Sebenarnya ini kedua kalinya dia kembali ke bagian pohon tumbang yang ini. Tadi, ketika baru tiba di kawasan hutan ini, dia langsung duduk di atas dahan di pohon tumbang ini untuk sekedar bersantai mencari lokasi yang pas untuk memacak tendanya. Tapi dia hanya sebentar dan langsung pindah dari sana ketika melihat seekor ular hitam. Dia mencoba menjauh dari pohon itu.

Kalau Broken Arrow ada di sana, pasti dia akan menjadikan episode itu sebuah kesempatan untuk bercerita panjang lebar tentang ciri-ciri ular dan bagaimana mengenali ular yang beracun dari yang tidak beracun. Misdi kebetulan mengenali ular hitam itu sebagai ular King Snake, yang sifatnya justru berkebalikan dengan kesan yang ditimbulkan oleh namanya. King Snake tidak beracun dan cenderung tidak menyerang. Dia membayangkan Broken Arrow bilang: “Pendeknya, Miss, kalau kepala ular itu berbentuk segitiga, sangat segitiga, biasanya dia beracun. Kalau bagian kepalanya lurus seperti tongkat buntung, biasanya itu tidak berbisa. Dan King Snake adalah ular yang bagus untuk dikenalkan kepada anak balita. Meskipun warnanya yang hitam polos membuat dia kurang populer. Anak-anak balita sekarang suka ular kuning.”

Misdi sendiri justru begidik ketika melihat King Snake tadi karena dia tiba-tiba membayangkan ular berkepala segitiga. Gila, pikirnya, bayangan memang bisa seganas itu, menghentikanmu dari segala hal. Setelah memotong-motong cabang pohon itu dengan ukuran yang cukup besar, Misdi segera kembali ke spot perapiannya. Dia perhatikan sekeliling, untuk memastikan bahwa tidak ular di situ.

Sesuai ajaran Broken Arrow yang masih dia ingat, Misdi membakar serabut akar dan kertas transkrip yang ada di bagian atas tinder. Sebentar saja api sudah menjalar dari serabut akar ke ranting-ranting kecil (“Ini istilahnya ‘kindling,’ Miss,” kata Broken Arrow. “Sebagai orang yang belajar bahasa Inggris, ini perlu kamu ingat-ingat.”). Tentu hidup lebih mudah di jaman korek api ini. Tidak ada lagi cerita pribumi yang membuat api dengan memelintir kayu dengan busur sampai terpercik api. Tetap saja, dia tidak yakin bisa membuat api unggun dengan cara yang efektif begini tanpa pernah kenal Broken Arrow.

Dia bukan pribumi totok. Bahkan nama akta lahirnya pun bukan Broken Arrow, dan baru ketika lulus SMA dia memutuskan mengganti namanya menjadi Broken Arrow. Dan ketika mulai kuliah jurusan antropologi, dia menyempatkan secara sambilan belajar lebih serius tentang suku Cherokee. Dia merasa itu harus dia lakukan untuk merayakan darah Cherokee yang mengalir di tubuhnya. Dia sudah tanpa sadar sedari kecil mempelajari ilmu Eropa, dan untuk mengimbanginya, dia mencurahkan sisa usianya untuk belajar tentang ilmu Cherokee. Dia tidak pernah benar-benar saleh sebagai seorang yang terlahir Kristen, dan perkenalan awalnya dengan spiritualitas Cherokee pun pada awalnya adalah sebagai pengetahuan. Tapi pada akhirnya dia bisa menerima bahwa agama Cherokee bisa menerima apa saja dan bahkan tanpa menggunakan apa-apa.

Misdi sempat merasa bersalah ketika tanpa sengaja menceritakan tentang klaim beberapa orang bahwa orang Cherokee memeluk Islam karena penjelajah dari Afrika. Tentu klaim semacam ini tidak didukung bukti-bukti sejarah sama sekali. Tapi fakta semacam itu tidak akan pernah bisa menghentikan orang mempercayainya. Yang membuat Misdi merasa bersalah adalah Broken Arrow jadi sempat seperti menerima klaim tersebut. Dia sampai bilang “mungkin juga.” Dengan serius. Seperti biasanya.

Misdi langsung meraba-raba bagian saku celananya untuk mencari handphone-nya. Mungkin karena kebiasaan saja. Dia tahu tidak ada sinyal yang sampai ke kawasan ini, tapi tetap saja itu tidak mengurungkan niatnya membuka handphonenya. Dia sempat panik ketika dia tidak temukan HP itu di sakunya. Dia segera ingat saku atas tas ranselnya. Dia temukan HP itu di sana. Tapi tetap saja ketika sudah dia aktifkan layarnya, dia tidak tahu harus melakukan apa. Terkutuk lah HP yang melakukan sesuatu tanpa alasan. Karena sudah terlanjur menyalakan HP, dia pun mengaktifkan fitur GPS dan memastikan posisinya di kawasan hutan lindung itu.

Seketika dia teringat kata guru mengajinya dulu tentang membaca Surat Taubah pada saat ulang tahun. Dia buka app Al-Quran dan mencoba membaca arti surat Taubah. Dia selalu punya app Al-Quran meskipun sebenarnya sangat jarang dia buka, kecuali saat sedang resah dan ingin merasakan kedamaian yang ditawarkan oleh suara qiraah. Setelah membaca terjemahan lima ayat dari sana, dia memasukkan kembali HPnya. Tiba-tiba dia teringat soal memasang menggantung makanannya. Sebenarnya dia agak lapar, tapi dia agak malas kalau harus menjauh sedikit hanya untuk makan. “Pastikan, kalau kamu kemping sendiri ke hutan di Arkansas sini dan tidak membawa anjing–pastikan jangan makan di dekat-dekat tendamu. Banyak beruang yang akan bisa mengendus bau remah-remah rotimu. Mereka mungkin tidak akan mau membunuhmu. Tapi apa kamu tidak takut ketemu hewan seukuran anak SMP yang punya kuku seperti itu?”

Terlalu banyak ketakutan yang mengepungnya di tengah hutan seperti ini. Tapi Misdi percaya setiap orang harus melewati rasa takut yang luar biasa, setidaknya sekali dalam hidupnya. Ah, mungkin saja ini salah satu obsesi yang ditanamkan film-film sejenis Into the Wild ke sebidang otak ciutnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s