Menuju Pemahaman Literasi yang Lebih Relevan

(Postingan ini merupakan adaptasi dari materi workshop “Kupas Literasi, Tuntas Berkreasi” yang diadakan oleh UKM El-Ma’rifah Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang pada 28 April 2018. Untuk mengunduh versi yang ramah cetak, silakan klik di sini.)

Satu gerakan yang semakin menggejala dewasa ini, tapi masih perlu diperluas lagi, adalah gerakan literasi. Kata yang secara umum dimaknai orang sebagai kemampuan membaca dan menulis[1] ini ternyata memiliki makna yang luas. KBBI sendiri sudah memiliki tiga makna untuk lema “literasi,” yaitu kemampuan baca-tulis, pengetahuan atau ketrampilan dalam bidang tertentu, dan kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup. Tampak di sini betapa kata “literasi” itu memiliki makna yang luas dan implikasinya jauh. Pertanyaannya sekarang, sudahkah kita memahami literasi lebih jauh dari sekadar pemahaman baca tulis saja?

Untuk segera masuk ke pembahasan mengenai literasi dengan makna yang luas tersebut, kita bisa langsung menengok dua model literasi yang karena pertentangannya bisa menunjukkan keluasan dari gagasan literasi. Kedua model literasi tersebut adalah literasi otonom dan literasi ideologis. Brian V. Street adalah orang yang telah berperan besar mempopulerkan pemahaman mengenai kedua model literasi itu. Dalam buku pegangan kajian literasi yang berjudul Literacy: An Advanced Resource Book, Street menguraikan asumsi-asumsi dasar kedua model literasi ini.  

Model literasi otonom merujuk kepada model yang menekankan kepada keahlian membaca, menulis, dan mengolah informasi secara kritis. Pola pengajaran literasi di lingkungan sekolah dan taman baca masyarakat yang menekankan pada penumbuhan minat dan budaya membaca pada umumnya termasuk ke dalam wilayah ini. Pengembangan kemampuan yang bersifat kognitif ini pada gilirannya tentu akan bermanfaat bagi pelakunya. Pengetahuan dan sikap kritis seorang akan meningkat, dan hal ini bisa diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan.

Namun, yang menjadi persoalan adalah bahwasanya tidak semua orang membutuhkan kemampuan baca-tulis dalam arti harfiah seperti ini. Banyak masyarakat di dunia yang masih menggunakan pola tutur oral dan proses transfer pengetahuannya juga terjadi secara oral. Bagi masyarakat-masyarakat tersebut, model literasi ini dianggap tidak tepat. Street sendiri menyebut model literasi ini khas Barat, dan tidak semestinya bisa begitu saja dipaksakan kepada masyarakat-masyarakat non-Barat.

Sementara itu, model literasi ideologis merujuk pada model yang lebih berakar pada kondisi subjek literasi. Model literasi ini memandang kegiatan literasi sebagai, meminjam kata-kata Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah dalam Suara dari Marjin, “praktik sosial dan merupakan produk dari ideologi yang berkembang di masyarakat.” Di sini, yang dimaksud sebagai kegiatan literasi tidak hanya berkaitan dengan peningkatan budaya baca, namun lebih ke peningkatan hajat hidup—yang pada prosesnya memanfaatkan penggunaan teks.

Dalam model literasi ideologis, sebuah kegiatan literasi tidak dimulai dari membaca dan menulis, tapi melalui identifikasi kondisi ideologis subjek literasi. Pelaku praktik literasi di sini mencari tahu kebutuhan, tujuan, dan persoalan para subjek literasi. Dari sana, para pelaku menyusun langkah-langkah yang melibatkan teks (baik oral maupun lisan) yang dapat digunakan untuk membantu para subjek literasi dalam meningkatkan kondisi mereka.

Terkait model literasi ideologis ini, ada dua istilah yang perlu dijadikan pegangan, yaitu “peristiwa literasi” dan “praktik literasi.” Peristiwa literasi berarti segala aktivitas yang melibatkan penggunaan teks (sekali lagi, bisa berupa lisan maupun tulisan) dalam sebuah latar sosiokultural khas para subjek literasi. Contohnya di sini adalah penggunaan cerita-cerita tentang leluhur dalam pengajaran bercocok tanam dalam kulur adat tertentu.

Praktik literasi, yang cakupannya lebih luas dari peristiwa literasi, adalah “himpunan dari peristiwa-peristiwa literasi yang terjadi secara berpola dan berulang.” Demikianlah Dewayani dan Retnaningdyah membahasakannnya. Untuk melanjutkan contoh yang sebelumnya, salah satu bentuk praktik literasi adalah penggunaan cerita-cerita lisan dari nenek moyang dalam pengajaran keahlian-keahlian teknis dalam bercocok tanam, membangun rumah, dan sebagainya dalam masyarakat adat tertentu.

Model literasi ideologis dengan berbagai ragam praktiknya inilah yang hendaknya perlu mendapat sorotan tambahan terus-menerus di tengah maraknya program-program literasi yang kebanyakan masih berfokus pada kegiatan baca tulis dewasa ini. Model literasi ideologis akan berpotensi membantu kita untuk bisa tetap melaksanakan kegiatan-kegiatan literasi di lingkungan-lingkungan kecil kita tanpa terjebak pada hal-hal yang sifatnya hanya seremonial dan perayaan. Pemahaman akan model literasi ideologis ini akan membantu kita lebih bisa mengapresiasi pola didik di masyarakat tradisional yang mungkin tidak bisa tertangkap oleh upaya-upaya revitalisasi yang cenderung masih menggunakan model literasi otonom.

Untuk melengkapi pengantar singkat ini, silakan lihat beberapa postingan dan tulisan berikut yang sedikit banyak berhubungan dengan bahasan ini:

  1. Literasi yang Membumi, Gagasan yang Menyadarkan
  2. Membaca Buku yang Sama dengan Warga Sekampung
  3. Lifestyles, Inc.: Di Mana Penyandang Disabilitas Kejiwaan Dewasa Berkomunitas
  4. Nggragas Buku
  5. Ngobrol Buku di Tengah Arung Jeram

[1] Akar kata ini dalam bahasa Latin, yaitu kata “litera,” berarti huruf. Ketika digunakan dalam bahasa Inggris pada abad ke 15, maknanya adalah “terdidik, terlatih, memiliki pengetahuan mengenai huruf.” Di abad ke-18, kata “literacy” bermakna “akrab dengan sastra.” Lebih lanjut, silakan lihat Online Etymology Dictionary.

Advertisements

Membaca Buku yang Sama dengan Warga Sekampung

Apa pentingnya membaca buku yang sama dengan semua orang? Kalau bukunya berbentuk novel dan novel itu kebetulan sedang booming, mungkin keuntungannya adalah kita akan menjadi orang yang tidak kudet, kurang update. Tapi kalau buku yang dimaksud adalah buku non-fiksi yang penting, maka dampaknya adalah banyak hal, yang nyaris semuanya menguntungkan. Saya akan ceritakan satu kejadian semacam itu, yang digabungkan dengan sebuah mata kuliah sejenis MKU yang di kurikulum perguruan tinggi Amerika Serikat disebut mata kuliah English Composition (atau terkadang hanya Composition).

Pada tahun pertama ketika saya menjadi teaching assistant dan ditugasi mengajar untuk kelas Composition, program Composition & Rhetoric (program yang mengkoordinir dan menyelenggarakan pengajaran mata kuliah Composition untuk seluruh kampus) juga turut ambil bagian dari program One Book One Community (OBOC).

