Menangkap Ide: Subjek dan Predikat Esai Kearifan Lokal

“… esai disusun dari material data (sumber), diikat dengan plot (kerangka), dipertajam dengan posisi sudut pandang (keunikan perspektif), dan dinarasikan dengan bahasa (yang luwes).”

Muhidin M. Dahlan dalam Inilah Esai: Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor

Seringkali kita meremehkan diri kita sendiri. Dan saat kita mengetikkan kata-kata ini di bilah pencarian Duckduckgo.com, kita akan mendapati bahwa banyak sekali postingan blog atau website yang menasihati agar kita tidak meremehkan diri sendiri. Etos ini pula yang mestinya kita pegang saat kita harus menulis. Kepala kita menyimpan banyak hal, dan semua hal itu bisa dituliskan. Kegiatan menulis esai, menurut saya, selalu bisa menjadi cara untuk mengetahui apa-apa yang sebenarnya kita ketahui—dan tidak kita ketahui.

Maka, sebenarnya sangat tidak tepat kalau kita jadi salah tingkat dan mati gaya ketika harus menulis tentang tema-tema tertentu, dengan alasan tidak tahu apa yang harus dituliskan. Mestinya, kita sudah memiliki sedikit banyak modal untuk memulai penulisan esai kapan saja, asalkan tema yang diminta tidak terlalu khusus atau spesialis, misalnya metabolisme dinosaurus atau bagaimana kelelawar mengenai pasangan dan anak-anaknya di kegelapan gua.

Untuk mengerjakan esai tersebut, mari kita kunjungi sejenak definisi mengenai esai yang disarikan Muhidin M. Dahlan dalam buku Inilah Esai: Tangkas Menulis Bersama Para Pesohor: “… [esai] memberikan sesuatu. Entah pencerahan, gugatan, informasi baru, atau bahkan meremang-remangkan dan mencairkan sesuatu yang kadung dianggap terang, baku, padat” (2017: 15). Dari definisi Muhidin di atas, kita mendapatkan satu hal yang meskipun mungkin sangat terbatas, tetap bisa kita jadikan panduan dalam mencari ide dalam menulis esai: kita perlu memberikan sesuatu, “entah pencerahan, gugatan, informasi baru, atau (perenungan ulang).” Mari kita pegang hal-hal ini dalam mengembangkan ide.

Esai = Ujaran

Definisi mengenai esai bisa sangat mendetail dan mencakup banyak hal, hingga kita sendiri mungkin akan dibuatnya gentar saat akan memulainya. Padahal, pandangan kita mungkin akan berbeda bila memandang sebuah esai tak lebih dari sebuah kalimat. Dan, pada esensinya, pembentuk sebuah kalimat adalah subjek dan predikat. “Saya galau,” adalah sebuah kalimat, dengan “saya” sebagai subjek dan “galau” sebagai predikatnya. Begitu juga dalam sebuah esai, pada intinya terdiri dari “subjek” dan “predikat” atau “topik” dan “penjelas.” Seperti contohnya, teks proklamasi, yang juga sebuah esai, pada intinya terdiri dari subjek “bangsa Indonesia” dan predikat “menyatakan merdeka.” Atau esai bapak Soelardi dari UMM berjudul “Profesor Substansial” yang dimuat di Kompas pada tanggal 16 Agustus 2017 yang lalu pada pokoknya adalah “Seorang profesor ideal” (sebagai subjek) “hendaknya mencerminkan sikap-sikap profesorial lebih dari sekadar memenuhi kewajiban ‘profesor’ secara kuantitatif” (sebagai predikat). Dengan adanya subjek dan predikat ini, kita bisa memberikan sesuatu kepada pembaca. Kita memiliki topik, dan juga pernyataan.

Sekarang, bagaimana kalau kita menerjemahkan teori sederhana ini ke dalam proyek kita, membuat esai mengenai nilai-nilai kearifan lokal? Untuk tujuan tersebut, kita bisa menerjemahkan “subjek” dan “predikat” tadi menjadi “objek budaya” dan “nilai.” Dalam proses penentuan, tidak ada kewajiban untuk mendahulukan yang satu atau yang lain. Seperti dalam sebuah kalimat, bisa saja predikat muncul sebelum subjek, seperti: “Kekinian amat papamu!” Yang pasti, kedua hal ini (subjek dan predikat) perlu ada sebelum kita melenggang lebih jauh dalam penulisan esai. Selain itu, kita sama sekali tidak diwajibkan menuliskan hal-hal ini sebelum kita mulai menulis esai. Tapi, tentunya akan lebih memudahkan kalau kita bisa menuangkan kedua hal ini dalam bentuk yang bisa dilihat (tulisan, corat-coret, atau grafik) demi membantu ingatan kita kalau misalnya tiba-tiba kita mendapat interupsi ketika sedang panas-panasnya berpikir (seperti misalnya ketika tiba-tiba seseorang mengajak berjoget “Despacito”).

Subjek: Objek Budaya

Untuk kemudahan, mari kita bahas “objek budaya” terlebih dahulu (boleh juga kalau Anda menyebutnya “ekspresi kebudayaan” dll. Objek budaya bisa sangat banyak, nyaris tak terbatas. Kita tinggal memilih apa saja yang ada di sekeliling kita, mulai objek budaya yang jelas tampak seperti candi, atau terkenal seperti bantengan, atau yang kurang tampak seperti perkumpulan seminggu sekali di perumahan yang sudah berlangsung belasan tahun, ataupun yang tak begitu tampak karena hanya dilakukan orang-orang tertentu. Pendeknya, objek budaya ini sangat banyak dan nyaris tak terbatas, terutama kalau kita menerima kedua definisi ekstrim budaya, yaitu 1) definisi budaya menurut Matthew Arnold sebagai “sesuatu yang adiluhung, diagungkan, dan mengajarkan budiluhur” seperti misalnya wayang kulit, karya sastra lisan, relief candi, dan sebagainya, atau 2) definisi budaya menurut Raymond Williams sebagai “sesuatu yang biasa saja, yang dilakukan manusia sehari-hari,” misalnya budaya ngrumpi, ngopi, bertegur sapa, dan seterusnya, atau 3) definisi budaya menurut pak Koentjoroningrat sebagai segala hasil pikiran dan perbuatan manusia yang tidak bersifat “naluriah” namun merupakan hasil dari “proses belajar.” Definisi yang lazim di Indonesia ini menurut saya ada di tengah-tengah (meskipun cenderung ke satu sisi) bila dibandingkan dengan dua definisi yang lebih awal.

Dengan menerima ketiga definisi budaya ini, alternatif “objek budaya” yang bisa kita ambil untuk studi kita bisa sangat banyak, mulai dari wayang kulit hingga tata cara membuang sampah di depan rumah hingga kebiasan mengopi kita di warung kopi. Karena itu, untuk lebih membantu kita menentukan topik (karena banyak topik yang memang bisa kita ambil), kita bisa membuat kategori-kategori objek budaya. Kategori-kategori ini sifat bisa tidak terbatas. Yang paling tampak antara lain adalah: fisik, non fisik. Untuk yang fisik: bangunan, makanan, benda-benda, orang-orang, bentang alam, dan sebagainya. Untuk yang non-fisik, kita bisa menyertakan: kegiatan, ajaran, kecenderungan, dan sejenisnya.

