Sejarah Aib: Berziarah ke Awal Karir Borges

 

Sejarah Aib

Judul : Sejarah Aib (The Universal History of Infamy)
Penulis : Jorge Luis Borges
Penerjemah : Arif B. Prasetyo
Penyunting : Japhens Wisnudjati
Penerbit : Pustaka Sastra LkiS Yogyakarta
Cetakan : I, 2006
Tebal : xvii + 150 hal.
ISBN : 979-8451-54-6

Borges menyebut Sejarah Aib (versi Indonesia dari The Universal History of Infamy) sebagai “permainan seorang pemuda yang tak berani mengarang cerita sehingga asyik-asyik sendiri dengan memalsukan dan menyelewengkan kisah-kisah karya orang lain.” Memang, ketika menulis buku ini, Borges belumlah seterkenal sekarang. Kala itu dia “baru” menulis puisi-puisi epik tentang sejarah Argentina.

Sejarah Aib adalah debut pertamanya di dunia fiksi. Yang dimaksud fiksi di sini adalah fiksi Borgesian, yaitu fiksi anti-plot, bersikap sok ilmiah, kental dengan mitologi dari seluruh penjuru dunia, dan banyak menggunakan anasir filsafat untuk memperkuat argumentasinya. Benar-benar jauh dari fiksi yang kita baca sehari-hari di cerbung dan cerpen koran.

Buku ini terdiri dari enambelas tulisan. Tujuh cerita pertama adalah semacam obituari tentang orang-orang yang sebelumnya pernah dibahas di buku-buku lain karangan penulis-penulis lain. Ada tulisan yang berkisah tentang Lazarus Morell sang penjual budak, Tom Castro sang penyaru, Monk Eastman sang gangster di New York, Billy the Kid sang penjahat remaja, dan lain-lain. Jika sempat membuka-buka ensiklopedia, kita akan tahu bahwa tokoh-tokoh tersebut memang pernah ada dalam sejarah.

Dalam Sejarah Aib, Borges menuliskan kembali tentang mereka dengan bersumberkan buku-buku tertentu. Khusus untuk kisah Lazarus Morell, dia menggunakan jasa Mark Twain, penulis yang dikenal banyak bercerita tentang kehidupan di pinggiran sungai Mississippi baik dalam bentuk fiksi (The Adventure of Tom Sawyer dan The Adventure of Huckleberry Finn) dan non fiksi (Life on the Mississippi). Dari buku Mark Twain yang disebutkan terakhir inilah Borges menulis kisah Lazarus Morell, si penjual budak yang bengis.

Dari buku Walter Noble Burns dan Frederick Watson dia menulis kisah si penjahat kecil bernama Billy the Kid. Di Indonesia, kita mengenal Billy the Kid lewat dua film Young Guns, yang musik latarnya digarap Jon Bon Jovi, dan serial Young Rider yang pernah ditayangkan di salah satu televisi swasta kita. Borges menceritakan kembali tokoh ini dengan bahasa dan imaji yang hidup dan membuat kita kenal semakin dekat dengan si penjahat remaja.

Salah satu keunikan cerita-cerita di buku ini adalah ia bercerita tentang seorang tokoh dengan gaya ilmiah sekaligus hidup. Hal ini tak lebih karena kemampuan Borges dalam meleburkan antara fakta, yang dia dapatkan dari buku, fiksi, yang dia olah dari hasil pembacaannya, dan sikap ilmiah yang mungkin dia maksudkan untuk membuat pembaca percaya keabsahan tulisannya itu. Bahkan, pembaca dia buat percaya pada bagian-bagian fiksi yang dia karang-karang sendiri.

Sekilas pasti kita teringat betapa banyaknya tokoh politik jaman orde baru menerbitkan biografi dengan sedikit banyak bumbu yang membuat mereka semakin menonjol sebagai seorang tokoh. Namun, tidak demikian halnya dengan Borges. Di dalam Sejarah Aib, Borges memberi bumbu di sana-sini agar aib si tokoh semakin menonjol dan karakternya semakin kuat. Nah, pada akhirnya pembaca akan mendapatkan sebuah fiksi yang sempurna. Memang, tidak semua kisah hidup manusia bisa begitu saja menjadi novel atau cerita pendek yang bagus—yang plot, latar, dan penokohannya kuat—dan di sinilah tugas Borges, memberi sentuhan di sana-sini sehingga kisah hidup itu bisa menjadi karya sastra, meskipun toh minim plot, latar dan penokohan yang kuat. Kelak, kita akan ketahui bahwa fiksi-fiksi Borges tidak memerlukan ketiga elemen itu untuk bisa disebut fiksi mutakhir.

