(Resensi) Dongeng Panjang Literasi Indonesia – Yona Primadesi

Judul: Dongeng Panjang Literasi Indonesia
Penulis: Yona Primadesi
Penerbit: Kabarita
Cetakan: I/2018

Oke, sebelum negara api menyerang, biarkan saya lemparkan dulu resensi tiga paragraf ini mengenai sebuah buku mungil, asyik, dan penting (MAP) yang baru-baru ini saya baca:

Dongeng Panjang Literasi Indonesia merangkum lontaran-lontaran gagasan dan keprihatinan berwawasan dari Yona Primadesi mengenai sejumlah tema literasi, yang sebagian besarnya adalah tentang literasi anak. Buku ini dibuka dengan afirmasi Yona bahwa literasi bukan hanya perihal baca-tulis, yang didasarkan pada Deklarasi Praha tahun 2003. Afirmasi mengenai literasi yang perlu dipahami secara luas ini ditegaskan kembali dalam esai penutup ketika Yona berbicara tentang literasi penduduk asli (indigenous literasi) yang mungkin lebih kita akrabi dengan istilah kearifan lokal.

Di bagian tengah buku ini, kita mendapati renungan serta lontaran gagasan Yona mengenai literasi anak, peran orang tua dalam literasi anak, perpustakaan yang ramah anak, keprihatinan mengenai buku anak, dan sejenisnya. Kalau kita ngotot ingin merangkum bagian isi buku ini dalam satu kalimat, mungkin kita bisa mencoba ini: literasi perlu ditumbuhkan pada anak, pertama oleh orang tua, dan selanjutnya oleh institusi pendidikan, selanjutnya oleh industri perbukuan, dan juga oleh negara. Budaya baca bagi anak (poin terpenting dari literasi) adalah sesuatu yang terlalu besar untuk menjadi tanggung jawab satu pihak saja.

Kalau saya dipaksa memberikan kritikan, saya ingin menyoroti satu fakta bahwa buku ini sama sekali tidak menyinggung buku-buku tentang literasi yang terbit di Indonesia. Ambil saja sebagai contoh buku Suara dari Marjin karya kolaborasi Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah yang pada prinsipnya tidak berseberangan dengan buku ini–justru sebaliknya mungkin saling mendukung. Menurut saya, dengan semangat pembangunan tradisi dan kerja bareng pengembangan ilmu pengetahuan melalui dialog, penulis dalam bidang-bidang tertentu perlu saling menyinggung satu sama lain dalam karya-karyanya (entah itu dalam bentuk mengafirmasi, menggugat, maupun mengisi celah). Lagipula, usaha saling menyinggung bisa juga menjadi sarana menyarankan bacaan bagi pembaca yang tertarik tahu lebih jauh. Bagaimanapun, harus dipahami di sini bahwa sebagian dari esai-esai Yona Primadesi ini telah diterbitkan di media bahkan mungkin sebelum Suara dari Marjin terbit. Akhirur-resensi: perlu dibaca!

Advertisements

Museum (+Kolam Renang) Panji, Tumpang, Malang

Sejak tahun lalu, seorang kawan saya, Cak Syarif, memberitahu saya bahwa dia tengah mempersiapkan sebuah museum (membuat diorama dan lain-lain) dan beberapa bulan terakhir dia mengajak saya ke museum tersebut. Namanya Museum Panji, baru dibuka tahun 2017 ini. Akhirnya, pada liburan Maulid Nabi kemarin, di sebuah hari Jumat, saya pun ke sana, dengan mas Didit, seorang kawan dosen di Universitas Ma Chung yang juga editor film sekaligus juga crew band top daerah Tani Maju. Pada kunjungan pertama itulah saya mendapati betapa tidak standar-nya konsep Museum Panji ini–dan pagi ini tadi saya mengulangi kunjungan sambil terjebak ketidakstandaran konsep tersebut.

Apa ini maksudnya? Saya akan coba jelaskan dalam tiga paragraf ke depan.

Ternyata, Museum Panji sangat hadir di dunia maya, tapi kurang petunjuk di dunia nyata. Museum ini sangat mudah ditemukan di Google Maps. Mestinya, para penggagas museum sangat peduli dengan eksistensi di Google Maps, satu hal yang wajib pada jaman sekarang kalau kita ingin membuat sebuah layanan komersial publik. Nah, uniknya, ketika mendekati lokasi, saya tidak temukan sedikit pun petunjuk yang mengatakan bahwa di sini bakal ada Museum Panji (yang berkualitas internasional, menurut sebuah review). Bahkan, ketika tiba di pelataran bangunan museum pun, saya tidak melihat tulisan “Museum Panji,” yang ada hanya tulisan “Kolam Renang.” Sebagai pengunjung pertama, saya agak ragu. Tapi untungnya mas Didit sudah stand by di lobby dengan secangkir kopi yang mengepul dan topi merah Tani Maju bertengger di kepala.

“Hmmm,” kata Master Yoda.