Predikat: Kebaikan Kearifan Lokal

Sementara itu, untuk predikatnya, kita perlu mencari nilai, yang menjadikan objek budaya tersebut menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi pembaca kita. Untuk tujuan penulisan kita, yang nilai di sini mengacu kepada “hal-hal baik yang bisa mengajarkan sesuatu kepada kita.” Tapi, kita mungkin masih bertanya-tanya, seperti apa “hal yang baik” itu? Di sinilah kita membutuhkan standar nilai, yang sebenarnya sudah kita akrabi. Sebagai awal, kenapa tidak kita mulai dengan apa yang sudah sering dijadikan ukuran kebaikan buat kita bangsa Indonesia. Apa itu? Sebut saja nilai “Kebertuhanan,” “kemanusiaan,” “kerukunan,” “demokrasi,” dan “keadilan soal.” Ya, saya hanya memparafrase Pancasila di sini, seperti halnya Bung Karno yang memparafrase Pancasila di hadapan sidang PBB. Kalau ingin lebih lagi, biar lebih selaras dengan visi direktorat jenderal Pendidikan tinggi, bisa ditambahkan “pelestarian lingkungan,” “anti narkoba,” “bela negara,” dan sejenisnya, yang sebenarnya juga sudah tercakup dalam nilai-nilai Pancasila yang saya sebutkan sebelumnya, meskipun tidak eksplisit.

Setelah mendapatkan subjek dan predikat ini, kita bisa lebih jauh menentukan nilai macam apa yang terdapat dalam objek budaya yang akan kita soroti. Untuk membantu kita menyoroti nilai-nilai tersebut, kita perlu mengurai elemen-elemen budaya tersebut dengan berbagai metode (5W+1H) atau menyoroti lima elemen Burke (Tindakan, Pelaku, Latar, Peran Pelaku, dan Tujuan). Mungkin (mungkin lho ya) dengan menyoroti setiap aspek dari objek budaya tersebut, kita bisa mendapatkan nilai yang lebih jelas lagi. Semakin banyak aspek dalam objek tersebut yang mencerminkan nilai(-nilai) yang ingin Anda soroti, maka semakin tajam juga esai yang kita tulis.

Setelah memiliki data-data yang mungkin kita butuhkan untuk menulis, barulah kita bisa menentukan bagai cara kita “memberikan sesuatu.” Dari data-data yang ada, kita bisa memutuskan apakah kita akan menyoroti sesuatu yang kurang tampak, mengajarkan, menggugat, merenungkan ulang, atau yang lain. Dengan data-data yang sudah ada itu pula, kita bisa mengikuti ujaran Muhidin yang saya gunakan untuk membuka esai pengantar ini. Sebagian dari hal ini mungkin sudah bisa kita penuhi hari ini, misalnya sebagian sumber data, kerangka, dan posisi yang kita pegang. Untuk yang lain, sepertinya materi pada pertemuan yang selanjutnya akan lebih mampu membantu Anda sekalian.

Untuk workshop pertama ini, mari kita mulai dengan menentukan elemen pembentuk “kalimat” kita. Mari kita mulai dengan mencari objek budaya dan nilai yang akan disoroti. Untuk masing-masing, Anda tidak perlu langsung memutuskan mana yang akan dipilih. Silakan eksplorasi dulu. Untuk bagian nilai, kita juga bisa mengeksplorasi seluas-luasnya. Selanjutnya, kita bisa menyoroti lagi apa yang sebenarnya ingin kita tuliskan. Setelah itu, kita bisa mereka-reka, kira-kira bagaimana kita akan menyusun urutan munculnya sumber itu dalam esai yang kita tulis. Mari!

(Postingan ini dibuat sebagai pengantar dalam salah satu sesi dalam rangkaian workshop penulis esai “Merawat Keragaman Budaya” yang diadakan oleh koordinator Mata Kuliah Umum Universitas Brawijaya selama tiga hari Minggu 1, 8, dan 15 Oktober 2017. Tulisan ini khusus digunakan untuk menangkap gagasan dan menyusun kerangka esai. Untuk slide penyertanya, silakan dapatkan di sini.)

Advertisements

Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan: Katalog Penting Anti-Mati Gaya dalam Menulis Esai

Menurut Carl Sagan dalam Cosmos, bila dibandingkan dengan usia alam semesta yang ditaksir miliaran tahun, sejarah umat manusia ini tidak ada artinya. Saya pun menerima gagasan itu dan menjadikannya etos bagi saya. Maka, buku yang terbit pada tahun 2016, yang kini mungkin tidak lagi laku di pasar resensi media, adalah buku gres bagi saya, masih hangat dan meruapkan kesegaran. Apalagi kalau bukunya sepenting buku Inilah Esai karya Muhidin M. Dahlan ini. Muhidin memang sosok yang memiliki ketekunan mengarsip yang mendebarkan, tapi yakinlah postingan ini tidak hanya puja-puji belaka, saya punya stok kritik yang menurut saya perlu disampaikan di postingan ini juga.

Baiknya kita mulai dulu esai ulasan ini dengan menengok siapa itu Muhidin. Seperti saya singgung di atas, Muhidin adalah seorang pengkliping yang rajin, yang mengkliping berita-berita penting dari jaman dulu sekali hingga dewasa ini (atau “jaman now” istilah kacau sekarang). Kalau ada kejadian-kejadian penting dan media mengulasnya, hampir bisa dipastikan Muhidin mengklipingnya. Sekilas saja dari ingatan saya: bapak Budiono diangkat jadi wapres, Muhidin punya beritanya; bapak Budiono kembali ke kampus UGM dengan penampilan seperti telah bekerja keras selama lima tahun menjawab, Muhidin mengkliping beritanya. Itu baru soal Bapak Mantan Wapres Budiono. Belum lagi soal lain.

Nah, buku Inilah Esai ini, saya yakin, juga hasil dari pekerjaan mengarsipkan yang tekun, terutama mengarsipkan esai-esai yang menurutnya bagus. Dari daftar seratusan esai yang menurutnya bagus itu (yang saat jadi buku bisa sepanjang 11 halaman itu), jadilah buku ini sebagai hasil pilah-pilih bagian-bagian terbaiknya. Ibaratnya: buku Muhidin yang satu ini adalah hasil kerja jangka panjang sejak masa dia mulai mengkliping hingga masa buku ini rampung dituliskan.

Menarik, nggak, kira-kira? Silakan dijawab dalam hati.

Beberapa hari yang lalu, di mata kuliah Study Skills (yang bertujuan mengajarkan baca-tulis buat mahasiswa di kampus saya), saya bertanya bagaimana sikap para mahasiswa saya terkait menulis. Kebanyakan santai, tapi ada satu yang bilang takut (yang tentunya disambut candaan temannya: “Jadi, begitu kamu mengetik, kamu langsung melompat girap-girap begitu?”). Saya yakin ketakutan seperti itu nyata, karena tidak sedikit penulis pemula yang seringkali tidak tahu apa yang harus dituliskan.

