Pagar Lupakan, Jembatan Dirikan: Anjuran Buku Tafsir Puisi Nyalasar karya M. Faizi.

Nyalasar karya M. Faizi bukanlah buku. Dia adalah titian. Nyalasar adalah titian yang menjembatani puisi dengan pembaca. Di jaman yang penuh penuh pagar, penuh tagar, jembatanlah yang kita butuhkan.

Tapi, sebelum terlalu jauh bicara tentang Nyalasar yang berpotensi menjadi jembatan, mari kita masuki dulu apa sebenarnya buku ini? Seperti terlihat pada sampulnya, buku Nyalasar ini adalah buku tafsir puisi. Kalau bicara tentang sastra, istilah “tafsir” bisa dimaknai bermacam-macam, mulai dari penjelasan akan arti makna hingga kritik yang menggali begitu dalam hingga, ekstrimnya, kita bisa heran bagaimana mungkin sebuah teks yang mengatakan A ternyata bisa memiliki makna yang sebegitu dahsyatnya. “Tafsir” yang dikerjakan oleh buku Nyalasar ini adalah upaya menjelaskan kemungkinan makna puisi dari baris ke baris yang dilakukan secara manasuka, atau istilah filosofisnya “woles.”

Untuk lebih jelasnya, biarkan saya gambarkan seperti apa buku karya Kyai muda M. Faizi ini. Buku ini berisi esai-esai yang masing-masingnya diawali sebuah puisi (ada yang baru, relatif baru, agak lama, dan legendaris) dan kemudian dilanjutkan dengan usaha menjelaskan puisi tersebut baris-demi-baris. Biasanya, dan inilah yang diharapkan oleh M. Faizi juga, setelah esai selesai dibahas pembaca akan lebih dekat dengan puisi tersebut, memahami makna di balik baris-demi-baris atau bahkan kata-demi-kata, dan mengetahui aspek-aspek teknis dari baris-baris puisi tersebut (seperti mana majas pars pro toto, mana anafora, dan lain-lain). Saya bayangkan bahwa setelah menyelesaikan satu esai, pembaca akan merasa puisi-puisi tersebut menjadi lebih jelas maksudnya. Tentu, kejernihan puisi tersebut adalah kejernihan versi M. Faizi, yang dengan rendah hati mengakhiri ikhtiarnya di tiap-tiap esai dengan “wallahu a’lam,” Tuhan maha mengetahui.

Kira-kira, apa faedah buku seperti ini? Kalau apa yang ada di lapangan, yang menganggap puisi sebagai sebuah karya sastra yang dianggap lebih berat, buku yang menjelaskan isi puisi semacam ini cukup bermanfaat. Bagi yang memang suka puisi (tapi tidak selalu bisa paham maksud puisi) buku ini bisa lebih membantu memahami apa-apa yang tersembunyi di balik keringkasan puisi. Bagi yang menganggap puisi itu sulit dan karenanya tidak suka membaca puisi, buku ini menunjukkan bahwa puisi itu tidak mustahil dipahami. Atau setidaknya tidak semua puisi mustahil dipahami (Afrizal Malna baru saja terlintas di pikiran saya).

Membaca yang Tersurat

Terus, kalau kita membutuhkan titian untuk mendekatkan antara puisi dengan pembaca, dan kita membutuhkan seorang M. Faizi untuk melakukannya, apakah itu artinya kita tidak bisa melakukannya? Sebenarnya kita sangat bisa, saya yakin. Tapi M. Faizi lebih bisa. Sepertinya ini tidak bisa dilepaskan dari latihan formal, kebiasaan membaca puisi, dan tentu saja karena beliau juga seorang penyair yang kemungkinan tahu cara kerja seorang penyair. Kalau mau kaku-kakuan ini, sebenarnya kita bisa mengkategorikan apa-apa yang dilakukan M. Faizi alam menafsir puisi itu ke dalam tiga tingkatan: leksikal (tafsiran atas kata), proposisional (tafsiran atas kalimat satu dengan yang lain), dan pragmatik (tafsiran atas konteks dengan dunia di luarnya). Agaknya, M. Faizi telah menghayati pentingnya penafsiran pada ketiga elemen tersebut dan bisa melakukannya dengan lancar, bahkan terasa seperti sesuatu yang juga alamiah (second nature) dalam aktivitasnya membaca puisi.

