Di antara banyak hal di sekeliling yang bisa diamati, Misdi memilih mengamati perbincangan. Dia sebenarnya tidak memilih mengamati perbincangan, tapi perbincangan itulah yang memilih dia. Memilih dia untuk mengamatinya. Begitulah menurutnya kenapa dia suka mengamati perbincangan. Dia sama sekali bukan penulis atau filsuf atau ahli komunikasi atau sosiolog seperti Naek L. Tobing*, tapi dia yakin suatu saat akan ada orang yang menanyakan kenapa dia suka mengamati perbincangan. Menjelaskan minatnya dengan cara ini akan membuatnya terdengar hebat dan filosofis dan open-ended. 

Tapi, sejujurnya dia menjelaskan dengan cara itu karena dia kesulitan kalau harus menjelaskan sebab aslinya, yaitu: Dia suka mengamati perbincangan karena dia tidak suka menggunakan headphones. Ya, dia menyadari betapa janggalnya menjawab pertanyaan sebab-akibat dengan sebab yang tidak terlalu jelas.

Itulah. Agak membingungkan.

Tapi sesungguhnya begini sebabnya: Misdi suka mengamati perbincangan karena dia tidak bisa menghindari dari mendengarkan perbincangan itu. Nah, alasan kenapa dia tidak bisa menghindar adalah karena, berbeda dengan orang-orang lain yang suka memakai headphones dan memutar musik, Misdi tidak suka memutar musik dengan headphones. Akhirnya, dunianya lebih ramai dari dunia orang lain. Dia mendengar semua yang silang sengkarut, tapi dia yakin memiliki haromoninya.

Tapi, kalau dipikir-pikir, tidakkah akan lebih membingungkan kalau ternyata tidak akan ada yang tertarik dengan minat uniknya itu, kalau ternyata tidak akan ada orang yang sudi menanyakan penyebab dia mengamati perbincangan.

Tapi, jauh di palung hati terdalam, lebih dalam dari palung hati Katon Bagaskara, Misdi yakin pengamatannya akan perbincangan orang-orang Amerika ini akan berguna bagi banyak orang. Dia hanya yakin. Itu modalnya.

Dia percaya hasil pengamatan amatirnya itu suatu saat akan berguna. Dan yang pasti yang dia amati tak kalah menariknya dengan banyak hal menarik lain di dunia. Yang terjadi sore ini misalnya: perbincangan multiarah.

Sore ini, dia duduk di lab komputer untuk mengetikkan sesuatu. Tak lama setelah dia mengetik, seorang lelaki di sebelah kirinya mengangkat telpon dan berbicara lirih. Dia melihat sekeliling. Ternyata ada temannya, mahasiswa Rusia, yang sejak beberapa menit sebelumnya sudah berbicara. Samar-samar dia ingat bahwa dia memang mendengar orang mengawali perbincangan telpon, tapi dia tidak menoleh. Jadi sebenarnya si mahasiswa Rusia berbincang di telepon lebih dulu dari orang yang duduk di sebelah kirinya.

Begitu Misdi memutuskan urutan siapa yang berbicara di telepon terlebih dulu, terdengar seorang lainnya, tepat di belakangnya, memunggunginya, mengucapkan “hello” dan berbincang di telepon. Maka di sekelilingnya ada tiga orang yang berbincang di telepon di lab komputer yang memang tidak terlalu sepi ini.

Sebentar kemudian si Rusia menghentikan perbincangan telpon, disusul kemudian orang di sebelah kirinya yang terdengar mengucap salam. Tak lama kemudian orang yang memunggunginya menutup pembicaraan.

Misdi langsung sadar: ini perbincangan multiarah, tapi verbal, dengan bahasa sama, tapi tidak saling berkomunikasi secara verbal, tapi saling “menjawab” (atau lebih tepatnya merespon).

Oh, pikir Misdi, betapa majemuknya kalimat ini nantinya kalau dia harus menyarikan hasil pengamatannya ini menjadi sebuah teori yang padat dan berisi (dan berat, tentu saja!)!

Jadi, menurut amatannya, si Rusia menelpon seseorang, mungkin keluarganya di Irkutsk, Siberia, sana. Kemudian, entah karena terinspirasi oleh perbincangan telepon si Rusia, atau sekadar karena sebal si Rusia berbincang di dalam lab komputer, orang di sebelah kirinya langsung mengangkat telpon dan menelpon customer service. Pikir Misdi, tidak mungkin orang di sebelah kirinya itu memang sudah ada rencana menelpon customer service pada detik dan menit itu juga. Pasti perbincangan si Rusia itu mengingatkan sebuah agenda yang harus dia jalankan. Atau, bisa saja dia hanya ingin meluapkan kekesalannya dan mencari siapa yang bisa dia telpon dan pasti diangkat. Dan orang ketiga yang duduk memunggunginya itu juga bisa jadi memesan pizza karena terinspirasi oleh perbincangan orang dengan customer service, dan bisa jadi juga karena dia mendengar perbincangan bahasa Rusia yang mengesankan hawa dingin yang membuatnya lapar dan butuh kehangatan pizza dengan keju mozarella yang elastis dan pepperoni tipis merah hati menawan hati itu–maaf buat yang Muslim dan Yahudi.

Maka, demikianlah, Misdi punya satu lagi teori perbincangan liar tak penting yang akan dia untai menjadi bunga rampai…

 

* Maaf, Naek L. Tobing sebenarnya seksolog. Maaf saya hanya memastikan Anda siaga dalam membaca.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s