Heuristik untuk Eksplorasi Tema dalam Penulisan Esai

(Ini materi eksplorasi tema yang saya sampaikan dalam acara Pelatihan Penulisan Esai Tingkat SLTA yang diadakan oleh Balai Bahasa Jawa Timur  bekerja sama dengan Pelangi Sastra Malang. Saya posting di sini saja, siapa tahu berguna buat siapa saja yang kesasar :D.)

Satu hal yang seringkali membuat orang takut atau malas menulis adalah pikiran “tidak tahu apa yang harus dituliskan” atau “terlalu banyak yang ingin dituliskan tapi tidak tahu bagaimana mulai menuliskannya.” Inilah uniknya urusan menulis, kekurangan bahan maupun kelebihan bahan bisa mengakibatkan orang malas menulis. Tentunya banyak hal lain juga yang membuat orang tidak jadi menulis, misalnya terlalu sibuk membalas pesan WA dari teman, atau terlalu resah karena cowok/cewek sasaran belum memberikan jempol atau hati untuk postingan Facebook, atau karena repot membersihkan sepeda gunung. Tapi mari kita lupakan soal hambatan menulis karena factor-faktor lain itu, dan mari kita fokuskan perhatian ke strategi mengatasi kekurangan bahan atau kelebihan bahan dalam menulis. Kata kuncinya kali ini adalah “heuristik.”

Seperti disinggung di atas, hambatan menulis yang pertama adalah kurangnya bahan. Hal ini sangat wajar, karena menulis bukan hanya soal menuangkan gagasan ke atas kertas atau mengetikkan gagasan ke aplikasi pengolah kata. Menulis juga soal mencari bahan untuk dituliskan. Richard M. Coe, ahli ilmu kepenulisan asal Amerika Serikat, mengatakan bahwa bagi penulis berpengelaman pun waktu yang dibutuhkan untuk mencari data bisa sebanyak waktu menuangkan gagasan. Jadi, kalau kita malas atau takut menulis karena “tidak tahu apa yang harus dituliskan” atau “tidak tahu bagaimana mengawalinya,” maka itu wajar saja. Penulis berpengalaman pun mengalaminya. Mungkin bedanya mereka punya strategi yang selalu bisa diandalkan untuk mengatasinya. Dan heuristik adalah adalah solusi terukur untuk masalah yang wajar ini.

Begitu juga dengan masalah lain, yaitu ketika kita sudah punya terlalu banyak bahan sampai-sampai tidak tahu bagaimana harus memulainya? Ini juga hal yang lazim terjadi, terutama bila pencarian bahan dilakukan ketika si penulis belum benar-benar tahu tulisan seperti apa yang ingin dia hasilkan. Di sinilah dibutuhkan heuristik yang bisa membantu kita memilah bahan-bahan yang sudah menggunung itu untuk mendapatkan yang paling relevan untuk dituliskan. Nah, bila heuristik ini dipakai sejak awal, bahkan penulis bisa lebih mengefektifkan waktunya dan bisa menghindari penumpukan bahan yang nantinya tidak akan digunakan.

Terus, binatang macam apa “heuristik” ini? Dalam ilmu eksakta, “heuristik” adalah serangkaian langkah-langkah pemecahan masalah yang bisa dipakai secara berulang-ulang. Istilah lain dari “heuristik” adalah algoritma. Buat yang tertarik dengan sejarah Islam, asal usul dari algoritma ini bisa dirunut sampai ke matematikawan bernama Muhammad Ibn Musa Al-Khawarizmi. Di dalam ilmu kepenulisan, gagasan yang serupa dengan algoritma ini lebih dikenal dengan istilah “heuristik” yang berasal dari bahasa Yunani “heurisken” yang berarti “menemukan, menggagas, memperoleh, mendapatkan, dsj.”[1] Di sini, heuristik mengacu pada strategi-strategi yang bisa dipakai penulis secara berulang-ulang setiap kali mendapat “masalah,” yang dalam hal ini adalah tugas menulis. Sebagian dari heuristik ini sudah dikenal luas, meskipun tidak dengan nama “heuristik.” Misalnya adalah “strategi 5W+1H” yang sudah masuk dalam kurikulum Bahasa Indonesia di sekolah menengah. Di bawah akan saya singgung bahwa “strategi 5W+1H” ini hanya satu perwujudan dari sebuah heuristic yang lazim.

Untuk kebutuhan menulis esai bertema “kearifan lokal,” ada dua heuristik yang bisa membuat proses pencarian data kita lebih efektif: Heuristik Pertanyaan dan Pentad Burke. Kedua strategi ini memiliki keunggulannya sendiri-sendiri. Heuristik Pertanyaan bersifat lebih luwes dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan penulisan, sementara Pentad Burke bisa membuat eksplorasi topik kita lebih mendalam. Untuk lebih memaksimalkan penggunaannya, akan sangat bagus bila sejak awal kita sudah bisa memutuskan (meski secara kasar) bentuk tulisan seperti apa yang akan kita buat: argumentasi, definisi, komparasi, deskripsi, deskripsi proses, dsb. Selanjutnya, mari kita eksplorasi kedua heuristik itu secara singkat, padat, dan penuh semangat.

Heuristik Pertanyaan

Sesuai namanya, heuristik ini berkutat pada pembuatan pertanyaan-pertanyaan yang paling wajar diajukan sesuai dengan kebutuhan penulisan. Untuk lebih menekankan, setiap tujuan penulisan membutuhan pertanyaan-pertanyaannya sendiri. Saat kita ingin menulis sebuah esai yang bersifat deskriptif, maka si penulis perlu mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti a) apa, b) siapa, c) di mana, d) kapan, e) bagaimana. Atau, untuk topik-topik tertentu, deskripsi mengharuskan si penulis bertanya menambahkan pertanyaan f) mengapa. Mengapa si penulis mengajukan pertanyaan-pertanyaan ini? Jawabnya sederhana: karena hal-hal itulah yang akan ditanyakan oleh seorang pembaca saat menghadapi sebuah teks yang ingin mendeskripsikan sesuatu.

