Maka inilah terjemahan lagu “Desperado,” yang termasuk satu lagi dari khazanah “1995” dalam repertoar musik saya. Mungkin masa hitsnya tidak benar-benar 1995, tapi dalam kenangan saya, lagu ini termasuk 1995 demi kemudahan penyebutan saja.

Saya pertama kali dengar lagu ini waktu kelas tiga SMP, di rumah salah satu sobat baik, Bernardus Budi Indra Yanto. Sebelum lanjut, perlu saya sela dulu: saya belum pernah sekali pun ketemu Indra sejak lulus SMP (awakmu nang ndi ae, pek?). Ketika itu lagu “Hotel California” lagi ramai diputar di ANTV (yang siarannya bisa terjangkau sampai Sidoarjo), dan Indra yang mestinya lebih makmur dari kebanyakan kami (dia anak staff Pabrik Gula Kremboong dan tinggal di perumahan PG) membeli albumnya. Dia mengajak saja ke rumahnya suatu kali dan saya kesengsem dengan koleksi kaset-kasetnya. Waktu menyisir isi album-album itulah saya pertama kali ketemu permata lain dari album Hell Freezes Over: ya lagu “Desperado” itu. Saya ke rumah Indra beberapa kali lagi sejak sore itu, dan tiap kali ke sana selalu ganti album (Nirvana Unplugged in New York, Hell Freezes Over, dan … Relativity dari Indecent Obsession!). Begitulah Indra, orang kaya yang baik: membuat perpustakaan (kaset) dan membiarkan orang lain menikmatinya!

Mari sekarang kita berbicara sedikit tentang album Hell Freezes Over karya The Eagles ini. Sekadar mengingatkan saja, album ini direkam dari konser akustik yang tahun-tahun sedang ramai berkat acara MTV Unplugged. Kita yang remaja (atau sedikit lebih tua) pada masa itu bisa menikmati konser2 akustik kelas wahid yang masih anget dari MTV. Plus drama/tragedi/romantikanya. Konser akustik Oasis diwarnai Liam Gallagher yang menolak menyanyi, sehingga Noel–yang bisa dibilang seperti Liam Gallagher plus pintar bergitar–harus menyanyikan semua lagunya. Kita juga tahu konser akustik Nirvana yang meroketkan singel “About a Girl” yang kemudian menjadi album legendaris pasca mangkatnya almarhum Kurt Cobain. Kita juga lihat Elton John yang konser bermodalkan piano thok tapi membuat kita pendengarnya gemetaran. Atau juga Kiss. Aerosmith. Dan sebagainya. Trend ini terbawa sampai ke Indonesia. Ketika itu AN Teve punya acara akustik plus yang sempat menampilkan Dewa, Gigi, Pure Saturday, Modulus, dan sebagainya. Puncaknya adalah konser akustik mega sukses KLa Project yang jadi album ganda KLakustik, yang masing-masing menghadirkan single “Gerimis” dan “Sahabat.”

Ah, zaman akustik dalam musik dunia, zaman akustik dalam sejarah musik Indonesia, zaman yang melambungkan Henry Lamiri.🙂

