendidikan tinggi dan bahkan berkarya sebagai pembuat film yang cukup disegani.

Sementara itu, dari studi Sofie mengenai praktik literasi di kalangan anak-anak yang bekerja di perempatan Pasundan, kita bisa mendapati keberhasilan praktik literasi tidak lazim yang dilakukan oleh Bu Sri dan LSM Pelangi. Menurut pengamatan Sofie, Bu Sri yang mendirikan dan mengelola PAUD Bestari banyak menjalankan praktik-praktik yang selaras dengan konsep Literasi Baru, yang jelas terlihat sejak awal dengan tujuan mulianya untuk menghindarkan anak-anak balita dari ikut turun ke jalan bersama teman-teman dan–terutama–keluarga mereka sendiri (=inilah inti dari literasi ideologis). Dalam praktik pengajarannya pun, dalam amatan Sofie, Bu Sri menyadari potensi pemahaman “teks kultural” yang telah dimiliki anak-anak dan kemudian mengoptimalkannya guna membuat anak-anak nyaman dalam belajar di PAUD yang serba diliputi keterbatasan tersebut. Demikian pula dengan praktik yang dilakukan oleh LSM Pelangi, upaya mereka dalam memberi pendampingan belajar bagi “anak-anak jalanan” membantu anak-anak mendapatkan ijazah Kerjar Paket A, yang merupakan satu syarat minimal yang memungkinkan mereka mendapat pengakuan untuk dapat bekerja di pabrik. Dalam usahanya ini, LSM Pelangi juga menyertakan kegiatan yang membantu “anak-anak jalanan” lebih memahami identitas mereka, misalnya melalui kegiatan penulisan kreatif tentang cita-cita mereka.

Dari dia pengamatan etnografis atas praktik literasi di lingkup marjinal yang berlainan ini, kita mendapati sejumlah kesimpulan penting yang perlu dipertimbangkan di tengah demam literasi dewasa ini. Satu hal yang paling penting adalah bahwa gerakan literasi hendaknya tidak dipahami hanya sebagai suatu gerakan yang menumbuhkan minat baca, tulis, dan berpikir kritis yang dilakukan secara formal dengan pola yang seragam dari atas (yang dalam Kajian Literasi Baru dikenal dengan istilah literasi otonom). Namun, upaya literasi bisa berlangsung di mana saja, dengan cara berlainan, dan bertujuan riil meningkatkan harkat hidup pesertanya (literasi ideologis). Simpulan lainnya adalah bahwa dengan melihat keberhasilan upaya literasi ideologis yang digagas secara mandiri dalam kelompok-kelompok marjinal, upaya literasi di lingkup formal (sekolah-sekolah) hendaknya mempertimbangkan elemen-elemen yang berhasil tersebut, misalnya dengan menyertakan elemen kultural dari kehidupan sehari-hari pelakunya dan dengan cara yang lebih ramah terhadap keberagaman minat peserta didik. Dan tentunya, berbagai upaya literasi informal itu juga sudah sejak awalnya mengintegrasikan elemen-elemen literasi otonom di dalamnya. Pada intinya, banyak hal dari upaya literasi ideologis (atau sebut saja “literasi banding”) yang bisa dipetik bagi kita yang saat ini dilanda demam literasi dan mungkin tanpa sadar hanya menjalankan elemen-elemen literasi otonom atau formal saja.

Akhirul posting, tentu masih ada simpulan-simpulan lain yang bisa dibicarakan mengenai buku tersebut. Namun, karena besok saya harus ikut sholat Ied bersama anak dan keluarga saya, sementara sekarang sudah pukul 2.15 pagi, maka ada baiknya juga kalau saya akhiri postingan tentang buku Suara dari Marjin karya Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah ini sampai di sini. Saya berharap segera punya kesempatan untuk menyarikan tulisan ini dalam bentuk yang lebih ramah baca.

Salam literasi 1438 H!

Nama Motor, Doa, Optimisme, dan Pemanasan Global

Karena dalam tradisi Islam nama adalah doa, Muslim pun menamakan anak-anaknya dengan nama-nama yang baik. Beberapa waktu yang lalu, Eka Kurniawan, novel Indonesia yang lagi naik daun di medan internasional, mengatakan dia percaya bahwa nama itu adalah semacam kristalisasi dari seseorang. Pendeknya, sebuah nama itu bisa mewakili gambaran atas seseorang, dan karenanya dia tidak memberi nama karakternya dengan nama-nama yang tidak akan mungkin ditemui pada orang-orang semacam itu (misalnya, dia mungkin tidak akan memberi karakter dari Pangandaran nama-nama seperti Francois Le Pen). Semua gagasan itu menurut saya bisa diterima dengan tanpa perlu harus keberatan. Dan karena itu pulalah, kadang-kadang saya jadi menyesalkan perubahan trend penamaan sepeda motor oleh pabrikan Jepang (sementara kita tidak perlu mendiskusikan pabrikan Tiongkok dalam forum ini).

Menurut hasil pengamatan saya yang cukup terstruktur, sistematis, dan masif–tapi tidak akan saya beberkan semuanya kepada Anda–telah terjadi perubahan signifikan ke arah yang kurang baik dalam hal penamaan motor. Di awal-awal dulu, tahun 1970-an dan sebelumnya, kita bisa mendapati nama-nama alfanumerik. Lihatlah misalnya, Yamaha 75, atau Honda S90, Suzuki GS, Honda GL100, CB 100, dan sejenisnya. Kalau kita percaya bahwa nama semestinya adalah doa, doa macam apa ini? Saya kesulitan membayangkan orang berdoa: “Ya, Allah, jadikanlah anakku ini C90.” Mustahil, kawan. Tapi saya bisa memahami, karena mungkin waktu itu pabrikan-pabrikan motor tersebut masih dibilang masa-masa awal perkembangannya secara internasional.

