(Ini tulisan singkat yang akan terus diedit begitu ada kesempatan.)

Sepertinya saya sudah melanggar janji saya untuk selalu memperbarui blog ini setiap kali habis membaca buku. Apalah daya, kadang-kadang hasrat untuk membaca itu lebih gampang dituruti daripada tuntutan untuk blogging.* Tapi, biar hasil baca itu tidak berlalu bersama angin, saya akan rekap saja di sini, biar pun singkat, yang penting ada.

Salah satu buku yang saya baca beberapa waktu yang lalu tapi tidak sempat saya blogkan adalah kumpulan cerpen Damhuri Muhammad Anak-anak Masa Lalu. Buku ini terbit tahun 2015, dan saya memutuskan untuk membeli serta membacanya karena memang saya dulu suka membaca Damhuri Muhammad di Kompas atau Jawa Pos–dan sekarang saya rindu membaca tulisannya yang seingat saya dulu asyik. Damhuri Muhammad selalu asyik dan tegas, baik cerpen maupun esainya.

Apa yang saya dapatkan dari pembacaan atas buku Anak-anak Masa Lalu itu? Sangat banyak sebenarnya, dan sangat perlu dituliskan secara runtut untuk dokumen pribadi, untuk mencatat potensi tulisan serius di masa depan. Tapi, karena tidak memungkinkan untuk melakukan hal tersebut pada saat ini, tapi saya tidak ingin lupa, dan siapa tahu Anda juga akan bisa melanjutkannya, maka saya berikan saja satu catatan saya di sini: Dalam buku Anak-anak Masa Lalu, ada dilema terkait hubungan antara udik dan kota, tradisional dan modern.

Di satu sisi, ada beberapa suara dalam cerpen Damhuri yang menyoroti dampak negatif dari persentuhan orang desa dengan kota, seperti misalnya dalam cerpen “Rumah Amplop” yang mengisahkan bagaimana keinginan untuk menjadi modern dan kaya dan lain-lain membuat orang menjauhi akarnya. Atau, contoh lainnya adalah pada cerpen “Tembiluk,” yang mengisahkan seekor siluman anjing yang dimanfaatkan oleh para pembesar negeri, yang tentu saja tinggal di kota.

Di sisi lain, kita juga mendapatkan kesan adanya resistensi terhadap cara pandang tradisional. Ada cerita-cerita di mana yang tradisional disoroti dan ditunjukkan dampak negatifnya. Lihatlah misalnya pada cerpen yang berjudul “Dua Rahasia, Dua Kematian,” di mana hubungan asmara antara dua tokohnya yang dilarang oleh orang tua. Kedua anak muda ini tidak ada masalah dengan hubungan mereka, tapi orang tua mereka melarang karena satu lain hal.

Dilema di atas menurut saya bisa membawa kita ke beberapa respons. Yang pertama, dan mungkin semacam respons refleks kita atas sebuah inkonsistensi, adalah menuduh Damhuri Muhammad sebagai orang yang tidak bisa memutuskan mana yang harus dia bela, desa atau kota. Tapi ada juga respons lain, respons kedua: Jangan-jangan, saya saja yang terlalu menyederhanakan masalah, meminta penulisnya menentukan sikap antara desa dan kota. Mungkin saja Damhuri sadar bahwa adalah yang harus dipertahankan dari desa, dan ada pula yang harus dipertanyakan dari sana. Bisa jadi di sanalah tema yang memang lebih berpotensi digali. Dengan kata lain, bisa jadi respons refleks saya di atas adalah kesalahan fokus karena terlalu ingin menemukan yang memang saya cari, padahal semestinya kita harus membiarkan apa yang kita investigasi membuka dirinya sendiri**.

Bisa jadi, inti dari cerpen-cerpen Damhuri yang sering disebut-sebut memiliki “bumbu lokalitas”*** yang kental ini justru pada upayanya menggarap konflik-konflik yang terjadi antara yang udik dan yang kota. Kalau memang begitu, berarti tidak jadi soal bahwasanya Damhuri seperti bersikap mendua dalam memandang hubungan antara kampung dan kota. Yang lebih ditekankan, sehingga lebih urgen untuk disoroti adalah adanya kepentingan Damhuri untuk membahas dinamika udik dan kota ini.

Begitulah, untuk menyimpulkan postingan ini: bisa jadi memang ada dilema dalam cara Damhuri (melalui cerpen-cerpennya) memandang hubungan antara desa dan kota; tapi bisa jadi yang ada perlunya membahas tarik ulur antara desa dan kota. Hal pertama bisa dibilang lebih simplistik dan mengarahkan pada satu jawaban yang kurang lebih bisa ditebak. Hal kedua ini menurut saya berpotensi untuk membuka banyak hal dan mungkin bisa membawa kita ke pertanyaan-pertanyaan yang lebih menarik.

* mungkin karena itu Terry Eagleton pernah bilang, di pengantar salah satu dari seombyok bukunya, bahwa membaca itu pekerjaan yang sangat gampang, “Kita tinggal buka buku, baca, dan jangan berhenti sebelum selesai.”🙂

** untuk urusan ini, saya selalu ingat Fox Mulder di serial “The X-Files”. Ketika sedang menginvestigasi kasus, kita bisa melihat Mulder sibuk membongkar-bongkar laci atau memeriksa setumpuk arsip. Saat mitranya, Dana Scully, atau orang lain bertanya, “Kamu cari apa, Mulder?” dia menjawab “Nggak tahu. Nanti pasti tahu kalau ketemu.”

*** padahal, menurut saya lebih tepat kalau kita bilang bahwa cerpen-cerpen Damhuri ini “lokalitas dengan sedikit taburan cerpen”😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s