Di sinilah pentingnya buku tulisan Muhidin ini. Buku ini tidak hanya memberikan uraian dan gambaran umum atas genre esai (seperti dalam bab-bab awal yang membahas soal mukadimah, penyusunan gagasan, dan pendekatan atas topik), tapi dia juga memberikan panduan-panduan praktis mengenai mengisi setiap bagian penting esai (mulai judul, pembuka, isi, dan penutup). Dia kelompok yang kedua inilah, menurut saya, nilai terbesar dari buku ini. Dengan sifat royalnya dalam memberikan berbagai contoh judul, pembuka, penyusunan isi, dan penutup, seseorang yang ingin serius menulis esai bisa mengantisipasi risiko mati gaya dalam menanam esai. Gampangannya, asal si penulis mau bertanggung jawab mencari sumber untuk esainya, dia tidak perlu terlalu takut dalam mengolah sumber-sumber itu menjadi esai dengan bantuan buku ini.

Muhidin mengantarkan definisi esai dengan cara yang santai dan syarat rujukan, meskipun tanpa menyempatkan diri menawarkan definisi yang secara tegas dan definitif, yang mungkin diharapkan pembaca yang ingin ketegasan. Dari Michel de Montaigne, yang tersohor sebagai bapak esai, Muhidin menyitir arti esai sebagai “coba-coba” dan bahwa kumpulan esai Montaigne adalah tulisan pusparagam. Pandangan dari para esais lain, mulai dari Gus Dur, Cak Nun, hingga Zen RS, juga disinggung, yang bisa dibilang nyaris mufakat mengatakan bahwa esai adalah tulisan yang santai, yang memiliki elemen puisi/prosa sekaligus ilmiah.

Nah, mulai bagian bentuk esai, kita bisa mendapat buah pengarsipan dan kategorisasi Muhidin. Untuk bentuk esai, kita bisa melihat beberapa kategori bentuk esai yang ditemukan Muhidin dari keseratus lebih esai yang dia gunakan untuk menyusun buku ini: surat, puisi naratif, percakapan, kritik yang melengkung, obituary, pengantar buku, dan sebagainya. Di bab yang mengusung judul, ada sejumlah kategori: mengajak berkelahi, perbandingan,bertanya, kutipan, dan seterusnya. Begitu juga dengan bab-bab lain. Tidak ada kesan bahwa hanya itulah kategori esai yang ada; kalau kita mau mencari lebih lanjut, mungkin dengan memperluas cakupan bahasa esai-esai ini, mungkin (nyaris) tidak akan ada Batasan cara membuat judul. Toh, esai itu sendiri kan bisa dimaknai “coba-coba,” jadi ya selama otak manusia masih belum purna tugas, tetap akan ada cara baru membuat judul esai.

Untuk mendukung kategori-kategori itu, Muhidin memberikan contoh-contoh yang siap santap. Untuk membahas kategori membuka esai kutipan, misalnya, kita mendapat nukilan pembukaan dari sebelesa esai, termasuk di antaranya esai Ignas Kleden, Karina Leksono-Supelli, dan Mas Marco. Saya sebut siap santap Karena yang dinukilkan hanya bagian pembukaan saja. Banyak buku panduan menulis yang suka memberikan penjelasan tegas dan definitif, tapi pada gilirannya memberikan contoh, kita harus lompat ke bagian “apendiks” untuk membaca keseluruhan buku.

Tidak ada satu pun di dunia ini yang sempurna, semua tahu. Pada Inilah Esai, satu titik yang menjadikannya tidak sempurna itu adalah pada bab pembahasan isi esai. Muhidin memfokuskan pada pengembangan esai melaui kutipan dan, mengikuti salah satu pesohor dunia esai Indonesia, isi sebuah esai pada intinya adalah deskripsi, atau menjabarkan tentang sumber. Pendekatan atas isi ini menjadikan pembahasannya sangat terbatas, berbeda dengan pembahasannya atas judul, pembuka, dan penutup esai yang menghadirkan berbagai contoh. Bukannya membahas berbagai cara yang ditempuh para “pesohor” itu dalam mengembangkan gagasan pengisi esai, Muhidin memfokuskan pada bagaimana mereka mengolah kutipan, yang bisa dibilang hanya satu dari cara mengisi esai.

Dalam buku Process, Form, and Substance: A Rhetoric for Advanced Writers, Richard M. Coe meminjam dan menerapkan konsep heuristik dalam kepenulisan. Istilah heuristik ini lazim dipakai dalam bidang matematika dan ilmu komputer untuk mengacu pada urutan langkah dalam penyelesaian masalah atau persoalan. Menurut Coe, setiap penulis menggunakan langkah-langkah tertentu dalam menyelesaikan tugas menulisnya. Ada yang menggunakan pertanyaan (termasuk di sini pendekatan 5W+1H dalam penulisan jurnalistik itu), topoi gaya Aristoteles (yang menggunakan puluhan prinsip logika untuk menjari jawab atas soal-soal tertentu), pendekatan Kenneth Burke (yang dipakai untuk mengetahui motif sesuai dengan menyoroti pelaku, aksi, latar, peran, dan tujuan), dan sebagainya.

Alangkah tambah mantapnya bila Muhidin juga menyingkap strategi pengembangan isi para pesohor tersebut selain menggunakan kutipan. Mungkin, sudah cukup melengkapi kebutuhan kita para pembaca bila yang mulia Muhidin kelak melakukan analisis retorika atas esai-esai favoritnya (segelintir saja!), biar kita bisa tahu bagaimana Ignas Kleden mengembangkan esainya yang membuka buku Enam Pertanyaan untuK Sastra Indonesia itu, atau bagaimana Bung Hatta mengembangkan esai “Indonesia Menggugat” itu. Saya sangat yakin, Muhidin adalah orang yang tepat untuk mengurai esai-esai kegemarannya tersebut. Sejauh ini, kita tahu bagaimana dia mengurai cara Bung Karno menyusun esai “Indonesia Merdeka” dengan menggunakan berbagai sumber yang mewakili berbagai ideologi itu. Tolong jangan anggap saya mengabaikan prestasi Muhidin tersebut.

Akhirul esai, saya teringat sebuah acara pelatihan penulisan esai yang saya ikuti (secara tidak resmi) pada awal September ini. Ketika itu, Prof. Djoko Saryono, guru besar di Universitas Negeri Malang sekaligus penulis yang ultra-produktif, menjadi pemateri pelatihan esai yang pesertanya adalah guru-guru muda yang baru menghabiskan waktu setahun mengajar di sekolah-sekolah di berbagai kawasan yang relatif terpencil. Para guru muda ini berencana menuliskan hasil imersi mereka selama setahun itu dalam berbagai bentuk. Sambil makan pisang dan wedang jeruk, saya menyaksikan bagaimana materi dari Prof. Djoko dan mentoring dari Denny Mizhar sepanjang hari itu tampak membuat mereka bergairah untuk mulai menulis—meski banyak di antaranya yang sama sekali tidak pernah menulis. Sekarang, saya bayangkan, buat kawan-kawan yang sudah memiliki semangat menulis (atau “spirit api,” dalam terminology Naruto Shippuden), saya yakin buku Inilah Esai ini akan menjadi semacam katalog yang bermanfaat, yang dari daftar isinya saja para calon penulis esai bisa menaksir dan memilih cara mereka menyusun balok-balok gagasan menjadi esai, secara tangkas, seperti para pesohor itu.