Dalam khazanah pembelajaran membaca, kemampuan-kemampuan ini masuk ke wilayah kedua, yaitu membaca yang tersirat. Sekadar mengingatkan lagi, dalam pembelajaran membaca yang lazim dipraktikkan di jurusan-jurusan bahasa, tahap pertama adalah membaca yang tersurat (membaca harfiah, atau literal reading). Selanjutnya, ada membaca yang tersirat (atau inferential reading) atau membaca untuk mendapatkan makna yang tidak langsung tampak. Selanjutnya, ada yang namanya kritis atau evaluatif. Istilah apresiasi sastra atau kritik sastra itu biasanya lebih mengacu ke pembacaan level ketiga (atau juga mencakup yang kedua). Saat bernikmat-nikmat dengan sastra, pembacaan versi pertama dan kedua ini saja lebih dari cukup. Dari kedua tingkatan ini, ktia bisa mendapatkan informasi dan kenikmatan. Akan lebih bagus juga kalau ktia membaca sampai tahap ketiga juga. Kalau pun tidak, juga tidak apa-apa. Level ketiga itu bisa disebut “fardu kifayah,” yang sudah cukup kalau sudah diwakili oleh yang disebut kritik sastra itu.

Sebagai laku aktivitas pembacaan level kedua, buku Nyalasar adalah buku yang depan bisa belakang bisa. Dia berguna bagi penikmat puisi yang lebih ingin menikmati puisi, yang lebih ingin menghaluskan puisi (seperti halnya judul buku ini, “nyalasar,” yang artinya menghaluskan kayu) atau menggerusnya lebih lembut agar lebih mudah diserap usus. Sementara itu, bagi yang lebih berminat melakukan apresiasi puisi (seperti misalnya kritikus atau mahasiswa sastra Indonesia yang harus menjalani laku membaca kritis demi nilai, eh, maksud saya demi ibu pertiwi), buku ini bisa menjadi rujukan untuk tafsiran-tafsiran atas karya-karya yang ingin dikritisi. Atau, teknik-teknik pembacaan yang dilakukan oleh M. Faizi bisa dipinjam untuk digunakan membaca puisi-puisi lain yang kelak ingin mereka kritisi. Demikianlah, buku yang merupakan laku pembacaan atas apa-apa yang tersurat ini ramah bagi penikmat puisi, orang yang belajar menulis puisi, maupun mereka yang ingin mengapresiasi puisi secara kritis. Depan bisa, belakang bisa.

Perhatian kepada Seni

Kalau saya bilang bahwa buku Nyalasar ini bisa membantu mereka yang ingin melakukan pembacaan kritis, apakah itu berarti menganggap buku ini kalah penting dibandingkan buku kritik sastra atas puisi? Naudzubillah min dalik. Tidak ada yang salah dengan fokus kepada apa-apa yang lazimnya disebut sebagai unsur intrinsik ini. Bahkan, kita semakin sering mendengar tentang pentingnya juga memperhatikan bagian-bagian ini. Sejak tahun sembilan puluhan, dua ribuan, hingga tahun 2018 ini, kita tetap bisa menemukan tulisan-tulisan yang menunjukkan perhatian kepada elemen intrinsik (atau kepada kurangnya perhatian kepada elemen intrinsik) dalam apresiasi karya sastra.

Pada awal tahun 2000-an, di bagian Bentara surat kabar Kompas hari Jumat, terjadi perdebatan selama beberapa saat mengenai “cultural studies” dan perhatian kepada aspek formal dari seni. Ada tuduhan bahwa “cultural studies” membuat orang meminggirkan aspek-aspek formal dan lebih fokus kepada potensi-potensi ideologis dari sebuah karya seni atau teks secara umum. Orang-orang lebih tertarik menyoroti bagaimana sebuah karya sastra bisa dibaca sebagai karya yang subversif karena mengkritisi konsumerisme. Banyak tulisan kritis yang menguraikan bagaimana sebuah film atau novel bisa dibaca sebagai karya yang mendukung status quo dalam kaitannya dengan kelas sosial. Oleh sebagian kalangan, pembacaan terhadap teks budaya yang lebih menekankan pada konten seperti ini dipandang sebagai tindakan yang mengabaikan elemen-elemen intrinsik yang sebenarnya membuat sebuah karya itu bagus atau tidak. Dengan asumsi tersebut, pengkritik “cultural studies” bisa bilang bahwa karya yang secara formal (atau teknik penulisan) jelek pun bisa dibaca sebagai sesuatu yang bagus ketika mengandung isi yang bernilai politis bagus.

