The Stage: Album Konsep Tema Kekinian

Waktu kita mepet, Saudara, tapi yang namanya gelora yang sedang membuih harus diberi saluran buang, biar tidak terjadi ledakan. Baiklah.

Di antara sejumlah album yang saya nikmati setahun terakhir, ada album baru dan ada album lama yang baru saya kenal. Untuk album lama yang baru saya kenal, sebut saja album-album Nick Drake, terutama tiga album dari masa hidupnya. Saya berkenalan dengan Nick Drake beberapa bulan yang lalu karena ada kawan yang menawari ngobrol soal buku tersebut. Album-album Silampukau juga termasuk kelompok ini. Kalau untuk album baru, saya bisa menyebut album Tanimaju Bed4 Topi Miring Bersama dan album Avenged Sevenfold terakhir, The Stage. Nah, album yang terakhir ini akan kita obrolkan sedikit di sini. Sedikit saja, asal pantes. Kenapa diobrolkan? Karena album ini temanya kekinian, yaitu AI, dan “genre” liriknya asyik, yaitu fiksi ilmiah. Asyik. Pol.

The Stage
Sampul album diperoleh dari sini:

Pertama kali saya tertarik kepada album ini adalah karena sampulnya. Di sampul tersebut terlihat nebula dengan warna dominan khas jagad raya, ungu dan merah, dengan bumi dan bumi di pusatnya, dengan bulan mengitarinya. Juga ada kilat di sebelah kanan dan kiri. Bagi yang pernah baca bukunya Carl Sagan, Cosmos, pasti dia akan langsung teringat Carl Sagan saat melihat sampul ini. Bagi yang suka lihat sampul albumnya Avenged Sevenfold, mungkin Anda akan curiga pasti nebula dan kilat dan bumi ini ada apa-apanya. Ya, coba lihat dari jarak agak jauh dikit, maka tampaklah, bawah nebula itu bisa menyerupai tengkorak yang miring tiga perempat ke kanan (bumi ada di mata kirinya) da kilat-kilat itu adalah sayapnya (saya kelelawar). Sayap kelelawar dan tengkorak adalah simbol yang selalu hadir di album-album A7X (Diazab 7 Kali). Ya, kalau Anda termasuk penggemar A7X, yang menyebut diri Anda The Fallen (Kaum Ternista), maka tengkorak yang menyelingkupi bumi dalam bentuk nebula itu tampak jelas.

Nah, betapa sarat simbolnya sampul album ini. Begitu saya membacanya.

Ada satu masalah sebenarnya: kemungkinan pembacaan saya diarahkan oleh sebuah wawancara dengan M. Shadows bahwa album The Stage ini adalah ungkapan keresahan mereka terkait perkembangan teknologi yang semakin memakan manusia. Di situ dia sebut AI dan nanobot, yang berpotensi mengambil alih posisi manusia sebagai pusat jagad raya, atau–untuk menggunakan istilah dalam Islam–“khalifah di muka bumi.” Ketika saya membaca wawancara itu, saya sudah mulai dengar albumnya, tapi saya hanya merasakan perubahan musiknya yang kian atmosferik (lebih mirip album Nightmare daripada Hail to the King) dan lebih variatif dalam mengatur tempo (lagi-lagi, lebih mendekati Nightmare daripada Hail to the King). Kalau boleh menggunakan simplifikasi, album ini lebih nge-progressive daripada nge-metal.

Tapi ya, harus diingat, kita di sini ngobrol soal Avenged Sevenfold, yang dalam sejarahnya bisa berubah-ubah warna, mulai dari vokal yang kasar dalam City of Evil hingga yang jernih melolong dalam Nightmare, mulai dari musik yang penuh marah dan pilu dalam Nightmare hingga yang pesta pora metal dalam Hail to the King. Jadi, kalau saya bilang album The Stage ini lebih nge-progressive, kita tidak semestinya menganggap ini sebagai puncak kematangan mereka atau sejenisnya. Bisa saja ini merupakan pilihan bentuk yang disesuaikan dengan temanya, wadah ekspresi yang disesuaikan dengan isi ekspresinya. Tapi, mungkin tidak semestinya saya mengesankan adanya perpisahan antara bentuk dan isi seperti ini. Duh!

Nah, tibalah kita ke subject matter liriknya.

Ternyata, bila lagu-lagu dalam album The Stage ini ditilik satu per satu, akan tampak bahwa mereka tidak melulu berbicara tentang AI dan nanobot. Pendeknya tidak se-sci-fi yang dikesankan dari ucapan Mas Shadows. Memang ini album terasa sekali album konsep, tapi hubungan antara lagu satu dan lagu selanjutnya tidak selinier yang mungkin kita harapkan. Beda sekali tentu saja dengan album Horslips The Tain (yang merupakan progmetisasi dari epik Irlandia tentang perebutan kerbau) atau album Dream Theater Scenes from Memory (yang berkisah tentang past life regression). Album ini merupakan satu kesatuan, tapi benang merahnya adalah tema. Mungkin, masing-masing lagu adalah puzzle yang menggambarkan kebingungan zaman ini terkait posisi kita manusia yang dalam sejarahnya cenderung menganggap berada di pusat semesta, atau kosmos untuk menggunakan istilah yang lebih ngepas dengan sampul album A7X.

Sekilas saja, di lagu pertama yang berjudul “The Stage” kita bisa mendengar renungan mengenai manusia yang mulai mempertanyakan posisinya di dunia. Di situ, Anda akan merasakan pertanyaan tentang benarkah kita ini ciptaan Tuhan, benarkah Tuhan mengawasi seluruh gerak kita, pantaskah setelah melihat ulah manusia yang brutal (bom nuklir!) kita tetap percaya adanya Tuhan yang mengawasi. Aku lirik dalam lagu itu bertanya siapakah yang mengawasi dari luar sangkar selagi kita berlaga di atas panggung ini? Pendeknya, lagu ini berisi pertanyaan eksistensial manusia. Dan ujung-ujungnya lagu ini bilang “aku percaya adanya jawaban, tapi tidak sekarang.”

