Biografi Nick Drake (Pattrik Humphries): Dari Mitos Musisi yang Mati OD ke Kompleksitas Manusia yang Pernah Hidup

(Tulisan singkat untuk modal diskusi buku biografi Nick Drake bersama Pelangi Sastra Malang, Gubuk Cerita, Jungkir Balik Pustaka, dan Kafe Pustaka hari Sabtu sore ini. Mestinya tulisan ini akan diupdate terus selama ada di blog ini–soalnya sampai saat ini postingan ini belum sempat diedit.)

Buku biografi berjudul Nick Drake karya Patrick Humphries ini tak henti membuat saya bertanya: kenapa Humphries menulis biografi tentang seorang musisi yang tidak saya kenal sebelumnya? Kalau fokus biografi ini adalah seorang tokoh politik yang terkenal atau autobiografi politisi yang sedang naik daun, mungkin pertanyaan seperti itu tidak akan muncul karena jawabannya relatif gamblang. Tapi Nick Drake, yang kebanyakan kawan saya yang (pernah) suka band-bandan saja tidak kenal, kenapa harus ditulis biografi tentang dia? Setelah selesai membaca buku itu, yang tersirat dari paparan penulisnya adalah bahwa Nick Drake adalah musisi yang sangat bagus, yang sayangnya hidupnya telah dimitoskan setelah kematiannya. Saya akan ceritakan beberapa hal tentang itu, tapi saya harap Anda tidak sedang buru-buru.

Pertama-tama, ada yang perlu diluruskan dari pertanyaan-pertanyaan saya di atas. Sekilas pertanyaan gugatan semacam itu mungkin tampak wajar, tapi ada satu sesat pikir di situ. Kenapa nulis biografi tentang musisi yang bahkan saya pun tidak kenal? Sesat pikirnya adalah saya mengasumsikan bahwa saya (dan teman-teman saya yang anak band) adalah orang yang serba tahu tentang musik dan pasti tahu semua musisi terkenal. Itu dia masalahnya. Belakangan, saat membaca biografi ini, sambil disela sesekali dengan riset (baca: nge-search di google) tentang Nick Drake, saya tahu ternyata Nick Drake adalah musisi yang laku dan banyak orang yang menggemarinya dengan berbagai alasan (dari yang gemar karena mengagumi teknik gitarnya sampai yang gemar karena termakan mitos tentangnya). Banyak musisi besar yang menggemari Nick Drake, misalnya Peter Buck dari REM (yang di sini kita kenal karena kehilangan “iman” di lagu “Losing My Religion”) dan Paul Weller, dedengkot The Jam, salah satu band terkuat masa kelahiran Punk di Inggris, bersama The Clash dan The Sex Pistols.

Jadi, sampai di sini saja obrolan tentang pertanyaan pembuka postingan ini. Saya tadi murni kepeset sesat pikir. Selanjutnya, mari kita move on dan berbicara tentang biografi Nick Drake (selanjutnya Drake) oleh Paul Humphries (selanjutnya Humphries).

Buku Nick Drake ini adalah hasil kerja tangan dingin Peter Humphries merekonstruksi kehidupan Nick Drake dengan dipandu tema “siapa Nick Drake yang mati muda itu?” Humphries membagi kisah Nick ke dalam tiga bagian sederhana: sebelum, selama, sesudah. Sebelum adalah masa sebelum Nick Drake menjadi musisi profesional yang direkam dan dibayar; selama adalah masa profesional; dan sesudah adalah masa setelah karir profesionalnya yang juga masa setelah Nick Drake mangkat. Jadi, di sinilah uniknya, biografi ini tidak sesederhana “grafi” atau gambaran tentang “bio” atau hidup Nick. Ada masa setelah “bio” Nick yang tak kalah pentingnya, yang justru (menurut saya) akhirnya membuat Humphries membuat “grafi” ini. Kita akan bicara soal bagian “setelah” ini nanti belakangan.

Drake memiliki latar belakang keluarga yang tak biasa. Dia lahir dari keluarga berada yang sudah kaya sejak jaman imperialisme Inggris. Kakeknya bertugas di India ketika Kerajaan Inggris menjajah India (saya harap kata “menjajah” di sini dimaknai dengan segala kompleksitasnya). Bapaknya juga begitu, dan bahkan lebih jauh lagi ke timur, yaitu di Burma, ketika negeri itu di bawah kolonialisme Inggris, dan juga pada masa sesudahnya.

Drake lahir di Burma dan sempat tinggal di sana sebentar. Setelahnya, Drake dibesarkan di Inggris, di kota kecil dekat Birmingham. Sejak kecil Drake hidup layaknya anak orang kaya: ikut les musik, mendapat pendidikan sekolah swasta, dan seterusnya. Dia sudah pandai bermain Saksofon dan Klarinet (alat favoritnya Squidward di Spongebob Squarepants). Di sekolah menengah, Drake belajar gitar dan dengan bakat musiknya, belajarnya sangat cepat, dan ketika lulus SMA, dia semakin canggih dalam bergitar. Dia sempat kuliah sebentar di University of Cambridge, tapi bukan di kampus utamanya, sambil terus bermain gitar dan sesekali tampil di hadapan teman-temannya. Hingga kemudian dia “ditemukan” vokalis The Fairport Convention, yang memperkenalkannya ke Joe Boyd, yang kemudian memproduseri Drake di bawah label Island Records, yang juga merupakan label Cat Stevens (ya, Cat Stevens kita yang akhirnya jadi Yusuf Islam dan kemudian Yusuf [saja] itu).

