Putusan untuk Baiq Nuril dan Contoh Buku Teks “Budaya Perkosaan”

Kalau saja kata “memprihantikan” belum banyak dipakai, mungkin saya akan memakaianya. Sementara perkenankan saya menggunakan kata “memalukan” untuk menggambarkan kejadian putusan 6 bulan penjara bagi guru Baiq Nuril dalam kasus yang sedang beliau hadapi. Tentu, kata “memalukan” di sini terlalu ringan. Ya, terlalu ringan untuk menggambarkan kejadian yang bisa dijadikan contoh di buku teks untuk menjelaskan konsep “budaya pemerkosaan.”

Berita di sejumlah media dalam beberapa hari ini menyoroti betapa ganjilnya putusan 6 bulan kurungan buat bu Baiq Nuril tersebut. Seorang guru dilecehkan secara verbal lewat telpon oleh kepala sekolahnya. Sebagai pertahanan diri, beliau (si ibu guru) merekam pelecehan tersebut. Rekaman tersebut sampai ke tangan seseorang, yang tanpa diminta si bu guru menyebarkannya. Si kepala sekolah merasa dipermalukan dan memperkarakan kasusnya. Oleh PN Mataram, Baiq Nuril dinyatakan tidak bersalah dan justru merupakan korban. Namun Jaksa mengajukan kasasi ke MA dan MA pun mengabulkan kasasi. Belakangan, terbit putusan MA bahwa Baiq Nurul diputus bersalah karena mempermalukan si kepala sekolah (dan bahkan menurut salah satu berita menghentikan karirnya sebagai kepala sekolah).

Tampak sekali di sini, yang menjadi persoalan utama dari kasus ini di tingkat MA adalah nama baik seseorang. Bila di tingkat PN Mataran diputuskan bahwa Baiq Nuril tidak bersalah dan malah merupakan korban, itu artinya PN Mataram melihat ada persoalan lain yang jauh lebih prinsipil dalam kasus ini lebih dari urusan mempermalukan atau penodaan nama baik seseorang. Persoalan lainnya adalah pelecehan seksual secara verbal itu. Namun, di MA, persoalan pelecehan seksual secara verbal ini, sayangnya, kalah dibandingkan citra seseorang yang merasa dipermalukan. Bagaimana dengan persoalan bahwa telah dilakukan pelecehan seksual terhadap Baiq Nuril? Tidak disebutkan di situ.

Menganggap ringan (atau bahkan pembiaran) pelecehan terhadap perempuan inilah yang kini mulai banyak dikenal sebagai bagian dari “budaya perkosaan.” Budaya perkosaan sendiri adalah konsep yang baru-baru ini muncul untuk menjelaskan kecenderungan untuk mengangap enteng atau menormalisasi hal-hal yang secara hakiki merupakan kekerasan (baik fisik maupun mental) terhadap perempuan. Dalam konsep ini, segala jenis kekerasan terhadap perempuan memang diperlakukan sebagai “perkosaan.” Jadi, meskipun di situ tidak benar-benar terjadi tindakan penetrasi seksual secara paksa, tetap saja di situ disebut bagian dari budaya “perkosaan” karena memang mengandung kekerasan tersebut. Dalam hal kekerasan sedikit atau banyak tidak ada bedanya–yang jelas sudah ada itikad untuk melukai.

Tindakan MA yang lebih fokus ke citra diri dan mengesankan menganggap enteng pelecehan seksual ini, patut disayangkan, adalah contoh gamblang dari budaya perkosaan. Yang lebih disayangkan, contoh ini datang langsung dari peradilan negara yang tertinggi. Sangat mengerikan bila sistem hukum tertinggi kita terlibat dalam suatu kecenderungan sosial yang oleh banyak kalangan mulai disoroti sebagai satu bentuk baru budaya patriarki yang berbahaya.

Yang tak kalah memalukannya, semua ini terjadi di sebuah negara yang retorika keislamannya semakin kuat di berbagai aspek. Kehidupan sosial Indonesia, mulai dari lingkup pemerintahan hingga lingkup komersial beberapa tahun ini dipenuhi oleh simbol-simbol Islam dan jargon-jargon Islam. Dari pemilu pusat, pilkada, acara tivi sehari-hari, hingga iklan-iklan shampo saat ini dipenuhi simbol-simbol keislaman, simbol sebuah agama yang oleh para pengikutnya diyakini sebagai rahmat bagi seluruh alam, sebuah tradisi keagamaan yang salah satu ajaran pentingnya adalah sorga di bawah telapak kaki ibu, sebuah agama yang memiliki tradisi busana perempuan yang pada awalnya merupakan bentuk perlindungan terhadap perempuan. Entah apa istilah yang lebih tepat daripada “ironis” jika di sebuah negara yang menghargai agama Islam dengan sedemikian rupa sistem peradilan tertingginya terjerumus ke dalam satu bentuk kecenderungan sosial yang begitu menghina perempuan dengan sedemikian rupa.

Advertisements

Introselfie: Tentang Video Klip “Jiwa Bahagia” (Tani Maju feat. Monohero)

Video klip terbaru Tani Maju, untuk lagu “Jiwa Bahagia” dari album Bed4 Topi Miring Bersama, adalah video klip bagi Anda yang ingin meditasi visual. Video klip ini membawa Anda ke ruang visual yang membungkam dunia luar. Ada beberapa hal bisa diobrolkan dari video klip ini.

Yang pertama tentu formatnya yang potrait memanjang, mirip footage yang diambil dengan telpon pintar. Kalau kita lihatnya sekilas, yang terlintas di pikiran adalah “ah, paling-paling ini video amatiran para vlogger yang ingin cari pengunjung buat akun YouTube-nya!” Tapi, kalau Anda meluangkan barang lima – sepuluh detik di video ini, maka akan tampak bahwa format potrait ini adalah format yang paling pas untuk video ini.

Kenapa pas?

Karena videonya menampilkan satu per satu orang yang ditampakkan tersenyum, tertawa, menari, berlagak, menyanyi, dan lain-lain. Semuanya sendiri-sendiri. Apa yang lebih tepat untuk menunjukkan orang satu per satu selain format yang memanjang ke atas (mirip monolith di film 2001 Space Odyssey itu, yang saya suka memaknainya sebagai egosentrisme)? Tentunya fokus satu-satu orang ini tepat adanya mengingat lagu ini judulnya “Jiwa Bahagia” dan bersuara tentang anjuran-anjuran bagi jiwa agar bahagia. Dan jiwa yang dibicarakan di sini adalah jiwa orang per orang. Akan ganjil jadinya kalau bicara tentang jiwa tapi isinya bersama-sama.

“Berani hidup senyap di tengah kemegahan. Lebih baik disakiti daripada menyakiti. Baik dikejar anjing dari mengejar anjing. Luruskan pikiran musuh kita kesempitan. Jangan pastikan hasil baru mengerjakan. Lakukan sepenuh hati dengan sepenuh hati.”

Hal kedua yang tidak bisa dilewatkan adalah permainan pola bentuk dan warna yang menjadi tabir transparan. Ini bagiannya Monohero, band indie Malang dengan musik elektronik yang dikenal selalu membawa elemen visual dalam pertunjukan-pertunjukan langsungnya. Elemen visual yang menjadi latar depan transparan ini pada awalnya mungkin mengganggu bagi penonton yang menginginkan kejelasan, kepolosan, kelangsungan, kebersihan, dll. Bagaimana tidak? Tidakkah Anda terganggu jika ingin melihat dengan jelas orang yang ditampilkan tertawa di video klip itu tetapi malah terganggu oleh bentuk-bentuk warna aneka pola yang tidak pernah diam itu (ada pola garis lurus, lengkung, polkadot, pointilis, gradasi, trippy, psikedelik, kaleidoskopik, dll.)?