Apa itu One Book One Community? Program ini adalah program membaca sebuah buku bersama-sama di masyarakat yang disertai berbagai kegiatan dan ceramah terkait buku tersebut. Bagaimana cara mengadakan program membaca satu buku bersama (dalam waktu beberapa bulan)? Mudah saja: perpustakaan umum kota Fayetteville (Fayetteville Public Library) menyediakan banyak eksemplar buku ini untuk dipinjam anggota (dan anggota masyarakat secara umum).

Selain menyediakan buku untuk dipinjam dan dibaca dengan mudah, ada juga beberapa acara ceramah umum yang menghadirkan penulis buku tersebut dan orang-orang lain yang sekiranya relevan dengan topik bahasan buku tersebut. Ceramah ini diadakan di beberapa tempat. Sebagian di aula perpustakaan umum, dan sebagian lagi di salah satu auditorium kampus. Untuk melengkapi ceramah kampus ini, si penulis juga biasanya diundang untuk berbicara di radio lokal.

Tentu saja, selain acara yang menghadirkan penulis dan pembicara yang menguasai topik tersebut, ada juga kelompok-kelompok diskusi kecil yang pertemuannya diadakan di perpustakaan umum kota.

Pendeknya, selama beberapa bulan, masyarakat akan diakrabkan dengan sebuah buku, topik bahasannya, dan sekaligus penulisnya. Semoga sekarang jelas apa maksud dari namanya: One Book One Community. Kasarannya, Sekampung Satu Buku.

Buku macam apa yang kiranya bisa dipakai secara bersama-sama dan sampai menimbulkan perubahan atmosfer sosial seperti itu? Pada tahun pertama saya mengajar Composition itu, buku yang dipakai adalah The Working Poor karya David K. Shipler. Buku ini merupakan hasil observasi Shipler atas warga Amerika Serikat yang terjebak dalam kemiskinan bukan karena mereka malas bekerja, melainkan karena kondisi hidup mereka tidak memungkinkan bagi mereka untuk bangkit dari jeratan kemiskinan–mereka bekerja tapi gaji yang mereka dapatkan tidak cukup untuk membuat mereka hidup makmur. Bisa dibilang, buku ini menentang slogan “American Dream” atau semboyan “di Amerika, rajin bekerja pangkal kaya.” Bertahun-tahun sebelumnya, yaitu pada tahun 1987, David K. Shipler pernah meraih penghargaan bergengsi Pulitzer Prize untuk karya Non-Fiksi umum.

Bagaimana bentuk keikutsertaan masyarakat kampus dalam program One Book One Community ini? Di kampus, keikutsertaan dalam program OBOC ini dikelola oleh program Composition & Rhetoric, khususnya untuk mahasiswa yang mengambil mata kuliah Composition 1. Mata Kuliah Composition 1 ini adalah mata kuliah yang wajib diambil oleh mahasiswa semester 1 (kecuali kalau mereka sudah mengambil mata kuliah ini ketika masih SMA–ya, yang seperti itu memungkinkan di Amerika, buat anak-anak pintar dan rajin di SMA). Dalam Composition 1, mahasiswa mempelajari keahlian menulis tingkat dasar, yang meliputi ketrampilan merangkum, mensintesis, menganalisis retorika, dan membuat tulisan argumentatif berbasis riset.

Dalam mata kuliah yang tujuannya dan tugas-tugasnya jelas inilah buku The Working Poor diselipkan. Beberapa instruktur (sebutan untuk mahasiswa S2 dan S3 yang kebagian tugas mengajar Composition 1, termasuk saya) memilih untuk menugaskan mahasiswa untuk membaca 1 bab setiap minggunya dan menggunakannya untuk diskusi kelas. Instruktur yang lain menugaskan mahasiswa membuat makalah sintesis atau analisis retorika berdasarkan bagian-bagian buku ini. Dan ada pula instruktur yang menugaskan mahasiswa membuat tugas akhir semester berupa tulisan argumentatif berbasis riset dengan topik warga miskin yang bekerja dan wajib menggunakan buku The Working Poor sebagai salah satu rujukan. Pada akhir semester, tulisan para mahasiswa tersebut dilombakan dan pemenangnya tentu akan mendapatkan hadiah menarik.

Selain itu, para instruktur juga memberi kesempatan para mahasiswa untuk mendapatkan poin tambahan kalau menghadiri salah satu acara yang menghadirkan si penulis atau acara-acara lain di kota Fayetteville (baik itu yg dilaksanakan di kampus maupun yang dilaksanakan di perpustakaan umum kota).

Dengan program ini, ada kesempatan bagi masyarakat sekota (tentunya yang suka membaca) untuk memfokuskan perhatian pada satu topik yang sama dan terlibat dalam diskusi-diskusi produktif dan berbagi gagasan hasil pembacaan mereka. Pada saat-saat seperti ini, kita merasakan bahwa tidak selalu melakukan hal yang sama dengan orang lain itu berkesan negatif. Meskipun kita melakukan hal yang sama, membaca hal yang sama, tetap saja yang terolah di pikiran kita (dan keluar dari mulut kita) tetap unik. Dan, bisa saja kita melewatkan hal-hal tertentu dari sebuah buku, yang akhirnya akan kita ketahui karena kita meluangkan waktu mendengar hasil pembacaan orang lain.

Saya membayangkan ini bisa menjadi satu kegiatan yang menarik untuk diadakan di kota-kota di Indonesia. Mungkin dengan begini kita bisa meluangkan waktu membaca buku yang sama dan berbagi pandangan. Sepertinya, diskusi yang berporos pada buku, sebuah teks yang jelas rujukannya, akan jauh lebih menarik dari diskusi-diskusi yang hadir hanya karena dipantik oleh ujaran kontroversial seorang tokoh publik yang selanjutnya viral dan berkembang menjadi obrolan-obrolan media sosial yang seringkali terjadi bukan dengan rujukan yang jelas, tapi sikap keberpihakan politis tertentu (yang seringkali mirip jingoisme).

Untuk proyek perdana kita, kira-kira buku apa yang tepat, Sodara?

 

Ngobrol dengan Fahrul Khakim: Kisah Kecil Penulis Teenlit & Young Adult Literature

Akhirnya, terwujud juga saya membawa penulis ke kelas yang saya ajar di kampus. Pinginnya sih mahasiswa saya itu diajar penulis betulan yang banyak bukunya telah terbit, sayangnya dosennya mahasiswa saya itu (yaitu saya sendiri) dua tahun terakhir keponthal-ponthal sampai belum bisa menyelesaikan buku yang telah dia rencanakan. Sudahlah, saat ini bukan waktunya berbicara tentang saya. Mari kita bicarakan tentang pengalaman para mahasiswa saya belajar dari penulis betulan.

Penulis yang saya maksudkan di sini adalah Fahrul Khakim, penulis novel, puisi, reportase asal kota Tuban yang telah tinggal di Malang sejak kuliah. Saat ini, sehari-hari Fahrul adalah dosen di jurusan Sejarah di Universitas Negeri. Saat ini Fahrul sudah menerbitkan empat buku prosa dan satu kumpulan puisi. Prosa pertamanya, novel berjudul Cowokku Vegetarimood, terbit pada tahun 2013, ketika Fahrul berusia 22 tahun. Novel terakhirnya, Janji Pelangi (2018), diterbitkan oleh Buana Ilmu Populer, salah satu imprint Gramedia. Kumpulan puisi Fahrul, yaitu Monolog Waktu (2016), diluncurkan oleh penerbit Pelangi Sastra Malang, yang merupakan bagian dari komunitas Pelangi Sastra Malang di mana Fahrul juga merupakan anggota aktif.