Untungnya, pada masa-masa setelahnya, kita mendapatii apa yang saya sebut sebagai masa keemasan penamaan motor. Lihatlah, dari Honda mulai muncul Super Cup. Agak sulit sebenarnya menalar maksud “Cup” di sini. Tapi paling tidak ada kata “super” yang memberikan motivasi luar biasa. Ada Superman yang kuat dan percaya diri, ada Super Mario yang pemberani, dan ada Salam Super yang mendatangkan Rupiah. Dari Yamaha, kita temukan sosok L2Super dan–yang paling dahsyat–RX King (yang kita tahu merupakan Raja Jalanan dengan akselerasi super spontan yang mungkin belum tertandingi motor mana pun sampai saat ini, menurut saya). Masih ada lagi nama-nama seperti Force 1 dan Alfa. Dua nama terakhir ini adalah nama-nama yang mengesankan keunggulan urutan.

Penamaan yang berorientasi doa seperti ini tampak jelas pada dekade 80-an dan 90-an. Pada lini motor bebek dari Honda, kita bisa dapati Astrea Prima, Astrea Star, Astrea Grand, dan berujung pada Astrea Supra (lagi-lagi super!). Bahkan, versi murah dari Astrea ini pun diberi nama yang berorientasi doa seperti Legenda (dan Legenda 2, nah, kurang apa?). Tapi, tentu saja, penamaan yang paling dahsyat tetap ada pada Honda Win, yang sulit dipungkiri kemenangannya (menurut pendapat saya yang paling obyektif tanpa setitik pun bias, meskipun pada kenyataannya saya pengendara Honda Win). Renungkanlah nama itu: Namanya saja Honda Win 100. Menang satu atau dua kali atau tujuh kali (seperti Lance Armstrong) masih manusiawi, tapi kalau menang 100 kali? Itu baru pemenang sejati! Nama-nama unggul lainnya yang juga melegenda adalah GL-Max, Pro, dan Mega Pro. Setelah itu, agak menyedihkan.

Memang, menurut penelitian saya, masa keemasan penamaan berorientasi doa ini hanya tampak agung pada Honda dan Yamaha. Trend tersebut sayangnya tidak berlaku untuk Suzuki atau Kawasaki. Suzuki memakai nama-nama yang sekadar nama: Suzuki Crystal (yang bunyi cemprengnya terdengar sejernih kristal dari jauh) atau Tornado (yang sebenarnya tidak menderu seperti Tornado) atau RGR (sulit menalar nama ini). Begitu juga Kawasaki, dia punya Kaze, kata bahasa Jepang yang jelas tapi tentu saja kurang akrab di telinga orang Indonesia yang punya kecenderungan laten Eurosentris.

Sayangnya, memasuki pertengahan 2000-an, kita mendapati trend yang patut disesalkan. Honda mencoba merangkul penamaan Indonesia dengan Karisma, yang masih lumayan berorientasi doa. Tapi sepertinya itu yang terakhir. Di masa yang kurang lebih sama, kita juga menemukan nama seperti Kirana, atau Vega. Kita juga menemukan nama Revo. Dari pabrikan Yamaha, kita temukan Jupiter (kenapa, minimal, bukan Mercury yang paling depan dan paling panas?). Memang sih, di Suzuki masih ada gaung dengan nama seperti Satria. Tapi nama semacam ini termasuk minoritas, kan? Dan itu yang terakhir.

Dan kemerosotan paling dahsyat ada pada penamaan yang menyertai banjir bandang scootic alias scooter matic. Lihatlah: Beat, Vario, Nuvo, Mio, dan sebagainya dan seterus. Ah! Saya tambah kesulitan membayangkan doa “Ya Tuhan, miokan aku, atau setidaknya variokan…” Sulit-sulit-sulit!

Yang cukup menyedihkan adalah akhir-akhir ini kita mendapati lagi nama-nama alfanumerik. Seorang kawan dengan bangga dan sukacita mengendarai motor Kawasaki ZX250 untuk touring Jawa, Bali, Lombok. Dapur pacu dan performa keselamatannya dahsyat, tapi namanya itu, sayangnya! Bahkan Honda kembali menghidupkan lini CB dengan dapur pacu lebih besar: CB150R. Bahkan scootic pun ikut-ikutan dengan N-Max, D-Max, Z-Max dan Max-max yang lain. Apa lagi di bilangan motor trail. Ah, ini sih dari awalnya. TS, GS, dll. Dan kini ada KLX, KTM, Cross 150X, dll.

Maka, saudara-saudara CEO pabrikan motor Jepang yang terhormat, kalau Anda memang peduli dengan citra dan doa dan kualitas yang adiluhung, perhatikan concern saya ini. Tengoklah optimisme masa-masa keemasan itu, ketika nama-nama begitu indah terdengar dan mudah dimasukkan ke dalam doa. Bahkan, kalau perlu, coba lah menghidupkan lini-lini yang pernah jaya, demi memberikan cita rasa yang indah kepada generasi muda ini. Hidupkan kembali, misalnya, Honda Win 100 atau RX King Cobra. Berikan pula pilihan mendapatkan Astrea Prima atau Grand. Pertimbangkan. Atau, kalau tidak mau memproduksi lagi, tawarkanlah jasa refurbasi, sehingga pemilik motor tua bisa meremajakan lagi motornya tanpa beli baru. Mungkin Anda menganggap ini hanya nostalgia dan sekadar kegagalan move on. Tapi tidak, pertimbangkan bagaimana optimisme bisa tumbuh kembali di zaman ini dengan nama-nama indah itu. Bayangkan pula, berapa banyak limbah yang bisa dikurangi kalau kita hanya perlu meremajakan daripada membuat baru? Dengan kesadaran seperti ini di tengah pemanasan global (yang diingkari Donald Trump dan pimpinan partai Republik di Amerika), betapa akan senangnya bumi kepada kita…

 

Pegadaian karya Sigit Susanto: Estetika Mudik?