Tapi, daftar pertanyaannya tidak terbatas pada enam contoh pertanyaan di atas. Penulis bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan lain tergantung tujuan atau topik yang ingin dia kerjakan. Mari kita eksplorasi lebih jauh. Bila kita ingin menulis tentang sebuah pertunjukan, misalnya kuda lumping, untuk tujuan mengapresiasi/mengkritiknya, maka pertanyaan-pertanyaan yang bisa kita ajukan antara lain adalah

  1. siapa pemainnya,
  2. di mana ditampilkan,
  3. apa ceritanya,
  4. apa kelebihannya,
  5. apa kekurangannya,

Atau, bila yang ingin membuat esai perjalanan tentang sebuah tempat rekreasi, misalnya Coban Glotak, kita bisa mengajukan pertanyaan seperti:

  1. apa namanya,
  2. apa fasilitasnya,
  3. di mana lokasinya,
  4. bagaimana mencapainya,
  5. berapa bayarnya,

Daftar pertanyaan ini tak terbatas, sekali lagi, sesuai dengan tujuan penulisan dan topik yang ingin dieksplorasi. Tapi, intinya adalah, kita perlu menyusun pertanyaan-pertanyaan mengenai hal-hal yang ingin diketahui orang tentang topik-topik kita. Dengan berbekal pertanyaan ini, bahkan kita bisa menggiring pembaca sejak awal, misalnya dengan cara mengindikasikan sejak paragraf-paragraf awal bahwa yang akan kita bahas dalam esai kita adalah hal-hal tertentu saja.

Bagaimana bila kita sudah memiliki banyak bahan? Dalam keadaan tersebut, yang harus kita lakukan adalah menentukan daftar pertanyaannya dan selanjutnya kita mulai memilah bahan-bahan yang ada untuk menjawab daftar pertanyaan tersebut. Setelah itu, kita bisa melanjutkan penulisan dengan berbekal daftar pertanyaan dan jawaban-jawaban yang kita dapatkan tersebut. Kita akan sejenak melupakan (atau menganggap tidak ada) bahan-bahan lain yang sudah menggunung. Biasanya yang seperti itu bisa disebut data mentah, dan seperti halnya bahan makanan yang bisa membusuk, data mentah juga bisa basi dan tidak relevan lagi kalau dibiarkan terlalu lama. Idealnya, begitu ada kesempatan, data mentah itu bisa diolah untuk menjadi bahan tulisan yang lain.

Sebelum kita lanjutkan ke heuristik yang kedua, silakan Anda coba buat daftar pertanyaan bila ingin mengulas tentang 1) situs Watu Gong, 2) Abah Anton, 3) Hutan Kota Malabar, 4) Taman Bugar Merjosari, dll.

Pentad Burke

Pentad Burke adalah strategi pencarian bahan untuk tulisan yang digagas oleh filsuf dan retorikawan Kenneth Burke (1897-1993). Sesuai namanya (“pentad” berarti “lima bagian”), strategi Burke ini terdiri atas lima bagian, yaitu a) aksi, b) latar, c) agen, d) agensi/peranan, dan e) tujuan. Masing-masing bagian ini pada gilirannya akan menghasilkan poin-poin yang perlu dicari seorang penulis. Tujuan akhir dari penelusuran atas kelima elemen ini adalah memahami motivasi di balik sebuah peristiwa—dan motivasi ini tentunya berbeda dengan niat pelaku peristiwa, yang akan dijelaskan lebih lanjut di bawah. Meskipun pada awalnya banyak dipakai untuk menganalisis karya sastra, terutama teater, Pentad ini bisa menjadi strategi yang sangat tangguh untuk berbagai fenomena, terutama bila hasil akhir yang diinginkan adalah penjelasan mengenai motivasi yang menggerakkan terjadi sesuatu. Untuk lebih jelasnya, mari kita telaah kelima bagian ini satu per satu.

Elemen pertama, yaitu aksi, harus diidentifikasi terdahulu sebelum kita mencari informasi mengenai yang lain-lain. Di sini, aksi menyoroti sebuah kejadian, gagasan, atau fenomena. Fenomena ini tidak hanya menyangkut apa yang tersirat dan tersurat, tapi juga apa pendapat si penulis sendiri tentang fenomena tersebut. Dengan perkataan lain, di bagian ini penulis menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti a) apa yang terjadi? b) apa makna di balik kejadian ini? dan c) apa pendapat saya tentang kejadian ini? Apakah ini baik, membosankan, asyik, melenakan, dll.?

Selanjutnya, di bagian latar, si penulis perlu menelusuri segala hal yang ada di sekeliling kejadian tersebut, baik secara ruang maupun waktu. Di sini penulis diharap menelusuri pertanyaan-pertanyaan seperti a) di mana kejadian ini, b) kapan terjadinya, c) seperti apa lingkungan sosialnya, d) apa yang terjadi sebelum atau sesudahnya, dsb.

Untuk elemen ketiga, yaitu agen, seorang penulis akan mencari informasi yang relevan mengenai individu-individu yang ada di sekitar kejadian itu. Penulis perlu mengetahui a) siapa pelaku kejadian tersebut, b) siapa orang-orang yang membantu si pelaku dalam mengerjakan ini, c) siapa orang yang menjadi lawan atau saingan si pelaku, d) untuk siapa pelaku melakukan sesuatu, dll. Bila topik yang ingin ditulis adalah misalnya terjadinya kampung warna-warni, maka penulis perlu mengetahui siapa penggagasnya, siapa saja yang membantu si penggagas mewujudkannya, siapa orang yang mempengaruhi si penggagas, siapa masyarakat yang kampungnya dijadikan kampung warna-warni ini, dsj.

Terkait bagian keempat, yaitu agensi atau peranan, penulis perlu menelusuri proses terjadinya sesuatu tersebut. Di sini, penulis hendaknya menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana sesuatu terjadi, apa saja sarana-prasana yang memungkinnya terjadi. Agensi bisa juga mencakup sarana tersampaikannya kejadian tersebut, seperti misalnya majalah, televisi, internet, WA bisa menjadi bagian dari agensi ini. Pendeknya, untuk mendapatkan agensi, penulis perlu menjawab pertanyaan seputar “bagaimana.”