Baru pada lagu kedua, “Paradigm,” kita bisa mulai merasakan nuansa fiksi ilmiah. Dalam lagu ini, kita mendengar lirik tentang tokoh yang sudah lama tidak bisa merasakan hidup bagai manusia biasa, tidak lagi sakit, tidak lagi butuh makan. Tapi dia tetap hidup. Dia tetap hidup, menjalani apa yang disebut di sini sebagai “paradigma akhir.” Kalau Anda mengikuti perdebatan mengenai “jiwa” dalam kacamata ilmu pengetahuan, pasti Anda akan segera memahami lagu ini. Dalam diskusi keabadian tersebut, ada argumen bahwa yang menjadi intisari dari jiwa manusia adalah isi pikirannya. Dalam argumen tersebut, bila isi pikiran tersebut diunduh dan kemudian disimpan ke dalam sebuh hard drive atau sejenisnya, maka “jiwa” seseorang akan tetap ada. Maka, jika yang seperti itu  bisa dilakukan, “keabadian” bukanlah sesuatu yang mustahil. Sebagai ilustrasi, ambillah contoh sosok Jor El, bapak si Superman. Si bapak sudah lama mati, tapi memorinya berhasil disimpan dalam pesawat yang membawa bayi Kal El ke bumi, dan saat memori itu diaktifkan, maka Jor El bisa hadir dan berkomunikasi dengan Superman, bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin lagi dijawab oleh Jor El yang asli (dia sudah wafat di planet Kripton sana). Memori Jor El bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Superman dan tetap memberi bimbingan dan hikmah kebijaksanaan karena memori itu sifatnya adalah Artificial Intelligence, isi pikiran Jor El yang masih aktif, yang masih bisa merespons hal-hal baru. Jor El, pendeknya, sudah mengalami “keabadian.” Dalam lagu “Paradigm,” hal itulah yang menjadi bahasan. Tapi, di lagu itu, si orang abadi menjadi sengsara, sebab dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Dia bertanya “Masihkah ada sisa manusia pada diri ini?” Nah!

Dua saja dulu ya? Lagu-lagu yang lain akan kita bahas dalam diskusi di Klub Buku dua minggu lagi. Di lagu-lagu lain ada bahasan tentang artificial intelligence yang membuat kita manusia terancam, karena kita yang dulu membuatnya, “tuannya, hanya menjadi batu pijakan” (lihat lagu “Creating God”). Ada juga lagu Fermi Paradox yang tentunya merupakan metalisasi dari paradoks bahwa “kemungkinan adanya makhluk lain di jagad raya ini sangat besar sementara bukti tentang keberadaan mereka sama sekali tidak ada.” Dan juga ada lagu “Exist” yang mungkin mengandung utopian impulse atau isyarat adalah harapan bagi umat manusia dan diakhiri dengan ucapan Neil deGrasse Tyson–fisikawan yang sering dianggap sebagai penerus Carl Sagan dan bahkan baru-baru ini menjadi pembawa acara Cosmos versi baru, yang tentunya merupakan TV-isasi dari buku Carl Sagan yang terkenal itu.

Kembali ke sampul album, mungkin kita bisa menafsirkan posisi bumi yang ditengah layar itu sebagai pandangan manusia yang masih merasa sebagai pusat semesta, tapi hal tersebut mungkin tidak lama, entah karena bumi akan dimangsa nebula dan sepasang kilat yang ada di sekitarnya itu, atau pula mungkin karena akan tumbuh kesadaran manusia bahwa kita ini hanya seujung upil dari jagad raya yang tanpa batas ini (itu kalau kita mempertimbangkan ucapan Neil deGrasse Tyson di lagu terakhir album ini).

Jadi begitulah menariknya album ini. Tentu masih ada hal-hal menarik yang bisa dibahas. Apakah munculnya The Stage ini adalah kaitannya dengan bergabungnya Brooks Wackerman, yang dari tahun 2001 hingga 2015 kemarin merupakan penggebuk drum Bad Religion, band punk yang pandangannya belakangan sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan biological anthropology Greg Graffin, yang merupakan seorang naturalis itu? Entahlah. Apa yang terjadi dengan Avenged Sevenfold sampai-sampai bergabungnya mantan penggebuk drum Bad Religion–yang bisa dibilang temponya relatif konstan itu–malah membuatnya memiliki tempo yang lebih warna-warni (progresif?)? Banyak pertanyaan lainnya. Mari kita jawab kalau ada waktu.

 

Advertisements

Pantai 3 Warna & Pengelolaan Wisata Alam yang Perlu Ditiru

(Versi yang lebih ramah koran dari tulisan ini dimuat di kolom Citizen Reporter koran Surya di sini dan pada edisi cetak koran tersebut Sabtu 4 November kemarin)

Pantai Tiga Warna adalah objek wisata alam di Malang Selatan yang wajib kawan-kawan kunjungi. Bukan sekadar karena objek ini kekinian dan layak-selfie. Tapi, setidaknya ada empat hal hebat yang sebagian tidak ada di mana pun di Indonesia. Klaim saya ini berdasarkan kunjungan saya ke Pantai Tiga Warna beberapa waktu lalu bersama kawan-kawan saya menerjemah di Transkomunika, dan ditambah dengan informasi yang saya peroleh dari acara “Bincang Alam” di P-WEC (sebuah balai edukasi konservasi di kawasan Dau, Kabupaten Malang) pada 15 Oktober 2017 lalu. Lebih dari sekadar urusan berwisata, mengunjungi Pantai Tiga Warna bisa menjadi pengalaman yang akan mengubah cara pandang kita memandang wisata alam.

