Pernahkah Anda mencoba membaca buku motivasi atau mendengar ceramah motivasi? Saya tentu tidak tahu jawaban Anda, dan bisa jadi sebagian dari Anda bahkan malu mengakuinya kalau pun sampai sempat ketemu saya. Daripada repot, biarkan saya jawab sendiri pertanyaan itu: Ya, saya pernah mencoba membaca (sampai satu buku!) dan menonton ceramah motivasi (tidak sampai satu episode!).

Kalau Anda juga pernah, pernahkah Anda merasa bahwa yang dikatakan oleh Bapak/Ibu* motivator sebenarnya pernah Anda dengar entah? Apakah benar semua itu sesuatu yang nyaris klise, dan para motivator menjadikannya berfaedah? Saya pribadi merasakan itu. Ya, semuanya seperti hal klise yang disegarkan kembali oleh ucapan para motivator itu dengan cerita-cerita yang tepat dan konteks yang mengena.

Saya cukup yakin, sebenarnya itulah yang terjadi: para motivator menggunakan ajaran-ajaran yang mungkin mereka tahu sejak lama (dari adat-istiadat, dari ajaran agama, dan dari yang lain-lain) dan mereka kaitkan dengan konteks hari ini.

Dari situlah, saya jadi terpikir bahwa mungkin saja menjamurnya motivator di zaman kontemporer ini sebenarnya bukan disebabkan oleh kurangnya pengetahuan atau kebijaksanaan kita. Mungkin masalahnya adalah kita yang semakin kurang meluangkan waktu untuk “menemui” atau merenungkan kembali apa-apa yang sudah pernah diajarkan kepada kita dari TK sampai SMA, sampai kuliah, sampai pasca-kuliah, sampai macem-macem. Mungkin kita menganggap banyak dari ajaran yang kita terima itu sebagai klise yang ada di sekitar kita. Kita mungkin tidak sempat merenungkan ajaran-ajaran orangtua kita yang sebenarnya bijaksana. Mungkin, terlalu seringnya muncul ajaran-ajaran itu menjadikannya kehilangan makna.

Dengan semakin malasnya kita menghadapi segala ajaran itu dan semakin tidak sadarnya kita akan arti penting ajaran-ajaran itu, kita jadi terkaget-kaget saat ada orang yang datang membawa sari hikmah. Karena semakin kosongnya kita dari perenungan, maka ketika ada orang yang datang dan membawakan sebuah kebijaksanaan (yang sebenarnya adalah hasil perenungan yang menghubungkan ajaran dengan konteks zaman), kita akan takjub, dan membaginya di Facebook dan twitter.

Padahal, kata orang dulu “ojo dumeh, ojo gumunan” atau “jangan sombong dan jangan mudah takjub.” Dalam nasihat itu, kita diajarkan untuk tidak terlalu bersombong saat kita mampu atau memiliki kelebihan. Mungkin saja masih ada yang salah dengan kita. Juga, kita tidak diajarkan untuk terlalu mudah takjub. Mungkin saja sesuatu yang membuat kita takjub itu memiliki kesalahan fundamental.

Jadi, hemat saya, ….

Ah! Saya ingin sekali membuat simpulan, yang mungkin bisa Anda jadikan nasihat. Tapi saya agak takut, jangan-jangan Anda membaca ini sebagai cara saya memberi motivasi. Bisa jadi juga Anda merasa pernah mendengar ajakan saya itu (maksud saya ajakan yang akhirnya harus saya tunda itu) dan menganggap ini klise. Jadi ya, begitulah…

 

* menurut saya, seperti banyak bidang “pengajaran publik” lainnya, bidang motivasi ini masih didominasi laki-laki…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s