Sampai saat ini pun, ingatan tentang “cutural studies” dan kritik yang dialamatkan kepadanya pun masih tetap ada. Tapi, tentu saja, setelah sekian lama, banyak yang sudah move on dari kritikan kepada “cultural studies” per se dan lebih tertarik membicarakan hal-hal yang berpotensi mengobati kesalahan yang dilakukan oleh “cultural studies.” Manneke Budiman, dalam pengantarnya untuk buku Alih Wahana karya Sapardi Djoko Damono yang tahun 2018 ini diterbitkan ulang oleh Gramedia Pustaka Utama, mengatakan bahwa kajian alih wahana, yang aspek-aspeknya dibahas secara panjang-lebar-dalam oleh SDD dalam buku tersebut berpotensi memberikan solusi. Kajian alih wahana, yang menuntut diawali dengan telaah kepada aspek-aspek formal masing-masing bentuk yang menjadi sumber dan sasaran alih wahana sebelum melanjutkan ke aras ideologis, merupakan praktik yang bisa menjembatani antara kajian humaniora yang di satu sisi dituntut untuk membuat hubungan dengan aspek sosial, psikologis, dan lain-lain dalam kehidupan manusia sementara di sisi lain tetap harus mempertimbangkan aspek-aspek formal sebuah teks budaya karena teks tersebut mau tidak mau adalah hasil imajinasi yang dihadirkan dengan aturan-aturan tersendiri.

Dalam semangat menjembatani kebutuhan kajian humaniora yang semacam inilah buku Nyalasar bisa ikut andil. Nyalasar menunjukkan bagaimana baris-baris tertentu adalah penerapan dari keahlian berolah kata sehingga menghasilkan majas-majas yang cerdik atau imaji-imaji yang menggelitik. Nyalasar juga memperhatikan bagaimana satu dua kata sebenarnya mewakili berbagai lapis makna atau berbagai jenis makna. Nyalasar menunjukkan bagaimana nada baris-baris tertentu, apakah murung, apakah sarkatik, apakah sambil mengulum senyum. Nyalasar juga menujukkan mood macam apa yang ingin diciptakan oleh kata-kata sebuah puisi. Di sisi lain, Nyalasar juga menunjukkan bagaimana baris-baris atau kata-kata tertentu membuat penafsir terpikir sejarah, fenomena sosial, dan bahkan ngelantur sampai membahas topik-topik tertentu hingga panjang lebar—sebelum akhirnya sadar dan kembali membahas apa yang tersembunyi di balik kata-kata yang tersurat pada baris-baris selanjutnya. Pendeknya, Nyalasar mengajak kita melakukan pembacaan atas aspek-aspek formal yang berpotensi kita lewati dan abaikan saat sudah terlanjut mencari janji-janji ideologis yang berpotensi diberikan oleh sebuah puisi. Lagi-lagi, di sini Nyalasar menjadi titian yang menjembatani dua wilayah yang terbukti pernah bersitegang.

Terjadi secara woles

Kalau dari tadi saya terdengar agak tegang, tolong jangan artikan bahwa buku Nyalasar itu sendiri adalah buku yang tegang. Sejak awal, penulis menyampaikan bahwa tafsir yang dia lakukan bersifat manasuka, yang artinya sesukanya, santai saja. Kemanasukaan tafsir ini tampak pada gado-gadonya pendekatan yang dipakai. Kritikus yang sudah menjadi klasik bernama M.H. Abrams (yang btw sampai sekarang masih sering dikutip) membagi orientasi teori kritis ke dalam empat bagian, yaitu subjektif, mimetik, pragmatik, dan objektif. Agar penelitian sastra yang dilakukan menjadi ilmiah, orang-orang diharapkan untuk mengikuti satu atau dua pendekatan saja dalam satu kesempatan. Seiring bergulirnya waktu, setelah melewati masa formalis, pendekatan subjektif sering dipandang miring dalam kritik sastra, meskipun tetap populer dalam sejarah sastra. Kemanasukaan M. Faizi bisa dilihat dalam bagaimana tanpa beban juru tafsir kita ini melakukan, misalnya, penafsiran mimetik dan objektif yang tiba-tiba disisipi oleh penafsiran subjektif (membahas bagaimana biografi si penulis membantunya memahami teks). Hal yang seperti ini berlangsung secara berulang-ulang hingga bisa kita harapkan terjadi, dan menjadi satu gaya pendekatan yang sebut saja woles.

Kemanasukaan tersebut juga tampak pada bagaimana M. Faizi menyajikan gagasannya kepada pembaca. Tidak jarang penulis menyatakan bahwa tafsir yang dia lakukan tersebut lebih bersifat silaturahmi. Ada pula saatnya ketika juru tafsir kita yang santai ini melontarkan godaan atau sindiran kepada si penyair sambil mengulum senyum. Dan—ini yang sementara ini belum pernah saya temukan dalam buku tafsir karya sastra—pernah pula di satu saat M. Faizi menyatakan cukup, berhenti, dan tidak melanjutkan penafsiran karena dia merasa kewalahan dengan puisi yang dia hadapi, yang dalam hal ini adalah puisi Afrizal Malna. Juru tafsir yang santai ini mengaku kepalanya sudah cenut-cenut kalau harus menafsirkan puisi Afrizal Malna bagi pembaca yang sangat dia cintai itu. Dia memilih mempertahankan keselamatan jiwanya daripada berkorban nyawa menafsir puisi Afrizal Malna.