(Seperti biasa, perlu saya sebutkan bahwa dalam postingan kali ini saya akan berbicara tentang buku tulisan seorang yang saya kenal dan hormati. Saya harap setelah ini tidak ada lagi kecurigaan tentang bias. Tapi, sebisa mungkin saya akan obyektif.)

Sejujurnya saya agak menyesal baru sempat membaca novel Pegadaian karya Sigit Susanto. Saya justru telah membaca tiga buku catatan perjalanan karya Sigit Susanto (yaitu Lorong-lorong Dunia Jilid 1, 2, dan 3). Padahal, saya cukup lama kenal orangnya. Tapi, kenapa harus menyesal? Karena ternyata buku ini mengasyikkan, memberikan satu gambaran tanpa pretensi atas tradisi Idul Fitri khas Muslim tradisional desa Indonesia yang seringkali disebut “abangan,” dan terstruktur seperti untaian kisah-kisah kecil dengan satu tema besar yang menjadikannya asyik dibaca sambil tetap ada tujuan di akhir cerita.

Pegadaian berkisah tentang lika-liku hidup Sunar selama masa 5 tahun sebagai guide di Bali yang harus mudik ke kampung halamannya di Boja, Kendal, setiap Lebaran. Lika-liku hidup ini berkisar pada upaya Sunar membangun karir sebagai guide (mulai dari guide bahasa Inggris hingga menjadi guide bahasa Jerman) dan upaya Sunar membahagiakan ibunya yang sangat dia cintai. Di seluruh novel ini, tersebar kisah-kisah kecil keseharian Sunar sebagai guide dan kisah-kisah aktivitas mudik yang kelucuan. Di bagian awal novel, suasana mudik diwarnai keriangan tapi juga keharuan ibunya yang memandang Sunar sebagai anak yang paling sengsara dibanding kakak-kakaknya. Berangsur-angsur, sikap si ibu berubah seiring meningkatnya posisi Sunar sebagai guide. Namun, meskipun terjadi peningkatan status Sunar, ada satu hal yang tetap: setiap akhir masa mudik, Sunar terpaksa meminta ibunya menggadaikan bros peniti emas karena uang Sunar sudah benar-benar habis di akhir masa mudik, tak peduli berapapun yang dia bawa pulang.

Satu hal yang menarik dari novel ini adalah intensitasnya membicarakan perihal mudik lebaran dan segala aspeknya. Meskipun sesi mudik ini hadir secara teratur dan sangat bisa ditebak, isinya selalu membawa kebaruan. Di mudik pertama, kita akan melihat acara unjung-unjung atau silaturahmi ke saudara-saudara dekat yang tinggal agak jauh (tentu dengan pernak-perniknya yang gado-gado antara haru, bahagia, konyol, dan bahkan separuh jorok). Di sesi mudik kedua, sorotannya berbeda lagi. Begitu juga sesi mudik ketiga dan selanjutnya. Bahkan, ada sesi mudik yang memfokuskan pada acara wisata (yang dalam masyarakat Jawa disebut “piknik”). Jenis-jenis kegiatan mudik yang tak ada habisnya ini seolah menunjukkan bahwa kegiatan selama lebaran itu benar-benar tak ada ujungnya. Apalagi bagi mereka yang sudah absen sepanjang tahun dari kampung dan harus merekap semuanya dalam satu minggu. Seperti itulah mudik: mudik bukanlah liburan untuk istirahat menyisih dari sibuknya kota. Mudik adalah liburan untuk beraktivitas, menjalin kembali tali silaturahmi yang, seperti idealnya tali, harus panjang agar bermanfaat, harus panjang dan tak henti-henti, seperti acara makan yang tak henti-henti pada saat silaturahmi lebaran, dari rumah saudara satu ke rumah saudara yang lain, bahkan ketika kita merasa sudah kekenyangan, karena makan di sini seperti fungsi sosial menghormati saudara, lebih dari sekadar fungsi biologis.

Dalam aktivitas mudik ini juga kita bisa melihat wajah Islam yang tak bisa diingkari, yang bisa dibilang kurang menjual untuk hari-hari ini. Islam di sini begitu menjadi bagian dari masyarakat Jawa dalam novel ini. Tapi, bagian ini tidak menjadi penentu akhir untuk bagian-bagian yang lain. Kegiatan-kegiatan penting seperti silaturahmi, menghormati arwah leluhur, dan sejenisnya, dilakukan mengikuti penjadwalan menurut Islam, misalnya idul fitri. Tapi kegiatan-kegiatan itu memiliki signifikansinya sendiri tanpa bisa dimaknai sebagai milik eksklusif Islam. Satu adegan dalam novel ini yang bisa merepresentasikan hal itu adalah kegiatan silaturahmi ke saudara di gunung. Di situ, narator menyebutkan bahwa kunjungan itu lebih banyak diisi dengan perbincangan tentang berbagai topik dan hanya sedikit berurusan dengan salam-salaman. Tampak di sini seolah-olah Islam dengan Idul Fitrinya memberikan satu media atau waktu, sementara isi dari acara itu sendiri sebenarnya sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka. Dengan kata lain, ada sebuah kegiatan yang mungkin sejak lama menjadi kebiasaan, yaitu saling mengunjungi, dan Islam mengkonsentrasikan kegiatan saling mengunjungi itu pada saat Idul Fitri. Dengan begitu, acara saling mengunjungi itu terasa lebih kuat, seperti energi yang tercecer yang kemudian dipusatkan.

