Puji Tuhan untuk Pom Bensin: Tunawisma & Toilet Pom Bensin

Sejak awal, ada satu hal yang paling menarik terkait “road trip” atau perjalanan naik mobil lintas negara bagian: pom bensin. Saya sempat menuliskan tentang ini di sini. Kali ini, saya ingin cerita tentang satu episode pom bensin yang membuat saya sempat terpikir betapa bergunanya pom bensin.

Sekadar menginformasikan, pom bensin di negeri Aa’ Sam relatif seragam: 1) ada pompa bahan bakar (tentu!), 2) ada tempat sampah, 3) ada ember yang berisi air pembersih kaca mobil dengan lap penyeka dan pengering (buat kita-kita yang ingin membersihkan kaca mobil), 4) ada swalayan kecil, 5) di dalam swalayan kecil ada dijual kopi dan teh dari mesin penyeduh, dan 6) di swalayan itu ada kamar kecil yang nyaman. Kalau sedang beruntung, di dinding dalam kamar kecil itu ada mesin penjual kondom yang bisa memberi kita kondom berbagai tekstur dan citarasa seharga cuma 75 sen per potong. Ini info saja.

Dalam postingan yang saya tautkan di atas, saya menceritakan bahwa suka mampir ke pom bensin karena berbagai macam “hiburan” yang ditawarkan. Tapi, dalam kesempatan ini, saya ingin menceritakan bagaimana kamar kecil pom bensin ini merupakan tempat yang juga “membantu” kelangsungan hidup para tunawisma.

Sepulang dari silaturahmi ke rumah seorang kawan di sebuah kota kecil di Missouri, kami harus mampir ke pom bensin karena harus wudlu dan beli air minum. Saya dan anak saya langsung menuju ke kamar kecil, yang sayangnya sedang terkunci. Ada orang di dalam. Saya memutuskan untuk menunggu saja karena tidak mau mengganggu orang yang mungkin sedang berkonsentrasi dengan keras di dalam sana.

Setelah sekitar lebih dari lima menit berdiri, seorang lelaki empat puluh tahunan berseragam kemeja merah menghampiri saya. Dia pramuniaga toko yang mungkin sedari tadi memperhatikan saya menunggu di depan kamar mandi:

“Orangnya belum keluar ya?”

“Iya, Pak,” jawab saya. “Saya santai kok.”

Si pramuniaga tampak kesal sambil mengusap konter tempat termos-termos kopi dan es serut rasa pisang stroberi. Setelah selesai membersihkan konter dengan kilat memakai lap kertas, dia segera menuju pintu kamar mandi. Dia ketok pintunya tiga kali dengan cukup keras.

“Tunggu sebentar ya, Dik?” kata si pramuniaga kepada saya.

“Terima kasih, Pak.”

Tak berapa lama kemudian terbukalah pintu kamar mandi. Anak saya sudah girang dan bersiap masuk, tapi saya tahan. Kemudian keluarlah lelaki tua umur lima puluhan tahun (atau bahkan nyaris enam puluhan). Bajunya terlihat kusam. Rambutnya beruban ikal dan agak jarang. Wajahnya tampak gabungan antara basah dan berminyak. Dia membawa gembolan seperti tas plastik besar. Dari tampilannya, sepertinya dia tunawisma.

Saya segera masuk ke kamar mandi dan tampaklah lantainya seperti baru saja dipel. Masih basah tapi sudah siap untuk kering. Dan bersih. Ada aroma sabun pembersih tangan rasa stroberi yang cukup harum–mungkin seperti itu baunya kalau Spongebob dan Patrick bermain gelembung sabun di kamar mandi di negeri berandal dalam The Spongebob Squarepants Movie. Saya menduga bapak tunawisma itu baru saja membilas badan atau bahkan mandi di kamar kecil ini.

Mungkin itulah yang membuat si pramuniaga kesal. Mungkin saja tunawisma itu sudah terbiasa mandi di sini pada saat-saat tertentu.

Mungkin saja dia tidak sadar betapa fasilitas yang ditujukan untuk kenyamanan pelanggan itu juga bermanfaat buat orang lain. Yang lebih membutuhkan.

Advertisements

Pingin Lebih Bahagia Hari Ini?