Sepertinya, setelah melakukan berbagai upaya penafsiran dan memperpanjang jangkauan puisi ini kepada pembacanya, atau mungkin juga membawa pembaca kepada puisi, tidak semestinya Kyai M. Faizi ini kita hakimi hanya karena telah patah arang dalam upaya menafsir puisi Afrizal Malna. Apa yang telah beliau lakukan hingga saat ini saja, yakni membuat jembatan itu, sudah lebih dari cukup. Tidak ada yang menyuruhnya melakukan ini. Dia tidak berhutang kepada siapa pun untuk melakukan ini. Jadi, kalau kita mendapatkan apa yang ada di hadapan kita ini, itu sudah sangat bagus. Bahkan, upayanya ini bolehlah kita sebut sebagai upaya revolusioner di tengah situasi hari-hari ini. Mari kita pelintir satu ungkapan dari George Orwell: Ketika membangun tembok dan perang pagar (serta tagar) sudah kaprah, membangun jembatan menjadi tindakan revolusioner.

Advertisements

Kenapa Spongebob Bisa Menjadi Duta Kebhinekaan

Tak bolehkah kita berbeda, dan berbahagia? Tak bolehkah kita berliar-liar menuruti hasrat dan kesenangan kita sendiri asal tidak melukai orang lain? Mungkin kalau saya tanya Anda sekarang, jawabannya tidaklah terlalu sulit: boleh! Tapi, kenyataan seringkali berkata lain, dan itu pula yang terjadi di Bikini Bottom.

Suatu hari, Spongebob terlalu bahagia bekerja seperti halnya pada hari-hari yang lain. Dia melompat-lompat dan menyanyi-nyanyi selama bekerja. Dan seperti biasa, saat Spongebob terlalu berbahagia, dia terdengar cukup menyebalkan. Maka, ketika Bu Gristlepuss singgah sebentar di Krusty Krab, dia pun sebal dengan petingkah Spongebob.  Bu Gristlepuss ini sebenarnya adalah seorang perempuan serius anggota sebuah perkumpulan orang-orang serius yang wajahnya mirip semua. Bagi Bu Gristlepuss, Spongebob terlalu liar dan urakan, tidak berbudaya. Belakangan, dia mendapati bahwa kebahagiaan Spongebob yang sedemikian rupa itu dikarenakan Krabby Patty. Maka, Bu Gristlepuss menyatakan bahwa Krabby Patty perlu dilarang karena bisa membuat seseorang buas dan tak berbudaya. Tuan Krab menganggap itu gertak sambal dan bahkan mengancam Bu Gristlepuss. Tapi ternyata Bu Gristlepuss ini punya suami kepala polisi yang punya otoritas menutup bisnis siapa saja yang dirasa berbahaya. Maka, sejak itu Krusty Krab disegel dan izin usahanya dicopot.

Saya kembali menengok episode Spongebob ini karena anak saya berulang kali menanyakan kepada saya kenapa perempuan yang bersuamikan seorang polisi itu menutup Krusty Krab. Bukan pertama kalinya anak saya menanyakan ini. Ada bagian-bagian tertentu dalam Spongebob yang terkadang kurang jelas bagi anak-anak, yang sebenarnya adalah audiens dari serial kartun ini. Maka, dilandasi niat untuk menjadi orang tua yang baik bagi anaknya, saya pun menonton episode yang berjudul “Banned in Bikini Bottom.”

Dari rangkuman di atas, kita bisa dengan mudah menjelaskan apa masalah terbesar dari konflik dalam episode ini. Adalah sebuah kebiadaban ketika ketidaksukaan personal dikawinkan dengan otoritas publik. Ketidaksukaan personal ii akhirnya bisa mengakibatkan terganggunya hajat hidup seseorang. Bu Gristlepuss yang tidak suka yang fun-fun itu bisa melampiaskan ketidaksukaannya kepada Spongebob berkat posisi suaminya sebagai penegak hukum.

Dan, kalau kita lihat lebih jauh lagi, akan tampak pula bahwa yang saya sampaikan di alinea sebelum ini bukanlah satu-satunya masalah yang menggerakkan episode “Dilarang di Bikini Bottom” ini. Di sini, ada lagi tema sikap anti-perbedaan yang tak berdasar bisa membatasi manusia.

