(Resensi) Para Bajingan yang Menyenangkan, 3 Lapis Kewolesan plus Selapis Tipis yang Lain

Dalam perjalanan ke Surabaya pagi ini, saya bawa bekal buku yang sudah lama saya tahu dan ingin baca, bahkan sebelum buku ini terbit. Para Bajingan yang Menyenangkan adalah judulnya. Karya Puthut EA. Kalau tidak sempat baca postingan blog ini sampai lengkap, biar saya kasih review singkat: buku yang woles, dalam hal isi, gaya bercerita, maupun strukturnya, tapi mungkin berpotensi dibaca lebih jauh untuk poin-poin tertentu. Itu sudah.

Kalau masih ada waktu, silakan baca paragraf-paragraf berikut:

Saya membaca bagian-bagian yang kelak menjadi isi buku ini dari update-update status Puthut EA beberapa Ramadhan yang lalu. Yang pertama saya baca adalah tentang Bagor yang pertama kali puasa setelah dua puluh tahun dan mengundang orang tuanya untuk makan lezat di rumahnya. Itulah.

Hari ini tadi saya membaca buku ini di atas bus dalam perjalanan ke Surabaya, di ruang tunggu dokter gigi, dan waktu balik lagi ke Malang. Buku ini selesai saya baca ketika bus tiba di depan Pasar Lawang, gerbang masuk ke Malang Raya.

Seperti saya bilang di atas, isi buku ini sangat santai dan woles, yang artinya bisa sama dengan urakan. Bagian pertamanya mengisahkan tentang almarhum kawan Puthut di The Jackpot Society yang gemar sekali berjudi. Bagian ini mengisahkan petualangan-petualangan geng ini dalam berjudi dan menjalani hidup sehari-hari sebagai mahasiswa UGM. Banyak cerita lucu, konyol, mangkelne, dan sejenisnya. Di bagian selanjutnya, ada kisah Bagor yang omongannya urakan dan kelakuannya nggak kalah urakannya juga. Umpatan dan panggilan sayang muncul secara bergantian di sekujur buku ini seperti minim (atau nyaris tidak ada?) sensor. Selain itu, ada juga cerita-cerita tentang cara “para bajingan” ini memandang agama, yang mengesankan kewolesan. Seperti diperingatkan sejak awal oleh Puthut EA si narator, banyak bagian di buku ini yang bisa bikin panas hati orang yang membacanya, terutama kalau orang tersebut agamis.

Seperti sudah saya sampaikan di awal, gaya penyampaian buku ini juga terasa woles. Tentu saja buku ini buku berbahasa Indonesia. Namun, di dalamnya, kita bisa dengan mudah menemukan kata-kata yang tidak baku dalam bahasa Indonesia, atau kata-kata bahasa Indonesia yang dipakai secara tidak baku. Begitulah. Bahkan, di bagian kedua, di mana fokus cerita adalah Bagor, banyak sekali narasi dan (apalagi) dialog yang disampaikan langsung dalam bahasa Jawa gaya Yogyakarta-an. Penulis tidak merasa adanya kewajiban untuk mengindahkan saran-saran dari uda Ivan Lanin, untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar.

Tapi, penggunaan bahasa yang sangat woles ini sebenarnya juga tepat kalau mengingat poin pertama dia tas, tentang isi yang sangat woles dan urakan itu. Coba bayangkan betapa wagunya buku ini kalau penulis menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar (seperti halnya ketika dia menulis cerpen-cerpennya yang sudah banyak diterbitkan itu).