Selama di bawah Island Records, Drake merilis tiga album, Five Leaves Left, Bryter Layter (dia lucu, kan?), dan Pink Moon. Tapi, sebenarnya tidak semulus kalimat di awal paragraf ini, justru masa inilah yang sepertinya paling berat dalam hidup Drake. Para sumber Humphries mufakat bahwa Drake adalah orang yang ingin sukses sebagai musisi dan ingin orang mengapresiasi karyanya (meskipun sangat sedikit ungkapan eksplisit Drake soal ini). Sayangnya, Drake adalah anomali: di jaman ketika kesuksesan musisi sangat ditentukan oleh tampil live dan tour ke sana kemari, Drake adalah orang yang pemalu dan sangat tidak menikmati tampil live. Nyaris semua orang yang ingat penampilannya bilang bahwa Drake sangat canggung dan tidak menikmati berada di panggung. Sementara itu, terkait kepribadian, di antara ketiga album ini, Drake tampak semakin menarik diri dari orang-orang di sekitarnya. Dari lelaki yang “hanya” pemalu tapi interaktif saat rekaman, Drake menjadi musisi yang hanya diam dan tidak bisa diajak komunikasi yang datang pada tengah malam untuk sesi rekaman yang hanya melibatkan dirinya dan teknisi soundnya. Di akhir masa hidupnya ini, Drake dikenali sebagai orang yang sudah jauh berbeda dengan masa dia di sekolah, benar-benar seperti orang yang mengalami gangguan kejiwaan yang sempat dirawat di RSJ dekat rumah orang tuanya, yang tidak bisa dijangkau siapa pun. Sebelum meninggal, dalam kondisi kejiwaan yang sedemikian rupa, Drake sempat merekam empat lagu yang dirilis secara anumerta (untuk menggunakan istilah yang dipakai penerjemahnya).

Demikian hidup Drake, yang digali Humphries dengan sangat teliti dari sumber-sumber yang pernah berhubungan dengan Drake, mulai guru SMP Drake hingga penyanyi Perancis yang sepertinya Drake sukai tapi tidak pernah-pernah berkomunikasi secara wajar dengan Drake.

Maka sampailah kita ke topik selanjutnya, yaitu perihal teknik Humphries dalam menyusun biografi ini. Humphries adalah biografer yang disiplin. Humphries selalu mengawali dengan semacam argumen yang dia susun dari pembacaan atas pernyataan para sumber yang dia pakai. Kemudian, dalam perjalannya, Humphries menyajikan secara penuh ungkapan-ungkapan para sumbernya tersebut. Sebagian besar sumber yang dia sampaikan secara penuh adalah hasil wawancara, tapi ada juga beberapa sumber panjang yang dia dapatkan dari tulisan-tulisan tentang Drake, mulai dari tulisan di majalah sampai tulisan di sampul album. Gaya penulisan biografi yang seperti ini menjadikan buku ini mirip film-film dokumenter bergumen kuat, seperti misalnya film-film Michael Moore. Kalau Anda lihat film-film beliau, pasti Anda memperhatikan bagaimana Moore mengawali dengan semacam latar belakang permasalahan ditambah dengan secuplik argumennya (seperti menulis esai lah) dan kemudian mendapati Moore mewawancarai orang dan hasil wawancara itu disampaikan dengan sepenuhnya, yang kemudian disimpulkan oleh Moore.

Teknik penulisan biografi seperti ini tentu sangat berbeda dengan kebanyakan biografi tokoh politik atau penulis (terutama yang ditulis ketika subjeknya masih hidup). Perbedaannya terutama terletak pada penggalian dari orang-orang yang berhubungan langsung dengan subjek dan argumen yang disampaikan. Dan teknik ini tentu saja juga sangat berbeda dengan penulisan “novelisasi biografis” orang-orang tertentu, satu hal yang sangat lazim di tengah banjir kisah-kisah inspiratif. Perbedaan utamanya terletak pada fakta bahwa “novelisasi” secara inheren menginginkan pembaca tenggelam ke dalam cerita dengan tanpa sadar mengaburkan batas antara biografi (yang merupakan historiografi personal) dengan kejadian nyata di masa lalu. Ada klaim tersembunyi bahwa pembaca hendaknya menerima gambaran dalam novelisasi itu sebagai cerminan nyata dari kejadian di masa lalu (tentu saja ini salah: tidak ada cermin yang bisa memantulkan bayangan masa lalu dengan setia, tak juga foto maupun video!). Alih-alih meminta orang mempercayai hasil rekonstruksi sejarah Drake yang dia kerjakan, Humphries dengan tegas menyatakan argumen-argumen yang dia buat berdasarkan hasil risetnya itu.

Nah, sekarang, tibalah akhirnya kita pada argumen yang ingin disampaikan Humphries, yang tampak kuat di bagian “setelah”–yang saya janjikan di atas. Ternyata, setelah wafat, justru semakin banyak orang yang mengenal dan menggemari karya-karya Drake. Perusahaan rekaman Drake, yang sudah terikat janji dengan Joe Boyd mantan produser Drake untuk tetap mempertahankan album-album Drake di katalog mereka, selanjutnya merilis album-album kompilasi dan beberapa karya Drake yang belum sempat dirilis. Hal ini, ditambah dengan mitos tentang musisi genius yang mati muda yang selalu tumbuh natural, membuat pendengar Drake bertambah. Namun, ada juga musisi-musisi besar yang memang lebih dulu mengenal dan mengagumi kepiawaian bergitar Drake yang buka suara tentang kekaguman mereka. Ada juga musisi-musisi mudah yang membuat lagu terinspirasi dan didedikasikan kepada Drake. Dua hal terakhir inilah yang kemudian membawa gelombang-gelombang baru penggemar Drake, mereka-mereka yang penasaran dan akhirnya membeli dan akhirnya menggemari Drake juga.