Ternyata, Museum Panji memang juga kolam renang (dengan arsitektur yang mengingatkan kita pada sebuah Patirtan). Waktu saya melongok dari Lobby ke arah halaman tengah lokasi, tampak di sana kolam renang dengan dasar biru dengan beberapa anak kecil berkecipakan di air seperti Spongebob dan Patrick berburu ubur-ubur. Waktu saya lihat fotonya dari Cak Syarif dan dari hasil googling, memang ada terlihat kolam dan gapura dan fasad candi dari batu-bata (yang sangat mengesankan jaman Majapahit). Kalau melihat adanya elemen candi dan air, saya mau tidak mau langsung ingat Jolotundo, sebuah Patirtan (dan mungkin candi pertama dalam hidup saya). Memang sih Jolotundo adalah candi dari batu andesit, bukan batu-bata; tapi ya namanya imajinasi ini sulit dikendalikan, gapura Museum Panji pun bisa mengingatkan pada Jolotundo. Dari gambar-gambar yang sebelumnya saya dapatkan, saya tidak mendapat kesan bahwa kolam biru di depan gapura itu adalah kolam renang. Ternyata, eh ternyata, itu kolam renang yang hidup, yang aktif, dan belakangan saya ketahui ternyata lebih populer daripada Museum Panji itu sendiri.

“Meditate on this I will,” kata Master Yoda saat melihat konsep museum plus kolam renang tersebut.

Panji2

Ternyata, lagi-lagi ternyata, koleksi Museum Panji sendiri sangat bagus dan melebihi ekspektasi saya, meskipun masih perlu penataan lebih maksimal untuk mencapai level “museum internasional.” Di lobby tempat saya dan mas Didit ketemu itu, kita bisa melihat banyak hal, mulai dari topeng malangan (topeng dari kayu yang menampilkan karakter-karakter dari Cerita Panji), silsilah para bupati Malang yang kalau dirunut sampai raja-raja Jawa jaman kuno, hingga wadah makanan dari kaleng yang populer disunggi oleh orang jualan makanan pada jaman dahulu. Ada juga di sana sebuah panggung ukuran sedang yang bertuliskan “Museum Panji.” Nah, akhirnya, ada satu label yang menegaskan nama tempat ini! begitu pikir saya. Waktu mas Didit mengajak masuk ke museum, saya semakin takjub dengan koleksi wayang-wayang kulit (yang ada beberapa di antaranya sudah tidak lengkap lagi–yang justru menunjukkan orisinalitasnya sebagai barang koleksi yang sudah lama dimiliki si pemilik). Wayang-wayang ini pun dipajang pada kain putih yang dipasang pada latar kaca yang mendapat cahaya alami dari luar. Saat dipotret, tentu saja hasil gabungan antara backlight dan wayang menghasilkan efek seperti melihat bayangan wayang di balik geber. Asyik. Di dalam, juga ada diorama peperangan jaman kerajaan yang digarap dengan sangat apik dan ditata di bagian tanah yang digali hingga kedalaman sekitar 2 meter. Dari tempat kita melihat, terlihatlah peperangan dengan prajurit infantri bertombak, prajurit berkuda dengan kuda-kudanya yang ramping, dan bahkan ada pasukan bergajah di bagian belakang. Palagan yang asli tanah itu agak bersemu hijau di beberapa bagian, memberikan kesan rerumputan tipis yang menumbuhi palagan. Ada juga koleksi tembikar hasil arkeologi bawah air (yang ditemukan dari kapal-kapal karam–seperti yang juga kita temui di Museum Candi Borobudur). Pada banyak koleksi, terdapat informasi yang menjelaskan sejarah benda-benda koleksi atau diorama yang dimaksud, tapi masih banyak koleksi yang belum memiliki penjelasan tersebut.

Kalau dibandingkan museum-museum yang sudah mapan sejak jaman old, mungkin koleksi museum panji sendiri terbilang sedikit. Tapi, saat mengetahui bahwa benda-benda koleksi museum ini adalah benda-benda koleksi pribadi si pemilik (pak Dwi Cahyono), terbit kekaguman saya. Di Arkansas, saya cukup akrab dengan Museum of Native American History, sebuah museum yang awalnya adalah benda-benda koleksi pribadi David Bogle, dan sekarang jadi museum kecil yang kaya koleksi sejarah Native American, baik suku pribumi di Amerika Utara maupun Amerika Selatan–bahkan ada juga skeleton mammoth, yang tak kalah pribuminya di benua Amerika. Dwi Cahyono ada juga tokoh di balik Yayasan Inggil Malang, yang sudah lebih dikenal sebelumnya. Benda-benda sejarah yang menjadi koleksi bukanlah barang yang murah–dan tentu saja ini barang langka. Sangatlah menguntungkan–untuk tujuan pengetahuan pribadi maupun pendidikan formal–saat seorang kolektor mempersilakan orang lain ikut melihat benda-benda koleksi tersebut.