Ketika Krusty Krab ditutup, Tuan Krab dan Spongebob nekad melanjutkan usaha berjualan Krabby Patty di bawah tanah. Secara ilegal. Karena restorannya tidak bisa dipakai lagi, maka Tuan Krab menggunakan rumah nanas Spongebob sebagai tempat jualan Krusty Krab secara sembunyi-sembunyi–tentu sembunyi-sembunyi a la Spongebob. Untungnya, Krusty Krab punya pelanggan setia; di rumah Spongebob pun Krusty Krab (Rahasia) ini masih ramai. Yang agak berbeda hanyalah Spongebob, yang jadi resah tak menentu karena dia merasa sedang melanggar hukum. Dia tidak tenang karena pekerjaan yang dia senangi dan banggakan itu saat ini menjadi pekerjaan yang melanggar hukum Bikini Bottom. Dan ketenaran Krusty Krab (Rahasia) ini pun akhirnya sampai ke telinga si perempuan serius beserta suaminya. Seperti biasa, si perempuan tetap membenci Spongebob, sampai akhirnya tanpa sengaja dia menelan Krabby Patty dan kemudian mengetahui betapa dahsyat dampak psikologis dari Krabby Patty. Sejak itu, Bu Gristlepuss menarik kembali omongannya dan akhirnya mencabut larangan beroperasi bagi Krusty Krab.

Di sini tampaklah bahwa pangkal dari kebencian Bu Gristlepuss terhadap Krusty Krab adalah ketidaktahuannya akan apa itu Krabby Patty dan apa nilai sesungguhnya dari produk burger dasar laut ini. Si pembenci Krabby Patty memutuskan membenci burger ini dengan bukti pendukung tingkat kedua atau ketiga. Dia tidak suka Krabby Patty karena mengira itulah penyebab Spongebob bertingkah liar. Dia melihat satu fakta dan fakta yang lain sebagai dua hal yang memiliki hubungan kausalitas. Dan yang lebih akut lagi, hubungan kausalitas antara keduanya sangat kaku. Satu fakta dianggap sebagai penyebab tunggal fakta lainnya. Dan pendapat ini sudah terlalu kuat karena sudah ada modal kecenderungan Bu Gristlepuss tidak menyukai keriangan. Maka, tanpa memeriksa kualitas sesungguhnya dari Krabby Patty itu pun Bu Gristlepuss bisa membuat penghakiman atas Krabby Patty. Kesan liar, tampilan luar, dari seorang yang dekat dengan Krabby Patty sudah cukup bagi Bu Gristlepuss untuk menghakimi.

Saya jadi ingin mengutip Martin Luther King Jr. yang mengatakan dengan lantang dalam pidato fenomenalnya yang disebut sebagai pidato “I Dream.” Dr. King di situ bilang bahwa dia bayangkan suatu masa ketika keempat putrinya tidak dinilai orang berdasarkan warna kulitnya, tapi dinilai berdasarkan budi pekertinya: the contents of their characters, kata Dr. King. Mau tidak mau saya harus mengatakan itu karena musuh Krabby Patty itu telah menilai Krabby Patty dari permukaannya saja, dari hubungan antara si Krabby Patty dengan keceriaan Spongebob yang baginya hina. Dia tidak menghakimi Krabby Patty berdasarkan kelezatannya yang sejati. Itu masalah! Oh ya, kalau saya menyertakan Dr. King di sini, mohon jangan dipahami bahwa saya membawa Dr. King turun ke kelasnya Spongebob. Saya justru ingin mengangkat Spongebob ke kelas Dr. King dan para pejuang anti-prasangka.

Maka, adalah tepat kiranya saat disoroti bagaimana perubahan pandangan Bu Gristlepuss itu terjadi Krabby Patty terlontar masuk ke mulutnya. Baru pada saat inilah Bu Gristlepuss yang sudah buru-buru mengkristalkan kebenciannya kepada Krabby Patty itu mengetahui apa yang dia benci. Ternyata, yang dia benci sebenarnya adalah sesuatu yang memiliki kenikmatan dan keunggulan budi yang luar biasa. Ketidaktahuan, keengganan mencari tahu, dan kemudian otoritas adalah sesuatu yang berbahaya ketika dikawinkan. Ah, kiranya tidak salah kalau di Spongebob hubungan antara Bu Gristlepuss yang benci fun-fun dan kepala polisi yang bisa menutup usaha itu adalah hubungan perkawinan. Yang seperti ini bisa mempengaruhi hajat hidup seseorang.

Ah, Spongebob Squarepants, betapa kau konsisten mengajak kita semua mempertanyakan apa-apa yang kita lakukan, terutama kalau itu sudah berhubungan dengan perbedaan dan prasangka. Spongebob, apakah engkau duta kebhinekatunggalikaan? Wahai rekan-rekan sesama orang tua, mampukah kita semua menjadi juru tafsir Spongebob Squarepants yang membantu anak-anak kita melihat Spongebob lebih dari sekadar hiperbola-hiperbolanya dan mengurai hikmah-hikmah kebijaksanaan yang menjadi kerangka ceritanya?

