Providence yang Menjadi Oasis di Tengah Hamparan Alergi

Ada satu yang bisa tidak diharapkan dari perjalanan konferensi ke kota-kota di utara: menjadikannya sebagai pelarian dari alergi. Itu terjadi pada tahun 2012, ketika mengikuti American Comparative Literature Association Conference pada tahun itu.

Musim semi datang terlalu awal di Arkansas. Itu juga yang terjadi pada tahun 2012 itu, di awal bulan Maret, saya sudah melihat satu dua pohon ceri menguncup coklat keputihan dan beberapa saat kemudian kuncupnya itu mekar menjadi bunga-bunga putih (ada yang pink juga). Di Jepang, kuncup-kuncup yang mengembang itu disebut sakura. Hal itu terjadi di seluruh kota. Kemudian disusul pohon-pohon cedar yang juga berkuncup dan mengembang dan serbuk sarinya mulai dihembus angin ke sana-kemari.

Saja sudah pernah mengalami alergi parah sebelumnya, tepatnya dua tahun sebelumnya, pada tahun 2010, ketika saya tinggal di Arkansas untuk kali pertama. Di tahun 2010 itu, saya merasakan sendiri dampak dari musim semi yang indah itu: menyebarnya serbuk sari (atau disebut “pollen” dalam bahasa Inggris) dan kemudian membuat gatal hidung dan mata saya. Bahkan, kalau parah, dampaknya bisa mengarah ke sesak nafas.

Belajar dari pengalaman tahun 2010, pada tahun 2012 saya sudah mulai nguntal pil-pil kecil untuk alergi yang mudah didapatkan di toko-toko swalayan. Ada yang pink, ada yang ungu, ada yang hijau. Saya selalu menghindari yang pink, yang sangat membuat ngantuk. Saya selalu memilih yang ungu (allegra) atau yang hijau (zyrtex) yang lebih kuat tapi tidak membuat ngantuk. Jadilah, sejak awal Maret saya nge-pil.

Di pertengahan Maret, alergi sudah merangkak dan menjadi serius. Masih ada kalanya hidung saya gatal dan sentrap-sentrup meskipun sudah ngepil (hanya boleh sebutir selama 24 jam). Perjuangan melawan alergi kali itu layaknya perjuangan ingatan melawan lupa: konstan.

Maka, dengan modal alergi yang mulai aktif di pertengahan kedua bulan Maret itu, perjalanan seminar ke kota Providence, Rhode Island, menjadi sebuah oasis yang tidak direncanakan. Hal itu dimungkinkan karena ternyata, ketika saya sampai di Providence, negara bagian tersebut relatif masih musim dingin. Pohon-pohon masih meranggas sepenuhnya. Udara masih di titik nol derajat Celsius. Tidak ada kuncup-kuncup cantik yang membawa serbuk sari jahat bagi yang punya alergi.

Tiga hari di Providence itu menjadi hari-hari paling awas bagi saya di bulan Maret tersebut. Namun, setelahnya, pada bulan Aprilnya, ketika saya kembali ke Arkansas, saya mengalami sendiri versi lain dari puisi “Wasteland” karya T.S. Eliot: “April is the cruelest month.” Bulan itu menjadi bulan terkejam bulan karena di saat itu ada bunga-bunga lili yang tumbuh di tengah-tengah tanah yang mati seperti kata puisi Eliot, tapi karena di bulan yang penuh bunga yang cantik itu, saya harus pilek dan mata gatal sepanjang waktu dan bahkan harus sampai menggunakan steroid.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close