Sejak tahun lalu, ketika pertama kalinya mendapat tugas mengajar mata kuliah Populer Literature di Universitas Ma Chung, saya ingin mengajak seorang penulis fiksi populer untuk berbagi pandangannya kepada mahasiswa saya. Bagi saya, pandangan dari sudut pandang penulis (bukan hanya sarjana, peneliti, atau teoretikusnya) sangat penting untuk diketahui oleh mahasiswa secara langsung. Pernah tercetus keinginan saya mengundang Sidik Nugroho, penulis yang lama tinggal di Malang dan beberapa tahun yang lalu menerbitkan trilogi detektif (Tewasnya Gagak Hitam, Neraka di Warung Kopi, dan Ninja dan Utusan Setan). Sayangnya, meskipun saya yakin Sidik Nugroho sangat tidak keberatan datang ke kelas saya, dia tinggal terlalu jauh dari Malang–dan sekali-kalinya datang ke Malang selalu hanya sebentar. Untungnya, dari Denny Mizhar, koordinator Pelangi Sastra Malang, saya tahu bahwa ada seorang anggota aktif komunitas ini yang menyeriusi penulisan populer, khususnya sastra dewasa awal (Young Adult Literature). Ya Fahrul Khakim inilah yang dimaksud mas Denny. Setelah menjajaki rekam jejak beliau dan menghadiri bedah buku Janji Pelangi di Kafe Pustaka, saya menjadi semakin yakin bahwa Fahrul ini bisa menjadi orang yang tepat untuk berbagi pengalaman dan pengetahuannya tentang sastra populer dengan mahasiswa saya di kelas Populer Literature ini.

IMG_20180412_123057

Maka, setelah rundingan jadwal dengan Fahrul yang tentunya sibuk sebagai dosen, akhirnya pada hari Kamis 12 April 2018 kemarin terjadilah kuliah tamu tipis-tipis tersebut. Fahrul tiba di kampus kami tepat ketika para mahasiswa berhamburan keluar dari kelas mereka menjelang pukul 12 siang. Ketika para mahasiswa yang lain berbondong-bondong ke Student Center atau ke luar kampus untuk beli makan siang, ketika para karyawan dan dosen meninggalkan meja kerja mereka untuk menuju tempat makan siang masing-masing, mahasiswa kelas Popular Literature justru berdatangan satu per satu ke Theater Room. Turut hadir di sana pak Patris, dosen Sastra Inggris yang juga Dekan Fakultas Bahasa dan Seni (ya, dekan kami blogger)–belakangan juga ikut hadir Pak Adit, dosen Desain Komunikasi Visual yang juga pembaca prosa yang sangat serius. Tepat pada pukul 12 siang acara kami mulai.

Fahrul menceritakan kisahnya mulai dari bagaimana dia pertama kali tertarik menulis hingga akhirnya dia bisa menerbitkan novel di bawah sebuah nasional. Tentu saja perjalanan Fahrul tidak sesederhana kalimat pembuka paragraf ini. Ada cerita tentang bagaimana dia tidak punya TV waktu remaja, sehingga dia sampai suka membaca buku. Dia juga bercerita tentang begitu niatnya dia menulis novel ketika kelas 3 SMA. Dia bahkan menulis novelnya ketika teman-temannya serius belajar menjelas UN. Fahrul mengirimkan tulisannya ke Gramedia dan lama menunggu kabar dari mereka. Dia harus menggunakan wartel yang ketika itu mulai jarang tapi tetap merupakan sarana komunikasi termurah untuk menjangkau Gramedia. Sayangnya, setelah setahun, jawabannya yang didapatkannya adalah penolakan. Kegagalan di awal karir itu biasa. Yang tidak biasa adalah bagaimana Fahrul menyikapi penolakan dengan kesadaran bahwa dia memang “belum punya nama.” Sehingga, agenda dia kemudian adalah membangun namanya.

Usaha Fahrul membangun nama itu dia lakukan dengan menulis untuk media-media kecil dan menulis yang kecil-kecil. Dia menulis untuk majalah sekolah (dan menikmati hasilnya ketika orang-orang membicarakan cerita karangannya di kantin sekolah). Ketika menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Malang, dia tetap menulis, dan bahkan tidak hanya menulis prosa. Dia banyak menulis reportase, salah satunya adalah untuk lembar Citizen Reporter di Koran Surya. Terkait ini, perlu saya sebutkan di sini bahwa Fahrul ini pernah menjadi penulis terbaik dalam pertemuan Citizen Reporter di Surabaya.

Yang langsung berkaitan dengan konten mata kuliah yang saya ajar adalah bagaimana Fahrul berhadapan dengan konvensi genre roman populer. Sejak awal Fahrul mengakui bahwa dia sangat menyukai cerpen remaja dan novel remaja (yang biasa kita sebut teenlit itu) dan ingin menjadi penulis di genre tersebut.

Dia tahu pasti bahwa sebagian besar pembaca genre ini adalah perempuan. Untuk itu, dalam menulis cerita, dia mengangkat sosok-sosok perempuan sebagai tokoh utamanya. Ketika mahasiswa saya yang bernama Lindi bertanya kepadanya bagaimana bisa dia menulis karakter perempuan padahal dia laki-laki, Fahrul mengatakan bahwa dia banyak belajar tentang perempuan dari membaca novel yang banyak karakternya adalah perempuan. Dia juga memberikan manuskripnya kepada kawan perempuan yang dia percaya, untuk memastikan bahwa karakternya masuk akal sebagai seorang karakter perempuan.

Ketika Aldy, mahasiswa yang lain, bertanya mengapa judul-judulnya agak sulit dipahami atau tidak langsung bisa dipahami maksudnya, Fahrul memberikan jawaban yang jelas. Judul-judul itu dibuat dengan berbagai pertimbangan, tapi terutama adalah pertimbangan pemasaran. Dengan menyadari bahwa mayoritas pembacanya adalah perempuan, penerbit membuatkan judul yang kira-kira menarik bagi pembaca perempuan: misalnya judul Cowokku Vegetarimood. Bahkan, ada satu hal yang mengejutkan (bagi saya, setidaknya): bahwa judul bukanlah sesuatu yang sangat penting bagi dia. Judul adalah sesuatu yang tidak sebegitu besarnya hingga sampai menganggunya. Yang penting adalah isinya, “Toh penerbit biasanya menentukan akan menerbitkan sebuah manuskrip atau tidak berdasarkan isinya, bukan judulnya.” Jadi, ketika penerbit menyarankan judul lain yang mungkin lebih berdaya jual, Fahrul tidak menunjukkan keberatan.

