Seksualitas dan Aib

(Lagi-lagi satu resensi lama, dari tahun 2005 atau 2006-an lah. Ini saya kopi langsung dari situs Penerbit Jalasutra yang telah memuatnya sejak entah kapan. Tapi, demi mendokumentasikan tulisan-tulisan sendiri, sebelum hilang dimakan rayap virtual, saya posting saja lagi di sini. Demi apa? Demikian harap maklum.)

REsensi_AIb

Judul buku: Aib
Penulis : J.M. Coetzee
Penerbit : Penerbit Jalasutra

Posisi seksualitas dalam sastra menjadi topik penting pembicaraan para penikmat dan kritikus sastra Indonesia beberapa waktu yang lalu. Sebagian mengiyakan, sebagian menggugat, dan sebagian lainnya memilih sikap tak menggungat namun mencari alternatif bacaan lain. Wacana ini muncul setelah kehadiran beberapa pendatang muda yang tangguh dengan energi meluap sambil membawa karya-karya bermuatan seksualitas.

Perdebatan ini tak kunjung tersimpulkan. Masing-masing pihak melontarkan argumen yang tak kunjung saling meyakinkan. Tanpa sedikitpun maksud memperpanjang perdebatan itu, saya yakin, Penerbit Jalasutra Jogjakarta menerbitkan novel Aib karya JM Coetzee, peraih Nobel kesusastraan tahun 2003 asal Afrika Selatan.

Apa pasal saya mengisyaratkan adanya hubungan antara perdebatan posisi seksualitas dengan penerbitan Aib?

Berlatar Afrika Selatan akhir milenium kedua, novel yang berjudul asli Disgrace ini berkisah tentang Prof Lurie, dosen sastra, yang sejak awal hingga akhir buku tak kunjung selesai dirundung sial. Di awal cerita, dibeberkan bahwa sebagai seorang womanizer yang selalu haus akan kepuasan seksual, Prof Lurie sedemikian rupa berusaha memuaskan hasratnya dengan “berlangganan” seorang pelacur, Soraya.

Malangnya, Soraya menjauh begitu ada gelagat Prof Lurie ingin hubungan yang lebih mendalam. Kemudian, Prof Lurie menjalin hubungan dengan seorang mahasiswanya, Melanie, yang menyebabkannya mendapatkan kesialannya yang kedua: dituduh melakukan pelecehan dan pemerkosaan terhadap Melanie. Mengakui bersalah namun menolak menyesalinya, Prof Lurie kehilangan jabatannya sebagai dosen. Aib ini membuatnya menyingkir sejenak dengan mengunjungi putrinya, Lucy, di sebuah perkebunan.

Di sini, masalah lain menyongsongnya: rumah Lucy diserang tiga penjahat, Lucy diperkosa sementara Prof Lurie tidak bisa melakukan apa-apa, dan mobilnya dicuri. Keinginannya untuk melaporkan pemerkosaan itu kepada polisi ditentang keras putrinya yang ingin memendam sendiri luka itu; hubungan keduanya menjadi renggang.

Lebih-lebih lagi, putrinya menolak untuk pindah dari perkebunannya ketika diketahui bahwa pemerkosaan itu mengakibatkan kehamilan dan memutuskan menerima lamaran tetangganya yang jelas-jelas dia ketahui ingin menguasai tanah perkebunan putrinya. Masih kurang lagi, ketika dia kembali ke Cape Town ternyata rumahnya dijarah dan banyak barang pentingnya raib. Akhirnya, dia memilih tinggal di sebuah daerah tak jauh dari Lucy dan menjalin hubungan dengan seorang teman Lucy, yang sebenarnya sudah bersuami.

Dari ringkasan di atas, terasa sekali bahwa seksualitas adalah poin dominan dalam novel ini. Jelas sekali, tokoh utama adalah seorang bandot womanizer yang kehidupannya tak pernah jauh dari seks. Aib diawali dengan kepuasan seks yang didapatkannya dari Soraya. Kemudian, saking longgarnya ukuran moralitas baginya, dia berani mendekati mahasiswanya, Melanie, dan menggiringnya ke hubungan seksual bahkan ketika pertama kali mengundang gadis itu ke rumahnya—dan akhirnya gagal terlaksana. Melanie, secara tak langsung membawanya kepada aib.