Tiga orang mahasiswi meninggalkan gedung Student Union di kampus Universitas Negeri Amerika Sebelah Sini. Mereka berpakaian musim panas, T-shirt warna-warna pastel dan celana pendek longgar. Gadis yang tengah, berambut coklat, mulai mengenakan kacamata hitam, ketika di depannya melintas seorang polisi kampus memegang tali kekang anjing labrador K9–lebih tepatnya memegang tali leher opsir polisi K9.*

Mahasiswi berambut coklat melirik opsir K9 yang berjalan cuek tapi penuh kasih, khas labrador. Bapak polisi yang melihat si mahasiswi rambut coklat melirik opsir K9 langsung melambatkan langkah.

“Apa kabar?”

“Baik, Pak,” kata para mahasiswi itu dengan agak bervariasi.

“Pingin lebih bahagia hari ini?”

“Tentu,” kata para mahasiswi serempak.

“Oakley, ayo,” katanya kepada opsir K9.

Oakley, opsir labrador itu, cuek-cuek saja. Dia seperti malu-malu.

“Ayo, Oakley, jangan malu-malu,” kata pak polisi.

Para mahasiswi itu mulai mendekat dan menggaruk-garuk leher Oakley. Oakley sendiri agak malu-malu tapi akhirnya merespons dengan kebahagiaan yang agak ditahan-tahan.

“Mungkin dia tahu sekarang, kan, jam kerja buat dia,” kata pak polisi.

Catatan:
* Anjing K9 adalah termasuk anggota kepolisian yang statusnya sama seperti seorang opsir manusia.

(Review) Osama Van Halen

Osama Van Halen is not the kind of novel that presents a “world” one can enjoy as a microcosm. Several times, it stops short just before it creates a solid narrative of certain topics. However, this tendency is consistent with the sufistic spirit of self-effacement that the narrator keeps mentioning in the novel. In the first life action part of the novle, Amazing Ayyub initially joins force with Rabeya (both are main characters in Michael Muhammad Knight’s first novel The Taqwacores) in kidnapping Matt Damon and to send a message to Hollywood not to vilify Muslims anymore in their production. Yes, Amazing Ayyub realizes the irony in demanding Hollywood to stop depicting Muslims as terrorists by committing an act of terrorism (kidnapping one of the most expensive Hollywood assets). However, this action is interrupted as Amazing Ayyub gets distracted by the emergence of a Muslim pop-punk group Shah 79 (remember Blink 182 and Sum 41 here).

However, I think it’s also fair to say that the solidity of this novel comes from a series of small adventures: Ayyub encountering a Shi’ite Heavy Metal band preparing themselves for an apocalyptic mission to fight Dajjal, Ayyub finding a mosque overrun by zombies created by one of the most prominent Muslim figures in the U.S., Ayyub joining a nascent taqwacore band that fails gracefully, and so on.

In brief, you come to this novel with the expectation of finding an uninterrupted story like Knight’s first novel, then this novel won’t quench your thirst. However, if you are more interested in the issues of Islam in America, especially those related to the non-conservative views of Islam that are open to alternatives even to the moderate, liberal, or progressive Muslims, then this book might be a good thinking exercise. If you come to this novel with a sound but intolerant view of what a good novel should be, then you will flip out every other chapter. But, if you are open to the possibility of forms in novel, or if you believe that novel is still an evolving genre that welcomes any conceivable innovations, then Osama Van Halen might offer an exhilarating read.

From my readings (I’ve read it twice), there are a number of themes that this novel explores in various intensity: the idea of progressive Islam, the cooptation of subculture into the entertainment industry, the vilification of Muslims in Hollywood, the spread of conservatism, the objectification of women (even by the author himself), the issues related to white Muslim converts, race relation, postmodernity both in Islam and in literature, etc.

I’m not comfortable using big words, merely because what Amazing Ayyub does to a character of an Islamic Studies graduate student in the novel who keeps blurting out big words and social theory lingo … I’m just not comfortable doing this… 😀

From Today’s Edition of Interfaith America

I ran into a young man on the stairs as I was descending to the library lobby. I smiled as usual, and he smiled back. I kept descending a few steps.

Man: Excuse me, Sir.

Me: Yes.

Man: Hi, my name’s James.

Me: I’m Misdi.

Man: Mmhh. I’m a Christian. Are you a Christian?

Me: No. I’m a Muslim.

Man: Did you pray back there? I saw you bow your head and close your eyes before studying.

Me: Well, actually no. I was sleepy.

Man: Oh, I see.

Me: I do pray, though, but not before studying. Sometimes before eating.

Man: I see. Well. Anyways, Merry Christmas!

Me: Merry Christmas!