Terakhir, yaitu tujuan, bertujuan untuk mengetahui niat dan fungsi dari sebuah kejadian. Bila seorang penulis tertarik untuk menelusuri tentang motivasi di balik kerajinan wayang suket oleh Mbah Jo, maka si penulis harus melakukan wawancara dengan Mbah Jo dan menanyakan apa yang dia niatkan dengan membuat wayang suket tersebut. Di sini, perlu ditekankan bahwa tujuan atau niat berbeda dengan motivasi. Tujuan hanya mencakup maksud dari satu orang atau satu kelompok yang memungkinkan terjadinya sesuatu.

Apapun jawaban yang kita dapatkan dari satu orang atau satu kelompok tersebut hanyalah salah satu elemen untuk memahami motivasi di balik sebuah kejadian. Bukan tidak mungkin seseorang tidak bisa benar-benar bisa menjelaskan mengapa dia melakukan sesuatu, dan bisa saja seseorang itu melakukan sesuatu sebagai sebuah respon atas kejadian lain tanpa benar-benar dia sadari. Di sinilah salah satu seni menulis esai: penulisan ini terkadang bisa berupa usaha kita sendiri untuk memahami sesuatu lebih dari usaha kita untuk menginformasikan sesuatu kepada orang lain.

Sebelum menutup bagian ini, silakan mencoba menjawab motif di balik kejadian-kejadian penting di kota Malang seperti a) Festival Malang Tempo Doeloe, b) Festival Film Malang, c) Demo Angkot, d) berubahnya Coban Rais menjadi wahana selfie, e) dst.

 

Heuristik Pertanyaan dan Pentad Burke ini hanyalah salah dua dari berbagai strategi pencarian data yang bisa kita latih dan praktikkan. Mestinya, bila kita sudah menginternalisasi strategi ini, eksplorasi bahan tidak akan menjadi monster dalam penulisan esai. Kita tidak perlu terlalu resah saat memulai menulis karena tidak ada bahan atau karena sudah terlanjut banyak bahan. Bila kita sudah menyadari bahwa ada banyak strategi eksplorasi data, maka menulis itu tinggal soal waktu saja: berapa jam waktu yang kita punya untuk menulis? Berapa banyak pesan di WA yang bisa kita abaikan sejenak? Berapa jam waktu ber-Facebook yang bisa kita korbankan? Dan sejenisnya.

Semoga sukses!

 

Sumber pustaka:

Coe, R.M., 1990. Process, Form, and Substance: A Rhetoric for Advanced Writers. Prentice-Hall.

[1]     Dari Process, Form, and Substance: A Rhetoric for Advanced Writers karya Richard M. Coe. Hal. 78.

Advertisements

Membaca Sastra Indonesia di Indonesia (lagi!)

Sudah hampir lima bulan saya di Jawa Timur lagi setelah lima tahun absen. Saya bersyukur sudah menyempatkan baca-baca buku sastra Indonesia lagi, meskipun jumlahnya masih kurang dari harapan saya. Bagaimana pun, saya cukup bersyukur bisa membaca buku-buku itu, mengingat saya masih harus membaca ini itu yang lain dan kloyongan ke sana ke mari dan berganti sepeda motor ini dan itu.

Berikut buku-buku yang sempat saya baca. Masing-masing buku ini saya nikmati dan saya syukuri telah membacanya. Urusan penilaian biarlah jadi urusan saya pribadi (toh, saya juga masih belum benar-benar yakin bisa menghakimi buku dengan bijak). Yang penting, saya membacanya dan tidak menyesali menghabiskan waktu saya melakukannya.

  1. Rumah Kopi Singa Tertawa oleh Yusi Avianto Pareanom (membaca yang kesekian kalinya, tapi tetap menikmatinya :D)
  2. Avontur (antologi puisi) oleh Ragil Suprayitno
  3. Surat untuk Ayah oleh Franz Kafka dan diterjemahkan oleh Sigit Susanto
  4. Arung Cinta oleh Djoko Saryono
  5. Tafsir Kenthir Leo Kristi oleh Djoko Saryono
  6. Surat dari Praha oleh Yusri Fajar
  7. Metafora Padma oleh Bernard Batubara
  8. Kiat Sukses Hancur Lebur oleh Martin Suryajaya (sangat membahagiakan dan memantik hiperaktivitas penafsiran)
  9. Anak-anak Masa Lalu oleh Damhuri Muhammad
  10. Tewasnya Gagak Hitam oleh Sidik Nugroho
  11. Moemie, Gadis Berusia Seratus Tahun oleh Marion Bloem
  12. Playon oleh F. Aziz Manna
  13. Usaha Membunuh Sepi oleh Felix K. Nesi
  14. Neraka di Warung Kopi oleh Sidik Nugroho

Masih ada beberapa buku lain yang juga saya baca, tapi karena tidak saya baca untuk pertama kalinya dan tidak saya baca penuh, maka sepertinya tidak perlu saya sebutkan di sini.

Semoga saja di tahun yang akan datang saya bisa membaca lebih banyak dan menuliskan lebih banya (seperti yang selalu saya janjikan).

Dan, tentu saja, saya berharap 2017 menjadi tahun yang tepat untuk menyelesaikan sebuah tulisan panjang ilmiah (kerling-kerling!) dan menyelesaikan cerpen-cerpen yang drafnya sudah saya buat selama lima bulan terakhir. Semoga. Semoga. Eh, kok tanpa sadar saya bikin resolusi tahun baru? Ya, sudahlah, karena sudah keceplosan, saya berharap Anda semua meng-amini, meskipun tidak me-like dan nge-share.

Salaam…

Menyiasati Bahasa Indonesia yang Tidak Memadai sebagai Sarana Ekspresi

(Ini draf kasar yang akan terus dikembangkan sampai jadi makalah dengan “pendahuluan,” “metodologi,” “analisis,” dll. Tapi ya, namanya blogger, saya tidak sabar untuk segera mempostingnya guna mendapat balikan dari Anda sekalian pembaca tercinta yang kesasar ke sini.)