Selain dua hal itu, ada satu lagi poin yang menurut saya menarik dari kuliah tamu Fahrul ini, yaitu ketika Yemima, mahasiswa lain di kelas saya, mengutarakan bahwa dia dulu sangat gemar membaca novel populer, tapi belakangan agak terganggu karena dia merasa bisa menebak jalan ceritanya. Dia bertanya bagaimana Fahrul membuat pembaca tetap tertarik dan tidak segera merasa bosan. Tentang ini, Fahrul menjawab bahwa dia selalu mengupayakan memberikan hal-hal baru kepada pembaca. Dia berusaha sebisa mungkin membuat karakter yang tidak biasa, misalnya seorang laki-laki yang sangat gemar memasak hingga tingkat keseriusan yang tinggi. Di karya lain, dia menyodorkan seorang karakter perempuan pengidap “agoraphobia,” yaitu ketakutan keluar rumah. Dan lain-lain. Di sini juga Fahrul menyatakan kekagumannya kepada Dee yang selalu mengandalkan riset serius untuk mengembangkan isi novelnya sehingga yang dihadirkan bukanlah hal yang biasa-biasa saja. Nah, di bagian ini juga saya mendapati satu yang membuat Fahrul terdengar seperti lulusan tulen dari universitas yang dulu bernama “Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Malang,” yaitu ketika dia sebisa mungkin ingin menyelipkan muatan yang membangun karakter dalam karya-karyanya. Tapi, tentu saja, untuk yang terakhir ini, kita mesti membaca dan menelaah apakah Fahrul berhasil menyelipkan elemen-elemen ini tanpa harus terdengar sebagai seorang guru atau pemuka agama.

Jadi begitulah kira-kira laporan saya dari kuliah umum tipis-tipis yang saya adalah di kelas saya sendiri. Anggap reportase ini sebagai balas budi saya kepada Fahrul. Biasanya, ketika menghadiri acara-acara bedah buku dan sejenisnya, Fahrul membuat reportase. Dan sekarang, ketika dia jadi pembicara, sulit rasanya membayangkan Fahrul menulis reportase itu. Jadi ya, biarlah tulisan ini menjadi balasan bagi Fahrul. Oh ya, sekadar informasi, sebenarnya dari Fahrul Khakim pula saya belajar menulis reportase untuk dikirimkan ke Citizen Reporter. Kalau Anda seorang blogger, pasti tahu sulitnya menulis langsung fokus ke topik tulisan dan tidak berbicara tentang diri Anda sendiri. Dari Fahrul lah saya belajar untuk melenyapkan diri sendiri dan berfokus ke topik saat menulis reportase. Eh, tapi kayaknya reportase saya kali ini juga sudah tercemari–saya mulai ngomong tentang diri sendiri lagi. Haiyyah!

Terima kasih, Mas Fahrul!

IMG_20180412_125002

Tiga Hal Kenapa Kekasih yang Tak Bahagia Mestinya Membuat Pembaca Bahagia

Penerbitan karya terjemahan belum menunjukkan gelagat akan surut. Bagaimana mungkin akan surut kalau sebagian besar penduduk Indonesia bukanlah penutur bahasa Inggris atau Spanyol atau Prancis atau Arab, sementara masih banyak karya sastra asing bagus yang belum diterjemahkan dan tetap banyak penulis asing yang terus menghasilkan karya-karya bagus. Maka, penduduk yang sangat suka baca dan selalu mengharapkan bacaan itu masih akan tetap menjadi pasar bagi dunia penerbitan yang ingin mengenalkan (atau meraup keuntungan dari menjual) karya-karya sastra asing. Dan seiring meningkatnya budaya membaca di Indonesia, kemugkinan besar penerjemahan karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia akan terus, atau bahkan meningkat. Kecuali kalau tiba-tiba prosentase penutur bahasa Inggris atau bahasa asing yang lain di Indonesia ini meningkat drastis berkali-kali lipat. Nah, di tengah tren yang seperti ini, di tengah makin banyaknya karya baru yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia ini, apa menariknya sebuah buku terjemahan karya-karya sastra yang bukan baru? Saya di sini mengacu ke buku kumpulan cerpen terjemahan berjudul Kekasih yang Tak Bahagia karya “lima penulis perempuan dunia” buah terjemahan a elwiq pr (selanjutnya saya sebut Mbak Donik) ini? Setidaknya saya punya tiga alasan untuk merayakan buku ini, yang menurut saya semestinya bisa menjadikan kita pembaca yang bahagia.

Pertama, buku ini adalah kumpulan karya-karya sastra terjemahan tapi penerjemahnya dengan sadar hadir dan tidak melesak ke balik buku. Dari pengantar terjemahan, kelihatan bahwa penerjemahnya sendiri sejak awal hadir sebagai kurator yang memiliki pendapat mengapa karya-karya ini perlu untuk diperkenalkan ke pembaca yang lebih luas. Ada pertanyaan tentang mengapa tokoh-tokoh ini dihubungkan dengan feminisme. Salah satu kalimat pertama dalam pengantar buku ini berbunyi: “Mengapa setiap perempuan yang menulis, mengangkat bukan hal yang manis-manis laiknya tabiat yang diingini dari seorang perempuan, lalu dikategorikan feminis?” (v). Dan pada bagian menjelang akhir pengantarnya, Mbak Donik mengatakan “… pada gilirannya karya-karya [lima penulis perempuan ini] memang menggelitik para (aktivis) feminis untuk tak hanya meributkan situasi dan posisi lelaki dan perempuan, tetapi lebih pada olah rasa dan pikiran mengenai kemanusiaannya sebagai perempuan” (xiii). Maka perlulah kita sadari, penerjemah ini sudah ketahuan punya agenda. Di sini, tampaklah bahwa penerjemah tidak hanya mengalihbahasakan sebuah teks yang sudah jadi, tapi sebelumnya dia membaca, melihat fenomena, mengumpulkannya, dan menyajikannya. Kalau kita ngomong perkembangan budaya manusia, Mbak Donik ini penerjemah yang bukan hanya berburu, tapi juga meramu.

Kedua, kalau kita masuk ke dalam kumpulan cerita pendeknya itu sendiri, kita tahu bahwa cerita-cerita ini memang berwarna-warni dan punya keragaman yang tinggi. Ini berhubungan dengan agenda Mbak Donik di atas. Cerita-cerita oleh perempuan yang dianggap feminis itu ternyata tidak hanya membicarakan kesengsaraan perempuan yang tertindas karena relasi jender yang tidak seimbang. Untuk menunjukkan keragaman cerita ini, biarkan saya sajikan premis-premis dari cerita ini. Saya harap kita semua menyadari bahwa sebuah premis (yang hanya satu kalimat ini) tidak akan bisa merangkum keindahan sebuah cerita–tapi setidaknya kita akan bisa tahu apa yang ingin disampaikan oleh cerita itu. Cerita pertama, “Kekasih yang Tak Bahagia” karya Marguerite de Navarre bercerita tentang betapa sengsaranya seorang lelaki yang mencintai perempuan tapi kandas karena lingkungan sosial menghalangi cintanya. Mungkin, untuk zaman sekarang, seorang lelaki yang hidupnya merana hingga sakit karena cinta itu akan kita anggap cengeng. Orang mungkin juga akan bilang bahwa kalau cerita semacam itu ditulis, mungkin dia tidak akan menjadi sebuah karya yang dianggap “Sastra.” Tapi, untuk awal abad ke-16 di Prancis, papda masa Renaisans Sastra Prancis, ketika kebanyakan kisah yang beredar adalah dongeng tentang petualangan dan kegagahan kesatria (atau istilahnya Chivalric Romance), kisah-kisah yang menyasar kehidupan cinta yang nyata dan diawaki oleh karakter lelaki yang bisa merana karena cinta seperti ini tampak menonjol dan tidak biasa (Romeo and Juliet karya Shakespeare yang fenomenal itu baru muncul di Inggris pada akhir abad tersebut). Dan lagi, penulisnya ini seorang perempuan, di masa ketika dunia tulis menulis itu adalah dunia lelaki (tentu saja ini tidak berlaku untuk Jepang, yang pada abad ke-11 sudah punya novelis cerita domestik terkenal Murasaki Shikibu).