Rapsodi Urakan – Queen

Draft awal terjemahan ini sudah tersimpan di komputer saya sejak beberapa waktu yang lalu (bahkan mungkin dua-tiga tahun yang lalu), tapi entah kenapa saya belum pernah juga menayangkannya di blog ini. Tapi, setelah saya baca-baca dan otak-atik dan patut-patut, akhirnya saya merasa tidak ada alasan untuk menampilkannya. Meski begitu, mengunggah terjemahan lagu yang sudah menjadi legenda seperti ini punya konsekuensinya tersendiri. Bahasa Jawa-nya: abot sanggane, Cak!

Pasti banyak orang yang hidupnya terpengaruh oleh lagu ini, terutama irama dan lirik bahasa Inggrisnya yang dinyanyikan oleh Freddie Mercury. Gabungan antara irama dan lirik versi Freddie Mercury (satu-satu versi!) ini begitu kuat menancap di benak orang-orang tersebut. Saya kuatir, mereka ini akan merasa terganggu kalau sampai tahu lirik terjemahan dari lagu ini, yang mungkin tidak memiliki aura seperti hal lirik aslinya. Bagi orang-orang seperti itulah saya menuliskan tiga paragraf ini. Anggap saja ini ucapan nuwun sewu dari saya, seperti halnya banyak orang yang masih percaya harus nuwun sewu, meminta izin, ketika memasuki wilayah baru atau kawasan sakral. Saya mohon izin untuk masuk ke teritori ini karena kebetulan saya adalah penerjemah yang juga menghuni teritori ini; ada satu titik dalam hidup saya yang diwarnai lagu ini secara signifikan.

Terkait konten terjemahan ini sendiri, saya mencoba sebisa mungkin mengikuti “nada” dan “level bahasa” lagu aslinya. “Nada” lirik lagu ini terasa gagah dan “histrionik” atau teatrikal, menggabungkan antara ungkapan-ungkapan sehari-hari ditambah dengan selingan bahasa kias yang–bisa dibayangkan–diujarkan oleh si penutur dengan dagu diangkat, wajah menyamping menatap awang-awang, atau bahkan tangan terkenal (atau di pinggang). Untuk bagian operanya, saya tetap menggunakan ejaan asli Scaramouche, fandango, dll. Agar terjemahannya tidak terasa jauh berbeda dengan aslinya, silakan membaca terjemahan ini sambil buka lagunya di YouTube.

Rapsodi Urakan

Nyatakah ini?
Ataukah fantasi?
Aku terjebak,
Musykil hindari kenyataan.

Buka matamu,
Pandang dan tamatkan langit,
Aku bocah malang yang tak butuh simpati,
Karena aku biasa-biasa saja
Tak tinggi tak rendah
Ke mana angin berhembus,
Tak ada bedanya bagiku.

Ibu, aku bunuh orang
Kutodong pistol ke kepalanya,
Kutarik pelatuknya, kini dia tewas.
Ibu, hidupku baru bermula,
Tapi kini luluh lantak karena diriku.

Ibu, oh,
Bukan maksudku membuatmu menangis,
Kalau aku besok tak pulang
Jalani hidup seolah tak pernah terjadi apa-apa.

Terlambat, ajalku telah tiba,
Membuatku menggigil,
Membuat nyeri sekujur tubuh\.
Selamat tinggal, semua, aku harus pergi
Harus kutinggalkan kalian semua dan hadapi kenyataan.

Ibu, oh (terbawa angin),
Aku tak ingin mati,
Tapi kadang kuberharap
Diriku tak pernah dilahirkan.

Aku lihat siluet seorang lelaki
Scaramouche, Scaramouche, tolong beri Fandango
Guntur dan petir,
Sangat mengerikan,
(Galileo) Galileo
(Galileo) Galileo
Galileo Figaro
Magnifico

Aku bocah malang, tak ada yang sayang
Dia bocah sengsara, keluarganya miskin papa,
Selamatkan nyawanya dari kekejian ini.

Santai saja, tolong lepaskan aku.
Bismillah! Tidak, kau tak ‘kan kami lepaskan. (Lepaskan!)
Bismillah! Kau tak ‘kan kami lepaskan (Lepaskan dia!)
Bismillah! Kau tak ‘kan lepaskan (Lepaskan aku!)
Tak ‘kan kami lepaskan. (Lepaskan aku!)
Tak kan, tak ‘kan lepaskan.
Jangan pernah lepaskan aku, oh.
Jangan, jangan, jangan, jangan, jangan.
Oh, mama mia, mama mia (Mama mia, lepaskan.)
Beelzebub punya setan khusus untukku, aku, aku.