I continued descending the the stairs, and I remembered two days before my wife had told me to recite “Rabbi zidni ilma…” before studying. I guess James was just somebody God sent to remind me to say hi to Him/Her/It before I start studying.

(Review) Night Journey by Murad Kalam

With such a title, this book can bring a lot of things into mind. Combined with the Arabic sounding name, Murad Kalam (born Godffrey Williams), this book can easily refer to the journey undertaken by Prophet Muhammad to have an audience the Divine to receive firsthand the command to pray five times a day. But no, this book is far from that–although probably yes in spirit.

It narrates the life of Eddie Bloodpath (what a Hollywood name! like a real Heavy metal band name). Growing up in the poor part of Phoenix in an underprivileged family, Eddie is familiar with rough life since very young. In his mid/late teens, he finds his calling in boxing. For a time, this book is similar to any powerful contemporary Africa-American literature the likes of Ralph Ellison’s Invisible Man or Richard Wright’s Native Son. There is, however, a significant portion of the story that feels different from those giant books: a section about Eddie’s involvement with the Nation of Islam, which introduces him to dignity, discipline, and sense of direction. Interestingly, the book does not end with this. As pointed out by a critic, the book successfully saves Eddie from being a mouthpiece of such ideology. Life goes on for Eddie with a unique turn, shaping him from a boy who is shocked into muteness by his father’s flight into a young man capable of deciding things for himself, although nobody will know what life has in store for Eddie.

By the way, for those interested in the spiritual/religious aspect of Muslim American literature, the Nation of Islam and the post-Nation of Islam part is an interesting take. I don’t think I’ve seen any late 20th century and early 21th century African American literature that talks about NOI in this manner. And, as is common in Muslim American literature, there’s also some critique of the religion/religious practice that any Muslim American can value…

So, why is it called Night Journey? I’m still not sure. Probably because a lot of the thinking process happens during night travels? Probably because to reach some kind of light one has to go through a night journey? Because Eddie’s journey is dark but still promises hope of some sort?

(Resensi) Journey into America: The Challenge of Islam

Beberapa hari ini, perhatian saya benar-benar terkuras membaca buku yang sangat menarik ini. Berikut resensi saya untuk Goodreads:

Written as an account of an anthropological excursion into Muslim communities in the United States, this book makes a clear and useful connection between the study of Islam in America and the reality of American identity (actually identities). The book opens with the author’s identification of the three American identities, which, according to the author’s interpretation, started with the Plymouth Rock: primordial identity, pluralist identity, and predator identity. Throughout the book, the author presents the results of his cross-country excursion into Muslim and non-Muslim communities in the United States with the help of a couple of research assistants.

Guided by the three American identities mentioned earlier, the author narrates and analyzes the views of Americans both Muslims and non-Muslims as well with regards to identity, the role of Plymouth Rock, and the position of Muslims in the United States. With rigorous anthropological research methodology, which include in-depth interviews and questionnaires, involving over 1000 subjects, the author claims that the study that he and his team have conducted is bigger and promises to give a better picture of the subject at hands compared to surveys conducted by the likes of Gallup Poll and Pew Research Center.

In my opinion, this book is a must-read text for those interested in studying contemporary America and especially those interested in studying Islam in America. This book covers areas that have not been studied extensively, such as the relations between immigrant Muslims and the indigenous Muslims in the United States, i.e. the African American Muslims. Also, as it does an in-depth study on the Muslim identity in the United States, it keeps returning to the three models of American identities, giving the study a constant connection to the larger picture of American identity.

What might make this book different than others on the same shelf in bookstores is that this book is written by a Pakistani anthropologist who is not even an immigrant in the United States. However, as a frequent visiting scholar in the United States and a scholar who has spent over a decade in the United Kingdom, Akbar Ahmed is not unfamiliar with the issue of Islam in the West. His earlier work was a book called A Journey into Islam, written after an excursion into the Muslim world conducted with the same team.

Ketakutan Kultural Kepada Anjing

Sebut saja rasa ogah kita kepada anjing sebagai “ketakutan kultural.” Yang saya maksud dengan “kita” di sini adalah kaum Muslim Indonesia selain yang tinggal di kawasan pedesaan atau perkebunan yang sehari-hari akrab dengan anjing sebagai teman pembantu kerja. Buat kita-kita ini, anjing termasuk binatang yang bermasalah karena kita punya anggapan bahwa: 1) air liurnya najis sehingga butuh cara-cara khusus untuk membersihkan anggota badan atau barang kita yang terkena liur anjing, 2) anjing cenderung buas dan besar kemungkinannya menggigit kita, 3) anjing peliharaan adalah binatang yang tugasnya melindungi dan menjadi pemiliknya dan properti pemiliknya. Dampak dari “permasalahan” yang disebabkan anjing ini adalah: kita jadi enggan dekat-dekat anjing. Seringkali kita takut digigit atau dijilat. Banyak yang mengaku tidak takut digigit tapi malas kalau kena jilat.