Tapi, begitu Anda menerima bentuk dan warna ini sebagai bagian dari video ini–seperti halnya ambient musik Mohonero yang melebur dalam musiknya Tani Maju di lagu “Jiwa Bahagia” ini, mungkin Anda akan lebih woles. Ya, yang ditampilkan bukan hanya orang yang tertawa, tapi orang yang tertawa beserta segala warna-warni yang ada di permukaannya. Justru pergerakan warna dan bentuk inilah yang akhirnya bisa memenuhi ruang pikiran Anda dan akhirnya bisa membawa Anda jauh dari musiknya dan masuk ke dalam dunia visual, seperti sebuah meditasi paksa. Di sini, kita jadi menghargai video klip ini sebagai lebih dari sekadar hiasan gambar bergerak untuk menyertai musik. Video klip ini menjadi sebuah entitas yang bisa diapresiasi sendiri. Dengan begitu, musiknya–mohon maaf–akhirnya hanya menjadi latar dari meditasi visual kita, seperti musik ambient yang menyertai sebuah sesi meditasi yang pernah saya ikuti dulu sekali (silakan cari “meditation music” di YouTube untuk mendapatkan gambarannya).

Dan, biar pas seperti esai-esai lima paragraf tugas sekolah itu, ada hal ketiga yang perlu dibicarakan: tentang sorotan kepada satu per satu orang di video ini. Apa ya maksudnya ini? Kenapa kita ditunjukkan gambar orang demi orang yang muncul dan “harus” kita tamatkan satu per satu? Entah. Mungkin ini menunjukkan jiwa-jiwa manusia yang diajak menghayati kondisi mereka. Kalau melihat cara mereka memandang lurus ke depan, saya jadi teringat video klip Prince dari dua puluhan tahun yang lalu, yaitu di video klip “The Most Beautiful Girl in the World” dari album The Gold Experience. Di video klip itu, kita melihat orang-orang yang duduk manis (tapi bersama seorang lain atau keluarga) menghadap ke kamera atau memandang ke atas. Orang-orang ini muncul bergantian.

Tapi video klip Prince itu beda dengan Tani Maju feat. Monohero ini. Kalau di Prince, belakangan kita ketahui bahwa mereka menonton tampilan di layar tentang hal-hal yang sesuai dengan impian mereka. Mereka seperti menonton kehidupan impian mereka. Untuk Tani Maju feat. Monohero, kita tetap tidak tahu apa yang mereka hadapi di depan mereka. Bisa jadi, seperti lazimnya di jaman ini, mereka menatap telpon pintar mereka, entah chatting, entah tiktokan, entah selfie, entah membuat vlog (makanya formatnya portrait?). Tapi, kalau boleh berbaik sangka, mungin ini gambaran visual untuk kegiatan introspeksi. Sulit kan menggambarkan bagaimana introspeksi dilakukan, lha wong introspeksi itu urusan batin. Tapi, kalau introspeksi itu digambarkan dengan yang ada di permukaan, dengan memandang wajah sendiri, bercermin, mungkin jadi masuk akal bagi kita. Jadi ya, biarkan saya putuskan bahwa video ini adalah tentang introselfie.

Terus, kalau kita kembali ke musiknya, yang selanjutnya “hanya” jadi latar untuk menikmati video ini, kita akan temukan bahwa di bagian akhir video ini akan terdengar suara snare drum yang dipukul mirip marching band. Kesan yang ditimbulkan adalah kesan positif, optimis, seperti orang baris-berbaris. Dan saya akan merasakan bahwa di akhir sesi introspeksi ini–atau tepatnya introselfie ini–kita akan mendapatkan suasana positif. Introspeksi mestinya begini, membawa ke sesuatu yang positif. Kemeriahan lagu ini akan memunjak pada refrain terakhir yang disetai suara snare drup itu:

Hidup jiwaku dalam bahagia.
Jiwaku hidup, dalam bahagia.

Kayaknya begitu saja yang bisa saya obrolkan tentang video klip terbaru ini. Oh ya, sampai berparagraf-paragraf ini, saya baru sadar saya belum menyebutkan siapa otak dan otot di balik video klip ini. Mari kita sebut nama editornya: Didit Prasetyo, seorang videografer muda yang banyak mengerjakan video-video Tani Maju, film animasi, dan juga film dokumenter. Dengan demikian, mari kita rayakan introselfie tersebut dengan menonton video di bawah ini

 

Melankolia

Di antara banyak hal yang tidak ingin kurayakan, ada satu yang namanya melankolia. Tidak ingin kurayakan sekadar ingatan yang tidak jelas akan kuapakan. Salah satu melankolia yang sering aku rasakan adalah ketika tiba-tiba–biasanya saat mengantuk atau memejamkan mata–aku melihat sebuah tempat. Bukan tempat yang ganjil atau gaib. Biasanya hanya perempuan di ujung Razorback Road, di mana ada perempatan 6th Street yang bila kau ambil kanan akan membawamu ke Walmart yang besar di sebelah Home Depot dan bila ke kiri kau akan dibawa ke satu kawasan yang kau akrabi lekukan-lekukan jalan, bengkel knalpot, dan sejenisnya. Perempatan itu entah kenapa sering muncul di kepalaku.

Biasanya, yang kulihat adalah malam hari yang lengang, mungkin karena aku sering melewatinya saat akan berangkat ke Walmart setelah pulang dari perpustakaan jam 12 malam atau bahkan 2 dini hari. Melankolia itu betapa tidak jelas harus aku apakah, tapi yang pasti akan menjadi bagian dari saat-saat ketika aku mulai lepas dari kesadaran.

Jalan Berputar Menuju Kita dalam Novela Claudio Orrega Vicuña

Beberapa hari yang lalu, setelah acara ngobrol-ngobrol di basecamp Pelangi Sastra Malang, saya pulang membawa pinjaman buku kecil berjudul Kenang-kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub karya Claudio Orrega Vicuña [baca=Vikunya]–belakangan saya tahu judul bahasa Inggrisnya adalah The Surprising Adventures of Balthazar. Ternyata, buku mungil berjudul imut itu cukup mengasyikkan dan membawa perenungan-perenungan penting.

Oh ya, sebelumnya harus saya tegaskan bahwa saya sekarang tidak malu pinjam buku. Katanya Fumio Sasaki sang penganjur nilai-nilai minimalisme itu, meminjam itu bisa dimaknai sebagai bersikap “sosial.” Silakan simpulkan sendiri.

Nah, buku ini asyik beberapa hal, tapi yang paling menonjol adalah konsistensinya dalam menggunakan salah satu elemen yang dianggap penting dalam sastra, yaitu defamiliarisasi. “Defamiliarisasi” sendiri bermakna teknik yang dipakai untuk menceritakan sesuatu yang sebenarnya lazim dengan cara yang tidak lazim sehingga kita tidak langsung tahu apa yang dimaksud. Dalam prosa, hal ini biasanya ditempuh dengan menggunakan sudut pandang orang yang tidak akrab suatu kejadian yang sebenarnya lazim bagi orang-orang lain (dan termasuk pembaca). Dalam aliran kritik Formalisme Rusia, “familiarisasi” ini adalah nilai elementer dari karya sastra. Tolstoy disebut-sebut sebagai panutan dalam hal. Dia bisa menjelaskan tentang satu hal yang lazim dengan cara yang tidak lazim sehingga bisa memakan waktu lama. Tapi, dalam proses itu, pembaca akan diajak menelusuri detil hal-hal yang dibahas. Dengan “defamiliarisasi” ini, kita akan mendapatkan eksplorasi yang lebih mendalam dan dipaksa merenungkan hal-hal yang mungkin sudah jadi sego-jangan dalam hidup kita. Itu pulalah yang membedakan karya sastra dengan karya jurnalistik.