Kepedulian. Objek wisata alam ini muncul kembali berkat kepedulian warga setempat yang ingin mengatasi kerusakan alam. Setelah pada awal tahun 2000-an hutan pantai selatan di kawasan ini rusak karena eksploitasi, warga berinisiatif untuk memperbaikinya. Maka, berkat pendampingan beberapa pihak dan kedisiplinan para warga setempat, kondisi alam di wilayah Pantai Tiga Warna mulai bisa dipulihkan.

Komitmen kebersihan. Pengelola objek ini berkomitmen memastikan kebersihannya. Ketika baru memasuki kawasan wisata, para pengunjung harus melewati pos pemeriksaan isi tas dan potensi sampah. Berapa botol air minum kemasan, isu basah, tas plastik, masker hidung, dan sebagainya, yang Anda bawa? Semuanya dicatat. Nanti, ketika meninggalkan lokasi, pengunjung harus kembali membawa barang-barang tersebut keluar. Kalau tidak, silakan pilih: kembali ke pantai dan mengambil sampah itu atau bayar denda Rp.100ribu.

Park Interpreter. Pengunjung harus ditemani pemandu dalam perjalanan dari pintu masuk hingga ke Pantai Tiga Warna. Setiap sepuluh orang harus disertai seorang pemandu. Kelompok saya dulu dipandu oleh Pak Pi’i dan mas Cepi. Pak Pi’i menceritakan riwayat pengembangan objek wisata alam ini dan upaya pemulihan alam yang telah ditempuh. Di kancah internasional, para pemandu ini disebut Park Interpreter, yang tugasnya menceritakan semua elemen, sejarah, dan kekhasan objek wisata. Hasilnya, para pengunjung dapat menghargai taman wisata ini lebih dari sekadar keindahan fisiknya.

Pembatasan. Pengelola membatasi jumlah pengunjung yang bisa berada di Pantai Tiga Warna dalam satu waktu sekaligus. Hanya boleh ada 100 orang dalam satu waktu (2 jam). Selama dua jam itu, pengunjung bisa menyewa pelampung dan alat snorkeling untuk melakukan untuk melihat kecantikan terumbu karang dengan ikan warna-warninya, satu hal yang langka di Jawa Timur.

Banyak lagi yang bisa dituliskan tentang Pantai Tiga Warna, ruang saya di sini sudah habis. Silakan kunjungi dan saksikan bagaimana objek wisata alam ini dikelola dengan disiplin dan rasa cinta. Menurut Agus Wiyono, kepala East Java Ecotourism Forum, penyaji di acara “Bincang Alam” yang saya sampaikan di atas, belum ada yang menyamai pengelolaan Pantai Tiga Warna ini di Indonesia. Jadi, pergilah ke sana, bukan hanya untuk selfie, tapi juga untuk melihat bahwa ada harapan cerah dalam pengelolaan wisata alam di Indonesia bisa ditiru. Dan inilah yang wajib diviralkan.

Hari Santo di Savannah, 2015

duduk di kursi biru dan menunggu
satu per satu penumpang flight terakhir
ke konter budget, menyewa sedan paket hemat
dan melesat ke Savannah untuk menyerahkan
sisa perjalanan ke altar spring bed penginapan
mungkin setelah memesan pizza diantar sepeda
mungkin sambil menyimak dampak valentine
mungkin sebelum sisa turbulensi mengusik
aku tak menemukan vending machine
dengan kopi instan rempah labu
pertama, bukan musimnya
kedua, bandara ini menghargai
kita boleh kesepian, bahkan hari ini

Patti Smith dan Upaya Mentransfusi “Smells Like Teen Spirit”

Hari ini saya menemukan* satu hal yang tidak standar, “Smells Like Teen Spirit” dari Nirvana dimainkan oleh Patti Smith. Tidak standar tentu saja. Patti Smith yang menjadi tulang punggung proto-punk memainkan salah satu masterpiece “punk” dari era dua dekade di bawah angkatannya. Tentu saja saya memakai istilah “punk” di sini lebih berhubungan dengan etos, sikap, perilaku. Dan selalu, kejadian seperti ini mendatangkan berbagai pikiran bungah hati.

Yang namanya Patti Smith, sosok yang nglakoni “punk” dengan merdeka itu, tentu tidak akan puas hanya mengkover sebuah lagu. Tidak. Beliau tidak hanya mengkover, tapi juga merevivalisasi, merejuvenasi, menghidupkan kembali, dengan sumbangan darah dan jiwa. Dia interpretasi ulang lagu itu demi menghadirkan pembacaan yang lebih simpel atas nada-nadanya. Musiknya menjadi lebih sesuai kecenderungan Kurt Cobain di akhir masa hidupnya (lebih sederhana), dan sesuai juga dengan kecenderungan sepuluh tahun terakhir para musisi lain yang seringkali dimasukkan ke “grunge bandwagon” seperti alm. Chris Cornell (di album Songbook) dan Tuan Eddie Vedder (lihat album Into the Wild dan Ukulele Songs).

Patti Smith menggunakan aransemen yang lebih sederhana. Terdengar di sana elemen-elemen folk Amerika atau Americana seperti banjo atau mandolin–saya perlu dengar sekali lagi untuk memastikan. Seringaian Kurt Cobain menjadi lebih pasrah. Yang ini berbeda sekali dengan interpretasi Paul Anka yang cenderung menggelontor “teen spirit” dalam lagu ini dan menjadikannya “presentable” seperti musik yang “mature”.

Pesan khusus untuk Paul Anka: Maaf, Paul, seindah apapun aransemenmu, aku tidak menemukan Kurt di situ, apalagi kau ubah “load up on guns” menjadi “load up, load up.” Musikmu seksi, tapi musik Kurt ekspresi. Musikmu kau sajikan bagi kami, tapi musik Kurt hanya meminta kami mengerti.