Kembali ke “Desperado,” sebelum kita tampilkan terjemahan lagu ini, perkenankan saya memberikan semacam pertanggungjawaban saya sebagai penerjemah. Seperti biasa, saya menggunakan nikmat kebebasan saya (sebagai penerjemah tak berbayar) dalam mengindonesiakan lagu ini. Ada satu ungkapan penting yang sebenarnya sarat makna lokal yang harus saya ikhlaskan dan saya ganti dengan ungkapan yang lebih “universal” (atau paling tidak ungkapan yang sama-sama lazim dalam bahasa Indonesia maupun Inggris). Ungkapan itu adalah “riding fences,” yang di sini saya terjemahkan menjadi “bermain api.” Makna dari “riding fences” itu sendiri sebenarnya sangat lokal, secara harfiah “memeriksa pagar.” “Memeriksa pagar di sini mengacu pada aktifitas koboi atau pemilik peternakan yang harus selalu mengelilingi properti mereka untuk memastikan bahwa pagarnya (biasanya kawat duri) tidak rusak atau dirusak orang. Pekerjaan semacam ini berbahaya, apalagi kalau dilakukan sendirian, karena biasanya koboi atau peternak yang memeriksa pagar ini juga berpotensi menghadapi garong yang ingin mencuri ternak mereka. Oh  ya, standar peternakan sapi di Amerika (baik di jaman dulu maupun sekarang) relatif sama, untuk satu ekor sapi haru ada kira-kira satu akre. Jadi kalau punya seratus sapi, ya berarti harus ada seratus akre properti yang harus dikelilingi dan diperiksa pagarnya dari waktu ke waktu. Begitulah, dalam lagu ini, ada kesan bahwa si Desperado ini suka menantang bahaya, memeriksa pagar terus-terusan, yang demi mudahnya saya terjemahkan menjadi “bermain api.”

Jadi, lagu ini sangat kental dengan atmosfir Selatan atau Barat. Dalam konteks negeri Aa’ Sam, Selatan mengesankan pedesaan. Dan kalau urusan Barat atau Western–atau lebih akuratnya Southwest atau Barat Daya, sekitar Texas, New Mexico, dan Arizona–memiliki asosiasi kehidupan jaman koboi yg dalam sejarahnya diwarnai petualangan, peperangan antara para pendatang Eropa dan penduduk pribumi Amerika, atau insiden saling curi kuda dan ternak antara penduduk di sebelah selatan sungai Rio Grande (Mexico) dan sebelah utara Rio Grande (Texas).

Yang lebih asyik lagi, ketika lagu ini nge-hits lewat album Hell Freezes Over itu, kita juga sedang dilanda demam film Desperado yang diperankan mas Antok (nama lengkapnya Antonio Banderas–btw, “bandera” dalam bahasa Spanyol artinya bendera lho :D).

Jadi, demi memori, mari kita nikmati “Desperado” di sini, yang ternyata tak jauh-jauh dari kecenderungan pribadi saya–pret!

By the way lagu, tanpa mengurangi rasa hormat kepada Glenn Frey and Don Henley, di bawah saya tampilkan video lagu ini yang dibawakan Miranda Lambert, yang saat ini merupakan salah satu Ratu Musik Country,* yang lagu-lagunya sendiri sangat mbalada, tak kalah tangguhnya dengan “Desperado.”

* Ya, musik country itu bukan benar-benar monarki, berbeda dengan dangdhut. Ada beberapa ratu dalam musik country, sementara dalam musik dhangdut hanya ada satu ratu dan satu raja satu, yang sebenarnya bukan suami istri–nah, ini juga tidak konvensional kan?

Desperado, kenapa kau tak sadar juga
Dari dulu kau tetap bermain api
Mungkin kau tangguh
Mungkin kau punya alasan
Mungkin ini menyenangkanmu
Tapi yang pasti kau juga bisa terbakar

Jangan ambil Ratu Wajik
Suatu saat dia membunuhmu
Hematku, ambil itu Ratu Waru.

Sudah banyak yang indah
Tersedia di depan mata
Tapi kau minta yang tak ada

Desperado, kamu tak tambah muda
Pedih dan lapar membimbingmu pulang

Dan kebebasan, ah, itu kan kata orang
Penjaramu adalah petualangan sendirian

Tidakkah kakimu beku di musim dingin
Saat tak ada salju, tak ada matahari
Saat siang tak ubahnya malam
Saat sirna suka dan duka
Aneh, betapa perasaan itu bisa hilang.

Desperado, kenapa kau tak sadar juga?
Hentikan main apimu, buka pagar depan itu
Mungkin sekarang hujan, tapi di sana ada pelangi
Biarkan seseorang mencintaimu, sebelum terlambat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s