Jadi kau pikir bisa merajamku dan meludahi mataku?
Jadi kau pikir kau bisa cintai aku dan biarkan aku mati?
Oh, sayang, mustahil kau lakukan ini kepadaku, sayang,
Cuma harus pergi, cuma harus pergi dari sini.

(Oh, yeah, oh yeah)

Tak ada artinya,
Semua juga tahu,
Tak ada artinya,
Tak ada artinya bagiku.

Ke mana pun angin berhembus.

Jika Kau Permalukan Orang – Shmuel Ha Nagrid

Saatnya satu saya berbagi satu lagi puisi dari khazanah sastra Andalusia atau Spanyol Masa Islam (711-1502 Tahun Umum). Kali ini, sebuah puisi dari Shmuel Ha Nagrid, yang aslinya ditulis dalam bahasa Ibrani. Shmuel sendiri diakui sebagai penyair terbesar pertama dari masa keemasan puisi Ibrani. Seperti disinggung oleh Peter Cole dalam pengantar Selected Poems of Shmuel Ha Nagrid, puisi-puisi Shmuel Ha Nagrid merupakan gabungan dari “kerinduan sekuler dan agamis.” Dari buku tersebut pula terjemahan ini saya buat. Peter Cole menerjemahkan puisi ini dari bahasa Ibrani, dan saya menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia–disertai permohonan untuk dimaklumi jika ada masalah pada terjemahannya.

Jika Kau Permalukan Orang

Jika kau permalukan orang atas cela yang ia ungkap
kepadamu namun dia simpan rapat dari orang lain,
bagaimana mungkin hatimu tidak juga mencelamu
atas keburukan diri yang telah kau tutupi?

(Terjemahan Lagu) Prajurit Kebo – Bob Marley

Mungkin ini terjemahan lagu yang pertama saya kerjakan, dari sekitar tahun 2006-2007. Seingat saya, versi pertama terjemahan ini saya kirimkan ke milis (yahoogroups, gan!) Apresiasi Sastra. Saya sangat menikmati penerjemahan lagu ini, dan bahkan mungkin ini pulalah yang akhirnya kemudian saya terus menerjemahkan lagu kalau sedang iseng sendiri, sebagai olahraga rekreatif.

Khusus untuk lagu ini, saya merasa mendapatkan pengetahuan lebih tentang lagu ini justru ketika menerjemahkannya. Sejak lumayan dulu, saya tahu sekilas bahwa “buffalo soldier” yang dimaksud Bob Marley di sini adalah para pejuang kulit hitam di Karibia. Tapi saya tidak tahu apa-apa saja yang membentuk spirit para “buffalo soldier” itu. Di lagu inilah kita bisa lihat apa-apa yang membuat mereka begitu beringas di medan tempur. Apa itu? Silakan baca sendiri dong.

Selanjutnya, saya persilakaan Anda membaca (atau mungkin menyanyikan) terjemahan ini. Selamat menikmati:

Prajurit Kebo

prajurit kebo, rambut gimbal:
ada prajurit kebo, di jantung amerika
diambil dari afrika, diboyong ke amerika
berjuang begitu tiba, untuk pertahankan nyawa

sungguh, saat kucium amisnya –
bagiku masuk akal saja:
ternyata si rambut gimbal adalah prajurit kebo,
direnggut dari afrika, diboyong ke amerika,
berjuang begitu tiba, untuk pertahankan nyawa

dia prajurit kebo, rambut gimbal –
prajurit kebo di jantung amerika.

andai kau tahu sejarahmu,
maka kau pun akan tahu asalmu,
kamu pun tak perlu tanya aku
siapa aku

aku cuma prajurit kebo di jantung amerika,
direnggut dari afrika, diboyong ke amerika,
berjuang saat tiba, berjuang demi nyawa;
katanya dia prajurit kebo, berperang untuk amerika.

Gimbaaaaallll, woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!
Woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!
prajurit kebo, berbaris maju, wo oh ooh!
katanya ingin lari, berarti kau butuh bantuan,
berderap maju, yi ha, yi ha.

dia prajurit kebo, berperang untuk amerika;
prajurit kebo, gimbal rasta
berjuang begitu tiba, untuk pertahankan nyawa;
diusir dari Amrik daratan ke jantung karibia.
ayo nyanyi woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!
Woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!

barbaris maju di san juan menyandang senjata amerika;
berbaris di jamaika, dialah prajurit kebo –
berjuang begitu tiba, ‘tuk pertahankan nyawa:
prajurit kebo, rambut gimbal.

Woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!
Woy yoy yoy, woy yoy-yoy yoy,
Woy yoy yoy yoy, yoy yoy-yoy yoy!