Sementara itu, cerita kedua yang berjudul “Rumah Angker” karya Virginia Woolf terbilang paling unik (dan pendek). Cerita ini berkisah tentang hantu-hantu penghuni rumah yang terdengar kasak-kusuk mencari harta karun. Sebenarnya cerita ini tidak mudah untuk diikuti dan tidak biasa. Kisah berkutat pada kasak-kusuk hantu yang tidak jelas. Narator cerita pun tidak jelas siapa. Tapi yang jelas si narator mengetahui gerak dua hantu, laki-laki perempuan, yang sedang mencari sesuatu. Baru belakangan kita tahu bahwa ada seorang perempuan bangun dari tidurnya dan melanjutkan omongan si hantu dan mengatakan apa sebenarnya harta karun yang mereka cari itu. Inilah twist cerita tersebut. Kenapa begitu? Akhir cerita ini menunjukkan bahwa dalam diri setiap orang terdapat satu cahaya yang berharga, yang bahkan hantu pun mencari-carinya. Kisah yang tak biasa ini merupakan satu perwujudan dari gaya “alur kesadaran” yang dipopulerkan dalam dunia sastra oleh Virginia Woolf dan James Joyce (yang hidup semasa). Di sini, benda-benda yang ada di dalam rumah seperti hidup dan memiliki ceritanya sendiri karena–agaknya–si narator mengindera objek-objek itu dalam keadaan setengah tidur atau hampir terjaga. Teknik “alur kesadaran” ini, yang menjadikan cerita bergerak secara tidak standar seperti ini, kelak oleh teoretikus post-strukturalis Prancis seperti Helene Cixous sebagai “tulisan feminin.”

Cerita ketiga, berjudul “Perempuan yang Ingin Baik,” adalah satu cerita yang menurut saya akan selalu relevan dan kian relevan hari ini. Kisah ini kira-kira berpremis bahwa tidak mudah bagi seorang perempuan untuk hidup sendiri dan melakukan apa yang diinginkannya–dan premis tambahannya adalah bahwa tidak mengenal adalah pangkal dari masalah prasangka dan stereotipe. Di sini, seorang perempuan yang di kota dianggap biasa saja di desa tidak biasa karena tampak berbeda (memakai topi berjambul, jaket bulu cerpelai, dan sebagainya). Dia dicurigai baik oleh laki-laki maupun perempuan. Yang laki-laki merasa tidak nyaman karena ada perempuan yang dianggap tidak senonoh yang dirasa akan mengganggu kenyamanan (membuat istri mereka gusar), dan yang perempuan tidak nyaman karena takut suami mereka tergoda. Ada satu adegan di cerita ini yang sangat simbolis, yaitu ketika seorang tokoh lelaki, Suami Bau Kencur, menyapa si perempuan Blanche Devine dan si perempuan membalas sapaannya dan bahkan membawakan kue. Sayangnya adegan ini gagal terjadi. Padahal kalau terjadi kan mestinya sangat bagus. Ini simbolis karena agak dekat istilah “breaking the bread” yang dalam kisah tentang Yesus adalah tanda ketika seseorang itu sudah saling pengertian. Nah, hal tersebut tidak terjadi. Banyak permasalahan saling tuduh dan saling olok di dunia maya ini (terutama sekitar Pemilu 2014 terjadi karena kita tidak saling kenal). Dan istilah “tak kenal maka tak sayang” pun hari ini hanyalah klise yang kian membosankan karena ujaran ini hanya dipakai sebagai pengantar sebelum seseorang  memperkenalkan diri sebelum presentasi atau pertemuan. Kisah inilah yang sebenar-benarnya “tak kenal maka tak sayang.”

Masih ada dua cerita lagi yang bisa kita bicarakan, tapi alangkah lebih baiknya kalau saya persilakan Anda sendiri membacanya. Yang jelas, dua cerita terakhir adalah cerita yang bisa dibilang saling berlawanan tapi juga saling melengkapi. Cerita “Menembus Gorong-gorong” karya Doris Lessing bercerita tentang seorang ibu yang berjuang dengan dirinya sendiri untuk membiarkan anak lelakinya yang berusia 11 tahun untuk menjadi bocah yang mandiri dan dewasa. Sementara cerita yang terakhir “Anak laki-laki dan Anak Perempuan” bercerita tentang bagaimana jender (atau jenis kelamin sosial) seorang perempuan dikonstruksikan oleh lingkungan. Kalau kita ngomong feminisme, mungkin dua cerita inilah yang paling menonjol terlihat seperti tulisan feminis.

Dengan cerita-cerita seperti ini, yang memang tidak hanya menggambarkan tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan tapi lebih sebagai pengalaman hidup perempuan, tidaklah salah apa yang dikatakan oleh Mbak Donik. Tapi, perlu dimaklumi bahwa ujaran Mbak Donik di awal dan akhir pengantar ini bisa berpotensi negatif juga. Di satu sisi, ujaran tersebut mau tak mau membuat kita tergoda untuk melihat cerpen-cerpen ini dalam kaitannya dengan gagasan kesetaraan jender. Mungkin, akan lebih baik kiranya kalau kita pembaca tetap membebaskan diri dan menjadikan pemilihan berdasarkan gagasan feminisme ini sebagai satu alternatif saja, bukan satu-satunya. Dengan begitu, kita bisa menggunakan cara pandang lain saat membaca cerpen-cerpen ini. Sebagai misal, untuk cerpen yang kedua, kita bisa bebas menafsirkan cerita dalam cerpen ini sebagai keliaran imajinasi seseorang yang berada dalam keadaan antara tidur dan terjaga. Dalam keadaan begitu, kita bisa menganggap bahwa cerpen “Rumah Angker” ini adalah sebuah cerpen yang berhasil menangkap keliaran imajinasi kita, yang merupakan kemampuan para prosais modernis, yang berhasil menangkap “stream of consciousness” itu. Begitu juga dengan cerpen ketiga, kita bisa membacanya sebagai satu persoalan relasi antara laki-laki dan perempuan, tapi yang paling tampak di depan mata, ini adalah persoalan prasangka buruk.

Sekarang, tibalah kita pada persoalan ketiga, yaitu terkait pemilihan penulis untuk kumpulan tulisan ini. Ada yang kiranya perlu dipertimbangkan untuk ditingkatkan dari pengumpulan ini. Di satu sisi, adalah bagus bahwasanya Mbak Donik memilih penulis-penulis dengan berbagai gaya ungkap dan dari masa-masa yang cukup beragam. Kita merasakan cerpen dari masa Renaisans Sastra Prancis pada Marguerite de Navarre, ada Sastra Inggris periode Modernis pada karya Virginia Woolf, ada karya Edna Ferber yang menggarap tema-tema dari masa awal abad ke-20 di Amerika dengan ketegangan antara desa dan kota, ada kisah Doris Lessing yang tuwuk traveling dalam hidupnya, dan terakhir adalah Alice Munro yang berlatar pedesaan Kanada yang berupa kisah frontier (hidup di ujung peradaban). Pilihan ini menarik karena mampu menunjukkan berbagai pilihan lokasi dan masa. Mestinya tidak mudah untuk menjatuhkan pilihan yang sebisa mungkin menunjukkan sikap adil dan mewakili. Tapi “mewakili” adalah satu hal yang jauh dari kata mudah, apalagi mewakili “penulis perempuan dunia.”