“Judge me by my size do you?” goda Master Yoda mengetahui rasio antara ukuran dan potensi Museum Panji.

Panji1

Maka, bagi saya pribadi, meskipun harus membayar untuk melihatnya (dewasa 25 ribu, anak-anak 20 ribu, dan menurut sebuah review terbilang mahal), hal tersebut sangat bisa dimengerti. Toh, kita sebenarnya juga bisa memilih untuk juga menikmati fasilitas museum yang lain, yaitu kolam renangnya tadi. Coba Anda ingat, berapa Anda harus membayar untuk berenang di kolam renang yang bersih? Belum lagi kalau kolam renangnya seperti Patirtan dari Jaman Majapahit. Mungkin, mungkin, mungkin, ini bisa jadi aspek museum yang sangat berpotensi dalam memberikan sumbangsih dalam pendidikan kemasyarakatan. Seperti halnya jaman wali songo dulu orang-orang “dipancing” dengan musik untuk datang dan kemudian diajari tentang Islam, mungkin Museum Panji bisa memancing anak-anak untuk datang dan berenang bersama keluarga untuk kemudian diajak belajar tentang sejarah. Siapa tahu.

Itu sangat bisa, asal Anda tidak seperti saya pagi tadi–dalam kunjungan kedua saya di tahun 2017 ini. Saya dan anak saya datang ke sana karena anak saya ingin berenang. Setelah berenang, sambil makan Pop Mie, saya beri tahu anak saya bahwa kita akan melihat-lihat koleksi museum lagi. Eh, ternyata, setelah Pop Mie tandas, setelah ganti baju, setelah segar kembali, kok malah langsung bablas pulang dan lupa melihat-lihat koleksi museum lagi. Ealah!

“Truly wonderful the mind of a child is,” kata Master Yoda mengomentari kami.

Sementara itu dulu yang bisa saya ceritakan tentang museum panji. Maaf yang rencananya cuman esai lima pargraf ini akhirnya jadi sedikit terlalu panjang. Dan sayangnya itu pun belum membahas aspek-aspek lain Museum Panji ini, seperti misalnya lokasinya yang berbatasan dengan sebuah sungai dan berpemandangan dam irigasi jaman kolonial, kontur tanahnya yang bisa dieksplorasi lebih jauh, dan lain-lain.

(Terjemahan Lagu) Aerials – System of a Down

Perlu kiranya sedikit pendahuluan untuk postingan kita kali ini. Saya kenal System of a Down pertama kali melalui album Toxicity, melalui kebaikan hati seorang kawan yang memperkenalkan band metal yang didengarkannya waktu itu. Ketika itu, awal tahun 2000-an, tengah naik daun band-band metal (atau nu metal atau hip metal) semacam Korn, Limp Bizkit, Soulfly dan lain-lain. Tentu saya sempat merasakan teriak-teriak ngerap “Take a Look Around” sambil mungkin membayangkan diri akan menjadi seganteng Tom Cruise. Nah, di satu kesempatan saya minta rekomendasi band baru dari seorang kawan, gitaris yahud di Malang asal Blitar bernama Yudi Ijum. Dia meminjami saya kaset Toxicity yang kemudian saya puter di kamar kost sampai berhari-hari atau bahkan berminggu-minggu. Itulah perkenalan pertama saya dengan System of a Down.

Ketika itu saya merasakan musiknya asyik–ada ruang-ruang jernih yang selalu saya suka–dan vokalnya tak ada duanya–ada cengkok-cengkok yang tidak lazim di band metal mana pun. Waktu itu saya anggap saja biasa, karena Korn juga punya kecenderungan memakai cengkok-cengkok khas yang tak bisa ditemui di band-band lain. Power vokal Serj Tankian yang super-bariton itu jug atak urung membuat saya cinta. Saya juga suka vokal Korn meskipun ketika itu musiknya menurut saya terlalu berisik dan sulit dicerna (pandangan serampangan yang selanjutnya berubah setelah saya dengar versi akustik mereka dan semakin jatuh cinta setengah mati–apalagi di situ ada vokalis gothic-metal “Amy Lee, from Evanescence”). Kayaknya, waktu itu ukuran vokal adiluhung adalah bariton, seperti halnya Tuan Jim Morisson yang baru beberapa tahun sebelumnya saya kenal. Tapi, seiring waktu, seiring hadirnya musisi-musisi baru dalam hidup saya, System of a Down pun melesap ke latar…

Sepuluhan tahun kemudian, ketika YouTube menjadi realitas tak terhindarkan yang tak ubahnya wartel di masa 2000-an awal, saya sempatkan mencari lagi System of a Down. Hmmm… Tetap menarik.

