Semoga tidak terkesan berlebihan bila saya berulangkali menuliskan tentang pemandangan dan pengalaman yang  membentuk diri saya yang saya dapatkan dari pekerjaan sambilan yang saya jalani selama lima musim panas di Fayetteville, Arkansas.

Kali ini, saya ingin ceritakan satu hal paling berarti yang mungkin belum pernah saya tuliskan secara memadai: pertemuan rutin dengan penyandang tunagrahita dewasa (atau istilah terjemahan mutakhirnya “orang-orang dewasa yang memiliki disabilitas kejiwaan”) di sebuah lembaga bernama Life Styles, Inc.

Sebelumnya, perlu saya ceritakan tentang Life Styles ini. Seperti bisa Anda dapatkan di situs ini, lembaga ini pada intinya memberikan pelayanan kepada orang dewasa (di atas 18 tahun) penyandang tunagrahita. Di lembaga ini, ada berbagai pelatihan dan kegiatan perkumpulan bagi para peserta, khususnya kegiatan yang berbau seni dan pengembangan ketrampilan sosial. Ada juga fasilitas apartemen bagi para peserta. Pada intinya, para peserta melakukan kegiatan yang bisa membuat mereka semakin siap menjalani hidup secara mandiri, mengatasi segala keterbatasan mereka. Ada seorang peserta yang saya tahu akhirnya berhasil mendapatkan pekerjaan di sebuah restoran McD sebagai tukang cuci piring. Dan ada juga peserta yang juga bekerja di perusahaan pencacah kertas (paper shredding) di bawah Life Styles. Untuk lebih jelasnya mengenai organisasi ini, saya persilakan Anda melihat situs ini.

Selama satu musim panas, saya bisa ke Life Styles sampai 3 kali, tergantung banyaknya program yang kegiatan sosial, kultural, dan wisatanya saya pegang. Sekadar mengingatkan, pekerjaan saya di Spring International Language Center adalah sebagai asisten koordinator kegiatan sosial, kultural, dan wisata untuk peserta program-program khusus–dan program khusus yang dimaksud adalah program pelatihan bahasa Inggris dan/atau kepemimpinan yang diikuti orang-orang dari seluruh dunia yang didanai oleh Kementrian Luar Negeri AS atau negara-negara tertentu. Biasanya ada 2-4 program khusus selama musim panas, dan setidaknya 3 di antara program itu juga melibatkan kunjungan ke Life Styles, untuk menunjukkan tentang sebuah lembaga pelayanan sosial kebanggaan kota Fayetteville.

Biasanya, kunjungan ke sana dilakukan pada siang hari, sekitar pukul 1 siang. Saya ingat suatu kali kami harus menjadwalkan ke sana pada hari Jumat dan saya harus melewatkan sholat jamaah Jumat karena tidak ada lagi orang yang bisa mengantarkan ke sana dan saya sendiri yang harus menyetir–saya ingat, waktu itu akhirnya saya sholat duhur sendiri di teras bangunan ketika angin sangat kencang dan sajadah tipis saya berkibar-kibar dan harus dibebani batu bata di empat sudut. Saya biasanya membawa 15-25-an peserta program khusus ke tempat ini (dengan mengendarai dua van raksasa).

Kami disambut para pengelola kegiatan seni di gedung Life Style yang terkesan artsy. Gedung ini merupakan hasil wakaf dari pasangan Jim dan Nancy Blair (Jim adalah salah satu pengacara terkemuka dan sukses di kawasan Fayetteville dan sekitarnya dan banyak mendermakan duitnya untuk proyek-proyek sosial, termasuk juga pembangunan perpustakaan kota Fayetteville). Di lobi, kami diberi informasi mengenai Life Styles dan kegiatan-kegiatan yang ditawarkannya (seperti paragraf kedua postingan ini).

Setelah satu dua pertanyaan dari para peserta program khusus yang kebanyakan takjub dengan model kegiatan Life Styles, kami dibimbing sedikit masuk ke gedung, yaitu di galeri pamer. Di galeri pamer ini kami bisa melihat hasil karya rupa (lukisan, patung, seni instalasi, dll) karya para peserta Life Styles. Karya-karya seni dari penyandang tunagrahita ini juga dan dijual. Ada beberapa lukisan yang bahkan dijadikan kartu pos, yang juga dijual di lobi. Hasil penjualan karya-karya seni ini kembali ke seniman dan Life Styles. Ada terlihat konsistensi munculnya obyek-obyek tertentu pada karya-karya tertentu. Ada karya yang merupakan montase wajah-wajah dari berbagai sumber yang terkesan sangat misterius. Ada karya-karya yang sangat jelas menceritakan tema-tema tertentu.