Satu hal lain yang terasa kuat dalam novel ini adalah atmosfir santai–pada sebagian besar novel. Atmosfir santai ini terasa terutama dalam dua elemen di novel ini: cerita-cerita kecil dan bahasanya. Seperti saya singgung di atas, dalam menceritakan lika-liku hidup sebagai guide, novel ini menghadirkan cerita-cerita kecil dalam keseharian Sunar yang terkadang menerbitkan senyum, terkadang mengundang haru. Cerita-cerita kecil ini datang  tanpa henti, hingga kita bisa bilang bahwa novel ini merupakan kumpulan manik-manik kisah kecil yang diuntai dengan satu tali tema hubungan ibu dan anak. Salah satu contoh dari kisah jenaka yang ada adalah tentang perkenalan Sunar dengan seorang gadis pegawai hotel. Di satu kesempatan, Sunar dan Mohar (sahabat baiknya) makan bersama dengan si gadis. Di akhir sesi makan, Mohar memberikan judgment atas gadis itu: dia bukan gadis baik-baik karena suka minum bir. Sunar menjadi ragu-ragu juga mengenai gadis itu. Belakangan, diketahui bahwa Mohar salah dengar: dia mengira gadis itu bilang “minta bir” kepada pelayan restoran, padahal sebenarnya dia bilang “minta bill,” satu istilah untuk kuitansi restoran yang tidak diakrabi oleh Mohar dan Sunar. Kisah-kisah ini tak cuma lucu, tapi ada juga yang mengharukan. Tapi, semuanya disampaikan dengan atmosfir santai. Kalau dikembaliken ke tema mudik, mungkin kita bisa memahami kisah-kisah kecil ini seperti cerita seorang saudara yang mudik kepada saudaranya di kampung. Cerita-cerita itu datang bertubi-tubi tiada henti, tapi selalu ada yang menjadikannya perlu disampaikan, entah itu kelucuan, kekonyolan, keharuan, maupun hikmah sederhananya.

Untuk kesantaian berbahasa, sepertinya saya akan membiarkan Anda membacanya dan mengalaminya sendiri. Yang jelas, di sini Anda akan bertemu istilah “streng,” atau “senyumnya tercecer,” atau “kawin karena kecelakaan,” yang saya bayangkan akan sangat nikmat bagi pembaca Indonesia, dan menyulitkan bagi calon penerjemah ke bahasa asing kalau si penerjemah bukan orang Indonesia (atau Jawa?). Saya hentikan di sini komentar soal kesantaian linguistik ini.

Maka begitulah catatan saya mengenai novel Pegadaian ini. Karena waktu saya untuk menulis sudah habis, maka saya sudahi di sini saja. Kalau Anda ingin simpulan saya atas novel ini, silakan baca paragraf kedua di atas. Semoga paragraf itu bisa menjalankan dwifungsi-nya, sebagai pendahuluan sekaligus simpulan. Oh ya, di judul postingan ini saya menggunakan istilah “estetika mudik,” yang belum saya definisikan sama sekali sejak awal hingga saat ini. Tapi, saya bersumpah saya sudah beberapa kali mencoba memberikan contohnya. Jadi, silakan temukan di atas dan definisikan sendiri apa itu “estetika mudik” yang saya maksudkan.

Selamat membaca!

 

Life Styles, Inc.: Di mana Penyandang Disabilitas Kejiwaan Dewasa Berkomunitas

Semoga tidak terkesan berlebihan bila saya berulangkali menuliskan tentang pemandangan dan pengalaman yang  membentuk diri saya yang saya dapatkan dari pekerjaan sambilan yang saya jalani selama lima musim panas di Fayetteville, Arkansas.

Kali ini, saya ingin ceritakan satu hal paling berarti yang mungkin belum pernah saya tuliskan secara memadai: pertemuan rutin dengan penyandang tunagrahita dewasa (atau istilah terjemahan mutakhirnya “orang-orang dewasa yang memiliki disabilitas kejiwaan”) di sebuah lembaga bernama Life Styles, Inc.

Sebelumnya, perlu saya ceritakan tentang Life Styles ini. Seperti bisa Anda dapatkan di situs ini, lembaga ini pada intinya memberikan pelayanan kepada orang dewasa (di atas 18 tahun) penyandang tunagrahita. Di lembaga ini, ada berbagai pelatihan dan kegiatan perkumpulan bagi para peserta, khususnya kegiatan yang berbau seni dan pengembangan ketrampilan sosial. Ada juga fasilitas apartemen bagi para peserta. Pada intinya, para peserta melakukan kegiatan yang bisa membuat mereka semakin siap menjalani hidup secara mandiri, mengatasi segala keterbatasan mereka. Ada seorang peserta yang saya tahu akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah restoran McD sebagai tukang cuci piring. Dan ada juga peserta yang juga bekerja di perusahaan pencacah kertas (paper shredding) di bawah Life Styles. Untuk lebih jelasnya mengenai organisasi ini, saya persilakan Anda melihat situs ini.

Selama satu musim panas, saya bisa ke Life Styles sampai 3 kali, tergantung banyaknya program yang kegiatan sosial, kultural, dan wisatanya saya pegang. Sekadar mengingatkan, pekerjaan saya di Spring International Language Center adalah sebagai asisten koordinator kegiatan sosial, kultural, dan wisata untuk peserta program-program khusus–dan program khusus yang dimaksud adalah program pelatihan bahasa Inggris dan/atau kepemimpinan yang diikuti orang-orang dari seluruh dunia yang didanai oleh Kementrian Luar Negeri AS atau negara-negara tertentu. Biasanya ada 2-4 program khusus selama musim panas, dan setidaknya 3 di antara program itu juga melibatkan kunjungan ke Life Styles, untuk menunjukkan tentang sebuah lembaga pelayanan sosial kebanggaan kota Fayetteville.

