Ketidaksadaran Patriarkal dan Budaya Perkosaan dalam Sastra

Dalam esei “Bahasa Maskulin dalam Sastra” (dimuat di Kompas 16 September 2016), Aninditya S. Thayf mengutarakan bahwa bahasa yang maskulin merupakan gejala dari ideologi patriarki, dan kita bisa mengamatinya dalam karya sastra. Dalam retorikanya, Aninditya mengesankan kuatnya unsur kesengajaan dalam “penyusupan ideologi patriarki” melalui bahasa maskulin dalam sastra tersebut. Padahal, pada kenyataannya patriarki adalah kecenderungan yang tanpa disadari sudah melebur dalam peradaban manusia dewasa ini, yang sudah membudaya, dan bukan seperti sebuah ideologi yang sengaja ingin ditanamkan oleh sebuah rezim. Secara sadar, semakin banyak laki-laki maupun perempuan yang secara terbuka mendukung gagasan-gagasan feminis, yang menggugat maskulinitas eksklusif. Maka, mungkin akan lebih menarik dan produktif bila kita menelaah perwujudan ideologi patriarki yang tidak disadari.

Dengan demikian, kita perlu melangkah lebih jauh dari sekadar melihat kecenderungan berbahasa dari penulis “yang dikenal misogini,” yang menurut Aninditya mengikuti “ideologi patriarkal.” Pernyataan Aninditya bahwa kecenderungan berbahasa yang maskulinis itu ada pada sastrawan yang dikenal misoginis berimplikasi bahwa yang perlu disoroti adalah penulis-penulis yang sejak awal sudah membenci atau menganggap lebih rendah perempuan. Padahal, yang mungkin lebih tepat adalah lebih banyak penulis yang tidak menyadari bahwa dia terjerat dalam gelembung patriarki.

Lebih dari sekadar perlunya kejelian pembaca untuk bersikap kritis, sebagaimana disampaikan Aninditya di akhir esei, penulis sendiri juga perlu terus menyadari. Penulis dituntut menyadari kuatnya pengaruh patriarki dan mencoba untuk secara sadar membaca naskahnya sendiri dari sudut pandang ini, kalau memang dia setuju bahwa bersikap non-patriarkal adalah penting. Dengan demikian, tanggung jawab ini sama besarnya bagi laki-laki maupun perempuan. Penulis perempuan pun bisa terpeleset dan mendukung kecenderungan patriarki. Tapi, secara etis, tidak pada tempatnya saya, seorang lelaki, ikut mengomentari kecenderungan mendukung patriarki pada penulis perempuan.

Beberapa gejala dari pengaruh patriarki yang sering muncul dalam karya budaya adalah objektifikasi perempuan, pembagian peran berdasarkan jenis kelamin, dan perayaan “budaya perkosaan.” Di sini, saya ingin langsung menyoroti perayaan “budaya perkosaan,” sebuah istilah yang sudah dipakai sejak tahun 1970-an di Amerika Serikat. Istilah ini mengacu pada perilaku, bisa berupa lelucon maupun kelalaian, yang menormalisasi tindakan perkosaan. Perilaku semacam ini menjadikan tindak perkosaan seolah-olah tidak jahat atau bahkan disebabkan oleh perempuan sendiri. Meski sudah lama dipakai, istilah ini masih diperdebatkan dan tetap perlu dikampanyekan hingga hari ini. (Untuk lebih jelasnya, silakan lihat buku Kate Harding terbitan 2015 berjudul Asking For It: The Alarming Rise of Rape Culture–and What We Can Do About It.)

Dalam karya sastra, “budaya perkosaan” bisa muncul secara halus, mungkin tanpa disadari penulisnya sendiri. Gejala ini bisa muncul bahkan dalam karya sastra penulis yang tidak dikenal misoginis. Karya yang bisa kita ambil untuk dijadikan contoh kasus adalah cerpen berjudul “Es Krim” karya Bernard Batubara dalam buku kumpulan cerpen Metafora Padma. Dari buku ini, Bernard Batubara tidak tampak seperti seorang cerpenis yang secara sadar “misoginis.” Bahkan, perempuan memainkan peran-peran penting dalam beberapa cerpen Bernard. Cerpen “Es Krim,” khususnya, menarik dibahas karena cerpen ini mengkritisi sekaligus merayakan “budaya perkosaan.”

Bingkai utama cerita ini adalah perbincangan antara narator dan kawan lelakinya. Narator digoda kawannya karena tidak berani menghadiri acara perkawinan Fu, mantan kekasihnya. Di tengah perbincangan itu, narator kita mengingat riwayat hubungannya dengan Fu, mulai masa perkenalan, kedekatan, hingga akhirnya hubungan tersebut kandas di tangan orang tua, yang menjodohkan Fu dengan seorang lelaki kaya. Cerpen ini, menurut saya, mengusung tema sederhana tentang minimnya agensi perempuan; dalam cerpen ini, Fu adalah obyek kejahatan laki-laki (pemerkosa) sekaligus objek cinta orang yang menginginkan kebahagiaannya (orang tua), meskipun Fu memiliki kehendak lain.