 

Hukum Termodinamika I Tidak Sepenuhnya Berlaku untuk Energi Memori Manusia

Baik, inilah saatnya kembali menegaskan komitmen saya sebagai seorang blogger. Kalau saya lihat-lihat lagi, postingan-postingan terakhir itu mulai tidak sehat. Ada postingan resensi yang telah terbit di koran, di website, pengantar diskusi, dan sejenisnya. Dengan kata lain, postingan-postingan terakhir ini sifatnya hanya efek sampingan dari kegiatan-kegiatan yang bisa dibilang tidak terlalu berhubungan dengan blogging. Ironisnya, di kegiatan-kegiatan lain itu, saya dengan bangga memperkenalkan diri sebagai blogger. Padahal, di lubuk hard drive terdalam, saya masih memegang keyakinan bahwa blogging itu lebih seperti proses, bukan hasil. Jadi, inilah saatnya kembali menegaskan komitmen saya sebagai blogger. Inilah saatnya kembali mengisi blog ini dengan celotehan-celotehan yang boleh saja tak berguna dan tidak terlalu banyak agenda, yang penting memendam energi yang laten.

Kenapa? Kenapa harus seperti itu? Memangnya sepenting apa “energi” yang laten itu?

Karena, selama setahun lebih sebulan terakhir ketika saya kembali tinggal di Indonesia ini, saya mengalami banyak hal yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Pengalaman-pengalaman ini saya sadari mengandung banyak sekali energi yang perlu disalurkan dan sayang kalau dibiarkan mengabar ke dalam keterlupaan dan keterabaian.

Sebagai gambaran saja, saya sudah setahun mengajar di universitas swasta yang tengah berkembang dan sangat dinamis. Saya diberi tanggung jawab memegang beberapa mata kuliah yang mengasyikkan, di mana saya bisa membagi hasil bacaan, pengalaman, dan impian-impian saya, sekaligus saya harus belajar lagi detail-detail yang mungkin bisa dengan mudah saya abaikan kalau saya tidak punya tanggung jawab mengajarkan hal-hal tersebut.

Selain mengajar kelas-kelas semacam itu, saya juga agak sering terlibat dengan teman-teman di Pelangi Sastra Malang, yang kini sangat dinamis dan memiliki posisi penting di konstelasi gerakan literasi di Malang. Bersama komunitas ini, banyak sekali pertemuan-pertemuan dengan orang-orang tak terduga saya alami selama setahun terakhir. Tak terhitung betapa banyak informasi baru maupun kebijaksanaan syahdu yang saya temukan dari orang-orang yang saya temui di komunitas ini.

Pengalaman berbagi dan menemukan inilah yang menurut saya menyimpan banyak energi dan harus disalurkan segera. Berbeda dengan cara kerja alam, di mana energi itu konstan dan akan tersalurkan meskipun bentuknya berubah (seperti diteorikan dalam hukum termodinamika), cara kerja pengalaman dan pikiran manusia tidak begitu: ada elemen lupa (entah itu karena pembawaan maupun karena usia) dan ada juga elemen nyawa (yang bila hilang maka hilang pula “energi” yang tersimpan di dalam ingatan pemiliknya–kecuali si pemilik sudah “mendownload” ingatan itu dalam bentuk tulisan atau ke dalam hard drive, sebagaimana digagas dewasa ini, yang menggabungkan teknologi dengan biologi).

Energi dari pengalaman manusia tidaklah konstan. Sekali lagi, kalau kita membiarkan energi itu tak terunggah, maka dia rentan hilang. Maka, sebelum saya punya teknologi tinggi yang bisa dengan otomatis mendownload memori saya, beserta segala energi yang ada di dalamnya, ke dalam hard drive, maka saya akan sebisa mungkin mendownload dulu memori itu ke dalam postingan-postingan blog di sini. Semoga dengan pengambilan bahan baku memori itu, energi yang laten di dalamnya bisa tetap bertahan, baik itu untuk kemudian dimanfaatkan oleh saya sendiri maupun oleh orang lain.

Jadi begitulah, Saudara, untuk yang kesekian kalinya, saya ingin kembali menegaskan komitmen saya untuk merawat blog ini, dan mengembalikan blog ini ke khittahnya sebagai blog, sebagai ajang berproses, sebagai ajang mengerami energi. Maka, saya akan bersyukur kalau ada yang mengingatkan untuk kembali mengisi blog ini.

(Resensi) Literasi yang Membumi, Gagasan yang Menyadarkan

(Tulisan ini adalah versi lebih sopan dan ramah koran dari postingan saya atas buku Suara dari Marjin yang saya posting di blog ini pada malam Lebaran kemarinVersi ini dimuat di koran Jawa Pos Radar Malang untuk pembaca lokal Malang pada tanggal 20 Agustus 2017 dan di Basabasi.co pada tanggal 4 September 2017 kemarin untuk pembaca di seluruh dunia raya ini. Selamat menikmati dan selamat berliterasi.)

Judul: Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial
Penulis: Sofie Dewayani & Pratiwi Retnaningdyah
Penerbit: PT Remaja Rosdakarya
Cetakan: I/Mei 2017
Tebal: 234 hal

Suara Dari Marjin

Suara dari Marjin: Literasi sebagai Praktik Sosial karya bersama Sofie Dewayani dan Pratiwi Retnaningdyah hadir di tengah gegap gempita gerakan literasi nasional yang merupakan respons pemerintah terhadap rendahnya tingkat literasi bangsa Indonesia di tataran internasional. Menurut pemeringkatan literasi internasional, posisi Indonesia selalu termasuk paling buncit, sebagaimana dibahas di buku ini. Uniknya, penulis buku ini, yang juga terlibat dalam program literasi nasional itu, memiliki pandangan yang dibilang sangat mewadahi gerakan literasi yang tidak seperti  digalakkan oleh pemerintah. Karena itulah, buku ini menyegarkan dan menyadarkan.

Suara dari Marjin adalah peleburan hasil dari dua penelitian yang pernah dijalankan oleh kedua penulisnya secara terpisah. Sofie Dewayani melakukan penelitian atas praktik literasi di kalangan anak-anak yang bekerja di jalan untuk keperluan disertasi S3-nya di University of Illinois at Urbana-Champaign. Sementara itu, Pratiwi Retnaningdyah meneliti praktik literasi di kalangan Buruh Migran Indonesia (BMI), khususnya yang bekerja (atau pernah bekerja) di Hong Kong.

Buku ini menegaskan argumen yang banyak disuarakan para teoretikus Kajian Literasi Baru atau New Literacy Studies (NLS). Menurut NLS, literasi bukan hanya seperti lazimnya yang kita pahami di sekolah–yaitu kemampuan membaca, menulis, dan berpikir kritis sesuai metode dan praktik formal. Literasi juga bisa terjadi melalui praktik informal, yang berlandaskan praktik keseharian dan memiliki tujuan akhir yang lebih relevan dengan keseharian pelakunya.