Aib ini menggiringnya bertemu kesialan lain yang juga masih urusan seksual, pemerkosaan putrinya—meskipun ada tendensi rasialis di sini. Keberadaannya di dekat putrinya ini juga menggiringnya pada hubungan (seksual) dengan teman Lucy, Bev Shaw. Di sini, tampak betapa seksualitas adalah faktor yang sentral. Selain itu, jika Aib juga mengisahkan tentang Prof Lurie yang menggarap sebuah opera tentang penyair Inggris Lord Byron, sepertinya itu juga bukan tempelan. Kita tahu Lord Byron adalah penyair, juga womanizer, yang di London mendapat Aib karena skandal sodomi dan inses.

Meski demikian, jangan dulu tumbuhkan pandangan bahwa Anda akan menemukan adegan-adegan seksual yang digambarkan dengan sensual, merangsang.

Dalam novel yang membuat JM Coetzee menjadi penulis pertama yang memenangkan Booker Prize Award dua kali ini, adegan-adegan seksualitas dibeberkan secara minimal. Hubungan dengan Soraya digambarkan tak lebih dari sekedar “dia mengelus tubuh berona cokelat madu yang tak ternodai matahari itu; meregangkannya, menciumi buah dadanya; mereka bercinta”.

Bukankah, dibandingkan dengan sebagian besar karya sastra bertema seks lainnya, banyak sekali yang dilewatkan dalam menceritakan hubungan seks? Begitu juga ketika Prof. Lurie bersetubuh dengan Bev Shaw yang tak cantik, disebutkan “memerosotkan celana dalam, dia masuk ke sisi Bev, menelurusi tubuh Bev. Tak ada yang bisa dikatakan tentang payudara Bev. Tegap, nyaris tak berpinggul, seperti bak mandi pendek kecil”.

Mungkin, akan ada yang beranggapan, dengan seksualitas sebagai tema sentral, penggambaran hubungan seks di dalam Aib terasa terlalu minimal. Tapi, jika ditilik kembali sebesar apakah kuantitas seks dalam kehidupan, kita akan ingat betapa seks mendapatkan jatah tak banyak dalam sehari —kecuali bagi mereka yang, maaf, menjadikannya sebagai profesi. Dalam Aib, seks memicu terjadinya sebuah tragedi.

Selanjutnya, tragedi itulah yang lebih banyak dihadapi tokoh-tokoh cerita, bukannya seks itu sendiri. Itulah yang membuat kita sah berkata bahwa J.M. Coetzee telah menakar seksualitas secara proporsional dan dengan cara yang sama dia menyajikannya kepada kita para pembaca.

Aib menunjukkan kepada kita sebuah karya sastra yang menggarap fenomena-fenomena seksualitas —bukannya menggarap hubungan seksual!— dengan cerdas. Di Indonesia sendiri, satu atau dua tahun yang lalu, seorang sastrawan menyatakan bahwa dia menggarap tema seputar fenomena seksualitas, bukannya hubungan seksual.

Namun, terbukti banyak pihak menilai karyanya sebagai karya yang merangsang dan bahkan sempat memunculkan fenomena label “bacaan khusus dewasa”. Dengan hadirnya Aib, kita mendapatkan alternatif bacaan yang tak takut mengurai tema seksualitas namun juga tetap mampu menjaga dirinya bersih dari usaha membuat pembacanya larut dalam fantasi seksual yang berlebihan.

Selain seksualitas, novel ini juga mengetengahkan tema rasialisme. Dengan setting Afrika Selatan pasca-apartheid, JM Coetzee dalam novel ini melukiskan sedikit konflik yang muncul sebagai dampak dari luka politik apartheid yang masih terasa. Namun, berbeda dengan karya-karya sang pejuang anti-apartheid, Nadine Gordimer, penulis Afrika Selatan yang mendapatkan anugerah Nobel Sastra, JM Coetzee tidak menjadikan apartheid tema sentral. Dalam karya-karyanya, JM Coetzee lebih menyoroti konflik karakternya, dan menggunakan isu sosial hanya sebatas isu itu benar-benar mendukung perkembangan karakter tokoh-tokohnya.

Kebetulan, dalam Aib dia memiliki tokoh seseorang yang kehidupannya tak pernah jauh dari kepuasan seksual. Kehadiran Aib seakan-akan bertepatan dengan maraknya isu seksualitas di kancah sastra Indonesia. Jika memang kita tak pernah malu untuk belajar, kita bisa bilang bahwa Aib adalah satu diantara karya sastra asing yang bisa mengajarkan kepada kita bagaimana menakar seksualitas dengan proporsional

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s