Namun, saat menelaah secara lebih mendetil, pembaca yang peka terhadap hubungan antar jender, atau tentang “budaya perkosaan,” akan terusik. Yang pertama adalah bagaimana dalam ingatan narator kita si perempuan, Fu, mengingat trauma psikologis yang dialaminya. Fu mengatakan: “… dalam dua jam, saya ditiduri sepuluh laki-laki.” Karena ucapan Fu ini kita terima lewat ingatan si narator, jadi kita bisa membaca ini sebagai sikap si narator. Perlukah di sini si narator memperhalus “diperkosa” menjadi “ditiduri”? Samakah keduanya? Menurut kamus, keduanya sangat berbeda.

Di satu sisi, membiarkan si narator menggunakan kata “ditiduri” tanpa disertai dengan justifikasi adalah kesalahan jender fatal di pihak penulis, karena hal itu adalah upaya “normalisasi” tindak kejahatan seksual. Tapi, bisa juga kita baca ini sebagai kesalahan narator dalam mengingat, sehingga tindak kejahatan besar seperti perkosaan bisa terwakili oleh kata “ditiduri.” Kalau masalahnya yang kedua, mungkin saja kegagalan si narator mendapatkan Fu adalah ganjaran yang diberikan oleh penulis atas dosanya ini.

Permasalahan yang kedua berkaitan dengan alasan kenapa cerpen ini berjudul “Es Krim.” Dalam cerpen ini, es krim adalah simbol kenikmatan yang akhirnya dapat membangkitkan lagi semangat hidup Fu setelah diperkosa. Fu mulai menyukai Es Krim sejak salah seorang kolaborator pemerkosaan yang menawari si perempuan “Es Krim” dan selimut. Sekuat itukah kemampuan Es Krim mengobati luka karena perkosaan? Dengan menarasikan betapa mudahnya trauma perkosaan disembuhkan, cerpen ini merepresentasikan perkosaan sebagai sesuatu yang relatif ringan.

Pertanyaannya sekarang, apakah dengan begitu Bernard Batubara mempromosikan ideologi patriarki? Tentu hanya Bernard Batubara yang bisa menjawab secara pasti pertanyaan semacam itu. Namun, berdasarkan pembacaan atas buku Metafora Padma secara lengkap, kita bisa bilang bahwa yang terjadi bukanlah “penyusupan ideologi maskulinitas lewat diksi.” Dari buku ini, kita bisa melihat kepedulian Bernard Batubara terhadap pertikaian antar suku, etnis, dan kelompok yang akhirnya mengorbankan manusia, anak-anak, dewasa, orang tua, laki-laki, dan perempuan.

Justru, Dengan mengambil tema seorang lelaki yang peduli dan menjalin hubungan dengan seorang korban perkosaan tanpa memberikan pandangan miring, Bernard Batubara sudah menunjukkan kepedulian terhadap isu jender dan tindakan perkosaan. Bahkan, di dalam cerpen tersebut Bernard Batubara menyoroti salah satu elemen pendukung “budaya perkosaan,” yaitu pada adegan ketika para pemerkosa mengatakan seolah-olah perkosaan itu disebabkan gaya busana Fu. Selain itu, di akhir cerita pun si narator tetap tidak bisa mendapatkan Fu, yang secara struktur dalam cerita bisa dihubungkan dengan sikapnya yang memandang ringan perkosaan Fu.

Akan tetapi, apakah artinya di sini Bernard Batubara juga bukan orang yang bersalah? Dalam hal ini, Bernard sama bersalahnya dengan kita yang secara sadar maupun tidak ikut membiarkan adanya “budaya perkosaan.” Sama bersalahnya dengan Bernard adalah kita yang, misalnya, membiarkan terjadinya tindakan perkosaan atau bahkan bergurau seolah-olah perkosaan adalah tindakan yang tidak terlalu mendehumanisasi perempuan. Yang pasti lebih parah adalah, misalnya, tindakan menutup mata dan tidak merasa terusik ketika kasus tuduhan perkosaan oleh Sitok Srengenge mandek dan tidak lagi terdengar kabarnya. Dan ini adalah persoalan global. Di Amerika, baru-baru ini, seorang hakim menjatuhkan hukuman cukup ringan untuk seorang atlit yang memperkosa dengan pertimbangan bahwa hukuman penjara akan merusak masa depan si atlit yang gemilang. Kejadian seperti ini menunjukkan kuat dan tidak disadarinya pengaruh ideologi patriarki, khususnya dalam bentuk “budaya perkosaa.”

Sebagai simpulan, sastra adalah sebuah hasil karya budaya yang juga menunjukkan gejala-gejala sosial. Namun, gejala-gejala tersebut seringkali bukan gejala yang dihasilkan oleh tindakan sadar. Bahayanya adalah, retorika semacam itu bisa menjadi sesuatu yang besar karena mempengaruhi pola pikir secara umum. Maka, dalam hal ini baik pembaca maupun penulis (atau seniman secara umum) perlu dengan sadar, dan dengan kepekaan lebih, untuk sebisa mungkin mengikis kecenderungan-kecenderungan yang melestarikan patriarki. Dari cerpen Bernard Batubara, kita bisa melihat bahwa bahkan pada karya sastra yang menyoroti isu jender pun seorang pengarang bisa terpeleset melakukan dosa jender.

(Ini tulisan dari tahun 2016 dan dimuat di majalah SULUK terbitan Dewan Kesenian Jawa Timur edisi 12 tahun 2016.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s