Bahayanya, sikap seperti itu akhirnya berdampak negatif juga terhadap cara pandang kita terhadap anjing. Setiap melihat anjing–hewan yang tidak kita kenal dan cenderung kita jauhi–kita cenderung beranggapan bahwa dia buas dan ingin menggigit kita. Dan, kalau kebetulan kita ketemu anjing yang tidak buas, kita cenderung beranggapan bahwa anjing itu “haus” menjilat kita. Kita cenderung syu’udzon kepada anjing. Sikap selalu syu’udzon, kalau Anda percaya hikmah yang diajarkan agama Islam, adalah sebuah masalah. Padahal, anjing adalah hewat yang sudah sejak lama didomestikasi manusia dan mungkin kedekatannya dengan kecenderungan manusia jauh melebihi pengharapan kita.

Padahal, kalau kita memperhatikan anjing lebih dari sekadar tajam taringnya, ada yang lebih: lapis-lapis emosi. Anjing, seperti halnya manusia, cenderung menunjukkan apresiasi apabila kita memberinya hadiah, baik itu hadiah berupa makanan maupun hadiah berupa perlakuan manis, misalnya digaruk-garuk perutnya. Dia suka menggulung-gulung dan membalik badan–mungkin minta digaruk. Kadang, dia langsung menyalak-nyalak dan bersiapa–menggeram-geram–bila ada bahaya, misalnya ada ular mendekat ke rumah kita atau ketika ada binatang buas lewat depan rumah kita. Nah, emosi-emosi ini tidak akan pernah kita ketahui bila kita hanya percaya bahwa anjing akan menggigit (atau menjilat) kita saja, kalau kita percaya bahwa anjing (tak peduli apapun jenis dan pekerjaannya) adalah binatang buas yang memang buas.

Jadi, saudara-saudara, sebagai mantan orang yang pernak terjerembab dalam ketakutan kultural kepada anjing, saya ingin mengajak teman-teman semua untuk menghilangkan rasa takut, benci, dan syu’udzon kepada anjing. Kenapa?

Karena:

  1. kalau pun toh tidak suka najisnya, kan bisa dibersihkan…
  2. katanya orang Islam hanya takut kepada Allah, kenapa sekarang takut anjing?
  3. insya allah hidup kita lebih tenang jika tidak dipenuhi dengan syu’udzon atau pikiran negatif bahwa anjing itu selalu pingin gigit kita. Padahal, mungkin saja dia mau ngemut kita 😀
  4. kalau Anda jijik dengan liur anjing, coba diingat-ingat, siapa yang menciptakan anjing? Iya, kalau Anda orang beragama, tentu Anda akan menjawab bahwa sang Maha Pencipta adalah penciptanya. Terus, apa berani Anda menghina sebuah karya seni di depan senimannya? Padahal, katanya Tuhan selalu bersama dengan kita, lebih dekat dari urat nadi kita, kan? Berarti kalau kita jijik sama anjing… pasti Beliau tahu, kan?

Saya sih memilih, mengikuti anjuran Pancasila Sila Ke-5 Butir ke-10, untuk “menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat,” dan anjing adalah makhluk yang bermanfaat–meskipun penciptanya bukan orang. 😀

Eh, sebentar, jangan-jangan tidak ada Muslim Indonesia yang seperti saya gambarkan itu. Jangan-jangan tidak ada orang Muslim Indonesia yang takut, benci, jijik, dan anti kepada anjing seperti saya gambarkan itu. Semoga saja. Yang saya tahu pasti: beberapa tahun lalu ada orang Indonesia yang seperti itu, yang gara-gara dikejar tiga anjing di satu dini hari ketika salah masuk ke pekarangan orang di Bali dia langsung menganggap semua anjing itu buas, ganas, liurnya najis dan menjijikka, dan tidak ada perlunya berbaik-baik dengan mereka.