Beberapa tahun kemudian, saya kenal seorang pianis perempuan asal Lebanon, yang datang ke kampus saya di Arkansas untuk menyajikan resital dalam peringatan 100 tahun genosida bangsa Armenia. Saya kebagian tugas memvideo dan merekam audio dalam resital tersebut. Keluarga Amy, nama pianis itu, sudah tiga generasi tinggal di Lebanon, tapi dia orang Armenia. Dia hanya memainkan nomor-nomor karya para komponis yang nama-namanya memiliki kemiripan yang tak mungkin terlewatkan: semua nama belakangnya diakhiri dengan “-ian.” Saya langsung teringat System of a Down (vokalisnya Serj Tankian, dan yang lainnya juga mengandung “-ian”). Yang lebih penting lagi, ketika mendengarkan resital tersebut: saya dikejutkan oleh ketidakbiasaan yang terasa seperti gelombang yang membentur karang di pantai saya belasan tahun yang lampau. Semua komposisi klasik yang dimainkan oleh Amy adalah karya komponis Armenia. Di situlah, ada nada-nada khas, yang berkisar antara misterius dan manis dan pilu, yang berbeda dengan yang kita temui dalam komposisi-komposisi klasik dari Eropa–apalagi Amerika, ya tentunya skor-skor film Hollywood itu juga komposisi klasik kekinian dong! Komposisi-komposisi klasik Eropa penuh kemegahan, keceriaan musim semi, kesyahduan spiritual, dan sejenisnya. Keganjilan nada-nada komponis Armenia itu–dalam benak saya–memiliki kemiripan dengan ganjilnya cengkok-cengkok Serj Tankian dalam Toxicity.

Saya langsung riset kembali tentang System of a Down. Ternyata oh ternyata! Semua anggota System of a Down memang keturunan Armenia. Bahkan beberapa di antara mereka lahir di luar Amerika (Lebanon? Armenia?) dan baru kemudian bermigrasi ke Amerika. Dan, pada tahun 2015 itu, ternyata Serj juga ikut berkampanye menumbuhkan kesadaran orang tentang genosida bangsa Armenia oleh kekaisaran Turki Utsmani (yang masih belum begitu saja diakui oleh negara Turki saat ini). “Riset” saya juga akhirnya membuat saya menguji asal-usul semua orang Amerika yang namanya berakhiran “-ian” dan memang semuanya terbukti sebagai keturunan Armenia (termasuk Derek Sherinian, kibordis ultra-agresif yang pernah berkarir di Dream Theater itu).

Baiklah, saya cukupkan di sini saja obrolan saya tentang System of a Down. Kenapa saya nulis ini? Karena kebetulan saja kemarin sore waktu di kantor saya mendengar rekan kantor depan saya muter soundtrack-nya Dea Lova sementara rekan di ujung lorong muter Toxicity. Saya memutuskan untuk menikmati saja musik yang siap pakai itu. Dan baru kemudian saya ingat punya terjemahan “Aerials” yang tidak pernah saya terbitkan. Jadi silakan nikmati terjemahan “Aerials” berikut ini. Kata “Aerial” sendiri tidak saya terjemahkan karena saya sendiri masih ragu-ragu, kira-kira apa yang dimaksud “Aerial” di sini. Secara harfiah sih artinya di sini seperti mengacu ke antena-antena yang biasanya menghiasi pandangan kita saat melihat ke langit di tengah pemukiman padat. Tapi, saya cukup yakin juga bahwa aerial ini bisa berarti semacam serangga yang berkitaran di atas kita dan bisa melihat kita secara “aerial view” :). Jadi, daripada membunuh potensi makna yang mungkin akan datang kepada Anda, biarkan saja “Aerials” tetap menjadi “Aerial.”

Selamat menikmati!

AERIAL

Hidup adalah air terjun
Kini kita yang di sungai
Dan nanti lagi setelah jatuh

Berenang di kehampaan
Kita dengar firmannya
Kita lalu tersesat
Tapi temukan semuanya.

Karena kita yang ingin bermain
Selalu ingin jalan
Tapi tak pernah mau tinggal

Aerial di langit
Saat sirna benak ciutmu
Kau bebaskan hidupmu

Hidup adalah air terjun
Kita minum dari sungai
Lalu berbalik dan membangun tembok

Berenang di kehampaan
Kita dengar firmannya
Kita lupa diri
Tapi temukan semuanya.

Karena kita ingin bermain
Selalu ingin jalan
Tapi tak pernah mau tinggal

The Stage: Album Konsep Tema Kekinian

Waktu kita mepet, Saudara, tapi yang namanya gelora yang sedang membuih harus diberi saluran buang, biar tidak terjadi ledakan. Baiklah.

Di antara sejumlah album yang saya nikmati setahun terakhir, ada album baru dan ada album lama yang baru saya kenal. Untuk album lama yang baru saya kenal, sebut saja album-album Nick Drake, terutama tiga album dari masa hidupnya. Saya berkenalan dengan Nick Drake beberapa bulan yang lalu karena ada kawan yang menawari ngobrol soal buku tersebut. Album-album Silampukau juga termasuk kelompok ini. Kalau untuk album baru, saya bisa menyebut album Tanimaju Bed4 Topi Miring Bersama dan album Avenged Sevenfold terakhir, The Stage. Nah, album yang terakhir ini akan kita obrolkan sedikit di sini. Sedikit saja, asal pantes. Kenapa diobrolkan? Karena album ini temanya kekinian, yaitu AI, dan “genre” liriknya asyik, yaitu fiksi ilmiah. Asyik. Pol.