Dan terakhir, kewolesan buku ini juga terasa sampai ke tulangnya, ke strukturnya. Lihatlah betapa menyebalkan strukturnya: bagian pertama yang sepanjang 50-an halaman berisi tentang pengakuan bahwa buku ini ditulis untuk mengenang seorang kawan yang telah wafat, yang begitu dalam menyentuh hidup si penulis, dengan caranya yang ganjil, lucu, urakan, dan sejenisnya; bagian kedua, yang paling panjang, sampai 100 halaman lebih, nyaris seluruhnya berkisah tentang sosok Bagor dan orang-orang di sekeliling Bagor yang menurut si penulis memang pas menjadi teman Bagor; dan bagian ketiga yang sekaligus penutup dan panjangnya sepantasnya saja itu berisi alasan kenapa penulis menuliskan buku ini. Terasa woles, kan? Terasa tulang-tulangnya tidak sangat kokoh, kan? Mungkin ya memang seperti itulah buku ini.

Masalahnya: buku ini mengasyikkan (dan juga seringkali membikin sebal). Makanya, tulang-tulang yang tidak kokoh pun, dan tampilan yang tidak kokoh pun terasa tidak jadi soal buat saya.

Tapi, kalau kita melampaui urusan struktur dan gaya penyampaian yang cenderung woles dan seperti tanpa grand design itu, kalau kita ganti persneling dan menggunakan paradigma yang lain untuk menilai buku ini, kita mungkin akan menemukan nilai dari buku ini. Intinya, kalau kita tidak menilai buku ini berdasarkan capaian-capaian literernya tapi langsung masuk ke isinya–dan terutama pada bagian yang bukan inti dari isinya–kita akan mendapati hal-hal ini: seperti apa mahasiswa-mahasiswa yang terlibat pergerakan pada akhir masa Soeharto itu, seperti apa sih keislaman anak-anak muda yang bukan termasuk kelompok yang Islami itu, seperti apa cara bercanda Mataraman itu (yang sekarang mungkin bisa dibandingkan dengan guyonan yang dijual di televisi). Ya, hal-hal seperti itulah yang juga terdokumentasi dalam buku ini, yang tidak semuanya telah terdokumentasikan secara terstruktur di buku-buku lain. Mungkin suatu saat, saat ada orang yang ingin merekonstruksi atmosfir pergerakan mahasiswa pra-’98 atau ingin menyelami keberagamaan generasi Muslim peralihan abad, buku ini bisa jadi referensi pembanding.

Dan, tentu saja, karena di bagian belakang buku ini diberi label “novel” (entah kenapa? jangan-jangan memang buku ini diniatkan sebagai novel, meskipun banyak karakternya yang nyata) kelakar-kelakar serta sikapnya terhadap keseriusan juga menempatkannya sebagai satu dari sedikit buku beratmosfir jenaka yang dalam lima tahun terakhir ini muncul menantang dominasi keseriusan dalam karya-karya prosa berbahasa Indonesia.

Aduh! Kalau yang terakhir ini seperti klaim tanpa dasar kedengarannya. Biarkan saja lah mengambang dulu, sementara saya akan mencari dukungan untuk klaim terakhir tadi.

Oh ya, tentang apakah buku ini novel atau bukan, sepertinya itu bisa jadi bahasan tersendiri. Kalau menurut label yang diberikan penerbitnya, buku ini adalah novel. Kita pun juga bisa menganggap buku ini sebagai novel. Toh, saat membacanya, kita bisa menganggap tidak peduli apakah Bagor itu memang benar-benar ada. Kalau pun kita menyebutnya novel dan struktur buku ini menjadikannya bukan novel yang bagus, toh kita bisa menghibur diri bahwa tidak ada batasan tentang mesti bagaimana struktur sebuah novel itu. Dan kalau kita kenal si penulis dan orang-orang yang diceritakan di buku ini, mungkin kita bisa menyebut ini sebuah memoar tak peduli apapun label yang dibuat oleh penerbitnya. Di sinilah peliknya–dan asyiknya–kalau berurusan dengan buku semacam ini: kita bisa manggut-manggut sendiri memikirkannya dan, kalau waktu mengizinkan, mungkin bahkan kita bisa menulis sesuatu tentangnya…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close