Ya, beberapa tahun yang lalu ada orang Indonesia seperti itu. Dan, alhamdulillah, dia sekarang sudah bertaubat dari kecenderungan menilai anjing berdasarkan stereotipe seperti itu, bertaubat dari kecenderungan mendiskriminasi anjing seperti itu. Alhamdulillah, akhirnya dia berani mengakuinya dan akhirnya menuliskan sebuah postingan blog. Untuk Anda sekalian, orang-orang yang dikasihinya.

Liberty
Perkenalkan, ini dia Liberty: seekor anjing blasteran Anatolia dan Pyrenees. Dia diadopsi seorang kawan yang tinggal di sebuah kawasan pertanian di pedesaan Arkansas. Di sini terlihat Liberty sedang menggigit sepotong daging kurban. Ketika teman-teman menyembelih sapi kurban dan membagi-bagi dagingnya, Liberty tampak mendekat dan mengharap belas kasihan. Tapi dia selalu menyingkir kalau kami larang. Akhirnya, suatu kali kucing kawan saya itu mendekat terus dan ingin memakan jeroan, paru. Karena si kucing sepertinya tidak bisa diperingatkan, akhirnya kami beri si kucing sepotong lemak. Nah, sepertinya itu membikin Liberty merasa iri dan kembali merengek-rengek minta diberi. Akhirnya, kami pun mulai memberikan lemak ke Liberty dan Mitten, nama kucing itu. Beberapa kali kami memberinya lemak, dan dia terus menerima. Di satu kesempatan, akhirnya seorang kawan memberinya sepotong daging. Di sini dia terlihat menjauh dari kawasan penyembelihan sambil menggigit daging hadiah itu.

Hikmah Lebaran versi Spongebob: Menghadapi Perbedaan secara Optimis dan Dialektis

Di pagi lebaran ini, berkah yang pertama saya dan keluarga rasakan adalah kebersamaan dan sarapan di rumah pasangan Suhartono-Wiwit tepat setelah sholat Ied di masjid. Sambil makan lontong sayur, sambel goreng, rendang, dll, kami nonton Spongebob di TV. Tentu ini sangat berbeda secara paradigmatis dengan lebaran di kampung halaman belasan tahun yang lalu, ketika saya dan keluarga berlebaran sambil nonton Srimulat selama dua hari non-stop. Spongebob sendiri di banyak kalangan sudah mendapat stigma negatif, konon karena bahasanya. Tapi, kalau kita benar-benar mau menginvestasikan waktu di depan TV, nonton Spongebob, dan berupaya mengambil hikmahnya, ternyata Spongebob juga bisa sangat berarti. Di Spongebob yang kami tonton tadi, hikmahnya sangat relevan dengan kehidupan kami para Muslim di Amerika: kita perlu bijak dan dialektis dalam menyikapi perbedaan.

Dalam episode “The Legend of the Yeti Krabs” yang kami tonton tadi, Mr. Krab mengisahkan bahwa ada makhluk familia kepiting bernama Yeti Krab yang kerjanya adalah memakan karyawan pemalas. Seperti biasa, Spongebob si optimis menyambut positif kisah tersebut sebagai suatu informasi berharga yang harus selalu diingat. Squidward si pesimis menganggap dongeng itu sekadar isapan jempol. Maka, ketika datang sosok legendaris Yeti Krab di Krusty Krab, Spongebob pun bekerja giat menyiapkan makanan yang jorok-jorok. Pikir Spongebob, makhluk buas dan mengerikan pasti suka makanan yang jorok-jorok. Squidward, di lain pihak, langsung berprasangka negatif bahwa Yeti Krab ini sebenarnya adalah Mr. Krab yang menyamar dengan memakai wig; karena itu, Squidward menolak melayani si Yeti dan berupaya keras membuktikan bahwa monster itu adalah Mr. Krab.

Setelah disajikan berbagai hidangan (yang jorok-jorok), tetap saja nafsu makan si Yeti Krab tak terpuaskan dan kian buas. Upaya Squidward membuktikan kepalsuan Yeti Krab juga gagal total–malah belakangan terbukti bahwa Yeti Krab itu makhluk orisinil. Yeti Krab yg nafsu makannya ganas itu pun akhirnya memanggang Spongebob, Squidward, dan Mr. Krab. Mr. Krab putus asa. Squidward yang awalnya pesimis sekarang meningkat jadi apatis dan siap jadi gurita panggang (Squidward itu gurita apa cumi2 sih? Namanya “squid” tapi bentuknya gurita!). Tapi, Spongebob tetap optimis dan …

Spongebob tetap memutar otaknya (yg di film Sponge Out of the Water ternyata isinya cuman kebahagian, es krim, gulali kapas, permen jahe dll). Dia mati-matian mencoba memahami apa kira-kira yang sebenarnya diinginkan Yeti Krab. Akhirnya, ketemulah jawabannya, ketika dia mendengar suara kemeriuk dari perut Yeti Krab. Dialog berikut ini yang paling penting disoroti (tentu saya kutip seingat saya saja):

Spongebob: (Berkata kpd Squidward dan Mr. Krab) Did you hear that?