Kembali ke interpretasi Patti Smith, “Smells Like Teen Spirit” mendapatkan aksesori, semacam sematan bros di dada. Aksesori itu adalah spoken words khas Patti Smith (yang juga sangat lazim di kalangan proto-punk maupun para pelakon “punk” lain seperti Henry Rollins. Jangan lupa, bahkan Bernie Sanders (sang mantan calon capres Amerika Serikat itu) pernah suatu kali rekaman spoken words, bukan tanpa terpengaruh musisi punk–dia mendukung para musisi punk lokal negara bagian Vermont saat masih jadi politisi dan aktivis muda. Untuk “Teen Spirit,” Patti Smith memberikan spoken words yang (mungkin tidak mengejutkan bagi Anda) sangat terasa aura Beat Generation-nya. Anda akan lihat nanti di bawah ini. Tapi sebelumnya,  biarkan saya dukung klaim saya: puisi Patti Smith sangat terasa senada dengan bagaimana Allen Ginsberg membuka puisi ikonik “Howl” yang berbunyi ” I saw the best minds of my generation destroyed by madness, starving hysterical naked.” Ada kehancuran, kerusakan badani, kepayahan, dan sejenisnya, membuka puisi ini. Patti Smith menyelipkan itu seolah ingin memperkuat semangat “Teen Spirit.”

Sebagai penikmat, saya tentu memiliki interpretasi sendiri, dan tidak sepenuhnya setuju dengan Patti Smith. Bagi saya, “Teen Spirit” menguarkan kebrutalan semangat muda, tapi menunjukkan aura positifnya yang bersedia menerima siapa saja “a mulatto, a mosquito, an albino, my libido” (segala hal yang seringkali dikesampingkan).

Tapi, tetap saja, sebuah interpretasi yang dilakukan dengan total selalu bisa mendapatkan penghargaan tersendiri. Dan di sini, saya ingin menghargainya dengan menerjemahkan spoken words Patti Smith tersebut. Silakan periksa upaya awal ini dan sarankan perbaikan kalau perlu:

tangan hampa kesucian
menghidupi jalan derita,
dan anak-anak liar yang diburu mencabik-cabik tirai,
menggulung kafan jasad dunia yang yang dikerubuti lalat
menggulingkan meja berhias burung tumbal dari perak,
memukul gendang kulit kambing,
maju dengan tangan terentang
selagi kita mencekoki mereka dengan merkuri, nitrat, asbestos,
bom-bom bayi meledak biru
burung pemakan bangkai mengorek sisa-sisa bakaran
anak-anak penggilingan, anak-anak pembuangan,
mengantuk, buta huruf, tikus-tikus kecil kusut,
ketakutan, menghirup cat,
melayang meninggalkan kepala plontos mereka,
terlupakan, memulung, anak-anak sihir,
bermulut kotor, berhalusinasi…

* Saya tahu tentang versi ini berkat sebuah tweet yang diretweet oleh mas Samack.

Ngobrol Buku di Tengah Arung Jeram

Di hari-hari yang melelahkan ini, selalu ada hal-hal yang cukup menyegarkan. Kalau buat saya yang hari-hari ini seperti sedang berenang di arena arung jeram ini, hal-hal menyegaran itu berupa melihat murid-murid saya menikmati membaca Hemingway yang minim informasi itu dan kemudian berani menyampaikan tafsiran-tafsiran yang melengkapi pemaknaan, atau melihat mereka beradu tafsiran atas Hotel California yang suram-duram itu. Dan, satu lagi: yaitu kemarin, ketika saya dan beberapa kawan dosen dan staf di Universitas Ma Chung akhirnya jadi bertemu di salah satu ruang diskusi di perpustakaan untuk berbincang tentang buku yang kami sukai. Itulah topik postingan absen ini.

Pertemuan kami tersebut menyegarkan bagi saya karena adanya elemen tak lazim. Sekadar info: pertemuan orang-orang untuk membicarakan buku atau karya sastra itu sudah bagian dari keseharian kota Malang yang lagi gemar menggalakkan literasi. Yang menjadikan pertemuan kami lain adalah karena orang-orang yang bertemu adalah dosen dan staf dari berbagai bidang ilmu (sastra, matematika, kimia, desain, dan pustakawan) tapi untuk membincangkan karya sastra dan tulisan populer. Dosen-dosen yang pada jaman now “didera” kewajiban mengerjakan penelitian, berpengabdian kepada masyarakat, dan (tentu saja) mengajar ini ternyata meluangkan waktu untuk ngobrol fiksi.

Menariknya, ada yang berpandangan bahwa membaca fiksi berpengaruh terhadap kinerja dosen. Mungkin saya mengeneralisasi dengan agak brutal di sini, tapi tak apa. Begini maksudnya: kebiasaan membaca tulisan fiksi yang mengalir dan cenderung memperhatikan keindahan berbahasa (tentu “keindahan” di sini dimaksudkan secara luas) pada akhirnya bisa mempengaruhi rasa bahasa seseorang. Ini pendapat yang disampaikan rekan saya Aditya, dosen Desain Komunikasi Visual. Menurutnya, pengalamannya membaca karya sastra membuat dia bisa menulis dengan agak hidup, lebih luwes, dan tidak teknis-instrumentalis (hanya sebagai pengantar pesan). Kongkretnya, membaca fiksi menjadikannya mampu menulis untuk media massa (yang dalam lingkup akademis dianggap sebagai media populer, yang berhubungan dengan orang banyak, orang-orang di luar lingkup akademis–berbeda dengan artikel jurnal yang audiensnya adalah lingkungan akademis). Kira-kira begitulah pandangan rekan Aditya, yang menurut saya sangat menarik untuk ditelusuri lebih jauh dan dibisikkan ke orang-orang.