The Stage
Sampul album diperoleh dari sini:

Pertama kali saya tertarik kepada album ini adalah karena sampulnya. Di sampul tersebut terlihat nebula dengan warna dominan khas jagad raya, ungu dan merah, dengan bumi dan bumi di pusatnya, dengan bulan mengitarinya. Juga ada kilat di sebelah kanan dan kiri. Bagi yang pernah baca bukunya Carl Sagan, Cosmos, pasti dia akan langsung teringat Carl Sagan saat melihat sampul ini. Bagi yang suka lihat sampul albumnya Avenged Sevenfold, mungkin Anda akan curiga pasti nebula dan kilat dan bumi ini ada apa-apanya. Ya, coba lihat dari jarak agak jauh dikit, maka tampaklah, bawah nebula itu bisa menyerupai tengkorak yang miring tiga perempat ke kanan (bumi ada di mata kirinya) da kilat-kilat itu adalah sayapnya (saya kelelawar). Sayap kelelawar dan tengkorak adalah simbol yang selalu hadir di album-album A7X (Diazab 7 Kali). Ya, kalau Anda termasuk penggemar A7X, yang menyebut diri Anda The Fallen (Kaum Ternista), maka tengkorak yang menyelingkupi bumi dalam bentuk nebula itu tampak jelas.

Nah, betapa sarat simbolnya sampul album ini. Begitu saya membacanya.

Ada satu masalah sebenarnya: kemungkinan pembacaan saya diarahkan oleh sebuah wawancara dengan M. Shadows bahwa album The Stage ini adalah ungkapan keresahan mereka terkait perkembangan teknologi yang semakin memakan manusia. Di situ dia sebut AI dan nanobot, yang berpotensi mengambil alih posisi manusia sebagai pusat jagad raya, atau–untuk menggunakan istilah dalam Islam–“khalifah di muka bumi.” Ketika saya membaca wawancara itu, saya sudah mulai dengar albumnya, tapi saya hanya merasakan perubahan musiknya yang kian atmosferik (lebih mirip album Nightmare daripada Hail to the King) dan lebih variatif dalam mengatur tempo (lagi-lagi, lebih mendekati Nightmare daripada Hail to the King). Kalau boleh menggunakan simplifikasi, album ini lebih nge-progressive daripada nge-metal.

Tapi ya, harus diingat, kita di sini ngobrol soal Avenged Sevenfold, yang dalam sejarahnya bisa berubah-ubah warna, mulai dari vokal yang kasar dalam City of Evil hingga yang jernih melolong dalam Nightmare, mulai dari musik yang penuh marah dan pilu dalam Nightmare hingga yang pesta pora metal dalam Hail to the King. Jadi, kalau saya bilang album The Stage ini lebih nge-progressive, kita tidak semestinya menganggap ini sebagai puncak kematangan mereka atau sejenisnya. Bisa saja ini merupakan pilihan bentuk yang disesuaikan dengan temanya, wadah ekspresi yang disesuaikan dengan isi ekspresinya. Tapi, mungkin tidak semestinya saya mengesankan adanya perpisahan antara bentuk dan isi seperti ini. Duh!

Nah, tibalah kita ke subject matter liriknya.

Ternyata, bila lagu-lagu dalam album The Stage ini ditilik satu per satu, akan tampak bahwa mereka tidak melulu berbicara tentang AI dan nanobot. Pendeknya tidak se-sci-fi yang dikesankan dari ucapan Mas Shadows. Memang ini album terasa sekali album konsep, tapi hubungan antara lagu satu dan lagu selanjutnya tidak selinier yang mungkin kita harapkan. Beda sekali tentu saja dengan album Horslips The Tain (yang merupakan progmetisasi dari epik Irlandia tentang perebutan kerbau) atau album Dream Theater Scenes from Memory (yang berkisah tentang past life regression). Album ini merupakan satu kesatuan, tapi benang merahnya adalah tema. Mungkin, masing-masing lagu adalah puzzle yang menggambarkan kebingungan zaman ini terkait posisi kita manusia yang dalam sejarahnya cenderung menganggap berada di pusat semesta, atau kosmos untuk menggunakan istilah yang lebih ngepas dengan sampul album A7X.

Sekilas saja, di lagu pertama yang berjudul “The Stage” kita bisa mendengar renungan mengenai manusia yang mulai mempertanyakan posisinya di dunia. Di situ, Anda akan merasakan pertanyaan tentang benarkah kita ini ciptaan Tuhan, benarkah Tuhan mengawasi seluruh gerak kita, pantaskah setelah melihat ulah manusia yang brutal (bom nuklir!) kita tetap percaya adanya Tuhan yang mengawasi. Aku lirik dalam lagu itu bertanya siapakah yang mengawasi dari luar sangkar selagi kita berlaga di atas panggung ini? Pendeknya, lagu ini berisi pertanyaan eksistensial manusia. Dan ujung-ujungnya lagu ini bilang “aku percaya adanya jawaban, tapi tidak sekarang.”