Squidward: What? I can hear the sound of my meat sizzling on the stove.

Spongebob: No. I heard a hungry customer! He’s hungry.

Akhirnya Spongebob mengeluarkan sekaleng Krabby Patties cadangan untuk keadaan darurat. Dia goreng pattie tersebut (di kompor yang juga dipakai untuk memanggang dirinya) dan menyiapkannya secara akrobatik untuk disantap Yeti Krab. Si Yeti Krab pun makan dan langsung bahagia. Dan, seperti orang yang tahu hak-hak dan kewajibannya di masyarakat kapitalis ala Bikini Bottom, dia pun menyodorkan uang kepada Mr. Krab atas hidangan yang lezat itu. Ah, ternyata masalahnya sangat sepele: Semua orang menyalahartikan si Yeti Krab. Yang disangkanya makhluk buas tak kenal budi itu ternyata cuma seseorang yang nafsu makannya besar dan berasal dari budaya berbeda.

Dalam episode ini, Spongebob yang sekilas hanya tampak optimis, berpikiran baik, dan seringkali naif itu ternyata menunjukkan karakteristik dari apa yang disebut dengan pemikir dialektis. Seorang pemikir dialektis tidak buru-buru menghakimi sesuatu yang baru dan berbeda dengan standar yang biasa dia pakai sehari-hari. Dia menyelami fenomena (atau permasalahan) untuk menemukan sistem yang bekerja di sana. Setelah mengetahui seluk beluk fenomena atau permasalahan, baru dia bisa memutuskan langkah apa yang harus diambil terkait hal tersebut. Spongebob pada awalnya mengira si Yeti suka yang jorok-jorok (tentu di sini Spongebob khilaf, terbawa kenaifan dan stigma negatif tentang Yeti Krab yang terbentuk di masyarakat). Tapi, menjelang akhir cerita, dia tahu bahwa si Yeti sebenarnya hanyalah makhluk yang lapar dan belum terpuaskan nafsu makannya karena belum ada yang benar-benar tahu apa yang dia minta.

Saya jadi ingat ucapan boss saya di tempat kerja. Kepada mahasiswa internasional yang datang pertama kalinya di Amerika Serikat, boss saya suka berpesan: “Saat pertama kalinya menemukan sesuatu atau tata cara yang berbeda dengan kita, tidak semestinya kita menghakiminya sebagai baik atau jelek. Mereka cuma berbeda.” Ada kebenaran dalam pernyataan ini, saya akui, meskipun secara pribadi, saya tidak benar-benar setuju dengan sikap yang relativis secara absolut, hingga seolah-olah tidak ada lagi yang bisa dijadikan pegangan. Saya masih percaya ada yang secara hakiki baik dan buruk, yang hitam dan yang putih. Tapi tidak banyak hal yang semacam itu. Pada kenyataannya, jauuuuuuuuh lebih banyak hal di dunia ini yang yang sebenarnya berada di antara yang hitam dan yang putih itu. Di situlah kita jadi harus berjuang tanpa henti untuk berpikir dialektis, mencoba berupaya keras untuk memahami sesuatu, berulang-ulang, terus-menerus, sebelum akhirnya mengambil sikap. Dan sikap yang kita ambil pun harus terus-menerus kita evaluasi. Karena toh kita pun juga sebenarnya berada di antara yang hitam dan yang putih, mengandung hitam dan putih. Apa-apa yang kita putuskan sulit dilepaskan dari jerat kepentingan.