Seiring semakin terkenalnya Drake itu, mitos dan simplikasi tentang musisi yang mati muda itu kian membeku. Banyak yang beranggapan Drake adalah anak yang tidak bahagia sejak kecil. Ada juga yang mengira perkenalannya dengan narkotik lah yang membunuhnya. Pastinya, ada sekalangan yang berpendapat bahwa Drake adalah korban ganasnya industri musik, yang menggunakan musisi sebagai bahan bakarnya. Tidak sedikit pula yang berpandangan romantis dan memandang Drake sebagai sosok genius yang menderita. Kebanyakan hal ini adalah simplifikasi yang cenderung tidak memperhatikan berbagai sisi kehidupan Drake.

Di hadapan semua inilah Humphries merekonstruksi kisah Drake ini dari berbagai sumber, mempertimbangkan berbagai kemungkinan. Humphries berulang kali menekankan bahwa bisa jadi, narkotika hanya memperparah sebuah kondisi kejiwaan yang telah mulai berkembang dalam diri Drake. Humphries juga menentang tegas bahwa Drake adalah orang yang tidak bahagia sepanjang hidup (yang dia nyatakan sejak di pembukaan). Tentunya masih ada beberapa argumen penting lain dari Humphries yang pastinya akan lebih baik bila Anda baca sendiri dalam biografi ini dengan segala keutuhannya. Pada intinya, dengan menyusun biografi ini, Humphries mencoba mengembalikan seorang musisi yang mati muda karena overdosis menjadi seorang manusia yang pernah hidup. Dan lazimnya manusia, masing-masing memiliki kompleksitasnya yang tidak akan habis dibahas dalam sebuah artikel di majalah musik atau di kanal online.

Semoga hingga di sini saya sudah memberikan apa-apa yang sudah saya janjikan di atas. Selanjutnya, mari kita berbincang tentang Drake, dan juga tentang biografi ini. Saya yakin masih banyak hal lain yang bisa dibincangkan. Sebagai contoh: di sini kita bisa melihat kedisiplinan Humphries dalam memahami makna biografi yang merupakan sebuah historiografi pribadi, yang membutuhkan rekonstruksi subjek sekaligus latar sosial dan historisnya–lihatlah bagaimana Humphries membeberkan acara apa yang ada di TV pada hari kematian Drake, siapa saja penampilnya, dan jam berapa acara tersebut ditayangkan. Kita juga bisa menemukan dalam biografi ini, kritik musik, baik dari Humphries sendiri atas album-album Drake, khususnya Five Leaves Left maupun dari orang lain, misalnya Scott Appel, mengenai teknik permainan dan seteman gitar Drake. Ah, masih banyak lagi (tentu, bukunya saja 380-an halaman!).

Jadi, kapan kita ngobrol apa?

Terjemahan “Fruit Tree” – Nick Drake – Pohon Buah

Berikut ini terjemahan atas lagu Nick Drake dari album pertamanya Five Leaves Left. Dalam penggarapan album ini, Nick Drake yang sudah dikenal pemalu (sejak masuk Universitas Cambridge itu) masih tetap seorang musisi yang terasa penuh energi, setidaknya dalam rekaman dan dalam liriknya. Dalam penggarapan lagu yang liriknya sangat puitis ini, Nick menggandeng kawan kuliahnya Robert Kirby untuk menjadi aransir string pengiringnya.

Sekali lagi, seluruh album ini digarap ketika Nick masih penuh energi dan relatif berfungsi secara sosial. Album selanjutnya, Bryter Layter, yang digarap lagi-lagi dengan aransiran Robert Kirby untuk musik pengiringnya, adalah album yang penuh kerja keras, tapi Nick mulai tambah sulit diajak berkomunikasi. Dan untuk album terakhir, Pink Moon (yang saya terjemahkan di sini), Nick Drake bisa dibilang sudah menjadi pribadi yang tidak bisa diajak berkomunikasi, datang dan pergi sesukanya tanpa banyak bicara (selain gumaman yang kata teman-temannya sulit dipahami). Album itu digarap oleh Nick dan teknisi sound John Wood. Musiknya hanya permainan gitar Nick–dan piano yang juga dimainkan Nick sendiri.*

Betapapun bergairahnya Nick mengerjakan lagu “Fruit Tree” di album pertamanya itu, tak urung tetap tersirat kesuraman, tentunya karena liriknya yang menggunakan “Pohon Buah” sebagai metafor untuk hidup yang digerogoti oleh “buah” atau “karya”. Kalau Anda suka nonton film Hollywood, bisa lah kita samakan kesuramannya dengan judul film dahsyat Leonardo di Caprio dan Johnny Depp What’s Eating Gilbert GrapeNama keluarga Leo dan Johnny di film itu adalah keluarga Grape. Johnny, si kakak, adalah Gilbert; Leo memainkan Arnie, bocah 15 tahun yang hidup dengan autisme. Judulnya memberikan kesan menanyakan kira-kira apa yang “memakan” atau “membuat murung” atau “membuat tampak susah” si Gilbert Grape. Permainan antara kata “makan” dan kata “Grape” (nama keluarga yg juga nama buah itu) terasa asyik. Kembali ke Nick Drake, dia mengumpakan ketenaran itu sebagai pohon buah, yang tidak akan bisa berdaun lebat sebelum buahnya jatuh. Begitulah ketenaran, dalam imajinasi Drake: akan terjadi tapi dengan tumbalnya sendiri.

Maka, daripada berlama-lama, silakan baca terjemahan ini, atau aslinya di sini:

Pohon Buah

Ketenaran hanyalah pohon buah
Sangat tidak kokoh
Tak pernah berdaun lebat
Hingga buahnya luruh
Begitulah orang tenar
Tak pernah menemukan cara
Hingga dia terbang
Jauh dari hari-hari sekaratnya.