Dalam khazanah NLS, literasi dibedakan menjadi otonom dan ideologis. Literasi otonom adalah gerakan literasi yang tujuannya murni untuk meningkatkan kemampuan baca-tulis kritis tanpa mempertimbangkan faktor lain. Literasi ideologis, di lain pihak, adalah peningkatan kemampuan intelektual yang tak terpisahkan dengan keseharian si pelaku, sehingga tujuan akhirnya adalah peningkatan hajat hidup si pelaku. Literasi ideologis lazimnya menyadari elemen yang ada di lingkungan pelaku dan memanfaatkannya untuk pendidikan literasi. Dan literasi ideologis inilah yang disuarakan dalam buku Sofie dan Pratiwi ini.

Dari upaya literasi di kalangan “anak jalanan” (yang hendaknya selalu disertai tanda kutip karena ternyata sebutan ini dianggap tidak akurat mewakili dan terkesan merendahkan mereka yang dirujuk), Sofie mendapati penerapan konsep-konsep yang disuarakan NLS. Contohnya adalah Bu Sri,  pendiri dan pengelola PAUD Bestari yang bercita-cita membimbing balita di Pasundan, Bandung, agar bisa masuk ke Sekolah Dasar, sehingga terhindar dari menghabiskan waktu di jalan pada usia sekolah. Dalam praktik mengajarnya Bu Sri banyak menggunakan apa-apa yang telah dipahami anak-anak (yang secara teoritis disebut “teks kultural”) dan mengoptimalkannya guna mengajari anak-anak ketrampilan dasar baca tulis yang memampukan mereka masuk ke Sekolah Dasar.

Dari kalangan BMI, Pratiwi menyoroti proses pembelajaran yang memaksimalkan pengalaman keseharian mereka untuk meningkatkan potensi pribadi mereka. Di antara contoh-contoh kasus yang dibahas Pratiwi, kita bisa melihat kisah Rie rie, seorang BMI asal Jawa Timur yang belajar blogging sendiri hingga akhirnya terbiasa menulis dan banyak membuahkan tulisan yang membangun kepercayaan diri sesama BMI dan bahkan berambisi mengubah citra “babu” yang cenderung dipandang rendah karena pekerjaan mereka sebagai pembantu rumah tangga. Rie rie kemudian menularkan ketrampilannya kepada para BMI yang lain melalui pelatihan-pelatihan blogging dan kepenulisan.

Dari dia pengamatan etnografis atas praktik literasi di lingkup marjinal yang berlainan ini, kita mendapati sejumlah kesimpulan penting yang perlu dipertimbangkan di tengah demam literasi dewasa ini. Satu hal yang paling penting adalah bahwa gerakan literasi hendaknya tidak dipahami hanya sebagai suatu gerakan yang menumbuhkan minat baca, tulis, dan berpikir kritis yang dilakukan secara formal dan tidak relevan dengan keseharian pelaku (otonom). Namun, upaya literasi bisa berlangsung di mana saja, dengan cara berlainan, tetapi bertujuan riil meningkatkan harkat hidup pesertanya (ideologis).

Simpulan lainnya adalah bahwa dengan melihat keberhasilan upaya literasi ideologis yang digagas secara mandiri dalam kelompok-kelompok marjinal, upaya literasi di lingkup formal (sekolah-sekolah) hendaknya mempertimbangkan elemen-elemen yang berhasil tersebut, misalnya dengan menyertakan elemen kultural dari kehidupan sehari-hari pelakunya dan dengan cara yang lebih ramah terhadap keberagaman minat peserta didik. Dan tentunya, berbagai upaya literasi informal itu juga sudah sejak awalnya mengintegrasikan elemen-elemen upaya literasi otonom di dalamnya. Maka, di tengah gegap gempita literasi yang banyak berorientasi pada literasi otonom ini, tulisan Sofie dan Pratiwi yang juga terlibat dalam proyek pengembangan literasi nasional ini menyegarkan dan menyadarkan, membuat kita lebih awas dengan potensi literasi di sekeliling kita, literasi yang membumi.

Biografi Nick Drake (Pattrik Humphries): Dari Mitos Musisi yang Mati OD ke Kompleksitas Manusia yang Pernah Hidup

(Tulisan singkat untuk modal diskusi buku biografi Nick Drake bersama Pelangi Sastra Malang, Gubuk Cerita, Jungkir Balik Pustaka, dan Kafe Pustaka hari Sabtu sore ini. Mestinya tulisan ini akan diupdate terus selama ada di blog ini–soalnya sampai saat ini postingan ini belum sempat diedit.)

Buku biografi berjudul Nick Drake karya Patrick Humphries ini tak henti membuat saya bertanya: kenapa Humphries menulis biografi tentang seorang musisi yang tidak saya kenal sebelumnya? Kalau fokus biografi ini adalah seorang tokoh politik yang terkenal atau autobiografi politisi yang sedang naik daun, mungkin pertanyaan seperti itu tidak akan muncul karena jawabannya relatif gamblang. Tapi Nick Drake, yang kebanyakan kawan saya yang (pernah) suka band-bandan saja tidak kenal, kenapa harus ditulis biografi tentang dia? Setelah selesai membaca buku itu, yang tersirat dari paparan penulisnya adalah bahwa Nick Drake adalah musisi yang sangat bagus, yang sayangnya hidupnya telah dimitoskan setelah kematiannya. Saya akan ceritakan beberapa hal tentang itu, tapi saya harap Anda tidak sedang buru-buru.

Pertama-tama, ada yang perlu diluruskan dari pertanyaan-pertanyaan saya di atas. Sekilas pertanyaan gugatan semacam itu mungkin tampak wajar, tapi ada satu sesat pikir di situ. Kenapa nulis biografi tentang musisi yang bahkan saya pun tidak kenal? Sesat pikirnya adalah saya mengasumsikan bahwa saya (dan teman-teman saya yang anak band) adalah orang yang serba tahu tentang musik dan pasti tahu semua musisi terkenal. Itu dia masalahnya. Belakangan, saat membaca biografi ini, sambil disela sesekali dengan riset (baca: nge-search di google) tentang Nick Drake, saya tahu ternyata Nick Drake adalah musisi yang laku dan banyak orang yang menggemarinya dengan berbagai alasan (dari yang gemar karena mengagumi teknik gitarnya sampai yang gemar karena termakan mitos tentangnya). Banyak musisi besar yang menggemari Nick Drake, misalnya Peter Buck dari REM (yang di sini kita kenal karena kehilangan “iman” di lagu “Losing My Religion”) dan Paul Weller, dedengkot The Jam, salah satu band terkuat masa kelahiran Punk di Inggris, bersama The Clash dan The Sex Pistols.

Jadi, sampai di sini saja obrolan tentang pertanyaan pembuka postingan ini. Saya tadi murni kepeset sesat pikir. Selanjutnya, mari kita move on dan berbicara tentang biografi Nick Drake (selanjutnya Drake) oleh Paul Humphries (selanjutnya Humphries).

Buku Nick Drake ini adalah hasil kerja tangan dingin Peter Humphries merekonstruksi kehidupan Nick Drake dengan dipandu tema “siapa Nick Drake yang mati muda itu?” Humphries membagi kisah Nick ke dalam tiga bagian sederhana: sebelum, selama, sesudah. Sebelum adalah masa sebelum Nick Drake menjadi musisi profesional yang direkam dan dibayar; selama adalah masa profesional; dan sesudah adalah masa setelah karir profesionalnya yang juga masa setelah Nick Drake mangkat. Jadi, di sinilah uniknya, biografi ini tidak sesederhana “grafi” atau gambaran tentang “bio” atau hidup Nick. Ada masa setelah “bio” Nick yang tak kalah pentingnya, yang justru (menurut saya) akhirnya membuat Humphries membuat “grafi” ini. Kita akan bicara soal bagian “setelah” ini nanti belakangan.

