Membaca Sastra Indonesia di Indonesia (lagi!)

Sudah hampir lima bulan saya di Jawa Timur lagi setelah lima tahun absen. Saya bersyukur sudah menyempatkan baca-baca buku sastra Indonesia lagi, meskipun jumlahnya masih kurang dari harapan saya. Bagaimana pun, saya cukup bersyukur bisa membaca buku-buku itu, mengingat saya masih harus membaca ini itu yang lain dan kloyongan ke sana ke mari dan berganti sepeda motor ini dan itu.

Berikut buku-buku yang sempat saya baca. Masing-masing buku ini saya nikmati dan saya syukuri telah membacanya. Urusan penilaian biarlah jadi urusan saya pribadi (toh, saya juga masih belum benar-benar yakin bisa menghakimi buku dengan bijak). Yang penting, saya membacanya dan tidak menyesali menghabiskan waktu saya melakukannya.

  1. Rumah Kopi Singa Tertawa oleh Yusi Avianto Pareanom (membaca yang kesekian kalinya, tapi tetap menikmatinya :D)
  2. Avontur (antologi puisi) oleh Ragil Suprayitno
  3. Surat untuk Ayah oleh Franz Kafka dan diterjemahkan oleh Sigit Susanto
  4. Arung Cinta oleh Djoko Saryono
  5. Tafsir Kenthir Leo Kristi oleh Djoko Saryono
  6. Surat dari Praha oleh Yusri Fajar
  7. Metafora Padma oleh Bernard Batubara
  8. Kiat Sukses Hancur Lebur oleh Martin Suryajaya (sangat membahagiakan dan memantik hiperaktivitas penafsiran)
  9. Anak-anak Masa Lalu oleh Damhuri Muhammad
  10. Tewasnya Gagak Hitam oleh Sidik Nugroho
  11. Moemie, Gadis Berusia Seratus Tahun oleh Marion Bloem
  12. Playon oleh F. Aziz Manna
  13. Usaha Membunuh Sepi oleh Felix K. Nesi
  14. Neraka di Warung Kopi oleh Sidik Nugroho

Masih ada beberapa buku lain yang juga saya baca, tapi karena tidak saya baca untuk pertama kalinya dan tidak saya baca penuh, maka sepertinya tidak perlu saya sebutkan di sini.

Semoga saja di tahun yang akan datang saya bisa membaca lebih banyak dan menuliskan lebih banya (seperti yang selalu saya janjikan).

Dan, tentu saja, saya berharap 2017 menjadi tahun yang tepat untuk menyelesaikan sebuah tulisan panjang ilmiah (kerling-kerling!) dan menyelesaikan cerpen-cerpen yang drafnya sudah saya buat selama lima bulan terakhir. Semoga. Semoga. Eh, kok tanpa sadar saya bikin resolusi tahun baru? Ya, sudahlah, karena sudah keceplosan, saya berharap Anda semua meng-amini, meskipun tidak me-like dan nge-share.

Salaam…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s