Pertemuan kemarin adalah pertemuan subtansial kami yang pertama. Sebelumnya kami pernah bertemu untuk membicarakan rencana ini, terus selanjutnya lagi kami bertemu tapi ternyata venue yang kami rencanakan sedang dipakai untuk bedah buku orang lain. Baru kemarin kami sempat berbincang buku sesuai yang kami rencanakan. Di pertemuan pertama itu, yang kebagian berbagi bacaan adalah saya (dosen sastra Inggris) dan rekan Reyna (dosen Matematika). Saya berbagi pembacaan saya atas kumpulan cerpen Yusi Avianto Pareanom yang berjudul Muslihat Musang Emas dan rekan Reyna berbagi buku Anne Frank and the Children of the Holocaust karya Carol Anne Lee. Masing-masing kami dapat bagian setengah jam, yang kami gunakan dengan maksimal. Saya menceritakan cerpen-cerpen anti-klise dalam buku Muslihat sambil memberikan sinopsis dua cerita secara lengkap (biar rekan-rekan tahu) plus membacakan bagian-bagian tidak biasa dari buku tersebut, terutama palindrom dalam cerpen “b.u.d.” Rekan Reyna mengisahkan buku yang seperti biografi Anne Frank yang diambil dari berbagai sumber (wawancara, laporan berita, dan tentu saja buku harian Anne Frank). Pada bagian-bagian kritis ceritanya, rekan saya yang dosen Matematika itu tampak terbawa emosi.

Semoga pertemuan yang diawali dengan kebahagian dan kesegaran ini bertahan lama atau bahkan bisa mengajak semakin banyak rekan dosen dan staf untuk bergabung. Untuk pertemuan selanjutnya, saya sudah tidak sabar ingin mendengar buku-buku lain, non-fiksi, fiksi, komik, dan lain-lain. Kalau yang seperti ini berjalan lancar, berenang di arena arung jeram sambil melawan arus pun tak masalah. Berenang itu menyehatkan, arena arung jeram itu menggairahkan, dan toh ada yang namanya pelampung dan perahu karet yang selalu bisa kita jangkau dan naiki kalau kita memang perlu sedikit beristirahat. Lagipula, toh arena arung jeram itu juga tidak melulu bergolak dan mobat-mabit. Ada kalanya arus tenang di mana kita bisa membenahi ikatan helm, menguras air dari perahu karet, membenahi posisi dayung dan sebagainya. Di situlah mungkin seninya. Ada saatnya gas pol, ada saatnya rem pol, ada saatnya pakai cruise control!

Menangkap Ide: Subjek dan Predikat Esai Kearifan Lokal

“… esai disusun dari material data (sumber), diikat dengan plot (kerangka), dipertajam dengan posisi sudut pandang (keunikan perspektif), dan dinarasikan dengan bahasa (yang luwes).”

Muhidin M. Dahlan dalam Inilah Esai: Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor

Seringkali kita meremehkan diri kita sendiri. Dan saat kita mengetikkan kata-kata ini di bilah pencarian Duckduckgo.com, kita akan mendapati bahwa banyak sekali postingan blog atau website yang menasihati agar kita tidak meremehkan diri sendiri. Etos ini pula yang mestinya kita pegang saat kita harus menulis. Kepala kita menyimpan banyak hal, dan semua hal itu bisa dituliskan. Kegiatan menulis esai, menurut saya, selalu bisa menjadi cara untuk mengetahui apa-apa yang sebenarnya kita ketahui—dan tidak kita ketahui.

Maka, sebenarnya sangat tidak tepat kalau kita jadi salah tingkat dan mati gaya ketika harus menulis tentang tema-tema tertentu, dengan alasan tidak tahu apa yang harus dituliskan. Mestinya, kita sudah memiliki sedikit banyak modal untuk memulai penulisan esai kapan saja, asalkan tema yang diminta tidak terlalu khusus atau spesialis, misalnya metabolisme dinosaurus atau bagaimana kelelawar mengenai pasangan dan anak-anaknya di kegelapan gua.

Untuk mengerjakan esai tersebut, mari kita kunjungi sejenak definisi mengenai esai yang disarikan Muhidin M. Dahlan dalam buku Inilah Esai: Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor: “… [esai] memberikan sesuatu. Entah pencerahan, gugatan, informasi baru, atau bahkan meremang-remangkan dan mencairkan sesuatu yang kadung dianggap terang, baku, padat” (2017: 15). Dari definisi Muhidin di atas, kita mendapatkan satu hal yang meskipun mungkin sangat terbatas, tetap bisa kita jadikan panduan dalam mencari ide dalam menulis esai: kita perlu memberikan sesuatu, “entah pencerahan, gugatan, informasi baru, atau (perenungan ulang).” Mari kita pegang hal-hal ini dalam mengembangkan ide.

Esai = Ujaran

Definisi mengenai esai bisa sangat mendetail dan mencakup banyak hal, hingga kita sendiri mungkin akan dibuatnya gentar saat akan memulainya. Padahal, pandangan kita mungkin akan berbeda bila memandang sebuah esai tak lebih dari sebuah kalimat. Dan, pada esensinya, pembentuk sebuah kalimat adalah subjek dan predikat. “Saya galau,” adalah sebuah kalimat, dengan “saya” sebagai subjek dan “galau” sebagai predikatnya. Begitu juga dalam sebuah esai, pada intinya terdiri dari “subjek” dan “predikat” atau “topik” dan “penjelas.” Seperti contohnya, teks proklamasi, yang juga sebuah esai, pada intinya terdiri dari subjek “bangsa Indonesia” dan predikat “menyatakan merdeka.” Atau esai bapak Soelardi dari UMM berjudul “Profesor Substansial” yang dimuat di Kompas pada tanggal 16 Agustus 2017 yang lalu pada pokoknya adalah “Seorang profesor ideal” (sebagai subjek) “hendaknya mencerminkan sikap-sikap profesorial lebih dari sekadar memenuhi kewajiban ‘profesor’ secara kuantitatif” (sebagai predikat). Dengan adanya subjek dan predikat ini, kita bisa memberikan sesuatu kepada pembaca. Kita memiliki topik, dan juga pernyataan.