Drake memiliki latar belakang keluarga yang tak biasa. Dia lahir dari keluarga berada yang sudah kaya sejak jaman imperialisme Inggris. Kakeknya bertugas di India ketika Kerajaan Inggris menjajah India (saya harap kata “menjajah” di sini dimaknai dengan segala kompleksitasnya). Bapaknya juga begitu, dan bahkan lebih jauh lagi ke timur, yaitu di Burma, ketika negeri itu di bawah kolonialisme Inggris, dan juga pada masa sesudahnya.

Drake lahir di Burma dan sempat tinggal di sana sebentar. Setelahnya, Drake dibesarkan di Inggris, di kota kecil dekat Birmingham. Sejak kecil Drake hidup layaknya anak orang kaya: ikut les musik, mendapat pendidikan sekolah swasta, dan seterusnya. Dia sudah pandai bermain Saksofon dan Klarinet (alat favoritnya Squidward di Spongebob Squarepants). Di sekolah menengah, Drake belajar gitar dan dengan bakat musiknya, belajarnya sangat cepat, dan ketika lulus SMA, dia semakin canggih dalam bergitar. Dia sempat kuliah sebentar di University of Cambridge, tapi bukan di kampus utamanya, sambil terus bermain gitar dan sesekali tampil di hadapan teman-temannya. Hingga kemudian dia “ditemukan” vokalis The Fairport Convention, yang memperkenalkannya ke Joe Boyd, yang kemudian memproduseri Drake di bawah label Island Records, yang juga merupakan label Cat Stevens (ya, Cat Stevens kita yang akhirnya jadi Yusuf Islam dan kemudian Yusuf [saja] itu).

Selama di bawah Island Records, Drake merilis tiga album, Five Leaves Left, Bryter Layter (dia lucu, kan?), dan Pink Moon. Tapi, sebenarnya tidak semulus kalimat di awal paragraf ini, justru masa inilah yang sepertinya paling berat dalam hidup Drake. Para sumber Humphries mufakat bahwa Drake adalah orang yang ingin sukses sebagai musisi dan ingin orang mengapresiasi karyanya (meskipun sangat sedikit ungkapan eksplisit Drake soal ini). Sayangnya, Drake adalah anomali: di jaman ketika kesuksesan musisi sangat ditentukan oleh tampil live dan tour ke sana kemari, Drake adalah orang yang pemalu dan sangat tidak menikmati tampil live. Nyaris semua orang yang ingat penampilannya bilang bahwa Drake sangat canggung dan tidak menikmati berada di panggung. Sementara itu, terkait kepribadian, di antara ketiga album ini, Drake tampak semakin menarik diri dari orang-orang di sekitarnya. Dari lelaki yang “hanya” pemalu tapi interaktif saat rekaman, Drake menjadi musisi yang hanya diam dan tidak bisa diajak komunikasi yang datang pada tengah malam untuk sesi rekaman yang hanya melibatkan dirinya dan teknisi soundnya. Di akhir masa hidupnya ini, Drake dikenali sebagai orang yang sudah jauh berbeda dengan masa dia di sekolah, benar-benar seperti orang yang mengalami gangguan kejiwaan yang sempat dirawat di RSJ dekat rumah orang tuanya, yang tidak bisa dijangkau siapa pun. Sebelum meninggal, dalam kondisi kejiwaan yang sedemikian rupa, Drake sempat merekam empat lagu yang dirilis secara anumerta (untuk menggunakan istilah yang dipakai penerjemahnya).

Demikian hidup Drake, yang digali Humphries dengan sangat teliti dari sumber-sumber yang pernah berhubungan dengan Drake, mulai guru SMP Drake hingga penyanyi Perancis yang sepertinya Drake sukai tapi tidak pernah-pernah berkomunikasi secara wajar dengan Drake.

Maka sampailah kita ke topik selanjutnya, yaitu perihal teknik Humphries dalam menyusun biografi ini. Humphries adalah biografer yang disiplin. Humphries selalu mengawali dengan semacam argumen yang dia susun dari pembacaan atas pernyataan para sumber yang dia pakai. Kemudian, dalam perjalannya, Humphries menyajikan secara penuh ungkapan-ungkapan para sumbernya tersebut. Sebagian besar sumber yang dia sampaikan secara penuh adalah hasil wawancara, tapi ada juga beberapa sumber panjang yang dia dapatkan dari tulisan-tulisan tentang Drake, mulai dari tulisan di majalah sampai tulisan di sampul album. Gaya penulisan biografi yang seperti ini menjadikan buku ini mirip film-film dokumenter bergumen kuat, seperti misalnya film-film Michael Moore. Kalau Anda lihat film-film beliau, pasti Anda memperhatikan bagaimana Moore mengawali dengan semacam latar belakang permasalahan ditambah dengan secuplik argumennya (seperti menulis esai lah) dan kemudian mendapati Moore mewawancarai orang dan hasil wawancara itu disampaikan dengan sepenuhnya, yang kemudian disimpulkan oleh Moore.

Teknik penulisan biografi seperti ini tentu sangat berbeda dengan kebanyakan biografi tokoh politik atau penulis (terutama yang ditulis ketika subjeknya masih hidup). Perbedaannya terutama terletak pada penggalian dari orang-orang yang berhubungan langsung dengan subjek dan argumen yang disampaikan. Dan teknik ini tentu saja juga sangat berbeda dengan penulisan “novelisasi biografis” orang-orang tertentu, satu hal yang sangat lazim di tengah banjir kisah-kisah inspiratif. Perbedaan utamanya terletak pada fakta bahwa “novelisasi” secara inheren menginginkan pembaca tenggelam ke dalam cerita dengan tanpa sadar mengaburkan batas antara biografi (yang merupakan historiografi personal) dengan kejadian nyata di masa lalu. Ada klaim tersembunyi bahwa pembaca hendaknya menerima gambaran dalam novelisasi itu sebagai cerminan nyata dari kejadian di masa lalu (tentu saja ini salah: tidak ada cermin yang bisa memantulkan bayangan masa lalu dengan setia, tak juga foto maupun video!). Alih-alih meminta orang mempercayai hasil rekonstruksi sejarah Drake yang dia kerjakan, Humphries dengan tegas menyatakan argumen-argumen yang dia buat berdasarkan hasil risetnya itu.

Nah, sekarang, tibalah akhirnya kita pada argumen yang ingin disampaikan Humphries, yang tampak kuat di bagian “setelah”–yang saya janjikan di atas. Ternyata, setelah wafat, justru semakin banyak orang yang mengenal dan menggemari karya-karya Drake. Perusahaan rekaman Drake, yang sudah terikat janji dengan Joe Boyd mantan produser Drake untuk tetap mempertahankan album-album Drake di katalog mereka, selanjutnya merilis album-album kompilasi dan beberapa karya Drake yang belum sempat dirilis. Hal ini, ditambah dengan mitos tentang musisi genius yang mati muda yang selalu tumbuh natural, membuat pendengar Drake bertambah. Namun, ada juga musisi-musisi besar yang memang lebih dulu mengenal dan mengagumi kepiawaian bergitar Drake yang buka suara tentang kekaguman mereka. Ada juga musisi-musisi mudah yang membuat lagu terinspirasi dan didedikasikan kepada Drake. Dua hal terakhir inilah yang kemudian membawa gelombang-gelombang baru penggemar Drake, mereka-mereka yang penasaran dan akhirnya membeli dan akhirnya menggemari Drake juga.