Terlupakan selagi kau ada
Diingat sebentar
Keruntuhan yang begitu terbarui
Dari gaya yang begitu tertinggal

Hidup hanyalah memori
Telah terjadi dulu sekali
Gedung pentas penuh duka
Untuk pentas yang terlupa
Tampak begitu mudah
Membiarkannya berlalu
Hingga kau berhenti dan bertanya
Kenapa kau tak pernah bertanya kenapa

Nyaman di rahim
Malam yang abadi
Kau temukan kegelapan dapat
Memberikan cahaya paling terang
Aman di tempatmu jauh di dalam bumi
Itulah saatnya mereka tahu seberharga apa dirimu
Terlupakan saat kau di sini
Diingat sebentar
Keruntuhan yang begitu terbarui
Dari gaya yang begitu tertinggal

Ketenaran adalah pohon buah
Sangat tidak kokoh
Tak pernah berdaun lebat
Hingga buahnya luruh
Begitulah orang tenar
Tak pernah menemukan cara
Hingga diterbangkan
Jauh dari hari-hari sekaratnya.

Pohon buah, pohon buah
Tak ada yang mengenalmu selain hujan dan udara
Jangan kuatir
Mereka akan berdiri dan menatap saat kau pergi

Pohon buah, pohon buah
Bukalah matamu
Sambutlah tahun yang baru
Mereka semua akan tahu
Bahwa kau pernah di sini
Saat kau telah pergi

* Semua informasi biografis mengenai Nick Drake ini saya dapatkan dari buku biografi berjudul Nick Drake karya Pattrick Humphries, yang edisi terjemahannya diterbitkan oleh Yayasan Jungkir Balik Pustaka (nama penerbitnya tidak standar, kan? :D)

Kepada Kamu yang Ditunggu Salju: Buku Puisi yang Menyumbangkan Darah kepada Genre Tulisan Perjalanan?

Resensi_Yusri Fajar

Judul                     : Kepada Kamu yang Ditunggu Salju
Penulis                 : Yusri Fajar
Penerbit              : Penerbit Pelangi Sastra
Tebal                     : 104 hal.
Cetakan               : I/Maret 2017
ISBN                      : 978-602-60790-1-5

Perjalanan adalah kran inspirasi yang tak kunjung mandek untuk karya sastra, baik lisan maupun tulisan. Bahkan, karya sastra tertua yang pernah ditemukan, yaitu Epik Gilgamesh dari Mesopotamia kuno pada abad ke-21 SM, didominasi kisah perjalanan yang mengubah hidup Gilgamesh, tokoh raja setengah dewa. Kini, dua abad sejak ditemukannya GPS (Global Positioning System), perjalanan masih tetap mengucurkan inspirasi bagi penulis, apapun genre yang dia pilih. Dewasa ini, banyak toko buku yang punya rak khusus untuk catatan perjalanan. Sampai banyak yang mengkritisinya sebagai mengalami titik jenuh. Tapi, bagaimana bila perjalanan itu dituliskan dalam puisi? Akankah dia memberikan sesuatu yang berbeda? Buku puisi Kepada Engkau yang Ditunggu Salju mungkin bisa memberi gambaran potensi puisi yang bertemakan perjalanan.

Semua puisi yang terangkum dalam buku kumpulan puisi pertama Yusri Fajar ini ditulis ketika penulisnya jauh dari rumah. Bahkan, nyaris semua puisi di sini ditulis ketika Yusri berada di luar negeri. Beberapa puisi yang lain bertemakan perjalanan, tapi dari kampung halaman di Banyuwangi ke Malang, yang kemudian menjadi domisili Yusri. Dengan begitu, tidak berlebihan kalau saya menyebut buku ini sebagai buku puisi perjalanan–meskipun tentu perjalanan di sini harus diartikan secara luas.

Lazimnya pengunjung di tempat baru, penyair juga menunjukkan ketakjuban kepada keasingan dan kebaruan, yang kemudian dia tingkahi dengan perenungan tentang kesejarahannya. Pada beberapa puisi, Yusri menyoroti sebuah obyek atau individu dan menyoroti keterkaitan mereka dengan Indonesia.

Kita bisa temukan itu pada puisi-puisi seperti, misalnya “Di Negeri Bekas Penjajah Aku Menemukanmu” (hal. 7), yang bisa dijadikan contoh yang tepat. Dalam puisi ini, aku lirik Yusri melihat-lihat jalanan, restoran, pernak-pernik, dan orang-orang Belanda, dan di situ dia merasa menemukan “kamu,” yang bisa kita tafsirkan sebagai “Indonesia.” Puisi ini memang dibuat jauh dari rumah, tapi dia tak kunjung berhenti membicarakan Indonesia, yang jejaknya terlihat di mana-mana di Belanda (“Pertemuan Dua Bangsa di Warung Kebab,” hal. 24).

Ketakjuban akan hal-hal yang memiliki signifikansi sejarah atau berkaitan dengan perpindahan bangsa-bangsa inilah yang memenuhi buku-buku Yusri. Tidak bisa kita temukan puisi tentang indahnya danau di Swiss, romantisnya menara Eiffel di Perancis, atau nikmatnya capuccino Italia di sana. Tapi, kita bisa temukan puisi tentang warung kebab yang mempertemukan pendatang dari negeri berbeda yang selalu digelayuti kerinduan kepada kampung halaman.

Bahkan, kalau ada satu topik yang bisa dibilang mencakup sebagian besar puisi di buku ini, topik tersebut adalah “diaspora.” Dalam kajian sosial, istilah diaspora pada awalnya mengacu kepada orang-orang Yahudi yang terusir tanah leluhur mereka untuk kemudian hidup terpencar di segala penjuru Timur Tengah, Afrika Utara, dan Eropa untuk tumbuh dan berkembang. Namun, sebagaimana diteorika Robin Cohen dalam Global Diasporas: An Introduction, seiring zaman, istilah diaspora ini banyak digunakan untuk mengacu komunitas-komunitas yang jauh dari negeri leluhur mereka, bahkan tanpa perlu elemen keterpaksaan. Pandangan seperti inilah yang mendominasi gagasan kelompok Jaringan Diaspora Indonesia.