Baru pada lagu kedua, “Paradigm,” kita bisa mulai merasakan nuansa fiksi ilmiah. Dalam lagu ini, kita mendengar lirik tentang tokoh yang sudah lama tidak bisa merasakan hidup bagai manusia biasa, tidak lagi sakit, tidak lagi butuh makan. Tapi dia tetap hidup. Dia tetap hidup, menjalani apa yang disebut di sini sebagai “paradigma akhir.” Kalau Anda mengikuti perdebatan mengenai “jiwa” dalam kacamata ilmu pengetahuan, pasti Anda akan segera memahami lagu ini. Dalam diskusi keabadian tersebut, ada argumen bahwa yang menjadi intisari dari jiwa manusia adalah isi pikirannya. Dalam argumen tersebut, bila isi pikiran tersebut diunduh dan kemudian disimpan ke dalam sebuh hard drive atau sejenisnya, maka “jiwa” seseorang akan tetap ada. Maka, jika yang seperti itu  bisa dilakukan, “keabadian” bukanlah sesuatu yang mustahil. Sebagai ilustrasi, ambillah contoh sosok Jor El, bapak si Superman. Si bapak sudah lama mati, tapi memorinya berhasil disimpan dalam pesawat yang membawa bayi Kal El ke bumi, dan saat memori itu diaktifkan, maka Jor El bisa hadir dan berkomunikasi dengan Superman, bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin lagi dijawab oleh Jor El yang asli (dia sudah wafat di planet Kripton sana). Memori Jor El bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Superman dan tetap memberi bimbingan dan hikmah kebijaksanaan karena memori itu sifatnya adalah Artificial Intelligence, isi pikiran Jor El yang masih aktif, yang masih bisa merespons hal-hal baru. Jor El, pendeknya, sudah mengalami “keabadian.” Dalam lagu “Paradigm,” hal itulah yang menjadi bahasan. Tapi, di lagu itu, si orang abadi menjadi sengsara, sebab dia tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Dia bertanya “Masihkah ada sisa manusia pada diri ini?” Nah!

Dua saja dulu ya? Lagu-lagu yang lain akan kita bahas dalam diskusi di Klub Buku dua minggu lagi. Di lagu-lagu lain ada bahasan tentang artificial intelligence yang membuat kita manusia terancam, karena kita yang dulu membuatnya, “tuannya, hanya menjadi batu pijakan” (lihat lagu “Creating God”). Ada juga lagu Fermi Paradox yang tentunya merupakan metalisasi dari paradoks bahwa “kemungkinan adanya makhluk lain di jagad raya ini sangat besar sementara bukti tentang keberadaan mereka sama sekali tidak ada.” Dan juga ada lagu “Exist” yang mungkin mengandung utopian impulse atau isyarat adalah harapan bagi umat manusia dan diakhiri dengan ucapan Neil deGrasse Tyson–fisikawan yang sering dianggap sebagai penerus Carl Sagan dan bahkan baru-baru ini menjadi pembawa acara Cosmos versi baru, yang tentunya merupakan TV-isasi dari buku Carl Sagan yang terkenal itu.

Kembali ke sampul album, mungkin kita bisa menafsirkan posisi bumi yang ditengah layar itu sebagai pandangan manusia yang masih merasa sebagai pusat semesta, tapi hal tersebut mungkin tidak lama, entah karena bumi akan dimangsa nebula dan sepasang kilat yang ada di sekitarnya itu, atau pula mungkin karena akan tumbuh kesadaran manusia bahwa kita ini hanya seujung upil dari jagad raya yang tanpa batas ini (itu kalau kita mempertimbangkan ucapan Neil deGrasse Tyson di lagu terakhir album ini).

Jadi begitulah menariknya album ini. Tentu masih ada hal-hal menarik yang bisa dibahas. Apakah munculnya The Stage ini adalah kaitannya dengan bergabungnya Brooks Wackerman, yang dari tahun 2001 hingga 2015 kemarin merupakan penggebuk drum Bad Religion, band punk yang pandangannya belakangan sangat dipengaruhi oleh pandangan-pandangan biological anthropology Greg Graffin, yang merupakan seorang naturalis itu? Entahlah. Apa yang terjadi dengan Avenged Sevenfold sampai-sampai bergabungnya mantan penggebuk drum Bad Religion–yang bisa dibilang temponya relatif konstan itu–malah membuatnya memiliki tempo yang lebih warna-warni (progresif?)? Banyak pertanyaan lainnya. Mari kita jawab kalau ada waktu.