Tentang Rencana Produksi Film Bumi Manusia: Dari Salah Mendudukkan Persoalan hingga Menunggu Itikad Baik Studio Film

(Seperti mungkin bisa dirasakan dari isinya dan dari judulnya, tulisan ini sebenarnya sudah agak lama dan dikirimkan ke sebuah media daring. Sayangnya, tulisan ini tidak mendapat respons positif :). Akhirnya ya diunggah di sini saja.)

Semakin menarik saja yang terjadi seminggu terakhir di dunia maya terkait konferensi pers mengenai rencana produksi film berdasarkan novel Bumi Manusia karya Pramoedya Ananta Toer oleh Falcon Pictures dengan sutradara Hanung Bramantyo. Yang menjadi titik paling kritis bagi banyak orang adalah bahwa pemeran Minke nantinya adalah Iqbaal Ramadhan, aktor muda yang beberapa waktu lalu populer memerankan tokoh Dilan. Reaksi orang-orang? Ada yang pro dan banyak yang kontra.

Bahkan, yang paling baru, ada pula yang bereaksi dengan membuat Petisi di http://Change.org . Tujuannya tentu saja adalah bila sudah tercapai sejumlah dukungan tertentu, mereka berharap bisa menggagalkan penunjukan Iqbaal Ramadhan sebagai Minke. Read more

Cara Mengatasi Laptop HP 1000 Sering Mati (karena sering panas)

Akhirnya, saya ada lagi kesempatan posting tentang masalah hardware. Kali ini, kita akan bicara soal laptop HP 1000 yang sering mati. Secara singkat, saya bisa bilang bahwa kalau laptop HP 1000 Anda sering tiba-tiba mati, biasanya masalahnya adalah karena terlalu panas dan kipas pendingin (cooling fan terjemahan Inggrisnya) tidak bekerja dengan sempurna.

Dalam postingan ini, saya akan ceritakan bagaimana langkah menyelesaikan masalah laptop HP 1000 yang sering mati ini berdasarkan pengalaman saya (jangan lupa, frase “laptop HP 1000 yang sering mati” harus diulang-ulang biar mudah dicari di google.

Pada intinya, solusi dari laptop HP 1000 Anda sering mati adalah: Read more

(Resensi) Para Bajingan yang Menyenangkan, 3 Lapis Kewolesan plus Selapis Tipis yang Lain

Dalam perjalanan ke Surabaya pagi ini, saya bawa bekal buku yang sudah lama saya tahu dan ingin baca, bahkan sebelum buku ini terbit. Para Bajingan yang Menyenangkan adalah judulnya. Karya Puthut EA. Kalau tidak sempat baca postingan blog ini sampai lengkap, biar saya kasih review singkat: buku yang woles, dalam hal isi, gaya bercerita, maupun strukturnya, tapi mungkin berpotensi dibaca lebih jauh untuk poin-poin tertentu. Itu sudah.

Kalau masih ada waktu, silakan baca paragraf-paragraf berikut: Read more

Tanah: Antara Puisi Suheir Hammad dan Teori Fiksi Ursula K. Le Guin

Sepertinya saya pernah menerjemahkan puisi ini, tapi entah di mana. Tapi, karena di blog ini saya belum pernah menampilkan terjemahan puisi ini, maka saya terjemahkan saja puisi ini di sini.

Isi puisi ini cukup sederhana (seperti bisa Anda lihat sendiri), tapi implikasinya bisa sangat meluas. Tadi, waktu membacanya lagi, setelah beberapa waktu yang lalu membaca kajian ekologi sastra, saya jadi bisa menghubungkannya dengan sebuah esai penting ekologi sastra karya penulis fiksi ilmiah Le Guin. Dalam sebuah esainya, Le Guin menyodorkan satu gagasan estetika prosa yang lebih ekologis, yaitu estetika prosa yang “feminin.” Read more

Laporan Studi Banding: Dikotomi Hati dan Otak dalam Nyetir Mobil di NKRI dan USA

Akhirnya, sejak punya SIM nyetir mobil lagi beberapa bulan yang lalu, saya mulai lagi intensif nyetir mobil (punya bapak). 5 dari 7 tahun yang saya habiskan di Amerika sangat bergantung pada mobil, dan nyetir mobil bagi saya sudah berevolusi dari pembelajaran, kegemaran, kenikmatan, dan bagian hidup yang tak terpisahkan. Bahkan, setiap musim panas sejak tahun 2012 sampai tahun 2016, nyetir adalah salah satu sumber penghidupan terpenting saya.

Tapi, nyetir mobil di Amerika dan nyetir mobil di Indonesia adalah dua binatang yang benar-benar berbeda*. Ini baru hasil perbandingan setelah tiga hari nyetir saja. Read more