Kembali ke buku puisi Yusri Fajar, gagasan diaspora muncul paling efektif pada puisi yang dipakai untuk judul buku Yusri ini “Kepada Kamu yang Ditunggu Salju” (hal. 4). Puisi ini berbicara tentang “kamu” yang tumbuh jauh dari tanah moyangnya, yang saat ini benihnya bisa tersemai, bertumbuh, tapi pada akhirnya terancam akan terkubur salju dan kehilangan akarnya. Seperti itulah dilema diaspora yang akarnya selalu berisiko menguap seiring zaman. Menariknya, dalam puisi ini, Yusri menggunakan idiom-idiom pertumbuhan tanaman beserta seluruh anatominya. Puisi ini seperti mengembalikan lagi istilah “diaspora” ke ranah aslinya, yaitu biologi. Boleh lah kita bisa puisi ini tidak melupakan akar kata “diaspora” itu sendiri.

Dengan semua potensi yang lebih dari sekadar menggambarkan tentang perjalanan ini, jangan-jangan puisi ini bisa memberi sumbangan di tengah “krisis” yang menjangkiti genre tulisan perjalanan. Seperti dikritisi Graeme Wood dalam artikelnya di majalah Foreign Policy, tulisan perjalanan adalah genre yang mati, utamanya karena penulis terlalu tersedot kepada dirinya sendiri dan kurang menukik dalam pengamatan atas tempat dan orang-orang yang dikunjunginya. Atau, yang lebih parah, hanya menyoroti hasil pengamatan yang hanya mengkonfirmasi apa yang sudah mereka dengar atau yakini, sebagaimana dikritisi Edward Said. Dengan perenungan atas nasib diaspora dan obyek-obyek yang memiliki latar kesejarahan sebagaimana saya bahas di atas, buku Kepada Kamu yang Ditunggu Salju ini berpotensi menyumbangkan darah segar kepada genre yang tulisan perjalanan yang kita layu itu menurut sekalangan kritikus.

(Tulisan ini dimuat di kolom Resensi harian Jawa Pos Radar Malang pada hari Minggu 23 Juli 2017. Semoga menikmati resensinya, dan semoga ada “krentek” hati membeli bukunya.)

Honda Win 100: Bangsa yang Besar Menghargai Jasa Motor Kelas Pekerjanya

(Tulisan dibuat dengan sepenuh keluhuran budi dan rasa terima kasih kepada para pekerja keras ini terbit di Mojok.co sini dengan judul “Kalau Kamu Tahu Honda Win 100, Masa Kecilmu Orba Banget.” Dan karena ini sudah lebih dari dua minggu, akhirnya saya boleh mempostingnya di sini.)

Saya geregetan ketika produk Honda yang pertama dibahas di situs web sekelas Mojok adalah Honda Karisma. Menurut pandangan objektif saya, kalau ada motor Honda yang patut dibicarakan pertama-tama di sebuah situs yang menghargai pengalaman individual yang berimplikasi massal, mestinya produk tersebut adalah Honda WIN 100.

WIN 100 adalah motor yang sempat sangat terkenal di Indonesia. Kalau kamu kecil di tahun ‘80-an sampai ‘90-an, pasti kamu pernah melihat motor ini ditunggangi pegawai BRI, Pak Camat, petugas penyuluh lapangan, Pak Pos, sampai rentenir keliling.

Motor ini adalah bukti bahwa ada yang bisa dibanggakan dari industri manufaktur Indonesia. Selama masa produksinya yang panjang, 1984—2005 (21 tahun), semua komponennya diproduksi di Indonesia oleh PT Federal Motor (sekarang PT Astra Honda Motor). Produksi WIN 100 tidak hanya terbatas untuk memenuhi kebutuhan lokal (terutama instansi yang membutuhkan fleet vehicle, kendaraan dinas), tapi juga untuk diekspor ke negara-negara Asia Tenggara, terutama Vietnam.

Hingga hari ini, kamu masih bisa menemukan si WIN 100 bertebaran di sekujur Vietnam, bahkan sampai ada versi mocinnya. Misal kamu sempat baca tulisan turis-turis asing yang road trip keliling Vietnam, kamu akan mendapati WIN 100 menjadi tunggangan andalan mereka. Atau kalau bukan si WIN 100 ya versi mocinnya itu tadi.

Kenapa motor ini begitu populer sebagai kendaraan dinas lapangan di jawatan pemerintah maupun swasta?

Ada beberapa faktor, antara lain harga, desain, kemampuan, dan konsumsi bahan bakar.

Harga WIN 100 relatif murah dibanding motor-motor sport atau semi-sport di zamannya. Bandingkan saja dengan harga Honda GL Max, GL Pro, Suzuki TS, atau Yamaha RX King (motor yang sekarang jadi kutukan buat warga Indonesia).

Dari segi desain, WIN 100 terlihat ramping, menggunakan rangka permata ala motor trail, dan jarak mesinnya cukup jauh dari tanah (hal ini dimungkinkan karena posisi mesinnya tidur, seperti motor bebek). Desain seperti ini membuatnya mampu menjalankan tugas layaknya motor trail.

Selain itu, WIN 100 juga terkenal tangguh menaklukkan tanjakan. Tentunya kemampuan ini tak lepas dari desainnya tadi. Dalam hal kemampuan, Win 100 mirip sarung Atlas: resmi bisa, santai bisa; aspal bisa, off-road bisa. Jangan lupa, ketika Farid Gaban dan Ahmad Yunus melakukan ekspedisi Zamrud Khatulistiwa mengelilingi Indonesia selama setahun, motor yang mereka gunakan adalah WIN 100.