 

Pantai 3 Warna & Pengelolaan Wisata Alam yang Perlu Ditiru

(Versi yang lebih ramah koran dari tulisan ini dimuat di kolom Citizen Reporter koran Surya di sini dan pada edisi cetak koran tersebut Sabtu 4 November kemarin)

Pantai Tiga Warna adalah objek wisata alam di Malang Selatan yang wajib kawan-kawan kunjungi. Bukan sekadar karena objek ini kekinian dan layak-selfie. Tapi, setidaknya ada empat hal hebat yang sebagian tidak ada di mana pun di Indonesia. Klaim saya ini berdasarkan kunjungan saya ke Pantai Tiga Warna beberapa waktu lalu bersama kawan-kawan saya menerjemah di Transkomunika, dan ditambah dengan informasi yang saya peroleh dari acara “Bincang Alam” di P-WEC (sebuah balai edukasi konservasi di kawasan Dau, Kabupaten Malang) pada 15 Oktober 2017 lalu. Lebih dari sekadar urusan berwisata, mengunjungi Pantai Tiga Warna bisa menjadi pengalaman yang akan mengubah cara pandang kita memandang wisata alam.

Kepedulian. Objek wisata alam ini muncul kembali berkat kepedulian warga setempat yang ingin mengatasi kerusakan alam. Setelah pada awal tahun 2000-an hutan pantai selatan di kawasan ini rusak karena eksploitasi, warga berinisiatif untuk memperbaikinya. Maka, berkat pendampingan beberapa pihak dan kedisiplinan para warga setempat, kondisi alam di wilayah Pantai Tiga Warna mulai bisa dipulihkan.

Komitmen kebersihan. Pengelola objek ini berkomitmen memastikan kebersihannya. Ketika baru memasuki kawasan wisata, para pengunjung harus melewati pos pemeriksaan isi tas dan potensi sampah. Berapa botol air minum kemasan, isu basah, tas plastik, masker hidung, dan sebagainya, yang Anda bawa? Semuanya dicatat. Nanti, ketika meninggalkan lokasi, pengunjung harus kembali membawa barang-barang tersebut keluar. Kalau tidak, silakan pilih: kembali ke pantai dan mengambil sampah itu atau bayar denda Rp.100ribu.

Park Interpreter. Pengunjung harus ditemani pemandu dalam perjalanan dari pintu masuk hingga ke Pantai Tiga Warna. Setiap sepuluh orang harus disertai seorang pemandu. Kelompok saya dulu dipandu oleh Pak Pi’i dan mas Cepi. Pak Pi’i menceritakan riwayat pengembangan objek wisata alam ini dan upaya pemulihan alam yang telah ditempuh. Di kancah internasional, para pemandu ini disebut Park Interpreter, yang tugasnya menceritakan semua elemen, sejarah, dan kekhasan objek wisata. Hasilnya, para pengunjung dapat menghargai taman wisata ini lebih dari sekadar keindahan fisiknya.

Pembatasan. Pengelola membatasi jumlah pengunjung yang bisa berada di Pantai Tiga Warna dalam satu waktu sekaligus. Hanya boleh ada 100 orang dalam satu waktu (2 jam). Selama dua jam itu, pengunjung bisa menyewa pelampung dan alat snorkeling untuk melakukan untuk melihat kecantikan terumbu karang dengan ikan warna-warninya, satu hal yang langka di Jawa Timur.

Banyak lagi yang bisa dituliskan tentang Pantai Tiga Warna, ruang saya di sini sudah habis. Silakan kunjungi dan saksikan bagaimana objek wisata alam ini dikelola dengan disiplin dan rasa cinta. Menurut Agus Wiyono, kepala East Java Ecotourism Forum, penyaji di acara “Bincang Alam” yang saya sampaikan di atas, belum ada yang menyamai pengelolaan Pantai Tiga Warna ini di Indonesia. Jadi, pergilah ke sana, bukan hanya untuk selfie, tapi juga untuk melihat bahwa ada harapan cerah dalam pengelolaan wisata alam di Indonesia bisa ditiru. Dan inilah yang wajib diviralkan.

Hari Santo di Savannah, 2015

duduk di kursi biru dan menunggu
satu per satu penumpang flight terakhir
ke konter budget, menyewa sedan paket hemat
dan melesat ke Savannah untuk menyerahkan
sisa perjalanan ke altar spring bed penginapan
mungkin setelah memesan pizza diantar sepeda
mungkin sambil menyimak dampak valentine
mungkin sebelum sisa turbulensi mengusik
aku tak menemukan vending machine
dengan kopi instan rempah labu
pertama, bukan musimnya
kedua, bandara ini menghargai
kita boleh kesepian, bahkan hari ini

Patti Smith dan Upaya Mentransfusi “Smells Like Teen Spirit”

Hari ini saya menemukan* satu hal yang tidak standar, “Smells Like Teen Spirit” dari Nirvana dimainkan oleh Patti Smith. Tidak standar tentu saja. Patti Smith yang menjadi tulang punggung proto-punk memainkan salah satu masterpiece “punk” dari era dua dekade di bawah angkatannya. Tentu saja saya memakai istilah “punk” di sini lebih berhubungan dengan etos, sikap, perilaku. Dan selalu, kejadian seperti ini mendatangkan berbagai pikiran bungah hati.