Sekarang, bagaimana kalau kita menerjemahkan teori sederhana ini ke dalam proyek kita, membuat esai mengenai nilai-nilai kearifan lokal? Untuk tujuan tersebut, kita bisa menerjemahkan “subjek” dan “predikat” tadi menjadi “objek budaya” dan “nilai.” Dalam proses penentuan, tidak ada kewajiban untuk mendahulukan yang satu atau yang lain. Seperti dalam sebuah kalimat, bisa saja predikat muncul sebelum subjek, seperti: “Kekinian amat papamu!” Yang pasti, kedua hal ini (subjek dan predikat) perlu ada sebelum kita melenggang lebih jauh dalam penulisan esai. Selain itu, kita sama sekali tidak diwajibkan menuliskan hal-hal ini sebelum kita mulai menulis esai. Tapi, tentunya akan lebih memudahkan kalau kita bisa menuangkan kedua hal ini dalam bentuk yang bisa dilihat (tulisan, corat-coret, atau grafik) demi membantu ingatan kita kalau misalnya tiba-tiba kita mendapat interupsi ketika sedang panas-panasnya berpikir (seperti misalnya ketika tiba-tiba seseorang mengajak berjoget “Despacito”).

Subjek: Objek Budaya

Untuk kemudahan, mari kita bahas “objek budaya” terlebih dahulu (boleh juga kalau Anda menyebutnya “ekspresi kebudayaan” dll. Objek budaya bisa sangat banyak, nyaris tak terbatas. Kita tinggal memilih apa saja yang ada di sekeliling kita, mulai objek budaya yang jelas tampak seperti candi, atau terkenal seperti bantengan, atau yang kurang tampak seperti perkumpulan seminggu sekali di perumahan yang sudah berlangsung belasan tahun, ataupun yang tak begitu tampak karena hanya dilakukan orang-orang tertentu. Pendeknya, objek budaya ini sangat banyak dan nyaris tak terbatas, terutama kalau kita menerima kedua definisi ekstrim budaya, yaitu 1) definisi budaya menurut Matthew Arnold sebagai “sesuatu yang adiluhung, diagungkan, dan mengajarkan budiluhur” seperti misalnya wayang kulit, karya sastra lisan, relief candi, dan sebagainya, atau 2) definisi budaya menurut Raymond Williams sebagai “sesuatu yang biasa saja, yang dilakukan manusia sehari-hari,” misalnya budaya ngrumpi, ngopi, bertegur sapa, dan seterusnya, atau 3) definisi budaya menurut pak Koentjoroningrat sebagai segala hasil pikiran dan perbuatan manusia yang tidak bersifat “naluriah” namun merupakan hasil dari “proses belajar.” Definisi yang lazim di Indonesia ini menurut saya ada di tengah-tengah (meskipun cenderung ke satu sisi) bila dibandingkan dengan dua definisi yang lebih awal.

Dengan menerima ketiga definisi budaya ini, alternatif “objek budaya” yang bisa kita ambil untuk studi kita bisa sangat banyak, mulai dari wayang kulit hingga tata cara membuang sampah di depan rumah hingga kebiasan mengopi kita di warung kopi. Karena itu, untuk lebih membantu kita menentukan topik (karena banyak topik yang memang bisa kita ambil), kita bisa membuat kategori-kategori objek budaya. Kategori-kategori ini sifat bisa tidak terbatas. Yang paling tampak antara lain adalah: fisik, non fisik. Untuk yang fisik: bangunan, makanan, benda-benda, orang-orang, bentang alam, dan sebagainya. Untuk yang non-fisik, kita bisa menyertakan: kegiatan, ajaran, kecenderungan, dan sejenisnya.

Predikat: Kebaikan Kearifan Lokal

Sementara itu, untuk predikatnya, kita perlu mencari nilai, yang menjadikan objek budaya tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca kita. Untuk tujuan penulisan kita, yang nilai di sini mengacu kepada “hal-hal baik yang bisa mengajarkan sesuatu kepada kita.” Tapi, kita mungkin masih bertanya-tanya, seperti apa “hal yang baik” itu? Di sinilah kita membutuhkan standar nilai, yang sebenarnya sudah kita akrabi. Sebagai awal, kenapa tidak kita mulai dengan apa yang sudah sering dijadikan ukuran kebaikan buat kita bangsa Indonesia. Apa itu? Sebut saja nilai “Kebertuhanan,” “kemanusiaan,” “kerukunan,” “demokrasi,” dan “keadilan soal.” Ya, saya hanya memparafrase Pancasila di sini, seperti halnya Bung Karno yang memparafrase Pancasila di hadapan sidang PBB. Kalau ingin lebih lagi, biar lebih selaras dengan visi direktorat jenderal Pendidikan tinggi, bisa ditambahkan “pelestarian lingkungan,” “anti narkoba,” “bela negara,” dan sejenisnya, yang sebenarnya juga sudah tercakup dalam nilai-nilai Pancasila yang saya sebutkan sebelumnya, meskipun tidak eksplisit.

Setelah mendapatkan subjek dan predikat ini, kita bisa lebih jauh menentukan nilai macam apa yang terdapat dalam objek budaya yang akan kita soroti. Untuk membantu kita menyoroti nilai-nilai tersebut, kita perlu mengurai elemen-elemen budaya tersebut dengan berbagai metode (5W+1H) atau menyoroti lima elemen Burke (Tindakan, Pelaku, Latar, Peran Pelaku, dan Tujuan). Mungkin (mungkin lho ya) dengan menyoroti setiap aspek dari objek budaya tersebut, kita bisa mendapatkan nilai yang lebih jelas lagi. Semakin banyak aspek dalam objek tersebut yang mencerminkan nilai(-nilai) yang ingin Anda soroti, maka semakin tajam juga esai yang kita tulis.