Seminggu terakhir, saya berkesempatan berbincang-bincang dengan beberapa penulis yang kebetulan memiliki perilaku berbeda-beda terkait bahasa. Pada intinya, dari perbincangan tersebut, saya mendapatkan kesan bahwa sastra merupakan ruang yang menjanjikan sebagai tempat evolusi bahasa Indonesia yang lebih awas terhadap bahasa daerah. Perlu saya beri disklaimer di sini bahwa perbincangan-perbincangan ini terjadi dalam konteks Kafe Pustaka, Perpustakaan Universitas Negeri Malang, yang memungkinkan campur-baurnya antara serius dan santai, antara memegang mikrofon dan memegang pisang goreng, dan bahkan (seperti lazimnya hari-hari ini) antara saling tatap mata dan tatap layar smartphone. Satu temuan yang paling penting bagi saya adalah bahwa para penulis ini memiliki strategi berbeda-beda dalam menghadapi bahasa Indonesia.

Para penulis yang saya maksud adalah F. Aziz Manna (penyair asal Sidoarjo yang bukunya Playon memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2016), M. Aan Mansyur (penyair yang buku-bukunya banyak dibaca dan bahkan dipilih untuk diterbitkan di Malaysia bersama beberapa penyair Indonesia mutakhir lainnya), dan Felix K. Nesi (penulis muda asal Timor yang cerpen-cerpennya banyak terbit di media dan manuskrip novelnya ikut daftar pendek sayembara novel DKJ 2016).

Yang paling kuat terasa adalah bahwa bahasa Indonesia masih dirasa kurang bisa memenuhi kebutuhan ekspresi bagi sebagian penulis ini. Bagi F. Aziz Manna, banyak konsep lokal yang tidak bisa diwakili hanya dengan efisien oleh bahasa Indonesia. Terkadang dibutuhkan banyak kata untuk menyampaikan satu konsep yang dalam bahasa Jawa Timur-an bisa diwakili oleh satu kata. Untuk kebutuhan berpuisi, hal tersebut perlu disiasati. Apalagi buat Aziz yang puisinya lahir dari hal-ihwal keseharian, dan keseharian Aziz adalah keseharian orang “kelas biasa” Sidoarjo-Surabaya. Saya cenderung memilih untuk menggunakan istilah “kelas menengah ke bawah” untuk merujuk ke semesta puisi Aziz karena dunia di puisi itu memang bukan dunianya orang yang bawah-bawah amat). Aziz memilih untuk tidak menerjemahkan kosakata atau konsep-konsep bahasa Jawa Timuran itu dan menggunakannya dalam puisinya.

M. Aan Mansyur memiliki sikap yang relatif sama terhadap bahasa Indonesia tetapi menerapkan strategi yang berbeda dalam menghadapinya. “Bahasa Indonesia adalah bahasa asing pertama bagi saya,” kata Aan, memang benar, meskipun Anda bisa menganggap ini agak bombastis. Bagi Aan bahasa ibunya bahasa Bugis, bahasa Indonesia kurang memantik imaji, terasa abstrak. Kata kerja dalam bahasa Indonesia lebih mewakili sebuah konsep alih-alih mewakili sebuah gambar gerakan. Di sinilah kemudian terletak perbedaan antara Aan dan Aziz, Aan memilih untuk mengambil langkah ekstra, dengan cara membuat semacam “frase kata kerja.” Sebagai misal–mungkin ini contoh fiktif, karena saya lupa pastinya–karena kata “mendengarkan” kurang memberikan imaji gerakan, maka Aan memilih menggunakan “memberikan telinga.” Berbeda dengan Aziz yang memilih kembali ke Bahasa Jawa saat dia merasa bahasa Indonesia kurang memadai, Aan mengambil langkah ekstra untuk menutupi apa yang dia anggap sebagai kekurangan bahasa Indonesia tersebut.

Felix K. Nesi memiliki sikap yang agak berbeda dibanding kedua penulis di atas–meskipun bisa dibilang cukup lazim di kalangan prosais. Sekadar menegaskan, perbincangan saya dengan Felix mungkin sangat minim dan sporadis, bahkan mungkin saya lebih banyak mendapatkan apa yang saya bincangkan ini dari bukunya Usaha Membunuh Sepi dibandingkan dari perbincangan lisan dengannya. Tentang tokoh-tokoh ceritanya yang berbicara dengan bahasa Indonesia aroma Timor, Felix bilang “mereka ini tinggal di Timor, kan jadi aneh kalau mereka tanya ‘Apakah kamu sudah makan?’ [dan bukan ‘Su makan e?’” Bagi Felix, latar kejadian tokoh-tokoh menuntut Felix menghadirkan mereka dalam bahasa aslinya, atau setidaknya bahasa Indonesia yang bercitarasa lokal. Dalam cerpen-cerpen Felix, bahasa daerah muncul lebih untuk menciptakan citarasa. Dan citarasa itu, dalam cerpen-cerpen Felix, sering kali muncul lewat kata-kata yang tidak memiliki makna sentral dalam cerita, atau kasarannya kata-kata yang tidak untuk mengusung gagasan-gagasan inti. Salah satu contohnya adalah kelaziman karakter-karakternya menggunakan “sa” untuk “saya” dan “su” untuk “sudah” dalam perbincangan di antara mereka, menyerupai dialek Melayu yang lazim dipakai di Timor.

Perlu diberi catatan di sini bahwa Felix memang bukan padanan yang pas buat Aan dan Aziz. Felix menulis prosa realis, yang sudah lazim didukung (meski tidak harus) dengan “realitas” bahasa, terutama untuk dialog para tokoh. Sementara itu, Aan dan Aziz adalah penyair, yang menghidupi puisi, sebuah “organisme” yang wujud fisiknya banyak dipengaruhi oleh ekspresi si penulis. Kalau bicara matematis, persentase arti penting bahasa dalam prosa lebih kecil daripada persentase arti penting bahasa dalam puisi (bahkan ada juga puisi yang menurut kritikus hanya berisi bahasa, tak lebih). Tapi, kalau kita memang membincangkan bagaimana penulis non-penutur asli bahasa Indonesia menyiasati tarik ulur antara tuntutan berbahasa Indonesia (karena telah memilih menulis dalam bahasa Indonesia) dan menurut hasrat memuaskan kebutuhan linguistik dan ekspresi, prosais Felix tak ada bedanya dengan penyair Aziz dan Aan.