Biasanya, kunjungan ke sana dilakukan pada siang hari, sekitar pukul 1 siang. Saya ingat suatu kali kami harus menjadwalkan ke sana pada hari Jumat dan saya harus melewatkan sholat jamaah Jumat karena tidak ada lagi orang yang bisa mengantarkan ke sana dan saya sendiri yang harus menyetir–saya ingat, waktu itu akhirnya saya sholat duhur sendiri di teras bangunan ketika angin sangat kencang dan sajadah tipis saya berkibar-kibar dan harus dibebani batu bata di empat sudut. Saya biasanya membawa 15-25-an peserta program khusus ke tempat ini (dengan mengendarai dua van raksasa).

Kami disambut para pengelola kegiatan seni di gedung Life Style yang terkesan artsy. Gedung ini merupakan hasil wakaf dari pasangan Jim dan Nancy Blair (Jim adalah salah satu pengacara terkemuka dan sukses di kawasan Fayetteville dan sekitarnya dan banyak mendermakan duitnya untuk proyek-proyek sosial, termasuk juga pembangunan perpustakaan kota Fayetteville). Di lobi, kami diberi informasi mengenai Life Styles dan kegiatan-kegiatan yang ditawarkannya (seperti paragraf kedua postingan ini).

Setelah satu dua pertanyaan dari para peserta program khusus yang kebanyakan takjub dengan model kegiatan Life Styles, kami dibimbing sedikit masuk ke gedung, yaitu di galeri pamer. Di galeri pamer ini kami bisa melihat hasil karya rupa (lukisan, patung, seni instalasi, dll) karya para peserta Life Styles. Karya-karya seni dari penyandang tunagrahita ini juga dan dijual. Ada beberapa lukisan yang bahkan dijadikan kartu pos, yang juga dijual di lobi. Hasil penjualan karya-karya seni ini kembali ke seniman dan Life Styles. Ada terlihat konsistensi munculnya obyek-obyek tertentu pada karya-karya tertentu. Ada karya yang merupakan montase wajah-wajah dari berbagai sumber yang terkesan sangat misterius. Ada karya-karya yang sangat jelas menceritakan tema-tema tertentu.

Nah, setelah puas melihat-lihat dan berbincang dengan para pengelola di lobi dan galeri, kami pun masuk ke workshop, atau dapur karya. Di sana terdapat sebuah meja besar gabungan dari beberapa meja panjang. Dan di sekelilingnya terdapat para peserta Life Style. Mereka tampak senang dan seperti sudah menunggu kehadiran kami. Beberapa langsung mendekat dan menjabat tangan, dan beberapa tetap menunduk di kursi besi mereka. Para pengelola mempersilakan kami semua duduk berbaur dan memberi kami semua stiker putih untuk menuliskan nama kami. Ruangan terlihat seperti lazimnya sebuah workshop, ada kayu-kayu berserakan di sana-sini. Ada patung setengah jadi di ujung ruangan. Ada patung berbaju melambai-lambai di satu sudut atap, dan sebagainya. Terkadang ada setumpuk majalah bekas di tengah meja, dan terkadang ada juga lilin malam (play dough) di sana, tergantung apa yang akan kita lakukan pada pertemuan itu. Kami dianjurkan duduk berbaur, dan nantinya bagian dari kegiatan kami adalah interaksi dan saling membantu dan bercerita selama acara.

Selanjutnya pengelola mempersilakan kami memperkenalkan diri kami satu per satu. Para peserta Life Styles yang kebanyakan berasal dari Fayetteville atau desa-desa sekitar Fayetteville berkenalan dengan para peserta program khusus yang berasal dari berbagai penjuru dunia, mulai dari sebuah kota Siberia di tepi Danau Baikal di Rusia sana sampai sebuah desa di Senegal. Bahasa Inggris dengan citarasa global berbaur dengan bahasa Inggris kental Arkansas. Ada kalanya, para peserta Life Styles harus meminta para peserta program khusus mengulangi perkenalan mereka karena kurang menangkap jelas, dan begitu pula sebaliknya. Yang selalu terjadi adalah kami tertawa-tawa menikmati pertemuan tak biasa itu.

Setelah semua sudah saling memperkenalkan diri dan bahkan ada yang bisa memanggil nama depan, pengelola (yang merupakan guru seni) memberi instruksi tentang apa yang akan kita lakukan sore itu. Yang saya ingat pasti adalah membuat montase dari gambar-gambar di majalah bekas. Di situ saya berpasangan dengan alumnus program Life Styles yang masih sering ikut kegiatan. Selama membuat montase, dia bercerita bahwa baru-baru ini dia mendapat pekerjaan sebagai tukang cuci di McD dan dengna malu-malu dia ceritakan bahwa dia juga baru saja bertunangan. Tunangannya adalah seorang peserta Life Styles yang  duduk di seberang, yang melambaikan tangannya ke saya dengan malu-malu juga saat tunangannya yang duduk di samping saya itu memanggilnya. Di saat yang lain, kami pernah membuat makanan-makanan mini dari lilin malam. Ketika itu, salah satu peserta program memaksa membuat anjing-anjing kecil–dia berulang kali cerita senang sekali menggambar anjing, dan mengabaikan tema acara itu, yaitu membuat makanan mini.

