Kalau ada pernah ke blog ini sebelum hari ini, mungkin Anda tahu bahwa saya sudah beberapa tahun ini tinggal di negara Aa’ Sam dan pernah berkesempatan jalan-jalan beberapa kali. Selama ini, biasanya saya menginap di hotel atau di rumah teman yang bisa diinapi. Nah, baru kali ini saya berkesempatan menginap di rumah orang yang memang menyediakan rumahnya untuk diinapi musafir, tentunya dengan membayar. Ya, inilah yang disebut menginap secara “airbnb.”

Apa itu “airbnb”?

Mari kita mulai makalah ini dengan membahas etimologi (biar saya kayak akademisi begitu lah). “airbnb” adalah kepanjangan dari “air bed and breakfast.” Istilah temuan ini berasal dari istilah yang lebih umum “bed and breakfast,” yang artinya adalah penginapan yang menyediakan kamar dan sarapan. Biasanya ini semacam losmen atau rumah keluarga. Dengan tambahan kata “air” di depan “bnb,” istilah ini jadi mengacu pada tempat tidur darurat, “air bed.” Tapi, sepertinya orang-orang yang menawarkan layanan “airbnb” ini biasanya punya satu kamar sisa di apartemen atau rumahnya. Oh ya, sebelum lupa, istilah “airbnb” saat ini khusus mengacu pada situs airbnb.com, di mana orang-orang menawarkan propertinya untuk disewa orang lain. Awalnya sih orang-orang cuma menyewakan kamar. Tapi lama-kelamaan segala properti yang bisa ditinggali bisa disewakan, mulai dari kamar, seluruh apartemen, seluruh rumah, perahu, puri, bahkan pulau!

Dan saya sendiri kebetulan menempati kamar yang biasa-biasa saja tapi asyik, di kawasan Cambridge, sekitar Harvard Square, dekat Fakultas Hukum Universitas Harvard.

Ceritanya, saya harus cari tempat menginap untuk semalam di kawasan Harvard. Karena hotel-hotel di kawasan ini cukup mahal (meskipun lewat website obral kamar hotel), maka saya pun cari alternatif. Mengikuti saran teman, saya memilih mencoba “airbnb.” Yang paling murah adalah sebuah kamar di dekat gedung Fakultas Hukum Universitas Harvard. Saya lihat ulasan dari orang-orang yang pernah menginap di sana, dan semuanya positif. Kamarnya juga sekilas terlihat bersih. Maka saya pun segera memberanikan diri membuat reservasi online lewat airbnb.com.

Seminggu sebelum saya datang ke Cambridge, saya mendapat email pengingat dari airbnb. Untuk itu, saya hubungi si pemilik rumah, seorang ibu dengan beberapa anak. Saya tinggalkan pesan melalui airbnb.com, memberitahukan bahwa saya akan datang pada hari yang ditentukan. Sekitar tiga hari sebelum saya datang, saya mendapat SMS dari tuan rumah, memberitahukan detil rumahnya dan memberitahukan bagaimana cuaca di Cambridge nanti ketika saya datang.

Maka, pada hari yang ditentukan, saya mengetuk pintu rumah yang kamarnya saya sewa. Si ibu menyambut di pintu, agak lebih muda dari foto yang dia pasang di situs airbnb. Orangnya hangat dan mempersilakan saya langsung masuk kamar. Karena saya merasa keringetan setelah seharian berada di pesawat dan bandara, saya pun minta diizinkan mandi. Si ibu menunjukkan saya kamar mandi yang ada di lantai atas, di bagian rumah di mana kamar si ibu dan anak-anaknya berada. Dan begitulah selanjutnya…

Barusan ini tadi, saya dapat email dari airbnb, memberitahukan bahwa saya mendapat ulasan sebagai tamu dari ibu yang kamarnya saya inapi. Saya tidak diizinkan melihat hasil ulasan sebelum saya memberikan ulasan. Maka, saya pun memberikan ulasan, yang pada intinya bagus karena tuan rumah memang sangat ramah dan tempatnya juga cukup bersih. Setelah ulasan saya masukkan, ternyata ulasan yang diberikan si ibu untuk saya juga bagus.

Mungkinkah usaha semacam ini bisa dilakukan di negeri bunda pertiwi (atau ummi pertiwi :D)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s