Seperti Anda tahu dalam postingan-postingan di blog ini, saya suka (mencoba) membetulkan barang-barang elektronik secara amatiran. Seiring waktu, bertambahnya pengalaman, dan meningkatnya jam terbang saya dalam hal servis elektronika ini ada beberapa pelajaran hidup yang saya petik dari kegiatan ekstrakurikuler ini.

Satu pelajaran yang saya petik (atau “unduh” atau “download”) adalah bahwasanya kita harus selalu siap menerima kemungkinan adanya elemen dalam suatu permasalahan yang kita lewatkan, dan akibatnya kita pun harus siap mengubah hipotesa kita berdasarkan kenyataan yang ada dan telah kita lewatkan tadi.

Sebagai disclaimer: bekal pengetahuan kelistrikan dan elekstronika saya terbilang minimal. Seperti kebanyakan Anda di luar sana, pendidikan formal saya di bidang ini hanya berasal dari pelajaran Ketrampilan Elektronika Dasar di SMP dan Pelajaran Fisik di SMP dan SMA. Selebihnya, saya tertulari spirit ngoprek dari memperhatikan teman kuliah yang waktu itu pintar (dan sering dimintai tolong) memperbaiki komputer yang rusak. Plus, setelah merekahnya fajar Google dan YouTube, relatif semua pengetahuan saya soal komputer dan elektronika sederhana dari sana.

Kembali ke fokus, memperbaiki perkakas elektronika mengajarkan kepada saya bahwa: Seyakin apapun kita dengan hipotesa kita atas penyebab suatu masalah, selalu ada kemungkinan kita salah karena ada variabel dalam permasalahan yang lepas dari kita. Pertama karena kita seringkali tidak tahu semua elemen permasalahan. Kedua, mungkin juga karena keunikan masing-masing elemen yang tidak memungkinkannya untuk diketahui dan diketemukan di Google saat kita mencari cara membetulkan sebuah kerusakan.

Salah satu contoh yang bisa saya berikan ini adalah pengalaman memperbaiki tablet Google Nexus. Kalau Anda ada waktu senggang, silakan baca beberapa paragraf yang dicetak miring berikut, yang intinya adalah saya mengira baterei saya soak, terus menggantinya, dan baru kemudian saya ketahui bahwa yang bermasalah adalah charging port/micro USB port. Kalau tidak ada waktu, silakan langsung lompat ke bagian kebijaksanaan hidup yang saya cetak tebal di bawah sana.

Beberapa tahun yang lalu istri saya membeli tablet Google Nexus (selalu saja istri saya yang beli!). Setelah beberapa waktu, dia mendapati bahwa batereinya cepat habis. Pernah suatu kali, setelah di-charge semalam, baterei masih tetap kosong. Akhirnya saya mereka-reka apa penyebabnya. Beberapa hari sebelumnya saya meng-upgrade OS-nya dari Android 3.x ke 4.x. Mungkin upgrade ini penyebabnya. Saya google masalah itu, dan menemukan banyak kasus seperti itu: Android 4.x awal sangat boros baterei. Ditambah lagi, saya dan istri sudah sepakat kalau bateri tablet sudah soak.

Maka, solusi pertama adalah membeli baterei baru dan, selanjutnya, mendowngrade OS ke yang lebih stabil dan baru mengupgrade-nya lagi setelah ada perbaikan bug dari Google. Kami pesan baterei dari Amazon dan langsung pasang. Semuanya happy dan bahagia. Saya men-downgrade OS ke Android yg lama, tablet pun hidup ceria. Hanya semalam, dan besok paginya saat bangun, kami mendapati bahwa batereinya nyaris habis, padahal sudah dicharge beberapa jam. Di situlah saya memutuskan bahwa masalahnya bukan pada baterei, tetapi pada micro USB port yang menghubungkan antara kabel charger dengan baterei.