Teknik ini lazim dipakai di karya-karya sastra dalam berbagai konteks. Salah satu aplikasi defamiliarisasi yang menarik adalah biasanya terjadi ketika narator menjelaskan tentang orang dari tempat lain atau dari budaya lain. Contoh yang saya ingat saat ini adalah satu adegan dalam novel Cities of Salt karya Abdelrahman Munif. Penulis Arab Saudi ini menceritakan tentang satu adegan di lingkungan masyarakat badui Arab yang melihat para pendatang dari luar (orang-orang Amerika anggota ekspedisi eksplorasi minyak bumi di kawasan semenanjung Arabia). Orang-orang baduy ini heran dengan “ibadah” yang dilakukan para pendatang ini setiap pagi. Setelah kita amat-amati, kita akan tahu bahwa yang dimaksud “ibadah pagi hari” di sini sebenarnya adalah senam pagi.

Dalam Kenang-kenangan Mengejutkan si Beruang Kutub defamiliarisasi ini digunakan secara masif. Lha ya tentu saja–kan naratornya ini seekor beruang kutub yang tidak akrab dengan kehidupan manusia. Proses memahami manusia ini berlangsung perlahan-lahan dengan “penikmatan” atas keganjilan-keganjilan manusia. Satu hal yang muncul mencolok di sini adalah rasa heran si beruang ketika mendapati bahwa ternyata tidak semua manusia itu berbahagia dan saling menjaga. Dia membandingkan manusia yang miskin dan sendirian yang begitu berbeda dengan kawanan beruang, singa laut, dan hewan-hewan yang selalu saling menjaga.

Demikianlah dulu catatan awal tentang novela ini. Sementara kita catat untuk elemen literer-nya dulu. Besok, semoga saya bisa menulis tentang elemen teoretik dan yang lebih masuk ke isinya. Tapi ya, itu nanti saja. Sekarang saya ngantuk dan biarkan saya tidur dulu. Yang jelas, kita berdua kini tahu sama tahu bahwa di novela Orrego Claudio Vicuña ini, defamiliarisasi digunakan untuk menunjukkan proses Balthazar si beruang kutub mengenali manusia. Dan bagi kita para pembaca yang kebetulan manusia ini, membaca novela ini terasa seperti menyusuri jalan berputar menuju diri kita sendiri.

 

Tentang Lagu-lagu Religi Gigi dari Masa ke Masa (Teaser)

Beberapa bulan ini saya merekap dengar lagu-lagu religi Gigi sambil mencari sebanyak mungkin sumber liputan dan esai dari berbagai media daring terkait album-album Gigi tersebut. Tujuan saya memang ingin menulis tentang transformasi album-album tersebut untuk dipresentasikan di sebuah forum ilmiah. Tapi, seperti biasa, saat kita mulai mencurahkan hati dan otak kita kepada sesuatu, kita akan mendapatkan kejutan: ternyata album-album religi Gigi itu mengandung lebih besar hal menarik dari yang saya bayangkan ketika memulai ikhtiar ini.

Album-album religi Gigi, yang dimulai dengan album Raihlah Kemenangan (2004), ternyata album religi yang revolusioner. Dari esai-esai tentang budaya populer dan Islam di Indonesia yang dimuat dalam buku berjudul Islam and Popular Culture in Indonesia and Malaysia yang disunting oleh Weintraub, saya mendapati bahwa sebelum Gigi, tidak ada band beraliran agak-agak nge-rock yang rutin serius menggarap lagu-lagu religi. Memang ada Rhoma Irama (yang sumbangannya tidak sedikit dengan mengoprek musik Melayu sehingga menjadi lebih optimistis, dan kemudian menjadi musik dakwah yang sangat konsisten) atau Bimbo (yang awalnya bermain musik Flamenco tapi kemudian fokus menggarap musik-musik dengan lirik bertema Islami) atau Ebiet G. Ade. Namun, untuk musisi nge-rock yang serius menggarap musik religi (versi daur ulang dari musisi sebelumnya, terutama Bimbo), Gigi ada yang pertama. Gigi pun melakukan ini tanpa meninggalkan “fitrah” mereka sebagai musisi rock–maksudnya, setelah urusan menggarap musik religi itu selesai, mereka kembali menggarap musik-musik yang … sebutlah sekuler. Setelah Gigi, kita bisa melihat lebih banyak musisi yang melakukan itu, seperti misalnya Ungu, Wali, dan bahkan Radja.

Hal kedua yang saya temukan adalah ada aspek estetis kuat yang mendorong lahirnya musik-musik religi versi Gigi ini. Album religi Gigi tidak sepenuhnya lahir karena hasrat untuk berdakwah (seperti Rhoma Irama), tapi juga bukan melulu hasrat untuk mengeruk keuntungan dari momen Ramadhan. Dari pernyataan Armand Maulana di dokumenter Gigi yang ditayangkan di Kompas TV (bisa ditonton di kanal YouTube Kompas TV), Armand menyebutkan bahwa dia punya keinginan menggarap lagu-lagu Bimbo (yang telah cukup signifikan mewarnai Ramadhan-ramadhan dalam kehidupannya) dengan gaya dia sendiri, yang nge-rock. Dia ingin menghasilkan musik religi yang lebih mudah masuk ke telinga Muslim dari generasinya atau generasi yang lebih muda dari dia–yang dia bayangkan mungkin sulit terketuk hatinya oleh lagu-lagu Islami gaya Bimbo yang mendayu-dayu dan tidak enerjik. Di sini, kita bisa melihat kemiripan antara Gigi dan Rhoma Irama, yang pada awal 1970-an memutuskan untuk melestarikan Melayu tapi dengan perubahan-perubahan yang menjadikannya lebih menarik bagi orang-orang muda di jamannya dengan menghadirkan apa yang bagus-bagus dari musik rock, termasuk di antaranya adalah optimismenya, yang menurut Rhoma absen dari musik Melayu (tentang revolusi Melayu ini, kita bisa menemukannya di buku Dangdut Stories karya Weintraub).

Pendeknya, album religi Gigi mengandung elemen otak-atik estetika musik religi sekaligus juga mempertimbangkan keberterimaannya bagi generasi muda pendengar musik sambil juga (secara implisit) keinginan menyampaikan pesan/dakwah bagi generasi muda. Aspek-aspek ini menjadi album-album religi (terutama yang pertama) tidak sesimplistis berdakwah saja atau cari uang saja.

Yang ketiga apa?

Sementara dua saja lah dulu. Memang agak ganjil membuat esai yang hanya didukung oleh dua gagasan pendukung saja. Tapi mohon dipahami, saya harus balik lagi ke aplikasi LibreOffice Writer untuk melanjutkan mendokumentasikan hasil penelusuran atas album-album religi Gigi sehingga dua hari lagi tulisannya siap dan saya bisa share hasil selengkapnya bagi Anda semua.

 

Membela Potensi Spongebob dalam Mendidik Putera-Puteri Bangsa Berdaulat

Seperti kebanyakan orang, saya termasuk yang pernah beranggapan bahwa serial TV Spongebob Squarepants itu dibuat untuk orang dewasa, utamanya karena ceritanya yang cukup kompleks. Namun, baru-baru ini, saya mencoba membuka diri dan mencari informasi tentang apa-apa yang ada di balik serial fenomenal ini. Saya mendapati bahwa serial ini dibuat oleh seorang sarjana biologi kelautan, pernah terlibat kasus pelanggaran hak cipta karena kemiripan dengan sebuah produk yang ada lebih dahulu tapi tidak sempat sukses, dan bahkan pernah menimbulkan kontroversi karena ada ahli psikologi anak yang menganjurkan bahwa ada saat-saat tertentu di mana menonton serial ini kurang bagus bagi anak. Nickelodeon pernah menyatakan bahwa serial ini ditujukan bagi penonton usia 6-11 tahun (yang terlalu kecil sangat tidak dianjurkan). Intinya, serial ini memang diperuntukkan bagi anak-anak. Sejak itu, saya pun tergerak untuk membuat postingan-postingan blog tentang Spongebob Squarepants dengan mencoba mendudukkan serial ini pada kittahnya, sebagai tontonan untuk anak. Dampak hal itu adalah saya mencoba menelusuri nilai apa yang bisa ditawarkan oleh serial ini.