Untuk itulah perlu ditanyakan: tepatkah pemilihan label “kumpulan cerpen lima penulis dunia” di sini? Urusan “dunia” seperti dalam istilah persoalan yang pelik sejak lama. Pengakuan seorang penulis sebagai “penulis dunia” itu tak bisa dilepaskan dari klaim politik dan keunggulan, dan seringkali seseorang mudah menjadi penulis dunia karena dia menulis dalam bahasa Inggris, yang memungkinkannya tertangkap oleh perhatian pembaca. Padahal, banyak penulis yang bagus dari berbagai penjuru dunia yang tidak tertangkap radar. Tapi, di masa yang nyaris tak terbatas dengan berbagai pilihan sumber informasi ini, saya menganggap setidaknya ada beberapa elemen yang semestinya disertakan dalam kumpulan ini untuk menjadikannya lebih sah lagi untuk disebut sebagai kumpulan cerpen penulis perempuan dunia. Yang pertama, kalau masih memilih wilayah geografis yang sama (Eropa-Amerika), setidaknya bisa dipertimbangkan menambahkan penulis-penulis dari ras non-kulit putih. Memasukkan penulis-penulis perempuan “native American” seperti Louise Erdrich, atau penulis Afro-Amerika seperti Zora Neale Hurston, atau penulis imigran asal Asia Selatan seperti Bharati Mukherjee akan berpotensi meningkatkan keterwakilan “dunia.” Atau, kalau ingin diperluas dengan zaman dan letak geografis yang lebih beragam, bisa juga mempertimbangkan memasukkan penulis-penulis dari Asia atau Afrika, misalnya Murasaki Shikibu yang dianggap sebagai penulis novel pertama berjudul Genji Monogatari atau Kisah Pangeran Genji. Atau, bisa juga dipertimbangkan menyertakan penulis Timur Tengah seperti Hoda Barakat dari Lebanon, atau dari Afrika Utara kita bisa mengajak Asia Djebbar, yang berasal dari Aljazair. Meningkatkan cakupan seperti ini berpotensi untuk lebih memperluas pengalaman keperempuanan, sehingga tidak hanya pengalaman perempuan kulit putih di Eropa dan Amerika.

Namun, tentu saja hal-hal semacam ini tak lebih dari sekadar saran yang bisa diberikan setelah sudah ada sesuatu yang hadir di meja kita–yaitu buku itu sendiri. Dan seperti biasanya, tidak ada buku yang sebegitu sempurnanya sampai tidak bisa diberikan saran lagi, kan? Mungkin saran-saran mengenai keterwakilan dan inklusivisme penulis dalam buku ini akan menjadi satu pertimbangan bagi penerbit Pelangi Sastra Malang saat mencetak ulang buku ini kelak. Mungkin dengan begitu buku ini tidak akan setipis sekarang, dan bisa dijadikan semacam sampel kecil karya-karya sastra oleh perempuan dari berbagai penjuru dunia dan waktu. Tapi tentu saja bukan untuk dijadikan pegangan seperti ensiklopedia. Bagaimana pun, cerpen-cerpen ini adalah karya fiksi, sebuah dunia rekaan, betapapun dia dekat dengan kenyataan. Dunia fiksi tetap hasil penyaringan kenyataan oleh pikiran seseorang. Maka, meskipun pikiran seseorang tersebut sangat terpengaruh oleh latar sosialnya, apa yang dihasilkan oleh pikiran itu bukanlah kenyataan, dan tidak perlu dianggap sebagai kenyataan. Hasil pikiran tersebut layak dipikirkan, dipertimbangkan, dan kalau ada kebenaran di dalamnya, bisa kita bicarakan dan bahkan dijadikan sebagai pendukung untuk amatan kita atas realitas. Di situlah uniknya berhubungan dengan karya sastra, dia selalu bisa disentuh, tapi tidak pernah bisa ditangkap. Tapi, hubungan seperti ini tentunya tidak akan menjadikan kita “Kekasih yang Tak Bahagia.” Justru kita lah kekasih yang berbahagia karena terus bermain-main dengan tanpa takut hubungan kita membeku.

(Resensi) Dongeng Panjang Literasi Indonesia – Yona Primadesi

Judul: Dongeng Panjang Literasi Indonesia
Penulis: Yona Primadesi
Penerbit: Kabarita
Cetakan: I/2018

Oke, sebelum negara api menyerang, biarkan saya lemparkan dulu resensi tiga paragraf ini mengenai sebuah buku mungil, asyik, dan penting (MAP) yang baru-baru ini saya baca:

Dongeng Panjang Literasi Indonesia merangkum lontaran-lontaran gagasan dan keprihatinan berwawasan dari Yona Primadesi mengenai sejumlah tema literasi, yang sebagian besarnya adalah tentang literasi anak. Buku ini dibuka dengan afirmasi Yona bahwa literasi bukan hanya perihal baca-tulis, yang didasarkan pada Deklarasi Praha tahun 2003. Afirmasi mengenai literasi yang perlu dipahami secara luas ini ditegaskan kembali dalam esai penutup ketika Yona berbicara tentang literasi penduduk asli (indigenous literasi) yang mungkin lebih kita akrabi dengan istilah kearifan lokal.

Di bagian tengah buku ini, kita mendapati renungan serta lontaran gagasan Yona mengenai literasi anak, peran orang tua dalam literasi anak, perpustakaan yang ramah anak, keprihatinan mengenai buku anak, dan sejenisnya. Kalau kita ngotot ingin merangkum bagian isi buku ini dalam satu kalimat, mungkin kita bisa mencoba ini: literasi perlu ditumbuhkan pada anak, pertama oleh orang tua, dan selanjutnya oleh institusi pendidikan, selanjutnya oleh industri perbukuan, dan juga oleh negara. Budaya baca bagi anak (poin terpenting dari literasi) adalah sesuatu yang terlalu besar untuk menjadi tanggung jawab satu pihak saja.

Kalau saya dipaksa memberikan kritikan, saya ingin menyoroti satu fakta bahwa buku ini sama sekali tidak menyinggung buku-buku tentang literasi yang terbit di Indonesia. Ambil saja sebagai contoh buku Suara dari Marjin karya kolaborasi Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah yang pada prinsipnya tidak berseberangan dengan buku ini–justru sebaliknya mungkin saling mendukung. Menurut saya, dengan semangat pembangunan tradisi dan kerja bareng pengembangan ilmu pengetahuan melalui dialog, penulis dalam bidang-bidang tertentu perlu saling menyinggung satu sama lain dalam karya-karyanya (entah itu dalam bentuk mengafirmasi, menggugat, maupun mengisi celah). Lagipula, usaha saling menyinggung bisa juga menjadi sarana menyarankan bacaan bagi pembaca yang tertarik tahu lebih jauh. Bagaimanapun, harus dipahami di sini bahwa sebagian dari esai-esai Yona Primadesi ini telah diterbitkan di media bahkan mungkin sebelum Suara dari Marjin terbit. Akhirur-resensi: perlu dibaca!

Museum (+Kolam Renang) Panji, Tumpang, Malang

Sejak tahun lalu, seorang kawan saya, Cak Syarif, memberitahu saya bahwa dia tengah mempersiapkan sebuah museum (membuat diorama dan lain-lain) dan beberapa bulan terakhir dia mengajak saya ke museum tersebut. Namanya Museum Panji, baru dibuka tahun 2017 ini. Akhirnya, pada liburan Maulid Nabi kemarin, di sebuah hari Jumat, saya pun ke sana, dengan mas Didit, seorang kawan dosen di Universitas Ma Chung yang juga editor film sekaligus juga crew band top daerah Tani Maju. Pada kunjungan pertama itulah saya mendapati betapa tidak standar-nya konsep Museum Panji ini–dan pagi ini tadi saya mengulangi kunjungan sambil terjebak ketidakstandaran konsep tersebut.

