10 Dzulhijjah 1436H

Sejak beberapa waktu yang lalu, para pengelana blogaraya yang kesasar ke blog ini mungkin memperhatikan bahwa saya punya kegemaran sampingan memotret bulan. Pendeknya, saya tertarik memperhatikan bagaimana wajah bulan berangsur-angsur berubah dari hari ke hari. Kalau kita perhatikan dengan seksama, sungguh masuk akal juga orang-orang menggunakan bulan untuk membantu penanggalan. Di antara benda-benda langit, bulan adalah yang paling tampak jelas perubahannya, dan sangat sistematis. Saya bahkan berani berargumen bahwa setiap orang, tak terkecuali ideologi maupun pendidikannya, harus bisa membaca bulan untuk tujuan mengenali waktu. Siapa tahu–amit-amit–terjadi kiamat zombie dan semua ponsel pintar kehabisan daya dan semua tanggalan habis disobek dan dimakan zombie… bagaimana kita bisa tahu kapan saatnya gajian kalau tidak bisa membaca bulan untuk menunjukkan sekarang tanggal berapa?

Nah, dalam postingan ini, saya ingin membagi potret bulan yang saya ambil beberapa saat sebelum matahai tenggelam pada petang sebelum hari raya Idul Adha. Untuk kemudahan penjudulan, sebut saja ini bulan tanggal 10 Dzulhijjah 1436H.

Bulan malam menjelang Idul Adha
Bulan malam menjelang Idul Adha

Purnama Tanggal 14 (plus Bonus)

Akhirnya, tibalah saatnya menampilkan foto purnama tanggal 14. Seperti Anda lihat, purnama terlihat sempurna bahkan sejak sore hari. Foto pertama saya ambil sekitar pukul 7.15 sore (seperti saya bilang di salah satu postingan sebelumnya, matahari tenggelam sekitar pukul 8 lebih sedikit hari-hari ini belahan bumi sebelah saya ini).

Saya masih harus memastikan nanti malam apakah purnama tanggal 14 itu berbeda dengan purnama tanggal 15. Mestinya, kalau saya ingin, tinggal google saja dan kita akan temukan jawabannya. Tapi ya… kita bayangkan saja kita ini orang yang mengamati bulan untuk pertama kalinya. Jadi, pengetahuan kita pun kita peroleh dengan sedikit demi sedikit. 🙂

Menurut kecurigaan awal saya, beginilah bedanya purnama tanggal 14 berbeda dengan tanggal 15: pada purnama tanggal 14, ada sedikit sekali bagian kiri bulan yang masih agak-agak gelap. Belum seluruh wajah bulan yang menghadap ke bumi mendapatkan sinar matahari. Saya curiga, pada tanggal 15, ada satu bagian di sebelah kanan bulan yang sudah agak-agak gelap, seperti proses menuju “waning gibbous” sudah berjalan.

Untuk bonus pertemuan kali ini, saya akan memperkenalkan dua fitur bulan yang saat ini mungkin sudah akrab bagi Anda sekalian: satu kawah besar di sebelah kanan (bagian yang warnanya terang) dan satu bercah putih terang di sebelah kiri (di bagian yang gelap, yang katanya orang Jawa mirip orang sedang tahiyat akhir :D). Kawah besar di bagian terang itu bernama Tycho dan kawah putih di bagian yang gelap itu dinamai Kopernikus.

Purnama tanggal 14 dengan bonus nama dua kawah besar.
Purnama tanggal 14 dengan bonus nama dua kawah besar.
Ah, purnama sore di atas daun-daun...
Ah, purnama sore di atas daun-daun…

Waxing Gibbous (Bulan Nyaris Purnama): Antara Astronomi dan Kiamat Zombie

Kali ini kita lihat bulan nyaris purnama atau “Waxing gibbous,” kira-kira tanggal 12-an lah (bulannya Rajab). Beberapa waktu yang lalu saya posting gambar mirip di bawah ini, yang saya sebutkan bulan lewat purnama atau “waning gibbous.” Sekilas memang mirip, tapi berbeda. “Waning gibbous” adalah bulan lewat purnama, sekitar tanggal 18-an kalender bulan. Pada “waning gibbous” wilayah terang bulan semakin berkurang. Sementara itu, “waxing gibbous” adalah salah satu fase di mana wilayah terang semakin bertambah, menuju purnama. Pada “waning gibbous” wilayah terang ada di sebelah kiri bulan, sementara pada “waxing gibbous” wilayah terang masih di sebelah kanan.