Biasanya, setelah program selesai, kami melanjutkan dengan berbincang-bincang sambil menunggu waktu pulang. Di satu musim panas, ketika salah satu rekan kerja saya sesama asisten program adalah seorang mahasiswi tingkat akhir, salah seorang peserta Life Styles berulang kali menghampirinya dan memberikan hasil karyanya, sebuah lukisan dengan nama rekan saya itu. Rekan saya ini dengan agak rikuh menerimanya. Di saat yang lain, seorang peserta program khusus, seorang Arab dari Haifa, Israel, yang merupakan seorang komponis klasik dan pemain buzuq (semacam gitar klasik asal Lebanon), memainkan buzuq-nya dan videonya saya unggah di sini. Sesudahnya, kami saling berpamitan dan pulang dengan membawan kesan bermacam-macam tentang pertemuan itu.

Beberapa kali, dalam perjalanan pulang dari Life Styles, peserta program khusus menyampaikan ketakjuban mereka dengan pertemuan tersebut. Banyak di antara mereka yang baru sekali itu berhubungan dengan penyandang tunagrahita dengan santai dan bercakap-cakap santai. Kebanyakan orang–di Amerika maupun di mana saja–memandang penyandang disabilitas mental sebagai orang yang berbeda dengan orang-orang yang mereka temui sehari-hari di tempat kerja. Tapi, pertemuan di Life Styles membuat mereka sadar bahwa mungkin diperlukan hubungan personal yang erat dan natural dengan penyandang tunagrahita untuk lebih menghargai mereka lebih dari sekadar label mereka sebagai penyandang tunagrahita.

Ah, kenapa ada kesan berbeda ketika  saya menulis “mereka”? Semoga saja kata “mereka” ini tidak saya pakai untuk membedakan dalam konteks “mereka vs kita.” Semoga saja saya sudah mulai belajar. Semoga saja “mereka” di sini tak lebih dari sekadar kata ganti yang pemakaiannya tidak bisa dihindari. Semoga.

Membaca Sastra Indonesia di Indonesia (lagi!)

Sudah hampir lima bulan saya di Jawa Timur lagi setelah lima tahun absen. Saya bersyukur sudah menyempatkan baca-baca buku sastra Indonesia lagi, meskipun jumlahnya masih kurang dari harapan saya. Bagaimana pun, saya cukup bersyukur bisa membaca buku-buku itu, mengingat saya masih harus membaca ini itu yang lain dan kloyongan ke sana ke mari dan berganti sepeda motor ini dan itu.

Berikut buku-buku yang sempat saya baca. Masing-masing buku ini saya nikmati dan saya syukuri telah membacanya. Urusan penilaian biarlah jadi urusan saya pribadi (toh, saya juga masih belum benar-benar yakin bisa menghakimi buku dengan bijak). Yang penting, saya membacanya dan tidak menyesali menghabiskan waktu saya melakukannya.

  1. Rumah Kopi Singa Tertawa oleh Yusi Avianto Pareanom (membaca yang kesekian kalinya, tapi tetap menikmatinya :D)
  2. Avontur (antologi puisi) oleh Ragil Suprayitno
  3. Surat untuk Ayah oleh Franz Kafka dan diterjemahkan oleh Sigit Susanto
  4. Arung Cinta oleh Djoko Saryono
  5. Tafsir Kenthir Leo Kristi oleh Djoko Saryono
  6. Surat dari Praha oleh Yusri Fajar
  7. Metafora Padma oleh Bernard Batubara
  8. Kiat Sukses Hancur Lebur oleh Martin Suryajaya (sangat membahagiakan dan memantik hiperaktivitas penafsiran)
  9. Anak-anak Masa Lalu oleh Damhuri Muhammad
  10. Tewasnya Gagak Hitam oleh Sidik Nugroho
  11. Moemie, Gadis Berusia Seratus Tahun oleh Marion Bloem
  12. Playon oleh F. Aziz Manna
  13. Usaha Membunuh Sepi oleh Felix K. Nesi
  14. Neraka di Warung Kopi oleh Sidik Nugroho

Masih ada beberapa buku lain yang juga saya baca, tapi karena tidak saya baca untuk pertama kalinya dan tidak saya baca penuh, maka sepertinya tidak perlu saya sebutkan di sini.

Semoga saja di tahun yang akan datang saya bisa membaca lebih banyak dan menuliskan lebih banya (seperti yang selalu saya janjikan).

Dan, tentu saja, saya berharap 2017 menjadi tahun yang tepat untuk menyelesaikan sebuah tulisan panjang ilmiah (kerling-kerling!) dan menyelesaikan cerpen-cerpen yang drafnya sudah saya buat selama lima bulan terakhir. Semoga. Semoga. Eh, kok tanpa sadar saya bikin resolusi tahun baru? Ya, sudahlah, karena sudah keceplosan, saya berharap Anda semua meng-amini, meskipun tidak me-like dan nge-share.

Salaam…

Menyiasati Bahasa Indonesia yang Tidak Memadai sebagai Sarana Ekspresi

(Ini draf kasar yang akan terus dikembangkan sampai jadi makalah dengan “pendahuluan,” “metodologi,” “analisis,” dll. Tapi ya, namanya blogger, saya tidak sabar untuk segera mempostingnya guna mendapat balikan dari Anda sekalian pembaca tercinta yang kesasar ke sini.)

Seminggu terakhir, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan beberapa penulis yang kebetulan memiliki perilaku berbeda-beda terkait bahasa. Pada intinya, dari perbincangan tersebut, saya mendapatkan kesan bahwa sastra merupakan ruang yang menjanjikan sebagai tempat evolusi bahasa Indonesia yang lebih awas terhadap bahasa daerah. Perlu saya beri disklaimer di sini bahwa perbincangan-perbincangan ini terjadi dalam konteks Kafe Pustaka, Perpustakaan Universitas Negeri Malang, yang memungkinkan campur-baurnya antara serius dan santai, antara memegang mikrofon dan memegang pisang goreng, dan bahkan (seperti lazimnya hari-hari ini) antara saling tatap mata dan tatap layar smartphone. Satu temuan yang paling penting bagi saya adalah bahwa para penulis ini memiliki strategi berbeda-beda dalam menghadapi bahasa Indonesia.