Demikianlah hikmah Spongebob hari ini. Sebagai Muslim yang sedang hidup sebagai minoritas, mungkin kami seringkali jadi sasaran stereotipe dan stigmatisasi. Kami ini Yeti Krab-nya Amerika. Mungkin. Tapi, kelak, kebanyakan dari kami Yeti Krab ini pulang ke Indonesia. Pada saat itu nanti, kami yang Muslim pada akhirnya akan kembali hidup melebur kembali ke dalam mayoritas. Dan di situlah kami para mantan Yeti Krab ini memiliki tanggung jawab: kami jadi harus lebih bisa memahami minoritas yang berbeda dengan kami. Kalau kami masih akan tetap seperti Squidward menghadapi Yeti Krab, mungkin itu artinya kita masih belum cukup mengambil hikmah dari pengalaman kami menjadi Yeti Krab. Jadi ingat kata Sokrates: An unexamined life is a wasted life.

The Unconflicted Relation between Science and Religion as Bones Shows Us

Religiosity and science are, in the Western views, contradictory. We can see see this from the many occurrences where the Church teaches one thing and science proves another, which in the Medieval era led to the inquisition of this scientist. The theory of evolution also started an important stage in the conflict between religion and science. The theory that human came into being through a long process of evolution is against what religion teaches, that is, human was created by God from dust. Many other areas of conflict between religion and science are apparent these days as well, including the creation of the universe which, according to religion (particularly the self-proclaimed “Creationist”), took place in six days and, according to the most acceptable theory in science, took place billions of years starting with a big bang. In the face of this conflict, it has become acceptable that religion is for the simple-minded group that believes in superstitions and myths.

This conflict, however, does not really exist in the same intensity in the history of Islam and the cultures of Muslims. The medieval history is peppered with prominent Muslim scientists whose work eventually found their ways to Europe and paved the way to the Renaissance. For Muslims, some of whom believing that the Quran is on a certain level should be read figuratively, religion does not set the limit to one’s knowledge of the world. There is also a famous prophetic Tradition in which the Prophet Mohammad says “Seek knowledge, even if you have to go to China (which was then the farthest known land from the Arabia).” Muslim scientists, during the early centuries of Islam, sought knowledge unbound by any notion of limit to human knowledge. Medicine, astronomy, and maths were among the most popular sciences for the Medieval Muslims. To this day, in Muslim societies, many scientists are devout practicing Muslims. The Muslims accept God’s existence, God’s role in the creation of the universe, and the contents of the Quran as a reality that is unchallenged in the face of new scientific findings.

This phenomenon, hard to grasp as it is in the Western context, is portrayed in the TV Series Bones, although with a different emphasis, in the person of Arastoo Vasiri. When Arastoo Vasiri (Pej Vahdat) appears for the first time in the TV series, he is pictured praying in the laboratory, thus presented as a devout Muslim. As he speaks (“Salt in the Wounds” episode), we find that he has an accent, that we can safely assume to be the accent of someone from the Middle East. Later in the TV series, after his colleagues find out that he actually doesn’t have an accent has grown up in the United States, his colleagues engage him in a conversation about the unusual combination of his profession and passion as a scientist and his devout religiosity. The unusual absence (or at least little known) conflict between Islam and science that I set out above manifests in his friends questions:

HODGINS: How do you balance an archaic religious belief with a life devoted to science?
ARASTOO: This discussion is exactly what I hoped to avoid.
CAM: It’s not our fault you let the accent slip.
ARASTOO: There’s no conflict between Allah and science. Allah created the mystery of the world, and science struggles, and mostly fails, to explain it. But the search for truth is honorable, and I honor Allah through the search for truth.
HODGINS: I get that. But what’s with the “Kill the infidel” routine?
ARASTOO: It’s times like this I wish I drank alcohol.
ANGELA: Well, “Fight and slay the unbeliever.”
ARASTOO: I prefer the other option, which is to enslave the unbeliever. (CAM and ANGELA look shocked). It’s a joke.
CAM: Ha.
HODGINS: That was funny.

It appears here that what is more interesting to explore for the TV series (or its creator) is what such conflict (or the absence thereof) between religion and science does to American Muslims. To avoid being a target of scrutiny for being an “odd American scientist,” Arastoo decided to use an accent. Considering his facial features (as an Iranian), the accent makes him easily pass for a new immigrant. And as a new immigrant, he reserves the right to be seen as a person who “clings to his cultural superstitions.” This is revealed in the conversation between Arastoo and Sweets the psychologist:

SWEETS: Yeah, the whole accent thing – it’s kind of out in the world.
ARASTOO: (Reverts to American accent). I figured.
SWEETS: This place, the Jeffersonian – they see things in very black-and-white terms.
ARASTOO: Comes with the gig. We’re scientists.
SWEETS: Yeah, but unlike any of them, you’re religious.
ARASTOO: Muslim.
SWEETS: Now, this man I see in front of me right now – rational, pragmatic, highly intelligent. That man might have to explain his religion to people like that every single day. Whereas…
ARASTOO: Whereas a kid from the sticks of Iran, newly arrived in the West, it’s no wonder he clings to his cultural superstitions.
SWEETS: There you go. Frustrating enough to drive a guy to fake an accent. Which, in my professional opinion, is not crazy.
ARASTOO: You’re a pretty smart guy.
SWEETS: But I don’t need a scientist to tell me who or what I am. And neither should you, Mr. Vaziri. Thanks for coming by.
ARASTOO: Thank you. (They stand and shake hands).