Yang kemudian paling penting adalah motor ini superirit. Saking iritnya mesin 97 cc si WIN 100, saya sampai lupa apa kepanjangan SPBU.

Itulah alasan mengapa saya sekarang menunggangi WIN 100. Ketika bermaksud membeli motor yang bisa dipakai ke gunung dan ke pantai demi menumbuhkan cinta tanah air dan bangsa pada anak saya, saya sempat pengin beli motor trail. Pilihan pertama tentu trail sejuta umat itu: Kawasaki KLX. Tapi, ternyata harganya dua puluhan juta lebih. Ya tentu saya males (baca: nggak punya duit).

Memang ada pilihan lain: Viar Cross X, produksi lokal Semarang yang harga on the road­-nya 16 juta. Buat kocek saya, harga sekian masih terasa mahal. Beruntung saya sempat konsultasi dengan seorang kawan yang mantan off-roader. Ia langsung bilang, “Bos, kalau sampean pengin beli motor yang ‘layak terabas’ tapi murah, cari saja Honda WIN 100.”

Benar saja, di OLX saya mendapati beberapa orang menawarkan WIN 100 dengan harga berkisar 4 sampai 7 juta. Dengan banderol segitu, bayangkan berapa juta uang yang bisa saya hemat (kalau ada sih) untuk dipakai membeli buku buat anak saya?

Maka, hari ini, setelah genap enam bulan memakai WIN 100 keluaran terakhir (2005, tapi dengan STNK 2006), saya membuktikan sendiri kenapa motor ini begitu populer sampai-sampai desainnya tidak pernah berubah sejak diproduksi pertama pada 1984.

WIN 100 adalah motor tangguh favorit kelas pekerja. Motor ini sangat populer di kawasan yang membutuhkan kendaraan dengan kemampuan menanjak. Kata seorang kawan aktivis lingkungan, orang-orang di pedesaan Malang selatan sangat menggemarinya karena cocok untuk bekerja di medan berat.

Di Kecamatan Dau atau Wagir, misalnya, saya sering melihat orang membawa rumput untuk pakan ternak dengan motor ini. Sampai-sampai ketika suatu kali saya membawa motor itu ke air terjun Coban Glotak di Wagir, orang-orang sana berbicara dengan saya seolah-olah saya salah satu warga desa itu.

Ketika Mei lalu saya mengikuti Kemah Sastra III di Kebun Teh Medini, Kendal, saya juga mendapati motor ini dipakai untuk menjual bakso. Kata si bapak penjual bakso, motor ini ia miliki sejak 2006 dan belum pernah memberinya masalah serius. Padahal ia memakai motor ini untuk naik turun jalan berbatu.

Selama 11 tahun, dia hanya perlu turun mesin sekali dan mengganti kampas koplingnya secara teratur. Saya nggak heran sih. Yang jadi pertanyaan saya justru bagaimana mungkin orang jualan bakso tanpa bermodal mangkuk dan sendok seperti si bapak.

Demikianlah kisah si legenda WIN 100, motor yang seperti sejumlah muka lama di kabinet Jokowi, adalah saksi Orde Baru yang berhasil melewati Reformasi. Bukan Honda Karisma yang dipuji-puji Arie Sadhar, WIN 100-lah yang mestinya bisa menumbuhkan kebanggaan kepada negeri. Bukan RX King yang sekarang kalau nggak jadi tunggangannya preman ya jadi akomodasi kampanye, WIN 100-lah motor yang dikendarai Rano Karno ketika menjadi si Doel anak sekolahan.

Jadi, kawan-kawan redaktur Mojok yang terhormat, sampean boleh saja memuat Honda Karisma sebagai artikel tentang motor pertama di Otomojok. Tapi, dosa semacam itu harus ditebus segera dengan memuat soal Honda Win. Jangan lupa: bangsa yang besar menghargai jasa motor kelas pekerjanya.

Tulisan ini saya tutup dengan mendeklarasikan Honda WIN 100 #menolakpunah #sayaindonesiasayahondawin #iniwinkumanawinmu.

(Terjemahan Lagu) Day is Done – Saat Hari Usai – Nick Drake

Ini dia satu lagu terjemahan lagu Nick Drake “Day is Done.” Untuk lirik aslinya silakan google sendiri, dan untuk lagunya silakan cari di YouTube. Edisi pingin cepat.

Saat Hari Usai

Saat hari usai
Surya lenyap di balik bumi
Bersama yang lepas dan terraih
Saat hari usai

Saat hari usai
Berharap semua lomba selesai
Ternyata kau terburu memulai
Engkau pun musti ulangi
Saat hari usai

Saat malam dingin
Ada yang biasa ada yang menua
Sekadar tahu hidup tak hanya kencana
Saat malam dingin

Saat burung telah terbang
Tak seorang pun milikmu
Tak ada rumah bagimu
Saat burung telah terbang

Saat permainan telah diperjuangkan
Kau pukul bola ke seberang lapangan
Kau kalah lebih cepat dari perkiraanmu
Kini permainan telah diperjuangkan

Saat pesta usai
Sungguh menyedihkan bagimu
Tak sempat lakukan yang kau rencanakan
Tak ada kesempatan memulai lagi
Kini pesta usai

Saat hari usai
Surya lenyap di balik bumi
Bersama yang lepas dan terraih
Saat hari usai

Seksualitas dan Aib

(Lagi-lagi satu resensi lama, dari tahun 2005 atau 2006-an lah. Ini saya kopi langsung dari situs Penerbit Jalasutra yang telah memuatnya sejak entah kapan. Tapi, demi mendokumentasikan tulisan-tulisan sendiri, sebelum hilang dimakan rayap virtual, saya posting saja lagi di sini. Demi apa? Demikian harap maklum.)