Apa ini maksudnya? Saya akan coba jelaskan dalam tiga paragraf ke depan.

Ternyata, Museum Panji sangat hadir di dunia maya, tapi kurang petunjuk di dunia nyata. Museum ini sangat mudah ditemukan di Google Maps. Mestinya, para penggagas museum sangat peduli dengan eksistensi di Google Maps, satu hal yang wajib pada jaman sekarang kalau kita ingin membuat sebuah layanan komersial publik. Nah, uniknya, ketika mendekati lokasi, saya tidak temukan sedikit pun petunjuk yang mengatakan bahwa di sini bakal ada Museum Panji (yang berkualitas internasional, menurut sebuah review). Bahkan, ketika tiba di pelataran bangunan museum pun, saya tidak melihat tulisan “Museum Panji,” yang ada hanya tulisan “Kolam Renang.” Sebagai pengunjung pertama, saya agak ragu. Tapi untungnya mas Didit sudah stand by di lobby dengan secangkir kopi yang mengepul dan topi merah Tani Maju bertengger di kepala.

“Hmmm,” kata Master Yoda.

Ternyata, Museum Panji memang juga kolam renang (dengan arsitektur yang mengingatkan kita pada sebuah Patirtan). Waktu saya melongok dari Lobby ke arah halaman tengah lokasi, tampak di sana kolam renang dengan dasar biru dengan beberapa anak kecil berkecipakan di air seperti Spongebob dan Patrick berburu ubur-ubur. Waktu saya lihat fotonya dari Cak Syarif dan dari hasil googling, memang ada terlihat kolam dan gapura dan fasad candi dari batu-bata (yang sangat mengesankan jaman Majapahit). Kalau melihat adanya elemen candi dan air, saya mau tidak mau langsung ingat Jolotundo, sebuah Patirtan (dan mungkin candi pertama dalam hidup saya). Memang sih Jolotundo adalah candi dari batu andesit, bukan batu-bata; tapi ya namanya imajinasi ini sulit dikendalikan, gapura Museum Panji pun bisa mengingatkan pada Jolotundo. Dari gambar-gambar yang sebelumnya saya dapatkan, saya tidak mendapat kesan bahwa kolam biru di depan gapura itu adalah kolam renang. Ternyata, eh ternyata, itu kolam renang yang hidup, yang aktif, dan belakangan saya ketahui ternyata lebih populer daripada Museum Panji itu sendiri.

“Meditate on this I will,” kata Master Yoda saat melihat konsep museum plus kolam renang tersebut.

Panji2

Ternyata, lagi-lagi ternyata, koleksi Museum Panji sendiri sangat bagus dan melebihi ekspektasi saya, meskipun masih perlu penataan lebih maksimal untuk mencapai level “museum internasional.” Di lobby tempat saya dan mas Didit ketemu itu, kita bisa melihat banyak hal, mulai dari topeng malangan (topeng dari kayu yang menampilkan karakter-karakter dari Cerita Panji), silsilah para bupati Malang yang kalau dirunut sampai raja-raja Jawa jaman kuno, hingga wadah makanan dari kaleng yang populer disunggi oleh orang jualan makanan pada jaman dahulu. Ada juga di sana sebuah panggung ukuran sedang yang bertuliskan “Museum Panji.” Nah, akhirnya, ada satu label yang menegaskan nama tempat ini! begitu pikir saya. Waktu mas Didit mengajak masuk ke museum, saya semakin takjub dengan koleksi wayang-wayang kulit (yang ada beberapa di antaranya sudah tidak lengkap lagi–yang justru menunjukkan orisinalitasnya sebagai barang koleksi yang sudah lama dimiliki si pemilik). Wayang-wayang ini pun dipajang pada kain putih yang dipasang pada latar kaca yang mendapat cahaya alami dari luar. Saat dipotret, tentu saja hasil gabungan antara backlight dan wayang menghasilkan efek seperti melihat bayangan wayang di balik geber. Asyik. Di dalam, juga ada diorama peperangan jaman kerajaan yang digarap dengan sangat apik dan ditata di bagian tanah yang digali hingga kedalaman sekitar 2 meter. Dari tempat kita melihat, terlihatlah peperangan dengan prajurit infantri bertombak, prajurit berkuda dengan kuda-kudanya yang ramping, dan bahkan ada pasukan bergajah di bagian belakang. Palagan yang asli tanah itu agak bersemu hijau di beberapa bagian, memberikan kesan rerumputan tipis yang menumbuhi palagan. Ada juga koleksi tembikar hasil arkeologi bawah air (yang ditemukan dari kapal-kapal karam–seperti yang juga kita temui di Museum Candi Borobudur). Pada banyak koleksi, terdapat informasi yang menjelaskan sejarah benda-benda koleksi atau diorama yang dimaksud, tapi masih banyak koleksi yang belum memiliki penjelasan tersebut.

Kalau dibandingkan museum-museum yang sudah mapan sejak jaman old, mungkin koleksi museum panji sendiri terbilang sedikit. Tapi, saat mengetahui bahwa benda-benda koleksi museum ini adalah benda-benda koleksi pribadi si pemilik (pak Dwi Cahyono), terbit kekaguman saya. Di Arkansas, saya cukup akrab dengan Museum of Native American History, sebuah museum yang awalnya adalah benda-benda koleksi pribadi David Bogle, dan sekarang jadi museum kecil yang kaya koleksi sejarah Native American, baik suku pribumi di Amerika Utara maupun Amerika Selatan–bahkan ada juga skeleton mammoth, yang tak kalah pribuminya di benua Amerika. Dwi Cahyono ada juga tokoh di balik Yayasan Inggil Malang, yang sudah lebih dikenal sebelumnya. Benda-benda sejarah yang menjadi koleksi bukanlah barang yang murah–dan tentu saja ini barang langka. Sangatlah menguntungkan–untuk tujuan pengetahuan pribadi maupun pendidikan formal–saat seorang kolektor mempersilakan orang lain ikut melihat benda-benda koleksi tersebut.

“Judge me by my size do you?” goda Master Yoda mengetahui rasio antara ukuran dan potensi Museum Panji.

Panji1

Maka, bagi saya pribadi, meskipun harus membayar untuk melihatnya (dewasa 25 ribu, anak-anak 20 ribu, dan menurut sebuah review terbilang mahal), hal tersebut sangat bisa dimengerti. Toh, kita sebenarnya juga bisa memilih untuk juga menikmati fasilitas museum yang lain, yaitu kolam renangnya tadi. Coba Anda ingat, berapa Anda harus membayar untuk berenang di kolam renang yang bersih? Belum lagi kalau kolam renangnya seperti Patirtan dari Jaman Majapahit. Mungkin, mungkin, mungkin, ini bisa jadi aspek museum yang sangat berpotensi dalam memberikan sumbangsih dalam pendidikan kemasyarakatan. Seperti halnya jaman wali songo dulu orang-orang “dipancing” dengan musik untuk datang dan kemudian diajari tentang Islam, mungkin Museum Panji bisa memancing anak-anak untuk datang dan berenang bersama keluarga untuk kemudian diajak belajar tentang sejarah. Siapa tahu.

Itu sangat bisa, asal Anda tidak seperti saya pagi tadi–dalam kunjungan kedua saya di tahun 2017 ini. Saya dan anak saya datang ke sana karena anak saya ingin berenang. Setelah berenang, sambil makan Pop Mie, saya beri tahu anak saya bahwa kita akan melihat-lihat koleksi museum lagi. Eh, ternyata, setelah Pop Mie tandas, setelah ganti baju, setelah segar kembali, kok malah langsung bablas pulang dan lupa melihat-lihat koleksi museum lagi. Ealah!