Saya periksa atas bawah luar dalam dan retrospektif, saya sadar bahwa istri saya suka men-charge tablet sambil tiduran sambil membaca apa gitu di sebuah website. Sepertinya kebiasaan buruk inilah yang membuat bentuk port jadi berubah dan ada sambungan renik yang patah, sehingga daya dari charger tidak tersampaikan secara amanah ke baterei. Saya pun beli micro USB port untuk Google Nexus (yang tersambung dengan jack headphone. Setelah datang, saya pun pasang itu port sekaligus pasang kembali baterei yang lama. Alhasil, baterei kembali terisi sempurna dan kami pun kembali bahagia. Aha, ini dia masalahnya.

Maka saya pun menghubungi penjual di Amazon dan mengatakan bahwa ternyata baterei saya tidak rusak dan saya ingin mengembalikan baterei yang sudah terlanjur saya beli karena memang tidak butuh itu. Dia oke. Kami happy. Hidup normal kembali. Setelahnya, saya jadi relatif tahu elemen-elemen sebuah tablet, hingga ketika tetangga sebelah saya mengeluhkan tabletnya yang pecah dan perlu diganti layarnya, saya jadi cukup percaya diri untuk membantunya: membongkar semua elemen tablet, mengganti layarnya, dan kemudian memasang kembali semua elemennya.

Balik ke fokus kita: pertama-tama saya begitu yakin menganggap bahwa masalahnya adalah baterei, sebuah asumsi hasil dari kecurigaan saya dan pencarian konfirmasi berdasarkan kecurigaan sederhana itu. Terbukti, kita bisa mudah mendapat konfirmasi atas syakwasangka kita, atas kecurigaan kita, tak peduli betapapun tidak akurat syakwasangka kita itu.

Yang tidak saya sadari adalah bahwasanya ada lebih dari satu elemen yang menghubungkan antara listrik dari colokan dinding ke baterei. Ada baterei, ada port antara kabel charger dengan baterei, atau kabel charger, dan ada charger. Bisa saja salah satu dari itu yang bermasalah. Saya cukup yakin bahwa kabel charger dan charger sendiri tidak bermasalah (mungkin karena saya juga menggunakan dua hal itu untuk HP saya). Dan saya melewatkan charging port (mungkin karena tanpa sadar saya menganggap dia terlalu sepele untuk menyebabkan masalah seperti ini).

Tapi, setelah semuanya selesai, setelah saya renung-renungkan, ternyata tampak lah bahwa tidak ada hal yang benar-benar sepele dalam persoalan ini, dan mungkin juga dalam persoalan yang lain. Hal-hal yang sekilas tampak sepele (dalam contoh ini hanya berupa micro USB port) bisa saja memiliki peran besar, yang apabila rusak bisa membuat segalanya macet.

Itu pelajaran yang bisa saya unduh dari episode membetulkan tablet. Tentu saja ini bukan satu-satunya episode yang membuat saya bisa membuat generalisasi sok bijak seperti paragraf di atas. Episode-episode lainnya misalnya meningkatkan kecepatan komputer, memperbaiki keberisikan kipas angin pada PC dan laptop, dan sebagainya. Pendeknya, banyak hal dari dunia silikon dan komputasi ini yang sebenarnya bisa mengajari kita soal kehidupan. Tentu saja. Toh, di dunia ini TIDAK ADA YANG TIDAK berhubungan dengan yang lain. Semuanya saling berhubungan. Dan buat orang Jawa, seperti disampaikan budayawan dan cendekiawan Umar Kayam di salah satu kolomnya dulu, bahkan ular yang kebetulan lewat di depan kita itu bisa saja berhubungan dengan hidup kita, bisa saja dia menjadi isyarat untuk sesuatu yang lain.

Sudahlah, mari kita kembali ke hidup kita lagi. Anak saya sudah selesai main komputer, dan saya harus melanjutkan dengan yang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s