Btw, kenapa saya semakin intens saja mengamati perkembangan fase bulan dan potensinya untuk menunjukkan tanggal? Entahlah, kawan. Saya sendiri tidak punya jawaban pasti. Tapi, hanya perkiraan saja, sepertinya ini berhubungan dengan ketakutan bawah sadar saya akan terjadinya … kiamat zombie (zombie apocalypse!), ketika tidak ada lagi sumber listrik dan semua jam serta kalender yang butuh listrik tidak akan lagi bekerja, dan kita hanya bisa mengandalkan kepada bulan untuk menujukkan bergantinya hari… 😛

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Sabit Awal Bulan Rajab

Sebagaimana pernah saya blogkan beberapa bulan berselang, sabit awal bulan ditandai dengan letak bagian terangnya yang ada di bagian kanan bulan. Di bawah ini adalah contohnya. Menurut kalender Islam ini adalah tanggal 3 (bulan Rajab). Tetapi, menurut Ilmu Astronomi secara umum, ini adalah tanggal 4. Kenapa berbeda? Menurut Ilmu Astronomi, bulan baru (yang bisa dimaknai, tentu saja, sebagai awal bulan komariyah baru) terjadi saat bulan tidak terlihat sama sekali. Itulah tanggal satu menurut Ilmu Astronomi. Lain halnya menurut tradisi Islam: tanggal satu setiap bulannya jatuh ketika bulan sabit tipis terlihat di atas cakrawala (sebelum dan setelah senja). Makanya satu Syawal secara tradisional diputuskan setelah bulan sabit terlihat pada petang (pas setelah) akhir bulan Ramadan.

Demikian pelajaran Astronomi hari ini. Semoga saya tetap ingat.

Sekadar info, pada awal-awal bulan komariyah, bulan (sabit) ini terlihat hanya sebentar saja sekitar satu dua jam setelah matahari terbenam. Tak lama setelah isya biasanya bulan sudah tenggelam (di Barat juga lho :D).

Sabit awal Rajab
Sabit awal Rajab

Bulan Seperempat Awal atau Perbani Awal

Belum lama ini, saat berjalan pulang dari sekolah, anak saya cerita kalau paginya di kelas dia belajar tentang fase bulan. Dia sebutkan beberapa fase bulan, “crescent” (sabit), “gibbous” (bulan bungkuk atau lebih dari separuh), “first quarter” (seperempat awal) dan purnama. Karena penasaran, akhirnya saya carilah sendiri di internet. Ternyata, dalam bahasa Inggris, fase-fase bulan itu sangat baku dan rata-rata orang tahu.

Di bawah ini adalah gambar bulan Seperempat Awal. Memang bulannya separuh, tapi sebenarnya ini menandakan perempat bulan pertama dalam penanggalan komariah (bulan). Bagaimana kita tahu kalau ini seperempat awal, dan bukan seperempat akhir? Sederhana: perkembangan bulan itu berjalan dari sebelah kanan. Bulan sabit tanggal pertama (yg dalam astronomi sebenarnya bukan bulan baru, tapi bulan baru + 1) adalah sabit yg ada di sebelah kanan. Kian hari bagian kanan ini semakin menebal. Pada tanggal 8 bulan komariah, yg kita lihat adalah seperti pada foto ini. Setelah tanggal 15 atau bulan purnama, bagian kanan bulan berangsur-angsur pudar dan akhirnya menyisakan bulan sabit di sebelah kiri pada akhir bulan.

Btw, arah dari kanan ke kirinya seperti cara tulis aksara Arab (dan Ibrani), kan? Apakah ada hubungannya kenapa bangsa Semitik menulis dari sebelah kanan? Entah. Tapi asyik saja hubungannya… 🙂

Bulan seperempat awal
Bulan seperempat awal dipotret dari balkon belakang rumah. Hari ini bulan terbit pukul 12 siang dan tenggelam sekitar tengah malam.