Maka, bila ada yang menanyakan kenapa seorang penyair memakai kata bahasa Jawa untuk menyatakan sesuatu yang bisa diungkapkan dalam bahasa Indonesia, mungkin jawabannya bisa ditemukan pada aspek ekspresif dari karya sastra–khususnya puisi. Bisa saja istilah-istilah tertentu dalam bahasa daerah memiliki padanan yang akurat dalam bahasa Indonesia. Namun, bila si penyair dibesarkan dengan bahasa Ibu bahasa daerah, bukan tidak mungkin bila padanan yang akurat dalam bahasa Indonesia itu masih terasa berbeda dan tidak mencukupi untuk mengekspresikan sesuatu. Dalam keadaan inilah dia memilih memakai bahasa ibunya. Dan hal ini wajar saja, terutama bila kita menyadari bahwa bahasa puisi ada bukan hanya karena harus mengantarkan sebuah pesan, tapi juga karena si penyair perlu berekspresi, atau keberadaannya adalah alasan dari keberadaannya itu sendiri, atau dalam larik-lariknya Archibald Macleish “puisi tidak harus berarti/ tapi harus mengada.”

Pertanyaannya sekarang, apakah ketegangan ini ada hanya ada di konteks Indonesia, antara penutur bahasa daerah dengan bahasa nasional? Tidak, ketegangan serupa juga ada di tempat-tempat lain di mana ada sebuah bahasa yang sentral dan bahasa yang marginal. Untuk contoh pertama, kita bisa melihat hubungan antara bahasa Inggris standar Amerika dan bahasa Inggris orang-orang Afro-Amerika yang dikenal dengan istilah “bahasa Inggris Ebonik” atau istilah teknisnya “African American English Vernacular.” Banyak prosais yang menggunakan bahasa ini dalam percakapan antara tokoh-tokohnya dan menggunakan bahasa Inggris standar untuk narasinya. Sementara itu, untuk puisi, banyak sekali penulis yang memilih menggunakan bahasa Inggris Ebonik secara ekstensif dalam karya-karya mereka, misalnya Amiri Baraka dan Sonia Sanchez, dua penyair yang mulai naik daun pada masa pasca pergerakan hak sipil dan populernya “pergerakan seni kulit hitam.” Penyair-penyair ini merangkul bahasa asli mereka dan menggunakannya untuk menciptakan gaya ungkap yang paling pas untuk kebutuhan mereka (terutama saat puisi-puisi tersebut diniatkan untuk membangkitkan semangat dan kesadaran sesama warga kulit hitam).

Tapi, di jazirah linguistik yang lain, yaitu di jazirah bahasa Arab, ada perbedaan hasil ketegangan antara bahasa sentral (dialek formal atau “fushah”) dan bahasa marginal (dialek lokal, misalnya dialek teluk, dialek Lebanon atau “amiyah,” dan dialek Afrika Utara bagian barat atau dialek “maghrib”). Dalam ranah sastra, dialek-dialek lokal ini masih sangat termarginalisasi. Sebagian besar karya sastra ditulis dalam dialek formal. Tidak banyak karya yang ditulis dalam dialek Mesir urban atau lain-lain. Bahkan, ada kesan ukuran kemampuan berbahasa seorang penulis diukur dari kemampuannya menggunakan dialek formal. Dialek lokal agaknya berhasil cuma dalam konteks dunia hiburan, misalnya dalam musik pop, di mana misalnya diva Timur Tengah asal Lebanon, Fairuz, menggunakan dialek “amiyah” dan para penyanyi dari Mesir seperti penyanyi flamboyan Amr Diab menggunakan dialek Mesir dalam lagu-lagunya.

Sekali lagi, saya perlu memberikan kondisi di sini: memang hubungan bahasa Indonesia-bahasa daerah yang sama-sama bahasa itu berbeda dengan ketegangan antara dialek Bahasa Inggris Amerika Standar-Bahasa Inggris Ebonik atau dialek Fusha-dialek lokal. Tapi, ketiga hubungan ini sama-sama diwarnai oleh sentralitas satu pihak dan marginalitas pihak lain. Ada bentuk ungkap yang dianggap lebih superior dalam konteks-konteks tertentu (konteks resmi, kontes sastra, dll) dan ada bentuk ungkap yang dianggap lebih inferior.

Jadi, pada intinya ketegangan antara bahasa sentral dan bahasa marginal bukanlah femonema yang ganjil dalam karya sastra. Yang unik untuk disoroti adalah bagaimana para penulis menyikapi ketegangan tersebut. Ada yang memilih untuk menyodorkan kosakata bahasa daerah, dan ada pula yang memilih memodifikasi bahasa Indonesia sehingga bisa memuaskan kebutuhan ekspresifnya. Bahkan, ada pula yang menghadirkan bahasa daerah secara selektif, seperti misalnya khusus untuk dialog. Semua pilihan estetik ini pada akhirnya akan memperkaya Bahasa Indonesia. Mungkin dengan itu pula–ditambah dengan keluwesan KBBI–akan semakin banyak kosakata bahasa Indonesia yang terpengaruh bahasa-bahasa daerah Indonesia selain bahasa Jawa. Bahkan, pembaca sastra Indonesia juga akan lebih bisa mengenali kekayaan bahasa Indonesia. Tentu saja, tentu saja, tentu saja, semuanya akan berhasil seperti idealnya bila pembangunan merata di seluruh Indonesia dan sarana prasarana publik merata di seluruh pelosok Indonesia, sehingga jumlah buku yang berbahasa Indonesia dengan cita rasa Timor bisa sebanyak buku berbahasa Indonesia dengan citarasa Jawa.

