(Semua urusan itu punya seninya sendiri-sendiri, termasuk urusan nulis resensi untuk media. Beberapa saat ini saya lagi mencoba lagi nulis-nulis resensi untuk dikirim ke media. Sulit rasanya menulis resensi tentang buku yang saya sukai tetapi dibatasi hanya sampai 600 atau 700 kata. Sejauh ini belum ada yang masuk, tapi tentu itu tak jadi soal, namanya juga belajar lagi. Beberapa minggu yang lalu, saya meresensi sebuah buku yang menarik. Draf-nya panjang, tapi kemudian saya ambil sedikit demi sedikit sampai pas. Hasilnya jadi agak maksa dan seperti ini. Masalahnya, tak lama setelah saya kirimkan, seorang kawan mengabari bahwa koran yang saya kirimi resensi ini baru saja menerbitkan resensi atas buku ini. Jadi ya, hampir seratus persen resensi saya tidak akan dimuat. Maka, biarlah ini jadi postingan di sini, sebuah catatan hasil baca buku Katrin Bandel Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial.)

KatrinKajian Gender, yang di Indonesia seringkali disamakan dengan kajian perempuan, adalah kajian yang penuh nuansa. Kajian ini tidak sesimpel kesan yang ditimbulkannya, yaitu sebagai kajian yang memperjuangkan kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan.

Meski pandangan tersebut tidak salah, tapi banyak aspek dari kajian ini yang perlu dipertimbangkan. Terutama bila kajian ini dilakukan di “Dunia Ketiga” atau negara-negara bekas jajahan. Salah-salah, bukannya memperjuangkan persamaan hak, kita malah terjebak mengamini hegemoni bahwa Barat lebih unggul daripada Timur. Itulah yang disuarakan Katrin Bandel dengan tegas dan berulang-ulang dalam Kajian Gender dalam Konteks Pascakolonial.

Dalam buku Kajian Gender ini, pembaca akan mendapat esei-esei lepas Katrin yang membahas mulai dari wacara HIV/AIDS hingga ulasan atas buku memoar karya seorang perempuan Amerika Indonesia. Esei-esei ini dipersatukan oleh beberapa konsep kunci kajian gender yang digabungkan dengan kajian pascakolonial.

Saat mulai membaca buku ini, pembaca mungkin akan melontarkan pertanyaan-pertanyaan apa itu “kajian gender dengan konteks pascakolonial?” atau “mengapa harus ada embel-embel konteks pascakolonial di situ?” atau “masih kurangkah kajian gender saja?”

Begitu memasuki esei pertama, kita akan tahu bahwa “kajian gender” yang perkembangan awalnya di negara-negara maju di Eropa dan Amerika Serikat itu tidak bisa begitu saja diterapkan di konteks Indonesia.

Katrin dengan sabar menjelaskan kompleksitas konsep-konsep gender yang berkaitan erat dengan budaya asalnya. Kaitan dengan budaya asal ini menyebabkan terjadinya ketimpangan asal konsep-konsep itu diterapkan di negara lain, misalnya Indonesia, yang memiliki konteks sosial dan latar belakang sejarah berbeda.

Bahkan, ada kalanya penerapan konsep yang berkembang di budaya asing ke dalam konteks Indonesia itu berpotensi memojokkan Indonesia sendiri. Satu konsep yang menentang dominasi pria di Barat, misalnya, saat diterapkan di Indonesia bisa menjadikan Indonesia tampak seperti negara yang kolot, sehingga perlu “diberadabkan” (oleh pemikiran atau campur tangan Barat). Di sinilah kritik gender memasuki wacana kolonial. Kompleksitas gender di konteks pascakolonial inilah yang menjadikan buku Katrin Bandel ini agak berbeda dengan kajian-kajian gender di Indonesia dewasa ini. Dalam esei-esei Katrin Bandel di dalam buku ini, konsep-konsep pentingnya bukan hanya konsep-konsep gender sebagai konstruksi sosial yang lazim, tapi juga gender sebagai medan wacana kolonial.

Di situlah dilema kajian gender di Indonesia, yang dalam bahasa Katrin sendiri, “Di satu sisi, dalam masyarakat Indonesia, seperti di mana pun di dunia, ketidakadilan gender sangat lazim terjadi. Ketidakadilan gender atas nama agama, atau dengan mnggunakan argumen agma, pun bukan hal yang langka. Itu tentu relevan dikritik. Namun di sisi lain, ketitik semacam itu mudah dijadikan bagian dari wacana kolonial [yaitu kecenderungan pengetahuan dan pemikiran yang memandang bangsa Timur atau bekas jajahan, lebih rendah dari bangsa barat]” (Bandel 2). Kehatian-hatian meniti dilema semacam ini terasa terus memandau Katrin pada setiap topik yang dia bahas dalam esei-esei di buku ini.

Di lingkup internasional, posisi kritis yang diambil Katrin Bandel ini bisa dikelompokkan ke Feminisme Gelombang Ketiga, yang banyak digawangi para pemikir dari kalangan imigran di Amerika Serikat atau penulis yang berasal dari Asia Selatan. Posisi ini ditandai dengan sikap kritis ke berbagai penjuru: dalam urusan gender, seorang analis harus awas dan mengkritisi ketidaksetaraan dalam relasi gender dalam sebuah masyarakat, namun si pemikir juga harus tetap waspada agar kritiknya itu tidak kemudian digunakan untuk menjustifikasi bahwa masyarakat di masyarakat tersebut masih kurang maju, tidak semaju bangsa-bangsa barat.

Yang terakhir inilah yang, sebagaimana dikutipkan di atas, disebut “wacana kolonial,” satu lagi kata kunci yang muncul di setiap esei Katrin. Wacana kolonial adalah kumpulan pengetahuan dan kecenderungan berpikir yang pada ujungnya mengafirmasi gagasan bahwa bangsa-bangsa Barat harusnya dijadikan teladan oleh bangsa-bangsa Timur. Perwujudannya bisa berupa kecenderungan untuk meniru budaya Barat, menggunakan standar penilaian dari Barat untuk mengkritisi masalah Timur, atau sederhananya menganggap hal-hal tertentu yang dikonsepsikan oleh masyarakat Barat sebagai sesuatu yang universal sehingga bisa diterapkan di Timur.

Katrin, serta para pendahulu yang memperkuat dasar-dasar pemikirannya, mengkritisi “wacana kolonial” tersebut. Posisi ini bagi Katrin masih sangat relevan, dan bahkan signifikan, karena meski kolonialisme telah berakhir secara formal di Indonesia, ia masih bertahan dalam wujud yang baru, yaitu neokolonialisme.

Perpaduan antara sikap kritis wacana gender dan pascakolonial ini terwujud dalam berbagai hal, mulai dari penelusuran Katrin tentang konsepsi gender dan seksualitas dari zaman ke zaman, wacana kampanye penanggulangan HIV/AIDS, kajian kritis atas novel kontemporer, renungan atas isu LGBT dewasa ini, memoar orang Indonesia yang menjadi warga Amerika, hingga persoalan keagamaan terkait pengalaman konversinya menjadi seorang Muslimah.

Dengan buku ini, Katrin menyumbangkan suara yang mengajak merenungkan isu gender di masyarakat kita sambil tetap waspada akan godaan wacana kolonial yang terkadang seperti tokek hitam di tembok gelap.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s