REsensi_AIb

Judul buku: Aib
Penulis : J.M. Coetzee
Penerbit : Penerbit Jalasutra

Posisi seksualitas dalam sastra menjadi topik penting pembicaraan para penikmat dan kritikus sastra Indonesia beberapa waktu yang lalu. Sebagian mengiyakan, sebagian menggugat, dan sebagian lainnya memilih sikap tak menggungat namun mencari alternatif bacaan lain. Wacana ini muncul setelah kehadiran beberapa pendatang muda yang tangguh dengan energi meluap sambil membawa karya-karya bermuatan seksualitas.

Perdebatan ini tak kunjung tersimpulkan. Masing-masing pihak melontarkan argumen yang tak kunjung saling meyakinkan. Tanpa sedikitpun maksud memperpanjang perdebatan itu, saya yakin, Penerbit Jalasutra Jogjakarta menerbitkan novel Aib karya JM Coetzee, peraih Nobel kesusastraan tahun 2003 asal Afrika Selatan.

Apa pasal saya mengisyaratkan adanya hubungan antara perdebatan posisi seksualitas dengan penerbitan Aib?

Berlatar Afrika Selatan akhir milenium kedua, novel yang berjudul asli Disgrace ini berkisah tentang Prof Lurie, dosen sastra, yang sejak awal hingga akhir buku tak kunjung selesai dirundung sial. Di awal cerita, dibeberkan bahwa sebagai seorang womanizer yang selalu haus akan kepuasan seksual, Prof Lurie sedemikian rupa berusaha memuaskan hasratnya dengan “berlangganan” seorang pelacur, Soraya.

Malangnya, Soraya menjauh begitu ada gelagat Prof Lurie ingin hubungan yang lebih mendalam. Kemudian, Prof Lurie menjalin hubungan dengan seorang mahasiswanya, Melanie, yang menyebabkannya mendapatkan kesialannya yang kedua: dituduh melakukan pelecehan dan pemerkosaan terhadap Melanie. Mengakui bersalah namun menolak menyesalinya, Prof Lurie kehilangan jabatannya sebagai dosen. Aib ini membuatnya menyingkir sejenak dengan mengunjungi putrinya, Lucy, di sebuah perkebunan.

Di sini, masalah lain menyongsongnya: rumah Lucy diserang tiga penjahat, Lucy diperkosa sementara Prof Lurie tidak bisa melakukan apa-apa, dan mobilnya dicuri. Keinginannya untuk melaporkan pemerkosaan itu kepada polisi ditentang keras putrinya yang ingin memendam sendiri luka itu; hubungan keduanya menjadi renggang.

Lebih-lebih lagi, putrinya menolak untuk pindah dari perkebunannya ketika diketahui bahwa pemerkosaan itu mengakibatkan kehamilan dan memutuskan menerima lamaran tetangganya yang jelas-jelas dia ketahui ingin menguasai tanah perkebunan putrinya. Masih kurang lagi, ketika dia kembali ke Cape Town ternyata rumahnya dijarah dan banyak barang pentingnya raib. Akhirnya, dia memilih tinggal di sebuah daerah tak jauh dari Lucy dan menjalin hubungan dengan seorang teman Lucy, yang sebenarnya sudah bersuami.

Dari ringkasan di atas, terasa sekali bahwa seksualitas adalah poin dominan dalam novel ini. Jelas sekali, tokoh utama adalah seorang bandot womanizer yang kehidupannya tak pernah jauh dari seks. Aib diawali dengan kepuasan seks yang didapatkannya dari Soraya. Kemudian, saking longgarnya ukuran moralitas baginya, dia berani mendekati mahasiswanya, Melanie, dan menggiringnya ke hubungan seksual bahkan ketika pertama kali mengundang gadis itu ke rumahnya—dan akhirnya gagal terlaksana. Melanie, secara tak langsung membawanya kepada aib.

Aib ini menggiringnya bertemu kesialan lain yang juga masih urusan seksual, pemerkosaan putrinya—meskipun ada tendensi rasialis di sini. Keberadaannya di dekat putrinya ini juga menggiringnya pada hubungan (seksual) dengan teman Lucy, Bev Shaw. Di sini, tampak betapa seksualitas adalah faktor yang sentral. Selain itu, jika Aib juga mengisahkan tentang Prof Lurie yang menggarap sebuah opera tentang penyair Inggris Lord Byron, sepertinya itu juga bukan tempelan. Kita tahu Lord Byron adalah penyair, juga womanizer, yang di London mendapat Aib karena skandal sodomi dan inses.

Meski demikian, jangan dulu tumbuhkan pandangan bahwa Anda akan menemukan adegan-adegan seksual yang digambarkan dengan sensual, merangsang.

Dalam novel yang membuat JM Coetzee menjadi penulis pertama yang memenangkan Booker Prize Award dua kali ini, adegan-adegan seksualitas dibeberkan secara minimal. Hubungan dengan Soraya digambarkan tak lebih dari sekedar “dia mengelus tubuh berona cokelat madu yang tak ternodai matahari itu; meregangkannya, menciumi buah dadanya; mereka bercinta”.

Bukankah, dibandingkan dengan sebagian besar karya sastra bertema seks lainnya, banyak sekali yang dilewatkan dalam menceritakan hubungan seks? Begitu juga ketika Prof. Lurie bersetubuh dengan Bev Shaw yang tak cantik, disebutkan “memerosotkan celana dalam, dia masuk ke sisi Bev, menelurusi tubuh Bev. Tak ada yang bisa dikatakan tentang payudara Bev. Tegap, nyaris tak berpinggul, seperti bak mandi pendek kecil”.

Mungkin, akan ada yang beranggapan, dengan seksualitas sebagai tema sentral, penggambaran hubungan seks di dalam Aib terasa terlalu minimal. Tapi, jika ditilik kembali sebesar apakah kuantitas seks dalam kehidupan, kita akan ingat betapa seks mendapatkan jatah tak banyak dalam sehari —kecuali bagi mereka yang, maaf, menjadikannya sebagai profesi. Dalam Aib, seks memicu terjadinya sebuah tragedi.