Penjurubahasaan Segitiga

Ini lagi salah satu pengalaman linguistik yang menarik dalam karir saya sebagai penjemput di bandara: penjurubahasaan segitiga. Apa itu? Begini ceritanya:

Kemarin pagi saya harus menjemput dua orang yang datang untuk mengikuti pelatihan di tempat kerja saya. Yang satu, seorang gadis lulus SMA dari Panama, datang untuk mengikuti kursus bahasa Inggris selama setahun. Menurut pengalaman, peserta program ini level bahasa Inggrisnya bervariasi, mulai dari sangat mendasar hingga cukup maksimal. Dan karena dari Panama, maka bahasa ibunya adalah Spanyol. Seorang lainnya yang harus saya jemput adalah seorang guru bahasa Inggris dari Brazil peserta program ACCESS yang didanai oleh Kedubes AS. Biasanya guru-guru peserta program ini memiliki kemampuan bahasa Inggris lisan dan tulis sangat bagus–mereka adalah guru-guru bahasa Inggris terbaik di tempat asalnya. Dan sbg orang Brazil, bahasa ibunya adalah bahasa Portugis.

Seperti biasa, saya tidak suka menggunakan papan nama bertuliskan “Selamat Datang, Mas Bambang” atau lainnya untuk menemukan orang yang saya jemput (meskipun saya belum pernah melihat foto mereka). Alasannya ada dua: Pertama, karena bandara di kawasan kami relatif kecil dan hanya ada satu gerbang kedatangan dan hanya ada dua carousel, sehingga menemukan orang tidak terlalu sulit; Kedua, karena tanpa papan nama, pencarian menjadi lebih mencekam, thriller, menguras adrenalin. Biasanya, saya mengandalkan insting. Kalau ada orang yang seperti kesasar, menoleh ke sana-ke mari, seperti mencari-cari, biasanya itu adalah orang yang saya cari. Atau, saya juga biasa mengenali orang dari, misalnya, atribut yang dia kenakan.

Kali ini, karena tahu orang yang saya cari berasal dari Brazil, saya pun bersiap untuk mencari-cari atribut: jersey timnas Brazil atau bola sepak. Makanya, saat melihat orang yang memakai jersey timnas Brazil, saya langsung tanya dia:

“Mas, Njenengan nunggu jemputan, nggak?” Masalahnya, saya langsung melompati langkah pertama: melihat apakah dia seperti orang kesasar. Jelas-jelas, dia tidak seperti orang kesasar.

“Oh, nggak, sudah ada yang jemput saya. Sampean cari orang dari Brazil ya?” jawabnya sambil langsung dilanjut dengan pertanyaan.

“Iya, orang Brazil yg datang ke Fayetteville,” jawab saya.

“Mau ke Walmart Shareholders Meeting, juga? Saya juga mau ke sana,” tanyanya sambil langsung dilanjut dengan pernyataan.

“Oh enggak, dia mau ada pelatihan guru Bahasa Inggris,” jawab saya. “Oke deh, Mas, mohon maaf kalau nganggu sampean.

“Nggak papa kok, itung-itung ada yang ngajak ngomong sambil nunggu tas saya muncul. Semoga sukses ya!” katanya sambil langsung dilanjut dengan salam penutup.

Tak lama kemudian, ada orang yang memiliki ciri-ciri pertama: seperti mencari-cari orang. Saya langsung menghampiri dia dan bilang: “Pak Ronaldo?”

“Oh, iya. Saya, Mas.”

“Saya Wawan dari Institut Bahasa Inggris. Saya ditugasi njemput Njenengan.”

“Matur suwun, Mas. Untung langsung ketemu. Eh, jangan panggil ‘Pak’ atau ‘Njenengan’ lah. ‘Sampean’ dan ‘Mas’ saja.”

“Oke kalau begitu, Mas Ronaldo.” Dia sama sekali tidak memakai atribut Brazil, dan belakangan saya ketahui bahwa dia tidak bisa main bola, dan terakhir main bola waktu umur 11 tahun, waktu teman-temannya menunjukkan gelagat tidak suka kalau dia ikut di tim mereka karena mainnya buruk. Pelajaran pertama: stereotipe hanyalah stereotipe, dan dampak negatifnya adalah kita tidak bisa melihat pribadi orang-perorang. Kita melihat orang sebagai sebuah kategori, dan tidak cukup merendahkan!

Sudah satu halaman kok belum terlihat tanda-tanda penjurubahasaannya? Okay, maaf, let’s cut to the chase: Setelah pendahuluan dan pemanasan, sekarang mari kita lihat insiden penjurubahasaan tersebut.

Beberapa saat setelah saya temukan Ronaldo, saya pun menemukan seorang gadis belia yang terlihat mencari-cari. Inilah siswa yang harus saya jemput, maka saya dekati dia dan tanya: “Dik Maria?” Lalu dia terlihat sumringrah dan mulai “Si, hewes-hewes-hewes *bahasa Spanyol*” Aduh, mak! Mulailah petualangan itu.

“Saya Wawan dari Institut Bahasa Inggris, ini benar nama Adik?” kata saya dalam bahasa Inggris yang santun dan runut sambil menunjukkan daftar nama-nama siswa. Saya tunjuk namanya.

“Si, Maria,” katanya, dan dia pun bahagia. “Buelo hewes-hewes-hewes *bahasa Spanyol*”

“Ehm, okay, ehm, sudah nemu koper sampean?”

“Hewes-hewes-hewes *bahasa Spanyol* dos,” sambil menunjukkan secarik kupon yang biasanya dipakai untuk melacak koper. Ah, mungkin dia tidak bisa menemukan kopernya.

“Oke, ayo ikut saya sebentar, kita cari kopernya terus selanjutnya kita berangkat,” saya ajak dia ke Ronaldo yang sudah nunggu dengan sabar.

“Mas Ronaldo, ini Maria, dari Panama. Sepertinya kopernya nggak ketemu. Eh, sampean bisa bahasa Spanyol nggak?”

“Nggak bisa, Mas Wawan. Tapi biasanya saya lumayan ngerti maksudnya kalau ada orang ngomong bahasa Spanyol.”

“Wah, mantep ini, tolong sampean tanyakan ya soal kopernya,” pinta saya.

“Buelo… hewes-hewes-hewes *Spanyol*” Maria sudah langsung ngomong ke Ronaldo bahkan sebelum Ronaldo ngomong apa-apa.