Yang namanya Patti Smith, sosok yang nglakoni “punk” dengan merdeka itu, tentu tidak akan puas hanya mengkover sebuah lagu. Tidak. Beliau tidak hanya mengkover, tapi juga merevivalisasi, merejuvenasi, menghidupkan kembali, dengan sumbangan darah dan jiwa. Dia interpretasi ulang lagu itu demi menghadirkan pembacaan yang lebih simpel atas nada-nadanya. Musiknya menjadi lebih sesuai kecenderungan Kurt Cobain di akhir masa hidupnya (lebih sederhana), dan sesuai juga dengan kecenderungan sepuluh tahun terakhir para musisi lain yang seringkali dimasukkan ke “grunge bandwagon” seperti alm. Chris Cornell (di album Songbook) dan Tuan Eddie Vedder (lihat album Into the Wild dan Ukulele Songs).

Patti Smith menggunakan aransemen yang lebih sederhana. Terdengar di sana elemen-elemen folk Amerika atau Americana seperti banjo atau mandolin–saya perlu dengar sekali lagi untuk memastikan. Seringaian Kurt Cobain menjadi lebih pasrah. Yang ini berbeda sekali dengan interpretasi Paul Anka yang cenderung menggelontor “teen spirit” dalam lagu ini dan menjadikannya “presentable” seperti musik yang “mature”.

Pesan khusus untuk Paul Anka: Maaf, Paul, seindah apapun aransemenmu, aku tidak menemukan Kurt di situ, apalagi kau ubah “load up on guns” menjadi “load up, load up.” Musikmu seksi, tapi musik Kurt ekspresi. Musikmu kau sajikan bagi kami, tapi musik Kurt hanya meminta kami mengerti.

Kembali ke interpretasi Patti Smith, “Smells Like Teen Spirit” mendapatkan aksesori, semacam sematan bros di dada. Aksesori itu adalah spoken words khas Patti Smith (yang juga sangat lazim di kalangan proto-punk maupun para pelakon “punk” lain seperti Henry Rollins. Jangan lupa, bahkan Bernie Sanders (sang mantan calon capres Amerika Serikat itu) pernah suatu kali rekaman spoken words, bukan tanpa terpengaruh musisi punk–dia mendukung para musisi punk lokal negara bagian Vermont saat masih jadi politisi dan aktivis muda. Untuk “Teen Spirit,” Patti Smith memberikan spoken words yang (mungkin tidak mengejutkan bagi Anda) sangat terasa aura Beat Generation-nya. Anda akan lihat nanti di bawah ini. Tapi sebelumnya,  biarkan saya dukung klaim saya: puisi Patti Smith sangat terasa senada dengan bagaimana Allen Ginsberg membuka puisi ikonik “Howl” yang berbunyi ” I saw the best minds of my generation destroyed by madness, starving hysterical naked.” Ada kehancuran, kerusakan badani, kepayahan, dan sejenisnya, membuka puisi ini. Patti Smith menyelipkan itu seolah ingin memperkuat semangat “Teen Spirit.”

Sebagai penikmat, saya tentu memiliki interpretasi sendiri, dan tidak sepenuhnya setuju dengan Patti Smith. Bagi saya, “Teen Spirit” menguarkan kebrutalan semangat muda, tapi menunjukkan aura positifnya yang bersedia menerima siapa saja “a mulatto, a mosquito, an albino, my libido” (segala hal yang seringkali dikesampingkan).

Tapi, tetap saja, sebuah interpretasi yang dilakukan dengan total selalu bisa mendapatkan penghargaan tersendiri. Dan di sini, saya ingin menghargainya dengan menerjemahkan spoken words Patti Smith tersebut. Silakan periksa upaya awal ini dan sarankan perbaikan kalau perlu:

tangan hampa kesucian
menghidupi jalan derita,
dan anak-anak liar yang diburu mencabik-cabik tirai,
menggulung kafan jasad dunia yang yang dikerubuti lalat
menggulingkan meja berhias burung tumbal dari perak,
memukul gendang kulit kambing,
maju dengan tangan terentang
selagi kita mencekoki mereka dengan merkuri, nitrat, asbestos,
bom-bom bayi meledak biru
burung pemakan bangkai mengorek sisa-sisa bakaran
anak-anak penggilingan, anak-anak pembuangan,
mengantuk, buta huruf, tikus-tikus kecil kusut,
ketakutan, menghirup cat,
melayang meninggalkan kepala plontos mereka,
terlupakan, memulung, anak-anak sihir,
bermulut kotor, berhalusinasi…

* Saya tahu tentang versi ini berkat sebuah tweet yang diretweet oleh mas Samack.