Satu episode Spongebob yang menurut saya bagus dijadikan ilustrasi untuk menunjukkan nilai dari serial ini (bila ditonton dengan bimbingan orang tua) adalah episode “The Krabby Chronicles.” Arus utama cerita episode ini adalah Tuan Krab ingin mendapatkan untung besar dengan membuat koran, namun untuk itu dia harus meminta Spongebob menuliskan imajinasinya, sehingga membuat banyak orang merasa dirugikan. Spongebob yang resah dengan ceritanya ini kemudian berbalik menggunakan Tuan Krab sebagai sasaran beritanya, sehingga akhirnya Tuan Krab kehilangan semua uangnya. Temanya yang paling mendasar mungkin gagasan sederhana “jangan melukai orang lain kalau tidak mau dilukai sendiri.” Namun, cerita ini disampaikan dengan estetika Spongebob yang hiperbolis, satir, dan penuh distraksi. Dampaknya, tidak mustahil anak-anak kesulitan menjangkau tema dasar cerita ini. Di situlah orang tua seperti kita semestinya berperan. Mari berikrar: Spongebob adalah pendidik yang baik, tapi dia hanya bisa baik bila kita terjemahkan.

Anda mungkin bertanya-tanya: kalau masih membutuhkan perlakuan tambahan, kenapa tidak kita tinggalkan saja tontonan ini dan mencari cerita-cerita yang lebih sederhana buat anak-anak kita?

Tidak. Inilah peran Spongebob Squarepants: membantu menunjukkan kepada anak-anak itu bahwa dunia ini sebenarnya tidak sederhana. Dengan melihat kompleksitas masalah, maka anak akan terbiasa untuk memandang persoalan tidak hanya pada satu dua titiknya saja, tapi secara luas. Bahkan, si anak akhirnya bisa saja menghasilkan tafsir-tafsir yang tidak kita ketahui sebelumnya. Ini pula yang menyebabkan kenapa kita perlu membaca karya fiksi yang bagus, yang membuat kita mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan dengan menelisik satu demi satu elemen di dalamnya.

Tapi, dengan Spongebob Squarepants, kita dihadapkan pada satu dilema: yang menjadikannya disukai anak-anak adalah juga yang menjadikannya potensial untuk tidak mudah dipahami oleh anak-anak. Yang konon menjadikan Spongebob ini disukai anak-anak adalah adegan-adegannya yang hiperbolis, penuh kejutan, dan konyol. Saking kuatnya bagian-bagian ini, bahkan ada pakar pendidikan yang pernah bilang bahwa cerita Spongebob ini berpotensi memperparah ADHD (gejala gangguan perhatian dan hiperaktivitas). Bahkan ada yang sampai bilang bahwa Spongebob tidak cocok ditonton untuk anak yang akan berangkat sekolah, karena akan mengacaukan konsentrasi mereka. Kiranya hal ini merujuk ke elemen-elemen konyol, hiperbolis dan mengejutkan saja, yang sebenarnya adalah detil-detil dari Spongebob Squarepants.

Padahal, seperti saya bilang di atas, kalau kita lihat secara lebih komprehensif, Spongebob Squarepants ini juga punya pesan moral yang jelas. Spongebob ini tak ubahnya cerita-cerita anak lain, yang disertai pesan moral. Seperti saya bahas di tulisan lain, pesan moral adalah bagian yang tak bisa dilepaskan dari cerita anak. Bahkan, cerita anak pertama memiliki judul yang jelas-jelas mengindikasikan pesan moral itu. Belum lagi, hubungan antara detail cerita yang berkaitan dengan plotnya juga bisa menjadi bagian dari olah otak yang baik untuk mereka ulang apa-apa yang menyebabkan terjadinya hal-hal tertentu. Secara garis besar, seorang anak akan tahu telah terjadi adegan-adegan aneh di Spongebob, tapi sepertinya tidak mudah untuk mengetahui sebab dari hal-hal tersebut. Untuk episode “The Krabby Chronicle,” misalnya, seorang anak akan tahu bahwa ada polisi yang menangkap Ny. Puff, guru kursus menyetir mobilnya Spongebob. Tapi, sangat mungkin si anak tidak tahu pasti apa yang menyebabkannya ditangkap, atau apa hubungan antara artikel koran yang ditulis Spongebob dengan penangkapan Ny. Puff oleh polisi. Di situlah peran orang tua: mengajak seorang anak mencari sebab-sebab yang tidak jelas, mengisi titik-titik yang ada dalam cerita Spongebob. Kita tidak bisa memaksa anak untuk tidak tertarik perhatiannya oleh bagian-bagian yang mengejutkan dan tidak standar yang seringkali mengalihkan perhatian anak dari keseluruhan cerita. Kita, yang dewasa, semestinya bisa mengapresiasi kekonyolan detail-detail tersebut, tapi sambil tetap menyadari bahwa masih ada yang lebih dari itu, yaitu keseluruhan tema cerita ini.

Kalau anak bisa hilang fokus dari keseluruhan tema cerita karena distraksi-distraksi kecil yang menarik, bukankah itu juga yang lazim terjadi dalam kehidupan kita? Bedanya, kompleksitas yang menyertai hidup kita orang dewasa tentunya memiliki level lebih akut. Sementara itu, kompleksitas di dalam Spongebob terjadi dalam rentang waktu yang singkat, sekitar 9 menit (panjang satu cerita atau sub-episode Spongebob). Para orang tua semestinya bisa tetap woles dan memandang lebih jauh dari sekadar bagian-bagian satir penyedot perhatian itu dan menyusun kembali tema cerita tersebut. Baru setelah itu anak diajak untuk mengingat-ingat kembali bagian-bagian konyol cerita dan bagaimana bagian-bagian konyol tersebut kalau dilihat secara keseluruhan sebenarnya menyampaikan pesan-pesan tertentu.

Poin penting kedua adalah, sebagai cerita yang menyajikan pesan lumayan sederhana, Spongebob Squarepants tidak terjebak dalam klise dan simplifikasi. Serial ini menyajikan persoalan-persoalan yang cukup mudah dicari rujukannya dalam kehidupan sehari-hari orang dewasa. Ada persoalan dunia kerja, persoalan keberagaman, persoalan sosial media, dan sebagainya. Mungkin inilah yang membuat banyak orang (termasuk saya dulu) menganggap serial ini dibuat untuk orang dewasa. Mungkin saya dulu menganggap ini cerita orang dewasa karena yang dibahas adalah dunia orang dewasa. Tapi, kalau dibalik, apakah cerita anak harus selalu tentang anak-anak saja? Lantas, apakah efektif mengajarkan moral bagi anak hanya dengan cerita-cerita tentang anak saja? Bukankah cerita untuk anak juga bisa dipakai untuk mempersiapkan mereka menghadapi kehidupan orang dewasa? Itulah yang terjadi pada serial kita ini: permasalahan orang dewasa, pekerjaan, uang, kekuasaan, waktu luang, dan sejenisnya. Elemen utama kehidupan orang dewasa yang kurang mendapatkan representasi di Spongebob adalah romansa (romansa digambarkan dengan begitu ganjilnya, hanya asal ada: plankton yang mencintai komputernya).