“Abuelo? Wow,” Ronaldo kaget dan langsung melihat saya. “Katanya kakeknya berangkat kemarin ke sini?”

“Hah? Kok bisa?” langsung panik saya.

“Abuelo  hewes-hewes-hewes *Portugis*?” tanya Ronaldo ke Maria untuk memastikan, tapi dia menggunakan bahasa Spanyol.

“Buelo” sambil tangannya memeragakan seperti pesawat mau terbang. “Hewes-hewes-hewes *Spanyol*”

“Ah, buelo!!!” Ronaldo ketawa girang, dan langsung melaporkan ke saya dalam bahasa Inggris. “Bukan kakeknya, tapi penerbangannya datang ke sini tadi malam. Kakek dan penerbangan dalam bahasa Spanyol nyaris sama, satunya ‘buelo’ (penerbangan) satunya ‘abuelo’ (kakek).”

“Oalah, iya-iya. Semestinya dia datang tadi malam tapi ada delay, jadinya baru sekarang datang,” kata saya. “Oke-oke, Mas Ronaldo, tolong sampean terjemahkan ya. Dik Maria, tas sampean ada yang tertinggal?”

“Si, hewes-hewes-hewes *Spanyol*” Maria langsung menjawab–sepertinya dia tahu pertanyaan saya.

“Iya, dia tidak bisa menemukan tasnya,” kata Ronaldo.

“Dos,” kata Maria.

“Dos?” kata saya sambil menunjukkan isyarat dua jari–kebetulan saya tahu sejumlah kosakata penting dalam bahasa Spanyol, terutama karena banyak terpapar dengan teks-teks bahasa Spanyol yang bertebaran di mana-mana dan juga karena beberapa teman dalam workshop penerjemahan sastra saya menerjemahkan dari bahasa Spanyol, dan diskusi “cari kutu” yang membahas kata-kata penting dalam bahasa tertentu sering terjadi.

“Oke, saudara-saudara, mari kita ke konter dulu, saya kok agak curiga tas Dik Maria sudah datang kemarin malam.”

Mereka pun membuntuti saya ke konter Delta Airline. Benar saja, di konter saya disambut seorang pegawai yang setelah mengecek sebentar di komputer langsung bilang, “Iya, tasnya sudah datang tadi malam.”

Maka demikianlah berakhir episode penjurubahasaan segitiga di bandara. Selanjutnya, saya bawa mereka dengan minibus ke kampus. Selama dalam perjalanan, kami bertiga berbicang-bincang semua pertanyaan saya kepada Dik Maria (dalam bahasa Inggris) harus dijembatani dulu oleh Mas Ronaldo (dalam bahasa Portugis) dan kemudian dijawab oleh Dik Maria (dalam bahasa Spanyol) dan diterjemahkan oleh Mas Ronaldo (dalam bahasa Inggris) kepada saya.

Penting Mana Bahasa Arab, Indonesia, Inggris atau Jawa?

Mbak Nurmala, seorang perempuan Indonesia yang kini bekerja di Arkansas, menaiki tangga menuju apartemennya. Berbarengan dengannya, Sister Nawal, seorang perempuan Mesir. Sedari pangkal tangga mereka sudah berbincang-bincang soal perkembangan anak-anak mereka. Firas, anak Mbak Nurmala, kelas satu SD dan Layla, anak Sister Nawal, kelas TK.

Tak seberapa lama kemudian, percakapan mengarah ke ranah yang agak sensitif, bagi Mbak Nurmala. Saya berikan terjemahannya di sini, daripada saya kutipkan langsung percakapan yang agak problematis itu. Kenapa agak problematis? Maaf, Sister Nawal bahasa Inggrisnya kurang maksimal. Jadi, ya, daripada saya dikira menghina, lebih baik saya terjemahkan saja biar netral.

Sister Nawal: … kayaknya memang perkembangan bahasa Inggris si Layla nggak secepat teman-temannya.

Mbak Nurmala: Kenapa, sister?

SN: Ndak tahu ya. Mungkin karena kami tetap biasakan dia berbahasa Arab di rumah.

MN: Ooh begitu?

SN: Kalau si Firas bagaimana? Bahasa Inggrisnya sudah kayak orang Amerika ya?

MN: Iya, mungkin juga karena dia setahun lebih lama tinggal di sini.

SN: Kalau di rumah bahasa Inggris-an nggak?

MN: Saya sih sama ayahnya ngomong bahasa Indonesia sama dia. Malah kadang-kadang bahasa Jawa, kalau lagi marah. Hehehe.

SN: Oh, hebat ya. Tetap bisa bahasa Indonesia dan Jawa.

MN: Eh, begini. Saya dan ayahnya ngomong bahasa Indonesia. Tapi dia jawabnya mesti bahasa Inggris. Nggak apa-apa lah. Nanti toh kalau pulang bakal belajar bahasa Indonesia dan Jawa lagi.

SN: Eh, kalau sampean sih nggak papa. Kalau menurut saya dan bapaknya Layla, si Layla harus tetap bahasa Arab-an di rumah. Harus itu.

MN: Kok begitu?

SN: Iya, bahasa Arab kan penting? Kalau bahasa Indonesia sih enak, nggak penting.

MN: (Cleguk! Terpelongoh melihat apa yang tampak seperti ketidakpekaan yang terstruktur itu…)

SN: (Ternyata masih ada lagi penjelasan) Bahasa Arab kan bahasanya Alquran, bahasanya sholat.

MN: (Terpengoloh… tapi mulai bisa mendudukkan permasalahan, mencoba berpikiran positif, mungkin saja Sister Nawal terdengar tidak peka karena kendala bahasa.) Maaf Sister, kayaknya si Firas sudah pingin masuk.

Mbak Nurmala tidak menyelesaikan perbincangan itu. Dia separuh geram, separuh ingin melecehkan bahasa Inggris Sister Nawal, separuh ingin mengatakan bahwa mungkin Sister Nawal mengalami inferiority complex dengan keadaan Mbak Nurmala sendiri yang berkesempatan bekerja di Amerika, berbeda dengan dia yang karena satu lain hal, terutama keimigrasian, tidak mungkin bekerja.

