Dalam perbincangan sehari-hari (dan perbincangan di media sosial sehari-hari), seringkali kita tidak menyadari bahwa ada perbandingan-perbandingan yang sebenarnya jelas tapi terlewatkan. Salah satunya adalah perihal “penyerangan” atau “bullying” atau apa lah istilah lainnya (saya yakin Anda tahu yang saya maksud). Di satu sisi kita sangat peduli dan prihatin melihat kasus-kasus “bullying” di sekolah, tapi di sisi lain kita menganggap enteng istilah bullying itu sendiri. Tidak perlu tedeng aling-aling: sikap semacam itu kontradiktif, dan salah.

Akhir-akhir ini kita anggap prihatin (dan mengungkapkan keprihatinan). Mungkin Anda mengira saya akan bilang ini semua gara-gara medsos yang membuat kita mudah menyampaikan kepedulian lewat “like dan share.” Tidak juga sebenarnya. Lagu Slank “Pacarku Kamu Kok Kampungan” itu kan juga tentang tren pasca reformasi, ketika orang begitu mudahnya jadi ikut-ikutan radikal atau sok peduli. Medsos hanya membuat tendensi latah ini semakin menjadi-jadi.

Dalam kaitannya dengan “bullying,” mayoritas kita di medsos sangat membenci bullying. Kita langsung angkat HP dan tap “like,” terus share, terus komen, plus mengumbar emoji begitu melihat tindakan bullying yang terdokumentasi. Ketika ada anak-anak SD mem-bully teman perempuan di kelas, kita angkat HP. Ketika beberapa siswi SMA menghajar temannya, kita angkat HP. Bahkan ketika bunga-bunga di Gunung Kidul “dibully,” kita angkat HP. Seringkali angkat HP kita berhasil. Ada menteri yang turun tangan atas kasus bullying di sebuah sekolah. Ada kepala sekolah yang menindak murid-murid pelaku bullying. Dan sebagainya. Pendeknya, keprihatinan kita atas bullying ada kalanya membuahkan hasil nyata.

Tapi, di sisi lain kita merayakan apa yang kita sebut “bullying.” Ketika kita ramai-ramai mengkritik seseorang yang berbuat salah, atau mungkin khilaf, kita dan media dengan santai menyebutnya “membully.” Masih ingat ketika seorang mahasiswi menghina Yogyakarta? Ya, kita dan media menyebutnya “X di-bully di Path dan Twitter.” Ketika mantan menkominfo membuat tweet yang tidak sensitif (dengan dalih cuma menginformasikan–padahal menurut saya murni sikap tidak sadar konteks dan mati rasa), kita ramai-ramai “membully” beliaunya. Ketika para remaja itu bersyahrini ria dengan bunga-bunga langka di Gunung Kidul, diberitakanlah “bully-an” kita yang membuat dia bertobat. Apapun jenis kejadiannya, yang kita lakukan adalah “mem-bully” dia, dan media juga seperti merayakan atau mendukung “bully”-an kita yang berhasil.

Di sini sudah terlihat, betapa entengnya kita menggunakan istilah “bully” yang sejatinya punya konotasi negatif merujuk ke tindakan yang bisa menimbulkan trauma berkepanjangan. Saat anak-anak mem-bully temannya kita marah (dan prihatin, bahkan lebih prihatin dari pak SBY). Tapi saat terjadi ketidakadilan, kita bahu-membahu menyelesaikannya dengan “membully.” Ah, kawan, kenapa kita memilih kata “bully” untuk yang beginian? Tidakkah ada kata “protes,” “kritik,” “gugat,” “tentang,” dll?

Anda mungkin mengira saya terlalu sok repot mengurusi kata-kata. Saya sangat mengerti kalau Anda berpandangan begitu. Apalah artinya kata-kata, begitu mungkin menurut sebagian dari kita. Tapi, kawan, kata-kata inilah yang kita gunakan saat berpikir. Saat kita menggunakan kata yang salah dan tidak menyadari asosiasi dari kata-kata yang kita gunakan, kita tahu bisa terjadi perang mulut dan baku hantam. Salah kata bisa berarti salah kaprah dan salah kaprah membuat kita gagal paham. Dan gagal paham (yang terjadi di dalam otak itu) akan lebih berbahaya kalau terwujud dalam kehidupan nyata. Kira-kira begitulah runtutan dialektisnya. Karena salah kata di dunia, terjadilah salah kaprah dan gagal paham di dalam otak. Saat gagal paham yang di dalam otak itu keluar lagi ke dunia, maka akan banyak yang mengalami dampaknya.

Padanannya adalah “budaya perkosaan” atau “rape culture.” Yang dimaksud budaya perkosaan ini adalah, seperti saya bahas di postingan ini, segala tindakan dan ucapan kita yang membuat seolah-olah perkosaan yang terjadi itu wajar yang ringan. Perilaku kita menggunakan kata “bully ini” dan “bully itu” dengan entengnya tidak lain adalah partisipasi kita dalam memupuk dan membina “budaya bullying” di lingkungan kita. Kalau kita bawa ke pola hubungan yang lebih jauh lagi, mungkin kita bisa menghubungkan ini dengan kata “autis,” yang pernah kita gunakan dengan sangat dermawan. Tapi itu agak lain. Kalau itu–

Jadi, kawan-kawan, pertanyaannya adalah: apakah kita mau menyelemati diri kita atas keberhasilan kita memupuk budaya bullying, atau kita siap bertobat?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s