Selanjutnya, tragedi itulah yang lebih banyak dihadapi tokoh-tokoh cerita, bukannya seks itu sendiri. Itulah yang membuat kita sah berkata bahwa J.M. Coetzee telah menakar seksualitas secara proporsional dan dengan cara yang sama dia menyajikannya kepada kita para pembaca.

Aib menunjukkan kepada kita sebuah karya sastra yang menggarap fenomena-fenomena seksualitas —bukannya menggarap hubungan seksual!— dengan cerdas. Di Indonesia sendiri, satu atau dua tahun yang lalu, seorang sastrawan menyatakan bahwa dia menggarap tema seputar fenomena seksualitas, bukannya hubungan seksual.

Namun, terbukti banyak pihak menilai karyanya sebagai karya yang merangsang dan bahkan sempat memunculkan fenomena label “bacaan khusus dewasa”. Dengan hadirnya Aib, kita mendapatkan alternatif bacaan yang tak takut mengurai tema seksualitas namun juga tetap mampu menjaga dirinya bersih dari usaha membuat pembacanya larut dalam fantasi seksual yang berlebihan.

Selain seksualitas, novel ini juga mengetengahkan tema rasialisme. Dengan setting Afrika Selatan pasca-apartheid, JM Coetzee dalam novel ini melukiskan sedikit konflik yang muncul sebagai dampak dari luka politik apartheid yang masih terasa. Namun, berbeda dengan karya-karya sang pejuang anti-apartheid, Nadine Gordimer, penulis Afrika Selatan yang mendapatkan anugerah Nobel Sastra, JM Coetzee tidak menjadikan apartheid tema sentral. Dalam karya-karyanya, JM Coetzee lebih menyoroti konflik karakternya, dan menggunakan isu sosial hanya sebatas isu itu benar-benar mendukung perkembangan karakter tokoh-tokohnya.

Kebetulan, dalam Aib dia memiliki tokoh seseorang yang kehidupannya tak pernah jauh dari kepuasan seksual. Kehadiran Aib seakan-akan bertepatan dengan maraknya isu seksualitas di kancah sastra Indonesia. Jika memang kita tak pernah malu untuk belajar, kita bisa bilang bahwa Aib adalah satu diantara karya sastra asing yang bisa mengajarkan kepada kita bagaimana menakar seksualitas dengan proporsional

(Terjemahan Lagu) Nick Drake – Bulan Merah Jambu – Pink Moon

Bagi Anda yang aktif di Instagram atau Twitter dan kebetulan berkontak dengan orang-orang penerbitan atau penggemar musik, musik Anda akan melihat poster berlatar hijau pastel muram dengan seorang lelaki berselimut meksiko garis-garis menjulurkan tangan dengan sekuntum bunga merah jambu. Poster itu adalah sampul dari buku biografi Nick Drake yang ditulis oleh Patrick Humpries terbitan Yayasan Jungkir Balik Pustaka.

Saya pikir saya cukup tahu musik, meskipun tidak sangat hardcore–tapi saya tidak kenal siapa itu Nick Drake. Menurut Pengantar dan Pendahuluan buku tersebut (yang salah satu versi dummy-nya sampai ke tangan saya alasan yang mungkin akan tersirat dari postingan ini :D), Nick Drake ini penting karena kisah hidupnya yang konon tragis dan diselimuti mitos. Dia mati muda, pada usia 26 tahun (banyak orang hebat mangkat pada usia 27 tahun!), setelah sukses beberapa tahun sebagai musisi folk yang menginspirasi banyak orang. Tapi dia meninggal dalam keadaan depresi.

Begitulah. Karena dalam waktu dekat ini saya diajak kawan-kawan diskusi tentang buku ini sementara saya sendiri baru tahu siapa dia, akhirnya lah saya melakukan riset (baca: melakukan googling dan youtubing secara intensif). Nah, sebagai upaya memahami kehidupan Nick Drake, saya coba dengarkan lagu-lagu paling penting dari karir Drake yang pendek tapi penuh warna itu.

Di bawah ini adalah terjemahan dari lagu “Pink Moon,” salah satu lagu terakhir karya Drake. Lagu ini saya pilih karena paling pendek secara lirik, tapi memiliki kualitas musikalitas yang kompleks sekaligus sederhananya selaras dengan lagu-lagu yang lain. Tidak ada yang tahu pasti apa makna dari “pink moon” atau “bulan merah jambu” dalam lagu ini. Ada yang menafsirkannya sebagai “penyakit kejiwaan” yang menghantui dan tak dapat dihindari, yang mulai terasa mencengkeram Nick Drake. Tapi, secara sederhana, kalau dilihat dari liriknya, mungkin “pink moon” ini bisa diartikan sebagai “maut” yang pasti datang ke kalian semua, dan “tidak ada seorang pun dari kalian yang cukup tegar” untuk menghadapinya.

Berikut ini terjemahannya, dan silakan cari lagunya di YouTube.

Bulan Merah Jambu

Kulihat tertulis dan kulihat berujar
Bulan merah jambu akan datang
Tak ada yang bisa cukup tegar
Bulan itu akan menyambar semua kalian

Itulah bulan merah jambu
Ya, bulan merah jambu

Pink, pink, pink, pink
Bulan merah jambu
Pink, pink, pink, pink
Bulan merah jambu

Kulihat tertulis dan kulihat berujar
Bulan merah jambu akan datang
Tak ada yang bisa cukup tegar
Bulan itu akan menyambar semua kalian

Itulah bulan merah jambu
Ya, bulan merah jambu

Pink, pink, pink, pink
Bulan merah jambu
Pink, pink, pink, pink
Bulan merah jambu