Seiring semakin terkenalnya Drake itu, mitos dan simplikasi tentang musisi yang mati muda itu kian membeku. Banyak yang beranggapan Drake adalah anak yang tidak bahagia sejak kecil. Ada juga yang mengira perkenalannya dengan narkotik lah yang membunuhnya. Pastinya, ada sekalangan yang berpendapat bahwa Drake adalah korban ganasnya industri musik, yang menggunakan musisi sebagai bahan bakarnya. Tidak sedikit pula yang berpandangan romantis dan memandang Drake sebagai sosok genius yang menderita. Kebanyakan hal ini adalah simplifikasi yang cenderung tidak memperhatikan berbagai sisi kehidupan Drake.

Di hadapan semua inilah Humphries merekonstruksi kisah Drake ini dari berbagai sumber, mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Humphries berulang kali menekankan bahwa bisa jadi, narkotika hanya memperparah sebuah kondisi kejiwaan yang telah mulai berkembang dalam diri Drake. Humphries juga menentang tegas bahwa Drake adalah orang yang tidak bahagia sepanjang hidup (yang dia nyatakan sejak di pembukaan). Tentunya masih ada beberapa argumen penting lain dari Humphries yang pastinya akan lebih baik bila Anda baca sendiri dalam biografi ini dengan segala keutuhannya. Pada intinya, dengan menyusun biografi ini, Humphries mencoba mengembalikan seorang musisi yang mati muda karena overdosis menjadi seorang manusia yang pernah hidup. Dan lazimnya manusia, masing-masing memiliki kompleksitasnya yang tidak akan habis dibahas dalam sebuah artikel di majalah musik atau di kanal online.

Semoga hingga di sini saya sudah memberikan apa-apa yang sudah saya janjikan di atas. Selanjutnya, mari kita berbincang tentang Drake, dan juga tentang biografi ini. Saya yakin masih banyak hal lain yang bisa dibincangkan. Sebagai contoh: di sini kita bisa melihat kedisiplinan Humphries dalam memahami makna biografi yang merupakan sebuah historiografi pribadi, yang membutuhkan rekonstruksi subjek sekaligus latar sosial dan historisnya–lihatlah bagaimana Humphries membeberkan acara apa yang ada di TV pada hari kematian Drake, siapa saja penampilnya, dan jam berapa acara tersebut ditayangkan. Kita juga bisa menemukan dalam biografi ini, kritik musik, baik dari Humphries sendiri atas album-album Drake, khususnya Five Leaves Left maupun dari orang lain, misalnya Scott Appel, mengenai teknik permainan dan seteman gitar Drake. Ah, masih banyak lagi (tentu, bukunya saja 380-an halaman!).

Jadi, kapan kita ngobrol apa?

Terjemahan “Fruit Tree” – Nick Drake – Pohon Buah

Berikut ini terjemahan atas lagu Nick Drake dari album pertamanya Five Leaves Left. Dalam penggarapan album ini, Nick Drake yang sudah dikenal pemalu (sejak masuk Universitas Cambridge itu) masih tetap seorang musisi yang terasa penuh energi, setidaknya dalam rekaman dan dalam liriknya. Dalam penggarapan lagu yang liriknya sangat puitis ini, Nick menggandeng kawan kuliahnya Robert Kirby untuk menjadi aransir string pengiringnya.

Sekali lagi, seluruh album ini digarap ketika Nick masih penuh energi dan relatif berfungsi secara sosial. Album selanjutnya, Bryter Layter, yang digarap lagi-lagi dengan aransiran Robert Kirby untuk musik pengiringnya, adalah album yang penuh kerja keras, tapi Nick mulai tambah sulit diajak berkomunikasi. Dan untuk album terakhir, Pink Moon (yang saya terjemahkan di sini), Nick Drake bisa dibilang sudah menjadi pribadi yang tidak bisa diajak berkomunikasi, datang dan pergi sesukanya tanpa banyak bicara (selain gumaman yang kata teman-temannya sulit dipahami). Album itu digarap oleh Nick dan teknisi sound John Wood. Musiknya hanya permainan gitar Nick–dan piano yang juga dimainkan Nick sendiri.*

Betapapun bergairahnya Nick mengerjakan lagu “Fruit Tree” di album pertamanya itu, tak urung tetap tersirat kesuraman, tentunya karena liriknya yang menggunakan “Pohon Buah” sebagai metafor untuk hidup yang digerogoti oleh “buah” atau “karya”. Kalau Anda suka nonton film Hollywood, bisa lah kita samakan kesuramannya dengan judul film dahsyat Leonardo di Caprio dan Johnny Depp What’s Eating Gilbert GrapeNama keluarga Leo dan Johnny di film itu adalah keluarga Grape. Johnny, si kakak, adalah Gilbert; Leo memainkan Arnie, bocah 15 tahun yang hidup dengan autisme. Judulnya memberikan kesan menanyakan kira-kira apa yang “memakan” atau “membuat murung” atau “membuat tampak susah” si Gilbert Grape. Permainan antara kata “makan” dan kata “Grape” (nama keluarga yg juga nama buah itu) terasa asyik. Kembali ke Nick Drake, dia mengumpakan ketenaran itu sebagai pohon buah, yang tidak akan bisa berdaun lebat sebelum buahnya jatuh. Begitulah ketenaran, dalam imajinasi Drake: akan terjadi tapi dengan tumbalnya sendiri.

Maka, daripada berlama-lama, silakan baca terjemahan ini, atau aslinya di sini:

Pohon Buah

Ketenaran hanyalah pohon buah
Sangat tidak kokoh
Tak pernah berdaun lebat
Hingga buahnya luruh
Begitulah orang tenar
Tak pernah menemukan cara
Hingga dia terbang
Jauh dari hari-hari sekaratnya.

Terlupakan selagi kau ada
Diingat sebentar
Keruntuhan yang begitu terbarui
Dari gaya yang begitu tertinggal

Hidup hanyalah memori
Telah terjadi dulu sekali
Gedung pentas penuh duka
Untuk pentas yang terlupa
Tampak begitu mudah
Membiarkannya berlalu
Hingga kau berhenti dan bertanya
Kenapa kau tak pernah bertanya kenapa

Nyaman di rahim
Malam yang abadi
Kau temukan kegelapan dapat
Memberikan cahaya paling terang
Aman di tempatmu jauh di dalam bumi
Itulah saatnya mereka tahu seberharga apa dirimu
Terlupakan saat kau di sini
Diingat sebentar
Keruntuhan yang begitu terbarui
Dari gaya yang begitu tertinggal

Ketenaran adalah pohon buah
Sangat tidak kokoh
Tak pernah berdaun lebat
Hingga buahnya luruh
Begitulah orang tenar
Tak pernah menemukan cara
Hingga diterbangkan
Jauh dari hari-hari sekaratnya.