Jadi, meskipun moral yang disampaikan sesederhana semua kejahatan akan mendapatkan balasan yang setimpal, cerita yang mengusungnya tidak simplistis. Dalam cerita “The Krabby Chronicle” itu, kita tidak mendapatkan kisah tentang seorang anak yang disakiti anak lain dan anak lain itu mendapatkan balasannya. Hal semacam itu pastinya klise. Tapi, yang kita dapatkan adalah seorang pengusaha yang ingin mendapatkan modal lebih besar dengan cara menjual berita sensasional tapi bohong. Usaha tabloid gosip penuh kebohongan ini, bagi orang dewasa, sangat mudah ditemukan padanannya di dunia nyata. Bahkan, dunia nyata sudah punya sesuatu yang lebih liar dari imajinasi yang ada di film-film orang dewasa. Dengan menonton kejadian mirip nyata yang kerangkanya adalah pesan moral yang lazim itu, anak-anak sebenarnya diperkenalkan pada apa yang bisa terjadi di dunia nyata, di mana kesalahan tidak dengan mudah bisa dirasakan, di mana diperlukan perjuangan mencari hikmah di balik cerita tidak mudah—dan bahkan tidak disadari, hingga banyak yang terjerumus melakukan kesalahan. Maka, setelah menonton episode ini, sebenarnya anak-anak kita sudah diperkenalkan pada dunia yang jauh lebih kompleks dari dunia mereka sendiri. Yang jadi tantangan adalah kita: bisakah kita membantu anak-anak fokus ke cerita itu sambil menonton Spongebob Squarepants.

Sekali lagi, kalau memang agak rumit, layakkah cerita ini diperjuangkan? Dengan segala potensi yang dimilikinya, mungkin pertanyaannya bukan lagi pada apakah layak dipertahankan, tapi bagaimana cara memperjuangkan agar cerita ini benar-benar bisa menjadi jembatan yang maksimal bagi anak-anak sebelum memasuki dunia (fiksi maupun nyata) yang jauh lebih kompleks lagi. Di sebuah masyarakat di mana seringkali (di)kabur(kan) batasan antara fiksi dan fakta, fiksi dan ramalan, ramalan dan prediksi, Spongebob Squarepants bisa dimanfaatkan untuk dua tujuan: mempersiapkan anak-anak untuk menghadapi kompleksitas yang lebih luas, sekaligus menjadi sarana latihan bagi yang dewasa untuk mendudukkan fiksi pada tempat yang semestinya.

Pagar Lupakan, Jembatan Dirikan: Anjuran Buku Tafsir Puisi Nyalasar karya M. Faizi.

Nyalasar karya M. Faizi bukanlah buku. Dia adalah titian. Nyalasar adalah titian yang menjembatani puisi dengan pembaca. Di jaman yang penuh penuh pagar, penuh tagar, jembatanlah yang kita butuhkan.

Tapi, sebelum terlalu jauh bicara tentang Nyalasar yang berpotensi menjadi jembatan, mari kita masuki dulu apa sebenarnya buku ini? Seperti terlihat pada sampulnya, buku Nyalasar ini adalah buku tafsir puisi. Kalau bicara tentang sastra, istilah “tafsir” bisa dimaknai bermacam-macam, mulai dari penjelasan akan arti makna hingga kritik yang menggali begitu dalam hingga, ekstrimnya, kita bisa heran bagaimana mungkin sebuah teks yang mengatakan A ternyata bisa memiliki makna yang sebegitu dahsyatnya. “Tafsir” yang dikerjakan oleh buku Nyalasar ini adalah upaya menjelaskan kemungkinan makna puisi dari baris ke baris yang dilakukan secara manasuka, atau istilah filosofisnya “woles.”

Untuk lebih jelasnya, biarkan saya gambarkan seperti apa buku karya Kyai muda M. Faizi ini. Buku ini berisi esai-esai yang masing-masingnya diawali sebuah puisi (ada yang baru, relatif baru, agak lama, dan legendaris) dan kemudian dilanjutkan dengan usaha menjelaskan puisi tersebut baris-demi-baris. Biasanya, dan inilah yang diharapkan oleh M. Faizi juga, setelah esai selesai dibahas pembaca akan lebih dekat dengan puisi tersebut, memahami makna di balik baris-demi-baris atau bahkan kata-demi-kata, dan mengetahui aspek-aspek teknis dari baris-baris puisi tersebut (seperti mana majas pars pro toto, mana anafora, dan lain-lain). Saya bayangkan bahwa setelah menyelesaikan satu esai, pembaca akan merasa puisi-puisi tersebut menjadi lebih jelas maksudnya. Tentu, kejernihan puisi tersebut adalah kejernihan versi M. Faizi, yang dengan rendah hati mengakhiri ikhtiarnya di tiap-tiap esai dengan “wallahu a’lam,” Tuhan maha mengetahui.

Kira-kira, apa faedah buku seperti ini? Kalau apa yang ada di lapangan, yang menganggap puisi sebagai sebuah karya sastra yang dianggap lebih berat, buku yang menjelaskan isi puisi semacam ini cukup bermanfaat. Bagi yang memang suka puisi (tapi tidak selalu bisa paham maksud puisi) buku ini bisa lebih membantu memahami apa-apa yang tersembunyi di balik keringkasan puisi. Bagi yang menganggap puisi itu sulit dan karenanya tidak suka membaca puisi, buku ini menunjukkan bahwa puisi itu tidak mustahil dipahami. Atau setidaknya tidak semua puisi mustahil dipahami (Afrizal Malna baru saja terlintas di pikiran saya).

Membaca yang Tersurat

Terus, kalau kita membutuhkan titian untuk mendekatkan antara puisi dengan pembaca, dan kita membutuhkan seorang M. Faizi untuk melakukannya, apakah itu artinya kita tidak bisa melakukannya? Sebenarnya kita sangat bisa, saya yakin. Tapi M. Faizi lebih bisa. Sepertinya ini tidak bisa dilepaskan dari latihan formal, kebiasaan membaca puisi, dan tentu saja karena beliau juga seorang penyair yang kemungkinan tahu cara kerja seorang penyair. Kalau mau kaku-kakuan ini, sebenarnya kita bisa mengkategorikan apa-apa yang dilakukan M. Faizi alam menafsir puisi itu ke dalam tiga tingkatan: leksikal (tafsiran atas kata), proposisional (tafsiran atas kalimat satu dengan yang lain), dan pragmatik (tafsiran atas konteks dengan dunia di luarnya). Agaknya, M. Faizi telah menghayati pentingnya penafsiran pada ketiga elemen tersebut dan bisa melakukannya dengan lancar, bahkan terasa seperti sesuatu yang juga alamiah (second nature) dalam aktivitasnya membaca puisi.

Dalam khazanah pembelajaran membaca, kemampuan-kemampuan ini masuk ke wilayah kedua, yaitu membaca yang tersirat. Sekadar mengingatkan lagi, dalam pembelajaran membaca yang lazim dipraktikkan di jurusan-jurusan bahasa, tahap pertama adalah membaca yang tersurat (membaca harfiah, atau literal reading). Selanjutnya, ada membaca yang tersirat (atau inferential reading) atau membaca untuk mendapatkan makna yang tidak langsung tampak. Selanjutnya, ada yang namanya kritis atau evaluatif. Istilah apresiasi sastra atau kritik sastra itu biasanya lebih mengacu ke pembacaan level ketiga (atau juga mencakup yang kedua). Saat bernikmat-nikmat dengan sastra, pembacaan versi pertama dan kedua ini saja lebih dari cukup. Dari kedua tingkatan ini, ktia bisa mendapatkan informasi dan kenikmatan. Akan lebih bagus juga kalau ktia membaca sampai tahap ketiga juga. Kalau pun tidak, juga tidak apa-apa. Level ketiga itu bisa disebut “fardu kifayah,” yang sudah cukup kalau sudah diwakili oleh yang disebut kritik sastra itu.