Akhirnya, setelah masuk rumah, Mbak Nurmala melanjutkan sendiri perbincangan dengan Sister Nawal di dalam hatinya.

Mbak Nurmala: Sister Nawal, mbok ya sampean itu jangan begitu.

Sister Nawal: Jangan begitu bagaimana Mbak Nurmala? 

MN: Ya jangan merasa sok penting dengan bahasa Arab sampean itu. 

SN: Lho–

MN: Sampean itu cuman beruntung Islam itu turunnya di Arab, Nabi Muhammad itu orang Arab. Cobak kalau tidak? 

SN: Tapi–

MN: Cobak kalau Nabi Muhammad itu orang Kalimantan, pasti sampean juga sholat pakai bahasa Banjar, atau mungkin bahasa Melayu. 

SN: Masya allah. 

MN: Jangan begitu lah. Pakai sok menganggap bahasa orang lain tidak penting lagi. Sekadar tahu ya, sekarang ini ada 1 milyar orang yang memakai bahasa Arab, itu karena Islam!

SN: —

MN: Islam, itu yang lebih penting dari bahasa Arab. Oke? Bahasa Arab sudah ada dari ratusan tahun sebelum Nabi Muhammad, tapi ya yang pakai juga orang-orang daerah situ saja. Baru setelah datang Islam dengan segala macam pembaruannya, bahasa Arab ikut berkembang dan melebar ke barat, timur, utara, dan sedikit ke selatan dan Barat Daya. 

SN: —

MN: Tolong ya, sampean sendiri orang Mesir, kakek moyang sampean dulu juga nggak berbahasa Arab. Lha wong seratus tahun sebelum Nabi Muhammad itu daerah sampean itu masih di bawah kekuasaan Romawi Timur lho, bahasa resminya masih Yunani, mayoritas orangnya juga Kristen penganut monofisit. Dan tidak ada tuh kitab-kitab mereka dari jaman itu yang berbahasa Arab. 

SN: —

MN: Jadi tulung ya, jangan sekali-kali mengangungkan bahasa Arab sampai sebegitunya, sampai menghina bahasa orang lain, apalagi bahasa Indoensia dan Jawa. Saya juga sholat, Sister, juga pakai bahasa Arab. Tapi bukan lantas itu bikin saya menganggap bahasa Ibu, Embah, Buyut, Canggah saya lebih rendah dari bahasa Arab. 

SN: (Sesenggukan, mungkin mulai paham kekhilafannya.)

MN: Tulung ya, Sister, sampean ingat, Gusti Allah itu Tuhan, kalau bikin jagad raya yang batasnya belum jelas diketahui dari Teleskop Hubble ini saja bisa, pasti gak sulit beliau memahami saya waktu saya berdoa pakai bahasa Jawa. Oke? 

SN: (Sudah menangis kalut). 

Tapi, itu semua hanya terjadi di pikiran Mbak Nurmala. Dia sadar, kalau dia sampai meledak seperti itu, pasti akan sangat melukai hati Sister Nawal. Mbak Nurmala ingat kata mbak buyutnya, menang tanpa ngasorake lebih mulia. Untuk saat ini, dia lebih memilih al-ma’un, keramahan kecil.

Statusisasi Kemakmuran

Saat Vicky Prasetyo berbicara “statusisasi kemakmuran” di wawancara pertunangannya yang seumur lalat itu, orang2 menertawakannya. Orang menyebut dia sok intelek tanpa tahu maksud omongannya sendiri. Video wawancara itupun menjadi epidemi di facebook. Tapi kita tidak tahu bahwa di balik “statusisasi kemakmuran” itu ada sebuah kritik.

Statusisasi kemakmuran adalah proses atau tindakan menstatuskan (atau menjadikan postingan facebook) kemakmuran seseorang. Seperti apa bentuknya? Saah satunya adalah memotret makanan yang Anda beli di restoran ajib. Atau memotret diri (selfie) di dalam mobil sendiri dengan harapan (meski setitik) agar orang lain tahu kita punya mobil keren. Silakan cari sendiri contoh lainnya.

Tapi kan kalimat Vicky tidak seperti bermaksud kritik yg seperti ini? Begitu mungkin Anda tanya. Ya, jawab saya, bisa saja bukan itu yg dimaksud Vicky. Boleh saja. Tapi bukankah memang sejak awalnya dunia selebritis itu tidak ada gunanya buat kita? Bukankah sebaiknya kita melihat selebritis (kalau memang sudah tidak bs dihindari) untuk kita jadikan mainan? Nah, akan sangat berguna kalau mainan kita itu membawa hikmah buat kita. Karena itulah, seganjil apapun omongan selebritis, mari kita lepaskan dari konteksnya dan kita jadikan hikmah buat diri kita sendiri.

Memindai Inner Beauty Joko Pinurbo

Dengan ini saya nyatakan: saya temukan inner beauty Joko Pinurbo. Setelah beberapa saat. Sebelum terlalu jauh, perlu saya tegaskan dulu: yang saya temukan adalah inner beauty, atau kecantikan dalamiyah. Untuk lebih jelasnya, mari:

Sebelum, saya ingin bertanya: Apa yang menarik dari puisi Joko Pinurbo? Kalau Anda membaca bukunya yang berjudul Di Bawah Kibaran Sarung, dan menyempatkan diri membaca pengantar dari Ignas Kleden dan catatan penutup dari Sapardi Djoko Damono, pasti jawabannya segamblang fakta terbitnya matahari dari timur: kecanggihannya menjelajahi setiap jengkal tubuh dan wilayah domestik untuk menghasilkan gaya ungkap yang baru untuk permasalahan universal dalam hidup. Saya–mungkin seperti banyak orang yang terjerumus lainnya–punya kecenderungan terlalu percaya pada guru sastra sehingga menghentikan upaya mengenali sang penyair dan puisinya sendiri. Gampangnya: pemahaman saya atas Joko Pinurbo cenderung berhenti pada gaya ungkap dan metafor tubuh dan obyek domestik itu. Padahal, tentu saja kulkas Joko Pinurbo jauh lebih banyak isinya. Continue reading “Memindai Inner Beauty Joko Pinurbo”