Saya ingin memberikan definisi sederhana tentang “budaya perkosaan.” Apa itu “budaya perkosaan”?

Pertama-tama, saya jelaskan dulu alasan saya membuat postingan ini. Menurut saya istilah “budaya perkosaan” tidak lazim dan berpotensi disalahartikan dan dianggap enteng. Saya coba mencarinya di Google, dan mendapati ini. Di antara hasil-hasil pencarian yang ada, hanya link ke Jurnal Perempuan ini yang mengandung definisi “budaya perkosaan.” Itu pun definisinya sangat kontekstual dan disertai asumsi pembaca bisa langsung menangkap istilah tersebut. Di link-link lain, kita mendapati hal yang sama, atau bahkan mendapati kesalahpahaman atas istilah itu–sampai-sampai ada yang bertanya di sebuah forum di salah satu link itu: sejak kapan perkosaan dimasukkan kategori budaya?

Sementara, kalau kita mencoba mencari definisinya dalam bahasa Inggris (“rape culture”), kita bisa segera mendapatkan definisi ringkas dan padat informasi pada lema paling atas, seperti di sini.

Maka, perkenankan saya menawarkan definisi “budaya perkosaan” yang saya terjemahkan dari lema bahasa Inggris dan saya tambahkan contoh tertentu (dari artikel Gadis Arivia di Jurnal Perempuan yang saya tautkan di atas).

Budaya perkosaan/pemerkosaan adalah istilah yang digagas para feminis di Amerika Serikat pada dasawarsa 1970-an. Tujuan dari istilah ini adalah untuk menunjukkan kecenderungan masyarakat menyalahkan korban atas tindak kekerasan seksual dan menganggap wajar kekerasan seksual pria. Segala hal yang menganggap wajar, menormalisasi, perilaku kekerasan seksual bisa dianggap sebagai bagian dari budaya perkosaan.

Mari kita lihat beberapa contoh. Contoh pertama, menganggap wajar pemberian minuman keras kepada teman perempuan dengan harapan bisa mengajak berhubungan seks ketika si teman perempuan sedang tidak sadar adalah bagian dari budaya perkosaan. Pernyataan seorang calon hakim agung Muhammad Daming Sanusi bahwa pelaku dan korban perkosaan sama-sama menikmati sehingga pemberian hukuman mati perlu dipikir ulang adalah satu pernyataan yang mendukung budaya perkosaan. Kenapa? Karena asumsi dasar dari pendapat itu adalah perkosaan itu mengandung saling menyenangkan, padahal hal yang paling keji dari perkosaan adalah memaksakan hubungan kelamin (sekurang-kurangnya, anak jaman sekarang bisa menyebut Daming Sanusi “gagal fokus”). Contoh lainnya adalah

Saya harap definisi dan contoh ini cukup memberi definisi dan gambaran mendasar tentang istilah “budaya perkosaan.” Dengan ini, saya harap tidak perlu lagi ada pernyataan sejak kapan perkosaan dianggap budaya. Dulu, pada awal masa reformasi, orang-orang suka berbicara tentang “budaya korupsi” dan sebagian orang mempertanyakan mana mungkin korupsi bisa digolongkan menjadi budaya. Asumsi mendasar dari pertanyaan atau gugatan serupa ini adalah bahwa istilah “budaya” hanya bisa dipakai untuk merujuk pada hal-hal yang baik dan adiluhung dan bagus. Padahal, kalau dari sudut pandang antropologi atau ilmu kemanusiaan, budaya adalah hasil polah tingkah manusia, baik itu yang menguntungkan maupun merugikan. Ilmu antropologi tidak melakukan intervensi kepada perkembangan manusia dengan cara mengoreksinya (pada dasarnya penggolongan baik dan buruk itu pada akhirnya bertujuan untuk menunjukkan bahwa yang baik harus ditiru) tetapi untuk memahami manusia secara obyektif. Mungkin begitu…

 

One thought on “Apa Itu Budaya Perkosaan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s