Selain ketujuh kisah ambigu itu, ada juga sembilan tulisan lainnya.

Tulisan pertama setelah tujuh karya yang saya bahas pertama adalah karya Borges sendiri berjudul Lelaki Pojok Jalan. Sebenarnya, cerita ini tetap menjelaskan seorang tokoh, tapi bedanya tokoh ini adalah tokoh rekaan Borges sendiri. Tapi, Borges tetap konsisten dengan gaya bertutur seperti menceritakan tokoh-tokoh penyandang aib seperti Billy the Kid, Lazarus Morell, Tom Castro dan lain-lain.

Delapan cerita terakhir yang rata-rata pendek memiliki struktur dan gaya yang jauh berbeda dengan delapan cerita sebelumnya. Cerita-cerita di bagian ini digarap sedemikian rupa hingga bentuknya semakin menyerupai fiksi-fiksi Borges di kemudian hari. Beberapa tulisan –seperti Kembaran Muhammad dan Perihal Keeksakan Dalam Sains—memiliki bentuk lebih menyerupai artikel atau esai daripada sebuah tulisan fiksi. Di sini, alur yang bersifat aksi sama sekali tidak ada. Yang ada hanyalah kejutan di akhir tulisan karena adanya fakta mengejutkan yang baru tersibak. Beberapa tulisan seperti Kisah Dua Pemimpi, Penyihir Batal dan Kamar Patung terasa seperti sinopsis sebuah buku.

Kedua jenis gaya penceritaan ini tetap memiliki garis merah, yaitu sikap ilmiah. Sikap ilmiah dan kemampuan menggiring pembaca untuk mempercayai hal-hal palsu adalah keunggulan Borges yang nampak sangat bagus di karya-karyanya yang kelak terkumpul dalam buku Ficcioness—yang sebagian ceritanya, ditambah dengan beberapa cerita lain, pernah diterjemahkan Hasif Amini dan diterbitkan dengan judul Labirin Impian (LkiS).
Kembali ke Sejarah Aib, Borges sendiri menyatakan bahwa buku ini adalah sebuah hiburan ringan. Kita tidak perlu repot-repot membuka banyak buku untuk mengenal sejumlah orang “penting” karena Borges telah merelakan diri untuk merangkumnya bagi kita.

Kalaupun toh kita tidak kenal siapa yang Borges tulis dalam buku ini, tetap saja ada satu hal penting yang bisa ambil dari buku ini. Membaca buku ini bisa menjadi sebuah napak tilas ke tahap awal karir Borges sebagai penulis fiksi mutakhir yang hingga sekarang masih belum mendapatkan perlawanan yang sebanding dari penulis penerusnya, baik itu penggemar maupun pengkritiknya.

(Ini sebenarnya resensi lawas. Tapi, resensi yang satu ini bisa dibilang resensi yang punya arti tersendiri buat blogger Anda yang satu ini. Resensi ini ditulis pada tahun 2006, dan saya yakin tidak pernah sekali pun saya coba kirimkan ke media cetak. Saya malah mengirimkan resensi ini ke milis Apresiasi Sastra yang waktu itu sering mengadakan lomba menulis kecil-kecilan sesama anggota. Waktu itu, ya waktu itu, saya ikutkan resensi ini ke lomba Apresiasi Resensi dan menjadi resensi terbaik. Sebenarnya tidak terbaik-terbaik amat. Nilai resensi ini sama tingginya dengan resensi Damhuri Muhammad–ya, Damhuri Muhammad yang masyhur dan cerpen-cerpennya luar biasa itu. Saya dimenangkan hanya karena saya lebih dulu memposting. Hehehe… Sebenarnya saya sudah nyaris lupa dengan itu semua, tapi kemarin waktu menyalin resensi ini dari blog ini, saya jadi ingat sesuatu yang sudah berangsur hilang dari pikiran saya itu. Sementara begitu dulu ajang pamernya, selanjutnya silakan baca resensinya, dan semoga masih bisa nemu bukunya. Salaam.) 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s