Sebagai laku aktivitas pembacaan level kedua, buku Nyalasar adalah buku yang depan bisa belakang bisa. Dia berguna bagi penikmat puisi yang lebih ingin menikmati puisi, yang lebih ingin menghaluskan puisi (seperti halnya judul buku ini, “nyalasar,” yang artinya menghaluskan kayu) atau menggerusnya lebih lembut agar lebih mudah diserap usus. Sementara itu, bagi yang lebih berminat melakukan apresiasi puisi (seperti misalnya kritikus atau mahasiswa sastra Indonesia yang harus menjalani laku membaca kritis demi nilai, eh, maksud saya demi ibu pertiwi), buku ini bisa menjadi rujukan untuk tafsiran-tafsiran atas karya-karya yang ingin dikritisi. Atau, teknik-teknik pembacaan yang dilakukan oleh M. Faizi bisa dipinjam untuk digunakan membaca puisi-puisi lain yang kelak ingin mereka kritisi. Demikianlah, buku yang merupakan laku pembacaan atas apa-apa yang tersurat ini ramah bagi penikmat puisi, orang yang belajar menulis puisi, maupun mereka yang ingin mengapresiasi puisi secara kritis. Depan bisa, belakang bisa.

Perhatian kepada Seni

Kalau saya bilang bahwa buku Nyalasar ini bisa membantu mereka yang ingin melakukan pembacaan kritis, apakah itu berarti menganggap buku ini kalah penting dibandingkan buku kritik sastra atas puisi? Naudzubillah min dalik. Tidak ada yang salah dengan fokus kepada apa-apa yang lazimnya disebut sebagai unsur intrinsik ini. Bahkan, kita semakin sering mendengar tentang pentingnya juga memperhatikan bagian-bagian ini. Sejak tahun sembilan puluhan, dua ribuan, hingga tahun 2018 ini, kita tetap bisa menemukan tulisan-tulisan yang menunjukkan perhatian kepada elemen intrinsik (atau kepada kurangnya perhatian kepada elemen intrinsik) dalam apresiasi karya sastra.

Pada awal tahun 2000-an, di bagian Bentara surat kabar Kompas hari Jumat, terjadi perdebatan selama beberapa saat mengenai “cultural studies” dan perhatian kepada aspek formal dari seni. Ada tuduhan bahwa “cultural studies” membuat orang meminggirkan aspek-aspek formal dan lebih fokus kepada potensi-potensi ideologis dari sebuah karya seni atau teks secara umum. Orang-orang lebih tertarik menyoroti bagaimana sebuah karya sastra bisa dibaca sebagai karya yang subversif karena mengkritisi konsumerisme. Banyak tulisan kritis yang menguraikan bagaimana sebuah film atau novel bisa dibaca sebagai karya yang mendukung status quo dalam kaitannya dengan kelas sosial. Oleh sebagian kalangan, pembacaan terhadap teks budaya yang lebih menekankan pada konten seperti ini dipandang sebagai tindakan yang mengabaikan elemen-elemen intrinsik yang sebenarnya membuat sebuah karya itu bagus atau tidak. Dengan asumsi tersebut, pengkritik “cultural studies” bisa bilang bahwa karya yang secara formal (atau teknik penulisan) jelek pun bisa dibaca sebagai sesuatu yang bagus ketika mengandung isi yang bernilai politis bagus.

Sampai saat ini pun, ingatan tentang “cutural studies” dan kritik yang dialamatkan kepadanya pun masih tetap ada. Tapi, tentu saja, setelah sekian lama, banyak yang sudah move on dari kritikan kepada “cultural studies” per se dan lebih tertarik membicarakan hal-hal yang berpotensi mengobati kesalahan yang dilakukan oleh “cultural studies.” Manneke Budiman, dalam pengantarnya untuk buku Alih Wahana karya Sapardi Djoko Damono yang tahun 2018 ini diterbitkan ulang oleh Gramedia Pustaka Utama, mengatakan bahwa kajian alih wahana, yang aspek-aspeknya dibahas secara panjang-lebar-dalam oleh SDD dalam buku tersebut berpotensi memberikan solusi. Kajian alih wahana, yang menuntut diawali dengan telaah kepada aspek-aspek formal masing-masing bentuk yang menjadi sumber dan sasaran alih wahana sebelum melanjutkan ke aras ideologis, merupakan praktik yang bisa menjembatani antara kajian humaniora yang di satu sisi dituntut untuk membuat hubungan dengan aspek sosial, psikologis, dan lain-lain dalam kehidupan manusia sementara di sisi lain tetap harus mempertimbangkan aspek-aspek formal sebuah teks budaya karena teks tersebut mau tidak mau adalah hasil imajinasi yang dihadirkan dengan aturan-aturan tersendiri.

Dalam semangat menjembatani kebutuhan kajian humaniora yang semacam inilah buku Nyalasar bisa ikut andil. Nyalasar menunjukkan bagaimana baris-baris tertentu adalah penerapan dari keahlian berolah kata sehingga menghasilkan majas-majas yang cerdik atau imaji-imaji yang menggelitik. Nyalasar juga memperhatikan bagaimana satu dua kata sebenarnya mewakili berbagai lapis makna atau berbagai jenis makna. Nyalasar menunjukkan bagaimana nada baris-baris tertentu, apakah murung, apakah sarkatik, apakah sambil mengulum senyum. Nyalasar juga menujukkan mood macam apa yang ingin diciptakan oleh kata-kata sebuah puisi. Di sisi lain, Nyalasar juga menunjukkan bagaimana baris-baris atau kata-kata tertentu membuat penafsir terpikir sejarah, fenomena sosial, dan bahkan ngelantur sampai membahas topik-topik tertentu hingga panjang lebar—sebelum akhirnya sadar dan kembali membahas apa yang tersembunyi di balik kata-kata yang tersurat pada baris-baris selanjutnya. Pendeknya, Nyalasar mengajak kita melakukan pembacaan atas aspek-aspek formal yang berpotensi kita lewati dan abaikan saat sudah terlanjut mencari janji-janji ideologis yang berpotensi diberikan oleh sebuah puisi. Lagi-lagi, di sini Nyalasar menjadi titian yang menjembatani dua wilayah yang terbukti pernah bersitegang.

Terjadi secara woles

Kalau dari tadi saya terdengar agak tegang, tolong jangan artikan bahwa buku Nyalasar itu sendiri adalah buku yang tegang. Sejak awal, penulis menyampaikan bahwa tafsir yang dia lakukan bersifat manasuka, yang artinya sesukanya, santai saja. Kemanasukaan tafsir ini tampak pada gado-gadonya pendekatan yang dipakai. Kritikus yang sudah menjadi klasik bernama M.H. Abrams (yang btw sampai sekarang masih sering dikutip) membagi orientasi teori kritis ke dalam empat bagian, yaitu subjektif, mimetik, pragmatik, dan objektif. Agar penelitian sastra yang dilakukan menjadi ilmiah, orang-orang diharapkan untuk mengikuti satu atau dua pendekatan saja dalam satu kesempatan. Seiring bergulirnya waktu, setelah melewati masa formalis, pendekatan subjektif sering dipandang miring dalam kritik sastra, meskipun tetap populer dalam sejarah sastra. Kemanasukaan M. Faizi bisa dilihat dalam bagaimana tanpa beban juru tafsir kita ini melakukan, misalnya, penafsiran mimetik dan objektif yang tiba-tiba disisipi oleh penafsiran subjektif (membahas bagaimana biografi si penulis membantunya memahami teks). Hal yang seperti ini berlangsung secara berulang-ulang hingga bisa kita harapkan terjadi, dan menjadi satu gaya pendekatan yang sebut saja woles.

Kemanasukaan tersebut juga tampak pada bagaimana M. Faizi menyajikan gagasannya kepada pembaca. Tidak jarang penulis menyatakan bahwa tafsir yang dia lakukan tersebut lebih bersifat silaturahmi. Ada pula saatnya ketika juru tafsir kita yang santai ini melontarkan godaan atau sindiran kepada si penyair sambil mengulum senyum. Dan—ini yang sementara ini belum pernah saya temukan dalam buku tafsir karya sastra—pernah pula di satu saat M. Faizi menyatakan cukup, berhenti, dan tidak melanjutkan penafsiran karena dia merasa kewalahan dengan puisi yang dia hadapi, yang dalam hal ini adalah puisi Afrizal Malna. Juru tafsir yang santai ini mengaku kepalanya sudah cenut-cenut kalau harus menafsirkan puisi Afrizal Malna bagi pembaca yang sangat dia cintai itu. Dia memilih mempertahankan keselamatan jiwanya daripada berkorban nyawa menafsir puisi Afrizal Malna.

