Baru saja saya membaca postingan dari pak Patris, Dekan di tempat kerja saya, tentang alumnus yang pekerjaannya tidak begitu matching dengan pendidikannya. Postingan itu disampaikan dengan santai, tapi memiliki implikasi menukik curam. Karena saya sudah memutuskan terjun dan akan bertungkus lumus dalam dunia akademis, saya jadi terpanggil juga untuk berkomentar di sana. Dan, karena komentar saya agak panjang, jadi kayaknya pantes kalau saya jadikan postingan di sini juga:

Kalau menurut saya, Pak, kesenjangan antara keahlian yang dibutuhkan di lapangan pekerjaan dan pendidikan yang didapatkan dari jurusan sastra Inggris akan selalu ada. Alasannya adalah karena jurusan semacam sastra Inggris ini masih termasuk dalam wilayah liberal arts (termasuk juga mata kuliah matematika dan filsafat), atau bidang ilmu level mendasar yang mestinya wajib dimiliki setiap orang. Bidang-bidang semacam ini idealnya memang bersifat memperkuat kemampuan berpikir kritis dan lebih awas sekeliling. Saya mendapatkan kesan seperti itu dari pidato wisuda David Foster Wallace di Kenyon College. Bidang-bidang semacam ini berbeda dengan bidang-bidang yang menawarkan pelatihan keahlian teknis seperti Teknik atau Hukum.

Justru, kalau menurut esai lain yang ditulis mahasiswa dan menang lomba esai di New York Times (judulnya “Two Years are Better than Four”), keunggulan dari berkuliah dua tahun di community college (yang dalam konteks ini bisa kita samakan dengan kuliah di bidang liberal arts) adalah mahasiswa jadi mendapat berbagai pengalaman seperti misalnya leadership, interpersonal skill (yang seringkali diperoleh secara tidak sadar) dan mahasiswa jadi terpapar ke hal-hal yang umumnya tidak akan dia dapatkan kalau tidak kuliah, misalnya melihat pameran foto, pemutaran film independen, dan hal-hal yang seolah tidak ada manfaatnya scr langsung tapi juga memperluas wawasan dan kadang-kadang memaksa mereka berpikir tanpa harus mendapatkan hasil praktis. Hal-hal ini tidak bisa didapatkan dari paket 90-150 juta yang dicontohkan Pak Patris di atas.

Jadi, sedikit mengabaikan OBE, mungkin tugas kita para dosen di bidang sastra Inggris adalah lebih pada pendidikan humaniora yang membuat mahasiswa terbiasa berpikir, menelaah lebih dari yang kasat mata, dan selalu awas bahwa pasti sesuatu itu tidak seperti kelihatannya. Sebab, dari seluruh mahasiswa sastra Inggris di satu angkatan, yang akan melanjutkan kuliah sastra Inggris ke level selanjutnya, atau benar-benar kerja di bidang sastra Inggris (menjadi penerjemah, penulis, copywriter, dll) mungkin sangat sedikit. Dengan kata lain, dosen yg mengurusi sastra Inggris agak berbeda tugasnya dengan yg mengampu mata kuliah keahlian seperti PR dan Tourism.

Itu pandangan dari saya yang jadi dosen baru kemarin sore.

Sebagai bandingan, di Amerika, jurusan liberal arts ini terkenal sebagai jurusan yang lulusannya punya pilihan bidang pekerjaan paling luas, karena apa yang mereka pelajari di kampus bukanlah keahlian teknis yang mengerucut, tapi pondasi pola pikir yang melebar, yang di atasnya bisa dibangun banyak hal (dengan catatan, si lulusan memang ada kemauan untuk itu). Dari kampus saya terdahulu, lulusan liberal arts ini ada yang kerja mulai sebagai sekretaris/administrative special di gurita waralaba Walmart hingga kerja di kantor luar negerinya Department of State, dari jurnalis sampai liaison misionaris. Tapi sangat banyak juga memang yang akhirnya perlu kuliah lanjut entah itu untuk jadi dosen maupun jadi spesialis bahasa. Bahkan juga banyak yg lanjut ke Law School dan akhirnya jadi pengacara. 🙂

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s