Para penulis yang saya maksud adalah F. Aziz Manna (penyair asal Sidoarjo yang bukunya Playon memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2016), M. Aan Mansyur (penyair yang buku-bukunya banyak dibaca dan bahkan dipilih untuk diterbitkan di Malaysia bersama beberapa penyair Indonesia mutakhir lainnya), dan Felix K. Nesi (penulis muda asal Timor yang cerpen-cerpennya banyak terbit di media dan manuskrip novelnya ikut daftar pendek sayembara novel DKJ 2016).

Yang paling kuat terasa adalah bahwa bahasa Indonesia masih dirasa kurang bisa memenuhi kebutuhan ekspresi bagi sebagian penulis ini. Bagi F. Aziz Manna, banyak konsep lokal yang tidak bisa diwakili hanya dengan efisien oleh bahasa Indonesia. Terkadang dibutuhkan banyak kata untuk menyampaikan satu konsep yang dalam bahasa Jawa Timur-an bisa diwakili oleh satu kata. Untuk kebutuhan berpuisi, hal tersebut perlu disiasati. Apalagi buat Aziz yang puisinya lahir dari hal-ihwal keseharian, dan keseharian Aziz adalah keseharian orang “kelas biasa” Sidoarjo-Surabaya. Saya cenderung memilih untuk menggunakan istilah “kelas menengah ke bawah” untuk merujuk ke semesta puisi Aziz karena dunia di puisi itu memang bukan dunianya orang yang bawah-bawah amat). Aziz memilih untuk tidak menerjemahkan kosakata atau konsep-konsep bahasa Jawa Timuran itu dan menggunakannya dalam puisinya.

M. Aan Mansyur memiliki sikap yang relatif sama terhadap bahasa Indonesia tetapi menerapkan strategi yang berbeda dalam menghadapinya. “Bahasa Indonesia adalah bahasa asing pertama bagi saya,” kata Aan, memang benar, meskipun Anda bisa menganggap ini agak bombastis. Bagi Aan bahasa ibunya bahasa Bugis, bahasa Indonesia kurang memantik imaji, terasa abstrak. Kata kerja dalam bahasa Indonesia lebih mewakili sebuah konsep alih-alih mewakili sebuah gambar gerakan. Di sinilah kemudian terletak perbedaan antara Aan dan Aziz, Aan memilih untuk mengambil langkah ekstra, dengan cara membuat semacam “frase kata kerja.” Sebagai misal–mungkin ini contoh fiktif, karena saya lupa pastinya–karena kata “mendengarkan” kurang memberikan imaji gerakan, maka Aan memilih menggunakan “memberikan telinga.” Berbeda dengan Aziz yang memilih kembali ke Bahasa Jawa saat dia merasa bahasa Indonesia kurang memadai, Aan mengambil langkah ekstra untuk menutupi apa yang dia anggap sebagai kekurangan bahasa Indonesia tersebut.

Felix K. Nesi memiliki sikap yang agak berbeda dibanding kedua penulis di atas–meskipun bisa dibilang cukup lazim di kalangan prosais. Sekadar menegaskan, perbincangan saya dengan Felix mungkin sangat minim dan sporadis, bahkan mungkin saya lebih banyak mendapatkan apa yang saya bincangkan ini dari bukunya Usaha Membunuh Sepi dibandingkan dari perbincangan lisan dengannya. Tentang tokoh-tokoh ceritanya yang berbicara dengan bahasa Indonesia aroma Timor, Felix bilang “mereka ini tinggal di Timor, kan jadi aneh kalau mereka tanya ‘Apakah kamu sudah makan?’ [dan bukan ‘Su makan e?’” Bagi Felix, latar kejadian tokoh-tokoh menuntut Felix menghadirkan mereka dalam bahasa aslinya, atau setidaknya bahasa Indonesia yang bercitarasa lokal. Dalam cerpen-cerpen Felix, bahasa daerah muncul lebih untuk menciptakan citarasa. Dan citarasa itu, dalam cerpen-cerpen Felix, sering kali muncul lewat kata-kata yang tidak memiliki makna sentral dalam cerita, atau kasarannya kata-kata yang tidak untuk mengusung gagasan-gagasan inti. Salah satu contohnya adalah kelaziman karakter-karakternya menggunakan “sa” untuk “saya” dan “su” untuk “sudah” dalam perbincangan di antara mereka, menyerupai dialek Melayu yang lazim dipakai di Timor.

Perlu diberi catatan di sini bahwa Felix memang bukan padanan yang pas buat Aan dan Aziz. Felix menulis prosa realis, yang sudah lazim didukung (meski tidak harus) dengan “realitas” bahasa, terutama untuk dialog para tokoh. Sementara itu, Aan dan Aziz adalah penyair, yang menghidupi puisi, sebuah “organisme” yang wujud fisiknya banyak dipengaruhi oleh ekspresi si penulis. Kalau bicara matematis, persentase arti penting bahasa dalam prosa lebih kecil daripada persentase arti penting bahasa dalam puisi (bahkan ada juga puisi yang menurut kritikus hanya berisi bahasa, tak lebih). Tapi, kalau kita memang membincangkan bagaimana penulis non-penutur asli bahasa Indonesia menyiasati tarik ulur antara tuntutan berbahasa Indonesia (karena telah memilih menulis dalam bahasa Indonesia) dan menurut hasrat memuaskan kebutuhan linguistik dan ekspresi, prosais Felix tak ada bedanya dengan penyair Aziz dan Aan.