Sepertinya, setelah melakukan berbagai upaya penafsiran dan memperpanjang jangkauan puisi ini kepada pembacanya, atau mungkin juga membawa pembaca kepada puisi, tidak semestinya Kyai M. Faizi ini kita hakimi hanya karena telah patah arang dalam upaya menafsir puisi Afrizal Malna. Apa yang telah beliau lakukan hingga saat ini saja, yakni membuat jembatan itu, sudah lebih dari cukup. Tidak ada yang menyuruhnya melakukan ini. Dia tidak berhutang kepada siapa pun untuk melakukan ini. Jadi, kalau kita mendapatkan apa yang ada di hadapan kita ini, itu sudah sangat bagus. Bahkan, upayanya ini bolehlah kita sebut sebagai upaya revolusioner di tengah situasi hari-hari ini. Mari kita pelintir satu ungkapan dari George Orwell: Ketika membangun tembok dan perang pagar (serta tagar) sudah kaprah, membangun jembatan menjadi tindakan revolusioner.

Kenapa Spongebob Bisa Menjadi Duta Kebhinekaan

Tak bolehkah kita berbeda, dan berbahagia? Tak bolehkah kita berliar-liar menuruti hasrat dan kesenangan kita sendiri asal tidak melukai orang lain? Mungkin kalau saya tanya Anda sekarang, jawabannya tidaklah terlalu sulit: boleh! Tapi, kenyataan seringkali berkata lain, dan itu pula yang terjadi di Bikini Bottom.

Suatu hari, Spongebob terlalu bahagia bekerja seperti halnya pada hari-hari yang lain. Dia melompat-lompat dan menyanyi-nyanyi selama bekerja. Dan seperti biasa, saat Spongebob terlalu berbahagia, dia terdengar cukup menyebalkan. Maka, ketika Bu Gristlepuss singgah sebentar di Krusty Krab, dia pun sebal dengan petingkah Spongebob.  Bu Gristlepuss ini sebenarnya adalah seorang perempuan serius anggota sebuah perkumpulan orang-orang serius yang wajahnya mirip semua. Bagi Bu Gristlepuss, Spongebob terlalu liar dan urakan, tidak berbudaya. Belakangan, dia mendapati bahwa kebahagiaan Spongebob yang sedemikian rupa itu dikarenakan Krabby Patty. Maka, Bu Gristlepuss menyatakan bahwa Krabby Patty perlu dilarang karena bisa membuat seseorang buas dan tak berbudaya. Tuan Krab menganggap itu gertak sambal dan bahkan mengancam Bu Gristlepuss. Tapi ternyata Bu Gristlepuss ini punya suami kepala polisi yang punya otoritas menutup bisnis siapa saja yang dirasa berbahaya. Maka, sejak itu Krusty Krab disegel dan izin usahanya dicopot.

Saya kembali menengok episode Spongebob ini karena anak saya berulang kali menanyakan kepada saya kenapa perempuan yang bersuamikan seorang polisi itu menutup Krusty Krab. Bukan pertama kalinya anak saya menanyakan ini. Ada bagian-bagian tertentu dalam Spongebob yang terkadang kurang jelas bagi anak-anak, yang sebenarnya adalah audiens dari serial kartun ini. Maka, dilandasi niat untuk menjadi orang tua yang baik bagi anaknya, saya pun menonton episode yang berjudul “Banned in Bikini Bottom.”

Dari rangkuman di atas, kita bisa dengan mudah menjelaskan apa masalah terbesar dari konflik dalam episode ini. Adalah sebuah kebiadaban ketika ketidaksukaan personal dikawinkan dengan otoritas publik. Ketidaksukaan personal ii akhirnya bisa mengakibatkan terganggunya hajat hidup seseorang. Bu Gristlepuss yang tidak suka yang fun-fun itu bisa melampiaskan ketidaksukaannya kepada Spongebob berkat posisi suaminya sebagai penegak hukum.

Dan, kalau kita lihat lebih jauh lagi, akan tampak pula bahwa yang saya sampaikan di alinea sebelum ini bukanlah satu-satunya masalah yang menggerakkan episode “Dilarang di Bikini Bottom” ini. Di sini, ada lagi tema sikap anti-perbedaan yang tak berdasar bisa membatasi manusia.

Ketika Krusty Krab ditutup, Tuan Krab dan Spongebob nekad melanjutkan usaha berjualan Krabby Patty di bawah tanah. Secara ilegal. Karena restorannya tidak bisa dipakai lagi, maka Tuan Krab menggunakan rumah nanas Spongebob sebagai tempat jualan Krusty Krab secara sembunyi-sembunyi–tentu sembunyi-sembunyi a la Spongebob. Untungnya, Krusty Krab punya pelanggan setia; di rumah Spongebob pun Krusty Krab (Rahasia) ini masih ramai. Yang agak berbeda hanyalah Spongebob, yang jadi resah tak menentu karena dia merasa sedang melanggar hukum. Dia tidak tenang karena pekerjaan yang dia senangi dan banggakan itu saat ini menjadi pekerjaan yang melanggar hukum Bikini Bottom. Dan ketenaran Krusty Krab (Rahasia) ini pun akhirnya sampai ke telinga si perempuan serius beserta suaminya. Seperti biasa, si perempuan tetap membenci Spongebob, sampai akhirnya tanpa sengaja dia menelan Krabby Patty dan kemudian mengetahui betapa dahsyat dampak psikologis dari Krabby Patty. Sejak itu, Bu Gristlepuss menarik kembali omongannya dan akhirnya mencabut larangan beroperasi bagi Krusty Krab.

Di sini tampaklah bahwa pangkal dari kebencian Bu Gristlepuss terhadap Krusty Krab adalah ketidaktahuannya akan apa itu Krabby Patty dan apa nilai sesungguhnya dari produk burger dasar laut ini. Si pembenci Krabby Patty memutuskan membenci burger ini dengan bukti pendukung tingkat kedua atau ketiga. Dia tidak suka Krabby Patty karena mengira itulah penyebab Spongebob bertingkah liar. Dia melihat satu fakta dan fakta yang lain sebagai dua hal yang memiliki hubungan kausalitas. Dan yang lebih akut lagi, hubungan kausalitas antara keduanya sangat kaku. Satu fakta dianggap sebagai penyebab tunggal fakta lainnya. Dan pendapat ini sudah terlalu kuat karena sudah ada modal kecenderungan Bu Gristlepuss tidak menyukai keriangan. Maka, tanpa memeriksa kualitas sesungguhnya dari Krabby Patty itu pun Bu Gristlepuss bisa membuat penghakiman atas Krabby Patty. Kesan liar, tampilan luar, dari seorang yang dekat dengan Krabby Patty sudah cukup bagi Bu Gristlepuss untuk menghakimi.

Saya jadi ingin mengutip Martin Luther King Jr. yang mengatakan dengan lantang dalam pidato fenomenalnya yang disebut sebagai pidato “I Dream.” Dr. King di situ bilang bahwa dia bayangkan suatu masa ketika keempat putrinya tidak dinilai orang berdasarkan warna kulitnya, tapi dinilai berdasarkan budi pekertinya: the contents of their characters, kata Dr. King. Mau tidak mau saya harus mengatakan itu karena musuh Krabby Patty itu telah menilai Krabby Patty dari permukaannya saja, dari hubungan antara si Krabby Patty dengan keceriaan Spongebob yang baginya hina. Dia tidak menghakimi Krabby Patty berdasarkan kelezatannya yang sejati. Itu masalah! Oh ya, kalau saya menyertakan Dr. King di sini, mohon jangan dipahami bahwa saya membawa Dr. King turun ke kelasnya Spongebob. Saya justru ingin mengangkat Spongebob ke kelas Dr. King dan para pejuang anti-prasangka.