Nah, setelah puas melihat-lihat dan berbincang dengan para pengelola di lobi dan galeri, kami pun masuk ke workshop, atau dapur karya. Di sana terdapat sebuah meja besar gabungan dari beberapa meja panjang. Dan di sekelilingnya terdapat para peserta Life Style. Mereka tampak senang dan seperti sudah menunggu kehadiran kami. Beberapa langsung mendekat dan menjabat tangan, dan beberapa tetap menunduk di kursi besi mereka. Para pengelola mempersilakan kami semua duduk berbaur dan memberi kami semua stiker putih untuk menuliskan nama kami. Ruangan terlihat seperti lazimnya sebuah workshop, ada kayu-kayu berserakan di sana-sini. Ada patung setengah jadi di ujung ruangan. Ada patung berbaju melambai-lambai di satu sudut atap, dan sebagainya. Terkadang ada setumpuk majalah bekas di tengah meja, dan terkadang ada juga lilin malam (play dough) di sana, tergantung apa yang akan kita lakukan pada pertemuan itu. Kami dianjurkan duduk berbaur, dan nantinya bagian dari kegiatan kami adalah interaksi dan saling membantu dan bercerita selama acara.

Selanjutnya pengelola mempersilakan kami memperkenalkan diri kami satu per satu. Para peserta Life Styles yang kebanyakan berasal dari Fayetteville atau desa-desa sekitar Fayetteville berkenalan dengan para peserta program khusus yang berasal dari berbagai penjuru dunia, mulai dari sebuah kota Siberia di tepi Danau Baikal di Rusia sana sampai sebuah desa di Senegal. Bahasa Inggris dengan citarasa global berbaur dengan bahasa Inggris kental Arkansas. Ada kalanya, para peserta Life Styles harus meminta para peserta program khusus mengulangi perkenalan mereka karena kurang menangkap jelas, dan begitu pula sebaliknya. Yang selalu terjadi adalah kami tertawa-tawa menikmati pertemuan tak biasa itu.

Setelah semua sudah saling memperkenalkan diri dan bahkan ada yang bisa memanggil nama depan, pengelola (yang merupakan guru seni) memberi instruksi tentang apa yang akan kita lakukan sore itu. Yang saya ingat pasti adalah membuat montase dari gambar-gambar di majalah bekas. Di situ saya berpasangan dengan alumnus program Life Styles yang masih sering ikut kegiatan. Selama membuat montase, dia bercerita bahwa baru-baru ini dia mendapat pekerjaan sebagai tukang cuci di McD dan dengna malu-malu dia ceritakan bahwa dia juga baru saja bertunangan. Tunangannya adalah seorang peserta Life Styles yang  duduk di seberang, yang melambaikan tangannya ke saya dengan malu-malu juga saat tunangannya yang duduk di samping saya itu memanggilnya. Di saat yang lain, kami pernah membuat makanan-makanan mini dari lilin malam. Ketika itu, salah satu peserta program memaksa membuat anjing-anjing kecil–dia berulang kali cerita senang sekali menggambar anjing, dan mengabaikan tema acara itu, yaitu membuat makanan mini.

Biasanya, setelah program selesai, kami melanjutkan dengan berbincang-bincang sambil menunggu waktu pulang. Di satu musim panas, ketika salah satu rekan kerja saya sesama asisten program adalah seorang mahasiswi tingkat akhir, salah seorang peserta Life Styles berulang kali menghampirinya dan memberikan hasil karyanya, sebuah lukisan dengan nama rekan saya itu. Rekan saya ini dengan agak rikuh menerimanya. Di saat yang lain, seorang peserta program khusus, seorang Arab dari Haifa, Israel, yang merupakan seorang komponis klasik dan pemain buzuq (semacam gitar klasik asal Lebanon), memainkan buzuq-nya dan videonya saya unggah di sini. Sesudahnya, kami saling berpamitan dan pulang dengan membawan kesan bermacam-macam tentang pertemuan itu.

Beberapa kali, dalam perjalanan pulang dari Life Styles, peserta program khusus menyampaikan ketakjuban mereka dengan pertemuan tersebut. Banyak di antara mereka yang baru sekali itu berhubungan dengan penyandang tunagrahita dengan santai dan bercakap-cakap santai. Kebanyakan orang–di Amerika maupun di mana saja–memandang penyandang disabilitas mental sebagai orang yang berbeda dengan orang-orang yang mereka temui sehari-hari di tempat kerja. Tapi, pertemuan di Life Styles membuat mereka sadar bahwa mungkin diperlukan hubungan personal yang erat dan natural dengan penyandang tunagrahita untuk lebih menghargai mereka lebih dari sekadar label mereka sebagai penyandang tunagrahita.

Ah, kenapa ada kesan berbeda ketika  saya menulis “mereka”? Semoga saja kata “mereka” ini tidak saya pakai untuk membedakan dalam konteks “mereka vs kita.” Semoga saja saya sudah mulai belajar. Semoga saja “mereka” di sini tak lebih dari sekadar kata ganti yang pemakaiannya tidak bisa dihindari. Semoga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s