Maka, bila ada yang menanyakan kenapa seorang penyair memakai kata bahasa Jawa untuk menyatakan sesuatu yang bisa diungkapkan dalam bahasa Indonesia, mungkin jawabannya bisa ditemukan pada aspek ekspresif dari karya sastra–khususnya puisi. Bisa saja istilah-istilah tertentu dalam bahasa daerah memiliki padanan yang akurat dalam bahasa Indonesia. Namun, bila si penyair dibesarkan dengan bahasa Ibu bahasa daerah, bukan tidak mungkin bila padanan yang akurat dalam bahasa Indonesia itu masih terasa berbeda dan tidak mencukupi untuk mengekspresikan sesuatu. Dalam keadaan inilah dia memilih memakai bahasa ibunya. Dan hal ini wajar saja, terutama bila kita menyadari bahwa bahasa puisi ada bukan hanya karena harus mengantarkan sebuah pesan, tapi juga karena si penyair perlu berekspresi, atau keberadaannya adalah alasan dari keberadaannya itu sendiri, atau dalam larik-lariknya Archibald Macleish “puisi tidak harus berarti/ tapi harus mengada.”

Pertanyaannya sekarang, apakah ketegangan ini ada hanya ada di konteks Indonesia, antara penutur bahasa daerah dengan bahasa nasional? Tidak, ketegangan serupa juga ada di tempat-tempat lain di mana ada sebuah bahasa yang sentral dan bahasa yang marginal. Untuk contoh pertama, kita bisa melihat hubungan antara bahasa Inggris standar Amerika dan bahasa Inggris orang-orang Afro-Amerika yang dikenal dengan istilah “bahasa Inggris Ebonik” atau istilah teknisnya “African American English Vernacular.” Banyak prosais yang menggunakan bahasa ini dalam percakapan antara tokoh-tokohnya dan menggunakan bahasa Inggris standar untuk narasinya. Sementara itu, untuk puisi, banyak sekali penulis yang memilih menggunakan bahasa Inggris Ebonik secara ekstensif dalam karya-karya mereka, misalnya Amiri Baraka dan Sonia Sanchez, dua penyair yang mulai naik daun pada masa pasca pergerakan hak sipil dan populernya “pergerakan seni kulit hitam.” Penyair-penyair ini merangkul bahasa asli mereka dan menggunakannya untuk menciptakan gaya ungkap yang paling pas untuk kebutuhan mereka (terutama saat puisi-puisi tersebut diniatkan untuk membangkitkan semangat dan kesadaran sesama warga kulit hitam).

Tapi, di jazirah linguistik yang lain, yaitu di jazirah bahasa Arab, ada perbedaan hasil ketegangan antara bahasa sentral (dialek formal atau “fushah”) dan bahasa marginal (dialek lokal, misalnya dialek teluk, dialek Lebanon atau “amiyah,” dan dialek Afrika Utara bagian barat atau dialek “maghrib”). Dalam ranah sastra, dialek-dialek lokal ini masih sangat termarginalisasi. Sebagian besar karya sastra ditulis dalam dialek formal. Tidak banyak karya yang ditulis dalam dialek Mesir urban atau lain-lain. Bahkan, ada kesan ukuran kemampuan berbahasa seorang penulis diukur dari kemampuannya menggunakan dialek formal. Dialek lokal agaknya berhasil cuma dalam konteks dunia hiburan, misalnya dalam musik pop, di mana misalnya diva Timur Tengah asal Lebanon, Fairuz, menggunakan dialek “amiyah” dan para penyanyi dari Mesir seperti penyanyi flamboyan Amr Diab menggunakan dialek Mesir dalam lagu-lagunya.

Sekali lagi, saya perlu memberikan kondisi di sini: memang hubungan bahasa Indonesia-bahasa daerah yang sama-sama bahasa itu berbeda dengan ketegangan antara dialek Bahasa Inggris Amerika Standar-Bahasa Inggris Ebonik atau dialek Fusha-dialek lokal. Tapi, ketiga hubungan ini sama-sama diwarnai oleh sentralitas satu pihak dan marginalitas pihak lain. Ada bentuk ungkap yang dianggap lebih superior dalam konteks-konteks tertentu (konteks resmi, kontes sastra, dll) dan ada bentuk ungkap yang dianggap lebih inferior.

Jadi, pada intinya ketegangan antara bahasa sentral dan bahasa marginal bukanlah femonema yang ganjil dalam karya sastra. Yang unik untuk disoroti adalah bagaimana para penulis menyikapi ketegangan tersebut. Ada yang memilih untuk menyodorkan kosakata bahasa daerah, dan ada pula yang memilih memodifikasi bahasa Indonesia sehingga bisa memuaskan kebutuhan ekspresifnya. Bahkan, ada pula yang menghadirkan bahasa daerah secara selektif, seperti misalnya khusus untuk dialog. Semua pilihan estetik ini pada akhirnya akan memperkaya Bahasa Indonesia. Mungkin dengan itu pula–ditambah dengan keluwesan KBBI–akan semakin banyak kosakata bahasa Indonesia yang terpengaruh bahasa-bahasa daerah Indonesia selain bahasa Jawa. Bahkan, pembaca sastra Indonesia juga akan lebih bisa mengenali kekayaan bahasa Indonesia. Tentu saja, tentu saja, tentu saja, semuanya akan berhasil seperti idealnya bila pembangunan merata di seluruh Indonesia dan sarana prasarana publik merata di seluruh pelosok Indonesia, sehingga jumlah buku yang berbahasa Indonesia dengan cita rasa Timor bisa sebanyak buku berbahasa Indonesia dengan citarasa Jawa.