From this, we can see that the Muslims, at least one in this TV Series, are aware of the apparent difference in the way religious people across religions see the relationship between religion and science.

(Resensi) If I Should Speak karya Umm Zakiyyah

Berikut ini adalah blogisasi dari serentetan twit saya tentang novel If I Should Speak karya Umm Zakiyyah yang cukup populer di kalangan tertentu di antara para Muslim Amerika:

Tiba saatnya nulis catatan untuk novel If I Should Speak karya Umm Zakiyyah (aka Ruby Moore). Novel ini sukses dan cukup dihormati. Novel berkisah ttg 3 mhasiswi yg berbagi aprtmen: 1 kristen dan 2 muslim (1 hijabi taat dan 1 “longgar”). Diskusi lintas agama sgt kental. Argumen saya: tema Islam relatif aman2 saja tapi eksplorasi tema dan karakter cukup bernuansa dan “dialogis/novelistis” (scr Bakhtinian).

Si mahasiswi Kristen taat (afro-amerika) kena masalah krn rasisme dan kemalasan mantan teman sekamarnya (kulit putih). Lihat roommate barunya sholat, dia tertarik & tergerak utk nulis ttg Islam (dlm kelas world religion). Buntutnya: konflik spiritual. Saat wawancara roommate-nya, dia mulai banding2kan spiritualitas si Muslim dan spiritualitas keluarganya sendiri yg sangat taat. Pemahaman awalnya tentang Islam (yg sekadar opresif thd perempuan dan teroris) pun berubah sedikit demi sedikit.

Menurut Bakhtin, sastra pasca-epik memiliki kualitas yg dia sebut “kenovelan” atau “kebaruan” (atau “novelistis”) yg dicirikan dg adanya berbagai suara, berbeda dg epik di mn hanya ada satu kebenaran (pengagungan pahlawan/bangsa). Sastra pasca-epik memberi suara kpd berbagai versi kebenaran (meski srkl ujungnya mendukung 1 kebenaran trtentu). Tp,plg tidak, ada usaha mewakili berbagai kebenaran. Novel, mnrt Bakhtin, adalah jenre sastra yg paling “novelistis” (yg plg bukan epik). Maka, saat novel yg dahsyat adalah novel yg menggunakan segenap potensinya utk mengeksplorasi bbg kebenaran (mis. Dostoevsky, yg Kristiani tp ampuh mengeksplorasi penyimpangan2).

If I Should Speak menggunakan potensi ini dlm mengeksplorasi kebenaran versi Kristen dan Islam. Tdk cuma itu, novel ini jg melihat dr sudut pandang “muslim longgar” (lapsed muslim) dan “muslim ekstrimis.” Masing2 mendapatkan suaranya. Yg kontraproduktif thd “dialogisme” novel ini adalah, sayangnya, adanya satu keputusan akhir yg terasa sangat menyodorkan 1 kebenaran.

Bagaimanapun, utk konteks Amerika, di mana landasan budaya Islami blm benar2 terbangun, novel ini bs menyumbang dlm konteks pedagogi. Dan, dari perspektif pasca-9/11, di mana muslim sering menjadi sasaran sah xenophobia, novel ini bs dihargai sbg sastra perlawanan.

Dr sudut pandang sastra sbg bagian dr ilmu humaniora/liberal arts, sayangnya, novel ini “bertentangan” dg gagasan “novel” itu sendiri yg sejak awalnya adalah satu genre yg benar-benar sekuler, dilandasi spirit pemisahan antara gereja dan negara, umum dan pribadi. Makanya, akhir2 ini muncul kritikan yg memarjinalisasi karya sastra spt ini sbg “halal literature,” dlm konteks Indonesia: sastra Islami.

Sekian catatan hari ini. Semoga tidak lupa. Silakan baca dan nilai sendiri If I should Speak karya Umm Zakiyyah.