Setelah memiliki data-data yang mungkin kita butuhkan untuk menulis, barulah kita bisa menentukan bagai cara kita “memberikan sesuatu.” Dari data-data yang ada, kita bisa memutuskan apakah kita akan menyoroti sesuatu yang kurang tampak, mengajarkan, menggugat, merenungkan ulang, atau yang lain. Dengan data-data yang sudah ada itu pula, kita bisa mengikuti ujaran Muhidin yang saya gunakan untuk membuka esai pengantar ini. Sebagian dari hal ini mungkin sudah bisa kita penuhi hari ini, misalnya sebagian sumber data, kerangka, dan posisi yang kita pegang. Untuk yang lain, sepertinya materi pada pertemuan yang selanjutnya akan lebih mampu membantu Anda sekalian.

Untuk workshop pertama ini, mari kita mulai dengan menentukan elemen pembentuk “kalimat” kita. Mari kita mulai dengan mencari objek budaya dan nilai yang akan disoroti. Untuk masing-masing, Anda tidak perlu langsung memutuskan mana yang akan dipilih. Silakan eksplorasi dulu. Untuk bagian nilai, kita juga bisa mengeksplorasi seluas-luasnya. Selanjutnya, kita bisa menyoroti lagi apa yang sebenarnya ingin kita tuliskan. Setelah itu, kita bisa mereka-reka, kira-kira bagaimana kita akan menyusun urutan munculnya sumber itu dalam esai yang kita tulis. Mari!

(Postingan ini dibuat sebagai pengantar dalam salah satu sesi dalam rangkaian workshop penulis esai “Merawat Keragaman Budaya” yang diadakan oleh koordinator Mata Kuliah Umum Universitas Brawijaya selama tiga hari Minggu 1, 8, dan 15 Oktober 2017. Tulisan ini khusus digunakan untuk menangkap gagasan dan menyusun kerangka esai. Untuk slide penyertanya, silakan dapatkan di sini.)

Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan: Katalog Penting Anti-Mati Gaya dalam Menulis Esai

Menurut Carl Sagan dalam Cosmos, bila dibandingkan dengan usia alam semesta yang ditaksir miliaran tahun, sejarah umat manusia ini tidak ada artinya. Saya pun menerima gagasan itu dan menjadikannya etos bagi saya. Maka, buku yang terbit pada tahun 2016, yang kini mungkin tidak lagi laku di pasar resensi media, adalah buku gres bagi saya, masih hangat dan meruapkan kesegaran. Apalagi kalau bukunya sepenting buku Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan ini. Muhidin memang sosok yang memiliki ketekunan mengarsip yang mendebarkan, tapi yakinlah postingan ini tidak hanya puja-puji belaka, saya punya stok kritik yang menurut saya perlu disampaikan di postingan ini juga.

Baiknya kita mulai dulu esai ulasan ini dengan menengok siapa itu Muhidin. Seperti saya singgung di atas, Muhidin adalah seorang pengkliping yang rajin, yang mengkliping berita-berita penting dari jaman dulu sekali hingga dewasa ini (atau “jaman now” istilah kacau sekarang). Kalau ada kejadian-kejadian penting dan media mengulasnya, hampir bisa dipastikan Muhidin mengklipingnya. Sekilas saja dari ingatan saya: bapak Budiono diangkat jadi wapres, Muhidin punya beritanya; bapak Budiono kembali ke kampus UGM dengan penampilan seperti telah bekerja keras selama lima tahun menjawab, Muhidin mengkliping beritanya. Itu baru soal Bapak Mantan Wapres Budiono. Belum lagi soal lain.

Nah, buku Inilah Esai ini, saya yakin, juga hasil dari pekerjaan mengarsipkan yang tekun, terutama mengarsipkan esai-esai yang menurutnya bagus. Dari daftar seratusan esai yang menurutnya bagus itu (yang saat jadi buku bisa sepanjang 11 halaman itu), jadilah buku ini sebagai hasil pilah-pilih bagian-bagian terbaiknya. Ibaratnya: buku Muhidin yang satu ini adalah hasil kerja jangka panjang sejak masa dia mulai mengkliping hingga masa buku ini rampung dituliskan.

Menarik, nggak, kira-kira? Silakan dijawab dalam hati.

Beberapa hari yang lalu, di mata kuliah Study Skills (yang bertujuan mengajarkan baca-tulis buat mahasiswa di kampus saya), saya bertanya bagaimana sikap para mahasiswa saya terkait menulis. Kebanyakan santai, tapi ada satu yang bilang takut (yang tentunya disambut candaan temannya: “Jadi, begitu kamu mengetik, kamu langsung melompat girap-girap begitu?”). Saya yakin ketakutan seperti itu nyata, karena tidak sedikit penulis pemula yang seringkali tidak tahu apa yang harus dituliskan.

Di sinilah pentingnya buku tulisan Muhidin ini. Buku ini tidak hanya memberikan uraian dan gambaran umum atas genre esai (seperti dalam bab-bab awal yang membahas soal mukadimah, penyusunan gagasan, dan pendekatan atas topik), tapi dia juga memberikan panduan-panduan praktis mengenai mengisi setiap bagian penting esai (mulai judul, pembuka, isi, dan penutup). Dia kelompok yang kedua inilah, menurut saya, nilai terbesar dari buku ini. Dengan sifat royalnya dalam memberikan berbagai contoh judul, pembuka, penyusunan isi, dan penutup, seseorang yang ingin serius menulis esai bisa mengantisipasi risiko mati gaya dalam menanam esai. Gampangannya, asal si penulis mau bertanggung jawab mencari sumber untuk esainya, dia tidak perlu terlalu takut dalam mengolah sumber-sumber itu menjadi esai dengan bantuan buku ini.

Muhidin mengantarkan definisi esai dengan cara yang santai dan syarat rujukan, meskipun tanpa menyempatkan diri menawarkan definisi yang secara tegas dan definitif, yang mungkin diharapkan pembaca yang ingin ketegasan. Dari Michel de Montaigne, yang tersohor sebagai bapak esai, Muhidin menyitir arti esai sebagai “coba-coba” dan bahwa kumpulan esai Montaigne adalah tulisan pusparagam. Pandangan dari para esais lain, mulai dari Gus Dur, Cak Nun, hingga Zen RS, juga disinggung, yang bisa dibilang nyaris mufakat mengatakan bahwa esai adalah tulisan yang santai, yang memiliki elemen puisi/prosa sekaligus ilmiah.