“Truly wonderful the mind of a child is,” kata Master Yoda mengomentari kami.

Sementara itu dulu yang bisa saya ceritakan tentang museum panji. Maaf yang rencananya cuman esai lima pargraf ini akhirnya jadi sedikit terlalu panjang. Dan sayangnya itu pun belum membahas aspek-aspek lain Museum Panji ini, seperti misalnya lokasinya yang berbatasan dengan sebuah sungai dan berpemandangan dam irigasi jaman kolonial, kontur tanahnya yang bisa dieksplorasi lebih jauh, dan lain-lain.

(Terjemahan Lagu) Aerials – System of a Down

Perlu kiranya sedikit pendahuluan untuk postingan kita kali ini. Saya kenal System of a Down pertama kali melalui album Toxicity, melalui kebaikan hati seorang kawan yang memperkenalkan band metal yang didengarkannya waktu itu. Ketika itu, awal tahun 2000-an, tengah naik daun band-band metal (atau nu metal atau hip metal) semacam Korn, Limp Bizkit, Soulfly dan lain-lain. Tentu saya sempat merasakan teriak-teriak ngerap “Take a Look Around” sambil mungkin membayangkan diri akan menjadi seganteng Tom Cruise. Nah, di satu kesempatan saya minta rekomendasi band baru dari seorang kawan, gitaris yahud di Malang asal Blitar bernama Yudi Ijum. Dia meminjami saya kaset Toxicity yang kemudian saya puter di kamar kost sampai berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Itulah perkenalan pertama saya dengan System of a Down.

Ketika itu saya merasakan musiknya asyik–ada ruang-ruang jernih yang selalu saya suka–dan vokalnya tak ada duanya–ada cengkok-cengkok yang tidak lazim di band metal mana pun. Waktu itu saya anggap saja biasa, karena Korn juga punya kecenderungan memakai cengkok-cengkok khas yang tak bisa ditemui di band-band lain. Power vokal Serj Tankian yang super-bariton itu jug atak urung membuat saya cinta. Saya juga suka vokal Korn meskipun ketika itu musiknya menurut saya terlalu berisik dan sulit dicerna (pandangan serampangan yang selanjutnya berubah setelah saya dengar versi akustik mereka dan semakin jatuh cinta setengah mati–apalagi di situ ada vokalis gothic-metal “Amy Lee, from Evanescence”). Kayaknya, waktu itu ukuran vokal adiluhung adalah bariton, seperti halnya Tuan Jim Morisson yang baru beberapa tahun sebelumnya saya kenal. Tapi, seiring waktu, seiring hadirnya musisi-musisi baru dalam hidup saya, System of a Down pun melesap ke latar…

Sepuluhan tahun kemudian, ketika YouTube menjadi realitas tak terhindarkan yang tak ubahnya wartel di masa 2000-an awal, saya sempatkan mencari lagi System of a Down. Hmmm… Tetap menarik.

Beberapa tahun kemudian, saya kenal seorang pianis perempuan asal Lebanon, yang datang ke kampus saya di Arkansas untuk menyajikan resital dalam peringatan 100 tahun genosida bangsa Armenia. Saya kebagian tugas memvideo dan merekam audio dalam resital tersebut. Keluarga Amy, nama pianis itu, sudah tiga generasi tinggal di Lebanon, tapi dia orang Armenia. Dia hanya memainkan nomor-nomor karya para komponis yang nama-namanya memiliki kemiripan yang tak mungkin terlewatkan: semua nama belakangnya diakhiri dengan “-ian.” Saya langsung teringat System of a Down (vokalisnya Serj Tankian, dan yang lainnya juga mengandung “-ian”). Yang lebih penting lagi, ketika mendengarkan resital tersebut: saya dikejutkan oleh ketidakbiasaan yang terasa seperti gelombang yang membentur karang di pantai saya belasan tahun yang lampau. Semua komposisi klasik yang dimainkan oleh Amy adalah karya komponis Armenia. Di situlah, ada nada-nada khas, yang berkisar antara misterius dan manis dan pilu, yang berbeda dengan yang kita temui dalam komposisi-komposisi klasik dari Eropa–apalagi Amerika, ya tentunya skor-skor film Hollywood itu juga komposisi klasik kekinian dong! Komposisi-komposisi klasik Eropa penuh kemegahan, keceriaan musim semi, kesyahduan spiritual, dan sejenisnya. Keganjilan nada-nada komponis Armenia itu–dalam benak saya–memiliki kemiripan dengan ganjilnya cengkok-cengkok Serj Tankian dalam Toxicity.

Saya langsung riset kembali tentang System of a Down. Ternyata oh ternyata! Semua anggota System of a Down memang keturunan Armenia. Bahkan beberapa di antara mereka lahir di luar Amerika (Lebanon? Armenia?) dan baru kemudian bermigrasi ke Amerika. Dan, pada tahun 2015 itu, ternyata Serj juga ikut berkampanye menumbuhkan kesadaran orang tentang genosida bangsa Armenia oleh kekaisaran Turki Utsmani (yang masih belum begitu saja diakui oleh negara Turki saat ini). “Riset” saya juga akhirnya membuat saya menguji asal-usul semua orang Amerika yang namanya berakhiran “-ian” dan memang semuanya terbukti sebagai keturunan Armenia (termasuk Derek Sherinian, kibordis ultra-agresif yang pernah berkarir di Dream Theater itu).

Baiklah, saya cukupkan di sini saja obrolan saya tentang System of a Down. Kenapa saya nulis ini? Karena kebetulan saja kemarin sore waktu di kantor saya mendengar rekan kantor depan saya muter soundtrack-nya Dea Lova sementara rekan di ujung lorong muter Toxicity. Saya memutuskan untuk menikmati saja musik yang siap pakai itu. Dan baru kemudian saya ingat punya terjemahan “Aerials” yang tidak pernah saya terbitkan. Jadi silakan nikmati terjemahan “Aerials” berikut ini. Kata “Aerial” sendiri tidak saya terjemahkan karena saya sendiri masih ragu-ragu, kira-kira apa yang dimaksud “Aerial” di sini. Secara harfiah sih artinya di sini seperti mengacu ke antena-antena yang biasanya menghiasi pandangan kita saat melihat ke langit di tengah pemukiman padat. Tapi, saya cukup yakin juga bahwa aerial ini bisa berarti semacam serangga yang berkitaran di atas kita dan bisa melihat kita secara “aerial view” :). Jadi, daripada membunuh potensi makna yang mungkin akan datang kepada Anda, biarkan saja “Aerials” tetap menjadi “Aerial.”

Selamat menikmati!

AERIAL

Hidup adalah air terjun
Kini kita yang di sungai
Dan nanti lagi setelah jatuh

Berenang di kehampaan
Kita dengar firmannya
Kita lalu tersesat
Tapi temukan semuanya.

Karena kita yang ingin bermain
Selalu ingin jalan
Tapi tak pernah mau tinggal

Aerial di langit
Saat sirna benak ciutmu
Kau bebaskan hidupmu

Hidup adalah air terjun
Kita minum dari sungai
Lalu berbalik dan membangun tembok

Berenang di kehampaan
Kita dengar firmannya
Kita lupa diri
Tapi temukan semuanya.

Karena kita ingin bermain
Selalu ingin jalan
Tapi tak pernah mau tinggal