Pohon buah, pohon buah
Tak ada yang mengenalmu selain hujan dan udara
Jangan kuatir
Mereka akan berdiri dan menatap saat kau pergi

Pohon buah, pohon buah
Bukalah matamu
Sambutlah tahun yang baru
Mereka semua akan tahu
Bahwa kau pernah di sini
Saat kau telah pergi

* Semua informasi biografis mengenai Nick Drake ini saya dapatkan dari buku biografi berjudul Nick Drake karya Pattrick Humphries, yang edisi terjemahannya diterbitkan oleh Yayasan Jungkir Balik Pustaka (nama penerbitnya tidak standar, kan? :D)

Kepada Kamu yang Ditunggu Salju: Buku Puisi yang Menyumbangkan Darah kepada Genre Tulisan Perjalanan?

Resensi_Yusri Fajar

Judul                     : Kepada Kamu yang Ditunggu Salju
Penulis                 : Yusri Fajar
Penerbit              : Penerbit Pelangi Sastra
Tebal                     : 104 hal.
Cetakan               : I/Maret 2017
ISBN                      : 978-602-60790-1-5

Perjalanan adalah kran inspirasi yang tak kunjung mandek untuk karya sastra, baik lisan maupun tulisan. Bahkan, karya sastra tertua yang pernah ditemukan, yaitu Epik Gilgamesh dari Mesopotamia kuno pada abad ke-21 SM, didominasi kisah perjalanan yang mengubah hidup Gilgamesh, tokoh raja setengah dewa. Kini, dua abad sejak ditemukannya GPS (Global Positioning System), perjalanan masih tetap mengucurkan inspirasi bagi penulis, apapun genre yang dia pilih. Dewasa ini, banyak toko buku yang punya rak khusus untuk catatan perjalanan. Sampai banyak yang mengkritisinya sebagai mengalami titik jenuh. Tapi, bagaimana bila perjalanan itu dituliskan dalam puisi? Akankah dia memberikan sesuatu yang berbeda? Buku puisi Kepada Engkau yang Ditunggu Salju mungkin bisa memberi gambaran potensi puisi yang bertemakan perjalanan.

Semua puisi yang terangkum dalam buku kumpulan puisi pertama Yusri Fajar ini ditulis ketika penulisnya jauh dari rumah. Bahkan, nyaris semua puisi di sini ditulis ketika Yusri berada di luar negeri. Beberapa puisi yang lain bertemakan perjalanan, tapi dari kampung halaman di Banyuwangi ke Malang, yang kemudian menjadi domisili Yusri. Dengan begitu, tidak berlebihan kalau saya menyebut buku ini sebagai buku puisi perjalanan–meskipun tentu perjalanan di sini harus diartikan secara luas.

Lazimnya pengunjung di tempat baru, penyair juga menunjukkan ketakjuban kepada keasingan dan kebaruan, yang kemudian dia tingkahi dengan perenungan tentang kesejarahannya. Pada beberapa puisi, Yusri menyoroti sebuah obyek atau individu dan menyoroti keterkaitan mereka dengan Indonesia.

Kita bisa temukan itu pada puisi-puisi seperti, misalnya “Di Negeri Bekas Penjajah Aku Menemukanmu” (hal. 7), yang bisa dijadikan contoh yang tepat. Dalam puisi ini, aku lirik Yusri melihat-lihat jalanan, restoran, pernak-pernik, dan orang-orang Belanda, dan di situ dia merasa menemukan “kamu,” yang bisa kita tafsirkan sebagai “Indonesia.” Puisi ini memang dibuat jauh dari rumah, tapi dia tak kunjung berhenti membicarakan Indonesia, yang jejaknya terlihat di mana-mana di Belanda (“Pertemuan Dua Bangsa di Warung Kebab,” hal. 24).

Ketakjuban akan hal-hal yang memiliki signifikansi sejarah atau berkaitan dengan perpindahan bangsa-bangsa inilah yang memenuhi buku-buku Yusri. Tidak bisa kita temukan puisi tentang indahnya danau di Swiss, romantisnya menara Eiffel di Perancis, atau nikmatnya capuccino Italia di sana. Tapi, kita bisa temukan puisi tentang warung kebab yang mempertemukan pendatang dari negeri berbeda yang selalu digelayuti kerinduan kepada kampung halaman.

Bahkan, kalau ada satu topik yang bisa dibilang mencakup sebagian besar puisi di buku ini, topik tersebut adalah “diaspora.” Dalam kajian sosial, istilah diaspora pada awalnya mengacu kepada orang-orang Yahudi yang terusir tanah leluhur mereka untuk kemudian hidup terpencar di segala penjuru Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa untuk tumbuh dan berkembang. Namun, sebagaimana diteorika Robin Cohen dalam Global Diasporas: An Introduction, seiring zaman, istilah diaspora ini banyak digunakan untuk mengacu komunitas-komunitas yang jauh dari negeri leluhur mereka, bahkan tanpa perlu elemen keterpaksaan. Pandangan seperti inilah yang mendominasi gagasan kelompok Jaringan Diaspora Indonesia.

Kembali ke buku puisi Yusri Fajar, gagasan diaspora muncul paling efektif pada puisi yang dipakai untuk judul buku Yusri ini “Kepada Kamu yang Ditunggu Salju” (hal. 4). Puisi ini berbicara tentang “kamu” yang tumbuh jauh dari tanah moyangnya, yang saat ini benihnya bisa tersemai, bertumbuh, tapi pada akhirnya terancam akan terkubur salju dan kehilangan akarnya. Seperti itulah dilema diaspora yang akarnya selalu berisiko menguap seiring zaman. Menariknya, dalam puisi ini, Yusri menggunakan idiom-idiom pertumbuhan tanaman beserta seluruh anatominya. Puisi ini seperti mengembalikan lagi istilah “diaspora” ke ranah aslinya, yaitu biologi. Boleh lah kita bisa puisi ini tidak melupakan akar kata “diaspora” itu sendiri.

Dengan semua potensi yang lebih dari sekadar menggambarkan tentang perjalanan ini, jangan-jangan puisi ini bisa memberi sumbangan di tengah “krisis” yang menjangkiti genre tulisan perjalanan. Seperti dikritisi Graeme Wood dalam artikelnya di majalah Foreign Policy, tulisan perjalanan adalah genre yang mati, utamanya karena penulis terlalu tersedot kepada dirinya sendiri dan kurang menukik dalam pengamatan atas tempat dan orang-orang yang dikunjunginya. Atau, yang lebih parah, hanya menyoroti hasil pengamatan yang hanya mengkonfirmasi apa yang sudah mereka dengar atau yakini, sebagaimana dikritisi Edward Said. Dengan perenungan atas nasib diaspora dan obyek-obyek yang memiliki latar kesejarahan sebagaimana saya bahas di atas, buku Kepada Kamu yang Ditunggu Salju ini berpotensi menyumbangkan darah segar kepada genre yang tulisan perjalanan yang kita layu itu menurut sekalangan kritikus.

(Tulisan ini dimuat di kolom Resensi harian Jawa Pos Radar Malang pada hari Minggu 23 Juli 2017. Semoga menikmati resensinya, dan semoga ada “krentek” hati membeli bukunya.)