Nah, mulai bagian bentuk esai, kita bisa mendapat buah pengarsipan dan kategorisasi Muhidin. Untuk bentuk esai, kita bisa melihat beberapa kategori bentuk esai yang ditemukan Muhidin dari keseratus lebih esai yang dia gunakan untuk menyusun buku ini: surat, puisi naratif, percakapan, kritik yang melengkung, obituary, pengantar buku, dan sebagainya. Di bab yang mengusung judul, ada sejumlah kategori: mengajak berkelahi, perbandingan,bertanya, kutipan, dan seterusnya. Begitu juga dengan bab-bab lain. Tidak ada kesan bahwa hanya itulah kategori esai yang ada; kalau kita mau mencari lebih lanjut, mungkin dengan memperluas cakupan bahasa esai-esai ini, mungkin (nyaris) tidak akan ada Batasan cara membuat judul. Toh, esai itu sendiri kan bisa dimaknai “coba-coba,” jadi ya selama otak manusia masih belum purna tugas, tetap akan ada cara baru membuat judul esai.

Untuk mendukung kategori-kategori itu, Muhidin memberikan contoh-contoh yang siap santap. Untuk membahas kategori membuka esai kutipan, misalnya, kita mendapat nukilan pembukaan dari sebelesa esai, termasuk di antaranya esai Ignas Kleden, Karina Leksono-Supelli, dan Mas Marco. Saya sebut siap santap Karena yang dinukilkan hanya bagian pembukaan saja. Banyak buku panduan menulis yang suka memberikan penjelasan tegas dan definitif, tapi pada gilirannya memberikan contoh, kita harus lompat ke bagian “apendiks” untuk membaca keseluruhan buku.

Tidak ada satu pun di dunia ini yang sempurna, semua tahu. Pada Inilah Esai, satu titik yang menjadikannya tidak sempurna itu adalah pada bab pembahasan isi esai. Muhidin memfokuskan pada pengembangan esai melaui kutipan dan, mengikuti salah satu pesohor dunia esai Indonesia, isi sebuah esai pada intinya adalah deskripsi, atau menjabarkan tentang sumber. Pendekatan atas isi ini menjadikan pembahasannya sangat terbatas, berbeda dengan pembahasannya atas judul, pembuka, dan penutup esai yang menghadirkan berbagai contoh. Bukannya membahas berbagai cara yang ditempuh para “pesohor” itu dalam mengembangkan gagasan pengisi esai, Muhidin memfokuskan pada bagaimana mereka mengolah kutipan, yang bisa dibilang hanya satu dari cara mengisi esai.

Dalam buku Process, Form, and Substance: A Rhetoric for Advanced Writers, Richard M. Coe meminjam dan menerapkan konsep heuristik dalam kepenulisan. Istilah heuristik ini lazim dipakai dalam bidang matematika dan ilmu komputer untuk mengacu pada urutan langkah dalam penyelesaian masalah atau persoalan. Menurut Coe, setiap penulis menggunakan langkah-langkah tertentu dalam menyelesaikan tugas menulisnya. Ada yang menggunakan pertanyaan (termasuk di sini pendekatan 5W+1H dalam penulisan jurnalistik itu), topoi gaya Aristoteles (yang menggunakan puluhan prinsip logika untuk menjari jawab atas soal-soal tertentu), pendekatan Kenneth Burke (yang dipakai untuk mengetahui motif sesuai dengan menyoroti pelaku, aksi, latar, peran, dan tujuan), dan sebagainya.

Alangkah tambah mantapnya bila Muhidin juga menyingkap strategi pengembangan isi para pesohor tersebut selain menggunakan kutipan. Mungkin, sudah cukup melengkapi kebutuhan kita para pembaca bila yang mulia Muhidin kelak melakukan analisis retorika atas esai-esai favoritnya (segelintir saja!), biar kita bisa tahu bagaimana Ignas Kleden mengembangkan esainya yang membuka buku Enam Pertanyaan untuK Sastra Indonesia itu, atau bagaimana Bung Hatta mengembangkan esai “Indonesia Menggugat” itu. Saya sangat yakin, Muhidin adalah orang yang tepat untuk mengurai esai-esai kegemarannya tersebut. Sejauh ini, kita tahu bagaimana dia mengurai cara Bung Karno menyusun esai “Indonesia Merdeka” dengan menggunakan berbagai sumber yang mewakili berbagai ideologi itu. Tolong jangan anggap saya mengabaikan prestasi Muhidin tersebut.

Akhirul esai, saya teringat sebuah acara pelatihan penulisan esai yang saya ikuti (secara tidak resmi) pada awal September ini. Ketika itu, Prof. Djoko Saryono, guru besar di Universitas Negeri Malang sekaligus penulis yang ultra-produktif, menjadi pemateri pelatihan esai yang pesertanya adalah guru-guru muda yang baru menghabiskan waktu setahun mengajar di sekolah-sekolah di berbagai kawasan yang relatif terpencil. Para guru muda ini berencana menuliskan hasil imersi mereka selama setahun itu dalam berbagai bentuk. Sambil makan pisang dan wedang jeruk, saya menyaksikan bagaimana materi dari Prof. Djoko dan mentoring dari Denny Mizhar sepanjang hari itu tampak membuat mereka bergairah untuk mulai menulis—meski banyak di antaranya yang sama sekali tidak pernah menulis. Sekarang, saya bayangkan, buat kawan-kawan yang sudah memiliki semangat menulis (atau “spirit api,” dalam terminology Naruto Shippuden), saya yakin buku Inilah Esai ini akan menjadi semacam katalog yang bermanfaat, yang dari daftar isinya saja para calon penulis esai bisa menaksir dan memilih cara mereka menyusun balok-balok gagasan menjadi esai, secara tangkas, seperti para pesohor itu.