Maka, adalah tepat kiranya saat disoroti bagaimana perubahan pandangan Bu Gristlepuss itu terjadi Krabby Patty terlontar masuk ke mulutnya. Baru pada saat inilah Bu Gristlepuss yang sudah buru-buru mengkristalkan kebenciannya kepada Krabby Patty itu mengetahui apa yang dia benci. Ternyata, yang dia benci sebenarnya adalah sesuatu yang memiliki kenikmatan dan keunggulan budi yang luar biasa. Ketidaktahuan, keengganan mencari tahu, dan kemudian otoritas adalah sesuatu yang berbahaya ketika dikawinkan. Ah, kiranya tidak salah kalau di Spongebob hubungan antara Bu Gristlepuss yang benci fun-fun dan kepala polisi yang bisa menutup usaha itu adalah hubungan perkawinan. Yang seperti ini bisa mempengaruhi hajat hidup seseorang.

Ah, Spongebob Squarepants, betapa kau konsisten mengajak kita semua mempertanyakan apa-apa yang kita lakukan, terutama kalau itu sudah berhubungan dengan perbedaan dan prasangka. Spongebob, apakah engkau duta kebhinekatunggalikaan? Wahai rekan-rekan sesama orang tua, mampukah kita semua menjadi juru tafsir Spongebob Squarepants yang membantu anak-anak kita melihat Spongebob lebih dari sekadar hiperbola-hiperbolanya dan mengurai hikmah-hikmah kebijaksanaan yang menjadi kerangka ceritanya?

Rapsodi Urakan – Queen

Draf awal terjemahan ini sudah tersimpan di komputer saya sejak beberapa waktu yang lalu (bahkan mungkin dua-tiga tahun yang lalu), tapi entah kenapa saya belum pernah juga menayangkannya di blog ini. Tapi, setelah saya baca-baca dan otak-atik dan patut-patut, akhirnya saya merasa tidak ada alasan untuk tidak menampilkannya. Meski begitu, mengunggah terjemahan lagu yang sudah menjadi legenda seperti ini punya konsekuensinya tersendiri. Bahasa Jawa-nya: abot sanggane, Cak!

Pasti banyak orang yang hidupnya terpengaruh oleh lagu ini, terutama irama dan lirik bahasa Inggrisnya yang dinyanyikan oleh Freddie Mercury. Gabungan antara irama dan lirik versi Freddie Mercury (satu-satunya versi!) ini begitu kuat menancap di benak orang-orang tersebut. Saya kuatir, mereka ini akan merasa terganggu kalau sampai tahu lirik terjemahan dari lagu ini, yang mungkin tidak memiliki aura seperti hal lirik aslinya. Bagi orang-orang seperti itulah saya menuliskan tiga paragraf ini. Anggap saja ini ucapan nuwun sewu dari saya, seperti halnya banyak orang yang masih percaya harus nuwun sewu, meminta izin, ketika memasuki wilayah baru atau kawasan sakral. Saya mohon izin untuk masuk ke teritori ini karena kebetulan saya adalah penerjemah yang juga menghuni teritori ini; ada satu titik dalam hidup saya yang diwarnai lagu ini secara signifikan.

Terkait konten terjemahan ini sendiri, saya mencoba sebisa mungkin mengikuti “nada” dan “level bahasa” lagu aslinya. “Nada” lirik lagu ini terasa gagah dan “histrionik” atau teatrikal, menggabungkan antara ungkapan-ungkapan sehari-hari ditambah dengan selingan bahasa kias yang–bisa dibayangkan–diujarkan oleh si penutur dengan dagu diangkat, wajah menyamping menatap awang-awang, atau bahkan tangan terkepal (atau di pinggang). Untuk bagian operanya, saya tetap menggunakan ejaan asli Scaramouche, fandango, dll. Agar terjemahannya tidak terasa jauh berbeda dengan aslinya, silakan membaca terjemahan ini sambil buka lagunya di YouTube.

Rapsodi Urakan

Nyatakah ini?
Ataukah fantasi?
Aku terjebak,
Musykil hindari kenyataan.

Buka matamu,
Pandang dan tamatkan langit,
Aku bocah malang yang tak butuh simpati,
Karena aku biasa-biasa saja
Tak tinggi tak rendah
Ke mana angin berhembus,
Buatku tiada beda.

Ibu, aku bunuh orang
Kutodong pistol ke kepalanya,
Kutarik pelatuknya, kini dia tewas.
Ibu, hidupku baru bermula,
Tapi kini luluh lantak sudah.

Ibu, oh,
Bukan maksudku membuatmu menangis,
Kalau aku besok tak pulang
Lanjutkan hidup seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Terlambat, ajalku tiba,
Membuatku menggigil,
Sekujur tubuh nyeri.
Salam, semua, aku harus enyah
Harus kutinggalkan kalian semua dan hadapi kenyataan.

Ibu, oh (terbawa angin),
Aku tak ingin mati,
Tapi kadang kuberharap
Diriku tak pernah dilahirkan.

Aku lihat siluet seorang lelaki
Scaramouche, Scaramouche, mainkan Fandango
Guntur dan petir,
Sungguh bikin gentar,
(Galileo) Galileo
(Galileo) Galileo
Galileo Figaro
Magnifico

Aku bocah malang, tak ada yang sayang
Dia bocah sengsara, keluarganya miskin papa,
Selamatkan nyawanya dari kekejian ini.

Santai saja, tolong lepaskan aku.
Bismillah! Tidak, kau tak ‘kan kami lepaskan. (Lepaskan!)
Bismillah! Kau tak ‘kan kami lepaskan (Lepaskan dia!)
Bismillah! Kau tak ‘kan lepaskan (Lepaskan aku!)
Tak ‘kan kami lepaskan. (Lepaskan aku!)
Tak kan, tak ‘kan lepaskan.
Jangan pernah lepaskan aku, oh.
Jangan, jangan, jangan, jangan, jangan.
Oh, mama mia, mama mia (Mama mia, lepaskan.)
Beelzebub punya setan khusus untukku, aku, aku.

Kau kira bisa merajam dan menghinadinaku?
Kau kira bisa cintai aku dan biarkanku mati?
Oh, sayang, mustahil kau lakukan ini kepadaku, sayang,
Aku hanya perlu pergi, hanya perlu pergi dari sini.

(Oh, yeah, oh yeah)

Tak ada artinya,
Semua juga tahu,
Tak ada artinya,
Tak ada bedanya bagiku.

Ke mana pun angin berhembus.

Jika Kau Permalukan Orang – Shmuel Ha Nagrid

Saatnya satu saya berbagi satu lagi puisi dari khazanah sastra Andalusia atau Spanyol Masa Islam (711-1502 Tahun Umum). Kali ini, sebuah puisi dari Shmuel Ha Nagrid, yang aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani. Shmuel sendiri diakui sebagai penyair terbesar pertama dari masa keemasan puisi Ibrani. Seperti disinggung oleh Peter Cole dalam pengantar Selected Poems of Shmuel Ha Nagrid, puisi-puisi Shmuel Ha Nagrid merupakan gabungan dari “kerinduan sekuler dan agamis.” Dari buku tersebut pula terjemahan ini saya buat. Peter Cole menerjemahkan puisi ini dari bahasa Ibrani, dan saya menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia–disertai permohonan untuk dimaklumi jika ada masalah pada terjemahannya.

Jika Kau Permalukan Orang

Jika kau permalukan orang atas cela yang ia ungkap
kepadamu namun dia simpan rapat dari orang lain,
bagaimana mungkin hatimu tidak juga mencelamu
atas keburukan diri yang telah kau tutupi?